Metallica Feat The Corrs
What Can I Do, What Can I Say, …
Untuk Kate
Ini bagian kedua dari dua tulisan—maaf lagi, tulisan ini mengandung materi dewasa dimana kebijakan pemirsa diperlukan.
Bila bercerita tentang Metallica seperti yang saya lakukan awal tahun lalu nampak bener pamer umurnya, berkisah tentang The Corrs barangkali masih bisa dianggap unyu bak abege kinyis-kinyis …
Jadi, “Pernah dengar The Corrs?”

Saya pernah iseng menanyakan itu kepada rombongan cewek-cewek anak SMA, juga barangkali mahasiswa tahun pertama, yang saya temui di bazar di halaman Mal Fantasi di Balikpapan Baru. Kawan saya Adi menuduh saya modus belaka, agar bisa berbincang-bincang dengan ‘dedek-dedek gemes’ itu.
Mungkin iya, hahaha. Adi sendiri menunggui Samantha Modiste, kios jahit istrinya yang ikut berpameran di bazar itu.
Nah, umumnya mereka, dedek-dedek gemes ini’ menggeleng tanda tak tahu atau tak pernah. Tapi ada juga yang kemudian berkata, “Oh iya pernah, lagunya kakak …”
Yang tidak menjawab dan menggeleng mungkin tidak punya kakak.
Pada kelompok remaja lain, barangkali lebih cerdas daripada yang saya tanyain pertama, langsung mengaktifkan perambah di ponsel cerdasnya. Ada yang memulai lewat google, ada yang langsung via youtube.

“Oh The Corrs, …,” kata Fina, siswa yang magang di Bagian Humas Pemkot Balikpapan sambil menyaksikan video lagu What Can I Do. Ia tidak berkomentar, tapi menonton sampai habis. Mungkin tidak cocok lagi dengan selera anak muda sekarang, tapi ingin tahu seperti apa remaja seumur dia di masa hampir 2 dekade lalu.
The Corrs dibuatkan video lagu itu di Selandia Baru dengan agak tergesa sebab padatnya jadwal tur dunia mereka untuk album Talk On Corners. Aransemen baru yang agak nge-beat membuat perbezaan dari saat pertama kali lagu itu dirilis, berhasil membawa What Can I Do ke posisi 4 tangga lagu, ya di Selandia Baru itu.
Saya menonton video klip What Can I Do pertama kali di sebuah warung makan yang berwarna cokelat, warna asli dari kayu papan yang tidak diserut dan tidak dicat. Warung ini ada di perempatan Kintap Pasalaman, lebih kurang 150 km tenggara Banjarmasin. Sambil menyuap nasi dan ikan, saya menyaksikan di televisi besar di atas rak di dinding warung, Andrea dan saudara-saudaranya berjalan di padang rumput dekat rumah pertanian berwarna putih sambil berdendang dengan suara rendah dan senyum mengembang.
“What can I say to make you feel this?” senandung Andrea seraya mengerling ke saya, eh, kamera.
Masya Allah, …
Hari itu, Opik dan saya baru saja kembali ke peradaban setelah menempuh rimba di utara kampung itu selama seminggu. Andrea dan saudara-saudaranya, kecuali Jim, tentu saja, boleh dibilang perempuan paling cantik dan seksi yang saya saksikan di akhir minggu tersebut.
Juga karena hal yang terjadi di sekitaran hari-hari itu, The Corrs memahat kesan mereka di benak saya.
Salah satunya Neng memutuskan untuk meninggalkan Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikannya. Saya merasa terjatuh ke dalam lubang hitam besar dan melangkah gamang di awang-awang.
Kiranya, James Hetfield pun akan geleng-geleng kepala sambil berkata, “Oh, come on man, …” bila ketemu saya saat itu, sambil menyuruh saya mendengarkan The Shortest Straw.
“The shortest straw had been pulled for you…”
Keputusan sudah dibuat, jadi sudahlah.
Saya pun berdendang menghibur diri mengikuti gerak bibir Andrea.
“What can I do to make you love me?”
Ya Rabbi, …
Mulan Jameela, apalagi Syahrini, lewat. Meski mereka mengaku makhluk Tuhan paling seksi hingga cetar membahana dan menjadi sesuatu banget.
***
Di tahun 1999, reporter tabloid remaja Dayung, Erlin, siswa kelas 2 SMAN 1 di Banjarmasin, membuat usulan laporan tentang The Corrs di rubrik musik. (Dayung adalah The Young sebetulnya, menurut kawan saya pemiliknya, Onyeng. Miriplah dengan nama band si Unyil, The Kill alias Dekil)
Di rapat redaksi Erlin mempertahankan idenya, dan menyebutkan bahwa kalau mau bercerita tentang The Corrs, maka angle atau sudut pandang, atau titik beratnya adalah Andrea.
