Month: April 2015

Lebak Bulus

Posted on Updated on

Saya sedang kangen Neng, yang entah dimana sekarang. Mungkin kalian ada yang kangen juga? Hehehe, silakan.

Pukul empat sore saya melompat ke dalam bis antarkota jurusan Jakarta-Bandung.  Sekali lagi saya mengecek pesan pendek dari Neng. Pesan itu berisi petunjuk bagaimana menemukan dia di Bandung nanti.

“Bang Nov naik bus ya? Dari Lebak Bulus ada. Nanti turun di Kalapa, trus naik angkot yang ke Ledeng, turun di Enhai, ntar telpon kalo dah sampai.”

Menurut Neng, bila lebih kurang lancar, dalam 4 jam saya sudah akan tiba di Paris van Java. Bis akan berhenti sekali dimana gitu di sebuah rumah makan buat istirahat sejenak.

“Tapi kalau mau makan bareng lun, jangan makan banyak-banyak di situ,” katanya. Maka memang kemudian saya hanya minum kopi dan makan kue di rumah makan tersebut.

Sebelumnya, pukul tiga sore Sabtu, setelah menyelesaikan kewajiban menulis berita dan mengirimnya ke kantor di Banjarmasin, saya sudah cabut dari markas latihan Barito Putera di Sawangan, di ujung Gang Rotan di jalan raya Lebak Bulus-Parung-Bogor. Ini perjalanan pertama saya ke Bandung, kota yang justru sudah akrab dengan benak saya dalam 2 tahun terakhir di awal dekade 2000-an itu.

 ***

Jadi begitulah, sobat. Neng memutuskan untuk kuliah di Bandung (bacalah Daddy, Brother, Lover, Little Boy, kawan). Mungkin salah satu pertimbangannya adalah saran saya sendiri. Saya tak percaya saya pernah menyarankan seperti itu.

Kami pun menjalani apa yang disebut orang sekarang sebagai LDR, long distance relationship. Telepon menjadi andalan. Tahun 1999 di Banjarmasin, saya jadi menghapal di mana saja wartel-wartel yang sepi namun masih buka setelah pukul delapan malam.

Saat itu tarif telepon interlokal mulai pukul 21.00 sekitar Rp20.000 per jam. Bila sedang tak punya uang, hehehe, saya pulang dan numpang menelepon dari rumah orang tua saya di Beruntung Jaya.

Tahun pertama di Bandung, ia tinggal di asrama kampusnya. Telepon digunakan bersama-sama dengan banyak penghuni lain sehingga bila ingin menelepon berlama-lama perlu siasat. Karena ini asrama untuk perempuan, juga ada semacam jam malam. Akan jadi gunjingan bila kerap kali ditelepon, apalagi ditelepon malam-malam, apalagi berjam-jam, apalagi oleh orang (lelaki) yang berbeda-beda. Bahkan bila yang menelepon hanya teman perempuan. Bahkan bila yang menelepon hanya keluarga.

Tentu saja ini karena yang jadi operator telepon ya gadis-gadis penghuni asrama itu juga.  Pada tahun itu, saya menghapal dan dihapal para operator telepon teman Neng. Sekali-sekali saya diledek—ketika nada tunggu yang riang, piano dari lagu The Entertainer milik Scott Joplin itu sudah habis—tidakkah ingin berbicara dengan yang lain karena Neng masih belum sampai di asrama.

“Di sini ada dua lo Bang, yang namanya sama dengan Neng,” kata Fay.

“Oh, dari Banjarmasin juga?”

“Bukan, yang satunya dari Padang.”

“Oh ya..?”

 ***

 Sejak tahun ketiga kuliah, saya memang jarang pulang ke rumah orang tua saya di Beruntung Jaya. Saya mondok mulai dari Sekretariat Angkatan Muda Baitul Hikmah di mana kami menjaga kebersihan dan keamanan masjid kampus Baitul Hikmah, lalu ke Sekretariat Kompas Borneo Unlam (yang berpindah-pindah—dan saya mulai bergabung saat Sekretariat di Jalan Karya Sabumi, lalu pindah lagi ke Kampus), sekali-sekali menginap di kos beberapa kawan, yang paling sering di kos Rommy Oktavianus Suharyanto di Jalan Cendana 3 dimana saya pertama kali mendengarkan lagu Eric Martin, I Love The Way You Love Me—(ada cerita lain dari lagu ini, sobat, tentu saja—dan bukan tentang Neng, hehehe, I am sorry).

