#rinjani #puncak rinjani #sembalun
Apel, Pisang, dan Kelapa

Ke Rinjani orang juga beritual. Mereka meletakkan sesajen di puncak gunung itu. Oh ini bagian ketiga, Saudara.
Ketika akhirnya terbangun, arloji saya menunjukkan pukul 04.30 dinihari. Saya sudah terlambat untuk menikmati panorama matahari terbit dari puncak Rinjani. Tapi, sungguh, tak ada penyesalan apa pun. Saya kecapekan, dan tidak ada yang menyalahkan orang yang kelelahan.
Meski begitu, saya tidak punya waktu lain selain hari ini untuk menyelesaikan target perjalanan ini. Maka saya bergegas berpakaian, salat subuh, dan sarapan. Makan pagi sebelum berangkat itu adalah hampir setengah kaleng kornet 200 gram, vitamin, dan air putih. Saya memasukkan ke dalam ransel persediaan air, roti tawar, cokelat, selai, kamera, madu, dan gulungan tisu. Ringan sekali bila dibandingkan carrier dan seluruh isinya.
Ketika keluar tenda, angin dingin langsung menyambar. Langit di kiri saya merah jingga dengan latar depan siluet lereng Rinjani. Sampai 20 menit pertama saya tak pergi kemana pun selain memotret pagi dari Plawangan Sembalun itu. Mulai dengan DSLR, lalu lebih banyak lagi dengan Zenfone 6.
Saat hari terang tanah pukul setengah enam lewat, barulah saya memulai langkah ke puncak. Saya masih sempat menambah bekal air dari botol air porter yang tersedia di depan tendanya.
Tanpa beban, langkah saya ringan dan cepat. Bertegur sapa pagi dengan dua perempuan bule di dekat pohon tumbang, juga dua pendaki kulit hitam di dekat mata air. Saya juga meluangkan waktu untuk memotret apa saja yang menarik hati dan mata.

Medan pertama menuju puncak adalah saluran pasir yang gembur. Tapi karena melewatinya saat hari sudah terang, saya jadi punya banyak pilihan. Saya naik ke bagian sisi setiap saluran pasir itu, dan bisa menambah ketinggian dengan cepat tanpa harus merosot setiap kali melangkah.
Pukul setengah delapan saya melewati pohon tumbang yang melintang di jalan. Pohon itu menjadi semacam gerbang dan penanda berakhirnya medan pasir gembur dan tanjakan terjal. Saya tiba di ujung gigir Rinjani.
Pemandangan Segara Anak yang hijau dengan vulkan Barujari membentang di bawah sana. Semua orang yang turun menyempatkan diri berhenti di situ, mengambil foto, bertegur sapa. Saya bertemu lagi dengan para pemuda Jerman.
“Setimpal dengan capeknya,” kata Peter yang paling jangkung diantara semua yang jangkung itu.
Ada pasangan Kanada yang sedang berbahagia, Emerson dan pacarnya. Ada Romain, pemuda Prancis yang sendirian seperti saya.

Selain Kenshin, pemandu dari Senaru, saya tak bertemu seorang pun pendaki Indonesia. Sebagian besar yang turun, semua bule, dan sudah bertemu saya di saluran pasir. Para pendaki Jerman berkata bahwa di belakang mereka ada satu rombongan lagi. Cara Chris bercerita seolah-olah puncak itu dekat sekali—yang membuat saya bersemangat. Fakta Chris membagi separo air yang dibawanya untuk saya dan berkata, “You will need that,” tak terlalu saya perhatikan.

