ASUS

Pendaki Juru Kunci

Posted on Updated on

ENV-00-BLACK AND BLUE MOUNTAIN POS 4
Langit biru sore dan siluet lereng bukit di Pos 3 trek Sembalun. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Di Pos 2, kami bertemu para pendaki dari Hongkong yang cantik-cantik. Hehehe,  ini bagian kedua, saudara.

Pagi-pagi, Arif sudah bangun untuk melihat jalan. Ia beriringan dengan burung-burung yang ramai berkicau di dahan-dahan di atas tenda kami. Arif pergi menyeberang sungai ke bagian yang sudah saya lewati sebelumnya.

Tepat seperti dugaan saya, Arif kembali dengan kabar bahwa sesungguhnya kami berada di jalur yang benar. Hanya karena kelelahan saja kami menjadi tidak percaya diri.

“Di ujung turunan ada belokan ke kiri, jalan turun ke jembatan. Di jembatan itu ada papan penunjuk arah yang menyebutkan Pos 1,” tutur Arif.

Saat kami sarapan, tiga penggembala sapi dari Sembalun lewat. Mereka bertanya mengapa kami menginap di tempat yang tidak biasa orang menginap itu. Kepada mereka, kami juga bertanya arah dan jalan.

“Pos 1 lebih kurang satu jam dari sini,” kata yang paling belakang, yang mengenakan headset untuk handphone di telinganya dengan selempang sarung dan sepatu boot plastik.

Satu jam? Kami tertawa. Jadi, seandainya saya terus jalan tadi malam, maka betul, lebih kurang pukul 10.00 malam itu saya akan tiba di Pos 1.  Tapi, kami memang tak tahu. Tak seorang pun dari kami pernah melewati jalan ini sebelumnya. Kami tak bersama pemandu, dan tidak minta tolong porter. Saya tak terpikir untuk menelpon petugas di kantor Taman Nasional untuk sekedar bertanya meyakinkan diri. Sinyal Telkomsel masih jelas sampai Pos 1.

Ternyata tanpa pemandu dan porter, khusus bagi yang baru pertama kali ke Rinjani, rute sederhana pun jadi petualangan yang bisa jadi bahan cerita.

Perjalanan dimulai kembali beberapa saat sebelum pukul 10.00 pagi. Kami mulai dengan doa dan langkah kanan dan hati riang.

Dari jembatan beton yang diceritakan Arif, kami melihat porter-porter yang bergegas. Lalu serombongan panjang pendaki bule di belakang mereka. Menurut Ridho, rombongan yang kami lihat memulai perjalanan dari Bawahenau, bukan dari Sembalun Lawang seperti yang kami lakukan.

ridho di trek sembalun gunung rinjani
Ridho memandang hamparan rumput yang selamat dari amukan api. ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Jalan menanjak perlahan di punggung-punggung bukit. Ada variasi turunan dan tikungan, dan jalan terus menuju ke barat.

Itulah Pos 1 Pemantauan, berupa dua bangunan seperti pos keamanan lingkungan atau gardu jaga di komplek perumahan. Pos ini dibuat permanen, dan satu lagi disusun dari pipa dan pelat besi. Bisa dibayangkan dinginnya pos dari besi itu bila malam tiba.

Saya beristirahat di pos logam itu. Lalu datang rombongan orang-orang tua bule mengisi pos beton di seberang. Sepuluh menit berselang, rombongan si Mbah.

“Hehehe, ketemu lagi,” katanya riang. Saya juga tertawa. Wah, si Mbah tidak bilang bahwa rombongannya ini terdiri dari 4 perempuan cantik-cantik. Ada Mika, ada si reporter Metro TV itu yang saya lupa namanya, lalu si April, dan seorang yang atletis, berkerudung, namun selalu ada di belakang. Selain si Mbah, ada dua lelaki, Kendi suami April, dan seorang lagi yang saya tak ingat.

“Sendirian, mas?” tanya Mika.

“Oh, tidak lagi. Sekarang kan ada kalian,” seloroh saya. Pertanyaan Mika adalah pertanyaan standar kepada saya dan ditanyakan orang dari ujung  timur hingga barat Indonesia oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai macam bahasa.

