Pintu Kemana Saja

Posted on Updated on

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memutuskan bahwa kita tak bisa lagi bersama?

Bagi saya 25 tahun. Plus 6 bulan. Jadi, setelah enam bulan tanpa kabar, dan dua kali dilarang memberi kabar, saya akhirnya membuat keputusan tentang Day.

“Saya kan sudah bilang, semuanya terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di Bisnis Indonesia, kantor di sebuah ruko di Stal Kuda tempat saya sering menumpang menulis berita dan menghabiskan kopi mereka.

Tak ada yang bisa saya katakan lagi, entah kepada Yanthi, Dj, Rachmad, atau Adi, atau keluarga Haji Amir yang turut prihatin. Memang, sungguh menyedihkan bila memutuskan antara cinta dengan logika. Dalam perjalanan hidup saya, kedua hal ini jarang sekali akur.

Mengikuti cinta, maka seluruh langkah hidup saya biasanya jadi terbalik-terbalik dan mesti dijalani dengan penuh improvisasi. Semuanya menjadi petualangan yang tak terelakkan. Mengasyikkan, tapi juga kerap melelahkan.

Zaman remaja silam, saya punya energi yang sangat berlebihan untuk mengejar cinta, bahkan hingga separo dunia. Hari ini, dengan tetap di Balikpapan saja pun saya sudah kerepotan.

Patuh pada logika, maka saya mengalami hidup yang paling aneh juga. Datar, sedatar flat line di monitor jantung orang yang sudah meninggal. Membosankan sehingga satu jam saja seperti sehari dan justru membuat saya ingin mati. Hidup jadi tanpa tujuan dan hambar. Nothing exciting.

Paling tidak begitulah perasaan saya. Meski sebagai jurnalis hidup itu bisa selalu penuh aksi. Tetapi tanpa cinta di dalamnya, seperti sayur tanpa garam.

Pepatah sayur tanpa garam itu mungkin diciptakan oleh seorang vegetarian seperti Adi. Saya juga suka sayur, walau bukan vegetarian, dan bisa menerima pepatah itu.

“Apa yang Bang Opi putuskan?” tanya Yanthi.

“Sebenarnya bukan saya yang memutuskan,” kata saya. “Tapi Day sendiri.”

***

Konon, perempuan memang menyukai bad boy. Sampai tahap tertentu, mereka memandang dengan penuh minat lelaki petualang, mungkin tinggi tegap dengan rambut gondrong dan kulit terbakar matahari, berpakaian urakan dan berani mengambil jalan berbeda dari yang ditempuh orang lain.

Orang lain ini maksudnya yang bukan badboy. Yang menjalani hidup normal seperti pegawai negeri sipil dari hari Senin sampai Sabtu. Atau karyawan perusahaan swasta yang rapi jali dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Walaupun biasanya mereka juga bisa gila mulai Jumat sore hingga Senin dinihari.

Lebih kurang begitu. Badboy bisa sangat mempesona.

“Memesona,” koreksi Rachmad.

“Ya, mempesona,” tegas saya. ‘Memesona’ itu bentuk yang baku yang tercantum di dalam kamus. Tapi sebagai badboy, saya bilang bentuk baku tidak enak dipakai dan merepotkan.

Pendeknya, tokoh penjahat bisa sangat seksi. Tentu tak pula harus berbodi bak juara kompetisi bodi bagus seperti yang digelar L-Men. Hitler tentu dipuja bagai dewa oleh Eva Braun. Bung Karno bininya banyak—eh, apa Bung Karno termasuk badboy?`Hehehe, tergantung kepada siapa kita bertanya, tentu. For me, he is a badboy. Kalau gak, gak merdeka Indonesia.

Dan harus saya akui, saya tak hapal banyak tokoh jahat untuk dijadikan contoh. Atau yang saya kenal, kalian tidak, seperti John Dilinger, atau Clyde, Tibo Taka-Tibo Wete, Budiardjo, Evelyn, atau yang sangat terkenal seperti Anas Urbaningrum, Lord Voldemort, Sherrif Nottingham, Sauron, Darth Vader, Eminem, Jose Mourinho, Cristiano Ronaldo, Kapten Tack, Lex Luthor, Baron Araruna, …

Bagi saya, badboy itu juga bisa pribadi yang kontras. Bayangkan, dengan penampilan seperti rocker, dengan rambut panjang riap-riapan, atau gimbal ala Bob Marley dan mata setengah mengantuk, ia menjadi yang kesepuluh muncul di masjid berkapasitas 200 orang saat salat Jumat, atau memimpin salat berjamaah para makmum yang masbuk di masjid Istiqamah yang sejuk itu.

Gadis-gadis Amerika pernah menyukai si Renegade Lorenzo Lamas sekalian dengan motor besarnya. Meski tidak tahan dengan kelakuannya, banyak cewek tergila-gila dengan Stiffler, terutama barangkali perempuan setengah baya.

