Klasika Musika Kusuka
Ini bagian pertama dari dua tulisan, kawan. Maaf kalau ada video yang rada makan kuota. Semoga suka.
Bila bercerita tentang Metallica seperti yang saya lakukan awal tahun lalu nampak bener pamer umurnya, berkisah tentang The Corrs barangkali masih bisa dianggap unyu bak abege kinyis-kinyis …
Tapi benarkah? Hahaha, entahlah Bung.
Lagipula anak SMA sekarang, kelahiran tahun 1999-2000-2001 pun sudah berkernyit keningnya bila ditanya, “Pernah dengar The Corrs?”
Padahal menjadi fans Metallica itu masih mainstream. Adik saya yang guru sejarah meneruskan mengoleksi rekaman musik thrash yang lebih menggelepar lagi seperti grindcore, yang musiknya seperti bunyi mesin diesel pembangkit listrik dan vokalisnya seperti memaki-maki bila bernyanyi.
“Orang ini kadang minum darah kelelawar di atas panggung,” kata adik saya serasa menunjuk foto seorang vokalis grindcore yang mulutnya berlumur darah. Entah Napalm Death, entah Entombed.
Seorang kawan membagikan video musik grup Slayer yang menampilkan adegan kekerasan di penjara, diantaranya orang digorok dengan terang-terangan. Dibanding mereka ini, Sepultura pun masih agak sopan.
Malah, hahaha, … “Kiyut ya,” kata Rita Widyasari, menunjuk Eloy Casagrande, drummer Sepultura, saat grup thrash ini digelarkan jumpa pers di Tenggarong sebelum tampil di Kukar Rockin’ Festival.

Bunda Rita Widyasari adalah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), kabupaten yang pendapatannya dari bagi hasil minyak dan gas mencapai mungkin sekitar 85 persen dari APBD-nya yang Rp7,6 triliun di tahun 2014. Dengan APBD sebesar itu, Kukar adalah kabupaten terkaya di Indonesia.
Sedemikian, Kukar juga terkenal suka menggelar acara-acara kolosal dengan niatan jadi terkenal. Chris John, juara tinju dunia kita itu, pernah mempertahankan gelarnya di Tenggarong. Juga ada festival Erau yang mengundang banyak penampil dari manca negara.
Karena itu, ramai diberitakan bahwa Kukar Rockin’ Festival diselenggarakan dengan dana APBD. Bunda Rita tentu membantah.
Well, agar tak terlalu merasa bersalah (kenapa juga harus merasa bersalah, Nov?), saya datang ke Stadion Aji Imbut sebagai fans, dan nonton aksi Sepultura yang sudah tanpa Igor dan Max Cavalera, dua bersaudara pendirinya.
Band pembuka mereka, hahaha, Edane lagi. Saya kira Eet Sjachranie hanya ingin pulang kampung saja.
***
Saya menuliskan tentang televisi kita di bagian ini sebanyak 398 kata. Tapi setelah dibaca berulang-ulang, sudahlah, skip aja ya. Kita langsung ke bawah lagi, ke TVRI. Masih tentang musik, tentu saja.
***
Tapi, tak ada yang bisa menggantikan kenangan akan TVRI, satu-satunya televisi Indonesia sampai tahun 1986.
Menurut saya, TVRI zaman itu boleh dibilang televisi yang penuh tanggungjawab-selain juga penuh propaganda, hehehe. Mereka punya acara Laporan Khusus, (biasanya jumpa pers presiden, yaitu Jenderal Soeharto, kadang di pesawat terbang pulang dari lawatan luar negeri). Kalau sekarang itu bukan laporan khusus, itu breaking news.
Sinetron-sinetron dan film-nya bagus-bagus. Ada Little House on the Prairie, Full House, Hunter, Rumah Masa Depan, banyak, …
Dari sejumlah acara musik, seperti Aneka Ria Safari, Album Minggu, Televisi Republik Indonesia ini juga punya acara yang luar biasa; Orkes Simfoni namanya.
Ini acara yang menampilkan orkestra-orkestra terbaik dunia memainkan karya-karya agung gubahan para jenius musik seperti Bach, Beethoven, Mozart, Haydn, Tchaikovsky, Rachmaninoff, Strauss, Brahms, atau Vivaldi, Wagner, Schubert, Dvorak, Chopin, dan lain-lain.
TVRI menampilkan komposisi-komposisi ciptaan beliau-beliau di atas itu selama satu jam penuh. Pembawa acaranya Suwanto Suwandi, seorang pria berpipi tembem yang ramah dengan mata bersahabat yang memberi pengantar dengan suaranya yang empuk. Suwanto Suwandi bercerita hal-hal dibalik penciptaan dari komposisi yang akan dibawakan.
Cerita-cerita dari Om Wanto inilah yang pertama kali membuat saya, sebagai remaja ketika itu, mau duduk menonton. Mungkin juga karena saya suka sejarah. Tapi, saya kira, siapa saja suka mendengar cerita, bukan.
