Pesta

Welcome to the Jungle

Posted on Updated on

Gunung Kerinci, tegak sendiri, menjulang lebih kurang 2.500 meter dari ketinggian Base Camp. (novi abdi)

Pergilah ke Barat, anakmuda, dan tumbuhlah bersama alam–Horace Greeley–ini bagian ketiga dari Kerinci.

Berbarengan  anak-anak yang berangkat sekolah dengan ceria, kami berangkat menuju gunung, juga dengan ceria. Saya berkata pada Johan bahwa saya akan berjalan dengan irama saya sendiri, yang sepertinya akan lebih lambat daripada Baba dan kawan-kawannya.

“Saya turis Jon, yang kebetulan suka naik gunung,” kata saya. Johan tertawa.

Rombongan Baba bergerak cepat karena membagi bebannya dengan porter yang disediakan Johan. Selain Johan, ada satu pemandu lagi, anak muda yang penyabar yang menyebut dirinya Fander Christopher. Mereka sudah punya persediaan logistik di gunung. Juga sudah ada akomodasi tenda di Shelter 3, tempat orang biasa memulai summit attack.

Saya pinjamkan satu tongkat berjalan saya untuk satu kawan perempuan grup Malaysia itu. Johan ternyata kehabisan gas yang dijanjikannya. Tak apalah, saya kan punya 7 tablet parafin. Sekali masak satu tablet, cukup.

Pukul 08.30 kami memulai perjalanan pada ketinggian 1600 meter. Seperti yang saya katakan pada Johan, saya jalan santai dengan beban sekitar 15 kg di punggung dan 3 kg di depan. Seperti di Rinjani, saya ingin menikmati setiap langkah tanpa harus diburu-buru waktu.

Dari jalan beraspal kasar ujung kebun teh, pendaki masuk ke jalan tanah berbatu-batu (barangkali dulu bekas jalan aspal juga) yang sedikit menanjak, dan sebentar kemudian disambut sebuah bangunan yang tampak tak terawat. Rumput tinggi tumbuh di sekelilingnya. Dindingnya yang berwarna putih penuh coretan dan gambar-gambar. Siapa yang suka membawa-bawa cat semprot sampai jauh ke kaki gunung ini?

welcome kerinci
Ucapan selamat datang dari pengelola Taman Nasional Kerinci Seblat–sudah ditulis begitu, jadi mungkin gak perlu lagi hadir orangnya, hehehe. (foto: TNKS)

Ini Pos Jaga dari petugas Taman Nasional Kerinci-Seblat. Biasa disebut juga R10. Di sini juga mestinya pendaki mendaftarkan diri dengan mengisi beberapa formulir, dan mungkin bayar bea masuk Taman Nasional.

Tapi tidak ada petugas di situ. Posnya juga terkunci. Apakah karena hari masih pagi? Atau sekarang memang tak pernah buka lagi?

Saya bertemu rombongan lain di situ. Empat anak muda yang asyik berfoto di bawah atap, yang di atasnya ada tulisan selamat datang. Saya lewat dan tersenyum dan terus jalan pelan.

Dari awal jalan berbatu sampai pos itu membentang kebun-kebun milik penduduk. Mereka menanam kol, kentang, tomat, bawang merah, lobak, cabai, dan juga jagung. Kebun yang tampak subur di ketinggian 1600 meter.

“Masalah kami di sini bukan kesuburan tanah, atau hama penyakit. Tapi penjualan hasil bumi ini,” kata Parman. Petani ini sedang mengangkut pupuk dengan motornya, lalu berhenti untuk menyeimbangkan beban ketika saya mendekat.

Saat panen, masa yang dinantikan petani, bisa tidak berarti apa-apa sebab harga komoditas yang mereka tanam jatuh karena pasokan yang melimpah.

Kentang yang baru dipanen di Kayu Aro. Antara

***

Sebagian kebun terlihat baru selesai dipanen dan lahan dibersihkan kembali untuk tanaman baru. Karung-karung pupuk ditaruh di pinggir jalan. Dan jalan ke kebun-kebun itu lebih jelas dan lebih terawat, tentu saja, daripada jalan ke gunung, persis seperti di awal pendakian ke Semeru.

Lebih kurang setengah jam dari R10, dalam lilitan tanaman merambat dan ditemani sejumlah papan pengumuman dan peringatan, Pintu Rimba Kerinci mengapit jalan setapak menuju hutan yang tampak gelap. Sebuah tong sampah yang penuh dan sampahnya meluber ada di kiri jalan.

Tong sampah itu pastilah disediakan untuk para pendaki membuang sampahnya setelah membawanya turun dari gunung. Tapi dari tong sampah itu rupanya tak ada lagi orang yang mengangkutnya hingga ke tempat pembuangan akhir. Apakah tong sampah itu ada karena dulu kendaraan bisa sampai pintu rimba ini dengan mudah sebab jalannya dulu beraspal?

“Welcome to the jungle, babe, …” Suara Axl Rose dan intro khas dari gitar yang dimainkan Slash di lagu Guns N’ Roses itu terngiang-ngiang di telinga saya. Saya pun masuk dalam bayangan hutan. Udara menjadi sejuk dan tanah jalan setapak itu lunak sebab hujan. Di beberapa tempat air menggenang dan jalan becek.

 

Bersama Elsa Pitaloka, Hilang Bisiak Manjo

Posted on Updated on

Elsa Pitaloka, mendayu-dayu sampai Kayu Aro.

 

Perjalanan 249 km via Jalan Alahan Panjang dari Padang ke Kayu Aro berlangsung meriah dan mendayu-dayu sekaligus. Ini bagian kedua.

Mitsubishi L-300 ini full musik sepanjang jalan. Bung Supir memutar lagu-lagu minang populer dengan penyanyi seorang perempuan.

“Ini Elsa Pitaloka, Bang. Judulnyo Hilang Bisiak Manjo,” kata Bung Supir.

Sebelumnya tadi Janji Hanyo Janji, lalu berikutnya Mudah Bakato Cinto, … dari kumpulan rekaman compact disk The Best of Elsa Pitaloka.

Saya sempatkan bertanya soal musik sepanjang jalan itu di perhentian makan setelah lebih kurang 3 jam kami berlepas dari Padang. Elsa Pitaloka, kata Bung Supir, pernah coba berkarir di Jakarta, tapi kecintaannya pada lagu-lagu minang tak terkalahkan sehingga kembali ke kampuang halaman dan fokus hanya menyanyi lagu minang.

“Urang Bukittinggi jo,” kata Bung Supir. Saya merasa harus tahu Elsa karena menerima nasib duduk di depan speaker sebelah kanan yang ditaruh di depan kursi paling belakang.

Sepanjang jalan suaranya maimbau-imbau dan wajah cantiknya berurai mata, yang kami saksikan dari monitor yang digantung di kaca depan. Kenapa orang cantik hidupnya tragis, kata saya dalam hati, sambil geli sendiri. Tentu saja itu mungkin hanya akting penghayatan Elsa pada lagunya.

Tempat kami mampir makan ini ada di Muara Labuh di Kabupaten Solok Selatan. Halamannya luas, barangkali lebarnya seratus meter dan panjang hingga ke musala di pojok sana ada seratuslimapuluh meter lebih. Warungnya sendiri didirikan di tepi utara, limapuluh meter dari jalan, warung kayu sederhana dengan dikapur putih berleres kuning. Warung yang menyediakan indomie dengan segala cara masaknya yang murah meriah selain jua nasi goreng.

Saya berkenalan dengan Khairul Shafee dan Rosalia Apin, dan yang lain-lain kawan seperjalanan dari Malaysia itu. Mereka berangkat dari Kuala Lumpur (KL). Kak Ros, hahaha, demikian saya memanggil Rosalia, bermobil dari Ranau ke Kota Kinabalu (KK), Sabah, lalu terbang dari KK ke KL. Khairul Shafee, atau akrab dengan nama panggilan Baba, juga asal sebuah kampung di pedalaman Sabah, namun sudah lama ia merantau ke KL untuk bekerja. Selain itu ada 2 perempuan muda yang berkerudung, dan Azim dan Cha Mark, dan seorang laki-laki lagi yang suka pakai pomade.

Barangkali karena merasa sama berasal dari pulau kucing besar ini, saya dan Kak Ros dan Baba jadi cepat akrab.

“Barangkali juga sebab usia,” kata Kak Ros, seorang guru di pekan Ranau. Tak dapat disangkal, di dalam rombongan ini kami bertigalah yang usianya paling banyak, hahaha.

Karena Bung Supir ‘menolak’ untuk mengecilkan volume suara Elsa, maka apa boleh buat, kami pun bercakap-cakap dengan suara keras. ‘Menolak’ itu dalam tanda kutip, kawan, karena ketika diminta, Bung Supir mengecilkan volumenya, dan kita nyaman bercakap-cakap. Tapi, tiap percakapan ada jedanya juga bukan, barangkali satu dua menit kita terdiam sampai menemukan topik berikutnya, atau menyambung topik semula. Tapi terdiam selama itu sudah cukup bagi Bung Supir untuk mengembalikan volume Elsa Pitaloka ke level yang disukainya.

“Bilo kecik suaranyo, mangantuak aku, Bang,” katanya. Oh, … baiklah.

Maka kami pun menyerah, dan mengalihkan perhatian ke luar jendela. Hijau persawahan dan Danau Kembar yang menguasai pemandangan saat melintasi Solok, dipandang dengan takjub.

Jalan antarkabupaten antarprovinsi ini mulus beraspal hotmix. Kami masih berhenti sekali lagi untuk rehat sejenak dan buang air. Mobil berhenti di kota kecil di perbatasan Sumatera Barat-Jambi. Saya sempatkan mencari gas dalam tabung kecil untuk kompor lapangan, dan setelah masuk beberapa toko, tetap tak ada.

Saya tak sempat mencari dan membelinya di Padang. Saya juga tak ngotot mencarinya karena ingat masih punya 7 tablet parafin yang sama efektifnya dengan gas butana.

“Nanti pakai aku punya aja bang,” kata Johan. Johan memang andalan.

Johan adalah pemandu di Gunung Kerinci. Semua mengenalnya sebagai Johan Kerinci. Seperti yang lain-lain, awal saya berteman dengannya lewat facebook. Johan membantu saya mengepaskan tanggal kapan mesti tiba di Padang.

“Kebetulan aku ada tamu dari Malaysia, bila abang mau ikut, bisa tu,” terangnya menyebut tanggal. Saya setuju, dan mengambil penerbangan sehari lebih dahulu daripada tamu-tamu Johan itu.

***

Kami memasuki Kabupaten Kerinci, Jambi, setelah hari gelap. Bulan jelang purnama kemudian mulai menerangi malam. Di sebelah kanan di timur jalan, tampak siluet Gunung Kerinci. Gunung itu menjulang sendirian bermandi cahaya bulan.

Para kawan Malaysia itu berdecak-decak dan berseru-seru dalam bahasa melayu yang riuh. Para perempuan yang tertidur pun terbangun. Mobil melintasi Desa Kayo Aro, melewati patung harimau sumatera tempat para pendaki dan pengunjung Kayo Aro suka berfoto, dan terus naik ke pemukiman ramai dan padat di perbukitan.

Untuk tamu Malaysia-nya ini, Johan tidak mengantar mereka ke basecamp Kerinci miliknya, tapi terus hingga ke rumah permanen berwarna abu-abu yang megah meski ada di tepi jalan sempit dan pemukiman padat.

“Saya pinjam fasilitas yang layaklah,” kata Johan tersenyum.

Begitu kami tiba, Johan langsung ke dapur dan menyalakan kompor merebus air. Ia menyilakan kami beristirahat di ruang tamu sambil menghamparkan karpet tebal di ruang tengah. Lalu ia keluar lagi dengan naik motor. Tak lama, ia datang dengan beberapa kantong plastik berwarna putih.

“Kita makan dulu ya bang,” kata Johan. Amboi, tahu aja kamu Jon. Kantong-kantong plastik tadi berisi lauk ternyata. Dan tetap ada ikan, kawan. Amazing, bukan.

Sementara dia pergi tadi, air sudah mendidih dan para perempuan membuat teh panas seceret besar. Para lelaki menggeser sedikit beberapa mebel sehingga ruang tengah benar-benar lapang untuk tempat istirahat 7 orang.

“Kawan perempuan bisa tidur di kamar,” kata Johan. Bertambahlah lapang ruang tengah itu.

Air sudah terlalu dingin untuk mandi. Setelah gosok gigi, cuci muka, tangan, dan kaki, Baba cs merebahkan diri dan cepat tertidur. Saya masih sempat menulis sebentar, memanfaatkan hening suasana, namun segera juga mengantuk dan memejamkan mata terasa betul nikmatnya.***

Ikan, Rahasia Kecerdasan Urang Minang

Posted on

liputan6.com

Sepuluh hari sebelum tahun baru 2016, saya tiba selepas magrib di Bandara Minangkabau. Meleset jauh dari jadwal sebab penundaan di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Lelah dan lapar, longgar, dan sendirian. Ini bagian pertama.

Ini pertama kali saya ada di Bandara Minangkabau setelah beberapa tahun. Bandaranya sudah berubah. Seorang kawan, H Makmur, sudah memberikan informasi yang saya harus tahu bila tiba di Bandara itu, seperti tentang bus Damri dan Tranex yang melayani angkutan dari bandara ke kota.

Tapi, dari pintu keluar terminal ini, tidak terlihat keberadaan taksi. Apalagi yang dikatakan H Makmur soal bus Damri dan Tranex, penyedia angkutan murah ke Padang.

“Sudah, 15 (limabelas) aja sampai kota,” kata seorang anak muda calo angkutan, tak jauh dari depan pintu keluar terminal, sambil merendengi saya yang mendorong troli berisi carrier, ransel berisi perlengkapan dan bekal saya di gunung nanti.

Limabelas? Saya membayangkan Rp15.000. Murah. Mungkin ongkos buat satu orang setelah dibagi bersama beberapa orang lain.

Baiklah. Sekali lagi, saya sudah lelah dan lapar.

Sebentar kemudian saya sudah duduk di kursi depan di sebuah mobil avanza. Carrier dan ransel daypack saya di kursi belakang. Ya, ini taksi gelap. Tapi kok tak jalan-jalan?

“Sebentar ya bang. Abang mau ke mana?”

“Andaleh. Kita menunggu siapa? Penumpang lain?” Saya tidak keberatan berbagi tumpangan dengan penumpang lain, yang artinya juga berbagi ongkos.

Tapi tidak ada penumpang lain.

Belum ada jasa transportasi online di Padang ketika itu. Mungkin sekarang juga belum.

Si anak muda calo datang. Rupanya minta persennya. Si sopir menoleh kepada saya. Loh?

