Berteman Burung dan Kura-kura

Posted on Updated on

The real things haven’t changed. It is still best to be honest and truthful; to make the most of what we have; to be happy with simple pleasures; and have courage when things go wrong.

Laura Ingalls Wilder

Nahhh, ini kan burungnya?
Begini penampakan burung Anis Gunung (Turdus poliocephalus). I don’t have any information who owns the pic, but the credit is yours, buddy)

Dari gerbang pendakian sampai akhirnya ke batas kebun penduduk, jalan menanjak bertahap dan nyaris tidak terasa. Bagian terjal hanya di awal setelah masuk gerbang, lalu mendaki lebih kurang dua puluh meter. Setelah itu kemiringan lereng tak lebih dari 10 derajat.

Hutan di Slamet adalah hutan homogen, hutan pinus dari spesies Pinus merkusii yang dikelola oleh PT Perhutani dengan mitra antara lain Kompak dan Gupala.

Jalan yang melintang di tengah kebun-kebun penduduk itu berupa jalan dengan perkerasan batu-batu kali. Hujan dan air mengikis sebagian tanahnya. Ketika saya lewat, jalanan sedang berubah menjadi anak sungai.

Di kebun-kebun itu ada pondok-pondok. Ada motor terparkir, tapi tak ada orang kelihatan. Di batas kebun terakhir, jalan batu habis, masuk ke jalan tanah lebar dan kembali berada di bawah hutan pinus sampai di percabangan T. Ada tanda panah menunjuk ke kiri. Yang ke kanan mungkin hanya ke sungai.

Saya sempat istirahat sejenak di tikungan jalan yang meninggalkan kebun-kebun, makan satu wafer cokelat dan minum. Dari tikungan itu, jalan setapak masih lebar senyaman dua orang berjalan bersisian. Tak lama rasanya saya pun tiba di Pos 1, 1500 m dari permukaan laut.

Pukul 13.30. Di bangku panjang yang dibuat dari batang-batang pohon di dalam pondok saya duduk dan melepaskan sejenak carrier. Menurut aplikasi Geotracker ini, kecepatan jalan saya 2-3 km per jam, hahaha. So slow. Hanya sedikit lebih cepat dari kura-kura yang 1,6 km per jam. Tapi hikmahnya, napas saya tetap teratur dan senyum tetap mengembang. Yang tak bisa dihindari adalah basah kaus karena keringat, sementara jaket juga basah luarnya sebab hujan.

Tak lama saya istirahat. Bila badan terlanjur dingin, susah nanti untuk bergerak lagi.

Dan mulailah pendakian yang sesungguhnya. Dari Pos 1 ini, jalan mulai menanjak terjal tak putus-putus. Kecuali sekitar 10 menit dari Pos 1, kita akan mendapat jalan relatif datar lebar, bahkan menurun sedikit sepanjang sedikit lebih 100 meter. Namun setelah itu, kembali menanjak.

Buat kalian yang mungkin belum pernah jalan-jalan ke jalan setapak di gunung, yang disebut ‘jalan menanjak’ di gunung di bagian awal pendakian, biasanya adalah jalan datar sepanjang beberapa meter, lalu, seperti anak tangga, naik dalam tinggi tertentu ke jalan datar berikutnya.

Kenaikan permukaan jalan itu bisa hanya sekitar 10 cm, sedikit mengangkat kaki bereslah. Bisa setengah betis sehingga perlu tumpuan otot quad (otot besar di paha samping itu, kawan) untuk melewatinya. Sering juga setinggi lutut, dan kadang-kadang setinggi pinggang. Kalau sudah sampai seperti itu, maka tangan juga diperlukan untuk menarik badan naik.

Semakin tinggi kita naik, panjang jalan relatif datarnya semakin pendek dan tanjakannya semakin ekstrem. Di batas vegetasi hingga puncak, medannya benar-benar seperti kerucut atau piramid. Relatif tidak ada bagian datar. Hanya derajat kemiringannya saja bervariasi.

Jalur pendakian di Gunung Slamet di sisi Guci ini juga kerap tertutup di bawah daun dan ranting tumbuhan perintis seperti paku-pakuan. Air hujan yang tertahan di dedaunan dan ranting itu juga membuat basah.

Kadang-kadang jalur itu ada di punggungan, artinya kanan jurang, kiri jurang. Tak terlihat dasarnya karena tumbuhan rapat menutupinya. Sepertinya tidak dalam, tapi apa pun yang menggelundung ke bawah situ, tak akan mudah dilihat dari atas sini karena lebatnya tumbuhan.

Saya meneruskan perjalanan dengan kecepatan 3 km per jam itu. Diselingi sekali-sekali duduk di tanjakan. Terasa belum jauh juga dari Pos 1, ada tiang dari beton berwarna putih setinggi lutut penanda trek seperti di Semeru. Tapi Slamet ternyata hanya punya satu saja.

Kenapa satu saja ya. Saya lupa menanyakan itu kepada mereka di basecamp. Di tiang itu saya taruh carrier dan istirahat sebentar. Minum, dan lanjut jalan lagi.

Hujan sudah benar-benar berhenti, tapi sisa-sisa air di daun dan ranting tetap membuat basah. Sesekali saya melihat burung berwarna hitam dengan paruh kuning tajam. Tak pernah lebih dari seekor, terbang dari ranting ke ranting, seperti menunggu saya melewati ranting tempatnya hinggap sebelum pindah ke ranting lain. Mungkin itulah yang disebut burung jalak gading, atau anis gunung (Turdus poliocephalus).

“Halo burung,” saya menyapa. Burung itu menatap dengan satu sisi matanya, mengangguk cepat, lalu meloncat menunggu di ranting berikutnya.

Dan, hup, … tiba-tiba ada lapangan terbuka. Kecil saja, seluas setengah lapangan bulutangkis kira-kira. Di satu pohon di kanan jalur atau timur lapangan kecil itu dipaku tinggi satu plat seng bertulis huruf balok army putih: Sayur Asam.

Satu sisi lapangan kecil itu, hampir separuhnya, berada di antara dua batang pohon tumbang. Kedua batang pohon itu mau tidak mau membuat orang berjalan melingkar mengambil sisi timur, baik yang mau naik atau pun yang turun.

Foto lama Pos Sayur Asam di Wikiloc. Pas saya bermalam di situ, papan penunjuk yang biru itu sudah tidak ada.

Di antara kedua batang tumbang, selain tanah relatif datar, ada bekas parit kecil, membuat tanah di sisi dalam padat dan kering. Siapa pun dulu di masa lalu, pernah mendirikan tenda di Sayur Asam. Mereka lebih dari seorang dan memutuskan istirahat membuat camp jauh sebelum hari gelap. Mungkin sekali juga di musim hujan seperti ini, Karena itu membuat parit dengan sekop lipat di sekeliling tendanya, yang adalah tenda dome untuk 4 orang.

Mereka itu juga kesorean seperti saya, saya membatin.

Saya melihat arloji. Pukul 16.30. Baiklah, kita bermalam di sini saja, di Sayur Asam.

Kenapa namanya Sayur Asam, tanya saya pada Obenk di malam saat baru tiba, sambil melihat peta jalur di dinding basecamp. Semua tertawa saja. Barangkali itu sebenarnya makian, “Asemmm …” karena jalan mendaki atau apalah. Tapi karena memaki tidak baik di Gunung, maka mereka memodifikasinya menjadi ’Sayur Asam’ itu. Barangkali loh ya.

Tapi saya suka sayur asam. Satu jam kemudian tenda saya sudah berdiri di bawah lembaran gantung yang meyakinkan. Saya kekurangan pasak, tapi di lapangan kecil itu ada akar-akar di mana kita bisa menyelipkan tali di bawahnya, dan juga ada ranting yang bisa dibuat pasak.

Hampir pukul 6, saya sudah berganti pakaian dan sedang menunggu air mendidih. Saya kering dan hangat, namun kehilangan selera makan. Hanya minum yang saya ingin. Ada milo, ada kopi sachet nescafe, nah mana teh kita, …

Saya mau minum teh, tapi tidak menemukan teh celup Tong Tji yang sebelumnya saya selipkan di antara panci-panci Trangia. Tak apalah. Saya bikin milo campur kopi plus gula dan dengan susah payah berusaha menelan nasi campur dari Bu Eli yang saya beli sebelum berangkat. Mungkin saya hanya makan tiga suap.

Saya lalu merapikan tenda dan menggabungkan salat magrib dan isya. Rencana saya, besok saya akan langsung ke puncak dari Sayur Asam ini. Cukup bawa air dan bekal makanan dan obat-obatan. Karena ringan, saya yakin bisa jalan lebih cepat.

Saya hidupkan radio dan melapor ke Basecamp Gupala. “Copy mas, di Sayur Asam ya.” Mungkin itu Omenk atau siapa, yang jelas bukan Obenk, hehehe.

“Roger. Saya hangat, kering, dan kenyang.”

“Mantap. Ntar lanjut naik atau gimana mas?”

“Saya nge-camp di Sayur Asam, baru lanjut ke puncak besok pagi. Dari puncak turun juga kembali ke Sayur Asam, dan istirahat bermalam lagi, baru turun ke basecamp besok Senin.”

“Copy mas. Silakan istirahat. Standby.”

“Ok, roger.”

Semula saya ingin menulis sedikit di catatan harian. Mungkin tentang hari-hari yang saya alami bersama si Butet itu. Tapi pukul delapan lebih kurang, saya mulai memejamkan mata, dan segera terlelap. 

***

Tinggalkan komentar