Atas Nama Dia yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Saya mau membuat cerita ini sedikit lebih rumit seperti di sinetron-sinetron kita. Biar asyik dan rada seru. Bagaimana caranya?
Oh gampang. Orang Indonesia adalah tukang bikin ruwet keadaan. Saya tinggal mengubah, bisa menambah atau mengurangi status tokoh-tokoh dalam cerita ini.
Dan inilah status yang paling hot: Day ternyata masih istri orang lain.
Ehh…
“Kamu pikir 25 tahun kita tidak bertemu saya duduk-duduk diam begitu?” kata Day. Seolah-olah sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.
Oh tidak, tentu saja saya tidak mengira demikian. “Saya hanya tidak menyangka kita bertemu lagi,” kata saya, seolah-olah memang sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.
Saya mengenal Day saat berusia 13 tahun, dan Day 12 tahun 7 bulan. Seorang kawan, yang kebetulan bernama Novi juga, laki-laki juga, mengenalkan kami. Novi yang ini (Noviannoor) teman sekelas saya di kelas dua di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin.
Karena itu di kelas kami tersebut, sebab ada satu lagi yang bernama Novi (Novitasari, yak betul, doi perempuan), saya dipanggil sebagai ‘Snake’ untuk sedikit membedakan. Konon, kata yang memberi julukan, tampang saya mirip tokoh Snake dalam drama seri Different Strokes—hmm, ada Lisa Bonnet yang seksi juga di serial itu, kalau tak salah. Harap diingat, ini masih zaman kejayaan TVRI, sobat.
Bagaimana cara Noviannoor mengenal Day, saya tak sempat tanya. Saya baru ingin menanyakannya sekarang. Nantilah kalau ketemu dia.
Tapi, ah, bagian awal saya mengenal Day ini rumit, jadi kita lewati dulu ya. Sayang kalau diceritakan hanya menempel di cerita lain. Harus dalam judul sendiri.
Jadi begitulah, Day menikah 16 tahun lalu. Suatu hari di tahun 1998 mungkin. Di tahun itu, dari Banjarmasin, saya bersama sejumlah teman di Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat tengah keluyuran kemana saja di Indonesia untuk menjelajah hutan, mendaki gunung-gunung, merayap di kelam gua, memanjati tebing-tebing, dan berhari-hari berpanas-panas menyusuri sungai, baik dengan rakit bambu, jukung, atau perahu karet.
Sebab itu, barangkali, saya pernah jadi korban rasisme oleh orang sebangsa sendiri.
“Pak Novi orang Banjar ya?”
“Ya Bu,” kata saya.
“Tapi kok hitam ya?” Hitam? Maksudnya? Ah, si Snake yang di serial Different Strokes memang hitam.
Kurang banjar, eh kurang ajar bukan. Bahasa Banjar saya lebih fasih daripada Si Ibu berkerudung ala punuk unta itu. Pengetahuan adat istiadat, seni budaya, geografis, sosial, …hahahaha, termasuk ini, sifat-sifat jelek orang Banjar yang tinggi hati dan suka berlagak, saya jelas lebih daripada dia.
Lebih-lebih lagi, saya lahir dan besar di Banjarmasin, kota pusat kebudayaan Banjar. Si Ibu itu jelas-jelas pegang KTP Samarinda. Di mana sih, Samarinda dalam peta budaya Banjar? Hehehe…
Hanya karena dia berwarna lebih terang daripada saya, maka dia lebih Banjar daripada saya? Ah sudahlah.
Nah, senior-senior kami di Kompas Borneo Unlam itu lebih hebat lagi. Mereka berteman dengan Norman Edwin, idola saya untuk urusan petualangan dan kewartawanan. Mereka pelopor yang membuat dinding panjat pertama di Kalimantan di awal tahun 80-an.
Mereka juga berteman dengan Effendi Soleiman yang gemar bertualang di laut sendirian. Effendi sukses mengompori mereka bikin adventure menyeberangi Selat Makassar, lautan sedalam 7.000 meter dengan perahu selebar 50 cm dan panjang 500 cm selama 5 hari, dari sebuah desa bernama Mekar Putih di Kotabaru, Kalimantan Selatan, menuju Pare-pare di Sulawesi Selatan.
Kami kemudian turun ke jalan ikut berdemonstrasi minta Presiden Soeharto mundur.
Nah, siapa yang memikirkan pernikahan saat itu? Bertemu dengan yang mau dinikahi pun belum. Kalau pacar sih banyak. Ada Ida yang manis semanis kue kacang di Kopma, ada Ira (yang saya panggil ‘aira’ mengikuti pelafalan nama itu dalam Bahasa Inggris. Si Aira ini kawan membolos di perpustakaan sekampus sejurusan saya dan kawan cas cis cus Bahasa Inggris yang asyik. Ada Yuli yang diam-diam menghanyutkan, ada Arrie, ada Lydia, Ida lagi—yang ini gadis yang luar biasa, tabah hingga akhir, tetap senyum ceria meski divonis kena kanker payudara—sedih. Untuk Ida yang ini saya suka menghadiahkan bandana—untuk rambutnya yang perlahan rontok karena kemoterapi.
Siapa lagi, yaa, hmmm, ada Yuli lagi. Yuli yang kedua ini layak dikisahkan dalam sebuah cerpen yang romantis religius, sobat. Saya kembali berjanji untuk bercerita dalam bab lain secara khusus ya.
