Cinta

Duhai Kekasih-Kekasih

Posted on Updated on

nick lit a cigarette for a lady
Nick Capozziello menyalakan sigaret seorang lady. Untuk Nick yang mengidap kelainan cerebral palsy–yang membuatnya bergetar hebat atau bahkan kaku kram pada waktu-waktu tertentu–menyalakan sigaret seorang lady yang perlu tangan yang tenang, adalah prestasi.

untuk yang pernah datang dan pergi

Pada kesempatan lain kami duduk-duduk di café, minum jus yang berwarna hijau dan nyaris tak ada rasanya. Dia merokok.

“Do you smoke?” Ia bertanya.

 “Not, not anymore,” saya menjawab. Ingatan saya terbang kepada the godfather of heavy metal Lemmy Kilmister[1].

“Hmm,” katanya. “You don’t drink, you don’t smoke.”

Melihat sigaret putih di antara jemarinya yang cokelat, dan sesekali di antara bibirnya yang marun, menyaksikannya menyedot asap tembakau dan mengembuskannya, saya seperti melihat lukisan surealis Salvador Dali,[2] sajak-sajak Chairl Anwar, film-film tahun 50-an, dan foto-foto hitam putih. Juga foto-foto berwarna sephia dari zaman yang sama.

Mungkin asap tembakau itu membantunya sedikit melupakan berbagai masalah yang mengelilinginya. Mengangkat sedikit bebannya seiring asap yang melayang naik.

chairil-anwar-1922-1949_edited
Si Binatang Jalang, Chairll Anwar, 1922-1949 Semasa hidupnya itu, Chairil menciptkan tak kurang dari  70 puisi.  Puisi kesayangan saya dari karya Bung Chairil, bukan “Aku” yang membuat ia berjuluk Binatang Jalang itu, tapi “Derai-Derai Cemara”.

Saya minta maaf karena tidak punya pemantik api, sehingga terpaksa ia meminjam dari para lelaki tetangga meja kami[3]. Saat ini kecuali ke hutan dan gunung, barulah saya membawa pemantik api, itu pun tidak dikantongi. Saya kumpulkan bersama alat masak dan ditaruh di dalam ransel.  Walaupun ada juga satu di kantong atas ransel buat ke perluan darurat.

Dua hal itu, minum (minuman keras) dan merokok adalah bagian masa lalu saya. Bukan masa lalu kelam. Bahkan sebagiannya penuh kisah menyenangkan lingkaran persahabatan dan persaudaraan. Sesekali di meja perjamuan terhormat dan khidmat dan saya harus berjas berdasi dengan rambut diikat rapi dan dipakaikan pomade. Saya minum anggur yang berwarna merah sebagai teman makan ikan yang direbus.

Seringkali saya berada di lingkaran minum seru sore menjelang malam selesai berlari lintas alam 8-12 km, atau malam di bar-bar murah ramah di sepanjang pantai Balikpapan sambil membaca, atau diskusi serius dan menonton Rossi atau Messi meliuk-liuk mengendalikan motor dan bola.

“However, I almost killed twice because of drunk,” saya bercerita. Keterlaluan bila saya tidak menghargai dua kali kesempatan bangkit kembali dan meneruskan hidup. Memang pada akhirnya saya akan mati juga. Dia juga. Anda juga. Kita semua.

“But not today,” kata saya dengan senyum lebar. Dia ikut tersenyum. Senang melihatnya tersenyum.

Dengan minum kopi dan teh saja, bahkan air putih saja, tetaplah pertemanan persahabatan bisa dijalin hangat dan akrab.

“And we have tasteless juice today,” katanya, tertawa.

Bahkan meski tidak ada sajian apa pun, hanya hadir saja, bertemu dan bertatap muka.

Dia mencuri-curi waktu untuk duduk-duduk bersama saya sore itu. Saya mencuri-curi waktu untuk bisa duduk dan memandang wajahnya dan mendengar suara lembutnya yang tegas dan dalam. Saya memotretnya tersipu.

“I think I have 60 minutes for you,” katanya. Ketika 90 menit berlalu, setengahnya karena saya menahannya, setengahnya karena kerelaannya, barulah ia beranjak dan pamit.

“It’s never enough, but …” kata saya. Dia tersenyum lagi.

***

Meski demikian, perkenalan kami dimulai dengan kejujuran yang pahit. Yang sedemikian rupa membatasi dan tidak memberi ruang untuk pertanyaan ‘lalu selanjutnya apa?’ tanpa membuat prahara.

“Because I have a boyfriend already,” katanya. Saya kemudian tahu istilah ‘sudah punya pacar’ itu untuk menyederhanakan saja dari hubungan-hubungan rumit yang dijalaninya.

Tapi saya juga bukan remaja belasan tahun yang bisa saja bunuh diri sebab dijawab seperti itu.

“And I have 27 girlfriends, …” kata saya, setengah serius, setengah bercanda. Saya juga menambahkan, suatu waktu saya pernah tinggal serumah dengan seorang perempuan dan kami memiliki 3 anak karena itu.

“So you are a daddy?”

“I am.”

Setiap lelaki sepatutnya bangga menjadi ayah, sebrengsek apa pun dia. Saya masih ingin punya 2 anak lagi.

Setahu saya, dia menolak menikah. Entahlah kalau punya anak. Ini jadi satu topik diskusi menjelang tidur itu. Saya berkata bahwa perempuan yang mengandung, lalu melahirkan, adalah perempuan yang paripurna. Dia mendebat, bahwa tanpa mengandung dan melahirkan pun, perempuan tetap sempurna.

emma goldman anarkis
Emma Goldman, satu aktivis panutan feminisme.  Emma membantu saya memahami dunia di mana dia berada. Banyak artiket tentang Emma di dunia maya.  Google akan dengan senang hati menyajikannya untuk Anda.

“We have right of our own body,” tegasnya.

“Sure. Pregnancy, give a birth, can be choices, may depend on many things, agreements, physical condition, financial situation, … anything,” kata saya.

Hanya saja, rahim adanya di perempuan, bukan. Tidak tahu nanti kalau manusia bisa mengakali seperti kuda laut jantan[4] yang bisa mengandung dan melahirkan—walaupun film tentang itu sudah juga dibuat Hollywood.[5]

Mengenai jumlah perempuan yang pernah saya pacari, oh kawan, tak usahlah kau  terlalu serius menghitung. Saya kadang-kadang juga menyebutkan 36, termasuk cinta monyet zaman SD di dalamnya.

Dia menjelaskan, memang ada lelaki, somewhere, dimana juga mereka saling cinta, tapi there’s no relationship. Hm, bagaimana itu?

Agak melegakan juga ketika dia memberi penegasan pada bagian ‘there’s no relationship’ itu. Tak ada ikatan. Mungkin karena jarak  yang lumayan dan sumber daya dan perhatian dan kewajiban-kewajiban memberi batas. Someone di somewhere itu juga sibuk dengan impian dan pacar-pacarnya di sana.

Tentu saja pacar yang interlokal di sana itu boleh punya pacar lokal juga, begitu katanya. Mungkin agar biar adil.

“Is there any jealousy?” saya bertanya naif.

“Sure there is. I am jealous because his girlfriend closer to him, easier to share love, …but there’s no relationship, …”

juliana-castro2
“Kira-kira begini,”  kata Juliana Castro menggambarkan pola hubungan itu. Rumit ya?

Sebaliknya, seperti ketika kemudian saya tahu, selain lelaki di somewhere nun di sana, ada lagi lelaki di somewhere nun di sini. Ada pacar interlokal. Ada pacar lokal.

“Is there also ‘no relationship’?” saya bertanya naif sekali lagi.

Dia tidak menjawab.

Bila mengikuti logika penjelasannya, mestinya memang demikian.

Hm, bila sudah ada mereka semua, kenapa dia masih menerima saya di sekitarnya dan mengizinkan saya masuk di ruang-ruang pribadinya? Lalu kepada saya sendiri, bila sudah ada mereka semua, kenapa saya mau ada di sekitarnya dan senang hati memasuki ruang-ruang pribadinya?

“There’s no relationship, remember,” saya mengingatkan diri sendiri. Okay.

Selanjutnya, seperti lelaki yang bisa beristri 4 atau berpacar banyak, barangkali ada perempuan yang juga berkapasitas besar dan memerlukan tipe laki-laki yang berbeda sekaligus dalam saat yang sama.

Seorang anak perempuan memerlukan ayah yang bijaksana walaupun sesekali memarahinya, saudara lelaki yang membelanya dan mengajaknya bertengkar sekali-sekali, pacar yang memeluknya, juga anak kecil yang bermanja-manja padanya.[6]

Mendengar sejarah singkat hidupnya, selain pacar, maka semua yang lain agaknya tidak pernah dimilikinya.

Lalu, dari pacar-pacarnya itu, saya menduga-duga, saya adalah ayah dan kakak itu.

***

Dengan pengetahuan akan latar belakang tersebut, kami menjalani hari-hari. Saya berusaha untuk tidak bertanya siapa dan apa nama pacarnya-pacarnya.

Kendati saya tetaplah jurnalis yang dengan sedikit meninggikan telinga, akhirnya tahu juga semuanya—atau setidaknya saya pikir saya tahu. Satu dua pertanyaan kepada orang-orang yang tepat maka informasi mengalir dengan sendirinya–sampai kepada nomor telepon, pekerjaan, tampang, nama, nama istri, …

Nama istri?

Well, …jadi pacarnya boleh tidak hanya punya pacar. Punya istri juga tak dilarang. Dengan segala risikonya, tentu saja.

Jadi, saya juga menjauhkan dari dalam pikiran bagaimana dia dan pacar-pacarnya berpacaran dan gaya berpacaran seperti apa yang dianutnya. Selain bukan urusan saya, setelah semua yang dia alami, saya kira hampir tidak ada yang ditakutinya. Mungkin Tuhan pun tidak. Dia perempuan dewasa, bisa bertanggungjawab sendiri, dan tahu konsekuensi-konsekuensi.

“Condom is a must,” katanya suatu waktu. Saya merasa perut saya dipenuhi kupu-kupu.

Toh sesekali tidak terhindarkan juga saya bertanya tentang sesuatu, seperti misalnya kenapa dia menghilang 36 jam tanpa bisa dihubungi sama sekali.

Dia menjawab enteng, “That’s my privacy.”

Baiklah.

Sebab itu, sekali lagi, saya berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa banyak hal-hal lain yang juga saya harus pikirkan dan kerjakan. Saya berusaha menerima dia apa adanya seperti Nothing Else Matters[7] yang diciptakan dan dinyanyikan James Hetfield.

Karena itu juga, selama kami bersama dalam sebuah ruang dan waktu, kami hanya membicarakan tentang diri kami sendiri seolah-olah hanya kamilah penghuni dunia ini, terserah bentuknya bulat atau datar.

Saya hanya ingin bersamanya, setidaknya saat itu, dan menikmati semua yang bisa dinikmati. Sebagai seorang kekasih, tentu saja.

***

Catatan sebelum lupa, …

[1] Saat menjawab ini, saya membayangkan seperti Lemmy Kilmister ketika ditanya James Hetfield, gitaris-vokalis Metallica. Lemmy menjawab seraya tertawa, “Not, not anymore.” Kendati demikian, pertanyaan James bukan soal rokok, tapi apakah Lemmy perlu ‘a high harmony’ saat menyanyikan lagu Damage Case bersama Metallica langsung di panggung dalam show di Nashville, Tennessee, Texas, 14 September 2009.

Lemmy Kilmister, atau Ian Fraser Kilmister, adalah pendiri band Motorhead di tahun 1975 bersama gitaris ‘Fast’ Eddie Clarke, drummer Lucas Fox, dan gitaris Larry Wallis. Musik yang dibuatnya bersama Motorhead itu menjadi dasar bagi musik thrash metal yang dimainkan Metallica. Lemmy sendiri, dalam setiap pembukaan konser,  menyatakan Motorhead memainkan rock and roll. The God Father of Heayv Metal ini meninggal 28 Desember 2015 dalam usia 70 tahun karena kanker, setelah sebelumnya mengalami beberapa penyakit sebab minum-minuman keras.

[2] Salvador Dali, kalian cek di sini ya, … https://en.wikipedia.org/wiki/Salvador_Dal%C3%AD

[3] Dalam adat pergaulan barat, kiranya bila ada perempuan yang ingin merokok tapi tidak punya pemantik api, sementara Anda yang didekatnya sedang memegang atau lagi mengantongi pemantik api, maka bantulah menyalakan rokoknya—yaitu dengan menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya. Setelah itu, berlawanan sedikit dari kebiasaan, bukan si perempuan yang berterimakasih, tetapi Anda yang menyalakan rokoknya lah yang mesti mengucapkan terimakasih sebab sudah diberi kesempatan to serve a lady’,  melayani ‘seorang perempuan.

[4] Kuda laut atau Hippocampus sp terdiri lebih dari 50 spesies dengan ukuran antara 16-35 cm. Mereka hidup di perairan tropis dan sub tropis di seluruh dunia. Kuda laut merupakan satu-satunya spesies dari kerajaan Animalia yang jantannya dapat hamil.

Pada hewan jantanl ada kantung perut untuk pengeraman (seperti rahim pada betina) dan semacam plasenta yang berfungsi sebagai alat pertukaran oksigen dan makanan untuk janin.
Setelah menemukan pasangan yang tepat, maka kuda laut jantan dan kuda laut betina akan saling mengaitkan ekor mereka sebagai pertanda bahwa mereka adalah pasangan “suami-istri”. Jika sel telur kuda laut betina sudah matang, maka betina akan memasukkan telur-telur tersebut ke kantung perut kuda laut jantan.

Setelah telur-telur tersebut masuk ke kantung perutnya, kuda laut jantan akan menyendiri mencari tempat yang aman dan nyaman untuk melepaskan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut. Karena terjadi di luar rahim, cara seperti ini disebut fertilisasi eksternal. Inilah juga yang menyebabkan kuda laut digolongkan ikan karena seluruh ikan melakukannya demikian.

kuda laut
Kuda laut (Hippocampus sp)

Setelah proses fertilisasi, maka kuda laut jantan akan mengerami embrio-embrio kuda laut ini dalam waktu 10-40 hari, tergantung spesiesnya. Dalam proses pengeraman embrionya, kantung perut kuda laut jantan akan membesar seperti layaknya hewan betina yang sedang hamil. Setelah waktunya tiba, maka kuda laut jantan akan melahirkan anak-anaknya dalam jumlah ratusan bahkan bisa ribuan dengan ukuran 0,6-1,2 cm.

Sebelum melahirkan, kuda laut jantan akan menyesuaikan kadar garam dalam kantung perut dengan kadar garam air laut sehingga bayi-bayi kuda laut bisa beradaptasi dengan habitatnya ketika dilahirkan. Dibutuhkan waktu sekitar 10-30 menit untuk proses melahirkan itu. Bayi yang lahir dalam jumlah ribuan ini hanya sebagian saja yang bertahan hidup hingga dewasa.  Bayi kuda laut sangat rentan dimakan predator atau mati karena kerusakan habitatnya. Setelah berumur 30 hari, bayi kuda laut mulai menggunakan ekornya untuk melilit atau bertengger. Pada usia 90 hari alat reproduksinya mulai berkembang sehingga bisa dikatakan mulai dewasa,

Seekor kuda laut dapat berumur 4-5 tahun, tergantung spesiesnya.

[5] Film Hollywood Junior di tahun 1994 bercerita tentang kehamilan bagi laki-laki sebagai sebuah percobaan ilmiah. Film itu dibintangi Arnold Schwarzenegger, Danny De Vito, Emma Thompson, sebuah film komedi berdurasi 109  menit dan disutradarai Ivan Reitman. Junior laris masuk box office dengan pemasukan 108,4 juta dolar dari modal 60 juta.  Soundtrack-nya, Look What Love Has Done yang dinyanyikan Patty Smyth dinominasikan mendapat Academy Award sebagai lagu asli terbaik.

mr big
Mr Big, dari kiri Billy Sheehan, Pat Torpey, Eric Martin, dan Paul Gilbert.

