Pintu Kemana Saja

Posted on Updated on

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memutuskan bahwa kita tak bisa lagi bersama?

Bagi saya 25 tahun. Plus 6 bulan. Jadi, setelah enam bulan tanpa kabar, dan dua kali dilarang memberi kabar, saya akhirnya membuat keputusan tentang Day.

“Saya kan sudah bilang, semuanya terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di Bisnis Indonesia, kantor di sebuah ruko di Stal Kuda tempat saya sering menumpang menulis berita dan menghabiskan kopi mereka.

Tak ada yang bisa saya katakan lagi, entah kepada Yanthi, Dj, Rachmad, atau Adi, atau keluarga Haji Amir yang turut prihatin. Memang, sungguh menyedihkan bila memutuskan antara cinta dengan logika. Dalam perjalanan hidup saya, kedua hal ini jarang sekali akur.

Mengikuti cinta, maka seluruh langkah hidup saya biasanya jadi terbalik-terbalik dan mesti dijalani dengan penuh improvisasi. Semuanya menjadi petualangan yang tak terelakkan. Mengasyikkan, tapi juga kerap melelahkan.

Zaman remaja silam, saya punya energi yang sangat berlebihan untuk mengejar cinta, bahkan hingga separo dunia. Hari ini, dengan tetap di Balikpapan saja pun saya sudah kerepotan.

Patuh pada logika, maka saya mengalami hidup yang paling aneh juga. Datar, sedatar flat line di monitor jantung orang yang sudah meninggal. Membosankan sehingga satu jam saja seperti sehari dan justru membuat saya ingin mati. Hidup jadi tanpa tujuan dan hambar. Nothing exciting.

Paling tidak begitulah perasaan saya. Meski sebagai jurnalis hidup itu bisa selalu penuh aksi. Tetapi tanpa cinta di dalamnya, seperti sayur tanpa garam.

Pepatah sayur tanpa garam itu mungkin diciptakan oleh seorang vegetarian seperti Adi. Saya juga suka sayur, walau bukan vegetarian, dan bisa menerima pepatah itu.

“Apa yang Bang Opi putuskan?” tanya Yanthi.

“Sebenarnya bukan saya yang memutuskan,” kata saya. “Tapi Day sendiri.”

***

Konon, perempuan memang menyukai bad boy. Sampai tahap tertentu, mereka memandang dengan penuh minat lelaki petualang, mungkin tinggi tegap dengan rambut gondrong dan kulit terbakar matahari, berpakaian urakan dan berani mengambil jalan berbeda dari yang ditempuh orang lain.

Orang lain ini maksudnya yang bukan badboy. Yang menjalani hidup normal seperti pegawai negeri sipil dari hari Senin sampai Sabtu. Atau karyawan perusahaan swasta yang rapi jali dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Walaupun biasanya mereka juga bisa gila mulai Jumat sore hingga Senin dinihari.

Lebih kurang begitu. Badboy bisa sangat mempesona.

“Memesona,” koreksi Rachmad.

“Ya, mempesona,” tegas saya. ‘Memesona’ itu bentuk yang baku yang tercantum di dalam kamus. Tapi sebagai badboy, saya bilang bentuk baku tidak enak dipakai dan merepotkan.

Pendeknya, tokoh penjahat bisa sangat seksi. Tentu tak pula harus berbodi bak juara kompetisi bodi bagus seperti yang digelar L-Men. Hitler tentu dipuja bagai dewa oleh Eva Braun. Bung Karno bininya banyak—eh, apa Bung Karno termasuk badboy?`Hehehe, tergantung kepada siapa kita bertanya, tentu. For me, he is a badboy. Kalau gak, gak merdeka Indonesia.

Dan harus saya akui, saya tak hapal banyak tokoh jahat untuk dijadikan contoh. Atau yang saya kenal, kalian tidak, seperti John Dilinger, atau Clyde, Tibo Taka-Tibo Wete, Budiardjo, Evelyn, atau yang sangat terkenal seperti Anas Urbaningrum, Lord Voldemort, Sherrif Nottingham, Sauron, Darth Vader, Eminem, Jose Mourinho, Cristiano Ronaldo, Kapten Tack, Lex Luthor, Baron Araruna, …

Bagi saya, badboy itu juga bisa pribadi yang kontras. Bayangkan, dengan penampilan seperti rocker, dengan rambut panjang riap-riapan, atau gimbal ala Bob Marley dan mata setengah mengantuk, ia menjadi yang kesepuluh muncul di masjid berkapasitas 200 orang saat salat Jumat, atau memimpin salat berjamaah para makmum yang masbuk di masjid Istiqamah yang sejuk itu.

Gadis-gadis Amerika pernah menyukai si Renegade Lorenzo Lamas sekalian dengan motor besarnya. Meski tidak tahan dengan kelakuannya, banyak cewek tergila-gila dengan Stiffler, terutama barangkali perempuan setengah baya.

Mereka pun melonjak-lonjak histeris melihat anak-anak Duke of Hazard, yang suka mengebut dengan General Lee, sebuah Chrysler yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bo dan sepupunya pun memperdaya Sheriff Coltrane dengan tertawa-tawa.

Saya lupa nama tokoh yang diperankan Owen Wilson dalam Shanghai Noon, film yang dibintanginya bersama Jackie Chan. Film itu stereotip sekali menampilkan Roy O Bannon—ah, itu dia namanya—yang diperankan Mr Wilson, sebagai koboi yang ceroboh, seenaknya, bahkan pintar-pintar bodoh, suka nekat tapi penuh spontanitas, tapi juga begitu mudahnya menggaet wanita. Bahkan, Putri Pei Pei sendiri jatuh cinta dengan koboi tengik itu.

Di fiksi Indonesia, juga ada tokoh Roy dalam Balada Si Roy yang dikarang Gola Gong, yang juga sering diceritakan sebagai tukang pembuat patah hati anak orang.

Dan saya selalu ingat deskripsi Mochtar Lubis tentang Wak Katok yang tinggi besar dan berkulit gelap, tapi punya istri muda yang cantik sekali—dan saya adalah si Buyung di cerita itu, hehehe, yang bertemu istri Wak Katok di sungai di hutan yang menghanyutkan. Emmmhh…sila baca Harimau Harimau, sobat.

Hehehe…dan ini agak keluar dari konteks dan saya hanya ingin menuliskan saja; contoh kontras diperlihatkan film-film superhero. Dalam identitas aslinya, para pahlawan super kerap digambarkan sebagai orang aneh, kurang pergaulan, konservatif, atau rendah diri dan rendah hati sekaligus.

Tapi bila ia sudah berganti kostum menjadi Spiderman, Peter Parker yang minderan itu bisa berayun-ayun dari satu gedung ke gedung lain dengan Mary Jane Watson di dalam pelukan.

Lebih kurang sama dengan Lois and Clark, atau Lana and Clark saat masih di kampung Smallville. Di harian Daily Planet, Clark Kent, meski berbadan besar, namun lucu gagu dengan kacamata, peragu dan sering terbata-bata, dan kerap digambarkan berada di bawah agresivitas, kegesitan, dan ambisi Lois Lane.

Tapi Clark-lah sang Superman, yang biru, yang melesat lebih cepat daripada pesawat terbang, yang punya kelebihan yang paling diinginkan lelaki sedunia, mata sinar x yang bisa melihat sesuatu meski di balik batu, eh baju, eh kelambu, hehehe—walau tetap tak bisa melihat perasaan wanita.

Hmm, Peter Parker itu fotografer atau pewarta foto, Clark Kent itu jurnalis, dan ada Godam, superhero kelahiran Bandung yang nama di KTP-nya adalah Awang dan pekerjaannya juga wartawan.

Saya Supernovi, dan tercipta dari Supernova yang terlihat dalam pengamatan astronom Johannes Keppler di tahun 1604. Hwarakadah. Bukan kebetulan, saya juga jurnalis, dan juga pewarta foto.

(Bagian superhero hingga supernovi dan supernova ini saya melantur—walaupun faktanya nyata, hehehe),

 Dalam kehidupan nyata hal ini sering lebih aneh daripada fiksi. Kalian tentu ingat Ariel dan Cut Tari bukan. Saya bukan penggemar mereka dan sedapat mungkin menghindar dari mereka dan karya-karyanya, apalagi hanya berita tentang mereka. Tetapi mereka berdua contoh yang sempurna. Apalagi Ariel juga dihubungkan dengan Luna Maya, dengan Aura Kasih, mungkin dengan yang lain-lain lagi.

Bagaimana suami Cut Tari masih bisa berkata tetap menerima istrinya yang sudah berzina dan mengkhianatinya? Jayus? Dan fans Ariel masih mengelu-elukan dia sekeluar dari penjara. Bukankah seharusnya orang seperti dia dihukum rajam, dilempari dengan batu sampai mati.

 Hoekkkk. It is suck.

 (Bagian ini saya tidak melantur). Tuhan mungkin hanya ingin memperlihatkan bahwa ia pengasih dan penyayang. Siapa yang bertobat akan diampuni dan diberi kesempatan lagi.

Apakah Ariel bertobat? Maaf, saya tak tahu. Saya bukan Tuhan dan bukan penggemar Ariel, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, dengan apa pun nama bandnya dan musik yang dimainkannya. Howgh.

 ***

 Nah, sampai tahap tertentu, saya adalah jawaban seru dari masalah-masalah Day. Saya punya solusi walapun belum terbukti bagaimana menangani bocah lelaki yang mulai dewasa (Day ingin anaknya ikut naik gunung dan tidak hanya merendam diri di kamar main playstation).

Saya ada, setidaknya ada suara, mendengarkan, memberi komentar yang diharapkan, memberi penghiburan, dan melakukan hal-hal yang absurd seperti membuatkan kopi dari jarak 1.300 km, menyajikannya, dan meminumnya bersama-sama.

“Kopinya enak. Kopi apa ini?” tanya Day.

“Oh, kopi atjheh. Dikasih Bang Alex kemarin,” kata saya.

Saya tahu, di sana, di Bogor, Day minum Nescafe kopi tubruk sambil merokok menthol. Saya belum sempat mengirim kopi atjheh yang saya janjikan kepadanya.

Untuk kopi atjheh itu, saya yang mengikuti perjalanan sejauh 2500 km pergi pulang di mobil Bang Alex, ketua Pengda IOF (Indonesian Offroad Federation) Nangroe Aceh Darussalam mengelilingi Serambi Mekah. Pulangnya saya disangu 2 kg bubuk surga itu.

Menurut saya, bagi Day saya jadi teman diskusi, juga lawan debat yang sempurna di antara bulan Agustus, September, dan Oktober. Kami pun melihat dunia dengan kacamata kami sendiri dan membuat rencana-rencana untuk mengubahnya. Atau tepatnya mengubah diri kami sendiri untuk menghadapi perubahan dunia.

Those days were really amazing days, hari-hari yang luar biasa dan saya menjalaninya nyaris seperti bermimpi.

 ***

Barangkali, ya, itulah dia, seperti mimpi. Datanglah kemudian waktunya untuk bangun, sadar, dan melihat kenyataan. Day lebih dulu, bangun, sadar, dan membuat keputusan. Dan saya baru saja terbangun.  

Kenyataan bila bersama saya ada tembok tinggi dan jalan terjal, mulai dari Day harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan hukum yang rumit, sampai hal-hal teknis yang ribet seperti mau tinggal dimana di Balikpapan, anak-anak sekolah dimana, dan seterusnya sementara saya sudah biasa dengan ketidakmapanan saya, sudah cukup menyadarkan perempuan 38 tahun ini bahwa bagaimana pun apa yang diraihnya hari ini akan terasa nikmatnya bila disyukuri—meskipun menjadi istri dari suami yang punya istri lagi.

Bersabar dengan keadaan itu, kata banyak hadis Muhammad, berarti sudah menggenggam tiket untuk satu tempat di surga.

Petualangan bersama saya, walaupun mungkin mengasyikkan, tapi juga penuh risiko dan bahaya, sekali lagi seperti kata saya tentang Ariel tadi, bahayanya ada di dunia juga di akhirat.

Day mungkin bisa menikmati petualangan-petualangan kecilnya bersama saya, “Tapi itu artinya saya membuat anak-anak saya dalam bahaya,” kira-kira begitu katanya.

Bukankah Superman tak bisa bersama dengan Lana, atau juga Lois? Spiderman berjanji untuk tak lagi mendekati Gwen. Frodo dan Bilbo Baggins, begitu juga Gandalf, tak pernah kawin,

Karena itu seorang kawan, si Risdan yang selalu nyaman berada di antara orangutan (Pongo pygmaeus, baik yang morio atau pun wurmbii) menulis demikian, “bersyukurlah bila wanita menginginkan kemapanan, sebab kemapanan masih bisa diupayakan. Bila yang diinginkan ketampanan, … ”

Mungkin karena itu Risdan selalu bahagia bersama orangutan (hehehe) dan pernah pula menjadi pembela orangutan bersama WWF di Surabaya.

Oleh dokter bedah plastik tentu saja peribahasa Risdan sangat bisa didebat—dan tentu ada harganya pula perdebatan itu. Bila operasi memancungkan hidung Rp10 juta, saya lebih senang menghabiskannya dengan mendaki Rinjani saja.

Atau mengajak seseorang (naaahhhh… siapa nih) ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Jadi begitulah akhirnya sobat. Cinta dan logika sering tidak jalan bersama. Apalagi dalam hal cerita saya dan Day ini. Saya pun belajar menerima dan bersyukur juga.

Saya sudah bangun. Sudah bikin kopi atjheh yang sedap itu, dan sudah bikin rencana-rencana lagi. Saya pasang iklan yang provokatif di dalam hati, “Dicari, seseorang untuk berbagi petualangan. Tentu saja, harus perempuan…”

Pintu kemana saja, kembali dibuka. ***

“Nanti Telepon Lagi, Yaa…”

Posted on Updated on

Saya kehilangan Day lagi. Dan kali ini Day dengan sadar menghilangkan dirinya dan saya sampai sekian lama tidak mau percaya.  

Hanya saja, sekarang saya bisa mengira-ngira apa yang terjadi, apa yang mungkin ada di dalam benaknya, dan apa yang barangkali sedang dilakukannya, dan lain-lain, walau tetap saja belum tahu bagaimana akhirnya nanti.

“Bagaimana akhirnya nanti itu kan terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di kantor Bisnis Indonesia yang juga punya bakat jadi psikolog profesional.

Komentar yang sama disampaikan Adi yang membantu saya beres-beres rumah, Rachmad yang dinding-dinding kantornya membuat gema yang menyulitkan orang mendengar dan berbicara, Ina Wiena di depan toko emasnya yang kecil namun ramai di Pasar Lama di Banjarmasin, juga oleh Nila si kandidat doktor yang gaya renangnya mirip pesut, dan Mbak Endang yang kalem di Warung Pecel Madiun di Gunung Malang, juga oleh Aldo, pendengar yang antusias  di antara Bandung-Lembang-Bandung, dari The Papandayan, Saung Mang Udjo, dan airport sempit Hussein Sastranegara.