Kemudian, ketika Yayasan Kompas Borneo (YKB) mulai diaktifkan kembali oleh Bang Atoey, saya pindah ke Sekretariat Yayasan itu di Jalan Cendana. Saat banyak pekerjaan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, saya pindah lagi ke Sekretariat Walhi di Kayutangi I selama beberapa bulan. lalu kembali lagi ke Sekretariat YKB yang sudah pindah ke Jalan Cemara IV, dan akhirnya di kantor Radar Banjar ketika menjadi reporter dan redaktur di situ.

Seluruh sekretariat dan kantor ini ada di kawasan Kayutangi, di utara Banjarmasin, di lingkungan kampus Universitas Lambung Mangkurat. Saya beredar di Kayutangi selama sembilan tahun dengan KTP Banjarmasin Selatan.

Selama itu saya hidup dari honor tulisan dan terjemahan dan pekerjaan-pekerjaan kecil di sekretariat-sekretariat itu. Tentu saja, ketika di Radar Banjar, dan kemudian Radar Banjarmasin-koran milik Jawa Pos Grup yang iritnya luar biasa, saya punya gaji (gaji perjuangan dari koran perjuangan juga, tapi cukuplah buat bujangan sederhana yang kebutuhannya hanya buku, kaset, olahraga, internet, dan makan ala kadarnya, hehehe…)

Oh istilah koran perjuangan itu untuk romantisme saja sobat. Betapa anak-anak muda memang mudah terpesona oleh bahasa-bahasa hiperbola para pemilik modal.

Bagi saya hari itu, kawasan Kayutangi itu memang lengkap. Ada kantor dan pekerjaan, ada Taman Budaya dimana kami menonton pementasan seniman dari seluruh Kalimantan Selatan dan dari mana saja di Indonesia, ada pameran karya-karya, kemudian ada kampus dimana ada diskusi dan perpustakaan, ada kawan-kawan perempuan yang cantik-cantik (dan ehmmm, juga rumah dan kamar kos mereka), ada pusat kebugaran di mana setiap pagi saya berlatih beban, dan lapangan sepakbola, ada Sungai Andai dimana saya suka berenang, ada Sungai Pangeran di Kuin hingga Sungai Barito yang terhubung dengan sungai kecil tak bernama yang membelah kampus hingga ke Kayutangi II di mana saya dan kawan-kawan KBU kerap bertualang kecil dengan jukung kami, mengesahkan diri kami sebagai pemuda Banjar sejati yang hidup di atas rawa-rawa dan sungai-sungai.

Juga banyak warung-warung makan murah. Juga ada Ina yang baik hati yang suka membawakan saya nasi kuning bungkus. Ada pecel Ibu di Jalan Cendana, yang kalau sore di dekatnya ada warung mi ayam Solo yang enak tempat teman saya Hindarno mengajari saya bagaimana cara makan dengan menggunakan sumpit,  dan kalau pagi ada sarapan lontong yang lezat. Berbeda dari warung lontong biasanya, karena sendirian, si Acil di warung ini sudah mengemas kuah lontongnya dalam plastik-plastik satu porsi. Cara seperti itu praktis untuk yang ingin bawa pulang atau memakan sarapannya di tempat lain.

Juga ada warung makan yang menyajikan masakan Banjar dan lain-lain yang sedap yang  tidak ada namanya di Cemara, tempat saya dan Odienk sering makan siang atau beli bungkus dan dimakan di meja pimpong yang kami jadikan meja makan di kantor. Ada kampus STIEI dengan banyak mahasiswa glamor, ada kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang mahasiswanya aneh-aneh (menurut saya saat itu, hehehe). Kawan saya Sandi Firly dan Mahmud sang demostran kuliah di Uniska ini dan Anda tahu betapa anehnya mereka bukan, hahaha.

Juga ada masjid Hasanudin HM di Bundaran Kayutangi. Bila Ramadan, tempat saya dan Sandi menumpang berbuka bila ingin makan bubur ayam gratis dan tarawih yang cukup 11 rakaat dengan ceramah yang mengajak memahami agama dengan nalar.

Rumah dosen-dosen kami pun banyak di sekitar situ juga. Ada Dr Karyono Ibnu Ahmad di Cemara, ada Pak Drs Abdurrahman Ismail di Kayutangi I, guru yang meminta kami menceritakan kembali kisah tragedi Mesan (Nisan) Berlumur Darah di Martapura dan menarik nilai-nilai di dalamnya, ada Pak Sakiman (atau Sukiman? Sutiman?, ahhh, lupa saya), juga di Kayutangi I yang punya banyak kamar kos untuk mahasiswa wanita.

Di kos Pak Sakimin (itu kayaknya, Pak Sakimin, dosen di FKIP juga) itu tinggal antara lain Didi, nama panggilan saya untuk kawan perempuan kami yang kena kanker payudara, yang tabah sampai akhir, yang tetap tersenyum meski rambutnya rontok satu-satu karena kemoterapi. Didi ini secantik Sinead O Connor, brader, dengan mata bening dan bulu mata asli yang lentik.

 ***

Turun dari angkot, saya disergap keramaian Bandung di malam Minggu. Pertigaan Gerlong ini semarak dengan lampu jalanan, lampu kendaraan yang lalu lalang, lampu warung dan toko, dan lampu gedung-gedung.

“Bang Nov…!”

Ah, inilah orangnya. Sebuah pelukan, sebuah ciuman.

“Acemm,” katanya.

Ya iyalah, terakhir mandi pukul setengah sembilan pagi tadi, seusai ikut olahraga bersama Barito Putra yang  melakoni latihan rutin di pemusatan latihan mereka di Gang Rotan itu.

“Ya,  Neng wangi sekali,” kata saya tertawa.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Ayo makan…”

 ***

Saya baru kembali ke Jakarta Minggu sore, lalu Senin siang berangkat ke Medan bersama Barito Putra. Dua pekan di Sumatera Utara cukuplah buat saya keliling-keliling, ke Danau Toba, ke Perbaungan bersama Bang Redi, fotografer. Perbaungan itu tempat konsentrasi pemukiman Urang Banjar di Sumatera Utara. Di sini saya bertemu preman Banjar Hussein si Janggut Beracun. Untuk pertama kali juga makan mi aceh dan sakit pusing karena kecapekan dan tekanan darah rendah, diobati oleh dokter Adi dokter tim, bertemu orang Keling dan Sikh yang pakai turban alias ubel-ubel, bolak-balik Stadion Teladan dan warnet dekat hotel, keluyuran di Terminal Amplas, naik Mister X angkot yang bisa bikin orang jantungan, naik bentor sambil bernyanyi-nyanyi, nonton para teroris meruntuhkan gedung WTC dengan menabrakkan pesawat di televisi yang tergantung di ruang redaksi Radar Medan, ketemu dan liputan bersama Chandra dan Cak Amu dari Jawa Pos Surabaya, …

Barito Putra tidak lolos ke babak semi final. Salah satunya karena kalah dari Persebaya Surabaya. Sayang sekali. Banyak persoalan non teknis yang membebani. Tapi tim tetap senang karena ada sejumlah bonus dan dan uang tampil (matchfee). Para pengurus yang pulang duluan ke Banjarmasin meninggalkan beberapa urusan para pemain belum terselesaikan.

“Hey Novi, kamu cairkan cek ini buat kita ya,” kata Sadissou Bako di Bandara Soekarno-Hatta, sepulang kita semua dari Medan. Bako akhirnya menjadi striker yang jadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia musim itu dengan  24 gol.

Di kantor cabang pembantu BNI di bandara itu, kami semua, seingat saya 16 orang, termasuk saya, berkumpul. Kiper Syahbani dan Amir Yusuf  Pohan tak ikut. Bani tetap di Medan sebab itulah kota kelahirannya.  Bang Pohan pulang ke Padangsidempuan menengok orang tuanya walaupun nanti pulang juga ke Balikpapan sebab anak istrinya ada di Kota Minyak.

Cek matchfee itu sedang diproses. Petugas bank memerlukan seseorang dengan KTP. Ternyata itu alasan Bako, wakil kapten dan pemain asing asal Kamerun itu meminta tolong saya. Mungkin agar terlihat adil sebab hal-hal seperti ini biasanya urusan pengurus.

Uang Rp20 juta itu dibagi rata. Untuk Syahbani dan Bang Pohan ditransfer lewat bank itu juga. Ternyata untuk saya juga ada. Saya terharu.

“Situ tidak merasa bagian dari kita ya,” kata el capitano Bambang Harsoyo dengan senyumnya yang khas itu. Setahun penuh saya bersama mereka. Ikut makan tidur di mess. Menghapal dan menuliskan kisah mereka. Juga banyak menyimpan rahasia.

Liputan olahraga memang unik, kawan. Dalam beberapa hal jurnalis biasanya menjaga jarak dengan obyek liputan mereka—seperti politik atau ekonomi misalnya—maka tidak dengan liputan olahraga. Sedari awal saya sudah mengambil posisi, saya membela Barito Putra, saya membela pemain dalam hal pertandingan dan olahraga.

Jadi kalau tim kalah sebab main jelek, pelatih, atau manajer lah yang salah. Sebab sejak awal sekali pelatih dan manajer punya kuasa untuk menentukan siapa yang boleh masuk tim siapa yang tidak.  Mereka yang membuat strategi, menyusun line up, sebelumnya mereka yang melatih, juga menganalisis lawan. Tapi kalau tim menang, pemain lah yang pertama kali disanjung. Merekalah yang berkeringat dan berdarah-darah di lapangan.

Termasuk juga untuk atlet perorangan. Atlet perorangan punya pelatih yang membuatkan porsi latihan yang mesti dijalani, yang mengajari teknik, yang menyemangati.

Saya dan pelatih Mundari Karya membuat kesepakatan tidak tertulis. Kami punya tujuan bersama. “Kalo mau kritik tim, lo kritik gua, bukan pemain,” katanya dengan logat Betawi kental. Saya setuju. Tim sepakbola bukan kumpulan anggota DPRD yang kita harus awasi—bahkan ketika tim itu mendapat kucuran dana APBD sekali pun (yang begitu yang kita pelototi pengurus). Apalagi Barito Putra ketika itu yang sepenuhnya milik pengusaha Haji A Sulaiman HB. Tim harus selalu disemangati, disanjung. Mereka tidak makan duit rakyat kok—atau pun ketika tim dibiayai dana APBD, mereka mendapatkannya dengan jerih payah luar biasa yang halal, lebih kurang sama ketika kontraktor membangun jalan dari sumber duit yang sama. Soal asal muasal keuangan klub, sekali lagi, pengurus yang tanggung jawab.

Apakah ada pemain profesional yang tidak profesional? Tentu saja ada. Banyak kelakuan pemain yang mungkin tidak diterima standar moral masyarakat secara umum. Tapi itu umumnya di luar lapangan, di luar olahraga. Saya tahu siapa yang pulang dinihari dari diskotek, yang menghamili pacarnya yang ternyata pacar orang lain juga, dan inilah yang antara lain jadi rahasia saya, sobat.

Jadi liputan saya tentang Barito Putra adalah tentang tim Barito Putra, bukan tentang manajemen Barito Putra. Isinya terutama tentang prestasi dan kemenangan-kemenangan kecil setiap anggota tim. Sampai hal-hal kecil seperti gelandang Zainal Rahim yang suka makan mi instan. Dan stopper Nanang Karyanto yang sigap memadamkan kompor yang meledak di mess pun ada ceritanya. Sandi membuatkan ilustrasi dengan gambar kartun Nanang mengenakan kostum pemadam kebakaran tengah menyemprot kompor yang terbakar.

Nanang cadangan abadi semasa kepelatihan Mundari Karya, dan berkecil hati bahwa dirinya tak akan pernah saya tulis dan dimuat di koran. Tapi tidak, saya tuliskan juga profil Nanang, bersama rekan sekamarnya (juga stopper) Wahyu Rustiono yang jago bawa trailer sehingga sering juga jadi sopir cadangan bus kuning bus latihan Barito Putra. Saya terharu ketika Nanang meng-kliping  feature pendek tentang dirinya itu.

Dari kemenangan-kemenangan kecil itu jadilah kemenangan-kemenangan mereka sebagai sebuah tim. Saya cukup bahagia selama dua musim turut mengantar mereka ke penampilan terbaik di Liga Indonesia dan menjadi tim yang tetap disegani. Apalagi  Sunar dan Isnan, juga Firman Usman,  terpilih menjadi anggota tim nasional.

