On Every Journey, I’am Reborn

untuk perempuan tenaga surya, 3 hari untuk selamanya
Pukul satu lewat saya terbangun. Hujan sudah berhenti dan hutan ramai dengan suara serangga malam. Rencananya saya akan langsung ke puncak dari tempat saya menginap ini, satu titik di antara Shelter 1 dan Shelter 2 di punggung Gunung Kerinci di dekat perbatasan Jambi dan Sumatera Barat.
Saya menguap, mengeliat, namun masih memejamkan mata. Saya pun tertidur lagi.
Saya baru benar-benar bangun satu setengah jam kemudian. Seperti orang yang mau sahur, saya menjerang air dan membuat sarapan. Kopi tanpa ampas dicampur energen, plus oatmeal, ditambah setangkup roti bakar isi selai kacang dan keju. Saya masukkan juga air hangat ke botol minum.
Saya hanya bawa kamera, jaket hujan, tas kecil obat-obatan, air, bekal roti, dan payung. Senter dan jaket dipakai. Namun, pukul setengah empat saat akan berangkat, tiba-tiba perut saya mules…
Tak ada jalan lain kecuali berdamai dengan diri sendiri. Saya mengecek bagian kanan tenda. Di ujung sana, di kemiringan, mungkin tempat nongkrong yang nyaman.
Repot, tapi setimpal. Setelahnya lega. Saya jadi segar dan bersemangat. Saya tetap bawa tisu toilet itu, jaga-jaga kemungkinan di jalan, hahaha. Pukul empat, saya mulai summit attack dari ketinggian kira-kira 2.800 meter dari permukaan laut. Hati berdebar riang dan senang. Dengan beban ransel hanya sekitar 2 kg, saya berjalan seperti meloncat-loncat mengikuti tanjakan demi tanjakan yang disajikan Kerinci. Jalan setapak sekarang seperti anak tangga yang berjauhan. Setiap 5-6 langkah landai, jalan naik sejengkal atau dua jengkal. Banyak juga yang hingga setinggi pinggang. Tangan dan kaki bekerja. Tidak ada bonus turunan barang sedikit pun.
Pukul lima pagi, saya sampai di Shelter 2. Tepat seperti yang saya duga, lapangan kecil itu penuh. Dengan beban ringan saya mencapainya dalam satu jam, dengan carrier penuh pastilah 2 jam atau lebih, dalam derita basah oleh hujan dan kelaparan.
Saya bersyukur saya memutuskan berhenti dan mendirikan tenda di tempat itu tadi. Itu sempurna.
Di Shelter 2 semua masih tidur. Saya berhenti sejenak di tanah datar di samping sebuah tenda. Numpang salat subuh.
Hari mulai terang. Shelter 2 adalah batas vegetasi hutan oleh pohon-pohon besar dan lebat. Setelah itu trek memasuki hutan perdu dengan pohon kecil dan semakin banyak tanjakan curam. Trek mengikuti jalur air dan sebagiannya dilingkupi ranting-ranting dari kedua sisinya, sehingga kita seperti memasuki terowongan dan gua, dengan lantai tanah yang lembab.
Lalu setelah memanjat akar-akar pohon dan sampai di atasnya, saya tiba di tanah terbuka, dengan hanya semak dan perdu setinggi lutut. Pemandangan luas terhampar. Di depan saya puncak Kerinci menjulang. Ketika saya berbalik, matahari yang baru terbit menyinari hamparan awan dan lereng dan tetumbuhan. Kami semua bermandi cahaya di atap Sumatera.
Sinar matahari itu juga memeluk saya. Membawa perasaan hangat yang tenang, namun juga menyalakan energi untuk menempuh hari. Dalam sesaat itu, saya diingatkan lagi kenapa saya naik gunung. Perasaan lengkap, komplet, tunai dan selesai, sehingga apa pun yang terjadi setelah itu bisa dihadapi dengan senyum.
Perasaan itu kiranya yang menuntun Anatoli Boukreev menulis dalam, bahwa baginya gunung adalah rumah ibadah, tempat ia mempraktikkan agamanya.

