Adalah Sungai dan Jukung …

Posted on Updated on

Sesekali Neng datang ke Sekretariat kami di Kampus di Kayu Tangi pada dinihari. Agar diizinkan orangtuanya, sebelumnya ia menginap di kos temannya yang dekat kampus.

Katanya, ia minta izin mau pergi ke mana sesuai dengan apa yang memang kami rencanakan. Tak boleh bohong pada orangtua, sobat. Neng hanya tidak bilang bagaimana cara perginya.

Sebab, hehehe, kalau Anda bertemu saya hari ini pun, saya yakin Anda akan berpikir panjang lebar untuk mau ikut ajakan saya dan bepergian ala saya ke tempat-tempat dimana saya mengajak Neng untuk didatangi.

Secatatan saya, di luar saudara-saudara saya di Kompas Borneo Unlam, hanya 4 orang, termasuk Neng, yang mau memenuhi ajakan saya. Neng pula yang satu-satunya  perempuan, dan yang paling muda diantara semuanya.

Satu dari 3 yang lain, adalah kawan laki-laki dan ada yang posturnya lebih besar dari kami semua yang mau ikut ajakan saya itu. Ketika pulang menjelang tengah hari, ia mengomel panjang pendek dan bersumpah tak akan lagi ikut-ikut ide saya.

Emang mau kemana? Atau emang kemana aja sih?

***

Kampus Universitas Lambung Mangkurat di Kayutangi di Banjarmasin itu dilewati 2 buah sungai. Ada satu sungai di depan, yang jembatannya lebih kurang 100 meter dari gerbang utama kampus.

Satu sungai lagi ada di belakang di dekat Kampus Politeknik. Sungai yang dibelakang ini mungkin lebih tepat disebut handil atau saluran air irigasi sebab digunakan petani mengairi sawah pasang surut yang saat itu ada di lingkungan Unlam. Lahan sawah itu tampaknya sudah dibeli atau dibebaskan pemerintah, namun sebab belum dimanfaatkan Unlam sehingga pemilik asalnya masih diizinkan bertani di situ.

Untuk sungai yang pertama, kami menyebut gampangnya saja, Sungai Unlam. Mungkin nama aslinya Sungai Kayutangi. Mungkin, kalau ada penelitian tentang nama asli sungai itu, maka hasil penelitian itu pastilah belum dipublikasikan.

Sungai itu masuk kampus dari bagian selatan, dari jembatan di ujung Komplek PU dan pemukiman penduduk di Sungai Miai (astaga, barangkali itulah nama asli sungai itu) lalu berkelok ke kanan di belakang gudang dan garasi Rektorat lama, dan membentuk meander dan lubuk yang dalam di ujung gedung rektorat lama itu, tepat di samping Poliklinik Unlam.

Meander artinya membentuk tikungan U. Kalau menurut bahasa MotoGP, U turn. Beberapa kawan penulis dan analis dunia balapan menyebutnya akrab, tikungan tusuk konde.

Tahukah kalian konde, kawan? Beberapa waktu lalu ada kawan-kawan mahasiswa yang menggelar demonstrasi minta konde dan tusuknya itu ditinggalkan saja. Alasannya antara lain merepotkan. Saya lihat, tanpa diminta pun keadaannya sudah seperti itu. Karena memang mengenakan konde tak mudah, wanita berkebaya dan berkonde hanya pada kesempatan tertentu yang jarang. Ada juga kesadaran mengenakan pakaian yang menutup aurat komplet seperti jilbab lebar dengan sendirinya membuat konde sudah menjadi sejarah bagi sebagian wanita.

Di tepi meander kecil itu, tumbuh sebatang pohon beringin besar. Daun-daunnya yang kecil namun lebat menaungi sekitarnya. Sulur dan akar-akaran dari atas menjulur ke air.

Sebab suasananya yang sejuk, di tengah hari bolong seekor biawak sering bersantai di situ. Saat itu ukuran lebar badannya kira-kira 15 cm dan panjang satu meter lebih. Cukup besar, karena itu dia tidak serta merta kabur bila bertemu saya. Matanya yang hitam kelam dengan pupil panjang itu bergerak-gerak tanpa berkedip. Kulit kelabu dengan bintik-bintik kuning yang membuat makhluk itu terlihat berwibawa. Saya kira biawak itulah sang penguasa meander dan kawasan bawah pohon beringin sampai ke belakang bangunan yang kemudian menjadi Kantin Kopma.

