Karena Saya Bukan Dul
-
Saya menunggu-nunggu Day di sekolah kami, SMAN 7 yang tercinta, Juli 1990. Di papan pengumuman siswa baru yang diterima, dalam kertas buram yang distensil, namanya terpampang jelas: Day… 38,56.
Angka di belakang namanya itu adalah besaran Nilai EBTANAS Murni (NEM), yaitu akumulasi dari 6 nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional untuk tingkat SMP: PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dalam penerimaan siswa baru saat itu, panitia mengurutkan mulai dari pendaftar dengan NEM tertinggi hingga NEM terendah dengan batas akhir daya tampung sekolah itu. SMAN 7 saat itu punya daya tampung 200 siswa baru setiap tahun untuk dibagi ke dalam 5 kelas satu—ketika itu sebutan untuk kelas terendah masih kelas satu (sekarang kelas sepuluh ya? Kelas X).
Saya bangga. Nama Day berada di urutan duapuluhan. Meskipun NEM terendah di ujung sana, bila saya tak salah ingat, adalah 35. Rata-rata NEM siswa yang diterima adalah 37. Jadi, dia di atas rata-rata bukan.
Hari itu, SMAN 7 Banjarmasin, yang sebelumnya bernama SMPP 28, Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (sekolah kejuruan apa itu ya) sudah menjadi sekolah favorit para orangtua dan idaman para siswa SMP. Hampir semua mereka berusaha memasukkan anaknya atau dirinya ke sekolah ini dengan berbagai cara.
Yang menjadikannya favorit adalah prestasi sejumlah siswa dan guru di berbagai bidang lomba dan kegiatan pelajar di macam-macam tingkatan. Tahun-tahun itu, hampir setiap Senin, ada saja piala, atau trofi, atau piagam tanda prestasi dan kemenangan siapa dan tim apa saja dari SMAN 7 yang diumumkan setelah upacara bendera.
Para guru kami di sini memang mendahului zamannya. Saat itu belum didukung ide bahwa justru di kegiatan ekstrakurikuler sering siswa menemukan jatidirinya dan melakukan hal positif yang disukainya—yang jadi bekal untuk jadi ‘orang’ kemudian.
Di SMAN 7 tidak. Kendati tidak diwajibkan, juga meski kegiatan ekstra di situ ketika itu tidak sebanyak seperti di SMA Patra Dharma di Balikpapan sekarang (sampai 30 ekstrakurikuler, seingat saya, gile), oleh Pak Kepala Sekolah Pak Misera Gumberi (semoga Allah melapangkan kubur beliau dan mengampuni dosa-dosanya), yang menyapa kami dengan sebutan “Anda semua …” dan menganggap kami setara dengan dirinya seperti di sekolah-sekolah di Barat— setiap siswa di dorong untuk bergabung minimal dengan satu kegiatan ekstra.
Saya menghabiskan dua tahun di sekolah ini untuk bermain dan serius di ekstrakurikuler: main basket, mengurusi koperasi sekolah, menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah paling terkenal, tetap nyambung jadi Pramuka, belajar lebih spesifik hal pertolongan pertama di Palang Merah Remaja (PMR), serta belajar main drum dan bass gitar—meski untuk dua keterampilan musik ini saya tak pernah tampil di depan lebih dari 10 orang.
Karena banyaknya pemain basket di sekolah kami itu, saya sudah cukup puas jadi pemain inti di kelas kami saja. Pernah juga masuk daftar pemain SMAN 7 untuk sebuah partai ujicoba, sudah berkostum biru biru kuning itu dan siap di pinggir lapangan, tapi tak pernah diturunkan pelatih—Pak Rosehan, guru olahraga kami, hahaha.
Pelatih suka pemain yang penuh aksi, dan 2A2.2 hanya punya satu pemain seperti itu. Adalah si Bosse Anugrah Yusran yang jangkung dan memang pindah dari SMAN 5 ke SMAN 7 murni karena ia jago basket.
Memang, hanya Ade, panggilan Bosse, yang secara resmi masuk Tim Sekolah. Walau 2A2.2 masih punya Noviannor (iya bener, teman SMP yang mengenalkan Day itu) yang juga jago shooting—dan dia berani menerobos sampai bawah ring. Untuk tembakan 3 angka ada Ketua Kelas kami si Jack Andy Ruhelman. Andy juga bisa jadi center yang handal, terutama bila si jangkung Bosse dijaga ketat lawan.
Gaya permainan saya memang tak cocok untuk Tim Sekolah. Saya point guard tapi lebih suka menembak dari jauh saja, shooter. Benar-benar hanya shooter, bukan slamdunkers. Karena badan saya tergolong kecil saat itu, dan saya juga berkacamata, saya memilih tidak menerobos pertahanan di bawah ring. Itu bukan bagian saya.
Saya beroperasi kebanyakan dari sisi kiri lapangan saat menyerang—atau sayap kanan lawan. Memang masih di area dua angka. Tapi dengan latihan shooting satu jam saja sehari, kami sudah menguasai dunia level kelas itu. Bayangkan bila kita berlatih 4 atau 5 jam sehari yaaa.