[6] Saya memang menyukai peristilahan yang dibuat grup hard rock Mr Big itu, di mana bassist Billy Sheehan menulis dibantu Andre Pessis, vokalis Eric Martin, gitaris Paul Gilbert, dan mendiang drummer Pat Torpey—yang baru saja meninggal Februari ini sebab sakit parkinson. Kata Mr Big, lelaki mestilah bisa menjadi ayah, saudara lelaki, kekasih, dan anak kecil sekaligus bagi seorang perempuan. Ini catatan kaki kedua yang saya buat tentang lagu Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy, lagu yang disimpan di dalam kantong album Lean Into It keluaran tahun 1991.

[7] Nothing Else Matters, lagu yang ada di album Black Metallica yang direkam pertama kali 30 Mei 1991 di Studio One on One, studio milik Metallica di North Hollywood, California. Konon, gitaris James Hetfield menulis lagu itu pada tahun 1990 saat menelpon Franceska, wanita yang kemudian menjadi istrinya sejak pernikahan tahun 1997. Ketika itu James memegang telepon dengan tangan kanan dan mencekal gitar di tangan kiri, dan begitu saja memainkan kunci E-minor yang menjadi not pertama Nothing Else Matters.

Liriknya “so close, no matter how far”, menyatakan betapa dekatnya mereka meskipun terpisah jauh, dan ‘never care for what they say’ atau apa pun yang dikatakan orang lain, tak usahlah dipedulikan.

Karena begitu pribadi, Hetfield mulanya tak ingin menerbitkan lagu ini, hingga drummer Lars Ulrich mendengarnya dan memaksanya untuk dimasukkan dalam album yang bertitel cukup Metallica tersebut.

Pada video di atas, Hetfield tampil di event Acoustic 4 Cure, event tahunan yang diselenggarakan oleh Sammy Hagar, vokalis Chicken Foot dan mantan vokalis Van Halen.  Hetfield tampil jenaka di acara itu, di mana ia juga mengajak anak perempuannya Cali untuk tampil bersama. 

Ini link untuk cerita Nick yang menjadi foto cover di atas: http://www.dailymail.co.uk/news/article-2408383/The-Distance-Between-Us-Touching-photos-man-living-cerebral-palsy-taken-twin-born-healthy.html

 

Di Ujung Malam

Posted on Updated on

Bulan purnama 31 Januari 2018, bulan purnama kedua di bulan Januari, setelah bayangan Bumi menutupinya selama 3 setengah jam. noviabdi

untuk anak alam semesta, meski kita kan terpisah seribu tahun cahaya

 Kadang-kadang saya terdampar di kota-kota. Dan jatuh cinta.

Di depan hotel tempat saya menginap kami makan tahutek1, makanan sederhana dan murah tengah malam. Kami duduk berhadapan di pojok warung yang terang benderang, saling tersenyum, dan berbicara Bahasa Inggris.

Dia bercerita masa lalunya. Saya mendengarkan dengan prihatin. Tentang ayah ibu yang tidak akur, tentang ayah tiri yang dianggapnya jahanam, tentang kekerasan hati, tentang anak yang diabaikan sekaligus juga dibebani harapan, …

“Mom was a hard person,” katanya. Saya menatap matanya. Setelah beberapa lama, saya mengalihkan pembicaraan.

“I have something for you, …” kata saya.

Bersisian kami berjalan dalam temaram lampu jalan dan beranda hotel. Di dalam lift kami  bertatapan lagi. Tanpa suara.

Pintu lift terbuka, dan saya genggam tangannya. Bukan tangan lembut perempuan lemah, tapi tangan yang tegas seorang pejuang, walaupun kecil dan terasa rapuh. Kami berjalan bergandengan. Saya berharap kamar saya ada nun jauh di ujung lorong itu.

“How old are you?” dia bertanya.

“I was born few years after The Beatles broke up, a few months after big riot in Jakarta.”

Dia tertawa kecil. Saya tahu mengapa. Ketika saya mulai berkuliah dengan kepala plontos, perempuan ini baru saja memulai hidupnya sebagai bayi yang cantik dengan mata cokelat tua yang cerah.

Saya membuka pintu dan kami masuk. Ranjang besar tunggal dengan sprei putih di tengah kamar itu tampak hangat. Lampu kuning yang lembut bersinar dari tepi-tepinya.

“Would you like to stay with me? We can talk all night long.”

Dia tak menjawab. Tersenyum.

Dari tas sandang besar, saya mengeluarkan hadiah kecil yang sudah berbulan-bulan sebelumnya saya janjikan.

“Ah, warnanya pink, …” ia tertawa. Katanya, tak pernah ada barang berwarna pink dimilikinya. Kaus atau t-shirt miliknya, bra miliknya, … hampir seluruhnya berwarna hitam. Ia orang pergerakan.

Kami berpelukan dan berciuman. Perutnya yang ramping terasa kencang. Napasnya membara.  Ada tato di pundak dan di dadanya. Seluruh tubuh mungilnya tenggelam dalam lingkaran lengan saya.

“You are so big,…” ia berbisik. Umhh…

***

Hidup kami mulai bersentuhan beberapa bulan sebelumnya. Kami berkenalan di kota yang lain yang secara kebetulan kami kunjungi bersama dan pada saat yang sama. Kebanggaannya berbeda daripada perempuan dari sebelah barat Indonesia2.

“I have small boobs and dark skin,” katanya.

“I love your small boobs and your dark sweet skin,” kata saya. Dia tersipu.

Lalu kami berbicara tentang keinginannya menjelajah timur Indonesia, ke Flores, Timor, mungkin sampai Papua. Saya cerita tentang rak buku yang saya buat dan akan ada sofa empuk beserta bantal-bantal yang terhampar di depannya.

Juga tentang topik-topik yang bagi umumnya orang sudah selesai. Para aktivis memang gemar mempertanyakan hal-hal yang sudah baku dan mencoba memberi perspektif baru. Atau memaksakan perspektif itu. Kadang-kadang, sambil telentang di tempat tidur, saya merasa diuji oleh pertanyaannya.

Saya menjawab dengan jawaban orang lain. Saya terlatih dengan itu. Dia tahu.

“Your own answer, please, …”

“So far only you asking my own opinion. I agree in some parts with you, and disagree in some others. But I think, it’s not important, …”

Dia juga sesekali membuat pengakuan yang mendengarnya bisa membuat kening dan hati berkerut.

“I am the B in …,” katanya.

“Shhh, dear … “ saya memotong, menaruh telunjuk di bibirnya, memejamkan mata, dan menyambung “…and I just wanna be with you.”

Dia memang sedang cantik-cantiknya.

Muhammad Istiqamah (Is), vokalis dan gitaris Payung Teduh ini memberi pengantar yang jelek untuk lagu itu di acara ini, namun saya tidak menemukan ada rekaman lain Payung Teduh yang memperlihatkan reaksi penonton yang begitu alami seperti di dalam video ini.

***

  1. makanan yang terdiri dari tahu, lontong, kecambah, lalu dilabur saus kacang yang banyak dan kemudian diberi remukan kerupuk. Saus kacang itulah kunci nikmat tahutek sebab Anda bisa mengatur rasanya di situ. Kepada penjualnya, yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur, Anda bisa minta cabe yang banyak. Tahutek ramai dijual mulai selepas magrib hingga tengah malam lewat sedikit.
  2. Ini survai ngawur saja oleh saya, dibuat untuk keperluan cerita ini, dan hanya berdasar pengamatan saja pada pernyataan dan selera kawan-kawan saya yang terbatas—umumnya lelaki (indonesia), dan perempuan (indonesia) hari ini, menyukai dan kepingin seperti para penyanyi girls’s band korea, yaitu berkulit terang—kalau bisa pucat—berambut lurus, dan selera lama lelaki yang bahkan bisa diliht dari relief Candi Borobudur; perempuan berpayudara besar—selain berkaki jenjang seperti belalang (ini ala Korea atau Taiwan lagi). Itu sebabnya (masih) susah Anda temukan di televisi kita perempuan yang berkulit gelap menjadi peraga atau berakting untuk suatu produk, atau bahkan presenter—meski yang terakhir ini sudah diembel-embeli ‘eksotis’ sekali pun dan nyata-nyata para lelaki kaukasus menyukainya.

Ibunda Guru

Posted on Updated on

Suatu masa, ibunda guru Nelly A Latif, pernah menugaskan saya membaca sedikitnya 1 novel setebal sekurangnya 250 halaman atau 2 novel tipis 150-an halaman seminggu. Saat itu usianya sudah 60 tahun.

Tidak harus novel, sebetulnya. Tapi saya memilih novel dengan harapan bisa membacanya tanpa banyak kening berkerut seperti membaca bahan-bahan kuliah yang disodorkan Pak Astin Johannis. Jadi, saya berharap, Reading VII itu bisa saya anggap bersenang-senang.

Tahun itu pertama kalinya Reading VII diselenggarakan sebagai konsekuensi kurikulum baru. Sebelumnya, matakuliah Reading hanya sampai seri IV, namun dengan kredit yang lebih banyak. Di Reading IV itulah saya mengalami hal yang manis tak terlupakan, dan juga pahit getir dunia sebagai mahasiswa. Baiklah saya cerita di lain kesempatan.

Sebagai matakuliah baru, dengan prasyarat matakuliah yang sama dengan seri lebih rendah, belum banyak kawan yang bisa mengambil Reading VII. Apalagi kemudian Reading VII pertama ini diampu Bu Nelly, dosen yang di seluruh Universitas Lambung Mangkurat terkenal dengan ungkapannya “I’ll cling your neck”, aku cekik kau, hahaha–sehingga beberapa kawan yang sebetulnya sudah memenuhi syarat kuliah itu, membatalkan keikutsertaannya.

Peserta mata kuliah Reading VII untuk pertama kali itu cuma bertiga. Ada dua kawan perempuan yang cantik yang bikin saya tambah semangat.

Pada mulanya Bu Nelly memberi daftar buku apa saja yang harus dibaca, namun kemudian ia membebaskan kami mau membaca apa saja. Bukunya boleh dari perpustakaan program studi, perpustakaan jurusan, atau buku-buku di perpustakaan pusat di gedung seberang, atau dari Perpustakaan Daerah di Pal 6–perpustakaan yang saya klaim sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia. Bu Nelly juga mempersilakan mampir ke rumahnya di dekat Koramil di Pekauman itu untuk membaca dari koleksi pribadinya.

Seperti saya bilang di atas, matakuliah ini bagai bersenang-senang bagi saya, meski hanya bertiga, meski tugasnya tak kenal akhir, meski diampu oleh Bu Nelly yang populer juga sebagai ‘Dosen Killer’.

Lagipula, bagian berat dari kuliah itu bukan soal membaca, kawan, tapi membuat laporan, dan nanti mempresentasikannya. Membuat laporan buku berarti membuat sinopsis, mempelajari karakter tokoh dari deskripsi dan alur cerita, menganalisis, dan memahami kalau bisa. Kemudian, sedemikian rupa menulis ulang deskripsi itu, dan terakhir, mempresentasikannya secara singkat juga. Untuk mempelajari karakter tokoh dan menganalisis, kadang harus baca buku lain lagi. Karena dalam bahasa asing, harus buka kamus, belajar idiom, tata bahasa, …

Dan tahun itu internet belum sampai Indonesia. Belum ada google dan semua kemudahan yang tinggal klik.

Sampai di situ juga masih belum bagian yang terberat. Yang berat itu membuat Bu Nelly terkesan.

Bagaimana tidak, tahun itu dia sudah 30 tahun jadi guru. Dia sudah membaca hampir semua buku yang kami baca. Apalagi yang dipinjam dari perpustakaannya. Kalaupun dia belum membaca buku yang saya baca, yang biasanya buku yang saya temukan di Perpustakaan Daerah di Pal 6 itu misalnya, dengan pengalaman dan pengetahuannya, laporan buku saya bisa seperti tulisan pertama orang belajar mengarang. Penuh coretan koreksi spidol merah di sana-sini.

Kalau dia terkesan, artinya cukup puas dengan apa yang kita tulis di laporan, dan bisa paham dari cara kita menyampaikannya—Bu Nelly selalu mengambil posisi sebagai pendengar awam untuk setiap laporan itu–dia akan ringan berkata, “oke,”.

Sudah, begitu saja. Sambungannya paling, “Next, please” kalau masih ada yang akan presentasi.  Atau, “See you tomorrow, …” kalau sudah selesai semua.

Untungnya, Bu Nelly tidak pernah menyuruh mengulang membaca atau memperbaiki laporan yang tidak mengesankan dirinya itu. Kami terus maju ke buku berikutnya. Saya dan kawan-kawan harus belajar dari kesalahan di laporan sebelumnya.

Keuntungan lain, tidak ada midtest dan final test, ujian tengah semester atau ujian akhir. Membuat laporan-laporan itu setiap minggu sudah seperti tes. Matakuliah Reading adalah untuk belajar membaca dan memahami teks tertulis, memahami makna yang literal maupun yang figuratif, yang tersurat maupun yang tersirat. Untuk membuktikan kita memahami apa yang kita baca itu, silakan Anda tulis what have you got dan presentasi kemudian.

Tanpa disadari, bagi saya, cara Bunda Nelly mengajarkan Reading VII itu seperti latihan spartan untuk menjadi jurnalis. Mengajarkan kegigihan, semangat, ketajaman, fokus, ketelitian dan kepekaan, mengurai persoalan, melihat jalan keluar, … dan kemudian menyampaikannya kembali dengan bahasa dan kata sederhana sehingga bisa dipahami khalayak yang bermacam jenisnya.

Mungkin dia sudah tahu saya tidak akan betah dengan rekan-rekan kerja yang sama terus menerus, atau menghadapi 40 murid yang kelihatannya saja memperhatikan tapi pikirannya ke mana-mana, atau kerja administrasi yang mesti dibuat sebelum bisa tampil di kelas itu.

Kami lulus matakuliah itu dengan membanggakan. Mendapat nilai B dari Bu Nelly, o kawan, tak sembarangan.

“I’ll cling your neck,” katanya pada saya kadang-kadang bila kesal melihat nilai-nilai saya. Saya hanya bisa cengar-cengir. Orang seperti saya memang tidak bisa menunduk terpekur.

Demikian, tetaplah ia menasihati saya dan meminjami buku dan menyuruh membaca.

“Thank you mam,” kata saya.

“Don’t thank me. Just read your books. Fix your marks,” katanya tegas. “Or I’ll cling your neck, …”

Sekarang sudah hampir 20 tahun saya dalam dunia yang dilatihkannya itu.

Tahun ini, Nelly A Latif berusia 88 tahun. Ada perayaan kecil untuknya, dan seperti adat zaman sekarang zaman now, ada banyak foto yang di-posting di media sosial. Saya tak bisa menahan air mata haru melihat ia dikeliling rekan-rekan yang sebagiannya juga dulu murid-muridnya itu.

Ibu Nelly terlihat sehat walau kurus seperti selalunya. Dengan rok panjang berwarna biru dan sapu tangan putih terselip di pinggang. Ia tersenyum dan memotong kue ulang tahun. Mungkin saat itu lagu Selamat Ulang Tahun sedang dinyanyikan.

Ibunda Guru, aku berutang padamu untuk setiap kebijaksanaan dari setiap huruf, kata, dan kalimat, dari setiap buku yang aku baca dan peristiwa yang aku alami.

Aku tahu aku tak akan pernah  bisa membayar. Hanya dengan berbagi jua sedikit ilmu ini kepada yang lain, seperti engkau lakukan meski caranya berbeda, aku berbahagia.  Semoga bisa membahagiakan Ibunda. Semoga yang Maha Kaya dan Maha Pemurah selalu bersamamu, Ibunda.

Maafkan juga kalau aku nakal sekali waktu itu. Semoga Ibunda selalu sehat dan diberkati Yang Maha Mulia dalam setiap masa. ***

 

Lebak Bulus

Posted on Updated on

Saya sedang kangen Neng, yang entah dimana sekarang. Mungkin kalian ada yang kangen juga? Hehehe, silakan.

Pukul empat sore saya melompat ke dalam bis antarkota jurusan Jakarta-Bandung.  Sekali lagi saya mengecek pesan pendek dari Neng. Pesan itu berisi petunjuk bagaimana menemukan dia di Bandung nanti.

“Bang Nov naik bus ya? Dari Lebak Bulus ada. Nanti turun di Kalapa, trus naik angkot yang ke Ledeng, turun di Enhai, ntar telpon kalo dah sampai.”

