Buku

Karena Hidup Harus Lebih dari Sekedarnya

Posted on Updated on

 

Untuk Naina Qurrataayun, selamat ulang tahun.

Akhirnya pertanyaan itu sampai kepada saya: “Kenapa lu naik gunung (lagi), Nov?”

Bang Fionk yang bertanya, saat saya sampai di rumahnya yang damai di Pamulang. Saya baru turun dari menengok Gie di Gede-Pangrango setelah sebelumnya menghadiri sebuah acara Aliansi Jurnalis Independen di Yogya.

Kenapa? Saya tertegun. Saya tak mengira pertanyaan itu akan ditanyakan juga kepada saya.

Sebab, engkau mungkin tahu kawan, sejarah mencatat, bahwa pertanyaan itu menjadi terkenal karena dilontarkan jurnalis kepada George Mallory, dewa para pendaki gunung, yang jasadnya bersemayam di Sagarmatha dalam keabadian salju yang hanya sekali-sekali terkuak oleh panas matahari.

Sebab kawan, saya adalah jurnalis. Sayalah yang mengajukan pertanyaan, bukan yang ditanyai.

Jurnalis The New York Times itu bertanya kepada Mallory menjelang keberangkatannya ke Nepal untuk mendaki Everest di tahun 1924.

Jadi pertanyaan itu untuk dewa, dan hanya pantas ditanyakan kepada yang ingin mendaki gunung tertinggi di dunia.

Bahkan Ed Viesturs itu pun, yang menjejakkan kakinya di 14 puncak dunia yang sebagian besarnya di Himalaya, dan 7 kali ke puncak Everest, juga tertegun (sejenak) ketika ditodong pertanyaan itu.

“Kenapa Bung naik gunung?”

Bagaimana menjelaskan sebuah kegilaan yang dibungkus gagah itu?

Ed Viesturs menulis lima buku untuk menjelaskannya, The Mountain, My Time On Everest; The Will to Climb; No Shorcut to The Top; K2, Life and Death on The Most Dangerous Mountain; dan Himalayan Quest.

 Anatoli Boukreev menulis, setahu saya, 2 buku, The Climb dan Above The Clouds.  Boukreev memberi jawaban dari banyak sisi kenapa orang naik gunung, dan kenapa dirinya sendiri naik gunung.  

Norman Edwin menulis sebuah buku, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan,” dan banyak artikel dari pengalamannya di alam bebas. Soe Hok Gie menulis sejumlah artikel pendakian gunung di antara puluhan (mungkin ratusan) tulisan kritik kepada penguasa dan keadaan.

Saya belum menulis apa-apa. (Baru cerita-cerita waluh-waluh ini aja, hehehe).

Untuk Bang Fionk, saya tak menjawab kecuali tersenyum saja. Untung saja sarapan pagi yang nikmat itu—porsi besar mi goreng instan dengan telur mata sapi dan teh manis panas  yang disajikan sang Nyonya Rumah dalam keramahan keluarga dan kehangatan kasih sayang—bisa membuat pertanyaan ini lewat begitu saja tanpa jawaban.

***

Saya tahu ada pertanyaan dan jawaban itu pertama kali dari kisah Norman Edwin. Si Beruang Gunung bertutur di bagian kata pengantar dalam bukunya yang kecil namun lengkap isinya. Lalu seiring waktu, kisah Mallory, pertanyaan dan jawabannya itu saya dengar dan baca lagi dari banyak cerita oleh penulis alam dan para pendaki.

Dalam banyak kutipan, Mallory menjawab pertanyaan itu dengan 3 kata yang jadi terkenal itu. “Because it’s there…” Karena gunungnya ya di situ. Dalam film Everest tahun 2015 arahan sutradara Balthazar Kormakur, para pendaki yang dipandu Rob Hall musim pendakian tahun 1996, di tenda di basecamp Everest, mengulang kata-kata  itu serempak sambil menunjuk puncak.

Saya baru saja tahu bahwa ternyata jawaban Mallory atas  pertanyaan itu sebenarnya cukup panjang. Dari satu dokumen lama dituliskan jawaban Sang Dewa. Kata Mallory, “Because it’s there. Everest is the highest mountain in the world, and no man has reached its summit. Its existence is a challenge, the answer is instinctive, a part, I suppose, of man’s desire to conquer the universe…”

Mallory naik gunung, dalam hal ini Everest, karena itulah gunung tertinggi di dunia. Ketika itu, tahun 1924, belum ada orang yang mencapai puncaknya. Kata Mallory, gunung itu ada saja sudah dengan sendirinya menantang naluri petualangan. Mendaki Everest adalah serasa menaklukkan alam semesta.

Sebab itu jawabannya, barangkali, mudah. “Because it’s there…”

“Ya karena gunungnya di situ.”

Tahun 1921 Mallory mencoba Gunung itu untuk pertama kali dan gagal sebab cuaca buruk dan perlengkapan yang tidak memadai. Tahun 1922 mereka kembali lagi dan berhasil mencapai ketinggian 7.000 meter sampai longsoran salju menewaskan 7 sherpa pembawa barang.

Tragedi itu tidak menghalangi orang yang keras hati ini. Ia tetap berangkat 2 tahun kemudian.

Tahun 1924, Mallory dan rekannya Andrew Irvine terlihat terakhir kali di dinding utara, sekira 800 meter vertikal dari puncak.

Baru tahun 1999,  Conrad Anker menemukan sisa-sisa jasad Mallory tertelungkup di tanah berbatu kuning di salju yang terkuak. Cuaca dingin mengawetkannya. Anker, sebagian kalian mungkin mengenalnya lewat film Meru, film semi dokumenter pemanjatan Meru, tebing bak sirip hiu, juga di Himalaya.

Tak ada jejak dari Irvine kecuali kapak es yang ditemukan tahun 1933.

Apakah Mallory dan Irvine mencapai puncak? Wallahualam, …

***

Bila Mallory begitu mudah dan spontan memberi jawaban untuk pertanyaan itu, lalu Viesturs menulis buku, maka tidaklah mudah kiranya bagi saya menjawab dengan enteng seperti Mallory, apalagi menulis seperti Viesturs, pun Norman Edwin.

Boukreev pun harus dihujat dulu oleh Jon Krakauer sehingga merasa harus menjelaskan sendiri apa yang terjadi dalam malapetaka di Everest tahun 1996, dan latar belakangnya.

Sebagai generasi yang datang belakangan, jawaban mudah saya adalah mungkin sekali saya hanya ingin meniru. Hanya a wanna be. Apalagi saat masa kuliah dulu dimana saya aktif di organisasi pencinta alam itu. Melihat aksi Norman di tebing di bukunya itu, atau romantisme cerita Hok Gie tentang keindahan Mandalawangi, heroisme kisah prajurit Kopassus Pratu Asmujiono yang bertakbir di puncak Everest—yang  membuat Boukreev yang memandunya juga terpana, …

Walaupun pada praktik dan kenyataannya, tidak mudah juga. Bahkan untuk sekedar meniru itu. Walaupun skala menirunya diturunkan jauh, hehehe, dari Everest yang 8.848 m dan high altitude gunung-gunung Himalaya, menjadi Semeru 3.726 m dan gunung-gunung lain Nusantara.

Tuhan maha adil, gunung-gunung di kepulauan ini semuanya indah meski puncaknya berada di ketinggian separo saja dari puncak-puncak Himalaya.

Dan setiap gunung memiliki tantangan dan bahaya masing-masing. Shizuka, perempuan 16 tahun, misalnya, tewas di cuaca yang baik di gunung yang ramah di Gede-Pangrango dan dikelilingi oleh puluhan rekan-rekannya. Yudha hilang ditelan kabut Kerinci. Beberapa kali saya dengar kisah pendaki tewas atau hilang di Bawakaraeng. Saat saya turun dari Rinjani, seorang pendaki Italia tewas kecelakaan terpeleset masuk jurang, dan dulu pernah di rute dari Ranu Kumbolo hingga Kalimati, sampai Arcopodo, bahkan Puncak Semeru, ditandai dengan plakat peringatan para pendaki yang tewas—sampai-sampai memberi kesan bahwa mati di gunung itu keren banget.

***

Jadi, siapa yang kau tiru, sobat?

Jawaban ini agak mudah, walau bisa panjang sekali. Saya buat singkat saja.

Selain mendiang Norman, saya menemukan sosok panutan lain dari kisah-kisah tentang Reinhold Messner. Sejak tahun 70-an, Messner sudah memulai langkah untuk menjadi dewa gunung itu—yang kemudian resmi ditahbiskan padanya begitu mencapai puncak Everest tanpa suplai oksigen dari tabung, dan sendirian.

Udara tipis mulai ketinggian 6.000 meter mengandung oksigen hanya seperempat dari udara di level 0 meter dari permukaan laut. Perlu empat kali bernapas di gunung untuk menyamai sekali tarikan napas di pantai. Pada tekanan rendah, artinya saat badai sedang berkecamuk, kadar zat asam bisa drop lagi sampai tinggal 14 persen.

Dampak kurangnya oksigen pada manusia adalah fungsi otak yang melambat dan kemampuan fisik yang menurun. Dituturkan oleh Boukreev, para pendaki Indonesia yang dibimbingnya ke puncak pada ekspedisi 1997, menempuh 30 meter terakhir menuju plat alumunium tanda triangulasi Puncak Everest dalam setengah jam.

