Pesta
Reuni Kopi

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung.
Suara tawa itu berasal dari kelompok yang duduk di depan tenda-tenda tersebut. Percakapan dalam Bahasa Inggris bercampur Melayu, dengan Bahasa Inggris juga berlogat Melayu.
Haikal, Fidzi, Conrad, dan satu yang saya lupa namanya, anak-anak muda di pertengahan 20-an yang dalam liburan singkat 5 hari dari negara kota Singapura.
“You have dinner already?” tanya Fidzi dalam Singlish, Singaporean English. Fidzi yang gempal, yang bercambang, dan mengingatkan saya pada Piaw di Segara Anak.
Ini mungkin basa-basi Singapura, karena mereka semua sudah makan, dan tentu tidak bisa begitu saja meminta para porter itu menyediakan makan untuk seorang tamu yang tidak diduga. Saya bilang saya belum makan malam tapi tak usahlah khawatir, I have my own meal for dinner, saya punya bekal sendiri.
Setelah berbicang ramai, dimana saya bercerita tentang serunya perjalanan melintasi dinding Gunung itu sendirian dan menjadi pelari lintas alam di Balikpapan Hash House Harriers (juga biasa lari sendirian walaupun maksudnya berlari bersama klub itu supaya ramai berbarengan), saya pamit undur diri untuk menegakkan tenda, makan malam, dan istirahat.
“You need help Novi?” tanya Fidzi lagi.
“Oh, thank you very much, Fidzi. I will call if I need to,” senyum saya.
Tenda saya di ujung tenda-tenda mereka, bersandar di sedikit dinding tanah untuk sekadar mengurangi terpaan angin. Saya berganti pakaian, memasak makan malam, dan segera berusaha memejamkan mata. Agak susah sebab sisa-sisa adrenalin masih melimpah di dalam darah, yang membuat mata saya nyalang dan otak memutar kenangan-kenangan sepanjang jalan itu.
***
Para pemuda Singapura itu hanya mendaki sampai rim Senaru ini. Hari ini Minggu pagi, dan besok Senin pagi mereka sudah harus kembali ke negaranya. Sama saja dengan saya sebenarnya. Saya ditunggu penerbangan pukul 10.00 hari Senin ke Surabaya dan lanjutannya ke Balikpapan.
Tapi sebelum waktu itu tiba, masih ada satu hari penuh untuk menikmat perjalanan dan alam, dan membuat banyak pertemanan.
Pagi itu, Fidzi membagi kopi dan burger sarapannya dengan saya. Setelahnya saya masih menambah lagi dengan kopi buatan sendiri.
Langit cerah berwarna biru terang, dan matahari mulai bersinar tajam. Seperti semua orang setelah tujuan tercapai, saya agak mengendur. Saya memberi hadiah bagi diri sendiri sedikit waktu untuk bersantai. Saya menonton saja para porter yang disewa Haikal dan rekan-rekannya membereskan camping ground mereka.
Sebelum lupa, saya minta air dari persediaan mereka yang banyak. Saya diberi sebotol besar yang belum dibuka segelnya. Saat mencapai rim ini tadi malam, saya ingat, air saya tinggal setengah botol plastik itu.
“So when are you going down?” tanya Haikal.
“At 9 o clock,” jawab saya. Pemuda ini keturunan Pakistan atau India. Lulusan Universitas Nasional Singapura.

Para porter memberitahu bahwa perlu 4-5 jam jalan kaki dari rim hingga gerbang pendakian di Senaru. Itu artinya bila saya harus mencapai Mataram saat malam, saya harus sampai di Senaru selambatnya pukul 2 siang bila ingin mengejar angkutan umum.
Mulai jalan pukul sembilan pagi tampaknya memang pas—walaupun saya tetap menyiapkan rencana cadangan.
Para rombongan mulai turun pada pukul 8 pagi. Saat saya menyeruput kopi dari gelas yang kedua, lewatlah Manggila, Sam, dan Chloe. Reuni kecil ini dirayakan dengan lebih layak (walau bagi sebagian orang mungkin tidak). Kami minum kopi dari gelas saya, dan makan biskuit bayi, biskuit andalan saya sejak Indonesian 4X4 Expedition ke perbatasan utara Kalimantan tahun lalu.
“Find me in London, and I promise you we will have coffee in the most cozy place ever,” kata Sam. Sure I will, someday. Sam hanya menjanjikan tempat tampaknya, sebab soal kopinya sendiri, ohh, Nusantara ini tak ada bandingnya. Siapa tahu malah kopi bawaan saya dari Toraja, atau Aceh, atau kopi jagung Martapura itu yang akan kami nikmati di London.
Kalian tahu bukan, Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, juga The Lost Symbol, secara khusus menuliskan kebiasaan ngopi tokohnya Robert Langdon setiap pagi setelah berenang 50 putaran di usia 45 tahun. Kopinya itu, tulis Daily Mail mengutip narasi di Angel and Demon, is a coffee made from hand-ground Sumatran beans. Pada kesempatan lain di The Lost Symbol, diceritakan Langdon menggiling sendiri bubuk kopinya, juga dari biji kopi Sumatera. Jadi, hmm, saya yakinlah, itu pasti kopi Atjheh.
Kemudian Haikal dan kawan-kawannya yang pamit. Dari anak-anak muda Singapura itu, Fidzi yang banyak bicara dan Haikal yang menjadi teman baik. Kata Haikal, ia ingin berkunjung ke Balikpapan untuk berlari bersama Balikpapan Hash House Harriers, terutama pada saat ulang tahun ke-40 BH3 nanti 14 Juli 2015.
“I will run with Singapore Hash first,” janjinya.
Saya pun merencanakan untuk datang ke Singapura pada 6-16 Juni atau sebulan sebelumnya. Pada tanggal itu, Singapura menjadi tuan rumah SEA Games dan saya akan mencari kesempatan sedemikian rupa agar bisa meliput event itu. Yang jelas, kita janjian ngopi di Starbuck di Orchard Road di antara tanggal-tanggal itu. Haikal akan membuat kapan tepatnya sesegara saya mendapat kepastian tugas liputan tersebut.
Well, saya sudah membuat janji minum kopi di dua tempat berbeda sepanjang pagi yang cerah penuh rahmat itu.
***
Sebelum turun saya sempatkan untuk sekali lagi melihat ke selatan, ke arah danau dan puncak Rinjani. Saya membuat foto lagi di bawah langit yang biru cerah dan matahari yang mulai terik. Pagi itu, pada pukul sembilan, tinggal sebuah tenda orange di Plawangan Senaru. Dari pintunya yang terbuka, seorang lelaki bule tidur-tiduran. Orang itu dari negeri yang jarang melihat matahari mungkin.

Pukul sembilan lewat 10 menit, perjalanan turun yang riang dimulai. Saya masih mengikuti jalan setapak dengan sampah di jalan yang tidak terlalu jelas di lereng yang berbatu. Ada semacam lapangan luas dan landai dengan vegetasi rumput kekuningan. Mungkin di sini orang terserah saja mau ambil jalur yang mana, asal menuju ke shelter di bawah itu yang terlihat jelas dari sini. Di akhir lapangan, jalan menurun terjal lebih kurang 10 meter, lalu agak landai lagi sampai 250 meter berikutnya, turunan terjal lagi hingga sampai deretan pohon pinus yang rindang yang menaungi shelter tersebut.
Pukul 10 tepat saya tiba di shelter Plawangan Senaru di ketinggian 2.643 meter dari permukaan laut. Rupanya ini shelter resminya. Yang di atas sana, yang di gigir kawah disebut pos ekstra. Dari pos ini, terulur jalan turun yang sangat jelas, berwarna cokelat kemerahan. Jalannya mulus. Kalau mau, bisa berlari.
Saya cobalah berlari. Gembira dalam kebebasan dan kesehatan. Saya melayang turun di tikungan, meloncat-loncat di undakan, dan terbang lagi di jalan yang lapang. Novi, free, and happy. Saya sih inginnya no-fee, tapi tak bisa bro, hehehe. Segala sesuatu ada harganya.
***
Catatan setahun kemudian:
Seseorang menyarankan kisah ini diikutkan lomba. Satu syarat lomba itu, saya harus menampilkan tulisan berikut ini, hehehe: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Demikian. Saya belum berhasil bertemu Haikal dan Sam lagi. Kesibukan alasannya. Apalagi setelah Haikal bekerja untuk Disney yang membuatnya kerap pergi pulang ke Amerika. Tapi kami masih sering kontak, terutama lewat facebook.
Sampah Mengalir Sampai Jauh

Di rimba Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah. Bagian kelima, bro.
Setelah menyisir danau selama 45 menit. Jalan setapak di sisi danau ini menuju ke bukit yang ditumbuhi alang-alang berwarna kuning di sana. Dari sini terlihat jalan itu naik mendaki. Bukit itu sendiri seperti tanjung besar yang menjorok ke tengah danau. Tiga pemancing yang melewati saya tadi kini berhenti di dekat kaki bukit itu, dan mulai kembali memancing.
Saya melompati batu-batu besar di tepi danau dan mulai mendekati mereka.
“Itu ya, jalan ke Senaru?” saya bertanya kepada yang terdekat.
“Oh, … masnya mau ke Senaru. Bukan mas. Itu cuma ke atas bukit itu aja. Tidak ada jalan lagi. Masnya kelewatan…” katanya.
“Kelewatan? Di mana?”
“Itu mas, dekat dua orang yang mancing di sana,” tunjuknya.
Dua orang yang ditunjuk itu saya lewati kira-kira 5 menit sebelumnya. Wah.
“Oke, terimakasih yaaa…”
Di belakang 2 pemancing yang tinggal di tenda biru berdiri hutan yang terbakar. Pohon-pohon bergaris tengah seukuran galon air dan paha orang dewasa tampak sengsara dengan cabang-cabang yang hitam dan daun-daun kering meranggas. Saya tidak melihat ada jalan setapak.
“Kalau dari sini sedikit ke atas mas, jalannya. Nanti ketemu,” kata salah satu dari mereka. Keduanya mendaki Rinjani dan sampai di Segara Anak bukan lewat Sembalun maupun Senaru, melainkan dari Torean.
Baiklah. Setelah 5 menit berikutnya berjalan di atas abu dan arang, saya bertemu jalan itu. Melintang dari barat ke timur, dan di arah ketinggian, berbelok ke kanan.

Awal jalan itu di tepi danau ternyata saya lihat dengan jelas sebelumnya. Saya bahkan memotretnya. Sebelum ketemu dua pemancing dari Torean ada tumpukan batu di tepi danau. Saya memotret tumpukan batu tersebut tanpa tahu kenapa. Saya lihat di foto, dari tempat saya berdiri memotret, terlihat jelas muara jalan itu, kemudian jalannya sendiri, berupa garis memanjang putih di antara abu dan batang-batang pohon yang kehitaman.
Tapi saya malah kelewatan.
Begitulah gunung kadang-kadang, Saudara. Atau begitulah kadang-kadang kita di gunung, brader.
***
Dari Segara Anak, jalan ke gigir atau rim Rinjani di sisi Senaru berada dalam naungan pohon-pohon. Jalannya menanjak perlahan di awal di bawah hutan konifer di dekat danau, dan semakin tinggi semakin curam. Setelah melewati bagian yang terbakar di dekat danau, terlihat rumput-rumput juga tumbuh subur di tanah dan di sela batuan. Semakin tinggi juga pohon-pohon semakin jarang.
Saya jalan santai dan menikmati semuanya. Termasuk beban di pundak yang total beratnya 30 kg. Target saya adalah sampai ke rim, itu saja. Mau sampai jam berapa, saya serahkan pada kaki ini.
Ketika baru melewati tanjakan dan sampai di jalan datar lagi, sepasang pendaki Inggris dan pemandunya melewati saya. Mereka menyapa sekilas dan terus bergegas. Saya memotret mereka ketika baru akan memulai tanjakan itu.
“Sebentar hujan mas,” kata Julian ‘James’ Manggila, si pemandu. Saya melihat ke langit yang terlindung pepohonan. Bukankah sejak dari Segara tadi cuaca memang mendung?
Sudah lama saya tidak lagi mengkhawatirkan cuaca. Mau hujan, hujanlah. Mau panas, panaslah. Mau malam, silakan malam. Saya bahkan punya rencana cadangan agak gila, seandainya karena kelelahan, atau hujan terlalu lebat, malam terlalu gelap, dan saya harus menginap di jalan di lereng itu, ya menginaplah di situ. Tinggal cari tempat yang agak lapang untuk merebahkan badan dan terlindung dari angin dan hujan. Tidak pernah ada yang bermalam di lereng Senaru setahu saya.
Saya membuat rencana cadangan itu dengan hitungan kasar kecepatan jalan saya, kesulitan medan, dan jarak yang ada. Saya hampir yakin saya akan kemalaman di jalan.
Satu alasan mengapa beban saya begitu berat (bahkan oleh para porter carrier dan ransel saya disebut berat) adalah perlengkapan yang saya bawa. Ada jaket hujan, ada payung, ada pakaian ekstra.
Ya payung, sobat. Payung kecil berwarna merah yang sangat bermanfaat melindungi diri dari hujan dan panas.
Sebagai imbalan dari beban itu adalah saya bebas dari tekanan jadwal. Ingat ketika saya baru berangkat summit attack menjelang pukul enam pagi dan baru tiba kembali di Plawangan Sembalun pukul setengah lima sore. Perjalanan yang tidak lazim karena orang ingin melihat matahari terbit di Puncak Rinjani sementara saya hanya ingin ke Puncak Rinjani.
Di sisi lain, seorang yang sendirian memang tak punya banyak pilihan.
***
Ketika saya bertemu mereka lagi, Sam Smith dan Chloe dan James sang pemandu tengah istirahat. Merek duduk-duduk di batu besar di tempat yang agak datar dan minum.

Sam bekerja untuk industri film. Chloe desainer. Bertiga kami difoto oleh James si pemandu dengan Zenfone 6. Mereka lanjut jalan, saya gantian istirahat sejenak. Mungkin ada 10 menit. Saya makan satu tomat dari Metarum dan seruas cokelat.
Tempat istirahat kami itu rupanya tempat datar yang nyaman terakhir Jdari arah Segara Anak. Setelah itu, jalan berlaku seperti tangga. Bila di peta topografi, garis konturnya yang menandakan perubahan ketinggian setiap 20 meter itu akan rapat sekali.
Hujan yang dikatakan Manggila pun datang. Langsung lebat sehingga saya hanya sempat menarik payung dari kantong di sisi daypack. Saya meniti tangga batu-batu sambil memperhatikan jalan. Air yang mengalir membawa turun sampah-sampah kecil seperti bekas bungkus permen dan cokelat. Saya jadi menyadari sesuatu lagi, jalan yang benar itu adalah jalan yang ada sampah di jalurnya. You can follow the trash.
Sungguh ironi bukan. Dulu, di rimba di sisi timur Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Setelah 3 hari (dari 5 hari perjalanan) menjelajah hutan tanpa jalan setapak di bawah hujan yang konsisten, saya terharu ketika menemukan jalan HPH. Saya dan Opik tiba di ujungnya, dimana pohon-pohon menghilang selebar 6 meter dan langit terbuka.
Di sini, di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah.
***
Hujan sudah berhenti ketika saya sampai di puncak bukit yang ditutupi oleh rumput-rumput kuning, sedikit pohon, dan batu-batu besar. Di punggung bukit yang datar dan meluas itu, jalan setapak seolah menghilang setelah keluar dari celah pepohonan di lereng curam.
Di muara jalan turun itu, saya melepaskan ransel dan segera mengenakan jaket hujan. Ini untuk jaga-jaga seandainya hujan turun lagi nanti. Setelahnya baru istirahat sejenak, minum, makan tomat dan cokelat.
Pukul empat lima puluh menit, saya melipat payung dan mulai berjalan lagi. Di jalan setapak yang menghilang itu, ceceran sampah sekali lagi menjadi petunjuk kemana harus melangkah. Pertama sampah-sampah itu berceceran ke kiri. Setelah seratus meter di antara batu-batu besar yang digrafiti, sampah ditemukan mulai menanjak lagi di kanan.
Bukit datar tadi mulai saya tinggalkan di bawah. Kemiringan lereng ini mencapai 60-70 derajat. Jalan setapak selebar setengah meter zig zag di jalan tanah dan batu-batu sambil melipir ke kiri mengikuti lingkaran danau dan dinding tebing kawah.
Untuk menuju Rim Senaru, di kanan jalan setapak ada dinding tebing, di kiri jurang yang makin curam.
Pada satu titik di lereng yang masih berumput dan berpohon-pohon, jalan di tebing habis. Sambungannya ada satu meter di atas kepala, sementara tidak terlihat ada tapak tangga. Yang ada hanya pegangan dari besi sekaligus penutup jalan yang habis.
Tanpa beban sungguh tidak sulit mengangkat badan menuju sambungan jalan itu. Apalagi bila berkawan. Saya yang sendirian dengan beban ini tertegun, bagaimana caranya?
Ransel dilempar ke atas? Terlalu berat, bisa jatuh dan tak bisa diambil lagi di jurang sana. Saya lepas, lalu naik sendiri tanpa beban, baru kemudian ransel digeret naik dengan webbing yang saya punya…rasanya juga terlalu berat. Baik bobotnya, ukurannya, …
Saya meneliti lagi dinding tanah dengan pegangan besi itu. Ternyat ada sedikit lubang dan tonjolan batu yang bisa dimanfaatkan untuk pijakan.
Baiklah. Saya menarik napas mengumpulkan seluruh kekuatan. Dengan dua tangan saya berpegang pada besi pagar itu, lalu menarik badan sekuat tenaga ke atas. Pada langkah kedua, kaki kanan bertumpu di tonjolan batu. Saya berpegangan dengan tangan kiri besi, dan tangan kanan melepas ransel di depan yang menghalangi pandangan. Ransel itu saya tolak ke depan, membawa seluruh beratnya dan berat saya ke dinding tanah miring itu.
Saya kini dalam posisi merangkak di awal jalan setapak naik. Satu sentakan dari tumpuan kaki kanan melemparkan badan saya ke bagian yang aman dari jalan, di mana saya menjatuhkan diri dengan punggung terlebih dahulu.
Ransel-ransel yang jadi pemberat saya itu juga jadi penyelamat saya. Karena beratnya mereka, kami jadi tak bergerak begitu mencapai tanah. Saya berpegangan lagi pada besi untuk membantu badan berdiri.
Dari situ, pemandangannya ternyata indah sekali. Langit sore baru selesai hujan. Air danau di bawah sana berwarna hijau, dan di bagian yang sempit di kanan Gunung Barujari berwarna kuning. Gunungnya sendiri berwarna kecokelatan dengan langit putih tipis. Ganjaran untuk usaha yang setimpal.

