Pendaki Juru Kunci

Di Pos 2, kami bertemu para pendaki dari Hongkong yang cantik-cantik. Hehehe, ini bagian kedua, saudara.
Pagi-pagi, Arif sudah bangun untuk melihat jalan. Ia beriringan dengan burung-burung yang ramai berkicau di dahan-dahan di atas tenda kami. Arif pergi menyeberang sungai ke bagian yang sudah saya lewati sebelumnya.
Tepat seperti dugaan saya, Arif kembali dengan kabar bahwa sesungguhnya kami berada di jalur yang benar. Hanya karena kelelahan saja kami menjadi tidak percaya diri.
“Di ujung turunan ada belokan ke kiri, jalan turun ke jembatan. Di jembatan itu ada papan penunjuk arah yang menyebutkan Pos 1,” tutur Arif.
Saat kami sarapan, tiga penggembala sapi dari Sembalun lewat. Mereka bertanya mengapa kami menginap di tempat yang tidak biasa orang menginap itu. Kepada mereka, kami juga bertanya arah dan jalan.
“Pos 1 lebih kurang satu jam dari sini,” kata yang paling belakang, yang mengenakan headset untuk handphone di telinganya dengan selempang sarung dan sepatu boot plastik.
Satu jam? Kami tertawa. Jadi, seandainya saya terus jalan tadi malam, maka betul, lebih kurang pukul 10.00 malam itu saya akan tiba di Pos 1. Tapi, kami memang tak tahu. Tak seorang pun dari kami pernah melewati jalan ini sebelumnya. Kami tak bersama pemandu, dan tidak minta tolong porter. Saya tak terpikir untuk menelpon petugas di kantor Taman Nasional untuk sekedar bertanya meyakinkan diri. Sinyal Telkomsel masih jelas sampai Pos 1.
Ternyata tanpa pemandu dan porter, khusus bagi yang baru pertama kali ke Rinjani, rute sederhana pun jadi petualangan yang bisa jadi bahan cerita.
Perjalanan dimulai kembali beberapa saat sebelum pukul 10.00 pagi. Kami mulai dengan doa dan langkah kanan dan hati riang.
Dari jembatan beton yang diceritakan Arif, kami melihat porter-porter yang bergegas. Lalu serombongan panjang pendaki bule di belakang mereka. Menurut Ridho, rombongan yang kami lihat memulai perjalanan dari Bawahenau, bukan dari Sembalun Lawang seperti yang kami lakukan.

Jalan menanjak perlahan di punggung-punggung bukit. Ada variasi turunan dan tikungan, dan jalan terus menuju ke barat.
Itulah Pos 1 Pemantauan, berupa dua bangunan seperti pos keamanan lingkungan atau gardu jaga di komplek perumahan. Pos ini dibuat permanen, dan satu lagi disusun dari pipa dan pelat besi. Bisa dibayangkan dinginnya pos dari besi itu bila malam tiba.
Saya beristirahat di pos logam itu. Lalu datang rombongan orang-orang tua bule mengisi pos beton di seberang. Sepuluh menit berselang, rombongan si Mbah.
“Hehehe, ketemu lagi,” katanya riang. Saya juga tertawa. Wah, si Mbah tidak bilang bahwa rombongannya ini terdiri dari 4 perempuan cantik-cantik. Ada Mika, ada si reporter Metro TV itu yang saya lupa namanya, lalu si April, dan seorang yang atletis, berkerudung, namun selalu ada di belakang. Selain si Mbah, ada dua lelaki, Kendi suami April, dan seorang lagi yang saya tak ingat.
“Sendirian, mas?” tanya Mika.
“Oh, tidak lagi. Sekarang kan ada kalian,” seloroh saya. Pertanyaan Mika adalah pertanyaan standar kepada saya dan ditanyakan orang dari ujung timur hingga barat Indonesia oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai macam bahasa.

Anyway, dalam perjalanan kali ini, Asus Zenfone 6 menjadi modal saya bertegur sapa, selain senyum tentu saja. “Saya punya beberapa foto kalian, bila ada email atau facebook saya bisa share…” demikian kalimat ajaibnya. Sungguh seribu teman masih kurang (ada facebook yang menghitung jumlah teman kita) dan satu musuh sungguh terlalu banyak (ada buku harian yang menghitungnya)
Si Metro TV berbagi Pocari Sweat yang manis asam menyegarkan. Dia ternyata staf Najwa Shihab untuk acara Mata Najwa. Saya hampir tak pernah menonton acara itu. Sudah lama saya tidak lagi menonton televisi.
Pukul setengah dua belas, Ridho dan Arif serta saya mulai berjalan lagi. Tanjakan mulai semakin panjang walaupun belum ada yang ekstrem. Tepat seperti disampaikan seorang pemandu, lebih kurang satu jam dari Pos 1 Pemantauan itu, kami tiba di Pos 2 Tengengean. Dari ketinggian 1.300 m dpl ke 1.600 mdpl.
Di Pos 2 ada air, ada sungai kering, dan ada jembatan di atasnya. Air berasal dari sumber mata air kecil, dimana air merembes keluar dari pasir, dan seseorang menyaringnya dengan menggunakan 2 buah botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Air yang keluar dari ujung botol satunya mirip pancuran kecil dari air keran yang dibuka seperempatnya. Satu botol besar 1.500 ml penuh dalam 4 menit.
Di Pos 2 yang ramai pada jam makan siang itu, saya lihat, tak ada yang menggunakan air dari mata air itu untuk minum. Para porter membuka air persediaan mereka, berupa air dalam kemasan satu setengah liter itu. Saya yang sudah menghabiskan separo persediaan air, tidak punya pilihan lain selain menggunakan air saringan itu. Warnanya cukup memenuhi syarat mata saya, dan nanti bila sudah direbus, sudah lulus syarat mulut dan perut.
Semua yang kami temui di Pos 1, masih bertemu lagi di Pos 2, ditambah mereka yang sudah istirahat terlebih dahulu di situ. Sebelum membuka bekal sendiri, saya mendapat kehormatan makan siang dengan para orangtua dari Polandia—hanya karena seorang dari mereka pernah ke Balikpapan untuk berburu batubara. Lalu berkenalan dengan para pemuda dari Jerman itu, yang jangkung-jangkung dan berjalan penuh percaya diri.
Setelah mengambil persediaan air tambahan, kami naik ke shelter yang dibangun permanen di bagian atas. Shelter yang di bawah yang berwarna hijau, ditinggalkan porter dengan sampah berserakan.
Kami menggabungkan salat zuhur dan asar sekaligus. Saya membongkar ransel dan memasak makan siang. Ridho dan Arif rupanya memutuskan berbeda, tapi mereka tak keberatan menunggu dan makan camilan. Apalagi di Pos 2 di bagian atas itu ada sejumlah pria dan wanita-wanita cantik yang buka praktik massage.
“Saya kira dari Taiwan, atau Hongkong,” kata Arif. Sungguh, ia tidak bermaksud bergurau.

Ternyata rombongan itu berasal dari Medan. Kawan-kawan itu orang-orang etnis Hakka, Warga Negara Indonesia, dan gemar berbicara bahasa ibunya—seperti Orang Jawa berbahasa Jawa, orang Sunda berbahasa Sunda, dan lain-lain. Para lelaki Cina Medan itu berpenampilan ala serdadu yang dikirim ke Perang Teluk dengan baju dan kamuflase warna gurun dan rambut crewcut. Para perempuannya, yang tadi saling memijat dengan balsam Counterpain, cantik-cantik belaka seperti para pemain sinetron Korea.
Saya yang sibuk memasak mi, telur, dan korned tak sempat banyak bertegur sapa dengan para perempuan, tapi ngobrol sedikit dengan para lelaki, yang kebetulan dekat dengan kompor saya. Seperti kebanyakan pendaki, semua bangga sudah mencapai puncak dan dengan perjalanan ini. “Tanah Air kita indah sekali,” kata A Long.
Dari Pos 2 itu, kami resmi menjadi tim juru kunci. Rombongan Polandia sudah lama pergi, disusul para pemuda Jerman. Rombongan si Mbah sudah permisi lanjut ketika saya makan siang. Terakhir para kawan dari Medan pamit turun ke Sembalun. Pemandangan savana yang kering dan terbakar membentang di seluruh arah mata memandang.
Saya kembali mantap menyandang ransel punggung seberat 24 kg ini. Saya tahu itu karena memang menimbangnya. Di Balikpapan, sesaat sebelum dimasukkan bagasi pesawat, carrier itu berbobot 18 kg. Lalu di Mataram, di timbangan di depan resepsionis, setelah diisi bekal dan beberapa perlengkapan tambahan, 25 kg. Beratnya pasti berkurang sedikit karena sebagian makanan sudah kita habiskan sejak tadi malam.
Saya masih punya tambahan satu ransel lagi di depan, yang isinya kamera, jaket hujan, sedikit makanan, dan air minum.
Perut kenyang itu sesuatu banget dalam olahraga mendaki gunung ini fren. Kalau lapar, selain tidak kuat angkat-angkat, jalan juga bisa tersandung-sandung dan pikiran kemana-mana. Tidak fokus. Kalau tidak fokus, jalan setapak ke kiri, kita malah ke kanan. Akhirnya orang ini bisa hilang di gunung dalam cuaca yang cerah.
***

Jalan makin menanjak dan kini berada di punggung-punggung bukit. Ada seruas panjang jalan yang penuh batu-batu dan kiri kanannya seolah sungai kering. Mungkin tempat aliran lahar bila Rinjani meletus, atau memang jalan air bila hujan lebat turun. Di situ ada sebatang pohon yang tampak merana, menghitam karena terbakar bersama rumput-rumput di bawahnya.
Di ujung atas tanjakan, jalan berbelok ke kanan, mendatar, dan menurun setelah seratus meter. Saya mendapati seseorang tengah duduk istirahat di bibir tebing.
“Masnya mau muncak kan. Hati-hati dengan barang yang ditinggal di Plawangan Sembalun,” kata Dimas, pendaki dari Surabaya itu. Oh, kenapa gerangan?

Tenda Dimas rupanya disatroni maling saat ditinggal summit attack. Dua handphone, uang Rp400.000 hilang. Duh, siapa yang tega berbuat itu di gunung?
Demikian, Dimas masih bermurah hati membagi air yang dimilikinya. Ia memberi saya saya sebotol dari dua botol besar yang dibawanya.
Saya berterimakasih atas air dan peringatan itu. Sekali lagi, siapa yang tega mencuri barang-barang pendaki di gunung? Sesama pendaki hampir mustahil. Apalagi mayoritas pendaki Rinjani yang saya temui ketika itu adalah pendaki asing—yang asumsinya lebih kaya dan ‘tidak bergaul’ dengan pendaki lokal. Guide, pasti tidak karena mereka selalu bersama kliennya, para pendaki, setiap waktu. Porter? Wallahualam.
Saya tak sempat lagi memikirkan itu. Tanjakan-tanjakan terjal mulai menghadang di depan kami. Pos ekstra muncul sebagai sedikit hiburan. Saya terus ngebut sampai ke Pos 3 Pada Balong di ketinggian 1.800 meter. Bukankah seharusnya pada jadwal yang saya buat, sore ini semestinya saya sudah ada di Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter di atas sana?
“Setelah Pos 3, lalu Pos 4, sampai Plawangan Sembalun, itu jalurnya asik,” tutur Ferry ‘Pepeng’ Ferdiansyah, seorang sahabat dari Bandung dan koki lapangan handal yang berkunjung ke Rinjani dua tahun sebelum ini.
Seasyik apa, Peng, tanya saya. Dia hanya tertawa. “Pokoknya mas Novi nikmati sendiri dah,” katanya.

Saya melihat jalur itu di bukit di seberang Pos ekstra, zigzag di punggung bukit, rapat tapi tidak terlalu menanjak—cuma pasti jauh karena zigzag itu. Tapi itu jelas bukan jalur yang kami ambil sekarang.
Pukul setengah lima, saya mulai langkah kanan dari Pos 3 sementara Ridho dan Arif baru tiba di Pos itu. Tanjakan 70 derajat sudah menghadang. Seperti mesin mobil yang menggeram dengan persnelling rendah, saya menurunkan kecepatan berjalan dan mengatur napas. Satu tarikan napas, satu hembusan, dan 5-6 langkah naik. Sepasang kaki saya kini menanggung beban lebih kurang 50 kg, di medan yang melawan gravitasi, dan udara yang kerapatannya lebih renggang.
Satu jam mendaki, saya tiba di tanah yang agak lapang. Rumput-rumput kuning di situ rebah, tanda banyak diduduki dijadikan tempat istirahat. Saya minum, makan seruas cokelat, dan menyiapkan senter. Jalan kini ada di punggung gunung yang sempit dengan vegetasi yang bekas dilahap api. Tidak terdengar dan terlihat tanda-tanda Ridho dan Arif.
Saya naik dan mengikuti jalan itu sambil memandang alam. Api benar-benar merajalela. Di jalur ini, semua terbakar dan disisakan sebagai arang. Seluruh lereng dan punggungan di kiri dan kanan, bahkan hingga tinggi jauh di sana.
Menjelang magrib, Pos 4 tampak di depan. Tiba-tiba sudah ada Arif di belakang saya, lebih kurang 150 meter di sana. Lebih jauh lagi terlihat Ridho yang berwarna merah berjalan pelan.
Matahari sudah hilang, meninggalkan jejak senja lembayung yang tipis. Pos 4, seperti semua pos shelter dari sisi Sembalun, juga dibuat dari pelat besi, atau alumunium, dan tiang-tiang logam. Tanpa panas sinar matahari, logam itu mulai mengumpulkan dingin dari temperatur yang mulai turun dan kesiur angin. Pos ini sudah kehilangan atapnya. Mungkin karena diangkat badai beberapa lama sebelumnya.

Saya dan Arif salat magrib dan salat isya di Pos itu. Lalu makan malam dengan roti, cokelat, keju kraft, dan air putih yang dingin. Agak susah menelannya, tapi tetap harus makan. Ridho sampai dan melakukan urutan yang sama seperti saya dan Arif lakukan.
Beberapa titik api terlihat di lembah curam di kiri dan kanan kami. Titik-titik hotspot itu seakan muncul begitu saja setelah hari gelap.
“Seperti ada orang di sana yang menyalakan api,” kata Ridho. Tentu saja, kami yakin, tak ada seorang pun di tempat api itu menyala. Ini di ketinggian 2.200 meter, tanpa air, tanpa pelindung, tak aka nada seorang pun yang mau bertahan di sini.
Jalan setapak sekarang ada di lereng dengan kemiringan yang makin curam. Saya merasa kami berjalan makin pelan. Ketika kami memasuki hutan yang utuh dan tak terjangkau api, saya merasa menjadi bagian dari rombongan Thorin Oakenshield, para kurcaci yang pergi ke Gunung untuk mengambil kembali harta dan tanah air mereka.
Punggungan gunung menyempit dan melebar. Bila menyempit, jalan menjadi jelas dan dalam. Bila punggungan itu melebar, laksana jalan bebas hambatan, ia membagi diri menjadi beberapa jalur. Saya sempat bingung sejenak, namun segera menyadari kenapa.

Di tanjakan, kita biasa memudahkan sedikit jalur naik itu dengan melipir, terutama bila ada cukup ruang untuk itu. Dengan begitu, beban bagi paha dan lutut sedikit bisa dikurangi. Melipir itu sedikit hiburan dan variasi.
Di rute antara Pos 4 dan Plawangan Sembalun, setelah ketinggian 2.400 meter dan kita tak terasa meninggalkan hutan di belakang, jalan setapak itu berseliweran sesukanya. Selama itu menuju ke atas, Anda tidak perlu khawatir.
Arif menjadi leader sejak kami melewati gigir sempit dan jalan berpindah punggung bukit. Kami sempat istirahat agak lama, mungkin 15 menit, pada pukul sembilan sambil berlindung di balik pohon-pohon dari terpaan angin kencang.
Tiba-tiba saja saya melihat ujung tanah di atas sana. Ada langit dan bintang-bintang saat sedikit mendongak. Semangat dari badan yang lelah ini kembali berkobar. Di bawah sinar bulan, saya melihat sosok Arif menghilang di ketinggian. Lalu rombongan ini datang dan melewati saya begitu saja.
Pukul 11 malam, saya tiba di gigir kawah Gunung Rinjani. Inilah Plawangan Sembalun, 2.700 meter dari permukaan laut. Saya lihat Arif duduk kelelahan, juga rombongan yang menyalip kami tadi.
“Kami dari kampung bakda asar tadi,” kata seseorang yang dekat saya, yang membagi airnya kepada pendaki yang ngos-ngosan ini. Cukup 5 jam bagi mereka rupanya mengebut dari Sembalun hingga gigir kawah, luar biasa. Bakda asar itu, kami baru sampai di Pos ekstra sebelum Pos 3. Betapa lambatnya kami.
“Tentu saja, mereka tidak membawa beban seberat kita. Mereka hapal jalannya, dan mereka tidak berfoto-foto,” kata Arif.
Rombongan itu menyebutkan mereka akan turun ke lembah untuk ritual salat Jumat di Gunung Barujari. Itu gunung berapi yang umurnya seumur republik ini, nun di tengah danau sana. Saya tercengang, tapi tak sanggup lagi bertanya. Biasanya, orang turun gunung untuk salat Jumat. Para peladang yang saya kenal di tepi Danau Riam Kanan di Kalimantan Selatan, misalnya, pulang ke kampung pada Kamis sore setelah lima hari di ladangnya yang jauh di gunung.

