“Nanti Telepon Lagi, Yaa…”

Posted on Updated on

Saya kehilangan Day lagi. Dan kali ini Day dengan sadar menghilangkan dirinya dan saya sampai sekian lama tidak mau percaya.  

Hanya saja, sekarang saya bisa mengira-ngira apa yang terjadi, apa yang mungkin ada di dalam benaknya, dan apa yang barangkali sedang dilakukannya, dan lain-lain, walau tetap saja belum tahu bagaimana akhirnya nanti.

“Bagaimana akhirnya nanti itu kan terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di kantor Bisnis Indonesia yang juga punya bakat jadi psikolog profesional.

Komentar yang sama disampaikan Adi yang membantu saya beres-beres rumah, Rachmad yang dinding-dinding kantornya membuat gema yang menyulitkan orang mendengar dan berbicara, Ina Wiena di depan toko emasnya yang kecil namun ramai di Pasar Lama di Banjarmasin, juga oleh Nila si kandidat doktor yang gaya renangnya mirip pesut, dan Mbak Endang yang kalem di Warung Pecel Madiun di Gunung Malang, juga oleh Aldo, pendengar yang antusias  di antara Bandung-Lembang-Bandung, dari The Papandayan, Saung Mang Udjo, dan airport sempit Hussein Sastranegara.

Hanya Dj yang berkomentar lain. Dari Boulder, Colorado, Dj menjadi pembela Day yang militan.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

***

Hari itu Day bertanya pada saya, bagaimana sebenarnya proses perceraian itu?

“Banyak pilihannya, bisa mudah dan menyakitkan, mudah dan mulus, lama dan menyakitkan, lama dan mulus, terserah saja,” kata saya.

Yang bikin lama biasanya pembicaraan soal harta, apalagi kalau banyak yang harus disepakati.

Itulah kenapa banyak orang kaya tak mau bercerai walau hubungannya sudah seperti orang lain dengan istri atau suaminya.

Yang memilukan itu umumnya tentang anak, apalagi bila ada anak yang masih kecil. Ini jadi drama seru bila yang mau bercerai artis. Ada adegan si artis menangis, ada deretan video wajah lugu si anak, lalu pengacara yang menggelar jumpa awak media infotainment, ada gambar saat sang pasangan masih berbahagia (mungkin saat acara pernikahannya setahun sebelumnya, lalu saat anak pertama lahir, …)

Kalau tidak kaya, juga bukan artis, tetap saja tidak lebih mudah. Hanya unsur liputan awak media saja yang tidak ada. Yang lain lebih kurang sama.

Walaupun tidak mudah, urusan cerai sederhana. Bisa diurus sendiri kalau ada waktu dan cukup kuat, bisa pula diwakilkan pengacara. Dalam ritme hidup di Jakarta yang gila, diserahkan kepada pengacara adalah pilihan logis.

“Berapa lama?” kata Day, serius sekali.

“Sekitar 3-6 bulan.”

“Lama juga ya…”

Hakim di Pengadilan Agama akan memulai dengan mediasi, menasihati, menyebutkan yang baik-baik dari kedua pihak, mengingatkan akan anak bila ada anak, meminta saling memaafkan, memberi pilihan-pilihan yang semuanya ideal dan penuh seandainya.

Bila bergeming dan bersikukuh untuk bercerai, baik salah satu atau kedua belah pihak, persidangan masuk tahap kedua. Jadwalnya bisa sebulan setelah sidang pertama.

Setelah itulah, bila memang diinginkan begitu, semua kerumitan dan keribetan dipaparkan. Rumah di sana jatuh ke suami, rumah di sini milik istri, anak yang masih kecil ikut istri, (mantan) suami wajib kirim uang sekian untuk anak itu, dan lain-lain, dan seterusnya.

Memerlukan energi fisik dan mental yang besar sekali.

“Saya akan pakai pengacara kalau begitu,” kata Day. Ia menyebutkan seorang pengacara yang berkantor di perumahan elit di Cibubur. Pak Hendri atau siapa begitu.

Beberapa kali saya ditelpon, atau menelpon Day yang sedang ada di jalan menuju atau sudah di kantor pengacara itu. Kadang-kadang saat jauh malam bahkan hingga mendekati dinihari.

“Kami sedang menyusun kasusnya, dan saya ingin prosesnya cepat. Doakan saya yahh,” ujarnya.

