Month: Juli 2016
Karena Hidup Harus Lebih dari Sekedarnya
Untuk Naina Qurrataayun, selamat ulang tahun.
Akhirnya pertanyaan itu sampai kepada saya: “Kenapa lu naik gunung (lagi), Nov?”
Bang Fionk yang bertanya, saat saya sampai di rumahnya yang damai di Pamulang. Saya baru turun dari menengok Gie di Gede-Pangrango setelah sebelumnya menghadiri sebuah acara Aliansi Jurnalis Independen di Yogya.
Kenapa? Saya tertegun. Saya tak mengira pertanyaan itu akan ditanyakan juga kepada saya.
Sebab, engkau mungkin tahu kawan, sejarah mencatat, bahwa pertanyaan itu menjadi terkenal karena dilontarkan jurnalis kepada George Mallory, dewa para pendaki gunung, yang jasadnya bersemayam di Sagarmatha dalam keabadian salju yang hanya sekali-sekali terkuak oleh panas matahari.
Sebab kawan, saya adalah jurnalis. Sayalah yang mengajukan pertanyaan, bukan yang ditanyai.
Jurnalis The New York Times itu bertanya kepada Mallory menjelang keberangkatannya ke Nepal untuk mendaki Everest di tahun 1924.
Jadi pertanyaan itu untuk dewa, dan hanya pantas ditanyakan kepada yang ingin mendaki gunung tertinggi di dunia.
Bahkan Ed Viesturs itu pun, yang menjejakkan kakinya di 14 puncak dunia yang sebagian besarnya di Himalaya, dan 7 kali ke puncak Everest, juga tertegun (sejenak) ketika ditodong pertanyaan itu.
“Kenapa Bung naik gunung?”
Bagaimana menjelaskan sebuah kegilaan yang dibungkus gagah itu?
Ed Viesturs menulis lima buku untuk menjelaskannya, The Mountain, My Time On Everest; The Will to Climb; No Shorcut to The Top; K2, Life and Death on The Most Dangerous Mountain; dan Himalayan Quest.
Anatoli Boukreev menulis, setahu saya, 2 buku, The Climb dan Above The Clouds. Boukreev memberi jawaban dari banyak sisi kenapa orang naik gunung, dan kenapa dirinya sendiri naik gunung.
Norman Edwin menulis sebuah buku, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan,” dan banyak artikel dari pengalamannya di alam bebas. Soe Hok Gie menulis sejumlah artikel pendakian gunung di antara puluhan (mungkin ratusan) tulisan kritik kepada penguasa dan keadaan.
Saya belum menulis apa-apa. (Baru cerita-cerita waluh-waluh ini aja, hehehe).
Untuk Bang Fionk, saya tak menjawab kecuali tersenyum saja. Untung saja sarapan pagi yang nikmat itu—porsi besar mi goreng instan dengan telur mata sapi dan teh manis panas yang disajikan sang Nyonya Rumah dalam keramahan keluarga dan kehangatan kasih sayang—bisa membuat pertanyaan ini lewat begitu saja tanpa jawaban.
***
Saya tahu ada pertanyaan dan jawaban itu pertama kali dari kisah Norman Edwin. Si Beruang Gunung bertutur di bagian kata pengantar dalam bukunya yang kecil namun lengkap isinya. Lalu seiring waktu, kisah Mallory, pertanyaan dan jawabannya itu saya dengar dan baca lagi dari banyak cerita oleh penulis alam dan para pendaki.
Dalam banyak kutipan, Mallory menjawab pertanyaan itu dengan 3 kata yang jadi terkenal itu. “Because it’s there…” Karena gunungnya ya di situ. Dalam film Everest tahun 2015 arahan sutradara Balthazar Kormakur, para pendaki yang dipandu Rob Hall musim pendakian tahun 1996, di tenda di basecamp Everest, mengulang kata-kata itu serempak sambil menunjuk puncak.
Saya baru saja tahu bahwa ternyata jawaban Mallory atas pertanyaan itu sebenarnya cukup panjang. Dari satu dokumen lama dituliskan jawaban Sang Dewa. Kata Mallory, “Because it’s there. Everest is the highest mountain in the world, and no man has reached its summit. Its existence is a challenge, the answer is instinctive, a part, I suppose, of man’s desire to conquer the universe…”
Mallory naik gunung, dalam hal ini Everest, karena itulah gunung tertinggi di dunia. Ketika itu, tahun 1924, belum ada orang yang mencapai puncaknya. Kata Mallory, gunung itu ada saja sudah dengan sendirinya menantang naluri petualangan. Mendaki Everest adalah serasa menaklukkan alam semesta.
Sebab itu jawabannya, barangkali, mudah. “Because it’s there…”
“Ya karena gunungnya di situ.”
Tahun 1921 Mallory mencoba Gunung itu untuk pertama kali dan gagal sebab cuaca buruk dan perlengkapan yang tidak memadai. Tahun 1922 mereka kembali lagi dan berhasil mencapai ketinggian 7.000 meter sampai longsoran salju menewaskan 7 sherpa pembawa barang.
Tragedi itu tidak menghalangi orang yang keras hati ini. Ia tetap berangkat 2 tahun kemudian.
Tahun 1924, Mallory dan rekannya Andrew Irvine terlihat terakhir kali di dinding utara, sekira 800 meter vertikal dari puncak.
Baru tahun 1999, Conrad Anker menemukan sisa-sisa jasad Mallory tertelungkup di tanah berbatu kuning di salju yang terkuak. Cuaca dingin mengawetkannya. Anker, sebagian kalian mungkin mengenalnya lewat film Meru, film semi dokumenter pemanjatan Meru, tebing bak sirip hiu, juga di Himalaya.
Tak ada jejak dari Irvine kecuali kapak es yang ditemukan tahun 1933.
Apakah Mallory dan Irvine mencapai puncak? Wallahualam, …
***
Bila Mallory begitu mudah dan spontan memberi jawaban untuk pertanyaan itu, lalu Viesturs menulis buku, maka tidaklah mudah kiranya bagi saya menjawab dengan enteng seperti Mallory, apalagi menulis seperti Viesturs, pun Norman Edwin.
Boukreev pun harus dihujat dulu oleh Jon Krakauer sehingga merasa harus menjelaskan sendiri apa yang terjadi dalam malapetaka di Everest tahun 1996, dan latar belakangnya.
Sebagai generasi yang datang belakangan, jawaban mudah saya adalah mungkin sekali saya hanya ingin meniru. Hanya a wanna be. Apalagi saat masa kuliah dulu dimana saya aktif di organisasi pencinta alam itu. Melihat aksi Norman di tebing di bukunya itu, atau romantisme cerita Hok Gie tentang keindahan Mandalawangi, heroisme kisah prajurit Kopassus Pratu Asmujiono yang bertakbir di puncak Everest—yang membuat Boukreev yang memandunya juga terpana, …
Walaupun pada praktik dan kenyataannya, tidak mudah juga. Bahkan untuk sekedar meniru itu. Walaupun skala menirunya diturunkan jauh, hehehe, dari Everest yang 8.848 m dan high altitude gunung-gunung Himalaya, menjadi Semeru 3.726 m dan gunung-gunung lain Nusantara.
Tuhan maha adil, gunung-gunung di kepulauan ini semuanya indah meski puncaknya berada di ketinggian separo saja dari puncak-puncak Himalaya.
Dan setiap gunung memiliki tantangan dan bahaya masing-masing. Shizuka, perempuan 16 tahun, misalnya, tewas di cuaca yang baik di gunung yang ramah di Gede-Pangrango dan dikelilingi oleh puluhan rekan-rekannya. Yudha hilang ditelan kabut Kerinci. Beberapa kali saya dengar kisah pendaki tewas atau hilang di Bawakaraeng. Saat saya turun dari Rinjani, seorang pendaki Italia tewas kecelakaan terpeleset masuk jurang, dan dulu pernah di rute dari Ranu Kumbolo hingga Kalimati, sampai Arcopodo, bahkan Puncak Semeru, ditandai dengan plakat peringatan para pendaki yang tewas—sampai-sampai memberi kesan bahwa mati di gunung itu keren banget.
***
Jadi, siapa yang kau tiru, sobat?
Jawaban ini agak mudah, walau bisa panjang sekali. Saya buat singkat saja.
Selain mendiang Norman, saya menemukan sosok panutan lain dari kisah-kisah tentang Reinhold Messner. Sejak tahun 70-an, Messner sudah memulai langkah untuk menjadi dewa gunung itu—yang kemudian resmi ditahbiskan padanya begitu mencapai puncak Everest tanpa suplai oksigen dari tabung, dan sendirian.
Udara tipis mulai ketinggian 6.000 meter mengandung oksigen hanya seperempat dari udara di level 0 meter dari permukaan laut. Perlu empat kali bernapas di gunung untuk menyamai sekali tarikan napas di pantai. Pada tekanan rendah, artinya saat badai sedang berkecamuk, kadar zat asam bisa drop lagi sampai tinggal 14 persen.
Dampak kurangnya oksigen pada manusia adalah fungsi otak yang melambat dan kemampuan fisik yang menurun. Dituturkan oleh Boukreev, para pendaki Indonesia yang dibimbingnya ke puncak pada ekspedisi 1997, menempuh 30 meter terakhir menuju plat alumunium tanda triangulasi Puncak Everest dalam setengah jam.
Bayangkan, satu meter, satu menit. Tak usahlah membandingkan dengan Usain Bolt yang menempuh 100 meter dalam 9,58 detik di ajang Kejuaraan Dunia Atletik Berlin 2009. Cukup dengan langkah Anda sendiri.
Tapi ada manusia yang tetap normal tanpa bantuan oksigen dari tabung di ketinggian itu. Tidak banyak, jadi saya bisa sebutkan satu-satu, Boukreev, Ed Viesturs, dan Reinhold Messner.
Mungkin ada beberapa yang lain, tapi belum tercerita jadi saya tak tahu. Atau saya belum baca dan dengar kisahnya. Respek saya untuk mereka juga.
Sejak tahun 80-an itu, Messner menambah tingkat kesulitannya dengan melakukan semuanya sendirian. Viesturs mengikuti teladannya.
Itulah, menurut saya, begitulah level tertinggi cara mendaki gunung high altitude. Sendirian, dan seminimal mungkin menggunakan bantuan fisik seperti suplai oksigen itu.
Well, saya yang gugup di dalam kabut yang semakin tebal dan hujan, serta kehilangan jejak jalan setapak di Puncak Kerinci (3.805), sudah cukup puas dengan menjalani sebagian trek sendirian.
Sebab pada hakikatnya saya tak pernah benar-benar sendirian. Selalu saja ada kawan sepanjang jalan.
Di Semeru ada Pepeng dan Bono, di Rinjani ada Ridho dan Arif, di Kerinci di awalnya malah sudah bersama rombongan Baba dan Ka Ros yang dipimpin Johan walau kemudian di Gunung saya jalan sendiri. Apalagi di Gede-Pangrango yang didaki 300 orang per hari.
Malah di Kerinci yang sederhana dan lurus itu saya punya tamu. Ada anak muda yang tergeletak di dalam tenda saya pada pukul delapan malam seturun saya dari Puncak.
“Saya Dimas, Bang. Asal Tangerang. Saya numpang istirahat ya Bang. Perut saya mules dan saya sudah lemes. Temen-temen saya udah pada naik,…” kata pemuda yang meringkuk itu.
Dimas ini memang terlihat pucat dengan mata sayu yang berat.
“Iya, istirahat aja dulu di sini. Saya bertemu teman-temanmu dekat Shelter 4. Sebentar saya masak dan kita makan, lalu kamu minum obat.”
***
“Jadi kenapa Abang naik gunung?”
Saya lupa siapa yang bertanya dari 7 orang anak-anak muda asal Pekanbaru itu. Seperti jurnalis, seseorang merekam dengan kameranya. Ada seorang lagi yang menghidupkan perekam suara di androidnya. Kami menunggu nasi masak. Ikan asin tengah digoreng dan menguarkan bau yang bisa membuat air liur menetes.
Mengapa mereka bertanya pada saya? Mereka sendiri naik gunung.
Saya ingat gunung yang pertama kali secara resmi saya daki. Bukit, lebih tepatnya. Bukit Pamaton di Kiram, Karang Intan, yang tingginya sekitar 300 m dari permukaan laut. Pamaton itu menghajar fisik dan mental kami peserta pendidikan dan latihan Kompas Borneo Unlam dengan teras-teras yang menipu dan puncak-puncak palsu.
Bagaimana kami melihat semua penderitaan itu sebagai sebuah kenikmatan?
Saya juga mengingat semua yang saya lakukan sebelum sampai di Kerinci itu. Saya berlari lintas alam bersama Balikpapan Hash House Harriers setiap Senin sore—rata-rata 10 km, atau lebih kurang 70-90 menit. Dua hari berikutnya, menjelang senja, berlari di bukit-bukit sekitar rumah selama 60 menit, dan Sabtu sore menumpang lari bersama Mixed Hash House Harriers—juga klub lari lintas alam.
Lari lintas alam naik turun bukit secara hash memang berbeda dari yang dilakoni kawan Indorunners. Itu seperti offroad dan onroad. Jadi harap maklum bila catatan waktunya berbeda.
Di antara hari-hari lari itu, malam atau sore, setelah menyelesaikan pekerjaan harian, saya mampir dan berlatih beban di Dinasti, pusat kebugaran milik mas Haji Bonny Setiadji, seorang tionghoa muslim yang piawai mengobati orang sakit secara alternatif.
Agar tak bosan, saya bersepeda offroad di hari Minggu, melewati jalan-jalan kampung yang dekat rumah atau jauh dari rumah, sudah pernah dilewati ataupun baru pertama kali. Atau memanjat tebing buatan di halaman Dome bersama Ensemble Total Indonesie.
Kadang-kadang bila sedang ditugaskan ke kota lain, saya bawa sepatu lari. Jadilah numpang lari di pagi hari di Yogya, di Bandung, Jakarta, Banjarmasin, Denpasar, Surabaya, Samarinda, Tarakan, Malinau, dan berlatih beban di gym hotel yang kadang lengkap dengan beragam alat (termasuk dengan rekan berlatih yang berbusana minim dan sexy), dan sering pula dengan alat seadanya.
Kata Norman: “Jangan bikin repot orang lain di gunung.”
Di Gunung, kawan, semua orang repot dengan napasnya sendiri, perlengkapannya sendiri, bebannya sendiri, dengan dirinya sendiri. Pun bila Anda membayar jasa porter. Jangan menambahkan beban tanpa perjanjian dan tanpa menambah pembayaran.
Lagi pula keindahan gunung, juga persahabatan sesama pendaki, akan lebih bisa dinikmati bila badan bugar dan sehat.
Kalau sakit di gunung, apa boleh buat, mau tak mau, pasti merepotkan orang lain. Walaupun tak ada yang merasa direpotkan dan persaudaraan antarpendaki tak mengenal hitungan, tetap saja merepotkan. Kita sudah mengurangi kesempatan orang lain menikmati waktu dan keindahan alam yang barangkali sudah lama dinantikan yang bersangkutan—walau mungkin juga sakit kita itu memberi kesempatan untuk persahabatan.
Niat naik gunung memberi saya hidup yang sehat dan teratur dalam bingkai linimasa jurnalis yang penuh dinamika, tinggi tekanannya, tapi juga kerap seenaknya dan sesukanya.
Kawan, ketahuilah, menjadi jurnalis (apalagi yang memutuskan hidup mati di lapangan saja dan ogah menjadi birokrat di kantor) hampir identik dengan selalu siaga seperti tentara, determinasi tinggi seperti mata-mata, gigih dan bisa memeras otak seperti remaja menghadapi ujian kelulusan SMA, tapi di sisi lain tidak jarang makan dan istirahat sesempatnya ala Sherlock Holmes atau bahkan makan seadanya bak anak kos—walau bisa juga makan mewah memanjakan selera.
Kiranya begitu. Naik gunung hanya konsekuensi logis. Itu hanya muara dari lari lintas alam itu, dari kesenangan mempersiapkan dan mengatur sesuatu, dari kebahagiaan bertemu sahabat-sahabat baru, dan ketagihan akan kesenangan yang datang sesudahnya—yang antara lain datang dari perasaan menjejakkan kaki di puncak.
Maka kenapa tak diteruskan saja kegilaan ini. Menjadi gila itu enak, dimana kita justru jadi bisa menempatkan sesuatu kepada tempatnya seharusnya.
Dalam hal saya, sambil jalan, keajaiban bermunculan. Ketika mendaki Semeru, saya bertemu Pepeng dan Bono yang mengisahkan pengalaman mereka mendaki Rinjani. Di Rinjani, Ridho dan Arif menuturkan pengalaman mereka di Kerinci. Saat di Kerinci, Baba dan Kak Ros dari rombongan pendaki Malaysia bercerita betapa rapinya pendakian di Kinabalu.
Ketika mencari informasi tentang Kinabalu, ada kisah perjalanan yang rinci dari anak-anak SMA yang mendaki Kilimanjaro di Tanzania. Anak-anak SMA di gunung tertinggi Afrika, teman.
Kembali ke Balikpapan, seorang kawan veteran hiking trip di Himalaya, yang istrinya cantik, dengan serius mengajak, “Ayo ke Carstenz…”
Kawan itu menjadwalkan pendakian ke Carstenz Pyramid di 2017 mendatang. Saya bergidik mendengar jumlah biaya yang dibutuhkan per orang. Tidak kurang dari 17.000 dolar AS atau sekira Rp224 juta lebih. Lebih mahal daripada ongkos naik haji plus.
Hahaha, nantilah itu dipikirkan serius. Untuk orang biasa seperti saya yang penghasilannya biasa-biasa juga—bila itu dari kocek sendiri—tentulah lebih dihargai bila digunakan untuk hal-hal lain yang dianggap lebih utama ketimbang (sekedar) naik gunung.
Sambil menunggu 2017 itu, bisa saja saya lebih tertarik kisah kawan saya Fabio Pestana, juga kang Ashadi Aboe, untuk trekking saja (bukan naik-naik ke puncak gunung) ke sejumlah rute.
Dari Lukla ke Base Camp Everest selama 13 hari, misalnya, atau ke Lost City di Kolombia, ke Mont Blanc dan mampir menemui kawan lama keluyuran di hutan-hutan Malinau Alex dan Julien di Perancis, ke Patagonia, ke Inca Trail di Peru, juga ke rute Tanjung Selor sampai Apau Ping melawan arus Sungai Kayan, trekking sampai Long Layu, lalu mungkin pulang naik pesawat terbang Porter Pilatus yang kecil mungil itu ke Malinau.
Menarik bukan—membuat saya tak ingin keluar jalur ini dan tetap bertahan di situ—barangkali, selamanya. Till death do us part.
Saya ingin melihat sebanyak mungkin, mengalami sebanyak mungkin. Kalau bisa mendaki setinggi mungkin, berjalan sejauh mungkin, dan menjelajah seluas-luasnya, sambil bertemu sahabat dan saudara sebanyak-banyak bisa.
Saya pun jadi lebih bersemangat menjalani hidup dan membuat tujuan-tujuan baru sambil berusaha sebaiknya sekuatnya memenuhi apa yang digariskan Sang Pemberi Hidup.
Sepulang dari Gunung, apa pun keadaannya, saya selalu bahagia. Kadang dengan badan remuk redam, kantong kosong dan rekening bank menipis, jari-jari tangan dan kaki dipenuhi plester, bibir pecah-pecah dan ujung hidung menghitam, dan tetap bahagia.
Sebaliknya, di Gunung, saya merasa kembali pulang ke rumah. Kepada bunda alam dan ayahanda kebebasan. Kepada kawan-kawan yang meskipun tak kenal nama, tapi paham semua laku dan perbuatan, sehingga kami semua hanyalah saudara yang belum bertemu.
Sambil menyuap nasi putih yang hangat dari piring plastik berwarna pink dan sekerat ikan asin, saya memandang kawan-kawan anak muda Pekanbaru yang penuh semangat ini. Untuk mereka, saya pilihkan jawaban Ed Viesturs.
“Karena saya suka prosesnya.”
Ditambah dengan prinsip hidup Budi Belek, kawan Norman Edwin yang tewas di Sungai Alas dalam arung jeram yang mencekam, “Sebab hidup itu, kawan, harus lebih dari sekedarnya.”
***