Rapat setuju, tapi saya lupa tulisannya seperti apa. Saya ingatnya malah saya mengedit laporan Sahid, siswa SMAN 7, tentang pergelaran musik yang rusuh, yang laporannya setelah terbit bikin panitia mencak-mencak dan mendatangi kantor redaksi di Jalan Gatot Subroto.
Sahid yang aktivis Rohis di sekolahnya istiqamah dengan fakta, dan saya membelanya. Akhirnya panitia acara itu, yang dikomando seorang penyiar beken, dan sempat memaksa kami minta maaf, tak bisa berbuat lain kecuali ngomel-ngomel saja.
Saya bangga pada kualitas jurnalisme liputan anak-anak SMA itu, meski liputannya barangkali dianggap terlalu remeh oleh dunia orang dewasa.
Tapi kemudian Sahid tidak mau lagi ditugaskan meliput konser. Apa hendak dikata.
Well, hahaha.
Adalah, dari sekian banyak tulisan tentang The Corrs, tulisan Bre Redana, jurnalis, juga dilabeli pengamat budaya pop, yang selalu saya ingat.
Sebagai bagian dari laporan konser di Taiwan, Bre memberi judul tulisannya dengan pujian setinggi langit kepada dara-dara The Corrs itu. Kata Oom Bre, “Mereka Seperti Dewi …”
Walaupun mengacu kepada anak-anak keluarga Corr yang perempuan saja, pasti.
http://woelancorr.blogspot.co.id/2008/07/mereka-seperti-dewi.html
Memang, siapa yang tak runtuh hatinya menyaksikan Andrea menyanyi. Si jelita itu, juga saudara-saudaranya Sharon dan Caroline, berdendang dalam balutan busana yang ‘chic’, dimana bagian dadanya begitu rendah sementara bagian lengannya begitu lebar. Atau tanpa lengan sekalian menampilkan ketiak yang mulus meski tetap ada warna gelap khas kulit di bawah lipatan.
Make up mereka juga sederhana, hanya dengan permainan bayangan cokelat pada mata dan hidung, memberi kesan sendu dan muram, tapi menyimpan gairah dan semangat yang tinggal menunggu matahari untuk menyala terang dan menghidupkan sekitarnya.
Tapi konon, make up yang sederhana didapat dari kosmetika yang mahal, dan oleh penata rias profesional yang handal. Kalau ada kesempatan saya akan tanyakan.
‘Chic’ itu istilah dari para penulis mode, Oom Bre menyebutnya kira-kira untuk menunjukkan pameran sensualitas yang sopan-aha, hahaha. Artinya cukup membuat mata orang, lelaki terutama, terpaku pada obyek, si pemakai busana itu, tapi tetap bisa fokus pada hal-hal yang disampaikannya.
Andrea sendiri pernah dinobatkan sebagai ‘perempuan Irlandia paling menarik’ dalam sebuah polling majalah. Saya setuju tanpa mikir sedikit pun.
Di majalah itu, For Him Magazine alias FHM, hahaha, sebutannya memang ‘menarik’—dari kata ‘attractive’. Ini untuk menunjukkan sesuatu yang lebih dari ‘sexy’. Bila sexy merujuk pada daya tarik fisik semata, maka ‘attractive’ juga melingkupi hal-hal yang tidak terlihat langsung.
Andrea dan kakak-kakaknya jago main alat musik, tanda kecerdasan dari otak kanan yang signifikan. Caroline yang kuat memainkan drum-nya dengan mantap, dan Sharon bermain biola dengan senyum selalu menghias wajahnya. Selain vokal Andrea, gesekan biola Sharon adalah pemberi warna khas musik The Corrs.

Khas yang lain adalah, Andrea selain menyanyi, juga piawai bermain suling. Caroline juga terampil memainkan bodhran, itu loh, semacam rebana khas Irlandia. Caroline juga hebat bermain piano, dan sambil berpiano itu ia cukup keren menyanyi.
Jim tak perlu dipuji, hahaha, dia gitaris yang sederhana, pemain piano dan keyboard yang berjiwa besar dan tahu belaka bahwa pusat perhatian adalah adik-adiknya.
Bersama mereka semua menciptakan lagu-lagu berdasar kisah hidup kita sehari-hari.
