Hari-Hari Hujan
Setelah Idul Fitri 1436 Hijriah, saya baru merasa punya energi lagi untuk menulis dan reblog kisah perjalanan kami ke utara hingga sempadan Indonesia-Malaysia. Ini bagian kedua setelah Laskar Pelangi di Batas Negeri. Maaf lahir batin, semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Hujan kini tak perlu diminta. Setiap pagi, ia mendera menjelang dinihari. Di bawah tetesan lebat air bening itu, para pengunjung Pos Siluman bergegas kembali ke camp di ujung jembatan runtuh begitu selesai salat subuh. Tawaran sekedar teh hangat pun terpaksa ditolak karena semua sudah harus ikut briefing pukul 07.00.
Camp besar di ujung jembatan yang tertutup kabut tipis dicapai dalam 40 menit. Setelah briefing, saya yang menumpang di EB 07 harus jalan lagi selama 30 menit untuk menuju Tiga Sekawan yang membuat camp terpisah. Mereka kembali ke anak sungai dimana mereka istirahat siang dan mandi sehari sebelumnya.
Di hari Jumat, sewaktu pertama melihat anak sungai ini, dan kelokannya, serta kontur alam di sekitarnya, saya jadi paham kenapa para tentara, juga Insu, tak menjadikannya tempat istirahat kendati air melimpah di sini.
Pertigaan dan lembah seperti itu adalah jalur satwa. Air itu satu-satunya di sekitar sini, maka ke sanalah mereka minum. Kemping di situ, kita mengganggu rusa yang haus, atau rombongan babi hutan, anjing liar, bahkan ular.
“Makannya ketika teman-teman Tiga Serangkai mau kemping di situ, saya langsung balik kanan—tadinya saya kan mau ikut ke Pos Siluman,” kata Praka Reza.
Oleh komandannya, Praka Reza ditugaskan mengawal para peserta dan tak boleh melepaskan diri dari yang dikawalnya hingga selesai kunjungan ke perbatasan ini.
Perjalanan kembali adalah jalan putar balik. Maka yang kemarin hambatan, menjadi bonus penurun ketegangan. Yang kemarin tempat sedikit rileks menikmati pemandangan, kini jadi tantangan.
Tiga Sekawan yang kini menjadi yang paling depan, langsung menjajal tanjakan curam berpemandangan ketinggian ujung-ujung Pegunungan Muller-Schwanner. Kabut sesekali turun menutup jarak pandang, lalu perlahan buyar dibawa angin.
EB 13, Cherokee yang dikemudikan Faris Pahlevi untuk Kalimantan Timur, tak mengalami masalah. Perlahan merayap naik di tanjakan sepanjang seratus meter di kemiringan 35 derajat itu. EB 12 tampil sama baiknya. Dhimas dengan tenang membawa Trooper merangkak dan naik mengatasi medan licin dengan sempurna.
Seiring pulang berbalik arah, berputar pula nasib EB 07 di awal jalan pulang ini. Kemarin menarik, hari ini ditarik. Sebab meski ban Simex ukuran 35 yang melingkar pelek tetap berputar, tapi mobil tak bergerak dari tempatnya.
Fion yang memimpin upaya mengatasi tantangan itu memerintahkan dua mobil di depan menjadi winching point. Sebelumnya, kedua mobil dimintanya untuk dikunci, dikaitkan lagi kepada sebuah anker, penambat, agar bisa menahan daya tarik dari EB 07 di bawahnya.
Belum lagi EB 13 dan EB 12 tertambat sempurna, sebuah tarikan sudah dimulai dari bawah. Kontan kedua mobil tersentak turun meski ban-ban sudah diganjal. Fion pun berang.
“Siapa yang infokan di atas sudah dimatikan …???” teriaknya kesal.
Bergegas sebagian kru tim, termasuk Lettu Danrus, naik ke posisi EB 13 dan EB 12 untuk membantu menambatkan kedua mobil. Sebuah pohon sejauh 50 meter dari moncong EB 13 dicapai dengan menyambung dua strap.
