Adalah Sungai dan Jukung …

Posted on Updated on

Sesekali Neng datang ke Sekretariat kami di Kampus di Kayu Tangi pada dinihari. Agar diizinkan orangtuanya, sebelumnya ia menginap di kos temannya yang dekat kampus.

Katanya, ia minta izin mau pergi ke mana sesuai dengan apa yang memang kami rencanakan. Tak boleh bohong pada orangtua, sobat. Neng hanya tidak bilang bagaimana cara perginya.

Sebab, hehehe, kalau Anda bertemu saya hari ini pun, saya yakin Anda akan berpikir panjang lebar untuk mau ikut ajakan saya dan bepergian ala saya ke tempat-tempat dimana saya mengajak Neng untuk didatangi.

Secatatan saya, di luar saudara-saudara saya di Kompas Borneo Unlam, hanya 4 orang, termasuk Neng, yang mau memenuhi ajakan saya. Neng pula yang satu-satunya  perempuan, dan yang paling muda diantara semuanya.

Satu dari 3 yang lain, adalah kawan laki-laki dan ada yang posturnya lebih besar dari kami semua yang mau ikut ajakan saya itu. Ketika pulang menjelang tengah hari, ia mengomel panjang pendek dan bersumpah tak akan lagi ikut-ikut ide saya.

Emang mau kemana? Atau emang kemana aja sih?

***

Kampus Universitas Lambung Mangkurat di Kayutangi di Banjarmasin itu dilewati 2 buah sungai. Ada satu sungai di depan, yang jembatannya lebih kurang 100 meter dari gerbang utama kampus.

Satu sungai lagi ada di belakang di dekat Kampus Politeknik. Sungai yang dibelakang ini mungkin lebih tepat disebut handil atau saluran air irigasi sebab digunakan petani mengairi sawah pasang surut yang saat itu ada di lingkungan Unlam. Lahan sawah itu tampaknya sudah dibeli atau dibebaskan pemerintah, namun sebab belum dimanfaatkan Unlam sehingga pemilik asalnya masih diizinkan bertani di situ.

Untuk sungai yang pertama, kami menyebut gampangnya saja, Sungai Unlam. Mungkin nama aslinya Sungai Kayutangi. Mungkin, kalau ada penelitian tentang nama asli sungai itu, maka hasil penelitian itu pastilah belum dipublikasikan.

Sungai itu masuk kampus dari bagian selatan, dari jembatan di ujung Komplek PU dan pemukiman penduduk di Sungai Miai (astaga, barangkali itulah nama asli sungai itu) lalu berkelok ke kanan di belakang gudang dan garasi Rektorat lama, dan membentuk meander dan lubuk yang dalam di ujung gedung rektorat lama itu, tepat di samping Poliklinik Unlam.

Meander artinya membentuk tikungan U. Kalau menurut bahasa MotoGP, U turn. Beberapa kawan penulis dan analis dunia balapan menyebutnya akrab, tikungan tusuk konde.

Tahukah kalian konde, kawan? Beberapa waktu lalu ada kawan-kawan mahasiswa yang menggelar demonstrasi minta konde dan tusuknya itu ditinggalkan saja. Alasannya antara lain merepotkan. Saya lihat, tanpa diminta pun keadaannya sudah seperti itu. Karena memang mengenakan konde tak mudah, wanita berkebaya dan berkonde hanya pada kesempatan tertentu yang jarang. Ada juga kesadaran mengenakan pakaian yang menutup aurat komplet seperti jilbab lebar dengan sendirinya membuat konde sudah menjadi sejarah bagi sebagian wanita.

Di tepi meander kecil itu, tumbuh sebatang pohon beringin besar. Daun-daunnya yang kecil namun lebat menaungi sekitarnya. Sulur dan akar-akaran dari atas menjulur ke air.

Sebab suasananya yang sejuk, di tengah hari bolong seekor biawak sering bersantai di situ. Saat itu ukuran lebar badannya kira-kira 15 cm dan panjang satu meter lebih. Cukup besar, karena itu dia tidak serta merta kabur bila bertemu saya. Matanya yang hitam kelam dengan pupil panjang itu bergerak-gerak tanpa berkedip. Kulit kelabu dengan bintik-bintik kuning yang membuat makhluk itu terlihat berwibawa. Saya kira biawak itulah sang penguasa meander dan kawasan bawah pohon beringin sampai ke belakang bangunan yang kemudian menjadi Kantin Kopma.

Di belakang Kantin Kopma itu sungai membelok ke kanan sedikit, lalu lurus menyusup di bawah jalan raya kampus. Di sini ada siring yang membatasi kedua tepi sungai dan di sisi timur. Di bagian sisi di mana ada Gudang Alat Tulis Kantor Rektorat teduh oleh naungan pohon-pohon akasia.

Suasananya bisa nyaman sekali. Kantin Kopma itu, antara tahun 1995 hingga 2000, jadi tempat rendevu yang enak. Kawan-kawan panitia pergelaran musik jazz dari Fakultas Ekonomi (Economic Sunday Jazz Festival ya? Masih digelar acara itu?) bahkan cukup percaya diri mengajak artis Jakarta yang tampil jadi bintang tamu makan di Kantin Kopma. Andre yang kini jadi pelawak itu dan bandnya, Stinky, pernah dijamu di Kantin Kopma. Rasanya Java Jive juga. Tapi yang Java Jive ini saya tak yakin, hehehe.

Sebagai tetangga kami di Kompas Borneo Unlam sering diundang makan gratis, terutama saat Kantin tutup setelah pukul sepuluh malam. Koki di Kantin itu teman, dan kami dimintai bantuan untuk menghabiskan makanan yang bagaimana pun tak laku atau tidak sehat dan tidak patut untuk dijual lagi saat buka besok.

“Sedaaapppp,” kata Amang Efeet, usai menghabiskan sepiring nasi goreng sosis. Saya pun mengatakan hal yang sama. Makan apa yang tidak sedaaappp bagi mahasiswa dan anak kos?

Memang sesungguhnya yang tidak kreatif dan tidak menggunakan akalnya dengan maksimal saja yang menderita. Kecuali kalau menderita itu pilihannya.

Di bagian sungai di sebelah Kantin Kopma itu juga, atau pasnya lebih maju sedikit, ke sebelah Toko Kopma, saya pernah ditangkap, dilucuti dompet dan hp, digotong beramai-ramai, dan dilempar ke tengah sungai dalam keadaan berpakaian lengkap jaket biru KBU dan sepatu,…

Untunglah sore itu sungai sedang pasang. Hari itu tanggal 7 November, dan itulah cara kawan-kawan KBU mengucapkan selamat ulang tahun buat saya. Masih lebih beruntung daripada diguyur air comberan atau adonan telur dan tepung seperti yang dialami Bang Mail, Sapar,  atau Bobby, dan yang lain-lain.

Setelah jembatan, sungai membelok ke kiri. Di sebelah kanannya ada Gedung Serbaguna Unlam, di sebelah kirinya saat itu bangunan yang ditempati Menwa sebagai sekretariat (atau mereka menyebutnya ‘markas’ mengikuti kebiasaan tentara), lalu lurus melewati gedung kantor yang ketika itu belum terpakai, menyusup lagi di bawah jembatan hingga di belakang Lapangan Tenis, dan keluar ke Komplek Kayu Tangi II lalu menghilang di antara rumah-rumah.

Bagian setelah di belakang Gedung Serbaguna boleh dibilang tak terurus. Ilung memenuhi sungai, dan seandainya tidak ada jembatan, tak akan orang tahu ada sungai di situ.

***

Setelah Ekspedisi Susur Barito, kami jadi punya 2 buah jukung atau perahu kayu. Jukung-jukung itu dicat warna biru khas KBU. Ada logo Kompas dan Pulau Kalimantan yang besar di kedua sisinya.

Yang jadi favorit saya sebuah jukung sepanjang 4 meter yang dasarnya terbuat dari kayu balau yang ringan dan liat. Jukung itu dibangun di atas batang kayu yang dibelah pada diameternya, lalu dikerok, baru kemudian ditambahkan dinding dari papan.

Jukung ini ringan, gampang dikendalikan, meski agak linggar. Juga terlihat langsing dan lincah membelah air. Jukung ini buatan pengrajin jukung di hulu Sungai Barito sehingga tampak sekali berbeda dengan jukung-jukung yang ada di Banjarmasin.

Kata Opa Petersen, jukung favorit saya ini adalah jukung sudur bakapih.

Jukung di Banjarmasin dibuat untuk keperluan berdagang, tampak agak lebar di bagian tengah, tidak linggar atau tidak mudah bergoyang oleh gelombang, namun agak lamban.

Jukung kedua kami adalah jukung jenis ini. Pajukungan atau ahli jukung di Pulau Alalak menyebut jukung ini sebagai jukung patai hawaian.

Erik Petersen adalah orangtua dari Denmark.  Bila sedang ada di Banjarmasin tahun-tahun itu, ia suka naik sepeda ke mana-mana. Opa Petersen peneliti. Ia pun mempelajari dan meneliti jukung. Hasil penelitiannya beliau tuliskan jadi buku. Judulnya “Jukung Boats From the Barito Basin, Borneo”.

Buku Opa Petersen diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ayahanda guru Profesor Melkianus Paul Lambut. Pa Lambut bercerita bahwa dulu ia merantau naik jukung untuk bersekolah di Banjarmasin.

“Saya mengayuh sendiri, menghiliri Sungai Barito selama berhari-hari,” tuturnya. Bila malam tiba,  pemuda Lambut singgah dan menumpang bermalam di pelataran rumah orang yang menghadap ke sungai.

“Masa itu, rumah-rumah menghadap ke sungai sebab sungailah jalan raya. Rumah-rumah Banjar punya teras depan yang luas. Tuan rumah mempersilakan siapa pun pengembara sungai yang kelelahan untuk bermalam.”

Masa remaja Pa Lambut itu lebih kurang setelah Pemilu I tahun 1955. Kampus kami, Universitas Lambung Mangkurat, berdiri tahun 1958.

Karena itu, terjemahan Pa Lambut pada buku Opa Petersen penuh penghayatan dan kenangan atas pengalamannya sendiri.

Betapa tidak, sebagian dari yang disebut petualangan hari ini, dulu adalah kenyataan hidup sehari-hari.

Menarik bukan, saya belajar tentang jukung—ikon penting budaya Banjar, justru dari buku berbahasa Inggris tulisan seorang Denmark, dan juga terjemahannya dari seorang Dayak.

Hmm, bukankah dari dulu bila Anda ingin mempelajari Hikayat Perang Banjar, sumber-sumber detil tertulis justru ada di Leiden, Belanda.

Semoga Allah meridhai guru-guru kami yang mulia.

***

Kami memarkir jukung-jukung ini di Meander tempat biawak berjemur tadi. Beberapa hari setelah Tim Ekspedisi kembali ke Banjarmasin, saya yang tak ikut Ekspedisi, belum pernah diajari bagaimana berdayung dan mengemudikan jukung, siang itu, sendirian, tak dapat menahan hasrat untuk duduk di salah satu ujung jukung dan mulai mendayung.

Pertama mendayungnya asal saja. Yang penting jukungnya maju. Setelah itu saya menguasainya begitu saja. Mungkin sudah diturunkan dalam darah setiap urang Banjar tentang bagaimana mendayung dan mengemudi jukung. Untuk menguasainya dengan sempurna, tinggal latihan saja.

Saya menguasai cara membelokkan jukung itu ke kiri kanan dengan hanya mendayung di satu sisi dalam setengah jam. Termasuk juga cara mundur, baik lurus, atau mundur ke kiri atau ke kanan.

Perahu atau jukung, kawan, bila didayung dari sisi kanan, misalnya, maka akan berbelok ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Bila didayung dari sisi kiri, ia akan membelok ke kanan. Sebab itu, untuk menjaga haluan tetap lurus ke depan, orang perlu mendayung kiri dan kanan bergantian agar kedua daya itu berbalasan dan menjaga haluan tetap lurus sesuai arah tujuan. Cara mendayung seperti itu dipraktikkan orang Eskimo dengan kayak mereka. Atau para nelayan di Pulau Maratua di satu pulau terluar Indonesia.

Cara mendayung seperti itu, agar efektif, perlu dua bilah pengayuh pada satu dayung. Dari selintas melihat saja kita tahu hanya di tempat yang luas seperti laut atau danau saja cara mendayung seperti itu aman bagi pendayung di perahu lain bila bersisian.

Bayangkan bila masuk kanal-kanal sempit seperti di Kuin atau Kelayan, atau bergabung di keramaian Pasar Terapung.

Mendayung dari satu sisi saja adalah, tentu saja,  mendayung dari satu sisi saja, baik di sisi kiri atau sisi kanan, sesuai dengan kebiasaan dan kenyamanan masing-masing, dan tidak setiap kali selesai mengayuh satu kayuhan, berpindah mengayuh di sisi lainnya.

Lalu bagaimana agar perahu tak berbelok karena gaya tolak dayung di air? Sederhana saja, sobat. Pertama untuk mendorong perahu maju, dayung yang dipegang melintang dada kita celupkan ke air sejauh setengah rentang lengan. Dayung lalu ditarik sampai pinggang untuk mendapatkan gaya tolak dan jukung pun maju. Nah, setelah itu putar tangkai dayung itu ke kanan atau searah jarum jam, bila dayung Anda di sisi kanan perahu. Sebaliknya, putar ke kiri atau berlawan arah jarum jam bila dayung Anda di sisi kiri perahu.

Putaran dayung itu mencegah haluan perahu berbelok karena kita memberi gaya berlawanan di buritan.

Sederhana bukan.

Dulu ada masa setiap acil, busu, angah, julak, ading, uma, apalagi abah dan anak bujang di Banjar mestilah menguasai keterampilan ini.

***

Kawan-kawan saya yang begadang di Sekretariat mungkin baru saja tidur ketika saya bangun. Hampir pukul empat dinihari. Mereka tidur tersebar di berbagai sudut senyamannya. Asbak rokok penuh oleh puntung, demikian juga gelas-gelas yang tinggal berisi ampas kopi.

Saya bangun dan mengeliat, lalu mencuci muka dan meregangkan otot sebentar. Mencium dan menempelkan dahi di lantai dingin Sekretariat pada dinihari begitu adalah peregangan ringan yang sangat berguna untuk mempertajam daya ingat. Saat itu kepala menjadi satu bagian yang rendah dari tubuh, dan karenanya daya tarik bumi serta pompaan jantung lalu membuka jalan darah hingga yang kecil-kecil di lipatan-lipatan otak. Darah yang kaya oksigen dan sari pati makanan itu pun mengalir lancar sehingga membuat banyak syaraf terhubung dan ruangan-ruangan memori pun terbuka.

Perlahan saya menggeser pintu lemari peralatan KBU dan mengeluarkan 3 jaket pelampung. Sambil menyandang ransel kecil, saya keluar dari pintu belakang dan perlahan menutupnya kembali. Saya ke gudang di samping Sekretariat dan mengambil 3 dayung.

Hawa dingin menyegarkan. Penjaga malam memukul tiang listrik sekali. Dengan bawaan yang banyak tapi ringan itu saya berjalan ke belakang Rektorat Lama, tempat jukung-jukung kami ditambatkan.

Air masih surut. Walaupun kecil kemungkinan dicuri orang, jukung-jukung itu selain dirantai juga ditenggelamkan separuhnya. Siapa pun yang ingin menggunakannya harus mau sedikit bersusah payah menimba air keluar.

Atau bila menguasai tekniknya, menggoyang-goyangkan badan jukung ke kiri-kanan untuk melemparkan sebagian besar air, baru menimba sisanya.

Saat saya menata ulang lantai jukung, seberkas terang sinar lampu menerangi belakang Rektorat Lama. Bunyi halus motor 4 tak menderum lembut.

“Bang Nov, …”

“Hei! Ayo!”

“Okey, parkir dulu.”

Gadis itu memarkir motornya di garasi Poliklinik Unlam, mengunci helm di bawah jok, dan memasang kunci tambahan. Saya melihat siluetnya mendekat. Pagi itu ia pakai celana panjang kargo, di bawah jaket penahan angin ada kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan di atas kaos putih, dan rambut yang diikat sederhana.

My Hermione.

“Pake life jacket itu ya. Bawa topi?”

“Ada. Ni Neng juga bawa air.” Sebotol air yang masih hangat di dalam botol plastik tahan panas.

“Sippp, good girl. Terimakaseeh…”

“You’re welcome, Sir.”

Neng menyentuh ujung topi rimbanya dengan ujung jari, seperti prajurit memberi hormat. Saya membalas penghormatan itu dengan menjentikkan air dari sungai ke wajahnya.

“Ehhh, awas yaaa…”

Kami memulai perjalanan itu pukul setengah lima. Neng duduk di depan di haluan dan saya di buritan mengemudi. Neng mengatur lampu senter di jidatnya. Air mulai pasang. Kami mengayuh pelan namun kuat untuk melawan arus dari air yang naik. Selagi air masih surut, kami akan mudah melewati jembatan di batas Unlam dengan kampung itu. Setidaknya tidak perlu menunduk atau merendahkan badan.

Setelah jembatan itu, Sungai Miai membelah pemukiman dan berada di belakang dapur semua rumah, di kiri ataupun di kanannya. Sepanjang 200 meter sungai itu lurus saja, lalu membelok tajam ke kiri bila kita dari arah utara seperti sekarang. Sungai menyempit menuju ke timur.

Sebagian rumah punya pelataran ulin di belakang sedikit di atas sungai. Mungkin niatnya dulu untuk duduk-duduk santai sambil minum kopi atau merokok. Tapi selama kami hilir mudik di sungai ini dalam beberapa bulan itu, tak pernah ada seorang pun dari penghuni rumah itu yang kami temui begitu. Paling-paling ada buangan air cucian, atau limpasan orang mandi. Atau paling asyik, adalah ibu-ibu, atau perempuan anak kos yang menjemur pakaian atau cucian dengan hanya bersarung dieratkan di dada dengan rambut basah atau tidak basah. Pelataran santai di belakang rumah menghadap sungai itu memang dijadikan tempat jemuran. Atau memang itu peruntukannya sedari awal ya.

Setelah melewati bangkai jukung tiung (jukung besar) di kiri sungai yang kosong dan dua klotok kecil di kanan, tepat di depan ada bangunan yang agak menjorok ke sungai.

Bangunan itu menjulang, sebagai rumah kos yang terbuat dari kayu berlantai 2. Tepat satu sudutnya berdiri di atas sungai, di tikungan di bagian yang dalam di mana arus melingkar kencang. Bila tidak dikendalikan, jukung pasti menghantam tiang bangunan itu.

Bangunan itu belum lagi dicat, tapi sudah disewakan kamar-kamarnya. Bangunan itu juga tidak punya pelataran atau apa pun di tepi atau di atas sungai, tapi jendela-jendela kamarnya menghadap ke sungai. Tepat di sudut tikungan itu, ada satu kamar yang bila kami lewat di sore atau pagi hari,  jendelanya selalu terbuka. Kadang-kadang ada ‘tapih bahalai’ yang diangin-anginkan di jendela itu. Tapih bahalai adalah sarung motif batik banjar dengan warna-warna khas seperti ungu atau cokelat.

Dari tapih itu, saya tahu kos itu kos untuk mahasiswa perempuan dan mereka mungkin sekali datang dari kota-kota pedalaman Kalimantan Selatan atau Kalimantan Tengah. Sebagian mereka tampaknya mahasiswa STIE Indonesia.

“Tahu dari mana?” tanya Neng.

“Itu, depannya kampus STIEI.”

Sekali ini satu percikan air sungai mampir ke wajah saya. Neng tertawa.

Saya tak tahu apa arti bangunan itu bagi kawan-kawan saya yang lain,  yang setelah kami punya jukung ini jadi sering lalu lalang di sungai itu. Bagi saya, bangunan itu penanda tikungan sungai, dan kemudian saya tahu di depannya ada jalan lingkungan yang membawa ke luar ke Kampus STIEI dan muara Jalan Brigjen H Hasan Basry, awal Kayutangi.

Pengetahuan itu juga memberi variasi tempat turun ke sungai dan tempat naik kembali ke darat.

Lepas tikungan itu, sungai berkelok-kelok di bawah dapur-dapur yang tinggi di Sungai Miai. Dari dapur-dapur itu saya mencium bau ikan goreng yang gurih dan sayur gangan waluh balamak yang empuk.