Di belakang Kantin Kopma itu sungai membelok ke kanan sedikit, lalu lurus menyusup di bawah jalan raya kampus. Di sini ada siring yang membatasi kedua tepi sungai dan di sisi timur. Di bagian sisi di mana ada Gudang Alat Tulis Kantor Rektorat teduh oleh naungan pohon-pohon akasia.

Suasananya bisa nyaman sekali. Kantin Kopma itu, antara tahun 1995 hingga 2000, jadi tempat rendevu yang enak. Kawan-kawan panitia pergelaran musik jazz dari Fakultas Ekonomi (Economic Sunday Jazz Festival ya? Masih digelar acara itu?) bahkan cukup percaya diri mengajak artis Jakarta yang tampil jadi bintang tamu makan di Kantin Kopma. Andre yang kini jadi pelawak itu dan bandnya, Stinky, pernah dijamu di Kantin Kopma. Rasanya Java Jive juga. Tapi yang Java Jive ini saya tak yakin, hehehe.

Sebagai tetangga kami di Kompas Borneo Unlam sering diundang makan gratis, terutama saat Kantin tutup setelah pukul sepuluh malam. Koki di Kantin itu teman, dan kami dimintai bantuan untuk menghabiskan makanan yang bagaimana pun tak laku atau tidak sehat dan tidak patut untuk dijual lagi saat buka besok.

“Sedaaapppp,” kata Amang Efeet, usai menghabiskan sepiring nasi goreng sosis. Saya pun mengatakan hal yang sama. Makan apa yang tidak sedaaappp bagi mahasiswa dan anak kos?

Memang sesungguhnya yang tidak kreatif dan tidak menggunakan akalnya dengan maksimal saja yang menderita. Kecuali kalau menderita itu pilihannya.

Di bagian sungai di sebelah Kantin Kopma itu juga, atau pasnya lebih maju sedikit, ke sebelah Toko Kopma, saya pernah ditangkap, dilucuti dompet dan hp, digotong beramai-ramai, dan dilempar ke tengah sungai dalam keadaan berpakaian lengkap jaket biru KBU dan sepatu,…

Untunglah sore itu sungai sedang pasang. Hari itu tanggal 7 November, dan itulah cara kawan-kawan KBU mengucapkan selamat ulang tahun buat saya. Masih lebih beruntung daripada diguyur air comberan atau adonan telur dan tepung seperti yang dialami Bang Mail, Sapar,  atau Bobby, dan yang lain-lain.

Setelah jembatan, sungai membelok ke kiri. Di sebelah kanannya ada Gedung Serbaguna Unlam, di sebelah kirinya saat itu bangunan yang ditempati Menwa sebagai sekretariat (atau mereka menyebutnya ‘markas’ mengikuti kebiasaan tentara), lalu lurus melewati gedung kantor yang ketika itu belum terpakai, menyusup lagi di bawah jembatan hingga di belakang Lapangan Tenis, dan keluar ke Komplek Kayu Tangi II lalu menghilang di antara rumah-rumah.

Bagian setelah di belakang Gedung Serbaguna boleh dibilang tak terurus. Ilung memenuhi sungai, dan seandainya tidak ada jembatan, tak akan orang tahu ada sungai di situ.

***

Setelah Ekspedisi Susur Barito, kami jadi punya 2 buah jukung atau perahu kayu. Jukung-jukung itu dicat warna biru khas KBU. Ada logo Kompas dan Pulau Kalimantan yang besar di kedua sisinya.

Yang jadi favorit saya sebuah jukung sepanjang 4 meter yang dasarnya terbuat dari kayu balau yang ringan dan liat. Jukung itu dibangun di atas batang kayu yang dibelah pada diameternya, lalu dikerok, baru kemudian ditambahkan dinding dari papan.

Jukung ini ringan, gampang dikendalikan, meski agak linggar. Juga terlihat langsing dan lincah membelah air. Jukung ini buatan pengrajin jukung di hulu Sungai Barito sehingga tampak sekali berbeda dengan jukung-jukung yang ada di Banjarmasin.

Kata Opa Petersen, jukung favorit saya ini adalah jukung sudur bakapih.

Jukung di Banjarmasin dibuat untuk keperluan berdagang, tampak agak lebar di bagian tengah, tidak linggar atau tidak mudah bergoyang oleh gelombang, namun agak lamban.