Lelah dan lapar saya mendadak hilang dan jadi sadar sepenuhnya. Saya memaki-maki dalam hati sambil berpikir cepat. Saya kesal tapi juga tak ingin keluyuran tidak jelas di bandara dengan manusia-manusia yang saya tak kenal dengan carrier yang berat dan ransel tambahan di depan.

“Berapa?” tanya saya. “Semuanya.”

“Rp150 ribu buat mobil, …”

Saya merogoh saku dan mengeluarkan uang sejumlah itu. Setidaknya jumlah itu tepat sesuai yang saya anggarkan. Kesal saya hanya sebab belum lagi layanan diberikan, ongkos sudah diminta. Uang persenan calo kan tanggungjawab sopir. Kalau belum punya uang, nantilah. Kan mereka akan selalu ketemu. Etika bisnisnya di mana?

Saya kembali merasa lelah dan lapar. “Ayo jalan,” kata saya. Kali ini dengan suara tegas.

***

“Nanti Zul yang jemput, tunggu aja di depan gang,” kata H Makmur.

Saya lupa nama gangnya. Seturun dari taksi avanza gelap itu saya menunggu di ATM BNI di Andaleh. Tak lama, Zul muncul dengan motornya dari sebuah gang di seberang jalan.

“Mau langsung makan, atau taruh tas dulu?” tawar Zul. Ia bisa membaca kondisi perut orang dari raut muka rupanya, hahaha. Walau begitu, saya pilih menaruh tas dulu di kantor AJI Padang, masuk kira-kira 300 meter ke dalam gang yang dibeton rapi itu.

Hendra Makmur dan beberapa pengurus lain masih ada, tapi sudah mau pulang. Hendra jurnalis Media Indonesia dan dulu Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Padang di periode sebelumya. Saya bertemunya di beberapa acara AJI di mana-mana tempat. Kita bersalaman erat dan tertawa atas beberapa hal selama beberapa menit.

“Kau makanlah lalu istirahat. Gampang nanti sepulang dari Kerinci kita ngobrol lagi,” katanya. Tentu saja.

Zul mengajak saya ke tempat dia biasa makan. Warung nasi untuk mahasiswa di tepi jalan yang ramai. Dengan lauk ikan goreng dan sayur nangka dan daun singkong tumbuk berkuah santan, saya makan dengan lahap di bawah televisi yang menayangkan sinetron. Makan di warung padang, di Padang, oleh orang Padang, dikelilingi orang-orang Padang. Onde mande, sedapnyooo.

“Lamak banoo,” koreksi Zul, tertawa.

“Ah, tak apo lah Zul, hahaha.”

***

Saya menunggu Johan di depan ATM di mana Zul menjemput saya kemarin. Tak lama dia datang dengan mobil APV yang sudah penuh. Hanya ada satu tempat kosong di belakang.

“Apa kabar, Bang? Lama nunggunya? Ini kawan-kawan dari Malaysia, dan kita makan dulu ya, …” kata Johan yang duduk di depan.

Makan lagi, hehehe. Begitulah. ‘Makan dulu’ memang bagian dari kenangan terbaik saya dalam kunjungan ke Sumatera Barat dan Jambi ini. Setiap waktu makan adalah spesial, karena memang makannya spesial selalu, walaupun kalau kalian memperhatikan, yang saya pilih untuk makan hampir juga sama selalu; nasi dengan lauk ikan. Tak pernah ayam atau bahkan rendang yang jadi favorit orang sedunia itu.

Well, bagi saya, adalah jelas pemegang hegemoni kuliner di Sumatera ini memang orang Sumatera Barat. Dan saya menyukai dan merasakannya spesial karena kesukaan saya makan ikan tetap dimanjakan dengan berbagai masakan di berbagai tempat di Ranah Minang.

“Karena walaupun jauh di gunung, seperti di Bukittingi, orang selalu punya empang ikan di depan rumah. Mereka pelihara ikan mas, ikan mujair,… ” kata Bagja, kawan sepedaan saya di Ubud, Bali, orang Minang yang separo hidupnya dihabiskan di Bandung, Bogor, Washington, Balikpapan, Sorong, dan tempat-tempat lain di Indonesia, Amerika Serikat, dan Meksiko.

Itu juga barangkali rahasia kecerdasan orang Minang sehingga melahirkan antara lain Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Tulis Sutan Sati, Marah Rusli, Pendekar Sutan, serta Midun dan Maun. Konsumsi ikan yang banyak, meskipun jauh dari sungai dan laut.

“Oh kan ada Danau Maninjau,” kata Bagja, menyebut tempat asalnya.  Ada Danau Singkarak juga.

Itu cukup menyaingi sungai, rawa dan danau di Kalimantan yang ikan-ikannya menjadi darah dan daging saya. ***

 

What Can I Do, What Can I Say, …

Posted on Updated on

Untuk Kate

Ini bagian kedua dari dua tulisan—maaf lagi, tulisan ini mengandung materi dewasa dimana kebijakan pemirsa diperlukan.

Bila bercerita tentang Metallica seperti yang saya lakukan awal tahun lalu nampak bener pamer umurnya, berkisah tentang The Corrs barangkali masih bisa dianggap unyu bak abege kinyis-kinyis …

Jadi, “Pernah dengar The Corrs?”

DEDEK-DEDEK GEMES, generasi awal video game
DEDEK-DEDEK GEMES, generasi gadget yang melewatkan The Corrs.

Saya pernah iseng menanyakan itu kepada rombongan cewek-cewek anak SMA, juga barangkali mahasiswa tahun pertama, yang saya temui di bazar di halaman Mal Fantasi di Balikpapan Baru. Kawan saya Adi menuduh saya modus belaka, agar bisa berbincang-bincang dengan ‘dedek-dedek gemes’ itu.

Mungkin iya, hahaha. Adi sendiri menunggui Samantha Modiste, kios jahit istrinya yang ikut berpameran di bazar itu.

Nah, umumnya mereka, dedek-dedek gemes ini’ menggeleng tanda tak tahu atau tak pernah. Tapi ada juga yang kemudian berkata, “Oh iya pernah, lagunya kakak …”

Yang tidak menjawab dan menggeleng mungkin tidak punya kakak.

Pada kelompok remaja lain, barangkali lebih cerdas daripada yang saya tanyain pertama, langsung mengaktifkan perambah di ponsel cerdasnya. Ada yang memulai lewat google, ada yang langsung via youtube.

Atha di kios jahitnya di pameran di Mal Balikpapan Baru.
Atha di kios jahitnya di pameran di Mal Balikpapan Baru.

“Oh The Corrs, …,” kata Fina, siswa yang magang di Bagian Humas Pemkot Balikpapan sambil menyaksikan video lagu What Can I Do. Ia tidak berkomentar, tapi menonton sampai habis. Mungkin tidak cocok lagi dengan selera anak muda sekarang, tapi ingin tahu seperti apa remaja seumur dia di masa hampir 2 dekade lalu.

The Corrs dibuatkan video lagu itu di Selandia Baru dengan agak tergesa sebab padatnya jadwal tur dunia mereka untuk album Talk On Corners. Aransemen baru yang agak nge-beat membuat perbezaan dari saat pertama kali lagu itu dirilis, berhasil membawa What Can I Do ke posisi 4 tangga lagu, ya di Selandia Baru itu.

Saya menonton video klip What Can I Do pertama kali di sebuah warung makan yang berwarna cokelat, warna asli dari kayu papan yang tidak diserut dan tidak dicat. Warung ini ada di perempatan Kintap Pasalaman, lebih kurang 150 km tenggara Banjarmasin. Sambil menyuap nasi dan ikan, saya menyaksikan di televisi besar di atas rak di dinding warung, Andrea dan saudara-saudaranya berjalan di padang rumput dekat rumah pertanian berwarna putih sambil berdendang dengan suara rendah dan senyum mengembang.

“What can I say to make you feel this?” senandung Andrea seraya mengerling ke saya, eh, kamera.

Masya Allah, …

Hari itu, Opik dan saya baru saja kembali ke peradaban setelah menempuh rimba di utara kampung itu selama seminggu. Andrea dan saudara-saudaranya, kecuali Jim, tentu saja, boleh dibilang perempuan paling cantik dan seksi yang saya saksikan di akhir minggu tersebut.

Juga karena hal yang terjadi di sekitaran hari-hari itu, The Corrs memahat kesan mereka di benak saya.

Salah satunya Neng memutuskan untuk meninggalkan Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikannya. Saya merasa terjatuh ke dalam lubang hitam besar dan melangkah gamang di awang-awang.

Kiranya, James Hetfield pun akan geleng-geleng kepala sambil berkata,  “Oh, come on man, …” bila ketemu saya saat itu, sambil menyuruh saya mendengarkan The Shortest Straw.

“The shortest straw had been pulled for you…”

Keputusan sudah dibuat, jadi sudahlah.

Saya pun berdendang menghibur diri mengikuti gerak bibir Andrea.

“What can I do to make you love me?”

Ya Rabbi, …

Mulan Jameela, apalagi Syahrini, lewat. Meski mereka mengaku makhluk Tuhan paling seksi hingga cetar membahana dan menjadi sesuatu banget.

***

Di tahun 1999, reporter tabloid remaja Dayung, Erlin, siswa kelas 2 SMAN 1 di Banjarmasin, membuat usulan laporan tentang The Corrs di rubrik musik. (Dayung adalah The Young sebetulnya, menurut kawan saya pemiliknya, Onyeng. Miriplah dengan nama band si Unyil, The Kill alias Dekil)

Di rapat redaksi Erlin mempertahankan idenya, dan menyebutkan bahwa kalau mau bercerita tentang The Corrs, maka angle atau sudut pandang, atau titik beratnya adalah Andrea.

Rapat setuju, tapi saya lupa tulisannya seperti apa. Saya ingatnya malah saya mengedit laporan Sahid, siswa SMAN 7, tentang pergelaran musik yang rusuh, yang laporannya setelah terbit bikin panitia mencak-mencak dan mendatangi kantor redaksi di Jalan Gatot Subroto.

Sahid yang aktivis Rohis di sekolahnya istiqamah dengan fakta, dan saya membelanya. Akhirnya panitia acara itu, yang dikomando seorang penyiar beken, dan sempat memaksa kami minta maaf, tak bisa berbuat lain kecuali ngomel-ngomel saja.

Saya bangga pada kualitas jurnalisme liputan anak-anak SMA itu, meski liputannya barangkali dianggap terlalu remeh oleh dunia orang dewasa.

Tapi kemudian Sahid tidak mau lagi ditugaskan meliput konser. Apa hendak dikata.

Well, hahaha.

Adalah, dari sekian banyak tulisan tentang The Corrs, tulisan Bre Redana, jurnalis, juga dilabeli pengamat budaya pop, yang selalu saya ingat.

Sebagai bagian dari laporan konser di Taiwan, Bre memberi judul tulisannya dengan pujian setinggi langit kepada dara-dara The Corrs itu. Kata Oom Bre, “Mereka Seperti Dewi …”

Walaupun mengacu kepada anak-anak keluarga Corr yang perempuan saja, pasti.

http://woelancorr.blogspot.co.id/2008/07/mereka-seperti-dewi.html

Memang, siapa yang tak runtuh hatinya menyaksikan Andrea menyanyi. Si jelita itu, juga saudara-saudaranya Sharon dan Caroline,  berdendang dalam balutan busana yang ‘chic’, dimana bagian dadanya begitu rendah sementara bagian lengannya begitu lebar. Atau tanpa lengan sekalian menampilkan ketiak yang mulus meski tetap ada warna gelap khas kulit di bawah lipatan.

Make up mereka juga sederhana, hanya dengan permainan bayangan cokelat pada mata dan hidung, memberi kesan sendu dan muram, tapi menyimpan gairah dan semangat yang tinggal menunggu matahari untuk menyala terang dan menghidupkan sekitarnya.

Tapi konon, make up yang sederhana didapat dari kosmetika yang mahal, dan oleh penata rias profesional yang handal. Kalau ada kesempatan saya akan tanyakan.

‘Chic’ itu istilah dari para penulis mode, Oom Bre menyebutnya kira-kira untuk menunjukkan pameran sensualitas yang sopan-aha, hahaha. Artinya cukup membuat mata orang, lelaki terutama, terpaku pada obyek, si pemakai busana itu, tapi tetap bisa fokus pada hal-hal yang disampaikannya.

Andrea sendiri pernah dinobatkan sebagai ‘perempuan Irlandia paling menarik’ dalam sebuah polling majalah. Saya setuju tanpa mikir sedikit pun.

Di majalah itu, For Him Magazine alias FHM, hahaha, sebutannya memang ‘menarik’—dari kata ‘attractive’. Ini untuk menunjukkan sesuatu yang lebih dari ‘sexy’. Bila sexy merujuk pada daya tarik fisik semata, maka ‘attractive’ juga melingkupi hal-hal yang tidak terlihat langsung.

Andrea dan kakak-kakaknya jago main alat musik, tanda kecerdasan dari otak kanan yang signifikan. Caroline yang kuat memainkan drum-nya dengan mantap, dan Sharon bermain biola dengan senyum selalu menghias wajahnya. Selain vokal Andrea, gesekan biola Sharon adalah pemberi warna khas musik The Corrs.

andrea-and-caroline-the-corrs-unplugged-the-corrs-443062_451_357
PENJAGA BIRAMA – Caroline memainkan bodhran di konser kecil unplugged di studio, di awal era 2000an. Sebagai sesama drummer, saya memang fans Caroline.

Khas yang lain adalah, Andrea selain menyanyi, juga piawai bermain suling. Caroline juga terampil memainkan bodhran, itu loh, semacam rebana khas Irlandia. Caroline juga hebat bermain piano, dan sambil berpiano itu ia cukup keren menyanyi.

Jim tak perlu dipuji, hahaha, dia gitaris yang sederhana, pemain piano dan keyboard yang berjiwa besar dan tahu belaka bahwa pusat perhatian adalah adik-adiknya.

Bersama mereka semua menciptakan lagu-lagu berdasar kisah hidup kita sehari-hari.

***

Pada tahun 2005, The Corrs mengumumkan mundur dari dunia musik yang sudah membesarkan mereka.

“Tiba saatnya untuk mengurusi hal-hal domestik. Jadi istri dan ibu,” kata Caroline.

