#baritoputra #banjarmasin #lebakbulus #bandung #sepakbola #jurnalisme #olahraga
Lebak Bulus
Saya sedang kangen Neng, yang entah dimana sekarang. Mungkin kalian ada yang kangen juga? Hehehe, silakan.
Pukul empat sore saya melompat ke dalam bis antarkota jurusan Jakarta-Bandung. Sekali lagi saya mengecek pesan pendek dari Neng. Pesan itu berisi petunjuk bagaimana menemukan dia di Bandung nanti.
“Bang Nov naik bus ya? Dari Lebak Bulus ada. Nanti turun di Kalapa, trus naik angkot yang ke Ledeng, turun di Enhai, ntar telpon kalo dah sampai.”
Menurut Neng, bila lebih kurang lancar, dalam 4 jam saya sudah akan tiba di Paris van Java. Bis akan berhenti sekali dimana gitu di sebuah rumah makan buat istirahat sejenak.
“Tapi kalau mau makan bareng lun, jangan makan banyak-banyak di situ,” katanya. Maka memang kemudian saya hanya minum kopi dan makan kue di rumah makan tersebut.
Sebelumnya, pukul tiga sore Sabtu, setelah menyelesaikan kewajiban menulis berita dan mengirimnya ke kantor di Banjarmasin, saya sudah cabut dari markas latihan Barito Putera di Sawangan, di ujung Gang Rotan di jalan raya Lebak Bulus-Parung-Bogor. Ini perjalanan pertama saya ke Bandung, kota yang justru sudah akrab dengan benak saya dalam 2 tahun terakhir di awal dekade 2000-an itu.
***
Jadi begitulah, sobat. Neng memutuskan untuk kuliah di Bandung (bacalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy, kawan). Mungkin salah satu pertimbangannya adalah saran saya sendiri. Saya tak percaya saya pernah menyarankan seperti itu.
Kami pun menjalani apa yang disebut orang sekarang sebagai LDR, long distance relationship. Telepon menjadi andalan. Tahun 1999 di Banjarmasin, saya jadi menghapal di mana saja wartel-wartel yang sepi namun masih buka setelah pukul delapan malam.
Saat itu tarif telepon interlokal mulai pukul 21.00 sekitar Rp20.000 per jam. Bila sedang tak punya uang, hehehe, saya pulang dan numpang menelepon dari rumah orang tua saya di Beruntung Jaya.
Tahun pertama di Bandung, ia tinggal di asrama kampusnya. Telepon digunakan bersama-sama dengan banyak penghuni lain sehingga bila ingin menelepon berlama-lama perlu siasat. Karena ini asrama untuk perempuan, juga ada semacam jam malam. Akan jadi gunjingan bila kerap kali ditelepon, apalagi ditelepon malam-malam, apalagi berjam-jam, apalagi oleh orang (lelaki) yang berbeda-beda. Bahkan bila yang menelepon hanya teman perempuan. Bahkan bila yang menelepon hanya keluarga.
Tentu saja ini karena yang jadi operator telepon ya gadis-gadis penghuni asrama itu juga. Pada tahun itu, saya menghapal dan dihapal para operator telepon teman Neng. Sekali-sekali saya diledek—ketika nada tunggu yang riang, piano dari lagu The Entertainer milik Scott Joplin itu sudah habis—tidakkah ingin berbicara dengan yang lain karena Neng masih belum sampai di asrama.
“Di sini ada dua lo Bang, yang namanya sama dengan Neng,” kata Fay.
“Oh, dari Banjarmasin juga?”
“Bukan, yang satunya dari Padang.”
“Oh ya..?”
***
Sejak tahun ketiga kuliah, saya memang jarang pulang ke rumah orang tua saya di Beruntung Jaya. Saya mondok mulai dari Sekretariat Angkatan Muda Baitul Hikmah di mana kami menjaga kebersihan dan keamanan masjid kampus Baitul Hikmah, lalu ke Sekretariat Kompas Borneo Unlam (yang berpindah-pindah—dan saya mulai bergabung saat Sekretariat di Jalan Karya Sabumi, lalu pindah lagi ke Kampus), sekali-sekali menginap di kos beberapa kawan, yang paling sering di kos Rommy Oktavianus Suharyanto di Jalan Cendana 3 dimana saya pertama kali mendengarkan lagu Eric Martin, I Love The Way You Love Me—(ada cerita lain dari lagu ini, sobat, tentu saja—dan bukan tentang Neng, hehehe, I am sorry).
Kemudian, ketika Yayasan Kompas Borneo (YKB) mulai diaktifkan kembali oleh Bang Atoey, saya pindah ke Sekretariat Yayasan itu di Jalan Cendana. Saat banyak pekerjaan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, saya pindah lagi ke Sekretariat Walhi di Kayutangi I selama beberapa bulan. lalu kembali lagi ke Sekretariat YKB yang sudah pindah ke Jalan Cemara IV, dan akhirnya di kantor Radar Banjar ketika menjadi reporter dan redaktur di situ.
