Pesta

Neng

Posted on

Di ketinggian 12 meter dari tanah, kami berkenalan. Dia bergelantungan, dan saya tengah duduk di satu palang sambil memeluk besi siku 3 mm yang menegakkan menara itu.

“Di rumah, oleh mama ulun dikiau ‘Neng’,” katanya seraya menjauhkan dadanya dari kernmantel[1] 10 mm static yang dipanjatnya.

Saya ingat, kami tidak bersalaman. Ia sedang sibuk dengan segala peralatan yang melekat di badannya. Jarak kami juga terpisah sekitar satu meter lebih. Saya pun terikat pada palang yang lebih tinggi dengan webbing[2].

Ulun, dalam Bahasa Banjar,  adalah sebutan untuk diri sendiri bila berbicara dengan yang dianggap lebih tua, lebih senior, atau pada suasana yang lain dan level komunikasi yang lain, untuk menunjukkan sayang dan penghormatan kepada lawan bicara—meskipun si lawan bicara tidak lebih tua atau tidak lebih terhormat.

‘Dikiau’ means ‘called’, atau ‘dipanggil’, ‘disebut’  dalam Bahasa Indonesia.

***

Sebelumnya  dia dengan lincah memanjat tali statis ini hingga bertemu saya di ketinggian itu. Begitu sampai gilirannya, ia terlihat tidak ragu sedikit pun. Memasang ikalan kermantel, membuat simpul prusik, mengaitkannya kepada karabiner[3] yang terpasang di harnessnya, dan mulai memanjat naik.

Dalam 4 menit ia mencapai tempat saya duduk, yang sejajar dengan simpul pada kermantel itu. Ini batas yang harus dipanjatnya. Dari sini ia harus turun kembali.

“Halo,…” sapa saya.

“Halo bang,” katanya sambil mengatur napas.

“Istirahatlah sebentar,” kata saya. “Silakan liat pemandangan dulu.”

Di tebing alam, itu salah satu hadiah  kegiatan ini, melihat pemandangan dari ketinggian.  Dari ketinggian,  biasanya, pemandangan biasa-biasa saja pun bisa indah. Di tebing panjat buatan, ini bisa sedikit buat bergaya. Boleh berfoto atau mengambil foto. Tapi di pertengahan dekade 90-an orang belum senarsis sekarang, hehehe.

Istirahat juga perlu, sebab setelah itu ada kegiatan yang kritis. Pergantian alat, dari alat untuk naik ke alat untuk turun dalam posisi bergelantungan adalah seperti pesawat yang akan lepas landas atau akan mendarat.

Neng harus menyelipkan  sedemikian rupa tali yang dipanjatnya  ke figure of 8—ini descender, alat untuk turun. Sesuai namanya, figure of 8 berbentuk seperti angka 8. Ia dibuat dari logam kromoli, yaitu logam campuran  alumunium dengan baja. Alat ini sanggup menahan beban hingga 3.000 kg. Berapa beratmu, sobat?

Setelah tali terpasang di lingkaran besar figure, Neng harus memasukkan lingkaran kecil figure ke karabiner yang terhubung di harnessnya, kemudian menahan tali, melepaskan simpul prusik, dan barulah merosot turun.

Risiko salah dalam aktivitas melawan gravitasi, ya jatuh. Bisa langsung ke tanah. Bisa cukup beruntung  hanya tergantung dalam posisi yang sangat tidak nyaman—tak bisa naik dan tak bisa turun dan bila tak cukup kuat membebaskan diri, harus dibantu seseorang.

Itu alasan kenapa saya ada di titik itu. Menjaga kemungkinan itu. Anak baru biasa gugup dan mudah panik. Kepanikan yang menjadi sumber celaka.

***

Neng mengatur napasnya. Ini prusikingnya yang kedua. Karena itu ia cukup tenang dan kami bisa bercakap-cakap sedikit. Ia senang ikut program ini dan sudah lama ingin mencoba memanjat di dinding.  Ternyata kami bersekolah di SMP yang sama. Ia masuk SMPN 3 Kenanga tepat 6 tahun setelah saya lulus.

“Jadi Pa Ipit masih ada ya?”

“Ada Bang.”

Pak Pitrani guru olahraga kami, yang menciptakan tim basket perempuan paling hebat di dunia. Tim SMPN 3 Kenanga, yang dimotori antara lain oleh Enny Septiana—kawan yang saya ingin temui di Den Haag dalam perjalanan bermobil ke Mekkah suatu hari nanti—tidak punya lawan yang seumuran. 

Ketika saya menjadi Ketua OSIS di sekolah itu, yang menjadi lawan Enny, Ernawati, Ellyati, Ellyrahmi (bukan kembar, tapi memang kakak adik), Annie Rahmawati, Novitasari,  Tina Rosalina, Noor Fitriah, Gusti Masniah, … (kalian yang tak tersebut boleh isi sendiri titik-titik itu ya, maafkan saya) adalah tim kampus berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin dan Banjarbaru.  Mereka sudah taklukkan STIEI, Stienas, AMIK, Uvaya, dan tim fakultas-fakultas Fisip, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dari Universitas Lambung Mangkurat. Kalau tim-tim SMA saja, hehehe, nyaris tidak dihitung oleh Pa Ipit dan mereka.

Kami memang tidak selalu menang dan juara. Tapi disegani sudah pasti. Mungkin juga kawan-kawan itu sudah dapat tiket untuk masuk sekolah lanjutan yang ngetop.

Namun demikian, menurut catatan saya, trofi yang mereka menangkan pertama kali bukan sebagai tim basket, tapi sebagai tim voli—barangkali kejuaraan bola voli antar SMP-SMA untuk ulang tahun SMAN 2 Mulawarman.

Pa Ipit juga melatih tim basket cowok Braboetz—klub amatir yang ketika itu menyumbang banyak pemain untuk tim basket Kalimantan Selatan. Karena itu tim basket perempuan SMPN-3 juga berlatih bersama mereka.

Pa Ipit juga mengajar dan melatih judo,  gulat,  menulis diktat, serta tukang ngomel.  Ada kawan kami Masripah, termasuk Ernawati, kawan sekelas saya yang main basket itu,  yang berprestasi pula di judo hingga ke tim Pra PON Kalsel. Tetangga saya, Surya Saputra yang punya  deretan prestasi internasional di gulat, adalah salah satu anak latihnya.

Bagaimana kami dengan para cowok? Hehehe, pada usia remaja awal itu, perempuan memang lebih dahulu mencapai kematangan. Kami baru berkembang pesat ketika berada di sekolah menengah atas. Dengan dasar-dasar yang sangat baik di SMPN 3, hampir semua kawan laki-laki hari itu menjadi seseorang di sekolah lanjutannya—kalau tak jadi atlet (minimal jadi pemain kunci di tim basket di kelasnya), jadi aktivis kegiatan ekstrakurikuler, dan beberapa yang hebat seperti Dheny Eko Ratmono terus menjadi bintang karena kecerdasannya.

Ulun sempat belajar judo wan sidin…”

“Wow. Hebat.”

Jadi itu rupanya rahasia kelincahan dan kelenturan tubuhnya.

***

Setelah menyelipkan tali statik di lingkaran besar figure of 8, Neng segera memasukkan lingkaran kecil figure itu ke karabiner yang menghubungkannya dengan harness, alat yang menahan pinggang dan kakinya hingga bergantung dengna posisi duduk.  Tangan kanannya kemudian menahan kencang bagian tali yang ada di bawah pinggang.

Dengan tangan kanan menahan tali kencang ke bawah, Neng menciptakan friksi besar pada figure dan tali. Friksi atau daya gesek itu cukup untuk menahan bobotnya sementara tangan kirinya melepaskan simpul prusik dari tali.

Melepas simpul prusik sangat gampang. Tinggal buka kuncinya dengan ibu jari, dan tarik ikalannya yang jadi kunci itu secara mendatar. Lepas sudah ikalannya.

Tapi hal yang gampang ini sering jadi masalah. Pemula sering menarik ikalan prusik tidak mendatar, tapi justru menariknya ke arah bawah. Padahal, bila diberi beban ke bawah sejajar tali, prusik justru semakin mengikat. Bukankah tadinya kita bergantung di simpul itu?

