Mimpi-Mimpi yang Sama

Posted on Updated on

Dermaga di Mangrove Center, Graha Indah, Balikpapan. Kawasan konservasi ini mengantarkan pengelolanya, Agus Bei, meraih Piala Kalpataru, anugerah tertinggi bagi pegiat lingkungan di Indonesia. (noviabdi)

“that happiness is a way of travel – not a destination.” – Roy M. Goodman

Di sore Senin yang cerah, Laura yang sedang liburan bersama pacarnya Ian mengunjungi saya. Saya sebenarnya ingin mengajak mereka berlari bersama kawan-kawan Balikpapan Hash House Harriers, tapi di menit terakhir saya mengubah rencana.

Maka kami menyusuri kanal-kanal Mangrove Center dengan perahu, menyapa para bekantan (Nasalis larvatus) dan menyaksikan senja, lalu disambung makan malam di warung padang dan berbagi cerita.

“So tell me about this girl,” pinta Laura setelah nasi terakhir disuap dan rendang terakhir dikunyah.

Di pojok Upik[1] itu, tidak seorangpun dari kami bertiga merokok. Saya jadi ingat pengumuman pramugari di pesawat udara, ‘ini adalah penerbangan tanpa asap rokok’[2].

Laura membaca terjemahan yang dibuat Google Translate untuk Di Ujung Malam dan Duhai Kekasih-Kekasih. Ian membantunya sedikit-sedikit di bagian yang Google rancu menerjemahkannya. Bahkan, secara umum ‘dia’ diterjemahkan sebagai ‘he’ alias laki-laki.

Bikin saya jadi geli. ‘He’? Oh my God.[3]

Kalian yang belum membaca  kedua judul itu, sudilah kiranya, mundur sebentar dan klik saja kedua cerita itu. Bila dibaca normal perlu waktu 6 menit 12 detik untuk Duhai Kekasih-Kekasih dan 2 menit 14 detik untuk Di Ujung Malam.  Catatan waktu tidak termasuk saat mendengarkan musiknya.

Tapi dengarkanlah (atau tontonlah) Payung Teduh dan James Hetfield itu sobat. Kedua lagu memang saya pilihkan agar kalian bisa tetap bahagia dan gembira bagaimana pun ruwetnya ceritanya.

Terimakasih banyak.

***

So, …

“I wonder how long the ‘nothing else matters’ gonna be?” komentar Laura. Serius.

Sampai kapan saya mampu bertahan seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini?

Sampak kapan kamu bisa tahan hanya dengan menyanyikan Nothing Else Matters, tanya Lee, mengolok saya. Lee yang kecil mungil ini sudah bertualang ke tiga benua disela waktunya mengajar Bahasa Inggris di Ho Chi Minh City.

Lee memotret jalur yang dilaluinya diantara Pantai Bondi dan Pantai Cogee di Sydney, sambil mengejek saya hal Nothing Else Matters itu. (Tu Mabu)

“I don’t know,” kata saya, mengangkat bahu.

Well, kata Laura, ia melihat bara dalam sekam. Saya mengangguk. Saya juga menyadari sesungguhnya tidak perlu kandidat doktor evolusi seperti mbakyu bule itu untuk melihat itu. Saya yang lulus program sarjana dengan susah payah saja bisa merasakannya. Dari pengalamannya mungkin dia yang baru lulus S1 pun juga tahu.

Barangkali dari satu dua perdebatan, bom waktu telah dipasang.

Karena tak tahu jawabnya, saya memilih bercerita lagi.

“Somehow, you know, we shared the same old dreams.”

“Oh ya?”

***

Mimpi-mimpi kami yang sama itu adalah Perjalanan ke Timur Indonesia melalui bagian selatannya. Ia ingin ke Flores, saya hanya ingin ke Timur, termasuk Flores di dalamnya. Termasuk juga mendaki gunung-gunung spektakuler di sepanjangnya.

“You are my guide to climb Rinjani. Also my porter,” katanya tersenyum. Okehh.

Porter adalah pendaki pembawa barang. Buat meringankan bawaan saya jelas akan menyortir semua barang bawaannya. Dia cukup bawa pakaian dalam saja, dan yang lain-lain nebeng punya saya.

Porter di Rinjani, sedang menuruni Plawangan Sembalun menuju ke Segara Anak. Cukup pakai sandal jepit, sobat. (noviabdi)

Tidak bawa pakaian dalam juga tak apa. Asal jangan pakai jeans. Di gunung, jeans bisa jadi pembunuh sebab berat bila basah dan susah kering. Bayangkan kamu kehujanan di gunung, pakaian basah, berat, dihajar angin dingin, kelelahan, kelaparan, … ramuan sempurna hipotermia, yang bila lambat ditolong, jadi jalan tol menuju gerbang kematian.

“Okay, no jeans,”  katanya sungguh-sungguh.

Saya mendaki gunung terindah di Asia itu tahun 2014, merayakan ulangtahun sendirian di puncaknya, dikeliling awan-awan dan kerakal yang cokelat bisu merah hati, sambil memakan apel, pisang, dan kelapa yang menjadi sesajen orang di puncak milik sang Dewi Anjani.[4]

“You ate God’s meal?” Dia tergelak.

“I did, but I left the egg.”  Saya memang menyisakan telur bebek asin di nampan sesajen itu. Bersama telur itu masih ada dupa yang wangi.

Saya merekam bentang alam Rinjani yang menakjubkan dalam gambar-gambar warna-warni. Hanya sedikit teks untuk memberi keterangan apa dan di mana tentang obyek foto itu. Beberapa pemandangan bahkan sudah tidak perlu keterangan karena langsung dikenal begitu tampak di depan mata.

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun. (novi abdi)

Seturun dari Gunung dengan rute Sembalun-Senaru, kami memimpikan berkeliling ke pantai-pantai indah Lombok. Ke Kuta, ke Pantai Tangsi yang lebih populer sebagai Pantai Pink, Pantai Tunak, Pantai Telawas, Pantai Bilayasak, Pantai Semeti, Tanjung Poki, Pantai Nambung, Pantai Tebing, ke Batu Payung-Tanjung Aan, Pantai Tanjung Bongo, belajar selancar di Selong Belanak, menikmati lembayung lingsir matahari di Pantai Senggigi.[5]

Pantai Tanjung Bloam di Lombok Timur. (lombokgilis.com)

Maka tiada lain yang paling praktis selain berpergian dengan motor, tinggal di dalam tenda, memasak dengan kompor gas lapangan dan panci set tentara. Makan mie instan, telur, nasi merah, sosis, korned, atau memanggang ikan yang dibeli langsung dari nelayan di tepi pantai dengan sambal seadanya.[6]

“Who’s gonna make the sambal?” tanya Laura.

Ah, siapa ya. Saya tidak tahu apakah dia bisa bikin sambal apa tidak. Mungkin bisa sebenarnya. Tapi maukah dia bikin sambal? Bukankah itu pekerjaan domestik yang dilabeli ‘pekerjaan perempuan’ yang juga jadi perdebatan kita?

Jadi saya juga harus bisa dan mau bikin sambal. Dan memang bisa kok. Semasa kecil dulu ibu saya mengajarkan cara bikin sambal acan, termasuk cacapan asam khas Banjar itu, dengan asam jawa ataupun dengan ampalam, asam mangga muda. Termasuk juga ‘sambal’ kacang ala nasi pecel.

Beres urusan sambal, baru menyeberang ke Sumbawa.

Beberapa pekan sebelumnya kami datang dari Surabaya hingga Banyuwangi, lalu ke Bali. Ada kawan di Banyuwangi yang mempersilakan tinggal di homestay miliknya dan mengajak mendaki Gunung Ijen dan merasakan Jalur Belerang, Sulfur Road.

Pekan berikutnya sudah di Bali dan saban malam nongkrong di Kuta, menyusuri pantai dan Poppies Lane, lalu tiba di Apache, bar reggae di Ground Zero tak jauh dari Paddy’s Club yang dulu diledakkan Amrozi, tinggal sekamar di homestay murah.

Monyet-monyet memang nakal, apalagi satu panglimanya ini, Hanoman. (noviabdi)

Keluyuran ke mana saja suka. Ke Uluwatu menonton tari kecak sendratari Ramayana.

“Watchout your glasses,” katanya.

Monyet-monyet di Uluwatu, terutama yang di hutan dekat pintu masuk adalah kaum bandit anak buah Subali. Mereka tega merampok kacamata langsung dari wajah dan muka, merebut topi dari kepala. Saya akan datang dengan setumpuk dendam atas kacamata saya yang mereka buang jauh ke Samudera Hindia di bawah jurang di sana.[7]

“I can’t imagine you without glasses,” katanya, menahan tawa.

“Oh pardon me. I do a lot of things better without glasses.”

Dia tersipu.

Pulang dari Uluwatu, mungkin bertepatan dengan ada konser musik di lapangan Garuda Wisnu Kencana. Siapa pun yang tampil, kami akan datang menonton.[8]

Saya juga akan mengontak beberapa kawan Bali Hash House Harriers. Bersama mereka sore-sore kami akan berlari di pematang sawah dan jalan-jalan kecil, keluar masuk kampung di titik-titik yang tidak terduga, naik ke bukit, menyusuri lereng, turun ke lembah, dan menyeberangi sungai-sungai kecil.

Aha, mesti disempatkan mengunjungi Ketut Liyer dan mendengarkan ramalannya seperti kaka Julia Roberts, eh, Elizabeth Gilbert. Hmm, eat, pray, love[9]. Maukah dia berdoa?

“What are you guys going to pray?” tanya Laura lagi.

“Maybe live happily ever after,” kata saya. Saya tahu, hanya saya yang akan berdoa.

Baru di suatu pagi yang cerah dengan naik motor muncul di Padang Bai, pelabuhan di Bali Timur.

Di Padang Bai motor masuk kapal ferry dan berlayar menuju Lembar di Lombok. Sambil memandang matahari terbit kami lalu sarapan nasi bungkus. Dia mungkin minum kopi sachset yang dibelinya dari pedagang asongan, dan kemudian memulai kebiasaannya merokok untuk hari itu.

Kemudian rutinitasnya sama: mencari homestay murah dan menyusun rencana rinci mau kemana  dan mau apa. Di Lombok ke Rinjani lewat Sembalun-Senaru, 7-8 hari. Motor dititipkan di homestay, lanjut pergi dengan kendaraan umum ke desa penghasil strawberry itu.

Dari adegan di film Eat Pray Love, Ketut Liyer yang diperankan Hadi Subiyanto, dan tentu saja, kaka Julia Roberts. (destimania.com)

“I wanna have a bath in Aiq Kalaq,”  katanya. I do, too. Pada perjalanan dulu saya belum sempat sebab harus disiplin mengikuti jadwal.  Aiq Kalaq adalah mata air panas di Segara Anak di dalam kaldera Rinjani.

Bayangkan berendam air panas setelah berhari-hari tidak mandi. Bayangkan berdua saja di balik batu-batu dan derau cemara di balik bayangan gunung.

Tap sebelum turun ke Segara Anak, ya harus sampai puncak dari Plawangan Sembalun.

“Maybe we’re gonna find god’s meal again,” kata saya. Dia tertawa lagi. Merencanakan perjalanan memang bisa sangat menyenangkan. Konon selalu ada sesajen di puncak Rinjani.

“Will you eat them again?” ia bertanya dengan mata jenaka.

“Maybe. Do you wanna some?”

“I guess I want some,” Dan tawa kami berderai-derai.

Mestinya mungkin kami lebih banyak makan bersama saja ketimbang berdebat atau mendiskusikan hal-hal yang sudah pasti kami berbeda.

Kolam air panas Aiq Kalaq di dalam kaldera Rinjani. (panoramio)

***

Di Sumbawa kami akan menggelandang dan meneruskan bergaya hidup hippies. Saya yakin pasti tidak akan merokok sebatang pun, tapi mungkin membawa dan menyimpan berkotak-kotak kondom. Semakin ke timur, mungkin semakin tidak mudah mendapatkannya. Bukan barangnya tidak ada, tapi karena mungkin sekali kami akan menjelajah ke tempat-tempat yang cari warung nasi saja susah.

Bermotor kami akan memulai perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano. Menyusuri jalan-jalan beraspal yang sempit di bawah matahari terik dan angin kering dari selatan. Angin itu bertiup jauh dari Australia sana, udara panas yang dipanggang di oven Gurun Victoria.

Sampai di Dompu. Barangkali makan siang di warung nasi campur di tepi pantai. Seseorang memuji  nasi campur Sumbawa sebagai enak tingkat dewa. Baiklah itu dicoba bukan. Apalagi bila lauknya ikan, sedap nian.

Saya makan hampir 120 kg ikan setahun. Namanya ikan papuyu, ikan haruan, ikan peda, ikan seluang, ikan sepat, ikan tongkol, ikan layang, …

“There’s fish, I believe,”  katanya. There’s seas and beaches, should be fish anywhere.”

“Absolutely,” kata saya.

***

Peta Flores dan sekilas rencana perjalanan di benak saya. (everestsays)

Lalu Flores. Flores, flora, bunga-bunga.[10]

Apa yang diinginkannya di Flores? Harta karun Flor de la Mar?[11] Maumere, Sikka, Ende, Labuan Bajo, Manggarai, Bajawa? Adonara? Pulau Komodo? Tenun ikat Flores? Kue rambut? Langit biru? Kulit cokelat yang legit? Homo floresiensis?[12] Jalan-jalan yang mulus meliuk-liuk di antara gunung, jurang dengan pelangi di dalamnya[13], dan lembah yang mistis, …

Saya menulis dan mengumpulkan bahan tentang Flores sepanjang 23 halaman. Termasuk bermenit-menit mengingat setiap percakapan dengan dia, melihat transkrip rekaman percakapan itu, mendengarkan penuturan Chris Djoka, Adi Rianghepat, Romo Markus, Paman Djemi Amnifu, Papa Ichal, Bapa Yeremia, Klemens dan Bonnie di Kota Kinabalu di Sabah, tentang betapa indah kampung halaman mereka. Juga cerita Dandhy tentang barter jagung dan ikan.

Setelah menyuntingnya bolak-balik, saya putuskan untuk tidak mempublikasikannya.

“Why?” tanya Laura.

“I just feel it’s gonna be unfair to someone in future,” kata saya.

“Oh, what happened?” tanya Laura lagi. Mata birunya membesar.

“Well, I think it is the last time I sing Nothing Else Matters…”

(Kali ini mari kita nyanyi bersama-sama, guys, … )

***

Catatan Sepanjang Jalan

[1] Upik adalah nama dari sejumlah warung (restoran, tepatnya) yang menyajikan masakan padang. Di Balikpapan mereka punya cabang di setiap jalur utama Kota Minyak. Upik dimulai dari Samarinda di pojok Jalan Danau Toba dengan koki yang konon justru bukan berasal dari Sumatera Barat. Para pelayan warung pun tidak piawai menjelaskan masakan padang mana yang mereka hidangkan—yang bagi urang awak bisa spesifik sekali, seperti menu dari Bukittingi, atau Solok, Padang Pariaman, Payakumbuh.

Namun demikian, lidah banjar saya cocok dengan hampir semua masakan di Upik. Saya mulai menikmati masakan padang ala Upik dari paket nasi kotak yang dipesan kantor saya dulu, hingga kemudian jadi satu tempat makan malam saya dan Rachmad Subiyanto, yang masih reporter di harian Bisnis Indonesia ketika saya menuliskan Pintu Ke Mana Saja. Setelah lebih 2 tahun di Jakarta, Rachmad kini kembali untuk mengepalai biro Bisnis Indonesia di Balikpapan. Sampai hari ini saya dan Rachmad masih belum bisa mengulang kebiasaan kami dulu itu karena sibuknya dia sebagai kepala biro. 

Pemandangan seperti ini dulu pernah ada. (creativity online)

 [2] Secara umum, sampai tahun 1995 di Indonesia, penumpang pesawat udara masih boleh merokok. Di Amerika Serikat bahkan baru tahun 2000 Presiden Clinton meneken peraturan larangan merokok di seluruh rute penerbangan. Saya baru mulai rutin naik pesawat udara tahun 2001, jadi tak ketemu masa itu. Tahun 90-an, kami mahasiswa yang tidak kaya, tentu saja, naik kapal laut buat mendatangi gunung-gunung kita yang indah itu. Dekade ini adalah masa kejayaan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), kawan, dan kita hapalnya pelabuhan laut, bukan bandara.

Bila di pesawat udara merokok masih dibolehkan, apalagi di kapal laut, dan jangan tanya di angkot. Benar-benar butuh keberanian untuk menegur perokok yang mengganggu, dan benar-benar butuh kesadaran dan kepedulian seorang perokok bahwa merokok di angkot atau di tempat umum lain mengganggu hak orang atas udara yang bersih tanpa asap rokok.

Tapi saya juga pernah menghabiskan setengah pak Marlboro hingga tengah malam lewat, duduk sendiri di bangku panjang di bawah lampu yang terang di belakang kapal yang menyusuri Selat Makassar sambil menikmati buku Robert Ludlum, The Bourne Identity.

 [3] Apakah Google benar-benar pro Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT) atau malah patriarki dilihat dari caranya mengeset  mesin penerjemah itu? Atau hanya tata bahasa saja?

Di sisi lain, penerjemahan memang unik—setidaknya terlihat saat ini, di mana  penerjemahan belum bisa diserahkan begitu saja kepada mesin. Translasi selalu membutuhkan pemahaman yang lain yang lebih dari sekedar tata bahasa. Biasanya di kampus, pengikut mata kuliah penerjemahan harus sudah lulus mata kuliah cross cultural understanding, atau setidaknya harus diambil bersama-sama.

Patriarki adalah pandangan atau paham tentang superioritas atau keutamaan laki-laki atas perempuan. Pandangan ini ada hampir dalam setiap budaya (di mana termasuk bahasa di dalamnya), dan selalu dalam perdebatan yang sengit, dianggap juga dikuatkan oleh agama.

 Eh, bukankah Urang Minang yang berdiam di Sumatera Barat yang masakannya saya suka itu, penganut matrilineal alias garis keturunan ditentukan perempuan dan kaum lelaki hanya menumpang saja di rumah gadang.

 [4] Bacalah Apel, Pisang, dan Kelapa  di bagian lain blog ini sobat. [5] Begitu banyak blog yang bercerita tentang keindahan pantai-pantai itu kawan. Kalian tanya Google ya, akan disajikan lengkap dengan foto. 

[6] Sebagian ide perjalanan ini dikuatkan Ekspedisi Indonesia Biru yang dilakukan Dandhy Dwi Laksono dan ‘Ucok” Suparta Arz di tahun 2015 serta kisah yang dituturkan Kembang Manggis di bukunya Anak-Anak Tukang (Gramedia, 2017)—sementara ide dasarnya berasal dari banyak perjalanan jauh naik motor (kecil) yang saya lakukan sendiri.

Hasil dari Ekspedisi Indonesia Biru, kalian bisa melihat sejumlah video di Youtube. Yang terbaru Maret lalu Watchdoc, rumah produksi yang didirikan Dandhy, merilis Asimetris, yang bahan dasarnya rekaman yang mereka buat di Kalimantan.  Kami di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Balikpapan menjadi tuan rumah bagi Dandhy dan Ucok selama beberapa hari di bulan Oktober 2015 setelah duo ini menyeberang dari Sulawesi.

[7] Mengapa Macaca fascicularis atau monyet-monyet ekor panjang di Uluwatu begitu? Ada studi ilmiah tentang ini yang dikerjakan Fany Brotcorne dan kawan-kawan dari Universitas Liege, Belgia di tahun 2016, dan hasilnya dirilis Mei 2017. Menurut Brotcorne, perampokan itu sesuatu yang dipelajari oleh monyet-monyet itu, bukan perilaku turunan. Para monyet belajar, barang rampokan bisa ditukar dengan makanan (barter). Setelah ditawari kue atau kacang, kacamata atau topi akan ditinggal atau dilempar begitu saja.

Nah, nasib saya memang sedang tak beruntung saat itu. Karena kejadiannya di pagar jurang, maka sang monyet kurangajar itu malah melemparkan kacamatanya ke laut, lalu si petugas pura malah mengomeli saya, “Kan sudah diperingatkan, hati-hati kacamata, …”  Ya Tuhan, itu kan kacamata minus, Pak, bukan kacamata gagah-gagahan…”

Untung saya selalu membawa kacamata cadangan.

Berikut link ke publikasi Brotcorne: https://www.newscientist.com/article/2132748-monkey-mafia-steal-your-stuff-then-sell-it-back-for-a-cracker/   dan Liputan 6 merilis ulang dalam https://www.liputan6.com/global/read/2971197/ilmuwan-kuak-misteri-ulah-nakal-monyet-di-pura-uluwatu-bali

 [8] Lapangan Garuda Wisnu Kencana (GWK) biasa dipakai sebagai tempat pergelaran seni dan musik kolosal. Festival musik Soundrenaline yang menampilkan grup-grup musik papan atas Indonesia seperti Dewa, Slank, Sheila On 7, Jamrud, Gigi, hingga band-band indie macam Endank Soekamti, Shaggy Dog, dan tentu saja tuan rumah Superman Is Dead (SID) kerap tampil di sini.

[9] Eat, Pray, Love adalah judul buku yang ditulis Elizabeth Gilbert (Penguin, 2006), dan berdasar buku itu, dibuat film Hollywood dengan judul Eat Pray Love, diproduksi Brad Pitt dengan sutradara dan penulis skenario Ryan Murphy (2010). Bukunya menjadi best seller, filmnya jadi box office dengan total pemasukan USD204 juta lebih dari modal USD60 juta.

Ramai kritik untuk buku dan filmnya, kalian bacalah (juga tonton) sendiri ya. Tanya Google. Hanya buku ini ada juga parodinya, berjudul Drink, Play, Fuck oleh komedian Andrew Gottlieb. Ini buku parodi seru juga.

Catatan penting, aktris kawakan Indonesia, tante Christine Hakim menjadi satu lawan main Julia Roberts, bersama dengan seniman Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut Liyer, penasihat spiritual Elizabeth selama ia tinggal di Ubud, Bali—di Eat Pray Love, tentu saja, bukan yang Drink …, hahaha.

Hadi Subiyanto adalah pemain suling di kelompok musik tradisional yang mentas secara rutin Hotel Dharmawangsa di Jakarta di tahun 2009 itu. Saya suka artikel yang ditulis reporter tabloidbintang.com tentang orangtua ini.

Catatan lain, beberapa hari-hari syuting film di Bali bertepatan dengan event tenis WTA Sony-Ericsson berhadiah total USD600.000 yang disponsori Commonweath Bank. Kami para peliput event itu berharap Julia Roberts mampir dan menonton pertandingan entah Marion Bartoli, entah Samantha Stosur, para petenis yang menghuni hingga peringkat 20 dunia. Namun, di lapangan tenis indoor yang diset di ballroom Westin Hotel di Nusa Dua itu, kawan fotografer Kompas Agus Susanto malah menemukan Gayus Tambunan, narapidana korupsi yang mestinya ada di dalam sel tahanan LP Sukamiskin, Bandung. Gayus tertangkap kamera sedang asyik menonton pertandingan. Banyak yang dipecat karena ini kemudian.

 [10] Nama ‘flores’ memang berasal dari bahasa Portugis yang artinya bunga. Adalah Antonio de Abreu, navigator kepercayaan Afonso de Albuquerque, pada 1515, melaporkan kepada bosnya di Malaka,  dalam laporan pelayaran Relatório da Navegação, menyebutkan bahwa mereka menyinggahi pulau yang memiliki  tanjung penuh bunga (cabo das flores) di bagian timurnya.  

Patung Antonio de Abreu di Monumen Para Penjelajah di Lisbon, Portugal.

Kata de Abreu, pelayaran ini bermula dari Ternate, dan tiba di pulau bunga itu sebulan setelah hujan terus-menerus mengguyur daerah itu sejak malam pergantian tahun (véspera de ano novo). Sebulan setelah malam pergantian tahun adalah bulan Februari, dan saat itu adalah masa pohon-pohon flamboyan (Delonix regia) bermekaran di sekitar Larantuka.

Setelah 30 tahun, oleh orang Portugis lain yang juga pelaut, SM Cabot, tempat itu resmi disebut ‘Cabo das Flores’, Tanjung Bunga, untuk menyebut bagian timur pulau. Seratus tahun kemudian, pada 1636, Hendrik Brouwer, Gubernur Jenderal Belanda, secara resmi memakai nama Flores sebagai nama seluruh pulau.

Pulau bunga flamboyan merah ini sejatinya bernama Nusa Nipa dan sudah tercatat oleh para penjelajah dari era kejayaan Majapahit.

[11] Harta karun Flor de la Mar, saya tahu pertama kali kisah ini dari komik Legenda Sawung Kampret (Mizan, 1990, parodi heroik humor dari tokoh Sawunggaling, tokoh pahlawan legenda dari Surabaya) karya Dwi Koendoro (lihat komik strip Panji Koming di harian Kompas) yang awalnya dimuat di majalah HumOr tahun 1990.

Flor de la Mar atau bunga lautan, atau mawar samudera, adalah nau, kapal layar bertiang tiga, sebuah karakah, carrack, kapal kargo Portugis terbesar di abad ke-16 dengan bobot mati 400 ton. 

Flor de la Mar kemudian dioperasikan Portugis di Samudera Hindia sebagai kapal perang dan menjadi bagian dari armada yang menaklukkan (merampok) kota-kota di pesisir India hingga Malaka. Pada Desember 1511, sang Bunga Lautan diamuk badai di ujung Selat Malaka di dalam teritori kerajaan Samudera Pasai sepulang dari menjarah istana Sultan Malaka. Flor de la Mar tenggelam setelah 9 tahun beroperasi. Laksamana Afonso de Albuquerque selamat dengan menumpang sekoci, meninggalkan kargo tidak kurang dari 60 ton emas senilai USD26 miliar ke dasar laut. Tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Portugis, pernah bertengkar urusan harta karun itu.

Orang Malaka modern membuat replika Flor de la Mar dan menaruhnya di tepi Sungai Malaka sebagai museum. 

Flor de la Mar

[12] Terkenal juga dengan sebutan manusia hobbit karena tingginya yang sedikit lebih dari 1 meter. Rujukan cepatnya ada di sini, https://en.wikipedia.org/wiki/Homo_floresiensis

[13] Lihat, Kembangmanggis. 2017. Anak-Anak Tukang, Sketsa-sketsa Kembangmanggis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Oh, tentang video Choir! Choir! Choir! (C!C!C!), mereka menyanyikan Nothing Else Matters itu pada 9 Agustus 2016 sebagai peringatan 25 tahun album Black Metallica di Clinton’s Tavern, 693 Bloor St West di Toronto, Kanada. Cerita lebih lengkap ada di choirchoirchoir.com

Tinggalkan komentar