Harimau! Harimau!

Rute pendakian ke puncak Kerinci adalah juga wilayah harimau berkeliaran mencari mangsa.
Jalan di ketinggian 1800 meter dari permukaan laut ini relatif datar sampai Pos I Bangku Panjang. Benarlah, ketika saya sampai lebih kurang 40 menit setelah masuk hutan, ramai pendaki duduk-duduk istirahat di bangku kayu dan batu yang panjang, yang juga disusun persegi panjang. Johan dan rombongan Malaysia menguasai satu pojok. Saya melambai pada mereka dan duduk di tempat kosong pertama yang saya lihat. Semua dalam perjalanan naik.
Lalu setiap kelompok itu mulai jalan kembali. Yang dekat-dekat atau melewati tempat saya duduk, menyapa dan tersenyum. Segera saya tahu, yang jalan sendirian hari itu hanya saya. Kepada Johan saya sudah sampaikan, saya akan berusaha semaksimal mungkin

naik setinggi-tingginya di hari pertama itu, tapi tidak memaksa.
“Saya akan putuskan bermalam di mana pada pukul 4,” kata saya. Hitungan Johan, melihat saya sekitar 15 menit di belakang mereka dari Pintu Rimba ke Pos 1, dan perhentian sepanjang jalan nanti, saya mungkin sekali sudah tiba di Shelter 2 pada waktu itu, sementara mereka sampai Shelter 3.
“Asal abang buka tenda di shelter, amanlah,” kata Johan.
Etape pendakian Kerinci dibagi dalam sebutah pos dan shelter. Setelah Pos 1, Pos 2, Pos 3, ada Shelter 1, Shelter 2, Shelter 3. Pos-pos masih koridor satwa sehingga tidak disarankan bermalam dan mendirikan tenda di tempat-tempat tersebut. Tidak disarankan sebab satu jenis satwa yang keluyuran adalah Panthera tigris sumatrae alias harimau sumatera, kucing besar yang agung itu.
“Memang umumnya binatang, temasuk harimau, takut pada manusia. Mereka lebih suka menghindar kalau mencium bau manusia. Bagi mereka, bau manusia itu sesuatu yang asing dan menakutkan,” kata Paman Rokhtam dalam cerita Berkelana Dalam Rimba yang ditulis Mochtar Lubis.
Walau bisa beda cerita kalau sang harimau berpengalaman dengan manusia, di mana Sang Datuk tahu manusia hanyalah makhluk lemah di antara cakar dan taring di rahangnya, seperti yang dialami rombongan pendamar dalam cerita Harimau! Harimau!, yang juga ditulis Mocthar Lubis.

Jadi, siapa mau berpapasan dengan sadar dengan seekor harimau liar di wilayah kekuasaan sang harimau? Para pemburu pun tidak. Itu barangkali sebabnya dibangun patung harimau, tugu macan, di pertigaan jalan itu. Sebagai pengingat.
Lagi pula, seperti kucing umumnya, sang harimau sendiri sudah mengancam dan menandai daerah kekuasaannya, wilayah jelajah dan medan perburuannya, dengan bau dari kencingnya.
Ingatan akan perilaku harimau ini membuat saya bergegas juga melanjutkan perjalanan setelah menjadi yang terakhir di Pos 1.
(Saat menulis ini saya juga ingat patung harimau yang lain, patung harimau lucu di Cisewu itu, hehehe).
***
Pos 2 Batu Lumut di ketinggian 2.000 meter juga tengah ramai ketika saya sampai. Kali ini tak ada tempat buat yang datang belakangan di bawah bangunan beratap tersebut. Sebab itu banyak pendaki yang duduk-duduk di tepi lapangan di depan Pos, yang luasnya lebih kurang sedikit lebih besar daripada lapangan bulutangkis.
Sudah tidak ada Johan dan para pendaki Malaysia, karena itu saya pun tak lama. Setelah napas kembali normal, ransel kembali nangkring di punggung dan dada, dan perjalanan diteruskan.