Bayangkan, satu meter, satu menit. Tak usahlah membandingkan dengan Usain Bolt yang menempuh 100 meter dalam 9,58 detik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Berlin 2009. Cukup dengan langkah Anda sendiri.

Tapi ada manusia yang tetap normal tanpa bantuan oksigen dari tabung di ketinggian itu. Tidak banyak, jadi saya bisa sebutkan satu-satu, Boukreev, Ed Viesturs, dan Reinhold Messner.

Mungkin ada beberapa yang lain, tapi belum tercerita jadi saya tak tahu. Atau saya belum baca dan dengar kisahnya. Respek saya untuk mereka juga.

Sejak tahun 80-an itu, Messner menambah tingkat kesulitannya dengan melakukan semuanya sendirian. Viesturs mengikuti teladannya.

Itulah, menurut saya, begitulah level tertinggi cara mendaki gunung high altitude. Sendirian, dan seminimal mungkin menggunakan bantuan fisik seperti suplai oksigen itu.

Well, saya yang gugup di dalam kabut yang semakin tebal dan hujan, serta kehilangan jejak jalan setapak di Puncak Kerinci (3.805), sudah cukup puas dengan menjalani sebagian trek sendirian.

Sebab pada hakikatnya saya tak pernah benar-benar sendirian. Selalu saja ada kawan sepanjang jalan.

Di Semeru ada Pepeng dan Bono, di Rinjani ada Ridho dan Arif, di Kerinci di awalnya malah sudah bersama rombongan Baba dan Ka Ros yang dipimpin Johan walau kemudian di Gunung saya jalan sendiri. Apalagi di Gede-Pangrango yang didaki 300 orang per hari.

Malah di Kerinci yang sederhana dan lurus itu saya punya tamu. Ada anak muda yang tergeletak di dalam tenda saya pada pukul delapan malam seturun saya dari Puncak.

“Saya Dimas, Bang. Asal Tangerang. Saya numpang istirahat ya Bang. Perut saya mules dan saya sudah lemes. Temen-temen saya udah pada naik,…” kata pemuda yang meringkuk itu.

Dimas ini memang terlihat pucat dengan mata sayu yang berat.

“Iya, istirahat aja dulu di sini. Saya bertemu teman-temanmu dekat Shelter 4. Sebentar saya masak dan kita makan, lalu kamu minum obat.”

***

“Jadi kenapa Abang naik gunung?”

Saya lupa siapa yang bertanya dari 7 orang anak-anak muda asal Pekanbaru itu.  Seperti jurnalis, seseorang merekam dengan kameranya. Ada seorang lagi yang menghidupkan perekam suara di androidnya. Kami menunggu nasi masak. Ikan asin tengah digoreng dan menguarkan bau yang bisa membuat air liur menetes.

Mengapa mereka bertanya pada saya? Mereka sendiri naik gunung.

Saya ingat gunung yang pertama kali secara resmi saya daki. Bukit, lebih tepatnya. Bukit Pamaton di Kiram, Karang Intan, yang tingginya sekitar 300 m dari permukaan laut. Pamaton itu menghajar fisik dan mental kami peserta pendidikan dan latihan Kompas Borneo Unlam dengan teras-teras yang menipu dan puncak-puncak palsu.

Bagaimana kami melihat semua penderitaan itu sebagai sebuah kenikmatan?

Saya juga mengingat semua yang saya lakukan sebelum sampai di Kerinci itu. Saya berlari lintas alam bersama Balikpapan Hash House Harriers setiap Senin sore—rata-rata 10 km, atau lebih kurang 70-90 menit. Dua hari berikutnya, menjelang senja,  berlari di bukit-bukit sekitar rumah selama 60 menit, dan Sabtu sore menumpang lari bersama Mixed Hash House Harriers—juga klub lari lintas alam.

Lari lintas alam naik turun bukit secara hash memang berbeda dari yang dilakoni kawan Indorunners. Itu seperti offroad dan onroad. Jadi harap maklum bila catatan waktunya berbeda.

Di antara hari-hari lari itu, malam atau sore, setelah menyelesaikan pekerjaan harian, saya mampir dan berlatih beban di Dinasti,  pusat kebugaran milik mas Haji Bonny Setiadji, seorang tionghoa muslim yang piawai mengobati orang sakit secara alternatif.

Agar tak bosan, saya bersepeda offroad di hari Minggu, melewati jalan-jalan kampung yang dekat rumah atau jauh dari rumah, sudah pernah dilewati ataupun baru  pertama kali. Atau memanjat tebing buatan di halaman Dome bersama Ensemble Total Indonesie.

Kadang-kadang bila sedang ditugaskan ke kota lain, saya bawa sepatu lari. Jadilah numpang lari di pagi hari di Yogya, di Bandung, Jakarta, Banjarmasin, Denpasar, Surabaya, Samarinda, Tarakan, Malinau, dan berlatih beban di gym hotel yang kadang lengkap dengan beragam alat (termasuk dengan rekan berlatih yang berbusana minim dan sexy), dan sering pula dengan alat seadanya.

Kata Norman: “Jangan bikin repot orang lain di gunung.”

Di Gunung, kawan, semua orang repot dengan napasnya sendiri, perlengkapannya sendiri, bebannya sendiri, dengan dirinya sendiri. Pun bila Anda membayar jasa porter. Jangan menambahkan beban tanpa perjanjian dan tanpa menambah pembayaran.

Lagi pula keindahan gunung, juga persahabatan sesama pendaki, akan lebih bisa dinikmati bila badan bugar dan sehat.

Kalau sakit di gunung, apa boleh buat, mau tak mau, pasti merepotkan orang lain. Walaupun tak ada yang merasa direpotkan dan persaudaraan antarpendaki tak mengenal hitungan, tetap saja merepotkan. Kita sudah mengurangi kesempatan orang lain menikmati waktu dan keindahan alam yang barangkali sudah lama dinantikan yang bersangkutan—walau mungkin juga sakit kita itu memberi kesempatan untuk persahabatan.

Niat naik gunung memberi saya hidup yang sehat dan teratur dalam bingkai linimasa jurnalis yang penuh dinamika, tinggi tekanannya, tapi juga kerap seenaknya dan sesukanya.

 

Kawan, ketahuilah, menjadi jurnalis (apalagi yang memutuskan hidup mati di lapangan saja dan ogah menjadi birokrat di kantor) hampir identik dengan selalu siaga seperti tentara, determinasi tinggi seperti mata-mata, gigih dan bisa memeras otak seperti remaja menghadapi ujian kelulusan SMA, tapi di sisi lain tidak jarang makan dan istirahat sesempatnya ala Sherlock Holmes atau bahkan makan seadanya bak anak kos—walau bisa juga makan mewah memanjakan selera.

Kiranya begitu. Naik gunung hanya konsekuensi logis. Itu hanya muara dari lari lintas alam itu, dari kesenangan mempersiapkan dan mengatur sesuatu, dari kebahagiaan bertemu sahabat-sahabat baru, dan ketagihan akan kesenangan yang datang sesudahnya—yang antara lain datang dari perasaan menjejakkan kaki di puncak.

Maka kenapa tak diteruskan saja kegilaan ini. Menjadi gila itu enak, dimana kita justru jadi bisa menempatkan sesuatu kepada tempatnya seharusnya.

Dalam hal saya, sambil jalan, keajaiban bermunculan. Ketika mendaki Semeru, saya bertemu Pepeng dan Bono yang mengisahkan pengalaman mereka mendaki Rinjani.  Di Rinjani, Ridho dan Arif menuturkan pengalaman mereka di Kerinci. Saat di Kerinci, Baba dan Kak Ros dari rombongan pendaki Malaysia bercerita betapa rapinya pendakian di Kinabalu.

Ketika mencari informasi tentang Kinabalu, ada kisah perjalanan yang rinci dari anak-anak SMA yang mendaki Kilimanjaro di Tanzania. Anak-anak SMA di gunung tertinggi Afrika, teman.

Kembali ke Balikpapan, seorang kawan veteran hiking trip di Himalaya, yang istrinya cantik,  dengan serius mengajak, “Ayo ke Carstenz…”

Kawan itu menjadwalkan pendakian ke Carstenz Pyramid di 2017 mendatang. Saya bergidik mendengar jumlah biaya yang dibutuhkan per orang. Tidak kurang dari 17.000 dolar AS atau sekira Rp224 juta lebih.  Lebih mahal daripada ongkos naik haji plus.

Hahaha, nantilah itu dipikirkan serius. Untuk orang biasa seperti saya yang penghasilannya biasa-biasa juga—bila itu dari kocek sendiri—tentulah lebih dihargai bila digunakan untuk hal-hal lain yang dianggap lebih utama ketimbang (sekedar) naik gunung.

Sambil menunggu 2017 itu, bisa saja saya lebih tertarik kisah kawan saya Fabio Pestana, juga kang Ashadi Aboe,  untuk trekking saja (bukan naik-naik ke puncak gunung) ke sejumlah rute.

Dari Lukla ke Base Camp Everest selama 13 hari, misalnya, atau ke Lost City di Kolombia, ke Mont Blanc dan mampir menemui kawan lama keluyuran di hutan-hutan Malinau Alex dan Julien di Perancis, ke Patagonia, ke  Inca Trail di Peru, juga ke rute Tanjung Selor sampai Apau Ping melawan arus Sungai Kayan, trekking sampai Long Layu, lalu mungkin pulang naik pesawat terbang Porter Pilatus yang kecil mungil itu ke Malinau.