Tapi Pepeng benar, jalurnya asyik, menyiksa dan menghibur pada saat yang sama, lalu memberi hadiah yang tak terlupakan selamanya. Di depan kami di bawah sana, menghampar keperakan di bawah sinar lembut rembulan, Segara Anak.
Sambil menunggu Ridho, kami mendirikan tenda di balik bukit, di balik pohon-pohon dan tenda-tenda milik para operator trekking yang seragam. Kami minta air dari para porter yang meninggalkan berbotol-botol air bersih di luar tendanya. Pada pukul 12.00 malam, memintanya adalah ‘pakai saja dulu’ baru ‘bilangnya’ besok.
“Memang sengaja ditaruh di luas mas, untuk tamu kami biasanya. Tapi siapa saja yang perlu ya silakan,” kata Anto, porter dari Sembalun yang bertemu saya keesokan harinya.
Seperti malam pertama kami di balik bukit berhutan di atas sungai jauh sebelum Pos 1, saya menyajikan milo hangat manis. Roti tawar terasa nikmat dan lebih mudah melewati tenggorokan. Ridho akhirnya sampai, dan saya pamit tidur duluan. Bila mengikuti jadwal, saya harus bangun pukul 2 nanti untuk memulai summit attack ke puncak Rinjani.
***
Lereng Hitam Gunung Biru

Ini cerita saya keluyuran ke Rinjani sendirian. Dengan ‘sendirian’, Rinjani yang sudah ramai oleh turis ternyata memberi petualangan yang cukup mengesankan. Ini bagian pertama.
Sabana Sembalun terbakar hebat beberapa hari sebelum saya melintasinya di awal November 2014. Padang yang luas itu menyisakan pemandangan hitam di lereng-lereng dan asap tipis yang naik perlahan di mana-mana. Satu dua pohon dan sepetak rumput yang selamat biasanya ada di ceruk atau lembah sempit di mana angin berhenti dan api kehabisan tenaga.
“Rinjani kehilangan keindahannya hingga 70 persen,” kata Andi, pendaki asal Jerman. Meski begitu, terlihat tidak ada yang begitu peduli. Keindahan alam, dalam pendakian gunung, memang sering bukan tujuan utama perjalanan. Pemandangan bagus adalah bonus—meski pada Rinjani adalah salah satu komoditas utama.

Sebab itu pula Andi dan teman-temannya, Andreas, Peter, dan Chris tidak kecewa sedikitpun. Termasuk saat melihat sampah yang berserakan di setiap pos atau bertebaran sepanjang jalan. Begitu pula orang-orang tua Polandia yang saya temui di Pos 1. Mereka tetap berfoto dengan latar lereng yang hitam.
“Yang penting itu kita sudah di sini, sobat,” kata Peter. Latar belakang lereng yang hitam dengan warna biru gunung di kejauhan juga bisa indah ternyata. Saya lihat di foto yang saya buat kemudian, masih ada nuansa hijau sedikit di sana-sini. Hijau muda cerah itu berasal dari tunas-tunas rumput yang menyembul di balik gerumbul sisa rumput terbakar.
***
Saya tiba di padang ini malam hari setelah memulai perjalanan dari kantor Taman Nasional Rinjani di Sembalun. Di kantor itu saya masih terkejut setelah beberapa kali terkejut karena mendapati hal-hal berbeda dari informasi yang saya dapat di internet dengan kenyataan di lapangan.
Pertama, entah saya yang salah mengerti, entah memang saat itu saya tidak mendapatkan informasi yang benar, saya tidak tahu. Kalian yang sudah pernah ke Rinjani boleh tertawa. Dari beberapa cerita laporan perjalanan, saya mengira bahhwa Aikmel itu nama pasar di Mataram yang di depannya ada banyak engkel ngetem menunggu penumpang.
Maka itu, saya kira, rutenya adalah dari Mataram kota, ke Aikmel (terminal) untuk lanjut ke (desa) Sembalun di kaki Rinjani. Di Aikmel (pasar) juga kita bisa belanja kebutuhan di gunung.
Karena itu juga saya bingung ketika disebut Terminal Mandalika di Mataram–walaupun kemudian, kata saya dalam hati, kan biasa sebuah kota punya lebih dari satu terminal.
Aikmel (ternyata) adalah nama kecamatan yang jauhnya sudah 40 km lebih kurang dari Mataram. Makan waktu 1 jam lebih kurang, dan makan ongkos Rp50.000 bila menumpang travel atau hanya Rp20.000 bila naik engkel yang jumlahnya sedikit itu.
Engkel ini sebutan untuk moda transportasi antarkota dalam provinsi di NTB. Yang digunakan minibus seperti Elf. Lupa saya tanya kenapa namanya ‘engkel’. Barangkali karena sedikit itu, menunggunya bisa lama, dan itu bisa bikin jengkel, hahaha.
Kedua, walaupun sudah tidak terlalu terkejut, saya tetap geleng kepala sambil mengutuki diri sendiri. Travel (artinya mobil Kijang Innova berpelat hitam yang berlaku seperti taksi berpelat kuning) yang saya tumpangi mau mengantar saya ke Sembalun dengan biaya Rp250.000 dari Aikmel. Itu tidak termasuk ongkos rute Mataram-Aikmel yang sudah saya jalani. Jadi seluruhnya saya membayar Rp300 ribu.
“Daripada masnya menunggu lama di Aikmel,” kata Faisal, pengemudi travel itu.
Saat lewat Aikmel untuk mengantar penumpang yang ingin menyeberang ke tambang batu hijau PT Newmont Nusa Tenggara, pada pukul 3 sore, memang terlihat tak ada lagi pick up sayur yang bisa ditumpangi ke Sembalun. Weh.
Maka, di awal perjalanan ini, jadilah saya turis yang berlagak terburu-buru dan menganggap uang bukan masalah. Saya menjadi bukan-backpacker-yang-mencari-serba-murah bahkan kalau-bisa-gratis. Apa boleh buat, saya adalah korban kesalahan perencanaan yang saya buat sendiri yang diawali dengan kesalahan memahami informasi. Saya yang mengerjakan, saya yang merasakan.
Tetapi, saya juga mensyukurinya. Kalau tak demikian, saya tidak bisa berhenti sesuka hati, seperti menikmati sedikit pemandangan indah di Pusuk itu.

Mantap. Seperti kesimpulan Brian Thacker, tukang keluyuran dari Australia yang saya kenal kemudian, perjalanan itu sendiri sering memberi petualangan lebih seru ketimbang tempat yang dituju—yang salah satunya ditentukan dengan moda transportasi apa kita menuju.
Well, macam tu lah.
Nah, saya masih kaget setelah melapor di pos di Sembalun. Kali ini karena izin dan retribusi. Untuk 4 hari pendakian, ternyata cukup Rp20.000, alias Rp5.000 per hari. Informasi yang saya dapat, Balai Taman Nasional sudah menaikkan tarif menjadi Rp20.000 per hari untuk pendaki warga Indonesia dan Rp100.000 hari untuk warga asing.
“Sudah dikembalikan ke tarif awal,” kata seorang petugas. Menurut petugas itu, yang keberatan atas kenaikan itu terutama para pelaku wisata di Lombok sendiri. Di Rinjani ada porter, ada guide, dan ada pemilik atau operator biro perjalanan. Harga izin yang mahal menyurutkan orang datang dan mendaki Rinjani. Bila begitu, penurunan pendapatan buat semua.
Administrasi pendakian juga menjadi longgar sekali. Saya mencatatkan nama dan alamat di buku tamu sambil mendengarkan penjelasan petugas. “Saya sarankan untuk istirahat saja dulu malam ini, baru mulai perjalanan besok,” kata Yudi, petugas itu. “Apalagi banyak jalan sapi yang bisa menyesatkan,” tambahnya.
Orang Sembalun menggembalakan sapi-sapi mereka hingga ke dekat Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. “Apakah saya wajib melapor lagi saat turun di Senaru nanti?” tanya saya. Yudi bilang boleh saja kalau mau melapor di Pos Senaru, yang ada di mulut gerbang pendakian dari Senaru. Boleh saja itu artinya tidak pun tak apa-apa.
Jadi, saya putuskan beristirahat dulu sebentar. Di seberang jalan depan balai-balai pendaki di halaman kantor Balai Taman Nasional itu ada warung kopi dan pisang goreng. Saya kembali ke balai-balai itu dengan segelas kopi hitam dan lima pisang goreng. Sekarang ada kawan baru, Ridho dan Arif dari Yogyakarta, dan si Mbah dari Malang. Si Mbah ini teman lama sewaktu mendaki Semeru—suatu kebetulan yang tak disangka-sangka.
“Selama masih ada gunung, dan selama masih naik gunung, insya Allah kita akan selalu ketemu,” tawa si Mbah. Masih sama seperti di Semeru, ia juga menjadi pemandu para pendaki dari Jakarta. Si Mbah tiba lebih dahulu dan sedang menunggu kawan-kawannya itu.

“Dan kamu selalu sendirian ya,” tawa si Mbah terus mengembang. Penampilannya tak berubah, tetap dengan rambut lurus panjang ala Wind in His Hair (Angin di Rambutnya, Phehinj Othate, tokoh Indian Sioux-Lakota dalam film Dances With Wolves), celana panjang kargo lusuh, kemeja flannel, serta kaus. Di pojok itu carrier ukuran sedang si Mbah.
Ridho dan Arif mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Ridho punya kemiripan 10 persen dengan Ridho Rhoma, anaknya Raden Haji Oma Irama itu. Ada pipi tembem, ada cambang, tapi tak pernah saya dengar selama perjalanan itu kemudian Ridho menyanyi. Bahkan bersiul pun tidak.
Arif dan Ridho tidak diburu waktu, tapi sepakat dengan saya untuk memulai perjalanan segera setelah mengaso sebentar ini.
“Mungkin kita bisa jalan sampai pukul 10 malam, mungkin sampai Pos 2,” kata Ridho. Setidaknya jalan di malam hari tak dihajar panas terik sabana.
Setelah berdoa sebentar, kami mulai jalan. Benar belaka kata petugas Taman Nasional itu, jalan bisa membingungkan bagi yang baru pertama kali lewat. Banyak percabangan, dan nyaris tidak ada petunjuk apa pun sepanjang jalan. Kami lalu bertemu seorang bapak yang memberi pesan sangat berguna, “jangan ambil jalan yang ke kiri.”
Meski begitu setiap kali kami bertemu persimpangan, terutama yang agak besar, tetap saja kami harus berhenti sebentar. Akhirnya, setelah beberapa lama, saya meyakinkan diri bahwa jalan ini jalan yang benar, asal tidak ekstrem ke kiri.
Pukul delapan malam, setelah tikungan besar ke kiri, ya setelah tikungan besar ke kiri, saudara, berdiri kaku gerbang Sembalun Lawang dari Taman Nasional Gunung Rinjani. Kami sudah berada di ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut. Mulai dari titik ini, saya perlahan meninggalkan Ridho dan Arif.