Hanya Dj yang berkomentar lain. Dari Boulder, Colorado, Dj menjadi pembela Day yang militan.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

***

Hari itu Day bertanya pada saya, bagaimana sebenarnya proses perceraian itu?

“Banyak pilihannya, bisa mudah dan menyakitkan, mudah dan mulus, lama dan menyakitkan, lama dan mulus, terserah saja,” kata saya.

Yang bikin lama biasanya pembicaraan soal harta, apalagi kalau banyak yang harus disepakati.

Itulah kenapa banyak orang kaya tak mau bercerai walau hubungannya sudah seperti orang lain dengan istri atau suaminya.

Yang memilukan itu umumnya tentang anak, apalagi bila ada anak yang masih kecil. Ini jadi drama seru bila yang mau bercerai artis. Ada adegan si artis menangis, ada deretan video wajah lugu si anak, lalu pengacara yang menggelar jumpa awak media infotainment, ada gambar saat sang pasangan masih berbahagia (mungkin saat acara pernikahannya setahun sebelumnya, lalu saat anak pertama lahir, …)

Kalau tidak kaya, juga bukan artis, tetap saja tidak lebih mudah. Hanya unsur liputan awak media saja yang tidak ada. Yang lain lebih kurang sama.

Walaupun tidak mudah, urusan cerai sederhana. Bisa diurus sendiri kalau ada waktu dan cukup kuat, bisa pula diwakilkan pengacara. Dalam ritme hidup di Jakarta yang gila, diserahkan kepada pengacara adalah pilihan logis.

“Berapa lama?” kata Day, serius sekali.

“Sekitar 3-6 bulan.”

“Lama juga ya…”

Hakim di Pengadilan Agama akan memulai dengan mediasi, menasihati, menyebutkan yang baik-baik dari kedua pihak, mengingatkan akan anak bila ada anak, meminta saling memaafkan, memberi pilihan-pilihan yang semuanya ideal dan penuh seandainya.

Bila bergeming dan bersikukuh untuk bercerai, baik salah satu atau kedua belah pihak, persidangan masuk tahap kedua. Jadwalnya bisa sebulan setelah sidang pertama.

Setelah itulah, bila memang diinginkan begitu, semua kerumitan dan keribetan dipaparkan. Rumah di sana jatuh ke suami, rumah di sini milik istri, anak yang masih kecil ikut istri, (mantan) suami wajib kirim uang sekian untuk anak itu, dan lain-lain, dan seterusnya.

Memerlukan energi fisik dan mental yang besar sekali.

“Saya akan pakai pengacara kalau begitu,” kata Day. Ia menyebutkan seorang pengacara yang berkantor di perumahan elit di Cibubur. Pak Hendri atau siapa begitu.

Beberapa kali saya ditelpon, atau menelpon Day yang sedang ada di jalan menuju atau sudah di kantor pengacara itu. Kadang-kadang saat jauh malam bahkan hingga mendekati dinihari.

“Kami sedang menyusun kasusnya, dan saya ingin prosesnya cepat. Doakan saya yahh,” ujarnya.

Tentu saja saya mendoakan. Ya Allah, mudahkanlah urusan Day dan saya, beri kami kekuatan iman, ketabahan hati, kesehatan lahir dan batin, juga kekuatan fisik dan mental untuk melewati semuanya.

Hari-hari itu Day masih sempat bergurau. Ia memberi laporan pandangan mata sambil menyetir, bahwa polisi tidur di komplek perumahan orang kaya pun berbeda daripada polisi tidur di kampung orang kebanyakan.

“Di sini polisi tidurnya gemuk-gemuk dan kita bisa melewatinya dengan mulus walau memang tetap saja harus mengerem. Kalau polisi tidur di kampung kan kurus tinggi dan benar-benar menghentak pas kita lewat,” katanya.

Saya tertawa. Saya senang ia masih tetap bisa ceria walau keadaan tampaknya semakin berat. 

Masih kembali ke pertanyaan tadi, apa sih yang sesungguhnya terjadi?

***

Itulah yang sesungguhnya terjadi. Sebab kejadian-kejadian setelah itu, saya tak tahu lagi dengan pasti. Day berhenti berkabar, tidak menjawab telepon, tidak membalas sms, tidak merespon message di facebook.

(Sejak itu, saya hanya bisa menduga alasannya, tapi tidak pernah terkonfirmasi resmi sampai pertengahan Januari 2014).

Setelah pekan pertama Oktober, ia menghilang selama 13 hari. Kesibukan saya di persiapan ekspedisi offroad ke Kalimantan Utara membuat saya sedikit terhibur dan agak melupakan ketidakhadiran Day dalam komunikasi. Saya mengurusi 15 mobil, penginapan bagi 30 orang, dan seremoni-seremoni kecil hingga membeli martabak dan terang bulan untuk kudapan.

Menjelang berangkat ekspedisi itu, pagi 24 Oktober, telepon saya akhirnya diangkat.

“Maaf yah, saya sedang tidak bisa terima telepon. Saya lagi di Makassar, … nanti telpon lagi yaa…”

Lalu bunyi mobil berhenti dan pagar besi dibuka. Day mungkin keluar dari mobilnya dan membuka pintu pagar itu sendiri.

Kami tersambung selama 2 menit 39 detik. Itulah terakhir kali saya mendengar suaranya. Saya tak sempat bicara apa-apa kecuali bertanya kemana saja dia, dan seingat saya, minta untuk dia memberi kabar, apa pun yang terjadi.

Kata-kata ‘nanti telpon lagi yaa’ saya artikan Day minta ditelpon 5 menit kemudian, setelah memarkir mobil di garasi dan berada di dalam rumah.

Telepon saya setelah bunyi pintu pagar itu hanya menjadi miscall kemudian. Begitu pula seluruh telepon saya sampai pertengahan Desember—yang menjadi telepon terakhir ke nomor itu.

Sebaliknya juga, Day meneruskan kebiasaan yang sudah dimulainya sejak awal Oktober: berhenti memberi kabar apa pun lewat cara apa pun. 

“Kenapa Day ada di Makassar? Kenapa Bang Opi terus menelepon? Kenapa akhirnya berhenti di pertengahan Desember?” tanya Yanthi.

“Karena saya sudah berjanji untuk selalu mengabari Day, karena saya memang merasa perlu mengabari dia,” kata saya.

Saya selalu berpikir, siapa tahu kali ini telepon saya diangkat, seperti hari ke-14 dari 13 hari yang sungguh-sungguh menyiksa dulu itu.

Saya juga masih mengirim pesan pendek atau sms. Tetap rajin menulis message di facebook.

Sebelum Oktober, semua miscall akan dibayar dengan telepon hingga puluhan menit kemudian begitu ada waktu. Pesan pendek yang paling pendek yang pernah saya terima adalah ‘g d jln, call u ltr, love u too’.

Dan memang, dia menelepon, lalu saya menelepon. Membalas pesan di facebook walau pun tidak panjang lebar. Kami menjaga komunikasi dan membuat selimut hati.

“Yang penulis kan kamu, saya penggemar saja,” katanya.

***

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Yanthi tentang urusan Day di Makassar, karena saya memang tak tahu apa urusan itu.

Setahu saya, Day ada di Makassar karena suaminya (juga istri lain suaminya) tinggal di kota itu. Urusan apa ke Makassar?

Well, meski saya selalu ingin tahu dan memang dididik demikian, tidak juga sampai tarap kepo kayak awak infotainment.

Tapi dari linimasa beberapa bulan terakhir, dari semua latar yang terbentuk, bisalah dikira-kira apa urusannya itu.

Tapi lagi, sebagai jurnalis dengan disiplin verifikasi, saya tak bisa memastikan apa pun. Tanpa konfirmasi, semua cerita adalah fiksi, baik fiksi ilmiah maupun tidak ilmiah sama sekali.

Secara resmi, urusan Day itu jelas tak ada sangkut pautnya dengan saya.

Secara tidak resmi? Emmhh, yah, apa boleh buat, semuanya memang tidak resmi, unofficial. Karena itu juga mudah disangkal, mudah ditinggalkan. Kata-kata unofficial itu bisa jadi jalur pelolosan yang sempurna. 

Yang saya bisa jawab dengan jelas adalah mengapa saya berhenti menelepon sejak pertengahan Desember.

Siang itu, saat menuju tempat parkir hotel Gran Senyiur usai meliput acara, dengan hati senang sebab banyak hal yang bisa ditulis, saya melakukan ritual tersebut, menelepon Day.

Oww…telepon tersambung dan diangkat. Saya menarik napas sebelum menyapa, “Hallo, assalammualaikum, …”

Sebuah suara lelaki muda menjawab, “Ini siapa ya…”

Entah kenapa, saya tidak bingung, tidak pula kaget. Saya memperkenalkan diri, juga menyebut siapa yang ingin saya hubungi dengan menelepon ke nomor seluler tersebut, dan apa keperluannya.

“Maaf, Bapak salah nomor,” kata si Anak Muda.

Salah nomor? Memang begitu istilahnya, salah nomor, bukan salah sambung. Saya telepon sekali lagi, tersambung lagi, dan kembali si Anak Muda itu menegaskan saya menghubungi ke nomor yang salah.

Salah nomor? Ini nomor telepon dimana Day menyimpan banyak nomor rekan bisnisnya. Saya tak pernah mengutak-atik nomor Day yang tersimpan di hp. Saya menghubungi ke nomor dia yang lain, mengirim pesan pendek menanyakan itu.

Seperti yang sudah terjadi sejak Oktober, tak ada jawaban apa pun. Maka, satu pintu komunikasi pun hilang, atau, entahlah, dihilangkan.

Saya mengujinya sekali lagi keesokan harinya. Saya menelepon lagi ke nomor itu. Tetap ada nada tunggu, artinya nomor itu aktif, namun kini jelaslah tidak untuk saya.

Hanya karena kesopanan barangkali panggilan saya tidak di-reject.

Saya merasa ditinggalkan lagi.

Tapi belum putus harapan. ***

Shizuko

Posted on Updated on

Shizuko Rizhmadani naik gunung bersama 26 temannya. Jadi mereka semua 27 orang. Wuih. Itu ramai sekali. Tak akan kesepian. Tak akan tak ada teman bicara. Yang jelas tak ada kesulitan saat ingin mengurus izin pendakian.

Tidak seperti Shizuka yang akhirnya menikah denga Nobita di serial Doraemon, Shizuko pulang dengan terbujur kaku sebagai mayat. Saya yang juga pergi ke tempat yang sama jadi bertanya-tanya, pada kemana 26 temannya? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan gadis 15 tahun itu?

Saya jadi ingat mata Day yang memandang saya khawatir.

“Yakin sendirian, Odi?” Hanya dia di dunia ini yang memanggil saya Odi itu. Abah dan Mama, yang memberi saya nama, menyebut saya Upi.

“Setidaknya sampai kaki gunung kan ada kamu,” kata saya.

Selain naik mobil ribuan kilometer, suatu saat saya ingin naik gunung bareng Day—saat dia sudah punya banyak waktu luang. Gunung wisata saja tak apa seperti Bromo. Ya petualangan kecil bersama anak-anak dan wanita mungil ini.

“Tapi kan buat dapat izin mendaki minimal harus bertiga…” tambahnya.
“Nanti saya cari teman. Biasanya ada saja solidaritas sesama pendaki,” kata saya.
“Baiklah, hati-hati ya,” pinta Day sebelum pulang dan kami berpisah. Saya menggenggam tangannya dan mengecup keningnya. Saya akan baik-baik saja dear.

Tukang parkir, yang rupanya memperhatikan kami, berkomentar. “Ibu gak ikut naik, Pak?”
Ehh…hehehe. Saya tersenyum saja. “Enggak kang, dia mengurus bisnis dan anak-anak.”

Nyatanya, saya nyaris gagal mendaki hari itu. Pukul empat sore, atau satu jam sebelum pengurusan izin pendakian ditutup, saya belum punya teman. Banyak yang datang, tapi hanya untuk mengurus izin, bukan untuk langsung berangkat.

“Kami tidak akan izinkan mas jalan sendirian. Kalau ada apa-apa, itu yang kami khawatirkan,” kata petugas itu.
“Yang diizinkan naik hari ini, sudah pada berangkat pagi tadi. Kalau mas datang lebih pagi, bisa bareng mereka,” tambahnya.

Aduh. Kecuali soal izin, semua hal yang saya baca tentang Gede-Pangrango tak bercerita soal ini.
Izin itu bisa diurus dari mana saja dari seluruh dunia karena badan pengelola membuka pendaftaran lewat website. Tapi aturannya sama, minimal bertiga. Saya yang mengajukan izin sendirian tak di-approve alias izinnya di-pending sampai saya ketemu minimal 2 teman lagi.

Waw, bagaimana ini. Tadi bicara sebagai jurnalis kepada Kepala Balai yang berwenang juga tak mempan.
“Kalau Mas Novi pulang dalam kantong mayat kan malah gak bisa nulis pengalamannya…”

Waduh, serem banget. Saya veteran pendakian banyak gunung lain yang medanya lebih ganas dan berbagai petualangan jenis lain. Gunung-gunung kami di Kalimantan jauh lebih seram, Pak. Gunung Besar atau Halau-Halau itu, meski hanya 1.800 meter dari permukaan laut, tapi perlu perjalanan 5 hari pergi pulang di medan yang terjal dan curam. Perjalanan ke Gunung Besar itu membuat trekking ke Semeru, termasuk  Gede-Pangrango ini, tak ubahnya jalan-jalan ke bukit-bukit di Lembang.  

Tak dianggap, hedeehhh.
Hmm, saya mencoba duduk tenang dan memperhatikan lagi.

Saya juga tak berniat jalan sendirian. Saya memang datang sendirian, tapi umumnya, seperti di Semeru, selalu ada kawan yang bermaksud sama dan kita dapat mengurus izin bersama-sama sebagai sebuah kelompok.

Cara mendaftar adalah dengan mengisi formulir untuk setiap orang, lalu melampirkan fotokopi KTP atau tanda pengenal yang sah lainnya, lalu membayar retribusi masuk Rp2.500 per hari dan asuransi Rp2.000 per orang. Jadi bila bertiga untuk 3 hari izin itu bernilai Rp27.500.

(Saya tahu kemudian, ada calo yang bisa dan biasa mengurus izin itu—untuk orang yang kepepet seperti saya atau mereka yang agak malas dengan semua urusan administrasi—dengan meminta Rp30.000 per izin).

Tak disangka, di gunung yang didatangi rata-rata 300 pendaki per hari dari pintu Cibodas ini saja saya kesulitan mencari teman.