Sampai sini, beritanya jatah kawan-kawan infotainment. Merekalah yang gemar memberitakan kapan selebriti mulai pacaran, sedang pacaran, putus pacaran, atau orang lamaran, siaran langsung walimah pernikahan, selebritis perempuan hamil, kecanggungan sang selebritis pria calon bapak, posisi bayi di kandungan, lahiran normal atau cesar, ASI atau susu formula, …

Saya tak pantau lagi bagian-bagian ini. Tapi sekelebatan tahu Caroline hamil anak pertama, anak kedua, anak ketiga, Jim bertunangan, Sharon menikah, lalu si bungsu Andrea menikah, dan melahirkan anak pertama dalam usia 37 tahun. Ketika Andrea menikah, Caroline dan Sharon mempersembahkan sebuah lagu, …

Cukup satu paragraf untuk masa 10 tahun.

corrs_home_final_packshot_rgb-1024x1024

Tahun 2015, dara-dara The Corrs sudah jadi emak-emak—dan tentu saja—tetap cantik. Jim juga sudah setengah abad umurnya. Penampilannya yang rapi dan cute berubah jadi rada sangar dengan kumis, rambut cepak, dan sedikit jenggot.

The Corrs berhasil menjual rekaman berjuta-juta. Andrea juga pernah menjajal bakatnya berakting, bahkan sebelum The Corrs jadi sangat terkenal. Saudara-saudaranya juga meluncurkan proyek-proyek solo.

Satu akting Andrea yang saya ingat adalah menjadi pemeran pembantu wanita di film Evita. Ia menjadi perempuan simpanan Juan Peron, presiden Argentina ketika itu. Andrea beradu akting dengan penyanyi senior Madonna.

Bila tak terlalu terdengar, mungkin tidak terlalu sukses, mungkin pula sebab mereka fokus mengurus keluarga (atau saya sibuk juga jadi tak dengar, hahaha). Pada The Corrs sepertinya berlaku pepatah ‘bersatu kita teguh dan sukses, bercerai belum tentu sukses, …’

Dan setelah anak-anak sudah mulai besar, barangkali kembalilah mereka kangen pada apa yang dulu dilakukan di masa lampau. Tahun 2015 itu, mereka kembali dengan album baru dengan judul White Light. Sebuah konser reuni digelar di Hyde Park di London 13 September 2015.

Java Jazz Festival (JJF) 2016 di Jakarta memuat nama mereka dalam daftar penampil. Kabar itu membuat saya menyusun playlist dan menyegarkan banyak kenangan tentang mereka. Di daftar putar yang saya buat itu berturutan hits Runaway (1995), What Can I Do, So Young (1998), Radio, Irresistible (1999), Breathless (2000), Summer Sunshine, Long Night, Angel (2004), Borrowed Heaven, Haste to the Wedding, and many more, …

Walau kemudian The Corrs tak jadi datang ke Jakarta turut meramaikan JJF.

Dalam album White Light, The Corrs tetap membuktikan mereka adalah band ‘tradisional’ Irlandia. Secara umum musiknya tak berubah, tetap dengan sound Celtic, dengan warna dari biola, suling, dan akordeon di latar belakang, dan vokal manja Andrea.

Musik seperti itu tetap segar dan memberi semangat seperti api biru yang hangat. Memang tak menyala-nyala dan berkobar-kobar seperti Metallica, tapi panasnya menyebar menghangati hati.

Dalam album White Light, The Corrs mempersembahkan selusin lagu baru. I Do What I Like, Bring On the Night, White Light, Kiss of Life, Unconditional, Strange Romance, Elis Island, Gerry’s Reel, Stay, Catch Me When I Feel, Harmony, dan With Me Stay.

Saya suka I Do What I Like, apalagi setelah mendengarkan lagu (juga baru nih) Metallica, Hard Wired … Self Destruction. Sebentar November 2016 ini Metallica juga akan mengeluarkan album lagi setelah 8 tahun, setelah Death Magnetic di tahun 2008.

Carilah di YouTube, kawan, dan mari kita berdendang bersama.

“What can I do to make you love me, …” (What Can I Do, 1998. Talk in Corners)

Ah, hahaha. Kiranya inilah jawabnya, sayang: “Make love to me, through the night.” (Runaway, 1995. Forgiven, Not Forgotten).

Because I would runaway with you. 

 

***

 

 

 

Klasika Musika Kusuka

Posted on Updated on

Ini bagian pertama dari dua tulisan, kawan. Maaf kalau ada video yang rada makan kuota. Semoga suka. 

Bila bercerita tentang Metallica seperti yang saya lakukan awal tahun lalu nampak bener pamer umurnya, berkisah tentang The Corrs barangkali masih bisa dianggap unyu bak abege kinyis-kinyis …

Tapi benarkah? Hahaha, entahlah Bung.

Lagipula anak SMA sekarang, kelahiran tahun 1999-2000-2001 pun sudah berkernyit keningnya bila ditanya, “Pernah dengar The Corrs?”

Padahal menjadi fans Metallica itu masih mainstream. Adik saya yang guru sejarah meneruskan mengoleksi rekaman musik thrash yang lebih menggelepar lagi seperti grindcore, yang musiknya seperti bunyi mesin diesel pembangkit listrik dan vokalisnya seperti memaki-maki bila bernyanyi.

“Orang ini kadang minum darah kelelawar di atas panggung,” kata adik saya serasa menunjuk foto seorang vokalis grindcore yang mulutnya berlumur darah. Entah Napalm Death, entah Entombed.

Seorang kawan membagikan video musik grup Slayer yang menampilkan adegan kekerasan di penjara, diantaranya orang digorok dengan terang-terangan. Dibanding mereka ini, Sepultura pun masih agak sopan.

Malah, hahaha, … “Kiyut ya,” kata Rita Widyasari, menunjuk Eloy Casagrande, drummer Sepultura, saat grup thrash ini digelarkan jumpa pers di Tenggarong sebelum tampil di Kukar Rockin’ Festival.

Ini si Eloy Casagrande. Wajar ya Bunda Bupati bilang kiyut.
Ini si Eloy Casagrande. Wajarlah bila Bunda Rita bilang kiyut.

Bunda Rita Widyasari adalah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), kabupaten yang pendapatannya dari bagi hasil minyak dan gas mencapai mungkin sekitar 85 persen dari APBD-nya yang Rp7,6 triliun di tahun 2014. Dengan APBD sebesar itu, Kukar adalah kabupaten terkaya di Indonesia.

Sedemikian, Kukar juga terkenal suka menggelar acara-acara kolosal dengan niatan jadi terkenal. Chris John, juara tinju dunia kita itu, pernah mempertahankan gelarnya di Tenggarong. Juga ada festival Erau yang mengundang banyak penampil dari manca negara.

Karena itu, ramai diberitakan bahwa Kukar Rockin’ Festival diselenggarakan dengan dana APBD. Bunda Rita tentu membantah.

Well, agar tak terlalu merasa bersalah (kenapa juga harus merasa bersalah, Nov?), saya datang ke Stadion Aji Imbut sebagai fans, dan nonton aksi Sepultura yang sudah tanpa Igor dan Max Cavalera, dua bersaudara pendirinya.

Band pembuka mereka, hahaha, Edane lagi. Saya kira Eet Sjachranie hanya ingin pulang kampung saja.

***

Saya menuliskan tentang televisi kita di bagian ini sebanyak 398 kata. Tapi setelah dibaca berulang-ulang, sudahlah, skip aja ya. Kita langsung ke bawah lagi, ke TVRI. Masih tentang musik, tentu saja.

***

Tapi, tak ada yang bisa menggantikan kenangan akan TVRI, satu-satunya televisi Indonesia sampai tahun 1986.

Menurut saya, TVRI zaman itu boleh dibilang televisi yang penuh tanggungjawab-selain juga penuh propaganda, hehehe. Mereka punya acara Laporan Khusus, (biasanya jumpa pers presiden, yaitu Jenderal Soeharto, kadang di pesawat terbang pulang dari lawatan luar negeri). Kalau sekarang itu bukan laporan khusus, itu breaking news.

Sinetron-sinetron dan film-nya bagus-bagus. Ada Little House on the Prairie, Full House, Hunter, Rumah Masa Depan, banyak, …

Dari sejumlah acara musik, seperti Aneka Ria Safari, Album Minggu, Televisi Republik Indonesia ini juga punya acara yang luar biasa; Orkes Simfoni namanya.

Ini acara yang menampilkan orkestra-orkestra terbaik dunia memainkan karya-karya agung gubahan para jenius musik seperti Bach, Beethoven, Mozart, Haydn, Tchaikovsky, Rachmaninoff, Strauss, Brahms, atau Vivaldi, Wagner, Schubert, Dvorak, Chopin, dan lain-lain.

TVRI menampilkan komposisi-komposisi ciptaan beliau-beliau di atas itu selama satu jam penuh. Pembawa acaranya Suwanto Suwandi, seorang pria berpipi tembem yang ramah dengan mata bersahabat yang memberi pengantar dengan suaranya yang empuk. Suwanto Suwandi bercerita hal-hal dibalik penciptaan dari komposisi yang akan dibawakan.

Cerita-cerita dari Om Wanto inilah yang pertama kali membuat saya, sebagai remaja ketika itu, mau duduk menonton. Mungkin juga karena saya suka sejarah. Tapi, saya kira, siapa saja suka mendengar cerita, bukan.

Om Wanto berkisah sedikit tentang Requiem-nya Mozart, lagu pengantar untuk orang meninggal. Mozart yang sedang sakit baru menyelesaikan sebagian dari requiem ini. Simpang siur cerita, kata Suwanto Suwandi, requiem itu pesanan Baron Gottfried von Swieten, seorang bangsawan yanng eksentrik, untuk mengenang istrinya.

Cerita lebih dramatis menyebutkan, requiem itu pertama kali dimainkan untuk sang maestro sendiri di hari kematiannya. Ada juga kisah yang bilang, sang pemesan requiem itu sesungguhnya adalah Antonio Salieri, komponis saingan Mozart saat itu. Salieri mendatangi Mozart dengan menyamar, memberi honor uang muka, dan berbalik pulang.

Alkisah, dalam cerita adaptasi biografi Mozart di film Amadeus, setelah beberapa lama Salieri kemudian mengaku membunuh Mozart dengan meracuninya—walaupun tidak seperti Jessica memasukkan sianida ke kopi Mirna.

Sebagai jenius, Mozart kadang keterlaluan kepada Salieri yang jauh lebih senior. Di adegan dari film Amadeus ini, misalnya, ia bilang bisa memainkan lagu Salieri yang barusan dimainkan di hapsichord tanpa melihat partiturnya. Padahal lagu ini baru sekali itulah ditampilkan di depan umum.  

Kemudian di layar televisi tampak sejumlah pria dan wanita yang duduk dalam formasi setengah lingkaran. Para lelaki berbusan formal, berjas hitam dengan dasi kupu-kupu, perempuan dalam gaun hitam. Mereka memangku instrumen musiknya masing-masing. Di depan mereka ada standar dengan lembaran-lembaran kertas putih. Tampak kontras dengan jas dan gaun hitam mereka.

Di pusat setengah lingkaran itu, berdiri seorang lelaki yang juga berpakaian formal. Di tangan kanannya ada tongkat kecil semacam sumpit. Ia datang paling akhir, dan ketika ia datang, semua orang yang duduk di setengah lingkaran berdiri dan bertepuk tangan.

Musiknya kemudian dimulai seiring dengan gerakan tangan, terutama tangan yang memegang sumpit, dan ekspresi pria yang berada di pusat lingkaran itu.

Inilah Berliner Philharmoniker. Intro Requiem K626 in D minor adalah lagu yang lambat dan suram, dengan koor dari paduan suara yang bikin bulu kuduk merinding.

Requiem pada bagian Ke-9 Dominae Jesu oleh Berliner Philhamoniker dengan konduktor Claudio Abbado, pengganti Herbert von Karajan. Video ini direkam tahun 1999 di Salzburg Cathedral. 

Saya membayangkan rombongan pengantar jenazah Mozart menuju kuburan yang dingin dan beku di malam gelap Salzburg.

Berliner Philharmoniker atau Berlin Phirharmonic Orchestra adalah orkestra terbaik di dunia. Saat itu konduktornya Herr (tuan) Herbert von Karajan, yang memimpin sejak 1955 hingga April 1989. Ketika Herr Karajan meninggal Mei 1989, mungkin sekali Requiem ini dimainkan pula saat pemakamannya.

Gaya Herr Herbert von Karajan saat memimpin okestra, Memang rockstar.
Gaya Herr Herbert von Karajan saat memimpin okestra, Rockstar memang. (ernst-haas.com)

Pada lain kesempatan Suwanto Suwandi mengisahkan keceriaan musim semi tahun 1723 di Venesia saat Antonio Vivaldi menuliskan La Primavera (Spring, musim semi) yang kemudian menjadi bagian dari 4 komposisi musim Le quattro stagioni di bawah judul Il cimento dell’armonia e dell’inventione atau Empat Musim dalam Harmoni dan Pencerahan.

Dan banyak cerita lain. Kadang-kadang Orkes Simfoni dimulai dari komposisi yang pendek dan ‘ringan’ seperti Fur Elise dan Turkish March, atau Moonlite Sonata. Itu semua komposisi ciptaan Ludwig van Beethoven. Saya yakin Anda kenal kok dengan komposisi-komposisi ini.

Jadilah juga saya penggemar musik klasik. Di Balikpapan, saya menonton beberapa pergelaran musik kamar sederhana dengan 3 atau 4 musisi yang memainkan piano, cello, dan biola di klub-klub kawan ekspatriat atau aula-aula kantor perusahaan migas. Sering pula yang tampil adalah anak-anak sekolah musik atau didikan guru privat yang disponsori perusahaan. Mereka memainkan biola dan piano. Kawan saya, enci Lily Ng, seorang guru piano yang ekselen, tampil memukau bersama murid-muridnya membawakan antara lain Canon in D milik Johann Pachelbel.

Pernah pianis kelas dunia dengan sederet penghargaan Ary Sutedja mampir bersama pemain cello Asep Hidayat. Di Palm Beach, sebuah compound di tepi pantai di timur Balikpapan, saat Mikhail Davis yang suami Ary melukis di kanvas besar agak sedikit di belakang, mbak  Ary dan kang Asep memainkan instrumen.  Selama dua jam, Ary dan Asep memperdengarkan mulai dari Ave Maria karya Johann Sebastian Bach, Sonata Nomor 5 untuk Cello dan E Minor untuk Piano ciptaan Antonio Vivaldi, Sonata dalam G Mayor K301 untuk Cello dan Piano gubahan Wolfgang Amadeus Mozart.

Ary Sutedja dan Asep Hidayat dalam konser musik klasik Bicentennial Chopin di Gedung Kesenian Jakarta, 10 Maret 2010. (ANTARA News/Fanny Octavianus--hehehe, saya pinjam foto dari kantor).
Ary Sutedja dan Asep Hidayat dalam konser musik klasik Bicentennial Chopin di Gedung Kesenian Jakarta, 10 Maret 2010. (ANTARA News/Fanny Octavianus).

Saat tampil di Tenggarong pada kesempatan yang lain, Ary dan Asep membawakan juga komposisi-komposisi ciptaan komponis terhormat Indonesia Amir Hamzah Pasaribu seperti Sunrise at the Yangtse, Hangstsu Mountain, dan Dr Sun Yat Sen Memorial Hall, komposisi yang diciptakan dari kesan-kesan Pasaribu saat melawat ke Tiongkok dan di masa Indonesia menjalankan Nasakom.

Opung Amir Pasaribu lahir di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 21 Mei 1915. Ia lalu meninggal di Medan, 10 Februari 2010 setelah hidup selama 95 tahun. Betul bukan, musik bisa memanjangkan umur orang.

“Kalau lihat penampilannya, kamu penggemar reggae deh, bukan klasik,” canda Kang Asep pada saya yang mewawancarainya usai tampil di Palm Beach.

Kadang-kadang saya (dan para penggemar yang lain juga), mendapatkan musik klasik dari film. Ada yang jadi tempelan dan selingan namun ditata sangat bagus seperti di Band of Brothers oleh penata musik Michael Kamen.

Sekali-sekali musik turut jadi pemeran utama dan menghiasi seluruh film seperti di Amadeus tadi, yang sepanjang film berhias musik ciptaan Mozart.

Amadeus adalah film tahun 1984 tentang kekonyolan dan kegilaan Wolfgang Amadeus Mozart, yang mengantarkan aktor F Murray Abraham yang berperan sebagai Antonio Salieri, sebagai best actor, pemeran pria terbaik. Filmnya sendiri meraih 8 Oscar dari 11 nominasi—termasuk 2 nominasi aktor terbaik, dimana selain Abraham juga dinominasikan Tom Hulce yang memerankan Mozart.

Seperti saya sebut sebelumnya, Amadeus adalah film adaptasi biografi Mozart, jadi tak otentik sebagaimana adanya jalan hidup maestro yang mati muda itu.

Ada juga Copying Beethoven, yang menceritakan proses kreatif sang maestro ketika sudah hampir tuli total. Ed Harris yang biasa tampil di film western sebagai koboi pun mengganti pistolnya dengan baton—ini nama tongkat yang mirip sumpit tadi. Harris memerankannya dengan maksimal. Buat saya, film itu sukses menghadirkan Simfoni Nomor 9 dengan ekspresif seperti seharusnya meski untuk kepentingan drama film harus diedit banyak.

Setelah dua per tiga film, ada adegan penampilan perdana simfoni itu. Beethoven yang hampir tuli dibantu Anna Holt, gadis magang yang membantunya menuliskan (copying) musik-musiknya.

Sutradara Agnieszka Holland memotong-motong simfoni yang seluruhnya rata-rata 1 jam 20 menit itu menjadi hanya sekitar 13 menit, tepat di bagian-bagian terbaiknya.

Maka, air mata pun tak terasa bergulir di bagian yang lembut mengalun. Di bagian choral, koor, di Gerakan (Bagian) Ke-4, di saat Beethoven mengangkat tangan dan mengubah tempo, gelombang semangat pun meledak seperti Big Bang dan menyebar ke seluruh semesta, mengalir dari komposisi itu dan merasuk ke urat-urat darah mereka yang menontonnya.

Karena itu tampaknya, John McTiernan, sutradara film Die Hard menaruh Simfoni Nomor 9 di latar ledakan-ledakan sementara Letnan McClane aka Bruce Willis berlari menyelamatkan diri, yippie kayeye…

Di film The Lady, saya juga tergetar haru sebab runtunan nada Canon D di piano yang dimainkan Michelle Yeoh, yang memerankan tokoh wanita perkasa Burma Aung San Suu Kyi di bawah arahan sutradara Luc Besson.

Suu Kyi menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991. Saat hadiah disampaikan di Stockholm, sekali lagi, Canon in D dimainkan. Bukan kebetulan gedung tempat acara adalah Stockholm Concert Hall, gedung tempat pertunjukan musik klasik.

Hadiah diterima suami dan anaknya, Michael dan Alexander Aris, karena Suu Kyi ditahan junta militer Burma di Rangoon.

Pada saat yang sama, di dalam adegan The Lady, di rumahnya dimana ia menjalani tahanan, dengan air mata berlinang Suu Kyi yang mendengarkan siaran radio gelombang pendek atas penganugerahan itu, turut memainkan Canon in D pada piano.

Sayang beribu sayang, Suu Kyi ternyata rasialis kepada kami muslim dan kami jurnalis. Entah apa salah kami padanya. Aktivis hak asasi manusia ini tidak berbuat apa pun atas pengusiran dan kekerasan yang dilakukan tentara kepada etnis Rohingnya, kelompok minoritas yang beragama Islam di negaranya.

***

 

Reuni Kopi

Posted on

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang …

Sumber: Reuni Kopi

Adalah Sungai dan Jukung …

Posted on Updated on

Sesekali Neng datang ke Sekretariat kami di Kampus di Kayu Tangi pada dinihari. Agar diizinkan orangtuanya, sebelumnya ia menginap di kos temannya yang dekat kampus.

Katanya, ia minta izin mau pergi ke mana sesuai dengan apa yang memang kami rencanakan. Tak boleh bohong pada orangtua, sobat. Neng hanya tidak bilang bagaimana cara perginya.

Sebab, hehehe, kalau Anda bertemu saya hari ini pun, saya yakin Anda akan berpikir panjang lebar untuk mau ikut ajakan saya dan bepergian ala saya ke tempat-tempat dimana saya mengajak Neng untuk didatangi.

Secatatan saya, di luar saudara-saudara saya di Kompas Borneo Unlam, hanya 4 orang, termasuk Neng, yang mau memenuhi ajakan saya. Neng pula yang satu-satunya  perempuan, dan yang paling muda diantara semuanya.

Satu dari 3 yang lain, adalah kawan laki-laki dan ada yang posturnya lebih besar dari kami semua yang mau ikut ajakan saya itu. Ketika pulang menjelang tengah hari, ia mengomel panjang pendek dan bersumpah tak akan lagi ikut-ikut ide saya.

Emang mau kemana? Atau emang kemana aja sih?

***

Kampus Universitas Lambung Mangkurat di Kayutangi di Banjarmasin itu dilewati 2 buah sungai. Ada satu sungai di depan, yang jembatannya lebih kurang 100 meter dari gerbang utama kampus.

Satu sungai lagi ada di belakang di dekat Kampus Politeknik. Sungai yang dibelakang ini mungkin lebih tepat disebut handil atau saluran air irigasi sebab digunakan petani mengairi sawah pasang surut yang saat itu ada di lingkungan Unlam. Lahan sawah itu tampaknya sudah dibeli atau dibebaskan pemerintah, namun sebab belum dimanfaatkan Unlam sehingga pemilik asalnya masih diizinkan bertani di situ.

Untuk sungai yang pertama, kami menyebut gampangnya saja, Sungai Unlam. Mungkin nama aslinya Sungai Kayutangi. Mungkin, kalau ada penelitian tentang nama asli sungai itu, maka hasil penelitian itu pastilah belum dipublikasikan.

Sungai itu masuk kampus dari bagian selatan, dari jembatan di ujung Komplek PU dan pemukiman penduduk di Sungai Miai (astaga, barangkali itulah nama asli sungai itu) lalu berkelok ke kanan di belakang gudang dan garasi Rektorat lama, dan membentuk meander dan lubuk yang dalam di ujung gedung rektorat lama itu, tepat di samping Poliklinik Unlam.

Meander artinya membentuk tikungan U. Kalau menurut bahasa MotoGP, U turn. Beberapa kawan penulis dan analis dunia balapan menyebutnya akrab, tikungan tusuk konde.

Tahukah kalian konde, kawan? Beberapa waktu lalu ada kawan-kawan mahasiswa yang menggelar demonstrasi minta konde dan tusuknya itu ditinggalkan saja. Alasannya antara lain merepotkan. Saya lihat, tanpa diminta pun keadaannya sudah seperti itu. Karena memang mengenakan konde tak mudah, wanita berkebaya dan berkonde hanya pada kesempatan tertentu yang jarang. Ada juga kesadaran mengenakan pakaian yang menutup aurat komplet seperti jilbab lebar dengan sendirinya membuat konde sudah menjadi sejarah bagi sebagian wanita.

Di tepi meander kecil itu, tumbuh sebatang pohon beringin besar. Daun-daunnya yang kecil namun lebat menaungi sekitarnya. Sulur dan akar-akaran dari atas menjulur ke air.

Sebab suasananya yang sejuk, di tengah hari bolong seekor biawak sering bersantai di situ. Saat itu ukuran lebar badannya kira-kira 15 cm dan panjang satu meter lebih. Cukup besar, karena itu dia tidak serta merta kabur bila bertemu saya. Matanya yang hitam kelam dengan pupil panjang itu bergerak-gerak tanpa berkedip. Kulit kelabu dengan bintik-bintik kuning yang membuat makhluk itu terlihat berwibawa. Saya kira biawak itulah sang penguasa meander dan kawasan bawah pohon beringin sampai ke belakang bangunan yang kemudian menjadi Kantin Kopma.

Di belakang Kantin Kopma itu sungai membelok ke kanan sedikit, lalu lurus menyusup di bawah jalan raya kampus. Di sini ada siring yang membatasi kedua tepi sungai dan di sisi timur. Di bagian sisi di mana ada Gudang Alat Tulis Kantor Rektorat teduh oleh naungan pohon-pohon akasia.

Suasananya bisa nyaman sekali. Kantin Kopma itu, antara tahun 1995 hingga 2000, jadi tempat rendevu yang enak. Kawan-kawan panitia pergelaran musik jazz dari Fakultas Ekonomi (Economic Sunday Jazz Festival ya? Masih digelar acara itu?) bahkan cukup percaya diri mengajak artis Jakarta yang tampil jadi bintang tamu makan di Kantin Kopma. Andre yang kini jadi pelawak itu dan bandnya, Stinky, pernah dijamu di Kantin Kopma. Rasanya Java Jive juga. Tapi yang Java Jive ini saya tak yakin, hehehe.

Sebagai tetangga kami di Kompas Borneo Unlam sering diundang makan gratis, terutama saat Kantin tutup setelah pukul sepuluh malam. Koki di Kantin itu teman, dan kami dimintai bantuan untuk menghabiskan makanan yang bagaimana pun tak laku atau tidak sehat dan tidak patut untuk dijual lagi saat buka besok.

“Sedaaapppp,” kata Amang Efeet, usai menghabiskan sepiring nasi goreng sosis. Saya pun mengatakan hal yang sama. Makan apa yang tidak sedaaappp bagi mahasiswa dan anak kos?

Memang sesungguhnya yang tidak kreatif dan tidak menggunakan akalnya dengan maksimal saja yang menderita. Kecuali kalau menderita itu pilihannya.

Di bagian sungai di sebelah Kantin Kopma itu juga, atau pasnya lebih maju sedikit, ke sebelah Toko Kopma, saya pernah ditangkap, dilucuti dompet dan hp, digotong beramai-ramai, dan dilempar ke tengah sungai dalam keadaan berpakaian lengkap jaket biru KBU dan sepatu,…

Untunglah sore itu sungai sedang pasang. Hari itu tanggal 7 November, dan itulah cara kawan-kawan KBU mengucapkan selamat ulang tahun buat saya. Masih lebih beruntung daripada diguyur air comberan atau adonan telur dan tepung seperti yang dialami Bang Mail, Sapar,  atau Bobby, dan yang lain-lain.

Setelah jembatan, sungai membelok ke kiri. Di sebelah kanannya ada Gedung Serbaguna Unlam, di sebelah kirinya saat itu bangunan yang ditempati Menwa sebagai sekretariat (atau mereka menyebutnya ‘markas’ mengikuti kebiasaan tentara), lalu lurus melewati gedung kantor yang ketika itu belum terpakai, menyusup lagi di bawah jembatan hingga di belakang Lapangan Tenis, dan keluar ke Komplek Kayu Tangi II lalu menghilang di antara rumah-rumah.

Bagian setelah di belakang Gedung Serbaguna boleh dibilang tak terurus. Ilung memenuhi sungai, dan seandainya tidak ada jembatan, tak akan orang tahu ada sungai di situ.

***

Setelah Ekspedisi Susur Barito, kami jadi punya 2 buah jukung atau perahu kayu. Jukung-jukung itu dicat warna biru khas KBU. Ada logo Kompas dan Pulau Kalimantan yang besar di kedua sisinya.

Yang jadi favorit saya sebuah jukung sepanjang 4 meter yang dasarnya terbuat dari kayu balau yang ringan dan liat. Jukung itu dibangun di atas batang kayu yang dibelah pada diameternya, lalu dikerok, baru kemudian ditambahkan dinding dari papan.

Jukung ini ringan, gampang dikendalikan, meski agak linggar. Juga terlihat langsing dan lincah membelah air. Jukung ini buatan pengrajin jukung di hulu Sungai Barito sehingga tampak sekali berbeda dengan jukung-jukung yang ada di Banjarmasin.

Kata Opa Petersen, jukung favorit saya ini adalah jukung sudur bakapih.

Jukung di Banjarmasin dibuat untuk keperluan berdagang, tampak agak lebar di bagian tengah, tidak linggar atau tidak mudah bergoyang oleh gelombang, namun agak lamban.

Jukung kedua kami adalah jukung jenis ini. Pajukungan atau ahli jukung di Pulau Alalak menyebut jukung ini sebagai jukung patai hawaian.

Erik Petersen adalah orangtua dari Denmark.  Bila sedang ada di Banjarmasin tahun-tahun itu, ia suka naik sepeda ke mana-mana. Opa Petersen peneliti. Ia pun mempelajari dan meneliti jukung. Hasil penelitiannya beliau tuliskan jadi buku. Judulnya “Jukung Boats From the Barito Basin, Borneo”.

Buku Opa Petersen diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ayahanda guru Profesor Melkianus Paul Lambut. Pa Lambut bercerita bahwa dulu ia merantau naik jukung untuk bersekolah di Banjarmasin.

“Saya mengayuh sendiri, menghiliri Sungai Barito selama berhari-hari,” tuturnya. Bila malam tiba,  pemuda Lambut singgah dan menumpang bermalam di pelataran rumah orang yang menghadap ke sungai.

“Masa itu, rumah-rumah menghadap ke sungai sebab sungailah jalan raya. Rumah-rumah Banjar punya teras depan yang luas. Tuan rumah mempersilakan siapa pun pengembara sungai yang kelelahan untuk bermalam.”

Masa remaja Pa Lambut itu lebih kurang setelah Pemilu I tahun 1955. Kampus kami, Universitas Lambung Mangkurat, berdiri tahun 1958.

Karena itu, terjemahan Pa Lambut pada buku Opa Petersen penuh penghayatan dan kenangan atas pengalamannya sendiri.

Betapa tidak, sebagian dari yang disebut petualangan hari ini, dulu adalah kenyataan hidup sehari-hari.

Menarik bukan, saya belajar tentang jukung—ikon penting budaya Banjar, justru dari buku berbahasa Inggris tulisan seorang Denmark, dan juga terjemahannya dari seorang Dayak.

Hmm, bukankah dari dulu bila Anda ingin mempelajari Hikayat Perang Banjar, sumber-sumber detil tertulis justru ada di Leiden, Belanda.

Semoga Allah meridhai guru-guru kami yang mulia.

***

Kami memarkir jukung-jukung ini di Meander tempat biawak berjemur tadi. Beberapa hari setelah Tim Ekspedisi kembali ke Banjarmasin, saya yang tak ikut Ekspedisi, belum pernah diajari bagaimana berdayung dan mengemudikan jukung, siang itu, sendirian, tak dapat menahan hasrat untuk duduk di salah satu ujung jukung dan mulai mendayung.

Pertama mendayungnya asal saja. Yang penting jukungnya maju. Setelah itu saya menguasainya begitu saja. Mungkin sudah diturunkan dalam darah setiap urang Banjar tentang bagaimana mendayung dan mengemudi jukung. Untuk menguasainya dengan sempurna, tinggal latihan saja.

Saya menguasai cara membelokkan jukung itu ke kiri kanan dengan hanya mendayung di satu sisi dalam setengah jam. Termasuk juga cara mundur, baik lurus, atau mundur ke kiri atau ke kanan.

Perahu atau jukung, kawan, bila didayung dari sisi kanan, misalnya, maka akan berbelok ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Bila didayung dari sisi kiri, ia akan membelok ke kanan. Sebab itu, untuk menjaga haluan tetap lurus ke depan, orang perlu mendayung kiri dan kanan bergantian agar kedua daya itu berbalasan dan menjaga haluan tetap lurus sesuai arah tujuan. Cara mendayung seperti itu dipraktikkan orang Eskimo dengan kayak mereka. Atau para nelayan di Pulau Maratua di satu pulau terluar Indonesia.

Cara mendayung seperti itu, agar efektif, perlu dua bilah pengayuh pada satu dayung. Dari selintas melihat saja kita tahu hanya di tempat yang luas seperti laut atau danau saja cara mendayung seperti itu aman bagi pendayung di perahu lain bila bersisian.

Bayangkan bila masuk kanal-kanal sempit seperti di Kuin atau Kelayan, atau bergabung di keramaian Pasar Terapung.

Mendayung dari satu sisi saja adalah, tentu saja,  mendayung dari satu sisi saja, baik di sisi kiri atau sisi kanan, sesuai dengan kebiasaan dan kenyamanan masing-masing, dan tidak setiap kali selesai mengayuh satu kayuhan, berpindah mengayuh di sisi lainnya.

Lalu bagaimana agar perahu tak berbelok karena gaya tolak dayung di air? Sederhana saja, sobat. Pertama untuk mendorong perahu maju, dayung yang dipegang melintang dada kita celupkan ke air sejauh setengah rentang lengan. Dayung lalu ditarik sampai pinggang untuk mendapatkan gaya tolak dan jukung pun maju. Nah, setelah itu putar tangkai dayung itu ke kanan atau searah jarum jam, bila dayung Anda di sisi kanan perahu. Sebaliknya, putar ke kiri atau berlawan arah jarum jam bila dayung Anda di sisi kiri perahu.

Putaran dayung itu mencegah haluan perahu berbelok karena kita memberi gaya berlawanan di buritan.

Sederhana bukan.

Dulu ada masa setiap acil, busu, angah, julak, ading, uma, apalagi abah dan anak bujang di Banjar mestilah menguasai keterampilan ini.

***

Kawan-kawan saya yang begadang di Sekretariat mungkin baru saja tidur ketika saya bangun. Hampir pukul empat dinihari. Mereka tidur tersebar di berbagai sudut senyamannya. Asbak rokok penuh oleh puntung, demikian juga gelas-gelas yang tinggal berisi ampas kopi.

Saya bangun dan mengeliat, lalu mencuci muka dan meregangkan otot sebentar. Mencium dan menempelkan dahi di lantai dingin Sekretariat pada dinihari begitu adalah peregangan ringan yang sangat berguna untuk mempertajam daya ingat. Saat itu kepala menjadi satu bagian yang rendah dari tubuh, dan karenanya daya tarik bumi serta pompaan jantung lalu membuka jalan darah hingga yang kecil-kecil di lipatan-lipatan otak. Darah yang kaya oksigen dan sari pati makanan itu pun mengalir lancar sehingga membuat banyak syaraf terhubung dan ruangan-ruangan memori pun terbuka.

Perlahan saya menggeser pintu lemari peralatan KBU dan mengeluarkan 3 jaket pelampung. Sambil menyandang ransel kecil, saya keluar dari pintu belakang dan perlahan menutupnya kembali. Saya ke gudang di samping Sekretariat dan mengambil 3 dayung.

Hawa dingin menyegarkan. Penjaga malam memukul tiang listrik sekali. Dengan bawaan yang banyak tapi ringan itu saya berjalan ke belakang Rektorat Lama, tempat jukung-jukung kami ditambatkan.

Air masih surut. Walaupun kecil kemungkinan dicuri orang, jukung-jukung itu selain dirantai juga ditenggelamkan separuhnya. Siapa pun yang ingin menggunakannya harus mau sedikit bersusah payah menimba air keluar.

Atau bila menguasai tekniknya, menggoyang-goyangkan badan jukung ke kiri-kanan untuk melemparkan sebagian besar air, baru menimba sisanya.

Saat saya menata ulang lantai jukung, seberkas terang sinar lampu menerangi belakang Rektorat Lama. Bunyi halus motor 4 tak menderum lembut.

“Bang Nov, …”

“Hei! Ayo!”

“Okey, parkir dulu.”

Gadis itu memarkir motornya di garasi Poliklinik Unlam, mengunci helm di bawah jok, dan memasang kunci tambahan. Saya melihat siluetnya mendekat. Pagi itu ia pakai celana panjang kargo, di bawah jaket penahan angin ada kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan di atas kaos putih, dan rambut yang diikat sederhana.

My Hermione.

“Pake life jacket itu ya. Bawa topi?”

“Ada. Ni Neng juga bawa air.” Sebotol air yang masih hangat di dalam botol plastik tahan panas.

“Sippp, good girl. Terimakaseeh…”

“You’re welcome, Sir.”

Neng menyentuh ujung topi rimbanya dengan ujung jari, seperti prajurit memberi hormat. Saya membalas penghormatan itu dengan menjentikkan air dari sungai ke wajahnya.

“Ehhh, awas yaaa…”

Kami memulai perjalanan itu pukul setengah lima. Neng duduk di depan di haluan dan saya di buritan mengemudi. Neng mengatur lampu senter di jidatnya. Air mulai pasang. Kami mengayuh pelan namun kuat untuk melawan arus dari air yang naik. Selagi air masih surut, kami akan mudah melewati jembatan di batas Unlam dengan kampung itu. Setidaknya tidak perlu menunduk atau merendahkan badan.

Setelah jembatan itu, Sungai Miai membelah pemukiman dan berada di belakang dapur semua rumah, di kiri ataupun di kanannya. Sepanjang 200 meter sungai itu lurus saja, lalu membelok tajam ke kiri bila kita dari arah utara seperti sekarang. Sungai menyempit menuju ke timur.

Sebagian rumah punya pelataran ulin di belakang sedikit di atas sungai. Mungkin niatnya dulu untuk duduk-duduk santai sambil minum kopi atau merokok. Tapi selama kami hilir mudik di sungai ini dalam beberapa bulan itu, tak pernah ada seorang pun dari penghuni rumah itu yang kami temui begitu. Paling-paling ada buangan air cucian, atau limpasan orang mandi. Atau paling asyik, adalah ibu-ibu, atau perempuan anak kos yang menjemur pakaian atau cucian dengan hanya bersarung dieratkan di dada dengan rambut basah atau tidak basah. Pelataran santai di belakang rumah menghadap sungai itu memang dijadikan tempat jemuran. Atau memang itu peruntukannya sedari awal ya.

Setelah melewati bangkai jukung tiung (jukung besar) di kiri sungai yang kosong dan dua klotok kecil di kanan, tepat di depan ada bangunan yang agak menjorok ke sungai.

Bangunan itu menjulang, sebagai rumah kos yang terbuat dari kayu berlantai 2. Tepat satu sudutnya berdiri di atas sungai, di tikungan di bagian yang dalam di mana arus melingkar kencang. Bila tidak dikendalikan, jukung pasti menghantam tiang bangunan itu.

Bangunan itu belum lagi dicat, tapi sudah disewakan kamar-kamarnya. Bangunan itu juga tidak punya pelataran atau apa pun di tepi atau di atas sungai, tapi jendela-jendela kamarnya menghadap ke sungai. Tepat di sudut tikungan itu, ada satu kamar yang bila kami lewat di sore atau pagi hari,  jendelanya selalu terbuka. Kadang-kadang ada ‘tapih bahalai’ yang diangin-anginkan di jendela itu. Tapih bahalai adalah sarung motif batik banjar dengan warna-warna khas seperti ungu atau cokelat.

Dari tapih itu, saya tahu kos itu kos untuk mahasiswa perempuan dan mereka mungkin sekali datang dari kota-kota pedalaman Kalimantan Selatan atau Kalimantan Tengah. Sebagian mereka tampaknya mahasiswa STIE Indonesia.

“Tahu dari mana?” tanya Neng.

“Itu, depannya kampus STIEI.”

Sekali ini satu percikan air sungai mampir ke wajah saya. Neng tertawa.

Saya tak tahu apa arti bangunan itu bagi kawan-kawan saya yang lain,  yang setelah kami punya jukung ini jadi sering lalu lalang di sungai itu. Bagi saya, bangunan itu penanda tikungan sungai, dan kemudian saya tahu di depannya ada jalan lingkungan yang membawa ke luar ke Kampus STIEI dan muara Jalan Brigjen H Hasan Basry, awal Kayutangi.

Pengetahuan itu juga memberi variasi tempat turun ke sungai dan tempat naik kembali ke darat.

Lepas tikungan itu, sungai berkelok-kelok di bawah dapur-dapur yang tinggi di Sungai Miai. Dari dapur-dapur itu saya mencium bau ikan goreng yang gurih dan sayur gangan waluh balamak yang empuk.

Setelah melewati belakang Kantor Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, lalu ada bagian yang terbuka, yang langsung bersisian dengan Jalan KH Hassan Basry, sehingga kendaraan dan lalu lintas baik di jalan maupun di sungai terlihat jelas sampai sungai kembali terselip di belakang toko-toko di tepi jalan raya dan kembali menuju ke barat.

Sungai berbelok ke kawasan yang disebut Sungai Kindaung. Di situ  sungai berada di antara dua gang yang diperkuat dengan batako. Ada beberapa jembatan yang tinggi yang menghubungkan kedua sisi gang.

Rumah-rumah dan warung-warung menghadap sungai. Di sisi kanan ada Sekolah Dasar Muhammadiyah Sungai Kindaung yang berwarna putih dan hijau. Sekolah itu punya halaman lumayan luas di pemukiman yang padat itu.

Saya punya seorang julak yang tinggal di rumah banjar bubungan tinggi di depan sungai. Semasa kecil saya, di awal tahun 80-an, sepupu saya yang paling tua, juga anak tertua julak, dirayakan walimahnya di situ. Ah, ramainya keluarga.

Selain sekolah, persyarikatan Muhammdiyah Ranting Sungai Kindaung ini memiliki satu pasukan barisan pemadam kebakaran (BPK) Karena lingkungannya yang dikeliling sungai BPK Sungai Kindaung punya unit untuk mendekati dan memadamkan kebakaran dari sungai. Ada speedboat khusus berwarna merah dan biru yang di parkir di garasi khusus pula di tepi sungai. Di belakang speedboat ada mesin pompa air dan selang-selang. Kami pernah melihat unit itu berlatih di sore hari, dari sungai menyemprot halaman sekolahan yang kosong.

Maju lebih kurang 50 meter lagi dari sekolah itu, sungai membelok ke kiri, ke selatan. Sungai diapit oleh dua rumah panggung besar sampai ke bawah jembatan di Jalan Kuin Cerucuk, di mana Sungai Miai melebar dan melebur ke dalam Sungai Kuin.

Saya membelokkan jukung ke kanan. Azan subuh berkumandang. Lampu-lampu dinyalakan. Bunyi air jatuh di kamar mandi dan mengalir ke sungai terdengar dari setiap rumah di sepanjang sungai.

Azan yang paling keras terdengar dari masjid di depan kami itu. Suara muazzin tua yang serak dan bergetar membawa rasa haru sekaligus ironi. Di masjid saat subuh tak ada anak muda tampaknya.

Kami menepi dan menambatkan jukung di batang masigit (dermaga masjid) itu. Neng menuju ke bagian jamaah wanita. Satu dua bapak dan kakek memandang saya dan tersenyum. Saya membalas senyum mereka.

***

“Bang Nov mau untuk?”

“Mana?”

Ada penjual untuk rupanya di halaman masjid. Untuk adalah roti goreng mirip bakpao. Juga mirip kue dorayaki-nya DoraEmon. Bentuknya seperti setangkup mangkuk kecil yang disatukan di bagian dasarnya. Untuk yang masih seputih kertas digoreng dengan minyak kelapa panas sampai jadi cokelat kemerahan (habang).

Ada untuk habang. Ada untuk putih, Untuk putih ini yang betul mirip sangat dengan bakpao. Bila untuk habang digoreng, untuk putih dikukus-persis bakpao, memang.

Untuk ada isinya. Urang Banjar suka untuk isi kacang hijau. Untuk isi inti juga disukai. Tapi tidak ada untuk isi daging sehingga kue ini aman bagi vegetarian. Inti adalah parutan kelapa yang diaduk dengan gula merah.

Untuk yang dijual di halaman masjid itu besar-besar. Neng membeli 2 untuk isi kacang hijau guna sekedar mengganjal perut. Tujuan kami masih lebih kurang 40 menit berdayung lagi dari masjid itu.

Hari terang dan kami menyimpan senter. Sungai mulai sibuk dan riuh. Bunyi mesin diesel dari beragam klotok (jukung yang dipasangi mesin diesel) memeriahkan pagi yang tampaknya akan cerah. Bau solar dan riak gelombang yang menghantam batang menyebar semangat kehidupan yang riang.