Jalan pembuka menurun tajam, baru menanjak sedikit sampai ke ujung tikungan dan menanjak lagi di lereng bukit. Lalu padang terbuka luas di bawah bintang.
Bulan purnama ada di belakang saya, lampu-lampu Sembalun di sebelah kanan, dan itu dia, Rinjani di sebelah kiri dalam bayangan kelam yang lembut. Saya melihat lampu-lampu yang mendekat. Enam anak muda yang kurus rupanya dalam perjalanan turun. Saya merasa beruntung karena saat itu di depan saya begitu banyak percabangan jalan. Asal lampu anak-anak muda itu menjadi petunjuk bagi saya mana jalan yang benar di padang yang menyesatkan ini.
Bulan makin tinggi dan alam temaram. Saya terus melangkah, pelan, tapi pasti. Jalan menurun dan menikung lalu sampai di sungai yang kering, dan menanjak lagi setelah menyeberanginya. Saya melihat arloji, pukul setengah sepuluh malam. Saya dan dua kawan di belakang berarti sudah berjalan 4 jam, dan belum sampai juga di Pos 1.
Di peta panorama dari kantor Taman Nasional itu, juga dari cerita-cerita di blog, mereka hanya berjalan 2 jam dari tepi jalan aspal untuk sampai Pos 1. Saya yakin, itu pasti menurut langkah porter yang paling kuat dan paling cepat. Saya jadi meragukan diri sendiri. Betulkah kami menyusuri jalan yang benar? Apalagi jalan ini menurun, makin mendekat ke arah lampu-lampu Sembalun di bawah sana dan meninggalkan Rinjani di belakang? Apakah saya mengambil jalan yang salah dari beberapa pilihan persimpangan yang dilewati tadi?
Saya mendekati bibir jurang di kiri saya. Tak ada apa pun yang terlihat di bawah situ meski cahaya bulan bersinar terang. Saya merasa salah jalan. Ya Tuhan, ini belum lagi Pos 1, dan ini gunung yang dikunjungi turis setiap waktu, dan saya merasa tersesat, hanya karena sapi turut berkeliaran di gunung ini.
Saya kembali ke ujung tanjakan sekeluar sungai. Duduk di tepi jalan, minum, dan makan cokelat. Saya lepas carrier dan berjalan naik ke bukit. Sama sekali tak meyakinkan. Hanya jalan di bawah itulah satu-satunya jalan. Tapi kok menuju ke perkampungan?
Pukul 10 malam saya putuskan untuk istirahat dan bermalam. Saya kembali ke sungai kering dan ingat di atasnya ada rimbunan pohon yang tampak nyaman. Makan malam, tidur, istirahat, dan kita lihat besok di mana kita berada. Selesai menegakkan tenda, saya melihat dua lampu beriringan. Ridho dan Arif, dan rupanya mereka pun sama bingungnya dengan saya. Sebab itu, ajakan untuk istirahat dan bermalam di tikungan jalan itu tak ditolak. Apalagi setelah saya menyajikan biskuit dan milo hangat.
***
SAHAM-SAHAM BUSANG
Saya membaca buku ini dalam semalam. Segera setelah mendapatkannya usai pelatihan yang melelahkan sore itu, saya mulai maraton melalap kata. Terus berlanjut dalam perjalanan ke bandara, menunggu masuk pesawat, 2 jam lebih kurang penerbangan ke Balikpapan, membacanya di bawah lampu merkuri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan dari bandara, dan kemudian hingga pukul dua dinihari di rumah.
Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi judul buku itu. Beberapa tahun belakangan ini, penulisnya kembali terkenal karena gemar mengatakan ‘mak nyuss’ usai mencicipi hidangan apa saja: Bondan Winarno.
Saya bertemu Pak Bondan, seingat saya, dalam 3-4 kali kesempatan berbeda di kota-kota berbeda. Dari itu, hanya 2 kali sempat ngobrol. Sekali sebagai jurnalis-nara sumber, dan satu kali lagi sebagai fans-idola.
Bondan pernah ke Balikpapan untuk menjadi juri lomba masakan dalam sebuah pameran di Lapangan Merdeka (bukan lomba masak, tapi lomba masakan—karena sudah disajikan dan kita tidak melihat bagaimana makanan itu dimasak). Pak Bondan bersama seorang ahli kuliner terkenal, dan seorang koki hebat di hotel terkenal di Balikpapan, berkeliling ke stand-stand peserta, mencicipi, memberi conteng di kertas yang mereka bawa, dan kemudian memberi keterangan pers.
Pada kesempatan lain, ketemu dan bicara-bicara singkat di bandara dalam perjalanan ke anjungan tempat menunggu pesawat, saya bilang kepadanya saya belum ketemu buku yang ditulisnya tahun 1997 itu. Saya juga bilang saya penggemar kolomnya di majalah Tempo sebelum majalah itu dibunuh pemerintah tahun 1994.
Bondan dalam perjalanan ke suatu kota untuk acara kuliner sebuah stasiun televisi. Seperti umumnya fans, saya sudah merasa tersanjung ia mau bersalaman, mendengarkan sebentar, memberi tanda tangan, dan mengucapkan harapan semoga kita semua sukses.
“Mungkin buku itu mas bisa dapatkan di perpustakaan, atau di beberapa LSM,” kata Bondan.
Setelah mendapatkan bukunya di acara pelatihan itu, saya baru tahu bahwa sesungguhnya buku itu tidak pernah mencapai pasar untuk dijual bebas. Bondan bercerita dalam lembar terpisah, bahwa seorang pejabat membeli ke-5.000 eksemplar cetakan pertama dan mengganti ongkos cetaknya plus biaya yang dikeluarkan Bondan untuk mengumpulkan fakta dan menuliskannya.
Buku yang ada pada saya, mungkin Bondan tak akan suka mendengarnya, saya dapat dengan menggandakan buku yang saya pinjam dari seorang teman.
***
Karena apa yang ditulisnya sebagai kolumnis di Tempo, saya kira dulu Bondan Winarno jurnalis untuk liputan ekonomi. Saya agak bingung sejenak ketika di pelatihan kami ia disebut sebagai jurnalis penyelidik paling handal yang pernah dimiliki Indonesia. Ternyata ia memang begitu, jurnalis yang biasa menyelidiki kasus-kasus ekonomi.
Pelatihan yang saya ikuti dulu itu memang pelatihan jurnalis investigasi. Yang mengadakan kawan-kawan di Transparency Internasional (TI). Oleh satu mentor kami di acara itu, Metta Dharmasaputra, saat itu masih bekerja untuk Koran Tempo, buku Bondan dijadikan karya klasik contoh bagaimana sebuah penyelidikan dilakukan, dan kemudian dituliskan.
“Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” adalah buku yang ditulisnya setelah menyelidiki, melakukan investigasi secara mendalam fraud, penipuan besar-besaran secara terancang dan sistematis dengan latar utama tambang emas Busang, jauh di pedalaman Kalimantan.
Awalnya sederhana. Seseorang mengaku menemukan cadangan emas terbesar di dunia di Busang, di hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Oleh John B Felderhof, geologis Bre-X, pada September 1993, disebutkan ia telah menemukan cadangan emas Busang dengan potensi hingga 2 juta ons emas.
Disitulah drama dimulai. Pengumuman itu membuat harga saham Bre-X melesat. Awalnya di Alberta Stock Exchange, Calgary, Canada yang saat mulai dicatatkan, sahamnya tak lebih dari 27 sen dolar Canada, bahkan pernah jatuh sampai hanya 2 sen.
Pengumuman potensi cebakan emas Busang membuat Bre-X bak gadis cantik seksi sekaligus mulai belajar jual mahal. Ajakan kerjasama oleh Barrick Gold Corporation dibuat tarik ulur sedemikian rupa sehingga membuat harga saham menjadi gurih.
Oktober 1995 Bre-X mengumumkan perhitungan potensi baru emas Busang, yaitu mencapai 30 juta ons emas.
April 1996, harga saham Bre-X yang suda dipindahkan ke Toronto Stock Exchange dari C$187,50 naik hingga C$192,50. Setelah harga saham naik sampai C$201,75, Bre-X memecah sahamnya. Satu saham lama menjadi 10 saham baru dengan harga juga menjadi sepersepuluhnya.
Harga saham 20,1 dolar Canada bertahan atau turun naik di sekitar angka itu terjadi sampai Februari 1997. Sampai sejumlah drama lagi terjadi. Pada 18 Maret 1997, geologis senior Bre-X berkebangsaan Filipina, Michael de Guzman, meloncat dari helikopter yang menerbangkannya dari Samarinda ke Busang. Mayatnya ditemukan 4 hari kemudian.
Sebelumnya sejumlah pihak yang ingin ikut bergabung atau diajak bergabung mengelola Busang, salah satunya adalah Freeport McMoran, ingin menguji sendiri kandungan emas Busang. Tentu ini prosedur standar, due diligence sebutannya.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Freeport menyebutkan kandungan emas Busang tidak ekonomis ditambang secara besar-besaran. Bre-X yang ingin ‘cuci tangan’ lalu menyewa Strathcona, surveyor independen berkredibilitas tinggi, untuk melakukan penelitian ulang. Penunjukan Strathcona sempat menahan penurunan harga saham. Namun, hasil dari Strathcona sama dengan laporan Freeport.
Saham Bre-X langsung melorot ke level C$16,25 per lembar. Freeport masih melanjutkan laporannya dan mengatakan selama ini Bre-X melebih-lebihkan (overstated) angka mengenai jumlah kandungan emas Busang.
Saham Bre-X terjun bebas hingga C$2,50. Bre-X kehilangan harga pasar hingga C$3 juta dalam 30 menit transaksi.
Drama belum berakhir. Tanggal 4 Mei 1997, Strathcona menyurati Bre-X, mengatakan bahwa sebenarnya di Busang tidak ada emas yang dijanjikan. Emas yang ada di inti bor yang selama ini dibawa ke laboratorium untuk diteliti, ternyata sengaja dibubuhkan belakangan. Inti bor itu dicemari (salted). Harga saham langsung terbanting hingga tinggal 8 sen dolar Canada. Seperti pukulan terakhir yang mematikan, karena tak ada lagi yang percaya, Toronto Stock Exchange melakukan delisting atas saham Bre-X atau mengeluarkannya dari daftar saham yang diperjualbelikan.
***
Saya kembali mengingat Bre-X dan sahamnya karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumpulkan kami sejumlah jurnalis di Balikpapan sekitar 3 pekan lalu. Dalam acara kumpul-kumpul itu, Arif Budiman, seorang Kepala Bagian di Direktorat Pengawasan Lembaga Efek menjelaskan apa dan bagaimana Pasar Modal atau Bursa Efek, satu hal yang menjadi obyek pengawasan OJK.
Sedemikian rupa Arif Budiman berusaha menyederhanakan soalan. Saya ingat kata-kata Einstein, orang pintar dan bijaksana membuat persoalan rumit menjadi mudah dicerna. Arif pun memulai dari yang paling sederhana, saham.
Saham adalah tanda keikutsertaan menanam modal pada sebuah usaha. Pada perusahaan atau perseroan tertutup, saham dibagi diantara sesama yang bersepakat untuk membuka usaha itu. Orang yang datang belakangan dan ingin turut menanam modal di usaha itu harus mendapat kesepakatan para pendiri.
Perusahaan terbuka membolehkan orang lain yang awalnya tidak terlibat untuk turut menanam modal seketika. Caranya, orang lain itu boleh membeli saham perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan yang bersangkutan, berarti turut memiliki perusahaan. Karena turut memiliki, bila perusahaan untung, berhak atas pembagian keuntungan. Begitu pula bila rugi, ikut pula menanggung rugi.
Selanjutnya tempat orang menjual saham, juga membeli saham, disebut pasar modal. Persis seperti pasar biasa. Uang yang didapat dari saham yang laku terjual, menjadi tambahan modal dari usaha. Karena itu pasar saham disebut juga pasar modal, dan memang salah satu tempat perusahaan mencari tambahan modal.
“Sampai sini ada pertanyaan?” tanya Arif pagi itu. Para jurnalis, dari berbagai media, berbagai usia, berbeda rentang pengalaman, laki-laki dan perempuan, tampak manggut-manggut. Sebagian yang duduk tepat di bawah semburan angin penyejuk udara, bersedekap melipat tangan di depan dada, kedinginan.
“Siapa yang menentukan harga saham?” seseorang bertanya.
Untuk penawaran perdana, artinya pertama kali dijual kepada publik, harga ditentukan terutama oleh kinerja dan aset perusahaan. Saya jadi ingat Bre-X saat pertama kali hadir di bursa saham Alberta Stock Exchange di Calgary, harga sahamnya hanya 27 sen dolar Canada.
“Lalu, mengapa harga itu turun naik, dan kelihatannya seru sehingga jadi pemberitaan, atau sebaliknya, pemberitaan menjadikannya seru,” seseorang melanjutkan bertanya.
Inilah rupanya yang menjadikan Pasar Modal khas. Karena nilai saham antara lain bergantung kepada kinerja dan aset perusahaan maka harganya bisa naik turun berdasarkan itu. Makin bagus kinerja perusahaan, artinya makin untung, makin mahal harga sahamnya. Makin mahal karena pasti makin banyak yang ingin punya saham itu karena ingin ikut kebagian untung.
Jadi hukum ekonomi biasa tentang supply and demand. Permintaan banyak, tapi pasokan tetap, maka tentu saja harga jadi naik.
Hal seperti itu tentu menarik media untuk dikabarkan. New York Times menulis tentang saham Bre-X dalam judul ‘Bre-X Has A Cinderella Story to Tell’.
Lalu ada faktor lain lagi. Karena tidak setiap pemilik saham bisa mengurusi sendiri sahamnya, maka pengurusannya diserahkan kepada orang lain. Mereka disebut pialang. Pialang inilah yang menjadi aktor utama di pasar modal. Ibarat pertandingan sepakbola, merekalah yang memainkan bola, yang membawanya menyerang dan mencetak gol, dan mungkin bertahan mati-matian juga.
Di Bre-X yang memainkan itu adalah CEO-nya, David Walsh, yang memang piawai soal goreng-menggoreng saham.
Lalu contoh permainan pialang diberikan Arif. Misalnya ada saham seharga Rp100. Setelah beberapa saat, seorang pialangnya, setelah analisis kinerja perusahaan, melihat laporan keuangan, juga melihat banyak faktor lain, termasuk jumlah permintaan akan saham itu, mau menjual sahamnya seharga Rp120.
“Dia tawarkan pagi pada sesi pembukaan pasar pertama, lalu mungkin ada yang tertarik, dibeli Rp120 untuk sekian lembar saham. Ternyata masih banyak yang ingin dan belum kebagian. Lalu pialang penjual pertama melihat, wah, mungkin kalau dijual Rp130 mungkin masih laku. Bisa juga yang beli dari pialang pertama tertarik untuk juga untuk menjual kembali saham yang baru dibelinya. Inilah yang disebut aksi ambil untung atau profit taking…”
Saya bisa membayangkan keriuhan pasar itu dari cara Arif menjelaskan, lengkap dengan wajah-wajah tegang yang menatap monitor besar di dinding, lalu sorak kemenangan seperti saat sebuah gol tercipta, kemudian senyum puas dan sukses.
Dengan cara itulah Bre-X mendapat untung ribuan dan jutaan dolar. Aksi goreng saham ditunjang laporan akan kinerja perusahaan, dalam hal ini potensi emas yang terkandung di dalam tanah Busang.
Keadan itu berlangsung selama 3 tahun. Saat harga saham di puncaknya, bos Bre-X, David Walsh, menjual sebagian kepemilikan sahamnya. Walsh yang menghabiskan modal terakhirnya sebesar C$10.000 untuk meninjau properti Busang pertama kali di tahun 1993, pun menjadi orang kaya raya. Demikian juga dengan Felderhof. Begitu pula dengan Michael de Guzman, geologis yang ‘bunuh diri’, yang punya empat istri dan rumah di mana-mana.
***
Begitulah kemungkinan yang bisa diberikan Pasar Modal. Nasib orang bisa mujur dan sial dalam jarak yang tidak lama. Bisa miskin dan kaya dalam sekejap mata.
Pada sisi lain, dalam kasus Bre-X itu, bursa saham di Alberta, dan kemudian otoritas Canada, dikecam karena begitu mudah memberi kesempatan sebuah perusahaan masuk pasar modal.
“Melihat kasus itu seperti itu, jadi gampang memahami keberadaan OJK,” kata Amir Syarifuddin, jurnalis Koran Kaltim yang rajin bertanya dalam kesempatan tersebut.
OJK, berkoordinasi dengan semua entitas pasar modal, Bursa Efek Indonesia selaku penyelenggara infrastruktur, dikawal lagi oleh KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) menguji semua hal tentang perusahaan yang ingin masuk bursa saham dan mengumpulkan dana masyarakat melalui penjualan sahamnya.
“Bahkan jangankan perusahaan yang mau listing, investor yang mau menanamkan uangnya saja di bursa kami minta menjelaskan dari mana asal uang yang digunakannya untuk berinvestasi. Kami tidak ingin jadi sarana pencucian uang,” tegas Andre PJ Toelle, Kepala Proyek Manajemen Divisi Teknologi Informasi Bursa Efek Indonesia.
Seperti Bondan bercerita detil, hingga bagaimana Bre-X mendapatkan Busang, dan catatan gigi dari de Guzman yang diyakinkan seperti mati bunuh diri dengan cara yang luar biasa dramatis: melompat dari helikopter yang terbang di ketinggian 850 meter dari permukaan tanah.
***
Pukul dua lewat beberapa menit saya selesai membaca buku itu. Saya merasa kenyang walaupun perut kosong. Bondan menjelaskan dan menceritakan lika-liku Bre-X, Busang, emas, keuntungan, dan nasib semua tokoh yang terlibat. Tak tersisa pertanyaan satu pun di benak saya.
Saya juga ingat, di akhir acara kumpul-kumpul dengan orang-orang OJK pun saya merasa kenyang. Arif Budiman, juga Nelson Siahaan, Imam Gozali, Boedi Armanto, dan yang lain-lain, termasuk Agus Sugiarto (Direktur Literasi dan Edukasi OJK, yang membuka dan menutup acara, dan menjuluki saya sebagai salah satu pemeran dalam serial televisi Mahabaratha), membanjiri kami dengan informasi.
Saya merasa seperti botol yang dituangi air seember. Penuh berlimpasan. ***
Laskar Pelangi di Batas Negeri

Ini reblog dari kisah Cerita Sungai, Merah Putih, Rumput Hijau, dan Langit Biru yang panjangnya bikis stress itu, hehehe. Saya tampilkan lagi dengan tambahan banyak foto dan cerita panjangnya dibagi dalam empat tampilan. Ini yang pertama.
Dengan suara yang ramai dan melengking nyaring, lagu Indonesia Raya dinyanyikan para murid yang mungil, berseragam putih merah, dan berbaris berjajar di depan kelasnya di Kamis pagi di akhir Oktober. Suara mereka tak kompak, tapi lantang dan penuh semangat.
Rombongan Indonesia 4X4 Expedition to Border yang baru tiba sesaat sebelumnya pun berdiri tegak di samping mobil masing-masing. Sedemikian rupa mobil disusun hingga berderet rapi di halaman sekolah yang luas, halaman yang bertanah merah dan berpasir putih.
Mat Ali Chandra dari Kalimantan Barat yang mengemudi Suzuki Vitara berkode Expedition to Border (EB) 10, tak terasa menggerakkan bibir dan ikut bernyanyi. Suara berat Bang Ali menjadi latar dari nyaring suara 60-an murid-murid sekolahan di Kecamatan Simenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tersebut.
Reza Kamal, dokter kandungan yang menjulang setinggi hampir 190 cm dari Jawa Barat di mobil Toyota Land Cruiser HJ 60 yang kalau bercanda gak ketulungan pun bisa serius. Reza berdiri tegak di samping mobilnya dan ikut menyanyi.
Setelah Indonesia Raya, dinyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku, lagu penuh semangat ciptaan Ibu Sud.
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa
Tak gentar hatiku melawan rintangan, tak goyah jiwaku berkorban, …
Inilah SD Filial 01 Tabur Lestari. Hanya ada 4 kelas di sini, kelas satu sampai kelas empat. Setiap kelas punya murid 12-15 orang. Setiap dua atau tiga orang, mereka berbagi satu meja dan satu bangku panjang.

“Sementara gedungnya ya begini, semoga gedung yang sedang dibangun di sebelah cepat selesai,” kata Bu Rahmi, guru kelas satu (yang juga guru kelas dua, kelas tiga, dan kelas empat sekaligus).
“Yah sedikit lebih baik daripada SD Muhammadiyah di film Laskar Pelangi,” tambah Rahmi seraya tersenyum. Bu Rahmi bersama anak-anak sudah menonton film yang menggelorakan semangat itu lewat dvd.
Seperti Pak Guru Basri yang mengundurkan diri dan setengah kabur dari SD Muhammadiyah di film itu, di Tabur Lestari, masalahnya bukan gedung sekolah atau siswa yang tak sekolah, tapi guru yang tidak betah.
“Setidak-tidaknya, sekolah ini tidak dijadikan kandang kambing,” komentar Bekti Sugiri, driver EB 11 dari Kalimantan Barat yang memang bermulut cabai. Di cerita dan film Laskar Pelangi, sekolah Ikal dan Lintang memang jadi kandang kambing, terutama bila hari hujan.
Gedung yang ditempat sekarang dibangun dari papan-papan kayu dengan atap seng. Lantainya dari semen yang dicor. Kelas-kelas dibuat dengan membuat dinding penyekat ruangan dari kayu yang kasar tak diserut. Keributan dari kelas satu bisa terdengar hingga ke kelas empat.
Gedung baru yang di sebelah dibuat dari batu dan semen. Tiang-tiang kolom untuk memasukkan semen berdiri tegak dengan hiasan besi-besi beton.

Tim menurunkan muatan truk yang sedari tadi sudah menunggu dibongkar. Ada buku-buku tulis, pensil dan bolpoin, dan kotak pensil warna-warni bergambar si burung pemarah, serta berlusin-lusin bendera merah putih. Kotak-kotak berisi obat-obatan sudah terlebih dahulu dipisahkan dan diturunkan.
Bakti sosial pengobatan dimulai pukul 10.00 tepat. Dokter kami, dokter spesialis jalan-jalan dari mobil EB 01, dr Silverius Purba mulai memeriksa para pasiennya setelah mengatur siapa yang membantu di meja penerima pasien di depan, siapa yang menjaga giliran diperiksa, dan yang paling penting, siapa yang mengurus apotek dadakan yang keren itu.
Pasien terakhir dari kalangan siswa, sebelum dokter melayani masyarakat umum adalah gadis cilik berusia 10 tahun. Dari dokter Reza yang turut membantu dokter Silver ia disuruh minta obat pinter matematika di apotek.

“Dok, obat apa itu?” teriak Ronal dari EB 13 di apotek di kelas satu kepada dokter Reza di ruang periksa di kelas dua. Pertanyaan yang disambut tawa ngakak dari sebelah dan tatapan bingung si kecil cantik Nur yang baru saja menyerahkan resep kepada Ronal.
***
Perlu waktu lima hari bagi Tim Indonesia 4X4 Expedition to Border North-East Borneo 2013 untuk mencapai Tabur Lestari, tempat bakti sosial pengobatan dan pembagian peralatan sekolah serta bendera merah putih itu.

“Jalannya nyaris membosankan seandainya tak ada pemandangan hutan yang terlihat masih lestari atau kebun-kebun sawit yang rapi,” komentar Hendrik Somantri, mekanik dari Subang yang jadi bagian EB 07.
Dari Balikpapan di selatan hari Sabtu (26/10) hingga Kamis (31/10) pagi di Pos Gabungan Indonesia-Malaysia (Gabma), tim melewati jalan aspal dalam berbagai kondisi. Mulus sampai Samarinda, mulus banget tapi bopeng-bopeng hingga Bontang dan Sangatta, jalan tambang dan kebun sawit sampai Rantau Pulung, jalan tanah, jalan beton, jalan aspal mulus sampai Muara Wahau, hal yang sama sampai Tanjung Redeb-Berau, dan berulang lagi antara Tanjung Selor-Bulungan, dan Malinau.
Setelah Sangatta di Kutai Timur, jalan mulus hanya menjelang ibukota kabupaten, dan hilang lagi setelah melewatinya. Mendekati perbatasan Indonesia-Malaysia, jalan-jalan tanah dengan perkerasan laterit mendominasi, dan sedikit aspal di depan helipad Pos Gabma.
“Nanti habis pengobatan ini, mungkin kita baru ada offroad sedikit,” kata Insuhendang, surveyor tim. Jalan ke Pos Siluman adalah jalan bekas perusahaan penebangan kayu dengan kontur naik turun. Seperti biasa, jalan seperti itu juga rawan longsor dan penuh tanah liat yang licin bila hujan.
Tim yang bosan pun mulai bersemangat kembali.
“Kalau hujan bisa lebih seru tuh,” celutuk seseorang.
Pukul 13.00, pengobatan selesai, dan setelah makan siang dan berkemas, pukul 14.00 perjalanan mengantar logistik (beras dan lauk pauk) untuk para prajurit ke tempat bakti sosial berikutnya, yaitu Pos Siluman TNI dimulai. Sampai satu jam berikutnya, apa yang disampaikan Insu belum tampak.
Baru sekitar pukul 16.00 tim menemui rintangan pertamanya. Bukan lumpur lengket dan jalan jelek. Bukan pula tanjakan terjal licin. Jalan laterit mulus lurus, tapi melintang di tengahnya sebatang raksasa yang tumbang.
Winch pun mulai dimainkan. Pohon itu ditarik ke belakang untuk memberi ruang dan sedikit jalan. 15 menit beres.

Tapi sesudah ini, apa yang dikatakan Insu mulai menjadi kenyataan. Tanjakan dan turunan terjal bermunculan. Pukul 17.00, tanjakan terjal yang dibelah alur air tersaji di depan mata. Tidak ada pohon besar di kiri dan kanan di hutan yang sudah habis ditebang ini.
EB 09, sebuah Land Rover Defender yang dikemudikan Aditya Karma, kehilangan momentum dan kepentok di awal tanjakan. Mesin menggeram dan roda berputar, tapi mobil tak bergerak karena ban kehilangan daya cengkeram di tanah yang licin.
Perjalanan masih jauh, mobil tak boleh dipaksa. Saatnya winch diulur kembali.
Hingga menjelang magrib, tersisa EB 05, Range Rover yang dikemudikan Krishna Anggakusumah, Kalimantan Selatan, yang masih di awal tanjakan. EB 05 yang dikira baik-baik saja, ternyata perlu pertolongan dari 3 mobil di atasnya, EB 07, EB 14 Toyota Land Cruiser FJ 45 (Tablo dan Wito dari Surabaya, Jatim) dan EB 12 Chevrolet Trooper (Firman dan Dhimas, Jawa Timur).
“Kita rangkai saja dengan strap dan maju bersama,” kata Reza Kamal, yang paling senior dari semua yang ada di tim paling belakang.

Strategi itu berhasil, menjelang waktu salat Isya, sebelas mobil berkumpul di satu titik diantara jalan masuk dan Pos Sinyal-Pos Siluman. Camp pun didirikan untuk menikmati malam kedua di bawah langit dan bintang-bintang.
“Pak Rahadian, Pak Roesman, dan Pak Syamsu sedikit lebih jauh di depan kita,” kata Greeffion Kamil, satu dari pemimpin kolektif Indonesia 4X4 Expedition.
Rahadian Mahendra mengemudikan EB 02 Land Rover hybrid berbasis Series, Jenderal Purn Roesmanhadi dengan EB 03 Land Rover Defender short, dan Syamsu Setiabudhi, dengan EB 01 Land Rover Defender yang sudah dibuat pendek.
Lepas tengah malam Jumat (1/11) hujan lebat mendera camp dan jalan. Apa yang diharapkan celutukan pun jadi kenyataan.
***

Pagi pukul 08.00, saat jalan masih lunak, perjalanan mengantar logistik dimulai kembali. EB 06, sebuah Toyota Hilux, double cabin keluaran terbaru berpelat BL 8000 gress dari Aceh yang ditumpangi Greeffion Kamil, Insuhendang, Vendry Kamil, dengan driver Sapto Wibowo alias Bowo membuka trek di tanjakan licin.
Dengan merentang winch segera menyusul EB 05, EB 10 dan EB 11 para Vitara dari Pontianak, Kalimantan Barat, lalu EB 09 Jeep Cherokee Adi Santosa-Ika Kartika-Eko, dan Defender 08. Di jalan yang sudah kering, melenggang santai tanpa winch EB 15 Taft Rugger yang dikemudikan el commandante ‘Alex’ Musni Hafas dan co driver Anwar Noeh. Mengikuti di belakangnya tiga sekawan tak terpisahkan, EB 07, EB 14, dan EB 12—juga mulus tanpa harus mengulur winch.
Matahari mulai tinggi dan jalan mulai bersahabat. Tanjakan-tanjakan tinggi pun bisa dinikmati. Mobil-mobil disusun untuk konvoi, lampu-lampu depan dinyalakan. Ketika tim terhenti lagi menjelang makan siang oleh satu tanjakan terjal, kerjasama yang mulai padu membuat halangan itu cepat dilewati.
Pos Sinyal, sebuah pos bayangan 45 menit sebelum Pos Siluman pun dicapai setelah waktu salat Jumat. Tim istirahat makan siang dan muatan logistik untuk Pos diturunkan.
“Dari sini, kita bisa lanjut sedikit ke depan, setelah itu tak bisa lagi lewat karena jembatan rusak. Perjalanan mengantar logistik ini harus dilanjutkan dengan jalan kaki,” kata Fion, panggilan akrab Greeffion Kamil.

Para serdadu rupanya maklum. Tak seorang pun tampaknya dari anggota Tim Indonesia 4X4 Expedition ini sanggup menggendong berkarung beras dan berbagai jenis ransum ini, meski ukuran badan lebih lebar dan lebih tinggi dari mereka.
“Biar kami yang bawa logistik ini sendiri. Sudah diantar sampai Pos Sinyal ini pun kami sangat berterimakasih,” kata Letnan Satu Danrus, Komandan Pos Siluman.
Sigap beban dibagi dan dimasukkan ke dalam ransel-ransel dari 10 prajurit. Masih tersisa berkarung beras di Pos Sinyal untuk diangkut pada giliran berikutnya.
“Bapak-bapak yang ingin berkunjung ke Pos Siluman, kita bisa jalan sekarang,” sambung Lettu Danrus. Waktu menunjukkan pukul 15.30.
***
Wilee and Me
Untuk Lukas Adi Prasetya, Greg Le Mond, dan Queen, tentu saja: “Bicycle Race”, please.
(Oh, tulisan sesuka hati ini panjangnya 3.032 kata. Jadi, seperti balapan sepeda Tour de France, akan menguras stamina—juga waktu. Juga ada sejumlah adegan dewasa. Kebijakan pemirsa diperlukan, hehehe. Be wise with that).
Nonton film Premium Rush? Ini film keluaran Agustus 2012, jadi belum terlalu lama lah. Pertama nonton saya bagai terpaku di tempat duduk. Film itu, hehehe, saya banget. Kemana-mana ngebut pakai sepeda. Yah, setidaknya, saya yang dulu, 30-20 tahun yang lalu, hehehe.
Premium Rush adalah film tentang para pengantar pesan dan barang dengan bersepeda di Manhattan, New York. Mereka mengantar surat, paket kecil, dengan janji sampai dalam hitungan jam. Makanya disebut ‘premium rush’. Itu juga jadi nama biro antaran tempat kerja Wilee (bacanya wayli, [wa;y;li].
Memang beda dengan tukang pos dulu yang juga khas dengan sepeda dan bel-nya yang kring-kring. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) dan teman-temannya adalah alternatif. Mereka bukan menggunakan sepeda ontel dengan tas paket dan surat di bagasi dan berseragam, lalu mengayuh tenang menyusuri jalan sambil mengenakan topi dan tersenyum.
Mereka mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ride like a hell, kata posternya. Kata narrator (suara pencerita yang Anda dengar di dalam film) Wilee bahkan tidak memasang rem di sepedanya.
Dalam belantara kota yang jalan-jalannya penuh mobil dan kemacetan, bersepeda ternyata lebih cepat. Selain kecepatan sepeda bisa cukup tinggi bila ditunggang orang yang terlatih, bersepeda bisa menjadi lebih cepat karena ia tetap bisa jalan dengan menyelipkan diri diantara antrean mobil di tengah kemacetan, bisa melawan arah di jalah satu arah, bisa tetap ngebut di trotoar atau di taman (ini melanggar hukum-karena itu Wilee dikejar-kejar polisi yang juga bersepeda).
Maka meski bayarannya ‘hanya’ 70 dolar sehari (lebih kurang Rp700 ribu, boi—mau juga sayah, hahaha) Wilee mengayuh sepedanya dengan kenekatan melebihi orang gila mabuk.
Menurut Wilee sambil memeluk Vanessa, pacarnya yang berwarna cokelat dengan pipi payudara yang ranum—memang bukan semata karena bayaran ia bersepeda seperti itu. Ia menikmati hidupnya di atas sadel dan mengayuh sepedanya. Meski ia kuliah di Sekolah Hukum, daripada jadi pengacara yang kelimis dan wangi, katanya, ia lebih suka menantang maut begitu.
Barangkali seperti pembalap MotoGP Valentino Rossi saat masa jayanya—dan sampai hari ini juga—walau kini ia sudah agak jarang naik podium di MotoGP.
Itu pilihan saja. Para pengacara tak perlu tersinggung apalagi menuntut seperti Prabowo-Hatta, hehehe. Apalagi para pengacara, hakim, jaksa, polisi sudah punya banyak film yang bagus-bagus. Saya baru kali itu lagi nonton film tentang pengantar pesan. Selainnya ada The Postman, film Kevin Costner tahun 90-an. The Book of Eli-nya Denzel Washington barangkali juga bisa dimasukkan. Mungkin masih ada film-film lain, tapi tak banyak.
Jadi, sesuai namanya, dari awal sampai akhir film Premium Rush penuh adegan ngebut dengan sepeda. Lengkap juga dengan kejar-kejaran, kecelakaan, dan akrobat. Karena itu juga Wilee dan kawan-kawannya berpenampilan dan berkostum bak atlet: tegap dengan badan berisi, celana ketat, mengenakan helm, dan selalu berkeringat. Mereka juga gigih dan pantang menyerah.
Penulis skenario dan sutradara David Koepp membuat dan memberi makna setiap adegan dalam latar kehidupan manusia sehari-hari. Ada persaingan antarlelaki, antarrekan kerja, pertengkaran kekasih, dedikasi semangat kerja militan, mahasiswa pemalas, persaudaraan—baik antarsesama pengantar bersepeda maupun sesama manusia.
Tentu ada juga tokoh jahatnya, yaitu seorang polisi yang kecanduan judi dan sedang berutang banyak. Paket kecil tanda terima uang yang jadi antaran Wilee jadi incaran polisi ini—dengan alasan cara pengiriman uang seperti itu ilegal.
Di situlah kejar-kejarannya. Di situ juga balapannya. Setelah dihajar rekan-rekan Wilee para pengantar bersepeda, polisi ini akhirnya tewas ditembak oleh seseorang yang tak disangka-sangka.
Cara bercerita Koep juga asik. Tidak lurus linear awal sampai akhir. Tapi bolak balik. Ada jam digital yang berdetik sebagai penanda waktu. Barulah seperti kisah Kho Ping Hoo, semua cerita berkumpul di klimaks di bagian akhir. Dan sekali lagi kebaikan menang atas kejahatan.
***
Levitt pasti harus berlatih keras untuk bisa menunggang sepeda Wilee. Sepeda Wilee adalah sepeda fixie, sepeda balap rangka baja yang ‘berat’ untuk ukuran sepeda balap. Sepeda fixie menjadi khas karena ‘fix’ alias tanpa persnelling dan ‘tanpa’ rem. Pemakainya harus mengayuh terus menerus karena selama sepeda jalan gir akan terus berputar. Demikian pula sebaliknya.
Alternatif dari sepeda fixie dengan gir yang terkunci itu adalah freewheel, atau gir bebas. Anda bisa berhenti mengayuh sementara sepeda tetap jalan.
Untuk sepeda fixie-nya ini, Wilee memasang gir 54 pada pedal dan roda gigi 12 mata sehingga kayuhan awal pasti berat. Sebab itu Wilee bila tidak terlebih dahulu mendorong sepedanya, memulai dengan berdiri di atas pedal.
Keuntungan kombinasi ini adalah setelah sepeda meluncur di jalanan, terutama di jalanan mulus datar seperti di New York. Sedikit kayuhan saja, kecepatan sudah didapat. Nyaris tidak ada tenaga terbuang. Sepeda fixie juga bisa dipakai buat atraksi karena bisa jalan mundur. Adegan Wilee kabur pertama kali dari halaman kampus Nima menggunakan teknik ini.
Tapi ya itu, memulainya berat. Di Balikpapan, kombinasi ini hanya cocok dipakai di jalan sepanjang pantai, dari Kampung Baru Ujung hingga Teritip. Penggemar sepeda fixie di Balikpapan, anak-anak muda itu, suka mengecat sepeda mereka warna-warni. Tapi tak pernah saya melihat mereka balapan dengan sepeda itu.
Untuk menambah aerodinamis, Wilee menggunakan setang tanduk, setang sepeda balap modern sekarang yang membuat pemakainya menunduk mengurangi hambatan angin.
Walaupun oleh narrator disebutkan sepeda Wilee tidak memakai rem, sesungguhnya tetap ada sistem pengereman di sepeda itu. Seperti sepeda roda satu untuk akrobat, sepeda fixie menggunakan sistem doltrap. Cara mengeremnya, cukup tahan pedal, maka roda belakang akan berhenti berputar. Kalau jalan sepeda pelan tentu tak masalah. Kalau lagi ngebut, diperlukan tenaga otot yang besar untuk menghentikan sepeda doltrap yang melaju seperti itu.
Maka setelah sepedanya melaju kencang, cara Wilee bersepeda mirip orang mau bunuh diri.
Rem doltrap sering dikira rem tromol. Teknologi keduanya memang seumur, yaitu sudah ada sejak awal sepeda diciptakan. Di Indonesia rem tromol terkenal dengan merek Tornado—sehingga kemudian disebut rem tornado. Kakek-nenek Anda pasti tahu.
Sama seperti rem doltrap, memakai rem tromol perlu keahlian tersendiri. Bedanya, bila doltrap membuat Anda terus menerus mengayuh tanpa henti, tromol masih mengizinkan Anda ‘coasting’ mengistirahatkan kaki di atas pedal sementara roda belakang tetap berputar. Pengereman baru terjadi bila Anda mengayuh ke belakang.
Nah, bila ngebut terutama, setiap kali mengerem, baik dengan doltrap ataupun tromol, kita akan mendapati roda belakang yang terkunci—namun sepeda tetap meluncur sebab gaya lebam dorongan. Kalau tak biasa, Anda akan terjungkal. Kalau sudah ahli, Anda bisa membuat para cewek menjerit kagum.
Ada juga Manny—teman dan saingan Wilee—yang berotot dan serba kebalikan dari Wilee dalam hal sepeda—sepedanya sepeda balap rangka komposit yang ringan dengan persnelling 5 tingkat. Atau pacar Wilee, Vanessa yang menggunakan ATB (all terrain bike, sepeda segala medan dengan ban telapak lebar).
Sepedanya Pak Polisi yang gigih itu juga ATB. Ia tangguh, tapi kurang latihan—dan seperti biasa, terhambat aturan-aturan. Oh, ini polisi yang lain, bukan yang jahat tadi.
***
Tiga empat tahun terakhir ini, sejumlah kawan, baik yang dari Total Indonesie, Chevron Indonesia Company, Pertamina, dan beberapa yang lain gemar bike to work—bersepeda ke kantor.
Berbeda dari Wilee yang bersepeda betul-betul untuk mencari nafkah, mereka tampaknya digerakkan oleh kesadaran bahwa bersepeda itu menyehatkan badan dan bisa menghemat banyak isi dompet atau rekening di bank.
Bagi mereka ini juga bagian dari kampanye hemat energi. Tentu bagus buat contoh sebab merekalah yang mengeluarkan minyak dan gas itu dari perut bumi.
Selain bike to work, warga Kota Minyak bersepeda setiap ada waktu dan kesempatan dan kemana saja mereka mau. Di perumahan yang luas seperti Balikpapan Baru, warga bersepeda untuk pergi ke toko swalayan.
Ada yang sekedar memutari Lapangan Merdeka setiap hari Minggu atau keliling komplek sesempatnya. Ada yang senang bersepeda di jalan raya jarak jauh hingga Km 50 Jalan Soekarno-Hatta atau menyusuri jalan datar hingga Lamaru. Banyak pula yang ekstrem dengan sepeda lintas alam, mengikuti trek gunung hutan pantai yang memang terhampar melimpah di Balikpapan.
Ada yang bersepeda bersama keluarga, teman dekat, teman tidak dekat, kawan kantor seperti tadi, atau kawan kenal di acara sepedaan itu juga.
Ada yang kemudian membuat klub sepeda. Biasanya berdasar gaya dan kebiasaan naik sepeda.
Karena Orang Kaltim cukup banyak yang kaya raya dan suka bergaya, ada yang sepedaan ke Singapura. Saya tidak tahu untuk apa—mungkin ya untuk bergaya saja, yaitu mau menunjukkan saja bahwa di Balikpapan masih banyak orang yang bisa naik sepeda dan sanggup beli sepeda, hehehe—sebab mereka ada yang pakai sepeda seharga Rp40-50-60 juta—yang rangkanya dari bahan komposit seperti punya Manny sehingga sebab ringannya bisa diangkat dengan satu jari.
Atau kepingin merasakan jalan mulus datar yang memang tidak banyak di Kota Minyak. Atau dihargai karena mematuhi peraturan, …—ini mungkin orang Samarinda yang turut program wisata sepedaan itu dari Balikpapan.
Atau ingin merasakan sensasi disemprit polisi atau ditilang atau didenda karena buang sampah sembarangan.
Ada juga yang ke Gunung Bromo. Beramai-ramai dalam rombongan satu pesawat. Sepedanya menyewa di Malang. Ceritanya menyenangkan, tentang melihat pemandangan matahari terbit, tentang dingin, tanjakan, hingga medan yang terlalu berat bagi orangtua dan seharusnya panitia menyediakan beberapa trek berdasar tingkat kesulitan untuk pilihan.
Soal harga sepeda, jangan kaget. Perusahaan otomotif terkenal Ferrari dan Mercedes Benz juga bikin sepeda yang harganya lebih kurang 16.000 dolar lebih, alias Rp150 jutaan. Di Indonesia, kata dealer Mercy di Jakarta, laku 4 unit sebulan.
Tapi tenang aja, semahal apa pun sepeda itu, ia tetap baru jalan kalau pedalnya dikayuh.
***
Apa pun tipe dan gaya bersepedanya, sudah saya lalui semua. Mulai karena gaya dan gengsi seperti yang sepedaan ke Singapura itu hingga sepedaan ekstrem lintas alam.
Termasuk juga seperti Wilee dan Pak Pos, bersepeda untuk cari duit.
Saya juga hampir jadi atlet balap sepeda dan sudah terdaftar di ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Banjarmasin karena juara di satu lomba balap sepeda lintas alam.
Sepedaan karena gengsi? Ya, pertengahan dekade 80-an adalah masa keemasan BMX, bycycle motocross. Ini sepeda asal Amerika. Ibarat motocross tapi tanpa mesin. Anak-anak muda Paman Sam tengah suka berpacu di lintasan tanah, naik turun table top, superbowl, papan loncat, dan banyak atraksi. Karena itu juga wajib pake helm dan pelindung badan. Di Banjarmasin demamnya sampai hanya kepada kepemilikan sepedanya, sedikit atraksinya, tanpa helm dan pelindung badan.
Mama membelikan saya salah satu sepeda BMX merk terbaik, Olympic. Warnanya hitam, las rangkanya rapi, harganya Rp70 ribu. Gengsi saya dimata anak-anak lain pun naik 300 persen. Hanya beberapa yang memakai sepeda sekualitas itu. Sebab saat itu banyak BMX yang KW2 yang harganya hanya Rp40-50 ribu dengan las rangka yang kasar dan aksesoris yang juga kasar.
Mama saya, yang sederhana, walau mungkin juga terselip bangganya ketika itu, tentu membelikannya bukan karena gengsi. Tapi karena hemat.
“Apiki ya,” pesannya. Sepeda itu kendaraan saya pergi pulang sekolah yang jauhnya 5 km dari rumah.
Gengsi saya naik, betapa tidak, sebelum pakai BMX Olympic ini, saya memakai sepeda ontel, sepeda unisex Phoenix tua, sepeda milik Abah yang berat dan sudah ketinggalan zaman di mata anak-anak seumuran saya saat itu.
Sepeda Phoenix itu menjadi alat transportasi keluarga bahkan sebelum saya lahir. Sebab beratnya dan ukurannya yang jauh lebih besar dari tubuh saya yang masih anak-anak, saya perlu sebulan belajar untuk bisa mengemudi dan menjalankan sepedanya. Ada sejumlah bekas luka sebagai kenang-kenangan dan cerita nyemplung ke rawa-rawa.
Sepeda BMX itu masih ada di loteng rumah Abah di Banjarmasin. Sepeda Phoenix sudah dihibahkan kepada seseorang ketika Abah berdinas di Pelaihari, 70 km tenggara Banjarmasin.
Saya bike to work everywhere. Dengan sepeda BMX Olympic itu, saya menjadi ‘newspapers boy’, loper koran selama 4 tahun di masa SMP dan awal SMA. Saya bertugas mengantar surat-surat kabar, juga tabloid, majalah terbitan Jakarta ke rumah-rumah langganan dalam rentang 15 km setiap hari.
Inilah persamaan saya yang paling dekat dengan rutinitas Wilee.
Sampai awal tahun 90-an, surat kabar dari Jakarta tiba pukul 13.30 setiap hari di Bundaran Hasanuddin HM, pusat perdagangan koran dan majalah Banjarmasin. Saya mengambil jatah koran untuk langganan sepulang sekolah pukul setengah dua siang dan mulai bekerja mulai pukul 14.00. Langganan saya yang pertama adalah Toko Emas Lamongan di Jalan Sudimampir yang berlangganan harian Merdeka, … lalu menyusuri Jalan Ahmad Yani—ada langganan di Jalan Kuripan, lalu Kebun Bunga, sebelumnya Ratu Zaleha—agak kacau ketika saya juga punya langganan Jawa Pos di Pekauman yang membuat saya memutar jauh sehingga akhirnya terpaksa langganan ini saya jual hak kepemilikannya kepada loper yang tugasnya di sekitar situ.
Dari Kebun Bunga menyusuri komplek itu masuk Gatot Subroto, asrama polisi Bina Bharata, menyeberang ke komplek di depannya, seorang langganan yang saya tak pernah liat tampangnya yang berlangganan The Jakarta Post.
Lalu menyebelah ke Sasana Santi, menyeberang ke Dharma Praja, menyeberang lagi ke ibu-ibu yang suka baca tabloid acara televisi Monitor di asrama tentara Lambung Mangkurat, mbak-mbak yang baca Nova di Banjar Indah Permai—hingga sekitar pukul 5 sore tiba di dua langganan terakhir di Beruntung Jaya, Pak Abdul Kadir Munsyi yang anak gadisnya cantik-cantik, dan Ahmad Farid yang tinggal berdua saja dengan istrinya.
Pak Farid yang berlangganan Kompas, adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unlam. Istrinya membaca majalah Kartini.
Walau tidak sedramatis kisah Wilee, banyak suka dukanya loper koran, hahaha. Ada kecelakaan, ada akrobat, ada percintaan juga (with a girl name Sofi, and I think also Hayati, hehehe). Mungkin saya cerita lain kali. Yang pasti dalam hal sepedaan, saya jadi hapal jalan-jalan Banjarmasin sampai ke yang terkecil. Lalu seperti anak-anak tahun 80-an lainnya, kita semua jadi sehat dan kuat karena banyak berkeringat sebab beraktivitas di luar ruangan.
***
Saya masih naik sepeda untuk berbagai pekerjaan lain, walaupun sekedar sebagai ke kantor—seperti kawan-kawan saya di Total atau Chevron atau di Pemasaran Pertamina sekarang.
Oh, di Kilang Unit Pengolahan Pertamina sepeda justru kendaraan wajib karena tidak boleh ada mesin dengan busi di lingkungan yang penuh uap bahan bakar—juga no hp apalagi pemantik api.
Saya naik sepeda ke kantor Kalimantan Post untuk jadi penerjemah Piala Dunia 1998. Saya masih bersepeda dalam setengah tahun pertama karir saya sebagai jurnalis, yang resmi dimulai di Barito Post—koran militan yang pada awalnya sangat disegani di Banjarmasin maupun Palangkaraya.
Tentu saja, saya terus bersepeda untuk SMA, dan kemudian kuliah.
Ketika SMA saya sempat memakai sepeda balap jalan raya. Dengan sepeda itu saya pernah melesat hingga 80 km per jam saat turunan Jembatan Sudimampir. Sering membuat balapan tidak resmi baik dengan sesama pengendara sepeda maupun dengan motor, atau mobil. Bagaimana awal balapannya biasanya hanya karena tak terima disalip saja. Yang disalip lalu balas menyalip dengan provokatif, dan jadilah balapan.
Kadang-kadang balapannya ala time trial pursuit di velodrome. Dengan lawan itu, yang bisa siapa saja di jalan, kami bisa saling mengintai sambil berusaha dengan cerdik menghalangi jalan lawannya.
Dari kecepatan sepeda, jenis sepeda, gaya bersepeda, kita bisa tahu apakah kita bisa memenangkan balapan itu atau tidak. Kalau tahu saya lebih baik dari lawan saya, sering saya sengaja menahan diri. Saya menahan laju sepeda sedikit di belakangnya, atau menyamainya, tapi tidak menyalipnya.
Seperti Marquez yang menahan diri tidak menyalip Rossi yang memimpin hingga tinggal 9 lap sebelum finish di GP Catalunya.
Balapan seperti itu bisa pula jadi pembangkit emosi. Saya pernah menutup jalan seseorang, menahannya terus dengan berada satu roda di depannya, dan baru membuka jalan setelah di depannya ada gerobak tukang sampah dan saya menyingkir ke kanan.
Ada bunyi gedubrak yang keras, tapi sungguh saya tidak berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika mulai kuliah di awal 90-an, mulai menjadi tren sepeda gunung jenis ATB. Semua orang membeli sepeda merek Federal. Tapi saya tak pernah kehilangan kepercayaan kepada Olympic.
ATB, all terrain bike memang cocok dipakai di Banjarmasin. Jalan tidak mulus banyak, dan karena sesungguhnya tidak ada gunung di Banjarmasin. Titik tertinggi di jalan raya mungkin Jembatan 9 November itu, jembatan yang menghubungkan Kelurahan Seberang Masjid dengan Pasar Lama.
Masa kuliah ini balapan saya lebih banyak melawan diri sendiri. Pada kondisi terbaik, saya menciptakan rekor pribadi, menempuh jarak antara Beruntung Jaya di selatan ke Kayu Tangi di utara, lebih kurang 15 km, dalam 20 menit. Yup, memang tidak melulu fisik, tapi sedikit dipadu dengan hasil pengamatan dan ditambah keberuntungan. Pada titik tertentu, ada banyak lampu lalu lintas yang membuat orang harus berhenti. Tapi lampu lalu lintas memakai pola tertentu, terutama yang berada pada persimpangan yang berdekatan—sehingga bila hitungannya tepat, Anda bisa mengakalinya.
Seperti semua arah ke utara di beberapa persimpangan berdekatan pasti akan dibuat hijau (jalan) bersamaan—pasti juga merah (berhenti) bersamaan. Kalau tidak, kendaraan akan menumpuk dan macetlah yang terjadi.
Ilmu itu pastinya ada di matakuliah rekayasa lalu lintas di Fakultas Teknik. Tapi karena saya bukan mahasiswa teknik, saya belajar langsung di jalanan.
Begitu pula cara polisi mengatur lalu lintas pada persimpangan yang berdekatan. Mereka berkomunikasi dengan radio untuk membuka dan menutup arus pada waktu yang tepat. Jadi bisa dibayangkan bukan, betapa kesalnya mereka bila ada yang menyelonong tak patuh aturan. Itu bisa menyebabkan kecelakaan, baik si penyelonong sendiri, maupun orang lain.
Hehehe, seperti Wilee, diantara yang suka menyelonong itu adalah saya—pake sepeda, tentu. Sersan Dua Joko Slamet pernah melayangkan tempelengnya pada saya di pertigaan Terminal Km 6. Meleset karena saya berkelit dan saya berlalu seperti Greg Le Mond untuk finish juara Tour de France.
Pada kesempatan lain, bersama rekannya Sersan Dua Agus Jatmiko, Sersan Dua Joko Slamet menang. Kawan saya yang naik motor, yang baik hati membonceng saya, dihentikan di lampu merah di persimpangan Jalan Achmad Yani dan Jalan Pangeran Antasari. Kesalahan: tidak pakai helm. Yang tidak pakai helm: saya. Jangan tanya lagi soal SIM dan STNK.
Tawar menawar denda damai dipaskan Rp25.000. Dibayar lunas menjelang magrib oleh ibu-teman-yang motornya kami pinjam itu. Ya, itu motor pinjaman, sobat. Hehehe.
***
“Halo cewek!”
“Eh, Bang Nov, …”
“Ayo naik.”
Maka Neng pun duduk di palang tengah sepeda ATB saya. Setangnya yang rendah, yang memaksa pengendara membungkuk, membuat saya seperti memeluk gadis yang baru pulang sekolah itu. Hidung dan mulut saya di telinga kanannya. Masih ada sisa wangi di rambutnya yang kecokelatan setelah hari sekolah yang sibuk.
Kadang dalam perjalanan singkat dari depan komplek itu kita bercerita sekilas hal-hal yang mengesankan yang terjadi hari itu—sebagai preview telepon kemudian atau janji temu di perpustakaan sorenya.
Sering pula kami hanya diam hingga depan rumah dekat persimpangan dan tikungan itu.
“Have a nice day, dear,” saya cium telinga dan ubun-ubunnya. “Love you.”
“Hati-hati Bang,” bibir dan ujung hidungnya menempel sedetik di pipi kiri saya. “Love you too.”
Saya memutar balik sepeda dan melanjutkan perjalanan pulang, Rumah saya masih 5 km dari rumah Neng.
Ini tidak setiap hari terjadi kawan, tapi cukup membuat cuaca hati cerah berhari-hari. ***
A Daddy, Brother, Lover, Little Boy
Saat Piala Dunia di Perancis tahun 1998 dan saya mendapatkan pekerjaan profesional yang pertama, Neng lulus UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya melihat nomor ujian dan namanya tertera di koran khusus yang diterbitkan panitia untuk pengumuman hasil ujian itu.
Hanya mereka yang lulus yang dicantumkan nomor ujiannya, berikut nama, dan kode jurusan yang menerimanya. Neng akan menjadi mahasiswa Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, tentu saja Angkatan 1998.
Menyenangkan, bukan. Seperti menunggu buah yang diperam lama, dan sebentar lagi masak.
Dengan dia menjadi mahasiswa, setidaknya ‘memperpendek jarak’ antara kami. Kalau sebelumnya antara mahasiswa dan siswa, kini hanya antara mahasiswa. Jarak usia 6 tahun pada tingkatan pendidikan yang berbeda tentu sesuatu banget. Tapi jarak yang sama pada level pendidikan yang sama bisa tidak terlihat terlalu mencolok.
***
Saya ingat suatu hari di bulan Januari ia bertanya kepada saya, mana yang baik baginya, apakah kuliah di Unlam saja, atau meneruskan pendidikan khusus yang sudah dijalaninya selama ini.
Di SMKN 4, Neng adalah siswa jurusan Pariwisata. Keahliannya adalah Housekeeping.
Bila Anda memasuki kamar hotel, terutama kamar hotel berbintang, saat pertama kali tiba Anda akan melihat bagaimana bantal ditumpuk di ujung tempat tidur, selimut dihamparkan, meja diletakkan, atau handuk-handuk dilipat dan ditata di rak besi di kamar mandi, sampai seperti apa ujung tisu gulung dilipat, itulah pekerjaan orang Housekeeping.
“Kok bingung?” tanya saya.
“Gak bingung. Cuma mama mau begini, sementara ulun sendiri belum yakin mau apa,” katanya.
Mama mau begini itu, cerita Neng, adalah ia ke Bandung, kuliah di sekolah tinggi pariwisata di Bandung, dan seterusnya. Bandung sendiri adalah tanah air yang lain bagi Neng. Ini tempat asal ibunya dan keluarga mereka punya rumah di Cimahi.
Cimahi itu kota satelit Bandung di utaranya. Bisa naik angkot lewat Geger Kalong di Jalan Setiabudhi. Rumah itu ada di sebuah komplek yang sedikit naik ke perbukitan. Di Bandung dan Cimahi dia punya beberapa acil, ada om, sepupu dan ponakan, …
Pilihannya sendiri ia belum tau. Itulah yang ditanyakannya kepada saya.
Well…coba apa saranmu sobat?
***
Hari itu, di beranda Perpustakaan Daerah, saya menjadi seorang kakak dan ayah sekaligus. I can be your daddy, your brother… [1]
Saya bilang, menurut pada orangtua dan mewujudkan harapan mereka itu pahalanya luar biasa, hidup berkah, dan seterusnya. Apalagi yang mereka inginkan baik-baik belaka. Mumpung orangtua lagi mampu nyekolahin tinggi kemana saja, itu kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali. Lagi pula ia tak asing Bandung. Bandung juga gak jauh-jauh amat dari Banjarmasin.
“Kan Neng masih bisa sering pulang. Mungkin aku juga bisa jalan ke sana sekali-sekali…”
Dan 4 tahun saja kan.
(Fakta: Bandung-Banjarmasin lebih kurang 1.500 km, 1.200-an diantaranya di atas Laut Jawa. Fakta lagi: betapa sibuknya mahasiswa, dan betapa banyaknya yang bisa terjadi dalam 4 tahun)
Walaupun saya juga menambahkan bahwa tidak ada salahnya juga kuliah di Banjarmasin-di Unlam, pilih jurusan yang dia juga suka, gabung ke KBU, dan seterusnya.
“And we can stick together,” kata saya. Saya juga seorang pacar. I am also your lover…[2]
“Yup,” angguknya dengan senyum ditahan.
“Bang Nov mau es krim?”
Saya juga bisa jadi anak kecil. And I am definetely your little boy.[3]
Kami berdua suka Conello, es krim keluaran Walls yang gampang didapat di mana saja di warung atau toko yang cukup besar. Meski begitu, karena uang saku pelajar dan mahasiswa yang terbatas, Conello adalah kemewahan kecil yang tak selalu bisa kami beli. Neng kadang menyisihkan uang bensinnya—ia diizinkan naik motor ke sekolah. Saya menyimpan sebagian pendapatan saya dari menerjemahkan berbagai teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Kami juga masih membicarakan hal mau kemana setelah lulus itu beberapa kali. Saya bilang saya mendukung apa pun keputusannya.
***
Jadi saya sudah tahu seandainya ia memilih tidak kuliah di Banjarmasin. Setidaknya ia tidak akan menghilang begitu saja seperti Day. Setidaknya hari itu komunikasinya lebih mudah.
Dan pagi itu, nama dan nomor ujiannya tertulis di situ. Saya menelepon untuk mengucapkan selamat, namun Neng sedang keluar.
“Ke rumah sepupunya di Gang 7,” kata mamanya, perempuan yang selalu ramah itu. “Ada pesan, nak?”
Saya hanya bilang akan menelepon kembali. Saya tahu nomor telepon rumah sepupunya itu, dan juga biasa menelepon ke situ.
***
Pekerjaan profesional pertama saya di ruang redaksi adalah penerjemah berita-berita Piala Dunia Perancis 1998 tersebut. Saya bekerja dengan para legenda jurnalis Kalimantan Selatan. Ada mendiang Om Pay yang kumisnya sangar itu, ada Bang Budi yang kumisnya juga sangar dan setahu saya sekarang di Metro TV, ada Bang Atoey yang berewokan dan sekarang Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, ada Bang Rachman Agus yang kelimis, ada Bang Nafarin Fauzi yang gondrong ikal, juga dengan kumis sehingga mirip kiper Kolombia di Piala Dunia 1990 Rene Higuita, hehehe, ada ka Lili yang ketika itu wartawan perempuan paling cantik yang saya kenal, ada acting editor in chief Pak Misri Syarkawi, desainer halaman Umang Thaka,…
Selama Piala Dunia, sekitar dua hari sebelum pembukaan hingga dua hari juga setelah selesai, saya menjadi bagian dari redaksi Kalimantan Post. Jam kerja saya lebih kurang mirip redaktur, antara pukul empat sore hingga pukul satu dinihari. Atasan langsung saya adalah Bang Nafarin Fauzi itu, redaktur olahraga.Dia yang membaca hasil kerja saya, mengkritik, dan memberi arahan bagaimana berita olahraga ala Kalimantan Post—koran yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Media Grup milik Surya Paloh dengan nama Dinamika Berita.
Bang Parin, demikian panggilannya, mengajari dengan cara gampang: meniru. Di memberi beberapa contoh untuk dicontek. Seperti pelajaran lama di mata kuliah Writing: Imitative Writing, atau pelajaran Bahasa Indonesia di masa kelas 3 SD dengan mengisi rumpang. Kau boleh meniru tulisan yang sudah jadi, yang sudah bagus, masukkan data yang kau miliki, begitu. Tapi kau tak boleh jadi peniru buta, meniru hanya untuk memudahkan mengawali. Setelah sepuluh tulisan meniru, kau sudah harus bisa membuat satu yang asli dari otak dan tanganmu sendiri.
Hari ketiga saya bekerja, atau sehari setelah pembukaan tanggal 10 Juni, Bang Parin sudah tak berkerut lagi keningnya membaca terjemahan saya. Berita pertandingan Grup B antara Kamerun vs Swiss yang berkesudahan imbang 1-1 lolos dalam waktu 90 detik.Gol Kamerun dibuat oleh bek Pierre Njanka di menit ke-78. Swiss yang tak mau kalah mencetak gol di menit ke-90 oleh Tony Polster.
“Itu satu hari terbaik saya sebagai pemain,” kenang Njanka dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Saya mewawancarainya setelah 14 tahun pertandingan itu berlalu. Njanka sudah berkostum Putra Samarinda. Ia sudah bermain di Indonesia sejak 2008 mulai dari Persija, juara Liga Indonesia bersama Arema, tenggelam bersama Atjeh United, muncul lagi bersama Mitra Kukar di Tenggarong, dan bergeser lagi 40 km ke Samarinda untuk gabung Persisam.
***
Pekerjaan ini datang kepada saya mungkin bukan kebetulan. Bukan kebetulan lagi Rachman Agus, Atoey, Om Pay adalah senior kami semua di Kompas Borneo Unlam.
“Adakah yang bisa menerjemahkan,” kata Rachman Agus, sepekan sebelum kick off juara bertahan Brazil versus Skotlandia di Stade de France, St Dennis.
Untuk menyampaikan pertanyaan itu, Rachman Agus, redaktur pelaksana Kalimantan Post mampir khusus ke Sekretariat KBU di Unlam. Mungkin pertanyaan itu disampaikan kepada Guru Anang, mungkin juga kepada yang lain. Yang sampai kepada saya bukan pertanyaan, tapi semacam berita panggilan.
“Nov, kam dicari Rachman Agus…”
***
Di Kalimantan Post, seperti para pemain di Liga Inggris, saya dibayar per pekan. Masa itu, Rp250.000 cukup lumayan. Makan nasi pecel di Warung Rahmi di Jalan Cendana di Kayutangi itu hanya Rp1.200 seporsi (sekarang di Balikpapan bisa sampai Rp18.000 lebih). Ongkos naik angkot jauh dekat Rp… aduh berapa ya, mungkin sudah Rp400 (sebelumnya Rp75, lalu Rp100, lalu Rp150, lalu Rp200, lalu Rp250, lalu Rp300…). Bensin Rp600 per liter. Biaya parkir, Rp50 (saya parkirnya sepeda—karena kemana-mana pake sepeda).
Honor terjemahan itu bahkan nyaris tak tersentuh. Ada kopi, teh, dan penganan gratis di kantor. Setiap malam, ada saja yang nraktir makan malam. Sebagian besar karena menang taruhan bola.
Lalu seseorang menyadari bahwa saya punya akses kepada berita-berita pra pertandingan, preview. Berita preview itu berisi misalnya strategi apa yang akan digunakan pelatih, siapa yang akan diturunkan, siapa yang terkena akumulasi kartu kuning. Berita semacam itu bagus bagi yang ingin bertaruh. Tiba-tiba pula saya jadi punya semacam penghasilan tambahan tidak resmi. Tidak diminta, tapi datang begitu saja.
Saya bisa beli kopi dan mi instan agak banyak buat para penghuni Sekretariat. Saya bisa ngajak Neng nonton, dan banyak makan es krim.
***
“Yup, selamat yaaa.”
“Hehehe, makasih. Conello dong.”
“Beresss. Kan sore ke perpustakaan …”
Percayalah sobat, Perpustakaan adalah tempat paling romantis di dunia. ***
1, 2, [3]Tentu saja bukan karena ini William “Billy” Sheehan dan Pat Torpey menuliskan liriknya, menjadikannya lagu untuk dinyanyikan Eric Martin dan gitar oleh Paul Gilbert, yang mereka kemas dalam album Lean Into It untuk Mr Big di tahun 1991. Kata Pat Torpey yang drummer itu, lelaki haruslah bisa menjadi ayah, kakak, kekasih, dan anak kecil sekaligus. Oleh Sheehan, lagu itu diberi judul Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy.
[4] ‘Jar’ (bahasa Banjar) = ‘bilang’, ‘kata’, said (Inggris), ‘jare’ (Jawa)
[5] ‘pian’ (bahasa Banjar) = sapaan untuk yang lebih tua, bentuk pendek dari ‘sampiyan’. Bahasa Banjar memang mendapat banyak pengaruh Bahasa Jawa—mengingat, konon, sejarah para bangsawan dan pedagang pertama Banjar berasal dari Keling, Kediri.
Seperti Matahari Tak Pernah Tenggelam
Akhirnya hujan berhenti menjelang pukul sepuluh pagi. Langit putih menyilaukan sementara tanah licin dengan pohon dan semak yang basah. Opik menutup pintu pondok dan kami menyandang ransel lagi.
Perlahan kebun-kebun berada di belakang kami, berganti padang alang-alang. Jalan setapak ini menjauhi tengah padang yang terang. Jalan itu menyisir sungai dan berada di bawah bayangan pohon-pohon.
Itulah asiknya desa dan alam bebas. Di kota, jalan yang ditanami pohonan di kiri kanannya atau di kiri saja, atau di kanan saja, atau di tengahnya saja. Di Paau, atau di hutan mana saja, jalan mengikuti alur tumbuh pepohonan.
Pohon-pohon tumbuh makin rapat dan sungai makin sempit. Pada pertigaan di dalam hutan kami belok ke kiri ke arah timur laut. Satu jam dari situ, kami bertemu lagi dengan Sungai Tuyup yang tinggal 3 meter lebarnya dan makin curam tepi-tepinya. Pukul setengah satu siang.
Kami beristirahat di tempat yang disebut Opik ‘pelawangan’. Itu memang istilah kami sendiri karena orang kampung tidak pernah bicara tentang tempat itu walau mereka biasa juga melaluinya. Di sini, jalan datar berakhir dan mulai menanjak setelah dua batu besar laksana gerbang. Pohon-pohon juga semakin besar dengan daun-daun yang menghalangi sinar matahari sampai ke tanah.
Beberapa waktu sebelum perjalanan ini, kami harus tersesat hingga dua hari sebelum mencapai pelawangan. Menurut peta tua peninggalan Belanda, bahwa di Paau-lah jarak paling pendek untuk mencapai Kintap di sisi timur Pegunungan Meratus. Lalu karena salah identifikasi bukit dan gunung sebelum masuk hutan sebelum pertigaan tadi, kami justru mengambil jalan ke kanan yang membawa kami ke kaki Gunung Kahung.
“Buhan kam mustinya belok kiri di situ,” kata Amir, pemburu yang bertemu kami dalam perjalanan turun.
Walau begitu, kami masih penasaran dengan peta. Begitu sampai kembali ke batas hutan saya memperhatikan kontur di peta dan menbandingkannya dengan bentang alam. Tahulah saya sebabnya. Bukit besar di depan saya, yang dijadikan patokan untuk menentukan posisi, bukanlah titik yang jadi awal menarik garis di peta.
Kesalahan kecil yang fatal. Opik bergurau,” Kapan-kapan kita pakai GPS saja, Gunakan Penduduk Sekitar.” GPS yang global positioning system yang asli yang menggunakan satelit, masa itu, masih cukup mahal harganya.
Tapi dari identifikasi penasaran tadi, saya jadi tahu arah pastinya. Begitu kami mencapai puncak nanti, dimana semua jalan berada di punggungan bukit dengan arah utara-selatan saja, arah selanjutnya adalah 130 derajat. Artinya kami harus membuat rute sendiri lebih kurang ke tenggara.
Memang bukan untuk mencapai puncak, tapi hanya untuk menyeberang ke sebelah dan mencapai jalan raya besar di selatan.
Kami berbagi sebatang besar cokelat, lalu masing-masing setangkup roti tawar yang diberi margarin dan taburan gula pasir yang saya siapkan pagi tadi, serta air minum dari sungai yang jernih. Cukup mengenyangkan. Saya mengisi ulang botol air. Dari sungai ini sampai ke dekat puncak nanti tak ada lagi air yang bisa diambil begitu saja.
Perjalanan naik dimulai.
***
Pegunungan Meratus membagi Kalimantan Selatan menjadi barat dan timur. Kami di Kompas Borneo Unlam (KBU) membaginya lagi menjadi Meratus Hulu dan Meratus Hilir. Bagian Hulu adalah mulai dari Hulu Sungai Selatan, dimana puncak-puncak utamanya di Hulu Sungai Tengah, dan terus hingga ke hutan-hutan di perbatasan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur dimana ada Hutan Lindung Gunung Lumut dan Orang Miau, saudara-saudara Orang Bukit di Selatan.
Meratus Hilir sejak dahulu dieksploitasi. Belanda menemukan batubara di Pengaron, emas ada di hulu-hulu sungai Riam Kanan hingga ke Bukit-Bukit Pelaihari. Perkebunan besar dibuat di Danau Salak, juga di Tanah Laut. Kemudian dengan dibangunnya bendungan Riam Kanan untuk pembangkit listrik, kawasan Gunung Aurbunak (1.092) di timurnya menjadi kawasan lindung.
Meski tingginya hanya seribu meter lebih sedikit, mendaki Aurbunak adalah ujian ketabahan tersendiri. Hutan lebat dengan semua makhluk dan satwa di dalamnya, cuaca yang basah dan hujan terus menerus, serta kontur yang curam, adalah menu di gunung itu. Berbeda pula dari di Hulu dimana ada kampung dan ladang di pegunungan, di Hilir hanya hutan dan hutan dan hujan. Kami bertemu Amir si pemburu pun lebih karena keberuntungan semata.
***
Gerimis turun begitu kami mulai perjalanan naik. Kami berhenti lagi untuk mengenakan jas hujan. Sekarang mendaki jadi seperti sauna. Kacamata saya berembun karena hembusan napas.
Jalan setapak terus menanjak dengan pagar pohon-pohon besar yang tinggi lurus. Beberapa pohon itu tumbang menghalang jalan. Kami melihat para pemburu membuat jalan melingkar pohon tumbang itu. Ada pula yang merintis memotong di atasnya.
Kami istirahat beberapa kali. Saya minum, Opik merokok. Kami juga bertukar beban. Tak ada yang dibicarakan di jalan, tak ada juga yang mengganggu benak selain melihat jalan dan hutan. Bagian hutan ini tidak memiliki keindahan yang khusus. Kami juga sudah lama tidak khawatir tentang cuaca. Gunung ya begitu.
Pukul empat sore kami sampai di punggung gunung. Masih berhutan lebat, dan masih ada sungai. Ini anugerah hutan-hutan tropis Kalimantan. Juga ada bekas bivak pemburu. Kami mendirikan tenda di atas lantai kayu bulat bekas bivak itu. Biar sedikit lebih empuk, sebelumnya saya menyusun daun-daun di atas kayu-kayu bulat itu. Daun itu juga menambah hangat.
Tepat ketika kami akan memasak, hujan turun dengan lebatnya. Maka Opik menjadi koki di mulut tenda dengan payung jadi tambahan teras. Kami tidak punya kompor gas, tapi kompor parafin milik tentara sama efektifnya.
Hujan turun sepanjang malam. Makan malam hari ini tidak seindah makan malam hari sebelumnya, tapi setidaknya kami masih bisa makan malam. Makanan hangat yang menenangkan untuk badan yang lelah seharian berjalan.
“Jadi awalnya cuma menelepon?” tanya Opik. Kami berbaring sebagai dua sahabat di dalam tenda di tengah hutan di bawah hujan.
“Bukan cuma, Pik. Bukan cuma.”
***
Apa yang menggerakkan saya akhirnya menelpon Neng sore itu, seperti juga saat saya harus mengingat ikut cara ibunya memanggilnya dengan sebutan ‘Neng’, saya tak paham. Yang jelas, selama tiga minggu setelah prusiking itu saya menanggung penderitaan yang saya juga tidak mengerti karena apa: makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan menulis banyak.
Percakapan kami yang singkat di dinding panjat itu terngiang-ngiang di telinga saya seperti rekaman yang diputar ulang terus menerus. Percakapan singkat yang sungguh biasa walaupun dilakukan di tempat yang tidak biasa.
Apakah karena teori gelombang dan aura itu?
Konon, setiap manusia memancarkan gelombangnya sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki frekuensi masing-masing. Ketika frekuensi yang sama bertemu, itu menghidupkan sesuatu di benak dan otak. Aura menjadi bertambah terang dan frekuensinya bertambah kuat.
Itulah kenapa kita bisa merasa cocok dengan satu teman dan menjadi sahabat karib, atau menjadi teman sekedarnya saja bagi yang lain.
Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang ditentukan, dibuat, ditiadakan, dikeraskan, oleh lingkungan dan pendidikannya. Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang juga ditentukan orang lain yang kerap menghabiskan waktu bersamanya di sekitarnya.
“Itu pelajaran di FKIP?” tanya Opik, tergelak. Tentu saja bukan. Itu pelajaran dari Fakultas Kehidupan.
Darimana saya dapat nomor telepon Neng, itu sama sekali bukan masalah sobat. Anak-anak itu semua, sebagai peserta pelatihan kepencintaalaman, sudah mengisi formulir dan bio data dan menyerahkan pas foto.
Semuanya diarsipkan rapi oleh Adi, Kepala Biro Kesekretariatan kami di KBU. Isian formulir itu bahkan sangat rinci seperti meminta tinggi dan berat badan, golongan darah, alamat rumah, dan nomor telepon, sampai kode pos.
Bahkan juga ada pelepasan hak untuk menuntut seandainya terjadi apa pun dalam kegiatan ini yang menyebabkan meninggal dunia, cacat tetap maupun tidak. Formulir ini ditandatangani di atas meterai untuk memberinya kekuatan hukum.
Meski sebenarnya ini bukan arsip rahasia, tapi karena situasinya, Adi menyimpan berkas formulir itu di dalam file khusus yang disamarkan. Sampai beberapa lama, hanya ia dan saya yang tahu dimana arsip itu ada diantara semua file di lemari.
Oh, yang dimaksud telepon di sini adalah telepon fixed line, atau lebih tepatnya nomor telepon rumah. Layanan seluler sudah ada namun masih mahal dan handphone belum sampai ke orang kebanyakan. Ini masa booming bisnis wartel.
***
“Lalu bagaimana telepon yang pertama itu?” tanya Opik sambil bangkit. Ia duduk di depan pintu tenda, membukanya sedikit, dan merokok.
Apa yang saya ingat dari telepon pertama itu sungguh sebuah telepon biasa di sore cerah yang juga biasa. Di boks Nomor 4 di Wartel Kopma, tetangga sekretariat kami di Unlam di Banjarmasin.
Mungkin saya agak gugup pada mulanya. Mamanya yang mengangkat, beliau tidak bertanya apa-apa selain meminta saya menunggu sebentar dan memanggil anak gadisnya.
“Neng, telepon…”
…
***
Sisa hari setelah saya menelepon itu berlangsung seperti matahari tak pernah tenggelam, atau tenggelamlah dengan warna merah yang elegan. ***
… Julia Roberts
Hari kami, saya dan Neng berkenalan adalah suatu Jumat sore di bulan April, setahun sebelum reformasi, demikian catatan harian saya menyebutkan. Banjarmasin mulai memasuki masa riuh kampanye. Kami di Kompas Borneo Unlam yang bertahun-tahun didoktrin untuk tidak ikut campur dalam politik praktis sebagai organisasi, sedang menjalankan program yang menyenangkan ini: kursus pencinta alam untuk siswa SMA.
Lebih menyenangkan lagi, peserta program ini, dan memang sejak awalnya dibuat khusus untuk mereka, adalah para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4. Ini sekolah yang siswanya 99 persen perempuan. Satu persen siswa laki-laki yang ada pun sebagiannya berkelakuan dan bergaya seperti perempuan.
Dulu sebutannya SMKK, sekolah menengah keterampilan keluarga. Di sekolah ini diajarkan memasak, membuat pola pakaian dan menjahitnya, menata kamar dan tempat tidur, mencuci pakaian dan menyetrika. Ada guru khusus seperti Pak Ambiya yang punya salon sendiri yang mengajarkan tata rias wajah dan rambut. Ada jurusan tata boga, tata busana, pariwisata, dan kecantikan.
Karena itu SMKN 4 punya beauty salon, laundry, hingga hotel latihan yang dikelola profesional di sekolah. Di hotel itu pernah menginap ‘Si Mata Elang, jagoan bintang film laga Indonesia Advent Bangun yang kemudian main sinetron laga juga dan terakhir jadi pendeta.
Di sisi yang lain, Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat (atau biasa disebut Kompas saja, atau KBU saja) itu 90 persen anggotanya laki-laki. Sepuluh persen perempuan yang juga menjadi anggota, bernyali dan punya kekuatan lelaki. Meski tetap cantik, mereka umumnya bergaya (memilih mode pakaian, terutama) seperti kami para anggota yang lelaki.
Di KBU diajarkan bagaimana bertahan hidup di alam bebas (jadi ada juga masak-memasak), memahami peta dan menentukan arah, menyusun barang dan perlengkapan di dalam ransel, lalu mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri sungai dan menikmati arus deras, menembus kegelapan gua, berdebat dan berorganisasi, merencanakan perjalanan, dan, emm, memang tidak resmi ada di kurikulum dan tidak resmi diajarkan: juga merayu wanita.
Saya tak pernah lulus pelajaran yang disebut terakhir itu, meski lulus gemilang semua prasyaratnya. Bang Sapar, seorang senior, yang ketika itu pacarnya si Vivi yang cantik itu berkata: ”Kamu naik gunung, memanjat tebing, berani menggantungkan hidupmu pada seutas tali yang dipasang oleh orang lain, masa merayu binian tak bisa?
Hahaha. Saat itu ya begitulah.
Saya memang tak pernah lancar bicara dengan perempuan, tapi bisa memenangkan hati mereka dengan kata-kata yang dituliskan.
Karena kebanyakan bergaul dengan buku yang diam dan perpustakaan yang hening, keterampilan berbicara saya terlambat datang.
Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama–karena buku tak perlu dirayu, saya tak mengharuskan diri lancar bicara. Buku akan ikut saya dengan sukarela asal saya bisa membayar, atau memenuhi prosedur peminjaman dengan benar. Bahkan, bila cukup berani, Anda bisa menculik sebuah buku tanpa ketahuan dari perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya selama-lamanya.
***
Bagaimana SMKN 4 yang serba feminim itu tiba-tiba ingin merasakan anak-anaknya dihajar matahari dan disayat dingin angin tebing mulanya tak dipahami. Tapi lomba Wiyata Mandala membuat semuanya jelas.
Mungkin lomba ini masih berlangsung sampai hari ini. Lomba sekolah terbaik dengan kriteria banyak sekali. Sekolah saya dulu, SMAN 7 Banjarmasin, mendapat penghargaan Wiyata Mandala ini beberapa kali.
“Kami ingin memberi anak-anak pengalaman yang lain dari yang lain yang bisa dialami dari sekolah yang mengajarkan hal-hal khusus seperti sekolah kami,” kata Pak Iwan, guru penghubung dalam program ini.
Pak Iwan berperawakan kecil, dengan cara melirik seperti penari bali dan gestur yang lentik.
Lalu kenapa KBU yang dipilih ternyata agak sedikit nepotisme. Ternyata ada guru di SMKN 4 yang senior kami di KBU—guru perempuan—yang baru kami sadari setelah mengecek lagi buku tebal daftar anggota itu. Beliau itulah yang merekomendasikan kegiatan kepencintaalaman berdasar keaktivannya di KBU di tahun 80-an.
Sebab lain, karena KBU itu dekat. Antara sekretariat kami di kampus Unlam di Kayutangi dengan SMKN-4 itu hanya lebih kurang 500 meter jaraknya, 150 meter dari sekretariat ke gerbang kampus ke Jalan Brigjen Haji Hasan Basry, lalu ke utara 250 meter, dan menyeberang jalan itu 50 meter untuk sampai di halaman dalam sekolah.
Sebab yang lain lagi, karena dinding panjat dan berbagai fasilitas lain yang kami punya, dan juga faktor Guru Anang.
Anang yang jangkung mahasiswa Fakultas Teknik. Asalnya dari Birayang, keturunan ‘bubuhan’ Banjar Bukit di Datar Alai, dataran yang berada di ketinggian 1.000-1.200 meter dari permukaan laut di Pegunungan Meratus, yang wanitanya bermata agak sipit, berkulit kuning langsat, langsing, namun sigap dengan pekerjaan di ladang dan di rumah. Sebab ini, Anang juga disebut Anang Alai, seorang Wana bernomor 287 yang senioritasnya setara hingga dua angkatan di atasnya, para Bhumi di tahun 1990.
Anang bertetangga tempat kost dengan Pak Iwan rupanya. Anang Alai yang juga bermata sipit adalah Guru Anang, yang menjadi petualang dan pencinta alam secara alami karena alam dan lingkungannya. Karena itulah, kami memanggilnya dengan takzim, Guru Anang.
***
Mulanya ketika Guru Anang pertama kali menyampaikan permintaan SMKN 4 akan semacam kursus kepencintaalaman itu, ia sampai meminta Dewan Pengurus (DP) untuk agak merahasiakannya sampai semuanya siap.
Permintaan itu secara teknis tidak ada kesulitannya untuk diwujudkan. Menurut Guru Anang, yang sulit dan tidak bisa diduga adalah dampaknya.
Kalian tahu bukan, bagaimana dampak dari laki-laki dan perempuan yang berada dalam kegiatan yang sama dalam waktu yang cukup lama?
Ya, itu bisa mengubah dan mengguncangkan dunia. Syukur kalau menjadi lebih baik. Bila menjadi lebih buruk?
KBU yang penuh lelaki lajang yang tengah menggelora, diminta mengurusi perempuan-perempuan muda menjelang dewasa yang baru mekar melihat dunia…amboi…
Karena itu DP merasa bertanggungjawab untuk melindungi anggota-anggotanya dari pengaruh (yang mungkin buruk) yang mungkin muncul karena sekretariat diserbu makhluk-makhluk dari Venus itu.
Permintaan SMKN-4 diterima. Namun program itu dikemas resmi sekali sehingga anggota kami yang paling liar (juga siswa sekolah yang paling nakal) sekali pun terpaksa tunduk dalam aturan.
***
Rapat DP menunjuk saya menjadi Kepala Sekolah dari program pelatihan tersebut. Guru Anang menjadi penasihatnya.
Alasan resmi penunjukan saya karena saya mahasiswa fakultas keguruan, karena itu mengerti bagaimana menyusun kurikulum, tahu kemana dan apa tujuan kursus ini (komunikasi dengan Pak Iwan dan arahan Guru Anang), bisa menerjemahkannya dalam kegiatan yang bisa diukur keberhasilannya, dan memahami perkembangan peserta didik—khususnya anak-anak seusia siswa SMKN-4 itu.
Bagus sekali bukan. Alasan itu sesungguhnya bisa dipenuhi siapa saja mahasiswa FKIP setelah kuliah 7 semester.
“Tapi tidak semua mahasiswa FKIP anggota KBU,” kata Rudy Firmansyah, ketua umum kami saat itu. Bang Rudy meninggal tahun ini karena sakit, semoga Allah melapangkan dan menerangkan kuburnya.
Maka saya menyusun program untuk 12 minggu, saya menunjuk instruktur—teman-teman yang terbaik di bidangnya masing-masing, seperti Odot di panjat tebing, Awi dan Sapar di survival, Guru Anang sendiri di navigasi darat, Oegoer yang pemain sepakbola itu di kebugaran fisik, Amang Efeet mengajar manajemen perjalanan…
Kawan-kawan itu boleh memilih asistennya masing-masing. Odot meminta bantuan Amat, yang ketika itu anggota baru dengan bakat memanjat luar biasa. Oegoer dibantu RO dan Icam. Awi dan Sapar itu duet survivor yang saya kenal sejak pertama di KBU tahun 1992.
Saya melihat dan mengawasi bagaimana jalannya pelajaran, dan kemudian mengevaluasinya, melapor kepada Ketua Umum dan Pak Iwan si guru penghubung.
Kepala sekolah, tentu saja, tidak mengajar. Ia manajer. Tidak berhadapan langsung dengan siswa kecuali saat upacara bendera. Kecuali juga dalam keadaan terpaksa ketika tidak ada lagi guru pengganti yang bisa disuruh.
Saya bak jenderal yang mengawasi pertempuran dari kejauhan dan menerima laporan dari komandan lapangan.
Itulah yang saya lakukan. Setelah sambutan sebentar, yang adalah perkenalan singkat dan ucapan selamat datang di lingkungan dan tradisi KBU, saya hampir tak bersentuhan lagi secara langsung dengan anak-anak itu.
Kepala Sekolah harus punya wibawa, bukan.
***
“Jadi rahasia tentang Neng ini karena ikam kepala sekolahnya?” tanya Opik, setengah bertanya setengah tertawa.
Salah satunya iya. Salah lainnya, karena apa yang kami khawatirkan tentang dunia yang gonjang-ganjing karena serbuan para makhluk dari Venus itu memang terjadi meski dampaknya pada KBU sebagai organisasi dan pada setiap orang baik anggota maupun bukan bukan anggota, berbeda-beda.
Berbagai gosip bersliweran. Seru. Sekretariat tambah ramai, tidak hanya oleh anggota kami sendiri, tapi juga oleh teman-teman lain, termasuk oleh orangtua, kakak, adik, dari para siswa peserta program itu. Semut mana yang tidak tertarik pada gula yang sedemikian banyak?
Namun tidak ada yang menghubungkan saya secara pribadi dengan siapa pun dari siswa-siswa itu.
“Jadi bagaimana kam memulainya, Nov. Kenalan di prusiking, terus apa…?”
***
Bunyi jangkrik menghilang. Burung hantu di pohon di luar itu pun diam. Hujan mulai turun.
Saya mendengar bunyi napas halus yang teratur di samping saya. Saya menoleh dan tersenyum. Di dalam remang tenda, Neng sering terlihat paling mirip dengan Julia Roberts. Hidungnya, matanya, alisnya, tentu saja senyumnya dengan bibir tipis dan lebar itu. Saya cium keningnya dan kembali memejamkan mata.
Julia Roberts, emmm … ***
Neng Adalah …
Hujan turun deras dini hari. Bunyi air yang terjun dari langit itu berderakan ramai menghantam atap seng yang rendah. Saya bersyukur kami memutuskan bermalam di pondok ini. Bagaimana pun, lebih nyaman berada di bawah atap yang kokoh, dinding yang rapat, dan lantai yang hangat daripada diguyur hujan di dalam tenda nilon yang tipis dan di atas tanah yang lembab.
Adalah Opik mengusulkan bermalam di pondok entah milik siapa di tengah padang di kaki Pegunungan Meratus Hilir ini. Sejak kami menyeberang dari Tiwingan, awan sudah berarak di atas danau. Gunung-gunung biru di kejauhan sana juga berpayung awan.
Lalu hujan gerimis pukul tiga sore mengantar kami dari rumah Pak RT, tempat kami melapor numpang lewat dan mengisi buku tamu dengan alamat yang selalu sama: Sekretariat Kompas Borneo Unlam, Gedung UKM Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Brigjen H Hassan Basry, Kayutangi, Banjarmasin.
“Abahnya masih di kebun, Pik…” kata perempuan itu kepada Opik. Dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, kami lumayan dikenal di Paau, Karangan Haur, 90 menit plus 60 menit dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Catatan saya kabur tentang siapa nama Pak RT di Paau itu, begitu pula dengan nama istrinya, dan anaknya itu. Tapi saya ingat kami diberi sangu sebungkus besar kantong plastik kacang rebus dan sebungkus koran kacang goreng.
Paau dan Belangian, desa-desa sepanjang Danau Riam Kanan memang penghasil kacang tanah yang gurih. Sepanjang jalan hingga sungai, tak henti-hentinya kami mengunyah kacang rebus, dan, hehehe, menikmati bagaimana rasanya membuang kulit kacang sepanjang jalan.
“Itu pupuk, dari tanah kembali ke tanah, tak akan jadi sampah,” kata Opik.
Sebelum tiba di sungai, kami bertemu serombongan mahasiswa. Ada 6 lelaki dan seorang perempuan. Seorang mengenal Opik dengan baik dan kami semua bersalaman. Sekarang ada tujuh lelaki gondrong dan seorang perempuan berambut panjang, hehehe.
“Berdua aja, Pik?”
“Berdua aja,” kata Opik.
“Acara apa?”
Acara saya dan Opik jalan-jalan saja. Seminggu sebelum ini, tiba-tiba saja kita kangen hutan-hutan di selatan. Maka pukul sepuluh pagi hari Sabtu saya dan Opik sudah di dalam Damri ke Banjarbaru, makan siang di dermaga Tiwingan, dan sempat tertidur dalam perjalanan klotok ke Karangan Haur.
“Kami pemantapan anggota baru,” kata si teman itu. Si perempuan itulah ternyata sang anggota baru, yang tersenyum dengan wajah lelah tapi bangga. Mereka Mapala Oryza Sativa dari Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani di Banjarbaru.
Pemantapan biasanya tahapan terakhir sebelum calon anggota—atau ada juga yang menyebutnya anggota muda—dilantik menjadi anggota penuh organisasi kepencitaalaman. Di KBU, setelah lulus pemantapan calon anggota mendapat nomor anggota yang melekat padanya seumur hidupnya—dan biasanya kami tuliskan dengan bangga di properti masing-masing. Dari suasana selama dan sepanjang pemantapan pula setiap angkatan mendapatkan namanya. Karena hutan-hutan selama pemantapannya, Opik seorang Wana. Sebab gunung-gunung yang kami lalui, saya menjadi seorang Adri. Saya anggota ke-302, Opik anggota ke 299.
Kami berbagi kacang rebus sebelum bersalaman dan berpisah. Mereka ke kampung untuk bermalam dan besok pulang pagi-pagi ke Banjarbaru. Kami meneruskan perjalanan ke timur, ke arah gunung-gunung gelap yang kini menyangga awan hitam.
***
Pemilik pondok ini pasti seseorang di kampung. Di dinding papan diselipkan sabit dan parang. Rantai gergaji mesin digantungkan pada paku di tiang. Alat penyemprot hama ada di sudut. Di dekatnya ada juga racun hamanya di dalam kotak yang dikunci. Ada rak dimana diatur pakaian anak-anak perempuan, ada pensil dan buku tulis. Ada lampu teplok dengan semprong.
Ada kitab suci di atas karung gabah. Saya membukanya pada halaman yang dilipat—tanda terakhir sang pembaca mengakhiri resitalnya. Ujung halaman yang dilipat itu menunjuk ke angka nomor surah dan ayat. Kebiasaan urang Banjar, ujung halaman itu menandai tempat memulai membaca pada kesempatan berikutnya.
Si pembaca di pondok itu, mungkin pada Rabu malam atau Kamis pagi, berhenti tepat saat akan memulai surah kesebelas.
Dua hari yang lalu, di mushaf kecil yang ada di bagian paling atas carrier, saya juga membuat lipatan yang sama persis seperti tanda yang dibuat si pembaca di pondok ini.
Seperti semua peralatan dan gadget kita hari ini, bila semua terhubung, maka sinkronisasi itu keniscayaan. Seperti dropbox, seperti …
Di antara berkarung-karung gabah itu, ada sedikit yang sudah ditumbuk menjadi beras merah. Ada cabai dan sayur di pekarangan. Ada bonus pepaya yang sudah masak.
***
Pukul setengah delapan, makan malam disajikan dengan piring-piring porselen yang punya pondok. Ada air putih hangat. Nasi merah yang berkepul uapnya. Opik menggoreng ikan asin yang baunya menyebar. Meski hanya berdua dalam radius beberapa kilometer itu, saya yakin, tak hanya saya yang meneteskan air liur, hehehe.
Saya membuat sayur bening dari daun katuk. Ada rebusan daun gumbili dan sambal. Ada pepaya yang dipotong memanjang. Opik juga masih merebus air lagi untuk kopi.
Ikan asin dan kopi dan rokok Opik kami beli di tokoserbaada di terminal di Simpang Empat Banjarbaru. Yang lain dari dalam pondok ini dan pekarangannya.
Tuhan bersama orang-orang yang bersyukur. Saya merasa seperti Laura Ingalls di pondok para juru ukur Di Pantai Danau Perak. Kenyang, tenang, senang. Di tahun 1879, Pa akan mengambil biolanya dan memainkan beberapa lagu, dan merokok pipa setelah makan malam yang nyaman dan Ma melanjutkan rajutannya, sementara Laura menari dengan Mary sebelum diantar tidur ole Pa.
Di tahun 1997, di ujung Paau yang tak lebih terpencil dari De Smet, malam itu ada musik dari Radio Republik Indonesia dari radio transistor yang dibawa Opik.
Usai warta berita pukul sembilan Opik mematikan radionya. “Ceritalah, kenapa kau merahasiakan Neng dari kita semua di KBU,” kata Opik.
Saya menarik napas, tersenyum, dan menyeruput kopi. Opik mengisap rokoknya. Menunggu … ***
Neng
Di ketinggian 12 meter dari tanah, kami berkenalan. Dia bergelantungan, dan saya tengah duduk di satu palang sambil memeluk besi siku 3 mm yang menegakkan menara itu.
“Di rumah, oleh mama ulun dikiau ‘Neng’,” katanya seraya menjauhkan dadanya dari kernmantel[1] 10 mm static yang dipanjatnya.
Saya ingat, kami tidak bersalaman. Ia sedang sibuk dengan segala peralatan yang melekat di badannya. Jarak kami juga terpisah sekitar satu meter lebih. Saya pun terikat pada palang yang lebih tinggi dengan webbing[2].
Ulun, dalam Bahasa Banjar, adalah sebutan untuk diri sendiri bila berbicara dengan yang dianggap lebih tua, lebih senior, atau pada suasana yang lain dan level komunikasi yang lain, untuk menunjukkan sayang dan penghormatan kepada lawan bicara—meskipun si lawan bicara tidak lebih tua atau tidak lebih terhormat.
‘Dikiau’ means ‘called’, atau ‘dipanggil’, ‘disebut’ dalam Bahasa Indonesia.
***
Sebelumnya dia dengan lincah memanjat tali statis ini hingga bertemu saya di ketinggian itu. Begitu sampai gilirannya, ia terlihat tidak ragu sedikit pun. Memasang ikalan kermantel, membuat simpul prusik, mengaitkannya kepada karabiner[3] yang terpasang di harnessnya, dan mulai memanjat naik.
Dalam 4 menit ia mencapai tempat saya duduk, yang sejajar dengan simpul pada kermantel itu. Ini batas yang harus dipanjatnya. Dari sini ia harus turun kembali.
“Halo,…” sapa saya.
“Halo bang,” katanya sambil mengatur napas.
“Istirahatlah sebentar,” kata saya. “Silakan liat pemandangan dulu.”
Di tebing alam, itu salah satu hadiah kegiatan ini, melihat pemandangan dari ketinggian. Dari ketinggian, biasanya, pemandangan biasa-biasa saja pun bisa indah. Di tebing panjat buatan, ini bisa sedikit buat bergaya. Boleh berfoto atau mengambil foto. Tapi di pertengahan dekade 90-an orang belum senarsis sekarang, hehehe.
Istirahat juga perlu, sebab setelah itu ada kegiatan yang kritis. Pergantian alat, dari alat untuk naik ke alat untuk turun dalam posisi bergelantungan adalah seperti pesawat yang akan lepas landas atau akan mendarat.
Neng harus menyelipkan sedemikian rupa tali yang dipanjatnya ke figure of 8—ini descender, alat untuk turun. Sesuai namanya, figure of 8 berbentuk seperti angka 8. Ia dibuat dari logam kromoli, yaitu logam campuran alumunium dengan baja. Alat ini sanggup menahan beban hingga 3.000 kg. Berapa beratmu, sobat?
Setelah tali terpasang di lingkaran besar figure, Neng harus memasukkan lingkaran kecil figure ke karabiner yang terhubung di harnessnya, kemudian menahan tali, melepaskan simpul prusik, dan barulah merosot turun.
Risiko salah dalam aktivitas melawan gravitasi, ya jatuh. Bisa langsung ke tanah. Bisa cukup beruntung hanya tergantung dalam posisi yang sangat tidak nyaman—tak bisa naik dan tak bisa turun dan bila tak cukup kuat membebaskan diri, harus dibantu seseorang.
Itu alasan kenapa saya ada di titik itu. Menjaga kemungkinan itu. Anak baru biasa gugup dan mudah panik. Kepanikan yang menjadi sumber celaka.
***
Neng mengatur napasnya. Ini prusikingnya yang kedua. Karena itu ia cukup tenang dan kami bisa bercakap-cakap sedikit. Ia senang ikut program ini dan sudah lama ingin mencoba memanjat di dinding. Ternyata kami bersekolah di SMP yang sama. Ia masuk SMPN 3 Kenanga tepat 6 tahun setelah saya lulus.
“Jadi Pa Ipit masih ada ya?”
“Ada Bang.”
Pak Pitrani guru olahraga kami, yang menciptakan tim basket perempuan paling hebat di dunia. Tim SMPN 3 Kenanga, yang dimotori antara lain oleh Enny Septiana—kawan yang saya ingin temui di Den Haag dalam perjalanan bermobil ke Mekkah suatu hari nanti—tidak punya lawan yang seumuran.
Ketika saya menjadi Ketua OSIS di sekolah itu, yang menjadi lawan Enny, Ernawati, Ellyati, Ellyrahmi (bukan kembar, tapi memang kakak adik), Annie Rahmawati, Novitasari, Tina Rosalina, Noor Fitriah, Gusti Masniah, … (kalian yang tak tersebut boleh isi sendiri titik-titik itu ya, maafkan saya) adalah tim kampus berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin dan Banjarbaru. Mereka sudah taklukkan STIEI, Stienas, AMIK, Uvaya, dan tim fakultas-fakultas Fisip, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dari Universitas Lambung Mangkurat. Kalau tim-tim SMA saja, hehehe, nyaris tidak dihitung oleh Pa Ipit dan mereka.
Kami memang tidak selalu menang dan juara. Tapi disegani sudah pasti. Mungkin juga kawan-kawan itu sudah dapat tiket untuk masuk sekolah lanjutan yang ngetop.
Namun demikian, menurut catatan saya, trofi yang mereka menangkan pertama kali bukan sebagai tim basket, tapi sebagai tim voli—barangkali kejuaraan bola voli antar SMP-SMA untuk ulang tahun SMAN 2 Mulawarman.
Pa Ipit juga melatih tim basket cowok Braboetz—klub amatir yang ketika itu menyumbang banyak pemain untuk tim basket Kalimantan Selatan. Karena itu tim basket perempuan SMPN-3 juga berlatih bersama mereka.
Pa Ipit juga mengajar dan melatih judo, gulat, menulis diktat, serta tukang ngomel. Ada kawan kami Masripah, termasuk Ernawati, kawan sekelas saya yang main basket itu, yang berprestasi pula di judo hingga ke tim Pra PON Kalsel. Tetangga saya, Surya Saputra yang punya deretan prestasi internasional di gulat, adalah salah satu anak latihnya.
Bagaimana kami dengan para cowok? Hehehe, pada usia remaja awal itu, perempuan memang lebih dahulu mencapai kematangan. Kami baru berkembang pesat ketika berada di sekolah menengah atas. Dengan dasar-dasar yang sangat baik di SMPN 3, hampir semua kawan laki-laki hari itu menjadi seseorang di sekolah lanjutannya—kalau tak jadi atlet (minimal jadi pemain kunci di tim basket di kelasnya), jadi aktivis kegiatan ekstrakurikuler, dan beberapa yang hebat seperti Dheny Eko Ratmono terus menjadi bintang karena kecerdasannya.
“Ulun sempat belajar judo wan sidin…”
“Wow. Hebat.”
Jadi itu rupanya rahasia kelincahan dan kelenturan tubuhnya.
***
Setelah menyelipkan tali statik di lingkaran besar figure of 8, Neng segera memasukkan lingkaran kecil figure itu ke karabiner yang menghubungkannya dengan harness, alat yang menahan pinggang dan kakinya hingga bergantung dengna posisi duduk. Tangan kanannya kemudian menahan kencang bagian tali yang ada di bawah pinggang.
Dengan tangan kanan menahan tali kencang ke bawah, Neng menciptakan friksi besar pada figure dan tali. Friksi atau daya gesek itu cukup untuk menahan bobotnya sementara tangan kirinya melepaskan simpul prusik dari tali.
Melepas simpul prusik sangat gampang. Tinggal buka kuncinya dengan ibu jari, dan tarik ikalannya yang jadi kunci itu secara mendatar. Lepas sudah ikalannya.
Tapi hal yang gampang ini sering jadi masalah. Pemula sering menarik ikalan prusik tidak mendatar, tapi justru menariknya ke arah bawah. Padahal, bila diberi beban ke bawah sejajar tali, prusik justru semakin mengikat. Bukankah tadinya kita bergantung di simpul itu?
Itu yang biasanya membuat panik. Simpul tak lepas, dan tangan yang menahan tali untuk bertahan di ketinggian itu pun makin lemah.
Well, Neng melakukannya persis seperti yang diajarkan. Ia bahkan sudah mengalungkan ikalan kermantel kecil yang baru dilepasnya ke leher. Malah, sebelum turun, ia memundurkan badannya dari tali, figure, dan karabiner.
Menjauhkan badan itu prosedur standar. Saya senang ia melakukan itu. Berarti ia memperhatikan instruksi dan mendengarkan instrukturnya. Ini untuk menghindari, terutama, bila rambutmu panjang kawan, jangan sampai rambut itu masuk dan terjepit dalam komponen gerak segala peralatan untuk meluncur turun ini. Bila itu terjadi, sungguh berabe.
Dan Neng mengendurkan tali yang ditahannya dengan tangan kanan. Rem friksi dibuka, pelan ia merosot turun sambil tersenyum. Saya mengawasinya sampai ia menjejak tanah dengan selamat.
Ia melambai dengan tangan kiri dan tersenyum lagi. Saya melambai dan tersenyum juga.
***
Jalanan kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang pulang kuliah. Sebagian dari mereka berhenti dan menonton kegiatan kami.
Dari ketinggian itu, saya melihat mereka, siswa-siswa SMKN-4 para peserta program pelatihan kepencintaalaman ini. Selama program ini berlangsung, saya tidak pernah mendengar ia dipanggil seperti yang dikatakannya saat tergantung di latihan prusiking itu. Gadis yang posturnya setinggi saya itu selalu disebut dengan nama depannya. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya ‘Neng’ diantara 30-an kawan-kawannya sesama peserta.
Entah mengapa, di dalam hati saya memutuskan bahwa baik pada kesempatan-kesempatan tertentu di hari-hari yang akan datang, atau kapan pun, saya akan selalu ikut cara mamanya di rumah, memanggil gadis itu demikian: ‘Neng’.
Saya belum tahu kenapa saya memutuskan itu. ***
[1]Tali khusus untuk beraktivitas di ketinggian, sila lihat en.wikipedia.org/wiki/Kernmantle_rope
[2]Pita dari anyaman nilon untuk berbagai keperluan. Khusus untuk panjat tebing ada webbing tubular yang kuat. Selanjutnya bisa dilihat di en.wikipedia.org/wiki/Webbing
[3]Karabiner, carabiner, atau cincin kait. Digunakan untuk mengaitkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. en.wikipedia.org/wiki/Carabiner
- ← Sebelumnya
- 1
- …
- 3
- 4
- 5
- 6
- Selanjutnya →