Menjelang pukul delapan pagi, saya melanjutkan perjalanan naik. Di kiri adalah lereng yang mulus sehingga batu bisa menggelundung hingga ke dasar, di kanan, kawah dan Segara Anak, dimana batu bukan menggelundung bila jatuh, tapi langsung nyemplung dan lenyap di dasar danau. Edelweiss dan cemara tumbuh bergerumbul hingga ketinggian 2.900, lalu menyebar satu-satu sampai 3.500 m.
Romain adalah orang terakhir bertemu saya sampai 3 jam berikutnya. Semakin tinggi, jalan semakin gembur, dan semakin berat langkah. Ketinggian dan udara tipis membuat pendaki ngos-ngosan.
Saya menyebutnya pola 1-1. Sekali tarik napas, sekali buang. Napas yang ditarik bukan napas panjang, tapi pendek dan cepat. Oksigen harus diambil secepatnya dan karbon dioksida harus dibuang secepatnya. Pada saya di ketinggian itu, napas pendek namun cepat lebih diterima tubuh ketimbang satu napas panjang
Walau demikian, saya menikmati perjalanan ke puncak ini. Bila merasa harus berhenti, saya berhenti, mengambil dan mengatur napas. Sambil demikian, saya melihat pemandangan. Matahari terik, tapi tak terasa. Saya tetap mengenakan jaket dan sarung tangan. Sementara awan hanya menaungi puncak Rinjani.
Bahkan, menjelang pukul 11 itu, saya sakit perut. Tidak ada tempat sembunyi yang nyaman untuk buang hajat, tapi ini ketinggian 3.400 meter dan saya sudah tak bertemu orang lain sejak berjam-jam yang lalu.
Repot juga, mulai dari melepas sepatu, baru tiga lapis celana, dan nongkrong di tepi jalan. Untung saya selalu bawa segulung tisu. Saya harap serumpun edelweiss dekat situ menerima anugerah pupuk alami itu dengan bahagia.
Setelahnya saya merasa badan menjadi ringan dan plong. Ditambah energi seruas cokelat dan beberapa teguk air saya maju lebih cepat. Saya segera tiba di batas pasir-kerikil bertemu dengan kerakal, batu-batu sebesar kepalan tangan yang terhampar memenuhi jalan. Tanjakan makin terjal. Dari sini, terlihat seolah ada dua puncak di atas sana.
Pukul setengah dua belas, saya bertemu Pim dan Rianne di tengah medan kerakal. Pasangan Belanda ini ditemani pemandunya, yang mengenakan penutup muka dan kacamata, dan tak berbicara.

“Where is your team?” tanya Rianne menatap saya.
“He is all the team,” Pim menjawabkan untuk saya..
“Where is your walking stick,” tanya Rianne lagi. Dengan tongkat, berjalan di gunung memang akan lebih mudah. Saya selalu meniatkan diri untuk beli tongkat khusus itu, tapi belum pernah mewujudkannya.
“I have these two arms and legs. If I have to crawl, I will,” saya menjawab sendiri seraya tersenyum lebar.
Menurut Pim, ada satu rombongan di belakang mereka, dan saya bilang tak ada seorang pun di belakang saya.
“Good luck Novi,” kata Pim bersungguh-sungguh. Orang yang sendirian hanya punya dirinya sendiri untuk menyemangati diri. Karena itu mereka tak boleh berputus asa dan kehilangan harapan. Pim menambah persediaan bahan bakar semangat saya.
“Terimakasih, bro,” kata saya. Kami berpelukan dalam persaudaraan gunung dan alam. Itu hanya perkenalan lima menit, tapi saya merasa mendapat perhatian dari seorang sahabat seumur hidup.
***
Saya bertemu rombongan terakhir itu di ketinggian 3.500. Empat pemuda Indonesia yang bertegur sapa seperlunya. Mungkin karena lelah, mungkin juga sibuk mengatur napas. Saya tak melihat apakah mereka membalas senyum saya atau tidak karena semua mengenakan masker penutup mulut.

Sekarang saya benar-benar sendirian. Medan kerakal itu seakan tak habis-habis. Sekali lagi saya menjalankan taktik ini, membuat target-target pendek, dan mencegah diri sering-sering melihat puncak harapan itu.
Target pendek itu adalah jarak yang saya targetkan harus dicapai dalam beberapa tarikan napas dan perhentian. Target itu bisa batu unik 10 meter di depan, rumpun edelweiss 15 meter berikutnya, hingga batu besar di atas sana, 100 meter dari tempat saya berdiri membuat target-target itu.
Saya mengulang proses itu. Menarik napas pendek dan cepat, lalu berjalan 7-10 langkah, berhenti lebih kurang 30 detik untuk mengatur napas lagi.
Pukul 12.15, saya sampai di dinding batu yang seakan menutup jalan. Warnanya kuning dengan merah tua di bagian bawah. Di ujung awal dinding, jalan berbelok ke kanan. Tanjakan habis. Seratus meter terakhir yang mudah itu saya tempuh dalam 5 menit. Lalu di bagian ketika tak ada lagi arah selain turun, saya berdiri dalam keheningan di atas hamparan batu-batu yang juga berwarna kuning dan merah, dalam selimut awan putih, di ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut.
***