Tim 2A2.2 solid karena saling percaya meski tidak punya pemain bintang—Bosse, yang pernah jadi kawan sebangku saya, hehehe dan dia malasnya minta ampun, tidak dianggap bintang di 2A2.2 terutama karena ia sendiri minta demikian. Kami bermain kolektif. Kami bermain dengan komunikasi, saling berteriak di lapangan apa yang harus dilakukan di bawah komando kapten tim, Captain Jack.
Karena itu siapa saja bisa jadi pemain keempat atau kelima. Bahkan kami kerap bermain dengan Nisa, atau Sesanti Lestari sebagai guard. Yup, Nisa ini anak perempuan yang tomboy dan sangat atletis. Jangan coba-coba menantang Nisa kalau cuma modal nyali, hehehe. Sesanti Lestari, emmm, rasanya karena Jack naksir dia deh, hehehe.
Oh iya, lupa saya. Nisa masuk Tim Sekolah yang wanita. Saya dan Nisa bersepupu. Saya punya satu sepupu lagi di kelas sosial, Alfi, yang atlet semipro, seorang kiper andal untuk PS Angkatan Darat.
Paduan dari semua itu, kelas dua biologi atau 2A2.2, lalu 3A2.2, adalah pemegang hegemoni bolabasket SMAN 7 1990-1991. Kami sudah mengalahkan tim dari seluruh kelas yang ada saat itu, ditambah tim dari kelas-kelas di sekolah lain (yang ada di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3…). Kami berlatih (maksudnya bermain sesama kami) tiga atau empat kali seminggu dan bertanding serius (melawan tim kelas lain atau tim kelas dari sekolah lain) di hari Jumat atau di hari Minggu pagi dalam pertandingan home (di lapangan biru di sekolah kami) maupun away (di lapangan sekolah lawan atau pun di tempat netral).
Saat kami 3A2.2, anak-anak kelas satu pernah bergabung membuat sebuah dream team versi mereka untuk mengalahkan kami. Tapi sekali lagi, pengalaman bermain bersama hampir 2 tahun (saya dan Noviannor malah hampir 4 tahun), ketenangan, dan rasa humor, mengalahkan mereka.
Aduh, belum lagi pertandingan-pertandingan kami yang lain, cerita DASI majalah yang menghebohkan itu dan Maoelidhien Mohammad dan kru-nya yang militan, Sofi dan upacara bendera, Nana dan PMR, OSIS dan Franky yang ribet, A Jiaw dan dua kali kepanitiaan OPSPEK yang seru, perpustakaan, puasa Ramadan, guru-guru yang bersahaja tapi luar biasa, tukang kebun dan penjaga malam, pencok Adul dan bakso Ujang dan kantin sekolah oleh Paman Usup dan …
Hehehe, betapa engkau, my dear Day, membuat saya hidup dan terus bergerak meski dari kejauhan sana.
Dan itulah sedihnya bagi saya. Day tidak pernah muncul di sekolah yang luar biasa ini. Saya menunggu hingga hari terakhir pendaftaran ulang, bertanya kepada staf Tata Usaha (TU) yang membantu panitia pendaftaran.
“Tidak ada, pacarmu tidak mendaftar ulang di sini,” ledek Pak Nasrudin Susan–ups, dia bukan staf TU, dia bosnya.
Aduh, kemana Day?
Maafkanlah saya sobat, juga engkau, my beloved Day. Ini masih akhir 80-an dan baru awal 90-an. Ini juga Banjarmasin (walau ketika itu masih asri sekali). Belum ada ponsel. Telepon rumah pun baru ada di beberapa keluarga kaya. Day dan saya merenda kisah dan kasih dengan surat-surat yang kalau tak disampaikan sendiri, dititipkan teman terpercaya (yang semuanya teman dekat Day). Saya bahkan tidak tahu alamat persisnya rumah Day (untuk mengirim surat lewat pos) meski bisa mengira-ngira dimana rumah yang mendebarkan itu adanya.
Masalah sesungguhnya, saya bukan Dul, si AQJ yang di umur itu sudah memastikan dia punya pacar dan mampu mengantar pulang si doi dengan mobil mewah miliknya sendiri—meski dalam perjalanan pulang kembali ke rumah tak mampu mengendalikan mobil mewah itu dengan benar dan menjadi penyebab kecelakaan yang menewaskan 5 orang seketika dan seorang lagi di rumah sakit.
(Day menunjukkan pada saya lokasi kecelakaan yang menewaskan 6 orang tersebut ketika kami melewatinya di tol itu).
Well, hari itu saya masih anak tanggung umur 14 tahun yang penuh rasa minder dan keragu-raguan (terutama dalam urusan lawan jenis), yang dibesarkan Nenek yang gampang marah walau baik hati. Yang menyembunyikan diri dibalik catatan harian dan bekerja jadi loper koran.
Hari ini, saya memaafkan diri sendiri dan menyalahkan zaman kendati kata-kata what if, jika, seandainya, tak menolong.
Day menghilang, Juli 1990. ***