Setelah melewati belakang Kantor Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, lalu ada bagian yang terbuka, yang langsung bersisian dengan Jalan KH Hassan Basry, sehingga kendaraan dan lalu lintas baik di jalan maupun di sungai terlihat jelas sampai sungai kembali terselip di belakang toko-toko di tepi jalan raya dan kembali menuju ke barat.

Sungai berbelok ke kawasan yang disebut Sungai Kindaung. Di situ  sungai berada di antara dua gang yang diperkuat dengan batako. Ada beberapa jembatan yang tinggi yang menghubungkan kedua sisi gang.

Rumah-rumah dan warung-warung menghadap sungai. Di sisi kanan ada Sekolah Dasar Muhammadiyah Sungai Kindaung yang berwarna putih dan hijau. Sekolah itu punya halaman lumayan luas di pemukiman yang padat itu.

Saya punya seorang julak yang tinggal di rumah banjar bubungan tinggi di depan sungai. Semasa kecil saya, di awal tahun 80-an, sepupu saya yang paling tua, juga anak tertua julak, dirayakan walimahnya di situ. Ah, ramainya keluarga.

Selain sekolah, persyarikatan Muhammdiyah Ranting Sungai Kindaung ini memiliki satu pasukan barisan pemadam kebakaran (BPK) Karena lingkungannya yang dikeliling sungai BPK Sungai Kindaung punya unit untuk mendekati dan memadamkan kebakaran dari sungai. Ada speedboat khusus berwarna merah dan biru yang di parkir di garasi khusus pula di tepi sungai. Di belakang speedboat ada mesin pompa air dan selang-selang. Kami pernah melihat unit itu berlatih di sore hari, dari sungai menyemprot halaman sekolahan yang kosong.

Maju lebih kurang 50 meter lagi dari sekolah itu, sungai membelok ke kiri, ke selatan. Sungai diapit oleh dua rumah panggung besar sampai ke bawah jembatan di Jalan Kuin Cerucuk, di mana Sungai Miai melebar dan melebur ke dalam Sungai Kuin.

Saya membelokkan jukung ke kanan. Azan subuh berkumandang. Lampu-lampu dinyalakan. Bunyi air jatuh di kamar mandi dan mengalir ke sungai terdengar dari setiap rumah di sepanjang sungai.

Azan yang paling keras terdengar dari masjid di depan kami itu. Suara muazzin tua yang serak dan bergetar membawa rasa haru sekaligus ironi. Di masjid saat subuh tak ada anak muda tampaknya.

Kami menepi dan menambatkan jukung di batang masigit (dermaga masjid) itu. Neng menuju ke bagian jamaah wanita. Satu dua bapak dan kakek memandang saya dan tersenyum. Saya membalas senyum mereka.

***

“Bang Nov mau untuk?”

“Mana?”

Ada penjual untuk rupanya di halaman masjid. Untuk adalah roti goreng mirip bakpao. Juga mirip kue dorayaki-nya DoraEmon. Bentuknya seperti setangkup mangkuk kecil yang disatukan di bagian dasarnya. Untuk yang masih seputih kertas digoreng dengan minyak kelapa panas sampai jadi cokelat kemerahan (habang).

Ada untuk habang. Ada untuk putih, Untuk putih ini yang betul mirip sangat dengan bakpao. Bila untuk habang digoreng, untuk putih dikukus-persis bakpao, memang.

Untuk ada isinya. Urang Banjar suka untuk isi kacang hijau. Untuk isi inti juga disukai. Tapi tidak ada untuk isi daging sehingga kue ini aman bagi vegetarian. Inti adalah parutan kelapa yang diaduk dengan gula merah.

Untuk yang dijual di halaman masjid itu besar-besar. Neng membeli 2 untuk isi kacang hijau guna sekedar mengganjal perut. Tujuan kami masih lebih kurang 40 menit berdayung lagi dari masjid itu.

Hari terang dan kami menyimpan senter. Sungai mulai sibuk dan riuh. Bunyi mesin diesel dari beragam klotok (jukung yang dipasangi mesin diesel) memeriahkan pagi yang tampaknya akan cerah. Bau solar dan riak gelombang yang menghantam batang menyebar semangat kehidupan yang riang.

Batang adalah tempat mandi, cuci, dan kakus di tepi sungai. Juga dermaga dan halte. Biasanya batang dibangun di atas sekurangnya 2 batang pohon kayu besar yang mengapung. Di atas 2 atau 3 batang kayu besar itu, disusun papan-papan dari kayu ulin. Rangkaiannya diperkuat lagi oleh balok-balok ulin juga.

Biasanya juga, batang dilengkapi dengan jamban, yaitu toilet yang menjadikan sungai langsung sebagai septic tank. Batang yang cukup besar bisa punya 2 jamban sekaligus.

Agar tak hanyut, batang ditambatkan di tonggak kayu. Tambatannya bisa berupa tali yang sedemikian rupa diukur sehingga bisa mengikuti pasang surut sungai.

Sehabis salat subuh ramailah batang dengan orang yang mencuci pakaian, dengan orang yang mandi untuk pelesir di hari minggu, dan lain-lain keperluan dengan air. Bila selain hari minggu, tentu juga ramai oleh anak-anak yang mau sekolah.

Sebagian anak sekolah itu menjadikan batang sebagai halte tempat menunggu klotok. Mereka akan naik taksi klotok yang melewati batang sekolahnya atau batang dekat sekolahnya.

Urang Banjar suka menggeneralisasi. Apa pun angkutan umum disebut taksi. Ojek pun, disebut taksi ojek, hehehe.

***

Kami mengayuh dengan gembira meski melawan arus. Kami berdua berpeluh dan tersenyum. Tak banyak yang kami bicarakan. Bersama berdua saja di dalam jukung itu sudah amat menyenangkan.

Air pasang pagi hari memang selalu membawa harapan. Air cokelat susu Sungai Kuin memenuhi anak-anak sungainya hingga jauh ke ujung rawa dan sudut kampung. Air pasang membuat semuanya tampak bersih. Sampah yang dibuang di kolong rumah langsung lenyap dalam air dan arus.

Klotok dan jukung juga speedboat lalu lalang. Pada yang searah ke barat, klotok-klotok menyalip kami. Kami menyalip jukung-jukung yang dikayuh acil atau paman yang sendirian.

Pukul enam lewat limabelas menit, di depan kami melintang tinggi sebuah jembatan. Ketika itu adalah sebuah jembatan kayu ulin yang kokoh tiang-tiangnya, namun sudah longgar paku-paku papannya. Kendaraan yang melintas di atasnya membuat bunyi berderak kayu dan besi yang khas.

Ada dermaga ulin yang lapang di daratan di sebelah kanan sebelum masuk bawah jembatan itu. Itulah batang masigit Sultan Suriansyah. Dan itulah masjidnya, di seberang jalan Kuin Cerucuk.

…di kampung Kuin baolah masigit

di situ jua sidin bamakam…

Masjid seorang pangeran yang rendah hati. Masjid raja di tengah-tengah kampung rakyatnya. Makam sederhana seorang hamba.

“Nanti pulangnya mampir ya,” kata Neng. Sure.

***

Pukul setengah tujuh. Sungai dan langit tiba-tiba saja meluas dan melebar. Sungai Kuin membuka mulutnya untuk limpahan air dari Batang Besar Barito. Jukung dan klotok lalu lalang dengan ramainya dan mengirim gelombang dan ombak kemana-mana.

Mata Neng berbinar.

“Pasar Terapung, I am coming…” teriaknya senang. Dayungnya diangkat seperti Tim Dayung Oxford memenangi balapan lawan Tim Cambridge di Sungai Thames.

Setelah berbelok ke utara dari muara Sungai Kuin itu, dua ratusan meter dari pertemuan sungai, berkumpul ratusan acil dan paman dalam jukung dengan muatan beragam hasil bumi banua Banjar. Kami bergabung dan berbaur dengan mereka, menyelipkan jukung biru kami diantara acil yang menjual tungkul, waluh, keladi, daun gumbili, limau, kalakai, kangkung,  dan paman yang menawarkan tarung, pepare, nyiur, haliling, seraya mendayung pelan dan tersenyum kepada siapa saja.

***

“Itu rombong,” tunjuk Neng. Ah, hahaha…senangnya ketemu rombong. Neng mengarahkan haluan ke rombong itu.

Rombong adalah perahu warung, atau warung terapung. Beragam wadai Banjar disajikan di atas piring-piring seng. Ada untuk lagi, pisang goreng, pais pisang, pais waluh, lempeng, petah, wadai lapis, pepare, putu mayang, puracit, lupis, … juga nasi bungkus.

“Itu nasi kuning. H haruan, T telur, …” tunjuk si Paman yang jual dengan tongkat panjang yang ada paku di ujungnya—yang digunakan untuk menjangkau wadai yang terlalu jauh bila langsung diambil dengan tangan.

Bukannya H Hintalu (telur) juga, Paman? Hehehe.

Mendayung sepagian rupanya membuat Neng kelaparan. Setelah menambatkan jukung kami di rombong itu, ia memutar duduknya menghadap saya di buritan, bergeser ke tengah, dan mengambil nasi bungkus daun pisang yang ditempeli kertas kecil bertuliskan huruf H dari rombong. Saya juga mengambil nasi bungkus huruf H itu. Setelah mencuci tangan, kami makan dan duduk di tengah jukung sambil kadang bertatapan dan tersenyum.

Dua teh hangat diangsurkan. Neng makan dengan lahap. Ia makan hingga butir nasi terakhir sementara saya menjilati jari-jari sebelum mencuci tangan lagi di air sungai.

Kami bersendawa berbarengan lalu tertawa.

“Tidak sopan,” kata Neng seraya meninju bahu kiri saya.

***

Kami berkeliling Pasar Terapung. Pasar ini adalah pasar induk, pasar grosir, sekaligus juga pasar eceran. Para pedagang yang berbelanja di sini akan menjual kembali belanjaannya di handil dan anjir nanti. Sebagian mereka menyusuri anak-anak sungai di Antasan Kecil hingga ke Pasar Lama, Seberang Masjid, Sungai Jingah, mungkin hingga Kampung Melayu, dan menemui para pembeli yang sudah menunggu di batang atau dapur rumahnya.

Bersama para pedagang yang mulai memisahkan diri itu, pada pukul delapan, kami ada di dekat muara Sungai Kuin lagi. Pasang masih terus naik. Tiba saatnya untuk pulang.

Kami singgah di Masjid Sultan Suriansyah, ke pauduan dan mencuci muka. Neng memenuhi hajatnya untuk salat tahyatul masjid dan salat dhuha. Tak bisa berlama-lama sebab kami harus kembali ke sungai untuk terus memanfaatkan arus pasang naik yang meringankan kayuhan dan mempercepat perjalanan.

Banyak batang masih ramai oleh ibu-ibu yang mencuci dan belanja dan para pemuda yang mandi setelah baru bangun dari begadang malam Minggu. Matahari pagi ada di depan kami dan topi rimba mulai memberikan manfaatnya. Namun sebelum matahari mulai garang, kami sudah tiba di Sungai Miai kembali dan terlindung di bawah bayangan rumah-rumah.

Lagu tema film kartun terdengar hingga ke sungai dari beberapa rumah. Beberapa anak menatap tak berkedepi kepada kami sampai Neng melambai pada mereka. Ibu dan gadis remaja menjemur pakaian. Jendela kamar kost mahasiswa STIEI itu terbuka lebar dan sehelai tapih tersampir di jendela.

Kami membelokkan jukung ke kanan, lalu lurus sampai bawah jembatan di batas kampus. Sebab air pasang, kini kami harus melewatinya dengan berbaring di lantai jukung.

Meander di bawah pohon beringin di belakang Rektorat Lama bermandi sinar matahari pagi. Bayangan sang beringin jatuh di atas Poliklinik dan baru siang nanti menaungi sungai dan kelokannya dan mengundang si biawak untuk bersantai di situ.

Kami minum bergantian dan menghabiskan air dari botol plastik tahan panas milik Neng setelah menaikkan semua peralatan, kembali menenggelamkan separuh badan jukung ke air, merantai dan menguncinya.

Gedung serbaguna di seberang sana sudah ramai oleh walimah perkawinan.

“Bang Nov besok Senin ke perpustakaan?”

“Yup.”

“Ok, sekalian mo balikin buku jukungnya Petersen.”

Neng mengenakan helm. Saya menunduk mendekatkan wajah saya pada wajahnya.

“Sampai besok.” Masih ada rasa manis lembut bak es krim tersisa di bibir saya.

“See you, Bang”

“See you, Neng.”

Sinar matahari yang hangat memeluk kami berdua, memantul di dasar hati, dan membuat saya ingin menyanyi sepanjang hari.

***

Hari-Hari Hujan

Posted on

 

Setelah Idul Fitri 1436 Hijriah, saya baru merasa punya energi lagi untuk menulis dan  reblog kisah perjalanan kami ke utara hingga sempadan Indonesia-Malaysia. Ini bagian kedua setelah Laskar Pelangi di Batas Negeri. Maaf lahir batin, semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Hujan kini tak perlu diminta. Setiap pagi, ia mendera menjelang dinihari. Di bawah tetesan lebat air bening itu, para pengunjung Pos Siluman bergegas kembali ke camp di ujung jembatan runtuh begitu selesai salat subuh. Tawaran sekedar teh hangat pun terpaksa ditolak karena semua sudah harus ikut briefing pukul 07.00.

Camp besar di ujung jembatan yang tertutup kabut tipis dicapai dalam 40 menit. Setelah briefing, saya yang menumpang di EB 07 harus jalan lagi selama 30 menit untuk menuju Tiga Sekawan yang membuat camp terpisah. Mereka kembali ke anak sungai dimana mereka istirahat siang dan mandi sehari sebelumnya.

Di hari Jumat, sewaktu pertama melihat anak sungai ini, dan kelokannya, serta kontur alam di sekitarnya, saya jadi paham kenapa para tentara, juga Insu, tak menjadikannya tempat istirahat kendati air melimpah di sini.

Pertigaan dan lembah seperti itu adalah jalur satwa. Air itu satu-satunya di sekitar sini, maka ke sanalah mereka minum. Kemping di situ, kita mengganggu rusa yang haus, atau rombongan babi hutan, anjing liar, bahkan ular.

“Makannya ketika teman-teman Tiga Serangkai mau kemping di situ, saya langsung balik kanan—tadinya saya kan mau ikut ke Pos Siluman,” kata Praka Reza.

Oleh komandannya, Praka Reza ditugaskan mengawal para peserta dan tak boleh melepaskan diri dari yang dikawalnya hingga selesai kunjungan ke perbatasan ini.

Perjalanan kembali adalah jalan putar balik. Maka yang kemarin hambatan, menjadi bonus penurun ketegangan. Yang kemarin tempat sedikit rileks menikmati pemandangan, kini jadi tantangan.

Tiga Sekawan yang kini menjadi yang paling depan, langsung menjajal tanjakan curam berpemandangan ketinggian ujung-ujung Pegunungan Muller-Schwanner. Kabut sesekali turun menutup jarak pandang, lalu perlahan buyar dibawa angin.

EB 13, Cherokee yang dikemudikan Faris Pahlevi untuk Kalimantan Timur, tak mengalami masalah. Perlahan merayap naik di tanjakan sepanjang seratus meter di kemiringan 35 derajat itu. EB 12 tampil sama baiknya. Dhimas dengan tenang membawa Trooper merangkak dan naik mengatasi medan licin dengan sempurna.

Seiring pulang berbalik arah, berputar pula nasib EB 07 di awal jalan pulang ini. Kemarin menarik, hari ini ditarik. Sebab meski ban Simex ukuran 35 yang melingkar pelek tetap berputar, tapi mobil tak bergerak dari tempatnya.

Fion yang memimpin upaya mengatasi tantangan itu memerintahkan dua mobil di depan menjadi winching point. Sebelumnya, kedua mobil dimintanya untuk dikunci, dikaitkan lagi kepada sebuah anker, penambat,  agar bisa menahan daya tarik dari EB 07 di bawahnya.

Belum lagi EB 13 dan EB 12 tertambat sempurna, sebuah tarikan sudah dimulai dari bawah. Kontan kedua mobil tersentak turun meski ban-ban sudah diganjal. Fion pun berang.

“Siapa yang infokan di atas sudah dimatikan …???” teriaknya kesal.

Bergegas sebagian kru tim, termasuk Lettu Danrus, naik ke posisi EB 13 dan EB 12 untuk membantu menambatkan kedua mobil. Sebuah pohon sejauh 50 meter dari moncong EB 13 dicapai dengan menyambung dua strap.

Di bawah Reza Kamal diperintahkan untuk menggunakan winch elektrik EB 07 karena winch PTO-nya dianggap tak selaras geraknya dengan traksi yang diinginkan untuk melepaskan kendaraan dari jepitan lumpur. Ronal co driver  EB 13, pun berada di depan winch EB 07.

Tiba-tiba semua kaget lagi. Fion membentak nyaring. “Gua yang mimpin, ikut gaya gua. Kalau mau pake gaya lu pulang sana…!!!”

Hening sesaat. Ronal segera pergi dari depan winch EB 07 dan Reza Kamal mulai mengaktifkan winch elektrik. Land Cruiser HJ 60 akhirnya bergerak pelan mengikuti tanjakan.

Dengan teladan cara dari tiga mobil di depan, 10 mobil berikutnya sukses mengatasi rintangan. Semua bergantian menjadi winching point setelah berhasil mencapai puncak tanjakan itu.

Hingga waktu makan siang Tiga Sekawan terus berada di depan dalam perjalanan turun dari Pos Sinyal. Di ujung turunan (yang kemarin adalah tanjakan) tempat dimana EB 05 mulai digeret naik, EB 12 mengambil jalan terlalu ke kanan. Akibatnya, ban kanan di tebing, ban kiri masuk selokan dalam, Trooper pun miring nyaris terbalik.

“Tarik dari belakang,” perintah Pak Roesmanhadi, yang mobilnya EB 03 tepat di depan EB 12. Ditarik EB 07, Trooper kembali ke posisi normal, dan perjalanan dilanjutkan hingga sungai besar yang memiliki tepian batu landai untuk istirahat makan siang.

Tak  ada yang melihat kejadian ini. Tiba-tiba Tablo muncul dari sungai dengan berdarah-darah.  Ada luka di siku, ada luka di lutut.

“Kepleset pas lagi motret di batu. Ini kamera jatuh ke air. Aduh semoga gak apa-apa kameranya,”  katanya.

Ada dokter Silver, ada dokter Reza. Tablo pilih diobati dokter Silver dan diledek dokter Reza. Sepanjang perjalanan ini dokter Reza kemudian terkenal sebagai tukang ledek paling sadis yang pernah ada.

Usai makan siang, Ketua Rombongan, “Chief” Syamsu Setiabudhi di EB 01 mengumpulkan tim untuk briefing singkat.

“Saya harus kembali ke atas untuk membantu kawan-kawan yang masih tertinggal. Mobil-mobil yang masih di atas mulai mendapat berbagai kendala seperti winch macet, dan lain-lain,” jelas Syamsu.

EB 13 pun bergabung dengan EB 01 dalam misi pertolongan itu. Apalagi karena dokter Silver buka praktik di EB 01.

“Untuk yang lain, dipimpin Pak Roesman, bisa menyelesaikan pemasangan antena satelit di Pos Sebuku.”

Kabar EB 08 yang terguling juga dikonfirmasi. Tak ada orang yang cedera dari kejadian itu disyukuri.

Maka tim pun terpisah 3 untuk sementara. Tiga Sekawan melaju sampai Pos Sebuku dengan dipimpin EB 03. Di depan gerbang portal jalan perusahaan, di batas jalan aspal, Prajurit Kepala Reza dan rekannya yang mengawal rombongan ini pamit turun.

Dalam jalan kembali ke Malinau, setelah 2 jam di Pos Sebuku yang ditutup dengan makan malam yang lezat dan serba kuning hijau (telur dadar kuning dalam piring plastik hijau, sayur nangka kuah santan hijau dalam piring plastik kuning), Tiga Serangkai mendapati Pak Roesmanhadi, yang jenderal dan dulu Kepala Kepolisian Republik Indonesia, ternyata suka bercerita dan punya banyak cerita lucu.

***

Dinihari 4 November, hari ke-10 perjalanan. Hujan menjadi teman akrab sekarang. Saya menutup laptop. Berita selesai, edit foto selesai, tapi perangkat penghubung satelit kami kehabisan daya.