Itu yang biasanya membuat panik. Simpul tak lepas, dan tangan yang menahan tali untuk bertahan di ketinggian itu pun makin lemah.

Well, Neng melakukannya persis seperti yang diajarkan.  Ia  bahkan sudah mengalungkan ikalan kermantel kecil yang baru dilepasnya ke leher. Malah, sebelum turun, ia memundurkan badannya dari tali, figure,  dan karabiner.

Menjauhkan badan itu prosedur standar. Saya senang ia melakukan itu. Berarti ia memperhatikan instruksi dan mendengarkan instrukturnya.  Ini untuk menghindari, terutama, bila rambutmu panjang kawan, jangan sampai rambut itu masuk dan terjepit dalam komponen gerak segala peralatan untuk meluncur turun ini. Bila itu terjadi, sungguh berabe.

Dan Neng mengendurkan tali yang ditahannya dengan tangan kanan. Rem friksi dibuka, pelan ia merosot turun sambil tersenyum. Saya mengawasinya sampai ia menjejak tanah dengan selamat.

Ia melambai dengan tangan kiri dan tersenyum lagi. Saya melambai dan tersenyum juga.

***

Jalanan kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang pulang kuliah. Sebagian dari mereka berhenti dan menonton kegiatan kami.

Dari ketinggian itu, saya melihat mereka, siswa-siswa SMKN-4 para peserta program pelatihan kepencintaalaman ini. Selama program ini berlangsung, saya tidak pernah mendengar ia dipanggil seperti yang dikatakannya saat tergantung di latihan prusiking itu.  Gadis yang posturnya setinggi saya itu selalu disebut dengan nama depannya. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya ‘Neng’ diantara 30-an kawan-kawannya sesama peserta. 

Entah mengapa, di dalam hati saya memutuskan bahwa baik pada kesempatan-kesempatan tertentu di hari-hari yang akan datang, atau kapan pun, saya akan selalu ikut cara mamanya di rumah, memanggil gadis itu demikian: ‘Neng’.

Saya belum tahu kenapa saya memutuskan itu. ***

 

[1]Tali khusus untuk beraktivitas di ketinggian, sila lihat en.wikipedia.org/wiki/Kernmantle_rope

[2]Pita dari anyaman nilon untuk berbagai keperluan. Khusus untuk panjat tebing ada webbing tubular yang kuat. Selanjutnya bisa dilihat di en.wikipedia.org/wiki/Webbing

[3]Karabiner, carabiner, atau cincin kait. Digunakan untuk mengaitkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. en.wikipedia.org/wiki/Carabiner

 

Pintu Kemana Saja

Posted on Updated on

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memutuskan bahwa kita tak bisa lagi bersama?

Bagi saya 25 tahun. Plus 6 bulan. Jadi, setelah enam bulan tanpa kabar, dan dua kali dilarang memberi kabar, saya akhirnya membuat keputusan tentang Day.

“Saya kan sudah bilang, semuanya terserah Bang Opi,” kata Yanthi, sekretaris di Bisnis Indonesia, kantor di sebuah ruko di Stal Kuda tempat saya sering menumpang menulis berita dan menghabiskan kopi mereka.

Tak ada yang bisa saya katakan lagi, entah kepada Yanthi, Dj, Rachmad, atau Adi, atau keluarga Haji Amir yang turut prihatin. Memang, sungguh menyedihkan bila memutuskan antara cinta dengan logika. Dalam perjalanan hidup saya, kedua hal ini jarang sekali akur.

Mengikuti cinta, maka seluruh langkah hidup saya biasanya jadi terbalik-terbalik dan mesti dijalani dengan penuh improvisasi. Semuanya menjadi petualangan yang tak terelakkan. Mengasyikkan, tapi juga kerap melelahkan.

Zaman remaja silam, saya punya energi yang sangat berlebihan untuk mengejar cinta, bahkan hingga separo dunia. Hari ini, dengan tetap di Balikpapan saja pun saya sudah kerepotan.

Patuh pada logika, maka saya mengalami hidup yang paling aneh juga. Datar, sedatar flat line di monitor jantung orang yang sudah meninggal. Membosankan sehingga satu jam saja seperti sehari dan justru membuat saya ingin mati. Hidup jadi tanpa tujuan dan hambar. Nothing exciting.

Paling tidak begitulah perasaan saya. Meski sebagai jurnalis hidup itu bisa selalu penuh aksi. Tetapi tanpa cinta di dalamnya, seperti sayur tanpa garam.

Pepatah sayur tanpa garam itu mungkin diciptakan oleh seorang vegetarian seperti Adi. Saya juga suka sayur, walau bukan vegetarian, dan bisa menerima pepatah itu.

“Apa yang Bang Opi putuskan?” tanya Yanthi.

“Sebenarnya bukan saya yang memutuskan,” kata saya. “Tapi Day sendiri.”

***

Konon, perempuan memang menyukai bad boy. Sampai tahap tertentu, mereka memandang dengan penuh minat lelaki petualang, mungkin tinggi tegap dengan rambut gondrong dan kulit terbakar matahari, berpakaian urakan dan berani mengambil jalan berbeda dari yang ditempuh orang lain.

Orang lain ini maksudnya yang bukan badboy. Yang menjalani hidup normal seperti pegawai negeri sipil dari hari Senin sampai Sabtu. Atau karyawan perusahaan swasta yang rapi jali dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Walaupun biasanya mereka juga bisa gila mulai Jumat sore hingga Senin dinihari.

Lebih kurang begitu. Badboy bisa sangat mempesona.

“Memesona,” koreksi Rachmad.

“Ya, mempesona,” tegas saya. ‘Memesona’ itu bentuk yang baku yang tercantum di dalam kamus. Tapi sebagai badboy, saya bilang bentuk baku tidak enak dipakai dan merepotkan.

Pendeknya, tokoh penjahat bisa sangat seksi. Tentu tak pula harus berbodi bak juara kompetisi bodi bagus seperti yang digelar L-Men. Hitler tentu dipuja bagai dewa oleh Eva Braun. Bung Karno bininya banyak—eh, apa Bung Karno termasuk badboy?`Hehehe, tergantung kepada siapa kita bertanya, tentu. For me, he is a badboy. Kalau gak, gak merdeka Indonesia.

Dan harus saya akui, saya tak hapal banyak tokoh jahat untuk dijadikan contoh. Atau yang saya kenal, kalian tidak, seperti John Dilinger, atau Clyde, Tibo Taka-Tibo Wete, Budiardjo, Evelyn, atau yang sangat terkenal seperti Anas Urbaningrum, Lord Voldemort, Sherrif Nottingham, Sauron, Darth Vader, Eminem, Jose Mourinho, Cristiano Ronaldo, Kapten Tack, Lex Luthor, Baron Araruna, …

Bagi saya, badboy itu juga bisa pribadi yang kontras. Bayangkan, dengan penampilan seperti rocker, dengan rambut panjang riap-riapan, atau gimbal ala Bob Marley dan mata setengah mengantuk, ia menjadi yang kesepuluh muncul di masjid berkapasitas 200 orang saat salat Jumat, atau memimpin salat berjamaah para makmum yang masbuk di masjid Istiqamah yang sejuk itu.

Gadis-gadis Amerika pernah menyukai si Renegade Lorenzo Lamas sekalian dengan motor besarnya. Meski tidak tahan dengan kelakuannya, banyak cewek tergila-gila dengan Stiffler, terutama barangkali perempuan setengah baya.

Mereka pun melonjak-lonjak histeris melihat anak-anak Duke of Hazard, yang suka mengebut dengan General Lee, sebuah Chrysler yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bo dan sepupunya pun memperdaya Sheriff Coltrane dengan tertawa-tawa.

Saya lupa nama tokoh yang diperankan Owen Wilson dalam Shanghai Noon, film yang dibintanginya bersama Jackie Chan. Film itu stereotip sekali menampilkan Roy O Bannon—ah, itu dia namanya—yang diperankan Mr Wilson, sebagai koboi yang ceroboh, seenaknya, bahkan pintar-pintar bodoh, suka nekat tapi penuh spontanitas, tapi juga begitu mudahnya menggaet wanita. Bahkan, Putri Pei Pei sendiri jatuh cinta dengan koboi tengik itu.

