Offroad
Laskar Pelangi di Batas Negeri

Ini reblog dari kisah Cerita Sungai, Merah Putih, Rumput Hijau, dan Langit Biru yang panjangnya bikis stress itu, hehehe. Saya tampilkan lagi dengan tambahan banyak foto dan cerita panjangnya dibagi dalam empat tampilan. Ini yang pertama.
Dengan suara yang ramai dan melengking nyaring, lagu Indonesia Raya dinyanyikan para murid yang mungil, berseragam putih merah, dan berbaris berjajar di depan kelasnya di Kamis pagi di akhir Oktober. Suara mereka tak kompak, tapi lantang dan penuh semangat.
Rombongan Indonesia 4X4 Expedition to Border yang baru tiba sesaat sebelumnya pun berdiri tegak di samping mobil masing-masing. Sedemikian rupa mobil disusun hingga berderet rapi di halaman sekolah yang luas, halaman yang bertanah merah dan berpasir putih.
Mat Ali Chandra dari Kalimantan Barat yang mengemudi Suzuki Vitara berkode Expedition to Border (EB) 10, tak terasa menggerakkan bibir dan ikut bernyanyi. Suara berat Bang Ali menjadi latar dari nyaring suara 60-an murid-murid sekolahan di Kecamatan Simenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tersebut.
Reza Kamal, dokter kandungan yang menjulang setinggi hampir 190 cm dari Jawa Barat di mobil Toyota Land Cruiser HJ 60 yang kalau bercanda gak ketulungan pun bisa serius. Reza berdiri tegak di samping mobilnya dan ikut menyanyi.
Setelah Indonesia Raya, dinyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku, lagu penuh semangat ciptaan Ibu Sud.
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa
Tak gentar hatiku melawan rintangan, tak goyah jiwaku berkorban, …
Inilah SD Filial 01 Tabur Lestari. Hanya ada 4 kelas di sini, kelas satu sampai kelas empat. Setiap kelas punya murid 12-15 orang. Setiap dua atau tiga orang, mereka berbagi satu meja dan satu bangku panjang.

“Sementara gedungnya ya begini, semoga gedung yang sedang dibangun di sebelah cepat selesai,” kata Bu Rahmi, guru kelas satu (yang juga guru kelas dua, kelas tiga, dan kelas empat sekaligus).
“Yah sedikit lebih baik daripada SD Muhammadiyah di film Laskar Pelangi,” tambah Rahmi seraya tersenyum. Bu Rahmi bersama anak-anak sudah menonton film yang menggelorakan semangat itu lewat dvd.
Seperti Pak Guru Basri yang mengundurkan diri dan setengah kabur dari SD Muhammadiyah di film itu, di Tabur Lestari, masalahnya bukan gedung sekolah atau siswa yang tak sekolah, tapi guru yang tidak betah.
“Setidak-tidaknya, sekolah ini tidak dijadikan kandang kambing,” komentar Bekti Sugiri, driver EB 11 dari Kalimantan Barat yang memang bermulut cabai. Di cerita dan film Laskar Pelangi, sekolah Ikal dan Lintang memang jadi kandang kambing, terutama bila hari hujan.
Gedung yang ditempat sekarang dibangun dari papan-papan kayu dengan atap seng. Lantainya dari semen yang dicor. Kelas-kelas dibuat dengan membuat dinding penyekat ruangan dari kayu yang kasar tak diserut. Keributan dari kelas satu bisa terdengar hingga ke kelas empat.
Gedung baru yang di sebelah dibuat dari batu dan semen. Tiang-tiang kolom untuk memasukkan semen berdiri tegak dengan hiasan besi-besi beton.

