Expecto patronum!
the greatest fairy tale never told (Shrek)

Saya dibangunkan kokok ayam serak dari Ulefone Armor 13 yang saya taruh di samping kanan kepala. Pukul 04.30. Sebelumnya di tengah malam saya terbangun karena kedinginan. Entah bagaimana saya jadi keluar sleeping bag,
Saya masuk dan merapikan sleeping bag dan tertidur lagi. Pun dalam kesempatan sekejap itu, saya jadi mengevaluasi sleeping bag dan tenda saya. Sleeping bag: sudah tua, perlu yang baru yang setidaknya tahan suhu hingga -5 derajat Celsius.
Tenda: ini tenda baru, dan tidak ada masalah. Saya yang lupa pakai jaket lagi buat tidur. Dua lapis kaus ternyata kurang untuk menahan dingin di Sayur Asam, tapi sarung tangan wol dan kaus kaki cukup efektif.
Salat subuh, rebus air, bikin kopi-milo lagi. Menghangatkan nasi campur lagi, dan coba makan lagi itu nasi. Bisa dapat lima suap.
Badan saya jadi hangat. Saya siapkan bekal jalan. Wafer dan biskuit, setengah kaleng korned di plastik, 3 jeruk, air di bladder-penuh, air di botol Lock-Lock penuh, air di botol aqua-seperempat, obat-obatan. No payung. No GPS. HP yes.
Pukul 06.30 saya mengenakan kembali pakaian saya berhujan-hujan kemarin. Lembab. Dingin, Tapi 5 menit kemudian sudah tak terasa karena suhunya sudah sama dengan suhu tubuh. Pukul 06.40 saya menutup pintu tenda, berdoa, dan mulai jalan panjang ke puncak.

Tanpa beban, jalan saya jadi lebih cepat 2 kali lipat. Hanya 2 kali lipat, sobat, karena bagaimana pun ini mendaki, di jalan setapak sempit, dan saya belum pernah lewati sebelumnya, dan karena itu menikmati perjalanan dengan scanning, memandang semua yang ada di depan saya dan menyimpannya di memori.
Pukul 07.10 saya tiba di Pos 2. Lapangan luas datar yang dilindungi pohon-pohon lebat di sekelilingnya. Kalau mau dibandingan dengan lapangan bulutangkis lagi, luasnya lebih kurang sama dengan 2 lapangan bulutangkis berdampingan dengan pembatas meja untuk pakaian ganti pemain dan kursi wasit. Luas pokoknya, bisa buat 15 tenda agak lapang atau 20 tenda berdesakan. Apalagi bentuknya seperti bujur sangkar, persegi panjang yang kedua sisinya sama panjang.
Kalau dari bawah menuju ke puncak, kita muncul di Pos 2 dari pojok kirinya, dan setelah melintasi dua lapangan bulutangkis itu, keluar di pojok kiri atasnya, langsung belok kiri 90 derajat. Kalau dilihat lebih jauh ke atas, Pos 2 adalah sebuah sudut di mana jalan dari arah barat laut berbelok ke timur laut.
Jalan setapak mendaki di tengah hutan lebat. Saya senang bertemu beberapa pohon besar yang menghalang jalan, sehingga jalan sedikit memutari pohon.
Setelah itu, saya mencapai setiap pos dalam rentang lebih kurang satu jam atau satu jam lewat sedikit. Menyaksikan sampah bertumpuk-tumpuk di beberapa tempat camping di dekat setiap pos. Di setiap pos juga saya duduk sebentar untuk minum dan makan permen dan cokelat.
Pukul 11 saya tiba di Pos Mata Air. Ada tenda biru cukup untuk 4 orang di bagian yang paling rindang. Itulah tenda teman-teman yang disebut Omenk kemarin. Pasti semua masih di lereng, mungkin sekarang dalam perjalanan turun dari puncak.
Saya ingin ke mata air dan berjalan sampai awal setapak jalan ke tempat itu, tapi, seperti yang saya lakukan di Kalimati, Semeru; di Plawangan Sembalun, Rinjani, di dekat Pos 2, Kerinci, tiba-tiba berubah niat di tengah jalan.
Saya tertawa, entah mengapa. Balik kanan, dan langsung kembali ke trek ke arah puncak. Tak lama kemudian ada potongan batang-batang kayu di kanan jalan, yang dulunya pasti dari pohon tumbang yang menghalang jalan. Saya duduk di situ, minum, makan korned, makan cokelat. Ini makan siang saya.
Pukul 11.55 saya akhirnya bertemu Aris dan kawan-kawannya. Mereka 3 lelaki dan satu perempuan. Saya minta tolong mereka untuk melapor ke Basecamp, sebab ternyata radio saya mati-kehabisan batere.
Senang juga ketemu orang lain setelah hampir dua hari tak ketemu siapa-siapa. Anak-anak muda itu bahkan memberi saya air mereka, satu botol plastik besar yang isinya masih separo lebih.
“Terimakasih banyak. Saya pas turun nanti baru mampir mata air,” kata saya.
“Ya mas. Kami setelah sampai tenda istirahat sebentar, baru langsung turun,” kata Aris.
Kami bersalaman dan saling mendoakan. Tak lama kemudian, saya tiba di batas vegetasi. Membentang di depan saya lereng terjal yang gersang dengan batu-batu besar. Rasanya sungguh menggetarkan. Nun tinggi di sana, Puncak Slamet berpayung awan dan tidak kelihatan.
Kompak dan Gupala menandai trek dengan cat putih dan tiang-tiang kecil dari besi beton setinggi lebih kurang setengah meter. Pada sebagian besar tiang-tiang itu ada tanda panah penunjuk arah, ada juga yang tanda panahnya sudah hilang entah kemana. Pada tiang yang tak ada tanda panahnya, ada botol plastik 600 mililiter, yang pada tengah hari bolong begini bisa memantulkan cahaya.
Langit biru dan matahari bersinar garang, namun awan putih bertebaran. Sekali-sekali awan yang melayang dekat tanah, yang kita sebut kabut, melingkupi jalan dan membatasi pandangan. Bila masih dapat melihat tanda panah berikutnya, saya akan jalan terus. Bila tak terlihat, saya berhenti dan mencari.

