Di Dalam Kabut di Bawah Hujan

Posted on Updated on

Pemandangan dari Shelter 3. (beladjarmotret)
Pemandangan dari Shelter 3. (beladjarmotret)

SHELTER 3 di 3.320 mdpl sepi. Hampir seluruh penghuninya sedang di puncak sana. Pada pukul 7 pagi ketika itu, semuanya mungkin sudah mulai dalam perjalanan turun.

Ketika saya muncul di jalan setapak itu, seseorang melambaikan tangan dan memanggil.

“Mampir dulu!” katanya, “Sarapan.”

Tidak boleh menolak rezeki. Jadi saya mampir dan duduk di mulut sebuah tenda kubah raksasa.

Hal nama kawan ini,  saya minta maaf karena lupa namanya siapa. Memang, dalam perjalanan kali ini saya tak banyak mencatat nama-nama. Mungkin sebab hujan sehingga saya tak berkesempatan mengeluarkan notes di dalam plastik yang ada di saku dan mencatat.

Yang jelas dia pendaki senior dari Jambi, gondrong, cokelat tua, dan memimpin anak-anak muda. Tenda tempat mereka bermalam adalah tenda yang di ambangnya saya duduk, sebuah tenda kubah besar berwarna biru tua yang sepertinya cukup untuk 8-10 orang. Masih ada lagi 2 tenda yang masing-masingnya cukup  untuk 4 orang di kiri dan kanan tenda itu.

Kopi sudah ada di teko plastik dan tinggal dituang. Kawan itu mencucikan cangkir, lalu merebus air, dan mengambil telur dari dalam beras. Kita ngopi sambil bicara-bicara. Dia tidak bertanya mengapa saya sendirian, mungkin dia sering bertemu orang dengan gaya perjalanan seperti saya.

Ia menunjuk berbotol-botol air yang mereka miliki. Di Shelter 3 ada mata air. Letaknya tersembunyi di cekungan, kalau kita membelakangi puncak ada di kanan sekitar tanda peringatan. Turun dari puncak nanti saya perlu mampir ke mata air itu, sebab di camp saya tak ada air kecuali air hujan seperti kemarin.

Di alam, sering kita sudah merasa kaya dengan punya makanan dan air dan ada tenda tempat bernaung. Sering juga jumlahnya secukupnya saja, karena terlalu banyak akan berat bawanya. Apalagi yang sendirian seperti saya. Bahkan sering kita yang sudah dalam perjalanan turun merasa tak perlu lagi dengan mi instan, korned, sarden, gas, … yang sebelumnya kita bawa berpayah-payah ke atas sini. Termasuk juga sebagian perlengkapan. Barang-barang itu kemudian bisa dibagikan atau ditinggal dengan yang datang belakangan, atau ditinggal begitu saja dan jadi sampah seperti di Everest, gunung tertinggi di dunia. Bisa pula jadi cenderamata.

Kepadanya saya cerita tentang camp saya di antara Shelter 1 dan 2[1], mengapa saya nge-camp di situ, dan niat saya terus ke puncak. Dia sudah entah yang keberapa kali ke Kerinci.

“Hahaha, umur memang tak bisa dilawan,” katanya soal lokasi camp saya itu. Kami tertawa berbarengan.

“Biar anak-anak muda saja yang ke puncak. Saya tunggu mereka di sini,” senyumnya.

Mi instan dengan telur disajikan tuan tenda, yang saya habiskan dalam 3 menit. Asupan tenaga baru itu memanaskan badan sehingga saya membuka jaket. Sambil minum air putih dan kopi, kami masih berbincang sebentar. Ketika tak lama kemudian kopi di cangkir saya habis, saya pamit melanjutkan perjalanan.

“Saya dan kawan-kawan juga segera turun, setelah makan siang,” katanya. Kami bersalaman akrab. Pukul setengah delapan pagi dan langit biru cerah.

***

Setelah setengah jam, saya bertemu rombongan pertama yang turun. Kita bertegur sapa dan saling tersenyum. Rombongan Malaysia pimpinan Johan ada di antaranya. Ada Baba, tapi Kak Ros tiada[2].

“Masih di atas. Dorang[3] masih berjuang ba[4],” kata Baba dalam aksen Sabah. Mereka akan turun hari ini juga untuk mengejar waktu berwisata ke Danau Tujuh esok hari.

Saya pun melawan arus orang yang turun. Senang juga ketemu banyak orang. Tapi tidak ada anak-anak muda pembawa kompor[5]. Barangkali mereka masih kecapekan dan masih istirahat di Shelter 3.

