Shizuko
Shizuko Rizhmadani naik gunung bersama 26 temannya. Jadi mereka semua 27 orang. Wuih. Itu ramai sekali. Tak akan kesepian. Tak akan tak ada teman bicara. Yang jelas tak ada kesulitan saat ingin mengurus izin pendakian.
Tidak seperti Shizuka yang akhirnya menikah denga Nobita di serial Doraemon, Shizuko pulang dengan terbujur kaku sebagai mayat. Saya yang juga pergi ke tempat yang sama jadi bertanya-tanya, pada kemana 26 temannya? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan gadis 15 tahun itu?
Saya jadi ingat mata Day yang memandang saya khawatir.
“Yakin sendirian, Odi?” Hanya dia di dunia ini yang memanggil saya Odi itu. Abah dan Mama, yang memberi saya nama, menyebut saya Upi.
“Setidaknya sampai kaki gunung kan ada kamu,” kata saya.
Selain naik mobil ribuan kilometer, suatu saat saya ingin naik gunung bareng Day—saat dia sudah punya banyak waktu luang. Gunung wisata saja tak apa seperti Bromo. Ya petualangan kecil bersama anak-anak dan wanita mungil ini.
“Tapi kan buat dapat izin mendaki minimal harus bertiga…” tambahnya.
“Nanti saya cari teman. Biasanya ada saja solidaritas sesama pendaki,” kata saya.
“Baiklah, hati-hati ya,” pinta Day sebelum pulang dan kami berpisah. Saya menggenggam tangannya dan mengecup keningnya. Saya akan baik-baik saja dear.
Tukang parkir, yang rupanya memperhatikan kami, berkomentar. “Ibu gak ikut naik, Pak?”
Ehh…hehehe. Saya tersenyum saja. “Enggak kang, dia mengurus bisnis dan anak-anak.”
Nyatanya, saya nyaris gagal mendaki hari itu. Pukul empat sore, atau satu jam sebelum pengurusan izin pendakian ditutup, saya belum punya teman. Banyak yang datang, tapi hanya untuk mengurus izin, bukan untuk langsung berangkat.
“Kami tidak akan izinkan mas jalan sendirian. Kalau ada apa-apa, itu yang kami khawatirkan,” kata petugas itu.
“Yang diizinkan naik hari ini, sudah pada berangkat pagi tadi. Kalau mas datang lebih pagi, bisa bareng mereka,” tambahnya.
Aduh. Kecuali soal izin, semua hal yang saya baca tentang Gede-Pangrango tak bercerita soal ini.
Izin itu bisa diurus dari mana saja dari seluruh dunia karena badan pengelola membuka pendaftaran lewat website. Tapi aturannya sama, minimal bertiga. Saya yang mengajukan izin sendirian tak di-approve alias izinnya di-pending sampai saya ketemu minimal 2 teman lagi.
Waw, bagaimana ini. Tadi bicara sebagai jurnalis kepada Kepala Balai yang berwenang juga tak mempan.
“Kalau Mas Novi pulang dalam kantong mayat kan malah gak bisa nulis pengalamannya…”
Waduh, serem banget. Saya veteran pendakian banyak gunung lain yang medanya lebih ganas dan berbagai petualangan jenis lain. Gunung-gunung kami di Kalimantan jauh lebih seram, Pak. Gunung Besar atau Halau-Halau itu, meski hanya 1.800 meter dari permukaan laut, tapi perlu perjalanan 5 hari pergi pulang di medan yang terjal dan curam. Perjalanan ke Gunung Besar itu membuat trekking ke Semeru, termasuk Gede-Pangrango ini, tak ubahnya jalan-jalan ke bukit-bukit di Lembang.
Tak dianggap, hedeehhh.
Hmm, saya mencoba duduk tenang dan memperhatikan lagi.
Saya juga tak berniat jalan sendirian. Saya memang datang sendirian, tapi umumnya, seperti di Semeru, selalu ada kawan yang bermaksud sama dan kita dapat mengurus izin bersama-sama sebagai sebuah kelompok.
Cara mendaftar adalah dengan mengisi formulir untuk setiap orang, lalu melampirkan fotokopi KTP atau tanda pengenal yang sah lainnya, lalu membayar retribusi masuk Rp2.500 per hari dan asuransi Rp2.000 per orang. Jadi bila bertiga untuk 3 hari izin itu bernilai Rp27.500.
(Saya tahu kemudian, ada calo yang bisa dan biasa mengurus izin itu—untuk orang yang kepepet seperti saya atau mereka yang agak malas dengan semua urusan administrasi—dengan meminta Rp30.000 per izin).