Setelah rintangan ini, jalan setapak menanjak hingga ia berbelok ke kiri, tetap mengikuti tebing kawah. Lalu ada jalan datar yang panjang dan menanjak lagi di batu-batu. Sekali lagi saya merasa menjadi anggota rombongan dwarf, para kurcaci yang ingin merebut kembali kerajaannya di Gunung Sunyi yang dikuasai Naga.
Selain sampah dan pagar besi hijau itu, grafiti juga jadi petunjuk bahwa kita berada di trek yang benar. Saya bertanya-tanya, siapa yang masih punya waktu dan energi untuk mencoretkan namanya, nama pacarnya, nama semua orang di grup perjalanannya, nama sekolahnya, nama kampusnya, nama kotanya, nama geng-nya, tanggal-tanggal, semboyan … di batu-batu dan dinding tebing.
Setelah tanjakan terjal, ada tangga dari besi. Melihat tangga itu, saya kira saya sudah sampai di gigir gunung. Hati pun gembira. Setelah sampai dan dilewati, ternyata, … masih ada lagi tanjakan berikutnya.
Begitu terus beberapa kali. Jalan di Gunung di sisi Senaru ini benar-benar penuh pemberi harapan palsu. Demikian, saya berusaha untuk tidak kecewa. Kecewa itu makan energi dan menghabiskan semangat dan mengecilkan hati. Jadi, setiap berlalu satu puncak tanjakan yang dikira sampai gigir Gunung, dan ternyata masih ada terusannya, saya tertawa. Saya juga memuji diri sendiri, “ayo boi, semangat dan kuat…”
Setidaknya satu tanjakan sudah berlalu dan saya makin dekat dengan tujuan.
Hari mulai gelap. Ketika alarm waktu magrib waktu Indonesia Tengah di Samsung B2710 saya berbunyi, saya pas tiba di satu tanah datar setelah tanjakan batu. Istirahat lagi sejenak. Tomat lagi, cokelat lagi, minum seteguk dua air lagi. Saya duduk sambil menyetel headlamp, lampu senter yang ditaruh di jidat.
Ketika saya mulai jalan kembali , ada hiburan kecil: jalannya turun. Tapi, setelah 2 menit, saya jadi waspada. Kok turun? Dan mana sampahnya?
Saya berhenti sejenak, melihat sekeliling, orientasi . Kiri jurang, kanan tebing, … lalu kilatan di tanah, pantulan cahaya senter saya pada plastik keperakan bekas bungkus permen…
Itulah patokannya bila ke arah Senaru: rapat ke tebing dan jalan menanjak. Kalau turun dan menjauhi tebing, itu jalan sesat.
Pukul tujuh malam, sambil berjalan dalam kelam, saya melihat sinar lampu di ketinggian di kejauhan di sisi kiri, di seberang jurang. Titik cahaya itu bergerak, lalu berdiam lama. Saya berhenti lagi dan melihat ke titik cahaya itu. Saya merasa kami saling bertatapan.
Saya mengedip-ngedipkan senter. Dia yang di seberang sana membalas. Ha ha ha, saya tersenyum. Itu komunikasi pertama dengan orang lain sejak terakhir bertemu Sam, Chloe, dan Julian ‘James’ Manggila.

Dengan hati senang, langkah terasa ringan kembali. Lampu senter saya menyoroti dinding tebing yang dicoreti banyak grafiti. Jalan menikung ke kiri, disambung tanjakan yang terjal ke kanan dengan pegangan besi pagar yang dingin.
Lalu terdengar suara tawa yang riuh.
Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung. Bahagia rasanya ketika ada tanah datar lebih dari setengah meter lebarnya, dan tidak ada dinding tebing dan jurang yang siap menelan kelengahan kita.
***
Rinjani untuk Rianne

Pukul 3 pagi, Sabtu 8 November, Arif dan Ridho berpamitan untuk summit attack. Inilah bagian keempat.
Kami bersalaman, Boleh jadi akan lama sekali kita baru ketemu kembali. Saya menambah bekal air mereka. Semoga tidak dianggap memberatkan.
Saya masih sempat tertidur lagi sebelum benar-benar bangun pukul lima pagi. Saya menyiapkan sarapan besar untuk perjalanan turun ke Segara Anak.
Mulai pukul delapan, saat saya packing, para pendaki yang turun ke Sembalun satu per satu melewati saya. Dimulai dari rombongan porter, lalu guide, dan bule-bule itu. Ada Pim dan Rianne juga. Mereka mampir sebentar. Keduanya memeluk saya.
“I know you can make it,” kata Pim.
“Yeah, I did it,” kata saya seraya tersenyum lebar.
Beberapa lama sebelum ini, Pim van Goerp bertualang di Himalaya. Ia keluyuran ke desa-desa di ketinggian 4.000 meter hanya ditemani seorang pemandu. Karena itu rupanya Pim tahu benar rasanya jalan sendiri seperti yang saya lakukan, seperti yang dia juga lakukan.
“Kalau Rinjani, ini untuk merayakan kelulusan Rianne,” katanya. Rianne van Eldik baru saja jadi sarjana ilmu komunikasi dari jurusan Commucatie en Informatiewetenschappen di Universiteit Utrecht. Rianne memilih Rinjani antara lain karena pelafalannya mirip dengan namanya.
Saya jadi ingat, saya merayakan kelulusan saya dari Jurusan Bahasa dan Seni dulu dengan bertualang di Sungai Amandit, menunggang arus di atas lanting hingga terpontang-panting karena memang bukan keahliannya, tapi hati senang dalam jiwa yang bebas merdeka. Sungai Amandit juga yang mewisuda saya dalam buih gelombang naungan pohon-pohon, seperti Lambung Mangkurat, mangkubumi Negara Dipa yang bertapa di pertemuan dua anak sungai dan akhirnya mendapatkan Putri Junjung Buih.
Bukankah legenda itu berkata Lambung Mangkurat bertapa di Sungai Amandit? Lalu kampus yang berdiri tahun 1958 itu pun diberi nama Universitas Lambung Mangkurat?
Begitulah rupanya. Saya sekali lagi melihat, diantara orang-orang yang cepat akrab, meski tak pernah bertemu sebelumnya, selalu ada kesamaan dan garis merah yang mirip. Diantara kesamaan-kesamaan itulah takdir jalin menjalin dan membuat hidup bergerak.
***
Begitu mencapai puncak Rinjani hari Jumat itu, saya kira saya sudah sampai pada klimaks petualangan ini. Ternyata sama sekali belum, sobat. Menjejakkan kaki ke puncak hanyalah separo dari kisah. Petualangan sesungguhnya baru dimulai segera sesudah ini.
Saya menyadarinya ketika berada di ujung jalan datar, lebih kurang seratus meter setelah tenda-tenda berakhir. Jalan berbelok tajam ke kanan, lalu ujung berikutnya berbalik lagi ke kiri. Jalan setapak kecil cukup satu orang ini berzig-zag di atas batu-batu lereng hingga terus ke separuh jarak ke lembah curam itu.
Ini jalan turun ke Segara Anak dari Plawangan Sembalun. Ada pagar dari sebatang besi sebesar lengan berwarna hijau untuk berpegangan di bagian yang dianggap rawan. Banyak lagi bagian yang tak ada pagar pegangannya justru di ada tempat yang lebih berbahaya. Melewatinya, tak boleh lengah sedetik pun bila tak ingin jatuh ke lembah dalam nun jauh di bawah sana.
Medan di kemiringan antara 60-70 derajat itu menuntut semuanya dari saya. Perhatian penuh, kekuatan, kesabaran, dan ketahanan. Baru di sini terasa berjalan dengan 22 kg beban di punggung dan satu ransel di depan itu sungguh menyiksa. Ditambah berat badan sendiri, seluruh bobot berkumpul di ujung jempol dan lutut. Jempol nyeri dan lutut menjerit. Ibu jari itu terhantam tutupan ujung sepatu dan lutut menopang seluruh tarikan gaya gravitasi. Jalan itu memberi tanda mata bagi saya. Sampai hari ini masih ada bercak darah di bawah kuku jempol kaki kiri dan di bawah telunjuk kaki kanan. Luka dalam yang belum lagi sembuh.

Pantas para porter senang bersandal jepit saja, dan beban dibawa dengan dua keranjang yang dihubungkan dengan pikulan bambu. Begitu ternyata lebih praktis. Mereka seperti berlari melewati jalan setapak yang curam itu.
Bagi saya para porter Rinjani menunjukkan seni berjalan dan membawa beban yang hanya bisa ditandingi para shaolin. Bahkan para sherpa di Himalaya pun tidak. Keseimbangan adalah kuncinya. Keseimbangan datang dari irama berjalan yang teratur, yang bisa disetel sesuai tingkat kesulitan tempat kaki ditapakkan. Irama berjalan terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun, atau warisan pengetahuan rekaman bagaimana alam Rinjani.
Saya mencoba mengikuti contoh para porter dengan dasar-dasar yang diberikan oleh Merpati Putih, perguruan yang rendah hati dan sederhana itu. Merpati Putih mengajarkan keseimbangan dan efisiensi gerak dalam napas serta keheningan dengan satu titik sedikit di bawah pusar adalah pusatnya.
Setelah tiga hari menggendong carrier, saya juga mencoba menganggapnya bukan beban lagi, tapi bagian dari diri. Saya belanjar memanfaatkan beratnya untuk mempercepat gerak dan menjadi pelindung badan. Begitu juga dengan daypack, ransel yang saya bawa di depan. Ternyata saya bisa menggunakannya sebagai anker tempat berpegangan dengan melepasnya di turunan tertentu, berbalik badan, dan turun dengan menghadap tebing jalan, lalu berputar lagi sambil menarik ransel itu turun. Pelajaran dasar dari mendiang Bambang Eddy, pemanjat tebing kami di Kompas Borneo Unlam.
***
Pengalaman baru itu mengalihkan saya dari rasa sakit. Saya pun jadi bisa menikmati pemandangan lagi. Lereng ini juga usai terbakar, hingga ke lembah di bawah sana. Perdu dan pohon menghitam dengan latar awan-awan yang putin melayang-layang. Kadang-kadang awan menghampiri saya di lereng seperti menyapa, lalu menjauh lagi dibawa angin.
Saya kembali bersemangat dan meluangkan waktu untuk membuat foto dengan Zenfone 6. Kepraktisannya memudahkan. Saya tinggal merogoh kantong kiri celana kargo ini untuk mengambilnya untuk memotret jalan yang menggetarkan itu, memotret awan-awan, memotret pohon-pohon yang hangus, memotret puncak di gunung seberang sana, memotret danau yang kehijauan, memotret lembah yang curam, memotret porter-porter yang lewat, dan selalu lupa memotret diri sendiri.

Akhirnya bagian terberat terlewati, yang ditandai sebuah jembatan berlantai semen atas sungai yang sedang kering. Menyenangkan berjalan di atas permukaan yang datar setelah disiksa turunan curam yang menuntut seluruh tenaga dan perhatian.
Setelah itu, jalan berpindah mengikuti ‘tubuh bendungan’ Danau Segara Anak. Jalan inilah yang kelihatan jelas dari Plawangan Sembalun melipir di selatan lereng, lalu memotong ke utara di bagian yang terendah dan tak terlihat lagi dari atas. Tak terlihat sebab jalan itu menurun menuju Segara.
Api tak sampai ke sini, menampilkan pemandangan seperti kebun yang subur. Hamparan alam di sini segar dan hijau. Saya sampai mengira ada orang yang bercocok tanam dan berharap bertemu pondok petani seperti di Pangalengan atau di Lembang di Jawa Barat. Tapi adanya ya pondok pendaki, shelter di tepi danau itu, yang sudah dikuasai pertapa dari Senaru, dua pendaki dari Inggris dan Thailand, porter, dan pemandu mereka.
Pukul 12.30, pemandu itu, Metarum namanya, menawari saya kopi. Aih, Tuhan memberkati para pembuat kopi di seluruh dunia dan memasukkan mereka yang meminumnya ke dalam surga.
***
Tom dan Piaw tidak minum kopi. Mereka juga tidak makan tomat dan ketimun. Dari makan siangnya itu, hanya ayam goreng dan sedikit nasi yang disantap. Sayur capcai yang dibuat Metarum hanya disentuh sedikit. Pertama datang, saya melihat Tom dan Piaw duduk berdampingan dan berbicara dengan suara rendah, nyaris berbisik, seperti sepasang kekasih. Mereka makan dengan menghadap danau. Tom Bloomfield berasal dari London, berperawakan kurus, tampan, dan gemulai dengan kulit putih yang mulai kecoklatan dibakar matahari tropis. Piaw mengenakan topi seperti para musisi hip hop, bercambang tipis, dijumpai Tom di Bangkok. Piaw yang berwarna cokelat tua khas Asia Tenggara tampak berisi dan tegap, gagah dengan dada yang bidang, dan Tuhan memberi Piaw suara yang lembuutttt sekali.

Usai makan, menunggu porter membereskan barang untuk melanjutkan perjalanan ke rim Sembalun, keduanya turun ke dekat danau dan bermain-main dengan tongkat berjalan yang dibuatkan Metarum untuk mereka. Seperti dua ksatria dari abad pertengahan, Tom dan Piaw bermain pedang-pedangan dengan tongkat-tongkat itu.
“Makan yang banyak,” kata Metarum kepada saya yang makan sambil memperhatikan mereka. Menu makan siang saya benar-benar pantas untuk badan yang lelah: banyak buah dan sayur, nasi putih panas, capcay yang pedasss, tahu dan tempe yang besar-besar, air putih yang banyak, dan ditutup dengan kopi hangat ala bangsawan Inggris. Melihat saya suka makan tomat, Metarum memberikan semua persediaan tomat yang dibawanya untuk Tom dan Piaw. Satu plastik penuh tomat seukuran onde-onde, merah merona mengundang selera. Empat pertapa yang mencari kesembuhan juga ikut makan dari masakan Metarum. Kami semua bantu menghabiskan dan meringankan bebannya, hehehe.
Pukul satu lewat, Tom dan Piaw melanjutkan jalan ke Sembalun. Untuk makan siang yang luar biasa itu, saya menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada keduanya dan terimakasih spesial untuk Metarum, pemandu dari Senaru yang berperawakan kecil tapi lincah itu. Saya masih istirahat dulu sebentar, memotret dan menikmati pemandangan Segara Anak.
Kabut datang dan pergi di antara pohon-pohon cemara. Di sekitar shelter itu, sampah berserakan dan bertumpuk-tumpuk. Toilet tampaknya sudah lama rusak, dan di tepi danau di air yang dangkal, terendam celana dalam, handuk, bahkan ada kepala ayam.

