Tenang, Kenyang, Senang

Posted on Updated on

Shelter 3 di saat cerah. (trip advisor)

DENGAN perasaan baru dan semangat baru, dan jalan yang jelas terlihat meski masih di dalam kabut, saya melenggang turun. Kira-kira pukul setengah dua saya sudah tiba di ketinggian dekat Shelter 3. Saya mengeluarkan kamera dan memotret pemandangan setelah keluar dari kabut.

Kubah tenda-tenda yang berwarna-warni berkumpul di tengah Shelter 3, lereng Kerinci di latar kiri, dan langit putih berawan di atasnya.

Tepat saat saya menyimpan kamera ke dalam ransel, terdengar suara langkah kaki dari belakang. Wah wah, Rahmat dan 2 pendaki Papua, …

“Hanya 5 menit di puncak, foto-foto sebentar, sudah,” katanya.

Dengan langkah yang lebar setengah berlari, mereka bahkan tiba lebih dulu di Shelter 3, berbarengan dengan hujan yang mulai turun kembali. Rahmat, para pendaki Papua, dan saya pun menumpang berteduh di tenda tempat saya sarapan pagi tadi.[1]

***

Tuan tenda yang baik[2] membuatkan tamu-tamunya teh hangat. Ada biskuit juga. Sambil memandang tetesan air yang jatuh di ujung flying sheet, saya mengenang apa yang baru saya alami. Saya bersyukur saya selamat melewatinya. Meski juga gugup, saya masih bisa berpikir jernih untuk mengambil langkah penyelamatan diri. Kalau saya tidak naik kembali, belum tentu saya mendengar suara Rahmat.

Hujan berlangsung hampir satu jam. Sudah menjelang setengah tiga sore ketika berhenti dan matahari muncul dari balik awan. Sinarnya yang keemasan kembali membuat alang-alang dan semak yang basah berkilauan. Rahmat dan 2 kawannya langsung tancap gas turun, sementara saya bersama 2 kawan dari tenda tempat kami berteduh itu turun ke ceruk mata air. Saya mengisi penuh 2 botol kapasitas 1,5 liter yang saya temukan di jalan untuk dibawa pulang ke tenda saya.

Saat kembali ke atas untuk pamitan, ada yang memanggil saya. Tenda kuning tetangga tenda saya berteduh itu ternyata tenda Kris dan kawan-kawannya[3]. Mereka sedang memasak makan siang.

“Kami naik pagi tadi dari Shelter 2. Besok kami baru ke puncak, Bang,” kata Kris.

Nasi di panci baru mau akan mendidih. Mereka mengundang makan siang. Susanto bilang ada ikan asin, sarden, dan abon. Perut saya berkeruyuk. Hahaha. Baiklah, kita tunggu nasi masak sambil ngobrol di dalam tenda.

Anak-anak muda itu mengeliling saya dan kita berbagi pengalaman sambil minum teh. Mereka bertanya kenapa saya pergi sendirian.

“Karena saya memang tidak punya kawan di kampung saya untuk diajak,” jawab saya. Lagi pula toh sebenarnya dalam perjalanan kita tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada kawan.

Lalu seseorang bertanya. “Kenapa abang naik gunung?”

Kenapa saya naik gunung? Kenapa mereka naik gunung? Kenapa kami semua ada di gunung itu, dan di gunung-gunung lain di mana saja?

Saya merasa tersanjung. Pertanyaan itu sudah berumur ribuan tahun[4], dan jadi populer kembali ketika seorang jurnalis menanyakannya kepada George Mallory, yang 3 kali mencoba menaklukkan Everest, gunung tertinggi di dunia. Jawaban Mallory juga terkenal, dan sering dikutip versi pendeknya. “Because it’s there.”[5]

Sutradara Baltasar Komarkur pun memberi satu adegan khusus untuk pertanyaan ini di film Everest tahun 2015. Jon Krakauer, jurnalis majalah Outside yang juga anggota tim Adventure Consultant yang dipandu Rob Hall, bertanya kepada teman-temannya sesama anggota tim; Doug Hansen, Yasuko Namba, Beck Weathers. Bersama Beck, Rob Hall sang guide pun menjawab pendek dan setengah tertawa sambil menunjuk ke arah Everest, “Because it’s there.”

Pertanyaan yang hanya untuk pendaki terkenal itu ditanyakan juga ke saya, siapa yang tidak tersanjung?

Jawaban saya sendiri mungkin sudah kalian baca di bagian lain blog ini. ‘Karena Hidup Harus Lebih dari Sekedarnya’. Semboyan sederhana yang bisa sangat rumit pelaksanaannya.

Kami makan dengan alas piring plastik berwarna-warni, sama seperti warna jas hujan mereka yang saya lihat malam sebelumnya. Nasi putih hangat, dengan ikan asin, … masya Allah. Saya sampai tambah dua kali.

Lalu kami berfoto beramai-ramai dengan latar belakang puncak Kerinci yang tersaput awan. Saya akhirnya benar-benar pamit dari Shelter 3 pukul setengah lima lewat, dengan perasaan senang, kenyang, dan tenang[6].

14691445_1093573324044022_4709319144748737947_o
Ini kami, muda, beda, dan berbahaya. Terimakasih buat Om Jerinx dan SID. No thanks for mas Anang, hehehe.

Di lorong akar dan ranting pohon saya bertemu rombongan anak-anak muda lagi. Mereka bercerita tentang seorang anggotanya yang ditinggal jauh di belakang sebab sakit. Waduh, kok ditinggal sendirian, …

“Ada tenda hijau di antara Shelter 1 dan Shelter 2 di kanan jalan, Bang. Atau di kiri Abang kalau turun ini. Dia numpang istirahat di situ,” kata seseorang. Loh itu kan tenda saya.

Saya pun bergegas. Pada pukul 6 lewat 25 menit saya tiba di Shelter 2 dan berhenti untuk mengenakan headlamp. Masih ada yang mau naik ke Shelter 3 dan bertanya pada saya, seberapa jauh lagi Shelter 3 itu. Saya tersenyum.

“Tidak jauh. Paling nanti jam 7 lewat kalian sampai,” kata saya.

Ada juga yang memutuskan bermalam di Shelter 2, dan di tanah lapang sedikit di bawahnya. Mereka membuat unggun besar. Mungkin karena asik berbicara sesamanya, ketika saya lewat, tak ada yang memperhatikan. Saya menyeringai dan berlalu.

Penting sebenarnya untuk bertegur sapa dan tahu siapa yang lewat atau ditemui dalam perjalanan seperti ini. Apalagi untuk yang sendirian seperti saya. Saya harus bercerita siapa saya, dimana saya mendirikan tenda. Informasi seperti itu bisa saja berguna.

Dari kawan-kawan di tenda saya numpang sarapan itu misalnya, tahu bahwa masih ada orang di atas menuju atau sedang turun dari puncak membuat Rahmat dan 2 kawannya lebih bersemangat dan lebih yakin.

Saya mulai perjalanan turun dalam gelap dengan kecepatan tetap. Saya ingat saya dua kali duduk beristirahat di batang pohon tumbang di tepi kanan jalan sebab bosan dan seakan mulai kehilangan fokus dengan jalan yang terus menerus menurun. Saya makan cokelat dan minum air dingin. Sepanjang jalan saya menderas hapalan beberapa surah juz amma. Sepanjang jalan itu juga saya merasa seseorang menemani saya, yang sesekali saya ajak bercakap-cakap. Tidak ada yang menyahut, tentu saja, kecuali saya sendiri. 

“Teman” itu terasa hanya 3-4 langkah di belakang dan sesekali juga saya menoleh untuk melihat. Sekali lagi, tentu saja, tak ada siapa-siapa. 

Di jalan saya juga menemukan tabung gas butana yang ternyata masih ada isinya. Saya ambil dan masukkan ransel. Mungkin masih cukup untuk sekali atau dua kali masak.

Akhirnya, pukul 8 malam kurang beberapa menit, saya tiba di tenda. Benar kata anak-anak muda itu, seseorang meringkuk di dalam dan terlihat sangat menyedihkan.

***

Catatan Menjelang Turun

[1] Lihat Di Dalam Kabut di Bawah Hujan

[2] Yup, masih Di Dalam Kabut di Bawah Hujan, teman.

[3] Lihat lagi Tanjakan dan Hujan, kawan.

[4] Cerita naik gunung adalah cerita ribuan tahun, sahabat. Adam alaihissalam, menurut beberapa sumber diturunkan di bukit Sri Pada di Sri Lanka, dan kembali bertemu Hawa di Jabal (gunung, bukit) Rahmah, atau Bukit Cinta, kata orang Balikpapan. Musa mendaki Gunung Sinai, Muhammad menyepi di Jabal Nur dan menerima wahyu di Gua Hira di bukit itu. Selain itu, banyak kisah kehidupan nabi dan rasul adalah petualangan. Referensinya banyak.

[5] Cerita kutipan dari banyak sumber ada dibuatkan Wikipedia. Ini link-nya.  https://en.wikipedia.org/wiki/George_Mallory

Ada juga video singkat (dan banyak di Youtube) yang menceritakan penemuan jasad Mallory oleh Conrad Anker. Saya ambilkan satu dari National Geographic.

https://video.nationalgeographic.com/video/news/0000014c-8fd3-d824-a55f-ffd3fb330000?source=relatedvideo

[6] Senang, kenyang, tenang, atau sebaliknya, tenang, kenyang, senang adalah frasa yang saya dapatkan dari liputan di Polda Kaltim. Kepala Bidang Humas ketika itu, Komisaris Besar Polisi Antonius Wisnu Sutirta, yang memang gemar bercanda mengatakan frasa itu sambil menunjuk dahi, perut, dan di bawah perut. Apakah ini humor khas polisi atau dia kutip dari lain-lain lagi, saya tak sempat bertanya kepadanya.

Tinggalkan komentar