Jpeg
Mika dan separo saya. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Anyway, dalam perjalanan kali ini, Asus Zenfone 6 menjadi modal saya bertegur sapa, selain senyum tentu saja. “Saya punya beberapa foto kalian, bila ada email atau facebook saya bisa share…” demikian kalimat ajaibnya. Sungguh seribu teman masih kurang (ada facebook yang menghitung jumlah teman  kita) dan satu musuh sungguh terlalu banyak (ada buku harian yang menghitungnya)

Si Metro TV berbagi Pocari Sweat yang manis asam menyegarkan. Dia ternyata staf Najwa Shihab untuk acara Mata Najwa. Saya hampir tak pernah menonton acara itu. Sudah lama saya tidak lagi menonton televisi.

Pukul setengah dua belas, Ridho dan Arif serta saya mulai berjalan lagi. Tanjakan mulai semakin panjang walaupun belum ada yang ekstrem. Tepat seperti disampaikan seorang pemandu, lebih kurang satu jam dari Pos 1 Pemantauan itu, kami tiba di Pos 2 Tengengean. Dari ketinggian 1.300 m dpl ke 1.600 mdpl.

Di Pos 2 ada air, ada sungai kering, dan ada jembatan di atasnya. Air berasal dari sumber mata air kecil, dimana air merembes keluar dari pasir, dan seseorang menyaringnya dengan menggunakan 2 buah botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Air yang keluar dari ujung botol satunya mirip pancuran kecil dari air keran yang dibuka seperempatnya. Satu botol besar 1.500 ml penuh dalam 4 menit.

Di Pos 2 yang ramai pada jam makan siang itu, saya lihat, tak ada yang menggunakan air dari mata air itu untuk minum. Para porter membuka air persediaan mereka, berupa air dalam kemasan satu setengah liter itu. Saya yang sudah menghabiskan separo persediaan air, tidak punya pilihan lain selain menggunakan air saringan itu. Warnanya cukup memenuhi syarat mata saya, dan nanti bila sudah direbus, sudah lulus syarat mulut dan perut.

Semua yang kami temui di Pos 1, masih bertemu lagi di Pos 2, ditambah mereka yang sudah istirahat terlebih dahulu di situ. Sebelum membuka bekal sendiri, saya mendapat kehormatan makan siang dengan para orangtua dari Polandia—hanya karena seorang dari mereka pernah ke Balikpapan untuk berburu batubara. Lalu berkenalan dengan para pemuda dari Jerman itu, yang jangkung-jangkung dan berjalan penuh percaya diri.

Setelah mengambil persediaan air tambahan, kami naik ke shelter yang dibangun permanen di bagian atas. Shelter yang di bawah yang berwarna hijau, ditinggalkan porter dengan sampah berserakan.

Kami menggabungkan salat zuhur dan asar sekaligus. Saya membongkar ransel dan memasak makan siang. Ridho dan Arif rupanya memutuskan berbeda, tapi mereka tak keberatan menunggu dan makan camilan. Apalagi di Pos 2 di bagian atas itu ada sejumlah pria dan wanita-wanita cantik yang buka praktik massage.

“Saya kira dari Taiwan, atau Hongkong,” kata Arif. Sungguh, ia tidak bermaksud bergurau.

PENDAKI DARI HONGKONG
Ni dia, para pendaki dari Hongkong. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

 Ternyata rombongan itu berasal dari Medan. Kawan-kawan itu orang-orang etnis Hakka, Warga Negara Indonesia, dan gemar berbicara bahasa ibunya—seperti Orang Jawa berbahasa Jawa, orang Sunda berbahasa Sunda, dan lain-lain. Para lelaki Cina Medan itu berpenampilan ala serdadu yang dikirim ke Perang Teluk dengan baju dan kamuflase warna gurun dan rambut crewcut. Para perempuannya, yang tadi saling memijat dengan balsam Counterpain, cantik-cantik belaka seperti para pemain sinetron Korea.

Saya yang sibuk memasak mi, telur, dan korned tak sempat banyak bertegur sapa dengan para perempuan, tapi ngobrol sedikit dengan para lelaki, yang kebetulan dekat dengan kompor saya. Seperti kebanyakan pendaki, semua bangga sudah mencapai puncak dan dengan perjalanan ini. “Tanah Air kita indah sekali,” kata A Long.