Camp malam ini sungguh nyaman. Ini bekas bengkel para pekerja yang dulu membuka kembali jalan ini, rute Malinau-Long Bawan. Ada bangunan berisi dua kamar yang tingginya 2 meter dari tanah, dan ada atap setinggi 8 meter yang cukup buat 3 mobil berjajar.

Siapa cepat dia dapat. Tim Aceh, EB 15, dan Tim Aceh-Banten EB 06 plus Tim Jakarta EB 02 pun menjadi penguasa bengkel ini.

Seperti asrama, tim EB 06 menyusun velbed mereka di dua kamar yang ada. Di bawah dua kamar Insu dan Vendry Kamil menggelar dapur. Di pojok barat adalah teritori trio GAM Alex, Noeh, dan si tukang bikin kopi pahit paling enak,  the coffee maker ‘Che’ Mansurudin.

Dapur mereka, tempat bikin kopi Aceh yang pahit enak itu, ada di belakang Daihatsu Taft Rugger ini. El commandante Alex boleh saja berkuasa di belakang setir dan radio, tapi di dapur ini kekuasaan mutlak ada pada Che.

“Kopi, Bang,” kata Che. Ia tidak menawari, tapi langsung mengangsurkan secangkir kopi panas. Kopi panas, bung, yang uapnya masih berkepul dan harus ditiup dulu agar lidah selamat saat dilewatinya.

Orang-orang EB 02 punya hotel di atap Land Rover hybrid berbasis Series mereka. Ada tenda yang nyaman dan cukup buat dua orang dimana Rahadian Mahendra dan Om Harbot tidur bergelung setelah seharian perjalanan.

Orang ketiga, sang mekanik Muallim Rosyid, boleh memilih sesuka dia, mau buka velbed atau tidur saja di jok belakang Series yang lapang.

Di sisi barat di halaman, Tim Kalbar EB 10 dan EB 11 merentang tenda terpal di antara dua Vitara mereka. Di sisi timur EB 08 dan EB 09 dalam pasangan Land Rover dan Cherokee yang aneh. Di depan bengkel ada EB 03, Pak Roesman tetap dalam gaya militernya dengan tenda regu prajurit Brigade Mobil, velbed yang tersusun rapi dan meja dapur yang praktis. Ryan dan Omat membuktikan mereka prajurit yang efisien.

Untuk pertama kalinya seluruh tim ada dalam satu camp lagi. Tiga Sekawan plus EB 13 yang datang belakangan dapat tempat persis di tengah halaman. Mereka pun terlihat tidur dengan nyaman.

Malam itu, selain kopi panas Che, saya dan Bondho dua tukang potret, dan Sony si nangka semangka operator Inmarsat, mendapat kemewahan dengan meja bekas peralatan para pekerja.

Di meja itu saya menulis berita yang mengabarkan kami sudah menyeberangi Sungai Jempulon, sebuah sungai jernih selebar 15 meter yang sedang surut sehingga lagi-lagi seseorang minta debit airnya naik agar perjalanan ini jadi lebih seru.

Kejadian tentang Bintara Eko dari Koramil Malinau yang terjatuh di sungai dan bertemu ular hitam berbelang kuning diceritakan dalam satu paragraf singkat.

Saya juga menulis dimana kami melewati puncak-puncak bukit di Pegunungan Schwanner dengan ketinggian mulai dari 400 meter dari permukaan laut (mdpl) hingga 800 mdpl, dimana mesin mobil-mobil kami bergetar karena kepanasan sebab bekerja hingga batas maksimalnya.

Kami menyaksikan Sungai Malinau yang cokelat mengalir lurus ke timur dan jalan berliku-liku menanjak ke barat, menyisi lereng-lereng terjal sebelum melewatinya dan melihat awan dan kabut berada di bawah kami.

Tapi kabar ini tak mencapai dunia malam itu. Modem satelit kehabisan daya, dan tidur adalah pilihan yang terbaik untuk melewatkan malam. Hujan makin deras. ***

 

Lebak Bulus

Posted on Updated on

Saya sedang kangen Neng, yang entah dimana sekarang. Mungkin kalian ada yang kangen juga? Hehehe, silakan.

Pukul empat sore saya melompat ke dalam bis antarkota jurusan Jakarta-Bandung.  Sekali lagi saya mengecek pesan pendek dari Neng. Pesan itu berisi petunjuk bagaimana menemukan dia di Bandung nanti.

“Bang Nov naik bus ya? Dari Lebak Bulus ada. Nanti turun di Kalapa, trus naik angkot yang ke Ledeng, turun di Enhai, ntar telpon kalo dah sampai.”

Menurut Neng, bila lebih kurang lancar, dalam 4 jam saya sudah akan tiba di Paris van Java. Bis akan berhenti sekali dimana gitu di sebuah rumah makan buat istirahat sejenak.

“Tapi kalau mau makan bareng lun, jangan makan banyak-banyak di situ,” katanya. Maka memang kemudian saya hanya minum kopi dan makan kue di rumah makan tersebut.

Sebelumnya, pukul tiga sore Sabtu, setelah menyelesaikan kewajiban menulis berita dan mengirimnya ke kantor di Banjarmasin, saya sudah cabut dari markas latihan Barito Putera di Sawangan, di ujung Gang Rotan di jalan raya Lebak Bulus-Parung-Bogor. Ini perjalanan pertama saya ke Bandung, kota yang justru sudah akrab dengan benak saya dalam 2 tahun terakhir di awal dekade 2000-an itu.

 ***

Jadi begitulah, sobat. Neng memutuskan untuk kuliah di Bandung (bacalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy, kawan). Mungkin salah satu pertimbangannya adalah saran saya sendiri. Saya tak percaya saya pernah menyarankan seperti itu.

Kami pun menjalani apa yang disebut orang sekarang sebagai LDR, long distance relationship. Telepon menjadi andalan. Tahun 1999 di Banjarmasin, saya jadi menghapal di mana saja wartel-wartel yang sepi namun masih buka setelah pukul delapan malam.

Saat itu tarif telepon interlokal mulai pukul 21.00 sekitar Rp20.000 per jam. Bila sedang tak punya uang, hehehe, saya pulang dan numpang menelepon dari rumah orang tua saya di Beruntung Jaya.

Tahun pertama di Bandung, ia tinggal di asrama kampusnya. Telepon digunakan bersama-sama dengan banyak penghuni lain sehingga bila ingin menelepon berlama-lama perlu siasat. Karena ini asrama untuk perempuan, juga ada semacam jam malam. Akan jadi gunjingan bila kerap kali ditelepon, apalagi ditelepon malam-malam, apalagi berjam-jam, apalagi oleh orang (lelaki) yang berbeda-beda. Bahkan bila yang menelepon hanya teman perempuan. Bahkan bila yang menelepon hanya keluarga.

Tentu saja ini karena yang jadi operator telepon ya gadis-gadis penghuni asrama itu juga.  Pada tahun itu, saya menghapal dan dihapal para operator telepon teman Neng. Sekali-sekali saya diledek—ketika nada tunggu yang riang, piano dari lagu The Entertainer milik Scott Joplin itu sudah habis—tidakkah ingin berbicara dengan yang lain karena Neng masih belum sampai di asrama.

“Di sini ada dua lo Bang, yang namanya sama dengan Neng,” kata Fay.

“Oh, dari Banjarmasin juga?”

“Bukan, yang satunya dari Padang.”

“Oh ya..?”

 ***

 Sejak tahun ketiga kuliah, saya memang jarang pulang ke rumah orang tua saya di Beruntung Jaya. Saya mondok mulai dari Sekretariat Angkatan Muda Baitul Hikmah di mana kami menjaga kebersihan dan keamanan masjid kampus Baitul Hikmah, lalu ke Sekretariat Kompas Borneo Unlam (yang berpindah-pindah—dan saya mulai bergabung saat Sekretariat di Jalan Karya Sabumi, lalu pindah lagi ke Kampus), sekali-sekali menginap di kos beberapa kawan, yang paling sering di kos Rommy Oktavianus Suharyanto di Jalan Cendana 3 dimana saya pertama kali mendengarkan lagu Eric Martin, I Love The Way You Love Me—(ada cerita lain dari lagu ini, sobat, tentu saja—dan bukan tentang Neng, hehehe, I am sorry).

Kemudian, ketika Yayasan Kompas Borneo (YKB) mulai diaktifkan kembali oleh Bang Atoey, saya pindah ke Sekretariat Yayasan itu di Jalan Cendana. Saat banyak pekerjaan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, saya pindah lagi ke Sekretariat Walhi di Kayutangi I selama beberapa bulan. lalu kembali lagi ke Sekretariat YKB yang sudah pindah ke Jalan Cemara IV, dan akhirnya di kantor Radar Banjar ketika menjadi reporter dan redaktur di situ.

Seluruh sekretariat dan kantor ini ada di kawasan Kayutangi, di utara Banjarmasin, di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Saya beredar di Kayutangi selama sembilan tahun dengan KTP Banjarmasin Selatan.

Selama itu saya hidup dari honor tulisan dan terjemahan dan pekerjaan-pekerjaan kecil di sekretariat-sekretariat itu. Tentu saja, ketika di Radar Banjar, dan kemudian Radar Banjarmasin-koran milik Jawa Pos Grup yang iritnya luar biasa, saya punya gaji (gaji perjuangan dari koran perjuangan juga, tapi cukuplah buat bujangan sederhana yang kebutuhannya hanya buku, kaset, olahraga, internet, dan makan ala kadarnya, hehehe…)

Oh istilah koran perjuangan itu untuk romantisme saja sobat. Betapa anak-anak muda memang mudah terpesona oleh bahasa-bahasa hiperbola para pemilik modal.

Bagi saya hari itu, kawasan Kayutangi itu memang lengkap. Ada kantor dan pekerjaan, ada Taman Budaya dimana kami menonton pementasan seniman dari seluruh Kalimantan Selatan dan dari mana saja di Indonesia, ada pameran karya-karya, kemudian ada kampus dimana ada diskusi dan perpustakaan, ada kawan-kawan perempuan yang cantik-cantik (dan ehmmm, juga rumah dan kamar kos mereka), ada pusat kebugaran di mana setiap pagi saya berlatih beban, dan lapangan sepakbola, ada Sungai Andai dimana saya suka berenang, ada Sungai Pangeran di Kuin hingga Sungai Barito yang terhubung dengan sungai kecil tak bernama yang membelah kampus hingga ke Kayutangi II di mana saya dan kawan-kawan KBU kerap bertualang kecil dengan jukung kami, mengesahkan diri kami sebagai pemuda Banjar sejati yang hidup di atas rawa-rawa dan sungai-sungai.

Juga banyak warung-warung makan murah. Juga ada Ina yang baik hati yang suka membawakan saya nasi kuning bungkus. Ada pecel Ibu di Jalan Cendana, yang kalau sore di dekatnya ada warung mi ayam Solo yang enak tempat teman saya Hindarno mengajari saya bagaimana cara makan dengan menggunakan sumpit,  dan kalau pagi ada sarapan lontong yang lezat. Berbeda dari warung lontong biasanya, karena sendirian, si Acil di warung ini sudah mengemas kuah lontongnya dalam plastik-plastik satu porsi. Cara seperti itu praktis untuk yang ingin bawa pulang atau memakan sarapannya di tempat lain.

Juga ada warung makan yang menyajikan masakan Banjar dan lain-lain yang sedap yang  tidak ada namanya di Cemara, tempat saya dan Odienk sering makan siang atau beli bungkus dan dimakan di meja pimpong yang kami jadikan meja makan di kantor. Ada kampus STIEI dengan banyak mahasiswa glamor, ada kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang mahasiswanya aneh-aneh (menurut saya saat itu, hehehe). Kawan saya Sandi Firly dan Mahmud sang demostran kuliah di Uniska ini dan Anda tahu betapa anehnya mereka bukan, hahaha.

Juga ada masjid Hasanudin HM di Bundaran Kayutangi. Bila Ramadan, tempat saya dan Sandi menumpang berbuka bila ingin makan bubur ayam gratis dan tarawih yang cukup 11 rakaat dengan ceramah yang mengajak memahami agama dengan nalar.

Rumah dosen-dosen kami pun banyak di sekitar situ juga. Ada Dr Karyono Ibnu Ahmad di Cemara, ada Pak Drs Abdurrahman Ismail di Kayutangi I, guru yang meminta kami menceritakan kembali kisah tragedi Mesan (Nisan) Berlumur Darah di Martapura dan menarik nilai-nilai di dalamnya, ada Pak Sakiman (atau Sukiman? Sutiman?, ahhh, lupa saya), juga di Kayutangi I yang punya banyak kamar kos untuk mahasiswa wanita.

Di kos Pak Sakimin (itu kayaknya, Pak Sakimin, dosen di FKIP juga) itu tinggal antara lain Didi, nama panggilan saya untuk kawan perempuan kami yang kena kanker payudara, yang tabah sampai akhir, yang tetap tersenyum meski rambutnya rontok satu-satu karena kemoterapi. Didi ini secantik Sinead O Connor, brader, dengan mata bening dan bulu mata asli yang lentik.

 ***

Turun dari angkot, saya disergap keramaian Bandung di malam Minggu. Pertigaan Gerlong ini semarak dengan lampu jalanan, lampu kendaraan yang lalu lalang, lampu warung dan toko, dan lampu gedung-gedung.

“Bang Nov…!”

Ah, inilah orangnya. Sebuah pelukan, sebuah ciuman.

“Acemm,” katanya.

Ya iyalah, terakhir mandi pukul setengah sembilan pagi tadi, seusai ikut olahraga bersama Barito Putra yang  melakoni latihan rutin di pemusatan latihan mereka di Gang Rotan itu.

“Ya,  Neng wangi sekali,” kata saya tertawa.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Ayo makan…”

 ***

Saya baru kembali ke Jakarta Minggu sore, lalu Senin siang berangkat ke Medan bersama Barito Putra. Dua pekan di Sumatera Utara cukuplah buat saya keliling-keliling, ke Danau Toba, ke Perbaungan bersama Bang Redi, fotografer. Perbaungan itu tempat konsentrasi pemukiman Urang Banjar di Sumatera Utara. Di sini saya bertemu preman Banjar Hussein si Janggut Beracun. Untuk pertama kali juga makan mi aceh dan sakit pusing karena kecapekan dan tekanan darah rendah, diobati oleh dokter Adi dokter tim, bertemu orang Keling dan Sikh yang pakai turban alias ubel-ubel, bolak-balik Stadion Teladan dan warnet dekat hotel, keluyuran di Terminal Amplas, naik Mister X angkot yang bisa bikin orang jantungan, naik bentor sambil bernyanyi-nyanyi, nonton para teroris meruntuhkan gedung WTC dengan menabrakkan pesawat di televisi yang tergantung di ruang redaksi Radar Medan, ketemu dan liputan bersama Chandra dan Cak Amu dari Jawa Pos Surabaya, …

Barito Putra tidak lolos ke babak semi final. Salah satunya karena kalah dari Persebaya Surabaya. Sayang sekali. Banyak persoalan non teknis yang membebani. Tapi tim tetap senang karena ada sejumlah bonus dan dan uang tampil (matchfee). Para pengurus yang pulang duluan ke Banjarmasin meninggalkan beberapa urusan para pemain belum terselesaikan.

“Hey Novi, kamu cairkan cek ini buat kita ya,” kata Sadissou Bako di Bandara Soekarno-Hatta, sepulang kita semua dari Medan. Bako akhirnya menjadi striker yang jadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia musim itu dengan  24 gol.

Di kantor cabang pembantu BNI di bandara itu, kami semua, seingat saya 16 orang, termasuk saya, berkumpul. Kiper Syahbani dan Amir Yusuf  Pohan tak ikut. Bani tetap di Medan sebab itulah kota kelahirannya.  Bang Pohan pulang ke Padangsidempuan menengok orang tuanya walaupun nanti pulang juga ke Balikpapan sebab anak istrinya ada di Kota Minyak.

Cek matchfee itu sedang diproses. Petugas bank memerlukan seseorang dengan KTP. Ternyata itu alasan Bako, wakil kapten dan pemain asing asal Kamerun itu meminta tolong saya. Mungkin agar terlihat adil sebab hal-hal seperti ini biasanya urusan pengurus.

Uang Rp20 juta itu dibagi rata. Untuk Syahbani dan Bang Pohan ditransfer lewat bank itu juga. Ternyata untuk saya juga ada. Saya terharu.

“Situ tidak merasa bagian dari kita ya,” kata el capitano Bambang Harsoyo dengan senyumnya yang khas itu. Setahun penuh saya bersama mereka. Ikut makan tidur di mess. Menghapal dan menuliskan kisah mereka. Juga banyak menyimpan rahasia.

Liputan olahraga memang unik, kawan. Dalam beberapa hal jurnalis biasanya menjaga jarak dengan obyek liputan mereka—seperti politik atau ekonomi misalnya—maka tidak dengan liputan olahraga. Sedari awal saya sudah mengambil posisi, saya membela Barito Putra, saya membela pemain dalam hal pertandingan dan olahraga.

Jadi kalau tim kalah sebab main jelek, pelatih, atau manajer lah yang salah. Sebab sejak awal sekali pelatih dan manajer punya kuasa untuk menentukan siapa yang boleh masuk tim siapa yang tidak.  Mereka yang membuat strategi, menyusun line up, sebelumnya mereka yang melatih, juga menganalisis lawan. Tapi kalau tim menang, pemain lah yang pertama kali disanjung. Merekalah yang berkeringat dan berdarah-darah di lapangan.

Termasuk juga untuk atlet perorangan. Atlet perorangan punya pelatih yang membuatkan porsi latihan yang mesti dijalani, yang mengajari teknik, yang menyemangati.

Saya dan pelatih Mundari Karya membuat kesepakatan tidak tertulis. Kami punya tujuan bersama. “Kalo mau kritik tim, lo kritik gua, bukan pemain,” katanya dengan logat Betawi kental. Saya setuju. Tim sepakbola bukan kumpulan anggota DPRD yang kita harus awasi—bahkan ketika tim itu mendapat kucuran dana APBD sekali pun (yang begitu yang kita pelototi pengurus). Apalagi Barito Putra ketika itu yang sepenuhnya milik pengusaha Haji A Sulaiman HB. Tim harus selalu disemangati, disanjung. Mereka tidak makan duit rakyat kok—atau pun ketika tim dibiayai dana APBD, mereka mendapatkannya dengan jerih payah luar biasa yang halal, lebih kurang sama ketika kontraktor membangun jalan dari sumber duit yang sama. Soal asal muasal keuangan klub, sekali lagi, pengurus yang tanggung jawab.

Apakah ada pemain profesional yang tidak profesional? Tentu saja ada. Banyak kelakuan pemain yang mungkin tidak diterima standar moral masyarakat secara umum. Tapi itu umumnya di luar lapangan, di luar olahraga. Saya tahu siapa yang pulang dinihari dari diskotek, yang menghamili pacarnya yang ternyata pacar orang lain juga, dan inilah yang antara lain jadi rahasia saya, sobat.

Jadi liputan saya tentang Barito Putra adalah tentang tim Barito Putra, bukan tentang manajemen Barito Putra. Isinya terutama tentang prestasi dan kemenangan-kemenangan kecil setiap anggota tim. Sampai hal-hal kecil seperti gelandang Zainal Rahim yang suka makan mi instan. Dan stopper Nanang Karyanto yang sigap memadamkan kompor yang meledak di mess pun ada ceritanya. Sandi membuatkan ilustrasi dengan gambar kartun Nanang mengenakan kostum pemadam kebakaran tengah menyemprot kompor yang terbakar.

Nanang cadangan abadi semasa kepelatihan Mundari Karya, dan berkecil hati bahwa dirinya tak akan pernah saya tulis dan dimuat di koran. Tapi tidak, saya tuliskan juga profil Nanang, bersama rekan sekamarnya (juga stopper) Wahyu Rustiono yang jago bawa trailer sehingga sering juga jadi sopir cadangan bus kuning bus latihan Barito Putra. Saya terharu ketika Nanang meng-kliping  feature pendek tentang dirinya itu.

Dari kemenangan-kemenangan kecil itu jadilah kemenangan-kemenangan mereka sebagai sebuah tim. Saya cukup bahagia selama dua musim turut mengantar mereka ke penampilan terbaik di Liga Indonesia dan menjadi tim yang tetap disegani. Apalagi  Sunar dan Isnan, juga Firman Usman,  terpilih menjadi anggota tim nasional.