Batang adalah tempat mandi, cuci, dan kakus di tepi sungai. Juga dermaga dan halte. Biasanya batang dibangun di atas sekurangnya 2 batang pohon kayu besar yang mengapung. Di atas 2 atau 3 batang kayu besar itu, disusun papan-papan dari kayu ulin. Rangkaiannya diperkuat lagi oleh balok-balok ulin juga.

Biasanya juga, batang dilengkapi dengan jamban, yaitu toilet yang menjadikan sungai langsung sebagai septic tank. Batang yang cukup besar bisa punya 2 jamban sekaligus.

Agar tak hanyut, batang ditambatkan di tonggak kayu. Tambatannya bisa berupa tali yang sedemikian rupa diukur sehingga bisa mengikuti pasang surut sungai.

Sehabis salat subuh ramailah batang dengan orang yang mencuci pakaian, dengan orang yang mandi untuk pelesir di hari minggu, dan lain-lain keperluan dengan air. Bila selain hari minggu, tentu juga ramai oleh anak-anak yang mau sekolah.

Sebagian anak sekolah itu menjadikan batang sebagai halte tempat menunggu klotok. Mereka akan naik taksi klotok yang melewati batang sekolahnya atau batang dekat sekolahnya.

Urang Banjar suka menggeneralisasi. Apa pun angkutan umum disebut taksi. Ojek pun, disebut taksi ojek, hehehe.

***

Kami mengayuh dengan gembira meski melawan arus. Kami berdua berpeluh dan tersenyum. Tak banyak yang kami bicarakan. Bersama berdua saja di dalam jukung itu sudah amat menyenangkan.

Air pasang pagi hari memang selalu membawa harapan. Air cokelat susu Sungai Kuin memenuhi anak-anak sungainya hingga jauh ke ujung rawa dan sudut kampung. Air pasang membuat semuanya tampak bersih. Sampah yang dibuang di kolong rumah langsung lenyap dalam air dan arus.

Klotok dan jukung juga speedboat lalu lalang. Pada yang searah ke barat, klotok-klotok menyalip kami. Kami menyalip jukung-jukung yang dikayuh acil atau paman yang sendirian.

Pukul enam lewat limabelas menit, di depan kami melintang tinggi sebuah jembatan. Ketika itu adalah sebuah jembatan kayu ulin yang kokoh tiang-tiangnya, namun sudah longgar paku-paku papannya. Kendaraan yang melintas di atasnya membuat bunyi berderak kayu dan besi yang khas.

Ada dermaga ulin yang lapang di daratan di sebelah kanan sebelum masuk bawah jembatan itu. Itulah batang masigit Sultan Suriansyah. Dan itulah masjidnya, di seberang jalan Kuin Cerucuk.

…di kampung Kuin baolah masigit

di situ jua sidin bamakam…

Masjid seorang pangeran yang rendah hati. Masjid raja di tengah-tengah kampung rakyatnya. Makam sederhana seorang hamba.

“Nanti pulangnya mampir ya,” kata Neng. Sure.

***

Pukul setengah tujuh. Sungai dan langit tiba-tiba saja meluas dan melebar. Sungai Kuin membuka mulutnya untuk limpahan air dari Batang Besar Barito. Jukung dan klotok lalu lalang dengan ramainya dan mengirim gelombang dan ombak kemana-mana.

Mata Neng berbinar.

“Pasar Terapung, I am coming…” teriaknya senang. Dayungnya diangkat seperti Tim Dayung Oxford memenangi balapan lawan Tim Cambridge di Sungai Thames.

Setelah berbelok ke utara dari muara Sungai Kuin itu, dua ratusan meter dari pertemuan sungai, berkumpul ratusan acil dan paman dalam jukung dengan muatan beragam hasil bumi banua Banjar. Kami bergabung dan berbaur dengan mereka, menyelipkan jukung biru kami diantara acil yang menjual tungkul, waluh, keladi, daun gumbili, limau, kalakai, kangkung,  dan paman yang menawarkan tarung, pepare, nyiur, haliling, seraya mendayung pelan dan tersenyum kepada siapa saja.

***

“Itu rombong,” tunjuk Neng. Ah, hahaha…senangnya ketemu rombong. Neng mengarahkan haluan ke rombong itu.

Rombong adalah perahu warung, atau warung terapung. Beragam wadai Banjar disajikan di atas piring-piring seng. Ada untuk lagi, pisang goreng, pais pisang, pais waluh, lempeng, petah, wadai lapis, pepare, putu mayang, puracit, lupis, … juga nasi bungkus.

“Itu nasi kuning. H haruan, T telur, …” tunjuk si Paman yang jual dengan tongkat panjang yang ada paku di ujungnya—yang digunakan untuk menjangkau wadai yang terlalu jauh bila langsung diambil dengan tangan.

Bukannya H Hintalu (telur) juga, Paman? Hehehe.

Mendayung sepagian rupanya membuat Neng kelaparan. Setelah menambatkan jukung kami di rombong itu, ia memutar duduknya menghadap saya di buritan, bergeser ke tengah, dan mengambil nasi bungkus daun pisang yang ditempeli kertas kecil bertuliskan huruf H dari rombong. Saya juga mengambil nasi bungkus huruf H itu. Setelah mencuci tangan, kami makan dan duduk di tengah jukung sambil kadang bertatapan dan tersenyum.

Dua teh hangat diangsurkan. Neng makan dengan lahap. Ia makan hingga butir nasi terakhir sementara saya menjilati jari-jari sebelum mencuci tangan lagi di air sungai.

Kami bersendawa berbarengan lalu tertawa.

“Tidak sopan,” kata Neng seraya meninju bahu kiri saya.

***

Kami berkeliling Pasar Terapung. Pasar ini adalah pasar induk, pasar grosir, sekaligus juga pasar eceran. Para pedagang yang berbelanja di sini akan menjual kembali belanjaannya di handil dan anjir nanti. Sebagian mereka menyusuri anak-anak sungai di Antasan Kecil hingga ke Pasar Lama, Seberang Masjid, Sungai Jingah, mungkin hingga Kampung Melayu, dan menemui para pembeli yang sudah menunggu di batang atau dapur rumahnya.

Bersama para pedagang yang mulai memisahkan diri itu, pada pukul delapan, kami ada di dekat muara Sungai Kuin lagi. Pasang masih terus naik. Tiba saatnya untuk pulang.

Kami singgah di Masjid Sultan Suriansyah, ke pauduan dan mencuci muka. Neng memenuhi hajatnya untuk salat tahyatul masjid dan salat dhuha. Tak bisa berlama-lama sebab kami harus kembali ke sungai untuk terus memanfaatkan arus pasang naik yang meringankan kayuhan dan mempercepat perjalanan.

Banyak batang masih ramai oleh ibu-ibu yang mencuci dan belanja dan para pemuda yang mandi setelah baru bangun dari begadang malam Minggu. Matahari pagi ada di depan kami dan topi rimba mulai memberikan manfaatnya. Namun sebelum matahari mulai garang, kami sudah tiba di Sungai Miai kembali dan terlindung di bawah bayangan rumah-rumah.

Lagu tema film kartun terdengar hingga ke sungai dari beberapa rumah. Beberapa anak menatap tak berkedepi kepada kami sampai Neng melambai pada mereka. Ibu dan gadis remaja menjemur pakaian. Jendela kamar kost mahasiswa STIEI itu terbuka lebar dan sehelai tapih tersampir di jendela.

Kami membelokkan jukung ke kanan, lalu lurus sampai bawah jembatan di batas kampus. Sebab air pasang, kini kami harus melewatinya dengan berbaring di lantai jukung.

Meander di bawah pohon beringin di belakang Rektorat Lama bermandi sinar matahari pagi. Bayangan sang beringin jatuh di atas Poliklinik dan baru siang nanti menaungi sungai dan kelokannya dan mengundang si biawak untuk bersantai di situ.

Kami minum bergantian dan menghabiskan air dari botol plastik tahan panas milik Neng setelah menaikkan semua peralatan, kembali menenggelamkan separuh badan jukung ke air, merantai dan menguncinya.

Gedung serbaguna di seberang sana sudah ramai oleh walimah perkawinan.

“Bang Nov besok Senin ke perpustakaan?”

“Yup.”

“Ok, sekalian mo balikin buku jukungnya Petersen.”

Neng mengenakan helm. Saya menunduk mendekatkan wajah saya pada wajahnya.

“Sampai besok.” Masih ada rasa manis lembut bak es krim tersisa di bibir saya.

“See you, Bang”

“See you, Neng.”

Sinar matahari yang hangat memeluk kami berdua, memantul di dasar hati, dan membuat saya ingin menyanyi sepanjang hari.

***

Hari-Hari Hujan

Posted on

 

Setelah Idul Fitri 1436 Hijriah, saya baru merasa punya energi lagi untuk menulis dan  reblog kisah perjalanan kami ke utara hingga sempadan Indonesia-Malaysia. Ini bagian kedua setelah Laskar Pelangi di Batas Negeri. Maaf lahir batin, semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Hujan kini tak perlu diminta. Setiap pagi, ia mendera menjelang dinihari. Di bawah tetesan lebat air bening itu, para pengunjung Pos Siluman bergegas kembali ke camp di ujung jembatan runtuh begitu selesai salat subuh. Tawaran sekedar teh hangat pun terpaksa ditolak karena semua sudah harus ikut briefing pukul 07.00.

Camp besar di ujung jembatan yang tertutup kabut tipis dicapai dalam 40 menit. Setelah briefing, saya yang menumpang di EB 07 harus jalan lagi selama 30 menit untuk menuju Tiga Sekawan yang membuat camp terpisah. Mereka kembali ke anak sungai dimana mereka istirahat siang dan mandi sehari sebelumnya.

Di hari Jumat, sewaktu pertama melihat anak sungai ini, dan kelokannya, serta kontur alam di sekitarnya, saya jadi paham kenapa para tentara, juga Insu, tak menjadikannya tempat istirahat kendati air melimpah di sini.

Pertigaan dan lembah seperti itu adalah jalur satwa. Air itu satu-satunya di sekitar sini, maka ke sanalah mereka minum. Kemping di situ, kita mengganggu rusa yang haus, atau rombongan babi hutan, anjing liar, bahkan ular.

“Makannya ketika teman-teman Tiga Serangkai mau kemping di situ, saya langsung balik kanan—tadinya saya kan mau ikut ke Pos Siluman,” kata Praka Reza.

Oleh komandannya, Praka Reza ditugaskan mengawal para peserta dan tak boleh melepaskan diri dari yang dikawalnya hingga selesai kunjungan ke perbatasan ini.

Perjalanan kembali adalah jalan putar balik. Maka yang kemarin hambatan, menjadi bonus penurun ketegangan. Yang kemarin tempat sedikit rileks menikmati pemandangan, kini jadi tantangan.

Tiga Sekawan yang kini menjadi yang paling depan, langsung menjajal tanjakan curam berpemandangan ketinggian ujung-ujung Pegunungan Muller-Schwanner. Kabut sesekali turun menutup jarak pandang, lalu perlahan buyar dibawa angin.

EB 13, Cherokee yang dikemudikan Faris Pahlevi untuk Kalimantan Timur, tak mengalami masalah. Perlahan merayap naik di tanjakan sepanjang seratus meter di kemiringan 35 derajat itu. EB 12 tampil sama baiknya. Dhimas dengan tenang membawa Trooper merangkak dan naik mengatasi medan licin dengan sempurna.

Seiring pulang berbalik arah, berputar pula nasib EB 07 di awal jalan pulang ini. Kemarin menarik, hari ini ditarik. Sebab meski ban Simex ukuran 35 yang melingkar pelek tetap berputar, tapi mobil tak bergerak dari tempatnya.

Fion yang memimpin upaya mengatasi tantangan itu memerintahkan dua mobil di depan menjadi winching point. Sebelumnya, kedua mobil dimintanya untuk dikunci, dikaitkan lagi kepada sebuah anker, penambat,  agar bisa menahan daya tarik dari EB 07 di bawahnya.

Belum lagi EB 13 dan EB 12 tertambat sempurna, sebuah tarikan sudah dimulai dari bawah. Kontan kedua mobil tersentak turun meski ban-ban sudah diganjal. Fion pun berang.

“Siapa yang infokan di atas sudah dimatikan …???” teriaknya kesal.

Bergegas sebagian kru tim, termasuk Lettu Danrus, naik ke posisi EB 13 dan EB 12 untuk membantu menambatkan kedua mobil. Sebuah pohon sejauh 50 meter dari moncong EB 13 dicapai dengan menyambung dua strap.

Di bawah Reza Kamal diperintahkan untuk menggunakan winch elektrik EB 07 karena winch PTO-nya dianggap tak selaras geraknya dengan traksi yang diinginkan untuk melepaskan kendaraan dari jepitan lumpur. Ronal co driver  EB 13, pun berada di depan winch EB 07.

Tiba-tiba semua kaget lagi. Fion membentak nyaring. “Gua yang mimpin, ikut gaya gua. Kalau mau pake gaya lu pulang sana…!!!”

Hening sesaat. Ronal segera pergi dari depan winch EB 07 dan Reza Kamal mulai mengaktifkan winch elektrik. Land Cruiser HJ 60 akhirnya bergerak pelan mengikuti tanjakan.

Dengan teladan cara dari tiga mobil di depan, 10 mobil berikutnya sukses mengatasi rintangan. Semua bergantian menjadi winching point setelah berhasil mencapai puncak tanjakan itu.

Hingga waktu makan siang Tiga Sekawan terus berada di depan dalam perjalanan turun dari Pos Sinyal. Di ujung turunan (yang kemarin adalah tanjakan) tempat dimana EB 05 mulai digeret naik, EB 12 mengambil jalan terlalu ke kanan. Akibatnya, ban kanan di tebing, ban kiri masuk selokan dalam, Trooper pun miring nyaris terbalik.

“Tarik dari belakang,” perintah Pak Roesmanhadi, yang mobilnya EB 03 tepat di depan EB 12. Ditarik EB 07, Trooper kembali ke posisi normal, dan perjalanan dilanjutkan hingga sungai besar yang memiliki tepian batu landai untuk istirahat makan siang.

Tak  ada yang melihat kejadian ini. Tiba-tiba Tablo muncul dari sungai dengan berdarah-darah.  Ada luka di siku, ada luka di lutut.

“Kepleset pas lagi motret di batu. Ini kamera jatuh ke air. Aduh semoga gak apa-apa kameranya,”  katanya.

Ada dokter Silver, ada dokter Reza. Tablo pilih diobati dokter Silver dan diledek dokter Reza. Sepanjang perjalanan ini dokter Reza kemudian terkenal sebagai tukang ledek paling sadis yang pernah ada.