Tidak ada jalan dalam arti jalan setapak menuju ke puncak, kecuali sedikit di ketinggian 3.420an menuju gigir kawah. Karena itu Kompak dan Gupala membuat titik-titik dan tanda panah untuk diikuti dimulai dari batas vegetasi. Sebagai awalannya di pohon terluar diberi tanda dengan bendera merah putih kain dan rangkaian bendera merah putih plastik, bendera yang biasa kita pakai untuk dekorasi memeriahkan Hari Kemerdekaan.
Selanjutnya, pada batu tertentu, dikuaskan tanda panah dengan cat putih. Cat itu juga pemandu mereka yang suka summit attack dinihari karena bila tersorot sinar senter agak berpendar.
Seperti selalu juga, kesabaran dan ketabahan diuji. Lereng puncak Slamet adalah lereng terjal penuh dengan batu segala ukuran: di dasar di batas vegetasi ada batu segede rumah, sebesar mobil, seukuran kepala orang, segenggaman tangan, dan banyak kerikil seperti kelereng.
Saya maju dan naik titik demi titik pelan-pelan. Bila bosan, saya melihat ke belakang dan ke bawah, menikmati pemandangan dan istirahat sejenak. Kadang menyesap air dari bladder yang ada di dalam ransel.
Matahari bersinar sangar. Langit biru cerah di atas puncak, tapi awan-awan berkumpul di sisi utara-barat laut. Bahkan saya melihat hujan turun dari awan hitam di atas hutan di sisi itu.
Saya berkeringat dan gerah, karena itu menurunkan risleting jaket dan melepas sarung tangan. Kadang-kadang ada angin semilir yang membawa awan dan menyejukkan. Namun kadang juga, sergapan awan dan angin itu bisa menggentarkan. Suhu di sekitar kita tiba-tiba turun dan suasana menjadi temaram. Dan saya biasanya langsung merendahkan badan, berjongkok karena takut dan gentar sambil merapal hauqalah. Sungguh kita kecil dan tidak ada artinya di hadapan alam semesta ini, apalagi di depan yang Maha Perkasa, la haula wala quwwata illabillah.

Tapi kadang saya merasa seperti Harry Potter yang dirubung para dementor—kalau kata pelawak Tukul, itu makhluk astral yang ditampilkan dengan jubah bertudung serba hitam terbang berputar mengelilingi korbannya, menyedot energinya, dan meninggalkannya merana.
Di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts, dementor dapat diusir dan dilawan dengan patronus. Patronus = patron = teman = khodam (😊). Patronus setiap orang ada di dalam tongkat sihirnya masing-masing, dan bisa dipanggil keluar dengan merapal mantra patronus:
”Expecto patronum!”
Saya acungkan tongkat duralumin seperti menodongkan tongkat sihir dari kayu yew ke para dementor yang semakin mendekat.
Sekejap sang musang gunung, (Diplogale hosei) patronus saya itu, keluar dari ujung tongkat dan menerjang. Berputar-putar menyeruduk dan mengibas-ngibaskan ekornya, membuat para dementor berhamburan tak tentu arah.
Angin bertiup lagi dan awan yang memerangkap itu meneruskan perjalanannya ke dataran rendah. Sampai nanti giliran awan-awan itu ditangkap oleh hutan dan diambil hujannya.
Matahari kembali muncul dan bersinar garang.
Sebelum kalian bertanya, saya seorang Slytherin. Yep, satu asrama dengan Tom Riddle alias Lord Voldermort himself walau beda angkatan jauh. Saat saya, wali kelasnya Profesor Severus Snape. Saat Tom, ahli ilmu ramuan Profesor Horace Slughorn.
Saya tersenyum sendiri, Sang Musang pun kembali masuk ke dalam tongkat duralumin .
Pukul dua siang tibalah saya di ‘ujung jalan’ menuju puncak. Lebar, tapi karena terbentuk dari kerikil yang longgar, maka kita akan merosot sedikit tiap kali menapaknya. Tidak separah seperti di Semeru memang yang kerap disebut 3:1, naik 3 langkah dapatnya sama dengan 1 langkah.
Maka saya maju tanpa menoleh ke belakang lagi. Apalagi tak berapa lama kemudian terlihat semacam tugu berwarna oranye.
Tepat pukul 14.20, saya berdiri di depan tugu yang dibuat para polisi dari Kepolisian Resort Tegal untuk menandai komandannya pernah menjejakkan kaki di puncak Gunung Slamet, 3.426 meter dari permukaan laut.
Dan ada 2 plakat lain, disemen di tanah tak jauh dari tugu oranye itu. Isinya lebih kurang sama, namun dari dua kapolres berbeda, atau saya yakin begitulah.

Siapa yang membuat tugu semen itu coba? Tidak mungkin digotong dari bawah. Berat sekali. Artinya dibuat di tempat, di puncak itu. Artinya pula, siapa pun yang membuat bermalam setidaknya 2 hari di puncak. Semen dan air mungkin dibagikan ke setiap anggota tim, dan dibawa ke puncak. Satu zak semen 40-50 kg, dibagi per 2 kg dan dibungkus ulang ke dalam plastik gula, dibagikan ke 10-15 orang polisi muda yang baru lulus pendidikan. Mungkin ada tim yang khusus bolak-balik membawa air dari Pos 4.
Menarik ya. Tapi tidak susah membayangkan itu kalau polisi yang melakukan. Mereka punya rantai komando, punya sumber daya manusia, punya sumber daya lain-lain. Pak Kapolres ya tinggal perintah.
Maka saya berfoto dengan latar tugu pencapaian Pak Kapolres Tegal itu. Seperti biasa juga, saya selalu tampak kucel, tidak fotogenik, tapi tak ragu untuk memberikan senyum terbaik.
“Kamu tu mirip Donkey,” kata si Butet itu pada satu kesempatan. Ia tergelak. Yang dia maksud adalah keledai teman Shrek yang gemar tersenyum dengan semua giginya tampak di kamera.
“And you are Princess Fiona,” kata saya dengan seringai lebar. Kalau malam, Princess Fiona kan jadi ogre juga, hehehe.
Saya juga bersyukur atas kesempatan sampai di puncak dalam cuaca cerah, badan sehat, pikiran jernih, tak kurang suatu apa pun jua. Alhamdulillah.
Lupakan soal patronus dan dementor tadi ya. Hahaha. ***