Faktanya secara formal Boukreev tidak beragama. Ia orang Rusia, lahir saat Uni Soviet berjaya dan komunis mencengkeram tidak saja negara-negara di Asia Tengah, tapi pengaruhnya juga hampir menjangkau separo belahan dunia. Tapi ia juga besar di di Kazakhstan, negara bagian Uni Soviet yang 70 persen penduduknya muslim. Bagi yang memahami komunis adalah atheis mungkin akan membingungkan. Bagaimana orang Kazakh tetap beragama sambil menjadi komunis? Sama seperti melihat ulang fakta sejarah di Indonesia, orang-orang komunis seperti Haji Misbach mulanya adalah anggota Sarekat Islam.
Betapa pengalaman spiritual bisa dirasakan dan dialami siapa saja, termasuk oleh yang tidak menganut suatu agama, atau bahkan mungkin yang tidak percaya padaNya.
Sebaliknya pula, kita melihat, agama pada orang tertentu tidak membawa pengaruh apa-apa selain untuk formalitas. Sebagian yang korupsi, bila dia muslim, sudah pernah, atau berkali-kali berkunjung ke Mekkah. Dalam logika awam, orang yang sudah berniat dan kemudian melaksanakannya haji tentunya setelah yang bersangkutan paripurna dalam menjalankan kewajiban-kewajiban pribadi seperi salat, puasa, zakat.
(Jangan bicara soal pesohor (Indonesia), itu perkara lain, hahaha)
Nah, bagaimana mereka yang sudah mengalami pengalaman spiritual seperti itu tetap bisa korupsi?
Penjelasan ringkasnya diberikan Bang Napi. Kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Tak ada niat, dapat kesempatan terus? Tinggal tunggu waktu saja iman hancur berkeping dalam sesat kehidupan (Slank). Ada niat, tak ada kesempatan? Kesempatan lalu dibuat dan diciptakan (KPK, kasus korupsi KTP elektronik). Ada niat dan kesempatan? Habislah negeri ini ditangan para bedebah. (Astagfirullah, saya mengutip Tere Liye).
Jadi tidak ada disebut agama di situ. Atau paham dan ideologi yang dianut. Seringkali terbukti, di depan uang (kekuasaan, juga selangkangan), manusia kembal kepada naluri dasarnya untuk bertahan hidup, menjauhi hasrat tinggi ideologi dan kemuliaan agama.
Soe Hok Gie yang habis geram pun melarikan amarahnya di Gunung.
Karena pergaulannya, Boukreev cukup fasih melafalkan ‘insha Allah’ dan tahu cara menggunakannya dengan pas. Mungkin dikatakannya juga kepada Letnan Jenderal Prabowo Subiyanto saat mendapat proyek pendakian Everest 1996 untuk Kopassus.
Kalau sudah kembali ke peradaban, rumit bukan. Kita kembali ke diri kita yang penuh topeng dan menjalankan peran-peran.
Karena itu saya selalu merindukan gunung, tempat di mana saya merasa dilahirkan kembali. Persis seperti kata Boukreev lagi, “On every journey, I am reborn.”
Reinhold Messner yang semakin bijak pun melihat kesamaan itu. Musa pergi ke Bukit Thursina, Muhammad mendaki Jabal Nur, dan merenung di Gua Hira. Pegunungan Kun Lun San menjadi tempat Fu Hsi dan Nuwa memulai peradaban, dan para pendekar ciptaan Kho Ping Hoo mendaki gunung-gunung di Kun Lun San itu untuk bertapa dan kemudian menciptakan ilmu-ilmu baru. Gunung tidak hanya pasak dunia, tapi juga sandaran spiritual.
Musa lalu memimpin kaumnya keluar dari Mesir. Isa putra Maryam mengajarkan kasih sayang ditengah anak-anak Ishak, Muhammad memperbaiki moral manusia dari kebodohan dan kebiadaban jahiliyah dengan awalan sederhana: perintah membaca.
Gie pun pulang dengan semangat baru setiap kali turun gunung. Sampai dia diputuskan oleh Mahameru cukup pulang jasadnya saja, namun dari puncak semangatnya menyebar kepada mereka yang kritis dan para aktivis.
Di sisi lain, kenyataan banyak yang mengalami sentuhan spiritual itu bukan di puncak, adalah tanda bahwa mencapai puncak adalah pilihan, sementara turun adalah kewajiban.
Kalaupun ngotot harus sampai puncak, maka titik tertinggi itu bukan finish, bukan akhir perjalanan. Puncak itu baru separo akhir. Akhir baik sebuah perjalanan (mendaki gunung terutama) adalah selamat kembali ke rumah, ke pangkuan orang-orang yang kita cintai.
Dengan motto seperti itu, Viesturs sukses mendaki ke-14 puncak tertinggi di dunia di Himalaya dan bertualang ke tempat-tempat lain di bumi.
Saya membuat beberapa foto dengan kamera ponsel, dan mengabadikan semburan keemasan cahaya matahari itu dengan penuh syukur.

***
Maret 20, 2018 pukul 3:35 pm
Jd.. bagi Pian agama-islam itu sbg apa…?
Jika lun boleh tau… 🙂
Seperti biasa.. kemasanx menarik.. meskipun ad beberapa bagian keterangan lun lewati dan teliti d beberapa yg menarik bg Ulun..
Maret 20, 2018 pukul 8:57 pm
agama petunjuk praktis menjalani hidup ini, Dj, … penjelasannya jadilah berjilid-jilid tafsir al azhar buya hamka, kitab-kitab riyadhus salihin, bulughul maram, sabilal muhtadin, … hingga yang kontemporer kayak bukunya fauzil adhim ‘kupinang engkau dengan hamdalah’ atau ratusan menit ceramah emha ainun najib, yusuf estes dan zakir naik, kang jalal, atau nouman ali khan