Saya mengucapkan selamat kepada diri sendiri. Ini tepat waktu salat Jumat. Saya duduk dan istirahat di ujung lahan kecil berbatu seluas setengah lapangan bulutangkis itu, dimana ada sebuah plakat dari alumunium bertuliskan puncak dan ketinggian Rinjani. Tampaknya ada klub sepeda dari Bandung yang menyumbangkan plakat itu.
“Hebat juga, sepedaan sampai sini,” kata saya dalam hati, sambil mengunyah apel malang yang berwarna hijau.
Dari mana saya dapat apel, padahal tak membawa buah itu dari bawah, adalah atas kemurahan Tuhan dan ummatnya. Sehari sebelum ini, saya yakin begitu, seseorang yang saleh, juga kuat dan punya tekat luar biasa, dan punya kelebihan harta, mengantar sebuah apel, beberapa pisang, sebutir telur, dan sebutir kelapa bulat yang masih dalam tempurung utuh. Orang itu juga memasang dupa, yang membuat lingkungan setengah lapangan bulutangkis itu berbau wangi.
Saya makan sesajen itu dengan bismillah. Dimulai dari apel, lalu pisang, dan terakhir kelapa. Apel yang hijau sebesar bola tenis itu terasa kesat di lidah, tapi menenangkan perut. Pisangnya manis karena matang sempurna. Saya harus berjuang sedikit dengan kelapa. Tempurung saya lubangi dengan pisau lipat. Dari lubang itu, saya bisa minum air kelapa yang menyegarkan, manis asam elektrolit murni sebanyak seperempat liter. Setelah itu, saya memecahkan tempurung dan mendapatkan daging kelapa yang putih dan tebal—namun sungguh diperlukan tenaga rupanya untuk menyantapnya.
Saya cukupkan kelapa itu setelah menghabiskan sepertiganya. Saya tinggalkan telur untuk seseorang yang boleh jadi juga lapar yang akan mencapai puncak ini besok dinihari.
Saya menggabungkan salat dan menjadikan plakat alumunium itu sebagai tempat sujud. Angin lalu menguak awan sedikit, memberi pemandangan di sisi timur Rinjani, lereng cokelat muda yang terjal dan lapangan pasir tanpa vegetasi.
Pukul setengah dua, air minum saya tersisa kurang dari seperempat botol. Ditambah madu dan perut kenyang, itu bekal saya kembali ke ketinggian 2.700 meter.
***
Awan-awan menemani saya turun. Sesekali mereka begitu tebalnya sehingga saya hanya bisa melihat jalan satu dua meter ke depan.
Awan-awan juga membawa hujan. Saya menadahkan mulut dan mencecap air langsung dari langit. Tenggorokan yang serak karena debu dan lekat oleh madu mendapatkan obatnya.
Perjalanan turun, seperti selalu saya alami, berlangsung cepat. Saya melewati batu-batu besar yang digrafiti, jalan setapak kerakal, kerikil dan pasir, dan akhirnya pasir hitam dan abu-abu yang gembur. Ada perasaan tidak percaya bahwa beberapa jam sebelumnya saya melewati jalan yang sama.
Pukul empat sore, saya bertemu lagi dengan pohon tumbang gerbang lereng itu. Pohon dan daun-daun, juga edelweiss di sekitarnya terlihat basah dan segar. Debu diikat air dan saya meluncur turun dengan hanya meninggalkan jejak di pasir. Segera pula saya tiba di lorong sempit dan curam tempat awal dan akhir jalan pasir, jembatan beton di atas jurang lahar, dan hupp, ujung perkampungan tenda-tenda. Baru saya tahu lokasi mata air itu. Turun sedikit ke lembah di bawah itu dari pertigaan ini rupanya.
Ujung tanjakan ini sungguh ramai oleh para pendaki yang baru datang. Ini kampung internasional. Saya mendengar dialek Inggris-British, suara cempreng seseorang dalam Bahasa Mandarin, logat Sasak yang lucu, mungkin Prancis, dan Belanda-Jerman juga.
Meski berhenti untuk melepas sepatu dan membuang pasir dari dalamnya, saya sudah lelah untuk bersosialisasi. Hanya senyum saja dan sedikit bangga, I was there, you know, on top of Rinjani, all alone.
Seorang porter membawa banyak botol berisi air minum dalam keranjang. Ia baru kembali dari mata air. Saya berbicara padanya, dan Anto setuju menjual 5 botol untuk saya.
Saya tiba di tenda saya lagi tepat pukul setengah lima dan disambut hujan lebat. Ridho dan Arif memasak makan malam dan mereka mengundang saya makan di tenda hijau mereka. Indomie Soto Banjar Limau Kuit saya agak kebanyakan air, tapi tak apa. Ini makanan hangat dan nyaman di perut.

Kami masih sempat menyaksikan senja merah setelah hujan berhenti. Saya segera kembali ke tenda saya sendiri dan berganti pakaian. Masih punya tenaga untuk merapikan tenda, merebus air, dan membuat kopi.
Sudah lama kopi tidak memiliki hubungan lagi dengan kapan saya mau tidur. Jadi, begitu segelas Nescafe itu habis, saya merebahkan diri dan segera terlelap.
***