Dari Pos 2 itu, kami resmi menjadi tim juru kunci. Rombongan Polandia sudah lama pergi, disusul para pemuda Jerman. Rombongan si Mbah sudah permisi lanjut ketika saya makan siang. Terakhir para kawan dari Medan pamit turun ke Sembalun. Pemandangan savana yang kering dan terbakar membentang di seluruh arah mata memandang.

Saya kembali mantap menyandang ransel punggung seberat 24 kg ini. Saya tahu itu karena memang menimbangnya. Di Balikpapan, sesaat sebelum dimasukkan bagasi pesawat, carrier itu berbobot 18 kg. Lalu di Mataram, di timbangan di depan resepsionis, setelah diisi bekal dan beberapa perlengkapan tambahan, 25 kg. Beratnya pasti berkurang sedikit karena sebagian makanan sudah kita habiskan sejak tadi malam.

Saya masih punya tambahan satu ransel lagi di depan, yang isinya kamera, jaket hujan, sedikit makanan, dan air minum.

Perut kenyang itu sesuatu banget dalam olahraga mendaki gunung ini fren. Kalau lapar, selain tidak kuat angkat-angkat, jalan juga bisa tersandung-sandung dan pikiran kemana-mana. Tidak fokus. Kalau tidak fokus, jalan setapak ke kiri, kita malah ke kanan. Akhirnya orang ini bisa hilang di gunung dalam cuaca yang cerah.

***

Sampah berupa botol-botol plastik hingga bekas bungkus  permen bertebaran sepanjang jalan. ASUS ZENFONE  6/novi abdi/Antara
Sampah berupa botol-botol plastik hingga bekas bungkus permen bertebaran sepanjang jalan. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Jalan makin menanjak dan kini berada di punggung-punggung bukit. Ada seruas panjang jalan yang penuh batu-batu dan kiri kanannya seolah sungai kering. Mungkin tempat aliran lahar bila Rinjani meletus, atau memang jalan air bila hujan lebat turun. Di situ ada sebatang pohon yang tampak merana, menghitam karena terbakar bersama rumput-rumput di bawahnya.

Di ujung atas tanjakan, jalan berbelok ke kanan, mendatar, dan menurun setelah seratus meter. Saya mendapati seseorang tengah duduk istirahat di bibir tebing.

“Masnya mau muncak kan. Hati-hati dengan barang yang ditinggal di Plawangan Sembalun,” kata Dimas, pendaki dari Surabaya itu. Oh, kenapa gerangan?

DIMAS KORBAN PENCURIAN
Dimas, naik motor dari Surabaya untuk mendaki Rinjani. Eh, kehilangan uang  dan HP di Gunung. ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Tenda Dimas rupanya disatroni maling saat ditinggal summit attack. Dua handphone, uang Rp400.000 hilang. Duh, siapa yang tega berbuat itu di gunung?

Demikian, Dimas masih bermurah hati membagi air yang dimilikinya. Ia memberi saya saya sebotol dari dua botol besar yang dibawanya.

Saya berterimakasih atas air dan peringatan itu. Sekali lagi, siapa yang tega mencuri barang-barang pendaki di gunung? Sesama pendaki hampir mustahil. Apalagi mayoritas pendaki Rinjani yang saya temui ketika itu adalah pendaki asing—yang asumsinya lebih kaya dan ‘tidak bergaul’ dengan pendaki lokal. Guide, pasti tidak karena mereka selalu bersama kliennya, para pendaki, setiap waktu. Porter? Wallahualam.

Saya tak sempat lagi memikirkan itu. Tanjakan-tanjakan terjal mulai menghadang di depan kami. Pos ekstra muncul sebagai sedikit hiburan. Saya terus ngebut sampai ke Pos 3 Pada Balong di ketinggian 1.800 meter. Bukankah seharusnya pada jadwal yang saya buat, sore ini semestinya saya sudah ada di Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter di atas sana?

“Setelah Pos 3, lalu Pos 4, sampai Plawangan Sembalun, itu jalurnya asik,” tutur Ferry ‘Pepeng’ Ferdiansyah, seorang sahabat dari Bandung dan koki lapangan handal yang berkunjung ke Rinjani dua tahun sebelum ini.

Seasyik apa, Peng, tanya saya. Dia hanya tertawa. “Pokoknya mas Novi nikmati sendiri dah,” katanya.

SPO-PENDAKI GUNUNG SEMERU BONO DAN FERI BDG
Pepeng di puncak Tanjakan Cinta di Semeru 2013. (novi abdi)

 

Saya melihat jalur itu di bukit di seberang Pos ekstra, zigzag di punggung bukit, rapat tapi tidak terlalu menanjak—cuma pasti jauh karena zigzag itu. Tapi itu jelas bukan jalur yang kami ambil sekarang.

Pukul setengah lima, saya mulai langkah kanan dari Pos 3 sementara Ridho dan Arif baru tiba di Pos itu. Tanjakan 70 derajat sudah menghadang. Seperti mesin mobil yang menggeram dengan persnelling rendah, saya menurunkan kecepatan berjalan dan mengatur napas. Satu tarikan napas, satu hembusan, dan 5-6 langkah naik. Sepasang kaki saya kini menanggung beban lebih kurang 50 kg, di medan yang melawan gravitasi, dan udara yang kerapatannya lebih renggang.

Satu jam mendaki, saya tiba di tanah yang agak lapang. Rumput-rumput kuning di situ rebah, tanda banyak diduduki dijadikan tempat istirahat. Saya minum, makan seruas cokelat, dan menyiapkan senter. Jalan kini ada di punggung gunung yang sempit dengan vegetasi yang bekas dilahap api. Tidak terdengar dan terlihat tanda-tanda Ridho dan Arif.

Saya naik dan mengikuti jalan itu sambil memandang alam. Api benar-benar merajalela. Di jalur ini, semua terbakar dan disisakan sebagai arang. Seluruh lereng dan punggungan di kiri dan kanan, bahkan hingga tinggi jauh di sana.

Menjelang magrib, Pos 4 tampak di depan. Tiba-tiba sudah ada Arif di belakang saya, lebih kurang 150 meter di sana. Lebih jauh lagi terlihat Ridho yang berwarna merah berjalan pelan.

Matahari sudah hilang, meninggalkan jejak senja lembayung yang tipis. Pos 4, seperti semua pos shelter dari sisi Sembalun, juga dibuat dari pelat besi, atau alumunium, dan tiang-tiang logam. Tanpa panas sinar matahari, logam itu mulai mengumpulkan dingin dari temperatur yang mulai turun dan kesiur angin. Pos ini sudah kehilangan atapnya. Mungkin karena diangkat badai beberapa lama sebelumnya.

Senja di langit timur dari lereng Rinjani dekat Pos 4. ASUS ZENFONE 6/novi abdi/Antara
Senja di langit timur dari lereng Rinjani dekat Pos 4. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Saya dan Arif salat magrib dan salat isya di Pos itu. Lalu makan malam dengan roti, cokelat, keju kraft, dan air putih yang dingin. Agak susah menelannya, tapi tetap harus makan. Ridho sampai dan melakukan urutan yang sama seperti saya dan Arif lakukan.

Beberapa titik api terlihat di lembah curam di kiri dan kanan kami. Titik-titik hotspot itu seakan muncul begitu saja setelah hari gelap.

“Seperti ada orang di sana yang menyalakan api,” kata Ridho. Tentu saja, kami yakin, tak ada seorang pun di tempat api itu menyala. Ini di ketinggian 2.200 meter, tanpa air, tanpa pelindung, tak aka nada seorang pun yang mau bertahan di sini.

Jalan setapak sekarang ada di lereng dengan kemiringan yang makin curam. Saya merasa kami berjalan makin pelan. Ketika kami memasuki hutan yang utuh dan tak terjangkau api, saya merasa menjadi bagian dari rombongan Thorin Oakenshield, para kurcaci yang pergi ke Gunung untuk mengambil kembali harta dan tanah air mereka.

Punggungan gunung menyempit dan melebar. Bila menyempit, jalan menjadi jelas dan dalam. Bila punggungan itu melebar, laksana jalan bebas hambatan, ia membagi diri menjadi beberapa jalur. Saya sempat bingung sejenak, namun segera menyadari kenapa.

Jalur penyiksaan di track Sembalun, diantara Pos 4-5-6 Plawangan Sembalun.
Jalur penyiksaan (torturing track, kata kawan bule) di track Sembalun, diantara Pos 4-5-6 Plawangan Sembalun. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Di tanjakan, kita biasa memudahkan sedikit jalur naik itu dengan melipir, terutama bila ada cukup ruang untuk itu. Dengan begitu, beban bagi paha dan lutut sedikit bisa dikurangi. Melipir itu sedikit hiburan dan variasi.

Di rute antara Pos 4 dan Plawangan Sembalun,  setelah ketinggian 2.400 meter dan kita tak terasa meninggalkan hutan di belakang, jalan setapak itu berseliweran sesukanya. Selama itu menuju ke atas, Anda tidak perlu khawatir.

Arif menjadi leader sejak kami melewati gigir sempit dan jalan berpindah punggung bukit. Kami sempat  istirahat agak lama, mungkin 15 menit,  pada pukul sembilan sambil berlindung di balik pohon-pohon dari terpaan angin kencang.

Tiba-tiba saja saya melihat ujung tanah di atas sana. Ada langit dan bintang-bintang saat sedikit mendongak. Semangat dari badan yang lelah ini kembali berkobar. Di bawah sinar bulan, saya melihat sosok Arif menghilang di ketinggian. Lalu rombongan ini datang dan melewati saya begitu saja.

Pukul 11 malam, saya tiba di gigir kawah Gunung Rinjani. Inilah Plawangan Sembalun, 2.700 meter dari permukaan laut. Saya lihat Arif duduk kelelahan, juga rombongan yang menyalip kami tadi.

“Kami dari kampung bakda asar tadi,” kata seseorang yang dekat saya, yang membagi airnya kepada pendaki yang ngos-ngosan ini. Cukup 5 jam bagi mereka rupanya mengebut dari Sembalun hingga gigir kawah, luar biasa. Bakda asar itu, kami baru sampai di Pos ekstra sebelum Pos 3. Betapa lambatnya kami.

“Tentu saja, mereka tidak membawa beban seberat kita. Mereka hapal jalannya, dan mereka tidak berfoto-foto,” kata Arif.

Rombongan itu menyebutkan mereka akan turun ke lembah untuk ritual salat Jumat di Gunung Barujari. Itu gunung berapi yang umurnya seumur republik ini, nun di tengah danau sana. Saya tercengang, tapi tak sanggup lagi bertanya. Biasanya, orang turun gunung untuk salat Jumat. Para peladang yang saya kenal di tepi Danau Riam Kanan di Kalimantan Selatan, misalnya, pulang ke kampung pada Kamis sore setelah lima hari di ladangnya yang jauh di gunung.

Danau Riam Kanan, di kejauhan adalah Bukit Batas, bagian dari Pegunungan Meratus.
Tepi Danau Riam Kanan di Tiwingan di mana dam menahan aliran Sungai Riam Kanan untuk PLTA. Di kejauhan adalah Bukit Batas, bagian dari Pegunungan Meratus. (Budi Dayak Kurniawan)

Tapi Pepeng benar, jalurnya asyik, menyiksa dan menghibur pada saat yang sama, lalu memberi hadiah yang tak terlupakan selamanya. Di depan kami di bawah sana, menghampar keperakan di bawah sinar lembut rembulan, Segara Anak.

Sambil menunggu Ridho, kami mendirikan tenda di balik bukit, di balik pohon-pohon dan tenda-tenda milik para operator trekking yang seragam. Kami minta air dari para porter yang meninggalkan berbotol-botol air bersih di luar tendanya. Pada pukul 12.00 malam, memintanya adalah ‘pakai saja dulu’ baru ‘bilangnya’ besok.

“Memang sengaja ditaruh di luas mas, untuk tamu kami biasanya. Tapi siapa saja yang perlu ya silakan,” kata Anto, porter dari Sembalun yang bertemu saya keesokan harinya.

Seperti malam pertama kami di balik bukit berhutan di atas sungai jauh sebelum Pos 1, saya menyajikan milo hangat manis. Roti tawar terasa nikmat dan lebih mudah melewati tenggorokan. Ridho akhirnya sampai, dan saya pamit tidur duluan. Bila mengikuti jadwal, saya harus bangun pukul 2 nanti untuk memulai summit attack ke puncak Rinjani.

***