***

Lalu semua berpisah. Bersalaman, berpelukan. Mas Bengbeng si Bambang Harsoyo alias si Captain Power melanjutkan terbang ke Semarang dan terus ke Kudus, Ismayana dan Saiman langsung pulang ke Banjarmasin, Sunar Sulaiman, Isnan Ali, Sofyan Morhan, Firman Usman, Hairansyah,  terus ke Makassar, Pakde Najih Mahmudi, Agus Purwanto, cari pesawat ke Surabaya, Ferly Laalla, Ronny Prowanda, dan Effendi ke Balikpapan, Bako, Zamen Pierre, dan Stephen Weah bertahan dulu di Jakarta.

Bako bertanya, saya mau kemana.  Saya bilang saya belum tahu. Yang jelas, saya belum ingin pulang ke Banjarmasin.

“Kamu mau ke Bandung lagi ya?” ledeknya.  Ketiga pemain asing naik satu taksi yang sama. Bergantian mereka memeluk saya. “Tetap kontak ya Bos,” kata Weah yang konon ponakannya George Weah, bintang AC Milan. Mereka juga menambah uang saku saya.

“Belikan pacarmu sesuatu,” kata Bako sambil mengedipkan mata. Taksi mereka pun berlalu di keramaian lalu lintas di depan terminal itu.

Saya jadi merasa kaya. Maka saya pun memanggil taksi. Dari dalam sedan itu, saya mengirim pesan memberitahu Bos Erwin di Banjarbaru untuk sedikit libur dan menghilang 100 jam lebih dikit dari dunia jurnalistik.

Bos Erwin tidak bertanya. Ia hanya membalas, “Ok”.  Sopir melihat ke kaca spion di atas dashboard untuk melihat saya dan menanyakan tujuan.

“Lebak Bulus ya Pak.”

***

Sekali Lagi, Angkat Gelasmu, Kawan

Posted on Updated on

ENV-BERSIH RINJANI DEDI DAN ADIM
Dedi dan Adim dan botol-botol plastik yang mereka pungut sepanjang jalan turun dari Rim Rinjani. Asus Zenfone 6/Novi Abdi

 

Ini bagian akhir dari keluyuran sendirian ke Rinjani. Pada akhirnya selalu pertemanan dalam persahabatan yang menjadi kebahagian. Gunung hanya alasan,Teman.

 Jalan turun dari gigir gunung atau Rim Senaru ke Plawangan Senaru di Desa Senaru berada di dalam hutan di lereng gunung. Setelah bagian yang minim vegetasi yang saya sebut tadi, tanah ditutup hutan lebat. Di bagian atas dekat rim masih oleh pohon-pohon berukuran kecil, tapi semakin turun, semakin besar pohon-pohon. Rei, porter yang sebelumnya menyalip saya di lereng Plawangan Sembalun mengingatkan bahwa di bagian ini hujan lebih sering turun daripada di sisi Sembalun yang terkena hembusan angin kering dari Australia. Hutan dimana-mana di seluruh dunia, adalah daerah tangkapan air. 

Saya ada payung, ada jaket hujan. Barang-barang sudah dipaking dalam plastik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saya terus berjalan dengan langkah tegap. Setelah Pos 4 saya bertemu pasangan George dan Jana Kenton, warga Selandia Baru yang menjalankan usaha hotel bintang  5 di Pattaya, Thailand. Pada pukul 12 siang George dan Jana menjamu makan siang nenas dan semangka yang banyak.

George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Di Pos 3 Pondokan Lolak, 2.000 meter dari permukaan laut,  setelah  hujan lebat pada pukul 2 siang yang saya tempuh dengan berpayung, ada makan siang kedua. Seperti masakan Metarum, masakan Ber pun pedas.  Orang Indonesia memang tak bisa lepas dari cabe dan  lombok. Apalagi bila Anda di Pulau Lombok.

Sambil makan siang, saya mendengarkan dua bule bercakap-cakap ramai tak jauh dari  tempat saya menikmati nasi dan mi instan rasa soto koya. Dua orang itu seperti berargumen, berdebat. Kedua orang itu lelaki dan perempuan. Yang satu lelaki tua, mungkin 70an. Perempuannya masih muda. Lebih kurang sepantaran saya. Mereka bicara dalam bahasa yang saya tak paham. Perempuan itu terlihat frustasi.

Melihat perawakan mereka yang tinggi besar, saya kira mereka orang Rusia dan sedang bicara dalam bahasa Rusia. Ber adalah pemandu kedua orang ini.

Selesai makan, saya hanya mengikuti kebiasaan ramah tamah orang Indonesia ketika menyapa mereka. Dalam bahasa Indonesia, saya bertanya apakah mereka bisa berbahasa Indonesia. Atau berbahasa Inggris, barangkali.

“I speak English,” kata si perempuan. 

Saya bilang ini di luar urusan saya dan saya tidak berniat ikut campur, tapi karena mereka begitu baik sudah mengizinkan saya makan siang bersama porter dan pemandu mereka, mungkin saya bisa membantu seandainya ini menyangkut perjalan naik atau turun gunung.

Daniela Petrozzi menunjuk ranselnya, juga ransel ayahnya,  Gianfranco Petrozzi. Walau terlihat kuat, itu bukan ransel yang orang pakai untuk mendaki gunung, saudara, tapi sekedar untuk pergi pulang kantor atau jalan-jalan ke mal.

Kata Daniela, seluruh isi ransel-ransel itu, berupa pakaian cadangan, sekarang basah karena kehujanan tadi.  Mereka dalam perjalanan menuju Rim Senaru.

“Karena keadaan ini, papa  tidak ingin melanjutkan perjalanan. Dia ingin kembali ke hotel di Senaru,” tutur Daniela kesal.

Di situlah mereka berdebat. Daniela tidak ingin pulang karena tujuan belum tercapai. Franco, yang merasa perjalanan tidak aman dan nyaman lagi, seperti dikatakan Daniela, ingin turun dan kembali ke hotel.

Saya memaklumi keduanya. Bagi Daniela, sudah jauh-jauh dari Belanda, masa pulang begitu saja hanya karena baju basah sebab hujan. Tapi begitu juga, bagi orang setua Papa Franco yang sudah cukup melihat dunia, kesehatan adalah hal yang utama.

Saya ceritakan Ber apa yang terjadi.  Di luar dugaan saya, Ber ternyata malah panik.

“Lho kok pulang mas?” katanya. Saya mengangkat bahu.

“Mas bilang mereka, bila pulang, ya pulang  aja, tapi mereka tidak bisa lagi minta uangnya balik.”

“Lho kok saya yang bilangin, hehehe…”

Itu rupanya yang dikhawatirkan Ber. Harga perjalanan wisatawan ini mungkin sekitar Rp7-8 juta yang sepertiganya untuk para porter dan pemandu, sepertiga untuk bekal dan akomodasi, dan sepertiga untuk keuntungan agen perjalanan. Meskipun uang tidak kembali, tapi nama operator tur-nya Ber jadi jelek, sebab tidak bisa mengantisipasi kejadian seperti ini.

Daniela menatap saya seperti meminta saran. Saya masih mencerna semua data dan situasi. Saya beralih ke ransel-ransel tersebut.

“Actually, you should put everything in plastic bag first,” kata saya. Setelah dimasukkan kantong plastik, baru dimasukkan ransel itu. Ransel itu pun masih ditutup lagi dengan cover bag, atau saat saya dulu belum punya cover bag saat menjelajah Meratus, ya dengan ponco.

Jpeg
Daniela dan Papa Franco dan la bastone. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

 

“Shit, nobody tell us about that,” kata Daniela. Nah, benar bukan. Tidak setiap orang yang mau dan berani naik gunung tahu apa yang mungkin terjadi di gunung dan bagaimana mengatasinya.

“Now I am telling you. Especially because you still want to continue to the Rim.”

Maka Daniela pun mengeluarkan isi tasnya. Ternyata tidak semuanya basah. Beberapa hanya lembab, dan beberapa tak tersentuh air sama sekali. Meski belum ada keputusan, Daniela menjadi bersemangat. Ia meminta beberapa kantong plastik kepada Ber.

Papa Franco juga membongkar ranselnya. Meski juga tidak basah semua, ia tetap merasa harus turun.

“Well, Papa, you can go down with me, anyway,” kata saya. Papa Franco hanya senyum sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Papa doesn’t speak English,” kata Daniela.

Jadi begitulah penyelesaian masalah itu, yang ketemu begitu saja. Ayah dan Anak itu setuju berpisah sementara. Daniela lanjut ke Rim dan Segara Anak dan mungkin ke Sembalun bersama Ber dan porternya, dua pemuda yang baru lulus SMA, dan Papa Franco turun bersama saya ke Plawangan Senaru.

Ber yang kesenangan menanyakan apa yang bisa dia bisa bantu. Saya bilang mungkin Papa Franco perlu sedikit bekal turun, sebab dari Pos III itu bukankah lebih kurang 3 jam lagi baru sampai Plawangan Senaru. Saya juga minta Ber menghubungi petugasnya untuk menjemput Papa Franco ke hotel dari Plawangan Senaru nanti. Yang dihubungi Ber ternyata orang yang sama yang sebelumnya saya hubungi untuk minta transportasi ke Mataram beberapa saat sebelumnnya. Dengan pukul 2 siang masih ada di Pos 3, saya jelas sudah kehabisan kendaraan umum ke Mataram.

Di Pos 3 itu sudah ada sinyal komunikasi. Ada XL. Ada Telkomsel.

Ber mengeluarkan sesisir pisang dan 2 kaleng softdrink. Saya ambil 5 saja dari pisang itu, dan kedua kaleng softdrink. Saya minta Papa mengecek air minumnya.  Saya juga mengecek packing Daniela, dan mengingatkan bahwa Iphone-nya pun harus diamankan di dalam kantong plastik.

Ber menitipkan tamunya.

Daniela menitipkan papanya.

Ia juga menawari saya uang saking senangnya. No need to, kata saya. I just want you and your papa happy and be friend of mine.

“You are not friend. You are my brother,” katanya memeluk saya.

Kita semua berfoto, termasuk dengan Ber. Foto keluarga, kata Daniela.  Wah, hahaha …

Semua pun siap. Saya juga berpamitan pada Adim dan Dedi, dua pemuda yang dengan sukarela memunguti semua botol plastik yang dibuang orang sepanjang jalan. Mereka mendapatkan masing-masing tak kurang dari seratus botol. Botol-botol itu diikat di bagian lehernya dan dirangkai jadi satu. Adi dan Dedi mengikat lagi bundelan botol itu di ranselnya, yang membuat mereka jadi seperti landak dengan duri berwarna putih.

Sebelum makan siang bersama Ber, saya bercakap-cakap dengan mereka tentang alam dan lingkungan dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjaganya. Adim dan Dedi punya komunitas pencinta alam Lombok.

“Setidaknya kami memberi contoh dan mengingatkan para porter dan operator tur untuk selalu menjaga kebersihan. Mereka hidup dari gunung ini, jadi mari jaga bersama,” kata Adim.

Seorang porter yang singgah dan istirahat juga memberi saya nomor Mr Len, pemilik travel yang bisa menyediakan mobil ke Mataram—yang ternyata orang yang juga ditelpon Ber kemudian. 

Daniella sekali lagi memberi tahu bahwa ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris, melainkan hanya bahasa Italia. Perdebatan mereka tadi dalam bahasa Italia.

Saya tidak mengira kalau dilafalkan cepat begitu, sungguh berbeda dari bahasa Italia yang pernah saya tonton di film-film, atau di saluran televisi Italia.

Memang, hehehe, bahasa Italia saya sangat terbatas. Saya tahunya grazie, bambino, don quixote, leonardo, donatello, michaelangelo, raphael, benito mussolini, bambino, zapattoni, mario puzo, don corleone, mafioso, ennio tardini, silvio berlusconi, ferrari, lega calcio, numero uno, valentino rossi, rossoneri, ammonito, espulso, rossonero, gennaro gattuso, milanisti, juventini, la vecchia signora, vespa, madonna, maldini, carlo ancelotti, cesare prandelli, giovanni trapattoni, luca toni, mario balotelli, spaghetti, macaroni, beetato pepperoni, hahaha …

Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com
Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com

Mungkin salahnya saya terlalu memperhatikan wawancara Valentino Rossi setiap usai dia berhasil podium. Rossi berbicara dengan Bahasa Inggris logat Italia yang, ya, hehehe, selalu menggelitik telinga saya. 

 ***

 Perjalanan saya dengan Papa Franco pun penuh tawa walau tanpa canda. MotoGP dan sepakbola menyatukan kita. Sebagai orang Umbria, Papa Franco fans Perugia. Bukan fans berat, tapi cukup peduli. Perugia adalah klub Provinsi Perugia. Sama lah seperti orang Balikpapan bangga dengan Persiba atau saya yang selalu merasa jadi fans berat Barito Putra walau sudah pindah ke Balikpapan dan juga sudah pula berkostum Balistik (Balikpapan Suporter Fanatik) meski tidak resmi.

Saya pun bercerita pada Papa tentang Barito Putra sedikit. Bagi kami di Banjarmasin, Barito Putra itu juara tanpa mahkota. Liga Indonesia I 1994, Barito lah juaranya.

Walau resminya, Persib Bandung yang juara. Di semifinal Persib mengalahkan Barito Putra 1-0. Yang membuat  urang sebanjaran murka adalah  dua gol Dasrul Bachri dan Yusrifar Jafar ke gawang Persib dua-duanya dianulir wasit Khairul  Agil. Keduanya disebut terperangkap offside.  Sebaliknya, di menit-menit akhir, Persib mendapat hadiah penalti yang dieksekusi Kekey Zakaria, dan sukses menembus gawang Barito yang dikawal Abdillah.

Orang Banjar tak lagi memperdulikan partai final Persib vs PKT Bontang. Siapa yang peduli? Kami mengarak Frans Sinatra Huwae dan kawan-kawan, termasuk manajer Rosehan Noor Bahri, sepanjang 30 km dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke Stadion 17 Mei di pusat kota.

Wasit Khairul Agil juga ditetapkan sebagai musuh urang Banjar. Namanya dicoretkan berbarengan dengan nama binatang di berbagai sudut kota sebagai grafiti. Karena itu, konon, Komisi  Wasit PSSI tak pernah lagi menugaskan Agil dalam setiap pertandingan Barito Putera, atau menugaskannya menjadi perangkat pertandingan (wasit, atau hakim garis, atau wasit cadangan) di Banjarmasin dan sekitarnya.

“Barito Putra, si si…” kata Papa Franco mengangguk-angguk. Barito itu awalnya nama sungai, Papa. The Red Rivers.

Begitu pula hal pembalap Motogp Valentino Rossi. Menurut Papa, Rossi orang yang rendah hati dan pantas jadi panutan.  Juga pekerja keras dan pantang menyerah. Saya jadi tambah ngefans dengan Rossi.

Papa punya dua anak. Satu perempuan, Daniela, dan adik lelakinya Michel. Keduanya belum menikah. Daniela tinggal di Amsterdam, Belanda, dalam 12 tahun terakhir. Dulu mereka tinggal di Foligno di timur bagian tengah Perugia. Kota tua yang sudah ada sejak 800 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa.

Papa pensiunan pegawai pemerintah. Seperti orangtua kita yang setelah pensiun ingin naik haji—diantaranya karena uang pensiun yang banyak sementara tak ada lagi anak yang harus diurusi—Papa Franco ingin jalan-jalan melihat dunia. 

Sepanjang jalan ia ngebul. Papa perokok berat. Daniela juga. Dari kehujanan saat naik tadi, satu yang berhasil diselamatkannya adalah rokok, hahaha. If you don’t quit smoking, it will kill you, Papa.

Tepat saat saya mulai capek dengan jalan yang terus turun ini, kami sampai di Pos II. Saya ajak Papa istirahat sebentar dan makan pisang, juga minum softdrink. Rasa manis dan kalorinya lumayan menyegarkan. 

Pos II Satas Montong di ketinggian 1.500 meter  punya bangunan shelter yang lantainya sudahh jeblok. Di situ sudah ada dua porter yang bersiap mendirikan tenda untuk camp. Mereka porternya George dan Jana Kenton. Keduanya memang bilang ingin menghabiskan semalam lagi di hutan menikmati alam.

Papa makan sambil merokok. Istirahat hanya 5 menit dan kita langsung jalan lagi.  Udara terasa pengap dan langit mendung.  Betul saja,  beberapa menit dari pos itu, hujan mulai turun lagi.

Kali ini payung saya serahkan Papa. Payung merah OJK, silakan pakai Papa. Saya ingin main hujan-hujanan sebentar.  Tanpa jaket hujan, tanpa payung.

Hujan lebat dan kami terus berjalan. Papa dibantu tongkatnya berjalan di depan. Berpayung. Sepanjang  jalan ia tersenyum. Saya seperti hamburger,  dengan ransel kecil dibungkus cover bag berwarna orange di depan dan carrier juga dibungkus cover bag orange di belakang.  Hujan itu sungguh menyegarkan. Hujan juga menciptakan aliran kecil dan lubuk di sepanjang jalan. Rasa capek saya hilang berganti semangat. Rasa segar menjalar di kaki dan penglihatan.

Tepat 45 menit di jalan yang sudah seperti sungai, kami mencapai Pos I di ketinggian 645 meter dari permukaan laut .  Shelter yang besar dan tinggi dan tampak terawat. Air tidak  menggenang  dan aliran air masuk selokan di depan shelter. Shelter ini bersih. Mungkin air sudah mengangkut semua sampah yang ada. Kami istirahat lagi untuk 5 menit. Saya makan pisang dan minum softdrink lagi. Kali ini Papa cukup merokok saja.

Sekarang kami benar-benar ngebut. Papa tetap di depan dengan payung dan tongkat, saya beberapa meter di belakangnya. Jalan setapak kini melebar sampai satu meter lebih dan terasa semakin datar.

Pukul empat lewat hujan berhenti, dan tak lama sebelum pukul empat tiga puluh menit kami melewati lengkungan gerbang Plawangan Senaru.

Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi
Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi

Saya dan Papa tertawa lagi walau tak bicara apa-apa. Kami berpelukan. Berfoto-foto sebentar dengan Asus Zenfone 6 dengan latar belakang  gerbang Plawangan Senaru itu.  Aduh, senangnya…

“Grazie, Novi, grazie,” kata Papa Franco. “Terimakasih banyak.”

“Oui, Papa.” Hahaha. A little bit French lah.

***

Segalanya kemudian berlangsung cepat. Setelah berjalan lagi beberapa lama, kami dijemput ojek suruhan Mr Len dan dibawa ke tempat ia dan mobilnya parkir menunggu. Kami mengantar Papa ke hotel dimana saya menumpang mandi dan berganti pakaian. Papa memberi saya cendera mata, baju hangat dari wol yang tadi dipakainya. Saya mengembalikan tongkat yang pun tadi dipakainya. Tongkat itu ada pada saya sebab saat dijemput ojek yang cuma satu—yang memaksa kami harus bergiliran, Papa memberikan tongkat itu untuk saya.

Dia tertawa. “Keep your bastone, Papa.” Selepas Pos 4, Papa mengajari saya kata itu, bastone, artinya tongkat.

Pukul 7 malam saya pamit Papa Franco. Bersalaman lagi. Berpelukan lagi. Begitu sering dua hal ini saya lakukan sepanjang jalan dan enam hari perjalanan ini, berbarengan dengan mencatat email, no telepon, akun facebook. 

Sepanjang  jalan menuju Mataram saya lihat  bekas-bekas hujan dan sedikit banjir. Kami mampir ATM sebentar dan saya lunasi ongkos travel itu. Pukul sembilan lewat, kami sampai di hotel di mana saya menitipkan laptop dan beberapa perlengkapan yang saya tak perlu di Gunung  tapi penting buat bekerja.

Saya lapar dan masih merasa perjalanan ini belum berakhir. Post trip syndrome. Saya mampir warung STMJ di dekat hotel. Makan roti dan telur puyuh 3 biji plus semangkuk besar STMJ. Masih lapar, geser ke warung mi ayam di sebelahnya. Dan masih lapar juga…yang membuat saya menyeberang ke warung sari laut di depan hotel.