Jukung kedua kami adalah jukung jenis ini. Pajukungan atau ahli jukung di Pulau Alalak menyebut jukung ini sebagai jukung patai hawaian.

Erik Petersen adalah orangtua dari Denmark.  Bila sedang ada di Banjarmasin tahun-tahun itu, ia suka naik sepeda ke mana-mana. Opa Petersen peneliti. Ia pun mempelajari dan meneliti jukung. Hasil penelitiannya beliau tuliskan jadi buku. Judulnya “Jukung Boats From the Barito Basin, Borneo”.

Buku Opa Petersen diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh ayahanda guru Profesor Melkianus Paul Lambut. Pa Lambut bercerita bahwa dulu ia merantau naik jukung untuk bersekolah di Banjarmasin.

“Saya mengayuh sendiri, menghiliri Sungai Barito selama berhari-hari,” tuturnya. Bila malam tiba,  pemuda Lambut singgah dan menumpang bermalam di pelataran rumah orang yang menghadap ke sungai.

“Masa itu, rumah-rumah menghadap ke sungai sebab sungailah jalan raya. Rumah-rumah Banjar punya teras depan yang luas. Tuan rumah mempersilakan siapa pun pengembara sungai yang kelelahan untuk bermalam.”

Masa remaja Pa Lambut itu lebih kurang setelah Pemilu I tahun 1955. Kampus kami, Universitas Lambung Mangkurat, berdiri tahun 1958.

Karena itu, terjemahan Pa Lambut pada buku Opa Petersen penuh penghayatan dan kenangan atas pengalamannya sendiri.

Betapa tidak, sebagian dari yang disebut petualangan hari ini, dulu adalah kenyataan hidup sehari-hari.

Menarik bukan, saya belajar tentang jukung—ikon penting budaya Banjar, justru dari buku berbahasa Inggris tulisan seorang Denmark, dan juga terjemahannya dari seorang Dayak.

Hmm, bukankah dari dulu bila Anda ingin mempelajari Hikayat Perang Banjar, sumber-sumber detil tertulis justru ada di Leiden, Belanda.

Semoga Allah meridhai guru-guru kami yang mulia.

***

Kami memarkir jukung-jukung ini di Meander tempat biawak berjemur tadi. Beberapa hari setelah Tim Ekspedisi kembali ke Banjarmasin, saya yang tak ikut Ekspedisi, belum pernah diajari bagaimana berdayung dan mengemudikan jukung, siang itu, sendirian, tak dapat menahan hasrat untuk duduk di salah satu ujung jukung dan mulai mendayung.

Pertama mendayungnya asal saja. Yang penting jukungnya maju. Setelah itu saya menguasainya begitu saja. Mungkin sudah diturunkan dalam darah setiap urang Banjar tentang bagaimana mendayung dan mengemudi jukung. Untuk menguasainya dengan sempurna, tinggal latihan saja.

Saya menguasai cara membelokkan jukung itu ke kiri kanan dengan hanya mendayung di satu sisi dalam setengah jam. Termasuk juga cara mundur, baik lurus, atau mundur ke kiri atau ke kanan.

Perahu atau jukung, kawan, bila didayung dari sisi kanan, misalnya, maka akan berbelok ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Bila didayung dari sisi kiri, ia akan membelok ke kanan. Sebab itu, untuk menjaga haluan tetap lurus ke depan, orang perlu mendayung kiri dan kanan bergantian agar kedua daya itu berbalasan dan menjaga haluan tetap lurus sesuai arah tujuan. Cara mendayung seperti itu dipraktikkan orang Eskimo dengan kayak mereka. Atau para nelayan di Pulau Maratua di satu pulau terluar Indonesia.

Cara mendayung seperti itu, agar efektif, perlu dua bilah pengayuh pada satu dayung. Dari selintas melihat saja kita tahu hanya di tempat yang luas seperti laut atau danau saja cara mendayung seperti itu aman bagi pendayung di perahu lain bila bersisian.

Bayangkan bila masuk kanal-kanal sempit seperti di Kuin atau Kelayan, atau bergabung di keramaian Pasar Terapung.

Mendayung dari satu sisi saja adalah, tentu saja,  mendayung dari satu sisi saja, baik di sisi kiri atau sisi kanan, sesuai dengan kebiasaan dan kenyamanan masing-masing, dan tidak setiap kali selesai mengayuh satu kayuhan, berpindah mengayuh di sisi lainnya.

Lalu bagaimana agar perahu tak berbelok karena gaya tolak dayung di air? Sederhana saja, sobat. Pertama untuk mendorong perahu maju, dayung yang dipegang melintang dada kita celupkan ke air sejauh setengah rentang lengan. Dayung lalu ditarik sampai pinggang untuk mendapatkan gaya tolak dan jukung pun maju. Nah, setelah itu putar tangkai dayung itu ke kanan atau searah jarum jam, bila dayung Anda di sisi kanan perahu. Sebaliknya, putar ke kiri atau berlawan arah jarum jam bila dayung Anda di sisi kiri perahu.

Putaran dayung itu mencegah haluan perahu berbelok karena kita memberi gaya berlawanan di buritan.

Sederhana bukan.

Dulu ada masa setiap acil, busu, angah, julak, ading, uma, apalagi abah dan anak bujang di Banjar mestilah menguasai keterampilan ini.

***

Kawan-kawan saya yang begadang di Sekretariat mungkin baru saja tidur ketika saya bangun. Hampir pukul empat dinihari. Mereka tidur tersebar di berbagai sudut senyamannya. Asbak rokok penuh oleh puntung, demikian juga gelas-gelas yang tinggal berisi ampas kopi.

Saya bangun dan mengeliat, lalu mencuci muka dan meregangkan otot sebentar. Mencium dan menempelkan dahi di lantai dingin Sekretariat pada dinihari begitu adalah peregangan ringan yang sangat berguna untuk mempertajam daya ingat. Saat itu kepala menjadi satu bagian yang rendah dari tubuh, dan karenanya daya tarik bumi serta pompaan jantung lalu membuka jalan darah hingga yang kecil-kecil di lipatan-lipatan otak. Darah yang kaya oksigen dan sari pati makanan itu pun mengalir lancar sehingga membuat banyak syaraf terhubung dan ruangan-ruangan memori pun terbuka.

Perlahan saya menggeser pintu lemari peralatan KBU dan mengeluarkan 3 jaket pelampung. Sambil menyandang ransel kecil, saya keluar dari pintu belakang dan perlahan menutupnya kembali. Saya ke gudang di samping Sekretariat dan mengambil 3 dayung.

Hawa dingin menyegarkan. Penjaga malam memukul tiang listrik sekali. Dengan bawaan yang banyak tapi ringan itu saya berjalan ke belakang Rektorat Lama, tempat jukung-jukung kami ditambatkan.

Air masih surut. Walaupun kecil kemungkinan dicuri orang, jukung-jukung itu selain dirantai juga ditenggelamkan separuhnya. Siapa pun yang ingin menggunakannya harus mau sedikit bersusah payah menimba air keluar.

Atau bila menguasai tekniknya, menggoyang-goyangkan badan jukung ke kiri-kanan untuk melemparkan sebagian besar air, baru menimba sisanya.

Saat saya menata ulang lantai jukung, seberkas terang sinar lampu menerangi belakang Rektorat Lama. Bunyi halus motor 4 tak menderum lembut.

“Bang Nov, …”

“Hei! Ayo!”

“Okey, parkir dulu.”

Gadis itu memarkir motornya di garasi Poliklinik Unlam, mengunci helm di bawah jok, dan memasang kunci tambahan. Saya melihat siluetnya mendekat. Pagi itu ia pakai celana panjang kargo, di bawah jaket penahan angin ada kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan di atas kaos putih, dan rambut yang diikat sederhana.

My Hermione.

“Pake life jacket itu ya. Bawa topi?”

“Ada. Ni Neng juga bawa air.” Sebotol air yang masih hangat di dalam botol plastik tahan panas.

“Sippp, good girl. Terimakaseeh…”

“You’re welcome, Sir.”

Neng menyentuh ujung topi rimbanya dengan ujung jari, seperti prajurit memberi hormat. Saya membalas penghormatan itu dengan menjentikkan air dari sungai ke wajahnya.

“Ehhh, awas yaaa…”

Kami memulai perjalanan itu pukul setengah lima. Neng duduk di depan di haluan dan saya di buritan mengemudi. Neng mengatur lampu senter di jidatnya. Air mulai pasang. Kami mengayuh pelan namun kuat untuk melawan arus dari air yang naik. Selagi air masih surut, kami akan mudah melewati jembatan di batas Unlam dengan kampung itu. Setidaknya tidak perlu menunduk atau merendahkan badan.