Seluruh sekretariat dan kantor ini ada di kawasan Kayutangi, di utara Banjarmasin, di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Saya beredar di Kayutangi selama sembilan tahun dengan KTP Banjarmasin Selatan.
Selama itu saya hidup dari honor tulisan dan terjemahan dan pekerjaan-pekerjaan kecil di sekretariat-sekretariat itu. Tentu saja, ketika di Radar Banjar, dan kemudian Radar Banjarmasin-koran milik Jawa Pos Grup yang iritnya luar biasa, saya punya gaji (gaji perjuangan dari koran perjuangan juga, tapi cukuplah buat bujangan sederhana yang kebutuhannya hanya buku, kaset, olahraga, internet, dan makan ala kadarnya, hehehe…)
Oh istilah koran perjuangan itu untuk romantisme saja sobat. Betapa anak-anak muda memang mudah terpesona oleh bahasa-bahasa hiperbola para pemilik modal.
Bagi saya hari itu, kawasan Kayutangi itu memang lengkap. Ada kantor dan pekerjaan, ada Taman Budaya dimana kami menonton pementasan seniman dari seluruh Kalimantan Selatan dan dari mana saja di Indonesia, ada pameran karya-karya, kemudian ada kampus dimana ada diskusi dan perpustakaan, ada kawan-kawan perempuan yang cantik-cantik (dan ehmmm, juga rumah dan kamar kos mereka), ada pusat kebugaran di mana setiap pagi saya berlatih beban, dan lapangan sepakbola, ada Sungai Andai dimana saya suka berenang, ada Sungai Pangeran di Kuin hingga Sungai Barito yang terhubung dengan sungai kecil tak bernama yang membelah kampus hingga ke Kayutangi II di mana saya dan kawan-kawan KBU kerap bertualang kecil dengan jukung kami, mengesahkan diri kami sebagai pemuda Banjar sejati yang hidup di atas rawa-rawa dan sungai-sungai.
Juga banyak warung-warung makan murah. Juga ada Ina yang baik hati yang suka membawakan saya nasi kuning bungkus. Ada pecel Ibu di Jalan Cendana, yang kalau sore di dekatnya ada warung mi ayam Solo yang enak tempat teman saya Hindarno mengajari saya bagaimana cara makan dengan menggunakan sumpit, dan kalau pagi ada sarapan lontong yang lezat. Berbeda dari warung lontong biasanya, karena sendirian, si Acil di warung ini sudah mengemas kuah lontongnya dalam plastik-plastik satu porsi. Cara seperti itu praktis untuk yang ingin bawa pulang atau memakan sarapannya di tempat lain.
Juga ada warung makan yang menyajikan masakan Banjar dan lain-lain yang sedap yang tidak ada namanya di Cemara, tempat saya dan Odienk sering makan siang atau beli bungkus dan dimakan di meja pimpong yang kami jadikan meja makan di kantor. Ada kampus STIEI dengan banyak mahasiswa glamor, ada kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang mahasiswanya aneh-aneh (menurut saya saat itu, hehehe). Kawan saya Sandi Firly dan Mahmud sang demostran kuliah di Uniska ini dan Anda tahu betapa anehnya mereka bukan, hahaha.
Juga ada masjid Hasanudin HM di Bundaran Kayutangi. Bila Ramadan, tempat saya dan Sandi menumpang berbuka bila ingin makan bubur ayam gratis dan tarawih yang cukup 11 rakaat dengan ceramah yang mengajak memahami agama dengan nalar.
Rumah dosen-dosen kami pun banyak di sekitar situ juga. Ada Dr Karyono Ibnu Ahmad di Cemara, ada Pak Drs Abdurrahman Ismail di Kayutangi I, guru yang meminta kami menceritakan kembali kisah tragedi Mesan (Nisan) Berlumur Darah di Martapura dan menarik nilai-nilai di dalamnya, ada Pak Sakiman (atau Sukiman? Sutiman?, ahhh, lupa saya), juga di Kayutangi I yang punya banyak kamar kos untuk mahasiswa wanita.
Di kos Pak Sakimin (itu kayaknya, Pak Sakimin, dosen di FKIP juga) itu tinggal antara lain Didi, nama panggilan saya untuk kawan perempuan kami yang kena kanker payudara, yang tabah sampai akhir, yang tetap tersenyum meski rambutnya rontok satu-satu karena kemoterapi. Didi ini secantik Sinead O Connor, brader, dengan mata bening dan bulu mata asli yang lentik.
***
Turun dari angkot, saya disergap keramaian Bandung di malam Minggu. Pertigaan Gerlong ini semarak dengan lampu jalanan, lampu kendaraan yang lalu lalang, lampu warung dan toko, dan lampu gedung-gedung.
“Bang Nov…!”
Ah, inilah orangnya. Sebuah pelukan, sebuah ciuman.
“Acemm,” katanya.
Ya iyalah, terakhir mandi pukul setengah sembilan pagi tadi, seusai ikut olahraga bersama Barito Putra yang melakoni latihan rutin di pemusatan latihan mereka di Gang Rotan itu.
“Ya, Neng wangi sekali,” kata saya tertawa.
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Ayo makan…”
***
Saya baru kembali ke Jakarta Minggu sore, lalu Senin siang berangkat ke Medan bersama Barito Putra. Dua pekan di Sumatera Utara cukuplah buat saya keliling-keliling, ke Danau Toba, ke Perbaungan bersama Bang Redi, fotografer. Perbaungan itu tempat konsentrasi pemukiman Urang Banjar di Sumatera Utara. Di sini saya bertemu preman Banjar Hussein si Janggut Beracun. Untuk pertama kali juga makan mi aceh dan sakit pusing karena kecapekan dan tekanan darah rendah, diobati oleh dokter Adi dokter tim, bertemu orang Keling dan Sikh yang pakai turban alias ubel-ubel, bolak-balik Stadion Teladan dan warnet dekat hotel, keluyuran di Terminal Amplas, naik Mister X angkot yang bisa bikin orang jantungan, naik bentor sambil bernyanyi-nyanyi, nonton para teroris meruntuhkan gedung WTC dengan menabrakkan pesawat di televisi yang tergantung di ruang redaksi Radar Medan, ketemu dan liputan bersama Chandra dan Cak Amu dari Jawa Pos Surabaya, …
Barito Putra tidak lolos ke babak semi final. Salah satunya karena kalah dari Persebaya Surabaya. Sayang sekali. Banyak persoalan non teknis yang membebani. Tapi tim tetap senang karena ada sejumlah bonus dan dan uang tampil (matchfee). Para pengurus yang pulang duluan ke Banjarmasin meninggalkan beberapa urusan para pemain belum terselesaikan.
“Hey Novi, kamu cairkan cek ini buat kita ya,” kata Sadissou Bako di Bandara Soekarno-Hatta, sepulang kita semua dari Medan. Bako akhirnya menjadi striker yang jadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia musim itu dengan 24 gol.
Di kantor cabang pembantu BNI di bandara itu, kami semua, seingat saya 16 orang, termasuk saya, berkumpul. Kiper Syahbani dan Amir Yusuf Pohan tak ikut. Bani tetap di Medan sebab itulah kota kelahirannya. Bang Pohan pulang ke Padangsidempuan menengok orang tuanya walaupun nanti pulang juga ke Balikpapan sebab anak istrinya ada di Kota Minyak.
Cek matchfee itu sedang diproses. Petugas bank memerlukan seseorang dengan KTP. Ternyata itu alasan Bako, wakil kapten dan pemain asing asal Kamerun itu meminta tolong saya. Mungkin agar terlihat adil sebab hal-hal seperti ini biasanya urusan pengurus.
Uang Rp20 juta itu dibagi rata. Untuk Syahbani dan Bang Pohan ditransfer lewat bank itu juga. Ternyata untuk saya juga ada. Saya terharu.
“Situ tidak merasa bagian dari kita ya,” kata el capitano Bambang Harsoyo dengan senyumnya yang khas itu. Setahun penuh saya bersama mereka. Ikut makan tidur di mess. Menghapal dan menuliskan kisah mereka. Juga banyak menyimpan rahasia.
Liputan olahraga memang unik, kawan. Dalam beberapa hal jurnalis biasanya menjaga jarak dengan obyek liputan mereka—seperti politik atau ekonomi misalnya—maka tidak dengan liputan olahraga. Sedari awal saya sudah mengambil posisi, saya membela Barito Putra, saya membela pemain dalam hal pertandingan dan olahraga.
Jadi kalau tim kalah sebab main jelek, pelatih, atau manajer lah yang salah. Sebab sejak awal sekali pelatih dan manajer punya kuasa untuk menentukan siapa yang boleh masuk tim siapa yang tidak. Mereka yang membuat strategi, menyusun line up, sebelumnya mereka yang melatih, juga menganalisis lawan. Tapi kalau tim menang, pemain lah yang pertama kali disanjung. Merekalah yang berkeringat dan berdarah-darah di lapangan.
Termasuk juga untuk atlet perorangan. Atlet perorangan punya pelatih yang membuatkan porsi latihan yang mesti dijalani, yang mengajari teknik, yang menyemangati.
Saya dan pelatih Mundari Karya membuat kesepakatan tidak tertulis. Kami punya tujuan bersama. “Kalo mau kritik tim, lo kritik gua, bukan pemain,” katanya dengan logat Betawi kental. Saya setuju. Tim sepakbola bukan kumpulan anggota DPRD yang kita harus awasi—bahkan ketika tim itu mendapat kucuran dana APBD sekali pun (yang begitu yang kita pelototi pengurus). Apalagi Barito Putra ketika itu yang sepenuhnya milik pengusaha Haji A Sulaiman HB. Tim harus selalu disemangati, disanjung. Mereka tidak makan duit rakyat kok—atau pun ketika tim dibiayai dana APBD, mereka mendapatkannya dengan jerih payah luar biasa yang halal, lebih kurang sama ketika kontraktor membangun jalan dari sumber duit yang sama. Soal asal muasal keuangan klub, sekali lagi, pengurus yang tanggung jawab.
Apakah ada pemain profesional yang tidak profesional? Tentu saja ada. Banyak kelakuan pemain yang mungkin tidak diterima standar moral masyarakat secara umum. Tapi itu umumnya di luar lapangan, di luar olahraga. Saya tahu siapa yang pulang dinihari dari diskotek, yang menghamili pacarnya yang ternyata pacar orang lain juga, dan inilah yang antara lain jadi rahasia saya, sobat.
Jadi liputan saya tentang Barito Putra adalah tentang tim Barito Putra, bukan tentang manajemen Barito Putra. Isinya terutama tentang prestasi dan kemenangan-kemenangan kecil setiap anggota tim. Sampai hal-hal kecil seperti gelandang Zainal Rahim yang suka makan mi instan. Dan stopper Nanang Karyanto yang sigap memadamkan kompor yang meledak di mess pun ada ceritanya. Sandi membuatkan ilustrasi dengan gambar kartun Nanang mengenakan kostum pemadam kebakaran tengah menyemprot kompor yang terbakar.
Nanang cadangan abadi semasa kepelatihan Mundari Karya, dan berkecil hati bahwa dirinya tak akan pernah saya tulis dan dimuat di koran. Tapi tidak, saya tuliskan juga profil Nanang, bersama rekan sekamarnya (juga stopper) Wahyu Rustiono yang jago bawa trailer sehingga sering juga jadi sopir cadangan bus kuning bus latihan Barito Putra. Saya terharu ketika Nanang meng-kliping feature pendek tentang dirinya itu.
Dari kemenangan-kemenangan kecil itu jadilah kemenangan-kemenangan mereka sebagai sebuah tim. Saya cukup bahagia selama dua musim turut mengantar mereka ke penampilan terbaik di Liga Indonesia dan menjadi tim yang tetap disegani. Apalagi Sunar dan Isnan, juga Firman Usman, terpilih menjadi anggota tim nasional.
***
Lalu semua berpisah. Bersalaman, berpelukan. Mas Bengbeng si Bambang Harsoyo alias si Captain Power melanjutkan terbang ke Semarang dan terus ke Kudus, Ismayana dan Saiman langsung pulang ke Banjarmasin, Sunar Sulaiman, Isnan Ali, Sofyan Morhan, Firman Usman, Hairansyah, terus ke Makassar, Pakde Najih Mahmudi, Agus Purwanto, cari pesawat ke Surabaya, Ferly Laalla, Ronny Prowanda, dan Effendi ke Balikpapan, Bako, Zamen Pierre, dan Stephen Weah bertahan dulu di Jakarta.
Bako bertanya, saya mau kemana. Saya bilang saya belum tahu. Yang jelas, saya belum ingin pulang ke Banjarmasin.
“Kamu mau ke Bandung lagi ya?” ledeknya. Ketiga pemain asing naik satu taksi yang sama. Bergantian mereka memeluk saya. “Tetap kontak ya Bos,” kata Weah yang konon ponakannya George Weah, bintang AC Milan. Mereka juga menambah uang saku saya.
“Belikan pacarmu sesuatu,” kata Bako sambil mengedipkan mata. Taksi mereka pun berlalu di keramaian lalu lintas di depan terminal itu.
Saya jadi merasa kaya. Maka saya pun memanggil taksi. Dari dalam sedan itu, saya mengirim pesan memberitahu Bos Erwin di Banjarbaru untuk sedikit libur dan menghilang 100 jam lebih dikit dari dunia jurnalistik.
Bos Erwin tidak bertanya. Ia hanya membalas, “Ok”. Sopir melihat ke kaca spion di atas dashboard untuk melihat saya dan menanyakan tujuan.
“Lebak Bulus ya Pak.”
***
This entry was posted in Cinta and tagged #baritoputra #banjarmasin #lebakbulus #bandung #sepakbola #jurnalisme #olahraga.