Rombongan terakhir saya temui menjelang Tugu Yudha, satu jam lebih sedikit dari Shelter 3. Setelah itu saya kembali sendirian mengikuti jalan dan jejak.

Saya memang tak ingin berhenti di tugu itu. Saya tak ingin sentimentil dan menakuti diri sendiri. Adalah bisa membuat ciut nyali mengingat nasib yang menimpa Adi Permana, Yudha Sentika, Dadang dan Nanang, seorang pendaki Swiss yang sepertinya tak ada yang ingat namanya, juga Wiwin, Teddy, Aloysius, dan Setiawan Maulana. Mereka semuanya hilang, dan yang ditemukan, semuanya tewas.

Yudha hilang dalam kabut tebal saat turun dari puncak, 23 Juni 1990. Saya membaca kisah pencariannya di Kompas. Norman Edwin[6] menulis satu halaman penuh, termasuk tentang dukun dan ayam hitam dan berbagai mistik Kerinci. Pencarian sistematis oleh Tim SAR, para anggota mahasiswa dan pemuda pencinta alam, masyarakat, termasuk juga oleh para prajurit TNI, tak membuahkan hasil. Yudha hilang hingga hari ini, bersama dengan Dadang dan Nanang di tahun 1997, dan Setiawan Maulana di 2014 yang pencariannya tak kalah ngotot.

Tahun 1983, Adi ditemukan di jurang yang menganga di sebelah kanan sepanjang jalan di antara Shelter 3 dan Tugu Yudha. Para pendaki asal Jakarta: Wiwin, Teddy, Aloysius pada 2003 ditemukan di jurang tak bervegetasi sedalam 300 meter setelah hilang di sekitar Shelter 2 di ketinggian 3.000 mdpl.

Selain itu, bahkan Setiawan Maulana yang hilang 27 Desember 2014 dan masih dicari hingga Desember 2018 lalu, hilang bak lenyap ditelan bumi. Beberapa petunjuk yang ditemukan, seperti jejak kaki di luar jalur yang biasa dilalui, tidak juga menuntun kepada mereka yang hilang.

Kawan-kawan Yudha dari Elpala SMAN 68 Jakarta membuat prasasti kenangan dan memasangnya di lapangan di mana Yudha terpisah itu.  Lapangan tersebut kini dikenal sebagai Tugu Yudha, lebih kurang 40 menit sebelum puncak pada cuaca baik.

Prasasti di dataran sebelum puncak di ketinggian 3.500 mdpl. Karena prasasti ini, dataran itu kemudian disebut Tugu Yudha. (shelter3.blogspot.com)

Langit yang biru cerah saat saya di Shelter 3 tadi sudah beberapa lama tertutup awan dan mendung. Cuaca menjadi suram. Lalu gerimis turun bersama angin. Saya kembali mengeluarkan payung, dan terus bergegas naik sambil berharap hujan tak membesar dan tak diikuti angin kencang.

***

“Aha, Kak Ros!”

Kak Ros berselimut bendara Sabah, mengenakannya seperti jubah Superman. Tampak puas dan bangga. Wajahnya segar. Saya memberi ucapan selamat. Di sebelahnya pemandunya, Fander Christopher, juga tersenyum senang.

Menurut Fander, mereka baru turun kira-kira 10 menit lalu dari puncak[7]. Ia meminta saya bergegas dan cepat turun kembali. Saya tahu apa yang dikhawatirkannya.

Karena itu saya segera naik.

“Jumpa lagi nanti, Kak Ros,” kata saya.

“Iya, hati-hati adik,” katanya.

Rute menuju puncak itu sudah tak terlalu jelas lagi, karena terdiri dari batu-batu kerikil dan ada di medan yang lapang. Saya mengikuti ceceran bekas bungkus permen[8]. Saya mendaki dengan langkah-langkah panjang. Lalu saat melipir ke kiri, tanjakan habis. Di kanan jurang kawah Kerinci. Jalan ini menuju ke tumpukan batu dalam kerangka baja di depan sana.

Di dalam kabut di bawah hujan, saya tiba di titik tertinggi di Pulau Sumatera: Puncak Indrapura Gunung Kerinci, di ketinggian 3.805 meter dari permukaan Samudera Hindia di selatan sana.

Jarak pandang hanya lebih kurang 50 meter. Saya mengikat slayer Kompas Borneo Unlam di besi itu, memotretnya bersama ransel dan payung. Tidak ada foto selfie. Tidak ada perasaan yang meluap-luap[9] selain rasa syukur. Tuhan mengizinkan saya sampai ke sini.

