Cinta Dalam Setumpuk Buku

Posted on Updated on

Haruskah saya minta maaf karena menulis soal cinta lagi? Mas Rudi Gunawan bilang, tulisan hal cinta mencintai memang bisa mengharu biru, tapi banyak sekali yang menulis soal itu.

“Bejibun. Coba lihat di Gramedia atau toko buku lain,” katanya.

Di situ memang berderet-deret, bertumpuk-tumpuk novel-novel cinta, baik cinta remaja maupun cinta orang dewasa. Ada yang memuja pergaulan bebas, ada yang memoles dengan latar religi, ada yang bingung mau cinta seperti apa.

FX Rudi Gunawan sendiri menulis soal seks. Dulu ia punya kolom sendiri di majalah Jakarta Jakarta—majalah yang pemrednya Seno Gumira Ajidarma dan sudah dibunuh pemerintah. Saya tidak membaca kolom itu, tapi membaca kumpulan tulisannya yang dibukukan. Salah satu bukunya, di tahun 2002, kalau tak salah, saya beli patungan dengan Mahmud, kawan yang kutu buku tapi tanpa kacamata—demonstran tapi tak turun ke jalan.

Bukan karena uang kami kurang, sobat. Tapi karena bukunya, kebetulan, tinggal satu itu. Kami sepakat memilikinya bersama. Mahmud yang pertama membacanya, baru kemudian saya. Setelah itu kami sumbangkan.

Itulah, sepanjang ingatan saya, pertama kali saya memberikan buku kepada orang lain. Buku barang yang saya cintai selalu. Buku-buku saya adalah privasi saya, sehingga jangankan memberikan, meminjamkan buku saja saya hampir tak pernah. Bila ada teman yang ingin meminjam buku, perempuan sekali pun, yang cantiknya masya Allah, tetap saja tak bisa dari saya. Saya lebih suka menggeret dia ke perpustakaan, menguruskan keanggotaannya, dan silakan dia meminjam dari perpustakaan.

Hanya kepada Day saya meminjamkan buku. Itu pun dia harus mengembalikan dengan bunganya—yaitu minimal dengan selarik puisi.

Yang saya tarik ke perpustakaan itu diantaranya si Neng di suatu masa di antara 25 tahun saya kehilangan Day.

Kadang-kadang buku-buku saya dipinjam tanpa sepengetahuan saya. Biasanya satu dua buku yang saya bawa ke Sekretariat  kami di kampus, tempat dimana kita suka berkumpul hingga jauh malam dan akhirnya menginap.

Segera setelah sadar buku saya tak ada, saya menginterogasi semua orang dan memasang pengumuman di papan tulis putih besar (whiteboard) di dinding utama Sekretariat.

“Dicari, buku Catatan Pinggir 3, oleh Goenawan Mohammad, sampul hitam, punya Novi 302.Adri”

Si peminjam, setelah beberapa hari tak ada yang mengaku meminjam ataupun melihat, kemudia pasang pengumuman juga:

“Nov, trims bukunya, sudah saya balikin di loker kamu.”

Di bawah pengumuman dia, saya tulis ucapan terimakasih. “Terimakasih Windy.”

Hehehe, saya ada saja punya intelijen. Lagipula, meski di kalangan mahasiswa sekali pun, sementara ini tak terlalu sulit menduga siapa yang membawa buku kita tanpa izin.

Yang diperlukan, kata Hercule Poirot, adalah duduk sebentar dan biarkan sel-sel kelabu di dalam otak bekerja.

Fakta yang menyedihkan karena sebagian besar mahasiswa kita tetap saja tak doyan membaca. Itu membuat saya mudah menebak, hanya yang suka membaca juga yang meminjam buku saya.

Baru setahun ini lagi saya mulai suka memberi buku. Hari-hari ini masih sebagai suvenir atau tukar-menukar cenderamata. Bukan kebetulan selalu pas momennya.

Mei lalu, misalnya, saya membeli The Hobbit, bukunya JRR Tolkien yang dipajang di depan kasir Gramedia. Beberapa hari kemudian, saya berkesempatan mengunjungi Huliwa, Hutan Lindung Wehea.

The Hobbit bercerita tentang petualangan Bilbo Baggins di dalam Hutan dan bagaimana mereka membunuh Naga Smaug yang suka menumpuk harta. Saya membaca sepertiga terakhir buku itu di Wehea. Di Kampung Nehas Liah Bing di sela keriuhan festival Lomplai, dan satu bab terakhir di Stasiun Riset di tengah hutan di malam hari menjelang tidur.

Saya memberikan The Hobbit untuk Yatim, ranger yang menemani saya keluyuran di jalan-jalan setapak hutan sepanjang siang.

Yatim mengingatkan saya pada Strider, penjaga hutan yang berpatroli diantara Rivendell dan Shire dalam Lord of the Rings. Sayang tak ada Strider dalam The Hobbit, yang adalah pre-quel, cerita yang setting terjadinya sebelum kisah-kisah epik Lord of the Rings.

Kesadaran untuk berbagi dalam bentuk buku ini, untuk saya karena dicontohkan Iwan Piliang.  Bang Iwan Piliang ini suka memberi buku, yaitu buku yang sudah selesai dibacanya.