Tunggu, kan syaratnya KTP saja yang paling penting di situ yang saya tak punya. Dan bukankah para pendaftar itu, ada yang mendaftar hingga untuk 10, bahkan 20 orang lebih, dan semua membawa fotokopi KTP untuk semua orang itu.

Tuhan yang Maha Baik, Tuhan para pendaki mengabulkan doa saya yang hari itu melewatkan salat zuhur dan hampir kehabisan waktu salat asar.

Datanglah dua pemuda ini, satu berperawakan kecil dengan jaket merah. Satunya lagi tegap dengan jaket kulit hitam. Firdaus si jaket merah. Freddy si polisi, anggota Brimob yang bermarkas di Kelapa Dua. Firdaus kuliah di Universitas Pakuan, Bogor, dan anggota klub pencinta alam di kampusnya. Firdaus dan Freddy teman main.

Yang lebih penting, mereka mendaftar untuk 10 orang, meskipun untuk mendaki pada hari yang lain.
“Buat akhir pekan nanti kang, kan hari libur ke jepit tuh,” kata Daus.

Pukul 16.50 soal izin yang awalnya ribet dan mengesalkan dan mendebarkan itu akhirnya beres. Daus memakai fotokopi KTP dirinya dan Freddy untuk menolong saya.

“Mana carriernya?” tanya petugas.
“Titip di warung depan pak,” kata Daus mantap. Hehehe.

Carrier itu tas ransel besar. Tingginya lebih dari anak umur 6 tahun. Juga beratnya bila penuh isinya. Inilah cara paling aman dan nyaman bagi pendaki untuk membawa semua barangnya yang banyak.

Firdaus dan Freddy mengantar saya hingga ke pos pemeriksaan izin tersebut. Ironisnya, untuk mereka sendiri, izin tak didapat. Kuota pendakian untuk akhir pekan itu sudah penuh.

“Bagaimana kalau bareng saya aja hari ini. Bekal tinggal tambah sedikit. Peralatan semua ada…” tawar saya.
“Hehe, makasih banyak kang, gak enak sama kawan-kawan,” kata Daus. Betul kau, anak muda. Salam saya untuk kawan-kawanmu. Bila ada yang bisa saya bantu nanti, jangan sungkan minta.

Daus dan Freddy kembali turun di tikungan depan beringin itu. Kami saling berpelukan dan saling mendoakan. Pesan untuk hati-hati saling disampaikan.

Saya dengar dari Daus kemudian, mereka tetap dapat izin itu, tapi lewat calo.

Memang selalu ada jalan ke gunung. Kawan saya si fotografer sableng Ardiles Rante juga bertutur, kalau ke Gede Pangrango, banyak sekali jalan tanpa harus lewat pintu masuk Cibodas, Gunung Putri, atau Salabintana. Memang tak resmi, tak tercatat, tak ada asuransi, dan risiko tanggung sendiri.

***

Shizuko tentu tak mengalami itu, kesulitan mengurus izin pendakian. Jumlah mereka yang besar, mungkin juga atas nama lembaga, sekolah, pastilah memudahkan semuanya.

Tapi kita semua juga paham—dengan segala niat baik—bahwa tujuan harus ada izin itu tentu bukan mempersulit, tapi untuk menyaring. Bahwa yang punya kualifikasi saja yang boleh mendaki.

Kematian Shizuko di gunung yang ramah seperti Gede-Pangrango adalah tanda tidak ada kualifikasi itu. Pada Shizuko semestinya dia tidak lolos tes kesehatan, bila itu ada nanti di Cibodas—sebagaimana sudah diterapkan di Tumpang sebelum mendaki Semeru. Ah, saya nyaris gagal juga mendaki Semeru karena kata Bu Dokter Ratih di Puskesmas Tumpang tekanan darah saya terlalu tinggi.

Kawannya Shizuko yang banyak itu mungkin akan lolos tes kesehatan, tapi jelas tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi di Gunung.

Bagaimana tak ada orang dewasa yang lebih berpengalaman bersama mereka?
Itulah yang kami ajarkan di klub pencinta alam-klub petualangan. Senior-senior yang baik tidak hanya menikmati menyuruh juniornya push up 500 kali, tapi juga menerangkan kenapa mereka perlu 500 kali push up itu.

Ada pelajaran tentang keadaan umum dan cuaca di hutan gunung, sungai, rawa, apa yang harus dibawa dan tidak, lalu bagaimana menyusunnya di dalam ransel, apa itu hipotermia dan penyakit di gunung lainnya, juga kecelakaan yang mungkin terjadi dan cara melakukan pertolongan, cara menentukan arah, apa yang boleh dimakan dan yang sebaiknya tidak di makan, hingga bagaimana membuat keputusan dari keadaan dan kejadian-kejadian, …

Norman Edwin memberi saran bagi awam dan pemula, bila ingin mendaki gunung atau turut serta pada kegiatan alam bebas, cobalah bergabung dengan klub pencinta alam yang bersungguh-sungguh pada kegiatannya itu.

Sebab Gunung hanya ramah pada yang mempersiapkan diri dengan baik, Saudara.

***

Norman tewas di Aconcagua dalam usia 37 tahun. Persiapannya tidak main-main. Ini proyek besar yang disebut Seven Summit Expedition atau Perjalanan Penaklukkan Tujuh Puncak Dunia. Tapi mengapa Norman tewas juga? Seperti Anatoli Boukreev dan ratusan nama yang terukir di tonggak pemujaan Sherpa di kaki Everest?

Saya selalu percaya bahwa sesungguhnya tidak ada kejadian yang kebetulan. Sebuah kejadian besar dibentuk oleh serentetan kejadian-kejadian kecil. Kematian Shizuko adalah akibat dari ketidaktahuan, ketidaksiapan, dan mungkin ketidakpedulian.

Norman dan Didik Syamsu tewas karena dihantam badai. Boukreev diterjang longsoran salju di Annapurna I. Norman kembali ke Gunung setelah menjalani operasi frostbite (radang beku) yang membuatnya kehilangan sejumlah jari. Saat kembali itulah badai mengurungnya dan Malaikat Maut menjemputnya. 

“Itulah takdir,” kata Day sederhana. Ia orang yang sudah banyak melihat kematian.

Takdir, memang dibentuk dari rangkaian kejadian. Dalam rangkaian-rangkaian itulah kita berusaha, kita berjuang. Dalam rangkaian-rangkaian itu juga kita memilih.

Mungkin, Shizuko memang memilih mati di gunung. Seperti Gie yang tewas di Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Shizuko meninggal menjelang ulang tahunnya yang ke-16. Kepada seorang teman, Shizuko sempat berkata, “Enak kali ya meninggal di gunung.”

Omongan yang menarik dari seorang yang (umumnya) baru akan memulai hidup.

Dan karena Shizuko sudah memilih, kita pun sudah sampai di akhir. Semua hal yang sebelumnya terjadi menjadi tak relevan lagi untuknya. Semua kejadian itu hanya relevan bagi kita. Sebagai cermin, sebagai model, sebagai contoh. Sebagai pengingat.

“Orang bisa mati dimana saja, Odi,” kata Day. Benar belaka. Jumlah remaja yang tewas di jalan raya atau karena narkoba jauh lebih banyak.

Saya tersenyum merinding. Shizuko benar. Tewas di Gunung memang lebih keren, tapi cukup merepotkan. Dan sekali lagi, sesungguhnya takdir itu bisa diubah.

Gede-Pangrango gunung yang ramah dengan Lembah Mandalawangi dan bunga-bunga edelweis, bunga putih bersih yang seolah mekar selama-lamanya dan terlihat sungguh romantis di bawah temaram sinar bulan. Karena itu ia disebut juga bunga lambang cinta abadi.

Kita harus pulang hidup, sehat, dan bugar untuk menceritakan itu kepada orang-orang yang kita cintai.

“Ini fotonya,” kata saya. (Mmm I love you so much, dear).

Day melihat foto-foto edelweis di Mandalawangi yang saya buat dengan antusias. Foto telah membuat edelweis sang bunga abadi menjadi bunga abadi yang sesungguhnya.

“Kapan-kapan saya pengen ke sini,” katanya. Matanya bersungguh-sungguh.

Nah… 

Sebuah Tatapan, Sebuah Senyuman

Posted on Updated on

Saya berutang terimakasih yang tak terhingga kepada seseorang yang menciptakan aturan ini: tiga bunyi bel-berbaris di depan kelas masing-masing, dua bunyi bel-semua harus tenang sehingga bunyi detik jam di ruang pengawas itu bisa terdengar, dan satu bunyi bel-semua boleh masuk kelas.

Itulah ritual sebelum masuk kelas di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin. Ketika saya praktik mengajar di sekolah itu tahun 1999, tak ada lagi bunyi bel dari pipa besi yang dipukul tersebut. Bunyi ‘teng, teng, teng’ sudah digantikan dengan bunyi elektronik ‘teeeeet’ dari bel listrik. 

Tak hanya bunyi teng yang sudah tak ada.

Sebagian guru-guru kami yang penuh beragam pengalaman hidup juga sudah meninggal, digantikan guru-guru muda lulusan sekolah tinggi ilmu pendidikan atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan.

Kelas-kelas kami di tahun 86-87-88-89 pun sudah tak ada. Kelas-kelas kayu dengan atap yang tinggi dan lantai yang cokelat khaki, dinding papan yang dikapur putih, tiang-tiang selasar yang bercat tebal berwarna hijau muda, semua sudah digantikan bangunan permanen dari batu, bata, dan semen. Atap sirap sudah lewat dan sekarang masanya genteng metal.

Begitu pula jendela-jendela besar yang panjangnya lebih tinggi dari kami saat itu. Bangunan baru memakai jendela yang lebih kecil dan menggantikan cahaya matahari yang bebas masuk di masa kami dengan cahaya lampu neon. 

Bangunan batu di atas rawa-rawa. Agak aneh melihatnya. Dan bukankah seluruh Banjarmasin itu rawa, tapi mengapa orang bersikeras membangun rumah batu yang mengusir air dari tempatnya dan memindahkannya ke jalan?

Jadilah Banjarmasin sekarang banjir di mana-mana. Air yang bingung mencari tempat lebih rendah akhirnya bersaing dengan mobil dan motor mengisi jalan-jalan kota.

“Wali Kota dan Wakil Wali Kota tak jelas apa maunya, apalagi kerjanya,” kata saya dalam hati—meski  Pak Wali Kota itu dulu saya kenal cukup andal mengurus klub sepakbola.

Pak Djumadri Masrun (yang piawai mengurus persatuan sepakbola seluruh indonesia kalimantan selatan) yang jadi wakil rakyat mungkin sudah capek mengingatkan.

Malang betul kalian, people of Banjarmasin, tinggal di kota yang sumpek jelek itu dengan pemerintah yang menyengsarakan yang kalian pilih sendiri. Enjoy.

Banjarmasin di masa saya SMP itu jauh lebih menyenangkan.  Setidaknya saya dan Day bisa berjalan-jalan di bawah naungan pohon angsana yang ditanam berderet di tepi jalan dan pergi pulang sekolah berjalan kaki dengan nyaman. 

“Banjarmasin tambah ruwet ya?” kata Day.

“Iya,” kata saya. “Lalu lintasnya, tata ruangnya. Bila flyover itu pun jadi, mungkin cuma menunda ruwet yang lebih dahsyat.”

“Itu meyakinkan saya untuk tinggal di Balikpapan saja,” senyumnya.

Amboi. Bunyi bel itu berdentang-dentang di kepala saya. Balikpapan, kubangun kujaga kubela.

***

Saya tak ingat benar hari apa hari itu. Tapi yang jelas bukan hari Senin, bukan hari Minggu, dan bukan pula hari Sabtu. Jumat juga rasanya tidak.

Bukan hari Minggu karena hari itu kita sekolah. Bukan Senin karena tak ada ingatan tentang upacara bendera. Sabtu kita mengenakan seragam pramuka dan hari itu seragamnya putih biru biasa.  Bukan Jumat sebab hari itu rasanya panjaaannnnggggg sekali.

Yang saya ingat pasti adalah waktunya, pukul 07.30. Setelah bel pertama yang 3 kali itu berdentang dan kami sudah berbaris di depan kelas masing-masing. Saya ada di sisi kiri dekat tiang selasar.

Beberapa anak yang terlambat masih berusaha mencapai kelasnya dengan berlari.

Dentang bunyi bel yang kedua, hening menyeruak.

Huppp…sosok mungil yang wangi ini menyelinap begitu saja di depan saya.

Hidung saya satu jengkal lurus dari ubun-ubun dengan rambut hitam mengilap itu. Saya menahan napas. Memiringkan badan ke kanan.

Dia tersenyum. “Numpang baris,” matanya yang bundar besar itu berkata.

Saya tersenyum juga. Membelalakkan mata, “Silakan…”

Satu bunyi bel ketiga. Keheningan 60 detik pecah kembali. Berganti dengan derakan banyak langkah kaki. Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya.

Kejadian yang sama terulang lagi beberapa hari kemudian.

Kali ini ia menyelipkan diri bukan di depan saya. Si Mungil itu berhenti di barisan di samping kanan. Ahaa, saya jadi lebih jelas melihat sosoknya. Perawakannya kurus. Tingginya lebih kurang 145 cm dengan rambut yang dipotong pendek. Ada lesung pipit di pipinya. Ada gingsul di giginya. Manis. Menunduk.

Dua bunya bel. Hening. Ia memandang ke kiri, ke arah saya.

Saya tersenyum. Ia tersenyum dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya itu.

Tiba-tiba saja saya jadi panas dingin dengan jantung berdentam-dentam.

Satu bunyi bel.  Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya. Rok birunya bergoyang seiring langkahnya.

“Namanya Day …” kata Noviannor, menepuk punggung saya terus memandangi perjalanan gadis itu hingga sampai ke kelasnya, I A.

***

Saya 13 tahun ketika itu. Day beberapa bulan lebih muda. Saya sendiri termasuk yang paling muda di kelas. Rata-rata kawan sudah berusia 14 atau 15 tahun.

Kami berada di zaman peralihan di pengujung tahun 80-an. Adat istiadat, tata krama timur masih acuan pergaulan sehari-hari tapi nilai-nilai baru sudah mulai diikuti. Banyak orang tua mengambil jalan tengah. Pacaran bukan untuk siswa SMP dan orangtua baru mengizinkan anaknya ‘berpacaran’ setelah si anak berusia 17 tahun. Setelah lulus SMP,  atau sekalian nanti saat kuliah.

Bahkan pacaran itu sendiri masih dalam perdebatan. Boleh atau tidak. Bila boleh, ngapain saja. Sampai dimana batas-batasnya.

Perdebatan itu bukan urusan kami. Cinta menemukan jalannya sendiri. Saya dan Day bertatapan, lalu saling tersenyum, dan bersurat-suratan. Juga mendengarkan gemuruh detak jantung kami sendiri di dalam barisan yang hening itu.