Pukul  sebelas malam saya membongkar ransel, paking ulang dan membuang sampah-sampah. Saya tersenyum, sebagian bekal yang kini sudah jadi sampah itu enam hari yang lalu saya beli di Alfamart tak jauh dari hotel ini. Bisa membuang lagi sampah bungkusnya di dekat tempat belinya itu sesuatu banget.

Sisa bekal seperti dua bungkus Indomie Soto Banjar Limau Kuit (ini saya bawa dari Balikpapan), kecap, sambal, pisang, selai kacang, … saya tinggal di meja. Tapi tak sampai selesai paking ulang itu, saya kecapekan dan tidur hingga pukul empat pagi Senin 10 November.

Saya  meninggalkan hotel pukul tujuh lebih 15 menit. Tidak sarapan apa pun kecuali air putih. Sopir taksi itu bercerita tentang masjid-masjid di Lombok  dan Islam Wetu Telu sampai  kita tiba di bandara pukul 8 lewat.

Karena pakaian basah, bagasi saya kelebihan hingga 5 kg. Karena sesuatu dan lain hal, penerbangan saya yang pukul 09.30 ternyata dimajukan pukul 08.15 dan sudah boarding saat saya baru tiba tadi.

“Jangan khawatir, mas kami ikutkan penerbangan berikutnya ya,” kata gadis di counter check in. Begitulah Lion, sering sesukanya. Tapi tak masalah. Saya jadi ada waktu untuk sarapan, lalu membeli majalah di Periplus, dan duduk membaca. Ternyata kita di-delay hingga pukul 11.00. Mantaappp…

Bandara Selaparang di bagian keberangkatan ini berbeda jauh dari bagian kedatangannya. Di bagian keberangkatan ini terasa lebih luas dan lebih luks. Bagian kedatangan masih seadanya mungkin karena sedang direnovasi.

Lalu di kursi di depan saya ada sekeluarga turis (bapak, ibu, anak) yang penuh tato, yang badannya jadi cokelat karena berjemur. Mereka juga  mondar-mandir di terminal keberangkatan itu.  Si bapak itu botak, pendek, gemuk, dan memakai anting-anting yang dijejal ke lubang telinga. Istri dan anaknya bercelana pendek dari celana panjang jeans yang dipotong pendek hingga pangkal paha, berkaus tanpa lengan model singlet yang menutup tanktop hitam. Ada bonus belahan dada dan puser. Saya melepas kacamata dan mengelap lensanya. Memandang gunung itu harus dengan takzim, bro.

Lelaki sangar selalu punya anak gadis cantik. Betul begitu ya?

National Geographic memuat artikel utama tentang bencana  di Gunung Everest dan belasan porter Sherpa yang tewas tertimbun salju. Saya turut bersedih. Nanti saya ceritakan kapan-kapan.

Halaman yang menampilkan para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. nationalgeographic.com
Halaman majalah National Geographic yang menampilkan foto para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. Sherpa adalah para porter, pembawa barang, juga pemandu, dan teman dalam pendakian di Himalaya. nationalgeographic.com

Kami tiba di Bandara Djuanda lewat sedikit tengah hari, dan sekali lagi penerbangan saya ke Balikpapan ditunda.  Sekali lagi juga tak apa. Saya lanjut membaca, makan roti, dan minum air putih.

Kemudian, di pesawat, saya bersisian duduk dengan seorang wanita muda Tionghoa yang saya duga baru lewat pertengahan 30-an dan belum menikah. Kami tidak bertegur sapa, hanya bertukar senyum dan saya membantu sebentar mengambilkan ujung sabuk pengamannya yang terselip ke bawah kursi. Wanita cantik ini juga suka membaca—dan seperti saya, asyik dengan bacaannya  selama pesawat mengudara. Ia membaca novel dan inflight magazine Lion yang tersedia di kantong kursi, saya meneruskan membaca National Geographic dan Time, dan menulis catatan harian di meja lipat itu. 

Saya pertimbangkan untuk menyapanya lain kali di kesempatan yang berbeda, bila ketemu lagi, tentu saja.

Balikpapan cerah dengan langit malam yang terang. Saya sampai di Warung Jamu Marem di Km 5,5 Soekarno-Hatta selepas magrib, mengambil motor dan menitipkan ransel. Saya kembali ke Jalan Sjarifuddin Joes ke arah bandara.

Saya baru merasakan perjalanan ini benar-benar berakhir di circle Balikpapan Hash House Harriers di halaman Bizpark II, tak jauh dari rumah jabatan Wali Kota Balikpapan, lebih kurang 1 km dari airport dimana saya mendarat 90 menit sebelumnya.  Bulan masih bersinar terang.

Logo Balikpapan Hash House Harriers--dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Logo Balikpapan Hash House Harriers–dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Bersama kawan-kawan hasher ini adalah kebahagian saya yang lain. Baiklah, sekali lagi angkat gelasmu kawan, …here’s to us, here’s true blue, he’s bastard through and through, he’s bastard through they say, he tries to go to heaven but get the wrong way,…drink it down down down…

Segar dan dingin.

Saya menyanyi pelan mengikuti Joan Baez, “Swing low, sweet chariot, … coming for to carry me home. Swing low, sweet chariot. Coming for to carry me home …

 ***

Reuni Kopi

Posted on Updated on

Danau kawah Segara Anak dilihat dari Rim Senaru di ketinggian  2.600 m dari permukaan laut.  ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Danau kawah Segara Anak dilihat dari Rim Senaru di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung. 

Suara tawa itu berasal dari kelompok yang duduk di depan tenda-tenda tersebut. Percakapan dalam Bahasa Inggris bercampur Melayu, dengan Bahasa Inggris juga berlogat Melayu.

Haikal, Fidzi, Conrad, dan satu yang saya lupa namanya, anak-anak muda di pertengahan 20-an yang dalam liburan singkat 5 hari dari negara kota Singapura.

“You have dinner  already?” tanya Fidzi dalam Singlish, Singaporean English. Fidzi yang gempal, yang bercambang, dan mengingatkan saya pada Piaw di Segara Anak.

Ini mungkin basa-basi Singapura, karena mereka semua sudah makan, dan tentu tidak bisa begitu saja meminta para porter itu menyediakan makan untuk seorang tamu yang tidak diduga. Saya bilang saya belum makan malam tapi tak usahlah khawatir, I have my own meal for dinner, saya punya bekal sendiri.

Setelah berbicang ramai, dimana saya bercerita tentang serunya perjalanan melintasi dinding Gunung itu sendirian dan  menjadi pelari lintas alam di Balikpapan Hash House Harriers (juga biasa lari sendirian walaupun maksudnya berlari bersama klub itu supaya ramai berbarengan), saya pamit undur diri untuk menegakkan tenda, makan malam, dan istirahat.

“You need help Novi?” tanya Fidzi lagi.

“Oh, thank you very much, Fidzi. I will call if I need to,” senyum saya.

Tenda saya di ujung tenda-tenda mereka, bersandar di sedikit dinding tanah untuk sekadar mengurangi terpaan angin. Saya berganti pakaian, memasak makan malam, dan segera berusaha memejamkan mata. Agak susah sebab sisa-sisa adrenalin masih melimpah di dalam darah, yang membuat mata saya nyalang  dan otak memutar kenangan-kenangan sepanjang jalan itu.

***

Para pemuda Singapura itu hanya mendaki sampai rim Senaru ini. Hari ini Minggu pagi, dan besok Senin  pagi mereka sudah harus kembali ke negaranya. Sama saja dengan saya sebenarnya. Saya ditunggu penerbangan pukul 10.00 hari Senin ke Surabaya dan lanjutannya ke Balikpapan.

Tapi sebelum waktu itu tiba, masih ada satu hari penuh untuk menikmat perjalanan dan alam, dan membuat banyak pertemanan.

Pagi itu, Fidzi membagi kopi dan burger sarapannya dengan saya. Setelahnya saya masih menambah lagi dengan kopi buatan sendiri.

Langit cerah berwarna biru terang, dan matahari mulai bersinar tajam. Seperti semua orang setelah tujuan tercapai, saya agak mengendur. Saya memberi hadiah bagi diri sendiri sedikit waktu untuk bersantai.  Saya menonton saja para porter yang disewa Haikal dan rekan-rekannya membereskan camping ground mereka.

Sebelum lupa, saya minta air dari persediaan mereka yang banyak. Saya diberi sebotol besar yang belum dibuka segelnya. Saat mencapai rim ini tadi malam, saya ingat, air saya tinggal setengah botol plastik itu.

“So when are you going down?” tanya Haikal.

“At 9 o clock,” jawab saya. Pemuda ini keturunan Pakistan atau India.  Lulusan Universitas Nasional Singapura.

Jpeg
Para Singapura, tau bukan, yang mana yang Fidzi, Conrad, Haikal, dan yang saya lupa namanya. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Para porter memberitahu bahwa perlu 4-5 jam jalan kaki dari rim hingga gerbang pendakian di Senaru. Itu artinya bila saya harus mencapai Mataram saat malam, saya harus sampai di Senaru selambatnya pukul 2 siang bila ingin mengejar angkutan umum.

Mulai jalan pukul sembilan pagi tampaknya memang pas—walaupun saya tetap menyiapkan rencana cadangan.

Para rombongan mulai turun pada pukul 8 pagi.  Saat saya menyeruput kopi dari gelas yang kedua, lewatlah  Manggila, Sam, dan Chloe. Reuni kecil ini dirayakan dengan lebih layak (walau bagi sebagian orang mungkin tidak). Kami minum kopi dari gelas saya, dan makan biskuit bayi, biskuit andalan saya sejak Indonesian 4X4 Expedition ke perbatasan utara Kalimantan tahun lalu.

“Find me in London, and I promise you we will have coffee in the most cozy place ever,” kata Sam. Sure I will, someday. Sam hanya menjanjikan tempat tampaknya, sebab soal kopinya sendiri, ohh, Nusantara ini tak ada bandingnya. Siapa tahu malah kopi bawaan saya dari Toraja, atau Aceh, atau kopi jagung Martapura itu yang akan kami nikmati di London.

Kalian tahu bukan, Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, juga The Lost Symbol, secara khusus menuliskan kebiasaan ngopi tokohnya Robert Langdon setiap pagi setelah berenang 50 putaran di usia 45 tahun. Kopinya itu, tulis Daily Mail mengutip narasi di Angel and Demon, is a coffee made from hand-ground Sumatran beans. Pada kesempatan lain di The Lost Symbol, diceritakan Langdon menggiling sendiri bubuk kopinya, juga dari biji kopi Sumatera. Jadi, hmm, saya yakinlah, itu pasti kopi Atjheh.
Kemudian Haikal dan kawan-kawannya yang pamit. Dari anak-anak muda Singapura itu, Fidzi yang banyak bicara dan Haikal yang menjadi teman baik.  Kata Haikal, ia ingin berkunjung ke Balikpapan untuk berlari bersama Balikpapan Hash House Harriers, terutama pada saat ulang tahun ke-40 BH3 nanti 14 Juli 2015.

“I will run with  Singapore Hash first,” janjinya.

Saya  pun merencanakan untuk datang ke Singapura pada 6-16 Juni atau sebulan sebelumnya. Pada tanggal itu, Singapura menjadi tuan rumah SEA Games dan saya akan mencari kesempatan sedemikian rupa agar bisa meliput event itu. Yang jelas, kita janjian ngopi di Starbuck di Orchard Road di antara tanggal-tanggal itu. Haikal akan membuat kapan tepatnya sesegara saya mendapat kepastian tugas liputan tersebut.

Well, saya sudah membuat  janji minum kopi di dua tempat berbeda sepanjang pagi yang cerah penuh rahmat itu.

***

Sebelum turun saya sempatkan untuk sekali lagi melihat ke selatan,  ke arah danau dan puncak Rinjani.  Saya membuat foto lagi di bawah langit yang biru cerah dan matahari yang mulai terik. Pagi itu, pada pukul sembilan, tinggal sebuah tenda orange di Plawangan Senaru. Dari pintunya yang terbuka, seorang lelaki bule tidur-tiduran. Orang itu dari negeri yang jarang melihat matahari mungkin.

PAR-RIM SENARU CAMP
Tenda-tenda di Camp Senaru. Nikmati matahari Indonesia. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Pukul  sembilan lewat 10 menit, perjalanan turun yang riang dimulai. Saya masih mengikuti jalan setapak dengan sampah di jalan yang tidak terlalu jelas di lereng yang berbatu. Ada semacam lapangan luas dan landai dengan vegetasi rumput kekuningan. Mungkin di sini orang terserah saja mau ambil jalur yang mana, asal menuju ke shelter di bawah itu yang terlihat jelas dari sini. Di akhir lapangan, jalan menurun terjal lebih kurang 10 meter, lalu agak landai lagi sampai 250 meter berikutnya,  turunan terjal lagi hingga sampai deretan pohon pinus  yang rindang yang menaungi shelter tersebut.

Pukul 10 tepat saya tiba di shelter Plawangan Senaru di ketinggian 2.643 meter dari permukaan laut. Rupanya ini shelter resminya. Yang di atas sana, yang di gigir kawah disebut pos ekstra. Dari pos ini, terulur  jalan turun yang  sangat jelas, berwarna cokelat kemerahan.  Jalannya mulus. Kalau mau, bisa berlari.

Saya cobalah berlari. Gembira dalam kebebasan dan kesehatan. Saya melayang turun di tikungan, meloncat-loncat di undakan, dan terbang lagi di jalan yang lapang. Novi, free, and happy.  Saya sih inginnya  no-fee, tapi tak bisa bro, hehehe. Segala sesuatu ada harganya.

 ***

Catatan setahun kemudian:

Seseorang  menyarankan kisah ini diikutkan lomba. Satu syarat lomba itu, saya harus menampilkan tulisan berikut ini, hehehe:  Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Demikian. Saya belum berhasil bertemu Haikal dan Sam lagi. Kesibukan alasannya. Apalagi setelah Haikal bekerja untuk Disney yang membuatnya kerap pergi pulang ke Amerika. Tapi kami masih sering kontak, terutama lewat facebook. 

Sampah Mengalir Sampai Jauh

Posted on Updated on

ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Pepohonan pinus yang menjadi hitam setelah terbakar di tepi danau Segara Anak di kawah Gunung Rinjani di lereng ke Senaru di  ketinggian 2.008 m dpl. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Di rimba Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah.   Bagian kelima, bro.

Setelah menyisir danau selama 45 menit.  Jalan setapak di sisi danau ini menuju ke bukit yang ditumbuhi alang-alang berwarna kuning di sana. Dari sini terlihat jalan itu naik mendaki. Bukit itu sendiri seperti tanjung besar yang menjorok ke tengah danau. Tiga pemancing yang melewati saya tadi kini berhenti di dekat kaki bukit itu, dan mulai kembali memancing.

Saya melompati batu-batu besar di tepi danau dan mulai mendekati mereka.

“Itu ya, jalan ke Senaru?” saya bertanya kepada yang terdekat.

“Oh, … masnya mau ke Senaru. Bukan mas. Itu cuma ke atas bukit itu aja. Tidak ada jalan lagi. Masnya kelewatan…” katanya.

“Kelewatan? Di mana?”

“Itu mas, dekat dua orang yang mancing di sana,” tunjuknya.

Dua orang yang ditunjuk itu saya lewati kira-kira 5 menit sebelumnya. Wah.

“Oke, terimakasih yaaa…”

Di belakang 2 pemancing yang tinggal di tenda biru berdiri hutan yang terbakar. Pohon-pohon bergaris tengah seukuran galon air dan paha orang dewasa tampak sengsara dengan cabang-cabang yang hitam dan daun-daun kering meranggas. Saya tidak melihat ada jalan setapak.

“Kalau dari sini sedikit ke atas mas, jalannya. Nanti ketemu,” kata salah satu dari mereka. Keduanya mendaki Rinjani dan sampai di Segara Anak bukan lewat Sembalun maupun Senaru, melainkan dari Torean.

Baiklah. Setelah 5 menit berikutnya berjalan di atas abu dan arang, saya bertemu jalan itu. Melintang dari barat ke timur, dan di arah ketinggian, berbelok ke kanan.

Di sini ternyata awal jalan untuk ke rim Senaru dari arah shelter di tepi Segara Anak, danau di kaldera Gunung Rinjani, di ketinggian 2.600 m dari permukaan laut. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Anda lihat muara jalannya? Awal jalan untuk ke rim Senaru dari arah shelter di tepi Segara Anak, danau di kaldera Gunung Rinjani, di ketinggian 2.008 m dari permukaan laut. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Awal jalan itu di tepi danau ternyata saya lihat dengan jelas sebelumnya. Saya bahkan memotretnya. Sebelum ketemu dua pemancing dari Torean ada tumpukan batu di tepi danau. Saya memotret tumpukan batu tersebut tanpa tahu kenapa. Saya lihat di foto, dari tempat saya berdiri memotret,  terlihat jelas muara jalan itu, kemudian jalannya sendiri, berupa garis memanjang putih di antara abu dan batang-batang pohon yang kehitaman.

Tapi saya malah kelewatan.

Begitulah gunung kadang-kadang, Saudara. Atau begitulah kadang-kadang kita di gunung, brader.

 ***

 Dari Segara Anak, jalan ke gigir atau rim Rinjani di sisi Senaru berada dalam naungan pohon-pohon. Jalannya menanjak perlahan di awal di bawah hutan konifer di dekat danau, dan semakin tinggi semakin curam. Setelah melewati bagian yang terbakar di dekat danau, terlihat rumput-rumput juga tumbuh subur di tanah dan di sela batuan.  Semakin tinggi juga pohon-pohon semakin jarang.

Saya jalan santai dan menikmati semuanya. Termasuk beban di pundak yang total beratnya 30 kg. Target saya adalah sampai ke rim, itu saja. Mau sampai jam berapa, saya serahkan pada kaki ini.

Ketika baru melewati  tanjakan dan sampai di jalan datar lagi, sepasang pendaki Inggris dan pemandunya melewati saya. Mereka menyapa sekilas dan terus bergegas. Saya memotret mereka ketika baru akan memulai tanjakan itu.

“Sebentar hujan mas,” kata Julian ‘James’ Manggila, si pemandu. Saya melihat ke langit yang terlindung pepohonan. Bukankah sejak dari Segara tadi cuaca memang mendung?

Sudah lama saya tidak lagi mengkhawatirkan cuaca. Mau hujan, hujanlah. Mau panas, panaslah. Mau malam, silakan malam. Saya bahkan punya rencana cadangan agak gila, seandainya karena kelelahan, atau hujan terlalu lebat, malam terlalu gelap, dan saya harus menginap di jalan di lereng itu, ya menginaplah di situ. Tinggal cari tempat yang agak lapang untuk merebahkan badan dan terlindung dari angin dan hujan. Tidak pernah ada yang bermalam di lereng Senaru setahu saya.

Saya membuat rencana cadangan itu dengan hitungan kasar kecepatan jalan saya, kesulitan medan, dan jarak yang ada. Saya hampir yakin saya akan kemalaman di jalan.

Satu alasan mengapa beban saya begitu berat (bahkan oleh para porter carrier dan ransel saya disebut berat) adalah perlengkapan yang saya bawa. Ada jaket hujan, ada payung, ada pakaian ekstra.

Ya payung, sobat. Payung kecil berwarna merah yang sangat bermanfaat melindungi diri dari hujan dan panas.

Sebagai imbalan dari beban itu adalah saya bebas dari tekanan jadwal. Ingat ketika saya baru berangkat summit attack menjelang pukul enam pagi dan baru tiba kembali di Plawangan Sembalun pukul setengah lima sore. Perjalanan yang tidak lazim karena orang ingin melihat matahari terbit di Puncak Rinjani sementara saya hanya ingin ke Puncak Rinjani.

Di sisi lain, seorang yang sendirian memang tak punya banyak pilihan.

 ***

Ketika saya bertemu mereka lagi, Sam Smith dan Chloe dan James sang pemandu tengah istirahat. Merek duduk-duduk di batu besar di tempat yang agak datar dan minum.

JPADRI1503083
Julian James Manggila, Chloe, dan Sam. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Sam bekerja untuk industri film. Chloe desainer. Bertiga kami difoto oleh James si pemandu dengan Zenfone 6. Mereka lanjut jalan, saya gantian istirahat sejenak. Mungkin ada 10 menit. Saya makan satu tomat dari Metarum dan seruas cokelat.