Tentu saja saya mendoakan. Ya Allah, mudahkanlah urusan Day dan saya, beri kami kekuatan iman, ketabahan hati, kesehatan lahir dan batin, juga kekuatan fisik dan mental untuk melewati semuanya.

Hari-hari itu Day masih sempat bergurau. Ia memberi laporan pandangan mata sambil menyetir, bahwa polisi tidur di komplek perumahan orang kaya pun berbeda daripada polisi tidur di kampung orang kebanyakan.

“Di sini polisi tidurnya gemuk-gemuk dan kita bisa melewatinya dengan mulus walau memang tetap saja harus mengerem. Kalau polisi tidur di kampung kan kurus tinggi dan benar-benar menghentak pas kita lewat,” katanya.

Saya tertawa. Saya senang ia masih tetap bisa ceria walau keadaan tampaknya semakin berat. 

Masih kembali ke pertanyaan tadi, apa sih yang sesungguhnya terjadi?

***

Itulah yang sesungguhnya terjadi. Sebab kejadian-kejadian setelah itu, saya tak tahu lagi dengan pasti. Day berhenti berkabar, tidak menjawab telepon, tidak membalas sms, tidak merespon message di facebook.

(Sejak itu, saya hanya bisa menduga alasannya, tapi tidak pernah terkonfirmasi resmi sampai pertengahan Januari 2014).

Setelah pekan pertama Oktober, ia menghilang selama 13 hari. Kesibukan saya di persiapan ekspedisi offroad ke Kalimantan Utara membuat saya sedikit terhibur dan agak melupakan ketidakhadiran Day dalam komunikasi. Saya mengurusi 15 mobil, penginapan bagi 30 orang, dan seremoni-seremoni kecil hingga membeli martabak dan terang bulan untuk kudapan.

Menjelang berangkat ekspedisi itu, pagi 24 Oktober, telepon saya akhirnya diangkat.

“Maaf yah, saya sedang tidak bisa terima telepon. Saya lagi di Makassar, … nanti telpon lagi yaa…”

Lalu bunyi mobil berhenti dan pagar besi dibuka. Day mungkin keluar dari mobilnya dan membuka pintu pagar itu sendiri.

Kami tersambung selama 2 menit 39 detik. Itulah terakhir kali saya mendengar suaranya. Saya tak sempat bicara apa-apa kecuali bertanya kemana saja dia, dan seingat saya, minta untuk dia memberi kabar, apa pun yang terjadi.

Kata-kata ‘nanti telpon lagi yaa’ saya artikan Day minta ditelpon 5 menit kemudian, setelah memarkir mobil di garasi dan berada di dalam rumah.

Telepon saya setelah bunyi pintu pagar itu hanya menjadi miscall kemudian. Begitu pula seluruh telepon saya sampai pertengahan Desember—yang menjadi telepon terakhir ke nomor itu.

Sebaliknya juga, Day meneruskan kebiasaan yang sudah dimulainya sejak awal Oktober: berhenti memberi kabar apa pun lewat cara apa pun. 

“Kenapa Day ada di Makassar? Kenapa Bang Opi terus menelepon? Kenapa akhirnya berhenti di pertengahan Desember?” tanya Yanthi.

“Karena saya sudah berjanji untuk selalu mengabari Day, karena saya memang merasa perlu mengabari dia,” kata saya.

Saya selalu berpikir, siapa tahu kali ini telepon saya diangkat, seperti hari ke-14 dari 13 hari yang sungguh-sungguh menyiksa dulu itu.

Saya juga masih mengirim pesan pendek atau sms. Tetap rajin menulis message di facebook.

Sebelum Oktober, semua miscall akan dibayar dengan telepon hingga puluhan menit kemudian begitu ada waktu. Pesan pendek yang paling pendek yang pernah saya terima adalah ‘g d jln, call u ltr, love u too’.

Dan memang, dia menelepon, lalu saya menelepon. Membalas pesan di facebook walau pun tidak panjang lebar. Kami menjaga komunikasi dan membuat selimut hati.

“Yang penulis kan kamu, saya penggemar saja,” katanya.

***

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Yanthi tentang urusan Day di Makassar, karena saya memang tak tahu apa urusan itu.

Setahu saya, Day ada di Makassar karena suaminya (juga istri lain suaminya) tinggal di kota itu. Urusan apa ke Makassar?