Mereka pun melonjak-lonjak histeris melihat anak-anak Duke of Hazard, yang suka mengebut dengan General Lee, sebuah Chrysler yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bo dan sepupunya pun memperdaya Sheriff Coltrane dengan tertawa-tawa.

Saya lupa nama tokoh yang diperankan Owen Wilson dalam Shanghai Noon, film yang dibintanginya bersama Jackie Chan. Film itu stereotip sekali menampilkan Roy O Bannon—ah, itu dia namanya—yang diperankan Mr Wilson, sebagai koboi yang ceroboh, seenaknya, bahkan pintar-pintar bodoh, suka nekat tapi penuh spontanitas, tapi juga begitu mudahnya menggaet wanita. Bahkan, Putri Pei Pei sendiri jatuh cinta dengan koboi tengik itu.

Di fiksi Indonesia, juga ada tokoh Roy dalam Balada Si Roy yang dikarang Gola Gong, yang juga sering diceritakan sebagai tukang pembuat patah hati anak orang.

Dan saya selalu ingat deskripsi Mochtar Lubis tentang Wak Katok yang tinggi besar dan berkulit gelap, tapi punya istri muda yang cantik sekali—dan saya adalah si Buyung di cerita itu, hehehe, yang bertemu istri Wak Katok di sungai di hutan yang menghanyutkan. Emmmhh…sila baca Harimau Harimau, sobat.

Hehehe…dan ini agak keluar dari konteks dan saya hanya ingin menuliskan saja; contoh kontras diperlihatkan film-film superhero. Dalam identitas aslinya, para pahlawan super kerap digambarkan sebagai orang aneh, kurang pergaulan, konservatif, atau rendah diri dan rendah hati sekaligus.

Tapi bila ia sudah berganti kostum menjadi Spiderman, Peter Parker yang minderan itu bisa berayun-ayun dari satu gedung ke gedung lain dengan Mary Jane Watson di dalam pelukan.

Lebih kurang sama dengan Lois and Clark, atau Lana and Clark saat masih di kampung Smallville. Di harian Daily Planet, Clark Kent, meski berbadan besar, namun lucu gagu dengan kacamata, peragu dan sering terbata-bata, dan kerap digambarkan berada di bawah agresivitas, kegesitan, dan ambisi Lois Lane.

Tapi Clark-lah sang Superman, yang biru, yang melesat lebih cepat daripada pesawat terbang, yang punya kelebihan yang paling diinginkan lelaki sedunia, mata sinar x yang bisa melihat sesuatu meski di balik batu, eh baju, eh kelambu, hehehe—walau tetap tak bisa melihat perasaan wanita.

Hmm, Peter Parker itu fotografer atau pewarta foto, Clark Kent itu jurnalis, dan ada Godam, superhero kelahiran Bandung yang nama di KTP-nya adalah Awang dan pekerjaannya juga wartawan.

Saya Supernovi, dan tercipta dari Supernova yang terlihat dalam pengamatan astronom Johannes Keppler di tahun 1604. Hwarakadah. Bukan kebetulan, saya juga jurnalis, dan juga pewarta foto.

(Bagian superhero hingga supernovi dan supernova ini saya melantur—walaupun faktanya nyata, hehehe),

 Dalam kehidupan nyata hal ini sering lebih aneh daripada fiksi. Kalian tentu ingat Ariel dan Cut Tari bukan. Saya bukan penggemar mereka dan sedapat mungkin menghindar dari mereka dan karya-karyanya, apalagi hanya berita tentang mereka. Tetapi mereka berdua contoh yang sempurna. Apalagi Ariel juga dihubungkan dengan Luna Maya, dengan Aura Kasih, mungkin dengan yang lain-lain lagi.

Bagaimana suami Cut Tari masih bisa berkata tetap menerima istrinya yang sudah berzina dan mengkhianatinya? Jayus? Dan fans Ariel masih mengelu-elukan dia sekeluar dari penjara. Bukankah seharusnya orang seperti dia dihukum rajam, dilempari dengan batu sampai mati.

 Hoekkkk. It is suck.

 (Bagian ini saya tidak melantur). Tuhan mungkin hanya ingin memperlihatkan bahwa ia pengasih dan penyayang. Siapa yang bertobat akan diampuni dan diberi kesempatan lagi.

Apakah Ariel bertobat? Maaf, saya tak tahu. Saya bukan Tuhan dan bukan penggemar Ariel, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, dengan apa pun nama bandnya dan musik yang dimainkannya. Howgh.

 ***

 Nah, sampai tahap tertentu, saya adalah jawaban seru dari masalah-masalah Day. Saya punya solusi walapun belum terbukti bagaimana menangani bocah lelaki yang mulai dewasa (Day ingin anaknya ikut naik gunung dan tidak hanya merendam diri di kamar main playstation).