Beberapa orang memancing di batu yang menjorok ke danau. Para pendaki perempuan asal Taiwan yang menyalip saya di lereng ‘bendungan’ Segara Anak membuat camp persis di tepi danau dekas batas air. Mereka mungkin menjauhi sampah yang menumpuk di dekat shelter.
“Kami mau ke mata air panas, berendam,” kata Anna Fong. Dekat situ ada mata air panas Aiq Kalaq, Coba saya punya waktu. Para pendaki lokal seperti para pertapa itu juga berendam di Aiq Kalaq untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai macam penyakit.
Saya mencuci muka, tangan, telinga, kaki, dan menggabung salat zuhur dan ashar. Kesegaran dan kekuatan baru mengalir. Pukul dua tepat, setelah pamit kepada para pertapa yang antara lain minta obat sakit kepala saya, perjalanan menuju Plawangan Senaru nun di atas sana pun dilanjutkan.
***
Apel, Pisang, dan Kelapa

Ke Rinjani orang juga beritual. Mereka meletakkan sesajen di puncak gunung itu. Oh ini bagian ketiga, Saudara.
Ketika akhirnya terbangun, arloji saya menunjukkan pukul 04.30 dinihari. Saya sudah terlambat untuk menikmati panorama matahari terbit dari puncak Rinjani. Tapi, sungguh, tak ada penyesalan apa pun. Saya kecapekan, dan tidak ada yang menyalahkan orang yang kelelahan.
Meski begitu, saya tidak punya waktu lain selain hari ini untuk menyelesaikan target perjalanan ini. Maka saya bergegas berpakaian, salat subuh, dan sarapan. Makan pagi sebelum berangkat itu adalah hampir setengah kaleng kornet 200 gram, vitamin, dan air putih. Saya memasukkan ke dalam ransel persediaan air, roti tawar, cokelat, selai, kamera, madu, dan gulungan tisu. Ringan sekali bila dibandingkan carrier dan seluruh isinya.
Ketika keluar tenda, angin dingin langsung menyambar. Langit di kiri saya merah jingga dengan latar depan siluet lereng Rinjani. Sampai 20 menit pertama saya tak pergi kemana pun selain memotret pagi dari Plawangan Sembalun itu. Mulai dengan DSLR, lalu lebih banyak lagi dengan Zenfone 6.
Saat hari terang tanah pukul setengah enam lewat, barulah saya memulai langkah ke puncak. Saya masih sempat menambah bekal air dari botol air porter yang tersedia di depan tendanya.
Tanpa beban, langkah saya ringan dan cepat. Bertegur sapa pagi dengan dua perempuan bule di dekat pohon tumbang, juga dua pendaki kulit hitam di dekat mata air. Saya juga meluangkan waktu untuk memotret apa saja yang menarik hati dan mata.

Medan pertama menuju puncak adalah saluran pasir yang gembur. Tapi karena melewatinya saat hari sudah terang, saya jadi punya banyak pilihan. Saya naik ke bagian sisi setiap saluran pasir itu, dan bisa menambah ketinggian dengan cepat tanpa harus merosot setiap kali melangkah.
Pukul setengah delapan saya melewati pohon tumbang yang melintang di jalan. Pohon itu menjadi semacam gerbang dan penanda berakhirnya medan pasir gembur dan tanjakan terjal. Saya tiba di ujung gigir Rinjani.
Pemandangan Segara Anak yang hijau dengan vulkan Barujari membentang di bawah sana. Semua orang yang turun menyempatkan diri berhenti di situ, mengambil foto, bertegur sapa. Saya bertemu lagi dengan para pemuda Jerman.
“Setimpal dengan capeknya,” kata Peter yang paling jangkung diantara semua yang jangkung itu.
Ada pasangan Kanada yang sedang berbahagia, Emerson dan pacarnya. Ada Romain, pemuda Prancis yang sendirian seperti saya.

Selain Kenshin, pemandu dari Senaru, saya tak bertemu seorang pun pendaki Indonesia. Sebagian besar yang turun, semua bule, dan sudah bertemu saya di saluran pasir. Para pendaki Jerman berkata bahwa di belakang mereka ada satu rombongan lagi. Cara Chris bercerita seolah-olah puncak itu dekat sekali—yang membuat saya bersemangat. Fakta Chris membagi separo air yang dibawanya untuk saya dan berkata, “You will need that,” tak terlalu saya perhatikan.

Menjelang pukul delapan pagi, saya melanjutkan perjalanan naik. Di kiri adalah lereng yang mulus sehingga batu bisa menggelundung hingga ke dasar, di kanan, kawah dan Segara Anak, dimana batu bukan menggelundung bila jatuh, tapi langsung nyemplung dan lenyap di dasar danau. Edelweiss dan cemara tumbuh bergerumbul hingga ketinggian 2.900, lalu menyebar satu-satu sampai 3.500 m.
Romain adalah orang terakhir bertemu saya sampai 3 jam berikutnya. Semakin tinggi, jalan semakin gembur, dan semakin berat langkah. Ketinggian dan udara tipis membuat pendaki ngos-ngosan.
Saya menyebutnya pola 1-1. Sekali tarik napas, sekali buang. Napas yang ditarik bukan napas panjang, tapi pendek dan cepat. Oksigen harus diambil secepatnya dan karbon dioksida harus dibuang secepatnya. Pada saya di ketinggian itu, napas pendek namun cepat lebih diterima tubuh ketimbang satu napas panjang
Walau demikian, saya menikmati perjalanan ke puncak ini. Bila merasa harus berhenti, saya berhenti, mengambil dan mengatur napas. Sambil demikian, saya melihat pemandangan. Matahari terik, tapi tak terasa. Saya tetap mengenakan jaket dan sarung tangan. Sementara awan hanya menaungi puncak Rinjani.
Bahkan, menjelang pukul 11 itu, saya sakit perut. Tidak ada tempat sembunyi yang nyaman untuk buang hajat, tapi ini ketinggian 3.400 meter dan saya sudah tak bertemu orang lain sejak berjam-jam yang lalu.
Repot juga, mulai dari melepas sepatu, baru tiga lapis celana, dan nongkrong di tepi jalan. Untung saya selalu bawa segulung tisu. Saya harap serumpun edelweiss dekat situ menerima anugerah pupuk alami itu dengan bahagia.
Setelahnya saya merasa badan menjadi ringan dan plong. Ditambah energi seruas cokelat dan beberapa teguk air saya maju lebih cepat. Saya segera tiba di batas pasir-kerikil bertemu dengan kerakal, batu-batu sebesar kepalan tangan yang terhampar memenuhi jalan. Tanjakan makin terjal. Dari sini, terlihat seolah ada dua puncak di atas sana.
Pukul setengah dua belas, saya bertemu Pim dan Rianne di tengah medan kerakal. Pasangan Belanda ini ditemani pemandunya, yang mengenakan penutup muka dan kacamata, dan tak berbicara.

“Where is your team?” tanya Rianne menatap saya.
“He is all the team,” Pim menjawabkan untuk saya..
“Where is your walking stick,” tanya Rianne lagi. Dengan tongkat, berjalan di gunung memang akan lebih mudah. Saya selalu meniatkan diri untuk beli tongkat khusus itu, tapi belum pernah mewujudkannya.
“I have these two arms and legs. If I have to crawl, I will,” saya menjawab sendiri seraya tersenyum lebar.
Menurut Pim, ada satu rombongan di belakang mereka, dan saya bilang tak ada seorang pun di belakang saya.
“Good luck Novi,” kata Pim bersungguh-sungguh. Orang yang sendirian hanya punya dirinya sendiri untuk menyemangati diri. Karena itu mereka tak boleh berputus asa dan kehilangan harapan. Pim menambah persediaan bahan bakar semangat saya.
“Terimakasih, bro,” kata saya. Kami berpelukan dalam persaudaraan gunung dan alam. Itu hanya perkenalan lima menit, tapi saya merasa mendapat perhatian dari seorang sahabat seumur hidup.
***
Saya bertemu rombongan terakhir itu di ketinggian 3.500. Empat pemuda Indonesia yang bertegur sapa seperlunya. Mungkin karena lelah, mungkin juga sibuk mengatur napas. Saya tak melihat apakah mereka membalas senyum saya atau tidak karena semua mengenakan masker penutup mulut.

Sekarang saya benar-benar sendirian. Medan kerakal itu seakan tak habis-habis. Sekali lagi saya menjalankan taktik ini, membuat target-target pendek, dan mencegah diri sering-sering melihat puncak harapan itu.
Target pendek itu adalah jarak yang saya targetkan harus dicapai dalam beberapa tarikan napas dan perhentian. Target itu bisa batu unik 10 meter di depan, rumpun edelweiss 15 meter berikutnya, hingga batu besar di atas sana, 100 meter dari tempat saya berdiri membuat target-target itu.
Saya mengulang proses itu. Menarik napas pendek dan cepat, lalu berjalan 7-10 langkah, berhenti lebih kurang 30 detik untuk mengatur napas lagi.
Pukul 12.15, saya sampai di dinding batu yang seakan menutup jalan. Warnanya kuning dengan merah tua di bagian bawah. Di ujung awal dinding, jalan berbelok ke kanan. Tanjakan habis. Seratus meter terakhir yang mudah itu saya tempuh dalam 5 menit. Lalu di bagian ketika tak ada lagi arah selain turun, saya berdiri dalam keheningan di atas hamparan batu-batu yang juga berwarna kuning dan merah, dalam selimut awan putih, di ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut.
***

Saya mengucapkan selamat kepada diri sendiri. Ini tepat waktu salat Jumat. Saya duduk dan istirahat di ujung lahan kecil berbatu seluas setengah lapangan bulutangkis itu, dimana ada sebuah plakat dari alumunium bertuliskan puncak dan ketinggian Rinjani. Tampaknya ada klub sepeda dari Bandung yang menyumbangkan plakat itu.
“Hebat juga, sepedaan sampai sini,” kata saya dalam hati, sambil mengunyah apel malang yang berwarna hijau.
Dari mana saya dapat apel, padahal tak membawa buah itu dari bawah, adalah atas kemurahan Tuhan dan ummatnya. Sehari sebelum ini, saya yakin begitu, seseorang yang saleh, juga kuat dan punya tekat luar biasa, dan punya kelebihan harta, mengantar sebuah apel, beberapa pisang, sebutir telur, dan sebutir kelapa bulat yang masih dalam tempurung utuh. Orang itu juga memasang dupa, yang membuat lingkungan setengah lapangan bulutangkis itu berbau wangi.
Saya makan sesajen itu dengan bismillah. Dimulai dari apel, lalu pisang, dan terakhir kelapa. Apel yang hijau sebesar bola tenis itu terasa kesat di lidah, tapi menenangkan perut. Pisangnya manis karena matang sempurna. Saya harus berjuang sedikit dengan kelapa. Tempurung saya lubangi dengan pisau lipat. Dari lubang itu, saya bisa minum air kelapa yang menyegarkan, manis asam elektrolit murni sebanyak seperempat liter. Setelah itu, saya memecahkan tempurung dan mendapatkan daging kelapa yang putih dan tebal—namun sungguh diperlukan tenaga rupanya untuk menyantapnya.
Saya cukupkan kelapa itu setelah menghabiskan sepertiganya. Saya tinggalkan telur untuk seseorang yang boleh jadi juga lapar yang akan mencapai puncak ini besok dinihari.
Saya menggabungkan salat dan menjadikan plakat alumunium itu sebagai tempat sujud. Angin lalu menguak awan sedikit, memberi pemandangan di sisi timur Rinjani, lereng cokelat muda yang terjal dan lapangan pasir tanpa vegetasi.
Pukul setengah dua, air minum saya tersisa kurang dari seperempat botol. Ditambah madu dan perut kenyang, itu bekal saya kembali ke ketinggian 2.700 meter.
***
Awan-awan menemani saya turun. Sesekali mereka begitu tebalnya sehingga saya hanya bisa melihat jalan satu dua meter ke depan.
Awan-awan juga membawa hujan. Saya menadahkan mulut dan mencecap air langsung dari langit. Tenggorokan yang serak karena debu dan lekat oleh madu mendapatkan obatnya.
Perjalanan turun, seperti selalu saya alami, berlangsung cepat. Saya melewati batu-batu besar yang digrafiti, jalan setapak kerakal, kerikil dan pasir, dan akhirnya pasir hitam dan abu-abu yang gembur. Ada perasaan tidak percaya bahwa beberapa jam sebelumnya saya melewati jalan yang sama.
Pukul empat sore, saya bertemu lagi dengan pohon tumbang gerbang lereng itu. Pohon dan daun-daun, juga edelweiss di sekitarnya terlihat basah dan segar. Debu diikat air dan saya meluncur turun dengan hanya meninggalkan jejak di pasir. Segera pula saya tiba di lorong sempit dan curam tempat awal dan akhir jalan pasir, jembatan beton di atas jurang lahar, dan hupp, ujung perkampungan tenda-tenda. Baru saya tahu lokasi mata air itu. Turun sedikit ke lembah di bawah itu dari pertigaan ini rupanya.
Ujung tanjakan ini sungguh ramai oleh para pendaki yang baru datang. Ini kampung internasional. Saya mendengar dialek Inggris-British, suara cempreng seseorang dalam Bahasa Mandarin, logat Sasak yang lucu, mungkin Prancis, dan Belanda-Jerman juga.
Meski berhenti untuk melepas sepatu dan membuang pasir dari dalamnya, saya sudah lelah untuk bersosialisasi. Hanya senyum saja dan sedikit bangga, I was there, you know, on top of Rinjani, all alone.
Seorang porter membawa banyak botol berisi air minum dalam keranjang. Ia baru kembali dari mata air. Saya berbicara padanya, dan Anto setuju menjual 5 botol untuk saya.
Saya tiba di tenda saya lagi tepat pukul setengah lima dan disambut hujan lebat. Ridho dan Arif memasak makan malam dan mereka mengundang saya makan di tenda hijau mereka. Indomie Soto Banjar Limau Kuit saya agak kebanyakan air, tapi tak apa. Ini makanan hangat dan nyaman di perut.

Kami masih sempat menyaksikan senja merah setelah hujan berhenti. Saya segera kembali ke tenda saya sendiri dan berganti pakaian. Masih punya tenaga untuk merapikan tenda, merebus air, dan membuat kopi.
Sudah lama kopi tidak memiliki hubungan lagi dengan kapan saya mau tidur. Jadi, begitu segelas Nescafe itu habis, saya merebahkan diri dan segera terlelap.
***
Pendaki Juru Kunci

Di Pos 2, kami bertemu para pendaki dari Hongkong yang cantik-cantik. Hehehe, ini bagian kedua, saudara.
Pagi-pagi, Arif sudah bangun untuk melihat jalan. Ia beriringan dengan burung-burung yang ramai berkicau di dahan-dahan di atas tenda kami. Arif pergi menyeberang sungai ke bagian yang sudah saya lewati sebelumnya.
Tepat seperti dugaan saya, Arif kembali dengan kabar bahwa sesungguhnya kami berada di jalur yang benar. Hanya karena kelelahan saja kami menjadi tidak percaya diri.
“Di ujung turunan ada belokan ke kiri, jalan turun ke jembatan. Di jembatan itu ada papan penunjuk arah yang menyebutkan Pos 1,” tutur Arif.
Saat kami sarapan, tiga penggembala sapi dari Sembalun lewat. Mereka bertanya mengapa kami menginap di tempat yang tidak biasa orang menginap itu. Kepada mereka, kami juga bertanya arah dan jalan.
“Pos 1 lebih kurang satu jam dari sini,” kata yang paling belakang, yang mengenakan headset untuk handphone di telinganya dengan selempang sarung dan sepatu boot plastik.
Satu jam? Kami tertawa. Jadi, seandainya saya terus jalan tadi malam, maka betul, lebih kurang pukul 10.00 malam itu saya akan tiba di Pos 1. Tapi, kami memang tak tahu. Tak seorang pun dari kami pernah melewati jalan ini sebelumnya. Kami tak bersama pemandu, dan tidak minta tolong porter. Saya tak terpikir untuk menelpon petugas di kantor Taman Nasional untuk sekedar bertanya meyakinkan diri. Sinyal Telkomsel masih jelas sampai Pos 1.
Ternyata tanpa pemandu dan porter, khusus bagi yang baru pertama kali ke Rinjani, rute sederhana pun jadi petualangan yang bisa jadi bahan cerita.
Perjalanan dimulai kembali beberapa saat sebelum pukul 10.00 pagi. Kami mulai dengan doa dan langkah kanan dan hati riang.
Dari jembatan beton yang diceritakan Arif, kami melihat porter-porter yang bergegas. Lalu serombongan panjang pendaki bule di belakang mereka. Menurut Ridho, rombongan yang kami lihat memulai perjalanan dari Bawahenau, bukan dari Sembalun Lawang seperti yang kami lakukan.