***

Lalu semua berpisah. Bersalaman, berpelukan. Mas Bengbeng si Bambang Harsoyo alias si Captain Power melanjutkan terbang ke Semarang dan terus ke Kudus, Ismayana dan Saiman langsung pulang ke Banjarmasin, Sunar Sulaiman, Isnan Ali, Sofyan Morhan, Firman Usman, Hairansyah,  terus ke Makassar, Pakde Najih Mahmudi, Agus Purwanto, cari pesawat ke Surabaya, Ferly Laalla, Ronny Prowanda, dan Effendi ke Balikpapan, Bako, Zamen Pierre, dan Stephen Weah bertahan dulu di Jakarta.

Bako bertanya, saya mau kemana.  Saya bilang saya belum tahu. Yang jelas, saya belum ingin pulang ke Banjarmasin.

“Kamu mau ke Bandung lagi ya?” ledeknya.  Ketiga pemain asing naik satu taksi yang sama. Bergantian mereka memeluk saya. “Tetap kontak ya Bos,” kata Weah yang konon ponakannya George Weah, bintang AC Milan. Mereka juga menambah uang saku saya.

“Belikan pacarmu sesuatu,” kata Bako sambil mengedipkan mata. Taksi mereka pun berlalu di keramaian lalu lintas di depan terminal itu.

Saya jadi merasa kaya. Maka saya pun memanggil taksi. Dari dalam sedan itu, saya mengirim pesan memberitahu Bos Erwin di Banjarbaru untuk sedikit libur dan menghilang 100 jam lebih dikit dari dunia jurnalistik.

Bos Erwin tidak bertanya. Ia hanya membalas, “Ok”.  Sopir melihat ke kaca spion di atas dashboard untuk melihat saya dan menanyakan tujuan.

“Lebak Bulus ya Pak.”

***

Sekali Lagi, Angkat Gelasmu, Kawan

Posted on Updated on

ENV-BERSIH RINJANI DEDI DAN ADIM
Dedi dan Adim dan botol-botol plastik yang mereka pungut sepanjang jalan turun dari Rim Rinjani. Asus Zenfone 6/Novi Abdi

 

Ini bagian akhir dari keluyuran sendirian ke Rinjani. Pada akhirnya selalu pertemanan dalam persahabatan yang menjadi kebahagian. Gunung hanya alasan,Teman.

 Jalan turun dari gigir gunung atau Rim Senaru ke Plawangan Senaru di Desa Senaru berada di dalam hutan di lereng gunung. Setelah bagian yang minim vegetasi yang saya sebut tadi, tanah ditutup hutan lebat. Di bagian atas dekat rim masih oleh pohon-pohon berukuran kecil, tapi semakin turun, semakin besar pohon-pohon. Rei, porter yang sebelumnya menyalip saya di lereng Plawangan Sembalun mengingatkan bahwa di bagian ini hujan lebih sering turun daripada di sisi Sembalun yang terkena hembusan angin kering dari Australia. Hutan dimana-mana di seluruh dunia, adalah daerah tangkapan air. 

Saya ada payung, ada jaket hujan. Barang-barang sudah dipaking dalam plastik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saya terus berjalan dengan langkah tegap. Setelah Pos 4 saya bertemu pasangan George dan Jana Kenton, warga Selandia Baru yang menjalankan usaha hotel bintang  5 di Pattaya, Thailand. Pada pukul 12 siang George dan Jana menjamu makan siang nenas dan semangka yang banyak.

George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
George dan Jana Kenton, orang Skandinavia, warganegara Selandia Baru, berbisnis di Thailand. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Di Pos 3 Pondokan Lolak, 2.000 meter dari permukaan laut,  setelah  hujan lebat pada pukul 2 siang yang saya tempuh dengan berpayung, ada makan siang kedua. Seperti masakan Metarum, masakan Ber pun pedas.  Orang Indonesia memang tak bisa lepas dari cabe dan  lombok. Apalagi bila Anda di Pulau Lombok.

Sambil makan siang, saya mendengarkan dua bule bercakap-cakap ramai tak jauh dari  tempat saya menikmati nasi dan mi instan rasa soto koya. Dua orang itu seperti berargumen, berdebat. Kedua orang itu lelaki dan perempuan. Yang satu lelaki tua, mungkin 70an. Perempuannya masih muda. Lebih kurang sepantaran saya. Mereka bicara dalam bahasa yang saya tak paham. Perempuan itu terlihat frustasi.

