Welcome to the Jungle

Posted on Updated on

Gunung Kerinci, tegak sendiri, menjulang lebih kurang 2.500 meter dari ketinggian Base Camp. (novi abdi)

Pergilah ke Barat, anakmuda, dan tumbuhlah bersama alam–Horace Greeley–ini bagian ketiga dari Kerinci.

Berbarengan  anak-anak yang berangkat sekolah dengan ceria, kami berangkat menuju gunung, juga dengan ceria. Saya berkata pada Johan bahwa saya akan berjalan dengan irama saya sendiri, yang sepertinya akan lebih lambat daripada Baba dan kawan-kawannya.

“Saya turis Jon, yang kebetulan suka naik gunung,” kata saya. Johan tertawa.

Rombongan Baba bergerak cepat karena membagi bebannya dengan porter yang disediakan Johan. Selain Johan, ada satu pemandu lagi, anak muda yang penyabar yang menyebut dirinya Fander Christopher. Mereka sudah punya persediaan logistik di gunung. Juga sudah ada akomodasi tenda di Shelter 3, tempat orang biasa memulai summit attack.

Saya pinjamkan satu tongkat berjalan saya untuk satu kawan perempuan grup Malaysia itu. Johan ternyata kehabisan gas yang dijanjikannya. Tak apalah, saya kan punya 7 tablet parafin. Sekali masak satu tablet, cukup.

Pukul 08.30 kami memulai perjalanan pada ketinggian 1600 meter. Seperti yang saya katakan pada Johan, saya jalan santai dengan beban sekitar 15 kg di punggung dan 3 kg di depan. Seperti di Rinjani, saya ingin menikmati setiap langkah tanpa harus diburu-buru waktu.

Dari jalan beraspal kasar ujung kebun teh, pendaki masuk ke jalan tanah berbatu-batu (barangkali dulu bekas jalan aspal juga) yang sedikit menanjak, dan sebentar kemudian disambut sebuah bangunan yang tampak tak terawat. Rumput tinggi tumbuh di sekelilingnya. Dindingnya yang berwarna putih penuh coretan dan gambar-gambar. Siapa yang suka membawa-bawa cat semprot sampai jauh ke kaki gunung ini?

welcome kerinci
Ucapan selamat datang dari pengelola Taman Nasional Kerinci Seblat–sudah ditulis begitu, jadi mungkin gak perlu lagi hadir orangnya, hehehe. (foto: TNKS)

Ini Pos Jaga dari petugas Taman Nasional Kerinci-Seblat. Biasa disebut juga R10. Di sini juga mestinya pendaki mendaftarkan diri dengan mengisi beberapa formulir, dan mungkin bayar bea masuk Taman Nasional.

Tapi tidak ada petugas di situ. Posnya juga terkunci. Apakah karena hari masih pagi? Atau sekarang memang tak pernah buka lagi?

Saya bertemu rombongan lain di situ. Empat anak muda yang asyik berfoto di bawah atap, yang di atasnya ada tulisan selamat datang. Saya lewat dan tersenyum dan terus jalan pelan.

Dari awal jalan berbatu sampai pos itu membentang kebun-kebun milik penduduk. Mereka menanam kol, kentang, tomat, bawang merah, lobak, cabai, dan juga jagung. Kebun yang tampak subur di ketinggian 1600 meter.

“Masalah kami di sini bukan kesuburan tanah, atau hama penyakit. Tapi penjualan hasil bumi ini,” kata Parman. Petani ini sedang mengangkut pupuk dengan motornya, lalu berhenti untuk menyeimbangkan beban ketika saya mendekat.

Saat panen, masa yang dinantikan petani, bisa tidak berarti apa-apa sebab harga komoditas yang mereka tanam jatuh karena pasokan yang melimpah.

Kentang yang baru dipanen di Kayu Aro. Antara

***

Sebagian kebun terlihat baru selesai dipanen dan lahan dibersihkan kembali untuk tanaman baru. Karung-karung pupuk ditaruh di pinggir jalan. Dan jalan ke kebun-kebun itu lebih jelas dan lebih terawat, tentu saja, daripada jalan ke gunung, persis seperti di awal pendakian ke Semeru.

Lebih kurang setengah jam dari R10, dalam lilitan tanaman merambat dan ditemani sejumlah papan pengumuman dan peringatan, Pintu Rimba Kerinci mengapit jalan setapak menuju hutan yang tampak gelap. Sebuah tong sampah yang penuh dan sampahnya meluber ada di kiri jalan.

Tong sampah itu pastilah disediakan untuk para pendaki membuang sampahnya setelah membawanya turun dari gunung. Tapi dari tong sampah itu rupanya tak ada lagi orang yang mengangkutnya hingga ke tempat pembuangan akhir. Apakah tong sampah itu ada karena dulu kendaraan bisa sampai pintu rimba ini dengan mudah sebab jalannya dulu beraspal?

“Welcome to the jungle, babe, …” Suara Axl Rose dan intro khas dari gitar yang dimainkan Slash di lagu Guns N’ Roses itu terngiang-ngiang di telinga saya. Saya pun masuk dalam bayangan hutan. Udara menjadi sejuk dan tanah jalan setapak itu lunak sebab hujan. Di beberapa tempat air menggenang dan jalan becek.

 

Tinggalkan komentar