Jalan menanjak perlahan di punggung-punggung bukit. Ada variasi turunan dan tikungan, dan jalan terus menuju ke barat.
Itulah Pos 1 Pemantauan, berupa dua bangunan seperti pos keamanan lingkungan atau gardu jaga di komplek perumahan. Pos ini dibuat permanen, dan satu lagi disusun dari pipa dan pelat besi. Bisa dibayangkan dinginnya pos dari besi itu bila malam tiba.
Saya beristirahat di pos logam itu. Lalu datang rombongan orang-orang tua bule mengisi pos beton di seberang. Sepuluh menit berselang, rombongan si Mbah.
“Hehehe, ketemu lagi,” katanya riang. Saya juga tertawa. Wah, si Mbah tidak bilang bahwa rombongannya ini terdiri dari 4 perempuan cantik-cantik. Ada Mika, ada si reporter Metro TV itu yang saya lupa namanya, lalu si April, dan seorang yang atletis, berkerudung, namun selalu ada di belakang. Selain si Mbah, ada dua lelaki, Kendi suami April, dan seorang lagi yang saya tak ingat.
“Sendirian, mas?” tanya Mika.
“Oh, tidak lagi. Sekarang kan ada kalian,” seloroh saya. Pertanyaan Mika adalah pertanyaan standar kepada saya dan ditanyakan orang dari ujung timur hingga barat Indonesia oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai macam bahasa.

Anyway, dalam perjalanan kali ini, Asus Zenfone 6 menjadi modal saya bertegur sapa, selain senyum tentu saja. “Saya punya beberapa foto kalian, bila ada email atau facebook saya bisa share…” demikian kalimat ajaibnya. Sungguh seribu teman masih kurang (ada facebook yang menghitung jumlah teman kita) dan satu musuh sungguh terlalu banyak (ada buku harian yang menghitungnya)
Si Metro TV berbagi Pocari Sweat yang manis asam menyegarkan. Dia ternyata staf Najwa Shihab untuk acara Mata Najwa. Saya hampir tak pernah menonton acara itu. Sudah lama saya tidak lagi menonton televisi.
Pukul setengah dua belas, Ridho dan Arif serta saya mulai berjalan lagi. Tanjakan mulai semakin panjang walaupun belum ada yang ekstrem. Tepat seperti disampaikan seorang pemandu, lebih kurang satu jam dari Pos 1 Pemantauan itu, kami tiba di Pos 2 Tengengean. Dari ketinggian 1.300 m dpl ke 1.600 mdpl.
Di Pos 2 ada air, ada sungai kering, dan ada jembatan di atasnya. Air berasal dari sumber mata air kecil, dimana air merembes keluar dari pasir, dan seseorang menyaringnya dengan menggunakan 2 buah botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Air yang keluar dari ujung botol satunya mirip pancuran kecil dari air keran yang dibuka seperempatnya. Satu botol besar 1.500 ml penuh dalam 4 menit.
Di Pos 2 yang ramai pada jam makan siang itu, saya lihat, tak ada yang menggunakan air dari mata air itu untuk minum. Para porter membuka air persediaan mereka, berupa air dalam kemasan satu setengah liter itu. Saya yang sudah menghabiskan separo persediaan air, tidak punya pilihan lain selain menggunakan air saringan itu. Warnanya cukup memenuhi syarat mata saya, dan nanti bila sudah direbus, sudah lulus syarat mulut dan perut.
Semua yang kami temui di Pos 1, masih bertemu lagi di Pos 2, ditambah mereka yang sudah istirahat terlebih dahulu di situ. Sebelum membuka bekal sendiri, saya mendapat kehormatan makan siang dengan para orangtua dari Polandia—hanya karena seorang dari mereka pernah ke Balikpapan untuk berburu batubara. Lalu berkenalan dengan para pemuda dari Jerman itu, yang jangkung-jangkung dan berjalan penuh percaya diri.
Setelah mengambil persediaan air tambahan, kami naik ke shelter yang dibangun permanen di bagian atas. Shelter yang di bawah yang berwarna hijau, ditinggalkan porter dengan sampah berserakan.
Kami menggabungkan salat zuhur dan asar sekaligus. Saya membongkar ransel dan memasak makan siang. Ridho dan Arif rupanya memutuskan berbeda, tapi mereka tak keberatan menunggu dan makan camilan. Apalagi di Pos 2 di bagian atas itu ada sejumlah pria dan wanita-wanita cantik yang buka praktik massage.
“Saya kira dari Taiwan, atau Hongkong,” kata Arif. Sungguh, ia tidak bermaksud bergurau.

Ternyata rombongan itu berasal dari Medan. Kawan-kawan itu orang-orang etnis Hakka, Warga Negara Indonesia, dan gemar berbicara bahasa ibunya—seperti Orang Jawa berbahasa Jawa, orang Sunda berbahasa Sunda, dan lain-lain. Para lelaki Cina Medan itu berpenampilan ala serdadu yang dikirim ke Perang Teluk dengan baju dan kamuflase warna gurun dan rambut crewcut. Para perempuannya, yang tadi saling memijat dengan balsam Counterpain, cantik-cantik belaka seperti para pemain sinetron Korea.
Saya yang sibuk memasak mi, telur, dan korned tak sempat banyak bertegur sapa dengan para perempuan, tapi ngobrol sedikit dengan para lelaki, yang kebetulan dekat dengan kompor saya. Seperti kebanyakan pendaki, semua bangga sudah mencapai puncak dan dengan perjalanan ini. “Tanah Air kita indah sekali,” kata A Long.
Dari Pos 2 itu, kami resmi menjadi tim juru kunci. Rombongan Polandia sudah lama pergi, disusul para pemuda Jerman. Rombongan si Mbah sudah permisi lanjut ketika saya makan siang. Terakhir para kawan dari Medan pamit turun ke Sembalun. Pemandangan savana yang kering dan terbakar membentang di seluruh arah mata memandang.
Saya kembali mantap menyandang ransel punggung seberat 24 kg ini. Saya tahu itu karena memang menimbangnya. Di Balikpapan, sesaat sebelum dimasukkan bagasi pesawat, carrier itu berbobot 18 kg. Lalu di Mataram, di timbangan di depan resepsionis, setelah diisi bekal dan beberapa perlengkapan tambahan, 25 kg. Beratnya pasti berkurang sedikit karena sebagian makanan sudah kita habiskan sejak tadi malam.
Saya masih punya tambahan satu ransel lagi di depan, yang isinya kamera, jaket hujan, sedikit makanan, dan air minum.
Perut kenyang itu sesuatu banget dalam olahraga mendaki gunung ini fren. Kalau lapar, selain tidak kuat angkat-angkat, jalan juga bisa tersandung-sandung dan pikiran kemana-mana. Tidak fokus. Kalau tidak fokus, jalan setapak ke kiri, kita malah ke kanan. Akhirnya orang ini bisa hilang di gunung dalam cuaca yang cerah.
***

Jalan makin menanjak dan kini berada di punggung-punggung bukit. Ada seruas panjang jalan yang penuh batu-batu dan kiri kanannya seolah sungai kering. Mungkin tempat aliran lahar bila Rinjani meletus, atau memang jalan air bila hujan lebat turun. Di situ ada sebatang pohon yang tampak merana, menghitam karena terbakar bersama rumput-rumput di bawahnya.
Di ujung atas tanjakan, jalan berbelok ke kanan, mendatar, dan menurun setelah seratus meter. Saya mendapati seseorang tengah duduk istirahat di bibir tebing.
“Masnya mau muncak kan. Hati-hati dengan barang yang ditinggal di Plawangan Sembalun,” kata Dimas, pendaki dari Surabaya itu. Oh, kenapa gerangan?

Tenda Dimas rupanya disatroni maling saat ditinggal summit attack. Dua handphone, uang Rp400.000 hilang. Duh, siapa yang tega berbuat itu di gunung?
Demikian, Dimas masih bermurah hati membagi air yang dimilikinya. Ia memberi saya saya sebotol dari dua botol besar yang dibawanya.
Saya berterimakasih atas air dan peringatan itu. Sekali lagi, siapa yang tega mencuri barang-barang pendaki di gunung? Sesama pendaki hampir mustahil. Apalagi mayoritas pendaki Rinjani yang saya temui ketika itu adalah pendaki asing—yang asumsinya lebih kaya dan ‘tidak bergaul’ dengan pendaki lokal. Guide, pasti tidak karena mereka selalu bersama kliennya, para pendaki, setiap waktu. Porter? Wallahualam.
Saya tak sempat lagi memikirkan itu. Tanjakan-tanjakan terjal mulai menghadang di depan kami. Pos ekstra muncul sebagai sedikit hiburan. Saya terus ngebut sampai ke Pos 3 Pada Balong di ketinggian 1.800 meter. Bukankah seharusnya pada jadwal yang saya buat, sore ini semestinya saya sudah ada di Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter di atas sana?
“Setelah Pos 3, lalu Pos 4, sampai Plawangan Sembalun, itu jalurnya asik,” tutur Ferry ‘Pepeng’ Ferdiansyah, seorang sahabat dari Bandung dan koki lapangan handal yang berkunjung ke Rinjani dua tahun sebelum ini.
Seasyik apa, Peng, tanya saya. Dia hanya tertawa. “Pokoknya mas Novi nikmati sendiri dah,” katanya.

Saya melihat jalur itu di bukit di seberang Pos ekstra, zigzag di punggung bukit, rapat tapi tidak terlalu menanjak—cuma pasti jauh karena zigzag itu. Tapi itu jelas bukan jalur yang kami ambil sekarang.
Pukul setengah lima, saya mulai langkah kanan dari Pos 3 sementara Ridho dan Arif baru tiba di Pos itu. Tanjakan 70 derajat sudah menghadang. Seperti mesin mobil yang menggeram dengan persnelling rendah, saya menurunkan kecepatan berjalan dan mengatur napas. Satu tarikan napas, satu hembusan, dan 5-6 langkah naik. Sepasang kaki saya kini menanggung beban lebih kurang 50 kg, di medan yang melawan gravitasi, dan udara yang kerapatannya lebih renggang.
Satu jam mendaki, saya tiba di tanah yang agak lapang. Rumput-rumput kuning di situ rebah, tanda banyak diduduki dijadikan tempat istirahat. Saya minum, makan seruas cokelat, dan menyiapkan senter. Jalan kini ada di punggung gunung yang sempit dengan vegetasi yang bekas dilahap api. Tidak terdengar dan terlihat tanda-tanda Ridho dan Arif.
Saya naik dan mengikuti jalan itu sambil memandang alam. Api benar-benar merajalela. Di jalur ini, semua terbakar dan disisakan sebagai arang. Seluruh lereng dan punggungan di kiri dan kanan, bahkan hingga tinggi jauh di sana.
Menjelang magrib, Pos 4 tampak di depan. Tiba-tiba sudah ada Arif di belakang saya, lebih kurang 150 meter di sana. Lebih jauh lagi terlihat Ridho yang berwarna merah berjalan pelan.
Matahari sudah hilang, meninggalkan jejak senja lembayung yang tipis. Pos 4, seperti semua pos shelter dari sisi Sembalun, juga dibuat dari pelat besi, atau alumunium, dan tiang-tiang logam. Tanpa panas sinar matahari, logam itu mulai mengumpulkan dingin dari temperatur yang mulai turun dan kesiur angin. Pos ini sudah kehilangan atapnya. Mungkin karena diangkat badai beberapa lama sebelumnya.

Saya dan Arif salat magrib dan salat isya di Pos itu. Lalu makan malam dengan roti, cokelat, keju kraft, dan air putih yang dingin. Agak susah menelannya, tapi tetap harus makan. Ridho sampai dan melakukan urutan yang sama seperti saya dan Arif lakukan.
Beberapa titik api terlihat di lembah curam di kiri dan kanan kami. Titik-titik hotspot itu seakan muncul begitu saja setelah hari gelap.
“Seperti ada orang di sana yang menyalakan api,” kata Ridho. Tentu saja, kami yakin, tak ada seorang pun di tempat api itu menyala. Ini di ketinggian 2.200 meter, tanpa air, tanpa pelindung, tak aka nada seorang pun yang mau bertahan di sini.
Jalan setapak sekarang ada di lereng dengan kemiringan yang makin curam. Saya merasa kami berjalan makin pelan. Ketika kami memasuki hutan yang utuh dan tak terjangkau api, saya merasa menjadi bagian dari rombongan Thorin Oakenshield, para kurcaci yang pergi ke Gunung untuk mengambil kembali harta dan tanah air mereka.
Punggungan gunung menyempit dan melebar. Bila menyempit, jalan menjadi jelas dan dalam. Bila punggungan itu melebar, laksana jalan bebas hambatan, ia membagi diri menjadi beberapa jalur. Saya sempat bingung sejenak, namun segera menyadari kenapa.

Di tanjakan, kita biasa memudahkan sedikit jalur naik itu dengan melipir, terutama bila ada cukup ruang untuk itu. Dengan begitu, beban bagi paha dan lutut sedikit bisa dikurangi. Melipir itu sedikit hiburan dan variasi.
Di rute antara Pos 4 dan Plawangan Sembalun, setelah ketinggian 2.400 meter dan kita tak terasa meninggalkan hutan di belakang, jalan setapak itu berseliweran sesukanya. Selama itu menuju ke atas, Anda tidak perlu khawatir.
Arif menjadi leader sejak kami melewati gigir sempit dan jalan berpindah punggung bukit. Kami sempat istirahat agak lama, mungkin 15 menit, pada pukul sembilan sambil berlindung di balik pohon-pohon dari terpaan angin kencang.
Tiba-tiba saja saya melihat ujung tanah di atas sana. Ada langit dan bintang-bintang saat sedikit mendongak. Semangat dari badan yang lelah ini kembali berkobar. Di bawah sinar bulan, saya melihat sosok Arif menghilang di ketinggian. Lalu rombongan ini datang dan melewati saya begitu saja.
Pukul 11 malam, saya tiba di gigir kawah Gunung Rinjani. Inilah Plawangan Sembalun, 2.700 meter dari permukaan laut. Saya lihat Arif duduk kelelahan, juga rombongan yang menyalip kami tadi.
“Kami dari kampung bakda asar tadi,” kata seseorang yang dekat saya, yang membagi airnya kepada pendaki yang ngos-ngosan ini. Cukup 5 jam bagi mereka rupanya mengebut dari Sembalun hingga gigir kawah, luar biasa. Bakda asar itu, kami baru sampai di Pos ekstra sebelum Pos 3. Betapa lambatnya kami.
“Tentu saja, mereka tidak membawa beban seberat kita. Mereka hapal jalannya, dan mereka tidak berfoto-foto,” kata Arif.
Rombongan itu menyebutkan mereka akan turun ke lembah untuk ritual salat Jumat di Gunung Barujari. Itu gunung berapi yang umurnya seumur republik ini, nun di tengah danau sana. Saya tercengang, tapi tak sanggup lagi bertanya. Biasanya, orang turun gunung untuk salat Jumat. Para peladang yang saya kenal di tepi Danau Riam Kanan di Kalimantan Selatan, misalnya, pulang ke kampung pada Kamis sore setelah lima hari di ladangnya yang jauh di gunung.

Tapi Pepeng benar, jalurnya asyik, menyiksa dan menghibur pada saat yang sama, lalu memberi hadiah yang tak terlupakan selamanya. Di depan kami di bawah sana, menghampar keperakan di bawah sinar lembut rembulan, Segara Anak.
Sambil menunggu Ridho, kami mendirikan tenda di balik bukit, di balik pohon-pohon dan tenda-tenda milik para operator trekking yang seragam. Kami minta air dari para porter yang meninggalkan berbotol-botol air bersih di luar tendanya. Pada pukul 12.00 malam, memintanya adalah ‘pakai saja dulu’ baru ‘bilangnya’ besok.
“Memang sengaja ditaruh di luas mas, untuk tamu kami biasanya. Tapi siapa saja yang perlu ya silakan,” kata Anto, porter dari Sembalun yang bertemu saya keesokan harinya.
Seperti malam pertama kami di balik bukit berhutan di atas sungai jauh sebelum Pos 1, saya menyajikan milo hangat manis. Roti tawar terasa nikmat dan lebih mudah melewati tenggorokan. Ridho akhirnya sampai, dan saya pamit tidur duluan. Bila mengikuti jadwal, saya harus bangun pukul 2 nanti untuk memulai summit attack ke puncak Rinjani.
***
Lereng Hitam Gunung Biru

Ini cerita saya keluyuran ke Rinjani sendirian. Dengan ‘sendirian’, Rinjani yang sudah ramai oleh turis ternyata memberi petualangan yang cukup mengesankan. Ini bagian pertama.
Sabana Sembalun terbakar hebat beberapa hari sebelum saya melintasinya di awal November 2014. Padang yang luas itu menyisakan pemandangan hitam di lereng-lereng dan asap tipis yang naik perlahan di mana-mana. Satu dua pohon dan sepetak rumput yang selamat biasanya ada di ceruk atau lembah sempit di mana angin berhenti dan api kehabisan tenaga.
“Rinjani kehilangan keindahannya hingga 70 persen,” kata Andi, pendaki asal Jerman. Meski begitu, terlihat tidak ada yang begitu peduli. Keindahan alam, dalam pendakian gunung, memang sering bukan tujuan utama perjalanan. Pemandangan bagus adalah bonus—meski pada Rinjani adalah salah satu komoditas utama.