Tim menurunkan muatan truk yang sedari tadi sudah menunggu dibongkar. Ada buku-buku tulis, pensil dan bolpoin, dan kotak pensil warna-warni bergambar si burung pemarah, serta berlusin-lusin bendera merah putih. Kotak-kotak berisi obat-obatan sudah terlebih dahulu dipisahkan dan diturunkan.
Bakti sosial pengobatan dimulai pukul 10.00 tepat. Dokter kami, dokter spesialis jalan-jalan dari mobil EB 01, dr Silverius Purba mulai memeriksa para pasiennya setelah mengatur siapa yang membantu di meja penerima pasien di depan, siapa yang menjaga giliran diperiksa, dan yang paling penting, siapa yang mengurus apotek dadakan yang keren itu.
Pasien terakhir dari kalangan siswa, sebelum dokter melayani masyarakat umum adalah gadis cilik berusia 10 tahun. Dari dokter Reza yang turut membantu dokter Silver ia disuruh minta obat pinter matematika di apotek.

“Dok, obat apa itu?” teriak Ronal dari EB 13 di apotek di kelas satu kepada dokter Reza di ruang periksa di kelas dua. Pertanyaan yang disambut tawa ngakak dari sebelah dan tatapan bingung si kecil cantik Nur yang baru saja menyerahkan resep kepada Ronal.
***
Perlu waktu lima hari bagi Tim Indonesia 4X4 Expedition to Border North-East Borneo 2013 untuk mencapai Tabur Lestari, tempat bakti sosial pengobatan dan pembagian peralatan sekolah serta bendera merah putih itu.

“Jalannya nyaris membosankan seandainya tak ada pemandangan hutan yang terlihat masih lestari atau kebun-kebun sawit yang rapi,” komentar Hendrik Somantri, mekanik dari Subang yang jadi bagian EB 07.
Dari Balikpapan di selatan hari Sabtu (26/10) hingga Kamis (31/10) pagi di Pos Gabungan Indonesia-Malaysia (Gabma), tim melewati jalan aspal dalam berbagai kondisi. Mulus sampai Samarinda, mulus banget tapi bopeng-bopeng hingga Bontang dan Sangatta, jalan tambang dan kebun sawit sampai Rantau Pulung, jalan tanah, jalan beton, jalan aspal mulus sampai Muara Wahau, hal yang sama sampai Tanjung Redeb-Berau, dan berulang lagi antara Tanjung Selor-Bulungan, dan Malinau.
Setelah Sangatta di Kutai Timur, jalan mulus hanya menjelang ibukota kabupaten, dan hilang lagi setelah melewatinya. Mendekati perbatasan Indonesia-Malaysia, jalan-jalan tanah dengan perkerasan laterit mendominasi, dan sedikit aspal di depan helipad Pos Gabma.
“Nanti habis pengobatan ini, mungkin kita baru ada offroad sedikit,” kata Insuhendang, surveyor tim. Jalan ke Pos Siluman adalah jalan bekas perusahaan penebangan kayu dengan kontur naik turun. Seperti biasa, jalan seperti itu juga rawan longsor dan penuh tanah liat yang licin bila hujan.
Tim yang bosan pun mulai bersemangat kembali.
“Kalau hujan bisa lebih seru tuh,” celutuk seseorang.
Pukul 13.00, pengobatan selesai, dan setelah makan siang dan berkemas, pukul 14.00 perjalanan mengantar logistik (beras dan lauk pauk) untuk para prajurit ke tempat bakti sosial berikutnya, yaitu Pos Siluman TNI dimulai. Sampai satu jam berikutnya, apa yang disampaikan Insu belum tampak.
Baru sekitar pukul 16.00 tim menemui rintangan pertamanya. Bukan lumpur lengket dan jalan jelek. Bukan pula tanjakan terjal licin. Jalan laterit mulus lurus, tapi melintang di tengahnya sebatang raksasa yang tumbang.
Winch pun mulai dimainkan. Pohon itu ditarik ke belakang untuk memberi ruang dan sedikit jalan. 15 menit beres.