Gunung Kerinci, check. Pukul 11 kurang beberapa menit, Sabtu 26 Desember.

 

Tugu triangulasi penanda ketinggian di Puncak Indrapura, Gunung Kerinci, 3.805 mdpl. Saya tergesa-gesa membuat foto ini, saat kabut dan gerimis sudah mengurung puncak menjelang tengah hari. (novi abdi)

***

Kabut makin tebal. Saya turun sambil seksama mengawasi jalan, melihat tanda-tanda. Bungkus-bungkus permen yang saya ikuti saat naik, kini memandu jalan turun. Juga memerhatikan jalur yang terjadi setelah dilewati ratusan pasang kaki tiap hari. Dalam hujan dan kabut itu tak terlalu jelas. Dalam hati saya berharap ada patok-patok putih berleres kuning seperti di Semeru, atau bendera-bendera kecil yang menandai jalur dari batas vegetasi sampai puncak Mahameru.

Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Saya memang mengikuti bungkus permen, juga ceceran sampah lain seperti bekas bungkus cokelat, tapi ini bukan yang baru. Itu sampah yang terbawa aliran air dari puncak. Jadi, saya mengikuti aliran air, bukan jalur pendakian.

Bulu kuduk saya meremang. Ya Tuhan, sudah berapa jauh saya turun?

Saya berhenti, melihat sekeliling, ke kanan terutama, dan berusaha mengenali tanda-tanda dalam jarak pandang yang terbatas. Terasa tak ada yang saya kenal, kecual di tanah di kanan ada bekas bungkus cokelat.

Saya bisa mendengar detak jantung di dada saya yang bergemuruh. Saya berusaha menenangkan diri. Saya duduk di batu dan minum sedikit. Juga makan sedikit cokelat dan menarik napas panjang.

Ok, kita kembali ke atas dulu, ke arah puncak lagi. Dari situ saya berharap kabut akan terbuka sedikit dan jarak pandang bisa lebih jelas.

Sambil naik meloncati bebatuan, saya memikirkan kemungkinan terburuk.

Bila tak juga ada rute yang saya kenal, saya akan memilih berhenti dulu, dan tidak akan memaksa turun. Kalau perlu saya akan menunggu di sekitar puncak hingga malam, sehingga saya bisa melihat lampu-lampu dari Shelter 3 sebagai panduan. Atau, yang terburuk menunggu hingga rombongan pendaki di hari berikutnya. Bukankan mereka sudah mulai summit attack sekitar pukul 2 atau 3 dinihari. Tak perlu hingga mereka sampai ke puncak sini, dari arah lampu-lampu mereka saja sudah cukup jadi petunjuk arah.

Saya juga membawa flying sheet di ransel yang bisa saya jadikan bivak dan bisa menjaga saya tetap kering dan hangat. Ada senter dan batere cadangan, masih ada cokelat dua batang, ada air setengah botol. Ada payung buat menampung air hujan kalau kurang.

Pikiran seperti itu membuat saya tenang. Hujan juga berhenti. Saya naik kira-kira 150 meter dari tempat saya sadar saya mengikuti jalur yang salah itu. Saya berhenti lagi dan melihat sekeliling.

Tiba-tiba saya merasa mendengar sesuatu. Seseorang berteriak memanggil, …

“Hooiiiii, …” saya membalas.

“Hooiiiii,” ia memanggil lagi.

Suaranya dari sebelah kanan. Bergegas saya melipir ke kanan, sambil terus berteriak. Ia juga terus memanggil, seperti memberi panduan ke arah mana harus berjalan.

Suaranya makin jelas. Saya berteriak sekali lagi dan ia membalas. Saya naik sedikit, lalu ke kanan, … oh, … saya kenal lapangan ini. Ini Tugu Yudha, dan itu orang yang membalas panggilan saya. Ia berdiri dekat prasasti, berjaket hitam dan memasang tudungnya.

Namanya Rahmat, atau begitulah saya mengingatnya. Menurut dia, ia sebenarnya memanggil 2 pendaki dari Papua yang masih di jalur menuju naik ini.

“Kaget juga ada yang menyahut dari atas,” kata Rahmat. Walaupun dari beberapa pendaki di dekat Shelter 3 ia dikasih tahu ada pendaki gimbal berjaket biru yang masih naik ke puncak. Saya mengucapkan terimakasih tak terhingga. Ia menawari rokok.

Hahaha, aduh, saya tidak merokok, Mat. Tapi permen jahe yang juga ditawarkan Rahmat saya suka. Kami menunggu dua pendaki dari Papua yang dipandu Rahmat.