***

Demikianlah. Saya menulis berlembar-lembar surat dan menerima berlembar-lembar balasannya dari Day. Di sobekan tengah buku tulis, kami berbicara tentang apa saja yang kami suka dan tidak suka. Tentang Iwan Fals dan Krakatau, tentang Gadis dan Hai, tentang buku-buku Balai Pustaka, tentang Lupus dan adiknya Lulu, tentang guru-guru kami  (Pak Agus yang pemarah dan Pak Mukri yang menuntut perhatian penuh…),  tentang saya yang ketua OSIS, tentang kawan-kawan kami, tentang Mila kawan sekelas Day dan tetangga saya di Beruntung Jaya yang dengan sukarela jadi tukang pos kami, yang ditaksir kawan sebangku saya Mail (yang suka mencontek, dan konon kini jadi anggota DPRD).

Tentang Mail juga (orang yang sama, yang suka mencontek dan konon jadi anggota DPRD) yang juga naksir Enny yang jago main basket—kawan sekelas Day yang lain. Bahwa Day dan Mail ternyata bersepupu, bahwa Mila dan Mail pernah jadian untuk beberapa minggu, bahwa …

Pada 14 Februari, saya juga menerima dua kartu valentin. Merah hati, dan merah muda di tahun berikutnya. Disampaikan di tengah barisan yang hening dengan gemuruh jantung kami dan napas-napas yang ditahan. Mmm, I love u, dear, always.

“Masih kamu simpan?” tanya Day. Bibirnya ditarik dan matanya berbinar-binar.

“Dulu sih masih, di laci meja belajar. Tapi ketika saya pindah ke Balikpapan, lalu rumah di renovasi, kamar saya dibongkar, saya tak tahu lagi kemana semuanya—kecuali buku-buku,” kata saya.

Ketika saya berkata tentang rumah direnovasi itu, saya sebetulnya juga ingin menambahkan ‘dan saya menikah’ –tapi tentu kita tidak mengatakan hal seperti itu dalam suasana seperti itu bukan?

Saya ingin juga menanyakan hal serupa kepada Day, tapi jelaslah hidupnya lebih berwarna dan saya yakin surat-surat itu sudah lebih dahulu tak ada jauh sebelum rumah saya direnovasi.

“Saya dulu menyimpannya di lemari pakaian, di antara lipatan baju sekolah,” tutur Day. Perasaan saya melambung.

Those letters were parts of me. Bukankah surat-surat itu bagian dari diri saya.

Kami sarapan pagi pada pukul sembilan, dengan mi goreng instan dan tiga telur mata sapi di tepi jalan raya yang sempit di perbukitan itu. Di sepanjang jalan banyak yang menawarkan vila untuk disewa. Saya sungguh tergoda.

Melihat Day makan sungguh menyenangkan. Saya rela melewatkan pemandangan indah lereng-lereng hijau kebun teh dan kabutnya yang misterius demi setiap suapan dan senyumannya.

Pelan, saya bacakan sebuah puisi Soe Hok Gie …

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku

“Kita bisa bersama berziarah ke Mekkah,” kata Day. Dengan izin Allah, akan jadi perjalanan yang luar biasa. (Bacalah ‘Jalan ke Mekkah’, sobat).

“Dan kita mungkin tidak akan pernah punya anjing, walau kamu kepengin punya kan. Soal serdadu Amerika itu karena salah mereka sendiri menyerbu Vietnam. Biafra itu dimana? Kamp pengungsi Palestina? Fotoin bunga-bunga di Mandalawangi ya. Mmm, kita tak tahu siapa yang lebih dulu mati, cinta…”

Soal mati itu, dia tak bisa dibantah. Bersama saudara-saudaranya, Day menguburkan`ibu dan ayahnya, lalu dua kali memakamkan anak-anaknya yang meninggal karena sakit.

Saya membuat foto-foto bunga di Lembah Mandalawangi, tempat dimana abu jenazah Gie ditebarkan.

Di puncak Pangrango, sambil memandang awan yang menjauh dari Puncak Gede di seberang sana, kenangan di selasar di depan kelas itu berlintasan.

Seperti setelah dua kali bunyi bel, keheningan itu datang. Semilir angin. Daun dan ranting bergoyang di dalam barisan pohon-pohon. Saya mendengar detak jantung saya sendiri. Begitu hidup, begitu nyata.

Satu bunyi bel yang ketiga. Day bergegas menuju kelasnya. Kali ini saya tak hanya memandangi sosok mungil itu menjauh. Saya menjejeri langkahnya dan kami berjalan bersama.

Kami bertatapan dengan tangan bergandengan. Day tersenyum.

Kau dan aku, dear, semerbak karenanya. ***

Jalan ke Mekkah

Posted on Updated on

 

Saya senang sudah mengunjungi Gie. Baik di tempat ia berpisah dengan nyawanya di lapangan pasir dan batu kelabu di ketinggian 3.776 meter di puncak Gunung Semeru atau di tempat bermainnya di Gede-Pangrango.

Yang lain yang saya ingin kunjungi juga Norman Edwin dan Didik Samsu di Aconcagua di perbatasan Cile-Argentina. Dan seperti yang lain-lain juga, saya ingin bersimpuh di tempat di mana Abu Bakar, Umar, dan Usman, juga Ali dan para sahabat lain menguburkan Muhammad dan mencium batu hitam yang mulia itu.

“Mari buat perjalanan ini asyik,” kata Day. Setiap orang bisa saja berziarah, katanya, tapi gak setiap orang melakukannya dengan naik mobil dari Barcelona.

Barcelona?

Tentu saja start dari Balikpapan. Sebelumnya, hmm, mau menyeberang ke Jawa atau justru ke Pontianak saja? Dari Pontianak ada kapal ke Singapura kan. Atau menyeberang ke Surabaya lewat Banjarmasin, kampung halaman kami tercinta—yang sekarang semrawut, tapi tetap tercinta.

 “Tak ada kapal ke Singapura dari Pontianak,” kabar Bujang Martihar,  kontraktor yang tangan dinginnya membuat jalan negara mulus dari penyeberangan di Piasak-Tayan hingga batas Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah di Lamandau. Bang Bujang, sahabat baru tapi sudah bak teman puluhan tahun.

Jadi naik kapal dari Banjarmasin ke Surabaya. Dari Surabaya ke Malang. Ke Bromo-Semeru nanti saja. Tapi terus ke Jogja, Bandung, hingga Jakarta, lalu Merak-Bakauheni-Palembang sampai Riau. Mana lebih dekat menyeberang ke Batam lalu Singapura?

“Gak kepengen terus ke Medan dulu, ke Perbaungan—baru dari dari Belawan menyeberang ke Penang?” tawar Day. Dari Penang, lalu menyeberang Semenanjung Malaya—itu sudah separo Malaysia. 

“Kita kunjungi teman-teman, juga basis-basis perantau Banjar. Kalau di Jawa okelah bisa dilewati, tapi kalau di Tembilahan-Riau, Perbaungan-Medan-Deli Serdang, di Perak-Perlis, Pathani, kan sayang dilewatkan begitu saja…” kata Day lagi. Ai ai, dari mana ide itu?

Lalu melintasi Asia Tenggara (Thailand, Laos, Burma), Asia Selatan (Pakistan, India, Iran, Irak)…Saya bayangkan kami melewati jalan-jalan Delhi dengan Shah Rukh Khan menyanyikan Chaiya Chaiya, dan Kuch Kuch Hota Hay saat melintasi Agra.

Barulan masuk ke Eropa dari Balkan, sampai di Sarajevo-Parisnya Eropa Timur, ke utara dikit ke Romania, dan keluyuran di Eropa Tengah, Swiss, Berstechgaden, Austria, berfoto dengan latar belakang gunung karang Eiger, ngebut di autobahn di Jerman hingga Belanda (saya dan Day ingin mengunjungi Enny dan beberapa teman yang tinggal di Denhaag) turun ke selatan ke Belgia-Perancis  setelah sebelumnya curraheee, napak tilas pertempuran yang dijalani Easy Company, kompi dari resimen infanteri lintas udara Ke 506 Amerika Serikat dalam Perang Dunia II—tontonlah  Band of Brothers, kawan—diantaranya kota-kota Arnheim, Eindhoven, Carentan, Bastogne, sampai Alsace di perbatasan Italia-Prancis—baru masuk Spanyol buat mengenang 700 tahun kejayaan Islam di Andalusia—salat di Masjid Al Hambra—dan sebelumnya lagi tinggal di timur Spanyol, di Catalan, di Barcelona.

Yup, Balikpapan, Banjarmasin, Barcelona.

O Aku ingin berdansa denganmu, my dearest Day, di Plaza Catalonia dengan iringan lagu Canon in D dari Johann Pachelbel yang dimainkan dengan biola, lalu Nothing Else Matters yang dimainkan Metallica bersama San Franscisco Philharmonic Orchestra.

Lalu bersenang-senang riang dengan lagu Barcelona om Fariz RM—mungkin dari playlist di GT B2710 ini.

Quiere darme su direccion, senorita?  Ku ingin kau ajak serta malam ini.
Como se pronuncia oh juwita. Ingin kunyatakan cinta sepenuh rasa.
Hasta la vista mi amor. Penuh cinta…

Emm, kami tidak tidur di mobil malam itu.

(Boleh gak ya? Kan gak asyik tiba-tiba dirubung Satpol PP Pemkot Barcelona karena dianggap bikin ribut di tempat umum. Kartu pers saya yang lumayan sakti di Indonesia pasti tidak berlaku di sini, hahaha. Ah lagu Om Fariz itu lagu bagus dan tentang kota mereka, pasti semua yang dengar suka).

Mau berapa lama di Barcelona? Itu scam city, banyak copet dan penipu, kata Conor Woodman di National Geographic. Ya hati-hatilah. Masa gimbal gini takut—-jadi masih gimbal ni yaa. Casing tetap. Ok.

Dan ngapain lagi kalau bukan ke Nou Camp dan ikut jadi saksi El Barca menekuk Los Blancos si sombong Real Madrid.

Mungkinkah saat itu Messi masih ada di Barcelona? Mungkin masih. Jadi pemain senior dengan usia 34 tahun, dan entrenador Xavi Hernandez masih menurunkannya sejak dari menit pertama bila ia dalam kondisi fit.

Di mix zone saya pengen foto bareng dengan Jose Manuel Pinto yang jadi pelatih kiper, hehehe. Juga dengan Puyol, Carles Puyol jadi apa ya. Manajer Umum barangkali. Idola saya memang bukan striker dan pemain yang ganteng, tapi selalu kiper atau bek.

“Kalau saya mau foto bareng Fabregas,” kata Day. Waduh…saya jadi berpikir untuk menumbuhkan cambang dan kumis juga—lo, itu kan Pique. Eh, belum tentu FranCesc Fabregas masih main di Barcelona loh, my dearest Day.

“Cemburu yaaaa…”

Saya tak bisa mengelak. I do, I swear, by the moon and stars on the sky. Lebay, hahaha, tak perlu juga kau bersumpah Nov.  Kemana All 4 One sekarang ya?

Setelah beberapa hari baru lanjut ke selatan dan menyeberang Selat Gibraltar—Jabal Tharik, tiba di Maroko, menjelajahi Alzajair dan Gurun Libya di Afrika Utara ke arah timur hingga Mesir, belok kiri kembali ke Asia lewat Terusan Suez, aduh, lewat mana masuk Jazirah Arab yaa, apa menyeberang Laut Merah saja seperti Musa langsung ke Jeddah? Atau terus aja ke Yordania, mampir di Al Quds Yerussalem di Palestina baru ke Arab Saudi lewat utara dan terus ke selatan hingga Madinah, baru Mekkah.

Ah, keren sekali. Road to Mecca versi kami, dengan segala kenangan kepada Mohammad Assad si Leopold Weiss (wartawan petualang penulis) dan guru saya pak Abdul Muthim yang juga suka buku itu.

Oh, bukankah Assad juga dikuburkan di Spanyol. Wah, dimana yaa. Harus ketemu beliau sebelum menyeberang ke Afrika.

Keren banget. Berapa lama itu? Berbulan-bulan, pasti. Berapa mahal itu? Jelas lebih mahal daripada naik haji dengan pesawat terbang.

“Tapi tanpa biaya akomodasi yang besar,” cetus Day. Kami kan bisa tidur di mobil, dan di mobil  sudah disediakan semua keperluan tidur, ada velbed, ada tenda, ada sleeping bag.

“Kecuali di Barcelona, saya tak mau tidur di mobil di Barcelona,” katanya lagi. Saya juga tak mau, hehehe. Apalagi setelah dansa di Plaza Catalonia dan makan malam hidangan laut di Escriba di Poble Nou. 

Konsumsi? Baru diomongin tadi. Makanan tersedia sepanjang jalan. Kalau tak ada atau meragukan, kami masak sendiri. Ada rice cooker di mobil, ada kompor, ada gas butana. Ada cooler box untuk sayur dan ikan. Ada Indomie Soto Banjar Limau Kuit, ada corned, ada telur.

Setidaknya sampai ujung Malaysia tak ada yang perlu dikhawatirkan soal makanan.

Bukankah tadi kami juga mengunjungi teman-teman dan membuat teman-teman baru. Barangkali juga mampir di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia atau di Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk bertemu Yang Mulia Duta Besar dan Berkuasa Penuh … atau Pak Konsulat …

Naaa, untuk ini kayaknya kartu pers Antara saya bisa menunjukkan kesaktiannya, hehehe. Mereka semua kan teman-teman Kang Oe yang sekretarisnya judes tapi baik itu.

Hmm, bagaimana setelah selesai ziarah haji ini ya, apa masih mau pulang lewat darat lagi? Apa masih ada energinya ya?

Wah, kalau pulang dengan pesawat pasti disambut pakai lawang sekepeng (pintu gerbang, hahaha) dengan doa semoga menjadi haji mabrur oleh anak-anak.

Apa mau lanjut ke Afrika? Kan tinggal mutar balik tu kembali ke selatan, ke Teluk Aden, lalu menyeberang Laut Merah ke Ethiopia atau Somalia. Mungkin jalan terus sampai Afrika Selatan seperti Charley Boorman dan Ewan McGregor. Bajak laut Somalia mungkin sudah diberantas kali yaaa…

Atau cukup menjelajah jazirah ini, ke selatan dulu ke Yaman, baru ke Oman, dan finish di Dubai, Uni Emirat Arab—pengen liat menara itu, Burj Khalifa.

“Masa mau jalan terus. Pulang dong dear,” kata Day. Ya ya, pulang. Tapi dari mana?

“Ya dari Dubai itu bolehlah. Mobil dikirim pulang dengan kargo sampai Balikpapan lagi. Pulang pakai pesawat.  Aku ingin tidurrrr sampai Singapurrr …” kata Day lagi.

Mencurigakan. Kenapa tidurnya gak sampai Balikpapan, gitu? Mungkin ada hubungannya dengan mal yang sambung menyambung di Orchard Road itu kali ya? Hehehe. Baiklah, separo perjalanan ini dia juga menyetir bukan.

Hmm, iyalah. Itu Bunda Putri (hahaha) sudah bertitah. Walaupun masih rencana, tak boleh dibantah. Dan akuilah kalian, para lelaki, walaupun kadang terlihat terpaksa mematuhinya, memenuhi keinginan orang-orang yang kita cintai adalah salah satu alasan kenapa kita hidup.

I swear, by the moon and the stars on the sky. Demi bulan, demi bintang, demi langit malam. Nah, ini baru betul sumpahnya Nov. Hehehe.

Walaupun saya belum membuat sinkronisasi untuk perjalanan ini. Kapan harus mulai berangkat bila ingin tiba di Mekkah tepat waktu? Kapan El Classico Barcelona vs Real Madrid—jangan-jangan giliran Madrid yang jadi tuan rumah dan kami harus ke Santiago Berdebu, eh, Bernabeu itu, stadion terakhir yang saya ingin lihat di dunia ini, bahkan bagi saya lebih mulia lapangan rumput Stadion Parikesit, Stadion Persiba Balikpapan  yang menjelma jadi sawah bila hujan itu.

“Ya belum tentu juga kita ke Santiago Bernabeu. Jadwalnya kan sudah jelas biasanya, ” Day menenangkan. Ia tak habis pikir mengapa saya selalu emosi bila berbicara tentang Barcelona versus Real Madrid.

“Lagipula, bukankah lebih manis kemenangan yang direbut di kandang lawan, bukan,”  tambahnya. Oh may, I love you so much, babe.  

Untuk jadwal kayaknya Day aja deh yang atur. Saya mengurus mobil saja, sebuah Daihatsu Hiline yang sederhana tapi komplet. Apa dan bagaimana mobil ini, I ll tell you later, buddy. Saya ceritakan nanti, sobat.

Well, perjalanan, kawan, seperti air yang mengalir. Air yang deras mengalir biasanya  jernih meski ia sudah melalui banyak hal. Sampai ia menguap naik ke langit dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan.

Saya selalu ingin seperti itu. Deras mengalir sampai panas matahari menjemput.

Saat itu tiba, mungkin kita bisa ketemu lagi, Gie. Saya mungkin berpisah lagi dengan Day untuk sementara. Tapi my dear, setelah panas dan dingin dunia yang pun kelak kita jalani bersama, I love you, as always, hari ini di sini, atau nanti di kehidupan yang lain.  ***

sebuah buku, sebuah pilihan

Posted on Updated on

Hari itu, buku ini memilih saya. Sebuah buku yang sampul plastiknya sudah kuning dan sudah koyak. Banyak tangan sudah memegangnya.

Ia tergeletak di rak Karya Umum di Perpustakaan Wilayah (begitu sebutannya dulu). Rak Karya Umum adalah rak pertama setelah meja peminjaman buku, dari pintu depan kita masuk, ia ada di sayap kiri bangunan beratap tinggi dan dikelilingi jendela-jendela besar khas rumah banjar itu.

Buku itu tergeletak, tidak ikut berurut rapi dalam susunan buku. Tampaknya seseorang mengeluarkannya dari barisan, tapi tak jadi meminjamnya. Mungkin juga baru diletakkan lagi oleh petugas setelah baru dikembalikan namun belum sempat dimasukkan lagi ke urutannya.

Sebuah buku dengan cover warna merah, putih, dan hitam. Di bagian sampul di sepertiga bawah buku yang berwarna merah dilekatkan foto demonstrasi mahasiswa di tahun 1966 yang menggelora.

Sebuah buku setebal dan seukuran batu bata dari cetakan tahun 1989. Terbit pertama kali 1983. Pada sampul belakang ada foto hitam putih tampak samping seorang remaja Tionghoa berpipi tembem dan bercelana pendek, entah memandang apa dia di kejauhan.

Di bagian putih di tengah sampul depan, tertera judul buku ini. Judul itu ditulis miring 45 derajat ke arah kanan, dengan huruf courier dan seluruhnya huruf kecil, dalam tinta hitam yang tegas: catatan seorang demonstran

Di seperempat atas puncak buku, dengan dasar hitam dan tinta putih nama Soe Hok Gie ditulis dengan huruf Arial kurus setinggi 2 senti. Dia lah yang empunya catatan dan meninggal dalam usia 27 tahun di puncak gunung keramat itu.

Maka saya menemukan mau jadi apa saya nanti. Usia saya sudah 16 tahun, kelas 2A2.2 SMA Negeri 7, di Banjarmasin, di Kalimantan Selatan.

***
Jadi demonstran? Hehehe, bukan ternyata. Ah…, benarkah bukan?
“Saya tahu. Kamu kan memang sejak dulu kepengen jadi jurnalis,” kata Day.
Sejak dulu sejak kapan? Masa SMP itu saya hanya suka membaca dan menulis dan olahraga.

Cita-cita? Sudah lupa saya. Waktu SD pengen jadi insinyur pertanian karena suka desa, sawah, dan menanam sesuatu karena suka nonton acara Dari Desa ke Desa di TVRI (juga Lomba Kelompencapir yang pakai kentongan itu), dan sinetron Kisah Serumpun Bambu (kisah keluarga mas Barep yang sukses dan tinggal di desa)—dan Rumah Masa Depan (kisah yang berpusat pada keluarga Pak Sukri yang tinggal di Desa Cibereum). Juga pernah kepengen ikut transmigrasi dan jadi petani.

“Tapi saya benar kan. Kamu akhirnya jadi jurnalis juga,” Day bersikeras.
Orang-orang Taurus, atau Gemini (ah, my dear Day, kamu Taurus atau Gemini sih?)* memang keras kepala—dan saya bersyukur lahir di bawah Mars yang merah di bulan November. Konon, kami para scorpio dibekali DNA khusus untuk menghadapi cewek-cewek yang keras kepala seperti makhluk mungil di depan saya ini.

*(Day punya dua tanggal lahir resmi yang berbeda satu minggu. Di tanggal yang pertama ia adalah Taurus, tanggal yang kedua—yang selama ini saya tahu, memasukkan ia ke dalam Gemini).

“Kamu percaya zodiak?” kata Day dengan tatapan heran.
Saya percaya apa saja yang baik dan membuat saya bersemangat. Aslinya kan zodiak itu hasil riset yang luar biasa dari kelakuan manusia dan pergerakan benda-benda langit oleh para pengamat jenius di zaman Yunani Kuno. Seseorang kemudian menghubungkan kedua hal itu dan menemukan ternyata orang-orang scorpio selalu misterius dan kalau ia bisa jalan bareng dengan gemini atau taurus itu keajaiban karena kebersamaan mereka memerlukan pengorbanan yang luar biasa besar dari keduanya.

Masih ada halaman zodiak di majalah? Heheh, dulu sih saya juga pernah jadi peramal (penulis ngawur lebih tepat) bintang ini untuk majalah sekolah kami dan tabloid remaja yang bagus namun berumur singkat di Banjarmasin.
Tapi Day memang benar. Justru karena membaca dan menulis itulah saya jadi jurnalis dan tidak jadi petani profesional. 

*** 

Lewat bukunya itu, Gie memberi semangat, model dan teladan, dan sebuah jalan hidup yang sangat menarik saya. Hanya mati muda yang saya tak mau, meski kawan-kawan di mapala pada berkoar mengutip puisinya, bahwa nasib terbaik adalah tak dilahirkan, dan kedua terbaik adalah mati muda.

(Saya juga tidak menggolongkan nasib saya jelek dalam usia yang sudah 10 tahun lebih tua dari Gie ini, yang meninggal di usia 27 tahun—Gie yang sosialis dan mungkin agnotis mungkin tidak pernah diberi tahu bahwa manusia boleh tahu semuanya, tapi tidak umurnya, rezekinya, dan jodohnya).

Tapi ya, Gie berada di zaman yang susah. Itu mungkin yang membuat mati muda menarik. Bersama dia ada Keith Moon, Janis Joplin, Jimi Hendrix, rombongan flower generation yang memang sungguh asyik, dan bukankah ribuan serdadu Amerika yang mati di Vietnam juga anak-anak muda?

Gie memberi contoh apa saja yang bisa ditulis oleh seorang anak, seorang remaja tanggung, remaja akhir, dan orang baru dewasa, serta orang dewasa. Gie menulis buku harian.

Saya mengikuti teladannya. Di buku harian yang buku tulis biasa (bukan buku tebal mahal wangi bersampul kulit, memang harusnya buku harian seperti apa?), saya mengikuti Gie memperhatikan semua yang tertangkap indra dan dirasakan hati dan terlintas berputar-putar di pikiran dan menuliskannya.

Meski demikian, di usia 16 tahun itu Catatan Seorang Demonstran hanyalah satu dari buku yang membuat saya terpesona. Beberapa tahun sebelumnya Marah Rusli sudah mempertemukan saya dengan Datuk Maringgih dan diharu biru Sitti Nurbaja dan gerombolan para pendekar sastra Balai Pustaka lainnya.

“Saya suka Di Bawah Lindungan Ka’bah,” kata Day. Oh, Hamka memang romantis—dan tragis. Entahlah, kenapa masa itu orang suka sekali menulis hal yang tragis dan penuh keputusasaan. Begitu pula bukunya yang lain, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck—yang jadi favorit Fitriani Hayati dan Si Neng suka yang sudah jadi film.

“Hmm, siapa itu?”
“Siapa? Oh, Ipit…?”
“Yup.”
“Murid terpintar di kelas kami, I B, di sekolah kita dulu.”

Day mengangguk-angguk. Naluri perempuannya tampaknya tak percaya keterangan saya bahwa Hayati hanya ‘murid terpintar di kelas kami’. Oh please, no need to worry sweet, I am yours now.

Ehh, semua gadis itu yang tersebut itu, meski dari masa yang berbeda, Hayati, Day, Neng,  seluruhnya  alumni SMPN 3 loh. 

Saya juga sudah terhanyut dalam petualangan Old Shatterhand di Winnetou Kepala Suku Apache atau Kara ben Nemsi yang diceritakan dengan sangat memikat oleh Karl May, berjilid-jilid cerita sejarah Tiongkok, pelajaran dan perkelahian kungfu tingkat tinggi, romantisme, dan khotbah Kho Ping Hoo, empat jilid buku Merdeka Tanahku Merdeka Negeri karangan Purnawan Tjondronegoro tentang bagaimana Overste Soeharto mengatur kembali pasukannya yang cerai berai dan memukul balik Belanda dalam 70 hari di kisah Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Juga Ringkasan Sejarah Islam yang ditulis A Latief Osman terbitan Bulang Bintang, buku tahun 1955 dari kumpulan buku milik Mama, dan buku yang ringkas ini, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan, oleh Norman Edwin, seorang jurnalis petualang yang memuat alamat Kompas Borneo Unlam di Banjarmasin.

Dan, omitohud, siancai, siancai, hehehe, sorry bro, stensilan enny arrow juga. Kalian juga, bukan—dan anak-anak sekarang mendapatkannya dari internet dan situs-situs yang coba diblokir Kominfo.

Saya pun sudah melewati dua kali penataran Pendidikan Pengamalan dan Penghayatan Pancasila. Di penataran itu, sungguh, diajarkan, disebelah mana Anda lelaki harus berdiri bila bersama dengan perempuan. Di sisi mana Anda harus berada ketika menyeberang jalan yang ramai dengan seorang anak kecil, seorang tua, dan seorang wanita—tak peduli dia cantik atau tidak, gadis atau janda, kenal atau tidak.

Saya sudah jadi pelahap budaya pop yang disajikan majalah Hai, dan sudah berkenalan dengan Metallica.

Zaman saya adalah masa yang jauh lebih nyaman daripada masanya Gie.  Saya sudah merasakan tetesan kue kemakmuran dari Jenderal Soeharto. Apa yang saya perlu perjuangkan ketika itu adalah masa depan saya sendiri. Nyaris tidak ada orang yang kelaparan di sekitar saya sehingga harus memakan kulit mangga yang didapatnya dari tempat sampah.

Saya bersekolah di sekolah terbaik di Kalimantan Selatan, mungkin saat itu juga terbaik di Kalimantan, dan salah satu sekolah terbaik di Indonesia.

Maka, yang paling mengesankan bagi saya dari buku Catatan Seorang Demonstran bukan kisah-kisah Gie dan kawan-kawannya turun ke jalan dan mengganyang para menteri plintat-plintut. Bukan itu.

Saya mengagumi bagaimana Gie, dalam usia yang sangat muda punya kesempatan membaca banyak buku bermutu dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, buku-buku yang membuat ide-idenya berloncatan, pemikiran tentang bagaimana berbangsa dan bernegara mesti dijalankan.

Buku-buku yang membuat ia sangat kritis pada keadaan, pada kampusnya, pada dosen-dosen, pada kawan-kawannya, bahkan pada dirinya sendiri.

***

Saya jadi ingin membaca semua buku yang disebutkan Gie di dalam Catatannya itu—seperti saya ingin membaca semua buku yang dibaca Goenawan Mohammad yang menjadi inspirasi dari kebanyakan Catatan Pinggir, kolom yang ditulisnya untuk Tempo—majalah masa kecil saya.

(Sorry, mas Goen, bang Almin, kang Sunu, mas Baskoro, kak Leil, benar-benar majalah masa kecil saya—bacanya gantian dengan Bobo, Ananda, Si Kuncung, Kucica, Sahabat, Harmonis, Panji Masyarakat, dan banyak komik mulai dari Djaka Sembung-nya Djair sampai deretan Marvel dan DC Comics. Cuma saja saya bacanya di rumah Syamsul Muarif, orang Barabai yang kemudian jadi Menteri Kominfo—nanti cerita soal ini yaaaa).

Lalu, Gie juga suka menonton film, membuat puisi, naik gunung, dan aha…pacaran juga. (Walaupun kata Herman O Lantang, sahabatnya, Gie tidak punya pacar. Pengalaman cintanya tak sebanyak buku-buku yang dibacanya. Nah, ada teman perempuan mereka yang curhat soal cinta ke Gie, maka oleh Herman dan kawan-kawan lain dikatakan, itu sama saja curhat kepada dengkul).

Gie mengajari berpikir kritis dan berkata lugas. Waktu masih SMP dia sudah bisa berkata ‘guru bukan dewa dan murid bukan kerbau’ untuk menggambarkan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang (barangkali lupa) apa saja karya bung Chairil Anwar sementara menyalahkan apa yang disebutkan Gie.

Gie pun terpaksa pindah sekolah karena sikap kritis ini. Perjuangan selalu ada harganya ya…
Pada saya, tak ada yang harus pindah sekolah. Malah saya jadi kuliah lebih lama karena keasyikan keluyuran—sejujurnya, karena bosan teori juga, tapi masih takut menghadapi dunia.

Tapi saya puas sepuas-puasnya. Saya cinta Indonesia tanpa indoktrinisasi, tetap cinta meski politikusnya benar-benar berlaku seperti tikus. Bila belum tahu seperti apa kelakuan tikus, teman, dengarlah petuah ayahnya Remy si tikus dalam film Ratatouille.

Seperti Gie, saya percaya kecintaan kepada bangsa dan negara hanya bisa tumbuh sehat bila kita mengenal obyeknya, yaitu bangsa dan negara itu, dan alam serta lingkungan tempat hidup manusia-manusianya.

***

Jadi benarlah entah kata siapa itu, buku adalah jendela dunia, meski Soekarno benci textbook thinking. Untuk bisa berkeliaran di alam bebas liar ini, sering kita harus membaca buku dulu, sobat. Soekarno bisa berkata begitu pastilah karena sudah melahap ribuan buku, seperti hanya musisi kugiran yang bisa berimprovisasi dengan nyaman.

Sekali-sekali, biarkanlah sebuah buku menemukan dan memilih Anda, lalu lihat dan rasakan apa yang terjadi kemudian.

(Pastikan majalah Playboy Anda tetap berada di rak tertinggi di dalam kamar, dan ada cukup kuat parental filter di saluran internet Anda). ***

Karena Saya Bukan Dul

Posted on Updated on

    Saya menunggu-nunggu Day di sekolah kami, SMAN 7 yang tercinta, Juli 1990. Di papan pengumuman siswa baru yang diterima, dalam kertas buram yang distensil, namanya terpampang jelas: Day… 38,56.
    Angka di belakang namanya itu adalah besaran Nilai EBTANAS Murni (NEM), yaitu akumulasi dari 6 nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional untuk tingkat SMP: PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dalam penerimaan siswa baru saat itu, panitia mengurutkan mulai dari pendaftar dengan NEM tertinggi hingga NEM terendah dengan batas akhir daya tampung sekolah itu. SMAN 7 saat itu punya daya tampung 200 siswa baru setiap tahun untuk dibagi ke dalam 5 kelas satu—ketika itu sebutan untuk kelas terendah masih kelas satu (sekarang kelas sepuluh ya? Kelas X).
    Saya bangga. Nama Day berada di urutan duapuluhan. Meskipun NEM terendah di ujung sana, bila saya tak salah ingat, adalah 35. Rata-rata NEM siswa yang diterima adalah 37. Jadi, dia di atas rata-rata bukan.
    Hari itu, SMAN 7 Banjarmasin, yang sebelumnya bernama SMPP 28, Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (sekolah kejuruan apa itu ya) sudah menjadi sekolah favorit para orangtua dan idaman para siswa SMP. Hampir semua mereka berusaha memasukkan anaknya atau dirinya ke sekolah ini dengan berbagai cara.
    Yang menjadikannya favorit adalah prestasi sejumlah siswa dan guru di berbagai bidang lomba dan kegiatan pelajar di macam-macam tingkatan. Tahun-tahun itu, hampir setiap Senin, ada saja piala, atau trofi, atau piagam tanda prestasi dan kemenangan siapa dan tim apa saja dari SMAN 7 yang diumumkan setelah upacara bendera.
    Para guru kami di sini memang mendahului zamannya. Saat itu belum didukung ide bahwa justru di kegiatan ekstrakurikuler sering siswa menemukan jatidirinya dan melakukan hal positif yang disukainya—yang jadi bekal untuk jadi ‘orang’ kemudian.
    Di SMAN 7 tidak. Kendati tidak diwajibkan, juga meski kegiatan ekstra di situ ketika itu tidak sebanyak seperti di SMA Patra Dharma di Balikpapan sekarang (sampai 30 ekstrakurikuler, seingat saya, gile), oleh Pak Kepala Sekolah Pak Misera Gumberi (semoga Allah melapangkan kubur beliau dan mengampuni dosa-dosanya), yang menyapa kami dengan sebutan “Anda semua …” dan menganggap kami setara dengan dirinya seperti di sekolah-sekolah di Barat— setiap siswa di dorong untuk bergabung minimal dengan satu kegiatan ekstra.
    Saya menghabiskan dua tahun di sekolah ini untuk bermain dan serius di ekstrakurikuler: main basket, mengurusi koperasi sekolah, menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah paling terkenal, tetap nyambung jadi Pramuka, belajar lebih spesifik hal pertolongan pertama di Palang Merah Remaja (PMR), serta belajar main drum dan bass gitar—meski untuk dua keterampilan musik ini saya tak pernah tampil di depan lebih dari 10 orang.
    Karena banyaknya pemain basket di sekolah kami itu, saya sudah cukup puas jadi pemain inti di kelas kami saja. Pernah juga masuk daftar pemain SMAN 7 untuk sebuah partai ujicoba, sudah berkostum biru biru kuning itu dan siap di pinggir lapangan, tapi tak pernah diturunkan pelatih—Pak Rosehan, guru olahraga kami, hahaha.
    Pelatih suka pemain yang penuh aksi, dan 2A2.2 hanya punya satu pemain seperti itu. Adalah si Bosse Anugrah Yusran yang jangkung dan memang pindah dari SMAN 5 ke SMAN 7 murni karena ia jago basket.
    Memang, hanya Ade, panggilan Bosse, yang secara resmi masuk Tim Sekolah. Walau 2A2.2 masih punya Noviannor (iya bener, teman SMP yang mengenalkan Day itu) yang juga jago shooting—dan dia berani menerobos sampai bawah ring. Untuk tembakan 3 angka ada Ketua Kelas kami si Jack Andy Ruhelman. Andy juga bisa jadi center yang handal, terutama bila si jangkung Bosse dijaga ketat lawan.
    Gaya permainan saya memang tak cocok untuk Tim Sekolah. Saya point guard tapi lebih suka menembak dari jauh saja, shooter. Benar-benar hanya shooter, bukan slamdunkers. Karena badan saya tergolong kecil saat itu, dan saya juga berkacamata, saya memilih tidak menerobos pertahanan di bawah ring. Itu bukan bagian saya.
    Saya beroperasi kebanyakan dari sisi kiri lapangan saat menyerang—atau sayap kanan lawan. Memang masih di area dua angka. Tapi dengan latihan shooting satu jam saja sehari, kami sudah menguasai dunia level kelas itu. Bayangkan bila kita berlatih 4 atau 5 jam sehari yaaa.
    Tim 2A2.2 solid karena saling percaya meski tidak punya pemain bintang—Bosse, yang pernah jadi kawan sebangku saya, hehehe dan dia malasnya minta ampun, tidak dianggap bintang di 2A2.2 terutama karena ia sendiri minta demikian. Kami bermain kolektif. Kami bermain dengan komunikasi, saling berteriak di lapangan apa yang harus dilakukan di bawah komando kapten tim, Captain Jack.
    Karena itu siapa saja bisa jadi pemain keempat atau kelima. Bahkan kami kerap bermain dengan Nisa, atau Sesanti Lestari sebagai guard. Yup, Nisa ini anak perempuan yang tomboy dan sangat atletis. Jangan coba-coba menantang Nisa kalau cuma modal nyali, hehehe. Sesanti Lestari, emmm, rasanya karena Jack naksir dia deh, hehehe.
    Oh iya, lupa saya. Nisa masuk Tim Sekolah yang wanita. Saya dan Nisa bersepupu. Saya punya satu sepupu lagi di kelas sosial, Alfi, yang atlet semipro, seorang kiper andal untuk PS Angkatan Darat.
    Paduan dari semua itu, kelas dua biologi atau 2A2.2, lalu 3A2.2, adalah pemegang hegemoni bolabasket SMAN 7 1990-1991. Kami sudah mengalahkan tim dari seluruh kelas yang ada saat itu, ditambah tim dari kelas-kelas di sekolah lain (yang ada di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3…). Kami berlatih (maksudnya bermain sesama kami) tiga atau empat kali seminggu dan bertanding serius (melawan tim kelas lain atau tim kelas dari sekolah lain) di hari Jumat atau di hari Minggu pagi dalam pertandingan home (di lapangan biru di sekolah kami) maupun away (di lapangan sekolah lawan atau pun di tempat netral).
    Saat kami 3A2.2, anak-anak kelas satu pernah bergabung membuat sebuah dream team versi mereka untuk mengalahkan kami. Tapi sekali lagi, pengalaman bermain bersama hampir 2 tahun (saya dan Noviannor malah hampir 4 tahun), ketenangan, dan rasa humor, mengalahkan mereka.
    Aduh, belum lagi pertandingan-pertandingan kami yang lain, cerita DASI majalah yang menghebohkan itu dan Maoelidhien Mohammad dan kru-nya yang militan, Sofi dan upacara bendera, Nana dan PMR, OSIS dan Franky yang ribet, A Jiaw dan dua kali kepanitiaan OPSPEK yang seru, perpustakaan, puasa Ramadan, guru-guru yang bersahaja tapi luar biasa, tukang kebun dan penjaga malam, pencok Adul dan bakso Ujang dan kantin sekolah oleh Paman Usup dan …
    Hehehe, betapa engkau, my dear Day, membuat saya hidup dan terus bergerak meski dari kejauhan sana.
    Dan itulah sedihnya bagi saya. Day tidak pernah muncul di sekolah yang luar biasa ini. Saya menunggu hingga hari terakhir pendaftaran ulang, bertanya kepada staf Tata Usaha (TU) yang membantu panitia pendaftaran.
    “Tidak ada, pacarmu tidak mendaftar ulang di sini,” ledek Pak Nasrudin Susan–ups, dia bukan staf TU, dia bosnya.
    Aduh, kemana Day?
    Maafkanlah saya sobat, juga engkau, my beloved Day. Ini masih akhir 80-an dan baru awal 90-an. Ini juga Banjarmasin (walau ketika itu masih asri sekali). Belum ada ponsel. Telepon rumah pun baru ada di beberapa keluarga kaya. Day dan saya merenda kisah dan kasih dengan surat-surat yang kalau tak disampaikan sendiri, dititipkan teman terpercaya (yang semuanya teman dekat Day). Saya bahkan tidak tahu alamat persisnya rumah Day (untuk mengirim surat lewat pos) meski bisa mengira-ngira dimana rumah yang mendebarkan itu adanya.
    Masalah sesungguhnya, saya bukan Dul, si AQJ yang di umur itu sudah memastikan dia punya pacar dan mampu mengantar pulang si doi dengan mobil mewah miliknya sendiri—meski dalam perjalanan pulang kembali ke rumah tak mampu mengendalikan mobil mewah itu dengan benar dan menjadi penyebab kecelakaan yang menewaskan 5 orang seketika dan seorang lagi di rumah sakit.
    (Day menunjukkan pada saya lokasi kecelakaan yang menewaskan 6 orang tersebut ketika kami melewatinya di tol itu).
    Well, hari itu saya masih anak tanggung umur 14 tahun yang penuh rasa minder dan keragu-raguan (terutama dalam urusan lawan jenis), yang dibesarkan Nenek yang gampang marah walau baik hati. Yang menyembunyikan diri dibalik catatan harian dan bekerja jadi loper koran.
    Hari ini, saya memaafkan diri sendiri dan menyalahkan zaman kendati kata-kata what if, jika, seandainya, tak menolong.
    Day menghilang, Juli 1990. ***
  • Atas Nama Dia yang Maha Pengasih Lagi Penyayang

    Posted on Updated on

    Saya mau membuat cerita ini sedikit lebih rumit seperti di sinetron-sinetron kita. Biar asyik dan rada seru.  Bagaimana caranya?

    Oh gampang. Orang Indonesia adalah tukang bikin ruwet keadaan.  Saya tinggal mengubah, bisa menambah atau mengurangi status tokoh-tokoh dalam cerita ini.

    Dan inilah status yang paling hot: Day ternyata masih istri orang lain.

    Ehh…

    “Kamu pikir 25 tahun kita tidak bertemu saya duduk-duduk diam begitu?” kata Day. Seolah-olah sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.

    Oh tidak, tentu saja saya tidak mengira demikian. “Saya hanya tidak menyangka kita bertemu lagi,” kata  saya, seolah-olah memang sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.  

    Saya mengenal Day saat berusia 13 tahun, dan Day 12 tahun 7 bulan. Seorang kawan, yang kebetulan bernama Novi juga, laki-laki juga, mengenalkan kami. Novi yang ini (Noviannoor) teman sekelas saya di kelas dua di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin.

    Karena itu di kelas kami tersebut, sebab ada satu lagi yang bernama Novi (Novitasari, yak betul, doi perempuan), saya dipanggil sebagai ‘Snake’ untuk sedikit membedakan. Konon, kata yang memberi julukan, tampang saya mirip tokoh Snake dalam drama seri Different Strokes—hmm, ada Lisa Bonnet yang seksi juga di serial itu, kalau tak salah. Harap diingat, ini masih zaman kejayaan TVRI, sobat.

    Bagaimana cara Noviannoor mengenal Day, saya tak sempat tanya. Saya baru ingin menanyakannya sekarang. Nantilah kalau ketemu dia.

    Tapi, ah, bagian awal saya mengenal Day ini rumit, jadi kita lewati dulu ya. Sayang kalau diceritakan hanya menempel di cerita lain. Harus dalam judul sendiri.

    Jadi begitulah, Day menikah 16 tahun lalu. Suatu hari di tahun 1998 mungkin. Di tahun itu, dari Banjarmasin, saya bersama sejumlah teman di Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat tengah keluyuran kemana saja di Indonesia untuk menjelajah hutan, mendaki gunung-gunung, merayap di kelam gua, memanjati tebing-tebing, dan berhari-hari berpanas-panas menyusuri sungai, baik dengan rakit bambu, jukung, atau perahu karet.

    Sebab itu, barangkali, saya pernah jadi korban rasisme oleh orang sebangsa sendiri.

    “Pak Novi orang Banjar ya?”

    “Ya Bu,” kata saya.

     “Tapi kok hitam ya?” Hitam? Maksudnya? Ah, si Snake yang di serial Different Strokes memang hitam.

    Kurang banjar, eh kurang ajar bukan. Bahasa Banjar saya lebih fasih daripada Si Ibu berkerudung ala punuk unta itu. Pengetahuan adat istiadat, seni budaya, geografis, sosial, …hahahaha, termasuk ini, sifat-sifat jelek orang Banjar yang tinggi hati dan suka berlagak, saya jelas lebih daripada dia.

    Lebih-lebih lagi, saya lahir dan besar di Banjarmasin, kota pusat kebudayaan Banjar. Si Ibu itu jelas-jelas pegang KTP Samarinda. Di mana sih, Samarinda dalam peta budaya Banjar? Hehehe…

    Hanya karena dia berwarna lebih terang daripada saya, maka dia lebih Banjar daripada saya? Ah sudahlah.