Setelah jembatan itu, Sungai Miai membelah pemukiman dan berada di belakang dapur semua rumah, di kiri ataupun di kanannya. Sepanjang 200 meter sungai itu lurus saja, lalu membelok tajam ke kiri bila kita dari arah utara seperti sekarang. Sungai menyempit menuju ke timur.

Sebagian rumah punya pelataran ulin di belakang sedikit di atas sungai. Mungkin niatnya dulu untuk duduk-duduk santai sambil minum kopi atau merokok. Tapi selama kami hilir mudik di sungai ini dalam beberapa bulan itu, tak pernah ada seorang pun dari penghuni rumah itu yang kami temui begitu. Paling-paling ada buangan air cucian, atau limpasan orang mandi. Atau paling asyik, adalah ibu-ibu, atau perempuan anak kos yang menjemur pakaian atau cucian dengan hanya bersarung dieratkan di dada dengan rambut basah atau tidak basah. Pelataran santai di belakang rumah menghadap sungai itu memang dijadikan tempat jemuran. Atau memang itu peruntukannya sedari awal ya.

Setelah melewati bangkai jukung tiung (jukung besar) di kiri sungai yang kosong dan dua klotok kecil di kanan, tepat di depan ada bangunan yang agak menjorok ke sungai.

Bangunan itu menjulang, sebagai rumah kos yang terbuat dari kayu berlantai 2. Tepat satu sudutnya berdiri di atas sungai, di tikungan di bagian yang dalam di mana arus melingkar kencang. Bila tidak dikendalikan, jukung pasti menghantam tiang bangunan itu.

Bangunan itu belum lagi dicat, tapi sudah disewakan kamar-kamarnya. Bangunan itu juga tidak punya pelataran atau apa pun di tepi atau di atas sungai, tapi jendela-jendela kamarnya menghadap ke sungai. Tepat di sudut tikungan itu, ada satu kamar yang bila kami lewat di sore atau pagi hari,  jendelanya selalu terbuka. Kadang-kadang ada ‘tapih bahalai’ yang diangin-anginkan di jendela itu. Tapih bahalai adalah sarung motif batik banjar dengan warna-warna khas seperti ungu atau cokelat.

Dari tapih itu, saya tahu kos itu kos untuk mahasiswa perempuan dan mereka mungkin sekali datang dari kota-kota pedalaman Kalimantan Selatan atau Kalimantan Tengah. Sebagian mereka tampaknya mahasiswa STIE Indonesia.

“Tahu dari mana?” tanya Neng.

“Itu, depannya kampus STIEI.”

Sekali ini satu percikan air sungai mampir ke wajah saya. Neng tertawa.

Saya tak tahu apa arti bangunan itu bagi kawan-kawan saya yang lain,  yang setelah kami punya jukung ini jadi sering lalu lalang di sungai itu. Bagi saya, bangunan itu penanda tikungan sungai, dan kemudian saya tahu di depannya ada jalan lingkungan yang membawa ke luar ke Kampus STIEI dan muara Jalan Brigjen H Hasan Basry, awal Kayutangi.

Pengetahuan itu juga memberi variasi tempat turun ke sungai dan tempat naik kembali ke darat.

Lepas tikungan itu, sungai berkelok-kelok di bawah dapur-dapur yang tinggi di Sungai Miai. Dari dapur-dapur itu saya mencium bau ikan goreng yang gurih dan sayur gangan waluh balamak yang empuk.

Setelah melewati belakang Kantor Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, lalu ada bagian yang terbuka, yang langsung bersisian dengan Jalan KH Hassan Basry, sehingga kendaraan dan lalu lintas baik di jalan maupun di sungai terlihat jelas sampai sungai kembali terselip di belakang toko-toko di tepi jalan raya dan kembali menuju ke barat.

Sungai berbelok ke kawasan yang disebut Sungai Kindaung. Di situ  sungai berada di antara dua gang yang diperkuat dengan batako. Ada beberapa jembatan yang tinggi yang menghubungkan kedua sisi gang.

Rumah-rumah dan warung-warung menghadap sungai. Di sisi kanan ada Sekolah Dasar Muhammadiyah Sungai Kindaung yang berwarna putih dan hijau. Sekolah itu punya halaman lumayan luas di pemukiman yang padat itu.