Saya ada, setidaknya ada suara, mendengarkan, memberi komentar yang diharapkan, memberi penghiburan, dan melakukan hal-hal yang absurd seperti membuatkan kopi dari jarak 1.300 km, menyajikannya, dan meminumnya bersama-sama.

“Kopinya enak. Kopi apa ini?” tanya Day.

“Oh, kopi atjheh. Dikasih Bang Alex kemarin,” kata saya.

Saya tahu, di sana, di Bogor, Day minum Nescafe kopi tubruk sambil merokok menthol. Saya belum sempat mengirim kopi atjheh yang saya janjikan kepadanya.

Untuk kopi atjheh itu, saya yang mengikuti perjalanan sejauh 2500 km pergi pulang di mobil Bang Alex, ketua Pengda IOF (Indonesian Offroad Federation) Nangroe Aceh Darussalam mengelilingi Serambi Mekah. Pulangnya saya disangu 2 kg bubuk surga itu.

Menurut saya, bagi Day saya jadi teman diskusi, juga lawan debat yang sempurna di antara bulan Agustus, September, dan Oktober. Kami pun melihat dunia dengan kacamata kami sendiri dan membuat rencana-rencana untuk mengubahnya. Atau tepatnya mengubah diri kami sendiri untuk menghadapi perubahan dunia.

Those days were really amazing days, hari-hari yang luar biasa dan saya menjalaninya nyaris seperti bermimpi.

 ***

Barangkali, ya, itulah dia, seperti mimpi. Datanglah kemudian waktunya untuk bangun, sadar, dan melihat kenyataan. Day lebih dulu, bangun, sadar, dan membuat keputusan. Dan saya baru saja terbangun.  

Kenyataan bila bersama saya ada tembok tinggi dan jalan terjal, mulai dari Day harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan hukum yang rumit, sampai hal-hal teknis yang ribet seperti mau tinggal dimana di Balikpapan, anak-anak sekolah dimana, dan seterusnya sementara saya sudah biasa dengan ketidakmapanan saya, sudah cukup menyadarkan perempuan 38 tahun ini bahwa bagaimana pun apa yang diraihnya hari ini akan terasa nikmatnya bila disyukuri—meskipun menjadi istri dari suami yang punya istri lagi.

Bersabar dengan keadaan itu, kata banyak hadis Muhammad, berarti sudah menggenggam tiket untuk satu tempat di surga.

Petualangan bersama saya, walaupun mungkin mengasyikkan, tapi juga penuh risiko dan bahaya, sekali lagi seperti kata saya tentang Ariel tadi, bahayanya ada di dunia juga di akhirat.

Day mungkin bisa menikmati petualangan-petualangan kecilnya bersama saya, “Tapi itu artinya saya membuat anak-anak saya dalam bahaya,” kira-kira begitu katanya.

Bukankah Superman tak bisa bersama dengan Lana, atau juga Lois? Spiderman berjanji untuk tak lagi mendekati Gwen. Frodo dan Bilbo Baggins, begitu juga Gandalf, tak pernah kawin,

Karena itu seorang kawan, si Risdan yang selalu nyaman berada di antara orangutan (Pongo pygmaeus, baik yang morio atau pun wurmbii) menulis demikian, “bersyukurlah bila wanita menginginkan kemapanan, sebab kemapanan masih bisa diupayakan. Bila yang diinginkan ketampanan, … ”

Mungkin karena itu Risdan selalu bahagia bersama orangutan (hehehe) dan pernah pula menjadi pembela orangutan bersama WWF di Surabaya.

Oleh dokter bedah plastik tentu saja peribahasa Risdan sangat bisa didebat—dan tentu ada harganya pula perdebatan itu. Bila operasi memancungkan hidung Rp10 juta, saya lebih senang menghabiskannya dengan mendaki Rinjani saja.

Atau mengajak seseorang (naaahhhh… siapa nih) ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Jadi begitulah akhirnya sobat. Cinta dan logika sering tidak jalan bersama. Apalagi dalam hal cerita saya dan Day ini. Saya pun belajar menerima dan bersyukur juga.

Saya sudah bangun. Sudah bikin kopi atjheh yang sedap itu, dan sudah bikin rencana-rencana lagi. Saya pasang iklan yang provokatif di dalam hati, “Dicari, seseorang untuk berbagi petualangan. Tentu saja, harus perempuan…”

Pintu kemana saja, kembali dibuka. ***

Satu respons untuk “Pintu Kemana Saja

    Mimpi-Mimpi yang Sama « noviabdi25 said:
    Mei 24, 2018 pukul 7:16 am

    […] saya dan Rachmad Subiyanto, yang masih reporter di harian Bisnis Indonesia ketika saya menuliskan Pintu Ke Mana Saja. Setelah lebih 2 tahun di Jakarta, Rachmad kini kembali untuk mengepalai biro Bisnis Indonesia di […]

Tinggalkan Balasan ke Mimpi-Mimpi yang Sama « noviabdi25 Batalkan balasan