Mungkin Neng juga. Ada yang karena memang namanya Neng, ada yang di rumah oleh mamanya dipanggil Neng (cerita Neng yang oleh mamanya dipanggil Neng ini, ehem—ini kisah mengharu biru sepanjang 2001 yang membuat saya bertualang dari Banjarmasin, Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, hingga Kuala Lumpur, dan Day dengan bijaksana mengizinkan saya yang sableng ini menuturkan kisahnya kapan-kapan).
Dan, ada seseorang lagi yang luar biasa juga, yang, akhirnya dengan penuh kebesaran jiwa melepaskan saya yang brengsek ini. Bersama dia, Tuhan yang maha pemurah mengizinkan saya menjadi ayah dari tiga anak perempuan yang cantik-cantik dan hebat-hebat.
Ada pula beberapa yang namanya tak bisa saya sebut di sini terang-terangan karena beragam alasan.
Yahh, hampir semua petualang adalah playboy cap duren atau cap gayung bocor.
“Apa boleh buat, kalau tidak karena mereka, mungkin saya akan bertemu orang yang berbeda,” kata Day. Emm, makasih ya sayang. I love you.
Cewek-cewek itu—satu-satu, tentu bukan berendeng-rendeng pada saat yang sama—mereka mau saja jalan bareng saya, merunduk-runduk di antara rak-rak buku di perpustakaan dan bicara dengan berbisik-bisik, minum es krim (atau makan es krim?), makan bakso dan bubur ayam, tertawa dan tegang bersama di amphiteater Taman Budaya atau Gedung Sultan Suriansyah menonton kawan-kawan seniman berakting atau mengapresiasi pameran lukisan, menghadiri festival tari tradisional atau tari kreasi, juga pembacaan puisi.
Kadang menunggui saya latihan panjat tebing, bercakap-cakap dengan istri coach Mundari Karya, pelatih Barito Putra saat itu, sementara saya mewawancarai suaminya, atau sekalian ikut ke Stadion 17 Mei menonton Barito menggasak Arema 4-1 dan minta dikenalin dengan Sunar Sulaiman, bek Barito yang ganteng bak Paolo Maldini, kapten AC Milan dan Italia sampai pertengahan dekade pertama 2000.
Tapi menikah? Dengan Novi lagi, yang item itu? Waaaahhhh….(Hanya gadis yang penuh kebesaran jiwa itulah yang mau saat itu).
Saat itulah, di Jakarta, Day yang sudah berusia 23 tahun (artinya 10 tahun kemudian) memutuskan menerima pinangan seorang lelaki yang semula mengaku menaksir teman sekostnya sesama sales dealer motor.
“Mungkin sudah jodoh,” kata Day. Meski ayah Day, yang juga jurnalis, mempertanyakan keputusan anak bungsunya itu, mereka jadi menikah. Ia pun menjalani hidup sebagai seorang nyonya, hamil 5 kali, dan memelihara anak-anaknya.
“Dua anakku meninggal. Satu ketika masih balita karena kelainan jantung. Satu lagi di dalam kandungan karena virus…” tuturnya sambil menghembuskan asap rokok mentol. Mengapa perempuan suka merokok mentol?
“Karena itu kamu tak bisa hamil lagi?” tanya saya. Betapa hebatnya perempuan. Day yang mungil ini bisa hamil sampai 5 kali? Subhanallah.
Bukan tak bisa hamil lagi, koreksinya, tapi risikonya jadi berlipat-lipat. Apakah saya mau mengambil risiko kehilangan lagi?
Jawaban saya hari ini: tidak. Haruskah menghadirkan kehidupan di dunia ini dengan mengikhlaskan kehidupan yang lain pergi. Sama sekali tak harus. Meski tidak seorang pun tahu siapa mati terlebih dahulu. Belum tahu kalau nanti ada teknologi kesehatan baru yang bisa meminimalkan risiko tersebut. Itu dapat dibicarakan nanti.
Jadi begitulah ceritanya hari ini. Saya menjalin hati dan membangun harapan dengan perempuan yang masih terikat secara hukum (tapi sudah kehilangan jalinan hati dan tak punya harapan lagi) pada lelaki lain.
Sebuah petualangan, sudah pasti.
Yang menarik dari petualangan, saudara-saudara, adalah kita bisa saja merencanakan, membuat, memperkirakan segala sesuatunya dari awal sampai akhir, tapi ketidakpastian selalu membayangi sepanjang jalan.
Petualangan membuat orang menyadari batas-batas dirinya dan ujung-ujung kemampuannya, kelemahan sekaligus kehebatannya, kekonyolan selain kebijaksanaannya. Termasuk kewarasan dan kegilaannya.
Seminggu setelah Metallica datang dan konser di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Day bertanya pada saya yang sedang memandang bulan di Pulau Derawan, “Mau menunggu saya sampai kapan?”
“Saya tunggu selama diperlukan,” kata saya gagah. Azan subuh menggema dari musala dekat cottage. Saya gila dengan penuh kebijaksanaan.
“Baiklah, bismillah ya…”
“Yup, bismillah.”
Bismillahirahmannirrahim. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Kami berdua berjanji untuk sebuah hari di 2014. Day meminta saya menunggu dia menyelesaikan urusan-urusan ikatan hukum. Saya pun melihat kami menghadapi tembok tinggi dan tebal, dan di balik tembok itu masih ada jalan yang terjal dan berliku-liku.
Sebuah petualangan baru dimulai. Saya berharap yang terbaik sambil mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Hari-hari baru-bersama Day, new days with Day, dan hari yang lebih baik selalu layak diperjuangkan.
Bismillah.***