Saya punya seorang julak yang tinggal di rumah banjar bubungan tinggi di depan sungai. Semasa kecil saya, di awal tahun 80-an, sepupu saya yang paling tua, juga anak tertua julak, dirayakan walimahnya di situ. Ah, ramainya keluarga.

Selain sekolah, persyarikatan Muhammdiyah Ranting Sungai Kindaung ini memiliki satu pasukan barisan pemadam kebakaran (BPK) Karena lingkungannya yang dikeliling sungai BPK Sungai Kindaung punya unit untuk mendekati dan memadamkan kebakaran dari sungai. Ada speedboat khusus berwarna merah dan biru yang di parkir di garasi khusus pula di tepi sungai. Di belakang speedboat ada mesin pompa air dan selang-selang. Kami pernah melihat unit itu berlatih di sore hari, dari sungai menyemprot halaman sekolahan yang kosong.

Maju lebih kurang 50 meter lagi dari sekolah itu, sungai membelok ke kiri, ke selatan. Sungai diapit oleh dua rumah panggung besar sampai ke bawah jembatan di Jalan Kuin Cerucuk, di mana Sungai Miai melebar dan melebur ke dalam Sungai Kuin.

Saya membelokkan jukung ke kanan. Azan subuh berkumandang. Lampu-lampu dinyalakan. Bunyi air jatuh di kamar mandi dan mengalir ke sungai terdengar dari setiap rumah di sepanjang sungai.

Azan yang paling keras terdengar dari masjid di depan kami itu. Suara muazzin tua yang serak dan bergetar membawa rasa haru sekaligus ironi. Di masjid saat subuh tak ada anak muda tampaknya.

Kami menepi dan menambatkan jukung di batang masigit (dermaga masjid) itu. Neng menuju ke bagian jamaah wanita. Satu dua bapak dan kakek memandang saya dan tersenyum. Saya membalas senyum mereka.

***

“Bang Nov mau untuk?”

“Mana?”

Ada penjual untuk rupanya di halaman masjid. Untuk adalah roti goreng mirip bakpao. Juga mirip kue dorayaki-nya DoraEmon. Bentuknya seperti setangkup mangkuk kecil yang disatukan di bagian dasarnya. Untuk yang masih seputih kertas digoreng dengan minyak kelapa panas sampai jadi cokelat kemerahan (habang).

Ada untuk habang. Ada untuk putih, Untuk putih ini yang betul mirip sangat dengan bakpao. Bila untuk habang digoreng, untuk putih dikukus-persis bakpao, memang.

Untuk ada isinya. Urang Banjar suka untuk isi kacang hijau. Untuk isi inti juga disukai. Tapi tidak ada untuk isi daging sehingga kue ini aman bagi vegetarian. Inti adalah parutan kelapa yang diaduk dengan gula merah.

Untuk yang dijual di halaman masjid itu besar-besar. Neng membeli 2 untuk isi kacang hijau guna sekedar mengganjal perut. Tujuan kami masih lebih kurang 40 menit berdayung lagi dari masjid itu.

Hari terang dan kami menyimpan senter. Sungai mulai sibuk dan riuh. Bunyi mesin diesel dari beragam klotok (jukung yang dipasangi mesin diesel) memeriahkan pagi yang tampaknya akan cerah. Bau solar dan riak gelombang yang menghantam batang menyebar semangat kehidupan yang riang.

Batang adalah tempat mandi, cuci, dan kakus di tepi sungai. Juga dermaga dan halte. Biasanya batang dibangun di atas sekurangnya 2 batang pohon kayu besar yang mengapung. Di atas 2 atau 3 batang kayu besar itu, disusun papan-papan dari kayu ulin. Rangkaiannya diperkuat lagi oleh balok-balok ulin juga.

Biasanya juga, batang dilengkapi dengan jamban, yaitu toilet yang menjadikan sungai langsung sebagai septic tank. Batang yang cukup besar bisa punya 2 jamban sekaligus.

Agar tak hanyut, batang ditambatkan di tonggak kayu. Tambatannya bisa berupa tali yang sedemikian rupa diukur sehingga bisa mengikuti pasang surut sungai.

Sehabis salat subuh ramailah batang dengan orang yang mencuci pakaian, dengan orang yang mandi untuk pelesir di hari minggu, dan lain-lain keperluan dengan air. Bila selain hari minggu, tentu juga ramai oleh anak-anak yang mau sekolah.

