Ikan, Rahasia Kecerdasan Urang Minang

Posted on

liputan6.com

Sepuluh hari sebelum tahun baru 2016, saya tiba selepas magrib di Bandara Minangkabau. Meleset jauh dari jadwal sebab penundaan di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Lelah dan lapar, longgar, dan sendirian. Ini bagian pertama.

Ini pertama kali saya ada di Bandara Minangkabau setelah beberapa tahun. Bandaranya sudah berubah. Seorang kawan, H Makmur, sudah memberikan informasi yang saya harus tahu bila tiba di Bandara itu, seperti tentang bus Damri dan Tranex yang melayani angkutan dari bandara ke kota.

Tapi, dari pintu keluar terminal ini, tidak terlihat keberadaan taksi. Apalagi yang dikatakan H Makmur soal bus Damri dan Tranex, penyedia angkutan murah ke Padang.

“Sudah, 15 (limabelas) aja sampai kota,” kata seorang anak muda calo angkutan, tak jauh dari depan pintu keluar terminal, sambil merendengi saya yang mendorong troli berisi carrier, ransel berisi perlengkapan dan bekal saya di gunung nanti.

Limabelas? Saya membayangkan Rp15.000. Murah. Mungkin ongkos buat satu orang setelah dibagi bersama beberapa orang lain.

Baiklah. Sekali lagi, saya sudah lelah dan lapar.

Sebentar kemudian saya sudah duduk di kursi depan di sebuah mobil avanza. Carrier dan ransel daypack saya di kursi belakang. Ya, ini taksi gelap. Tapi kok tak jalan-jalan?

“Sebentar ya bang. Abang mau ke mana?”

“Andaleh. Kita menunggu siapa? Penumpang lain?” Saya tidak keberatan berbagi tumpangan dengan penumpang lain, yang artinya juga berbagi ongkos.

Tapi tidak ada penumpang lain.

Belum ada jasa transportasi online di Padang ketika itu. Mungkin sekarang juga belum.

Si anak muda calo datang. Rupanya minta persennya. Si sopir menoleh kepada saya. Loh?

Lelah dan lapar saya mendadak hilang dan jadi sadar sepenuhnya. Saya memaki-maki dalam hati sambil berpikir cepat. Saya kesal tapi juga tak ingin keluyuran tidak jelas di bandara dengan manusia-manusia yang saya tak kenal dengan carrier yang berat dan ransel tambahan di depan.

“Berapa?” tanya saya. “Semuanya.”

“Rp150 ribu buat mobil, …”

Saya merogoh saku dan mengeluarkan uang sejumlah itu. Setidaknya jumlah itu tepat sesuai yang saya anggarkan. Kesal saya hanya sebab belum lagi layanan diberikan, ongkos sudah diminta. Uang persenan calo kan tanggungjawab sopir. Kalau belum punya uang, nantilah. Kan mereka akan selalu ketemu. Etika bisnisnya di mana?

Saya kembali merasa lelah dan lapar. “Ayo jalan,” kata saya. Kali ini dengan suara tegas.

***

“Nanti Zul yang jemput, tunggu aja di depan gang,” kata H Makmur.

Saya lupa nama gangnya. Seturun dari taksi avanza gelap itu saya menunggu di ATM BNI di Andaleh. Tak lama, Zul muncul dengan motornya dari sebuah gang di seberang jalan.

“Mau langsung makan, atau taruh tas dulu?” tawar Zul. Ia bisa membaca kondisi perut orang dari raut muka rupanya, hahaha. Walau begitu, saya pilih menaruh tas dulu di kantor AJI Padang, masuk kira-kira 300 meter ke dalam gang yang dibeton rapi itu.

Hendra Makmur dan beberapa pengurus lain masih ada, tapi sudah mau pulang. Hendra jurnalis Media Indonesia dan dulu Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Padang di periode sebelumya. Saya bertemunya di beberapa acara AJI di mana-mana tempat. Kita bersalaman erat dan tertawa atas beberapa hal selama beberapa menit.

“Kau makanlah lalu istirahat. Gampang nanti sepulang dari Kerinci kita ngobrol lagi,” katanya. Tentu saja.

Zul mengajak saya ke tempat dia biasa makan. Warung nasi untuk mahasiswa di tepi jalan yang ramai. Dengan lauk ikan goreng dan sayur nangka dan daun singkong tumbuk berkuah santan, saya makan dengan lahap di bawah televisi yang menayangkan sinetron. Makan di warung padang, di Padang, oleh orang Padang, dikelilingi orang-orang Padang. Onde mande, sedapnyooo.

“Lamak banoo,” koreksi Zul, tertawa.

“Ah, tak apo lah Zul, hahaha.”

***

Saya menunggu Johan di depan ATM di mana Zul menjemput saya kemarin. Tak lama dia datang dengan mobil APV yang sudah penuh. Hanya ada satu tempat kosong di belakang.

“Apa kabar, Bang? Lama nunggunya? Ini kawan-kawan dari Malaysia, dan kita makan dulu ya, …” kata Johan yang duduk di depan.

Makan lagi, hehehe. Begitulah. ‘Makan dulu’ memang bagian dari kenangan terbaik saya dalam kunjungan ke Sumatera Barat dan Jambi ini. Setiap waktu makan adalah spesial, karena memang makannya spesial selalu, walaupun kalau kalian memperhatikan, yang saya pilih untuk makan hampir juga sama selalu; nasi dengan lauk ikan. Tak pernah ayam atau bahkan rendang yang jadi favorit orang sedunia itu.

Well, bagi saya, adalah jelas pemegang hegemoni kuliner di Sumatera ini memang orang Sumatera Barat. Dan saya menyukai dan merasakannya spesial karena kesukaan saya makan ikan tetap dimanjakan dengan berbagai masakan di berbagai tempat di Ranah Minang.

“Karena walaupun jauh di gunung, seperti di Bukittingi, orang selalu punya empang ikan di depan rumah. Mereka pelihara ikan mas, ikan mujair,… ” kata Bagja, kawan sepedaan saya di Ubud, Bali, orang Minang yang separo hidupnya dihabiskan di Bandung, Bogor, Washington, Balikpapan, Sorong, dan tempat-tempat lain di Indonesia, Amerika Serikat, dan Meksiko.

Itu juga barangkali rahasia kecerdasan orang Minang sehingga melahirkan antara lain Bung Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Tulis Sutan Sati, Marah Rusli, Pendekar Sutan, serta Midun dan Maun. Konsumsi ikan yang banyak, meskipun jauh dari sungai dan laut.

“Oh kan ada Danau Maninjau,” kata Bagja, menyebut tempat asalnya.  Ada Danau Singkarak juga.

Itu cukup menyaingi sungai, rawa dan danau di Kalimantan yang ikan-ikannya menjadi darah dan daging saya. ***

 

Tinggalkan komentar