Saya tadi rupanya terlalu lurus turun, karena memang mengikuti jalur air. Jalur yang sesungguhnya, seperti dikatakan perasaan saya, memang ke kanan. Posisi pertama saat saya sadar saya salah jalan tadi sudah di bawah Tugu Yudha. Seandainya saya jalan terus turun, saya akan sampai ke jurang-jurang di bawah itu dan kehilangan jejak sepenuhnya. Jadi sudah betul saya naik kembali.

Saya merinding. Apakah ini yang dialami Yudha atau yang lain-lain yang hilang itu? Setidaknya di awalnya? Mungkin.  Saya tak tahu. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Dua pendaki yang dipandu Rahmat tiba. Seorang kurus tinggi, dan seorang berperawakan sedang. Kami berkenalan, dan saya lupa lagi nama mereka. Saya kira akan bertemu kawan dengan ras papua melanosoid yang khas hitam manis dengan rambut kriting brokoli itu. Ternyata tidak. Dua kawan baru ini melanosoid alias melayu juga seperti saya dan Rahmat. Mereka mulai summit attack sekitar pukul 6 pagi langsung dari Shelter 1. Bawaan mereka ringkas, atau hampir tak membawa apa-apa. Ini juga satu genre di pendakian, yaitu minimalis untuk mendapatkan kecepatan.

“Oh, tenda hijau itu tenda mas?”

“Iya,” kata saya. Tertawa. Ah, senang bisa tertawa setelah ketegangan ini.

Kami masih ngobrol sebentar. Saya mengingatkan untuk membuat tanda-tanda di jalan untuk memudahkan turun nanti. Sekali lagi saya berterimakasih pada Rahmat. Kalau tak ada dia dan 2 kawan Papua itu, saya mungkin lama menunggu dekat puncak dalam cuaca buruk sebelum bisa melihat jalan turun lagi.

Rahmat memang membawa rahmat.

Kami bersalaman dan berpelukan. Pukul 12 lewat.

***

Catatan Sepanjang Jalan

[1] Lihat Tanjakan dan Hujan di bagian lain blog ini, sobat.

[2] ‘Tiada’ atau ‘teda’ adalah frasa yang dipakai di Kesultanan Sabah dan Sarawak, dua negara bagian Malaysia di pulau Kalimantan. Tentu saja itu bentuk pendek dari ‘tidak ada’. Bila Anda berkunjung ke Semenanjung, maka yang dipakai adalah ‘Ta’de’ alias ‘tak ade’. Sila lihat antara lain

Haji Zainal Abidin Safarwan. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan

     Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd

Hj Yacob, Adli dan Khuzaimah Zakaria. 2009. Kamus Bahasa Melayu.

[3] ‘Dorang’ bentuk pendek dari ‘dia orang’. Frasa ini lazim dipakai di Kalimantan bagian utara (di kabupaten Bulungan, Malinau, dan Nunukan, juga Tarakan di Kalimantan Utara-Indonesia, termasuk di Kepulauan Derawan-Maratua oleh orang-orang Bajau, di Sabah dan Sarawak Malaysia, hingga ke Sulawesi Utara-Gorontalo, Maluku Utara, bahkan juga di Papua.

[4] ‘ba…’ ini partikel penegas, semacam ‘lah’ di Bahasa Banjar di selatan Kalimantan, atau ‘bah’ di dialek Medan. Orang Sabah dan Sarawak yang pakai frasa ini di Malaysia, dan lagi, Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tarakan di Kalimantan Utara. Sudah tentu juga orang-orang Kalimantan Barat di bagian utara. Kata ahli bahasa, partikel ‘ba’ dalam bahasa Melayu adalah serapan dari bahasa Mandarin.

[5] Yang sudah baca Tanjakan dan Hujan pasti juga akan menanyakan di mana mereka, hehehe.

Ini penampakan bukunya. Akhirnya, setelah berkali-kali tersebut di blog ini di mana-mana judul, … (tridero bookstore)

[6] Norwan Edwin adalah penulis buku Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan. Norman juga jurnalis Kompas dan tentu saja, petualang pendaki gunung, pengarung jeram, penjelajah gua, dan pelayar tangguh. Bersama sahabatnya Didiek Samsu, Norman tewas dalam badai salju di Gunung Aconcagua (6962 m) di Argentina, April 1992. Seperti biasa, kalian yang ingin tahu lebih detail, bisa googling.