Sebab itu pula Andi dan teman-temannya, Andreas, Peter, dan Chris tidak kecewa sedikitpun. Termasuk saat melihat sampah yang berserakan di setiap pos atau bertebaran sepanjang jalan. Begitu pula orang-orang tua Polandia yang saya temui di Pos 1. Mereka tetap berfoto dengan latar lereng yang hitam.
“Yang penting itu kita sudah di sini, sobat,” kata Peter. Latar belakang lereng yang hitam dengan warna biru gunung di kejauhan juga bisa indah ternyata. Saya lihat di foto yang saya buat kemudian, masih ada nuansa hijau sedikit di sana-sini. Hijau muda cerah itu berasal dari tunas-tunas rumput yang menyembul di balik gerumbul sisa rumput terbakar.
***
Saya tiba di padang ini malam hari setelah memulai perjalanan dari kantor Taman Nasional Rinjani di Sembalun. Di kantor itu saya masih terkejut setelah beberapa kali terkejut karena mendapati hal-hal berbeda dari informasi yang saya dapat di internet dengan kenyataan di lapangan.
Pertama, entah saya yang salah mengerti, entah memang saat itu saya tidak mendapatkan informasi yang benar, saya tidak tahu. Kalian yang sudah pernah ke Rinjani boleh tertawa. Dari beberapa cerita laporan perjalanan, saya mengira bahhwa Aikmel itu nama pasar di Mataram yang di depannya ada banyak engkel ngetem menunggu penumpang.
Maka itu, saya kira, rutenya adalah dari Mataram kota, ke Aikmel (terminal) untuk lanjut ke (desa) Sembalun di kaki Rinjani. Di Aikmel (pasar) juga kita bisa belanja kebutuhan di gunung.
Karena itu juga saya bingung ketika disebut Terminal Mandalika di Mataram–walaupun kemudian, kata saya dalam hati, kan biasa sebuah kota punya lebih dari satu terminal.
Aikmel (ternyata) adalah nama kecamatan yang jauhnya sudah 40 km lebih kurang dari Mataram. Makan waktu 1 jam lebih kurang, dan makan ongkos Rp50.000 bila menumpang travel atau hanya Rp20.000 bila naik engkel yang jumlahnya sedikit itu.
Engkel ini sebutan untuk moda transportasi antarkota dalam provinsi di NTB. Yang digunakan minibus seperti Elf. Lupa saya tanya kenapa namanya ‘engkel’. Barangkali karena sedikit itu, menunggunya bisa lama, dan itu bisa bikin jengkel, hahaha.
Kedua, walaupun sudah tidak terlalu terkejut, saya tetap geleng kepala sambil mengutuki diri sendiri. Travel (artinya mobil Kijang Innova berpelat hitam yang berlaku seperti taksi berpelat kuning) yang saya tumpangi mau mengantar saya ke Sembalun dengan biaya Rp250.000 dari Aikmel. Itu tidak termasuk ongkos rute Mataram-Aikmel yang sudah saya jalani. Jadi seluruhnya saya membayar Rp300 ribu.
“Daripada masnya menunggu lama di Aikmel,” kata Faisal, pengemudi travel itu.
Saat lewat Aikmel untuk mengantar penumpang yang ingin menyeberang ke tambang batu hijau PT Newmont Nusa Tenggara, pada pukul 3 sore, memang terlihat tak ada lagi pick up sayur yang bisa ditumpangi ke Sembalun. Weh.
Maka, di awal perjalanan ini, jadilah saya turis yang berlagak terburu-buru dan menganggap uang bukan masalah. Saya menjadi bukan-backpacker-yang-mencari-serba-murah bahkan kalau-bisa-gratis. Apa boleh buat, saya adalah korban kesalahan perencanaan yang saya buat sendiri yang diawali dengan kesalahan memahami informasi. Saya yang mengerjakan, saya yang merasakan.
Tetapi, saya juga mensyukurinya. Kalau tak demikian, saya tidak bisa berhenti sesuka hati, seperti menikmati sedikit pemandangan indah di Pusuk itu.

Mantap. Seperti kesimpulan Brian Thacker, tukang keluyuran dari Australia yang saya kenal kemudian, perjalanan itu sendiri sering memberi petualangan lebih seru ketimbang tempat yang dituju—yang salah satunya ditentukan dengan moda transportasi apa kita menuju.
Well, macam tu lah.
Nah, saya masih kaget setelah melapor di pos di Sembalun. Kali ini karena izin dan retribusi. Untuk 4 hari pendakian, ternyata cukup Rp20.000, alias Rp5.000 per hari. Informasi yang saya dapat, Balai Taman Nasional sudah menaikkan tarif menjadi Rp20.000 per hari untuk pendaki warga Indonesia dan Rp100.000 hari untuk warga asing.
“Sudah dikembalikan ke tarif awal,” kata seorang petugas. Menurut petugas itu, yang keberatan atas kenaikan itu terutama para pelaku wisata di Lombok sendiri. Di Rinjani ada porter, ada guide, dan ada pemilik atau operator biro perjalanan. Harga izin yang mahal menyurutkan orang datang dan mendaki Rinjani. Bila begitu, penurunan pendapatan buat semua.
Administrasi pendakian juga menjadi longgar sekali. Saya mencatatkan nama dan alamat di buku tamu sambil mendengarkan penjelasan petugas. “Saya sarankan untuk istirahat saja dulu malam ini, baru mulai perjalanan besok,” kata Yudi, petugas itu. “Apalagi banyak jalan sapi yang bisa menyesatkan,” tambahnya.
Orang Sembalun menggembalakan sapi-sapi mereka hingga ke dekat Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. “Apakah saya wajib melapor lagi saat turun di Senaru nanti?” tanya saya. Yudi bilang boleh saja kalau mau melapor di Pos Senaru, yang ada di mulut gerbang pendakian dari Senaru. Boleh saja itu artinya tidak pun tak apa-apa.
Jadi, saya putuskan beristirahat dulu sebentar. Di seberang jalan depan balai-balai pendaki di halaman kantor Balai Taman Nasional itu ada warung kopi dan pisang goreng. Saya kembali ke balai-balai itu dengan segelas kopi hitam dan lima pisang goreng. Sekarang ada kawan baru, Ridho dan Arif dari Yogyakarta, dan si Mbah dari Malang. Si Mbah ini teman lama sewaktu mendaki Semeru—suatu kebetulan yang tak disangka-sangka.
“Selama masih ada gunung, dan selama masih naik gunung, insya Allah kita akan selalu ketemu,” tawa si Mbah. Masih sama seperti di Semeru, ia juga menjadi pemandu para pendaki dari Jakarta. Si Mbah tiba lebih dahulu dan sedang menunggu kawan-kawannya itu.

“Dan kamu selalu sendirian ya,” tawa si Mbah terus mengembang. Penampilannya tak berubah, tetap dengan rambut lurus panjang ala Wind in His Hair (Angin di Rambutnya, Phehinj Othate, tokoh Indian Sioux-Lakota dalam film Dances With Wolves), celana panjang kargo lusuh, kemeja flannel, serta kaus. Di pojok itu carrier ukuran sedang si Mbah.
Ridho dan Arif mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Ridho punya kemiripan 10 persen dengan Ridho Rhoma, anaknya Raden Haji Oma Irama itu. Ada pipi tembem, ada cambang, tapi tak pernah saya dengar selama perjalanan itu kemudian Ridho menyanyi. Bahkan bersiul pun tidak.
Arif dan Ridho tidak diburu waktu, tapi sepakat dengan saya untuk memulai perjalanan segera setelah mengaso sebentar ini.
“Mungkin kita bisa jalan sampai pukul 10 malam, mungkin sampai Pos 2,” kata Ridho. Setidaknya jalan di malam hari tak dihajar panas terik sabana.
Setelah berdoa sebentar, kami mulai jalan. Benar belaka kata petugas Taman Nasional itu, jalan bisa membingungkan bagi yang baru pertama kali lewat. Banyak percabangan, dan nyaris tidak ada petunjuk apa pun sepanjang jalan. Kami lalu bertemu seorang bapak yang memberi pesan sangat berguna, “jangan ambil jalan yang ke kiri.”
Meski begitu setiap kali kami bertemu persimpangan, terutama yang agak besar, tetap saja kami harus berhenti sebentar. Akhirnya, setelah beberapa lama, saya meyakinkan diri bahwa jalan ini jalan yang benar, asal tidak ekstrem ke kiri.
Pukul delapan malam, setelah tikungan besar ke kiri, ya setelah tikungan besar ke kiri, saudara, berdiri kaku gerbang Sembalun Lawang dari Taman Nasional Gunung Rinjani. Kami sudah berada di ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut. Mulai dari titik ini, saya perlahan meninggalkan Ridho dan Arif.