    Nah, senior-senior kami di Kompas Borneo Unlam itu lebih hebat lagi. Mereka berteman dengan Norman Edwin, idola saya untuk urusan petualangan dan kewartawanan. Mereka pelopor yang membuat dinding panjat pertama di Kalimantan di awal tahun 80-an.

    Mereka juga berteman dengan Effendi Soleiman yang gemar bertualang di laut sendirian. Effendi sukses mengompori mereka bikin adventure menyeberangi Selat Makassar, lautan sedalam 7.000 meter dengan perahu selebar 50 cm dan panjang 500 cm selama 5 hari, dari sebuah desa bernama Mekar Putih di Kotabaru, Kalimantan Selatan, menuju Pare-pare di Sulawesi Selatan.

    Kami kemudian turun ke jalan ikut berdemonstrasi minta Presiden Soeharto mundur.

    Nah, siapa yang memikirkan pernikahan saat itu? Bertemu dengan yang mau dinikahi pun belum. Kalau pacar sih banyak. Ada Ida yang manis semanis kue kacang di Kopma, ada Ira (yang saya panggil ‘aira’ mengikuti pelafalan nama itu dalam Bahasa Inggris. Si Aira ini kawan membolos di perpustakaan sekampus sejurusan saya dan kawan cas cis cus Bahasa Inggris yang asyik.  Ada Yuli yang diam-diam menghanyutkan, ada Arrie, ada Lydia, Ida lagi—yang ini gadis yang luar biasa, tabah hingga akhir, tetap senyum ceria meski divonis kena kanker payudara—sedih. Untuk Ida yang ini saya suka menghadiahkan bandana—untuk rambutnya yang perlahan rontok karena kemoterapi.  

    Siapa lagi, yaa, hmmm, ada  Yuli lagi. Yuli yang kedua ini layak dikisahkan dalam sebuah cerpen yang romantis religius, sobat. Saya kembali berjanji untuk bercerita dalam bab lain secara khusus ya.

    Mungkin Neng juga. Ada yang karena memang namanya Neng, ada yang di rumah oleh mamanya dipanggil Neng (cerita Neng yang oleh mamanya dipanggil Neng ini, ehem—ini kisah mengharu biru sepanjang 2001 yang membuat saya bertualang dari Banjarmasin, Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, hingga Kuala Lumpur, dan Day dengan bijaksana mengizinkan saya yang sableng ini menuturkan kisahnya kapan-kapan).

    Dan, ada seseorang lagi yang luar biasa juga, yang, akhirnya dengan penuh kebesaran jiwa melepaskan saya yang brengsek ini. Bersama dia, Tuhan yang maha pemurah mengizinkan saya menjadi ayah dari  tiga anak perempuan yang cantik-cantik dan hebat-hebat.

    Ada pula beberapa yang namanya tak bisa saya sebut di sini terang-terangan karena beragam alasan.

    Yahh, hampir semua petualang adalah playboy cap duren atau cap gayung bocor.

    “Apa boleh buat, kalau tidak karena mereka, mungkin saya akan bertemu orang yang berbeda,” kata Day. Emm, makasih ya sayang. I love you.

    Cewek-cewek itu—satu-satu, tentu bukan berendeng-rendeng pada saat yang sama—mereka mau saja jalan bareng saya, merunduk-runduk di antara rak-rak buku di perpustakaan dan bicara dengan berbisik-bisik, minum es krim (atau makan es krim?), makan bakso dan bubur ayam, tertawa dan tegang bersama di amphiteater Taman Budaya atau Gedung Sultan Suriansyah menonton kawan-kawan seniman berakting atau mengapresiasi pameran lukisan, menghadiri festival tari tradisional atau tari kreasi, juga pembacaan puisi.

    Kadang menunggui saya latihan panjat tebing, bercakap-cakap dengan istri coach Mundari Karya,  pelatih Barito Putra saat itu, sementara saya mewawancarai suaminya, atau sekalian ikut ke Stadion 17 Mei menonton Barito menggasak Arema 4-1 dan minta dikenalin dengan Sunar Sulaiman, bek Barito yang ganteng bak Paolo Maldini, kapten AC Milan dan Italia sampai pertengahan dekade pertama 2000.

    Tapi menikah? Dengan Novi lagi, yang item itu? Waaaahhhh….(Hanya gadis yang penuh kebesaran jiwa itulah yang mau saat itu).

    Saat itulah, di Jakarta,  Day yang sudah berusia 23 tahun (artinya 10 tahun kemudian) memutuskan menerima pinangan seorang lelaki yang semula mengaku menaksir teman sekostnya sesama sales dealer motor.   

    “Mungkin sudah jodoh,” kata Day. Meski ayah Day, yang juga jurnalis, mempertanyakan keputusan anak bungsunya itu, mereka jadi menikah. Ia pun menjalani hidup sebagai seorang nyonya, hamil 5 kali, dan memelihara anak-anaknya.

    “Dua anakku meninggal. Satu ketika masih balita karena kelainan jantung. Satu lagi di dalam kandungan karena virus…” tuturnya sambil menghembuskan asap rokok mentol. Mengapa perempuan suka merokok mentol?  

    “Karena itu kamu tak bisa hamil lagi?”  tanya saya. Betapa hebatnya perempuan. Day yang mungil ini bisa hamil sampai 5 kali? Subhanallah.

    Bukan tak bisa hamil lagi, koreksinya, tapi risikonya jadi berlipat-lipat. Apakah saya mau mengambil risiko kehilangan lagi?

    Jawaban saya hari ini: tidak. Haruskah menghadirkan kehidupan di dunia ini dengan mengikhlaskan kehidupan yang lain pergi. Sama sekali tak harus. Meski tidak seorang pun tahu siapa mati terlebih dahulu. Belum tahu kalau nanti ada teknologi kesehatan baru yang bisa meminimalkan risiko tersebut. Itu dapat dibicarakan nanti.

    Jadi begitulah ceritanya hari ini. Saya menjalin hati dan membangun harapan dengan perempuan yang masih terikat secara hukum (tapi sudah kehilangan jalinan hati dan tak punya harapan lagi) pada lelaki lain.

    Sebuah petualangan, sudah pasti.

    Yang menarik dari petualangan, saudara-saudara, adalah kita bisa saja merencanakan, membuat, memperkirakan segala sesuatunya dari awal sampai akhir, tapi ketidakpastian selalu membayangi sepanjang jalan.

    Petualangan membuat orang menyadari batas-batas dirinya dan ujung-ujung kemampuannya, kelemahan sekaligus kehebatannya, kekonyolan selain kebijaksanaannya. Termasuk kewarasan dan kegilaannya.

    Seminggu setelah Metallica datang dan konser di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Day bertanya pada saya yang sedang memandang bulan di Pulau Derawan, “Mau menunggu saya sampai kapan?”

    “Saya tunggu selama diperlukan,” kata saya gagah. Azan subuh menggema dari musala dekat cottage. Saya gila dengan penuh kebijaksanaan.

    “Baiklah, bismillah ya…”

    “Yup, bismillah.”

    Bismillahirahmannirrahim. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Kami berdua berjanji untuk sebuah hari di 2014. Day meminta saya menunggu dia menyelesaikan urusan-urusan ikatan hukum. Saya pun melihat kami menghadapi tembok tinggi dan tebal, dan di balik tembok itu masih ada jalan yang terjal dan berliku-liku.

    Sebuah petualangan baru dimulai. Saya berharap yang terbaik sambil mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Hari-hari baru-bersama  Day, new days with Day, dan hari yang lebih baik selalu layak diperjuangkan.

    Bismillah.***

    Cinta Dalam Setumpuk Buku

    Posted on Updated on

    Haruskah saya minta maaf karena menulis soal cinta lagi? Mas Rudi Gunawan bilang, tulisan hal cinta mencintai memang bisa mengharu biru, tapi banyak sekali yang menulis soal itu.

    “Bejibun. Coba lihat di Gramedia atau toko buku lain,” katanya.

    Di situ memang berderet-deret, bertumpuk-tumpuk novel-novel cinta, baik cinta remaja maupun cinta orang dewasa. Ada yang memuja pergaulan bebas, ada yang memoles dengan latar religi, ada yang bingung mau cinta seperti apa.

    FX Rudi Gunawan sendiri menulis soal seks. Dulu ia punya kolom sendiri di majalah Jakarta Jakarta—majalah yang pemrednya Seno Gumira Ajidarma dan sudah dibunuh pemerintah. Saya tidak membaca kolom itu, tapi membaca kumpulan tulisannya yang dibukukan. Salah satu bukunya, di tahun 2002, kalau tak salah, saya beli patungan dengan Mahmud, kawan yang kutu buku tapi tanpa kacamata—demonstran tapi tak turun ke jalan.

    Bukan karena uang kami kurang, sobat. Tapi karena bukunya, kebetulan, tinggal satu itu. Kami sepakat memilikinya bersama. Mahmud yang pertama membacanya, baru kemudian saya. Setelah itu kami sumbangkan.

    Itulah, sepanjang ingatan saya, pertama kali saya memberikan buku kepada orang lain. Buku barang yang saya cintai selalu. Buku-buku saya adalah privasi saya, sehingga jangankan memberikan, meminjamkan buku saja saya hampir tak pernah. Bila ada teman yang ingin meminjam buku, perempuan sekali pun, yang cantiknya masya Allah, tetap saja tak bisa dari saya. Saya lebih suka menggeret dia ke perpustakaan, menguruskan keanggotaannya, dan silakan dia meminjam dari perpustakaan.

    Hanya kepada Day saya meminjamkan buku. Itu pun dia harus mengembalikan dengan bunganya—yaitu minimal dengan selarik puisi.

    Yang saya tarik ke perpustakaan itu diantaranya si Neng di suatu masa di antara 25 tahun saya kehilangan Day.

    Kadang-kadang buku-buku saya dipinjam tanpa sepengetahuan saya. Biasanya satu dua buku yang saya bawa ke Sekretariat  kami di kampus, tempat dimana kita suka berkumpul hingga jauh malam dan akhirnya menginap.

    Segera setelah sadar buku saya tak ada, saya menginterogasi semua orang dan memasang pengumuman di papan tulis putih besar (whiteboard) di dinding utama Sekretariat.

    “Dicari, buku Catatan Pinggir 3, oleh Goenawan Mohammad, sampul hitam, punya Novi 302.Adri”

    Si peminjam, setelah beberapa hari tak ada yang mengaku meminjam ataupun melihat, kemudia pasang pengumuman juga:

    “Nov, trims bukunya, sudah saya balikin di loker kamu.”

    Di bawah pengumuman dia, saya tulis ucapan terimakasih. “Terimakasih Windy.”

    Hehehe, saya ada saja punya intelijen. Lagipula, meski di kalangan mahasiswa sekali pun, sementara ini tak terlalu sulit menduga siapa yang membawa buku kita tanpa izin.

    Yang diperlukan, kata Hercule Poirot, adalah duduk sebentar dan biarkan sel-sel kelabu di dalam otak bekerja.

    Fakta yang menyedihkan karena sebagian besar mahasiswa kita tetap saja tak doyan membaca. Itu membuat saya mudah menebak, hanya yang suka membaca juga yang meminjam buku saya.

    Baru setahun ini lagi saya mulai suka memberi buku. Hari-hari ini masih sebagai suvenir atau tukar-menukar cenderamata. Bukan kebetulan selalu pas momennya.

    Mei lalu, misalnya, saya membeli The Hobbit, bukunya JRR Tolkien yang dipajang di depan kasir Gramedia. Beberapa hari kemudian, saya berkesempatan mengunjungi Huliwa, Hutan Lindung Wehea.

    The Hobbit bercerita tentang petualangan Bilbo Baggins di dalam Hutan dan bagaimana mereka membunuh Naga Smaug yang suka menumpuk harta. Saya membaca sepertiga terakhir buku itu di Wehea. Di Kampung Nehas Liah Bing di sela keriuhan festival Lomplai, dan satu bab terakhir di Stasiun Riset di tengah hutan di malam hari menjelang tidur.

    Saya memberikan The Hobbit untuk Yatim, ranger yang menemani saya keluyuran di jalan-jalan setapak hutan sepanjang siang.

    Yatim mengingatkan saya pada Strider, penjaga hutan yang berpatroli diantara Rivendell dan Shire dalam Lord of the Rings. Sayang tak ada Strider dalam The Hobbit, yang adalah pre-quel, cerita yang setting terjadinya sebelum kisah-kisah epik Lord of the Rings.

    Kesadaran untuk berbagi dalam bentuk buku ini, untuk saya karena dicontohkan Iwan Piliang.  Bang Iwan Piliang ini suka memberi buku, yaitu buku yang sudah selesai dibacanya.

    “Saya tidak terlalu punya waktu untuk mengurus buku-buku sekarang,” katanya. Jadi bila bukan buku referensi, buku rujukan, dengan segera si buku akan punya pemilik baru.

    Andy F Noya, pembawa acara Kick Andy di MetroTV juga suka membagi-bagikan buku. Dengan kapasitasnya, ia dibantu penerbit buku atau penulis buku yang dibagikannya.

    Seperti juga berbagi uang, memberi buku juga luar biasa. Apalagi memberi buku yang kiranya bermanfaat untuk mengubah isi kepala orang. Saya sendiri sering diberi buku dan sebagian buku itu juga mengubah cara saya memandang dunia.

    Meski begitu, saya tetap saja menganggap buku privat. Saya memberikan buku yang sudah saya baca, tapi kemudian membeli lagi buku yang sama untuk disimpan.

    Sepulang dari Wehea, saya membeli lagi The Hobbit, yang kali ini dibuka sampul plastiknya pun tidak.

    Atau saya beli dua sekaligus (kalau lagi banyak uang, tentu—atau pas lagi ada diskon besar-besaran), dan satunya untuk diberikan.

    Jadi, apa soal cintanya, Nov?

    Saya jadi ingat ayah saya. Seperti orang Sunda, kami orang Banjar memanggil orangtua laki-laki dengan sebutan Abah.

    Abah seorang guru, ia kemudian menjadi kepala sekolah. Salah satu yang pertama diberesinya ketika pertama kali menjadi kepala sekolah SD Arjuna di awal tahun 80-an itu adalah perpustakaan.

    (Emm, sekolah ini tak jauh letaknya dari rumah masa kecil Day—jangan-jangan saya pernah bertemu dia saat kami masih imut begitu yaa.

    “Mungkin. Tapi Ka Ida yang sekolah di situ pas tahun-tahun itu,” kata Day. Oh…I love you, really.)

    Sekali-sekali saya ikut ke sekolah tempat kerja Abah. Oleh-oleh dari sekolah adalah sebungkus sate ayam yang lezat dan setumpuk buku untuk dibaca selama seminggu. Pun kalau saya tak sempat, Abah dengan senang hati membawakan setumpuk buku itu. Bukunya diikat tali rafia dan digantung di setang sepedanya, sebuah sepeda Phoenix warna hijau lumut.

    Abah menumbuhkan kecintaan saya—adik-adik saya juga, kepada buku—hehe, mungkin awal cinta saya kepada Day juga.

