Ketika Perjalanan Turun Begitu Menyenangkan

Posted on

Dari Shelter 3, nun di bawah hamparan kebun teh dan rumah-rumah di Kayu Aro. (noviabdi) 

karena ku tau engkau begitu, my bestie

“Saya Dimas, Bang. Asal Tangerang,” katanya lemas. Dimas ini sakit perut dan kena diare. Separo kakinya di luar tenda.

“Iya, saya bertemu teman-temanmu dekat Shelter 3,” kata saya. Saya minta ia masuk sepenuhnya ke dalam tenda dan berganti pakaian kalau pakaiannya basah.

Saya juga berganti pakaian, lalu merebus air dan membuat teh kental. Saya pakai kompor gas, dengan gas yang saya temukan di jalan tadi. Untuk makan malam, ada 2 porsi Indomie jumbo. Dari tas obat saya keluarkan obat antidiare.

“Ini minum ntar setelah makan, 2 biji sekaligus,” kata saya.

Selain Diatabs, saya juga bawa Norit sebagai obat antidiare. Bahan aktifnya attapulgite itu.

Dengan teh manis kental, Dimas jadi tampak segar. Lalu kita makan malam. Indomie-nya terasa hambar, tapi kami terus makan. Saya hanya menambahkan kecap. Dimas lalu minum obat.

“Nanti tengah malam minum 2 lagi,” saya ingatkan. Saya suruh ia menyiapkan tisu toilet dan memberitahu arahnya bila dia harus segera memenuhi panggilan alam itu.

Kami lalu merapikan tenda agar tidur nyaman. Saya lalu menemukan kenapa Indomie-nya terasa hambar. Hahaha, bumbunya lupa dimasukkan. Ya sudahlah. Mungkin malah bagus mengurangi makan garam, hehehe.

Mungkin sekitar pukul sepuluh malam, saya masuk sleeping bag dan sebentar kemudian tertidur dengan miring ke kanan.

Kami bangun pagi sekitar pukul setengah enam. Kata Dimas diarenya sudah berhenti dan merasa jauh lebih baik. Saya tetap minta ia minum obatnya sekali lagi dan satu multivitamin. Sambil sarapan ia mempertimbangkan apakah ikut saya turun, atau melanjutkan perjalanan naik menemui kawan-kawannya.

“Kalau naik, bareng rombongan dari bawah. Mungkin mereka yang menginap di Shelter 1 akan lewat sini sekitar pukul 8-9,” kata saya. Saya kira pada jam sekitar itu juga yang dari Shelter 2 turun akan lewat tempat kami menginap itu.

Pada pukul setengah delapan sinar matahari yang jatuh miring memanaskan daun pepohonan di sisi seberang jalan setapak. Camp kami terasa hangat, dan saya mulai packing. Begitu juga Dimas. Walaupun terlihat belum pulih sepenuhnya, ia sudah merasa kuat kembali. Dimas memutuskan untuk terus lanjut naik.

Packing beres dalam satu jam. Kami duduk-duduk santai menunggu sambil membersihkan area itu. Pada pukul 9 yang pertama kami temui ternyata yang turun.

“Hei, Kak Ros.”

“Hei, Adik Novi. Oh, kamu camp sini?”

“Loh Kak Ros tidak ikut ke Danau Tujuh?”

“Tak lah. Letih sangat. Adik mau turun sekarang?”

“Iya Kak Ros. Tapi tunggu Dimas dapat kawan naik dulu,” kata saya.

Rupanya Kak Ros tak ikut rombongan Johan-Baba dan lain-lain yang turun gunung segera setelah kembali ke Shelter 3 kemarin. Ia istirahat saja sepanjang sore, dan menikmati keindahan pemandangan di Shelter 3. Kak Ros dikawani khusus oleh Fander Christopher yang penyabar itu.

Jalan di depan camp saya itu ternyata sangat curam. Kemiringannya mungkin 50 derajat lebih. Kalau sudah terang begini baru semuanya terlihat. Kak Ros dan Fander menuruni jalan itu perlahan, namun sebentar kemudian sudah tak terlihat lagi di belokan jalan.

Pukul setengah 10 barulah muncul rombongan pertama yang naik. Mereka yang menginap di Shelter 1. Dimas saya titipkan di mereka. Dia sudah sepenuhnya segar sekarang. Kami berjanji untuk tetap saling kontak.

“Kalau abang main ke Tangerang, telpon aja. Atau kalau ada masalah dengan JNE,” katanya. Hahaha, Dimas memang karyawan JNE, dan bekerja sambil kuliah.

Ransel saya sudah jauh lebih ringan, walau masih ada sedikit bekal yang cukup untuk 2 kali makan lagi. Gas dari kaleng gas yang saya temukan tepat habis setelah 2 kali masak. Saya memasukkan kantong plastik sampah di bagian atas carrier, berdoa, dan mulai berjalan turun.

***

Trek di Kerinci, lurus dan sederhana, dan menyiksa. (noviabdi)

Dalam perjalanan turun ini, saya terkagum-kagum pada mereka yang mau naik. Ada rombongan regu perempuan pramuka dengan pembinanya, ada banyak pendaki dari mana-mana dengan berbagai gaya, baik gaya jalan maupun gaya busana. Ada yang penuh percaya diri, ada yang sepertinya tidak percaya apa yang sedang dilakukannya.

Mendaki gunung memang bukan monopoli para pencinta alam atau penggemar olahraga ekstrem. Siapa saja bisa dan boleh melakukannya. Hanya saja, agar bisa dinikmati dengan benar, baiklah semuanya yang ingin naik gunung mempersiapkan diri dengan layak. Persiapan fisik, mental, peralatan, dan finansial diperlukan.  

Pukul 11 saya sudah sampai di Shelter 1, istirahat sebentar, dan segera lanjut turun. Pukul 12, Pos 3. Pos ini penuh oleh mereka yang turun dan yang mau naik. Terlebih gerimis turun sehingga banyak yang menunda sebentar perjalanan. Setelah duduk beberapa lama, lalu ada yang mengeluarkan kompor. Nah, memang ini saatnya makan siang.

Entah siapa yang memulai, kami mengumpulkan nesting, gas, dan kompor, dan bahan makanan. Saya menyumbangkan 2 Indomie jumbo dan setengah korned yang tersisa, dan satu dari 3 rangkap panci-panci nesting. Ada yang menyumbang teh, gula, menyediakan sendok dan cangkir.

Dengan 2 kompor kami memasak di sudut bangku panjang di bawah Pos 3. Satu untuk memasak air. Satu lagi untuk Indomie berbagai rasa yang kami campur begitu saja dengan korned dan sarden. Segera teh hangat dua cangkir besar tersedia.

“Mari, dapur umum sudah siap,” kata saya. Kawan-kawan tertawa. Masakan yang ada itu cukup untuk 6 orang, dan habis tandas tak bersisa. Kami semua senang. Baru disadari semua yang menyumbang bahan makanan dan makan bersama itu semua yang mau turun.

“Lumayan meringankan beban,” kata seseorang. Pernyataan itu membuat saya mengecek lagi ransel, dan menemukan beberapa bungkus energen. Segera juga bubuk sereal itu kami masukkan bersama air hangat ke cangkir besar melamin milik saya, dan kami minum bergantian. Kali ini bahkan tidak hanya kami berenam, tapi hampir semua yang duduk di lingkaran bangku di Pos 3 itu. Kami semua tertawa.

Saya terharu juga. Bagaimana hutan dan alam ini membuat kami saling percaya. Minum dari satu cangkir untuk orang sebanyak ini, siapa yang mau di bawah sana? Di sekretariat mahasiswa pencinta alam pun barangkali hanya diantara mereka saja, tidak dengan kawan dari luar sekretariatnya. Di sini, saat itu, bahkan kami tidak saling kenal nama.

Gerimis membesar, membuat minum minuman hangat mengenyangkan itu jadi nikmat sangat.

Dan saya masih ketemu sebungkus L-Men, hahaha, yang saya berikan kepada cewek yang sedang minum energen kami itu.

“Lah, aku kan cewek mas,” protesnya. Hahaha.

“Ambil ajalah,” kata saya. Kita tahu ia dalam perjalanan naik.

Lalu sebagian yang lain membantu kami mencucikan peralatan masak dan makan itu. Sekali lagi hujan memudahkan. Tidak ada yang memerintahkan, tidak ada yang minta tolong. Saya tinggal mengelap dengan tisu, dan packing.

Seperti sudah diatur, hujan berhenti setelah saya selesai packing dan siap berangkat. Saya mengucapkan terimakasih atas semua bantuan, baik saat memasak, menghabiskan makanan dan minuman, dan membersihkan peralatan. Ini boleh jadi hanya kejadian di Indonesia. Seperti di acara kondangan, kami semua bersalaman dan saling mendoakan. Insya Allah semua selamat sampai tujuan, baik yang turun maupun yang baru mau naik.

Hampir 2 jam lewat ternyata kami tertahan di Pos 3 itu. Saat saya berada di trek lagi, saya lihat arloji saya menunjukkan pukul dua siang lewat.

***

Karena medannya yang curam, licin, dan kadang harus menuruni akar-akaran, kecepatan turun dari Kerinci tidak terlalu berbeda dari saat naiknya untuk saya. Hanya lebih mudah, karena memang turun. Dan ada saja anak-anak muda yang turun bergegas, bahkan berlari dan berloncatan. Saya tak bisa ikut gaya seperti itu. Kalau engkel saya terkilir, bukankah saya membuat masalah yang tidak perlu.

Mungkin hampir pukul 4 sore ketika saya tiba di Pos 2. Untuk pertama kalinya saya bertemu petugas resmi dari Taman Nasional Kerinci-Seblat. Mereka duduk-duduk di batang pohon yang tumbang di sisi kanan jalan turun.

“Di situ ada mata air mas,” kata seorang ranger, menunjuk ke jalan setapak yang masuk ke pepohonan lebat.

“Walau airnya tidak terlalu enak. Agak asam-asam, gitu,” sambung kawannya. Oh kenapa?

“Kami kurang tahu, mas. Mungkin ada kandungan zat besi. Tapi cukup layak minum karena tidak pernah ada laporan ada yang sakit sebab minum dari air dari situ,” jelas ranger yang pertama. Saya lihat airnya cukup jernih, tapi memang rasanya agak sedikit asam. Memang, disarankan untuk tidak minum air dari sumber air begitu saja. Direbus dulu tidak ada ruginya.

Para ranger ini sedang istirahat dari patroli dan juga dalam perjalanan menuju Shelter 3. Mereka memperhitungkan akan tiba di Shelter 3 sekira pukul 9 malam. Ranger dilawan, … hehehe.

Pukul setengah lima baru saya meneruskan turun. Lagi-lagi saya menjadi yang terakhir dan tak ada lagi orang turun di belakang saya. Namun dari Pos 2 ke Pos 1 Bangku Panjang sudah bisa ngebut.

Ketika sampai di Pos 1, walau baru mendekati pukul setengah 6, hari sudah terasa gelap karena sinar matahari sudah banyak terhalang pepohonan. Saya berhenti sebentar hanya untuk mengeluarkan headlamp, merapikan lagi ransel, dan minum sedikit serta menghabiskan cokelat. Saya pakai headlamp, tapi belum menyalakannya.

Trek becek dan licin selanjutnya, meski datar, menghambat kecepatan saya. Seperti video yang diputar mundur, saya ingat batang-batang pohon tumbang yang menghalang jalan dan bagian-bagian yang becek. Suara-suara serangga hutan mulai ramai terdengar.

Pintu Rimba, awal dan akhir pendakian Kerinci. (noviabdi)

Tepat alarm waktu magrib di Balikpapan, saya tiba di Pintu Rimba. Saya mengucap syukur, lalu menyalakan headlamp. Jalan menurun dan segeralah saya mencapai R10. Dari sini lampu-lampu di bawah terlihat begitu mengundang. Saya tak lagi berhenti dan terus berjalan, jalan berbatu dan melewati kebun-kebun, kemudian sebuah warung di sebelah kanan, akhirnya, jalan aspal dan kebun teh di pertigaan.

Inilah garis finish, juga tempat start perjalanan mendaki Kerinci 2 hari sebelumnya. Pertigaan yang ramai oleh para pendaki yang baru turun, dan beberapa mobil yang menjemput.

Handphone, ah, hahaha, saya berbunyi. Untung tadi saya sudah mulai menghidupkan kembali handphone di Pos 1.

Johan yang menelpon. Ia bilang ia menyuruh adiknya menjemput saya dengan mobil pickup.

“Abang ke basecamp dulu ya. Nanti saya bawakan barang-barang abang yang ada di sini,” kata Johan.

“Di sini” itu maksudnya di rumah tempat kami bermalam saat datang. Saya menitipkan di rumah itu laptop dan beberapa barang yang saya perlu buat bekerja, tapi tak terpakai di hutan.

Saya juga sudah bilang saya ikut jadwal mereka kembali ke Padang, yang adalah Minggu malam itu. Mungkin sekitar pukul 10 malam, katanya. Okay.

Adiknya Johan juga segera mengenali saya. Gampanglah itu, ‘sendirian, berkacamata, berambut gimbal panjang, dan suka tersenyum lebar, …” hahaha. Ia pun mengangkat dan menaruh carrier saya ke pickup.

“Abang kalau mau istirahat dulu, silakan. Ini kawan-kawan yang barengan ke basecamp juga masih pada istirahat,” katanya.

Di pertigaan itu ada warung teh dan goreng pisang. Wuih, teh kayu aro kental manis panas yang masih berkepul uapnya, dengan pisang goreng, diminum saat angin dingin Kerinci mulai tajam menggigit.

Saya menyesap teh pelan-pelan saat suhunya sudah nyaman untuk melewati tenggorokan sambil duduk di samping unggun yang dibuat suami si mbok yang punya warung. Mereka berbahasa Jawa. Mereka generasi kesekian dari tenaga kerja yang didatangkan Belanda saat pertama kali membuat perkebunan teh Kayu Aro di Kerinci ini.

“Tehnya enak, Bu,” kata saya, sambil minta gelas kedua dan mencomot pisang goreng yang ketiga.

Segelas besar begini teh di warung itu. Dan saya menghabiskan 2 gelas. (dodywiraseto/lionmag)

“Iya nak, teh racikan sendiri,” senyum si ibu. Daun tehnya didapat dari sisa sortiran untuk pabrik teh Kayu Aro. Baru sisa sortiran, apalagi yang pilihan yang diekspor dan jadi kegemaran Ratu Inggris, Ratu Elizabeth II.

God save the queen. 

Barulah saya merasakan perjalanan mendaki Kerinci sudah berakhir, secara resmi. Dingin angin malam di lembah membuat bulu kuduk meremang. Saya mengenakan jaket untuk menahan panas badan sambil terus minum teh hangat kelas dunia dari perkebunan terluas di dunia, di warung sederhana di pinggir kebun itu, di kaki gunung berapi tertinggi di Indonesia.

***

Post Script atawa PS:

Saya sedang malas bikin catatan kaki. Sebagai gantinya, saya lampirkan video ini saja ya. 

Hehehe, begitulah ya.

Mari kita nyanyi bareng Dodit dan bantu dia merayu Tasya, … (I am a serious guy, anyway)

Tinggalkan komentar