Menurut Neng, bila lebih kurang lancar, dalam 4 jam saya sudah akan tiba di Paris van Java. Bis akan berhenti sekali dimana gitu di sebuah rumah makan buat istirahat sejenak.

“Tapi kalau mau makan bareng lun, jangan makan banyak-banyak di situ,” katanya. Maka memang kemudian saya hanya minum kopi dan makan kue di rumah makan tersebut.

Sebelumnya, pukul tiga sore Sabtu, setelah menyelesaikan kewajiban menulis berita dan mengirimnya ke kantor di Banjarmasin, saya sudah cabut dari markas latihan Barito Putera di Sawangan, di ujung Gang Rotan di jalan raya Lebak Bulus-Parung-Bogor. Ini perjalanan pertama saya ke Bandung, kota yang justru sudah akrab dengan benak saya dalam 2 tahun terakhir di awal dekade 2000-an itu.

 ***

Jadi begitulah, sobat. Neng memutuskan untuk kuliah di Bandung (bacalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy, kawan). Mungkin salah satu pertimbangannya adalah saran saya sendiri. Saya tak percaya saya pernah menyarankan seperti itu.

Kami pun menjalani apa yang disebut orang sekarang sebagai LDR, long distance relationship. Telepon menjadi andalan. Tahun 1999 di Banjarmasin, saya jadi menghapal di mana saja wartel-wartel yang sepi namun masih buka setelah pukul delapan malam.

Saat itu tarif telepon interlokal mulai pukul 21.00 sekitar Rp20.000 per jam. Bila sedang tak punya uang, hehehe, saya pulang dan numpang menelepon dari rumah orang tua saya di Beruntung Jaya.

Tahun pertama di Bandung, ia tinggal di asrama kampusnya. Telepon digunakan bersama-sama dengan banyak penghuni lain sehingga bila ingin menelepon berlama-lama perlu siasat. Karena ini asrama untuk perempuan, juga ada semacam jam malam. Akan jadi gunjingan bila kerap kali ditelepon, apalagi ditelepon malam-malam, apalagi berjam-jam, apalagi oleh orang (lelaki) yang berbeda-beda. Bahkan bila yang menelepon hanya teman perempuan. Bahkan bila yang menelepon hanya keluarga.

Tentu saja ini karena yang jadi operator telepon ya gadis-gadis penghuni asrama itu juga.  Pada tahun itu, saya menghapal dan dihapal para operator telepon teman Neng. Sekali-sekali saya diledek—ketika nada tunggu yang riang, piano dari lagu The Entertainer milik Scott Joplin itu sudah habis—tidakkah ingin berbicara dengan yang lain karena Neng masih belum sampai di asrama.

“Di sini ada dua lo Bang, yang namanya sama dengan Neng,” kata Fay.

“Oh, dari Banjarmasin juga?”

“Bukan, yang satunya dari Padang.”

“Oh ya..?”

 ***

 Sejak tahun ketiga kuliah, saya memang jarang pulang ke rumah orang tua saya di Beruntung Jaya. Saya mondok mulai dari Sekretariat Angkatan Muda Baitul Hikmah di mana kami menjaga kebersihan dan keamanan masjid kampus Baitul Hikmah, lalu ke Sekretariat Kompas Borneo Unlam (yang berpindah-pindah—dan saya mulai bergabung saat Sekretariat di Jalan Karya Sabumi, lalu pindah lagi ke Kampus), sekali-sekali menginap di kos beberapa kawan, yang paling sering di kos Rommy Oktavianus Suharyanto di Jalan Cendana 3 dimana saya pertama kali mendengarkan lagu Eric Martin, I Love The Way You Love Me—(ada cerita lain dari lagu ini, sobat, tentu saja—dan bukan tentang Neng, hehehe, I am sorry).

Kemudian, ketika Yayasan Kompas Borneo (YKB) mulai diaktifkan kembali oleh Bang Atoey, saya pindah ke Sekretariat Yayasan itu di Jalan Cendana. Saat banyak pekerjaan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, saya pindah lagi ke Sekretariat Walhi di Kayutangi I selama beberapa bulan. lalu kembali lagi ke Sekretariat YKB yang sudah pindah ke Jalan Cemara IV, dan akhirnya di kantor Radar Banjar ketika menjadi reporter dan redaktur di situ.

Seluruh sekretariat dan kantor ini ada di kawasan Kayutangi, di utara Banjarmasin, di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Saya beredar di Kayutangi selama sembilan tahun dengan KTP Banjarmasin Selatan.

Selama itu saya hidup dari honor tulisan dan terjemahan dan pekerjaan-pekerjaan kecil di sekretariat-sekretariat itu. Tentu saja, ketika di Radar Banjar, dan kemudian Radar Banjarmasin-koran milik Jawa Pos Grup yang iritnya luar biasa, saya punya gaji (gaji perjuangan dari koran perjuangan juga, tapi cukuplah buat bujangan sederhana yang kebutuhannya hanya buku, kaset, olahraga, internet, dan makan ala kadarnya, hehehe…)

Oh istilah koran perjuangan itu untuk romantisme saja sobat. Betapa anak-anak muda memang mudah terpesona oleh bahasa-bahasa hiperbola para pemilik modal.

Bagi saya hari itu, kawasan Kayutangi itu memang lengkap. Ada kantor dan pekerjaan, ada Taman Budaya dimana kami menonton pementasan seniman dari seluruh Kalimantan Selatan dan dari mana saja di Indonesia, ada pameran karya-karya, kemudian ada kampus dimana ada diskusi dan perpustakaan, ada kawan-kawan perempuan yang cantik-cantik (dan ehmmm, juga rumah dan kamar kos mereka), ada pusat kebugaran di mana setiap pagi saya berlatih beban, dan lapangan sepakbola, ada Sungai Andai dimana saya suka berenang, ada Sungai Pangeran di Kuin hingga Sungai Barito yang terhubung dengan sungai kecil tak bernama yang membelah kampus hingga ke Kayutangi II di mana saya dan kawan-kawan KBU kerap bertualang kecil dengan jukung kami, mengesahkan diri kami sebagai pemuda Banjar sejati yang hidup di atas rawa-rawa dan sungai-sungai.

Juga banyak warung-warung makan murah. Juga ada Ina yang baik hati yang suka membawakan saya nasi kuning bungkus. Ada pecel Ibu di Jalan Cendana, yang kalau sore di dekatnya ada warung mi ayam Solo yang enak tempat teman saya Hindarno mengajari saya bagaimana cara makan dengan menggunakan sumpit,  dan kalau pagi ada sarapan lontong yang lezat. Berbeda dari warung lontong biasanya, karena sendirian, si Acil di warung ini sudah mengemas kuah lontongnya dalam plastik-plastik satu porsi. Cara seperti itu praktis untuk yang ingin bawa pulang atau memakan sarapannya di tempat lain.

Juga ada warung makan yang menyajikan masakan Banjar dan lain-lain yang sedap yang  tidak ada namanya di Cemara, tempat saya dan Odienk sering makan siang atau beli bungkus dan dimakan di meja pimpong yang kami jadikan meja makan di kantor. Ada kampus STIEI dengan banyak mahasiswa glamor, ada kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang mahasiswanya aneh-aneh (menurut saya saat itu, hehehe). Kawan saya Sandi Firly dan Mahmud sang demostran kuliah di Uniska ini dan Anda tahu betapa anehnya mereka bukan, hahaha.

Juga ada masjid Hasanudin HM di Bundaran Kayutangi. Bila Ramadan, tempat saya dan Sandi menumpang berbuka bila ingin makan bubur ayam gratis dan tarawih yang cukup 11 rakaat dengan ceramah yang mengajak memahami agama dengan nalar.

Rumah dosen-dosen kami pun banyak di sekitar situ juga. Ada Dr Karyono Ibnu Ahmad di Cemara, ada Pak Drs Abdurrahman Ismail di Kayutangi I, guru yang meminta kami menceritakan kembali kisah tragedi Mesan (Nisan) Berlumur Darah di Martapura dan menarik nilai-nilai di dalamnya, ada Pak Sakiman (atau Sukiman? Sutiman?, ahhh, lupa saya), juga di Kayutangi I yang punya banyak kamar kos untuk mahasiswa wanita.

Di kos Pak Sakimin (itu kayaknya, Pak Sakimin, dosen di FKIP juga) itu tinggal antara lain Didi, nama panggilan saya untuk kawan perempuan kami yang kena kanker payudara, yang tabah sampai akhir, yang tetap tersenyum meski rambutnya rontok satu-satu karena kemoterapi. Didi ini secantik Sinead O Connor, brader, dengan mata bening dan bulu mata asli yang lentik.

 ***

Turun dari angkot, saya disergap keramaian Bandung di malam Minggu. Pertigaan Gerlong ini semarak dengan lampu jalanan, lampu kendaraan yang lalu lalang, lampu warung dan toko, dan lampu gedung-gedung.

“Bang Nov…!”

Ah, inilah orangnya. Sebuah pelukan, sebuah ciuman.

“Acemm,” katanya.

Ya iyalah, terakhir mandi pukul setengah sembilan pagi tadi, seusai ikut olahraga bersama Barito Putra yang  melakoni latihan rutin di pemusatan latihan mereka di Gang Rotan itu.

“Ya,  Neng wangi sekali,” kata saya tertawa.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Ayo makan…”

 ***

Saya baru kembali ke Jakarta Minggu sore, lalu Senin siang berangkat ke Medan bersama Barito Putra. Dua pekan di Sumatera Utara cukuplah buat saya keliling-keliling, ke Danau Toba, ke Perbaungan bersama Bang Redi, fotografer. Perbaungan itu tempat konsentrasi pemukiman Urang Banjar di Sumatera Utara. Di sini saya bertemu preman Banjar Hussein si Janggut Beracun. Untuk pertama kali juga makan mi aceh dan sakit pusing karena kecapekan dan tekanan darah rendah, diobati oleh dokter Adi dokter tim, bertemu orang Keling dan Sikh yang pakai turban alias ubel-ubel, bolak-balik Stadion Teladan dan warnet dekat hotel, keluyuran di Terminal Amplas, naik Mister X angkot yang bisa bikin orang jantungan, naik bentor sambil bernyanyi-nyanyi, nonton para teroris meruntuhkan gedung WTC dengan menabrakkan pesawat di televisi yang tergantung di ruang redaksi Radar Medan, ketemu dan liputan bersama Chandra dan Cak Amu dari Jawa Pos Surabaya, …

Barito Putra tidak lolos ke babak semi final. Salah satunya karena kalah dari Persebaya Surabaya. Sayang sekali. Banyak persoalan non teknis yang membebani. Tapi tim tetap senang karena ada sejumlah bonus dan dan uang tampil (matchfee). Para pengurus yang pulang duluan ke Banjarmasin meninggalkan beberapa urusan para pemain belum terselesaikan.

“Hey Novi, kamu cairkan cek ini buat kita ya,” kata Sadissou Bako di Bandara Soekarno-Hatta, sepulang kita semua dari Medan. Bako akhirnya menjadi striker yang jadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia musim itu dengan  24 gol.

Di kantor cabang pembantu BNI di bandara itu, kami semua, seingat saya 16 orang, termasuk saya, berkumpul. Kiper Syahbani dan Amir Yusuf  Pohan tak ikut. Bani tetap di Medan sebab itulah kota kelahirannya.  Bang Pohan pulang ke Padangsidempuan menengok orang tuanya walaupun nanti pulang juga ke Balikpapan sebab anak istrinya ada di Kota Minyak.

Cek matchfee itu sedang diproses. Petugas bank memerlukan seseorang dengan KTP. Ternyata itu alasan Bako, wakil kapten dan pemain asing asal Kamerun itu meminta tolong saya. Mungkin agar terlihat adil sebab hal-hal seperti ini biasanya urusan pengurus.

Uang Rp20 juta itu dibagi rata. Untuk Syahbani dan Bang Pohan ditransfer lewat bank itu juga. Ternyata untuk saya juga ada. Saya terharu.

“Situ tidak merasa bagian dari kita ya,” kata el capitano Bambang Harsoyo dengan senyumnya yang khas itu. Setahun penuh saya bersama mereka. Ikut makan tidur di mess. Menghapal dan menuliskan kisah mereka. Juga banyak menyimpan rahasia.

Liputan olahraga memang unik, kawan. Dalam beberapa hal jurnalis biasanya menjaga jarak dengan obyek liputan mereka—seperti politik atau ekonomi misalnya—maka tidak dengan liputan olahraga. Sedari awal saya sudah mengambil posisi, saya membela Barito Putra, saya membela pemain dalam hal pertandingan dan olahraga.

Jadi kalau tim kalah sebab main jelek, pelatih, atau manajer lah yang salah. Sebab sejak awal sekali pelatih dan manajer punya kuasa untuk menentukan siapa yang boleh masuk tim siapa yang tidak.  Mereka yang membuat strategi, menyusun line up, sebelumnya mereka yang melatih, juga menganalisis lawan. Tapi kalau tim menang, pemain lah yang pertama kali disanjung. Merekalah yang berkeringat dan berdarah-darah di lapangan.

Termasuk juga untuk atlet perorangan. Atlet perorangan punya pelatih yang membuatkan porsi latihan yang mesti dijalani, yang mengajari teknik, yang menyemangati.

Saya dan pelatih Mundari Karya membuat kesepakatan tidak tertulis. Kami punya tujuan bersama. “Kalo mau kritik tim, lo kritik gua, bukan pemain,” katanya dengan logat Betawi kental. Saya setuju. Tim sepakbola bukan kumpulan anggota DPRD yang kita harus awasi—bahkan ketika tim itu mendapat kucuran dana APBD sekali pun (yang begitu yang kita pelototi pengurus). Apalagi Barito Putra ketika itu yang sepenuhnya milik pengusaha Haji A Sulaiman HB. Tim harus selalu disemangati, disanjung. Mereka tidak makan duit rakyat kok—atau pun ketika tim dibiayai dana APBD, mereka mendapatkannya dengan jerih payah luar biasa yang halal, lebih kurang sama ketika kontraktor membangun jalan dari sumber duit yang sama. Soal asal muasal keuangan klub, sekali lagi, pengurus yang tanggung jawab.

Apakah ada pemain profesional yang tidak profesional? Tentu saja ada. Banyak kelakuan pemain yang mungkin tidak diterima standar moral masyarakat secara umum. Tapi itu umumnya di luar lapangan, di luar olahraga. Saya tahu siapa yang pulang dinihari dari diskotek, yang menghamili pacarnya yang ternyata pacar orang lain juga, dan inilah yang antara lain jadi rahasia saya, sobat.

Jadi liputan saya tentang Barito Putra adalah tentang tim Barito Putra, bukan tentang manajemen Barito Putra. Isinya terutama tentang prestasi dan kemenangan-kemenangan kecil setiap anggota tim. Sampai hal-hal kecil seperti gelandang Zainal Rahim yang suka makan mi instan. Dan stopper Nanang Karyanto yang sigap memadamkan kompor yang meledak di mess pun ada ceritanya. Sandi membuatkan ilustrasi dengan gambar kartun Nanang mengenakan kostum pemadam kebakaran tengah menyemprot kompor yang terbakar.

Nanang cadangan abadi semasa kepelatihan Mundari Karya, dan berkecil hati bahwa dirinya tak akan pernah saya tulis dan dimuat di koran. Tapi tidak, saya tuliskan juga profil Nanang, bersama rekan sekamarnya (juga stopper) Wahyu Rustiono yang jago bawa trailer sehingga sering juga jadi sopir cadangan bus kuning bus latihan Barito Putra. Saya terharu ketika Nanang meng-kliping  feature pendek tentang dirinya itu.

Dari kemenangan-kemenangan kecil itu jadilah kemenangan-kemenangan mereka sebagai sebuah tim. Saya cukup bahagia selama dua musim turut mengantar mereka ke penampilan terbaik di Liga Indonesia dan menjadi tim yang tetap disegani. Apalagi  Sunar dan Isnan, juga Firman Usman,  terpilih menjadi anggota tim nasional.