Tak disangka, di gunung yang didatangi rata-rata 300 pendaki per hari dari pintu Cibodas ini saja saya kesulitan mencari teman.
Tunggu, kan syaratnya KTP saja yang paling penting di situ yang saya tak punya. Dan bukankah para pendaftar itu, ada yang mendaftar hingga untuk 10, bahkan 20 orang lebih, dan semua membawa fotokopi KTP untuk semua orang itu.
Tuhan yang Maha Baik, Tuhan para pendaki mengabulkan doa saya yang hari itu melewatkan salat zuhur dan hampir kehabisan waktu salat asar.
Datanglah dua pemuda ini, satu berperawakan kecil dengan jaket merah. Satunya lagi tegap dengan jaket kulit hitam. Firdaus si jaket merah. Freddy si polisi, anggota Brimob yang bermarkas di Kelapa Dua. Firdaus kuliah di Universitas Pakuan, Bogor, dan anggota klub pencinta alam di kampusnya. Firdaus dan Freddy teman main.
Yang lebih penting, mereka mendaftar untuk 10 orang, meskipun untuk mendaki pada hari yang lain.
“Buat akhir pekan nanti kang, kan hari libur ke jepit tuh,” kata Daus.
Pukul 16.50 soal izin yang awalnya ribet dan mengesalkan dan mendebarkan itu akhirnya beres. Daus memakai fotokopi KTP dirinya dan Freddy untuk menolong saya.
“Mana carriernya?” tanya petugas.
“Titip di warung depan pak,” kata Daus mantap. Hehehe.
Carrier itu tas ransel besar. Tingginya lebih dari anak umur 6 tahun. Juga beratnya bila penuh isinya. Inilah cara paling aman dan nyaman bagi pendaki untuk membawa semua barangnya yang banyak.
Firdaus dan Freddy mengantar saya hingga ke pos pemeriksaan izin tersebut. Ironisnya, untuk mereka sendiri, izin tak didapat. Kuota pendakian untuk akhir pekan itu sudah penuh.
“Bagaimana kalau bareng saya aja hari ini. Bekal tinggal tambah sedikit. Peralatan semua ada…” tawar saya.
“Hehe, makasih banyak kang, gak enak sama kawan-kawan,” kata Daus. Betul kau, anak muda. Salam saya untuk kawan-kawanmu. Bila ada yang bisa saya bantu nanti, jangan sungkan minta.
Daus dan Freddy kembali turun di tikungan depan beringin itu. Kami saling berpelukan dan saling mendoakan. Pesan untuk hati-hati saling disampaikan.
Saya dengar dari Daus kemudian, mereka tetap dapat izin itu, tapi lewat calo.
Memang selalu ada jalan ke gunung. Kawan saya si fotografer sableng Ardiles Rante juga bertutur, kalau ke Gede Pangrango, banyak sekali jalan tanpa harus lewat pintu masuk Cibodas, Gunung Putri, atau Salabintana. Memang tak resmi, tak tercatat, tak ada asuransi, dan risiko tanggung sendiri.
***
Shizuko tentu tak mengalami itu, kesulitan mengurus izin pendakian. Jumlah mereka yang besar, mungkin juga atas nama lembaga, sekolah, pastilah memudahkan semuanya.
Tapi kita semua juga paham—dengan segala niat baik—bahwa tujuan harus ada izin itu tentu bukan mempersulit, tapi untuk menyaring. Bahwa yang punya kualifikasi saja yang boleh mendaki.
Kematian Shizuko di gunung yang ramah seperti Gede-Pangrango adalah tanda tidak ada kualifikasi itu. Pada Shizuko semestinya dia tidak lolos tes kesehatan, bila itu ada nanti di Cibodas—sebagaimana sudah diterapkan di Tumpang sebelum mendaki Semeru. Ah, saya nyaris gagal juga mendaki Semeru karena kata Bu Dokter Ratih di Puskesmas Tumpang tekanan darah saya terlalu tinggi.
Kawannya Shizuko yang banyak itu mungkin akan lolos tes kesehatan, tapi jelas tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi di Gunung.
Bagaimana tak ada orang dewasa yang lebih berpengalaman bersama mereka?
Itulah yang kami ajarkan di klub pencinta alam-klub petualangan. Senior-senior yang baik tidak hanya menikmati menyuruh juniornya push up 500 kali, tapi juga menerangkan kenapa mereka perlu 500 kali push up itu.
Ada pelajaran tentang keadaan umum dan cuaca di hutan gunung, sungai, rawa, apa yang harus dibawa dan tidak, lalu bagaimana menyusunnya di dalam ransel, apa itu hipotermia dan penyakit di gunung lainnya, juga kecelakaan yang mungkin terjadi dan cara melakukan pertolongan, cara menentukan arah, apa yang boleh dimakan dan yang sebaiknya tidak di makan, hingga bagaimana membuat keputusan dari keadaan dan kejadian-kejadian, …
Norman Edwin memberi saran bagi awam dan pemula, bila ingin mendaki gunung atau turut serta pada kegiatan alam bebas, cobalah bergabung dengan klub pencinta alam yang bersungguh-sungguh pada kegiatannya itu.
Sebab Gunung hanya ramah pada yang mempersiapkan diri dengan baik, Saudara.
***
Norman tewas di Aconcagua dalam usia 37 tahun. Persiapannya tidak main-main. Ini proyek besar yang disebut Seven Summit Expedition atau Perjalanan Penaklukkan Tujuh Puncak Dunia. Tapi mengapa Norman tewas juga? Seperti Anatoli Boukreev dan ratusan nama yang terukir di tonggak pemujaan Sherpa di kaki Everest?
Saya selalu percaya bahwa sesungguhnya tidak ada kejadian yang kebetulan. Sebuah kejadian besar dibentuk oleh serentetan kejadian-kejadian kecil. Kematian Shizuko adalah akibat dari ketidaktahuan, ketidaksiapan, dan mungkin ketidakpedulian.
Norman dan Didik Syamsu tewas karena dihantam badai. Boukreev diterjang longsoran salju di Annapurna I. Norman kembali ke Gunung setelah menjalani operasi frostbite (radang beku) yang membuatnya kehilangan sejumlah jari. Saat kembali itulah badai mengurungnya dan Malaikat Maut menjemputnya.
“Itulah takdir,” kata Day sederhana. Ia orang yang sudah banyak melihat kematian.
Takdir, memang dibentuk dari rangkaian kejadian. Dalam rangkaian-rangkaian itulah kita berusaha, kita berjuang. Dalam rangkaian-rangkaian itu juga kita memilih.
Mungkin, Shizuko memang memilih mati di gunung. Seperti Gie yang tewas di Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Shizuko meninggal menjelang ulang tahunnya yang ke-16. Kepada seorang teman, Shizuko sempat berkata, “Enak kali ya meninggal di gunung.”
Omongan yang menarik dari seorang yang (umumnya) baru akan memulai hidup.
Dan karena Shizuko sudah memilih, kita pun sudah sampai di akhir. Semua hal yang sebelumnya terjadi menjadi tak relevan lagi untuknya. Semua kejadian itu hanya relevan bagi kita. Sebagai cermin, sebagai model, sebagai contoh. Sebagai pengingat.
“Orang bisa mati dimana saja, Odi,” kata Day. Benar belaka. Jumlah remaja yang tewas di jalan raya atau karena narkoba jauh lebih banyak.
Saya tersenyum merinding. Shizuko benar. Tewas di Gunung memang lebih keren, tapi cukup merepotkan. Dan sekali lagi, sesungguhnya takdir itu bisa diubah.
Gede-Pangrango gunung yang ramah dengan Lembah Mandalawangi dan bunga-bunga edelweis, bunga putih bersih yang seolah mekar selama-lamanya dan terlihat sungguh romantis di bawah temaram sinar bulan. Karena itu ia disebut juga bunga lambang cinta abadi.
Kita harus pulang hidup, sehat, dan bugar untuk menceritakan itu kepada orang-orang yang kita cintai.
“Ini fotonya,” kata saya. (Mmm I love you so much, dear).
Day melihat foto-foto edelweis di Mandalawangi yang saya buat dengan antusias. Foto telah membuat edelweis sang bunga abadi menjadi bunga abadi yang sesungguhnya.
“Kapan-kapan saya pengen ke sini,” katanya. Matanya bersungguh-sungguh.
Nah…
Januari 12, 2014 pukul 4:23 pm
ya ya ya ada cerita kecil yang terlewat di telingaku “mantaft gan”
Januari 13, 2014 pukul 2:38 pm
budi ini pasti penggemar taft juga, hehehe
Januari 13, 2014 pukul 1:08 pm
aaah… Abang nie.. Cma tu crita na 😦
Lun kok jadi penasaran critana shizuko ketimbang baca cerita pian haha :p
Januari 13, 2014 pukul 2:41 pm
hehehe, ya itulah yang ada di benak saya pas menuliskan itu Dj, Cerita tentang tewasnya Shizuko ada di merdeka.com. Seperti semua orang lain, saya hanya menyayangkan, Tapi setidaknya cara tewas Shizuko lebih keren, hehehe.
Emm,saya paling suka bagian yang ada ciumannya, hehehe. Dj suka yang mana?