***
Pada tahun 2005, The Corrs mengumumkan mundur dari dunia musik yang sudah membesarkan mereka.
“Tiba saatnya untuk mengurusi hal-hal domestik. Jadi istri dan ibu,” kata Caroline.
Sampai sini, beritanya jatah kawan-kawan infotainment. Merekalah yang gemar memberitakan kapan selebriti mulai pacaran, sedang pacaran, putus pacaran, atau orang lamaran, siaran langsung walimah pernikahan, selebritis perempuan hamil, kecanggungan sang selebritis pria calon bapak, posisi bayi di kandungan, lahiran normal atau cesar, ASI atau susu formula, …
Saya tak pantau lagi bagian-bagian ini. Tapi sekelebatan tahu Caroline hamil anak pertama, anak kedua, anak ketiga, Jim bertunangan, Sharon menikah, lalu si bungsu Andrea menikah, dan melahirkan anak pertama dalam usia 37 tahun. Ketika Andrea menikah, Caroline dan Sharon mempersembahkan sebuah lagu, …
Cukup satu paragraf untuk masa 10 tahun.

Tahun 2015, dara-dara The Corrs sudah jadi emak-emak—dan tentu saja—tetap cantik. Jim juga sudah setengah abad umurnya. Penampilannya yang rapi dan cute berubah jadi rada sangar dengan kumis, rambut cepak, dan sedikit jenggot.
The Corrs berhasil menjual rekaman berjuta-juta. Andrea juga pernah menjajal bakatnya berakting, bahkan sebelum The Corrs jadi sangat terkenal. Saudara-saudaranya juga meluncurkan proyek-proyek solo.
Satu akting Andrea yang saya ingat adalah menjadi pemeran pembantu wanita di film Evita. Ia menjadi perempuan simpanan Juan Peron, presiden Argentina ketika itu. Andrea beradu akting dengan penyanyi senior Madonna.
Bila tak terlalu terdengar, mungkin tidak terlalu sukses, mungkin pula sebab mereka fokus mengurus keluarga (atau saya sibuk juga jadi tak dengar, hahaha). Pada The Corrs sepertinya berlaku pepatah ‘bersatu kita teguh dan sukses, bercerai belum tentu sukses, …’
Dan setelah anak-anak sudah mulai besar, barangkali kembalilah mereka kangen pada apa yang dulu dilakukan di masa lampau. Tahun 2015 itu, mereka kembali dengan album baru dengan judul White Light. Sebuah konser reuni digelar di Hyde Park di London 13 September 2015.
Java Jazz Festival (JJF) 2016 di Jakarta memuat nama mereka dalam daftar penampil. Kabar itu membuat saya menyusun playlist dan menyegarkan banyak kenangan tentang mereka. Di daftar putar yang saya buat itu berturutan hits Runaway (1995), What Can I Do, So Young (1998), Radio, Irresistible (1999), Breathless (2000), Summer Sunshine, Long Night, Angel (2004), Borrowed Heaven, Haste to the Wedding, and many more, …
Walau kemudian The Corrs tak jadi datang ke Jakarta turut meramaikan JJF.
Dalam album White Light, The Corrs tetap membuktikan mereka adalah band ‘tradisional’ Irlandia. Secara umum musiknya tak berubah, tetap dengan sound Celtic, dengan warna dari biola, suling, dan akordeon di latar belakang, dan vokal manja Andrea.
Musik seperti itu tetap segar dan memberi semangat seperti api biru yang hangat. Memang tak menyala-nyala dan berkobar-kobar seperti Metallica, tapi panasnya menyebar menghangati hati.
Dalam album White Light, The Corrs mempersembahkan selusin lagu baru. I Do What I Like, Bring On the Night, White Light, Kiss of Life, Unconditional, Strange Romance, Elis Island, Gerry’s Reel, Stay, Catch Me When I Feel, Harmony, dan With Me Stay.
Saya suka I Do What I Like, apalagi setelah mendengarkan lagu (juga baru nih) Metallica, Hard Wired … Self Destruction. Sebentar November 2016 ini Metallica juga akan mengeluarkan album lagi setelah 8 tahun, setelah Death Magnetic di tahun 2008.
Carilah di YouTube, kawan, dan mari kita berdendang bersama.
“What can I do to make you love me, …” (What Can I Do, 1998. Talk in Corners)
Ah, hahaha. Kiranya inilah jawabnya, sayang: “Make love to me, through the night.” (Runaway, 1995. Forgiven, Not Forgotten).
Because I would runaway with you.
***
This entry was posted in Pesta and tagged Metallica Feat The Corrs.