Dari Bangku Panjang ke Batu Lumut saya tempuh dalam 50 menit. Saya benar-benar santai. Pikiran soal harimau tadi sudah lama menguap. Meski lemah, manusia banyak akalnya, bukan.
Jalan masih relatif landai dan saya masih sempat melihat-lihat alam, ke sekeliling jalan di mana pohon-pohon yang kurus dan berlumut bersaing mendapatkan sinar matahari.
Sejak dari Pintu Rimba, Pos 1, hingga Pos 2 itu, tak henti-hentinya juga saya bersyukur dan berterimakasih pada diri sendiri yang sudah mau menyisihkan sedikit uang untuk membeli sepatu trekking yang layak.
Sebelumnya, di Semeru saya mendaki dengan sepatu safety, sepatu kulit yang kuat dan sangat melindungi kaki, namun sesungguhnya tidak dirancang untuk perjalanan jalan kaki jarak jauh melainkan hanya berputar-putar berkeliaran seputar bengkel kerja. Di dalam sepatu itu, jari kelingking kaki saya menghajar besi pelindung yang sejatinya untuk melindungi kaki dari kejatuhan benda seperti palu atau kunci pas, atau bahkan terlindas sesuatu. Karena besi di ujung itu, sepatu safety harus dilepas dan diperlakukan sama seperti laptop saat melewati pemeriksaan di bandara. Saya pakai sepatu itu sebab solnya bergigi dan anti slip, dan setengah percobaan.

Karena itu, saya mendaki Rinjani dengan sepatu trail running, sepatu lari lintas alam. Sepatu itu nyaman, tapi ketika tiba di medan turunan curam, ia berubah menjadi ‘pemangsa’ jari-jari kaki. Entah mungkin karena saya kurang kuat mengikat talinya di bagian punggung kaki; ketika jalan menurun, kita menunduk, beban tubuh pun terkumpul di ujung-ujung jari itu, lalu menghantam ujung sepatu, dan mengakibatkan beberapa jari, terutama kedua jempol di kaki kiri dan kaki kanan, menyerah di bawah tekanan.
Sepatu itu sedemikian rupa membuat perdarahan di bawah kuku pada kedua jempol kaki, jari tengah kaki kanan, jari manis kaki kiri. Di bawah kuku jari-jari itu tampak titik merah yang kemudian menghitam. Kukunya terlepas beberapa minggu kemudian.
Karena itu saya merasa harus beli sepatu mendaki gunung yang layak, yang melindungi kaki saya secara maksimal dan tidak bikin masalah kemudian. Dua bulan sebelum saya masuk pintu pesawat tujuan Jakarta di Bandara Sepinggan di Balikpapan, sepatu itu akhirnya tiba. Seseorang dari amazon.com mengirimkan sepasang Kumacross Mid GTX dari Florida, mengirimkannya ke Washington DC, lalu melewati Samudra Atlantik dan Hindia hingga Jakarta, dan akhirnya ke Balikpapan di suatu Jumat sore yang cerah. Saya memakainya beberapa hari untuk penyesuaian. Jangan sampai sepatu baru membuat kakimu lecet, kawan.

Sepatu itu mantap menapak jalan, bahkan di kemiringan dan lumpur yang membuat saya terpeleset dan jatuh terduduk dan tertelentang di Senaru. Saya bersyukur sepanjang jalan, di medan Kerinci yang mulai menyiksa itu, saya memakai sepatu yang sungguh nyaman dan menyelamatkan. Sampai kembali ke medan datar, tak pernah saya terpeleset, atau basah kemasukan air di tempat becek. Kaki saya aman dan jari-jarinya sehat sentausa.
Kalau terasa seperti iklan, maafkan. Dan suwer, I swear, ini bukan iklan. Hanya berbagi pengalaman. Sepatu yang membuat kaki saya berdarah-darah di Rinjani itu juga Adidas yang saya beli di Sport Station di BC sini, seharga Rp750 ribu. Yang membanggakan, sepatu Adidas dari Florida itu memajang jelas di labelnya (walau sedikit modifikasi dari saya, hehehe): Made in China, eh, Indonesia.
***