Tempat  istirahat kami itu rupanya tempat datar yang nyaman terakhir Jdari arah Segara Anak. Setelah itu, jalan berlaku seperti tangga. Bila di peta topografi, garis konturnya yang menandakan perubahan ketinggian setiap 20 meter itu akan rapat sekali.

Hujan yang dikatakan Manggila pun datang.  Langsung lebat sehingga saya hanya sempat menarik payung dari kantong di sisi daypack.  Saya meniti tangga batu-batu sambil memperhatikan jalan. Air yang mengalir membawa turun sampah-sampah kecil seperti bekas bungkus permen dan cokelat. Saya jadi menyadari sesuatu lagi, jalan yang benar itu adalah jalan yang ada sampah di jalurnya. You can follow the trash.

Sungguh ironi bukan. Dulu, di rimba di sisi timur Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Setelah 3 hari (dari 5 hari perjalanan) menjelajah hutan tanpa jalan setapak di bawah hujan yang konsisten, saya terharu ketika menemukan jalan HPH. Saya dan Opik tiba di ujungnya, dimana pohon-pohon menghilang  selebar  6 meter dan langit terbuka.

Di sini, di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah.

***

Hujan sudah berhenti ketika saya sampai di puncak bukit  yang ditutupi oleh rumput-rumput kuning, sedikit pohon, dan batu-batu besar. Di punggung bukit yang datar dan meluas itu, jalan setapak seolah menghilang setelah keluar dari celah pepohonan di lereng curam.

Di muara jalan turun itu, saya melepaskan ransel dan segera mengenakan jaket hujan. Ini untuk jaga-jaga seandainya hujan turun lagi nanti. Setelahnya baru istirahat sejenak, minum, makan tomat dan cokelat.

Pukul empat lima puluh menit, saya melipat payung dan mulai berjalan lagi. Di jalan setapak yang menghilang itu, ceceran sampah sekali lagi menjadi petunjuk kemana harus melangkah. Pertama sampah-sampah itu berceceran ke kiri. Setelah seratus meter di antara batu-batu besar yang digrafiti, sampah ditemukan mulai menanjak lagi di kanan.

Bukit datar tadi mulai saya tinggalkan di bawah. Kemiringan lereng ini mencapai 60-70 derajat. Jalan setapak selebar setengah meter zig zag di jalan tanah dan batu-batu sambil melipir ke kiri mengikuti lingkaran danau dan dinding tebing kawah.

Untuk menuju Rim Senaru, di kanan  jalan setapak ada dinding tebing, di kiri jurang yang makin curam.

Pada satu titik di lereng yang masih berumput dan berpohon-pohon, jalan di tebing habis. Sambungannya ada satu meter di atas kepala, sementara tidak terlihat ada tapak tangga. Yang ada hanya pegangan dari besi sekaligus penutup jalan yang habis.

Tanpa beban sungguh tidak sulit mengangkat badan menuju sambungan jalan itu. Apalagi bila berkawan. Saya yang sendirian dengan beban ini tertegun, bagaimana caranya?

Ransel dilempar ke atas? Terlalu berat, bisa jatuh dan tak bisa diambil lagi di jurang sana. Saya lepas, lalu naik sendiri tanpa beban, baru kemudian ransel digeret naik dengan webbing yang saya punya…rasanya juga terlalu berat. Baik bobotnya, ukurannya, …

Saya meneliti lagi dinding tanah dengan pegangan besi itu. Ternyat ada sedikit lubang dan tonjolan batu yang bisa dimanfaatkan untuk pijakan.

Baiklah. Saya menarik napas mengumpulkan seluruh kekuatan. Dengan dua tangan saya berpegang pada besi pagar itu, lalu menarik badan sekuat tenaga ke atas. Pada langkah kedua, kaki kanan bertumpu di tonjolan batu. Saya berpegangan dengan tangan kiri besi, dan tangan kanan melepas ransel di  depan yang menghalangi pandangan. Ransel itu saya tolak ke depan, membawa seluruh beratnya dan berat saya ke dinding tanah miring itu.

Saya kini dalam posisi merangkak di awal jalan setapak naik. Satu sentakan dari tumpuan kaki kanan melemparkan badan saya ke bagian yang aman dari jalan, di mana saya menjatuhkan diri dengan punggung terlebih dahulu.

Ransel-ransel yang jadi pemberat saya itu juga jadi penyelamat saya. Karena beratnya mereka, kami jadi tak bergerak begitu mencapai tanah. Saya berpegangan lagi pada besi untuk membantu badan berdiri.

Dari situ, pemandangannya ternyata indah  sekali. Langit sore baru selesai hujan. Air danau di bawah sana berwarna hijau, dan di bagian yang  sempit di kanan Gunung Barujari berwarna kuning.  Gunungnya sendiri berwarna kecokelatan dengan langit putih tipis. Ganjaran untuk usaha yang setimpal.

Puncak Rinjani dan Segara Anak dari Senaru
Puncak Gunung Rinjani (3726 mdpl) dan danau Segara Anak (2.008 mdpl) serta lereng Gunung Barujari (2.296 mdpl) difoto dari ketinggian 2.300 m di lereng Senaru, Sabtu 8 November 2014. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Setelah rintangan ini, jalan setapak menanjak hingga ia berbelok ke kiri, tetap mengikuti tebing kawah. Lalu ada jalan datar yang panjang  dan menanjak lagi di batu-batu.  Sekali lagi saya merasa menjadi anggota rombongan dwarf, para kurcaci yang ingin merebut kembali kerajaannya di Gunung Sunyi yang dikuasai Naga.

Selain sampah dan pagar besi hijau itu, grafiti juga jadi petunjuk bahwa kita berada di trek yang benar. Saya bertanya-tanya, siapa yang masih punya waktu dan energi untuk mencoretkan namanya, nama pacarnya, nama semua orang di grup perjalanannya, nama sekolahnya, nama kampusnya, nama kotanya, nama geng-nya, tanggal-tanggal, semboyan … di batu-batu dan dinding tebing.

Setelah tanjakan terjal, ada tangga dari besi. Melihat tangga itu, saya kira saya sudah sampai di gigir gunung. Hati pun gembira. Setelah sampai dan dilewati, ternyata, … masih ada lagi tanjakan berikutnya.

Begitu terus beberapa kali.  Jalan di Gunung di sisi Senaru ini benar-benar penuh pemberi harapan palsu. Demikian, saya berusaha untuk tidak kecewa. Kecewa itu makan energi dan menghabiskan semangat dan mengecilkan hati. Jadi, setiap berlalu satu puncak tanjakan yang dikira sampai gigir Gunung, dan ternyata masih ada terusannya, saya tertawa. Saya juga memuji diri sendiri, “ayo boi, semangat dan kuat…”

Setidaknya satu tanjakan sudah berlalu dan saya makin dekat dengan tujuan.

Hari mulai gelap. Ketika alarm waktu magrib waktu Indonesia Tengah di Samsung B2710 saya berbunyi,  saya pas tiba di satu tanah datar setelah tanjakan batu. Istirahat lagi sejenak. Tomat lagi, cokelat lagi, minum seteguk dua air lagi. Saya duduk sambil menyetel headlamp, lampu senter yang ditaruh di jidat.

Ketika saya mulai jalan kembali , ada hiburan kecil: jalannya turun. Tapi, setelah 2 menit, saya jadi waspada. Kok turun? Dan mana sampahnya?

Saya berhenti sejenak, melihat sekeliling, orientasi . Kiri jurang, kanan tebing, … lalu kilatan di tanah, pantulan cahaya senter saya pada plastik keperakan bekas bungkus permen…

Itulah patokannya bila ke arah Senaru: rapat ke tebing dan jalan menanjak. Kalau turun dan menjauhi tebing, itu jalan sesat.

Pukul tujuh malam, sambil berjalan dalam kelam, saya melihat sinar lampu di ketinggian di kejauhan di sisi kiri, di seberang jurang.  Titik cahaya itu bergerak, lalu berdiam lama. Saya berhenti lagi dan melihat ke titik cahaya itu. Saya merasa kami saling bertatapan.

Saya mengedip-ngedipkan senter. Dia yang di seberang sana membalas. Ha ha ha, saya tersenyum. Itu komunikasi pertama dengan orang lain sejak terakhir bertemu Sam, Chloe, dan Julian ‘James’ Manggila.

Ini para dwarf (kurcaci) rombongan Thorin Oakenshield. Nama-nama mereka adalah Bombur, Bifur, Bofur, Oin, Gloin, Balin, Dwalin, Fili, Kili, Ori, Nori, Dori. Kalau ditambah Novi, masih pas bukan, hehehe.
Para dwarf (kurcaci) rombongan Thorin Oakenshield dari film Peter Jackson The Hobbit dan berdasar novel saga JRR Tolkien dengan judul sama. Nama-nama mereka adalah Bombur, Bifur, Bofur, Oin, Gloin, Balin, Dwalin, Fili, Kili, Ori, Nori, Dori. Kalau ditambah Novi, masih pas bukan, hehehe. (imamovienerd.wordpress.com)

Dengan hati senang, langkah terasa ringan kembali. Lampu senter saya menyoroti dinding tebing yang dicoreti banyak grafiti. Jalan menikung  ke kiri, disambung tanjakan yang terjal ke kanan dengan pegangan besi pagar yang dingin.

Lalu terdengar suara tawa yang riuh.

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung.  Bahagia rasanya ketika ada tanah datar lebih dari setengah meter lebarnya, dan tidak ada dinding  tebing dan jurang yang siap menelan kelengahan kita.

 ***

 

Rinjani untuk Rianne

Posted on Updated on

Jalan Setapak menuju Segara Anak di lereng Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl di  Gunung Rinjani.
Jalan Setapak menuju Segara Anak di lereng Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl di Gunung Rinjani. Jauh di kiri adalah dasar lembah. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

 Pukul 3 pagi, Sabtu 8 November, Arif dan Ridho berpamitan untuk summit attack. Inilah bagian keempat. 

Kami bersalaman, Boleh jadi akan lama sekali kita baru ketemu kembali. Saya menambah bekal air mereka. Semoga tidak dianggap memberatkan.

Saya masih sempat tertidur lagi sebelum benar-benar bangun pukul lima pagi. Saya menyiapkan sarapan besar untuk perjalanan turun ke Segara Anak.

Mulai pukul delapan, saat saya packing, para pendaki yang turun ke Sembalun satu per satu melewati saya. Dimulai dari rombongan porter, lalu guide, dan bule-bule itu. Ada Pim dan Rianne juga. Mereka mampir sebentar. Keduanya memeluk saya.

“I know you can make it,” kata Pim.

“Yeah, I did it,” kata saya seraya tersenyum lebar.

Beberapa lama sebelum ini, Pim van Goerp bertualang di Himalaya. Ia keluyuran ke desa-desa di ketinggian 4.000 meter hanya ditemani seorang pemandu. Karena itu rupanya Pim tahu benar rasanya jalan sendiri seperti yang saya lakukan, seperti yang dia juga lakukan.

“Kalau Rinjani, ini untuk merayakan kelulusan Rianne,” katanya. Rianne van Eldik baru saja jadi sarjana ilmu komunikasi dari  jurusan Commucatie en Informatiewetenschappen di Universiteit Utrecht. Rianne memilih Rinjani antara lain karena pelafalannya mirip dengan namanya.

Saya jadi ingat, saya merayakan kelulusan saya dari Jurusan Bahasa dan Seni dulu dengan bertualang di Sungai Amandit, menunggang arus di atas lanting hingga terpontang-panting karena memang bukan keahliannya, tapi hati senang dalam jiwa yang bebas merdeka. Sungai Amandit juga yang mewisuda saya dalam buih gelombang naungan pohon-pohon, seperti Lambung Mangkurat, mangkubumi Negara Dipa yang bertapa di pertemuan dua anak sungai dan akhirnya mendapatkan Putri Junjung Buih.

Bukankah legenda itu berkata Lambung Mangkurat bertapa di Sungai Amandit? Lalu kampus yang berdiri tahun 1958 itu pun diberi nama Universitas Lambung Mangkurat?

Begitulah rupanya. Saya sekali lagi melihat, diantara orang-orang yang cepat akrab, meski tak pernah bertemu sebelumnya, selalu ada kesamaan dan garis merah yang mirip. Diantara kesamaan-kesamaan itulah takdir jalin menjalin dan membuat hidup bergerak.

***

Begitu mencapai puncak Rinjani hari Jumat itu, saya kira saya sudah sampai pada klimaks petualangan ini. Ternyata sama sekali belum, sobat. Menjejakkan kaki ke puncak hanyalah separo dari kisah. Petualangan sesungguhnya baru dimulai segera sesudah ini.

Saya menyadarinya ketika berada di ujung jalan datar, lebih kurang seratus meter setelah tenda-tenda berakhir.  Jalan berbelok tajam ke kanan, lalu ujung berikutnya berbalik lagi ke kiri. Jalan setapak kecil cukup satu orang ini berzig-zag di atas batu-batu lereng  hingga terus ke separuh jarak ke lembah curam itu.

Ini jalan turun ke Segara Anak dari Plawangan Sembalun. Ada pagar dari sebatang besi sebesar lengan berwarna hijau untuk berpegangan di bagian yang dianggap rawan. Banyak lagi bagian yang tak ada pagar pegangannya justru di ada tempat  yang lebih berbahaya. Melewatinya, tak boleh lengah sedetik pun bila tak ingin jatuh ke lembah dalam nun jauh di bawah sana.

Medan di kemiringan antara 60-70 derajat itu menuntut semuanya dari saya. Perhatian penuh, kekuatan, kesabaran, dan ketahanan. Baru di sini terasa berjalan dengan 22 kg beban di punggung dan satu ransel di depan itu sungguh menyiksa. Ditambah berat badan sendiri, seluruh bobot  berkumpul di ujung jempol dan lutut. Jempol nyeri dan lutut menjerit. Ibu jari itu terhantam tutupan ujung sepatu dan lutut menopang seluruh tarikan gaya gravitasi. Jalan itu memberi tanda mata bagi saya. Sampai hari ini masih ada bercak darah di bawah kuku jempol kaki kiri dan di bawah telunjuk kaki kanan. Luka dalam yang belum lagi sembuh.

Jpeg
Rei, porter dari Desa Sembalun di lereng menuju Segara Anak. Sebagai porter penghasilannya Rp150.000 per hari dengan beban maksimal 25 kg sekali jalan. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Pantas para porter senang bersandal jepit saja, dan beban dibawa dengan dua keranjang yang dihubungkan dengan pikulan bambu. Begitu ternyata lebih praktis. Mereka seperti berlari melewati jalan setapak yang curam itu.

Bagi saya para porter Rinjani menunjukkan seni berjalan dan membawa beban yang hanya bisa ditandingi para shaolin. Bahkan para sherpa di Himalaya pun tidak. Keseimbangan adalah kuncinya. Keseimbangan datang dari irama berjalan yang teratur, yang bisa disetel sesuai tingkat kesulitan tempat kaki ditapakkan. Irama berjalan terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun, atau warisan pengetahuan rekaman bagaimana alam Rinjani.

Saya mencoba mengikuti contoh para porter dengan dasar-dasar yang diberikan oleh Merpati Putih, perguruan yang rendah hati dan sederhana itu. Merpati Putih mengajarkan keseimbangan dan efisiensi gerak dalam napas serta keheningan dengan satu titik sedikit di bawah pusar adalah pusatnya.

Setelah tiga hari menggendong carrier, saya juga mencoba menganggapnya bukan beban lagi, tapi bagian dari diri. Saya belanjar memanfaatkan beratnya untuk mempercepat gerak dan menjadi pelindung badan. Begitu juga dengan daypack, ransel yang saya bawa di depan. Ternyata saya bisa menggunakannya sebagai anker tempat berpegangan dengan melepasnya di turunan tertentu, berbalik badan, dan turun dengan menghadap tebing jalan, lalu berputar lagi sambil menarik ransel itu turun. Pelajaran dasar dari mendiang Bambang Eddy, pemanjat tebing kami di Kompas Borneo Unlam.

***

Pengalaman baru itu mengalihkan saya dari rasa sakit. Saya pun jadi bisa menikmati pemandangan lagi. Lereng ini juga usai terbakar, hingga ke lembah di bawah sana. Perdu dan pohon menghitam dengan latar awan-awan yang putin melayang-layang. Kadang-kadang awan menghampiri saya di lereng seperti menyapa, lalu menjauh lagi dibawa angin.

Saya kembali bersemangat dan meluangkan waktu untuk membuat foto dengan Zenfone 6. Kepraktisannya memudahkan. Saya tinggal merogoh kantong kiri celana kargo ini untuk mengambilnya untuk memotret jalan yang menggetarkan itu, memotret awan-awan, memotret pohon-pohon yang hangus, memotret puncak di gunung seberang sana, memotret danau yang kehijauan, memotret lembah yang curam, memotret porter-porter yang lewat, dan selalu lupa memotret diri sendiri.

Jpeg
Rumpun perdu edelweiss yang bertahan dari amukan api di lereng barat Plawangan Sembalun. Di latar belakang Segara Anak dan rim crater Rinjani. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Akhirnya bagian terberat terlewati, yang ditandai  sebuah jembatan berlantai semen atas sungai yang sedang kering. Menyenangkan berjalan di atas permukaan yang datar setelah disiksa turunan curam yang menuntut seluruh tenaga dan perhatian.

Setelah itu, jalan berpindah mengikuti ‘tubuh bendungan’ Danau Segara Anak. Jalan inilah yang  kelihatan jelas dari Plawangan Sembalun melipir di selatan lereng, lalu memotong ke utara di bagian yang terendah dan tak terlihat lagi dari atas. Tak terlihat sebab jalan itu menurun menuju Segara.

Api tak sampai ke sini, menampilkan pemandangan seperti kebun yang subur. Hamparan alam di sini segar dan hijau. Saya sampai mengira ada orang yang bercocok tanam dan berharap bertemu pondok petani seperti di Pangalengan atau di Lembang di Jawa Barat. Tapi adanya ya pondok pendaki, shelter di tepi danau itu, yang sudah dikuasai pertapa dari Senaru, dua pendaki dari Inggris dan Thailand, porter, dan pemandu mereka.

Pukul 12.30,  pemandu itu, Metarum namanya, menawari saya kopi. Aih, Tuhan memberkati para pembuat kopi di seluruh dunia dan memasukkan mereka yang meminumnya ke dalam surga.

***

Tom dan Piaw tidak minum kopi. Mereka juga tidak makan tomat dan ketimun. Dari makan siangnya itu, hanya ayam goreng dan sedikit nasi yang disantap. Sayur capcai yang dibuat Metarum hanya disentuh sedikit. Pertama datang, saya melihat Tom dan Piaw duduk berdampingan dan berbicara dengan suara rendah, nyaris berbisik, seperti sepasang kekasih. Mereka makan dengan menghadap danau. Tom Bloomfield  berasal dari London, berperawakan kurus, tampan, dan gemulai dengan kulit putih yang mulai kecoklatan dibakar matahari tropis. Piaw mengenakan topi seperti para musisi hip hop, bercambang tipis, dijumpai Tom di Bangkok. Piaw yang berwarna cokelat tua khas Asia Tenggara tampak berisi dan tegap, gagah dengan dada yang bidang, dan Tuhan memberi Piaw suara yang lembuutttt sekali.

Jpeg
Piaw dan Tom, tidak minum kopi. lembut tapi penuh semangat. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Usai makan, menunggu porter membereskan barang untuk melanjutkan perjalanan ke rim Sembalun, keduanya turun ke dekat danau dan bermain-main dengan tongkat berjalan yang dibuatkan Metarum untuk mereka. Seperti dua ksatria dari abad pertengahan, Tom dan Piaw bermain pedang-pedangan dengan tongkat-tongkat itu.

“Makan yang banyak,” kata Metarum kepada saya yang makan sambil memperhatikan mereka. Menu makan siang saya benar-benar pantas untuk badan yang lelah: banyak buah dan sayur, nasi putih panas, capcay yang pedasss, tahu dan tempe yang besar-besar,  air putih yang banyak, dan ditutup dengan kopi hangat ala bangsawan Inggris. Melihat saya suka makan tomat, Metarum memberikan semua persediaan tomat yang dibawanya untuk Tom dan Piaw. Satu plastik penuh tomat seukuran onde-onde, merah merona mengundang selera. Empat  pertapa yang mencari kesembuhan juga ikut makan dari masakan Metarum. Kami semua  bantu menghabiskan dan meringankan bebannya, hehehe.