***

Lalu semua berpisah. Bersalaman, berpelukan. Mas Bengbeng si Bambang Harsoyo alias si Captain Power melanjutkan terbang ke Semarang dan terus ke Kudus, Ismayana dan Saiman langsung pulang ke Banjarmasin, Sunar Sulaiman, Isnan Ali, Sofyan Morhan, Firman Usman, Hairansyah,  terus ke Makassar, Pakde Najih Mahmudi, Agus Purwanto, cari pesawat ke Surabaya, Ferly Laalla, Ronny Prowanda, dan Effendi ke Balikpapan, Bako, Zamen Pierre, dan Stephen Weah bertahan dulu di Jakarta.

Bako bertanya, saya mau kemana.  Saya bilang saya belum tahu. Yang jelas, saya belum ingin pulang ke Banjarmasin.

“Kamu mau ke Bandung lagi ya?” ledeknya.  Ketiga pemain asing naik satu taksi yang sama. Bergantian mereka memeluk saya. “Tetap kontak ya Bos,” kata Weah yang konon ponakannya George Weah, bintang AC Milan. Mereka juga menambah uang saku saya.

“Belikan pacarmu sesuatu,” kata Bako sambil mengedipkan mata. Taksi mereka pun berlalu di keramaian lalu lintas di depan terminal itu.

Saya jadi merasa kaya. Maka saya pun memanggil taksi. Dari dalam sedan itu, saya mengirim pesan memberitahu Bos Erwin di Banjarbaru untuk sedikit libur dan menghilang 100 jam lebih dikit dari dunia jurnalistik.

Bos Erwin tidak bertanya. Ia hanya membalas, “Ok”.  Sopir melihat ke kaca spion di atas dashboard untuk melihat saya dan menanyakan tujuan.

“Lebak Bulus ya Pak.”

***

Ecstasy of Tears

Posted on Updated on

13hetfield
James Hetfield, rock itu, akhirnya, sederhana, bahkan, juga bisa jenaka.

Setelah satu tahun lebih berlalu, kisah ini akhirnya matang di benak saya. Untuk para penggemar dan sahabat di mana saja berada.

Tepuk tangan, suitan, dan teriakan berhenti sejenak. Desiran keyboard dan cello yang sayu dan kelam menyergap 60.000 pasang telinga di Gelora Bung Karno mulai pukul sembilan malam itu. Dentuman senar tertinggi bas gitar dan pukulan rapat rendah pada snare yang diikuti desisan simbal, lalu crescendo, perlahan makin lama makin nyaring ditambah alunan biola dan deram tambur …

Adegan nisan-nisan di lereng bukit saat Tuco berlari tak tentu arah mencari emas senilai 200 ribu dolar AS yang terkubur di dalam cerita film The Good, The Bad, and The Ugly turut ditampilkan di dua layar lebar di kanan kiri panggung.

Seperti apakah perasaan Ennio Morricone ketika menuliskan lagu ini? Apakah yang bergaung di kepalanya saat menerjemahkan suara-suara itu ke atas partitur?

Hanya Morricone dan Tuhan yang tahu. Dan kami malam itu, bersama puluhan ribu kawan di stadion termegah di Indonesia, laksana shaf yang rapat, bahu bertemu bahu, sisi tapak kaki dengan sisi tapak kaki dalam salat subuh yang syahdu di masjid kampus saya dulu, berdengung dan bergemuruh bersama di dalam The Ecstasy of Gold.

Saya tidak menyangka menonton konser musik thrash yang gahar bisa dimulai dengan linangan airmata. Saya juga melihat saya tak sendirian terguguk dalam keharuan.

Ya seperti ratusan ribu, mungkin jutaan muslim, menangis di depan Kabah karena kebahagiaan akhirnya melihat dan bertemu, atau kesedihan sebab akan berpisah, demikian pula kiranya kami para metalhead malam itu.

Dua puluh tahun kami menunggu Metallica, dan akhirnya …untuk 5 menit pertama, hanya airmata. Hanya airmata.

***

James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Jason Newsted (juga Clifford Lee Burton dan David Mustaine) memasuki hidup saya dari sebuah kaset berwarna hitam legam bertuliskan Polygram. Benda itu saya dapat sebagai pinjaman dari Budi Surya, seorang sahabat baik, kawan dalam pasangan bangku-meja selama 3 tahun terakhir di SDN Pemurus Dalam 3, sekutu bila berkelahi melawan Harya Maulvi, kawan kami yang jago karate, kawan belajar merokok (tanpa bermaksud iklan, Budi memilih rokok yang sama dengan namanya, hehehe), juga sesama penggemar Kho Ping Ho dan komik-komik Indonesia (yang ditularkan oleh kakaknya, Fahmi, pegawai BNI 46), sesama pengantar koran,  bersama mengasuh keponakannya, dan guru gitar yang mengenalkan praktik dagang secara langsung dari warung kakaknya yang lain yang kami tunggui bersama.

Tahun 1988, album …and Justice for All untuk keluaran Indonesia dijual dengan kaset dalam kotak plastik seperti video beta—satu variasi dari cara menjual rekaman di Indonesia. Sampul album itu dihiasi gambar-gambar ekspresif. Mulai dari cover utama dengan lukisan patung Dewi Keadilan yang timbangannya berantakan sementara badannya terikat tali-tali kepentingan, lukisan potret sangar dan geram keempat personel Metallica, dan gambar tangan pemegang palu keputusan yang memukul rakyat kecil lemah.

“Hukum hanya berlaku bagi yang lemah. Orang kaya (raya) bisa menyuap dan menyulap pengadilan. Halls of justice painted green money talking…” geram James Hetfield dalam lagu …and Justice for All, lagu kedua setelah Blackened, lagu tentang kelakuan manusia yang merusak dan mencemari alam sehingga Bumi menderita.

Karena itulah, saya kira,  Jokowi dan saya menjadi penggemar Metallica, sobat. Metallica mewakili kami untuk marah-marah pada sistem sambil berjanji dalam hati untuk suatu saat kelak mengubahnya sendiri menjadi lebih adil dan lebih baik.

Jokowi jadi presiden, saya jadi jurnalis.  Pada tahun yang sama, Iwan Fals, idola kami yang lain, sedang menjadi romantis dengan “Kemesraan”. Lagu itu barangkali satu-satunya lagu Iwan yang digemari para pejabat kita.

***

Namun demikian, saat itu, saya masih kesulitan menikmati musik Metallica. Cara bernyanyi Hetfield yang menggeram, musik yang temponya berubah-ubah, masih susah saya cerna pada usia 13 tahun ketika itu.

Musik rock saya di masa remaja awal itu adalah Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Van Halen, Whitesnake, dan Scorpion. Saya mendengar Queen agak terlambat.

Mereka ini pengusung hardrock dan Zeppelin juga kental dengan blues—dan agaknya cocok dengan telinga melayu saya. Ada melodi yang sendu di Soldier of Fortune, atau mistisnya Stairway to Heaven oleh Jimmy Page dan Catch the Rainbow petikan Ritchie Blackmore. Atau pula melodi manis When It’s Love dari Eddie Van Halen, baik dengan gitar maupun keyboard, yang mengiringi juga surat-surat saya kepada Day.

Sebab itu, meski lagu yang panjang-panjang sudah biasa saya dengarkan dari Deep Purple, juga gitaran kasar Blackmore di album Deep Purple In Rock, dan komposisi-komposisi klasik Bach, Beethoven, sampai Joseph Haydn, Metallica dan musiknya benar-benar sesuatu yang baru bagi saya.

Oh iya, Ritchie Blackmore juga bisa main gitar grunge ala Kurt Cobain sobat. Dengarlah itu Hard Lovin’ Man dan Blood Sucker dalam album Deep Purple In Rock itu.

Dari kampung saya sendiri ada Big Boys, yang vokalisnya si Arul Efansyah, ternyata murid ibu saya di sebuah sekolah dasar di Pasar Lama di Banjarmasin, juga para rocker Jawa Timur seperti AKA, Elpamas, Power Metal, SAS-nya Arthur Kaunang.

Mereka ini yang kami tonton dengan penuh semangat di Sasana Bina Krida Budaya yang sempit, atau Stadion Lambung Mangkurat yang lapang dalam konser bertiket mulai dari Rp7.500 hingga Rp20.000.

Perlu diketahui juga kawan, dari akhir tahun 80-an sampai pertengahan 90-an, Banjarmasin adalah satu barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru mabrur ke-rocker-annya bila sudah pernah manggung di Banjarmasin.

Di kota di mana setiap 100 meter ada musala dan masjid itu, sejak pertengahan 80-an hingga 90-an, hampir setiap bulan ada konser rock. Bahkan, di acara 17 Agustusan di tingkat RT pun, para pemuda memainkan Black Dog-nya Led Zeppelin atau Highway Star-Deep Purple dengan beringas.

Setelah pindah ke Balikpapan, saya kehilangan suasana rock city yang akrab bersemangat itu. Apalagi kantor tempat saya bekerja ketika itu dingin dan kaku, yang hanya cair dan hangat sejenak ketika ada penganan martabak dan kue terang bulan.

Wal hasil, saya hanya nonton dua kali musisi dan band kelas stadion yang manggung di sini. Satunya Slank, satunya lagi Bang Iwan. Selain itu, di pertengahan pertama dekade 2000, selera musik saya tidak cocok dengan kebanyakan warga Kota Minyak.

Tapi menjadi jurnalis memberi pengalaman lain. Saya beberapa kali bertemu Om Arthur Kaunang, bassis-nya SAS itu. Sekali minum-minum di Color Beat-nya Blue Sky dan kita ngobrol ngalor ngidul tentang musik rock dan bisnis pertunjukan. Arthur antara lain memproduseri Endi Xirang, penyanyi rock perempuan—yang akhirnya harus kalah dengan industri yang sedang menyukai boyband dan lagu-lagu tidak jelas.

Pernah ketemu God Bless di Bandara Sepinggan. Om Iyek yang kribo itu pulang dari Kukar Rock Festival yang mementaskan Helloween dan God Bless jadi pembuka. Keterlaluan juga, God Bless jadi pembuka Helloween. Saat Kai Hansen  baru belajar gitar, Ian Antono sudah mengharubiru publik metal dunia di Indonesia ini.

Sungguh iri saya pada bang Arief  Er Rachman dan kawan-kawan di Tribun Kaltim yang pernah menjamu God Bless di kantornya. Mereka sempat juga nyanyi bersama. Ian Antono memetik gitar di kesempatan yang langka itu.

Ketemu Eet Sjachranie, gitaris Edane di Gelora Bung Karno itu, sama-sama mengantre mau masuk stadion buat nonton Metallica. Dikasih tanda tangan eksklusif di album Dekade-nya Bang Fariz RM. Juga ngobrol hangat dengan Cokelat. Bisa bicara serius dengan Glen Fredly—yang rock banget dalam sikap—dan tiga cowok Michael Learns To Rock yang sepetinya terkagum-kagum dengan rambut dreadlock saya.

“Is it original? ” tanya Jascha Richter, si pemain keyboard dan pentolan MLTR, di dalam lift dari lantai dasar ke lobby Hotel Jatra.

Well, siapa tahu, bicara-bicara akrab serius santai dengan Metallica entah dimana nanti.

Saya dan kawan-kawan di SMAN 7 Banjarmasin juga setiap tahun membuat pertunjukkan musik dan seni lainnya. Namanya keren, Pergelaran Musik Remaja atau PMR. Kami undang sekolah-sekolah lain untuk tampil dan dinilai buat juara.

Tuan rumah juga tampil meski tak dinilai. Tahun 1991, band sekolah kami membawakan Enter Sandman. Saya yang jadi penata set panggung dan seluruh area pertunjukan, menikmatinya sambil geleng-geleng tak percaya.

***

Metallica baru merasuk ke hati dan pikiran saya 3 tahun setelah “…and Justice” dirilis. Apalagi kalau bukan dari Black Album, album kelima yang selftitled, yang judulnya cukup Metallica.

Album yang rendah hati. Pada sampul album tidak banyak lagi ornamen di dalamnya seperti pada album sebelumnya. Sebagai musisi dan manusia, Hetfield, Ulrich, Hammet, dan Newsted memasuki fase baru. Mereka menjadi orang dewasa yang lebih kalem, lebih bijak, dan lebih dalam, sementara di bawah arahan produser Bob Rock musiknya melebar, membawa thrash ke dalam definisi yang lebih luas.

Seperti Nana, gadis mungil bermata cemerlang, siswa kelas 1E yang, aktivis PMR (kalau ini Palang Merah Remaja, sobat), yang jalan bareng saya saat itu, lagu-lagu Metallica menjadi sederhana. Enter Sandman, atau The Unforgiven adalah simpel dan mudah sehingga orang yang baru belajar gitar seperti saya pun bisa memainkannya.

Untuk tur album inilah Metallica datang ke Indonesia pertama kali, 1993. Meski musiknya sudah lebih kalem daripada sebelumnya, tapi penonton yang tak bisa masuk tempat pertunjukan di Stadion Lebak Bulus bikin rusuh di luar. Saya membaca laporan konsernya di majalah Hai. Ira, sahabat pena saya di Jakarta, bercerita singkat dalam surat yang agak panjang. Saat itu agak jamak konser musik ricuh. Jangankan rock-metal, acara dangdutan saja orang bunuh-bunuhan.

Metallica agak menurun tensinya, sebaliknya telinga saya sebagai remaja akhir terus mencari musik yang selaras dengan emosi dan alam pikiran yang memendam kemarahan itu. Kami bertemu dan melebur dalam Wherever I May Roam, gitaran saya sudah agak lumayan sehingga Nothing Else Matter sudah bisa didengarkan tanpa dahi berkerut walau gitarnya tetap gitar pinjaman, dan saya pun sudah punya suara yang cukup berat untuk bisa menggeram seperti Hetfield di Don’t Thread On Me.

Dari Black Album, barulah saya dan Feb, saudara, rekan sekamar, seide sepemikiran walau jarang bicara, berburu album-album Metallica. Dengan urutan terbalik muncul di rak kaset kami …and Justice, lalu Master of Puppets (1986), Ride the Lighting (1984), dan Kill Em All (1983).

Seperti penggemar lainnya, kami menghapal lagu-lagu, mendengarkan dengan seksama hingga not dan bunyi terakhir, membaca bagaimana proses kreatif penciptaan lagu, segala latar kebiasaan personel, dan sure, memasang poster mereka di dinding kamar.

Di saat krisis ekonomi menimpa Indonesia 1998, Metallica merilis album konser S&M dan berkolaborasi bersama San Francisco Philharmonic Orchestra. Harga kaset sudah Rp20.000 dari semula hanya Rp12.000 (saat kami beli Kill Em All harga baru Rp7.000—dan beberapa tahun sebelumnya, kaset Deep Purple saya Rp4.500). Saya dan Feb menahan diri untuk tidak membeli rekaman musisi mana pun. Kami sedang fokus di ujung masa kuliah strata satu dan kalau ada uang itu buat fotokopi, atau beli kertas buram dan houtvrij schrijfpapier, atau beli buku.

Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu di Sekretariat KBU yang lagu kebangsaannya adalah lagu-lagu Iwan Fals dan sekali-sekali Bob Marley (yang juga membawa pengarus besar pada saya kemudian).

Baru setelah saya mulai bekerja, entah sebagai jurnalis, entah penerjemah, entah guru honorer, koleksi rekaman bertambah. Album Load and Reload segera masuk. Juga dobel album Garage Inc. Saya yang juga terus keranjingan main drum dan setiap hari berlatih dengan kardus-kardus yang disusun dan simbal khayalan, segera memasukkan Fuel dan Whiskey in the Jar dalam daftar lagu latihan.

Album St Anger dan Death Magnetic saya dapatkan dengan cara yang romantis: hadiah ulang tahun dari isteri tersayang. Lengkap dengan pizza beetato pepperoni, coke, pelukan anak-anak, dan ciuman ibu mereka.

Saya juga mengumpulkan beberapa rekaman yang memainkan lagu-lagu Metallica, seperti Apocalyptica, empat musisi asal Finlandia yang tak kalah gahar dengan Hetfield cs—yanng memainkan lagu-lagu Metallica hanya dengan cello.

***

Bila saya mulai menikmati konser dengan menangis terharu—sebab antara lain kami harus menunggu 20 tahun untuk konser itu—Hetfield sendiri menanggapinya dengan jenaka.

“Why it takes so long?” katanya. “No money?” Lalu tawanya yang khas itu keluar. Saya turut tertawa. Kami semua tertawa. Senang bisa menertawakan diri sendiri.

Pada saya barangkali iya. Tiket nonton mereka hari itu Rp750.000 untuk kelas festival. Itu cukup buat sekali belanja bulanan satu keluarga dengan 3 anak yang masih SD. Cukup buat beli 20 kg beras, minyak goreng, … pokoknya kulkas penuh.

Bagi kita yang berada di pulau yang berbeda, berarti ditambah tiket pesawat pergi pulang, tambah biaya menginap, biaya transportasi, biaya konsumsi, …

“Ya kalau kamu mau pergi besok lalu siap-siapnya baru hari ini, kalau kamu tidak kaya, ya tidak bisa,” kata Martin Smith, seorang kawan penjelajah Himalaya.

Sungguh, dari Martin dan banyak kawan bule dan Tionghoa, baik kaya maupun tidak kaya, di Balikpapan atau di mana saja, saya belajar arti persiapan dan menabung. Saya baru sadar semasa kecil ibu saya sebenarnya sudah mengajarkan juga kepada kami.

Maka saya membuat persiapan untuk banyak hal: untuk liburan, untuk listrik padam, untuk air macet, untuk pendidikan anak-anak, untuk suatu saat rumah kami harus direnovasi, bila hujan di jalan, untuk saat tengah malam kehabisan pulsa internet sementara berita harus dikirim segera, untuk sakit, untuk keinginan-keinginan, dan seterusnya.

Saya merasa beruntung ketika Metallica akhirnya benar-benar datang lagi di Indonesia, saya sudah punya semua yang dibutuhkan. Saya sudah beli tiket secara online pada hari kedua penjualan, 60 hari sebelum hari konsernya.

Bahkan sebenarnya saya sudah berusaha beli sejak hari pertama, tapi karena padatnya situs blackboxtix.com, situs resmi promotor BlackBox yang mendatangkan Hetfield cs, baru pada hari kedua terverifikasi. Para pembeli lewat cara online kemudian dikirimi kode booking. Kode booking itu yang disebutkan, atau bila diprint, ada barcode yang di-scan, untuk mendapatkan tiket asli di arena konser nanti.

***

Dan itulah Metallica, dan disinilah saya bersama 60 ribu penggemar mereka dari berbagai tempat di Nusantara (termasuk Nusantara itu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Australia).

Hetfield, Hammet, Trujilo berkeliaran di panggung. Ulrich menggebrak set drumnya dengan sepenuh tenaga. Nomor-nomor keras langsung dimainkan berderetan: Hit the Lights, Master of Puppets, Fuel, Ride the Lighting, …

Ulrich tarik napas sejenak di lagu Fade to Black buat kembali masuk jalur cepat di separuh akhir. Dobel bass drum Tama yang jadi andalannya kembali berkejaran.

Metallica terus ngebut. The Four Horsemen, Cyanide (lagu favorit saya yang baru saja jadi favorit) digeber seperti Valentino Rossi membawa motornya di tikungan-tikungan panjang Donington Park.

Tak berkurang pula tenaganya ketika Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, hingga dengungan bas Trujilo menghadirkan Orion. Melodi Hammet mengantarkan kami ke galaksi yang jauh di atas Langit Utara dalam tarian bintang dan laser warna-warni.

Saya memandang sekeliling. Di kiri saya ada Arrie, teman baru yang mulai berkenalan dari counter pengambilan tiket kemarin, di depan, di belakang, di kanan dan kiri, semua berkaos hitam dengan gambar-gambar Metallica dan grup-grup rock lainnya. Semua dengan gambar-gambar sangar atau surealis yang dilambangkan dengan tengkorak, monster, atau motif tribal.

Saya juga, tentu saja, dengan kaos hitam bergambar tengkorak menyala, seram dalam lidah api seperti di film Ghost Rider. Tapi ini bukan kaos grup metal, sobat. Ini kaos dari Balikpapan Hash House Harriers, klub lari lintas alam ekstrem, kaos yang dibagi saat lari malam-malam sebelum berkumpul lagi untuk pesta Halloween Night.

Lalu terdengar bunyi tembakan dan deru helikopter mendekat, dan suara sersan yang mengomando anak-anak buahnya, lalu suara heli itu menjauh, … dentingan gitar Hetfield mengisi keheningan yang tercipta sejenak. Segera tepuk tangan dan suitan berbalasan. Inilah One, lagu pertama yang saya sukai dari album … and Justice.

Kami semua bernyanyi bersama Hetfield. Lirik demi lirik disatukan dalam koor yang berat dan geram.

“I can’t remember anything, can’t tell if this is true or dream, deep down inside I feel the scream, this terrible silence stops me…”

Di sepertiga akhir lagu tentang serdadu malang di Perang Vietnam itu, di bagian yang tak ada lagi lirik yang harus dinyanyikan, kita semua (setidaknya semua yang di sekitar saya)  headbang, mengangguk-angguk cepat mengkuti rithym drum Ulrich dan gitar Hetfield, dan dibakar melodi tajam Kirk Hammet.

“You are just amazing,” kata Hetfield, begitu One berlalu, sambil menyeka keringat di dahinya.

Walau begitu Metallica tetap kencang. Gebukan drum intro For Whom The Bell Tolls dihadirkan Ulrich bersama bunyi lonceng yang membahana. Spontan tangan-tangan terkepal ke udara. Riff drum dan simbal bersahutan dengan ritme gitar Hetfield dan sayatan Hammet yang bersandar pada dentam bas Trujilo.

Headbang terus berlanjut sampai Blackened usai ditampilkan.

Lalu panggung gelap beberapa saat.

Denting gitar yang jernih mengalun diiring rendah suara bas. Lampu sorot menyala dan menerangi Hetfield yang memetik gitar akustik dan bernyanyi dengan berbisik. Saudara-saudara, … “Nothing Else Matter”.

Semua bernyanyi bersama Hetfield. Korek api kayu, korek gas, lilin yang menyala, diangkat ke udara. Badan yang rapat bahu dengan bahu bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti birama lagu.

Saya melihat beberapa orang menyeka mata. Terharu lagi agaknya. Sungguh spesial memang momen ini.

Intro bass Enter Sandman berkumandang. Trujilo menyeringai. Bagaimana kita lupa lagu yang membingkai masa remaja ini? Yang menandai kamilah generasi metal yang penuh semangat dan siap menantang dunia.

“…exit light, enter night

take my hand, up to never never land…”

Koor yang penuh semangat. Kaos saya basah oleh keringat yang membanjir sebab headbang dan melonjak-lonjak.

Tiga lagu encore, seluruhnya nomor full speed. Creeping Death, Fight Fire With Fire, dan Seek and Destroy membahana. Balon-balon hitam besar berlogo Metallica yang memenuhi kiri dan kanan panggung ditendangi Hetfield, Hammet, dan Trujilo ke penonton. Simbol tiga jari metal, simbol akronim ILU (I Love You), diangkat tinggi.

Ketika musik berakhir, ucapan terimakasih dan pujian kepada kami  penonton  disampaikan para personel Metallica. Hammet, Hetfield, Trujilo membagi-bagikan pick gitar, Ulrich melemparkan beberapa stik drum-nya ke penonton.

“You are Metallica family,” kata Hetfield sungguh-sungguh. Kini usianya sudah 50 tahun, tapi tenaganya tak berkurang. Vokal dan gitarnya tetap sangar. Kata-kata kasar yang jadi penghias pengantarnya setiap kali manggung dan bicara, sudah lama ditinggal sepertinya.

Musik rock memang bukan soal kata-kata kasar. Bukan rambut panjang, bahkan bukan melulu gahar dan sangar. Hetfield melucu, menyapa, memberi salam dan hormat. Metallica, jelas sudah menemukan hakikat metal. Barangkali sebab itu Trujilo memberikan bas gitar yang ditandatanganinya untuk Jokowi (walau disalahartikan oleh KPK)—sebab pria kurus yang akhirnya jadi presiden itu jelas rocker sejati dalam perbuatan dan kepemimpinannya.

Seperti kebetulan, kemudian ada yang memberikan bendera merah putih yang bertuliskan Metallica-Solo-Indonesia. Hahaha, kawan jauh dari Solo, rupanya. Juga tempat asal Jokowi-yang hari itu masih Gubernur DKI Jakarta—yang menonton di kelas festival sama seperti saya, dan hanya ditemani dua ajudannya. Yang ketika dia datang kita mengelu-elukannya sama seperti Metallica.

Lalu James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Robert Trujilo membungkuk memberi hormat kepada kami penonton, yang kami sambut dengan tepuk tangan panjang.

Saya masih tak percaya saya mengalaminya. Dua setengah jam yang luar biasa dalam catatan hidup saya. Kesusahan tidak sempat makan siang (karena salah masuk warung nasi campur—di Jakarta hati-hati dengan warung nasi campur), menunggu sejak pukul 15.00 (konser dimulai pukul 20.00), antrean panjang, berdebat untuk tetap bisa membawa botol mahal dari ace hardware dan air isinya yang menurut aturan panitia tidak boleh dibawa ke arena konser…

Semua tuntas dan puas.

Di notes saya sempat juga mencatat penampilan Raisa yang memimpin kita semua menyanyikan Indonesia Raya. Ada pembukaan 5 lagu oleh Seringai. Jeda satu jam yang kita tidak tahu untuk apa. Mungkin setting sound lagi.

Semua terbayar lunas oleh penampilan Metallica—dan segera saya berharap bisa nonton dan ketemu mereka lagi, anywhere, anytime in this world.

Sampai jumpa lagi. See you!

***

Seperti Matahari Tak Pernah Tenggelam

Posted on Updated on

Akhirnya hujan berhenti menjelang pukul sepuluh pagi. Langit putih menyilaukan sementara tanah licin dengan pohon dan semak yang basah. Opik menutup pintu pondok dan kami menyandang ransel lagi.

Perlahan kebun-kebun berada di belakang kami, berganti padang alang-alang. Jalan setapak ini menjauhi tengah padang yang terang. Jalan itu menyisir sungai dan berada di bawah bayangan pohon-pohon.

Itulah asiknya desa dan alam bebas. Di kota, jalan yang ditanami pohonan di kiri kanannya atau di kiri saja, atau di kanan saja, atau di tengahnya saja. Di Paau, atau di hutan mana saja, jalan mengikuti alur tumbuh pepohonan.

Pohon-pohon tumbuh makin rapat dan sungai makin sempit. Pada pertigaan di dalam hutan kami belok ke kiri ke arah timur laut. Satu jam dari situ, kami bertemu lagi dengan Sungai Tuyup yang tinggal 3 meter lebarnya dan makin curam tepi-tepinya. Pukul setengah satu siang.

Kami beristirahat di tempat yang disebut Opik ‘pelawangan’. Itu memang istilah kami sendiri karena orang kampung tidak pernah bicara tentang tempat itu walau mereka biasa juga melaluinya. Di sini, jalan datar berakhir dan mulai menanjak setelah dua batu besar laksana gerbang. Pohon-pohon juga semakin besar dengan daun-daun yang menghalangi sinar matahari sampai ke tanah.

Beberapa waktu sebelum perjalanan ini, kami harus tersesat hingga dua hari sebelum mencapai pelawangan. Menurut peta tua peninggalan Belanda, bahwa di Paau-lah jarak paling pendek untuk mencapai Kintap di sisi timur Pegunungan Meratus. Lalu karena salah identifikasi bukit dan gunung sebelum masuk hutan sebelum pertigaan tadi, kami justru mengambil jalan ke kanan yang membawa kami ke kaki Gunung Kahung.

“Buhan kam mustinya belok kiri di situ,” kata Amir, pemburu yang bertemu kami dalam perjalanan turun.

Walau begitu, kami masih penasaran dengan peta. Begitu sampai kembali ke batas hutan saya memperhatikan kontur di peta dan menbandingkannya dengan bentang alam. Tahulah saya sebabnya. Bukit besar di depan saya, yang dijadikan patokan untuk menentukan posisi, bukanlah titik yang jadi awal menarik garis di peta.

Kesalahan kecil yang fatal. Opik bergurau,” Kapan-kapan kita pakai GPS saja, Gunakan Penduduk Sekitar.” GPS yang global positioning system yang asli yang menggunakan satelit, masa itu, masih cukup mahal harganya.

Tapi dari identifikasi penasaran tadi, saya jadi tahu arah pastinya. Begitu kami mencapai puncak nanti, dimana semua jalan berada di punggungan bukit dengan arah utara-selatan saja, arah selanjutnya adalah 130 derajat. Artinya kami harus membuat rute sendiri lebih kurang ke tenggara.

Memang bukan untuk mencapai puncak, tapi hanya untuk menyeberang ke sebelah dan mencapai jalan raya besar di selatan.

Kami berbagi sebatang besar cokelat, lalu masing-masing setangkup roti tawar yang diberi margarin dan taburan gula pasir yang saya siapkan pagi tadi, serta air minum dari sungai yang jernih. Cukup mengenyangkan. Saya mengisi ulang botol air. Dari sungai ini sampai ke dekat puncak nanti tak ada lagi air yang bisa diambil begitu saja.

Perjalanan naik dimulai.

***

Pegunungan Meratus membagi Kalimantan Selatan menjadi barat dan timur. Kami di Kompas Borneo Unlam (KBU) membaginya lagi menjadi Meratus Hulu dan Meratus Hilir. Bagian Hulu adalah mulai dari Hulu Sungai Selatan, dimana puncak-puncak utamanya di Hulu Sungai Tengah, dan terus hingga ke hutan-hutan di perbatasan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur dimana ada Hutan Lindung Gunung Lumut dan Orang Miau, saudara-saudara Orang Bukit di Selatan.

Meratus Hilir sejak dahulu dieksploitasi. Belanda menemukan batubara di Pengaron, emas ada di hulu-hulu sungai Riam Kanan hingga ke Bukit-Bukit Pelaihari. Perkebunan besar dibuat di Danau Salak, juga di Tanah Laut. Kemudian dengan dibangunnya  bendungan Riam Kanan untuk pembangkit listrik, kawasan Gunung Aurbunak (1.092) di timurnya menjadi kawasan lindung.

Meski tingginya hanya seribu meter lebih sedikit, mendaki Aurbunak adalah ujian ketabahan tersendiri. Hutan lebat dengan semua makhluk dan satwa di dalamnya, cuaca yang basah dan hujan terus menerus, serta kontur yang curam, adalah menu di gunung itu. Berbeda pula dari di Hulu dimana ada kampung dan ladang di pegunungan, di Hilir hanya hutan dan hutan dan hujan. Kami bertemu Amir si pemburu pun lebih karena keberuntungan semata.

***

Gerimis turun begitu kami mulai perjalanan naik. Kami berhenti lagi untuk mengenakan jas hujan. Sekarang mendaki jadi seperti sauna. Kacamata saya berembun karena hembusan napas.

Jalan setapak terus menanjak dengan pagar pohon-pohon besar yang tinggi lurus. Beberapa pohon itu tumbang menghalang jalan. Kami melihat para pemburu membuat jalan melingkar pohon tumbang itu. Ada pula yang merintis memotong di atasnya.

Kami istirahat beberapa kali. Saya minum, Opik merokok. Kami juga bertukar beban. Tak ada yang dibicarakan di jalan, tak ada juga yang mengganggu benak selain melihat jalan dan hutan. Bagian hutan ini tidak memiliki keindahan yang khusus.  Kami juga sudah lama tidak khawatir tentang cuaca. Gunung ya begitu.

Pukul empat sore kami sampai di punggung gunung. Masih berhutan lebat, dan masih ada sungai. Ini anugerah hutan-hutan tropis Kalimantan. Juga ada bekas bivak pemburu. Kami mendirikan tenda di atas lantai kayu bulat bekas bivak itu. Biar sedikit lebih empuk, sebelumnya saya menyusun daun-daun di atas kayu-kayu bulat itu. Daun itu juga menambah hangat.

Tepat ketika kami akan memasak, hujan turun dengan lebatnya. Maka Opik menjadi koki di mulut tenda dengan payung jadi tambahan teras. Kami tidak punya kompor gas, tapi kompor parafin milik tentara sama efektifnya.

Hujan turun sepanjang malam. Makan malam hari ini tidak seindah makan malam hari sebelumnya, tapi setidaknya kami masih bisa makan malam. Makanan hangat yang menenangkan untuk badan yang lelah seharian berjalan.

“Jadi awalnya cuma menelepon?” tanya Opik. Kami berbaring sebagai dua sahabat di dalam tenda di tengah hutan di bawah hujan.

“Bukan cuma, Pik. Bukan cuma.”

***

Apa yang menggerakkan saya akhirnya menelpon Neng sore itu, seperti juga saat saya harus mengingat ikut cara ibunya memanggilnya dengan sebutan ‘Neng’, saya tak paham. Yang jelas, selama tiga minggu setelah prusiking itu saya menanggung penderitaan yang saya juga tidak mengerti karena apa: makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan menulis banyak.

Percakapan kami yang singkat di dinding panjat itu terngiang-ngiang di telinga saya seperti rekaman yang diputar ulang terus menerus. Percakapan singkat yang sungguh biasa walaupun dilakukan di tempat yang tidak biasa.

Apakah karena teori gelombang dan aura itu?

Konon, setiap manusia memancarkan gelombangnya sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki frekuensi masing-masing. Ketika frekuensi yang sama bertemu, itu menghidupkan sesuatu di benak dan otak. Aura menjadi bertambah terang dan frekuensinya bertambah kuat.

Itulah kenapa kita bisa merasa cocok dengan satu teman dan menjadi sahabat karib, atau menjadi teman sekedarnya saja bagi yang lain.

Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang ditentukan, dibuat, ditiadakan, dikeraskan, oleh lingkungan dan pendidikannya. Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang juga ditentukan orang lain yang kerap menghabiskan waktu bersamanya di sekitarnya.

“Itu pelajaran di FKIP?” tanya Opik, tergelak. Tentu saja bukan. Itu pelajaran dari Fakultas Kehidupan.

Darimana saya dapat nomor telepon Neng, itu sama sekali bukan masalah sobat. Anak-anak itu semua, sebagai peserta pelatihan kepencintaalaman, sudah mengisi formulir dan bio data dan menyerahkan pas foto.

Semuanya diarsipkan rapi oleh Adi,  Kepala Biro Kesekretariatan kami di KBU. Isian formulir itu bahkan sangat rinci seperti  meminta tinggi dan berat badan, golongan darah, alamat rumah, dan nomor telepon, sampai kode pos.

Bahkan juga ada pelepasan hak untuk menuntut seandainya terjadi apa pun dalam kegiatan ini yang menyebabkan meninggal dunia, cacat tetap maupun tidak. Formulir ini ditandatangani di atas meterai untuk memberinya kekuatan hukum.

Meski sebenarnya ini bukan arsip rahasia, tapi karena situasinya, Adi menyimpan berkas formulir itu di dalam file khusus yang disamarkan. Sampai beberapa lama, hanya ia dan saya yang tahu dimana arsip itu ada diantara semua file di lemari.

Oh, yang dimaksud telepon di sini adalah telepon fixed line, atau lebih tepatnya nomor telepon rumah. Layanan seluler sudah ada namun masih mahal dan handphone belum sampai ke orang kebanyakan. Ini masa booming bisnis wartel.

***

“Lalu bagaimana telepon yang pertama itu?” tanya Opik sambil bangkit. Ia duduk di depan pintu tenda, membukanya sedikit,  dan merokok.

Apa yang saya ingat dari telepon pertama itu sungguh sebuah telepon biasa di sore cerah yang juga biasa.  Di boks Nomor 4 di Wartel Kopma, tetangga sekretariat kami di Unlam di Banjarmasin.

Mungkin saya agak gugup pada mulanya. Mamanya yang mengangkat, beliau tidak bertanya apa-apa selain meminta saya menunggu sebentar dan memanggil anak gadisnya.

“Neng, telepon…”

***

Sisa hari setelah saya menelepon itu berlangsung seperti matahari tak pernah tenggelam, atau tenggelamlah dengan warna merah yang elegan. ***

 

“Nanti Telepon Lagi, Yaa…”

Posted on Updated on

Saya kehilangan Day lagi. Dan kali ini Day dengan sadar menghilangkan dirinya dan saya sampai sekian lama tidak mau percaya.  

Hanya saja, sekarang saya bisa mengira-ngira apa yang terjadi, apa yang mungkin ada di dalam benaknya, dan apa yang barangkali sedang dilakukannya, dan lain-lain, walau tetap saja belum tahu bagaimana akhirnya nanti.

“Bagaimana akhirnya nanti itu kan terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di kantor Bisnis Indonesia yang juga punya bakat jadi psikolog profesional.

Komentar yang sama disampaikan Adi yang membantu saya beres-beres rumah, Rachmad yang dinding-dinding kantornya membuat gema yang menyulitkan orang mendengar dan berbicara, Ina Wiena di depan toko emasnya yang kecil namun ramai di Pasar Lama di Banjarmasin, juga oleh Nila si kandidat doktor yang gaya renangnya mirip pesut, dan Mbak Endang yang kalem di Warung Pecel Madiun di Gunung Malang, juga oleh Aldo, pendengar yang antusias  di antara Bandung-Lembang-Bandung, dari The Papandayan, Saung Mang Udjo, dan airport sempit Hussein Sastranegara.

Hanya Dj yang berkomentar lain. Dari Boulder, Colorado, Dj menjadi pembela Day yang militan.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

***

Hari itu Day bertanya pada saya, bagaimana sebenarnya proses perceraian itu?

“Banyak pilihannya, bisa mudah dan menyakitkan, mudah dan mulus, lama dan menyakitkan, lama dan mulus, terserah saja,” kata saya.

Yang bikin lama biasanya pembicaraan soal harta, apalagi kalau banyak yang harus disepakati.

Itulah kenapa banyak orang kaya tak mau bercerai walau hubungannya sudah seperti orang lain dengan istri atau suaminya.

Yang memilukan itu umumnya tentang anak, apalagi bila ada anak yang masih kecil. Ini jadi drama seru bila yang mau bercerai artis. Ada adegan si artis menangis, ada deretan video wajah lugu si anak, lalu pengacara yang menggelar jumpa awak media infotainment, ada gambar saat sang pasangan masih berbahagia (mungkin saat acara pernikahannya setahun sebelumnya, lalu saat anak pertama lahir, …)

Kalau tidak kaya, juga bukan artis, tetap saja tidak lebih mudah. Hanya unsur liputan awak media saja yang tidak ada. Yang lain lebih kurang sama.

Walaupun tidak mudah, urusan cerai sederhana. Bisa diurus sendiri kalau ada waktu dan cukup kuat, bisa pula diwakilkan pengacara. Dalam ritme hidup di Jakarta yang gila, diserahkan kepada pengacara adalah pilihan logis.

“Berapa lama?” kata Day, serius sekali.

“Sekitar 3-6 bulan.”

“Lama juga ya…”

Hakim di Pengadilan Agama akan memulai dengan mediasi, menasihati, menyebutkan yang baik-baik dari kedua pihak, mengingatkan akan anak bila ada anak, meminta saling memaafkan, memberi pilihan-pilihan yang semuanya ideal dan penuh seandainya.

Bila bergeming dan bersikukuh untuk bercerai, baik salah satu atau kedua belah pihak, persidangan masuk tahap kedua. Jadwalnya bisa sebulan setelah sidang pertama.

Setelah itulah, bila memang diinginkan begitu, semua kerumitan dan keribetan dipaparkan. Rumah di sana jatuh ke suami, rumah di sini milik istri, anak yang masih kecil ikut istri, (mantan) suami wajib kirim uang sekian untuk anak itu, dan lain-lain, dan seterusnya.

Memerlukan energi fisik dan mental yang besar sekali.

“Saya akan pakai pengacara kalau begitu,” kata Day. Ia menyebutkan seorang pengacara yang berkantor di perumahan elit di Cibubur. Pak Hendri atau siapa begitu.

Beberapa kali saya ditelpon, atau menelpon Day yang sedang ada di jalan menuju atau sudah di kantor pengacara itu. Kadang-kadang saat jauh malam bahkan hingga mendekati dinihari.

“Kami sedang menyusun kasusnya, dan saya ingin prosesnya cepat. Doakan saya yahh,” ujarnya.

Tentu saja saya mendoakan. Ya Allah, mudahkanlah urusan Day dan saya, beri kami kekuatan iman, ketabahan hati, kesehatan lahir dan batin, juga kekuatan fisik dan mental untuk melewati semuanya.

Hari-hari itu Day masih sempat bergurau. Ia memberi laporan pandangan mata sambil menyetir, bahwa polisi tidur di komplek perumahan orang kaya pun berbeda daripada polisi tidur di kampung orang kebanyakan.

“Di sini polisi tidurnya gemuk-gemuk dan kita bisa melewatinya dengan mulus walau memang tetap saja harus mengerem. Kalau polisi tidur di kampung kan kurus tinggi dan benar-benar menghentak pas kita lewat,” katanya.

Saya tertawa. Saya senang ia masih tetap bisa ceria walau keadaan tampaknya semakin berat. 

Masih kembali ke pertanyaan tadi, apa sih yang sesungguhnya terjadi?

***

Itulah yang sesungguhnya terjadi. Sebab kejadian-kejadian setelah itu, saya tak tahu lagi dengan pasti. Day berhenti berkabar, tidak menjawab telepon, tidak membalas sms, tidak merespon message di facebook.

(Sejak itu, saya hanya bisa menduga alasannya, tapi tidak pernah terkonfirmasi resmi sampai pertengahan Januari 2014).

Setelah pekan pertama Oktober, ia menghilang selama 13 hari. Kesibukan saya di persiapan ekspedisi offroad ke Kalimantan Utara membuat saya sedikit terhibur dan agak melupakan ketidakhadiran Day dalam komunikasi. Saya mengurusi 15 mobil, penginapan bagi 30 orang, dan seremoni-seremoni kecil hingga membeli martabak dan terang bulan untuk kudapan.

Menjelang berangkat ekspedisi itu, pagi 24 Oktober, telepon saya akhirnya diangkat.

“Maaf yah, saya sedang tidak bisa terima telepon. Saya lagi di Makassar, … nanti telpon lagi yaa…”

Lalu bunyi mobil berhenti dan pagar besi dibuka. Day mungkin keluar dari mobilnya dan membuka pintu pagar itu sendiri.

Kami tersambung selama 2 menit 39 detik. Itulah terakhir kali saya mendengar suaranya. Saya tak sempat bicara apa-apa kecuali bertanya kemana saja dia, dan seingat saya, minta untuk dia memberi kabar, apa pun yang terjadi.

Kata-kata ‘nanti telpon lagi yaa’ saya artikan Day minta ditelpon 5 menit kemudian, setelah memarkir mobil di garasi dan berada di dalam rumah.

Telepon saya setelah bunyi pintu pagar itu hanya menjadi miscall kemudian. Begitu pula seluruh telepon saya sampai pertengahan Desember—yang menjadi telepon terakhir ke nomor itu.

Sebaliknya juga, Day meneruskan kebiasaan yang sudah dimulainya sejak awal Oktober: berhenti memberi kabar apa pun lewat cara apa pun. 

“Kenapa Day ada di Makassar? Kenapa Bang Opi terus menelepon? Kenapa akhirnya berhenti di pertengahan Desember?” tanya Yanthi.

“Karena saya sudah berjanji untuk selalu mengabari Day, karena saya memang merasa perlu mengabari dia,” kata saya.

Saya selalu berpikir, siapa tahu kali ini telepon saya diangkat, seperti hari ke-14 dari 13 hari yang sungguh-sungguh menyiksa dulu itu.

Saya juga masih mengirim pesan pendek atau sms. Tetap rajin menulis message di facebook.

Sebelum Oktober, semua miscall akan dibayar dengan telepon hingga puluhan menit kemudian begitu ada waktu. Pesan pendek yang paling pendek yang pernah saya terima adalah ‘g d jln, call u ltr, love u too’.

Dan memang, dia menelepon, lalu saya menelepon. Membalas pesan di facebook walau pun tidak panjang lebar. Kami menjaga komunikasi dan membuat selimut hati.

“Yang penulis kan kamu, saya penggemar saja,” katanya.

***

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Yanthi tentang urusan Day di Makassar, karena saya memang tak tahu apa urusan itu.

Setahu saya, Day ada di Makassar karena suaminya (juga istri lain suaminya) tinggal di kota itu. Urusan apa ke Makassar?

Well, meski saya selalu ingin tahu dan memang dididik demikian, tidak juga sampai tarap kepo kayak awak infotainment.

Tapi dari linimasa beberapa bulan terakhir, dari semua latar yang terbentuk, bisalah dikira-kira apa urusannya itu.

Tapi lagi, sebagai jurnalis dengan disiplin verifikasi, saya tak bisa memastikan apa pun. Tanpa konfirmasi, semua cerita adalah fiksi, baik fiksi ilmiah maupun tidak ilmiah sama sekali.

Secara resmi, urusan Day itu jelas tak ada sangkut pautnya dengan saya.

Secara tidak resmi? Emmhh, yah, apa boleh buat, semuanya memang tidak resmi, unofficial. Karena itu juga mudah disangkal, mudah ditinggalkan. Kata-kata unofficial itu bisa jadi jalur pelolosan yang sempurna. 

Yang saya bisa jawab dengan jelas adalah mengapa saya berhenti menelepon sejak pertengahan Desember.

Siang itu, saat menuju tempat parkir hotel Gran Senyiur usai meliput acara, dengan hati senang sebab banyak hal yang bisa ditulis, saya melakukan ritual tersebut, menelepon Day.

Oww…telepon tersambung dan diangkat. Saya menarik napas sebelum menyapa, “Hallo, assalammualaikum, …”

Sebuah suara lelaki muda menjawab, “Ini siapa ya…”

Entah kenapa, saya tidak bingung, tidak pula kaget. Saya memperkenalkan diri, juga menyebut siapa yang ingin saya hubungi dengan menelepon ke nomor seluler tersebut, dan apa keperluannya.

“Maaf, Bapak salah nomor,” kata si Anak Muda.

Salah nomor? Memang begitu istilahnya, salah nomor, bukan salah sambung. Saya telepon sekali lagi, tersambung lagi, dan kembali si Anak Muda itu menegaskan saya menghubungi ke nomor yang salah.

Salah nomor? Ini nomor telepon dimana Day menyimpan banyak nomor rekan bisnisnya. Saya tak pernah mengutak-atik nomor Day yang tersimpan di hp. Saya menghubungi ke nomor dia yang lain, mengirim pesan pendek menanyakan itu.

Seperti yang sudah terjadi sejak Oktober, tak ada jawaban apa pun. Maka, satu pintu komunikasi pun hilang, atau, entahlah, dihilangkan.

Saya mengujinya sekali lagi keesokan harinya. Saya menelepon lagi ke nomor itu. Tetap ada nada tunggu, artinya nomor itu aktif, namun kini jelaslah tidak untuk saya.

Hanya karena kesopanan barangkali panggilan saya tidak di-reject.

Saya merasa ditinggalkan lagi.

Tapi belum putus harapan. ***

Sebuah Tatapan, Sebuah Senyuman

Posted on Updated on

Saya berutang terimakasih yang tak terhingga kepada seseorang yang menciptakan aturan ini: tiga bunyi bel-berbaris di depan kelas masing-masing, dua bunyi bel-semua harus tenang sehingga bunyi detik jam di ruang pengawas itu bisa terdengar, dan satu bunyi bel-semua boleh masuk kelas.

Itulah ritual sebelum masuk kelas di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin. Ketika saya praktik mengajar di sekolah itu tahun 1999, tak ada lagi bunyi bel dari pipa besi yang dipukul tersebut. Bunyi ‘teng, teng, teng’ sudah digantikan dengan bunyi elektronik ‘teeeeet’ dari bel listrik. 

Tak hanya bunyi teng yang sudah tak ada.

Sebagian guru-guru kami yang penuh beragam pengalaman hidup juga sudah meninggal, digantikan guru-guru muda lulusan sekolah tinggi ilmu pendidikan atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan.

Kelas-kelas kami di tahun 86-87-88-89 pun sudah tak ada. Kelas-kelas kayu dengan atap yang tinggi dan lantai yang cokelat khaki, dinding papan yang dikapur putih, tiang-tiang selasar yang bercat tebal berwarna hijau muda, semua sudah digantikan bangunan permanen dari batu, bata, dan semen. Atap sirap sudah lewat dan sekarang masanya genteng metal.

Begitu pula jendela-jendela besar yang panjangnya lebih tinggi dari kami saat itu. Bangunan baru memakai jendela yang lebih kecil dan menggantikan cahaya matahari yang bebas masuk di masa kami dengan cahaya lampu neon. 

Bangunan batu di atas rawa-rawa. Agak aneh melihatnya. Dan bukankah seluruh Banjarmasin itu rawa, tapi mengapa orang bersikeras membangun rumah batu yang mengusir air dari tempatnya dan memindahkannya ke jalan?

Jadilah Banjarmasin sekarang banjir di mana-mana. Air yang bingung mencari tempat lebih rendah akhirnya bersaing dengan mobil dan motor mengisi jalan-jalan kota.

“Wali Kota dan Wakil Wali Kota tak jelas apa maunya, apalagi kerjanya,” kata saya dalam hati—meski  Pak Wali Kota itu dulu saya kenal cukup andal mengurus klub sepakbola.

Pak Djumadri Masrun (yang piawai mengurus persatuan sepakbola seluruh indonesia kalimantan selatan) yang jadi wakil rakyat mungkin sudah capek mengingatkan.

Malang betul kalian, people of Banjarmasin, tinggal di kota yang sumpek jelek itu dengan pemerintah yang menyengsarakan yang kalian pilih sendiri. Enjoy.

Banjarmasin di masa saya SMP itu jauh lebih menyenangkan.  Setidaknya saya dan Day bisa berjalan-jalan di bawah naungan pohon angsana yang ditanam berderet di tepi jalan dan pergi pulang sekolah berjalan kaki dengan nyaman. 

“Banjarmasin tambah ruwet ya?” kata Day.

“Iya,” kata saya. “Lalu lintasnya, tata ruangnya. Bila flyover itu pun jadi, mungkin cuma menunda ruwet yang lebih dahsyat.”

“Itu meyakinkan saya untuk tinggal di Balikpapan saja,” senyumnya.

Amboi. Bunyi bel itu berdentang-dentang di kepala saya. Balikpapan, kubangun kujaga kubela.

***

Saya tak ingat benar hari apa hari itu. Tapi yang jelas bukan hari Senin, bukan hari Minggu, dan bukan pula hari Sabtu. Jumat juga rasanya tidak.

Bukan hari Minggu karena hari itu kita sekolah. Bukan Senin karena tak ada ingatan tentang upacara bendera. Sabtu kita mengenakan seragam pramuka dan hari itu seragamnya putih biru biasa.  Bukan Jumat sebab hari itu rasanya panjaaannnnggggg sekali.

Yang saya ingat pasti adalah waktunya, pukul 07.30. Setelah bel pertama yang 3 kali itu berdentang dan kami sudah berbaris di depan kelas masing-masing. Saya ada di sisi kiri dekat tiang selasar.

Beberapa anak yang terlambat masih berusaha mencapai kelasnya dengan berlari.

Dentang bunyi bel yang kedua, hening menyeruak.

Huppp…sosok mungil yang wangi ini menyelinap begitu saja di depan saya.

Hidung saya satu jengkal lurus dari ubun-ubun dengan rambut hitam mengilap itu. Saya menahan napas. Memiringkan badan ke kanan.

Dia tersenyum. “Numpang baris,” matanya yang bundar besar itu berkata.

Saya tersenyum juga. Membelalakkan mata, “Silakan…”

Satu bunyi bel ketiga. Keheningan 60 detik pecah kembali. Berganti dengan derakan banyak langkah kaki. Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya.

Kejadian yang sama terulang lagi beberapa hari kemudian.

Kali ini ia menyelipkan diri bukan di depan saya. Si Mungil itu berhenti di barisan di samping kanan. Ahaa, saya jadi lebih jelas melihat sosoknya. Perawakannya kurus. Tingginya lebih kurang 145 cm dengan rambut yang dipotong pendek. Ada lesung pipit di pipinya. Ada gingsul di giginya. Manis. Menunduk.

Dua bunya bel. Hening. Ia memandang ke kiri, ke arah saya.

Saya tersenyum. Ia tersenyum dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya itu.

Tiba-tiba saja saya jadi panas dingin dengan jantung berdentam-dentam.

Satu bunyi bel.  Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya. Rok birunya bergoyang seiring langkahnya.

“Namanya Day …” kata Noviannor, menepuk punggung saya terus memandangi perjalanan gadis itu hingga sampai ke kelasnya, I A.

***

Saya 13 tahun ketika itu. Day beberapa bulan lebih muda. Saya sendiri termasuk yang paling muda di kelas. Rata-rata kawan sudah berusia 14 atau 15 tahun.

Kami berada di zaman peralihan di pengujung tahun 80-an. Adat istiadat, tata krama timur masih acuan pergaulan sehari-hari tapi nilai-nilai baru sudah mulai diikuti. Banyak orang tua mengambil jalan tengah. Pacaran bukan untuk siswa SMP dan orangtua baru mengizinkan anaknya ‘berpacaran’ setelah si anak berusia 17 tahun. Setelah lulus SMP,  atau sekalian nanti saat kuliah.

Bahkan pacaran itu sendiri masih dalam perdebatan. Boleh atau tidak. Bila boleh, ngapain saja. Sampai dimana batas-batasnya.

Perdebatan itu bukan urusan kami. Cinta menemukan jalannya sendiri. Saya dan Day bertatapan, lalu saling tersenyum, dan bersurat-suratan. Juga mendengarkan gemuruh detak jantung kami sendiri di dalam barisan yang hening itu.

***

Demikianlah. Saya menulis berlembar-lembar surat dan menerima berlembar-lembar balasannya dari Day. Di sobekan tengah buku tulis, kami berbicara tentang apa saja yang kami suka dan tidak suka. Tentang Iwan Fals dan Krakatau, tentang Gadis dan Hai, tentang buku-buku Balai Pustaka, tentang Lupus dan adiknya Lulu, tentang guru-guru kami  (Pak Agus yang pemarah dan Pak Mukri yang menuntut perhatian penuh…),  tentang saya yang ketua OSIS, tentang kawan-kawan kami, tentang Mila kawan sekelas Day dan tetangga saya di Beruntung Jaya yang dengan sukarela jadi tukang pos kami, yang ditaksir kawan sebangku saya Mail (yang suka mencontek, dan konon kini jadi anggota DPRD).

Tentang Mail juga (orang yang sama, yang suka mencontek dan konon jadi anggota DPRD) yang juga naksir Enny yang jago main basket—kawan sekelas Day yang lain. Bahwa Day dan Mail ternyata bersepupu, bahwa Mila dan Mail pernah jadian untuk beberapa minggu, bahwa …

Pada 14 Februari, saya juga menerima dua kartu valentin. Merah hati, dan merah muda di tahun berikutnya. Disampaikan di tengah barisan yang hening dengan gemuruh jantung kami dan napas-napas yang ditahan. Mmm, I love u, dear, always.

“Masih kamu simpan?” tanya Day. Bibirnya ditarik dan matanya berbinar-binar.

“Dulu sih masih, di laci meja belajar. Tapi ketika saya pindah ke Balikpapan, lalu rumah di renovasi, kamar saya dibongkar, saya tak tahu lagi kemana semuanya—kecuali buku-buku,” kata saya.

Ketika saya berkata tentang rumah direnovasi itu, saya sebetulnya juga ingin menambahkan ‘dan saya menikah’ –tapi tentu kita tidak mengatakan hal seperti itu dalam suasana seperti itu bukan?

Saya ingin juga menanyakan hal serupa kepada Day, tapi jelaslah hidupnya lebih berwarna dan saya yakin surat-surat itu sudah lebih dahulu tak ada jauh sebelum rumah saya direnovasi.

“Saya dulu menyimpannya di lemari pakaian, di antara lipatan baju sekolah,” tutur Day. Perasaan saya melambung.

Those letters were parts of me. Bukankah surat-surat itu bagian dari diri saya.

Kami sarapan pagi pada pukul sembilan, dengan mi goreng instan dan tiga telur mata sapi di tepi jalan raya yang sempit di perbukitan itu. Di sepanjang jalan banyak yang menawarkan vila untuk disewa. Saya sungguh tergoda.

Melihat Day makan sungguh menyenangkan. Saya rela melewatkan pemandangan indah lereng-lereng hijau kebun teh dan kabutnya yang misterius demi setiap suapan dan senyumannya.

Pelan, saya bacakan sebuah puisi Soe Hok Gie …

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku

“Kita bisa bersama berziarah ke Mekkah,” kata Day. Dengan izin Allah, akan jadi perjalanan yang luar biasa. (Bacalah ‘Jalan ke Mekkah’, sobat).

“Dan kita mungkin tidak akan pernah punya anjing, walau kamu kepengin punya kan. Soal serdadu Amerika itu karena salah mereka sendiri menyerbu Vietnam. Biafra itu dimana? Kamp pengungsi Palestina? Fotoin bunga-bunga di Mandalawangi ya. Mmm, kita tak tahu siapa yang lebih dulu mati, cinta…”

Soal mati itu, dia tak bisa dibantah. Bersama saudara-saudaranya, Day menguburkan`ibu dan ayahnya, lalu dua kali memakamkan anak-anaknya yang meninggal karena sakit.

Saya membuat foto-foto bunga di Lembah Mandalawangi, tempat dimana abu jenazah Gie ditebarkan.

Di puncak Pangrango, sambil memandang awan yang menjauh dari Puncak Gede di seberang sana, kenangan di selasar di depan kelas itu berlintasan.

Seperti setelah dua kali bunyi bel, keheningan itu datang. Semilir angin. Daun dan ranting bergoyang di dalam barisan pohon-pohon. Saya mendengar detak jantung saya sendiri. Begitu hidup, begitu nyata.

Satu bunyi bel yang ketiga. Day bergegas menuju kelasnya. Kali ini saya tak hanya memandangi sosok mungil itu menjauh. Saya menjejeri langkahnya dan kami berjalan bersama.

Kami bertatapan dengan tangan bergandengan. Day tersenyum.

Kau dan aku, dear, semerbak karenanya. ***

Atas Nama Dia yang Maha Pengasih Lagi Penyayang

Posted on Updated on

Saya mau membuat cerita ini sedikit lebih rumit seperti di sinetron-sinetron kita. Biar asyik dan rada seru.  Bagaimana caranya?

Oh gampang. Orang Indonesia adalah tukang bikin ruwet keadaan.  Saya tinggal mengubah, bisa menambah atau mengurangi status tokoh-tokoh dalam cerita ini.

Dan inilah status yang paling hot: Day ternyata masih istri orang lain.

Ehh…

“Kamu pikir 25 tahun kita tidak bertemu saya duduk-duduk diam begitu?” kata Day. Seolah-olah sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.

Oh tidak, tentu saja saya tidak mengira demikian. “Saya hanya tidak menyangka kita bertemu lagi,” kata  saya, seolah-olah memang sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.  

Saya mengenal Day saat berusia 13 tahun, dan Day 12 tahun 7 bulan. Seorang kawan, yang kebetulan bernama Novi juga, laki-laki juga, mengenalkan kami. Novi yang ini (Noviannoor) teman sekelas saya di kelas dua di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin.

Karena itu di kelas kami tersebut, sebab ada satu lagi yang bernama Novi (Novitasari, yak betul, doi perempuan), saya dipanggil sebagai ‘Snake’ untuk sedikit membedakan. Konon, kata yang memberi julukan, tampang saya mirip tokoh Snake dalam drama seri Different Strokes—hmm, ada Lisa Bonnet yang seksi juga di serial itu, kalau tak salah. Harap diingat, ini masih zaman kejayaan TVRI, sobat.

Bagaimana cara Noviannoor mengenal Day, saya tak sempat tanya. Saya baru ingin menanyakannya sekarang. Nantilah kalau ketemu dia.

Tapi, ah, bagian awal saya mengenal Day ini rumit, jadi kita lewati dulu ya. Sayang kalau diceritakan hanya menempel di cerita lain. Harus dalam judul sendiri.

Jadi begitulah, Day menikah 16 tahun lalu. Suatu hari di tahun 1998 mungkin. Di tahun itu, dari Banjarmasin, saya bersama sejumlah teman di Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat tengah keluyuran kemana saja di Indonesia untuk menjelajah hutan, mendaki gunung-gunung, merayap di kelam gua, memanjati tebing-tebing, dan berhari-hari berpanas-panas menyusuri sungai, baik dengan rakit bambu, jukung, atau perahu karet.

Sebab itu, barangkali, saya pernah jadi korban rasisme oleh orang sebangsa sendiri.

“Pak Novi orang Banjar ya?”

“Ya Bu,” kata saya.

 “Tapi kok hitam ya?” Hitam? Maksudnya? Ah, si Snake yang di serial Different Strokes memang hitam.

Kurang banjar, eh kurang ajar bukan. Bahasa Banjar saya lebih fasih daripada Si Ibu berkerudung ala punuk unta itu. Pengetahuan adat istiadat, seni budaya, geografis, sosial, …hahahaha, termasuk ini, sifat-sifat jelek orang Banjar yang tinggi hati dan suka berlagak, saya jelas lebih daripada dia.

Lebih-lebih lagi, saya lahir dan besar di Banjarmasin, kota pusat kebudayaan Banjar. Si Ibu itu jelas-jelas pegang KTP Samarinda. Di mana sih, Samarinda dalam peta budaya Banjar? Hehehe…

Hanya karena dia berwarna lebih terang daripada saya, maka dia lebih Banjar daripada saya? Ah sudahlah.

Nah, senior-senior kami di Kompas Borneo Unlam itu lebih hebat lagi. Mereka berteman dengan Norman Edwin, idola saya untuk urusan petualangan dan kewartawanan. Mereka pelopor yang membuat dinding panjat pertama di Kalimantan di awal tahun 80-an.

Mereka juga berteman dengan Effendi Soleiman yang gemar bertualang di laut sendirian. Effendi sukses mengompori mereka bikin adventure menyeberangi Selat Makassar, lautan sedalam 7.000 meter dengan perahu selebar 50 cm dan panjang 500 cm selama 5 hari, dari sebuah desa bernama Mekar Putih di Kotabaru, Kalimantan Selatan, menuju Pare-pare di Sulawesi Selatan.

Kami kemudian turun ke jalan ikut berdemonstrasi minta Presiden Soeharto mundur.

Nah, siapa yang memikirkan pernikahan saat itu? Bertemu dengan yang mau dinikahi pun belum. Kalau pacar sih banyak. Ada Ida yang manis semanis kue kacang di Kopma, ada Ira (yang saya panggil ‘aira’ mengikuti pelafalan nama itu dalam Bahasa Inggris. Si Aira ini kawan membolos di perpustakaan sekampus sejurusan saya dan kawan cas cis cus Bahasa Inggris yang asyik.  Ada Yuli yang diam-diam menghanyutkan, ada Arrie, ada Lydia, Ida lagi—yang ini gadis yang luar biasa, tabah hingga akhir, tetap senyum ceria meski divonis kena kanker payudara—sedih. Untuk Ida yang ini saya suka menghadiahkan bandana—untuk rambutnya yang perlahan rontok karena kemoterapi.  

Siapa lagi, yaa, hmmm, ada  Yuli lagi. Yuli yang kedua ini layak dikisahkan dalam sebuah cerpen yang romantis religius, sobat. Saya kembali berjanji untuk bercerita dalam bab lain secara khusus ya.

Mungkin Neng juga. Ada yang karena memang namanya Neng, ada yang di rumah oleh mamanya dipanggil Neng (cerita Neng yang oleh mamanya dipanggil Neng ini, ehem—ini kisah mengharu biru sepanjang 2001 yang membuat saya bertualang dari Banjarmasin, Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, hingga Kuala Lumpur, dan Day dengan bijaksana mengizinkan saya yang sableng ini menuturkan kisahnya kapan-kapan).

Dan, ada seseorang lagi yang luar biasa juga, yang, akhirnya dengan penuh kebesaran jiwa melepaskan saya yang brengsek ini. Bersama dia, Tuhan yang maha pemurah mengizinkan saya menjadi ayah dari  tiga anak perempuan yang cantik-cantik dan hebat-hebat.

Ada pula beberapa yang namanya tak bisa saya sebut di sini terang-terangan karena beragam alasan.

Yahh, hampir semua petualang adalah playboy cap duren atau cap gayung bocor.

“Apa boleh buat, kalau tidak karena mereka, mungkin saya akan bertemu orang yang berbeda,” kata Day. Emm, makasih ya sayang. I love you.

Cewek-cewek itu—satu-satu, tentu bukan berendeng-rendeng pada saat yang sama—mereka mau saja jalan bareng saya, merunduk-runduk di antara rak-rak buku di perpustakaan dan bicara dengan berbisik-bisik, minum es krim (atau makan es krim?), makan bakso dan bubur ayam, tertawa dan tegang bersama di amphiteater Taman Budaya atau Gedung Sultan Suriansyah menonton kawan-kawan seniman berakting atau mengapresiasi pameran lukisan, menghadiri festival tari tradisional atau tari kreasi, juga pembacaan puisi.

Kadang menunggui saya latihan panjat tebing, bercakap-cakap dengan istri coach Mundari Karya,  pelatih Barito Putra saat itu, sementara saya mewawancarai suaminya, atau sekalian ikut ke Stadion 17 Mei menonton Barito menggasak Arema 4-1 dan minta dikenalin dengan Sunar Sulaiman, bek Barito yang ganteng bak Paolo Maldini, kapten AC Milan dan Italia sampai pertengahan dekade pertama 2000.

Tapi menikah? Dengan Novi lagi, yang item itu? Waaaahhhh….(Hanya gadis yang penuh kebesaran jiwa itulah yang mau saat itu).

Saat itulah, di Jakarta,  Day yang sudah berusia 23 tahun (artinya 10 tahun kemudian) memutuskan menerima pinangan seorang lelaki yang semula mengaku menaksir teman sekostnya sesama sales dealer motor.   

“Mungkin sudah jodoh,” kata Day. Meski ayah Day, yang juga jurnalis, mempertanyakan keputusan anak bungsunya itu, mereka jadi menikah. Ia pun menjalani hidup sebagai seorang nyonya, hamil 5 kali, dan memelihara anak-anaknya.

“Dua anakku meninggal. Satu ketika masih balita karena kelainan jantung. Satu lagi di dalam kandungan karena virus…” tuturnya sambil menghembuskan asap rokok mentol. Mengapa perempuan suka merokok mentol?  

“Karena itu kamu tak bisa hamil lagi?”  tanya saya. Betapa hebatnya perempuan. Day yang mungil ini bisa hamil sampai 5 kali? Subhanallah.

Bukan tak bisa hamil lagi, koreksinya, tapi risikonya jadi berlipat-lipat. Apakah saya mau mengambil risiko kehilangan lagi?

Jawaban saya hari ini: tidak. Haruskah menghadirkan kehidupan di dunia ini dengan mengikhlaskan kehidupan yang lain pergi. Sama sekali tak harus. Meski tidak seorang pun tahu siapa mati terlebih dahulu. Belum tahu kalau nanti ada teknologi kesehatan baru yang bisa meminimalkan risiko tersebut. Itu dapat dibicarakan nanti.

Jadi begitulah ceritanya hari ini. Saya menjalin hati dan membangun harapan dengan perempuan yang masih terikat secara hukum (tapi sudah kehilangan jalinan hati dan tak punya harapan lagi) pada lelaki lain.

Sebuah petualangan, sudah pasti.

Yang menarik dari petualangan, saudara-saudara, adalah kita bisa saja merencanakan, membuat, memperkirakan segala sesuatunya dari awal sampai akhir, tapi ketidakpastian selalu membayangi sepanjang jalan.

Petualangan membuat orang menyadari batas-batas dirinya dan ujung-ujung kemampuannya, kelemahan sekaligus kehebatannya, kekonyolan selain kebijaksanaannya. Termasuk kewarasan dan kegilaannya.

Seminggu setelah Metallica datang dan konser di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Day bertanya pada saya yang sedang memandang bulan di Pulau Derawan, “Mau menunggu saya sampai kapan?”

“Saya tunggu selama diperlukan,” kata saya gagah. Azan subuh menggema dari musala dekat cottage. Saya gila dengan penuh kebijaksanaan.

“Baiklah, bismillah ya…”

“Yup, bismillah.”

Bismillahirahmannirrahim. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kami berdua berjanji untuk sebuah hari di 2014. Day meminta saya menunggu dia menyelesaikan urusan-urusan ikatan hukum. Saya pun melihat kami menghadapi tembok tinggi dan tebal, dan di balik tembok itu masih ada jalan yang terjal dan berliku-liku.

Sebuah petualangan baru dimulai. Saya berharap yang terbaik sambil mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Hari-hari baru-bersama  Day, new days with Day, dan hari yang lebih baik selalu layak diperjuangkan.

Bismillah.***

Le Coup de Foudre

Posted on Updated on

Saya tak tahu persis, apakah Day dan saya itu jatuh cinta pada pandangan pertama, atau ikut pepatah orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina, cinta yang datang kemudian karena perasaan nyaman, diterima, saling pengertian, yang muncul sesudahnya. Apalagi seperti yang disebutkan Vincent Desailly, kawan saya si orang Prancis tukang panjat tebing, sebagai le coup de foudre ketika bicara cinta.

Apa itu? Seperti lighting strike, katanya menjelaskan dengan penuh kerendahan hati—orang Prancis tak suka Bahasa Inggris, tidak seperti kita yang gemar sok cas cis cus biar dikira intelek dan sekolah tinggi, hehehe. Atau orang dahulu memasukkan ungkapan-ungkapan Bahasa Belanda, ne, ne, …

Jadi, kata Monsieur Desailly, ketika mata bertatapan dan dua pandangan bertemu, petir itu pun menyambar. Lighting strike. Membutakan mata dan telinga. Kerap akal sehat juga. Lalu datang perasaan melayang-layang dan mabuk kepayang. Kalau di film-film Hollywood adegan berikutnya adalah pintu apartemen yang tergesa-gesa dibuka sambil sang lelaki memepet si wanita ke dinding dengan mulut menempel di mulut juga, lalu baju yang dibuka secepat-cepatnya, … dan ditutup mungkin dengan adegan pintu kamar ditutup dan jam weker yang berdering keesokan harinya dan tangan yang menggapai-gapai mencari tombol untuk membunuh weker itu.

Tapi, rasanya, setidaknya seingat saya, tidak demikian. Kami, mmmhh, bisa saja menjadi pasangan yang membara, yang membakar dan membutakan itu bila saya berkunjung ke Jakarta, atau Bogor, kota-kota di mana Day tinggal. Atau Day yang impulsif tiba-tiba muncul di Balikpapan. Full of passion, yes. Kami sama-sama dewasa dan sangat mengerti semua lika-liku cinta dan hubungan lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Apalagi saat melewati Puncak dan melewatkan beberapa jam di Cibodas seperti kemarin.

Untung saja kami tumbuh bersama ketenaran Zainuddin MZ, Aa Gym, Imaduddin Abdulrachim, Arif R`achman, Sartono Mukaddis. Abahnya Day tak segan menghajar anak-anaknya, mereka semua 7 saudara, yang dianggap keluar jalur—itu cerita Day kemudian. Ibu saya mengajari anak-anaknya dan anak-anak orang lain bagaimana hidup secara ajaran Muhammad sejak mereka masih kecil. Jadi kami tidak perlu sradak-sruduk tidak jelas mau ikut isme apa atau penuh pergulatan batin. Yang ada hanya rasa syukur bahwa kita menghemat sangat banyak waktu karena itu. Juga menjauhi banyak masalah yang tidak perlu.

Semoga Tuhan selalu melindungi kami dari cerita erotis yang dibungkus sastra atau visualisasi gambar bergerak atas nama seni, keindahan, atau kebebasan berekspresi.

Maka malam itu, ketika Day menjemput saya dari mal yang ramai, mengajak saya mengitari Bogor dan Jakarta, pada akhirnya ia menyaksikan saya tertidur kelelahan di sofa di ruang tengah rumahnya. Sebulan sebelumnya, saya yang mengecup keningnya, dari wajahnya yang damai kecapekan di kamar hotel saya. Yang ini setelah nongkrong hingga dinihari di Jalan Jaksa dan menikmati musik reggae di bar dekat situ.

Cinta platonis? Sudah pasti tidak. Saya selalu ingin mencium bibirnya yang legit, menggandeng tangannya, memeluk bahunya. Bersama Day, saya pengen punya anak. Setidaknya satu. Satu cukup. Tapi Day, hmm, menolak.  Pertama, “Odi yang baik, usia saya sudah menjelang 40 tahun, saya bukan super woman, perempuan super seperti di zaman Khadijah.” Kedua, ada persoalan teknis kesehatan hal plasenta dan tempat menempelnya. Baiklah, kita serahkan saja soal ini kepada yang Maha Pemberi. Saya dan wanita mungil kaya pengalaman hidup ini tidak ingin jadi penambah keruwetan persoalan dunia yang sudah rumit.

Nakal, ya sudah pasti kami nakal juga sekali-sekali. Day, mungkin karena ingin menunjukkan pemberontakan atas otoritas ayahnya, jadi perokok. Menjadi perempuan perokok, apalagi bagi anak perempuan di tahun 80-an akhir, atau di awal 90-an di Banjarmasin yang puritan, itu adalah masalah besar dan wujud kenakalan yang parah (sekarang tentu saja perempuan merokok sudah biasa).

“Saya merokok sejak lulus SMP,” ungkapnya. Oww. Saya belajar merokok sejak SD, bersama Budi, seorang sahabat dan juga tetangga, tapi tak pernah jadi perokok kemudian. Ayah saya perokok berat dengan kretek, tapi segera berhenti begitu nikotin dan semua racun itu menggempur dadanya. Membuatnya muntah darah dan jadi penghuni rumah sakit beberapa hari. Melihat Abah sakit karena rokok, saya berhenti belajar merokok. Mama sampai beberapa waktu mengulang-ngulang cerita sakitnya ayah untuk menjauhkan kami dari rokok. Kami itu saya dan dua orang adik.

Saya kadang-kadang membolos sekolah. Atau sebaliknya, tidak pulang berhari-hari tapi tetap hadir di sekolah.

Hmm, kalau begitu, apakah cinta kami model dari remaja Jawa zaman pertengahan?

Saya rasa model Jawa itu juga tidak. Pertama, hehehe, kami berdua bukan orang Jawa. Day seorang Banjar dan pernah berbahasa Banjar dengan pelafalan huruf ‘r’ yang diucapkan dengan lidah bergelung. Kami berbahasa Banjar dengan dialek Banjar Kuala, nyaris tak berlogat. Tidak seperti orang Tabalong yang bisa ‘memanjangkan’ telur (telur (Indonesia) = hintalu (Banjar), lalu orang Tabalong mengucapkannya ‘hintaluuuuu’ dengan suara mengalun), atau orang Kandangan dan Barabai yang berbicara seperti berlagu dan dipenuhi afix, akhiran ‘lih’ sepanjang percakapan.

Saya berbahasa Inggris sekali-sekali. Sewaktu kami masih berusia 13 tahun untuk mengesankan Day, emm, dan sekarang karena kebiasaan. Day dan saya tidak pernah punya banyak waktu untuk selalu bersama, baik di masa silam, maupun di masa sekarang. Malah, saat ini, kami terpisah 1.350 km pada jarak udara, 15 derajat garis bujur, dan satu daerah waktu. Bukankah syarat utama witing tresna itu kehadiran, availablity, ketersediaan dan kedekatan, proksimitas.

Karena itu bos banyak yang menikahi sekretarisnya, guru mengawini muridnya. Tuan sayang pada pembantunya hingga sengaja tak sengaja sekalian menghamilinya, dan beberapa contoh lain. Atau suami yang mengambil istri kedua di tempat kerja yang baru…atau istri yang punya pria idaman lain karena suami tak lagi punya waktu dan hati mendengarkan (karena sibuk dengan pekerjaan baru dan istri baru, hehehe).

Saya iseng menghitung, hari ini, kami paling lama bersama 18 jam. Itulah waktu dari saya dijemput sore itu hingga kami berpisah hari berikutnya di tempat berbeda. Itu pun saya duduk di Starbuck selam 7 jam menunggu dia yang sibuk. Selama itu, saya mengisi perut dengan caffelatte, setengah batang cokelat, mengisi benak dengan cerita dari 150 halaman buku, dan menulis dua judul berita masing-masing 300 kata. Tentu saja, sambil online.  Dari situ Day memantau saya.

“Masih di situ?” katanya.
“Masih,” saya menyahut.
“Saya masih harus ke downline saya dulu yaaa…”
“Baiklah. I love you.”
“I love you too.”

Melihat kesibukannya, saya bergidik. Mungkin ia ingin menyiapkan segala sesuatu sebelum nanti menjadi, emmm, seorang nyonya dari kekasihnya, yaitu saya, yang seperti tidak pernah mapan secara finansial. Bisnis MLM kan bisa bekerja sendiri kemudian.

Saya sendiri, karena sudah terlanjur punya irama jurnalis yang serba mendadak, serba serius, dan kerap kali memaksa orang terpisah dari rumah dan semua yang dicintainya, jadi sangat peduli hal-hal domestik karena merindukan yang sedemikian.
“Sudah makan?” itu pertanyaan saya.
“Sudah beib…” ini jawaban Day.
“Jaga kesehatan…” ini dari saya lagi.
“Pasti…” jawab Day.
Tegas dan pendek-pendek. Ia memang seperti tidak punya kelegaan waktu untuk menjawab panjang lebar. Bagi Day, mencintai berarti berbuat, meski itu hanya menyahut dalam hati. Tak banyak kata-kata. Pesan panjang lebar saya di facebook, hanya dilihat saja (seen at…).
Ini agak menjadi masalah buat saya yang melankolis. Membuat frustrasi.
“Say something please…” kata saya.
“Kamu tahu jawaban saya,” tandasnya. Mmmhhh.

Ini bukan juga cinta ala kawan-kawan aktivis keislaman, baik di masjid di kampus atau di partai masing-masing. Mereka tidak berpacaran atau berkencan, tidak pergi menonton film, apalagi keluyuran malam-malam seperti yang kami lakukan. Kami bergandengan tangan dan berciuman. Day memang memutuskan berkerudung, namun ia masih sedang berjuang keras memperbaiki disiplin salatnya. Saya sama saja. Bagian salat itu maksudnya, bukan soal kerudung, hahaha. Walau saya suka pakai bandana seperti perempuan berkerudung juga.
“Salat dulu sana, deadline berita masih lama. Deadline salat 5 menit lagi,” katanya dari jarak 1.350 km. “Iya beb,” barulah saya beranjak untuk salat zuhur. Dan disambung salat ashar karena langsung masuk waktunya. Day terkekeh.

Jadi, ini memang bukan cinta ala lightning strike, le coup de foudre, cinta pada pandangan mata yang menghanguskan, bukan pula witing tresna jalaran saka kulina yang diam-diam menghanyutkan. Jelas bukan model ikhwan dan ukhti PKS yang serba lurus dan putih itu.

“Bagaimana kalau tak usah dipikirkan apa modelnya. Anggap saja ini custom khas Day dan Odi. Kamu sendiri bilang, setiap hubungan itu unik,” katanya.

Maka saya membacakan puisi Soni Farid Maulana, Day memilih puisi Sapardi Djoko Damono. Saya mendendangkan Iwan Fals, Van Halen, Deep Purple, Metallica. Day mengajak menyimak Krakatau, Karimata, Bhaskara, juga God Bless dan Beethoven. Tentu saja, ‘Tentang Kita’-nya Kla Project.

Day mengutip puisi SDD:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Walaupun ternyata hubungan kami rumit sekali, baik di masa lalu itu, apalagi saat sekarang.

Memetik gitar, saya nyanyikan Buku Ini Aku Pinjam dari Bang Iwan sambil mengenang Day sebagai gadis kecil yang saya sapa dengan penuh kegugupan di selasar sekolah kami dulu, sebuah sekolah yang didirikan di atas kayu-kayu ulin pada tahun 1956 di tepi Jalan Jati di Banjarmasin yang masih sepi.

Buku ini aku pinjam
Kan ku tulis sajak indah 

Hanya untukmu seorang 

Tentang mimpi-mimpi malam

Walaupun faktanya saya yang meminjami buku dan menanti puisi darinya. ***

Kembali

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan!