Month: Januari 2018

On Every Journey, I’am Reborn

Posted on

Jalan ke Shelter 3 Kerinci. gemadrakel.com

untuk perempuan tenaga surya, 3 hari untuk selamanya

Pukul satu lewat saya terbangun. Hujan sudah berhenti dan hutan ramai dengan suara serangga malam. Rencananya saya akan langsung ke puncak dari tempat saya menginap ini, satu titik di antara Shelter 1 dan Shelter 2 di punggung Gunung Kerinci di dekat perbatasan Jambi dan Sumatera Barat.

Saya menguap, mengeliat, namun masih memejamkan mata. Saya pun tertidur lagi.

Saya baru benar-benar bangun satu setengah jam kemudian. Seperti orang yang mau sahur, saya menjerang air dan membuat sarapan. Kopi tanpa ampas dicampur energen, plus oatmeal, ditambah setangkup roti bakar isi selai kacang dan keju. Saya masukkan juga air hangat ke botol minum.

Saya hanya bawa kamera, jaket hujan, tas kecil obat-obatan, air, bekal roti, dan payung. Senter dan jaket dipakai. Namun, pukul setengah empat saat akan berangkat, tiba-tiba perut saya mules…

Tak ada jalan lain kecuali berdamai dengan diri sendiri. Saya mengecek bagian kanan tenda. Di ujung sana, di kemiringan, mungkin tempat nongkrong yang nyaman.

Repot, tapi setimpal. Setelahnya lega. Saya jadi segar dan bersemangat. Saya tetap bawa tisu toilet itu, jaga-jaga kemungkinan di jalan, hahaha. Pukul empat, saya mulai summit attack dari ketinggian kira-kira 2.800 meter dari permukaan laut. Hati berdebar riang dan senang. Dengan beban ransel hanya sekitar 2 kg, saya berjalan seperti meloncat-loncat mengikuti tanjakan demi tanjakan yang disajikan Kerinci. Jalan setapak sekarang seperti anak tangga yang berjauhan. Setiap 5-6 langkah landai, jalan naik sejengkal atau dua jengkal. Banyak juga yang hingga setinggi pinggang. Tangan dan kaki bekerja. Tidak ada bonus turunan barang sedikit pun.

Pukul lima pagi, saya sampai di Shelter 2. Tepat seperti yang saya duga, lapangan kecil itu penuh. Dengan beban ringan saya mencapainya dalam satu jam, dengan carrier penuh pastilah 2 jam atau lebih, dalam derita basah oleh hujan dan kelaparan.

Saya bersyukur saya memutuskan berhenti dan mendirikan tenda di tempat itu tadi. Itu sempurna.

Di Shelter 2 semua masih tidur. Saya berhenti sejenak di tanah datar di samping sebuah tenda. Numpang salat subuh.

Hari mulai terang. Shelter 2 adalah batas vegetasi hutan oleh pohon-pohon besar dan lebat. Setelah itu trek memasuki hutan perdu dengan pohon kecil dan semakin banyak tanjakan curam. Trek mengikuti jalur air dan sebagiannya dilingkupi ranting-ranting dari kedua sisinya, sehingga kita seperti memasuki terowongan dan gua, dengan lantai tanah yang lembab.

Lalu setelah memanjat akar-akar pohon dan sampai di atasnya, saya tiba di tanah terbuka, dengan hanya semak dan perdu setinggi lutut. Pemandangan luas terhampar. Di depan saya puncak Kerinci menjulang. Ketika saya berbalik, matahari yang baru terbit menyinari hamparan awan dan lereng dan tetumbuhan. Kami semua bermandi cahaya di atap Sumatera.

Sinar matahari itu juga memeluk saya. Membawa perasaan hangat yang tenang, namun juga menyalakan energi untuk menempuh hari. Dalam sesaat itu, saya diingatkan lagi kenapa saya naik gunung. Perasaan lengkap, komplet, tunai dan selesai, sehingga apa pun yang terjadi setelah itu bisa dihadapi dengan senyum.

Perasaan itu kiranya yang menuntun Anatoli Boukreev menulis dalam, bahwa baginya gunung adalah rumah ibadah, tempat ia mempraktikkan agamanya.

Prasasti kenangan untuk Anatoli Boukreev di kaki Gunung Annapurna. Kata-kata renungannya dipahat di situ. Wikimedia.

Faktanya secara formal Boukreev tidak beragama. Ia orang Rusia, lahir saat Uni Soviet berjaya dan komunis mencengkeram tidak saja negara-negara di Asia Tengah, tapi pengaruhnya juga hampir menjangkau separo belahan dunia. Tapi ia juga besar di di Kazakhstan, negara bagian Uni Soviet yang 70 persen penduduknya muslim. Bagi yang memahami komunis adalah atheis mungkin akan membingungkan. Bagaimana orang Kazakh tetap beragama sambil menjadi komunis? Sama seperti melihat ulang fakta sejarah di Indonesia, orang-orang komunis seperti Haji Misbach mulanya adalah anggota Sarekat Islam.

Betapa pengalaman spiritual bisa dirasakan dan dialami siapa saja, termasuk oleh yang tidak menganut suatu agama, atau bahkan mungkin yang tidak percaya padaNya.

Sebaliknya pula, kita melihat, agama pada orang tertentu tidak membawa pengaruh apa-apa selain untuk formalitas. Sebagian yang korupsi, bila dia muslim, sudah pernah, atau berkali-kali berkunjung ke Mekkah. Dalam logika awam, orang yang sudah berniat dan kemudian melaksanakannya haji tentunya setelah yang bersangkutan paripurna dalam menjalankan kewajiban-kewajiban pribadi seperi salat, puasa, zakat.

(Jangan bicara soal pesohor (Indonesia), itu perkara lain, hahaha)

Nah, bagaimana mereka yang sudah mengalami pengalaman spiritual seperti itu tetap bisa korupsi?

Penjelasan ringkasnya diberikan Bang Napi. Kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Tak ada niat, dapat kesempatan terus?  Tinggal tunggu waktu saja iman hancur berkeping dalam sesat kehidupan (Slank). Ada niat, tak ada kesempatan? Kesempatan lalu dibuat dan diciptakan (KPK, kasus korupsi KTP elektronik). Ada niat dan kesempatan? Habislah negeri ini ditangan para bedebah. (Astagfirullah, saya mengutip Tere Liye).

Jadi tidak ada disebut agama di situ. Atau paham dan ideologi yang dianut. Seringkali terbukti, di depan uang (kekuasaan, juga selangkangan), manusia kembal kepada naluri dasarnya untuk bertahan hidup, menjauhi hasrat tinggi ideologi dan kemuliaan agama.

Soe Hok Gie yang habis geram pun melarikan amarahnya di Gunung.

Karena pergaulannya, Boukreev cukup fasih melafalkan ‘insha Allah’ dan tahu cara menggunakannya dengan pas. Mungkin dikatakannya juga kepada Letnan Jenderal Prabowo Subiyanto saat mendapat proyek pendakian Everest 1996 untuk Kopassus.

Kalau sudah kembali ke peradaban, rumit bukan. Kita kembali ke diri kita yang penuh topeng dan menjalankan peran-peran.

Karena itu saya selalu merindukan gunung, tempat di mana saya merasa dilahirkan kembali. Persis seperti kata Boukreev lagi, “On every journey, I am reborn.”

Reinhold Messner yang semakin bijak pun melihat kesamaan itu. Musa pergi ke Bukit Thursina, Muhammad mendaki Jabal Nur, dan merenung di Gua Hira. Pegunungan Kun Lun San menjadi tempat Fu Hsi dan Nuwa memulai peradaban, dan para pendekar ciptaan Kho Ping Hoo mendaki gunung-gunung di Kun Lun San itu untuk bertapa dan kemudian menciptakan ilmu-ilmu baru. Gunung tidak hanya pasak dunia, tapi juga sandaran spiritual.

Musa lalu memimpin kaumnya keluar dari Mesir. Isa putra Maryam mengajarkan kasih sayang ditengah anak-anak Ishak, Muhammad memperbaiki moral manusia dari kebodohan dan kebiadaban jahiliyah dengan awalan sederhana: perintah membaca.

Gie pun pulang dengan semangat baru setiap kali turun gunung. Sampai dia diputuskan oleh Mahameru cukup pulang jasadnya saja, namun dari puncak semangatnya menyebar kepada mereka yang kritis dan para aktivis.

Di sisi lain, kenyataan banyak yang mengalami sentuhan spiritual itu bukan di puncak, adalah tanda bahwa mencapai puncak adalah pilihan, sementara turun adalah kewajiban.

Kalaupun ngotot harus sampai puncak, maka titik tertinggi itu bukan finish, bukan akhir perjalanan. Puncak itu baru separo akhir. Akhir baik sebuah perjalanan (mendaki gunung terutama) adalah selamat kembali ke rumah, ke pangkuan orang-orang yang kita cintai.

Dengan motto seperti itu, Viesturs sukses mendaki ke-14 puncak tertinggi di dunia di Himalaya dan bertualang ke tempat-tempat lain di bumi.

Saya membuat beberapa foto dengan kamera ponsel, dan mengabadikan semburan keemasan cahaya matahari itu dengan penuh syukur.

 

Matahari dilihat dari batas vegetasi menjelang Shelter 3 Kerinci. Semua bermandi cahaya. noviabdi/asuszenfone2

***

Ibunda Guru

Posted on Updated on

Suatu masa, ibunda guru Nelly A Latif, pernah menugaskan saya membaca sedikitnya 1 novel setebal sekurangnya 250 halaman atau 2 novel tipis 150-an halaman seminggu. Saat itu usianya sudah 60 tahun.

Tidak harus novel, sebetulnya. Tapi saya memilih novel dengan harapan bisa membacanya tanpa banyak kening berkerut seperti membaca bahan-bahan kuliah yang disodorkan Pak Astin Johannis. Jadi, saya berharap, Reading VII itu bisa saya anggap bersenang-senang.

Tahun itu pertama kalinya Reading VII diselenggarakan sebagai konsekuensi kurikulum baru. Sebelumnya, matakuliah Reading hanya sampai seri IV, namun dengan kredit yang lebih banyak. Di Reading IV itulah saya mengalami hal yang manis tak terlupakan, dan juga pahit getir dunia sebagai mahasiswa. Baiklah saya cerita di lain kesempatan.

Sebagai matakuliah baru, dengan prasyarat matakuliah yang sama dengan seri lebih rendah, belum banyak kawan yang bisa mengambil Reading VII. Apalagi kemudian Reading VII pertama ini diampu Bu Nelly, dosen yang di seluruh Universitas Lambung Mangkurat terkenal dengan ungkapannya “I’ll cling your neck”, aku cekik kau, hahaha–sehingga beberapa kawan yang sebetulnya sudah memenuhi syarat kuliah itu, membatalkan keikutsertaannya.

Peserta mata kuliah Reading VII untuk pertama kali itu cuma bertiga. Ada dua kawan perempuan yang cantik yang bikin saya tambah semangat.

Pada mulanya Bu Nelly memberi daftar buku apa saja yang harus dibaca, namun kemudian ia membebaskan kami mau membaca apa saja. Bukunya boleh dari perpustakaan program studi, perpustakaan jurusan, atau buku-buku di perpustakaan pusat di gedung seberang, atau dari Perpustakaan Daerah di Pal 6–perpustakaan yang saya klaim sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia. Bu Nelly juga mempersilakan mampir ke rumahnya di dekat Koramil di Pekauman itu untuk membaca dari koleksi pribadinya.

Seperti saya bilang di atas, matakuliah ini bagai bersenang-senang bagi saya, meski hanya bertiga, meski tugasnya tak kenal akhir, meski diampu oleh Bu Nelly yang populer juga sebagai ‘Dosen Killer’.

Lagipula, bagian berat dari kuliah itu bukan soal membaca, kawan, tapi membuat laporan, dan nanti mempresentasikannya. Membuat laporan buku berarti membuat sinopsis, mempelajari karakter tokoh dari deskripsi dan alur cerita, menganalisis, dan memahami kalau bisa. Kemudian, sedemikian rupa menulis ulang deskripsi itu, dan terakhir, mempresentasikannya secara singkat juga. Untuk mempelajari karakter tokoh dan menganalisis, kadang harus baca buku lain lagi. Karena dalam bahasa asing, harus buka kamus, belajar idiom, tata bahasa, …

Dan tahun itu internet belum sampai Indonesia. Belum ada google dan semua kemudahan yang tinggal klik.

Sampai di situ juga masih belum bagian yang terberat. Yang berat itu membuat Bu Nelly terkesan.

Bagaimana tidak, tahun itu dia sudah 30 tahun jadi guru. Dia sudah membaca hampir semua buku yang kami baca. Apalagi yang dipinjam dari perpustakaannya. Kalaupun dia belum membaca buku yang saya baca, yang biasanya buku yang saya temukan di Perpustakaan Daerah di Pal 6 itu misalnya, dengan pengalaman dan pengetahuannya, laporan buku saya bisa seperti tulisan pertama orang belajar mengarang. Penuh coretan koreksi spidol merah di sana-sini.

Kalau dia terkesan, artinya cukup puas dengan apa yang kita tulis di laporan, dan bisa paham dari cara kita menyampaikannya—Bu Nelly selalu mengambil posisi sebagai pendengar awam untuk setiap laporan itu–dia akan ringan berkata, “oke,”.

Sudah, begitu saja. Sambungannya paling, “Next, please” kalau masih ada yang akan presentasi.  Atau, “See you tomorrow, …” kalau sudah selesai semua.

Untungnya, Bu Nelly tidak pernah menyuruh mengulang membaca atau memperbaiki laporan yang tidak mengesankan dirinya itu. Kami terus maju ke buku berikutnya. Saya dan kawan-kawan harus belajar dari kesalahan di laporan sebelumnya.

Keuntungan lain, tidak ada midtest dan final test, ujian tengah semester atau ujian akhir. Membuat laporan-laporan itu setiap minggu sudah seperti tes. Matakuliah Reading adalah untuk belajar membaca dan memahami teks tertulis, memahami makna yang literal maupun yang figuratif, yang tersurat maupun yang tersirat. Untuk membuktikan kita memahami apa yang kita baca itu, silakan Anda tulis what have you got dan presentasi kemudian.

Tanpa disadari, bagi saya, cara Bunda Nelly mengajarkan Reading VII itu seperti latihan spartan untuk menjadi jurnalis. Mengajarkan kegigihan, semangat, ketajaman, fokus, ketelitian dan kepekaan, mengurai persoalan, melihat jalan keluar, … dan kemudian menyampaikannya kembali dengan bahasa dan kata sederhana sehingga bisa dipahami khalayak yang bermacam jenisnya.

Mungkin dia sudah tahu saya tidak akan betah dengan rekan-rekan kerja yang sama terus menerus, atau menghadapi 40 murid yang kelihatannya saja memperhatikan tapi pikirannya ke mana-mana, atau kerja administrasi yang mesti dibuat sebelum bisa tampil di kelas itu.

Kami lulus matakuliah itu dengan membanggakan. Mendapat nilai B dari Bu Nelly, o kawan, tak sembarangan.

“I’ll cling your neck,” katanya pada saya kadang-kadang bila kesal melihat nilai-nilai saya. Saya hanya bisa cengar-cengir. Orang seperti saya memang tidak bisa menunduk terpekur.

Demikian, tetaplah ia menasihati saya dan meminjami buku dan menyuruh membaca.

“Thank you mam,” kata saya.

“Don’t thank me. Just read your books. Fix your marks,” katanya tegas. “Or I’ll cling your neck, …”

Sekarang sudah hampir 20 tahun saya dalam dunia yang dilatihkannya itu.

Tahun ini, Nelly A Latif berusia 88 tahun. Ada perayaan kecil untuknya, dan seperti adat zaman sekarang zaman now, ada banyak foto yang di-posting di media sosial. Saya tak bisa menahan air mata haru melihat ia dikeliling rekan-rekan yang sebagiannya juga dulu murid-muridnya itu.

Ibu Nelly terlihat sehat walau kurus seperti selalunya. Dengan rok panjang berwarna biru dan sapu tangan putih terselip di pinggang. Ia tersenyum dan memotong kue ulang tahun. Mungkin saat itu lagu Selamat Ulang Tahun sedang dinyanyikan.

Ibunda Guru, aku berutang padamu untuk setiap kebijaksanaan dari setiap huruf, kata, dan kalimat, dari setiap buku yang aku baca dan peristiwa yang aku alami.

Aku tahu aku tak akan pernah  bisa membayar. Hanya dengan berbagi jua sedikit ilmu ini kepada yang lain, seperti engkau lakukan meski caranya berbeda, aku berbahagia.  Semoga bisa membahagiakan Ibunda. Semoga yang Maha Kaya dan Maha Pemurah selalu bersamamu, Ibunda.

Maafkan juga kalau aku nakal sekali waktu itu. Semoga Ibunda selalu sehat dan diberkati Yang Maha Mulia dalam setiap masa. ***