Pukul satu lewat, Tom dan Piaw melanjutkan jalan ke Sembalun.  Untuk makan siang yang luar biasa itu, saya menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada keduanya dan terimakasih spesial untuk Metarum, pemandu dari Senaru yang berperawakan kecil tapi lincah itu. Saya masih istirahat dulu sebentar, memotret dan menikmati pemandangan Segara Anak.

Kabut datang dan pergi di antara pohon-pohon cemara. Di sekitar shelter itu, sampah berserakan dan bertumpuk-tumpuk. Toilet tampaknya sudah lama rusak, dan di tepi danau di air yang dangkal, terendam celana dalam, handuk, bahkan ada kepala ayam.

Jpeg
Tanjung kecil di depan shelter, jadi tempat favorit untuk memancing. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Beberapa orang memancing di batu yang menjorok ke danau. Para pendaki perempuan asal Taiwan yang menyalip saya di lereng ‘bendungan’ Segara Anak membuat camp persis di tepi danau dekas batas air. Mereka mungkin menjauhi sampah yang menumpuk di dekat shelter.

“Kami mau ke mata air panas, berendam,” kata Anna Fong. Dekat situ ada mata air panas Aiq Kalaq, Coba saya punya waktu. Para pendaki lokal seperti para pertapa itu juga berendam di Aiq Kalaq untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai macam penyakit.

Saya mencuci muka, tangan, telinga, kaki, dan menggabung salat zuhur dan ashar. Kesegaran dan kekuatan baru mengalir.  Pukul dua tepat, setelah pamit kepada para pertapa yang antara lain minta obat sakit kepala saya, perjalanan menuju Plawangan Senaru nun di atas sana pun dilanjutkan.

 ***

Ecstasy of Tears

Posted on Updated on

13hetfield
James Hetfield, rock itu, akhirnya, sederhana, bahkan, juga bisa jenaka.

Setelah satu tahun lebih berlalu, kisah ini akhirnya matang di benak saya. Untuk para penggemar dan sahabat di mana saja berada.

Tepuk tangan, suitan, dan teriakan berhenti sejenak. Desiran keyboard dan cello yang sayu dan kelam menyergap 60.000 pasang telinga di Gelora Bung Karno mulai pukul sembilan malam itu. Dentuman senar tertinggi bas gitar dan pukulan rapat rendah pada snare yang diikuti desisan simbal, lalu crescendo, perlahan makin lama makin nyaring ditambah alunan biola dan deram tambur …

Adegan nisan-nisan di lereng bukit saat Tuco berlari tak tentu arah mencari emas senilai 200 ribu dolar AS yang terkubur di dalam cerita film The Good, The Bad, and The Ugly turut ditampilkan di dua layar lebar di kanan kiri panggung.

Seperti apakah perasaan Ennio Morricone ketika menuliskan lagu ini? Apakah yang bergaung di kepalanya saat menerjemahkan suara-suara itu ke atas partitur?

Hanya Morricone dan Tuhan yang tahu. Dan kami malam itu, bersama puluhan ribu kawan di stadion termegah di Indonesia, laksana shaf yang rapat, bahu bertemu bahu, sisi tapak kaki dengan sisi tapak kaki dalam salat subuh yang syahdu di masjid kampus saya dulu, berdengung dan bergemuruh bersama di dalam The Ecstasy of Gold.

Saya tidak menyangka menonton konser musik thrash yang gahar bisa dimulai dengan linangan airmata. Saya juga melihat saya tak sendirian terguguk dalam keharuan.

Ya seperti ratusan ribu, mungkin jutaan muslim, menangis di depan Kabah karena kebahagiaan akhirnya melihat dan bertemu, atau kesedihan sebab akan berpisah, demikian pula kiranya kami para metalhead malam itu.

Dua puluh tahun kami menunggu Metallica, dan akhirnya …untuk 5 menit pertama, hanya airmata. Hanya airmata.

***

James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Jason Newsted (juga Clifford Lee Burton dan David Mustaine) memasuki hidup saya dari sebuah kaset berwarna hitam legam bertuliskan Polygram. Benda itu saya dapat sebagai pinjaman dari Budi Surya, seorang sahabat baik, kawan dalam pasangan bangku-meja selama 3 tahun terakhir di SDN Pemurus Dalam 3, sekutu bila berkelahi melawan Harya Maulvi, kawan kami yang jago karate, kawan belajar merokok (tanpa bermaksud iklan, Budi memilih rokok yang sama dengan namanya, hehehe), juga sesama penggemar Kho Ping Ho dan komik-komik Indonesia (yang ditularkan oleh kakaknya, Fahmi, pegawai BNI 46), sesama pengantar koran,  bersama mengasuh keponakannya, dan guru gitar yang mengenalkan praktik dagang secara langsung dari warung kakaknya yang lain yang kami tunggui bersama.

Tahun 1988, album …and Justice for All untuk keluaran Indonesia dijual dengan kaset dalam kotak plastik seperti video beta—satu variasi dari cara menjual rekaman di Indonesia. Sampul album itu dihiasi gambar-gambar ekspresif. Mulai dari cover utama dengan lukisan patung Dewi Keadilan yang timbangannya berantakan sementara badannya terikat tali-tali kepentingan, lukisan potret sangar dan geram keempat personel Metallica, dan gambar tangan pemegang palu keputusan yang memukul rakyat kecil lemah.

“Hukum hanya berlaku bagi yang lemah. Orang kaya (raya) bisa menyuap dan menyulap pengadilan. Halls of justice painted green money talking…” geram James Hetfield dalam lagu …and Justice for All, lagu kedua setelah Blackened, lagu tentang kelakuan manusia yang merusak dan mencemari alam sehingga Bumi menderita.

Karena itulah, saya kira,  Jokowi dan saya menjadi penggemar Metallica, sobat. Metallica mewakili kami untuk marah-marah pada sistem sambil berjanji dalam hati untuk suatu saat kelak mengubahnya sendiri menjadi lebih adil dan lebih baik.

Jokowi jadi presiden, saya jadi jurnalis.  Pada tahun yang sama, Iwan Fals, idola kami yang lain, sedang menjadi romantis dengan “Kemesraan”. Lagu itu barangkali satu-satunya lagu Iwan yang digemari para pejabat kita.

***

Namun demikian, saat itu, saya masih kesulitan menikmati musik Metallica. Cara bernyanyi Hetfield yang menggeram, musik yang temponya berubah-ubah, masih susah saya cerna pada usia 13 tahun ketika itu.

Musik rock saya di masa remaja awal itu adalah Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Van Halen, Whitesnake, dan Scorpion. Saya mendengar Queen agak terlambat.

Mereka ini pengusung hardrock dan Zeppelin juga kental dengan blues—dan agaknya cocok dengan telinga melayu saya. Ada melodi yang sendu di Soldier of Fortune, atau mistisnya Stairway to Heaven oleh Jimmy Page dan Catch the Rainbow petikan Ritchie Blackmore. Atau pula melodi manis When It’s Love dari Eddie Van Halen, baik dengan gitar maupun keyboard, yang mengiringi juga surat-surat saya kepada Day.

Sebab itu, meski lagu yang panjang-panjang sudah biasa saya dengarkan dari Deep Purple, juga gitaran kasar Blackmore di album Deep Purple In Rock, dan komposisi-komposisi klasik Bach, Beethoven, sampai Joseph Haydn, Metallica dan musiknya benar-benar sesuatu yang baru bagi saya.

Oh iya, Ritchie Blackmore juga bisa main gitar grunge ala Kurt Cobain sobat. Dengarlah itu Hard Lovin’ Man dan Blood Sucker dalam album Deep Purple In Rock itu.

Dari kampung saya sendiri ada Big Boys, yang vokalisnya si Arul Efansyah, ternyata murid ibu saya di sebuah sekolah dasar di Pasar Lama di Banjarmasin, juga para rocker Jawa Timur seperti AKA, Elpamas, Power Metal, SAS-nya Arthur Kaunang.

Mereka ini yang kami tonton dengan penuh semangat di Sasana Bina Krida Budaya yang sempit, atau Stadion Lambung Mangkurat yang lapang dalam konser bertiket mulai dari Rp7.500 hingga Rp20.000.

Perlu diketahui juga kawan, dari akhir tahun 80-an sampai pertengahan 90-an, Banjarmasin adalah satu barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru mabrur ke-rocker-annya bila sudah pernah manggung di Banjarmasin.

Di kota di mana setiap 100 meter ada musala dan masjid itu, sejak pertengahan 80-an hingga 90-an, hampir setiap bulan ada konser rock. Bahkan, di acara 17 Agustusan di tingkat RT pun, para pemuda memainkan Black Dog-nya Led Zeppelin atau Highway Star-Deep Purple dengan beringas.

Setelah pindah ke Balikpapan, saya kehilangan suasana rock city yang akrab bersemangat itu. Apalagi kantor tempat saya bekerja ketika itu dingin dan kaku, yang hanya cair dan hangat sejenak ketika ada penganan martabak dan kue terang bulan.

Wal hasil, saya hanya nonton dua kali musisi dan band kelas stadion yang manggung di sini. Satunya Slank, satunya lagi Bang Iwan. Selain itu, di pertengahan pertama dekade 2000, selera musik saya tidak cocok dengan kebanyakan warga Kota Minyak.

Tapi menjadi jurnalis memberi pengalaman lain. Saya beberapa kali bertemu Om Arthur Kaunang, bassis-nya SAS itu. Sekali minum-minum di Color Beat-nya Blue Sky dan kita ngobrol ngalor ngidul tentang musik rock dan bisnis pertunjukan. Arthur antara lain memproduseri Endi Xirang, penyanyi rock perempuan—yang akhirnya harus kalah dengan industri yang sedang menyukai boyband dan lagu-lagu tidak jelas.

Pernah ketemu God Bless di Bandara Sepinggan. Om Iyek yang kribo itu pulang dari Kukar Rock Festival yang mementaskan Helloween dan God Bless jadi pembuka. Keterlaluan juga, God Bless jadi pembuka Helloween. Saat Kai Hansen  baru belajar gitar, Ian Antono sudah mengharubiru publik metal dunia di Indonesia ini.

Sungguh iri saya pada bang Arief  Er Rachman dan kawan-kawan di Tribun Kaltim yang pernah menjamu God Bless di kantornya. Mereka sempat juga nyanyi bersama. Ian Antono memetik gitar di kesempatan yang langka itu.

Ketemu Eet Sjachranie, gitaris Edane di Gelora Bung Karno itu, sama-sama mengantre mau masuk stadion buat nonton Metallica. Dikasih tanda tangan eksklusif di album Dekade-nya Bang Fariz RM. Juga ngobrol hangat dengan Cokelat. Bisa bicara serius dengan Glen Fredly—yang rock banget dalam sikap—dan tiga cowok Michael Learns To Rock yang sepetinya terkagum-kagum dengan rambut dreadlock saya.

“Is it original? ” tanya Jascha Richter, si pemain keyboard dan pentolan MLTR, di dalam lift dari lantai dasar ke lobby Hotel Jatra.

Well, siapa tahu, bicara-bicara akrab serius santai dengan Metallica entah dimana nanti.

Saya dan kawan-kawan di SMAN 7 Banjarmasin juga setiap tahun membuat pertunjukkan musik dan seni lainnya. Namanya keren, Pergelaran Musik Remaja atau PMR. Kami undang sekolah-sekolah lain untuk tampil dan dinilai buat juara.

Tuan rumah juga tampil meski tak dinilai. Tahun 1991, band sekolah kami membawakan Enter Sandman. Saya yang jadi penata set panggung dan seluruh area pertunjukan, menikmatinya sambil geleng-geleng tak percaya.

***

Metallica baru merasuk ke hati dan pikiran saya 3 tahun setelah “…and Justice” dirilis. Apalagi kalau bukan dari Black Album, album kelima yang selftitled, yang judulnya cukup Metallica.

Album yang rendah hati. Pada sampul album tidak banyak lagi ornamen di dalamnya seperti pada album sebelumnya. Sebagai musisi dan manusia, Hetfield, Ulrich, Hammet, dan Newsted memasuki fase baru. Mereka menjadi orang dewasa yang lebih kalem, lebih bijak, dan lebih dalam, sementara di bawah arahan produser Bob Rock musiknya melebar, membawa thrash ke dalam definisi yang lebih luas.

Seperti Nana, gadis mungil bermata cemerlang, siswa kelas 1E yang, aktivis PMR (kalau ini Palang Merah Remaja, sobat), yang jalan bareng saya saat itu, lagu-lagu Metallica menjadi sederhana. Enter Sandman, atau The Unforgiven adalah simpel dan mudah sehingga orang yang baru belajar gitar seperti saya pun bisa memainkannya.

Untuk tur album inilah Metallica datang ke Indonesia pertama kali, 1993. Meski musiknya sudah lebih kalem daripada sebelumnya, tapi penonton yang tak bisa masuk tempat pertunjukan di Stadion Lebak Bulus bikin rusuh di luar. Saya membaca laporan konsernya di majalah Hai. Ira, sahabat pena saya di Jakarta, bercerita singkat dalam surat yang agak panjang. Saat itu agak jamak konser musik ricuh. Jangankan rock-metal, acara dangdutan saja orang bunuh-bunuhan.

Metallica agak menurun tensinya, sebaliknya telinga saya sebagai remaja akhir terus mencari musik yang selaras dengan emosi dan alam pikiran yang memendam kemarahan itu. Kami bertemu dan melebur dalam Wherever I May Roam, gitaran saya sudah agak lumayan sehingga Nothing Else Matter sudah bisa didengarkan tanpa dahi berkerut walau gitarnya tetap gitar pinjaman, dan saya pun sudah punya suara yang cukup berat untuk bisa menggeram seperti Hetfield di Don’t Thread On Me.

Dari Black Album, barulah saya dan Feb, saudara, rekan sekamar, seide sepemikiran walau jarang bicara, berburu album-album Metallica. Dengan urutan terbalik muncul di rak kaset kami …and Justice, lalu Master of Puppets (1986), Ride the Lighting (1984), dan Kill Em All (1983).

Seperti penggemar lainnya, kami menghapal lagu-lagu, mendengarkan dengan seksama hingga not dan bunyi terakhir, membaca bagaimana proses kreatif penciptaan lagu, segala latar kebiasaan personel, dan sure, memasang poster mereka di dinding kamar.

Di saat krisis ekonomi menimpa Indonesia 1998, Metallica merilis album konser S&M dan berkolaborasi bersama San Francisco Philharmonic Orchestra. Harga kaset sudah Rp20.000 dari semula hanya Rp12.000 (saat kami beli Kill Em All harga baru Rp7.000—dan beberapa tahun sebelumnya, kaset Deep Purple saya Rp4.500). Saya dan Feb menahan diri untuk tidak membeli rekaman musisi mana pun. Kami sedang fokus di ujung masa kuliah strata satu dan kalau ada uang itu buat fotokopi, atau beli kertas buram dan houtvrij schrijfpapier, atau beli buku.

Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu di Sekretariat KBU yang lagu kebangsaannya adalah lagu-lagu Iwan Fals dan sekali-sekali Bob Marley (yang juga membawa pengarus besar pada saya kemudian).

Baru setelah saya mulai bekerja, entah sebagai jurnalis, entah penerjemah, entah guru honorer, koleksi rekaman bertambah. Album Load and Reload segera masuk. Juga dobel album Garage Inc. Saya yang juga terus keranjingan main drum dan setiap hari berlatih dengan kardus-kardus yang disusun dan simbal khayalan, segera memasukkan Fuel dan Whiskey in the Jar dalam daftar lagu latihan.

Album St Anger dan Death Magnetic saya dapatkan dengan cara yang romantis: hadiah ulang tahun dari isteri tersayang. Lengkap dengan pizza beetato pepperoni, coke, pelukan anak-anak, dan ciuman ibu mereka.

Saya juga mengumpulkan beberapa rekaman yang memainkan lagu-lagu Metallica, seperti Apocalyptica, empat musisi asal Finlandia yang tak kalah gahar dengan Hetfield cs—yanng memainkan lagu-lagu Metallica hanya dengan cello.

***

Bila saya mulai menikmati konser dengan menangis terharu—sebab antara lain kami harus menunggu 20 tahun untuk konser itu—Hetfield sendiri menanggapinya dengan jenaka.

“Why it takes so long?” katanya. “No money?” Lalu tawanya yang khas itu keluar. Saya turut tertawa. Kami semua tertawa. Senang bisa menertawakan diri sendiri.

Pada saya barangkali iya. Tiket nonton mereka hari itu Rp750.000 untuk kelas festival. Itu cukup buat sekali belanja bulanan satu keluarga dengan 3 anak yang masih SD. Cukup buat beli 20 kg beras, minyak goreng, … pokoknya kulkas penuh.

Bagi kita yang berada di pulau yang berbeda, berarti ditambah tiket pesawat pergi pulang, tambah biaya menginap, biaya transportasi, biaya konsumsi, …

“Ya kalau kamu mau pergi besok lalu siap-siapnya baru hari ini, kalau kamu tidak kaya, ya tidak bisa,” kata Martin Smith, seorang kawan penjelajah Himalaya.

Sungguh, dari Martin dan banyak kawan bule dan Tionghoa, baik kaya maupun tidak kaya, di Balikpapan atau di mana saja, saya belajar arti persiapan dan menabung. Saya baru sadar semasa kecil ibu saya sebenarnya sudah mengajarkan juga kepada kami.

Maka saya membuat persiapan untuk banyak hal: untuk liburan, untuk listrik padam, untuk air macet, untuk pendidikan anak-anak, untuk suatu saat rumah kami harus direnovasi, bila hujan di jalan, untuk saat tengah malam kehabisan pulsa internet sementara berita harus dikirim segera, untuk sakit, untuk keinginan-keinginan, dan seterusnya.

Saya merasa beruntung ketika Metallica akhirnya benar-benar datang lagi di Indonesia, saya sudah punya semua yang dibutuhkan. Saya sudah beli tiket secara online pada hari kedua penjualan, 60 hari sebelum hari konsernya.

Bahkan sebenarnya saya sudah berusaha beli sejak hari pertama, tapi karena padatnya situs blackboxtix.com, situs resmi promotor BlackBox yang mendatangkan Hetfield cs, baru pada hari kedua terverifikasi. Para pembeli lewat cara online kemudian dikirimi kode booking. Kode booking itu yang disebutkan, atau bila diprint, ada barcode yang di-scan, untuk mendapatkan tiket asli di arena konser nanti.

***

Dan itulah Metallica, dan disinilah saya bersama 60 ribu penggemar mereka dari berbagai tempat di Nusantara (termasuk Nusantara itu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Australia).

Hetfield, Hammet, Trujilo berkeliaran di panggung. Ulrich menggebrak set drumnya dengan sepenuh tenaga. Nomor-nomor keras langsung dimainkan berderetan: Hit the Lights, Master of Puppets, Fuel, Ride the Lighting, …

Ulrich tarik napas sejenak di lagu Fade to Black buat kembali masuk jalur cepat di separuh akhir. Dobel bass drum Tama yang jadi andalannya kembali berkejaran.

Metallica terus ngebut. The Four Horsemen, Cyanide (lagu favorit saya yang baru saja jadi favorit) digeber seperti Valentino Rossi membawa motornya di tikungan-tikungan panjang Donington Park.

Tak berkurang pula tenaganya ketika Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, hingga dengungan bas Trujilo menghadirkan Orion. Melodi Hammet mengantarkan kami ke galaksi yang jauh di atas Langit Utara dalam tarian bintang dan laser warna-warni.

Saya memandang sekeliling. Di kiri saya ada Arrie, teman baru yang mulai berkenalan dari counter pengambilan tiket kemarin, di depan, di belakang, di kanan dan kiri, semua berkaos hitam dengan gambar-gambar Metallica dan grup-grup rock lainnya. Semua dengan gambar-gambar sangar atau surealis yang dilambangkan dengan tengkorak, monster, atau motif tribal.

Saya juga, tentu saja, dengan kaos hitam bergambar tengkorak menyala, seram dalam lidah api seperti di film Ghost Rider. Tapi ini bukan kaos grup metal, sobat. Ini kaos dari Balikpapan Hash House Harriers, klub lari lintas alam ekstrem, kaos yang dibagi saat lari malam-malam sebelum berkumpul lagi untuk pesta Halloween Night.