Menarik bukan—membuat saya tak ingin keluar jalur ini dan tetap bertahan di situ—barangkali, selamanya. Till death do us part.

Saya ingin melihat sebanyak mungkin, mengalami sebanyak mungkin. Kalau bisa mendaki setinggi mungkin, berjalan sejauh mungkin, dan menjelajah seluas-luasnya, sambil bertemu sahabat dan saudara sebanyak-banyak bisa.

Saya pun jadi lebih bersemangat menjalani hidup dan membuat tujuan-tujuan baru sambil berusaha sebaiknya sekuatnya memenuhi apa yang digariskan Sang Pemberi Hidup.

Sepulang dari Gunung, apa pun keadaannya, saya selalu bahagia. Kadang dengan badan remuk redam, kantong kosong dan rekening bank menipis, jari-jari tangan dan kaki dipenuhi plester, bibir pecah-pecah dan ujung hidung menghitam, dan tetap bahagia.

Sebaliknya, di Gunung, saya merasa kembali pulang ke rumah. Kepada bunda alam dan ayahanda kebebasan. Kepada kawan-kawan yang meskipun tak kenal nama, tapi paham semua laku dan perbuatan, sehingga kami semua hanyalah saudara yang belum bertemu.

Sambil menyuap nasi putih yang hangat dari piring plastik berwarna pink dan sekerat ikan asin, saya memandang kawan-kawan anak muda Pekanbaru yang penuh semangat ini. Untuk mereka, saya pilihkan jawaban Ed Viesturs.

“Karena saya suka prosesnya.”

Ditambah dengan prinsip hidup Budi Belek, kawan Norman Edwin yang tewas di Sungai Alas dalam arung jeram yang mencekam, “Sebab hidup itu, kawan,  harus lebih dari sekedarnya.”

***

 

SAHAM-SAHAM BUSANG

Posted on Updated on

Saya membaca buku ini dalam semalam. Segera setelah mendapatkannya usai pelatihan yang melelahkan sore itu, saya mulai maraton melalap kata. Terus berlanjut dalam perjalanan ke bandara, menunggu masuk pesawat, 2 jam lebih kurang penerbangan ke Balikpapan, membacanya di bawah lampu merkuri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan dari bandara,  dan kemudian hingga pukul dua dinihari di rumah.

Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi judul buku itu. Beberapa tahun belakangan ini, penulisnya kembali terkenal karena gemar mengatakan ‘mak nyuss’ usai mencicipi hidangan apa saja: Bondan Winarno.

Saya bertemu Pak Bondan, seingat saya, dalam 3-4 kali kesempatan berbeda di kota-kota berbeda. Dari itu, hanya 2 kali sempat ngobrol. Sekali sebagai jurnalis-nara sumber, dan satu kali lagi sebagai fans-idola.

Bondan pernah ke Balikpapan untuk menjadi juri lomba masakan dalam sebuah pameran di Lapangan Merdeka (bukan lomba masak, tapi lomba masakan—karena sudah disajikan dan kita tidak melihat bagaimana makanan itu dimasak). Pak Bondan bersama seorang ahli kuliner terkenal, dan seorang koki hebat di hotel terkenal di Balikpapan, berkeliling ke stand-stand peserta, mencicipi, memberi conteng di kertas yang mereka bawa, dan kemudian memberi keterangan pers.

Pada kesempatan lain, ketemu dan bicara-bicara singkat di bandara dalam perjalanan ke anjungan tempat menunggu pesawat, saya bilang kepadanya saya belum ketemu buku yang ditulisnya tahun 1997 itu. Saya juga bilang saya penggemar kolomnya di majalah Tempo sebelum majalah itu dibunuh pemerintah tahun 1994.

Bondan dalam perjalanan ke suatu kota untuk acara kuliner sebuah stasiun televisi. Seperti umumnya fans, saya sudah merasa tersanjung ia mau bersalaman, mendengarkan sebentar, memberi tanda tangan, dan mengucapkan harapan semoga kita semua sukses.

“Mungkin buku itu mas bisa dapatkan di perpustakaan, atau di beberapa LSM,” kata Bondan.

Setelah mendapatkan bukunya di acara pelatihan itu, saya baru tahu bahwa sesungguhnya buku itu tidak pernah mencapai pasar untuk dijual bebas. Bondan bercerita dalam lembar terpisah, bahwa seorang pejabat membeli ke-5.000 eksemplar cetakan pertama dan mengganti ongkos cetaknya plus biaya yang dikeluarkan Bondan untuk mengumpulkan fakta dan menuliskannya.

Buku yang ada pada saya, mungkin Bondan tak akan suka mendengarnya, saya dapat dengan menggandakan buku yang saya pinjam dari seorang teman. 

***

Karena apa yang ditulisnya sebagai kolumnis di Tempo, saya kira dulu Bondan Winarno jurnalis untuk liputan ekonomi. Saya agak bingung sejenak ketika di pelatihan kami ia disebut sebagai jurnalis penyelidik paling handal yang pernah dimiliki Indonesia. Ternyata ia memang begitu, jurnalis yang biasa menyelidiki kasus-kasus ekonomi.

Pelatihan yang saya ikuti dulu itu memang pelatihan jurnalis investigasi. Yang mengadakan kawan-kawan di Transparency Internasional (TI). Oleh satu mentor kami di acara itu, Metta Dharmasaputra, saat itu masih bekerja untuk Koran Tempo, buku Bondan dijadikan karya klasik contoh bagaimana sebuah penyelidikan dilakukan, dan kemudian dituliskan.

“Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” adalah buku yang ditulisnya setelah menyelidiki, melakukan investigasi secara mendalam fraud, penipuan besar-besaran secara terancang dan sistematis dengan latar utama tambang emas Busang, jauh di pedalaman Kalimantan.

Awalnya sederhana. Seseorang mengaku menemukan cadangan emas terbesar di dunia di Busang, di hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Oleh John B Felderhof, geologis Bre-X, pada September 1993, disebutkan ia telah menemukan cadangan emas Busang dengan potensi hingga 2 juta ons emas.

Disitulah drama dimulai. Pengumuman itu membuat harga saham Bre-X melesat. Awalnya di Alberta Stock Exchange, Calgary, Canada yang saat mulai dicatatkan, sahamnya tak lebih dari 27 sen dolar Canada, bahkan pernah jatuh sampai hanya 2 sen.

Pengumuman potensi cebakan emas Busang membuat Bre-X bak gadis cantik seksi sekaligus mulai belajar jual mahal. Ajakan kerjasama oleh Barrick Gold Corporation dibuat tarik ulur sedemikian rupa sehingga membuat harga saham menjadi gurih.

Oktober 1995 Bre-X mengumumkan perhitungan potensi baru emas Busang, yaitu mencapai 30 juta ons emas.

April 1996, harga saham Bre-X yang suda dipindahkan ke Toronto Stock Exchange dari C$187,50 naik hingga C$192,50. Setelah harga saham naik sampai C$201,75, Bre-X memecah sahamnya. Satu saham lama menjadi 10 saham baru dengan harga juga menjadi sepersepuluhnya.

Harga saham 20,1 dolar Canada bertahan atau turun naik di sekitar angka itu terjadi sampai Februari 1997. Sampai sejumlah drama lagi terjadi. Pada 18 Maret 1997, geologis senior Bre-X berkebangsaan Filipina, Michael de Guzman, meloncat dari helikopter yang menerbangkannya dari Samarinda ke Busang. Mayatnya ditemukan 4 hari kemudian.

Sebelumnya sejumlah pihak yang ingin ikut bergabung atau diajak bergabung mengelola Busang, salah satunya adalah Freeport McMoran, ingin menguji sendiri kandungan emas Busang. Tentu ini prosedur standar, due diligence sebutannya.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Freeport menyebutkan kandungan emas Busang tidak ekonomis ditambang secara besar-besaran. Bre-X yang ingin ‘cuci tangan’ lalu menyewa Strathcona, surveyor independen berkredibilitas tinggi, untuk melakukan penelitian ulang. Penunjukan Strathcona sempat menahan penurunan harga saham. Namun, hasil dari Strathcona sama dengan laporan Freeport.

Saham Bre-X langsung melorot ke level C$16,25 per lembar. Freeport masih melanjutkan laporannya dan mengatakan selama ini Bre-X melebih-lebihkan (overstated) angka mengenai jumlah kandungan emas Busang.

Saham Bre-X terjun bebas hingga C$2,50. Bre-X kehilangan harga pasar hingga C$3 juta dalam 30 menit transaksi.

Drama belum berakhir. Tanggal 4 Mei 1997, Strathcona menyurati Bre-X, mengatakan bahwa sebenarnya di Busang tidak ada emas yang dijanjikan. Emas yang ada di inti bor yang selama ini dibawa ke laboratorium untuk diteliti, ternyata sengaja dibubuhkan belakangan. Inti bor itu dicemari (salted). Harga saham langsung terbanting hingga tinggal 8 sen dolar Canada. Seperti pukulan terakhir yang mematikan, karena tak ada lagi yang percaya, Toronto Stock Exchange melakukan delisting atas saham Bre-X atau mengeluarkannya dari daftar saham yang diperjualbelikan.

***

Saya kembali mengingat Bre-X dan sahamnya karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumpulkan kami sejumlah jurnalis di Balikpapan sekitar 3 pekan lalu. Dalam acara kumpul-kumpul itu, Arif Budiman, seorang Kepala Bagian di Direktorat Pengawasan Lembaga Efek menjelaskan apa dan bagaimana Pasar Modal atau Bursa Efek, satu hal yang menjadi obyek pengawasan OJK.

Sedemikian rupa Arif Budiman berusaha menyederhanakan soalan. Saya ingat kata-kata Einstein, orang pintar dan bijaksana membuat persoalan rumit menjadi mudah dicerna. Arif pun memulai dari yang paling sederhana, saham.

Saham adalah tanda keikutsertaan menanam modal pada sebuah usaha. Pada perusahaan atau perseroan tertutup, saham dibagi diantara sesama yang bersepakat untuk membuka usaha itu. Orang yang datang belakangan dan ingin turut menanam modal di usaha itu harus mendapat kesepakatan para pendiri.

Perusahaan terbuka membolehkan orang lain yang awalnya tidak terlibat untuk turut menanam modal seketika. Caranya, orang lain itu boleh membeli saham perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan yang bersangkutan, berarti turut memiliki perusahaan. Karena turut memiliki, bila perusahaan untung, berhak atas pembagian keuntungan. Begitu pula bila rugi, ikut pula menanggung rugi.

Selanjutnya tempat orang menjual saham, juga membeli saham, disebut pasar modal. Persis seperti pasar biasa. Uang yang didapat dari saham yang laku terjual, menjadi tambahan modal dari usaha. Karena itu pasar saham disebut juga pasar modal, dan memang salah satu tempat perusahaan mencari tambahan modal.

“Sampai sini ada pertanyaan?” tanya Arif pagi itu. Para jurnalis, dari berbagai media, berbagai usia, berbeda rentang pengalaman, laki-laki dan perempuan, tampak manggut-manggut. Sebagian yang duduk tepat di bawah semburan angin penyejuk udara, bersedekap melipat tangan di depan dada, kedinginan.

“Siapa yang menentukan harga saham?” seseorang bertanya.

Untuk penawaran perdana, artinya pertama kali dijual kepada publik, harga ditentukan terutama oleh kinerja dan aset perusahaan. Saya jadi ingat Bre-X saat pertama kali hadir di bursa saham Alberta Stock Exchange di Calgary, harga sahamnya hanya 27 sen dolar Canada.

“Lalu, mengapa harga itu turun naik, dan kelihatannya seru sehingga jadi pemberitaan, atau sebaliknya, pemberitaan menjadikannya seru,” seseorang melanjutkan bertanya.

Inilah rupanya yang menjadikan Pasar Modal khas. Karena nilai saham antara lain bergantung kepada kinerja dan aset perusahaan maka harganya bisa naik turun berdasarkan itu. Makin bagus kinerja perusahaan, artinya makin untung, makin mahal harga sahamnya. Makin mahal karena pasti makin banyak yang ingin punya saham itu karena ingin ikut kebagian untung.

Jadi hukum ekonomi biasa tentang supply and demand. Permintaan banyak, tapi pasokan tetap, maka tentu saja harga jadi naik.

Hal seperti itu tentu menarik media untuk dikabarkan. New York Times menulis tentang saham Bre-X dalam judul ‘Bre-X Has A Cinderella Story to Tell’.

Lalu ada faktor lain lagi. Karena tidak setiap pemilik saham bisa mengurusi sendiri sahamnya, maka pengurusannya diserahkan kepada orang lain. Mereka disebut pialang. Pialang inilah yang menjadi aktor utama di pasar modal. Ibarat pertandingan sepakbola, merekalah yang memainkan bola, yang membawanya menyerang dan mencetak gol, dan mungkin bertahan mati-matian juga.

Di Bre-X yang memainkan itu adalah CEO-nya, David Walsh, yang memang piawai soal goreng-menggoreng saham.

Lalu contoh permainan pialang diberikan Arif. Misalnya ada saham seharga Rp100. Setelah beberapa saat, seorang pialangnya, setelah analisis kinerja perusahaan, melihat laporan keuangan, juga melihat banyak faktor lain, termasuk jumlah permintaan akan saham itu, mau menjual sahamnya seharga Rp120.

“Dia tawarkan pagi pada sesi pembukaan pasar pertama, lalu mungkin ada yang tertarik, dibeli Rp120 untuk sekian lembar saham. Ternyata masih banyak yang ingin dan belum kebagian. Lalu pialang penjual pertama melihat, wah, mungkin kalau dijual Rp130 mungkin masih laku. Bisa juga yang beli dari pialang pertama tertarik untuk juga untuk menjual kembali saham yang baru dibelinya. Inilah yang disebut aksi ambil untung atau profit taking…”

Saya bisa membayangkan keriuhan pasar itu dari cara Arif menjelaskan, lengkap dengan wajah-wajah tegang yang menatap monitor besar di dinding, lalu sorak kemenangan seperti saat sebuah gol tercipta, kemudian senyum puas dan sukses.

Dengan cara itulah Bre-X mendapat untung ribuan dan jutaan dolar. Aksi goreng saham ditunjang laporan akan kinerja perusahaan, dalam hal ini potensi emas yang terkandung di dalam tanah Busang.

Keadan itu berlangsung selama 3 tahun. Saat harga saham di puncaknya, bos Bre-X, David Walsh, menjual sebagian kepemilikan sahamnya. Walsh yang menghabiskan modal terakhirnya sebesar C$10.000 untuk meninjau properti Busang pertama kali di tahun 1993, pun menjadi orang kaya raya. Demikian juga dengan Felderhof. Begitu pula dengan Michael de Guzman, geologis yang ‘bunuh diri’, yang punya empat istri dan rumah di mana-mana.

***

Begitulah kemungkinan yang bisa diberikan Pasar Modal. Nasib orang bisa mujur dan sial dalam jarak yang tidak lama. Bisa miskin dan kaya dalam sekejap mata.

Pada sisi lain, dalam kasus Bre-X itu, bursa saham di Alberta, dan kemudian otoritas Canada, dikecam karena begitu mudah memberi kesempatan sebuah perusahaan masuk pasar modal.

“Melihat kasus itu seperti itu, jadi gampang memahami keberadaan OJK,” kata Amir Syarifuddin, jurnalis Koran Kaltim yang rajin bertanya dalam kesempatan tersebut.

OJK, berkoordinasi dengan semua entitas pasar modal, Bursa Efek Indonesia selaku penyelenggara infrastruktur, dikawal lagi oleh KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) menguji semua hal tentang perusahaan yang ingin masuk bursa saham dan mengumpulkan dana masyarakat melalui penjualan sahamnya.

“Bahkan jangankan perusahaan yang mau listing, investor yang mau menanamkan uangnya saja di bursa kami minta menjelaskan dari mana asal uang yang digunakannya untuk berinvestasi. Kami tidak ingin jadi sarana pencucian uang,” tegas Andre PJ Toelle, Kepala Proyek Manajemen Divisi Teknologi Informasi Bursa Efek Indonesia.

Seperti Bondan bercerita detil, hingga bagaimana Bre-X mendapatkan Busang, dan catatan gigi dari de Guzman yang diyakinkan seperti mati bunuh diri dengan cara yang luar biasa dramatis: melompat dari helikopter yang terbang di ketinggian 850 meter dari permukaan tanah.

***

 Pukul dua lewat beberapa menit saya selesai membaca buku itu. Saya merasa kenyang walaupun perut kosong. Bondan menjelaskan dan menceritakan lika-liku Bre-X, Busang, emas, keuntungan, dan nasib semua tokoh yang terlibat. Tak tersisa pertanyaan satu pun di benak saya.

Saya juga ingat, di akhir acara kumpul-kumpul dengan orang-orang OJK pun saya merasa kenyang. Arif Budiman, juga Nelson Siahaan, Imam Gozali, Boedi Armanto, dan yang lain-lain, termasuk Agus Sugiarto (Direktur Literasi dan Edukasi OJK, yang membuka dan menutup acara, dan menjuluki saya sebagai salah satu pemeran dalam serial televisi Mahabaratha), membanjiri kami dengan informasi.

Saya merasa seperti botol yang dituangi air seember. Penuh berlimpasan. ***

 

Laskar Pelangi di Batas Negeri

Posted on Updated on

Bu Rahmi dan para murid kelas I SDN Filial 001 Tabur Lestari.
Bu Rahmi dan para murid kelas I SDN Filial 001 Tabur Lestari.  Menurut Bu Rahmi, murid-muridnya juga punya semangat seperti Laskar Pelangi.  (novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4)

Ini reblog dari kisah Cerita Sungai, Merah Putih, Rumput Hijau, dan Langit Biru yang panjangnya bikis stress itu, hehehe. Saya tampilkan lagi dengan tambahan banyak foto dan cerita panjangnya dibagi dalam empat tampilan. Ini yang pertama.

Dengan suara yang ramai dan melengking nyaring, lagu Indonesia Raya dinyanyikan para murid yang mungil, berseragam putih merah, dan berbaris berjajar di depan kelasnya di Kamis pagi di akhir Oktober. Suara mereka tak kompak, tapi lantang dan penuh semangat.

Rombongan Indonesia 4X4 Expedition to Border yang baru tiba sesaat sebelumnya pun berdiri tegak di samping mobil masing-masing. Sedemikian rupa mobil disusun hingga berderet rapi di halaman sekolah yang luas, halaman yang bertanah merah dan berpasir putih.

Mat Ali Chandra dari Kalimantan Barat yang mengemudi Suzuki Vitara berkode Expedition to Border (EB) 10, tak terasa menggerakkan bibir dan ikut bernyanyi. Suara berat Bang Ali menjadi latar dari nyaring suara 60-an murid-murid sekolahan di Kecamatan Simenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tersebut.

Reza Kamal, dokter kandungan yang menjulang setinggi hampir 190 cm dari Jawa Barat di mobil Toyota Land Cruiser HJ 60 yang kalau bercanda gak ketulungan pun bisa serius. Reza berdiri tegak di samping mobilnya dan ikut menyanyi.

Setelah Indonesia Raya, dinyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku, lagu penuh semangat ciptaan Ibu Sud.

Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa

Tak gentar hatiku melawan rintangan, tak goyah jiwaku berkorban, …

Inilah SD Filial 01 Tabur Lestari. Hanya ada 4 kelas di sini, kelas satu sampai kelas empat. Setiap kelas punya murid 12-15 orang. Setiap dua atau tiga orang, mereka berbagi satu meja dan satu bangku panjang.

Sebagian murid SD Filial 001 Tabur Lestari. Kedatangan tim Ekspedisi Indonesia 4X4 jadi hiburan tersendiri. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
Kedatangan tim Ekspedisi Indonesia 4X4 jadi hiburan tersendiri. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

“Sementara gedungnya ya begini, semoga gedung yang sedang dibangun di sebelah cepat selesai,” kata Bu Rahmi, guru kelas satu (yang juga guru kelas dua, kelas tiga, dan kelas empat sekaligus).

“Yah sedikit lebih baik daripada SD Muhammadiyah di film Laskar Pelangi,” tambah Rahmi seraya tersenyum. Bu Rahmi bersama anak-anak sudah menonton film yang menggelorakan semangat itu lewat dvd.

Seperti Pak Guru Basri yang mengundurkan diri dan setengah kabur dari SD Muhammadiyah di film itu, di Tabur Lestari, masalahnya bukan gedung sekolah atau siswa yang tak sekolah, tapi guru yang tidak betah.

“Setidak-tidaknya, sekolah ini tidak dijadikan kandang kambing,” komentar Bekti Sugiri, driver EB 11 dari Kalimantan Barat yang memang bermulut cabai. Di cerita dan film Laskar Pelangi, sekolah Ikal dan Lintang memang jadi kandang kambing, terutama bila hari hujan.

Gedung yang ditempat sekarang dibangun dari papan-papan kayu dengan atap seng. Lantainya dari semen yang dicor. Kelas-kelas dibuat dengan membuat dinding penyekat ruangan dari kayu yang kasar tak diserut. Keributan dari kelas satu bisa terdengar hingga ke kelas empat.

Gedung baru yang di sebelah dibuat dari batu dan semen. Tiang-tiang kolom untuk memasukkan semen berdiri tegak dengan hiasan besi-besi beton.

Ny Pertiwi Roesmanhadi mendapat salam takzim dari Mat, murid kelas IV SDN Filial
Ny Pertiwi Roesmanhadi mendapat salam takzim dari Mat, murid kelas IV. Mat dan kawan-kawannya mendapat hadiah smasing-masing sehelai bendera Merah Putih dan seperangkat buku dan alat tulis. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

Tim menurunkan muatan truk yang sedari tadi sudah menunggu dibongkar. Ada buku-buku tulis, pensil dan bolpoin, dan kotak pensil warna-warni bergambar si burung pemarah, serta berlusin-lusin bendera merah putih. Kotak-kotak berisi obat-obatan sudah terlebih dahulu dipisahkan dan diturunkan.

Bakti sosial pengobatan dimulai pukul 10.00 tepat. Dokter kami, dokter spesialis jalan-jalan dari mobil EB 01, dr Silverius Purba mulai memeriksa para pasiennya setelah mengatur siapa yang membantu di meja penerima pasien di depan, siapa yang menjaga giliran diperiksa, dan yang paling penting, siapa yang mengurus apotek dadakan yang keren itu.

Pasien terakhir dari kalangan siswa, sebelum dokter melayani masyarakat umum adalah gadis cilik berusia 10 tahun. Dari dokter Reza yang turut membantu dokter Silver ia disuruh minta obat pinter matematika di apotek.

dr Reza Kamal SPOG memeriksa Nur, murid kelas IV.  Hasilnya, Nur dapat resep vitamin pinter matematika. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
dr Reza Kamal SPOG memeriksa Nur, murid kelas IV. Hasilnya, Nur dapat resep vitamin pinter matematika. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

“Dok, obat apa itu?” teriak Ronal dari EB 13 di apotek di kelas satu kepada dokter Reza di ruang periksa di kelas dua. Pertanyaan yang disambut tawa ngakak dari sebelah dan tatapan bingung si kecil cantik Nur yang baru saja menyerahkan resep kepada Ronal.

***

Perlu waktu lima hari bagi Tim Indonesia 4X4 Expedition to Border North-East Borneo 2013 untuk mencapai Tabur Lestari, tempat bakti sosial pengobatan dan pembagian peralatan sekolah serta bendera merah putih itu.

HUM-APOTEKER YANG SANGAR
Apotek lapangan Ekspedisi Indonesia 4X4 dan para apotekernya yang sangar namun baik hati. novi abdi/ekspedisi indonesi 4X4

“Jalannya nyaris membosankan seandainya tak ada pemandangan hutan yang terlihat  masih lestari atau kebun-kebun sawit yang rapi,” komentar Hendrik Somantri, mekanik dari Subang yang jadi bagian EB 07.

Dari Balikpapan di selatan hari Sabtu (26/10) hingga Kamis (31/10) pagi di Pos Gabungan Indonesia-Malaysia (Gabma), tim melewati jalan aspal dalam berbagai kondisi. Mulus sampai Samarinda, mulus banget tapi bopeng-bopeng hingga Bontang dan Sangatta, jalan tambang dan kebun sawit sampai Rantau Pulung, jalan tanah, jalan beton, jalan aspal mulus sampai Muara Wahau, hal yang sama sampai Tanjung Redeb-Berau, dan berulang lagi antara Tanjung Selor-Bulungan, dan Malinau.

Setelah Sangatta di Kutai Timur, jalan mulus hanya menjelang ibukota kabupaten, dan hilang lagi setelah melewatinya. Mendekati perbatasan Indonesia-Malaysia, jalan-jalan tanah dengan perkerasan laterit mendominasi, dan sedikit aspal di depan helipad Pos Gabma.

“Nanti habis pengobatan ini, mungkin kita baru ada offroad sedikit,” kata Insuhendang, surveyor tim. Jalan ke Pos Siluman adalah jalan bekas perusahaan penebangan kayu dengan kontur naik turun. Seperti biasa, jalan seperti itu juga rawan longsor dan penuh tanah liat yang licin bila hujan.

Tim yang bosan pun mulai bersemangat kembali.

“Kalau hujan bisa lebih seru tuh,” celutuk seseorang.

Pukul 13.00, pengobatan selesai, dan setelah makan siang dan berkemas, pukul 14.00 perjalanan mengantar logistik (beras dan lauk pauk) untuk para prajurit ke tempat bakti sosial berikutnya, yaitu Pos Siluman TNI dimulai. Sampai satu jam berikutnya, apa yang disampaikan Insu belum tampak.

Baru sekitar pukul 16.00 tim menemui rintangan pertamanya. Bukan lumpur lengket dan jalan jelek. Bukan pula tanjakan terjal licin. Jalan laterit mulus lurus, tapi melintang di tengahnya sebatang raksasa yang tumbang.

Winch pun mulai dimainkan. Pohon itu ditarik ke belakang untuk memberi ruang dan sedikit jalan. 15 menit beres.

Antre di depan jembatan log tak terlihat yang rapuh. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
Antre di depan jembatan log tak terlihat yang rapuh. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

Tapi sesudah ini, apa yang dikatakan Insu mulai menjadi kenyataan. Tanjakan dan turunan terjal bermunculan. Pukul 17.00, tanjakan terjal yang dibelah alur air tersaji di depan mata. Tidak ada pohon besar di kiri dan kanan di hutan yang sudah habis ditebang ini.

EB 09, sebuah Land Rover Defender yang dikemudikan Aditya Karma, kehilangan momentum dan kepentok di awal tanjakan. Mesin menggeram dan roda berputar, tapi mobil tak bergerak karena ban kehilangan daya cengkeram di tanah yang licin.

Perjalanan masih jauh, mobil tak boleh dipaksa. Saatnya winch diulur kembali.

Hingga menjelang magrib, tersisa EB 05, Range Rover yang dikemudikan Krishna Anggakusumah, Kalimantan Selatan,  yang masih di awal tanjakan. EB 05 yang dikira baik-baik saja, ternyata perlu pertolongan dari 3 mobil di atasnya, EB 07, EB 14 Toyota Land Cruiser FJ 45 (Tablo dan Wito dari Surabaya, Jatim) dan EB 12 Chevrolet Trooper (Firman dan Dhimas, Jawa Timur).

“Kita rangkai saja dengan strap dan maju bersama,” kata Reza Kamal, yang paling senior dari semua yang ada di tim paling belakang.

Setelah semua terhubung, mobil-mobil bergerak bersama dengan lebih cepat. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
Setelah semua terhubung, mobil-mobil bergerak bersama dengan lebih cepat. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

Strategi itu berhasil, menjelang waktu salat Isya, sebelas mobil berkumpul di satu titik diantara jalan masuk dan Pos Sinyal-Pos Siluman. Camp pun didirikan untuk menikmati malam kedua di bawah langit dan bintang-bintang.

“Pak Rahadian, Pak Roesman, dan Pak Syamsu sedikit lebih jauh di depan kita,” kata Greeffion Kamil, satu dari pemimpin kolektif Indonesia 4X4 Expedition.

Rahadian Mahendra mengemudikan EB 02 Land Rover hybrid berbasis Series, Jenderal Purn Roesmanhadi dengan EB 03 Land Rover Defender short, dan Syamsu Setiabudhi, dengan EB 01 Land Rover Defender yang sudah dibuat pendek.

Lepas tengah malam Jumat (1/11) hujan lebat mendera camp dan jalan. Apa yang diharapkan celutukan pun jadi kenyataan.

***

Vendry Kamil, kiri, memeriksa jalan (scouting) untuk Toyota Hilux Tim Aceh-Jakarta. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
Vendry Kamil, kiri, memeriksa jalan (scouting) untuk Toyota Hilux Tim Aceh-Jakarta di pagi hari ke-2 menuju Pos Siluman. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

Pagi pukul 08.00, saat jalan masih lunak, perjalanan mengantar logistik dimulai kembali. EB 06, sebuah Toyota Hilux, double cabin keluaran terbaru berpelat BL 8000 gress dari Aceh yang ditumpangi Greeffion Kamil, Insuhendang, Vendry Kamil, dengan driver Sapto Wibowo alias Bowo membuka trek di tanjakan licin.

Dengan merentang winch segera menyusul EB 05, EB 10 dan EB 11 para Vitara dari Pontianak, Kalimantan Barat, lalu EB 09 Jeep Cherokee Adi Santosa-Ika Kartika-Eko, dan Defender 08. Di jalan yang sudah kering, melenggang santai tanpa winch EB 15 Taft Rugger yang dikemudikan el commandante ‘Alex’ Musni Hafas dan co driver Anwar Noeh. Mengikuti di belakangnya tiga sekawan tak terpisahkan, EB 07, EB 14, dan EB 12—juga mulus tanpa harus mengulur winch.

Matahari mulai tinggi dan jalan mulai bersahabat. Tanjakan-tanjakan tinggi pun bisa dinikmati. Mobil-mobil disusun untuk konvoi, lampu-lampu depan dinyalakan. Ketika tim terhenti lagi menjelang makan siang oleh satu tanjakan terjal, kerjasama yang mulai padu membuat halangan itu cepat dilewati.

Pos Sinyal, sebuah pos bayangan 45 menit sebelum Pos Siluman pun dicapai setelah waktu salat Jumat. Tim istirahat makan siang dan muatan logistik untuk Pos diturunkan.

“Dari sini, kita bisa lanjut sedikit ke depan, setelah itu tak bisa lagi lewat karena jembatan rusak. Perjalanan mengantar logistik ini harus dilanjutkan dengan jalan kaki,” kata Fion, panggilan akrab Greeffion Kamil.

Praka Reza di depan Pos Sinyal, mengawasi mobil-mobil Tim Ekspedisi Indonesia 4X4 yang baru tiba. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4
Praka Reza di depan Pos Sinyal, mengawasi mobil-mobil Tim Ekspedisi Indonesia 4X4 yang baru tiba. novi abdi/ekspedisi indonesia 4X4

Para serdadu rupanya maklum. Tak seorang pun tampaknya dari anggota Tim Indonesia 4X4 Expedition ini sanggup menggendong berkarung beras dan berbagai jenis ransum ini, meski ukuran badan lebih lebar dan lebih tinggi dari mereka.

“Biar kami yang bawa logistik ini sendiri. Sudah diantar sampai Pos Sinyal ini pun kami sangat berterimakasih,” kata Letnan Satu Danrus, Komandan Pos Siluman.

Sigap beban dibagi dan dimasukkan ke dalam ransel-ransel dari 10 prajurit. Masih tersisa berkarung beras di Pos Sinyal untuk diangkut pada giliran berikutnya.

“Bapak-bapak yang ingin berkunjung ke Pos Siluman, kita bisa jalan sekarang,” sambung Lettu Danrus. Waktu menunjukkan pukul 15.30.

***

sebuah buku, sebuah pilihan

Posted on Updated on

Hari itu, buku ini memilih saya. Sebuah buku yang sampul plastiknya sudah kuning dan sudah koyak. Banyak tangan sudah memegangnya.

Ia tergeletak di rak Karya Umum di Perpustakaan Wilayah (begitu sebutannya dulu). Rak Karya Umum adalah rak pertama setelah meja peminjaman buku, dari pintu depan kita masuk, ia ada di sayap kiri bangunan beratap tinggi dan dikelilingi jendela-jendela besar khas rumah banjar itu.

Buku itu tergeletak, tidak ikut berurut rapi dalam susunan buku. Tampaknya seseorang mengeluarkannya dari barisan, tapi tak jadi meminjamnya. Mungkin juga baru diletakkan lagi oleh petugas setelah baru dikembalikan namun belum sempat dimasukkan lagi ke urutannya.

Sebuah buku dengan cover warna merah, putih, dan hitam. Di bagian sampul di sepertiga bawah buku yang berwarna merah dilekatkan foto demonstrasi mahasiswa di tahun 1966 yang menggelora.

Sebuah buku setebal dan seukuran batu bata dari cetakan tahun 1989. Terbit pertama kali 1983. Pada sampul belakang ada foto hitam putih tampak samping seorang remaja Tionghoa berpipi tembem dan bercelana pendek, entah memandang apa dia di kejauhan.

Di bagian putih di tengah sampul depan, tertera judul buku ini. Judul itu ditulis miring 45 derajat ke arah kanan, dengan huruf courier dan seluruhnya huruf kecil, dalam tinta hitam yang tegas: catatan seorang demonstran

Di seperempat atas puncak buku, dengan dasar hitam dan tinta putih nama Soe Hok Gie ditulis dengan huruf Arial kurus setinggi 2 senti. Dia lah yang empunya catatan dan meninggal dalam usia 27 tahun di puncak gunung keramat itu.

Maka saya menemukan mau jadi apa saya nanti. Usia saya sudah 16 tahun, kelas 2A2.2 SMA Negeri 7, di Banjarmasin, di Kalimantan Selatan.

***
Jadi demonstran? Hehehe, bukan ternyata. Ah…, benarkah bukan?
“Saya tahu. Kamu kan memang sejak dulu kepengen jadi jurnalis,” kata Day.
Sejak dulu sejak kapan? Masa SMP itu saya hanya suka membaca dan menulis dan olahraga.

Cita-cita? Sudah lupa saya. Waktu SD pengen jadi insinyur pertanian karena suka desa, sawah, dan menanam sesuatu karena suka nonton acara Dari Desa ke Desa di TVRI (juga Lomba Kelompencapir yang pakai kentongan itu), dan sinetron Kisah Serumpun Bambu (kisah keluarga mas Barep yang sukses dan tinggal di desa)—dan Rumah Masa Depan (kisah yang berpusat pada keluarga Pak Sukri yang tinggal di Desa Cibereum). Juga pernah kepengen ikut transmigrasi dan jadi petani.

“Tapi saya benar kan. Kamu akhirnya jadi jurnalis juga,” Day bersikeras.
Orang-orang Taurus, atau Gemini (ah, my dear Day, kamu Taurus atau Gemini sih?)* memang keras kepala—dan saya bersyukur lahir di bawah Mars yang merah di bulan November. Konon, kami para scorpio dibekali DNA khusus untuk menghadapi cewek-cewek yang keras kepala seperti makhluk mungil di depan saya ini.

*(Day punya dua tanggal lahir resmi yang berbeda satu minggu. Di tanggal yang pertama ia adalah Taurus, tanggal yang kedua—yang selama ini saya tahu, memasukkan ia ke dalam Gemini).

“Kamu percaya zodiak?” kata Day dengan tatapan heran.
Saya percaya apa saja yang baik dan membuat saya bersemangat. Aslinya kan zodiak itu hasil riset yang luar biasa dari kelakuan manusia dan pergerakan benda-benda langit oleh para pengamat jenius di zaman Yunani Kuno. Seseorang kemudian menghubungkan kedua hal itu dan menemukan ternyata orang-orang scorpio selalu misterius dan kalau ia bisa jalan bareng dengan gemini atau taurus itu keajaiban karena kebersamaan mereka memerlukan pengorbanan yang luar biasa besar dari keduanya.

Masih ada halaman zodiak di majalah? Heheh, dulu sih saya juga pernah jadi peramal (penulis ngawur lebih tepat) bintang ini untuk majalah sekolah kami dan tabloid remaja yang bagus namun berumur singkat di Banjarmasin.
Tapi Day memang benar. Justru karena membaca dan menulis itulah saya jadi jurnalis dan tidak jadi petani profesional. 

*** 

Lewat bukunya itu, Gie memberi semangat, model dan teladan, dan sebuah jalan hidup yang sangat menarik saya. Hanya mati muda yang saya tak mau, meski kawan-kawan di mapala pada berkoar mengutip puisinya, bahwa nasib terbaik adalah tak dilahirkan, dan kedua terbaik adalah mati muda.

(Saya juga tidak menggolongkan nasib saya jelek dalam usia yang sudah 10 tahun lebih tua dari Gie ini, yang meninggal di usia 27 tahun—Gie yang sosialis dan mungkin agnotis mungkin tidak pernah diberi tahu bahwa manusia boleh tahu semuanya, tapi tidak umurnya, rezekinya, dan jodohnya).

Tapi ya, Gie berada di zaman yang susah. Itu mungkin yang membuat mati muda menarik. Bersama dia ada Keith Moon, Janis Joplin, Jimi Hendrix, rombongan flower generation yang memang sungguh asyik, dan bukankah ribuan serdadu Amerika yang mati di Vietnam juga anak-anak muda?

Gie memberi contoh apa saja yang bisa ditulis oleh seorang anak, seorang remaja tanggung, remaja akhir, dan orang baru dewasa, serta orang dewasa. Gie menulis buku harian.

Saya mengikuti teladannya. Di buku harian yang buku tulis biasa (bukan buku tebal mahal wangi bersampul kulit, memang harusnya buku harian seperti apa?), saya mengikuti Gie memperhatikan semua yang tertangkap indra dan dirasakan hati dan terlintas berputar-putar di pikiran dan menuliskannya.

Meski demikian, di usia 16 tahun itu Catatan Seorang Demonstran hanyalah satu dari buku yang membuat saya terpesona. Beberapa tahun sebelumnya Marah Rusli sudah mempertemukan saya dengan Datuk Maringgih dan diharu biru Sitti Nurbaja dan gerombolan para pendekar sastra Balai Pustaka lainnya.

“Saya suka Di Bawah Lindungan Ka’bah,” kata Day. Oh, Hamka memang romantis—dan tragis. Entahlah, kenapa masa itu orang suka sekali menulis hal yang tragis dan penuh keputusasaan. Begitu pula bukunya yang lain, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck—yang jadi favorit Fitriani Hayati dan Si Neng suka yang sudah jadi film.

“Hmm, siapa itu?”
“Siapa? Oh, Ipit…?”
“Yup.”
“Murid terpintar di kelas kami, I B, di sekolah kita dulu.”

Day mengangguk-angguk. Naluri perempuannya tampaknya tak percaya keterangan saya bahwa Hayati hanya ‘murid terpintar di kelas kami’. Oh please, no need to worry sweet, I am yours now.

Ehh, semua gadis itu yang tersebut itu, meski dari masa yang berbeda, Hayati, Day, Neng,  seluruhnya  alumni SMPN 3 loh. 

Saya juga sudah terhanyut dalam petualangan Old Shatterhand di Winnetou Kepala Suku Apache atau Kara ben Nemsi yang diceritakan dengan sangat memikat oleh Karl May, berjilid-jilid cerita sejarah Tiongkok, pelajaran dan perkelahian kungfu tingkat tinggi, romantisme, dan khotbah Kho Ping Hoo, empat jilid buku Merdeka Tanahku Merdeka Negeri karangan Purnawan Tjondronegoro tentang bagaimana Overste Soeharto mengatur kembali pasukannya yang cerai berai dan memukul balik Belanda dalam 70 hari di kisah Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Juga Ringkasan Sejarah Islam yang ditulis A Latief Osman terbitan Bulang Bintang, buku tahun 1955 dari kumpulan buku milik Mama, dan buku yang ringkas ini, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan, oleh Norman Edwin, seorang jurnalis petualang yang memuat alamat Kompas Borneo Unlam di Banjarmasin.

Dan, omitohud, siancai, siancai, hehehe, sorry bro, stensilan enny arrow juga. Kalian juga, bukan—dan anak-anak sekarang mendapatkannya dari internet dan situs-situs yang coba diblokir Kominfo.

Saya pun sudah melewati dua kali penataran Pendidikan Pengamalan dan Penghayatan Pancasila. Di penataran itu, sungguh, diajarkan, disebelah mana Anda lelaki harus berdiri bila bersama dengan perempuan. Di sisi mana Anda harus berada ketika menyeberang jalan yang ramai dengan seorang anak kecil, seorang tua, dan seorang wanita—tak peduli dia cantik atau tidak, gadis atau janda, kenal atau tidak.

Saya sudah jadi pelahap budaya pop yang disajikan majalah Hai, dan sudah berkenalan dengan Metallica.

Zaman saya adalah masa yang jauh lebih nyaman daripada masanya Gie.  Saya sudah merasakan tetesan kue kemakmuran dari Jenderal Soeharto. Apa yang saya perlu perjuangkan ketika itu adalah masa depan saya sendiri. Nyaris tidak ada orang yang kelaparan di sekitar saya sehingga harus memakan kulit mangga yang didapatnya dari tempat sampah.

Saya bersekolah di sekolah terbaik di Kalimantan Selatan, mungkin saat itu juga terbaik di Kalimantan, dan salah satu sekolah terbaik di Indonesia.

Maka, yang paling mengesankan bagi saya dari buku Catatan Seorang Demonstran bukan kisah-kisah Gie dan kawan-kawannya turun ke jalan dan mengganyang para menteri plintat-plintut. Bukan itu.

Saya mengagumi bagaimana Gie, dalam usia yang sangat muda punya kesempatan membaca banyak buku bermutu dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, buku-buku yang membuat ide-idenya berloncatan, pemikiran tentang bagaimana berbangsa dan bernegara mesti dijalankan.

Buku-buku yang membuat ia sangat kritis pada keadaan, pada kampusnya, pada dosen-dosen, pada kawan-kawannya, bahkan pada dirinya sendiri.

***

Saya jadi ingin membaca semua buku yang disebutkan Gie di dalam Catatannya itu—seperti saya ingin membaca semua buku yang dibaca Goenawan Mohammad yang menjadi inspirasi dari kebanyakan Catatan Pinggir, kolom yang ditulisnya untuk Tempo—majalah masa kecil saya.

(Sorry, mas Goen, bang Almin, kang Sunu, mas Baskoro, kak Leil, benar-benar majalah masa kecil saya—bacanya gantian dengan Bobo, Ananda, Si Kuncung, Kucica, Sahabat, Harmonis, Panji Masyarakat, dan banyak komik mulai dari Djaka Sembung-nya Djair sampai deretan Marvel dan DC Comics. Cuma saja saya bacanya di rumah Syamsul Muarif, orang Barabai yang kemudian jadi Menteri Kominfo—nanti cerita soal ini yaaaa).

Lalu, Gie juga suka menonton film, membuat puisi, naik gunung, dan aha…pacaran juga. (Walaupun kata Herman O Lantang, sahabatnya, Gie tidak punya pacar. Pengalaman cintanya tak sebanyak buku-buku yang dibacanya. Nah, ada teman perempuan mereka yang curhat soal cinta ke Gie, maka oleh Herman dan kawan-kawan lain dikatakan, itu sama saja curhat kepada dengkul).

Gie mengajari berpikir kritis dan berkata lugas. Waktu masih SMP dia sudah bisa berkata ‘guru bukan dewa dan murid bukan kerbau’ untuk menggambarkan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang (barangkali lupa) apa saja karya bung Chairil Anwar sementara menyalahkan apa yang disebutkan Gie.

Gie pun terpaksa pindah sekolah karena sikap kritis ini. Perjuangan selalu ada harganya ya…
Pada saya, tak ada yang harus pindah sekolah. Malah saya jadi kuliah lebih lama karena keasyikan keluyuran—sejujurnya, karena bosan teori juga, tapi masih takut menghadapi dunia.

Tapi saya puas sepuas-puasnya. Saya cinta Indonesia tanpa indoktrinisasi, tetap cinta meski politikusnya benar-benar berlaku seperti tikus. Bila belum tahu seperti apa kelakuan tikus, teman, dengarlah petuah ayahnya Remy si tikus dalam film Ratatouille.

Seperti Gie, saya percaya kecintaan kepada bangsa dan negara hanya bisa tumbuh sehat bila kita mengenal obyeknya, yaitu bangsa dan negara itu, dan alam serta lingkungan tempat hidup manusia-manusianya.

***

Jadi benarlah entah kata siapa itu, buku adalah jendela dunia, meski Soekarno benci textbook thinking. Untuk bisa berkeliaran di alam bebas liar ini, sering kita harus membaca buku dulu, sobat. Soekarno bisa berkata begitu pastilah karena sudah melahap ribuan buku, seperti hanya musisi kugiran yang bisa berimprovisasi dengan nyaman.

Sekali-sekali, biarkanlah sebuah buku menemukan dan memilih Anda, lalu lihat dan rasakan apa yang terjadi kemudian.

(Pastikan majalah Playboy Anda tetap berada di rak tertinggi di dalam kamar, dan ada cukup kuat parental filter di saluran internet Anda). ***

Cinta Dalam Setumpuk Buku

Posted on Updated on

Haruskah saya minta maaf karena menulis soal cinta lagi? Mas Rudi Gunawan bilang, tulisan hal cinta mencintai memang bisa mengharu biru, tapi banyak sekali yang menulis soal itu.

“Bejibun. Coba lihat di Gramedia atau toko buku lain,” katanya.

Di situ memang berderet-deret, bertumpuk-tumpuk novel-novel cinta, baik cinta remaja maupun cinta orang dewasa. Ada yang memuja pergaulan bebas, ada yang memoles dengan latar religi, ada yang bingung mau cinta seperti apa.

FX Rudi Gunawan sendiri menulis soal seks. Dulu ia punya kolom sendiri di majalah Jakarta Jakarta—majalah yang pemrednya Seno Gumira Ajidarma dan sudah dibunuh pemerintah. Saya tidak membaca kolom itu, tapi membaca kumpulan tulisannya yang dibukukan. Salah satu bukunya, di tahun 2002, kalau tak salah, saya beli patungan dengan Mahmud, kawan yang kutu buku tapi tanpa kacamata—demonstran tapi tak turun ke jalan.

