Month: November 2013

Karena Saya Bukan Dul

Posted on Updated on

    Saya menunggu-nunggu Day di sekolah kami, SMAN 7 yang tercinta, Juli 1990. Di papan pengumuman siswa baru yang diterima, dalam kertas buram yang distensil, namanya terpampang jelas: Day… 38,56.
    Angka di belakang namanya itu adalah besaran Nilai EBTANAS Murni (NEM), yaitu akumulasi dari 6 nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional untuk tingkat SMP: PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dalam penerimaan siswa baru saat itu, panitia mengurutkan mulai dari pendaftar dengan NEM tertinggi hingga NEM terendah dengan batas akhir daya tampung sekolah itu. SMAN 7 saat itu punya daya tampung 200 siswa baru setiap tahun untuk dibagi ke dalam 5 kelas satu—ketika itu sebutan untuk kelas terendah masih kelas satu (sekarang kelas sepuluh ya? Kelas X).
    Saya bangga. Nama Day berada di urutan duapuluhan. Meskipun NEM terendah di ujung sana, bila saya tak salah ingat, adalah 35. Rata-rata NEM siswa yang diterima adalah 37. Jadi, dia di atas rata-rata bukan.
    Hari itu, SMAN 7 Banjarmasin, yang sebelumnya bernama SMPP 28, Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (sekolah kejuruan apa itu ya) sudah menjadi sekolah favorit para orangtua dan idaman para siswa SMP. Hampir semua mereka berusaha memasukkan anaknya atau dirinya ke sekolah ini dengan berbagai cara.
    Yang menjadikannya favorit adalah prestasi sejumlah siswa dan guru di berbagai bidang lomba dan kegiatan pelajar di macam-macam tingkatan. Tahun-tahun itu, hampir setiap Senin, ada saja piala, atau trofi, atau piagam tanda prestasi dan kemenangan siapa dan tim apa saja dari SMAN 7 yang diumumkan setelah upacara bendera.
    Para guru kami di sini memang mendahului zamannya. Saat itu belum didukung ide bahwa justru di kegiatan ekstrakurikuler sering siswa menemukan jatidirinya dan melakukan hal positif yang disukainya—yang jadi bekal untuk jadi ‘orang’ kemudian.
    Di SMAN 7 tidak. Kendati tidak diwajibkan, juga meski kegiatan ekstra di situ ketika itu tidak sebanyak seperti di SMA Patra Dharma di Balikpapan sekarang (sampai 30 ekstrakurikuler, seingat saya, gile), oleh Pak Kepala Sekolah Pak Misera Gumberi (semoga Allah melapangkan kubur beliau dan mengampuni dosa-dosanya), yang menyapa kami dengan sebutan “Anda semua …” dan menganggap kami setara dengan dirinya seperti di sekolah-sekolah di Barat— setiap siswa di dorong untuk bergabung minimal dengan satu kegiatan ekstra.
    Saya menghabiskan dua tahun di sekolah ini untuk bermain dan serius di ekstrakurikuler: main basket, mengurusi koperasi sekolah, menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah paling terkenal, tetap nyambung jadi Pramuka, belajar lebih spesifik hal pertolongan pertama di Palang Merah Remaja (PMR), serta belajar main drum dan bass gitar—meski untuk dua keterampilan musik ini saya tak pernah tampil di depan lebih dari 10 orang.
    Karena banyaknya pemain basket di sekolah kami itu, saya sudah cukup puas jadi pemain inti di kelas kami saja. Pernah juga masuk daftar pemain SMAN 7 untuk sebuah partai ujicoba, sudah berkostum biru biru kuning itu dan siap di pinggir lapangan, tapi tak pernah diturunkan pelatih—Pak Rosehan, guru olahraga kami, hahaha.
    Pelatih suka pemain yang penuh aksi, dan 2A2.2 hanya punya satu pemain seperti itu. Adalah si Bosse Anugrah Yusran yang jangkung dan memang pindah dari SMAN 5 ke SMAN 7 murni karena ia jago basket.
    Memang, hanya Ade, panggilan Bosse, yang secara resmi masuk Tim Sekolah. Walau 2A2.2 masih punya Noviannor (iya bener, teman SMP yang mengenalkan Day itu) yang juga jago shooting—dan dia berani menerobos sampai bawah ring. Untuk tembakan 3 angka ada Ketua Kelas kami si Jack Andy Ruhelman. Andy juga bisa jadi center yang handal, terutama bila si jangkung Bosse dijaga ketat lawan.
    Gaya permainan saya memang tak cocok untuk Tim Sekolah. Saya point guard tapi lebih suka menembak dari jauh saja, shooter. Benar-benar hanya shooter, bukan slamdunkers. Karena badan saya tergolong kecil saat itu, dan saya juga berkacamata, saya memilih tidak menerobos pertahanan di bawah ring. Itu bukan bagian saya.
    Saya beroperasi kebanyakan dari sisi kiri lapangan saat menyerang—atau sayap kanan lawan. Memang masih di area dua angka. Tapi dengan latihan shooting satu jam saja sehari, kami sudah menguasai dunia level kelas itu. Bayangkan bila kita berlatih 4 atau 5 jam sehari yaaa.
    Tim 2A2.2 solid karena saling percaya meski tidak punya pemain bintang—Bosse, yang pernah jadi kawan sebangku saya, hehehe dan dia malasnya minta ampun, tidak dianggap bintang di 2A2.2 terutama karena ia sendiri minta demikian. Kami bermain kolektif. Kami bermain dengan komunikasi, saling berteriak di lapangan apa yang harus dilakukan di bawah komando kapten tim, Captain Jack.
    Karena itu siapa saja bisa jadi pemain keempat atau kelima. Bahkan kami kerap bermain dengan Nisa, atau Sesanti Lestari sebagai guard. Yup, Nisa ini anak perempuan yang tomboy dan sangat atletis. Jangan coba-coba menantang Nisa kalau cuma modal nyali, hehehe. Sesanti Lestari, emmm, rasanya karena Jack naksir dia deh, hehehe.
    Oh iya, lupa saya. Nisa masuk Tim Sekolah yang wanita. Saya dan Nisa bersepupu. Saya punya satu sepupu lagi di kelas sosial, Alfi, yang atlet semipro, seorang kiper andal untuk PS Angkatan Darat.
    Paduan dari semua itu, kelas dua biologi atau 2A2.2, lalu 3A2.2, adalah pemegang hegemoni bolabasket SMAN 7 1990-1991. Kami sudah mengalahkan tim dari seluruh kelas yang ada saat itu, ditambah tim dari kelas-kelas di sekolah lain (yang ada di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3…). Kami berlatih (maksudnya bermain sesama kami) tiga atau empat kali seminggu dan bertanding serius (melawan tim kelas lain atau tim kelas dari sekolah lain) di hari Jumat atau di hari Minggu pagi dalam pertandingan home (di lapangan biru di sekolah kami) maupun away (di lapangan sekolah lawan atau pun di tempat netral).
    Saat kami 3A2.2, anak-anak kelas satu pernah bergabung membuat sebuah dream team versi mereka untuk mengalahkan kami. Tapi sekali lagi, pengalaman bermain bersama hampir 2 tahun (saya dan Noviannor malah hampir 4 tahun), ketenangan, dan rasa humor, mengalahkan mereka.
    Aduh, belum lagi pertandingan-pertandingan kami yang lain, cerita DASI majalah yang menghebohkan itu dan Maoelidhien Mohammad dan kru-nya yang militan, Sofi dan upacara bendera, Nana dan PMR, OSIS dan Franky yang ribet, A Jiaw dan dua kali kepanitiaan OPSPEK yang seru, perpustakaan, puasa Ramadan, guru-guru yang bersahaja tapi luar biasa, tukang kebun dan penjaga malam, pencok Adul dan bakso Ujang dan kantin sekolah oleh Paman Usup dan …
    Hehehe, betapa engkau, my dear Day, membuat saya hidup dan terus bergerak meski dari kejauhan sana.
    Dan itulah sedihnya bagi saya. Day tidak pernah muncul di sekolah yang luar biasa ini. Saya menunggu hingga hari terakhir pendaftaran ulang, bertanya kepada staf Tata Usaha (TU) yang membantu panitia pendaftaran.
    “Tidak ada, pacarmu tidak mendaftar ulang di sini,” ledek Pak Nasrudin Susan–ups, dia bukan staf TU, dia bosnya.
    Aduh, kemana Day?
    Maafkanlah saya sobat, juga engkau, my beloved Day. Ini masih akhir 80-an dan baru awal 90-an. Ini juga Banjarmasin (walau ketika itu masih asri sekali). Belum ada ponsel. Telepon rumah pun baru ada di beberapa keluarga kaya. Day dan saya merenda kisah dan kasih dengan surat-surat yang kalau tak disampaikan sendiri, dititipkan teman terpercaya (yang semuanya teman dekat Day). Saya bahkan tidak tahu alamat persisnya rumah Day (untuk mengirim surat lewat pos) meski bisa mengira-ngira dimana rumah yang mendebarkan itu adanya.
    Masalah sesungguhnya, saya bukan Dul, si AQJ yang di umur itu sudah memastikan dia punya pacar dan mampu mengantar pulang si doi dengan mobil mewah miliknya sendiri—meski dalam perjalanan pulang kembali ke rumah tak mampu mengendalikan mobil mewah itu dengan benar dan menjadi penyebab kecelakaan yang menewaskan 5 orang seketika dan seorang lagi di rumah sakit.
    (Day menunjukkan pada saya lokasi kecelakaan yang menewaskan 6 orang tersebut ketika kami melewatinya di tol itu).
    Well, hari itu saya masih anak tanggung umur 14 tahun yang penuh rasa minder dan keragu-raguan (terutama dalam urusan lawan jenis), yang dibesarkan Nenek yang gampang marah walau baik hati. Yang menyembunyikan diri dibalik catatan harian dan bekerja jadi loper koran.
    Hari ini, saya memaafkan diri sendiri dan menyalahkan zaman kendati kata-kata what if, jika, seandainya, tak menolong.
    Day menghilang, Juli 1990. ***
  • Atas Nama Dia yang Maha Pengasih Lagi Penyayang

    Posted on Updated on

    Saya mau membuat cerita ini sedikit lebih rumit seperti di sinetron-sinetron kita. Biar asyik dan rada seru.  Bagaimana caranya?

    Oh gampang. Orang Indonesia adalah tukang bikin ruwet keadaan.  Saya tinggal mengubah, bisa menambah atau mengurangi status tokoh-tokoh dalam cerita ini.

    Dan inilah status yang paling hot: Day ternyata masih istri orang lain.

    Ehh…

    “Kamu pikir 25 tahun kita tidak bertemu saya duduk-duduk diam begitu?” kata Day. Seolah-olah sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.

    Oh tidak, tentu saja saya tidak mengira demikian. “Saya hanya tidak menyangka kita bertemu lagi,” kata  saya, seolah-olah memang sayalah yang menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.  

    Saya mengenal Day saat berusia 13 tahun, dan Day 12 tahun 7 bulan. Seorang kawan, yang kebetulan bernama Novi juga, laki-laki juga, mengenalkan kami. Novi yang ini (Noviannoor) teman sekelas saya di kelas dua di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin.

    Karena itu di kelas kami tersebut, sebab ada satu lagi yang bernama Novi (Novitasari, yak betul, doi perempuan), saya dipanggil sebagai ‘Snake’ untuk sedikit membedakan. Konon, kata yang memberi julukan, tampang saya mirip tokoh Snake dalam drama seri Different Strokes—hmm, ada Lisa Bonnet yang seksi juga di serial itu, kalau tak salah. Harap diingat, ini masih zaman kejayaan TVRI, sobat.

    Bagaimana cara Noviannoor mengenal Day, saya tak sempat tanya. Saya baru ingin menanyakannya sekarang. Nantilah kalau ketemu dia.

    Tapi, ah, bagian awal saya mengenal Day ini rumit, jadi kita lewati dulu ya. Sayang kalau diceritakan hanya menempel di cerita lain. Harus dalam judul sendiri.

    Jadi begitulah, Day menikah 16 tahun lalu. Suatu hari di tahun 1998 mungkin. Di tahun itu, dari Banjarmasin, saya bersama sejumlah teman di Kompas Borneo Universitas Lambung Mangkurat tengah keluyuran kemana saja di Indonesia untuk menjelajah hutan, mendaki gunung-gunung, merayap di kelam gua, memanjati tebing-tebing, dan berhari-hari berpanas-panas menyusuri sungai, baik dengan rakit bambu, jukung, atau perahu karet.

    Sebab itu, barangkali, saya pernah jadi korban rasisme oleh orang sebangsa sendiri.

    “Pak Novi orang Banjar ya?”

    “Ya Bu,” kata saya.

     “Tapi kok hitam ya?” Hitam? Maksudnya? Ah, si Snake yang di serial Different Strokes memang hitam.

    Kurang banjar, eh kurang ajar bukan. Bahasa Banjar saya lebih fasih daripada Si Ibu berkerudung ala punuk unta itu. Pengetahuan adat istiadat, seni budaya, geografis, sosial, …hahahaha, termasuk ini, sifat-sifat jelek orang Banjar yang tinggi hati dan suka berlagak, saya jelas lebih daripada dia.

    Lebih-lebih lagi, saya lahir dan besar di Banjarmasin, kota pusat kebudayaan Banjar. Si Ibu itu jelas-jelas pegang KTP Samarinda. Di mana sih, Samarinda dalam peta budaya Banjar? Hehehe…

    Hanya karena dia berwarna lebih terang daripada saya, maka dia lebih Banjar daripada saya? Ah sudahlah.

    Nah, senior-senior kami di Kompas Borneo Unlam itu lebih hebat lagi. Mereka berteman dengan Norman Edwin, idola saya untuk urusan petualangan dan kewartawanan. Mereka pelopor yang membuat dinding panjat pertama di Kalimantan di awal tahun 80-an.

    Mereka juga berteman dengan Effendi Soleiman yang gemar bertualang di laut sendirian. Effendi sukses mengompori mereka bikin adventure menyeberangi Selat Makassar, lautan sedalam 7.000 meter dengan perahu selebar 50 cm dan panjang 500 cm selama 5 hari, dari sebuah desa bernama Mekar Putih di Kotabaru, Kalimantan Selatan, menuju Pare-pare di Sulawesi Selatan.

    Kami kemudian turun ke jalan ikut berdemonstrasi minta Presiden Soeharto mundur.

    Nah, siapa yang memikirkan pernikahan saat itu? Bertemu dengan yang mau dinikahi pun belum. Kalau pacar sih banyak. Ada Ida yang manis semanis kue kacang di Kopma, ada Ira (yang saya panggil ‘aira’ mengikuti pelafalan nama itu dalam Bahasa Inggris. Si Aira ini kawan membolos di perpustakaan sekampus sejurusan saya dan kawan cas cis cus Bahasa Inggris yang asyik.  Ada Yuli yang diam-diam menghanyutkan, ada Arrie, ada Lydia, Ida lagi—yang ini gadis yang luar biasa, tabah hingga akhir, tetap senyum ceria meski divonis kena kanker payudara—sedih. Untuk Ida yang ini saya suka menghadiahkan bandana—untuk rambutnya yang perlahan rontok karena kemoterapi.  

    Siapa lagi, yaa, hmmm, ada  Yuli lagi. Yuli yang kedua ini layak dikisahkan dalam sebuah cerpen yang romantis religius, sobat. Saya kembali berjanji untuk bercerita dalam bab lain secara khusus ya.

    Mungkin Neng juga. Ada yang karena memang namanya Neng, ada yang di rumah oleh mamanya dipanggil Neng (cerita Neng yang oleh mamanya dipanggil Neng ini, ehem—ini kisah mengharu biru sepanjang 2001 yang membuat saya bertualang dari Banjarmasin, Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, hingga Kuala Lumpur, dan Day dengan bijaksana mengizinkan saya yang sableng ini menuturkan kisahnya kapan-kapan).

    Dan, ada seseorang lagi yang luar biasa juga, yang, akhirnya dengan penuh kebesaran jiwa melepaskan saya yang brengsek ini. Bersama dia, Tuhan yang maha pemurah mengizinkan saya menjadi ayah dari  tiga anak perempuan yang cantik-cantik dan hebat-hebat.

    Ada pula beberapa yang namanya tak bisa saya sebut di sini terang-terangan karena beragam alasan.

    Yahh, hampir semua petualang adalah playboy cap duren atau cap gayung bocor.

    “Apa boleh buat, kalau tidak karena mereka, mungkin saya akan bertemu orang yang berbeda,” kata Day. Emm, makasih ya sayang. I love you.