Lalu terdengar bunyi tembakan dan deru helikopter mendekat, dan suara sersan yang mengomando anak-anak buahnya, lalu suara heli itu menjauh, … dentingan gitar Hetfield mengisi keheningan yang tercipta sejenak. Segera tepuk tangan dan suitan berbalasan. Inilah One, lagu pertama yang saya sukai dari album … and Justice.

Kami semua bernyanyi bersama Hetfield. Lirik demi lirik disatukan dalam koor yang berat dan geram.

“I can’t remember anything, can’t tell if this is true or dream, deep down inside I feel the scream, this terrible silence stops me…”

Di sepertiga akhir lagu tentang serdadu malang di Perang Vietnam itu, di bagian yang tak ada lagi lirik yang harus dinyanyikan, kita semua (setidaknya semua yang di sekitar saya)  headbang, mengangguk-angguk cepat mengkuti rithym drum Ulrich dan gitar Hetfield, dan dibakar melodi tajam Kirk Hammet.

“You are just amazing,” kata Hetfield, begitu One berlalu, sambil menyeka keringat di dahinya.

Walau begitu Metallica tetap kencang. Gebukan drum intro For Whom The Bell Tolls dihadirkan Ulrich bersama bunyi lonceng yang membahana. Spontan tangan-tangan terkepal ke udara. Riff drum dan simbal bersahutan dengan ritme gitar Hetfield dan sayatan Hammet yang bersandar pada dentam bas Trujilo.

Headbang terus berlanjut sampai Blackened usai ditampilkan.

Lalu panggung gelap beberapa saat.

Denting gitar yang jernih mengalun diiring rendah suara bas. Lampu sorot menyala dan menerangi Hetfield yang memetik gitar akustik dan bernyanyi dengan berbisik. Saudara-saudara, … “Nothing Else Matter”.

Semua bernyanyi bersama Hetfield. Korek api kayu, korek gas, lilin yang menyala, diangkat ke udara. Badan yang rapat bahu dengan bahu bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti birama lagu.

Saya melihat beberapa orang menyeka mata. Terharu lagi agaknya. Sungguh spesial memang momen ini.

Intro bass Enter Sandman berkumandang. Trujilo menyeringai. Bagaimana kita lupa lagu yang membingkai masa remaja ini? Yang menandai kamilah generasi metal yang penuh semangat dan siap menantang dunia.

“…exit light, enter night

take my hand, up to never never land…”

Koor yang penuh semangat. Kaos saya basah oleh keringat yang membanjir sebab headbang dan melonjak-lonjak.

Tiga lagu encore, seluruhnya nomor full speed. Creeping Death, Fight Fire With Fire, dan Seek and Destroy membahana. Balon-balon hitam besar berlogo Metallica yang memenuhi kiri dan kanan panggung ditendangi Hetfield, Hammet, dan Trujilo ke penonton. Simbol tiga jari metal, simbol akronim ILU (I Love You), diangkat tinggi.

Ketika musik berakhir, ucapan terimakasih dan pujian kepada kami  penonton  disampaikan para personel Metallica. Hammet, Hetfield, Trujilo membagi-bagikan pick gitar, Ulrich melemparkan beberapa stik drum-nya ke penonton.

“You are Metallica family,” kata Hetfield sungguh-sungguh. Kini usianya sudah 50 tahun, tapi tenaganya tak berkurang. Vokal dan gitarnya tetap sangar. Kata-kata kasar yang jadi penghias pengantarnya setiap kali manggung dan bicara, sudah lama ditinggal sepertinya.

Musik rock memang bukan soal kata-kata kasar. Bukan rambut panjang, bahkan bukan melulu gahar dan sangar. Hetfield melucu, menyapa, memberi salam dan hormat. Metallica, jelas sudah menemukan hakikat metal. Barangkali sebab itu Trujilo memberikan bas gitar yang ditandatanganinya untuk Jokowi (walau disalahartikan oleh KPK)—sebab pria kurus yang akhirnya jadi presiden itu jelas rocker sejati dalam perbuatan dan kepemimpinannya.

Seperti kebetulan, kemudian ada yang memberikan bendera merah putih yang bertuliskan Metallica-Solo-Indonesia. Hahaha, kawan jauh dari Solo, rupanya. Juga tempat asal Jokowi-yang hari itu masih Gubernur DKI Jakarta—yang menonton di kelas festival sama seperti saya, dan hanya ditemani dua ajudannya. Yang ketika dia datang kita mengelu-elukannya sama seperti Metallica.

Lalu James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Robert Trujilo membungkuk memberi hormat kepada kami penonton, yang kami sambut dengan tepuk tangan panjang.

Saya masih tak percaya saya mengalaminya. Dua setengah jam yang luar biasa dalam catatan hidup saya. Kesusahan tidak sempat makan siang (karena salah masuk warung nasi campur—di Jakarta hati-hati dengan warung nasi campur), menunggu sejak pukul 15.00 (konser dimulai pukul 20.00), antrean panjang, berdebat untuk tetap bisa membawa botol mahal dari ace hardware dan air isinya yang menurut aturan panitia tidak boleh dibawa ke arena konser…

Semua tuntas dan puas.

Di notes saya sempat juga mencatat penampilan Raisa yang memimpin kita semua menyanyikan Indonesia Raya. Ada pembukaan 5 lagu oleh Seringai. Jeda satu jam yang kita tidak tahu untuk apa. Mungkin setting sound lagi.

Semua terbayar lunas oleh penampilan Metallica—dan segera saya berharap bisa nonton dan ketemu mereka lagi, anywhere, anytime in this world.

Sampai jumpa lagi. See you!

***

Apel, Pisang, dan Kelapa

Posted on Updated on

Warna-warna semburat di langit timur di depan siluet Gunung Rinjani. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Warna-warna kuning, merah, orange, hingga tipis kehijauan  semburat di langit timur di depan siluet Gunung Rinjani. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Ke Rinjani orang juga beritual. Mereka meletakkan sesajen di puncak gunung itu.  Oh ini bagian ketiga, Saudara.

 Ketika akhirnya terbangun, arloji saya menunjukkan pukul 04.30 dinihari. Saya sudah terlambat untuk menikmati panorama matahari terbit dari puncak Rinjani. Tapi, sungguh, tak ada penyesalan apa pun. Saya kecapekan, dan tidak ada yang menyalahkan orang yang kelelahan.

Meski begitu, saya tidak punya waktu lain selain hari ini untuk menyelesaikan target perjalanan ini. Maka saya bergegas berpakaian, salat subuh, dan sarapan. Makan pagi sebelum berangkat itu adalah hampir setengah kaleng kornet 200 gram, vitamin, dan air putih. Saya memasukkan ke dalam ransel persediaan air, roti tawar, cokelat, selai, kamera, madu, dan gulungan tisu. Ringan sekali bila dibandingkan carrier dan seluruh isinya.

Ketika keluar tenda, angin dingin langsung menyambar. Langit di kiri saya merah jingga dengan latar depan siluet lereng Rinjani. Sampai 20 menit pertama saya tak pergi kemana pun selain memotret pagi dari Plawangan Sembalun itu. Mulai dengan DSLR, lalu lebih banyak lagi dengan Zenfone 6.

Saat hari terang tanah pukul setengah enam lewat,  barulah saya memulai langkah ke puncak. Saya masih sempat menambah bekal air dari botol air porter yang tersedia di depan tendanya.

Tanpa beban, langkah saya ringan dan cepat. Bertegur sapa pagi dengan dua perempuan bule di dekat pohon tumbang, juga dua pendaki kulit hitam di dekat mata air. Saya juga meluangkan waktu untuk memotret apa saja yang menarik hati dan mata.

"Perkampungan" di Plawangan Sembalun di pagi hari. Sebagian penghuninya berada dalam perjalanan pergi dan pulang ke Puncak Rinjani. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
“Perkampungan” di Plawangan Sembalun di pagi hari. Sebagian penghuninya berada dalam perjalanan pergi dan pulang ke Puncak Rinjani. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Medan pertama menuju puncak adalah saluran pasir yang gembur. Tapi karena melewatinya saat hari sudah terang, saya jadi punya banyak pilihan. Saya naik ke bagian sisi setiap saluran pasir itu, dan bisa menambah ketinggian dengan cepat tanpa harus merosot setiap kali melangkah.

Pukul setengah delapan saya melewati pohon tumbang yang melintang di jalan. Pohon itu menjadi semacam gerbang dan penanda berakhirnya medan pasir gembur dan tanjakan terjal. Saya tiba di ujung gigir Rinjani.

Pemandangan Segara Anak yang hijau dengan vulkan Barujari membentang di bawah sana. Semua orang yang turun menyempatkan diri berhenti di situ, mengambil foto, bertegur sapa. Saya bertemu lagi dengan para pemuda Jerman.

“Setimpal dengan capeknya,” kata Peter yang paling jangkung diantara semua yang jangkung itu.

Ada pasangan Kanada yang sedang berbahagia, Emerson dan pacarnya. Ada Romain, pemuda Prancis yang sendirian seperti saya.

Emerson Lau dan pacarnya dan Segara Anak. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Emerson Lau dan pacarnya dan Segara Anak. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Selain Kenshin, pemandu dari Senaru, saya tak bertemu seorang pun pendaki Indonesia. Sebagian besar yang turun, semua bule, dan sudah bertemu saya di saluran pasir. Para pendaki Jerman berkata bahwa di belakang mereka ada satu rombongan lagi. Cara Chris bercerita seolah-olah puncak itu dekat sekali—yang membuat saya bersemangat. Fakta Chris membagi separo air yang dibawanya untuk saya dan berkata, “You will need that,” tak terlalu saya perhatikan.

Andre, Andyy, Novi, Karl, dan Chris. Foto ini dibuat Mark dengan ASUS ZENFONE 6/mark mueler
Andre, Andy, Novi, Chris dan Peter oleh Mark Mueller dengan ASUS ZENFONE 6/mark mueller

Menjelang pukul delapan pagi, saya melanjutkan perjalanan naik. Di kiri adalah lereng yang mulus sehingga batu bisa menggelundung hingga ke dasar, di kanan, kawah dan Segara Anak, dimana batu bukan menggelundung bila jatuh, tapi langsung nyemplung dan lenyap di dasar danau. Edelweiss dan cemara tumbuh bergerumbul hingga ketinggian 2.900, lalu menyebar satu-satu sampai 3.500 m.

Romain adalah orang terakhir bertemu saya sampai 3 jam berikutnya. Semakin tinggi, jalan semakin gembur, dan semakin berat langkah. Ketinggian dan udara tipis membuat pendaki ngos-ngosan.

Saya menyebutnya pola 1-1. Sekali tarik napas, sekali buang. Napas yang ditarik bukan napas panjang, tapi pendek dan cepat. Oksigen harus diambil secepatnya dan karbon dioksida harus dibuang secepatnya. Pada saya di ketinggian itu, napas pendek namun cepat lebih diterima tubuh ketimbang satu napas panjang

Walau demikian, saya menikmati perjalanan ke puncak ini. Bila merasa harus berhenti, saya berhenti, mengambil dan mengatur napas. Sambil demikian, saya melihat pemandangan. Matahari terik, tapi tak terasa. Saya tetap mengenakan jaket dan sarung tangan. Sementara awan hanya menaungi puncak Rinjani.

Bahkan, menjelang pukul 11 itu, saya sakit perut. Tidak ada tempat sembunyi yang nyaman untuk buang hajat, tapi ini ketinggian 3.400 meter dan saya sudah tak bertemu orang lain sejak berjam-jam yang lalu.

Repot juga, mulai dari melepas sepatu, baru tiga lapis celana, dan nongkrong di tepi jalan. Untung saya selalu bawa segulung tisu. Saya harap serumpun edelweiss dekat situ menerima anugerah pupuk alami itu dengan bahagia.

Setelahnya saya merasa badan menjadi ringan dan plong. Ditambah energi seruas cokelat dan beberapa teguk air saya maju lebih cepat. Saya segera tiba di batas pasir-kerikil bertemu dengan kerakal, batu-batu sebesar kepalan tangan yang terhampar memenuhi jalan. Tanjakan makin terjal. Dari sini, terlihat seolah ada dua puncak di atas sana.

Pukul setengah dua belas, saya bertemu Pim dan Rianne di tengah medan kerakal. Pasangan Belanda ini ditemani pemandunya, yang mengenakan penutup muka dan kacamata, dan tak berbicara.

Pim dan Rianne di dekat Puncak Rinjani. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

“Where is your team?” tanya Rianne menatap saya.

“He is all the team,” Pim menjawabkan untuk saya..

“Where is your walking stick,” tanya Rianne lagi. Dengan tongkat, berjalan di gunung memang akan lebih mudah. Saya selalu meniatkan diri untuk beli tongkat khusus itu, tapi belum pernah mewujudkannya.

“I have these two arms and legs. If I have to crawl, I will,” saya menjawab sendiri seraya tersenyum lebar.

Menurut Pim, ada satu rombongan di belakang mereka, dan saya bilang tak ada seorang pun di belakang saya.

“Good luck Novi,” kata Pim bersungguh-sungguh. Orang yang sendirian hanya punya dirinya sendiri untuk menyemangati diri. Karena itu mereka tak boleh berputus asa dan kehilangan harapan. Pim menambah persediaan bahan bakar semangat saya.

“Terimakasih, bro,” kata saya. Kami berpelukan dalam persaudaraan gunung dan alam. Itu hanya perkenalan lima menit, tapi saya merasa mendapat perhatian dari seorang sahabat seumur hidup.

***

Saya bertemu rombongan terakhir itu di ketinggian 3.500. Empat pemuda Indonesia yang bertegur sapa seperlunya. Mungkin karena lelah, mungkin juga sibuk mengatur napas. Saya tak melihat apakah mereka membalas senyum saya atau tidak karena semua mengenakan masker penutup mulut.

Puncak Rinjani dari awal tanjakan krakal. ASUS ZENFONE/novi abdi
Puncak Rinjani dari awal tanjakan krakal, 3500 mdpl. ASUS ZENFONE/novi abdi

Sekarang saya benar-benar sendirian. Medan kerakal itu seakan tak habis-habis. Sekali lagi saya menjalankan taktik ini, membuat target-target pendek, dan mencegah diri sering-sering melihat puncak harapan itu.

Target pendek itu adalah jarak yang saya targetkan harus dicapai dalam beberapa tarikan napas dan perhentian. Target itu bisa batu unik 10 meter di depan, rumpun edelweiss 15 meter berikutnya, hingga batu besar di atas sana, 100 meter dari tempat saya berdiri membuat target-target itu.

Saya mengulang proses itu. Menarik napas pendek dan cepat, lalu berjalan 7-10 langkah, berhenti lebih kurang 30 detik untuk mengatur napas lagi.

Pukul 12.15, saya sampai di dinding batu yang seakan menutup jalan. Warnanya kuning dengan merah tua di bagian bawah. Di ujung awal dinding, jalan berbelok ke kanan. Tanjakan habis. Seratus meter terakhir yang mudah itu saya tempuh dalam 5 menit. Lalu di bagian ketika tak ada lagi arah selain turun, saya berdiri dalam keheningan di atas hamparan batu-batu yang juga berwarna kuning dan merah, dalam selimut awan putih, di ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut.

***

I was there...ASUS ZENFONE 6/novi abdi
I was there…ASUS ZENFONE 6/novi abdi

 Saya mengucapkan selamat kepada diri sendiri. Ini tepat waktu salat Jumat. Saya duduk dan istirahat di ujung lahan kecil berbatu seluas setengah lapangan bulutangkis itu, dimana ada sebuah plakat dari alumunium bertuliskan puncak dan ketinggian Rinjani. Tampaknya ada klub sepeda dari Bandung yang menyumbangkan plakat itu.

“Hebat juga, sepedaan sampai sini,” kata saya dalam hati, sambil mengunyah apel malang yang berwarna hijau.

Dari mana saya dapat apel, padahal tak membawa buah itu dari bawah, adalah atas kemurahan Tuhan dan ummatnya. Sehari sebelum ini, saya yakin begitu, seseorang yang saleh, juga kuat dan punya tekat luar biasa, dan punya kelebihan harta, mengantar sebuah apel, beberapa pisang, sebutir telur, dan sebutir kelapa bulat yang masih dalam tempurung utuh. Orang itu juga memasang dupa, yang membuat lingkungan setengah lapangan bulutangkis itu berbau wangi.

Saya makan sesajen itu dengan bismillah. Dimulai dari apel, lalu pisang, dan terakhir kelapa. Apel yang hijau sebesar bola tenis itu terasa kesat di lidah, tapi menenangkan perut. Pisangnya manis karena matang sempurna. Saya harus berjuang sedikit dengan kelapa. Tempurung saya lubangi dengan pisau lipat. Dari lubang itu, saya bisa minum air kelapa yang menyegarkan, manis asam elektrolit murni sebanyak seperempat liter.  Setelah itu, saya memecahkan tempurung dan mendapatkan daging kelapa yang putih dan tebal—namun sungguh diperlukan tenaga rupanya untuk menyantapnya.

Saya cukupkan kelapa itu setelah menghabiskan sepertiganya. Saya tinggalkan telur untuk seseorang yang boleh jadi juga lapar yang akan mencapai puncak ini besok dinihari.

Saya menggabungkan salat dan menjadikan plakat alumunium itu sebagai tempat sujud. Angin lalu menguak awan sedikit, memberi pemandangan di sisi timur Rinjani, lereng cokelat muda yang terjal dan lapangan pasir tanpa vegetasi.

Pukul setengah dua, air minum saya tersisa kurang dari seperempat botol. Ditambah madu dan perut kenyang, itu bekal saya kembali ke ketinggian 2.700 meter.

 ***

Awan-awan menemani saya turun. Sesekali mereka begitu tebalnya sehingga saya hanya bisa melihat jalan satu dua meter ke depan.

Awan-awan juga membawa hujan. Saya menadahkan mulut dan mencecap air langsung dari langit. Tenggorokan yang serak karena debu dan lekat oleh madu mendapatkan obatnya.

Perjalanan turun, seperti selalu saya alami, berlangsung cepat. Saya melewati batu-batu besar yang digrafiti, jalan setapak kerakal, kerikil dan pasir, dan akhirnya pasir hitam dan abu-abu yang gembur. Ada perasaan tidak percaya bahwa beberapa jam sebelumnya saya melewati jalan yang sama.

Pukul empat sore, saya bertemu lagi dengan pohon tumbang gerbang lereng itu. Pohon dan daun-daun, juga edelweiss di sekitarnya terlihat basah dan segar. Debu diikat air dan saya meluncur turun dengan hanya meninggalkan jejak di pasir. Segera pula saya tiba di lorong sempit dan curam tempat awal dan akhir jalan pasir, jembatan beton di atas jurang lahar, dan hupp, ujung perkampungan tenda-tenda. Baru saya tahu lokasi mata air itu. Turun sedikit ke lembah di bawah itu dari pertigaan ini rupanya.

Ujung tanjakan ini sungguh ramai oleh para pendaki yang baru datang. Ini kampung internasional. Saya mendengar dialek Inggris-British, suara cempreng seseorang dalam Bahasa Mandarin, logat Sasak yang lucu, mungkin Prancis, dan Belanda-Jerman juga.

Meski berhenti untuk melepas sepatu dan membuang pasir dari dalamnya, saya sudah lelah untuk bersosialisasi. Hanya senyum saja dan sedikit bangga, I was there, you know, on top of Rinjani, all alone.

Seorang porter membawa banyak botol berisi air minum dalam keranjang. Ia baru kembali dari mata air. Saya berbicara padanya, dan Anto setuju menjual 5 botol untuk saya.

Saya tiba di tenda saya lagi tepat pukul setengah lima dan disambut hujan lebat. Ridho dan Arif memasak makan malam dan mereka mengundang saya makan di tenda hijau mereka. Indomie Soto Banjar Limau Kuit saya agak kebanyakan air, tapi tak apa. Ini makanan hangat dan nyaman di perut.

Senja di atas Segara Anak. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Senja di atas Segara Anak. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Kami masih sempat menyaksikan senja merah setelah hujan berhenti. Saya segera kembali ke tenda saya sendiri dan berganti pakaian. Masih punya tenaga untuk merapikan tenda, merebus air, dan membuat kopi.

Sudah lama kopi tidak memiliki hubungan lagi dengan kapan saya mau tidur. Jadi, begitu segelas Nescafe itu habis, saya merebahkan diri dan segera terlelap.

***