Bersama Elsa Pitaloka, Hilang Bisiak Manjo

Perjalanan 249 km via Jalan Alahan Panjang dari Padang ke Kayu Aro berlangsung meriah dan mendayu-dayu sekaligus. Ini bagian kedua.
Mitsubishi L-300 ini full musik sepanjang jalan. Bung Supir memutar lagu-lagu minang populer dengan penyanyi seorang perempuan.
“Ini Elsa Pitaloka, Bang. Judulnyo Hilang Bisiak Manjo,” kata Bung Supir.
Sebelumnya tadi Janji Hanyo Janji, lalu berikutnya Mudah Bakato Cinto, … dari kumpulan rekaman compact disk The Best of Elsa Pitaloka.
Saya sempatkan bertanya soal musik sepanjang jalan itu di perhentian makan setelah lebih kurang 3 jam kami berlepas dari Padang. Elsa Pitaloka, kata Bung Supir, pernah coba berkarir di Jakarta, tapi kecintaannya pada lagu-lagu minang tak terkalahkan sehingga kembali ke kampuang halaman dan fokus hanya menyanyi lagu minang.
“Urang Bukittinggi jo,” kata Bung Supir. Saya merasa harus tahu Elsa karena menerima nasib duduk di depan speaker sebelah kanan yang ditaruh di depan kursi paling belakang.
Sepanjang jalan suaranya maimbau-imbau dan wajah cantiknya berurai mata, yang kami saksikan dari monitor yang digantung di kaca depan. Kenapa orang cantik hidupnya tragis, kata saya dalam hati, sambil geli sendiri. Tentu saja itu mungkin hanya akting penghayatan Elsa pada lagunya.
Tempat kami mampir makan ini ada di Muara Labuh di Kabupaten Solok Selatan. Halamannya luas, barangkali lebarnya seratus meter dan panjang hingga ke musala di pojok sana ada seratuslimapuluh meter lebih. Warungnya sendiri didirikan di tepi utara, limapuluh meter dari jalan, warung kayu sederhana dengan dikapur putih berleres kuning. Warung yang menyediakan indomie dengan segala cara masaknya yang murah meriah selain jua nasi goreng.
Saya berkenalan dengan Khairul Shafee dan Rosalia Apin, dan yang lain-lain kawan seperjalanan dari Malaysia itu. Mereka berangkat dari Kuala Lumpur (KL). Kak Ros, hahaha, demikian saya memanggil Rosalia, bermobil dari Ranau ke Kota Kinabalu (KK), Sabah, lalu terbang dari KK ke KL. Khairul Shafee, atau akrab dengan nama panggilan Baba, juga asal sebuah kampung di pedalaman Sabah, namun sudah lama ia merantau ke KL untuk bekerja. Selain itu ada 2 perempuan muda yang berkerudung, dan Azim dan Cha Mark, dan seorang laki-laki lagi yang suka pakai pomade.
Barangkali karena merasa sama berasal dari pulau kucing besar ini, saya dan Kak Ros dan Baba jadi cepat akrab.
“Barangkali juga sebab usia,” kata Kak Ros, seorang guru di pekan Ranau. Tak dapat disangkal, di dalam rombongan ini kami bertigalah yang usianya paling banyak, hahaha.
Karena Bung Supir ‘menolak’ untuk mengecilkan volume suara Elsa, maka apa boleh buat, kami pun bercakap-cakap dengan suara keras. ‘Menolak’ itu dalam tanda kutip, kawan, karena ketika diminta, Bung Supir mengecilkan volumenya, dan kita nyaman bercakap-cakap. Tapi, tiap percakapan ada jedanya juga bukan, barangkali satu dua menit kita terdiam sampai menemukan topik berikutnya, atau menyambung topik semula. Tapi terdiam selama itu sudah cukup bagi Bung Supir untuk mengembalikan volume Elsa Pitaloka ke level yang disukainya.
“Bilo kecik suaranyo, mangantuak aku, Bang,” katanya. Oh, … baiklah.
Maka kami pun menyerah, dan mengalihkan perhatian ke luar jendela. Hijau persawahan dan Danau Kembar yang menguasai pemandangan saat melintasi Solok, dipandang dengan takjub.
Jalan antarkabupaten antarprovinsi ini mulus beraspal hotmix. Kami masih berhenti sekali lagi untuk rehat sejenak dan buang air. Mobil berhenti di kota kecil di perbatasan Sumatera Barat-Jambi. Saya sempatkan mencari gas dalam tabung kecil untuk kompor lapangan, dan setelah masuk beberapa toko, tetap tak ada.
Saya tak sempat mencari dan membelinya di Padang. Saya juga tak ngotot mencarinya karena ingat masih punya 7 tablet parafin yang sama efektifnya dengan gas butana.
“Nanti pakai aku punya aja bang,” kata Johan. Johan memang andalan.
Johan adalah pemandu di Gunung Kerinci. Semua mengenalnya sebagai Johan Kerinci. Seperti yang lain-lain, awal saya berteman dengannya lewat facebook. Johan membantu saya mengepaskan tanggal kapan mesti tiba di Padang.
“Kebetulan aku ada tamu dari Malaysia, bila abang mau ikut, bisa tu,” terangnya menyebut tanggal. Saya setuju, dan mengambil penerbangan sehari lebih dahulu daripada tamu-tamu Johan itu.
***
Kami memasuki Kabupaten Kerinci, Jambi, setelah hari gelap. Bulan jelang purnama kemudian mulai menerangi malam. Di sebelah kanan di timur jalan, tampak siluet Gunung Kerinci. Gunung itu menjulang sendirian bermandi cahaya bulan.
Para kawan Malaysia itu berdecak-decak dan berseru-seru dalam bahasa melayu yang riuh. Para perempuan yang tertidur pun terbangun. Mobil melintasi Desa Kayo Aro, melewati patung harimau sumatera tempat para pendaki dan pengunjung Kayo Aro suka berfoto, dan terus naik ke pemukiman ramai dan padat di perbukitan.
Untuk tamu Malaysia-nya ini, Johan tidak mengantar mereka ke basecamp Kerinci miliknya, tapi terus hingga ke rumah permanen berwarna abu-abu yang megah meski ada di tepi jalan sempit dan pemukiman padat.
“Saya pinjam fasilitas yang layaklah,” kata Johan tersenyum.
Begitu kami tiba, Johan langsung ke dapur dan menyalakan kompor merebus air. Ia menyilakan kami beristirahat di ruang tamu sambil menghamparkan karpet tebal di ruang tengah. Lalu ia keluar lagi dengan naik motor. Tak lama, ia datang dengan beberapa kantong plastik berwarna putih.
“Kita makan dulu ya bang,” kata Johan. Amboi, tahu aja kamu Jon. Kantong-kantong plastik tadi berisi lauk ternyata. Dan tetap ada ikan, kawan. Amazing, bukan.
Sementara dia pergi tadi, air sudah mendidih dan para perempuan membuat teh panas seceret besar. Para lelaki menggeser sedikit beberapa mebel sehingga ruang tengah benar-benar lapang untuk tempat istirahat 7 orang.
“Kawan perempuan bisa tidur di kamar,” kata Johan. Bertambahlah lapang ruang tengah itu.
Air sudah terlalu dingin untuk mandi. Setelah gosok gigi, cuci muka, tangan, dan kaki, Baba cs merebahkan diri dan cepat tertidur. Saya masih sempat menulis sebentar, memanfaatkan hening suasana, namun segera juga mengantuk dan memejamkan mata terasa betul nikmatnya.***