Om Wanto berkisah sedikit tentang Requiem-nya Mozart, lagu pengantar untuk orang meninggal. Mozart yang sedang sakit baru menyelesaikan sebagian dari requiem ini. Simpang siur cerita, kata Suwanto Suwandi, requiem itu pesanan Baron Gottfried von Swieten, seorang bangsawan yanng eksentrik, untuk mengenang istrinya.
Cerita lebih dramatis menyebutkan, requiem itu pertama kali dimainkan untuk sang maestro sendiri di hari kematiannya. Ada juga kisah yang bilang, sang pemesan requiem itu sesungguhnya adalah Antonio Salieri, komponis saingan Mozart saat itu. Salieri mendatangi Mozart dengan menyamar, memberi honor uang muka, dan berbalik pulang.
Alkisah, dalam cerita adaptasi biografi Mozart di film Amadeus, setelah beberapa lama Salieri kemudian mengaku membunuh Mozart dengan meracuninya—walaupun tidak seperti Jessica memasukkan sianida ke kopi Mirna.
Sebagai jenius, Mozart kadang keterlaluan kepada Salieri yang jauh lebih senior. Di adegan dari film Amadeus ini, misalnya, ia bilang bisa memainkan lagu Salieri yang barusan dimainkan di hapsichord tanpa melihat partiturnya. Padahal lagu ini baru sekali itulah ditampilkan di depan umum.
Kemudian di layar televisi tampak sejumlah pria dan wanita yang duduk dalam formasi setengah lingkaran. Para lelaki berbusan formal, berjas hitam dengan dasi kupu-kupu, perempuan dalam gaun hitam. Mereka memangku instrumen musiknya masing-masing. Di depan mereka ada standar dengan lembaran-lembaran kertas putih. Tampak kontras dengan jas dan gaun hitam mereka.
Di pusat setengah lingkaran itu, berdiri seorang lelaki yang juga berpakaian formal. Di tangan kanannya ada tongkat kecil semacam sumpit. Ia datang paling akhir, dan ketika ia datang, semua orang yang duduk di setengah lingkaran berdiri dan bertepuk tangan.
Musiknya kemudian dimulai seiring dengan gerakan tangan, terutama tangan yang memegang sumpit, dan ekspresi pria yang berada di pusat lingkaran itu.
Inilah Berliner Philharmoniker. Intro Requiem K626 in D minor adalah lagu yang lambat dan suram, dengan koor dari paduan suara yang bikin bulu kuduk merinding.
Requiem pada bagian Ke-9 Dominae Jesu oleh Berliner Philhamoniker dengan konduktor Claudio Abbado, pengganti Herbert von Karajan. Video ini direkam tahun 1999 di Salzburg Cathedral.
Saya membayangkan rombongan pengantar jenazah Mozart menuju kuburan yang dingin dan beku di malam gelap Salzburg.
Berliner Philharmoniker atau Berlin Phirharmonic Orchestra adalah orkestra terbaik di dunia. Saat itu konduktornya Herr (tuan) Herbert von Karajan, yang memimpin sejak 1955 hingga April 1989. Ketika Herr Karajan meninggal Mei 1989, mungkin sekali Requiem ini dimainkan pula saat pemakamannya.

Pada lain kesempatan Suwanto Suwandi mengisahkan keceriaan musim semi tahun 1723 di Venesia saat Antonio Vivaldi menuliskan La Primavera (Spring, musim semi) yang kemudian menjadi bagian dari 4 komposisi musim Le quattro stagioni di bawah judul Il cimento dell’armonia e dell’inventione atau Empat Musim dalam Harmoni dan Pencerahan.
Dan banyak cerita lain. Kadang-kadang Orkes Simfoni dimulai dari komposisi yang pendek dan ‘ringan’ seperti Fur Elise dan Turkish March, atau Moonlite Sonata. Itu semua komposisi ciptaan Ludwig van Beethoven. Saya yakin Anda kenal kok dengan komposisi-komposisi ini.
Jadilah juga saya penggemar musik klasik. Di Balikpapan, saya menonton beberapa pergelaran musik kamar sederhana dengan 3 atau 4 musisi yang memainkan piano, cello, dan biola di klub-klub kawan ekspatriat atau aula-aula kantor perusahaan migas. Sering pula yang tampil adalah anak-anak sekolah musik atau didikan guru privat yang disponsori perusahaan. Mereka memainkan biola dan piano. Kawan saya, enci Lily Ng, seorang guru piano yang ekselen, tampil memukau bersama murid-muridnya membawakan antara lain Canon in D milik Johann Pachelbel.
Pernah pianis kelas dunia dengan sederet penghargaan Ary Sutedja mampir bersama pemain cello Asep Hidayat. Di Palm Beach, sebuah compound di tepi pantai di timur Balikpapan, saat Mikhail Davis yang suami Ary melukis di kanvas besar agak sedikit di belakang, mbak Ary dan kang Asep memainkan instrumen. Selama dua jam, Ary dan Asep memperdengarkan mulai dari Ave Maria karya Johann Sebastian Bach, Sonata Nomor 5 untuk Cello dan E Minor untuk Piano ciptaan Antonio Vivaldi, Sonata dalam G Mayor K301 untuk Cello dan Piano gubahan Wolfgang Amadeus Mozart.