Sebagian anak sekolah itu menjadikan batang sebagai halte tempat menunggu klotok. Mereka akan naik taksi klotok yang melewati batang sekolahnya atau batang dekat sekolahnya.

Urang Banjar suka menggeneralisasi. Apa pun angkutan umum disebut taksi. Ojek pun, disebut taksi ojek, hehehe.

***

Kami mengayuh dengan gembira meski melawan arus. Kami berdua berpeluh dan tersenyum. Tak banyak yang kami bicarakan. Bersama berdua saja di dalam jukung itu sudah amat menyenangkan.

Air pasang pagi hari memang selalu membawa harapan. Air cokelat susu Sungai Kuin memenuhi anak-anak sungainya hingga jauh ke ujung rawa dan sudut kampung. Air pasang membuat semuanya tampak bersih. Sampah yang dibuang di kolong rumah langsung lenyap dalam air dan arus.

Klotok dan jukung juga speedboat lalu lalang. Pada yang searah ke barat, klotok-klotok menyalip kami. Kami menyalip jukung-jukung yang dikayuh acil atau paman yang sendirian.

Pukul enam lewat limabelas menit, di depan kami melintang tinggi sebuah jembatan. Ketika itu adalah sebuah jembatan kayu ulin yang kokoh tiang-tiangnya, namun sudah longgar paku-paku papannya. Kendaraan yang melintas di atasnya membuat bunyi berderak kayu dan besi yang khas.

Ada dermaga ulin yang lapang di daratan di sebelah kanan sebelum masuk bawah jembatan itu. Itulah batang masigit Sultan Suriansyah. Dan itulah masjidnya, di seberang jalan Kuin Cerucuk.

…di kampung Kuin baolah masigit

di situ jua sidin bamakam…

Masjid seorang pangeran yang rendah hati. Masjid raja di tengah-tengah kampung rakyatnya. Makam sederhana seorang hamba.

“Nanti pulangnya mampir ya,” kata Neng. Sure.

***

Pukul setengah tujuh. Sungai dan langit tiba-tiba saja meluas dan melebar. Sungai Kuin membuka mulutnya untuk limpahan air dari Batang Besar Barito. Jukung dan klotok lalu lalang dengan ramainya dan mengirim gelombang dan ombak kemana-mana.

Mata Neng berbinar.

“Pasar Terapung, I am coming…” teriaknya senang. Dayungnya diangkat seperti Tim Dayung Oxford memenangi balapan lawan Tim Cambridge di Sungai Thames.

Setelah berbelok ke utara dari muara Sungai Kuin itu, dua ratusan meter dari pertemuan sungai, berkumpul ratusan acil dan paman dalam jukung dengan muatan beragam hasil bumi banua Banjar. Kami bergabung dan berbaur dengan mereka, menyelipkan jukung biru kami diantara acil yang menjual tungkul, waluh, keladi, daun gumbili, limau, kalakai, kangkung,  dan paman yang menawarkan tarung, pepare, nyiur, haliling, seraya mendayung pelan dan tersenyum kepada siapa saja.

***

“Itu rombong,” tunjuk Neng. Ah, hahaha…senangnya ketemu rombong. Neng mengarahkan haluan ke rombong itu.

Rombong adalah perahu warung, atau warung terapung. Beragam wadai Banjar disajikan di atas piring-piring seng. Ada untuk lagi, pisang goreng, pais pisang, pais waluh, lempeng, petah, wadai lapis, pepare, putu mayang, puracit, lupis, … juga nasi bungkus.

“Itu nasi kuning. H haruan, T telur, …” tunjuk si Paman yang jual dengan tongkat panjang yang ada paku di ujungnya—yang digunakan untuk menjangkau wadai yang terlalu jauh bila langsung diambil dengan tangan.

Bukannya H Hintalu (telur) juga, Paman? Hehehe.

Mendayung sepagian rupanya membuat Neng kelaparan. Setelah menambatkan jukung kami di rombong itu, ia memutar duduknya menghadap saya di buritan, bergeser ke tengah, dan mengambil nasi bungkus daun pisang yang ditempeli kertas kecil bertuliskan huruf H dari rombong. Saya juga mengambil nasi bungkus huruf H itu. Setelah mencuci tangan, kami makan dan duduk di tengah jukung sambil kadang bertatapan dan tersenyum.