Melihat perawakan mereka yang tinggi besar, saya kira mereka orang Rusia dan sedang bicara dalam bahasa Rusia. Ber adalah pemandu kedua orang ini.

Selesai makan, saya hanya mengikuti kebiasaan ramah tamah orang Indonesia ketika menyapa mereka. Dalam bahasa Indonesia, saya bertanya apakah mereka bisa berbahasa Indonesia. Atau berbahasa Inggris, barangkali.

“I speak English,” kata si perempuan. 

Saya bilang ini di luar urusan saya dan saya tidak berniat ikut campur, tapi karena mereka begitu baik sudah mengizinkan saya makan siang bersama porter dan pemandu mereka, mungkin saya bisa membantu seandainya ini menyangkut perjalan naik atau turun gunung.

Daniela Petrozzi menunjuk ranselnya, juga ransel ayahnya,  Gianfranco Petrozzi. Walau terlihat kuat, itu bukan ransel yang orang pakai untuk mendaki gunung, saudara, tapi sekedar untuk pergi pulang kantor atau jalan-jalan ke mal.

Kata Daniela, seluruh isi ransel-ransel itu, berupa pakaian cadangan, sekarang basah karena kehujanan tadi.  Mereka dalam perjalanan menuju Rim Senaru.

“Karena keadaan ini, papa  tidak ingin melanjutkan perjalanan. Dia ingin kembali ke hotel di Senaru,” tutur Daniela kesal.

Di situlah mereka berdebat. Daniela tidak ingin pulang karena tujuan belum tercapai. Franco, yang merasa perjalanan tidak aman dan nyaman lagi, seperti dikatakan Daniela, ingin turun dan kembali ke hotel.

Saya memaklumi keduanya. Bagi Daniela, sudah jauh-jauh dari Belanda, masa pulang begitu saja hanya karena baju basah sebab hujan. Tapi begitu juga, bagi orang setua Papa Franco yang sudah cukup melihat dunia, kesehatan adalah hal yang utama.

Saya ceritakan Ber apa yang terjadi.  Di luar dugaan saya, Ber ternyata malah panik.

“Lho kok pulang mas?” katanya. Saya mengangkat bahu.

“Mas bilang mereka, bila pulang, ya pulang  aja, tapi mereka tidak bisa lagi minta uangnya balik.”

“Lho kok saya yang bilangin, hehehe…”

Itu rupanya yang dikhawatirkan Ber. Harga perjalanan wisatawan ini mungkin sekitar Rp7-8 juta yang sepertiganya untuk para porter dan pemandu, sepertiga untuk bekal dan akomodasi, dan sepertiga untuk keuntungan agen perjalanan. Meskipun uang tidak kembali, tapi nama operator tur-nya Ber jadi jelek, sebab tidak bisa mengantisipasi kejadian seperti ini.

Daniela menatap saya seperti meminta saran. Saya masih mencerna semua data dan situasi. Saya beralih ke ransel-ransel tersebut.

“Actually, you should put everything in plastic bag first,” kata saya. Setelah dimasukkan kantong plastik, baru dimasukkan ransel itu. Ransel itu pun masih ditutup lagi dengan cover bag, atau saat saya dulu belum punya cover bag saat menjelajah Meratus, ya dengan ponco.

Jpeg
Daniela dan Papa Franco dan la bastone. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

 

“Shit, nobody tell us about that,” kata Daniela. Nah, benar bukan. Tidak setiap orang yang mau dan berani naik gunung tahu apa yang mungkin terjadi di gunung dan bagaimana mengatasinya.

“Now I am telling you. Especially because you still want to continue to the Rim.”

Maka Daniela pun mengeluarkan isi tasnya. Ternyata tidak semuanya basah. Beberapa hanya lembab, dan beberapa tak tersentuh air sama sekali. Meski belum ada keputusan, Daniela menjadi bersemangat. Ia meminta beberapa kantong plastik kepada Ber.

Papa Franco juga membongkar ranselnya. Meski juga tidak basah semua, ia tetap merasa harus turun.

“Well, Papa, you can go down with me, anyway,” kata saya. Papa Franco hanya senyum sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Papa doesn’t speak English,” kata Daniela.

Jadi begitulah penyelesaian masalah itu, yang ketemu begitu saja. Ayah dan Anak itu setuju berpisah sementara. Daniela lanjut ke Rim dan Segara Anak dan mungkin ke Sembalun bersama Ber dan porternya, dua pemuda yang baru lulus SMA, dan Papa Franco turun bersama saya ke Plawangan Senaru.

Ber yang kesenangan menanyakan apa yang bisa dia bisa bantu. Saya bilang mungkin Papa Franco perlu sedikit bekal turun, sebab dari Pos III itu bukankah lebih kurang 3 jam lagi baru sampai Plawangan Senaru. Saya juga minta Ber menghubungi petugasnya untuk menjemput Papa Franco ke hotel dari Plawangan Senaru nanti. Yang dihubungi Ber ternyata orang yang sama yang sebelumnya saya hubungi untuk minta transportasi ke Mataram beberapa saat sebelumnnya. Dengan pukul 2 siang masih ada di Pos 3, saya jelas sudah kehabisan kendaraan umum ke Mataram.

Di Pos 3 itu sudah ada sinyal komunikasi. Ada XL. Ada Telkomsel.

Ber mengeluarkan sesisir pisang dan 2 kaleng softdrink. Saya ambil 5 saja dari pisang itu, dan kedua kaleng softdrink. Saya minta Papa mengecek air minumnya.  Saya juga mengecek packing Daniela, dan mengingatkan bahwa Iphone-nya pun harus diamankan di dalam kantong plastik.

Ber menitipkan tamunya.

Daniela menitipkan papanya.

Ia juga menawari saya uang saking senangnya. No need to, kata saya. I just want you and your papa happy and be friend of mine.

“You are not friend. You are my brother,” katanya memeluk saya.

Kita semua berfoto, termasuk dengan Ber. Foto keluarga, kata Daniela.  Wah, hahaha …

Semua pun siap. Saya juga berpamitan pada Adim dan Dedi, dua pemuda yang dengan sukarela memunguti semua botol plastik yang dibuang orang sepanjang jalan. Mereka mendapatkan masing-masing tak kurang dari seratus botol. Botol-botol itu diikat di bagian lehernya dan dirangkai jadi satu. Adi dan Dedi mengikat lagi bundelan botol itu di ranselnya, yang membuat mereka jadi seperti landak dengan duri berwarna putih.

Sebelum makan siang bersama Ber, saya bercakap-cakap dengan mereka tentang alam dan lingkungan dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjaganya. Adim dan Dedi punya komunitas pencinta alam Lombok.

“Setidaknya kami memberi contoh dan mengingatkan para porter dan operator tur untuk selalu menjaga kebersihan. Mereka hidup dari gunung ini, jadi mari jaga bersama,” kata Adim.

Seorang porter yang singgah dan istirahat juga memberi saya nomor Mr Len, pemilik travel yang bisa menyediakan mobil ke Mataram—yang ternyata orang yang juga ditelpon Ber kemudian. 

Daniella sekali lagi memberi tahu bahwa ayahnya tidak bisa berbahasa Inggris, melainkan hanya bahasa Italia. Perdebatan mereka tadi dalam bahasa Italia.

Saya tidak mengira kalau dilafalkan cepat begitu, sungguh berbeda dari bahasa Italia yang pernah saya tonton di film-film, atau di saluran televisi Italia.

Memang, hehehe, bahasa Italia saya sangat terbatas. Saya tahunya grazie, bambino, don quixote, leonardo, donatello, michaelangelo, raphael, benito mussolini, bambino, zapattoni, mario puzo, don corleone, mafioso, ennio tardini, silvio berlusconi, ferrari, lega calcio, numero uno, valentino rossi, rossoneri, ammonito, espulso, rossonero, gennaro gattuso, milanisti, juventini, la vecchia signora, vespa, madonna, maldini, carlo ancelotti, cesare prandelli, giovanni trapattoni, luca toni, mario balotelli, spaghetti, macaroni, beetato pepperoni, hahaha …

Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com
Pembalap MotoGP berkebangsaan Italia, Valentino Rossi. motogp.com

Mungkin salahnya saya terlalu memperhatikan wawancara Valentino Rossi setiap usai dia berhasil podium. Rossi berbicara dengan Bahasa Inggris logat Italia yang, ya, hehehe, selalu menggelitik telinga saya. 