Usai makan siang, Ketua Rombongan, “Chief” Syamsu Setiabudhi di EB 01 mengumpulkan tim untuk briefing singkat.

“Saya harus kembali ke atas untuk membantu kawan-kawan yang masih tertinggal. Mobil-mobil yang masih di atas mulai mendapat berbagai kendala seperti winch macet, dan lain-lain,” jelas Syamsu.

EB 13 pun bergabung dengan EB 01 dalam misi pertolongan itu. Apalagi karena dokter Silver buka praktik di EB 01.

“Untuk yang lain, dipimpin Pak Roesman, bisa menyelesaikan pemasangan antena satelit di Pos Sebuku.”

Kabar EB 08 yang terguling juga dikonfirmasi. Tak ada orang yang cedera dari kejadian itu disyukuri.

Maka tim pun terpisah 3 untuk sementara. Tiga Sekawan melaju sampai Pos Sebuku dengan dipimpin EB 03. Di depan gerbang portal jalan perusahaan, di batas jalan aspal, Prajurit Kepala Reza dan rekannya yang mengawal rombongan ini pamit turun.

Dalam jalan kembali ke Malinau, setelah 2 jam di Pos Sebuku yang ditutup dengan makan malam yang lezat dan serba kuning hijau (telur dadar kuning dalam piring plastik hijau, sayur nangka kuah santan hijau dalam piring plastik kuning), Tiga Serangkai mendapati Pak Roesmanhadi, yang jenderal dan dulu Kepala Kepolisian Republik Indonesia, ternyata suka bercerita dan punya banyak cerita lucu.

***

Dinihari 4 November, hari ke-10 perjalanan. Hujan menjadi teman akrab sekarang. Saya menutup laptop. Berita selesai, edit foto selesai, tapi perangkat penghubung satelit kami kehabisan daya.

Camp malam ini sungguh nyaman. Ini bekas bengkel para pekerja yang dulu membuka kembali jalan ini, rute Malinau-Long Bawan. Ada bangunan berisi dua kamar yang tingginya 2 meter dari tanah, dan ada atap setinggi 8 meter yang cukup buat 3 mobil berjajar.

Siapa cepat dia dapat. Tim Aceh, EB 15, dan Tim Aceh-Banten EB 06 plus Tim Jakarta EB 02 pun menjadi penguasa bengkel ini.

Seperti asrama, tim EB 06 menyusun velbed mereka di dua kamar yang ada. Di bawah dua kamar Insu dan Vendry Kamil menggelar dapur. Di pojok barat adalah teritori trio GAM Alex, Noeh, dan si tukang bikin kopi pahit paling enak,  the coffee maker ‘Che’ Mansurudin.

Dapur mereka, tempat bikin kopi Aceh yang pahit enak itu, ada di belakang Daihatsu Taft Rugger ini. El commandante Alex boleh saja berkuasa di belakang setir dan radio, tapi di dapur ini kekuasaan mutlak ada pada Che.

“Kopi, Bang,” kata Che. Ia tidak menawari, tapi langsung mengangsurkan secangkir kopi panas. Kopi panas, bung, yang uapnya masih berkepul dan harus ditiup dulu agar lidah selamat saat dilewatinya.

Orang-orang EB 02 punya hotel di atap Land Rover hybrid berbasis Series mereka. Ada tenda yang nyaman dan cukup buat dua orang dimana Rahadian Mahendra dan Om Harbot tidur bergelung setelah seharian perjalanan.

Orang ketiga, sang mekanik Muallim Rosyid, boleh memilih sesuka dia, mau buka velbed atau tidur saja di jok belakang Series yang lapang.

Di sisi barat di halaman, Tim Kalbar EB 10 dan EB 11 merentang tenda terpal di antara dua Vitara mereka. Di sisi timur EB 08 dan EB 09 dalam pasangan Land Rover dan Cherokee yang aneh. Di depan bengkel ada EB 03, Pak Roesman tetap dalam gaya militernya dengan tenda regu prajurit Brigade Mobil, velbed yang tersusun rapi dan meja dapur yang praktis. Ryan dan Omat membuktikan mereka prajurit yang efisien.

Untuk pertama kalinya seluruh tim ada dalam satu camp lagi. Tiga Sekawan plus EB 13 yang datang belakangan dapat tempat persis di tengah halaman. Mereka pun terlihat tidur dengan nyaman.

Malam itu, selain kopi panas Che, saya dan Bondho dua tukang potret, dan Sony si nangka semangka operator Inmarsat, mendapat kemewahan dengan meja bekas peralatan para pekerja.

Di meja itu saya menulis berita yang mengabarkan kami sudah menyeberangi Sungai Jempulon, sebuah sungai jernih selebar 15 meter yang sedang surut sehingga lagi-lagi seseorang minta debit airnya naik agar perjalanan ini jadi lebih seru.

Kejadian tentang Bintara Eko dari Koramil Malinau yang terjatuh di sungai dan bertemu ular hitam berbelang kuning diceritakan dalam satu paragraf singkat.

Saya juga menulis dimana kami melewati puncak-puncak bukit di Pegunungan Schwanner dengan ketinggian mulai dari 400 meter dari permukaan laut (mdpl) hingga 800 mdpl, dimana mesin mobil-mobil kami bergetar karena kepanasan sebab bekerja hingga batas maksimalnya.

Kami menyaksikan Sungai Malinau yang cokelat mengalir lurus ke timur dan jalan berliku-liku menanjak ke barat, menyisi lereng-lereng terjal sebelum melewatinya dan melihat awan dan kabut berada di bawah kami.

Tapi kabar ini tak mencapai dunia malam itu. Modem satelit kehabisan daya, dan tidur adalah pilihan yang terbaik untuk melewatkan malam. Hujan makin deras. ***

 

Sekali Lagi, Angkat Gelasmu, Kawan

Posted on Updated on

ENV-BERSIH RINJANI DEDI DAN ADIM
Dedi dan Adim dan botol-botol plastik yang mereka pungut sepanjang jalan turun dari Rim Rinjani. Asus Zenfone 6/Novi Abdi

 

Ini bagian akhir dari keluyuran sendirian ke Rinjani. Pada akhirnya selalu pertemanan dalam persahabatan yang menjadi kebahagian. Gunung hanya alasan,Teman.

 Jalan turun dari gigir gunung atau Rim Senaru ke Plawangan Senaru di Desa Senaru berada di dalam hutan di lereng gunung. Setelah bagian yang minim vegetasi yang saya sebut tadi, tanah ditutup hutan lebat. Di bagian atas dekat rim masih oleh pohon-pohon berukuran kecil, tapi semakin turun, semakin besar pohon-pohon. Rei, porter yang sebelumnya menyalip saya di lereng Plawangan Sembalun mengingatkan bahwa di bagian ini hujan lebih sering turun daripada di sisi Sembalun yang terkena hembusan angin kering dari Australia. Hutan dimana-mana di seluruh dunia, adalah daerah tangkapan air. 

Saya ada payung, ada jaket hujan. Barang-barang sudah dipaking dalam plastik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saya terus berjalan dengan langkah tegap. Setelah Pos 4 saya bertemu pasangan George dan Jana Kenton, warga Selandia Baru yang menjalankan usaha hotel bintang  5 di Pattaya, Thailand. Pada pukul 12 siang George dan Jana menjamu makan siang nenas dan semangka yang banyak.

George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Di Pos 3 Pondokan Lolak, 2.000 meter dari permukaan laut,  setelah  hujan lebat pada pukul 2 siang yang saya tempuh dengan berpayung, ada makan siang kedua. Seperti masakan Metarum, masakan Ber pun pedas.  Orang Indonesia memang tak bisa lepas dari cabe dan  lombok. Apalagi bila Anda di Pulau Lombok.

Sambil makan siang, saya mendengarkan dua bule bercakap-cakap ramai tak jauh dari  tempat saya menikmati nasi dan mi instan rasa soto koya. Dua orang itu seperti berargumen, berdebat. Kedua orang itu lelaki dan perempuan. Yang satu lelaki tua, mungkin 70an. Perempuannya masih muda. Lebih kurang sepantaran saya. Mereka bicara dalam bahasa yang saya tak paham. Perempuan itu terlihat frustasi.

Melihat perawakan mereka yang tinggi besar, saya kira mereka orang Rusia dan sedang bicara dalam bahasa Rusia. Ber adalah pemandu kedua orang ini.

Selesai makan, saya hanya mengikuti kebiasaan ramah tamah orang Indonesia ketika menyapa mereka. Dalam bahasa Indonesia, saya bertanya apakah mereka bisa berbahasa Indonesia. Atau berbahasa Inggris, barangkali.

“I speak English,” kata si perempuan. 

Saya bilang ini di luar urusan saya dan saya tidak berniat ikut campur, tapi karena mereka begitu baik sudah mengizinkan saya makan siang bersama porter dan pemandu mereka, mungkin saya bisa membantu seandainya ini menyangkut perjalan naik atau turun gunung.

Daniela Petrozzi menunjuk ranselnya, juga ransel ayahnya,  Gianfranco Petrozzi. Walau terlihat kuat, itu bukan ransel yang orang pakai untuk mendaki gunung, saudara, tapi sekedar untuk pergi pulang kantor atau jalan-jalan ke mal.

Kata Daniela, seluruh isi ransel-ransel itu, berupa pakaian cadangan, sekarang basah karena kehujanan tadi.  Mereka dalam perjalanan menuju Rim Senaru.

“Karena keadaan ini, papa  tidak ingin melanjutkan perjalanan. Dia ingin kembali ke hotel di Senaru,” tutur Daniela kesal.

Di situlah mereka berdebat. Daniela tidak ingin pulang karena tujuan belum tercapai. Franco, yang merasa perjalanan tidak aman dan nyaman lagi, seperti dikatakan Daniela, ingin turun dan kembali ke hotel.

Saya memaklumi keduanya. Bagi Daniela, sudah jauh-jauh dari Belanda, masa pulang begitu saja hanya karena baju basah sebab hujan. Tapi begitu juga, bagi orang setua Papa Franco yang sudah cukup melihat dunia, kesehatan adalah hal yang utama.

Saya ceritakan Ber apa yang terjadi.  Di luar dugaan saya, Ber ternyata malah panik.

“Lho kok pulang mas?” katanya. Saya mengangkat bahu.

“Mas bilang mereka, bila pulang, ya pulang  aja, tapi mereka tidak bisa lagi minta uangnya balik.”

“Lho kok saya yang bilangin, hehehe…”

Itu rupanya yang dikhawatirkan Ber. Harga perjalanan wisatawan ini mungkin sekitar Rp7-8 juta yang sepertiganya untuk para porter dan pemandu, sepertiga untuk bekal dan akomodasi, dan sepertiga untuk keuntungan agen perjalanan. Meskipun uang tidak kembali, tapi nama operator tur-nya Ber jadi jelek, sebab tidak bisa mengantisipasi kejadian seperti ini.

Daniela menatap saya seperti meminta saran. Saya masih mencerna semua data dan situasi. Saya beralih ke ransel-ransel tersebut.

“Actually, you should put everything in plastic bag first,” kata saya. Setelah dimasukkan kantong plastik, baru dimasukkan ransel itu. Ransel itu pun masih ditutup lagi dengan cover bag, atau saat saya dulu belum punya cover bag saat menjelajah Meratus, ya dengan ponco.

Jpeg
Daniela dan Papa Franco dan la bastone. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

 

“Shit, nobody tell us about that,” kata Daniela. Nah, benar bukan. Tidak setiap orang yang mau dan berani naik gunung tahu apa yang mungkin terjadi di gunung dan bagaimana mengatasinya.

“Now I am telling you. Especially because you still want to continue to the Rim.”

Maka Daniela pun mengeluarkan isi tasnya. Ternyata tidak semuanya basah. Beberapa hanya lembab, dan beberapa tak tersentuh air sama sekali. Meski belum ada keputusan, Daniela menjadi bersemangat. Ia meminta beberapa kantong plastik kepada Ber.

Papa Franco juga membongkar ranselnya. Meski juga tidak basah semua, ia tetap merasa harus turun.

“Well, Papa, you can go down with me, anyway,” kata saya. Papa Franco hanya senyum sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Papa doesn’t speak English,” kata Daniela.

Jadi begitulah penyelesaian masalah itu, yang ketemu begitu saja. Ayah dan Anak itu setuju berpisah sementara. Daniela lanjut ke Rim dan Segara Anak dan mungkin ke Sembalun bersama Ber dan porternya, dua pemuda yang baru lulus SMA, dan Papa Franco turun bersama saya ke Plawangan Senaru.

Ber yang kesenangan menanyakan apa yang bisa dia bisa bantu. Saya bilang mungkin Papa Franco perlu sedikit bekal turun, sebab dari Pos III itu bukankah lebih kurang 3 jam lagi baru sampai Plawangan Senaru. Saya juga minta Ber menghubungi petugasnya untuk menjemput Papa Franco ke hotel dari Plawangan Senaru nanti. Yang dihubungi Ber ternyata orang yang sama yang sebelumnya saya hubungi untuk minta transportasi ke Mataram beberapa saat sebelumnnya. Dengan pukul 2 siang masih ada di Pos 3, saya jelas sudah kehabisan kendaraan umum ke Mataram.

Di Pos 3 itu sudah ada sinyal komunikasi. Ada XL. Ada Telkomsel.

Ber mengeluarkan sesisir pisang dan 2 kaleng softdrink. Saya ambil 5 saja dari pisang itu, dan kedua kaleng softdrink. Saya minta Papa mengecek air minumnya.  Saya juga mengecek packing Daniela, dan mengingatkan bahwa Iphone-nya pun harus diamankan di dalam kantong plastik.

Ber menitipkan tamunya.

Daniela menitipkan papanya.

Ia juga menawari saya uang saking senangnya. No need to, kata saya. I just want you and your papa happy and be friend of mine.

“You are not friend. You are my brother,” katanya memeluk saya.

Kita semua berfoto, termasuk dengan Ber. Foto keluarga, kata Daniela.  Wah, hahaha …

Semua pun siap. Saya juga berpamitan pada Adim dan Dedi, dua pemuda yang dengan sukarela memunguti semua botol plastik yang dibuang orang sepanjang jalan. Mereka mendapatkan masing-masing tak kurang dari seratus botol. Botol-botol itu diikat di bagian lehernya dan dirangkai jadi satu. Adi dan Dedi mengikat lagi bundelan botol itu di ranselnya, yang membuat mereka jadi seperti landak dengan duri berwarna putih.

Sebelum makan siang bersama Ber, saya bercakap-cakap dengan mereka tentang alam dan lingkungan dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjaganya. Adim dan Dedi punya komunitas pencinta alam Lombok.

“Setidaknya kami memberi contoh dan mengingatkan para porter dan operator tur untuk selalu menjaga kebersihan. Mereka hidup dari gunung ini, jadi mari jaga bersama,” kata Adim.

Seorang porter yang singgah dan istirahat juga memberi saya nomor Mr Len, pemilik travel yang bisa menyediakan mobil ke Mataram—yang ternyata orang yang juga ditelpon Ber kemudian. 

Daniella sekali lagi memberi tahu bahwa ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris, melainkan hanya bahasa Italia. Perdebatan mereka tadi dalam bahasa Italia.

Saya tidak mengira kalau dilafalkan cepat begitu, sungguh berbeda dari bahasa Italia yang pernah saya tonton di film-film, atau di saluran televisi Italia.

Memang, hehehe, bahasa Italia saya sangat terbatas. Saya tahunya grazie, bambino, don quixote, leonardo, donatello, michaelangelo, raphael, benito mussolini, bambino, zapattoni, mario puzo, don corleone, mafioso, ennio tardini, silvio berlusconi, ferrari, lega calcio, numero uno, valentino rossi, rossoneri, ammonito, espulso, rossonero, gennaro gattuso, milanisti, juventini, la vecchia signora, vespa, madonna, maldini, carlo ancelotti, cesare prandelli, giovanni trapattoni, luca toni, mario balotelli, spaghetti, macaroni, beetato pepperoni, hahaha …

Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com
Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com

Mungkin salahnya saya terlalu memperhatikan wawancara Valentino Rossi setiap usai dia berhasil podium. Rossi berbicara dengan Bahasa Inggris logat Italia yang, ya, hehehe, selalu menggelitik telinga saya. 

 ***

 Perjalanan saya dengan Papa Franco pun penuh tawa walau tanpa canda. MotoGP dan sepakbola menyatukan kita. Sebagai orang Umbria, Papa Franco fans Perugia. Bukan fans berat, tapi cukup peduli. Perugia adalah klub Provinsi Perugia. Sama lah seperti orang Balikpapan bangga dengan Persiba atau saya yang selalu merasa jadi fans berat Barito Putra walau sudah pindah ke Balikpapan dan juga sudah pula berkostum Balistik (Balikpapan Suporter Fanatik) meski tidak resmi.

Saya pun bercerita pada Papa tentang Barito Putra sedikit. Bagi kami di Banjarmasin, Barito Putra itu juara tanpa mahkota. Liga Indonesia I 1994, Barito lah juaranya.

Walau resminya, Persib Bandung yang juara. Di semifinal Persib mengalahkan Barito Putra 1-0. Yang membuat  urang sebanjaran murka adalah  dua gol Dasrul Bachri dan Yusrifar Jafar ke gawang Persib dua-duanya dianulir wasit Khairul  Agil. Keduanya disebut terperangkap offside.  Sebaliknya, di menit-menit akhir, Persib mendapat hadiah penalti yang dieksekusi Kekey Zakaria, dan sukses menembus gawang Barito yang dikawal Abdillah.

Orang Banjar tak lagi memperdulikan partai final Persib vs PKT Bontang. Siapa yang peduli? Kami mengarak Frans Sinatra Huwae dan kawan-kawan, termasuk manajer Rosehan Noor Bahri, sepanjang 30 km dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke Stadion 17 Mei di pusat kota.

Wasit Khairul Agil juga ditetapkan sebagai musuh urang Banjar. Namanya dicoretkan berbarengan dengan nama binatang di berbagai sudut kota sebagai grafiti. Karena itu, konon, Komisi  Wasit PSSI tak pernah lagi menugaskan Agil dalam setiap pertandingan Barito Putera, atau menugaskannya menjadi perangkat pertandingan (wasit, atau hakim garis, atau wasit cadangan) di Banjarmasin dan sekitarnya.

“Barito Putra, si si…” kata Papa Franco mengangguk-angguk. Barito itu awalnya nama sungai, Papa. The Red Rivers.

Begitu pula hal pembalap Motogp Valentino Rossi. Menurut Papa, Rossi orang yang rendah hati dan pantas jadi panutan.  Juga pekerja keras dan pantang menyerah. Saya jadi tambah ngefans dengan Rossi.

Papa punya dua anak. Satu perempuan, Daniela, dan adik lelakinya Michel. Keduanya belum menikah. Daniela tinggal di Amsterdam, Belanda, dalam 12 tahun terakhir. Dulu mereka tinggal di Foligno di timur bagian tengah Perugia. Kota tua yang sudah ada sejak 800 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa.

Papa pensiunan pegawai pemerintah. Seperti orangtua kita yang setelah pensiun ingin naik haji—diantaranya karena uang pensiun yang banyak sementara tak ada lagi anak yang harus diurusi—Papa Franco ingin jalan-jalan melihat dunia. 

Sepanjang jalan ia ngebul. Papa perokok berat. Daniela juga. Dari kehujanan saat naik tadi, satu yang berhasil diselamatkannya adalah rokok, hahaha. If you don’t quit smoking, it will kill you, Papa.

Tepat saat saya mulai capek dengan jalan yang terus turun ini, kami sampai di Pos II. Saya ajak Papa istirahat sebentar dan makan pisang, juga minum softdrink. Rasa manis dan kalorinya lumayan menyegarkan. 

Pos II Satas Montong di ketinggian 1.500 meter  punya bangunan shelter yang lantainya sudahh jeblok. Di situ sudah ada dua porter yang bersiap mendirikan tenda untuk camp. Mereka porternya George dan Jana Kenton. Keduanya memang bilang ingin menghabiskan semalam lagi di hutan menikmati alam.

Papa makan sambil merokok. Istirahat hanya 5 menit dan kita langsung jalan lagi.  Udara terasa pengap dan langit mendung.  Betul saja,  beberapa menit dari pos itu, hujan mulai turun lagi.

Kali ini payung saya serahkan Papa. Payung merah OJK, silakan pakai Papa. Saya ingin main hujan-hujanan sebentar.  Tanpa jaket hujan, tanpa payung.

Hujan lebat dan kami terus berjalan. Papa dibantu tongkatnya berjalan di depan. Berpayung. Sepanjang  jalan ia tersenyum. Saya seperti hamburger,  dengan ransel kecil dibungkus cover bag berwarna orange di depan dan carrier juga dibungkus cover bag orange di belakang.  Hujan itu sungguh menyegarkan. Hujan juga menciptakan aliran kecil dan lubuk di sepanjang jalan. Rasa capek saya hilang berganti semangat. Rasa segar menjalar di kaki dan penglihatan.

Tepat 45 menit di jalan yang sudah seperti sungai, kami mencapai Pos I di ketinggian 645 meter dari permukaan laut .  Shelter yang besar dan tinggi dan tampak terawat. Air tidak  menggenang  dan aliran air masuk selokan di depan shelter. Shelter ini bersih. Mungkin air sudah mengangkut semua sampah yang ada. Kami istirahat lagi untuk 5 menit. Saya makan pisang dan minum softdrink lagi. Kali ini Papa cukup merokok saja.

Sekarang kami benar-benar ngebut. Papa tetap di depan dengan payung dan tongkat, saya beberapa meter di belakangnya. Jalan setapak kini melebar sampai satu meter lebih dan terasa semakin datar.

Pukul empat lewat hujan berhenti, dan tak lama sebelum pukul empat tiga puluh menit kami melewati lengkungan gerbang Plawangan Senaru.

Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi
Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi

Saya dan Papa tertawa lagi walau tak bicara apa-apa. Kami berpelukan. Berfoto-foto sebentar dengan Asus Zenfone 6 dengan latar belakang  gerbang Plawangan Senaru itu.  Aduh, senangnya…

“Grazie, Novi, grazie,” kata Papa Franco. “Terimakasih banyak.”

“Oui, Papa.” Hahaha. A little bit French lah.

***

Segalanya kemudian berlangsung cepat. Setelah berjalan lagi beberapa lama, kami dijemput ojek suruhan Mr Len dan dibawa ke tempat ia dan mobilnya parkir menunggu. Kami mengantar Papa ke hotel dimana saya menumpang mandi dan berganti pakaian. Papa memberi saya cendera mata, baju hangat dari wol yang tadi dipakainya. Saya mengembalikan tongkat yang pun tadi dipakainya. Tongkat itu ada pada saya sebab saat dijemput ojek yang cuma satu—yang memaksa kami harus bergiliran, Papa memberikan tongkat itu untuk saya.

Dia tertawa. “Keep your bastone, Papa.” Selepas Pos 4, Papa mengajari saya kata itu, bastone, artinya tongkat.

Pukul 7 malam saya pamit Papa Franco. Bersalaman lagi. Berpelukan lagi. Begitu sering dua hal ini saya lakukan sepanjang jalan dan enam hari perjalanan ini, berbarengan dengan mencatat email, no telepon, akun facebook. 

Sepanjang  jalan menuju Mataram saya lihat  bekas-bekas hujan dan sedikit banjir. Kami mampir ATM sebentar dan saya lunasi ongkos travel itu. Pukul sembilan lewat, kami sampai di hotel di mana saya menitipkan laptop dan beberapa perlengkapan yang saya tak perlu di Gunung  tapi penting buat bekerja.

Saya lapar dan masih merasa perjalanan ini belum berakhir. Post trip syndrome. Saya mampir warung STMJ di dekat hotel. Makan roti dan telur puyuh 3 biji plus semangkuk besar STMJ. Masih lapar, geser ke warung mi ayam di sebelahnya. Dan masih lapar juga…yang membuat saya menyeberang ke warung sari laut di depan hotel.

Pukul  sebelas malam saya membongkar ransel, paking ulang dan membuang sampah-sampah. Saya tersenyum, sebagian bekal yang kini sudah jadi sampah itu enam hari yang lalu saya beli di Alfamart tak jauh dari hotel ini. Bisa membuang lagi sampah bungkusnya di dekat tempat belinya itu sesuatu banget.

Sisa bekal seperti dua bungkus Indomie Soto Banjar Limau Kuit (ini saya bawa dari Balikpapan), kecap, sambal, pisang, selai kacang, … saya tinggal di meja. Tapi tak sampai selesai paking ulang itu, saya kecapekan dan tidur hingga pukul empat pagi Senin 10 November.

Saya  meninggalkan hotel pukul tujuh lebih 15 menit. Tidak sarapan apa pun kecuali air putih. Sopir taksi itu bercerita tentang masjid-masjid di Lombok  dan Islam Wetu Telu sampai  kita tiba di bandara pukul 8 lewat.

Karena pakaian basah, bagasi saya kelebihan hingga 5 kg. Karena sesuatu dan lain hal, penerbangan saya yang pukul 09.30 ternyata dimajukan pukul 08.15 dan sudah boarding saat saya baru tiba tadi.

“Jangan khawatir, mas kami ikutkan penerbangan berikutnya ya,” kata gadis di counter check in. Begitulah Lion, sering sesukanya. Tapi tak masalah. Saya jadi ada waktu untuk sarapan, lalu membeli majalah di Periplus, dan duduk membaca. Ternyata kita di-delay hingga pukul 11.00. Mantaappp…

Bandara Selaparang di bagian keberangkatan ini berbeda jauh dari bagian kedatangannya. Di bagian keberangkatan ini terasa lebih luas dan lebih luks. Bagian kedatangan masih seadanya mungkin karena sedang direnovasi.

Lalu di kursi di depan saya ada sekeluarga turis (bapak, ibu, anak) yang penuh tato, yang badannya jadi cokelat karena berjemur. Mereka juga  mondar-mandir di terminal keberangkatan itu.  Si bapak itu botak, pendek, gemuk, dan memakai anting-anting yang dijejal ke lubang telinga. Istri dan anaknya bercelana pendek dari celana panjang jeans yang dipotong pendek hingga pangkal paha, berkaus tanpa lengan model singlet yang menutup tanktop hitam. Ada bonus belahan dada dan puser. Saya melepas kacamata dan mengelap lensanya. Memandang gunung itu harus dengan takzim, bro.

Lelaki sangar selalu punya anak gadis cantik. Betul begitu ya?

National Geographic memuat artikel utama tentang bencana  di Gunung Everest dan belasan porter Sherpa yang tewas tertimbun salju. Saya turut bersedih. Nanti saya ceritakan kapan-kapan.

Halaman yang menampilkan para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. nationalgeographic.com
Halaman majalah National Geographic yang menampilkan foto para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. Sherpa adalah para porter, pembawa barang, juga pemandu, dan teman dalam pendakian di Himalaya. nationalgeographic.com

Kami tiba di Bandara Djuanda lewat sedikit tengah hari, dan sekali lagi penerbangan saya ke Balikpapan ditunda.  Sekali lagi juga tak apa. Saya lanjut membaca, makan roti, dan minum air putih.

Kemudian, di pesawat, saya bersisian duduk dengan seorang wanita muda Tionghoa yang saya duga baru lewat pertengahan 30-an dan belum menikah. Kami tidak bertegur sapa, hanya bertukar senyum dan saya membantu sebentar mengambilkan ujung sabuk pengamannya yang terselip ke bawah kursi. Wanita cantik ini juga suka membaca—dan seperti saya, asyik dengan bacaannya  selama pesawat mengudara. Ia membaca novel dan inflight magazine Lion yang tersedia di kantong kursi, saya meneruskan membaca National Geographic dan Time, dan menulis catatan harian di meja lipat itu. 

Saya pertimbangkan untuk menyapanya lain kali di kesempatan yang berbeda, bila ketemu lagi, tentu saja.

Balikpapan cerah dengan langit malam yang terang. Saya sampai di Warung Jamu Marem di Km 5,5 Soekarno-Hatta selepas magrib, mengambil motor dan menitipkan ransel. Saya kembali ke Jalan Sjarifuddin Joes ke arah bandara.

Saya baru merasakan perjalanan ini benar-benar berakhir di circle Balikpapan Hash House Harriers di halaman Bizpark II, tak jauh dari rumah jabatan Wali Kota Balikpapan, lebih kurang 1 km dari airport dimana saya mendarat 90 menit sebelumnya.  Bulan masih bersinar terang.

Logo Balikpapan Hash House Harriers--dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Logo Balikpapan Hash House Harriers–dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Bersama kawan-kawan hasher ini adalah kebahagian saya yang lain. Baiklah, sekali lagi angkat gelasmu kawan, …here’s to us, here’s true blue, he’s bastard through and through, he’s bastard through they say, he tries to go to heaven but get the wrong way,…drink it down down down…

Segar dan dingin.

Saya menyanyi pelan mengikuti Joan Baez, “Swing low, sweet chariot, … coming for to carry me home. Swing low, sweet chariot. Coming for to carry me home …

 ***