    Sekarang ia sudah pensiun. Masih suka membaca, suka mengaji, dan masih suka geleng-geleng kepala melihat kelakuan dan kebijakan pemerintah. Karena itu, dulu, sebelum keadaan menjadi sebebas sekarang, di tahun 80-an itu ia suka mendengarkan siaran radio gelombang pendek.

    “Ini Radio Australia di Melbourne,”  katanya pada pukul 06.00 pagi, setelah kami mendengarkan siaran ceramah agama Islam oleh Ustaz Rafii Hamdie dari Radio Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

    Pada kesempatan lain ia menghadirkan BBC London dan kami sama-sama mendengarkan dentang lonceng Big Ben yang legendaris itu sebelum ia siap-siap berangkat kerja.

    Kadang-kadang kami menangkap siaran Voice of America (VOA) dan Radio Belanda dari Hilversum untuk mendengarkan suara empuk Hilmar Farid.

    “Abah PNS, tidak banyak yang Abah bisa lakukan karena berada di dalam sistem. Tapi Abah sebagai guru ingin kau tahu bahwa sudut pandang itu tidak milik satu orang atau satu rezim saja,” katanya.

    Sore-sore, kami boleh menyetel tangga lagu rock yang digelegarkan Radio Ashbone (bacanya ‘asbun’, hahaha, itu singkatan dari ‘asal bunyi’) di 102.3 FM. Saya pun mulai memanjangkan rambut.

    Tapi ia juga mengajak mendengarkan RRI, yang di Banjarmasin adalah RRI Nusantara 3, lalu kemudian menjadi RRI Banjarmasin saja. Penyiar hebat TVRI Sazly Rais pernah menjadi kepala stasiun di sini. Teman saya si Gorys juga bekerja di sini sambil kuliah.

    Kami mendengarkan RRI sepulang sekolah. Setiap Sabtu pada pukul 13.30 ada acara Batanding Kesah yang dibawakan Ajamuddin Tifani. Ini acara yang seru—nanti saya cerita spesial deh.

    Abah kami memerdekakan kami mulai dari cari berpikir sampai cara melihat persoalan. Bersama Mama, mereka memberi pilihan, bukan memaksakan pilihan. Ia suka mengutip apa yang dikatakan Muhammaad SAW, bahwa anak-anak memiliki zamannya sendiri.

    Ia pun tahu kami selalu tidak puas pada pemerintah, baik sebelum reformasi maupun sesudah reformasi saat ini.

    “Keadaan yang lebih baik itu harus diperjuangkan. Tugas kalian sekarang memperjuangkan itu,” nasihatnya.

    Saya pun menjadi jurnalis. Adik-adik saya menjadi guru seperti kedua orangtua kami. Kami rupanya punya garis yang sama, tidak tertarik pada membuat perubahan langsung dengan aktif di politik, misalnya, tapi suka mengabarkan dan memberi pilihan-pilihan dengan harapan yang terbaik. ***

    ← Back

    Pesan Anda telah terkirim

    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan

    Peringatan!

    Le Coup de Foudre

    Posted on Updated on

    Saya tak tahu persis, apakah Day dan saya itu jatuh cinta pada pandangan pertama, atau ikut pepatah orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina, cinta yang datang kemudian karena perasaan nyaman, diterima, saling pengertian, yang muncul sesudahnya. Apalagi seperti yang disebutkan Vincent Desailly, kawan saya si orang Prancis tukang panjat tebing, sebagai le coup de foudre ketika bicara cinta.

    Apa itu? Seperti lighting strike, katanya menjelaskan dengan penuh kerendahan hati—orang Prancis tak suka Bahasa Inggris, tidak seperti kita yang gemar sok cas cis cus biar dikira intelek dan sekolah tinggi, hehehe. Atau orang dahulu memasukkan ungkapan-ungkapan Bahasa Belanda, ne, ne, …

    Jadi, kata Monsieur Desailly, ketika mata bertatapan dan dua pandangan bertemu, petir itu pun menyambar. Lighting strike. Membutakan mata dan telinga. Kerap akal sehat juga. Lalu datang perasaan melayang-layang dan mabuk kepayang. Kalau di film-film Hollywood adegan berikutnya adalah pintu apartemen yang tergesa-gesa dibuka sambil sang lelaki memepet si wanita ke dinding dengan mulut menempel di mulut juga, lalu baju yang dibuka secepat-cepatnya, … dan ditutup mungkin dengan adegan pintu kamar ditutup dan jam weker yang berdering keesokan harinya dan tangan yang menggapai-gapai mencari tombol untuk membunuh weker itu.

    Tapi, rasanya, setidaknya seingat saya, tidak demikian. Kami, mmmhh, bisa saja menjadi pasangan yang membara, yang membakar dan membutakan itu bila saya berkunjung ke Jakarta, atau Bogor, kota-kota di mana Day tinggal. Atau Day yang impulsif tiba-tiba muncul di Balikpapan. Full of passion, yes. Kami sama-sama dewasa dan sangat mengerti semua lika-liku cinta dan hubungan lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Apalagi saat melewati Puncak dan melewatkan beberapa jam di Cibodas seperti kemarin.

    Untung saja kami tumbuh bersama ketenaran Zainuddin MZ, Aa Gym, Imaduddin Abdulrachim, Arif R`achman, Sartono Mukaddis. Abahnya Day tak segan menghajar anak-anaknya, mereka semua 7 saudara, yang dianggap keluar jalur—itu cerita Day kemudian. Ibu saya mengajari anak-anaknya dan anak-anak orang lain bagaimana hidup secara ajaran Muhammad sejak mereka masih kecil. Jadi kami tidak perlu sradak-sruduk tidak jelas mau ikut isme apa atau penuh pergulatan batin. Yang ada hanya rasa syukur bahwa kita menghemat sangat banyak waktu karena itu. Juga menjauhi banyak masalah yang tidak perlu.

    Semoga Tuhan selalu melindungi kami dari cerita erotis yang dibungkus sastra atau visualisasi gambar bergerak atas nama seni, keindahan, atau kebebasan berekspresi.

    Maka malam itu, ketika Day menjemput saya dari mal yang ramai, mengajak saya mengitari Bogor dan Jakarta, pada akhirnya ia menyaksikan saya tertidur kelelahan di sofa di ruang tengah rumahnya. Sebulan sebelumnya, saya yang mengecup keningnya, dari wajahnya yang damai kecapekan di kamar hotel saya. Yang ini setelah nongkrong hingga dinihari di Jalan Jaksa dan menikmati musik reggae di bar dekat situ.

    Cinta platonis? Sudah pasti tidak. Saya selalu ingin mencium bibirnya yang legit, menggandeng tangannya, memeluk bahunya. Bersama Day, saya pengen punya anak. Setidaknya satu. Satu cukup. Tapi Day, hmm, menolak.  Pertama, “Odi yang baik, usia saya sudah menjelang 40 tahun, saya bukan super woman, perempuan super seperti di zaman Khadijah.” Kedua, ada persoalan teknis kesehatan hal plasenta dan tempat menempelnya. Baiklah, kita serahkan saja soal ini kepada yang Maha Pemberi. Saya dan wanita mungil kaya pengalaman hidup ini tidak ingin jadi penambah keruwetan persoalan dunia yang sudah rumit.

    Nakal, ya sudah pasti kami nakal juga sekali-sekali. Day, mungkin karena ingin menunjukkan pemberontakan atas otoritas ayahnya, jadi perokok. Menjadi perempuan perokok, apalagi bagi anak perempuan di tahun 80-an akhir, atau di awal 90-an di Banjarmasin yang puritan, itu adalah masalah besar dan wujud kenakalan yang parah (sekarang tentu saja perempuan merokok sudah biasa).

    “Saya merokok sejak lulus SMP,” ungkapnya. Oww. Saya belajar merokok sejak SD, bersama Budi, seorang sahabat dan juga tetangga, tapi tak pernah jadi perokok kemudian. Ayah saya perokok berat dengan kretek, tapi segera berhenti begitu nikotin dan semua racun itu menggempur dadanya. Membuatnya muntah darah dan jadi penghuni rumah sakit beberapa hari. Melihat Abah sakit karena rokok, saya berhenti belajar merokok. Mama sampai beberapa waktu mengulang-ngulang cerita sakitnya ayah untuk menjauhkan kami dari rokok. Kami itu saya dan dua orang adik.

    Saya kadang-kadang membolos sekolah. Atau sebaliknya, tidak pulang berhari-hari tapi tetap hadir di sekolah.

    Hmm, kalau begitu, apakah cinta kami model dari remaja Jawa zaman pertengahan?

    Saya rasa model Jawa itu juga tidak. Pertama, hehehe, kami berdua bukan orang Jawa. Day seorang Banjar dan pernah berbahasa Banjar dengan pelafalan huruf ‘r’ yang diucapkan dengan lidah bergelung. Kami berbahasa Banjar dengan dialek Banjar Kuala, nyaris tak berlogat. Tidak seperti orang Tabalong yang bisa ‘memanjangkan’ telur (telur (Indonesia) = hintalu (Banjar), lalu orang Tabalong mengucapkannya ‘hintaluuuuu’ dengan suara mengalun), atau orang Kandangan dan Barabai yang berbicara seperti berlagu dan dipenuhi afix, akhiran ‘lih’ sepanjang percakapan.

    Saya berbahasa Inggris sekali-sekali. Sewaktu kami masih berusia 13 tahun untuk mengesankan Day, emm, dan sekarang karena kebiasaan. Day dan saya tidak pernah punya banyak waktu untuk selalu bersama, baik di masa silam, maupun di masa sekarang. Malah, saat ini, kami terpisah 1.350 km pada jarak udara, 15 derajat garis bujur, dan satu daerah waktu. Bukankah syarat utama witing tresna itu kehadiran, availablity, ketersediaan dan kedekatan, proksimitas.

    Karena itu bos banyak yang menikahi sekretarisnya, guru mengawini muridnya. Tuan sayang pada pembantunya hingga sengaja tak sengaja sekalian menghamilinya, dan beberapa contoh lain. Atau suami yang mengambil istri kedua di tempat kerja yang baru…atau istri yang punya pria idaman lain karena suami tak lagi punya waktu dan hati mendengarkan (karena sibuk dengan pekerjaan baru dan istri baru, hehehe).

    Saya iseng menghitung, hari ini, kami paling lama bersama 18 jam. Itulah waktu dari saya dijemput sore itu hingga kami berpisah hari berikutnya di tempat berbeda. Itu pun saya duduk di Starbuck selam 7 jam menunggu dia yang sibuk. Selama itu, saya mengisi perut dengan caffelatte, setengah batang cokelat, mengisi benak dengan cerita dari 150 halaman buku, dan menulis dua judul berita masing-masing 300 kata. Tentu saja, sambil online.  Dari situ Day memantau saya.

    “Masih di situ?” katanya.
    “Masih,” saya menyahut.
    “Saya masih harus ke downline saya dulu yaaa…”
    “Baiklah. I love you.”
    “I love you too.”

    Melihat kesibukannya, saya bergidik. Mungkin ia ingin menyiapkan segala sesuatu sebelum nanti menjadi, emmm, seorang nyonya dari kekasihnya, yaitu saya, yang seperti tidak pernah mapan secara finansial. Bisnis MLM kan bisa bekerja sendiri kemudian.

    Saya sendiri, karena sudah terlanjur punya irama jurnalis yang serba mendadak, serba serius, dan kerap kali memaksa orang terpisah dari rumah dan semua yang dicintainya, jadi sangat peduli hal-hal domestik karena merindukan yang sedemikian.
    “Sudah makan?” itu pertanyaan saya.
    “Sudah beib…” ini jawaban Day.
    “Jaga kesehatan…” ini dari saya lagi.
    “Pasti…” jawab Day.
    Tegas dan pendek-pendek. Ia memang seperti tidak punya kelegaan waktu untuk menjawab panjang lebar. Bagi Day, mencintai berarti berbuat, meski itu hanya menyahut dalam hati. Tak banyak kata-kata. Pesan panjang lebar saya di facebook, hanya dilihat saja (seen at…).
    Ini agak menjadi masalah buat saya yang melankolis. Membuat frustrasi.
    “Say something please…” kata saya.
    “Kamu tahu jawaban saya,” tandasnya. Mmmhhh.

    Ini bukan juga cinta ala kawan-kawan aktivis keislaman, baik di masjid di kampus atau di partai masing-masing. Mereka tidak berpacaran atau berkencan, tidak pergi menonton film, apalagi keluyuran malam-malam seperti yang kami lakukan. Kami bergandengan tangan dan berciuman. Day memang memutuskan berkerudung, namun ia masih sedang berjuang keras memperbaiki disiplin salatnya. Saya sama saja. Bagian salat itu maksudnya, bukan soal kerudung, hahaha. Walau saya suka pakai bandana seperti perempuan berkerudung juga.
    “Salat dulu sana, deadline berita masih lama. Deadline salat 5 menit lagi,” katanya dari jarak 1.350 km. “Iya beb,” barulah saya beranjak untuk salat zuhur. Dan disambung salat ashar karena langsung masuk waktunya. Day terkekeh.

    Jadi, ini memang bukan cinta ala lightning strike, le coup de foudre, cinta pada pandangan mata yang menghanguskan, bukan pula witing tresna jalaran saka kulina yang diam-diam menghanyutkan. Jelas bukan model ikhwan dan ukhti PKS yang serba lurus dan putih itu.

    “Bagaimana kalau tak usah dipikirkan apa modelnya. Anggap saja ini custom khas Day dan Odi. Kamu sendiri bilang, setiap hubungan itu unik,” katanya.

    Maka saya membacakan puisi Soni Farid Maulana, Day memilih puisi Sapardi Djoko Damono. Saya mendendangkan Iwan Fals, Van Halen, Deep Purple, Metallica. Day mengajak menyimak Krakatau, Karimata, Bhaskara, juga God Bless dan Beethoven. Tentu saja, ‘Tentang Kita’-nya Kla Project.

    Day mengutip puisi SDD:
    aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
    aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    Walaupun ternyata hubungan kami rumit sekali, baik di masa lalu itu, apalagi saat sekarang.

    Memetik gitar, saya nyanyikan Buku Ini Aku Pinjam dari Bang Iwan sambil mengenang Day sebagai gadis kecil yang saya sapa dengan penuh kegugupan di selasar sekolah kami dulu, sebuah sekolah yang didirikan di atas kayu-kayu ulin pada tahun 1956 di tepi Jalan Jati di Banjarmasin yang masih sepi.

    Buku ini aku pinjam
    Kan ku tulis sajak indah 

    Hanya untukmu seorang 

    Tentang mimpi-mimpi malam

    Walaupun faktanya saya yang meminjami buku dan menanti puisi darinya. ***

    ← Back

    Pesan Anda telah terkirim

    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan

    Peringatan!