Month: Februari 2018

Duhai Kekasih-Kekasih

Posted on Updated on

nick lit a cigarette for a lady
Nick Capozziello menyalakan sigaret seorang lady. Untuk Nick yang mengidap kelainan cerebral palsy–yang membuatnya bergetar hebat atau bahkan kaku kram pada waktu-waktu tertentu–menyalakan sigaret seorang lady yang perlu tangan yang tenang, adalah prestasi.

untuk yang pernah datang dan pergi

Pada kesempatan lain kami duduk-duduk di café, minum jus yang berwarna hijau dan nyaris tak ada rasanya. Dia merokok.

“Do you smoke?” Ia bertanya.

 “Not, not anymore,” saya menjawab. Ingatan saya terbang kepada the godfather of heavy metal Lemmy Kilmister[1].

“Hmm,” katanya. “You don’t drink, you don’t smoke.”

Melihat sigaret putih di antara jemarinya yang cokelat, dan sesekali di antara bibirnya yang marun, menyaksikannya menyedot asap tembakau dan mengembuskannya, saya seperti melihat lukisan surealis Salvador Dali,[2] sajak-sajak Chairl Anwar, film-film tahun 50-an, dan foto-foto hitam putih. Juga foto-foto berwarna sephia dari zaman yang sama.

Mungkin asap tembakau itu membantunya sedikit melupakan berbagai masalah yang mengelilinginya. Mengangkat sedikit bebannya seiring asap yang melayang naik.

chairil-anwar-1922-1949_edited
Si Binatang Jalang, Chairll Anwar, 1922-1949 Semasa hidupnya itu, Chairil menciptkan tak kurang dari  70 puisi.  Puisi kesayangan saya dari karya Bung Chairil, bukan “Aku” yang membuat ia berjuluk Binatang Jalang itu, tapi “Derai-Derai Cemara”.

Saya minta maaf karena tidak punya pemantik api, sehingga terpaksa ia meminjam dari para lelaki tetangga meja kami[3]. Saat ini kecuali ke hutan dan gunung, barulah saya membawa pemantik api, itu pun tidak dikantongi. Saya kumpulkan bersama alat masak dan ditaruh di dalam ransel.  Walaupun ada juga satu di kantong atas ransel buat ke perluan darurat.

Dua hal itu, minum (minuman keras) dan merokok adalah bagian masa lalu saya. Bukan masa lalu kelam. Bahkan sebagiannya penuh kisah menyenangkan lingkaran persahabatan dan persaudaraan. Sesekali di meja perjamuan terhormat dan khidmat dan saya harus berjas berdasi dengan rambut diikat rapi dan dipakaikan pomade. Saya minum anggur yang berwarna merah sebagai teman makan ikan yang direbus.

Seringkali saya berada di lingkaran minum seru sore menjelang malam selesai berlari lintas alam 8-12 km, atau malam di bar-bar murah ramah di sepanjang pantai Balikpapan sambil membaca, atau diskusi serius dan menonton Rossi atau Messi meliuk-liuk mengendalikan motor dan bola.

“However, I almost killed twice because of drunk,” saya bercerita. Keterlaluan bila saya tidak menghargai dua kali kesempatan bangkit kembali dan meneruskan hidup. Memang pada akhirnya saya akan mati juga. Dia juga. Anda juga. Kita semua.

“But not today,” kata saya dengan senyum lebar. Dia ikut tersenyum. Senang melihatnya tersenyum.

Dengan minum kopi dan teh saja, bahkan air putih saja, tetaplah pertemanan persahabatan bisa dijalin hangat dan akrab.

“And we have tasteless juice today,” katanya, tertawa.

Bahkan meski tidak ada sajian apa pun, hanya hadir saja, bertemu dan bertatap muka.

Dia mencuri-curi waktu untuk duduk-duduk bersama saya sore itu. Saya mencuri-curi waktu untuk bisa duduk dan memandang wajahnya dan mendengar suara lembutnya yang tegas dan dalam. Saya memotretnya tersipu.

“I think I have 60 minutes for you,” katanya. Ketika 90 menit berlalu, setengahnya karena saya menahannya, setengahnya karena kerelaannya, barulah ia beranjak dan pamit.

“It’s never enough, but …” kata saya. Dia tersenyum lagi.

***

Meski demikian, perkenalan kami dimulai dengan kejujuran yang pahit. Yang sedemikian rupa membatasi dan tidak memberi ruang untuk pertanyaan ‘lalu selanjutnya apa?’ tanpa membuat prahara.

“Because I have a boyfriend already,” katanya. Saya kemudian tahu istilah ‘sudah punya pacar’ itu untuk menyederhanakan saja dari hubungan-hubungan rumit yang dijalaninya.

Tapi saya juga bukan remaja belasan tahun yang bisa saja bunuh diri sebab dijawab seperti itu.

“And I have 27 girlfriends, …” kata saya, setengah serius, setengah bercanda. Saya juga menambahkan, suatu waktu saya pernah tinggal serumah dengan seorang perempuan dan kami memiliki 3 anak karena itu.

“So you are a daddy?”

“I am.”

Setiap lelaki sepatutnya bangga menjadi ayah, sebrengsek apa pun dia. Saya masih ingin punya 2 anak lagi.

Setahu saya, dia menolak menikah. Entahlah kalau punya anak. Ini jadi satu topik diskusi menjelang tidur itu. Saya berkata bahwa perempuan yang mengandung, lalu melahirkan, adalah perempuan yang paripurna. Dia mendebat, bahwa tanpa mengandung dan melahirkan pun, perempuan tetap sempurna.

emma goldman anarkis
Emma Goldman, satu aktivis panutan feminisme.  Emma membantu saya memahami dunia di mana dia berada. Banyak artiket tentang Emma di dunia maya.  Google akan dengan senang hati menyajikannya untuk Anda.

“We have right of our own body,” tegasnya.

“Sure. Pregnancy, give a birth, can be choices, may depend on many things, agreements, physical condition, financial situation, … anything,” kata saya.

Hanya saja, rahim adanya di perempuan, bukan. Tidak tahu nanti kalau manusia bisa mengakali seperti kuda laut jantan[4] yang bisa mengandung dan melahirkan—walaupun film tentang itu sudah juga dibuat Hollywood.[5]

Mengenai jumlah perempuan yang pernah saya pacari, oh kawan, tak usahlah kau  terlalu serius menghitung. Saya kadang-kadang juga menyebutkan 36, termasuk cinta monyet zaman SD di dalamnya.

Dia menjelaskan, memang ada lelaki, somewhere, dimana juga mereka saling cinta, tapi there’s no relationship. Hm, bagaimana itu?

Agak melegakan juga ketika dia memberi penegasan pada bagian ‘there’s no relationship’ itu. Tak ada ikatan. Mungkin karena jarak  yang lumayan dan sumber daya dan perhatian dan kewajiban-kewajiban memberi batas. Someone di somewhere itu juga sibuk dengan impian dan pacar-pacarnya di sana.

Tentu saja pacar yang interlokal di sana itu boleh punya pacar lokal juga, begitu katanya. Mungkin agar biar adil.

“Is there any jealousy?” saya bertanya naif.

“Sure there is. I am jealous because his girlfriend closer to him, easier to share love, …but there’s no relationship, …”

juliana-castro2
“Kira-kira begini,”  kata Juliana Castro menggambarkan pola hubungan itu. Rumit ya?

Sebaliknya, seperti ketika kemudian saya tahu, selain lelaki di somewhere nun di sana, ada lagi lelaki di somewhere nun di sini. Ada pacar interlokal. Ada pacar lokal.

“Is there also ‘no relationship’?” saya bertanya naif sekali lagi.

Dia tidak menjawab.

Bila mengikuti logika penjelasannya, mestinya memang demikian.

Hm, bila sudah ada mereka semua, kenapa dia masih menerima saya di sekitarnya dan mengizinkan saya masuk di ruang-ruang pribadinya? Lalu kepada saya sendiri, bila sudah ada mereka semua, kenapa saya mau ada di sekitarnya dan senang hati memasuki ruang-ruang pribadinya?

“There’s no relationship, remember,” saya mengingatkan diri sendiri. Okay.

Selanjutnya, seperti lelaki yang bisa beristri 4 atau berpacar banyak, barangkali ada perempuan yang juga berkapasitas besar dan memerlukan tipe laki-laki yang berbeda sekaligus dalam saat yang sama.

Seorang anak perempuan memerlukan ayah yang bijaksana walaupun sesekali memarahinya, saudara lelaki yang membelanya dan mengajaknya bertengkar sekali-sekali, pacar yang memeluknya, juga anak kecil yang bermanja-manja padanya.[6]

Mendengar sejarah singkat hidupnya, selain pacar, maka semua yang lain agaknya tidak pernah dimilikinya.

Lalu, dari pacar-pacarnya itu, saya menduga-duga, saya adalah ayah dan kakak itu.

***

Dengan pengetahuan akan latar belakang tersebut, kami menjalani hari-hari. Saya berusaha untuk tidak bertanya siapa dan apa nama pacarnya-pacarnya.

Kendati saya tetaplah jurnalis yang dengan sedikit meninggikan telinga, akhirnya tahu juga semuanya—atau setidaknya saya pikir saya tahu. Satu dua pertanyaan kepada orang-orang yang tepat maka informasi mengalir dengan sendirinya–sampai kepada nomor telepon, pekerjaan, tampang, nama, nama istri, …

Nama istri?

Well, …jadi pacarnya boleh tidak hanya punya pacar. Punya istri juga tak dilarang. Dengan segala risikonya, tentu saja.

Jadi, saya juga menjauhkan dari dalam pikiran bagaimana dia dan pacar-pacarnya berpacaran dan gaya berpacaran seperti apa yang dianutnya. Selain bukan urusan saya, setelah semua yang dia alami, saya kira hampir tidak ada yang ditakutinya. Mungkin Tuhan pun tidak. Dia perempuan dewasa, bisa bertanggungjawab sendiri, dan tahu konsekuensi-konsekuensi.

“Condom is a must,” katanya suatu waktu. Saya merasa perut saya dipenuhi kupu-kupu.

Toh sesekali tidak terhindarkan juga saya bertanya tentang sesuatu, seperti misalnya kenapa dia menghilang 36 jam tanpa bisa dihubungi sama sekali.

Dia menjawab enteng, “That’s my privacy.”

Baiklah.

Sebab itu, sekali lagi, saya berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa banyak hal-hal lain yang juga saya harus pikirkan dan kerjakan. Saya berusaha menerima dia apa adanya seperti Nothing Else Matters[7] yang diciptakan dan dinyanyikan James Hetfield.

Karena itu juga, selama kami bersama dalam sebuah ruang dan waktu, kami hanya membicarakan tentang diri kami sendiri seolah-olah hanya kamilah penghuni dunia ini, terserah bentuknya bulat atau datar.

Saya hanya ingin bersamanya, setidaknya saat itu, dan menikmati semua yang bisa dinikmati. Sebagai seorang kekasih, tentu saja.

***

Catatan sebelum lupa, …

[1] Saat menjawab ini, saya membayangkan seperti Lemmy Kilmister ketika ditanya James Hetfield, gitaris-vokalis Metallica. Lemmy menjawab seraya tertawa, “Not, not anymore.” Kendati demikian, pertanyaan James bukan soal rokok, tapi apakah Lemmy perlu ‘a high harmony’ saat menyanyikan lagu Damage Case bersama Metallica langsung di panggung dalam show di Nashville, Tennessee, Texas, 14 September 2009.

Lemmy Kilmister, atau Ian Fraser Kilmister, adalah pendiri band Motorhead di tahun 1975 bersama gitaris ‘Fast’ Eddie Clarke, drummer Lucas Fox, dan gitaris Larry Wallis. Musik yang dibuatnya bersama Motorhead itu menjadi dasar bagi musik thrash metal yang dimainkan Metallica. Lemmy sendiri, dalam setiap pembukaan konser,  menyatakan Motorhead memainkan rock and roll. The God Father of Heayv Metal ini meninggal 28 Desember 2015 dalam usia 70 tahun karena kanker, setelah sebelumnya mengalami beberapa penyakit sebab minum-minuman keras.

[2] Salvador Dali, kalian cek di sini ya, … https://en.wikipedia.org/wiki/Salvador_Dal%C3%AD

[3] Dalam adat pergaulan barat, kiranya bila ada perempuan yang ingin merokok tapi tidak punya pemantik api, sementara Anda yang didekatnya sedang memegang atau lagi mengantongi pemantik api, maka bantulah menyalakan rokoknya—yaitu dengan menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya. Setelah itu, berlawanan sedikit dari kebiasaan, bukan si perempuan yang berterimakasih, tetapi Anda yang menyalakan rokoknya lah yang mesti mengucapkan terimakasih sebab sudah diberi kesempatan to serve a lady’,  melayani ‘seorang perempuan.

[4] Kuda laut atau Hippocampus sp terdiri lebih dari 50 spesies dengan ukuran antara 16-35 cm. Mereka hidup di perairan tropis dan sub tropis di seluruh dunia. Kuda laut merupakan satu-satunya spesies dari kerajaan Animalia yang jantannya dapat hamil.

Pada hewan jantanl ada kantung perut untuk pengeraman (seperti rahim pada betina) dan semacam plasenta yang berfungsi sebagai alat pertukaran oksigen dan makanan untuk janin.
Setelah menemukan pasangan yang tepat, maka kuda laut jantan dan kuda laut betina akan saling mengaitkan ekor mereka sebagai pertanda bahwa mereka adalah pasangan “suami-istri”. Jika sel telur kuda laut betina sudah matang, maka betina akan memasukkan telur-telur tersebut ke kantung perut kuda laut jantan.

Setelah telur-telur tersebut masuk ke kantung perutnya, kuda laut jantan akan menyendiri mencari tempat yang aman dan nyaman untuk melepaskan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut. Karena terjadi di luar rahim, cara seperti ini disebut fertilisasi eksternal. Inilah juga yang menyebabkan kuda laut digolongkan ikan karena seluruh ikan melakukannya demikian.

kuda laut
Kuda laut (Hippocampus sp)

Setelah proses fertilisasi, maka kuda laut jantan akan mengerami embrio-embrio kuda laut ini dalam waktu 10-40 hari, tergantung spesiesnya. Dalam proses pengeraman embrionya, kantung perut kuda laut jantan akan membesar seperti layaknya hewan betina yang sedang hamil. Setelah waktunya tiba, maka kuda laut jantan akan melahirkan anak-anaknya dalam jumlah ratusan bahkan bisa ribuan dengan ukuran 0,6-1,2 cm.

Sebelum melahirkan, kuda laut jantan akan menyesuaikan kadar garam dalam kantung perut dengan kadar garam air laut sehingga bayi-bayi kuda laut bisa beradaptasi dengan habitatnya ketika dilahirkan. Dibutuhkan waktu sekitar 10-30 menit untuk proses melahirkan itu. Bayi yang lahir dalam jumlah ribuan ini hanya sebagian saja yang bertahan hidup hingga dewasa.  Bayi kuda laut sangat rentan dimakan predator atau mati karena kerusakan habitatnya. Setelah berumur 30 hari, bayi kuda laut mulai menggunakan ekornya untuk melilit atau bertengger. Pada usia 90 hari alat reproduksinya mulai berkembang sehingga bisa dikatakan mulai dewasa,

Seekor kuda laut dapat berumur 4-5 tahun, tergantung spesiesnya.

[5] Film Hollywood Junior di tahun 1994 bercerita tentang kehamilan bagi laki-laki sebagai sebuah percobaan ilmiah. Film itu dibintangi Arnold Schwarzenegger, Danny De Vito, Emma Thompson, sebuah film komedi berdurasi 109  menit dan disutradarai Ivan Reitman. Junior laris masuk box office dengan pemasukan 108,4 juta dolar dari modal 60 juta.  Soundtrack-nya, Look What Love Has Done yang dinyanyikan Patty Smyth dinominasikan mendapat Academy Award sebagai lagu asli terbaik.

mr big
Mr Big, dari kiri Billy Sheehan, Pat Torpey, Eric Martin, dan Paul Gilbert.

[6] Saya memang menyukai peristilahan yang dibuat grup hard rock Mr Big itu, di mana bassist Billy Sheehan menulis dibantu Andre Pessis, vokalis Eric Martin, gitaris Paul Gilbert, dan mendiang drummer Pat Torpey—yang baru saja meninggal Februari ini sebab sakit parkinson. Kata Mr Big, lelaki mestilah bisa menjadi ayah, saudara lelaki, kekasih, dan anak kecil sekaligus bagi seorang perempuan. Ini catatan kaki kedua yang saya buat tentang lagu Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy, lagu yang disimpan di dalam kantong album Lean Into It keluaran tahun 1991.

[7] Nothing Else Matters, lagu yang ada di album Black Metallica yang direkam pertama kali 30 Mei 1991 di Studio One on One, studio milik Metallica di North Hollywood, California. Konon, gitaris James Hetfield menulis lagu itu pada tahun 1990 saat menelpon Franceska, wanita yang kemudian menjadi istrinya sejak pernikahan tahun 1997. Ketika itu James memegang telepon dengan tangan kanan dan mencekal gitar di tangan kiri, dan begitu saja memainkan kunci E-minor yang menjadi not pertama Nothing Else Matters.

Liriknya “so close, no matter how far”, menyatakan betapa dekatnya mereka meskipun terpisah jauh, dan ‘never care for what they say’ atau apa pun yang dikatakan orang lain, tak usahlah dipedulikan.

Karena begitu pribadi, Hetfield mulanya tak ingin menerbitkan lagu ini, hingga drummer Lars Ulrich mendengarnya dan memaksanya untuk dimasukkan dalam album yang bertitel cukup Metallica tersebut.

Pada video di atas, Hetfield tampil di event Acoustic 4 Cure, event tahunan yang diselenggarakan oleh Sammy Hagar, vokalis Chicken Foot dan mantan vokalis Van Halen.  Hetfield tampil jenaka di acara itu, di mana ia juga mengajak anak perempuannya Cali untuk tampil bersama. 

Ini link untuk cerita Nick yang menjadi foto cover di atas: http://www.dailymail.co.uk/news/article-2408383/The-Distance-Between-Us-Touching-photos-man-living-cerebral-palsy-taken-twin-born-healthy.html

 

Di Ujung Malam

Posted on Updated on

Bulan purnama 31 Januari 2018, bulan purnama kedua di bulan Januari, setelah bayangan Bumi menutupinya selama 3 setengah jam. noviabdi

untuk anak alam semesta, meski kita kan terpisah seribu tahun cahaya

 Kadang-kadang saya terdampar di kota-kota. Dan jatuh cinta.

Di depan hotel tempat saya menginap kami makan tahutek1, makanan sederhana dan murah tengah malam. Kami duduk berhadapan di pojok warung yang terang benderang, saling tersenyum, dan berbicara Bahasa Inggris.

Dia bercerita masa lalunya. Saya mendengarkan dengan prihatin. Tentang ayah ibu yang tidak akur, tentang ayah tiri yang dianggapnya jahanam, tentang kekerasan hati, tentang anak yang diabaikan sekaligus juga dibebani harapan, …

“Mom was a hard person,” katanya. Saya menatap matanya. Setelah beberapa lama, saya mengalihkan pembicaraan.

“I have something for you, …” kata saya.

Bersisian kami berjalan dalam temaram lampu jalan dan beranda hotel. Di dalam lift kami  bertatapan lagi. Tanpa suara.

Pintu lift terbuka, dan saya genggam tangannya. Bukan tangan lembut perempuan lemah, tapi tangan yang tegas seorang pejuang, walaupun kecil dan terasa rapuh. Kami berjalan bergandengan. Saya berharap kamar saya ada nun jauh di ujung lorong itu.

“How old are you?” dia bertanya.

“I was born few years after The Beatles broke up, a few months after big riot in Jakarta.”

Dia tertawa kecil. Saya tahu mengapa. Ketika saya mulai berkuliah dengan kepala plontos, perempuan ini baru saja memulai hidupnya sebagai bayi yang cantik dengan mata cokelat tua yang cerah.

Saya membuka pintu dan kami masuk. Ranjang besar tunggal dengan sprei putih di tengah kamar itu tampak hangat. Lampu kuning yang lembut bersinar dari tepi-tepinya.

“Would you like to stay with me? We can talk all night long.”

Dia tak menjawab. Tersenyum.

Dari tas sandang besar, saya mengeluarkan hadiah kecil yang sudah berbulan-bulan sebelumnya saya janjikan.

“Ah, warnanya pink, …” ia tertawa. Katanya, tak pernah ada barang berwarna pink dimilikinya. Kaus atau t-shirt miliknya, bra miliknya, … hampir seluruhnya berwarna hitam. Ia orang pergerakan.

Kami berpelukan dan berciuman. Perutnya yang ramping terasa kencang. Napasnya membara.  Ada tato di pundak dan di dadanya. Seluruh tubuh mungilnya tenggelam dalam lingkaran lengan saya.

“You are so big,…” ia berbisik. Umhh…

***

Hidup kami mulai bersentuhan beberapa bulan sebelumnya. Kami berkenalan di kota yang lain yang secara kebetulan kami kunjungi bersama dan pada saat yang sama. Kebanggaannya berbeda daripada perempuan dari sebelah barat Indonesia2.

“I have small boobs and dark skin,” katanya.

“I love your small boobs and your dark sweet skin,” kata saya. Dia tersipu.

Lalu kami berbicara tentang keinginannya menjelajah timur Indonesia, ke Flores, Timor, mungkin sampai Papua. Saya cerita tentang rak buku yang saya buat dan akan ada sofa empuk beserta bantal-bantal yang terhampar di depannya.

Juga tentang topik-topik yang bagi umumnya orang sudah selesai. Para aktivis memang gemar mempertanyakan hal-hal yang sudah baku dan mencoba memberi perspektif baru. Atau memaksakan perspektif itu. Kadang-kadang, sambil telentang di tempat tidur, saya merasa diuji oleh pertanyaannya.

Saya menjawab dengan jawaban orang lain. Saya terlatih dengan itu. Dia tahu.

“Your own answer, please, …”

“So far only you asking my own opinion. I agree in some parts with you, and disagree in some others. But I think, it’s not important, …”

Dia juga sesekali membuat pengakuan yang mendengarnya bisa membuat kening dan hati berkerut.

“I am the B in …,” katanya.

“Shhh, dear … “ saya memotong, menaruh telunjuk di bibirnya, memejamkan mata, dan menyambung “…and I just wanna be with you.”

Dia memang sedang cantik-cantiknya.

Muhammad Istiqamah (Is), vokalis dan gitaris Payung Teduh ini memberi pengantar yang jelek untuk lagu itu di acara ini, namun saya tidak menemukan ada rekaman lain Payung Teduh yang memperlihatkan reaksi penonton yang begitu alami seperti di dalam video ini.

***

  1. makanan yang terdiri dari tahu, lontong, kecambah, lalu dilabur saus kacang yang banyak dan kemudian diberi remukan kerupuk. Saus kacang itulah kunci nikmat tahutek sebab Anda bisa mengatur rasanya di situ. Kepada penjualnya, yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur, Anda bisa minta cabe yang banyak. Tahutek ramai dijual mulai selepas magrib hingga tengah malam lewat sedikit.
  2. Ini survai ngawur saja oleh saya, dibuat untuk keperluan cerita ini, dan hanya berdasar pengamatan saja pada pernyataan dan selera kawan-kawan saya yang terbatas—umumnya lelaki (indonesia), dan perempuan (indonesia) hari ini, menyukai dan kepingin seperti para penyanyi girls’s band korea, yaitu berkulit terang—kalau bisa pucat—berambut lurus, dan selera lama lelaki yang bahkan bisa diliht dari relief Candi Borobudur; perempuan berpayudara besar—selain berkaki jenjang seperti belalang (ini ala Korea atau Taiwan lagi). Itu sebabnya (masih) susah Anda temukan di televisi kita perempuan yang berkulit gelap menjadi peraga atau berakting untuk suatu produk, atau bahkan presenter—meski yang terakhir ini sudah diembel-embeli ‘eksotis’ sekali pun dan nyata-nyata para lelaki kaukasus menyukainya.