Jalan pembuka menurun tajam, baru menanjak sedikit sampai ke ujung tikungan dan menanjak lagi di lereng bukit. Lalu padang terbuka luas di bawah bintang.
Bulan purnama ada di belakang saya, lampu-lampu Sembalun di sebelah kanan, dan itu dia, Rinjani di sebelah kiri dalam bayangan kelam yang lembut. Saya melihat lampu-lampu yang mendekat. Enam anak muda yang kurus rupanya dalam perjalanan turun. Saya merasa beruntung karena saat itu di depan saya begitu banyak percabangan jalan. Asal lampu anak-anak muda itu menjadi petunjuk bagi saya mana jalan yang benar di padang yang menyesatkan ini.
Bulan makin tinggi dan alam temaram. Saya terus melangkah, pelan, tapi pasti. Jalan menurun dan menikung lalu sampai di sungai yang kering, dan menanjak lagi setelah menyeberanginya. Saya melihat arloji, pukul setengah sepuluh malam. Saya dan dua kawan di belakang berarti sudah berjalan 4 jam, dan belum sampai juga di Pos 1.
Di peta panorama dari kantor Taman Nasional itu, juga dari cerita-cerita di blog, mereka hanya berjalan 2 jam dari tepi jalan aspal untuk sampai Pos 1. Saya yakin, itu pasti menurut langkah porter yang paling kuat dan paling cepat. Saya jadi meragukan diri sendiri. Betulkah kami menyusuri jalan yang benar? Apalagi jalan ini menurun, makin mendekat ke arah lampu-lampu Sembalun di bawah sana dan meninggalkan Rinjani di belakang? Apakah saya mengambil jalan yang salah dari beberapa pilihan persimpangan yang dilewati tadi?
Saya mendekati bibir jurang di kiri saya. Tak ada apa pun yang terlihat di bawah situ meski cahaya bulan bersinar terang. Saya merasa salah jalan. Ya Tuhan, ini belum lagi Pos 1, dan ini gunung yang dikunjungi turis setiap waktu, dan saya merasa tersesat, hanya karena sapi turut berkeliaran di gunung ini.
Saya kembali ke ujung tanjakan sekeluar sungai. Duduk di tepi jalan, minum, dan makan cokelat. Saya lepas carrier dan berjalan naik ke bukit. Sama sekali tak meyakinkan. Hanya jalan di bawah itulah satu-satunya jalan. Tapi kok menuju ke perkampungan?
Pukul 10 malam saya putuskan untuk istirahat dan bermalam. Saya kembali ke sungai kering dan ingat di atasnya ada rimbunan pohon yang tampak nyaman. Makan malam, tidur, istirahat, dan kita lihat besok di mana kita berada. Selesai menegakkan tenda, saya melihat dua lampu beriringan. Ridho dan Arif, dan rupanya mereka pun sama bingungnya dengan saya. Sebab itu, ajakan untuk istirahat dan bermalam di tikungan jalan itu tak ditolak. Apalagi setelah saya menyajikan biskuit dan milo hangat.
***
Wilee and Me
Untuk Lukas Adi Prasetya, Greg Le Mond, dan Queen, tentu saja: “Bicycle Race”, please.
(Oh, tulisan sesuka hati ini panjangnya 3.032 kata. Jadi, seperti balapan sepeda Tour de France, akan menguras stamina—juga waktu. Juga ada sejumlah adegan dewasa. Kebijakan pemirsa diperlukan, hehehe. Be wise with that).
Nonton film Premium Rush? Ini film keluaran Agustus 2012, jadi belum terlalu lama lah. Pertama nonton saya bagai terpaku di tempat duduk. Film itu, hehehe, saya banget. Kemana-mana ngebut pakai sepeda. Yah, setidaknya, saya yang dulu, 30-20 tahun yang lalu, hehehe.
Premium Rush adalah film tentang para pengantar pesan dan barang dengan bersepeda di Manhattan, New York. Mereka mengantar surat, paket kecil, dengan janji sampai dalam hitungan jam. Makanya disebut ‘premium rush’. Itu juga jadi nama biro antaran tempat kerja Wilee (bacanya wayli, [wa;y;li].
Memang beda dengan tukang pos dulu yang juga khas dengan sepeda dan bel-nya yang kring-kring. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) dan teman-temannya adalah alternatif. Mereka bukan menggunakan sepeda ontel dengan tas paket dan surat di bagasi dan berseragam, lalu mengayuh tenang menyusuri jalan sambil mengenakan topi dan tersenyum.
Mereka mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ride like a hell, kata posternya. Kata narrator (suara pencerita yang Anda dengar di dalam film) Wilee bahkan tidak memasang rem di sepedanya.
Dalam belantara kota yang jalan-jalannya penuh mobil dan kemacetan, bersepeda ternyata lebih cepat. Selain kecepatan sepeda bisa cukup tinggi bila ditunggang orang yang terlatih, bersepeda bisa menjadi lebih cepat karena ia tetap bisa jalan dengan menyelipkan diri diantara antrean mobil di tengah kemacetan, bisa melawan arah di jalah satu arah, bisa tetap ngebut di trotoar atau di taman (ini melanggar hukum-karena itu Wilee dikejar-kejar polisi yang juga bersepeda).
Maka meski bayarannya ‘hanya’ 70 dolar sehari (lebih kurang Rp700 ribu, boi—mau juga sayah, hahaha) Wilee mengayuh sepedanya dengan kenekatan melebihi orang gila mabuk.
Menurut Wilee sambil memeluk Vanessa, pacarnya yang berwarna cokelat dengan pipi payudara yang ranum—memang bukan semata karena bayaran ia bersepeda seperti itu. Ia menikmati hidupnya di atas sadel dan mengayuh sepedanya. Meski ia kuliah di Sekolah Hukum, daripada jadi pengacara yang kelimis dan wangi, katanya, ia lebih suka menantang maut begitu.
Barangkali seperti pembalap MotoGP Valentino Rossi saat masa jayanya—dan sampai hari ini juga—walau kini ia sudah agak jarang naik podium di MotoGP.
Itu pilihan saja. Para pengacara tak perlu tersinggung apalagi menuntut seperti Prabowo-Hatta, hehehe. Apalagi para pengacara, hakim, jaksa, polisi sudah punya banyak film yang bagus-bagus. Saya baru kali itu lagi nonton film tentang pengantar pesan. Selainnya ada The Postman, film Kevin Costner tahun 90-an. The Book of Eli-nya Denzel Washington barangkali juga bisa dimasukkan. Mungkin masih ada film-film lain, tapi tak banyak.
Jadi, sesuai namanya, dari awal sampai akhir film Premium Rush penuh adegan ngebut dengan sepeda. Lengkap juga dengan kejar-kejaran, kecelakaan, dan akrobat. Karena itu juga Wilee dan kawan-kawannya berpenampilan dan berkostum bak atlet: tegap dengan badan berisi, celana ketat, mengenakan helm, dan selalu berkeringat. Mereka juga gigih dan pantang menyerah.
Penulis skenario dan sutradara David Koepp membuat dan memberi makna setiap adegan dalam latar kehidupan manusia sehari-hari. Ada persaingan antarlelaki, antarrekan kerja, pertengkaran kekasih, dedikasi semangat kerja militan, mahasiswa pemalas, persaudaraan—baik antarsesama pengantar bersepeda maupun sesama manusia.
Tentu ada juga tokoh jahatnya, yaitu seorang polisi yang kecanduan judi dan sedang berutang banyak. Paket kecil tanda terima uang yang jadi antaran Wilee jadi incaran polisi ini—dengan alasan cara pengiriman uang seperti itu ilegal.
Di situlah kejar-kejarannya. Di situ juga balapannya. Setelah dihajar rekan-rekan Wilee para pengantar bersepeda, polisi ini akhirnya tewas ditembak oleh seseorang yang tak disangka-sangka.
Cara bercerita Koep juga asik. Tidak lurus linear awal sampai akhir. Tapi bolak balik. Ada jam digital yang berdetik sebagai penanda waktu. Barulah seperti kisah Kho Ping Hoo, semua cerita berkumpul di klimaks di bagian akhir. Dan sekali lagi kebaikan menang atas kejahatan.
***
Levitt pasti harus berlatih keras untuk bisa menunggang sepeda Wilee. Sepeda Wilee adalah sepeda fixie, sepeda balap rangka baja yang ‘berat’ untuk ukuran sepeda balap. Sepeda fixie menjadi khas karena ‘fix’ alias tanpa persnelling dan ‘tanpa’ rem. Pemakainya harus mengayuh terus menerus karena selama sepeda jalan gir akan terus berputar. Demikian pula sebaliknya.
Alternatif dari sepeda fixie dengan gir yang terkunci itu adalah freewheel, atau gir bebas. Anda bisa berhenti mengayuh sementara sepeda tetap jalan.
Untuk sepeda fixie-nya ini, Wilee memasang gir 54 pada pedal dan roda gigi 12 mata sehingga kayuhan awal pasti berat. Sebab itu Wilee bila tidak terlebih dahulu mendorong sepedanya, memulai dengan berdiri di atas pedal.
Keuntungan kombinasi ini adalah setelah sepeda meluncur di jalanan, terutama di jalanan mulus datar seperti di New York. Sedikit kayuhan saja, kecepatan sudah didapat. Nyaris tidak ada tenaga terbuang. Sepeda fixie juga bisa dipakai buat atraksi karena bisa jalan mundur. Adegan Wilee kabur pertama kali dari halaman kampus Nima menggunakan teknik ini.
Tapi ya itu, memulainya berat. Di Balikpapan, kombinasi ini hanya cocok dipakai di jalan sepanjang pantai, dari Kampung Baru Ujung hingga Teritip. Penggemar sepeda fixie di Balikpapan, anak-anak muda itu, suka mengecat sepeda mereka warna-warni. Tapi tak pernah saya melihat mereka balapan dengan sepeda itu.
Untuk menambah aerodinamis, Wilee menggunakan setang tanduk, setang sepeda balap modern sekarang yang membuat pemakainya menunduk mengurangi hambatan angin.
Walaupun oleh narrator disebutkan sepeda Wilee tidak memakai rem, sesungguhnya tetap ada sistem pengereman di sepeda itu. Seperti sepeda roda satu untuk akrobat, sepeda fixie menggunakan sistem doltrap. Cara mengeremnya, cukup tahan pedal, maka roda belakang akan berhenti berputar. Kalau jalan sepeda pelan tentu tak masalah. Kalau lagi ngebut, diperlukan tenaga otot yang besar untuk menghentikan sepeda doltrap yang melaju seperti itu.
Maka setelah sepedanya melaju kencang, cara Wilee bersepeda mirip orang mau bunuh diri.
Rem doltrap sering dikira rem tromol. Teknologi keduanya memang seumur, yaitu sudah ada sejak awal sepeda diciptakan. Di Indonesia rem tromol terkenal dengan merek Tornado—sehingga kemudian disebut rem tornado. Kakek-nenek Anda pasti tahu.
Sama seperti rem doltrap, memakai rem tromol perlu keahlian tersendiri. Bedanya, bila doltrap membuat Anda terus menerus mengayuh tanpa henti, tromol masih mengizinkan Anda ‘coasting’ mengistirahatkan kaki di atas pedal sementara roda belakang tetap berputar. Pengereman baru terjadi bila Anda mengayuh ke belakang.
Nah, bila ngebut terutama, setiap kali mengerem, baik dengan doltrap ataupun tromol, kita akan mendapati roda belakang yang terkunci—namun sepeda tetap meluncur sebab gaya lebam dorongan. Kalau tak biasa, Anda akan terjungkal. Kalau sudah ahli, Anda bisa membuat para cewek menjerit kagum.
Ada juga Manny—teman dan saingan Wilee—yang berotot dan serba kebalikan dari Wilee dalam hal sepeda—sepedanya sepeda balap rangka komposit yang ringan dengan persnelling 5 tingkat. Atau pacar Wilee, Vanessa yang menggunakan ATB (all terrain bike, sepeda segala medan dengan ban telapak lebar).
Sepedanya Pak Polisi yang gigih itu juga ATB. Ia tangguh, tapi kurang latihan—dan seperti biasa, terhambat aturan-aturan. Oh, ini polisi yang lain, bukan yang jahat tadi.
***
Tiga empat tahun terakhir ini, sejumlah kawan, baik yang dari Total Indonesie, Chevron Indonesia Company, Pertamina, dan beberapa yang lain gemar bike to work—bersepeda ke kantor.
Berbeda dari Wilee yang bersepeda betul-betul untuk mencari nafkah, mereka tampaknya digerakkan oleh kesadaran bahwa bersepeda itu menyehatkan badan dan bisa menghemat banyak isi dompet atau rekening di bank.
Bagi mereka ini juga bagian dari kampanye hemat energi. Tentu bagus buat contoh sebab merekalah yang mengeluarkan minyak dan gas itu dari perut bumi.
Selain bike to work, warga Kota Minyak bersepeda setiap ada waktu dan kesempatan dan kemana saja mereka mau. Di perumahan yang luas seperti Balikpapan Baru, warga bersepeda untuk pergi ke toko swalayan.
Ada yang sekedar memutari Lapangan Merdeka setiap hari Minggu atau keliling komplek sesempatnya. Ada yang senang bersepeda di jalan raya jarak jauh hingga Km 50 Jalan Soekarno-Hatta atau menyusuri jalan datar hingga Lamaru. Banyak pula yang ekstrem dengan sepeda lintas alam, mengikuti trek gunung hutan pantai yang memang terhampar melimpah di Balikpapan.
Ada yang bersepeda bersama keluarga, teman dekat, teman tidak dekat, kawan kantor seperti tadi, atau kawan kenal di acara sepedaan itu juga.
Ada yang kemudian membuat klub sepeda. Biasanya berdasar gaya dan kebiasaan naik sepeda.
Karena Orang Kaltim cukup banyak yang kaya raya dan suka bergaya, ada yang sepedaan ke Singapura. Saya tidak tahu untuk apa—mungkin ya untuk bergaya saja, yaitu mau menunjukkan saja bahwa di Balikpapan masih banyak orang yang bisa naik sepeda dan sanggup beli sepeda, hehehe—sebab mereka ada yang pakai sepeda seharga Rp40-50-60 juta—yang rangkanya dari bahan komposit seperti punya Manny sehingga sebab ringannya bisa diangkat dengan satu jari.
Atau kepingin merasakan jalan mulus datar yang memang tidak banyak di Kota Minyak. Atau dihargai karena mematuhi peraturan, …—ini mungkin orang Samarinda yang turut program wisata sepedaan itu dari Balikpapan.
Atau ingin merasakan sensasi disemprit polisi atau ditilang atau didenda karena buang sampah sembarangan.
Ada juga yang ke Gunung Bromo. Beramai-ramai dalam rombongan satu pesawat. Sepedanya menyewa di Malang. Ceritanya menyenangkan, tentang melihat pemandangan matahari terbit, tentang dingin, tanjakan, hingga medan yang terlalu berat bagi orangtua dan seharusnya panitia menyediakan beberapa trek berdasar tingkat kesulitan untuk pilihan.
Soal harga sepeda, jangan kaget. Perusahaan otomotif terkenal Ferrari dan Mercedes Benz juga bikin sepeda yang harganya lebih kurang 16.000 dolar lebih, alias Rp150 jutaan. Di Indonesia, kata dealer Mercy di Jakarta, laku 4 unit sebulan.
Tapi tenang aja, semahal apa pun sepeda itu, ia tetap baru jalan kalau pedalnya dikayuh.
***
Apa pun tipe dan gaya bersepedanya, sudah saya lalui semua. Mulai karena gaya dan gengsi seperti yang sepedaan ke Singapura itu hingga sepedaan ekstrem lintas alam.
Termasuk juga seperti Wilee dan Pak Pos, bersepeda untuk cari duit.
Saya juga hampir jadi atlet balap sepeda dan sudah terdaftar di ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Banjarmasin karena juara di satu lomba balap sepeda lintas alam.
Sepedaan karena gengsi? Ya, pertengahan dekade 80-an adalah masa keemasan BMX, bycycle motocross. Ini sepeda asal Amerika. Ibarat motocross tapi tanpa mesin. Anak-anak muda Paman Sam tengah suka berpacu di lintasan tanah, naik turun table top, superbowl, papan loncat, dan banyak atraksi. Karena itu juga wajib pake helm dan pelindung badan. Di Banjarmasin demamnya sampai hanya kepada kepemilikan sepedanya, sedikit atraksinya, tanpa helm dan pelindung badan.
Mama membelikan saya salah satu sepeda BMX merk terbaik, Olympic. Warnanya hitam, las rangkanya rapi, harganya Rp70 ribu. Gengsi saya dimata anak-anak lain pun naik 300 persen. Hanya beberapa yang memakai sepeda sekualitas itu. Sebab saat itu banyak BMX yang KW2 yang harganya hanya Rp40-50 ribu dengan las rangka yang kasar dan aksesoris yang juga kasar.
Mama saya, yang sederhana, walau mungkin juga terselip bangganya ketika itu, tentu membelikannya bukan karena gengsi. Tapi karena hemat.
“Apiki ya,” pesannya. Sepeda itu kendaraan saya pergi pulang sekolah yang jauhnya 5 km dari rumah.
Gengsi saya naik, betapa tidak, sebelum pakai BMX Olympic ini, saya memakai sepeda ontel, sepeda unisex Phoenix tua, sepeda milik Abah yang berat dan sudah ketinggalan zaman di mata anak-anak seumuran saya saat itu.
Sepeda Phoenix itu menjadi alat transportasi keluarga bahkan sebelum saya lahir. Sebab beratnya dan ukurannya yang jauh lebih besar dari tubuh saya yang masih anak-anak, saya perlu sebulan belajar untuk bisa mengemudi dan menjalankan sepedanya. Ada sejumlah bekas luka sebagai kenang-kenangan dan cerita nyemplung ke rawa-rawa.
Sepeda BMX itu masih ada di loteng rumah Abah di Banjarmasin. Sepeda Phoenix sudah dihibahkan kepada seseorang ketika Abah berdinas di Pelaihari, 70 km tenggara Banjarmasin.
Saya bike to work everywhere. Dengan sepeda BMX Olympic itu, saya menjadi ‘newspapers boy’, loper koran selama 4 tahun di masa SMP dan awal SMA. Saya bertugas mengantar surat-surat kabar, juga tabloid, majalah terbitan Jakarta ke rumah-rumah langganan dalam rentang 15 km setiap hari.
Inilah persamaan saya yang paling dekat dengan rutinitas Wilee.
Sampai awal tahun 90-an, surat kabar dari Jakarta tiba pukul 13.30 setiap hari di Bundaran Hasanuddin HM, pusat perdagangan koran dan majalah Banjarmasin. Saya mengambil jatah koran untuk langganan sepulang sekolah pukul setengah dua siang dan mulai bekerja mulai pukul 14.00. Langganan saya yang pertama adalah Toko Emas Lamongan di Jalan Sudimampir yang berlangganan harian Merdeka, … lalu menyusuri Jalan Ahmad Yani—ada langganan di Jalan Kuripan, lalu Kebun Bunga, sebelumnya Ratu Zaleha—agak kacau ketika saya juga punya langganan Jawa Pos di Pekauman yang membuat saya memutar jauh sehingga akhirnya terpaksa langganan ini saya jual hak kepemilikannya kepada loper yang tugasnya di sekitar situ.
Dari Kebun Bunga menyusuri komplek itu masuk Gatot Subroto, asrama polisi Bina Bharata, menyeberang ke komplek di depannya, seorang langganan yang saya tak pernah liat tampangnya yang berlangganan The Jakarta Post.
Lalu menyebelah ke Sasana Santi, menyeberang ke Dharma Praja, menyeberang lagi ke ibu-ibu yang suka baca tabloid acara televisi Monitor di asrama tentara Lambung Mangkurat, mbak-mbak yang baca Nova di Banjar Indah Permai—hingga sekitar pukul 5 sore tiba di dua langganan terakhir di Beruntung Jaya, Pak Abdul Kadir Munsyi yang anak gadisnya cantik-cantik, dan Ahmad Farid yang tinggal berdua saja dengan istrinya.
Pak Farid yang berlangganan Kompas, adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unlam. Istrinya membaca majalah Kartini.
Walau tidak sedramatis kisah Wilee, banyak suka dukanya loper koran, hahaha. Ada kecelakaan, ada akrobat, ada percintaan juga (with a girl name Sofi, and I think also Hayati, hehehe). Mungkin saya cerita lain kali. Yang pasti dalam hal sepedaan, saya jadi hapal jalan-jalan Banjarmasin sampai ke yang terkecil. Lalu seperti anak-anak tahun 80-an lainnya, kita semua jadi sehat dan kuat karena banyak berkeringat sebab beraktivitas di luar ruangan.
***
Saya masih naik sepeda untuk berbagai pekerjaan lain, walaupun sekedar sebagai ke kantor—seperti kawan-kawan saya di Total atau Chevron atau di Pemasaran Pertamina sekarang.
Oh, di Kilang Unit Pengolahan Pertamina sepeda justru kendaraan wajib karena tidak boleh ada mesin dengan busi di lingkungan yang penuh uap bahan bakar—juga no hp apalagi pemantik api.
Saya naik sepeda ke kantor Kalimantan Post untuk jadi penerjemah Piala Dunia 1998. Saya masih bersepeda dalam setengah tahun pertama karir saya sebagai jurnalis, yang resmi dimulai di Barito Post—koran militan yang pada awalnya sangat disegani di Banjarmasin maupun Palangkaraya.
Tentu saja, saya terus bersepeda untuk SMA, dan kemudian kuliah.
Ketika SMA saya sempat memakai sepeda balap jalan raya. Dengan sepeda itu saya pernah melesat hingga 80 km per jam saat turunan Jembatan Sudimampir. Sering membuat balapan tidak resmi baik dengan sesama pengendara sepeda maupun dengan motor, atau mobil. Bagaimana awal balapannya biasanya hanya karena tak terima disalip saja. Yang disalip lalu balas menyalip dengan provokatif, dan jadilah balapan.
Kadang-kadang balapannya ala time trial pursuit di velodrome. Dengan lawan itu, yang bisa siapa saja di jalan, kami bisa saling mengintai sambil berusaha dengan cerdik menghalangi jalan lawannya.
Dari kecepatan sepeda, jenis sepeda, gaya bersepeda, kita bisa tahu apakah kita bisa memenangkan balapan itu atau tidak. Kalau tahu saya lebih baik dari lawan saya, sering saya sengaja menahan diri. Saya menahan laju sepeda sedikit di belakangnya, atau menyamainya, tapi tidak menyalipnya.
Seperti Marquez yang menahan diri tidak menyalip Rossi yang memimpin hingga tinggal 9 lap sebelum finish di GP Catalunya.
Balapan seperti itu bisa pula jadi pembangkit emosi. Saya pernah menutup jalan seseorang, menahannya terus dengan berada satu roda di depannya, dan baru membuka jalan setelah di depannya ada gerobak tukang sampah dan saya menyingkir ke kanan.
Ada bunyi gedubrak yang keras, tapi sungguh saya tidak berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika mulai kuliah di awal 90-an, mulai menjadi tren sepeda gunung jenis ATB. Semua orang membeli sepeda merek Federal. Tapi saya tak pernah kehilangan kepercayaan kepada Olympic.
ATB, all terrain bike memang cocok dipakai di Banjarmasin. Jalan tidak mulus banyak, dan karena sesungguhnya tidak ada gunung di Banjarmasin. Titik tertinggi di jalan raya mungkin Jembatan 9 November itu, jembatan yang menghubungkan Kelurahan Seberang Masjid dengan Pasar Lama.
Masa kuliah ini balapan saya lebih banyak melawan diri sendiri. Pada kondisi terbaik, saya menciptakan rekor pribadi, menempuh jarak antara Beruntung Jaya di selatan ke Kayu Tangi di utara, lebih kurang 15 km, dalam 20 menit. Yup, memang tidak melulu fisik, tapi sedikit dipadu dengan hasil pengamatan dan ditambah keberuntungan. Pada titik tertentu, ada banyak lampu lalu lintas yang membuat orang harus berhenti. Tapi lampu lalu lintas memakai pola tertentu, terutama yang berada pada persimpangan yang berdekatan—sehingga bila hitungannya tepat, Anda bisa mengakalinya.
Seperti semua arah ke utara di beberapa persimpangan berdekatan pasti akan dibuat hijau (jalan) bersamaan—pasti juga merah (berhenti) bersamaan. Kalau tidak, kendaraan akan menumpuk dan macetlah yang terjadi.
Ilmu itu pastinya ada di matakuliah rekayasa lalu lintas di Fakultas Teknik. Tapi karena saya bukan mahasiswa teknik, saya belajar langsung di jalanan.
Begitu pula cara polisi mengatur lalu lintas pada persimpangan yang berdekatan. Mereka berkomunikasi dengan radio untuk membuka dan menutup arus pada waktu yang tepat. Jadi bisa dibayangkan bukan, betapa kesalnya mereka bila ada yang menyelonong tak patuh aturan. Itu bisa menyebabkan kecelakaan, baik si penyelonong sendiri, maupun orang lain.
Hehehe, seperti Wilee, diantara yang suka menyelonong itu adalah saya—pake sepeda, tentu. Sersan Dua Joko Slamet pernah melayangkan tempelengnya pada saya di pertigaan Terminal Km 6. Meleset karena saya berkelit dan saya berlalu seperti Greg Le Mond untuk finish juara Tour de France.
Pada kesempatan lain, bersama rekannya Sersan Dua Agus Jatmiko, Sersan Dua Joko Slamet menang. Kawan saya yang naik motor, yang baik hati membonceng saya, dihentikan di lampu merah di persimpangan Jalan Achmad Yani dan Jalan Pangeran Antasari. Kesalahan: tidak pakai helm. Yang tidak pakai helm: saya. Jangan tanya lagi soal SIM dan STNK.
Tawar menawar denda damai dipaskan Rp25.000. Dibayar lunas menjelang magrib oleh ibu-teman-yang motornya kami pinjam itu. Ya, itu motor pinjaman, sobat. Hehehe.
***
“Halo cewek!”
“Eh, Bang Nov, …”
“Ayo naik.”
Maka Neng pun duduk di palang tengah sepeda ATB saya. Setangnya yang rendah, yang memaksa pengendara membungkuk, membuat saya seperti memeluk gadis yang baru pulang sekolah itu. Hidung dan mulut saya di telinga kanannya. Masih ada sisa wangi di rambutnya yang kecokelatan setelah hari sekolah yang sibuk.
Kadang dalam perjalanan singkat dari depan komplek itu kita bercerita sekilas hal-hal yang mengesankan yang terjadi hari itu—sebagai preview telepon kemudian atau janji temu di perpustakaan sorenya.
Sering pula kami hanya diam hingga depan rumah dekat persimpangan dan tikungan itu.
“Have a nice day, dear,” saya cium telinga dan ubun-ubunnya. “Love you.”
“Hati-hati Bang,” bibir dan ujung hidungnya menempel sedetik di pipi kiri saya. “Love you too.”
Saya memutar balik sepeda dan melanjutkan perjalanan pulang, Rumah saya masih 5 km dari rumah Neng.
Ini tidak setiap hari terjadi kawan, tapi cukup membuat cuaca hati cerah berhari-hari. ***
A Daddy, Brother, Lover, Little Boy
Saat Piala Dunia di Perancis tahun 1998 dan saya mendapatkan pekerjaan profesional yang pertama, Neng lulus UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya melihat nomor ujian dan namanya tertera di koran khusus yang diterbitkan panitia untuk pengumuman hasil ujian itu.
Hanya mereka yang lulus yang dicantumkan nomor ujiannya, berikut nama, dan kode jurusan yang menerimanya. Neng akan menjadi mahasiswa Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, tentu saja Angkatan 1998.
Menyenangkan, bukan. Seperti menunggu buah yang diperam lama, dan sebentar lagi masak.
Dengan dia menjadi mahasiswa, setidaknya ‘memperpendek jarak’ antara kami. Kalau sebelumnya antara mahasiswa dan siswa, kini hanya antara mahasiswa. Jarak usia 6 tahun pada tingkatan pendidikan yang berbeda tentu sesuatu banget. Tapi jarak yang sama pada level pendidikan yang sama bisa tidak terlihat terlalu mencolok.
***
Saya ingat suatu hari di bulan Januari ia bertanya kepada saya, mana yang baik baginya, apakah kuliah di Unlam saja, atau meneruskan pendidikan khusus yang sudah dijalaninya selama ini.
Di SMKN 4, Neng adalah siswa jurusan Pariwisata. Keahliannya adalah Housekeeping.
Bila Anda memasuki kamar hotel, terutama kamar hotel berbintang, saat pertama kali tiba Anda akan melihat bagaimana bantal ditumpuk di ujung tempat tidur, selimut dihamparkan, meja diletakkan, atau handuk-handuk dilipat dan ditata di rak besi di kamar mandi, sampai seperti apa ujung tisu gulung dilipat, itulah pekerjaan orang Housekeeping.
“Kok bingung?” tanya saya.
“Gak bingung. Cuma mama mau begini, sementara ulun sendiri belum yakin mau apa,” katanya.
Mama mau begini itu, cerita Neng, adalah ia ke Bandung, kuliah di sekolah tinggi pariwisata di Bandung, dan seterusnya. Bandung sendiri adalah tanah air yang lain bagi Neng. Ini tempat asal ibunya dan keluarga mereka punya rumah di Cimahi.
Cimahi itu kota satelit Bandung di utaranya. Bisa naik angkot lewat Geger Kalong di Jalan Setiabudhi. Rumah itu ada di sebuah komplek yang sedikit naik ke perbukitan. Di Bandung dan Cimahi dia punya beberapa acil, ada om, sepupu dan ponakan, …
Pilihannya sendiri ia belum tau. Itulah yang ditanyakannya kepada saya.
Well…coba apa saranmu sobat?
***
Hari itu, di beranda Perpustakaan Daerah, saya menjadi seorang kakak dan ayah sekaligus. I can be your daddy, your brother… [1]
Saya bilang, menurut pada orangtua dan mewujudkan harapan mereka itu pahalanya luar biasa, hidup berkah, dan seterusnya. Apalagi yang mereka inginkan baik-baik belaka. Mumpung orangtua lagi mampu nyekolahin tinggi kemana saja, itu kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali. Lagi pula ia tak asing Bandung. Bandung juga gak jauh-jauh amat dari Banjarmasin.
“Kan Neng masih bisa sering pulang. Mungkin aku juga bisa jalan ke sana sekali-sekali…”
Dan 4 tahun saja kan.
(Fakta: Bandung-Banjarmasin lebih kurang 1.500 km, 1.200-an diantaranya di atas Laut Jawa. Fakta lagi: betapa sibuknya mahasiswa, dan betapa banyaknya yang bisa terjadi dalam 4 tahun)
Walaupun saya juga menambahkan bahwa tidak ada salahnya juga kuliah di Banjarmasin-di Unlam, pilih jurusan yang dia juga suka, gabung ke KBU, dan seterusnya.
“And we can stick together,” kata saya. Saya juga seorang pacar. I am also your lover…[2]
“Yup,” angguknya dengan senyum ditahan.
“Bang Nov mau es krim?”
Saya juga bisa jadi anak kecil. And I am definetely your little boy.[3]
Kami berdua suka Conello, es krim keluaran Walls yang gampang didapat di mana saja di warung atau toko yang cukup besar. Meski begitu, karena uang saku pelajar dan mahasiswa yang terbatas, Conello adalah kemewahan kecil yang tak selalu bisa kami beli. Neng kadang menyisihkan uang bensinnya—ia diizinkan naik motor ke sekolah. Saya menyimpan sebagian pendapatan saya dari menerjemahkan berbagai teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.
Kami juga masih membicarakan hal mau kemana setelah lulus itu beberapa kali. Saya bilang saya mendukung apa pun keputusannya.
***
Jadi saya sudah tahu seandainya ia memilih tidak kuliah di Banjarmasin. Setidaknya ia tidak akan menghilang begitu saja seperti Day. Setidaknya hari itu komunikasinya lebih mudah.
Dan pagi itu, nama dan nomor ujiannya tertulis di situ. Saya menelepon untuk mengucapkan selamat, namun Neng sedang keluar.
“Ke rumah sepupunya di Gang 7,” kata mamanya, perempuan yang selalu ramah itu. “Ada pesan, nak?”
Saya hanya bilang akan menelepon kembali. Saya tahu nomor telepon rumah sepupunya itu, dan juga biasa menelepon ke situ.
***
Pekerjaan profesional pertama saya di ruang redaksi adalah penerjemah berita-berita Piala Dunia Perancis 1998 tersebut. Saya bekerja dengan para legenda jurnalis Kalimantan Selatan. Ada mendiang Om Pay yang kumisnya sangar itu, ada Bang Budi yang kumisnya juga sangar dan setahu saya sekarang di Metro TV, ada Bang Atoey yang berewokan dan sekarang Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, ada Bang Rachman Agus yang kelimis, ada Bang Nafarin Fauzi yang gondrong ikal, juga dengan kumis sehingga mirip kiper Kolombia di Piala Dunia 1990 Rene Higuita, hehehe, ada ka Lili yang ketika itu wartawan perempuan paling cantik yang saya kenal, ada acting editor in chief Pak Misri Syarkawi, desainer halaman Umang Thaka,…
Selama Piala Dunia, sekitar dua hari sebelum pembukaan hingga dua hari juga setelah selesai, saya menjadi bagian dari redaksi Kalimantan Post. Jam kerja saya lebih kurang mirip redaktur, antara pukul empat sore hingga pukul satu dinihari. Atasan langsung saya adalah Bang Nafarin Fauzi itu, redaktur olahraga.Dia yang membaca hasil kerja saya, mengkritik, dan memberi arahan bagaimana berita olahraga ala Kalimantan Post—koran yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Media Grup milik Surya Paloh dengan nama Dinamika Berita.
Bang Parin, demikian panggilannya, mengajari dengan cara gampang: meniru. Di memberi beberapa contoh untuk dicontek. Seperti pelajaran lama di mata kuliah Writing: Imitative Writing, atau pelajaran Bahasa Indonesia di masa kelas 3 SD dengan mengisi rumpang. Kau boleh meniru tulisan yang sudah jadi, yang sudah bagus, masukkan data yang kau miliki, begitu. Tapi kau tak boleh jadi peniru buta, meniru hanya untuk memudahkan mengawali. Setelah sepuluh tulisan meniru, kau sudah harus bisa membuat satu yang asli dari otak dan tanganmu sendiri.
Hari ketiga saya bekerja, atau sehari setelah pembukaan tanggal 10 Juni, Bang Parin sudah tak berkerut lagi keningnya membaca terjemahan saya. Berita pertandingan Grup B antara Kamerun vs Swiss yang berkesudahan imbang 1-1 lolos dalam waktu 90 detik.Gol Kamerun dibuat oleh bek Pierre Njanka di menit ke-78. Swiss yang tak mau kalah mencetak gol di menit ke-90 oleh Tony Polster.
“Itu satu hari terbaik saya sebagai pemain,” kenang Njanka dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Saya mewawancarainya setelah 14 tahun pertandingan itu berlalu. Njanka sudah berkostum Putra Samarinda. Ia sudah bermain di Indonesia sejak 2008 mulai dari Persija, juara Liga Indonesia bersama Arema, tenggelam bersama Atjeh United, muncul lagi bersama Mitra Kukar di Tenggarong, dan bergeser lagi 40 km ke Samarinda untuk gabung Persisam.
***
Pekerjaan ini datang kepada saya mungkin bukan kebetulan. Bukan kebetulan lagi Rachman Agus, Atoey, Om Pay adalah senior kami semua di Kompas Borneo Unlam.
“Adakah yang bisa menerjemahkan,” kata Rachman Agus, sepekan sebelum kick off juara bertahan Brazil versus Skotlandia di Stade de France, St Dennis.
Untuk menyampaikan pertanyaan itu, Rachman Agus, redaktur pelaksana Kalimantan Post mampir khusus ke Sekretariat KBU di Unlam. Mungkin pertanyaan itu disampaikan kepada Guru Anang, mungkin juga kepada yang lain. Yang sampai kepada saya bukan pertanyaan, tapi semacam berita panggilan.
“Nov, kam dicari Rachman Agus…”
***
Di Kalimantan Post, seperti para pemain di Liga Inggris, saya dibayar per pekan. Masa itu, Rp250.000 cukup lumayan. Makan nasi pecel di Warung Rahmi di Jalan Cendana di Kayutangi itu hanya Rp1.200 seporsi (sekarang di Balikpapan bisa sampai Rp18.000 lebih). Ongkos naik angkot jauh dekat Rp… aduh berapa ya, mungkin sudah Rp400 (sebelumnya Rp75, lalu Rp100, lalu Rp150, lalu Rp200, lalu Rp250, lalu Rp300…). Bensin Rp600 per liter. Biaya parkir, Rp50 (saya parkirnya sepeda—karena kemana-mana pake sepeda).
Honor terjemahan itu bahkan nyaris tak tersentuh. Ada kopi, teh, dan penganan gratis di kantor. Setiap malam, ada saja yang nraktir makan malam. Sebagian besar karena menang taruhan bola.
Lalu seseorang menyadari bahwa saya punya akses kepada berita-berita pra pertandingan, preview. Berita preview itu berisi misalnya strategi apa yang akan digunakan pelatih, siapa yang akan diturunkan, siapa yang terkena akumulasi kartu kuning. Berita semacam itu bagus bagi yang ingin bertaruh. Tiba-tiba pula saya jadi punya semacam penghasilan tambahan tidak resmi. Tidak diminta, tapi datang begitu saja.
Saya bisa beli kopi dan mi instan agak banyak buat para penghuni Sekretariat. Saya bisa ngajak Neng nonton, dan banyak makan es krim.
***
“Yup, selamat yaaa.”
“Hehehe, makasih. Conello dong.”
“Beresss. Kan sore ke perpustakaan …”
Percayalah sobat, Perpustakaan adalah tempat paling romantis di dunia. ***
1, 2, [3]Tentu saja bukan karena ini William “Billy” Sheehan dan Pat Torpey menuliskan liriknya, menjadikannya lagu untuk dinyanyikan Eric Martin dan gitar oleh Paul Gilbert, yang mereka kemas dalam album Lean Into It untuk Mr Big di tahun 1991. Kata Pat Torpey yang drummer itu, lelaki haruslah bisa menjadi ayah, kakak, kekasih, dan anak kecil sekaligus. Oleh Sheehan, lagu itu diberi judul Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy.