Di bawah Reza Kamal diperintahkan untuk menggunakan winch elektrik EB 07 karena winch PTO-nya dianggap tak selaras geraknya dengan traksi yang diinginkan untuk melepaskan kendaraan dari jepitan lumpur. Ronal co driver EB 13, pun berada di depan winch EB 07.
Tiba-tiba semua kaget lagi. Fion membentak nyaring. “Gua yang mimpin, ikut gaya gua. Kalau mau pake gaya lu pulang sana…!!!”
Hening sesaat. Ronal segera pergi dari depan winch EB 07 dan Reza Kamal mulai mengaktifkan winch elektrik. Land Cruiser HJ 60 akhirnya bergerak pelan mengikuti tanjakan.
Dengan teladan cara dari tiga mobil di depan, 10 mobil berikutnya sukses mengatasi rintangan. Semua bergantian menjadi winching point setelah berhasil mencapai puncak tanjakan itu.
Hingga waktu makan siang Tiga Sekawan terus berada di depan dalam perjalanan turun dari Pos Sinyal. Di ujung turunan (yang kemarin adalah tanjakan) tempat dimana EB 05 mulai digeret naik, EB 12 mengambil jalan terlalu ke kanan. Akibatnya, ban kanan di tebing, ban kiri masuk selokan dalam, Trooper pun miring nyaris terbalik.
“Tarik dari belakang,” perintah Pak Roesmanhadi, yang mobilnya EB 03 tepat di depan EB 12. Ditarik EB 07, Trooper kembali ke posisi normal, dan perjalanan dilanjutkan hingga sungai besar yang memiliki tepian batu landai untuk istirahat makan siang.
Tak ada yang melihat kejadian ini. Tiba-tiba Tablo muncul dari sungai dengan berdarah-darah. Ada luka di siku, ada luka di lutut.
“Kepleset pas lagi motret di batu. Ini kamera jatuh ke air. Aduh semoga gak apa-apa kameranya,” katanya.
Ada dokter Silver, ada dokter Reza. Tablo pilih diobati dokter Silver dan diledek dokter Reza. Sepanjang perjalanan ini dokter Reza kemudian terkenal sebagai tukang ledek paling sadis yang pernah ada.
Usai makan siang, Ketua Rombongan, “Chief” Syamsu Setiabudhi di EB 01 mengumpulkan tim untuk briefing singkat.
“Saya harus kembali ke atas untuk membantu kawan-kawan yang masih tertinggal. Mobil-mobil yang masih di atas mulai mendapat berbagai kendala seperti winch macet, dan lain-lain,” jelas Syamsu.
EB 13 pun bergabung dengan EB 01 dalam misi pertolongan itu. Apalagi karena dokter Silver buka praktik di EB 01.
“Untuk yang lain, dipimpin Pak Roesman, bisa menyelesaikan pemasangan antena satelit di Pos Sebuku.”
Kabar EB 08 yang terguling juga dikonfirmasi. Tak ada orang yang cedera dari kejadian itu disyukuri.
Maka tim pun terpisah 3 untuk sementara. Tiga Sekawan melaju sampai Pos Sebuku dengan dipimpin EB 03. Di depan gerbang portal jalan perusahaan, di batas jalan aspal, Prajurit Kepala Reza dan rekannya yang mengawal rombongan ini pamit turun.
Dalam jalan kembali ke Malinau, setelah 2 jam di Pos Sebuku yang ditutup dengan makan malam yang lezat dan serba kuning hijau (telur dadar kuning dalam piring plastik hijau, sayur nangka kuah santan hijau dalam piring plastik kuning), Tiga Serangkai mendapati Pak Roesmanhadi, yang jenderal dan dulu Kepala Kepolisian Republik Indonesia, ternyata suka bercerita dan punya banyak cerita lucu.
***
Dinihari 4 November, hari ke-10 perjalanan. Hujan menjadi teman akrab sekarang. Saya menutup laptop. Berita selesai, edit foto selesai, tapi perangkat penghubung satelit kami kehabisan daya.