    Cewek-cewek itu—satu-satu, tentu bukan berendeng-rendeng pada saat yang sama—mereka mau saja jalan bareng saya, merunduk-runduk di antara rak-rak buku di perpustakaan dan bicara dengan berbisik-bisik, minum es krim (atau makan es krim?), makan bakso dan bubur ayam, tertawa dan tegang bersama di amphiteater Taman Budaya atau Gedung Sultan Suriansyah menonton kawan-kawan seniman berakting atau mengapresiasi pameran lukisan, menghadiri festival tari tradisional atau tari kreasi, juga pembacaan puisi.

    Kadang menunggui saya latihan panjat tebing, bercakap-cakap dengan istri coach Mundari Karya,  pelatih Barito Putra saat itu, sementara saya mewawancarai suaminya, atau sekalian ikut ke Stadion 17 Mei menonton Barito menggasak Arema 4-1 dan minta dikenalin dengan Sunar Sulaiman, bek Barito yang ganteng bak Paolo Maldini, kapten AC Milan dan Italia sampai pertengahan dekade pertama 2000.

    Tapi menikah? Dengan Novi lagi, yang item itu? Waaaahhhh….(Hanya gadis yang penuh kebesaran jiwa itulah yang mau saat itu).

    Saat itulah, di Jakarta,  Day yang sudah berusia 23 tahun (artinya 10 tahun kemudian) memutuskan menerima pinangan seorang lelaki yang semula mengaku menaksir teman sekostnya sesama sales dealer motor.   

    “Mungkin sudah jodoh,” kata Day. Meski ayah Day, yang juga jurnalis, mempertanyakan keputusan anak bungsunya itu, mereka jadi menikah. Ia pun menjalani hidup sebagai seorang nyonya, hamil 5 kali, dan memelihara anak-anaknya.

    “Dua anakku meninggal. Satu ketika masih balita karena kelainan jantung. Satu lagi di dalam kandungan karena virus…” tuturnya sambil menghembuskan asap rokok mentol. Mengapa perempuan suka merokok mentol?  

    “Karena itu kamu tak bisa hamil lagi?”  tanya saya. Betapa hebatnya perempuan. Day yang mungil ini bisa hamil sampai 5 kali? Subhanallah.

    Bukan tak bisa hamil lagi, koreksinya, tapi risikonya jadi berlipat-lipat. Apakah saya mau mengambil risiko kehilangan lagi?

    Jawaban saya hari ini: tidak. Haruskah menghadirkan kehidupan di dunia ini dengan mengikhlaskan kehidupan yang lain pergi. Sama sekali tak harus. Meski tidak seorang pun tahu siapa mati terlebih dahulu. Belum tahu kalau nanti ada teknologi kesehatan baru yang bisa meminimalkan risiko tersebut. Itu dapat dibicarakan nanti.

    Jadi begitulah ceritanya hari ini. Saya menjalin hati dan membangun harapan dengan perempuan yang masih terikat secara hukum (tapi sudah kehilangan jalinan hati dan tak punya harapan lagi) pada lelaki lain.

    Sebuah petualangan, sudah pasti.

    Yang menarik dari petualangan, saudara-saudara, adalah kita bisa saja merencanakan, membuat, memperkirakan segala sesuatunya dari awal sampai akhir, tapi ketidakpastian selalu membayangi sepanjang jalan.

    Petualangan membuat orang menyadari batas-batas dirinya dan ujung-ujung kemampuannya, kelemahan sekaligus kehebatannya, kekonyolan selain kebijaksanaannya. Termasuk kewarasan dan kegilaannya.

    Seminggu setelah Metallica datang dan konser di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Day bertanya pada saya yang sedang memandang bulan di Pulau Derawan, “Mau menunggu saya sampai kapan?”

    “Saya tunggu selama diperlukan,” kata saya gagah. Azan subuh menggema dari musala dekat cottage. Saya gila dengan penuh kebijaksanaan.

    “Baiklah, bismillah ya…”

    “Yup, bismillah.”

    Bismillahirahmannirrahim. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Kami berdua berjanji untuk sebuah hari di 2014. Day meminta saya menunggu dia menyelesaikan urusan-urusan ikatan hukum. Saya pun melihat kami menghadapi tembok tinggi dan tebal, dan di balik tembok itu masih ada jalan yang terjal dan berliku-liku.

    Sebuah petualangan baru dimulai. Saya berharap yang terbaik sambil mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Hari-hari baru-bersama  Day, new days with Day, dan hari yang lebih baik selalu layak diperjuangkan.

    Bismillah.***