Dua teh hangat diangsurkan. Neng makan dengan lahap. Ia makan hingga butir nasi terakhir sementara saya menjilati jari-jari sebelum mencuci tangan lagi di air sungai.

Kami bersendawa berbarengan lalu tertawa.

“Tidak sopan,” kata Neng seraya meninju bahu kiri saya.

***

Kami berkeliling Pasar Terapung. Pasar ini adalah pasar induk, pasar grosir, sekaligus juga pasar eceran. Para pedagang yang berbelanja di sini akan menjual kembali belanjaannya di handil dan anjir nanti. Sebagian mereka menyusuri anak-anak sungai di Antasan Kecil hingga ke Pasar Lama, Seberang Masjid, Sungai Jingah, mungkin hingga Kampung Melayu, dan menemui para pembeli yang sudah menunggu di batang atau dapur rumahnya.

Bersama para pedagang yang mulai memisahkan diri itu, pada pukul delapan, kami ada di dekat muara Sungai Kuin lagi. Pasang masih terus naik. Tiba saatnya untuk pulang.

Kami singgah di Masjid Sultan Suriansyah, ke pauduan dan mencuci muka. Neng memenuhi hajatnya untuk salat tahyatul masjid dan salat dhuha. Tak bisa berlama-lama sebab kami harus kembali ke sungai untuk terus memanfaatkan arus pasang naik yang meringankan kayuhan dan mempercepat perjalanan.

Banyak batang masih ramai oleh ibu-ibu yang mencuci dan belanja dan para pemuda yang mandi setelah baru bangun dari begadang malam Minggu. Matahari pagi ada di depan kami dan topi rimba mulai memberikan manfaatnya. Namun sebelum matahari mulai garang, kami sudah tiba di Sungai Miai kembali dan terlindung di bawah bayangan rumah-rumah.

Lagu tema film kartun terdengar hingga ke sungai dari beberapa rumah. Beberapa anak menatap tak berkedepi kepada kami sampai Neng melambai pada mereka. Ibu dan gadis remaja menjemur pakaian. Jendela kamar kost mahasiswa STIEI itu terbuka lebar dan sehelai tapih tersampir di jendela.

Kami membelokkan jukung ke kanan, lalu lurus sampai bawah jembatan di batas kampus. Sebab air pasang, kini kami harus melewatinya dengan berbaring di lantai jukung.

Meander di bawah pohon beringin di belakang Rektorat Lama bermandi sinar matahari pagi. Bayangan sang beringin jatuh di atas Poliklinik dan baru siang nanti menaungi sungai dan kelokannya dan mengundang si biawak untuk bersantai di situ.

Kami minum bergantian dan menghabiskan air dari botol plastik tahan panas milik Neng setelah menaikkan semua peralatan, kembali menenggelamkan separuh badan jukung ke air, merantai dan menguncinya.

Gedung serbaguna di seberang sana sudah ramai oleh walimah perkawinan.

“Bang Nov besok Senin ke perpustakaan?”

“Yup.”

“Ok, sekalian mo balikin buku jukungnya Petersen.”

Neng mengenakan helm. Saya menunduk mendekatkan wajah saya pada wajahnya.

“Sampai besok.” Masih ada rasa manis lembut bak es krim tersisa di bibir saya.

“See you, Bang”

“See you, Neng.”

Sinar matahari yang hangat memeluk kami berdua, memantul di dasar hati, dan membuat saya ingin menyanyi sepanjang hari.

***

4 respons untuk ‘Adalah Sungai dan Jukung …

    TongQ said:
    Maret 17, 2017 pukul 2:46 pm

    Hm.. Ehem… Ya ya ya… 😄

      noviabdi25 responded:
      Maret 21, 2017 pukul 9:59 am

      Dj, berapaan wayah ni baolah jukung di Banjar tu?

        Dijah said:
        Januari 10, 2018 pukul 1:14 am

        Nah.. Kd tahu lun, kdd betakun jua. Mun harga kayak single kisaranx tahu ae lun hehe. Handak meulah jukung kah pian
        Maaf nyar meelangi tulisan² Pian lg jd nyar membc sawat basi dah pertanyaan x 😅

        noviabdi25 responded:
        Januari 10, 2018 pukul 2:06 am

        ah, terimakasih Dj, iya ndak beolah, hehehe–kada bahagian mun di sini Dj, tetap semangat, …

Tinggalkan komentar