Well, meski saya selalu ingin tahu dan memang dididik demikian, tidak juga sampai tarap kepo kayak awak infotainment.

Tapi dari linimasa beberapa bulan terakhir, dari semua latar yang terbentuk, bisalah dikira-kira apa urusannya itu.

Tapi lagi, sebagai jurnalis dengan disiplin verifikasi, saya tak bisa memastikan apa pun. Tanpa konfirmasi, semua cerita adalah fiksi, baik fiksi ilmiah maupun tidak ilmiah sama sekali.

Secara resmi, urusan Day itu jelas tak ada sangkut pautnya dengan saya.

Secara tidak resmi? Emmhh, yah, apa boleh buat, semuanya memang tidak resmi, unofficial. Karena itu juga mudah disangkal, mudah ditinggalkan. Kata-kata unofficial itu bisa jadi jalur pelolosan yang sempurna. 

Yang saya bisa jawab dengan jelas adalah mengapa saya berhenti menelepon sejak pertengahan Desember.

Siang itu, saat menuju tempat parkir hotel Gran Senyiur usai meliput acara, dengan hati senang sebab banyak hal yang bisa ditulis, saya melakukan ritual tersebut, menelepon Day.

Oww…telepon tersambung dan diangkat. Saya menarik napas sebelum menyapa, “Hallo, assalammualaikum, …”

Sebuah suara lelaki muda menjawab, “Ini siapa ya…”

Entah kenapa, saya tidak bingung, tidak pula kaget. Saya memperkenalkan diri, juga menyebut siapa yang ingin saya hubungi dengan menelepon ke nomor seluler tersebut, dan apa keperluannya.

“Maaf, Bapak salah nomor,” kata si Anak Muda.

Salah nomor? Memang begitu istilahnya, salah nomor, bukan salah sambung. Saya telepon sekali lagi, tersambung lagi, dan kembali si Anak Muda itu menegaskan saya menghubungi ke nomor yang salah.

Salah nomor? Ini nomor telepon dimana Day menyimpan banyak nomor rekan bisnisnya. Saya tak pernah mengutak-atik nomor Day yang tersimpan di hp. Saya menghubungi ke nomor dia yang lain, mengirim pesan pendek menanyakan itu.

Seperti yang sudah terjadi sejak Oktober, tak ada jawaban apa pun. Maka, satu pintu komunikasi pun hilang, atau, entahlah, dihilangkan.

Saya mengujinya sekali lagi keesokan harinya. Saya menelepon lagi ke nomor itu. Tetap ada nada tunggu, artinya nomor itu aktif, namun kini jelaslah tidak untuk saya.

Hanya karena kesopanan barangkali panggilan saya tidak di-reject.

Saya merasa ditinggalkan lagi.

Tapi belum putus harapan. ***

4 respons untuk ‘“Nanti Telepon Lagi, Yaa…”

    rasbey said:
    Maret 5, 2014 pukul 9:01 am

    tak kan lari gunung dikejar.. 😀 btw, pencantuman nama ini bisa dituntut oleh pengacara untuk mendapatkan royalti :p

      noviabdi25 responded:
      Maret 5, 2014 pukul 2:30 pm

      saya memang tak mengejar gunung, boi, saya menaikinya, hehe—-royalti beresss

    budi kertayasa said:
    Maret 8, 2014 pukul 4:43 pm

    Nah,,,,, beda ya ,,,,
    Seorang teman enak saja bercerai 2 atau 3 kali dikirimi surat sidang dia tidak hadir ,,,langsung surat terakhir ,,,,,, ya langsung surat cerai., ok masalah cerai kita abaikan,,,,,,dan kita kemasalah hatu saja,
    seperti hantu yang kadang datang dengan diikuti semerbak aroma bunga atau suara suara aneh “mungkin langkah kaki, mungkin suara angin, atau mungkin suara tangisan atau tertawa panjang”, dan itu juga kata para orang yang mengaku ke saya bahwa dia pernah melihat hantu, dan saya juga tak pernah liat hantu secara langsung.

    Dan hantu pun biasanya pergi juga tanpa jejak ,,,,,, “semoga hantunya benar benar telp”

      noviabdi25 responded:
      Maret 9, 2014 pukul 3:22 pm

      wah wah, rasbey bilang gunung, kamu bilang hantu bud—-malang benar my day, hehehe

Tinggalkan Balasan ke budi kertayasa Batalkan balasan