Di fiksi Indonesia, juga ada tokoh Roy dalam Balada Si Roy yang dikarang Gola Gong, yang juga sering diceritakan sebagai tukang pembuat patah hati anak orang.

Dan saya selalu ingat deskripsi Mochtar Lubis tentang Wak Katok yang tinggi besar dan berkulit gelap, tapi punya istri muda yang cantik sekali—dan saya adalah si Buyung di cerita itu, hehehe, yang bertemu istri Wak Katok di sungai di hutan yang menghanyutkan. Emmmhh…sila baca Harimau Harimau, sobat.

Hehehe…dan ini agak keluar dari konteks dan saya hanya ingin menuliskan saja; contoh kontras diperlihatkan film-film superhero. Dalam identitas aslinya, para pahlawan super kerap digambarkan sebagai orang aneh, kurang pergaulan, konservatif, atau rendah diri dan rendah hati sekaligus.

Tapi bila ia sudah berganti kostum menjadi Spiderman, Peter Parker yang minderan itu bisa berayun-ayun dari satu gedung ke gedung lain dengan Mary Jane Watson di dalam pelukan.

Lebih kurang sama dengan Lois and Clark, atau Lana and Clark saat masih di kampung Smallville. Di harian Daily Planet, Clark Kent, meski berbadan besar, namun lucu gagu dengan kacamata, peragu dan sering terbata-bata, dan kerap digambarkan berada di bawah agresivitas, kegesitan, dan ambisi Lois Lane.

Tapi Clark-lah sang Superman, yang biru, yang melesat lebih cepat daripada pesawat terbang, yang punya kelebihan yang paling diinginkan lelaki sedunia, mata sinar x yang bisa melihat sesuatu meski di balik batu, eh baju, eh kelambu, hehehe—walau tetap tak bisa melihat perasaan wanita.

Hmm, Peter Parker itu fotografer atau pewarta foto, Clark Kent itu jurnalis, dan ada Godam, superhero kelahiran Bandung yang nama di KTP-nya adalah Awang dan pekerjaannya juga wartawan.

Saya Supernovi, dan tercipta dari Supernova yang terlihat dalam pengamatan astronom Johannes Keppler di tahun 1604. Hwarakadah. Bukan kebetulan, saya juga jurnalis, dan juga pewarta foto.

(Bagian superhero hingga supernovi dan supernova ini saya melantur—walaupun faktanya nyata, hehehe),

 Dalam kehidupan nyata hal ini sering lebih aneh daripada fiksi. Kalian tentu ingat Ariel dan Cut Tari bukan. Saya bukan penggemar mereka dan sedapat mungkin menghindar dari mereka dan karya-karyanya, apalagi hanya berita tentang mereka. Tetapi mereka berdua contoh yang sempurna. Apalagi Ariel juga dihubungkan dengan Luna Maya, dengan Aura Kasih, mungkin dengan yang lain-lain lagi.

Bagaimana suami Cut Tari masih bisa berkata tetap menerima istrinya yang sudah berzina dan mengkhianatinya? Jayus? Dan fans Ariel masih mengelu-elukan dia sekeluar dari penjara. Bukankah seharusnya orang seperti dia dihukum rajam, dilempari dengan batu sampai mati.

 Hoekkkk. It is suck.

 (Bagian ini saya tidak melantur). Tuhan mungkin hanya ingin memperlihatkan bahwa ia pengasih dan penyayang. Siapa yang bertobat akan diampuni dan diberi kesempatan lagi.

Apakah Ariel bertobat? Maaf, saya tak tahu. Saya bukan Tuhan dan bukan penggemar Ariel, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, dengan apa pun nama bandnya dan musik yang dimainkannya. Howgh.

 ***

 Nah, sampai tahap tertentu, saya adalah jawaban seru dari masalah-masalah Day. Saya punya solusi walapun belum terbukti bagaimana menangani bocah lelaki yang mulai dewasa (Day ingin anaknya ikut naik gunung dan tidak hanya merendam diri di kamar main playstation).

Saya ada, setidaknya ada suara, mendengarkan, memberi komentar yang diharapkan, memberi penghiburan, dan melakukan hal-hal yang absurd seperti membuatkan kopi dari jarak 1.300 km, menyajikannya, dan meminumnya bersama-sama.

“Kopinya enak. Kopi apa ini?” tanya Day.

“Oh, kopi atjheh. Dikasih Bang Alex kemarin,” kata saya.

Saya tahu, di sana, di Bogor, Day minum Nescafe kopi tubruk sambil merokok menthol. Saya belum sempat mengirim kopi atjheh yang saya janjikan kepadanya.

Untuk kopi atjheh itu, saya yang mengikuti perjalanan sejauh 2500 km pergi pulang di mobil Bang Alex, ketua Pengda IOF (Indonesian Offroad Federation) Nangroe Aceh Darussalam mengelilingi Serambi Mekah. Pulangnya saya disangu 2 kg bubuk surga itu.

Menurut saya, bagi Day saya jadi teman diskusi, juga lawan debat yang sempurna di antara bulan Agustus, September, dan Oktober. Kami pun melihat dunia dengan kacamata kami sendiri dan membuat rencana-rencana untuk mengubahnya. Atau tepatnya mengubah diri kami sendiri untuk menghadapi perubahan dunia.

Those days were really amazing days, hari-hari yang luar biasa dan saya menjalaninya nyaris seperti bermimpi.

 ***

Barangkali, ya, itulah dia, seperti mimpi. Datanglah kemudian waktunya untuk bangun, sadar, dan melihat kenyataan. Day lebih dulu, bangun, sadar, dan membuat keputusan. Dan saya baru saja terbangun.  

Kenyataan bila bersama saya ada tembok tinggi dan jalan terjal, mulai dari Day harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan hukum yang rumit, sampai hal-hal teknis yang ribet seperti mau tinggal dimana di Balikpapan, anak-anak sekolah dimana, dan seterusnya sementara saya sudah biasa dengan ketidakmapanan saya, sudah cukup menyadarkan perempuan 38 tahun ini bahwa bagaimana pun apa yang diraihnya hari ini akan terasa nikmatnya bila disyukuri—meskipun menjadi istri dari suami yang punya istri lagi.

Bersabar dengan keadaan itu, kata banyak hadis Muhammad, berarti sudah menggenggam tiket untuk satu tempat di surga.

Petualangan bersama saya, walaupun mungkin mengasyikkan, tapi juga penuh risiko dan bahaya, sekali lagi seperti kata saya tentang Ariel tadi, bahayanya ada di dunia juga di akhirat.

Day mungkin bisa menikmati petualangan-petualangan kecilnya bersama saya, “Tapi itu artinya saya membuat anak-anak saya dalam bahaya,” kira-kira begitu katanya.

Bukankah Superman tak bisa bersama dengan Lana, atau juga Lois? Spiderman berjanji untuk tak lagi mendekati Gwen. Frodo dan Bilbo Baggins, begitu juga Gandalf, tak pernah kawin,

Karena itu seorang kawan, si Risdan yang selalu nyaman berada di antara orangutan (Pongo pygmaeus, baik yang morio atau pun wurmbii) menulis demikian, “bersyukurlah bila wanita menginginkan kemapanan, sebab kemapanan masih bisa diupayakan. Bila yang diinginkan ketampanan, … ”

Mungkin karena itu Risdan selalu bahagia bersama orangutan (hehehe) dan pernah pula menjadi pembela orangutan bersama WWF di Surabaya.

Oleh dokter bedah plastik tentu saja peribahasa Risdan sangat bisa didebat—dan tentu ada harganya pula perdebatan itu. Bila operasi memancungkan hidung Rp10 juta, saya lebih senang menghabiskannya dengan mendaki Rinjani saja.

Atau mengajak seseorang (naaahhhh… siapa nih) ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Jadi begitulah akhirnya sobat. Cinta dan logika sering tidak jalan bersama. Apalagi dalam hal cerita saya dan Day ini. Saya pun belajar menerima dan bersyukur juga.

Saya sudah bangun. Sudah bikin kopi atjheh yang sedap itu, dan sudah bikin rencana-rencana lagi. Saya pasang iklan yang provokatif di dalam hati, “Dicari, seseorang untuk berbagi petualangan. Tentu saja, harus perempuan…”

Pintu kemana saja, kembali dibuka. ***

Shizuko

Posted on Updated on

Shizuko Rizhmadani naik gunung bersama 26 temannya. Jadi mereka semua 27 orang. Wuih. Itu ramai sekali. Tak akan kesepian. Tak akan tak ada teman bicara. Yang jelas tak ada kesulitan saat ingin mengurus izin pendakian.

Tidak seperti Shizuka yang akhirnya menikah denga Nobita di serial Doraemon, Shizuko pulang dengan terbujur kaku sebagai mayat. Saya yang juga pergi ke tempat yang sama jadi bertanya-tanya, pada kemana 26 temannya? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan gadis 15 tahun itu?

Saya jadi ingat mata Day yang memandang saya khawatir.

“Yakin sendirian, Odi?” Hanya dia di dunia ini yang memanggil saya Odi itu. Abah dan Mama, yang memberi saya nama, menyebut saya Upi.

“Setidaknya sampai kaki gunung kan ada kamu,” kata saya.

Selain naik mobil ribuan kilometer, suatu saat saya ingin naik gunung bareng Day—saat dia sudah punya banyak waktu luang. Gunung wisata saja tak apa seperti Bromo. Ya petualangan kecil bersama anak-anak dan wanita mungil ini.

“Tapi kan buat dapat izin mendaki minimal harus bertiga…” tambahnya.
“Nanti saya cari teman. Biasanya ada saja solidaritas sesama pendaki,” kata saya.
“Baiklah, hati-hati ya,” pinta Day sebelum pulang dan kami berpisah. Saya menggenggam tangannya dan mengecup keningnya. Saya akan baik-baik saja dear.

Tukang parkir, yang rupanya memperhatikan kami, berkomentar. “Ibu gak ikut naik, Pak?”
Ehh…hehehe. Saya tersenyum saja. “Enggak kang, dia mengurus bisnis dan anak-anak.”

Nyatanya, saya nyaris gagal mendaki hari itu. Pukul empat sore, atau satu jam sebelum pengurusan izin pendakian ditutup, saya belum punya teman. Banyak yang datang, tapi hanya untuk mengurus izin, bukan untuk langsung berangkat.

“Kami tidak akan izinkan mas jalan sendirian. Kalau ada apa-apa, itu yang kami khawatirkan,” kata petugas itu.
“Yang diizinkan naik hari ini, sudah pada berangkat pagi tadi. Kalau mas datang lebih pagi, bisa bareng mereka,” tambahnya.

Aduh. Kecuali soal izin, semua hal yang saya baca tentang Gede-Pangrango tak bercerita soal ini.
Izin itu bisa diurus dari mana saja dari seluruh dunia karena badan pengelola membuka pendaftaran lewat website. Tapi aturannya sama, minimal bertiga. Saya yang mengajukan izin sendirian tak di-approve alias izinnya di-pending sampai saya ketemu minimal 2 teman lagi.

Waw, bagaimana ini. Tadi bicara sebagai jurnalis kepada Kepala Balai yang berwenang juga tak mempan.
“Kalau Mas Novi pulang dalam kantong mayat kan malah gak bisa nulis pengalamannya…”

Waduh, serem banget. Saya veteran pendakian banyak gunung lain yang medanya lebih ganas dan berbagai petualangan jenis lain. Gunung-gunung kami di Kalimantan jauh lebih seram, Pak. Gunung Besar atau Halau-Halau itu, meski hanya 1.800 meter dari permukaan laut, tapi perlu perjalanan 5 hari pergi pulang di medan yang terjal dan curam. Perjalanan ke Gunung Besar itu membuat trekking ke Semeru, termasuk  Gede-Pangrango ini, tak ubahnya jalan-jalan ke bukit-bukit di Lembang.  

Tak dianggap, hedeehhh.
Hmm, saya mencoba duduk tenang dan memperhatikan lagi.

Saya juga tak berniat jalan sendirian. Saya memang datang sendirian, tapi umumnya, seperti di Semeru, selalu ada kawan yang bermaksud sama dan kita dapat mengurus izin bersama-sama sebagai sebuah kelompok.

Cara mendaftar adalah dengan mengisi formulir untuk setiap orang, lalu melampirkan fotokopi KTP atau tanda pengenal yang sah lainnya, lalu membayar retribusi masuk Rp2.500 per hari dan asuransi Rp2.000 per orang. Jadi bila bertiga untuk 3 hari izin itu bernilai Rp27.500.

(Saya tahu kemudian, ada calo yang bisa dan biasa mengurus izin itu—untuk orang yang kepepet seperti saya atau mereka yang agak malas dengan semua urusan administrasi—dengan meminta Rp30.000 per izin).

Tak disangka, di gunung yang didatangi rata-rata 300 pendaki per hari dari pintu Cibodas ini saja saya kesulitan mencari teman.

Tunggu, kan syaratnya KTP saja yang paling penting di situ yang saya tak punya. Dan bukankah para pendaftar itu, ada yang mendaftar hingga untuk 10, bahkan 20 orang lebih, dan semua membawa fotokopi KTP untuk semua orang itu.

Tuhan yang Maha Baik, Tuhan para pendaki mengabulkan doa saya yang hari itu melewatkan salat zuhur dan hampir kehabisan waktu salat asar.

Datanglah dua pemuda ini, satu berperawakan kecil dengan jaket merah. Satunya lagi tegap dengan jaket kulit hitam. Firdaus si jaket merah. Freddy si polisi, anggota Brimob yang bermarkas di Kelapa Dua. Firdaus kuliah di Universitas Pakuan, Bogor, dan anggota klub pencinta alam di kampusnya. Firdaus dan Freddy teman main.

Yang lebih penting, mereka mendaftar untuk 10 orang, meskipun untuk mendaki pada hari yang lain.
“Buat akhir pekan nanti kang, kan hari libur ke jepit tuh,” kata Daus.

Pukul 16.50 soal izin yang awalnya ribet dan mengesalkan dan mendebarkan itu akhirnya beres. Daus memakai fotokopi KTP dirinya dan Freddy untuk menolong saya.

“Mana carriernya?” tanya petugas.
“Titip di warung depan pak,” kata Daus mantap. Hehehe.

Carrier itu tas ransel besar. Tingginya lebih dari anak umur 6 tahun. Juga beratnya bila penuh isinya. Inilah cara paling aman dan nyaman bagi pendaki untuk membawa semua barangnya yang banyak.

Firdaus dan Freddy mengantar saya hingga ke pos pemeriksaan izin tersebut. Ironisnya, untuk mereka sendiri, izin tak didapat. Kuota pendakian untuk akhir pekan itu sudah penuh.

“Bagaimana kalau bareng saya aja hari ini. Bekal tinggal tambah sedikit. Peralatan semua ada…” tawar saya.
“Hehe, makasih banyak kang, gak enak sama kawan-kawan,” kata Daus. Betul kau, anak muda. Salam saya untuk kawan-kawanmu. Bila ada yang bisa saya bantu nanti, jangan sungkan minta.

Daus dan Freddy kembali turun di tikungan depan beringin itu. Kami saling berpelukan dan saling mendoakan. Pesan untuk hati-hati saling disampaikan.

Saya dengar dari Daus kemudian, mereka tetap dapat izin itu, tapi lewat calo.

Memang selalu ada jalan ke gunung. Kawan saya si fotografer sableng Ardiles Rante juga bertutur, kalau ke Gede Pangrango, banyak sekali jalan tanpa harus lewat pintu masuk Cibodas, Gunung Putri, atau Salabintana. Memang tak resmi, tak tercatat, tak ada asuransi, dan risiko tanggung sendiri.

***

Shizuko tentu tak mengalami itu, kesulitan mengurus izin pendakian. Jumlah mereka yang besar, mungkin juga atas nama lembaga, sekolah, pastilah memudahkan semuanya.

Tapi kita semua juga paham—dengan segala niat baik—bahwa tujuan harus ada izin itu tentu bukan mempersulit, tapi untuk menyaring. Bahwa yang punya kualifikasi saja yang boleh mendaki.

Kematian Shizuko di gunung yang ramah seperti Gede-Pangrango adalah tanda tidak ada kualifikasi itu. Pada Shizuko semestinya dia tidak lolos tes kesehatan, bila itu ada nanti di Cibodas—sebagaimana sudah diterapkan di Tumpang sebelum mendaki Semeru. Ah, saya nyaris gagal juga mendaki Semeru karena kata Bu Dokter Ratih di Puskesmas Tumpang tekanan darah saya terlalu tinggi.

Kawannya Shizuko yang banyak itu mungkin akan lolos tes kesehatan, tapi jelas tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi di Gunung.

Bagaimana tak ada orang dewasa yang lebih berpengalaman bersama mereka?
Itulah yang kami ajarkan di klub pencinta alam-klub petualangan. Senior-senior yang baik tidak hanya menikmati menyuruh juniornya push up 500 kali, tapi juga menerangkan kenapa mereka perlu 500 kali push up itu.

Ada pelajaran tentang keadaan umum dan cuaca di hutan gunung, sungai, rawa, apa yang harus dibawa dan tidak, lalu bagaimana menyusunnya di dalam ransel, apa itu hipotermia dan penyakit di gunung lainnya, juga kecelakaan yang mungkin terjadi dan cara melakukan pertolongan, cara menentukan arah, apa yang boleh dimakan dan yang sebaiknya tidak di makan, hingga bagaimana membuat keputusan dari keadaan dan kejadian-kejadian, …

Norman Edwin memberi saran bagi awam dan pemula, bila ingin mendaki gunung atau turut serta pada kegiatan alam bebas, cobalah bergabung dengan klub pencinta alam yang bersungguh-sungguh pada kegiatannya itu.

Sebab Gunung hanya ramah pada yang mempersiapkan diri dengan baik, Saudara.

***

Norman tewas di Aconcagua dalam usia 37 tahun. Persiapannya tidak main-main. Ini proyek besar yang disebut Seven Summit Expedition atau Perjalanan Penaklukkan Tujuh Puncak Dunia. Tapi mengapa Norman tewas juga? Seperti Anatoli Boukreev dan ratusan nama yang terukir di tonggak pemujaan Sherpa di kaki Everest?

Saya selalu percaya bahwa sesungguhnya tidak ada kejadian yang kebetulan. Sebuah kejadian besar dibentuk oleh serentetan kejadian-kejadian kecil. Kematian Shizuko adalah akibat dari ketidaktahuan, ketidaksiapan, dan mungkin ketidakpedulian.

Norman dan Didik Syamsu tewas karena dihantam badai. Boukreev diterjang longsoran salju di Annapurna I. Norman kembali ke Gunung setelah menjalani operasi frostbite (radang beku) yang membuatnya kehilangan sejumlah jari. Saat kembali itulah badai mengurungnya dan Malaikat Maut menjemputnya. 

“Itulah takdir,” kata Day sederhana. Ia orang yang sudah banyak melihat kematian.

Takdir, memang dibentuk dari rangkaian kejadian. Dalam rangkaian-rangkaian itulah kita berusaha, kita berjuang. Dalam rangkaian-rangkaian itu juga kita memilih.

Mungkin, Shizuko memang memilih mati di gunung. Seperti Gie yang tewas di Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Shizuko meninggal menjelang ulang tahunnya yang ke-16. Kepada seorang teman, Shizuko sempat berkata, “Enak kali ya meninggal di gunung.”

Omongan yang menarik dari seorang yang (umumnya) baru akan memulai hidup.

Dan karena Shizuko sudah memilih, kita pun sudah sampai di akhir. Semua hal yang sebelumnya terjadi menjadi tak relevan lagi untuknya. Semua kejadian itu hanya relevan bagi kita. Sebagai cermin, sebagai model, sebagai contoh. Sebagai pengingat.

“Orang bisa mati dimana saja, Odi,” kata Day. Benar belaka. Jumlah remaja yang tewas di jalan raya atau karena narkoba jauh lebih banyak.

Saya tersenyum merinding. Shizuko benar. Tewas di Gunung memang lebih keren, tapi cukup merepotkan. Dan sekali lagi, sesungguhnya takdir itu bisa diubah.

Gede-Pangrango gunung yang ramah dengan Lembah Mandalawangi dan bunga-bunga edelweis, bunga putih bersih yang seolah mekar selama-lamanya dan terlihat sungguh romantis di bawah temaram sinar bulan. Karena itu ia disebut juga bunga lambang cinta abadi.

Kita harus pulang hidup, sehat, dan bugar untuk menceritakan itu kepada orang-orang yang kita cintai.

“Ini fotonya,” kata saya. (Mmm I love you so much, dear).

Day melihat foto-foto edelweis di Mandalawangi yang saya buat dengan antusias. Foto telah membuat edelweis sang bunga abadi menjadi bunga abadi yang sesungguhnya.

“Kapan-kapan saya pengen ke sini,” katanya. Matanya bersungguh-sungguh.

Nah… 

Jalan ke Mekkah

Posted on Updated on

 

Saya senang sudah mengunjungi Gie. Baik di tempat ia berpisah dengan nyawanya di lapangan pasir dan batu kelabu di ketinggian 3.776 meter di puncak Gunung Semeru atau di tempat bermainnya di Gede-Pangrango.

Yang lain yang saya ingin kunjungi juga Norman Edwin dan Didik Samsu di Aconcagua di perbatasan Cile-Argentina. Dan seperti yang lain-lain juga, saya ingin bersimpuh di tempat di mana Abu Bakar, Umar, dan Usman, juga Ali dan para sahabat lain menguburkan Muhammad dan mencium batu hitam yang mulia itu.

“Mari buat perjalanan ini asyik,” kata Day. Setiap orang bisa saja berziarah, katanya, tapi gak setiap orang melakukannya dengan naik mobil dari Barcelona.

Barcelona?

Tentu saja start dari Balikpapan. Sebelumnya, hmm, mau menyeberang ke Jawa atau justru ke Pontianak saja? Dari Pontianak ada kapal ke Singapura kan. Atau menyeberang ke Surabaya lewat Banjarmasin, kampung halaman kami tercinta—yang sekarang semrawut, tapi tetap tercinta.

 “Tak ada kapal ke Singapura dari Pontianak,” kabar Bujang Martihar,  kontraktor yang tangan dinginnya membuat jalan negara mulus dari penyeberangan di Piasak-Tayan hingga batas Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah di Lamandau. Bang Bujang, sahabat baru tapi sudah bak teman puluhan tahun.

Jadi naik kapal dari Banjarmasin ke Surabaya. Dari Surabaya ke Malang. Ke Bromo-Semeru nanti saja. Tapi terus ke Jogja, Bandung, hingga Jakarta, lalu Merak-Bakauheni-Palembang sampai Riau. Mana lebih dekat menyeberang ke Batam lalu Singapura?

“Gak kepengen terus ke Medan dulu, ke Perbaungan—baru dari dari Belawan menyeberang ke Penang?” tawar Day. Dari Penang, lalu menyeberang Semenanjung Malaya—itu sudah separo Malaysia. 

“Kita kunjungi teman-teman, juga basis-basis perantau Banjar. Kalau di Jawa okelah bisa dilewati, tapi kalau di Tembilahan-Riau, Perbaungan-Medan-Deli Serdang, di Perak-Perlis, Pathani, kan sayang dilewatkan begitu saja…” kata Day lagi. Ai ai, dari mana ide itu?

Lalu melintasi Asia Tenggara (Thailand, Laos, Burma), Asia Selatan (Pakistan, India, Iran, Irak)…Saya bayangkan kami melewati jalan-jalan Delhi dengan Shah Rukh Khan menyanyikan Chaiya Chaiya, dan Kuch Kuch Hota Hay saat melintasi Agra.

Barulan masuk ke Eropa dari Balkan, sampai di Sarajevo-Parisnya Eropa Timur, ke utara dikit ke Romania, dan keluyuran di Eropa Tengah, Swiss, Berstechgaden, Austria, berfoto dengan latar belakang gunung karang Eiger, ngebut di autobahn di Jerman hingga Belanda (saya dan Day ingin mengunjungi Enny dan beberapa teman yang tinggal di Denhaag) turun ke selatan ke Belgia-Perancis  setelah sebelumnya curraheee, napak tilas pertempuran yang dijalani Easy Company, kompi dari resimen infanteri lintas udara Ke 506 Amerika Serikat dalam Perang Dunia II—tontonlah  Band of Brothers, kawan—diantaranya kota-kota Arnheim, Eindhoven, Carentan, Bastogne, sampai Alsace di perbatasan Italia-Prancis—baru masuk Spanyol buat mengenang 700 tahun kejayaan Islam di Andalusia—salat di Masjid Al Hambra—dan sebelumnya lagi tinggal di timur Spanyol, di Catalan, di Barcelona.

Yup, Balikpapan, Banjarmasin, Barcelona.

O Aku ingin berdansa denganmu, my dearest Day, di Plaza Catalonia dengan iringan lagu Canon in D dari Johann Pachelbel yang dimainkan dengan biola, lalu Nothing Else Matters yang dimainkan Metallica bersama San Franscisco Philharmonic Orchestra.

Lalu bersenang-senang riang dengan lagu Barcelona om Fariz RM—mungkin dari playlist di GT B2710 ini.

Quiere darme su direccion, senorita?  Ku ingin kau ajak serta malam ini.
Como se pronuncia oh juwita. Ingin kunyatakan cinta sepenuh rasa.
Hasta la vista mi amor. Penuh cinta…

Emm, kami tidak tidur di mobil malam itu.

(Boleh gak ya? Kan gak asyik tiba-tiba dirubung Satpol PP Pemkot Barcelona karena dianggap bikin ribut di tempat umum. Kartu pers saya yang lumayan sakti di Indonesia pasti tidak berlaku di sini, hahaha. Ah lagu Om Fariz itu lagu bagus dan tentang kota mereka, pasti semua yang dengar suka).

Mau berapa lama di Barcelona? Itu scam city, banyak copet dan penipu, kata Conor Woodman di National Geographic. Ya hati-hatilah. Masa gimbal gini takut—-jadi masih gimbal ni yaa. Casing tetap. Ok.

Dan ngapain lagi kalau bukan ke Nou Camp dan ikut jadi saksi El Barca menekuk Los Blancos si sombong Real Madrid.

Mungkinkah saat itu Messi masih ada di Barcelona? Mungkin masih. Jadi pemain senior dengan usia 34 tahun, dan entrenador Xavi Hernandez masih menurunkannya sejak dari menit pertama bila ia dalam kondisi fit.

Di mix zone saya pengen foto bareng dengan Jose Manuel Pinto yang jadi pelatih kiper, hehehe. Juga dengan Puyol, Carles Puyol jadi apa ya. Manajer Umum barangkali. Idola saya memang bukan striker dan pemain yang ganteng, tapi selalu kiper atau bek.

“Kalau saya mau foto bareng Fabregas,” kata Day. Waduh…saya jadi berpikir untuk menumbuhkan cambang dan kumis juga—lo, itu kan Pique. Eh, belum tentu FranCesc Fabregas masih main di Barcelona loh, my dearest Day.

“Cemburu yaaaa…”

Saya tak bisa mengelak. I do, I swear, by the moon and stars on the sky. Lebay, hahaha, tak perlu juga kau bersumpah Nov.  Kemana All 4 One sekarang ya?

Setelah beberapa hari baru lanjut ke selatan dan menyeberang Selat Gibraltar—Jabal Tharik, tiba di Maroko, menjelajahi Alzajair dan Gurun Libya di Afrika Utara ke arah timur hingga Mesir, belok kiri kembali ke Asia lewat Terusan Suez, aduh, lewat mana masuk Jazirah Arab yaa, apa menyeberang Laut Merah saja seperti Musa langsung ke Jeddah? Atau terus aja ke Yordania, mampir di Al Quds Yerussalem di Palestina baru ke Arab Saudi lewat utara dan terus ke selatan hingga Madinah, baru Mekkah.

Ah, keren sekali. Road to Mecca versi kami, dengan segala kenangan kepada Mohammad Assad si Leopold Weiss (wartawan petualang penulis) dan guru saya pak Abdul Muthim yang juga suka buku itu.

Oh, bukankah Assad juga dikuburkan di Spanyol. Wah, dimana yaa. Harus ketemu beliau sebelum menyeberang ke Afrika.

Keren banget. Berapa lama itu? Berbulan-bulan, pasti. Berapa mahal itu? Jelas lebih mahal daripada naik haji dengan pesawat terbang.

“Tapi tanpa biaya akomodasi yang besar,” cetus Day. Kami kan bisa tidur di mobil, dan di mobil  sudah disediakan semua keperluan tidur, ada velbed, ada tenda, ada sleeping bag.

“Kecuali di Barcelona, saya tak mau tidur di mobil di Barcelona,” katanya lagi. Saya juga tak mau, hehehe. Apalagi setelah dansa di Plaza Catalonia dan makan malam hidangan laut di Escriba di Poble Nou. 

Konsumsi? Baru diomongin tadi. Makanan tersedia sepanjang jalan. Kalau tak ada atau meragukan, kami masak sendiri. Ada rice cooker di mobil, ada kompor, ada gas butana. Ada cooler box untuk sayur dan ikan. Ada Indomie Soto Banjar Limau Kuit, ada corned, ada telur.

Setidaknya sampai ujung Malaysia tak ada yang perlu dikhawatirkan soal makanan.

Bukankah tadi kami juga mengunjungi teman-teman dan membuat teman-teman baru. Barangkali juga mampir di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia atau di Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk bertemu Yang Mulia Duta Besar dan Berkuasa Penuh … atau Pak Konsulat …

Naaa, untuk ini kayaknya kartu pers Antara saya bisa menunjukkan kesaktiannya, hehehe. Mereka semua kan teman-teman Kang Oe yang sekretarisnya judes tapi baik itu.

Hmm, bagaimana setelah selesai ziarah haji ini ya, apa masih mau pulang lewat darat lagi? Apa masih ada energinya ya?

Wah, kalau pulang dengan pesawat pasti disambut pakai lawang sekepeng (pintu gerbang, hahaha) dengan doa semoga menjadi haji mabrur oleh anak-anak.

Apa mau lanjut ke Afrika? Kan tinggal mutar balik tu kembali ke selatan, ke Teluk Aden, lalu menyeberang Laut Merah ke Ethiopia atau Somalia. Mungkin jalan terus sampai Afrika Selatan seperti Charley Boorman dan Ewan McGregor. Bajak laut Somalia mungkin sudah diberantas kali yaaa…

Atau cukup menjelajah jazirah ini, ke selatan dulu ke Yaman, baru ke Oman, dan finish di Dubai, Uni Emirat Arab—pengen liat menara itu, Burj Khalifa.

“Masa mau jalan terus. Pulang dong dear,” kata Day. Ya ya, pulang. Tapi dari mana?

“Ya dari Dubai itu bolehlah. Mobil dikirim pulang dengan kargo sampai Balikpapan lagi. Pulang pakai pesawat.  Aku ingin tidurrrr sampai Singapurrr …” kata Day lagi.

Mencurigakan. Kenapa tidurnya gak sampai Balikpapan, gitu? Mungkin ada hubungannya dengan mal yang sambung menyambung di Orchard Road itu kali ya? Hehehe. Baiklah, separo perjalanan ini dia juga menyetir bukan.

Hmm, iyalah. Itu Bunda Putri (hahaha) sudah bertitah. Walaupun masih rencana, tak boleh dibantah. Dan akuilah kalian, para lelaki, walaupun kadang terlihat terpaksa mematuhinya, memenuhi keinginan orang-orang yang kita cintai adalah salah satu alasan kenapa kita hidup.

I swear, by the moon and the stars on the sky. Demi bulan, demi bintang, demi langit malam. Nah, ini baru betul sumpahnya Nov. Hehehe.

Walaupun saya belum membuat sinkronisasi untuk perjalanan ini. Kapan harus mulai berangkat bila ingin tiba di Mekkah tepat waktu? Kapan El Classico Barcelona vs Real Madrid—jangan-jangan giliran Madrid yang jadi tuan rumah dan kami harus ke Santiago Berdebu, eh, Bernabeu itu, stadion terakhir yang saya ingin lihat di dunia ini, bahkan bagi saya lebih mulia lapangan rumput Stadion Parikesit, Stadion Persiba Balikpapan  yang menjelma jadi sawah bila hujan itu.

“Ya belum tentu juga kita ke Santiago Bernabeu. Jadwalnya kan sudah jelas biasanya, ” Day menenangkan. Ia tak habis pikir mengapa saya selalu emosi bila berbicara tentang Barcelona versus Real Madrid.

“Lagipula, bukankah lebih manis kemenangan yang direbut di kandang lawan, bukan,”  tambahnya. Oh may, I love you so much, babe.  

Untuk jadwal kayaknya Day aja deh yang atur. Saya mengurus mobil saja, sebuah Daihatsu Hiline yang sederhana tapi komplet. Apa dan bagaimana mobil ini, I ll tell you later, buddy. Saya ceritakan nanti, sobat.

Well, perjalanan, kawan, seperti air yang mengalir. Air yang deras mengalir biasanya  jernih meski ia sudah melalui banyak hal. Sampai ia menguap naik ke langit dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan.

Saya selalu ingin seperti itu. Deras mengalir sampai panas matahari menjemput.

Saat itu tiba, mungkin kita bisa ketemu lagi, Gie. Saya mungkin berpisah lagi dengan Day untuk sementara. Tapi my dear, setelah panas dan dingin dunia yang pun kelak kita jalani bersama, I love you, as always, hari ini di sini, atau nanti di kehidupan yang lain.  ***

Karena Saya Bukan Dul

Posted on Updated on

    Saya menunggu-nunggu Day di sekolah kami, SMAN 7 yang tercinta, Juli 1990. Di papan pengumuman siswa baru yang diterima, dalam kertas buram yang distensil, namanya terpampang jelas: Day… 38,56.
    Angka di belakang namanya itu adalah besaran Nilai EBTANAS Murni (NEM), yaitu akumulasi dari 6 nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional untuk tingkat SMP: PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dalam penerimaan siswa baru saat itu, panitia mengurutkan mulai dari pendaftar dengan NEM tertinggi hingga NEM terendah dengan batas akhir daya tampung sekolah itu. SMAN 7 saat itu punya daya tampung 200 siswa baru setiap tahun untuk dibagi ke dalam 5 kelas satu—ketika itu sebutan untuk kelas terendah masih kelas satu (sekarang kelas sepuluh ya? Kelas X).
    Saya bangga. Nama Day berada di urutan duapuluhan. Meskipun NEM terendah di ujung sana, bila saya tak salah ingat, adalah 35. Rata-rata NEM siswa yang diterima adalah 37. Jadi, dia di atas rata-rata bukan.
    Hari itu, SMAN 7 Banjarmasin, yang sebelumnya bernama SMPP 28, Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (sekolah kejuruan apa itu ya) sudah menjadi sekolah favorit para orangtua dan idaman para siswa SMP. Hampir semua mereka berusaha memasukkan anaknya atau dirinya ke sekolah ini dengan berbagai cara.
    Yang menjadikannya favorit adalah prestasi sejumlah siswa dan guru di berbagai bidang lomba dan kegiatan pelajar di macam-macam tingkatan. Tahun-tahun itu, hampir setiap Senin, ada saja piala, atau trofi, atau piagam tanda prestasi dan kemenangan siapa dan tim apa saja dari SMAN 7 yang diumumkan setelah upacara bendera.
    Para guru kami di sini memang mendahului zamannya. Saat itu belum didukung ide bahwa justru di kegiatan ekstrakurikuler sering siswa menemukan jatidirinya dan melakukan hal positif yang disukainya—yang jadi bekal untuk jadi ‘orang’ kemudian.
    Di SMAN 7 tidak. Kendati tidak diwajibkan, juga meski kegiatan ekstra di situ ketika itu tidak sebanyak seperti di SMA Patra Dharma di Balikpapan sekarang (sampai 30 ekstrakurikuler, seingat saya, gile), oleh Pak Kepala Sekolah Pak Misera Gumberi (semoga Allah melapangkan kubur beliau dan mengampuni dosa-dosanya), yang menyapa kami dengan sebutan “Anda semua …” dan menganggap kami setara dengan dirinya seperti di sekolah-sekolah di Barat— setiap siswa di dorong untuk bergabung minimal dengan satu kegiatan ekstra.
    Saya menghabiskan dua tahun di sekolah ini untuk bermain dan serius di ekstrakurikuler: main basket, mengurusi koperasi sekolah, menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah paling terkenal, tetap nyambung jadi Pramuka, belajar lebih spesifik hal pertolongan pertama di Palang Merah Remaja (PMR), serta belajar main drum dan bass gitar—meski untuk dua keterampilan musik ini saya tak pernah tampil di depan lebih dari 10 orang.
    Karena banyaknya pemain basket di sekolah kami itu, saya sudah cukup puas jadi pemain inti di kelas kami saja. Pernah juga masuk daftar pemain SMAN 7 untuk sebuah partai ujicoba, sudah berkostum biru biru kuning itu dan siap di pinggir lapangan, tapi tak pernah diturunkan pelatih—Pak Rosehan, guru olahraga kami, hahaha.
    Pelatih suka pemain yang penuh aksi, dan 2A2.2 hanya punya satu pemain seperti itu. Adalah si Bosse Anugrah Yusran yang jangkung dan memang pindah dari SMAN 5 ke SMAN 7 murni karena ia jago basket.
    Memang, hanya Ade, panggilan Bosse, yang secara resmi masuk Tim Sekolah. Walau 2A2.2 masih punya Noviannor (iya bener, teman SMP yang mengenalkan Day itu) yang juga jago shooting—dan dia berani menerobos sampai bawah ring. Untuk tembakan 3 angka ada Ketua Kelas kami si Jack Andy Ruhelman. Andy juga bisa jadi center yang handal, terutama bila si jangkung Bosse dijaga ketat lawan.
    Gaya permainan saya memang tak cocok untuk Tim Sekolah. Saya point guard tapi lebih suka menembak dari jauh saja, shooter. Benar-benar hanya shooter, bukan slamdunkers. Karena badan saya tergolong kecil saat itu, dan saya juga berkacamata, saya memilih tidak menerobos pertahanan di bawah ring. Itu bukan bagian saya.
    Saya beroperasi kebanyakan dari sisi kiri lapangan saat menyerang—atau sayap kanan lawan. Memang masih di area dua angka. Tapi dengan latihan shooting satu jam saja sehari, kami sudah menguasai dunia level kelas itu. Bayangkan bila kita berlatih 4 atau 5 jam sehari yaaa.
    Tim 2A2.2 solid karena saling percaya meski tidak punya pemain bintang—Bosse, yang pernah jadi kawan sebangku saya, hehehe dan dia malasnya minta ampun, tidak dianggap bintang di 2A2.2 terutama karena ia sendiri minta demikian. Kami bermain kolektif. Kami bermain dengan komunikasi, saling berteriak di lapangan apa yang harus dilakukan di bawah komando kapten tim, Captain Jack.
    Karena itu siapa saja bisa jadi pemain keempat atau kelima. Bahkan kami kerap bermain dengan Nisa, atau Sesanti Lestari sebagai guard. Yup, Nisa ini anak perempuan yang tomboy dan sangat atletis. Jangan coba-coba menantang Nisa kalau cuma modal nyali, hehehe. Sesanti Lestari, emmm, rasanya karena Jack naksir dia deh, hehehe.
    Oh iya, lupa saya. Nisa masuk Tim Sekolah yang wanita. Saya dan Nisa bersepupu. Saya punya satu sepupu lagi di kelas sosial, Alfi, yang atlet semipro, seorang kiper andal untuk PS Angkatan Darat.
    Paduan dari semua itu, kelas dua biologi atau 2A2.2, lalu 3A2.2, adalah pemegang hegemoni bolabasket SMAN 7 1990-1991. Kami sudah mengalahkan tim dari seluruh kelas yang ada saat itu, ditambah tim dari kelas-kelas di sekolah lain (yang ada di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3…). Kami berlatih (maksudnya bermain sesama kami) tiga atau empat kali seminggu dan bertanding serius (melawan tim kelas lain atau tim kelas dari sekolah lain) di hari Jumat atau di hari Minggu pagi dalam pertandingan home (di lapangan biru di sekolah kami) maupun away (di lapangan sekolah lawan atau pun di tempat netral).
    Saat kami 3A2.2, anak-anak kelas satu pernah bergabung membuat sebuah dream team versi mereka untuk mengalahkan kami. Tapi sekali lagi, pengalaman bermain bersama hampir 2 tahun (saya dan Noviannor malah hampir 4 tahun), ketenangan, dan rasa humor, mengalahkan mereka.
    Aduh, belum lagi pertandingan-pertandingan kami yang lain, cerita DASI majalah yang menghebohkan itu dan Maoelidhien Mohammad dan kru-nya yang militan, Sofi dan upacara bendera, Nana dan PMR, OSIS dan Franky yang ribet, A Jiaw dan dua kali kepanitiaan OPSPEK yang seru, perpustakaan, puasa Ramadan, guru-guru yang bersahaja tapi luar biasa, tukang kebun dan penjaga malam, pencok Adul dan bakso Ujang dan kantin sekolah oleh Paman Usup dan …
    Hehehe, betapa engkau, my dear Day, membuat saya hidup dan terus bergerak meski dari kejauhan sana.
    Dan itulah sedihnya bagi saya. Day tidak pernah muncul di sekolah yang luar biasa ini. Saya menunggu hingga hari terakhir pendaftaran ulang, bertanya kepada staf Tata Usaha (TU) yang membantu panitia pendaftaran.
    “Tidak ada, pacarmu tidak mendaftar ulang di sini,” ledek Pak Nasrudin Susan–ups, dia bukan staf TU, dia bosnya.
    Aduh, kemana Day?
    Maafkanlah saya sobat, juga engkau, my beloved Day. Ini masih akhir 80-an dan baru awal 90-an. Ini juga Banjarmasin (walau ketika itu masih asri sekali). Belum ada ponsel. Telepon rumah pun baru ada di beberapa keluarga kaya. Day dan saya merenda kisah dan kasih dengan surat-surat yang kalau tak disampaikan sendiri, dititipkan teman terpercaya (yang semuanya teman dekat Day). Saya bahkan tidak tahu alamat persisnya rumah Day (untuk mengirim surat lewat pos) meski bisa mengira-ngira dimana rumah yang mendebarkan itu adanya.
    Masalah sesungguhnya, saya bukan Dul, si AQJ yang di umur itu sudah memastikan dia punya pacar dan mampu mengantar pulang si doi dengan mobil mewah miliknya sendiri—meski dalam perjalanan pulang kembali ke rumah tak mampu mengendalikan mobil mewah itu dengan benar dan menjadi penyebab kecelakaan yang menewaskan 5 orang seketika dan seorang lagi di rumah sakit.
    (Day menunjukkan pada saya lokasi kecelakaan yang menewaskan 6 orang tersebut ketika kami melewatinya di tol itu).
    Well, hari itu saya masih anak tanggung umur 14 tahun yang penuh rasa minder dan keragu-raguan (terutama dalam urusan lawan jenis), yang dibesarkan Nenek yang gampang marah walau baik hati. Yang menyembunyikan diri dibalik catatan harian dan bekerja jadi loper koran.
    Hari ini, saya memaafkan diri sendiri dan menyalahkan zaman kendati kata-kata what if, jika, seandainya, tak menolong.
    Day menghilang, Juli 1990. ***
  • Pejuang Cinta