Tapi sesudah ini, apa yang dikatakan Insu mulai menjadi kenyataan. Tanjakan dan turunan terjal bermunculan. Pukul 17.00, tanjakan terjal yang dibelah alur air tersaji di depan mata. Tidak ada pohon besar di kiri dan kanan di hutan yang sudah habis ditebang ini.
EB 09, sebuah Land Rover Defender yang dikemudikan Aditya Karma, kehilangan momentum dan kepentok di awal tanjakan. Mesin menggeram dan roda berputar, tapi mobil tak bergerak karena ban kehilangan daya cengkeram di tanah yang licin.
Perjalanan masih jauh, mobil tak boleh dipaksa. Saatnya winch diulur kembali.
Hingga menjelang magrib, tersisa EB 05, Range Rover yang dikemudikan Krishna Anggakusumah, Kalimantan Selatan, yang masih di awal tanjakan. EB 05 yang dikira baik-baik saja, ternyata perlu pertolongan dari 3 mobil di atasnya, EB 07, EB 14 Toyota Land Cruiser FJ 45 (Tablo dan Wito dari Surabaya, Jatim) dan EB 12 Chevrolet Trooper (Firman dan Dhimas, Jawa Timur).
“Kita rangkai saja dengan strap dan maju bersama,” kata Reza Kamal, yang paling senior dari semua yang ada di tim paling belakang.

Strategi itu berhasil, menjelang waktu salat Isya, sebelas mobil berkumpul di satu titik diantara jalan masuk dan Pos Sinyal-Pos Siluman. Camp pun didirikan untuk menikmati malam kedua di bawah langit dan bintang-bintang.
“Pak Rahadian, Pak Roesman, dan Pak Syamsu sedikit lebih jauh di depan kita,” kata Greeffion Kamil, satu dari pemimpin kolektif Indonesia 4X4 Expedition.
Rahadian Mahendra mengemudikan EB 02 Land Rover hybrid berbasis Series, Jenderal Purn Roesmanhadi dengan EB 03 Land Rover Defender short, dan Syamsu Setiabudhi, dengan EB 01 Land Rover Defender yang sudah dibuat pendek.
Lepas tengah malam Jumat (1/11) hujan lebat mendera camp dan jalan. Apa yang diharapkan celutukan pun jadi kenyataan.
***

Pagi pukul 08.00, saat jalan masih lunak, perjalanan mengantar logistik dimulai kembali. EB 06, sebuah Toyota Hilux, double cabin keluaran terbaru berpelat BL 8000 gress dari Aceh yang ditumpangi Greeffion Kamil, Insuhendang, Vendry Kamil, dengan driver Sapto Wibowo alias Bowo membuka trek di tanjakan licin.
Dengan merentang winch segera menyusul EB 05, EB 10 dan EB 11 para Vitara dari Pontianak, Kalimantan Barat, lalu EB 09 Jeep Cherokee Adi Santosa-Ika Kartika-Eko, dan Defender 08. Di jalan yang sudah kering, melenggang santai tanpa winch EB 15 Taft Rugger yang dikemudikan el commandante ‘Alex’ Musni Hafas dan co driver Anwar Noeh. Mengikuti di belakangnya tiga sekawan tak terpisahkan, EB 07, EB 14, dan EB 12—juga mulus tanpa harus mengulur winch.
Matahari mulai tinggi dan jalan mulai bersahabat. Tanjakan-tanjakan tinggi pun bisa dinikmati. Mobil-mobil disusun untuk konvoi, lampu-lampu depan dinyalakan. Ketika tim terhenti lagi menjelang makan siang oleh satu tanjakan terjal, kerjasama yang mulai padu membuat halangan itu cepat dilewati.
Pos Sinyal, sebuah pos bayangan 45 menit sebelum Pos Siluman pun dicapai setelah waktu salat Jumat. Tim istirahat makan siang dan muatan logistik untuk Pos diturunkan.
“Dari sini, kita bisa lanjut sedikit ke depan, setelah itu tak bisa lagi lewat karena jembatan rusak. Perjalanan mengantar logistik ini harus dilanjutkan dengan jalan kaki,” kata Fion, panggilan akrab Greeffion Kamil.