Saat tampil di Tenggarong pada kesempatan yang lain, Ary dan Asep membawakan juga komposisi-komposisi ciptaan komponis terhormat Indonesia Amir Hamzah Pasaribu seperti Sunrise at the Yangtse, Hangstsu Mountain, dan Dr Sun Yat Sen Memorial Hall, komposisi yang diciptakan dari kesan-kesan Pasaribu saat melawat ke Tiongkok dan di masa Indonesia menjalankan Nasakom.
Opung Amir Pasaribu lahir di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 21 Mei 1915. Ia lalu meninggal di Medan, 10 Februari 2010 setelah hidup selama 95 tahun. Betul bukan, musik bisa memanjangkan umur orang.
“Kalau lihat penampilannya, kamu penggemar reggae deh, bukan klasik,” canda Kang Asep pada saya yang mewawancarainya usai tampil di Palm Beach.
Kadang-kadang saya (dan para penggemar yang lain juga), mendapatkan musik klasik dari film. Ada yang jadi tempelan dan selingan namun ditata sangat bagus seperti di Band of Brothers oleh penata musik Michael Kamen.
Sekali-sekali musik turut jadi pemeran utama dan menghiasi seluruh film seperti di Amadeus tadi, yang sepanjang film berhias musik ciptaan Mozart.
Amadeus adalah film tahun 1984 tentang kekonyolan dan kegilaan Wolfgang Amadeus Mozart, yang mengantarkan aktor F Murray Abraham yang berperan sebagai Antonio Salieri, sebagai best actor, pemeran pria terbaik. Filmnya sendiri meraih 8 Oscar dari 11 nominasi—termasuk 2 nominasi aktor terbaik, dimana selain Abraham juga dinominasikan Tom Hulce yang memerankan Mozart.
Seperti saya sebut sebelumnya, Amadeus adalah film adaptasi biografi Mozart, jadi tak otentik sebagaimana adanya jalan hidup maestro yang mati muda itu.
Ada juga Copying Beethoven, yang menceritakan proses kreatif sang maestro ketika sudah hampir tuli total. Ed Harris yang biasa tampil di film western sebagai koboi pun mengganti pistolnya dengan baton—ini nama tongkat yang mirip sumpit tadi. Harris memerankannya dengan maksimal. Buat saya, film itu sukses menghadirkan Simfoni Nomor 9 dengan ekspresif seperti seharusnya meski untuk kepentingan drama film harus diedit banyak.
Setelah dua per tiga film, ada adegan penampilan perdana simfoni itu. Beethoven yang hampir tuli dibantu Anna Holt, gadis magang yang membantunya menuliskan (copying) musik-musiknya.
Sutradara Agnieszka Holland memotong-motong simfoni yang seluruhnya rata-rata 1 jam 20 menit itu menjadi hanya sekitar 13 menit, tepat di bagian-bagian terbaiknya.
Maka, air mata pun tak terasa bergulir di bagian yang lembut mengalun. Di bagian choral, koor, di Gerakan (Bagian) Ke-4, di saat Beethoven mengangkat tangan dan mengubah tempo, gelombang semangat pun meledak seperti Big Bang dan menyebar ke seluruh semesta, mengalir dari komposisi itu dan merasuk ke urat-urat darah mereka yang menontonnya.
Karena itu tampaknya, John McTiernan, sutradara film Die Hard menaruh Simfoni Nomor 9 di latar ledakan-ledakan sementara Letnan McClane aka Bruce Willis berlari menyelamatkan diri, yippie kayeye…
Di film The Lady, saya juga tergetar haru sebab runtunan nada Canon D di piano yang dimainkan Michelle Yeoh, yang memerankan tokoh wanita perkasa Burma Aung San Suu Kyi di bawah arahan sutradara Luc Besson.
Suu Kyi menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991. Saat hadiah disampaikan di Stockholm, sekali lagi, Canon in D dimainkan. Bukan kebetulan gedung tempat acara adalah Stockholm Concert Hall, gedung tempat pertunjukan musik klasik.
Hadiah diterima suami dan anaknya, Michael dan Alexander Aris, karena Suu Kyi ditahan junta militer Burma di Rangoon.
Pada saat yang sama, di dalam adegan The Lady, di rumahnya dimana ia menjalani tahanan, dengan air mata berlinang Suu Kyi yang mendengarkan siaran radio gelombang pendek atas penganugerahan itu, turut memainkan Canon in D pada piano.
Sayang beribu sayang, Suu Kyi ternyata rasialis kepada kami muslim dan kami jurnalis. Entah apa salah kami padanya. Aktivis hak asasi manusia ini tidak berbuat apa pun atas pengusiran dan kekerasan yang dilakukan tentara kepada etnis Rohingnya, kelompok minoritas yang beragama Islam di negaranya.
***