Ini satu link:

https://www.kaskus.co.id/thread/51c7f8f620cb177f55000004/pendakian-terakhir-norman-edwin/

Adi Seno yang tersebut dalam kisah di link itu adalah satu guru menulis saya. Penampilannya ketika itu mirip dengan Lukas Adi Prasetya, jurnalis Kompas sahabat saya di Balikpapan, pemilik blog Sambal Bawang Kang Adi, dengan tubuh kurus tinggi, rambut gondrong, dan kacamata tebal. Di tahun 1996, Adi Seno adalah jurnalis Sinar Harapan dan menjadi mentor kami di sebuah pelatihan yang digelar Impala Universitas Brawijaya di Cangar, di kaki Gunung Arjuno.

 Pada tahun 1992, kami mengikuti perkembangan pendakian dan kemudian evakuasi, selain melalui televisi dan suratkabar, juga melalui Majalah Hai, majalah dengan tagline ‘majalah remaja’ dan kemudian menjadi ‘majalah remaja pria’ karena kebanyakan isinya yang dianggap kegemaran remaja laki-laki seperti otomotif, petualangan, musik (rock terutama), sastra, komik, poster band metal, dan pin up cewek (remaja) cantik dan seksi. Di masa disrupsi media hari ini, Hai masih terbit secara online.

Tim Ekspedisi Seven Summit Mapala UI di Aconcagua, paling kiri adalah Didiek Samsu dan Norman Edwin paling kanan. (doc Norman Edwin Fan Page)

 Jenazah Norman ditemukan di ketinggian 6.650, hanya 300 meter dari puncak Aconcagua. Didiek ditemukan tewas di bawahnya di dalam bivak seperti tengah menunggu sesuatu.

Kumpulan tulisan Norman kemudian dibukukan dengan judul Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam oleh Gramedia. Buku ini sudah berharga ratusan ribu di lapak buku bekas, sudah 5 kali lipat dari harga aslnya saat terbit pertama kali.

 [7] Kak Ros mengirimi saya foto dia di puncak. Yang motret Fander. Ini fotonya. 

Rosali Apin di Puncak Kerinci. (fander christopher)

[8] Di Rinjani saya juga melakukan hal yang sama, hanya saja untuk naik. Bacalah Sampah Mengalir Sampai Jauh.

[9] Saya berjanji untuk menuliskan pengalaman di Semeru pada 2013, juga 1996 lampau. Saya  pertama ke Semeru tahun 1996 bersama kawan-kawan dari Semarang. Kami tertahan di Ranu Kumbolo karena badai selama 2 hari 2 malam, yang ketika cuaca membaik di hari ketiga membuat pilihan logis adalah turun kembali ke Ranu Pani. Selama 2 hari menunggu kami hampir menghabiskan seluruh logistik soalnya, hehehe.

Baru di 2013 saya punya kesempatan lagi ke Semeru. Kali ini berhasil. Di Puncak Mahameru itu saya menangis sesunggukan di tepi kawah Jonggring Saloka. Ada lima menit barangkali saya begitu, pada pukul tujuh pagi setelah mulai berjalan dari Kalimati pukul satu dinihari. 

Gunung Semeru, 3.676 mdpl , di bulan Mei 2013. (noviabdi)

 

5 respons untuk ‘Di Dalam Kabut di Bawah Hujan

    Tenang, Kenyang, Senang « noviabdi25 said:
    Maret 16, 2019 pukul 11:50 pm

    […] [1] Lihat Di Dalam Kabut di Bawah Hujan […]

    firmannugrahasmpn44bdgbandung said:
    Mei 15, 2019 pukul 9:13 pm

    Bapak/Ibu, kalau artikel norman edwin yang mengenai pencarian yudha sentika itu, apakah ada berita onlinenya? atau bisa diupload kah ke internet juga supaya bisa dibaca? hmmm, saya sangat tertarik untuk membacanya.

      noviabdi25 responded:
      Mei 17, 2019 pukul 11:03 pm

      Halo Firman, artikel yang ditulis Norman itu dimuat di Kompas cetak pada minggu keempat Juni 1990 dan saya membacanya di tahun itu juga. Saya belum ketemu kalau artikel itu ada yang mengunggah secara online. Tapi saya yakin, koran Kompas edisi itu ada diarsipkan di Perpustakaan Kota Bandung. Petugas perpustakaan akan dengan senang hati membantu. Semoga beruntung.

      Jawir said:
      Juli 15, 2022 pukul 10:41 am

      Mantab bang Novi, seneng baca ceritanya

        noviabdi25 responded:
        Juli 23, 2022 pukul 6:14 pm

        terimakasih sudah mampir …

Tinggalkan Balasan ke Tenang, Kenyang, Senang « noviabdi25 Batalkan balasan