    Posted on Updated on

    Saya belum tahu mau diisi apa blog ini. Rasanya akan mengalir saja apa adanya. Sudah lama bikin rencana dan tulis konsep, eh gak jadi-jadi juga. Jadi ya, hari ini, sambil diingatkan terus oleh Dahlan Iskan–sorry, bukan idola saya, tapi bekas bos saya, hahaha–ya kerja kerja kerja.

    Dahlan mungkin tidak ingat pernah punya anak buah seperti saya–walau kita pernah bertaruh Rp500 ribu bahwa Radar Banjarmasin akan mengalahkan Banjarmasin Post dalam 3 tahun dalam indikator yang kita sepakati bersama.

    Dahlan mengeluarkan sendiri uang Rp500 ribu itu dari dompetnya. Oleh teman-teman, uang itu kemudian dibingkai sekalian dengan surat taruhannya.

    Saya tidak tahu bagaimana nasib uang itu kemudian. Saya terlanjur pindah meninggalkan Radar Banjar.

    Tapi Dahlan betul, sebab manusia itu dinilai dari karyanya, dari apa yang diperbuatnya dengan nyata–kalau cuma niat saja, hanya Tuhan ma malaikat yang tahu, ada pahalanya, tapi tak dirasakan manfaatnya. Padahal, orang juga harus bermanfaat bagi lingkungannya, keluarganya, bangsanya, negaranya. Sudah begitu barulah dia sempurna jadi orang, setidaknya di mata lingkungannya, keluarganya, bangsanya, negaranya itu.

    Saya ingin menyempurnakan diri di mata orang-orang terdekat dulu. Bukan apa-apa, atas nama cinta, mereka mengenakan syarat yang paling rendah dan sesungguhya paling mudah dipenuhi.

    Ada tulisan di bak truk, Pergi Karena Kerja, Pulang Karena Cinta. Hebat, lebih canggih dari status twitter manapun.  (Kutipan favorit saya hari-hari terakhir ini, dari bak truk juga, “Kutunggu Jandamu” cihui…)

    Bukankah menyenangkan, menjadi pekerja cinta? Atau ada istilah yang lebih romantis dan pernah dipopulerkan televisi swasta, jadilah pejuang cinta. Para pejuang cinta, kalo berkumpul, jadilah laskar cinta. Oleh Ahmad Dhani, jadi lagu, jadi karya. Sekali lagi, kerja itu.

    Tapi saya tak mau juga jadi kayak Freddy Mercury. Apa pun yang berlebihan tak baik, kata Brian May, sahabatnya. Too much love will kill you. Mubazir itu saudara setan. Kebanyakan cinta, Abdul Qadir Jaelani jadi pembunuh. Si Dul bikin mati 6 orang sekaligus dan 1 orang lagi tewas di rumah sakit dengan mobil yang semestinya belum berhak secara hukum dikemudikannya.

    Dalam format lain, tentara juga membunuh karena cinta, baik karena cinta dirinya sendiri, cinta keluarganya, cinta bangsa dan negaranya. Mungkin teroris penembak polisi itu juga begitu. Buat cinta pada perjuangannya.

    Hehehe, kok jadi ngomongin cinta, sok filsafat lagi kayak Kho Ping Hoo, hahaha. Ah, semoga Asmaraman S Kho Ping Hoo dilapangkan dan diterangkan kuburnya. Hasil karya beliau itu membuat saya jadi pendekar juga (hehehe, gini-gini saya pendekar Mersudi Patitising Tindas Pusakaning Titising Hening yang betako itu).

    Cross cultural understanding yang diajarkan Kho Ping Hoo dalam cerita-ceritanya bikin saya jadi gampang punya teman entah orang Hokkian atau Kwang Saw (Guangzhou), atau suku-suku lain dari daratan besar Cina.

    Kho Ping Hoo mengajarkan, menulis fiksi pun harus pakai riset, mesti paham sejarah, jadi harus banyak baca dan harus mengenal lingkungan juga.

    Beliau itu juga guru saya menulis deskripsi yang pertama.

    Nah, tak bisa tidak, akhirnya sampai kepada Michael Chricton. Dua orang ini tak jauh berbeda di mata saya. Cuma saja, Chricton pakai daftar pustaka dan glossary atau daftar kata. Kho Ping Hoo menjelaskan langsung di dalam cerita.

    Diantara mereka, ada Arswendo Atmowiloto, ada Seno Gumira Ajidarma, ada Bubin Lantang, Gola Gong.

    Itulah para pemahat jiwa, yang kemudian diisi oleh Soe Hok Gie, Norman Edwin, Iwan Fals, Metallica, dan berderet-deret nama yang karyanya merasuk hati dan meninggalkan jejak di pikiran, ucapan, dan tindakan saya.

    Nah, jadi ingat Pak Harto deh. Itu kan judul bukunya dia, hahahaa. Juga semboyan hidupnya , mikul dhuwur mendhem jero, yang kata Budi sahabat saya juga panduan hidup kebanyakan orang Jawa yang lain.

    Baiklah, cukup dulu ngalor ngidul hari ini. Nanti akan terlihat sendiri polanya. I love you, day, I swear.

    ← Back

    Pesan Anda telah terkirim

    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan
    Peringatan

    Peringatan!