Bukan karena uang kami kurang, sobat. Tapi karena bukunya, kebetulan, tinggal satu itu. Kami sepakat memilikinya bersama. Mahmud yang pertama membacanya, baru kemudian saya. Setelah itu kami sumbangkan.

Itulah, sepanjang ingatan saya, pertama kali saya memberikan buku kepada orang lain. Buku barang yang saya cintai selalu. Buku-buku saya adalah privasi saya, sehingga jangankan memberikan, meminjamkan buku saja saya hampir tak pernah. Bila ada teman yang ingin meminjam buku, perempuan sekali pun, yang cantiknya masya Allah, tetap saja tak bisa dari saya. Saya lebih suka menggeret dia ke perpustakaan, menguruskan keanggotaannya, dan silakan dia meminjam dari perpustakaan.

Hanya kepada Day saya meminjamkan buku. Itu pun dia harus mengembalikan dengan bunganya—yaitu minimal dengan selarik puisi.

Yang saya tarik ke perpustakaan itu diantaranya si Neng di suatu masa di antara 25 tahun saya kehilangan Day.

Kadang-kadang buku-buku saya dipinjam tanpa sepengetahuan saya. Biasanya satu dua buku yang saya bawa ke Sekretariat  kami di kampus, tempat dimana kita suka berkumpul hingga jauh malam dan akhirnya menginap.

Segera setelah sadar buku saya tak ada, saya menginterogasi semua orang dan memasang pengumuman di papan tulis putih besar (whiteboard) di dinding utama Sekretariat.

“Dicari, buku Catatan Pinggir 3, oleh Goenawan Mohammad, sampul hitam, punya Novi 302.Adri”

Si peminjam, setelah beberapa hari tak ada yang mengaku meminjam ataupun melihat, kemudia pasang pengumuman juga:

“Nov, trims bukunya, sudah saya balikin di loker kamu.”

Di bawah pengumuman dia, saya tulis ucapan terimakasih. “Terimakasih Windy.”

Hehehe, saya ada saja punya intelijen. Lagipula, meski di kalangan mahasiswa sekali pun, sementara ini tak terlalu sulit menduga siapa yang membawa buku kita tanpa izin.

Yang diperlukan, kata Hercule Poirot, adalah duduk sebentar dan biarkan sel-sel kelabu di dalam otak bekerja.

Fakta yang menyedihkan karena sebagian besar mahasiswa kita tetap saja tak doyan membaca. Itu membuat saya mudah menebak, hanya yang suka membaca juga yang meminjam buku saya.

Baru setahun ini lagi saya mulai suka memberi buku. Hari-hari ini masih sebagai suvenir atau tukar-menukar cenderamata. Bukan kebetulan selalu pas momennya.

Mei lalu, misalnya, saya membeli The Hobbit, bukunya JRR Tolkien yang dipajang di depan kasir Gramedia. Beberapa hari kemudian, saya berkesempatan mengunjungi Huliwa, Hutan Lindung Wehea.

The Hobbit bercerita tentang petualangan Bilbo Baggins di dalam Hutan dan bagaimana mereka membunuh Naga Smaug yang suka menumpuk harta. Saya membaca sepertiga terakhir buku itu di Wehea. Di Kampung Nehas Liah Bing di sela keriuhan festival Lomplai, dan satu bab terakhir di Stasiun Riset di tengah hutan di malam hari menjelang tidur.

Saya memberikan The Hobbit untuk Yatim, ranger yang menemani saya keluyuran di jalan-jalan setapak hutan sepanjang siang.

Yatim mengingatkan saya pada Strider, penjaga hutan yang berpatroli diantara Rivendell dan Shire dalam Lord of the Rings. Sayang tak ada Strider dalam The Hobbit, yang adalah pre-quel, cerita yang setting terjadinya sebelum kisah-kisah epik Lord of the Rings.

Kesadaran untuk berbagi dalam bentuk buku ini, untuk saya karena dicontohkan Iwan Piliang.  Bang Iwan Piliang ini suka memberi buku, yaitu buku yang sudah selesai dibacanya.

“Saya tidak terlalu punya waktu untuk mengurus buku-buku sekarang,” katanya. Jadi bila bukan buku referensi, buku rujukan, dengan segera si buku akan punya pemilik baru.

Andy F Noya, pembawa acara Kick Andy di MetroTV juga suka membagi-bagikan buku. Dengan kapasitasnya, ia dibantu penerbit buku atau penulis buku yang dibagikannya.

Seperti juga berbagi uang, memberi buku juga luar biasa. Apalagi memberi buku yang kiranya bermanfaat untuk mengubah isi kepala orang. Saya sendiri sering diberi buku dan sebagian buku itu juga mengubah cara saya memandang dunia.

Meski begitu, saya tetap saja menganggap buku privat. Saya memberikan buku yang sudah saya baca, tapi kemudian membeli lagi buku yang sama untuk disimpan.

Sepulang dari Wehea, saya membeli lagi The Hobbit, yang kali ini dibuka sampul plastiknya pun tidak.

Atau saya beli dua sekaligus (kalau lagi banyak uang, tentu—atau pas lagi ada diskon besar-besaran), dan satunya untuk diberikan.

Jadi, apa soal cintanya, Nov?

Saya jadi ingat ayah saya. Seperti orang Sunda, kami orang Banjar memanggil orangtua laki-laki dengan sebutan Abah.

Abah seorang guru, ia kemudian menjadi kepala sekolah. Salah satu yang pertama diberesinya ketika pertama kali menjadi kepala sekolah SD Arjuna di awal tahun 80-an itu adalah perpustakaan.

(Emm, sekolah ini tak jauh letaknya dari rumah masa kecil Day—jangan-jangan saya pernah bertemu dia saat kami masih imut begitu yaa.

“Mungkin. Tapi Ka Ida yang sekolah di situ pas tahun-tahun itu,” kata Day. Oh…I love you, really.)

Sekali-sekali saya ikut ke sekolah tempat kerja Abah. Oleh-oleh dari sekolah adalah sebungkus sate ayam yang lezat dan setumpuk buku untuk dibaca selama seminggu. Pun kalau saya tak sempat, Abah dengan senang hati membawakan setumpuk buku itu. Bukunya diikat tali rafia dan digantung di setang sepedanya, sebuah sepeda Phoenix warna hijau lumut.

Abah menumbuhkan kecintaan saya—adik-adik saya juga, kepada buku—hehe, mungkin awal cinta saya kepada Day juga.

Sekarang ia sudah pensiun. Masih suka membaca, suka mengaji, dan masih suka geleng-geleng kepala melihat kelakuan dan kebijakan pemerintah. Karena itu, dulu, sebelum keadaan menjadi sebebas sekarang, di tahun 80-an itu ia suka mendengarkan siaran radio gelombang pendek.

“Ini Radio Australia di Melbourne,”  katanya pada pukul 06.00 pagi, setelah kami mendengarkan siaran ceramah agama Islam oleh Ustaz Rafii Hamdie dari Radio Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Pada kesempatan lain ia menghadirkan BBC London dan kami sama-sama mendengarkan dentang lonceng Big Ben yang legendaris itu sebelum ia siap-siap berangkat kerja.

Kadang-kadang kami menangkap siaran Voice of America (VOA) dan Radio Belanda dari Hilversum untuk mendengarkan suara empuk Hilmar Farid.

“Abah PNS, tidak banyak yang Abah bisa lakukan karena berada di dalam sistem. Tapi Abah sebagai guru ingin kau tahu bahwa sudut pandang itu tidak milik satu orang atau satu rezim saja,” katanya.

Sore-sore, kami boleh menyetel tangga lagu rock yang digelegarkan Radio Ashbone (bacanya ‘asbun’, hahaha, itu singkatan dari ‘asal bunyi’) di 102.3 FM. Saya pun mulai memanjangkan rambut.

Tapi ia juga mengajak mendengarkan RRI, yang di Banjarmasin adalah RRI Nusantara 3, lalu kemudian menjadi RRI Banjarmasin saja. Penyiar hebat TVRI Sazly Rais pernah menjadi kepala stasiun di sini. Teman saya si Gorys juga bekerja di sini sambil kuliah.

Kami mendengarkan RRI sepulang sekolah. Setiap Sabtu pada pukul 13.30 ada acara Batanding Kesah yang dibawakan Ajamuddin Tifani. Ini acara yang seru—nanti saya cerita spesial deh.

Abah kami memerdekakan kami mulai dari cari berpikir sampai cara melihat persoalan. Bersama Mama, mereka memberi pilihan, bukan memaksakan pilihan. Ia suka mengutip apa yang dikatakan Muhammaad SAW, bahwa anak-anak memiliki zamannya sendiri.

Ia pun tahu kami selalu tidak puas pada pemerintah, baik sebelum reformasi maupun sesudah reformasi saat ini.

“Keadaan yang lebih baik itu harus diperjuangkan. Tugas kalian sekarang memperjuangkan itu,” nasihatnya.

Saya pun menjadi jurnalis. Adik-adik saya menjadi guru seperti kedua orangtua kami. Kami rupanya punya garis yang sama, tidak tertarik pada membuat perubahan langsung dengan aktif di politik, misalnya, tapi suka mengabarkan dan memberi pilihan-pilihan dengan harapan yang terbaik. ***

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan!