Ibunda Guru
Tidak harus novel, sebetulnya. Tapi saya memilih novel dengan harapan bisa membacanya tanpa banyak kening berkerut seperti membaca bahan-bahan kuliah yang disodorkan Pak Astin Johannis. Jadi, saya berharap, Reading VII itu bisa saya anggap bersenang-senang.
Tahun itu pertama kalinya Reading VII diselenggarakan sebagai konsekuensi kurikulum baru. Sebelumnya, matakuliah Reading hanya sampai seri IV, namun dengan kredit yang lebih banyak. Di Reading IV itulah saya mengalami hal yang manis tak terlupakan, dan juga pahit getir dunia sebagai mahasiswa. Baiklah saya cerita di lain kesempatan.
Sebagai matakuliah baru, dengan prasyarat matakuliah yang sama dengan seri lebih rendah, belum banyak kawan yang bisa mengambil Reading VII. Apalagi kemudian Reading VII pertama ini diampu Bu Nelly, dosen yang di seluruh Universitas Lambung Mangkurat terkenal dengan ungkapannya “I’ll cling your neck”, aku cekik kau, hahaha–sehingga beberapa kawan yang sebetulnya sudah memenuhi syarat kuliah itu, membatalkan keikutsertaannya.
Peserta mata kuliah Reading VII untuk pertama kali itu cuma bertiga. Ada dua kawan perempuan yang cantik yang bikin saya tambah semangat.
Pada mulanya Bu Nelly memberi daftar buku apa saja yang harus dibaca, namun kemudian ia membebaskan kami mau membaca apa saja. Bukunya boleh dari perpustakaan program studi, perpustakaan jurusan, atau buku-buku di perpustakaan pusat di gedung seberang, atau dari Perpustakaan Daerah di Pal 6–perpustakaan yang saya klaim sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia. Bu Nelly juga mempersilakan mampir ke rumahnya di dekat Koramil di Pekauman itu untuk membaca dari koleksi pribadinya.
Seperti saya bilang di atas, matakuliah ini bagai bersenang-senang bagi saya, meski hanya bertiga, meski tugasnya tak kenal akhir, meski diampu oleh Bu Nelly yang populer juga sebagai ‘Dosen Killer’.
Lagipula, bagian berat dari kuliah itu bukan soal membaca, kawan, tapi membuat laporan, dan nanti mempresentasikannya. Membuat laporan buku berarti membuat sinopsis, mempelajari karakter tokoh dari deskripsi dan alur cerita, menganalisis, dan memahami kalau bisa. Kemudian, sedemikian rupa menulis ulang deskripsi itu, dan terakhir, mempresentasikannya secara singkat juga. Untuk mempelajari karakter tokoh dan menganalisis, kadang harus baca buku lain lagi. Karena dalam bahasa asing, harus buka kamus, belajar idiom, tata bahasa, …
Dan tahun itu internet belum sampai Indonesia. Belum ada google dan semua kemudahan yang tinggal klik.
Sampai di situ juga masih belum bagian yang terberat. Yang berat itu membuat Bu Nelly terkesan.
Bagaimana tidak, tahun itu dia sudah 30 tahun jadi guru. Dia sudah membaca hampir semua buku yang kami baca. Apalagi yang dipinjam dari perpustakaannya. Kalaupun dia belum membaca buku yang saya baca, yang biasanya buku yang saya temukan di Perpustakaan Daerah di Pal 6 itu misalnya, dengan pengalaman dan pengetahuannya, laporan buku saya bisa seperti tulisan pertama orang belajar mengarang. Penuh coretan koreksi spidol merah di sana-sini.
Kalau dia terkesan, artinya cukup puas dengan apa yang kita tulis di laporan, dan bisa paham dari cara kita menyampaikannya—Bu Nelly selalu mengambil posisi sebagai pendengar awam untuk setiap laporan itu–dia akan ringan berkata, “oke,”.
Sudah, begitu saja. Sambungannya paling, “Next, please” kalau masih ada yang akan presentasi. Atau, “See you tomorrow, …” kalau sudah selesai semua.
Untungnya, Bu Nelly tidak pernah menyuruh mengulang membaca atau memperbaiki laporan yang tidak mengesankan dirinya itu. Kami terus maju ke buku berikutnya. Saya dan kawan-kawan harus belajar dari kesalahan di laporan sebelumnya.
Keuntungan lain, tidak ada midtest dan final test, ujian tengah semester atau ujian akhir. Membuat laporan-laporan itu setiap minggu sudah seperti tes. Matakuliah Reading adalah untuk belajar membaca dan memahami teks tertulis, memahami makna yang literal maupun yang figuratif, yang tersurat maupun yang tersirat. Untuk membuktikan kita memahami apa yang kita baca itu, silakan Anda tulis what have you got dan presentasi kemudian.
Tanpa disadari, bagi saya, cara Bunda Nelly mengajarkan Reading VII itu seperti latihan spartan untuk menjadi jurnalis. Mengajarkan kegigihan, semangat, ketajaman, fokus, ketelitian dan kepekaan, mengurai persoalan, melihat jalan keluar, … dan kemudian menyampaikannya kembali dengan bahasa dan kata sederhana sehingga bisa dipahami khalayak yang bermacam jenisnya.
Mungkin dia sudah tahu saya tidak akan betah dengan rekan-rekan kerja yang sama terus menerus, atau menghadapi 40 murid yang kelihatannya saja memperhatikan tapi pikirannya ke mana-mana, atau kerja administrasi yang mesti dibuat sebelum bisa tampil di kelas itu.
Kami lulus matakuliah itu dengan membanggakan. Mendapat nilai B dari Bu Nelly, o kawan, tak sembarangan.
“I’ll cling your neck,” katanya pada saya kadang-kadang bila kesal melihat nilai-nilai saya. Saya hanya bisa cengar-cengir. Orang seperti saya memang tidak bisa menunduk terpekur.
Demikian, tetaplah ia menasihati saya dan meminjami buku dan menyuruh membaca.
“Thank you mam,” kata saya.
“Don’t thank me. Just read your books. Fix your marks,” katanya tegas. “Or I’ll cling your neck, …”
Sekarang sudah hampir 20 tahun saya dalam dunia yang dilatihkannya itu.
Tahun ini, Nelly A Latif berusia 88 tahun. Ada perayaan kecil untuknya, dan seperti adat zaman sekarang zaman now, ada banyak foto yang di-posting di media sosial. Saya tak bisa menahan air mata haru melihat ia dikeliling rekan-rekan yang sebagiannya juga dulu murid-muridnya itu.
Ibu Nelly terlihat sehat walau kurus seperti selalunya. Dengan rok panjang berwarna biru dan sapu tangan putih terselip di pinggang. Ia tersenyum dan memotong kue ulang tahun. Mungkin saat itu lagu Selamat Ulang Tahun sedang dinyanyikan.
Ibunda Guru, aku berutang padamu untuk setiap kebijaksanaan dari setiap huruf, kata, dan kalimat, dari setiap buku yang aku baca dan peristiwa yang aku alami.
Aku tahu aku tak akan pernah bisa membayar. Hanya dengan berbagi jua sedikit ilmu ini kepada yang lain, seperti engkau lakukan meski caranya berbeda, aku berbahagia. Semoga bisa membahagiakan Ibunda. Semoga yang Maha Kaya dan Maha Pemurah selalu bersamamu, Ibunda.
Maafkan juga kalau aku nakal sekali waktu itu. Semoga Ibunda selalu sehat dan diberkati Yang Maha Mulia dalam setiap masa. ***
Januari 26, 2018 pukul 6:56 am
Ilmu yang diberikan semoga menjadi ladang pahala ya mba. Aamin
Januari 26, 2018 pukul 7:20 am
insya allah, mbak alida, aaaminnn