Camp malam ini sungguh nyaman. Ini bekas bengkel para pekerja yang dulu membuka kembali jalan ini, rute Malinau-Long Bawan. Ada bangunan berisi dua kamar yang tingginya 2 meter dari tanah, dan ada atap setinggi 8 meter yang cukup buat 3 mobil berjajar.
Siapa cepat dia dapat. Tim Aceh, EB 15, dan Tim Aceh-Banten EB 06 plus Tim Jakarta EB 02 pun menjadi penguasa bengkel ini.
Seperti asrama, tim EB 06 menyusun velbed mereka di dua kamar yang ada. Di bawah dua kamar Insu dan Vendry Kamil menggelar dapur. Di pojok barat adalah teritori trio GAM Alex, Noeh, dan si tukang bikin kopi pahit paling enak, the coffee maker ‘Che’ Mansurudin.
Dapur mereka, tempat bikin kopi Aceh yang pahit enak itu, ada di belakang Daihatsu Taft Rugger ini. El commandante Alex boleh saja berkuasa di belakang setir dan radio, tapi di dapur ini kekuasaan mutlak ada pada Che.
“Kopi, Bang,” kata Che. Ia tidak menawari, tapi langsung mengangsurkan secangkir kopi panas. Kopi panas, bung, yang uapnya masih berkepul dan harus ditiup dulu agar lidah selamat saat dilewatinya.
Orang-orang EB 02 punya hotel di atap Land Rover hybrid berbasis Series mereka. Ada tenda yang nyaman dan cukup buat dua orang dimana Rahadian Mahendra dan Om Harbot tidur bergelung setelah seharian perjalanan.
Orang ketiga, sang mekanik Muallim Rosyid, boleh memilih sesuka dia, mau buka velbed atau tidur saja di jok belakang Series yang lapang.
Di sisi barat di halaman, Tim Kalbar EB 10 dan EB 11 merentang tenda terpal di antara dua Vitara mereka. Di sisi timur EB 08 dan EB 09 dalam pasangan Land Rover dan Cherokee yang aneh. Di depan bengkel ada EB 03, Pak Roesman tetap dalam gaya militernya dengan tenda regu prajurit Brigade Mobil, velbed yang tersusun rapi dan meja dapur yang praktis. Ryan dan Omat membuktikan mereka prajurit yang efisien.
Untuk pertama kalinya seluruh tim ada dalam satu camp lagi. Tiga Sekawan plus EB 13 yang datang belakangan dapat tempat persis di tengah halaman. Mereka pun terlihat tidur dengan nyaman.
Malam itu, selain kopi panas Che, saya dan Bondho dua tukang potret, dan Sony si nangka semangka operator Inmarsat, mendapat kemewahan dengan meja bekas peralatan para pekerja.
Di meja itu saya menulis berita yang mengabarkan kami sudah menyeberangi Sungai Jempulon, sebuah sungai jernih selebar 15 meter yang sedang surut sehingga lagi-lagi seseorang minta debit airnya naik agar perjalanan ini jadi lebih seru.
Kejadian tentang Bintara Eko dari Koramil Malinau yang terjatuh di sungai dan bertemu ular hitam berbelang kuning diceritakan dalam satu paragraf singkat.
Saya juga menulis dimana kami melewati puncak-puncak bukit di Pegunungan Schwanner dengan ketinggian mulai dari 400 meter dari permukaan laut (mdpl) hingga 800 mdpl, dimana mesin mobil-mobil kami bergetar karena kepanasan sebab bekerja hingga batas maksimalnya.
Kami menyaksikan Sungai Malinau yang cokelat mengalir lurus ke timur dan jalan berliku-liku menanjak ke barat, menyisi lereng-lereng terjal sebelum melewatinya dan melihat awan dan kabut berada di bawah kami.
Tapi kabar ini tak mencapai dunia malam itu. Modem satelit kehabisan daya, dan tidur adalah pilihan yang terbaik untuk melewatkan malam. Hujan makin deras. ***