[4] ‘Jar’ (bahasa Banjar) = ‘bilang’, ‘kata’, said (Inggris), ‘jare’ (Jawa)
[5] ‘pian’ (bahasa Banjar) = sapaan untuk yang lebih tua, bentuk pendek dari ‘sampiyan’. Bahasa Banjar memang mendapat banyak pengaruh Bahasa Jawa—mengingat, konon, sejarah para bangsawan dan pedagang pertama Banjar berasal dari Keling, Kediri.
… Julia Roberts
Hari kami, saya dan Neng berkenalan adalah suatu Jumat sore di bulan April, setahun sebelum reformasi, demikian catatan harian saya menyebutkan. Banjarmasin mulai memasuki masa riuh kampanye. Kami di Kompas Borneo Unlam yang bertahun-tahun didoktrin untuk tidak ikut campur dalam politik praktis sebagai organisasi, sedang menjalankan program yang menyenangkan ini: kursus pencinta alam untuk siswa SMA.
Lebih menyenangkan lagi, peserta program ini, dan memang sejak awalnya dibuat khusus untuk mereka, adalah para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4. Ini sekolah yang siswanya 99 persen perempuan. Satu persen siswa laki-laki yang ada pun sebagiannya berkelakuan dan bergaya seperti perempuan.
Dulu sebutannya SMKK, sekolah menengah keterampilan keluarga. Di sekolah ini diajarkan memasak, membuat pola pakaian dan menjahitnya, menata kamar dan tempat tidur, mencuci pakaian dan menyetrika. Ada guru khusus seperti Pak Ambiya yang punya salon sendiri yang mengajarkan tata rias wajah dan rambut. Ada jurusan tata boga, tata busana, pariwisata, dan kecantikan.
Karena itu SMKN 4 punya beauty salon, laundry, hingga hotel latihan yang dikelola profesional di sekolah. Di hotel itu pernah menginap ‘Si Mata Elang, jagoan bintang film laga Indonesia Advent Bangun yang kemudian main sinetron laga juga dan terakhir jadi pendeta.
Di sisi yang lain, Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat (atau biasa disebut Kompas saja, atau KBU saja) itu 90 persen anggotanya laki-laki. Sepuluh persen perempuan yang juga menjadi anggota, bernyali dan punya kekuatan lelaki. Meski tetap cantik, mereka umumnya bergaya (memilih mode pakaian, terutama) seperti kami para anggota yang lelaki.
Di KBU diajarkan bagaimana bertahan hidup di alam bebas (jadi ada juga masak-memasak), memahami peta dan menentukan arah, menyusun barang dan perlengkapan di dalam ransel, lalu mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri sungai dan menikmati arus deras, menembus kegelapan gua, berdebat dan berorganisasi, merencanakan perjalanan, dan, emm, memang tidak resmi ada di kurikulum dan tidak resmi diajarkan: juga merayu wanita.
Saya tak pernah lulus pelajaran yang disebut terakhir itu, meski lulus gemilang semua prasyaratnya. Bang Sapar, seorang senior, yang ketika itu pacarnya si Vivi yang cantik itu berkata: ”Kamu naik gunung, memanjat tebing, berani menggantungkan hidupmu pada seutas tali yang dipasang oleh orang lain, masa merayu binian tak bisa?
Hahaha. Saat itu ya begitulah.
Saya memang tak pernah lancar bicara dengan perempuan, tapi bisa memenangkan hati mereka dengan kata-kata yang dituliskan.
Karena kebanyakan bergaul dengan buku yang diam dan perpustakaan yang hening, keterampilan berbicara saya terlambat datang.
Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama–karena buku tak perlu dirayu, saya tak mengharuskan diri lancar bicara. Buku akan ikut saya dengan sukarela asal saya bisa membayar, atau memenuhi prosedur peminjaman dengan benar. Bahkan, bila cukup berani, Anda bisa menculik sebuah buku tanpa ketahuan dari perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya selama-lamanya.
***
Bagaimana SMKN 4 yang serba feminim itu tiba-tiba ingin merasakan anak-anaknya dihajar matahari dan disayat dingin angin tebing mulanya tak dipahami. Tapi lomba Wiyata Mandala membuat semuanya jelas.
Mungkin lomba ini masih berlangsung sampai hari ini. Lomba sekolah terbaik dengan kriteria banyak sekali. Sekolah saya dulu, SMAN 7 Banjarmasin, mendapat penghargaan Wiyata Mandala ini beberapa kali.
“Kami ingin memberi anak-anak pengalaman yang lain dari yang lain yang bisa dialami dari sekolah yang mengajarkan hal-hal khusus seperti sekolah kami,” kata Pak Iwan, guru penghubung dalam program ini.
Pak Iwan berperawakan kecil, dengan cara melirik seperti penari bali dan gestur yang lentik.
Lalu kenapa KBU yang dipilih ternyata agak sedikit nepotisme. Ternyata ada guru di SMKN 4 yang senior kami di KBU—guru perempuan—yang baru kami sadari setelah mengecek lagi buku tebal daftar anggota itu. Beliau itulah yang merekomendasikan kegiatan kepencintaalaman berdasar keaktivannya di KBU di tahun 80-an.
Sebab lain, karena KBU itu dekat. Antara sekretariat kami di kampus Unlam di Kayutangi dengan SMKN-4 itu hanya lebih kurang 500 meter jaraknya, 150 meter dari sekretariat ke gerbang kampus ke Jalan Brigjen Haji Hasan Basry, lalu ke utara 250 meter, dan menyeberang jalan itu 50 meter untuk sampai di halaman dalam sekolah.
Sebab yang lain lagi, karena dinding panjat dan berbagai fasilitas lain yang kami punya, dan juga faktor Guru Anang.
Anang yang jangkung mahasiswa Fakultas Teknik. Asalnya dari Birayang, keturunan ‘bubuhan’ Banjar Bukit di Datar Alai, dataran yang berada di ketinggian 1.000-1.200 meter dari permukaan laut di Pegunungan Meratus, yang wanitanya bermata agak sipit, berkulit kuning langsat, langsing, namun sigap dengan pekerjaan di ladang dan di rumah. Sebab ini, Anang juga disebut Anang Alai, seorang Wana bernomor 287 yang senioritasnya setara hingga dua angkatan di atasnya, para Bhumi di tahun 1990.
Anang bertetangga tempat kost dengan Pak Iwan rupanya. Anang Alai yang juga bermata sipit adalah Guru Anang, yang menjadi petualang dan pencinta alam secara alami karena alam dan lingkungannya. Karena itulah, kami memanggilnya dengan takzim, Guru Anang.
***
Mulanya ketika Guru Anang pertama kali menyampaikan permintaan SMKN 4 akan semacam kursus kepencintaalaman itu, ia sampai meminta Dewan Pengurus (DP) untuk agak merahasiakannya sampai semuanya siap.
Permintaan itu secara teknis tidak ada kesulitannya untuk diwujudkan. Menurut Guru Anang, yang sulit dan tidak bisa diduga adalah dampaknya.
Kalian tahu bukan, bagaimana dampak dari laki-laki dan perempuan yang berada dalam kegiatan yang sama dalam waktu yang cukup lama?
Ya, itu bisa mengubah dan mengguncangkan dunia. Syukur kalau menjadi lebih baik. Bila menjadi lebih buruk?
KBU yang penuh lelaki lajang yang tengah menggelora, diminta mengurusi perempuan-perempuan muda menjelang dewasa yang baru mekar melihat dunia…amboi…
Karena itu DP merasa bertanggungjawab untuk melindungi anggota-anggotanya dari pengaruh (yang mungkin buruk) yang mungkin muncul karena sekretariat diserbu makhluk-makhluk dari Venus itu.
Permintaan SMKN-4 diterima. Namun program itu dikemas resmi sekali sehingga anggota kami yang paling liar (juga siswa sekolah yang paling nakal) sekali pun terpaksa tunduk dalam aturan.
***
Rapat DP menunjuk saya menjadi Kepala Sekolah dari program pelatihan tersebut. Guru Anang menjadi penasihatnya.
Alasan resmi penunjukan saya karena saya mahasiswa fakultas keguruan, karena itu mengerti bagaimana menyusun kurikulum, tahu kemana dan apa tujuan kursus ini (komunikasi dengan Pak Iwan dan arahan Guru Anang), bisa menerjemahkannya dalam kegiatan yang bisa diukur keberhasilannya, dan memahami perkembangan peserta didik—khususnya anak-anak seusia siswa SMKN-4 itu.
Bagus sekali bukan. Alasan itu sesungguhnya bisa dipenuhi siapa saja mahasiswa FKIP setelah kuliah 7 semester.
“Tapi tidak semua mahasiswa FKIP anggota KBU,” kata Rudy Firmansyah, ketua umum kami saat itu. Bang Rudy meninggal tahun ini karena sakit, semoga Allah melapangkan dan menerangkan kuburnya.
Maka saya menyusun program untuk 12 minggu, saya menunjuk instruktur—teman-teman yang terbaik di bidangnya masing-masing, seperti Odot di panjat tebing, Awi dan Sapar di survival, Guru Anang sendiri di navigasi darat, Oegoer yang pemain sepakbola itu di kebugaran fisik, Amang Efeet mengajar manajemen perjalanan…
Kawan-kawan itu boleh memilih asistennya masing-masing. Odot meminta bantuan Amat, yang ketika itu anggota baru dengan bakat memanjat luar biasa. Oegoer dibantu RO dan Icam. Awi dan Sapar itu duet survivor yang saya kenal sejak pertama di KBU tahun 1992.
Saya melihat dan mengawasi bagaimana jalannya pelajaran, dan kemudian mengevaluasinya, melapor kepada Ketua Umum dan Pak Iwan si guru penghubung.
Kepala sekolah, tentu saja, tidak mengajar. Ia manajer. Tidak berhadapan langsung dengan siswa kecuali saat upacara bendera. Kecuali juga dalam keadaan terpaksa ketika tidak ada lagi guru pengganti yang bisa disuruh.
Saya bak jenderal yang mengawasi pertempuran dari kejauhan dan menerima laporan dari komandan lapangan.
Itulah yang saya lakukan. Setelah sambutan sebentar, yang adalah perkenalan singkat dan ucapan selamat datang di lingkungan dan tradisi KBU, saya hampir tak bersentuhan lagi secara langsung dengan anak-anak itu.
Kepala Sekolah harus punya wibawa, bukan.
***
“Jadi rahasia tentang Neng ini karena ikam kepala sekolahnya?” tanya Opik, setengah bertanya setengah tertawa.
Salah satunya iya. Salah lainnya, karena apa yang kami khawatirkan tentang dunia yang gonjang-ganjing karena serbuan para makhluk dari Venus itu memang terjadi meski dampaknya pada KBU sebagai organisasi dan pada setiap orang baik anggota maupun bukan bukan anggota, berbeda-beda.
Berbagai gosip bersliweran. Seru. Sekretariat tambah ramai, tidak hanya oleh anggota kami sendiri, tapi juga oleh teman-teman lain, termasuk oleh orangtua, kakak, adik, dari para siswa peserta program itu. Semut mana yang tidak tertarik pada gula yang sedemikian banyak?
Namun tidak ada yang menghubungkan saya secara pribadi dengan siapa pun dari siswa-siswa itu.
“Jadi bagaimana kam memulainya, Nov. Kenalan di prusiking, terus apa…?”
***
Bunyi jangkrik menghilang. Burung hantu di pohon di luar itu pun diam. Hujan mulai turun.
Saya mendengar bunyi napas halus yang teratur di samping saya. Saya menoleh dan tersenyum. Di dalam remang tenda, Neng sering terlihat paling mirip dengan Julia Roberts. Hidungnya, matanya, alisnya, tentu saja senyumnya dengan bibir tipis dan lebar itu. Saya cium keningnya dan kembali memejamkan mata.
Julia Roberts, emmm … ***
Neng Adalah …
Hujan turun deras dini hari. Bunyi air yang terjun dari langit itu berderakan ramai menghantam atap seng yang rendah. Saya bersyukur kami memutuskan bermalam di pondok ini. Bagaimana pun, lebih nyaman berada di bawah atap yang kokoh, dinding yang rapat, dan lantai yang hangat daripada diguyur hujan di dalam tenda nilon yang tipis dan di atas tanah yang lembab.
Adalah Opik mengusulkan bermalam di pondok entah milik siapa di tengah padang di kaki Pegunungan Meratus Hilir ini. Sejak kami menyeberang dari Tiwingan, awan sudah berarak di atas danau. Gunung-gunung biru di kejauhan sana juga berpayung awan.
Lalu hujan gerimis pukul tiga sore mengantar kami dari rumah Pak RT, tempat kami melapor numpang lewat dan mengisi buku tamu dengan alamat yang selalu sama: Sekretariat Kompas Borneo Unlam, Gedung UKM Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Brigjen H Hassan Basry, Kayutangi, Banjarmasin.
“Abahnya masih di kebun, Pik…” kata perempuan itu kepada Opik. Dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, kami lumayan dikenal di Paau, Karangan Haur, 90 menit plus 60 menit dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Catatan saya kabur tentang siapa nama Pak RT di Paau itu, begitu pula dengan nama istrinya, dan anaknya itu. Tapi saya ingat kami diberi sangu sebungkus besar kantong plastik kacang rebus dan sebungkus koran kacang goreng.
Paau dan Belangian, desa-desa sepanjang Danau Riam Kanan memang penghasil kacang tanah yang gurih. Sepanjang jalan hingga sungai, tak henti-hentinya kami mengunyah kacang rebus, dan, hehehe, menikmati bagaimana rasanya membuang kulit kacang sepanjang jalan.
“Itu pupuk, dari tanah kembali ke tanah, tak akan jadi sampah,” kata Opik.
Sebelum tiba di sungai, kami bertemu serombongan mahasiswa. Ada 6 lelaki dan seorang perempuan. Seorang mengenal Opik dengan baik dan kami semua bersalaman. Sekarang ada tujuh lelaki gondrong dan seorang perempuan berambut panjang, hehehe.
“Berdua aja, Pik?”
“Berdua aja,” kata Opik.
“Acara apa?”
Acara saya dan Opik jalan-jalan saja. Seminggu sebelum ini, tiba-tiba saja kita kangen hutan-hutan di selatan. Maka pukul sepuluh pagi hari Sabtu saya dan Opik sudah di dalam Damri ke Banjarbaru, makan siang di dermaga Tiwingan, dan sempat tertidur dalam perjalanan klotok ke Karangan Haur.
“Kami pemantapan anggota baru,” kata si teman itu. Si perempuan itulah ternyata sang anggota baru, yang tersenyum dengan wajah lelah tapi bangga. Mereka Mapala Oryza Sativa dari Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani di Banjarbaru.
Pemantapan biasanya tahapan terakhir sebelum calon anggota—atau ada juga yang menyebutnya anggota muda—dilantik menjadi anggota penuh organisasi kepencitaalaman. Di KBU, setelah lulus pemantapan calon anggota mendapat nomor anggota yang melekat padanya seumur hidupnya—dan biasanya kami tuliskan dengan bangga di properti masing-masing. Dari suasana selama dan sepanjang pemantapan pula setiap angkatan mendapatkan namanya. Karena hutan-hutan selama pemantapannya, Opik seorang Wana. Sebab gunung-gunung yang kami lalui, saya menjadi seorang Adri. Saya anggota ke-302, Opik anggota ke 299.
Kami berbagi kacang rebus sebelum bersalaman dan berpisah. Mereka ke kampung untuk bermalam dan besok pulang pagi-pagi ke Banjarbaru. Kami meneruskan perjalanan ke timur, ke arah gunung-gunung gelap yang kini menyangga awan hitam.
***
Pemilik pondok ini pasti seseorang di kampung. Di dinding papan diselipkan sabit dan parang. Rantai gergaji mesin digantungkan pada paku di tiang. Alat penyemprot hama ada di sudut. Di dekatnya ada juga racun hamanya di dalam kotak yang dikunci. Ada rak dimana diatur pakaian anak-anak perempuan, ada pensil dan buku tulis. Ada lampu teplok dengan semprong.
Ada kitab suci di atas karung gabah. Saya membukanya pada halaman yang dilipat—tanda terakhir sang pembaca mengakhiri resitalnya. Ujung halaman yang dilipat itu menunjuk ke angka nomor surah dan ayat. Kebiasaan urang Banjar, ujung halaman itu menandai tempat memulai membaca pada kesempatan berikutnya.
Si pembaca di pondok itu, mungkin pada Rabu malam atau Kamis pagi, berhenti tepat saat akan memulai surah kesebelas.
Dua hari yang lalu, di mushaf kecil yang ada di bagian paling atas carrier, saya juga membuat lipatan yang sama persis seperti tanda yang dibuat si pembaca di pondok ini.
Seperti semua peralatan dan gadget kita hari ini, bila semua terhubung, maka sinkronisasi itu keniscayaan. Seperti dropbox, seperti …
Di antara berkarung-karung gabah itu, ada sedikit yang sudah ditumbuk menjadi beras merah. Ada cabai dan sayur di pekarangan. Ada bonus pepaya yang sudah masak.
***
Pukul setengah delapan, makan malam disajikan dengan piring-piring porselen yang punya pondok. Ada air putih hangat. Nasi merah yang berkepul uapnya. Opik menggoreng ikan asin yang baunya menyebar. Meski hanya berdua dalam radius beberapa kilometer itu, saya yakin, tak hanya saya yang meneteskan air liur, hehehe.
Saya membuat sayur bening dari daun katuk. Ada rebusan daun gumbili dan sambal. Ada pepaya yang dipotong memanjang. Opik juga masih merebus air lagi untuk kopi.
Ikan asin dan kopi dan rokok Opik kami beli di tokoserbaada di terminal di Simpang Empat Banjarbaru. Yang lain dari dalam pondok ini dan pekarangannya.
Tuhan bersama orang-orang yang bersyukur. Saya merasa seperti Laura Ingalls di pondok para juru ukur Di Pantai Danau Perak. Kenyang, tenang, senang. Di tahun 1879, Pa akan mengambil biolanya dan memainkan beberapa lagu, dan merokok pipa setelah makan malam yang nyaman dan Ma melanjutkan rajutannya, sementara Laura menari dengan Mary sebelum diantar tidur ole Pa.
Di tahun 1997, di ujung Paau yang tak lebih terpencil dari De Smet, malam itu ada musik dari Radio Republik Indonesia dari radio transistor yang dibawa Opik.
Usai warta berita pukul sembilan Opik mematikan radionya. “Ceritalah, kenapa kau merahasiakan Neng dari kita semua di KBU,” kata Opik.
Saya menarik napas, tersenyum, dan menyeruput kopi. Opik mengisap rokoknya. Menunggu … ***