“Saya tidak terlalu punya waktu untuk mengurus buku-buku sekarang,” katanya. Jadi bila bukan buku referensi, buku rujukan, dengan segera si buku akan punya pemilik baru.

Andy F Noya, pembawa acara Kick Andy di MetroTV juga suka membagi-bagikan buku. Dengan kapasitasnya, ia dibantu penerbit buku atau penulis buku yang dibagikannya.

Seperti juga berbagi uang, memberi buku juga luar biasa. Apalagi memberi buku yang kiranya bermanfaat untuk mengubah isi kepala orang. Saya sendiri sering diberi buku dan sebagian buku itu juga mengubah cara saya memandang dunia.

Meski begitu, saya tetap saja menganggap buku privat. Saya memberikan buku yang sudah saya baca, tapi kemudian membeli lagi buku yang sama untuk disimpan.

Sepulang dari Wehea, saya membeli lagi The Hobbit, yang kali ini dibuka sampul plastiknya pun tidak.

Atau saya beli dua sekaligus (kalau lagi banyak uang, tentu—atau pas lagi ada diskon besar-besaran), dan satunya untuk diberikan.

Jadi, apa soal cintanya, Nov?

Saya jadi ingat ayah saya. Seperti orang Sunda, kami orang Banjar memanggil orangtua laki-laki dengan sebutan Abah.

Abah seorang guru, ia kemudian menjadi kepala sekolah. Salah satu yang pertama diberesinya ketika pertama kali menjadi kepala sekolah SD Arjuna di awal tahun 80-an itu adalah perpustakaan.

(Emm, sekolah ini tak jauh letaknya dari rumah masa kecil Day—jangan-jangan saya pernah bertemu dia saat kami masih imut begitu yaa.

“Mungkin. Tapi Ka Ida yang sekolah di situ pas tahun-tahun itu,” kata Day. Oh…I love you, really.)

Sekali-sekali saya ikut ke sekolah tempat kerja Abah. Oleh-oleh dari sekolah adalah sebungkus sate ayam yang lezat dan setumpuk buku untuk dibaca selama seminggu. Pun kalau saya tak sempat, Abah dengan senang hati membawakan setumpuk buku itu. Bukunya diikat tali rafia dan digantung di setang sepedanya, sebuah sepeda Phoenix warna hijau lumut.

Abah menumbuhkan kecintaan saya—adik-adik saya juga, kepada buku—hehe, mungkin awal cinta saya kepada Day juga.

Sekarang ia sudah pensiun. Masih suka membaca, suka mengaji, dan masih suka geleng-geleng kepala melihat kelakuan dan kebijakan pemerintah. Karena itu, dulu, sebelum keadaan menjadi sebebas sekarang, di tahun 80-an itu ia suka mendengarkan siaran radio gelombang pendek.

“Ini Radio Australia di Melbourne,”  katanya pada pukul 06.00 pagi, setelah kami mendengarkan siaran ceramah agama Islam oleh Ustaz Rafii Hamdie dari Radio Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Pada kesempatan lain ia menghadirkan BBC London dan kami sama-sama mendengarkan dentang lonceng Big Ben yang legendaris itu sebelum ia siap-siap berangkat kerja.

Kadang-kadang kami menangkap siaran Voice of America (VOA) dan Radio Belanda dari Hilversum untuk mendengarkan suara empuk Hilmar Farid.

“Abah PNS, tidak banyak yang Abah bisa lakukan karena berada di dalam sistem. Tapi Abah sebagai guru ingin kau tahu bahwa sudut pandang itu tidak milik satu orang atau satu rezim saja,” katanya.

Sore-sore, kami boleh menyetel tangga lagu rock yang digelegarkan Radio Ashbone (bacanya ‘asbun’, hahaha, itu singkatan dari ‘asal bunyi’) di 102.3 FM. Saya pun mulai memanjangkan rambut.

Tapi ia juga mengajak mendengarkan RRI, yang di Banjarmasin adalah RRI Nusantara 3, lalu kemudian menjadi RRI Banjarmasin saja. Penyiar hebat TVRI Sazly Rais pernah menjadi kepala stasiun di sini. Teman saya si Gorys juga bekerja di sini sambil kuliah.

Kami mendengarkan RRI sepulang sekolah. Setiap Sabtu pada pukul 13.30 ada acara Batanding Kesah yang dibawakan Ajamuddin Tifani. Ini acara yang seru—nanti saya cerita spesial deh.

Abah kami memerdekakan kami mulai dari cari berpikir sampai cara melihat persoalan. Bersama Mama, mereka memberi pilihan, bukan memaksakan pilihan. Ia suka mengutip apa yang dikatakan Muhammaad SAW, bahwa anak-anak memiliki zamannya sendiri.

Ia pun tahu kami selalu tidak puas pada pemerintah, baik sebelum reformasi maupun sesudah reformasi saat ini.

“Keadaan yang lebih baik itu harus diperjuangkan. Tugas kalian sekarang memperjuangkan itu,” nasihatnya.

Saya pun menjadi jurnalis. Adik-adik saya menjadi guru seperti kedua orangtua kami. Kami rupanya punya garis yang sama, tidak tertarik pada membuat perubahan langsung dengan aktif di politik, misalnya, tapi suka mengabarkan dan memberi pilihan-pilihan dengan harapan yang terbaik. ***

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan!

Tinggalkan komentar