 ***

 Perjalanan saya dengan Papa Franco pun penuh tawa walau tanpa canda. MotoGP dan sepakbola menyatukan kita. Sebagai orang Umbria, Papa Franco fans Perugia. Bukan fans berat, tapi cukup peduli. Perugia adalah klub Provinsi Perugia. Sama lah seperti orang Balikpapan bangga dengan Persiba atau saya yang selalu merasa jadi fans berat Barito Putra walau sudah pindah ke Balikpapan dan juga sudah pula berkostum Balistik (Balikpapan Suporter Fanatik) meski tidak resmi.

Saya pun bercerita pada Papa tentang Barito Putra sedikit. Bagi kami di Banjarmasin, Barito Putra itu juara tanpa mahkota. Liga Indonesia I 1994, Barito lah juaranya.

Walau resminya, Persib Bandung yang juara. Di semifinal Persib mengalahkan Barito Putra 1-0. Yang membuat  urang sebanjaran murka adalah  dua gol Dasrul Bachri dan Yusrifar Jafar ke gawang Persib dua-duanya dianulir wasit Khairul  Agil. Keduanya disebut terperangkap offside.  Sebaliknya, di menit-menit akhir, Persib mendapat hadiah penalti yang dieksekusi Kekey Zakaria, dan sukses menembus gawang Barito yang dikawal Abdillah.

Orang Banjar tak lagi memperdulikan partai final Persib vs PKT Bontang. Siapa yang peduli? Kami mengarak Frans Sinatra Huwae dan kawan-kawan, termasuk manajer Rosehan Noor Bahri, sepanjang 30 km dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke Stadion 17 Mei di pusat kota.

Wasit Khairul Agil juga ditetapkan sebagai musuh urang Banjar. Namanya dicoretkan berbarengan dengan nama binatang di berbagai sudut kota sebagai grafiti. Karena itu, konon, Komisi  Wasit PSSI tak pernah lagi menugaskan Agil dalam setiap pertandingan Barito Putera, atau menugaskannya menjadi perangkat pertandingan (wasit, atau hakim garis, atau wasit cadangan) di Banjarmasin dan sekitarnya.

“Barito Putra, si si…” kata Papa Franco mengangguk-angguk. Barito itu awalnya nama sungai, Papa. The Red Rivers.

Begitu pula hal pembalap Motogp Valentino Rossi. Menurut Papa, Rossi orang yang rendah hati dan pantas jadi panutan.  Juga pekerja keras dan pantang menyerah. Saya jadi tambah ngefans dengan Rossi.

Papa punya dua anak. Satu perempuan, Daniela, dan adik lelakinya Michel. Keduanya belum menikah. Daniela tinggal di Amsterdam, Belanda, dalam 12 tahun terakhir. Dulu mereka tinggal di Foligno di timur bagian tengah Perugia. Kota tua yang sudah ada sejak 800 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa.

Papa pensiunan pegawai pemerintah. Seperti orangtua kita yang setelah pensiun ingin naik haji—diantaranya karena uang pensiun yang banyak sementara tak ada lagi anak yang harus diurusi—Papa Franco ingin jalan-jalan melihat dunia. 

Sepanjang jalan ia ngebul. Papa perokok berat. Daniela juga. Dari kehujanan saat naik tadi, satu yang berhasil diselamatkannya adalah rokok, hahaha. If you don’t quit smoking, it will kill you, Papa.

Tepat saat saya mulai capek dengan jalan yang terus turun ini, kami sampai di Pos II. Saya ajak Papa istirahat sebentar dan makan pisang, juga minum softdrink. Rasa manis dan kalorinya lumayan menyegarkan. 

Pos II Satas Montong di ketinggian 1.500 meter  punya bangunan shelter yang lantainya sudahh jeblok. Di situ sudah ada dua porter yang bersiap mendirikan tenda untuk camp. Mereka porternya George dan Jana Kenton. Keduanya memang bilang ingin menghabiskan semalam lagi di hutan menikmati alam.

Papa makan sambil merokok. Istirahat hanya 5 menit dan kita langsung jalan lagi.  Udara terasa pengap dan langit mendung.  Betul saja,  beberapa menit dari pos itu, hujan mulai turun lagi.

Kali ini payung saya serahkan Papa. Payung merah OJK, silakan pakai Papa. Saya ingin main hujan-hujanan sebentar.  Tanpa jaket hujan, tanpa payung.

Hujan lebat dan kami terus berjalan. Papa dibantu tongkatnya berjalan di depan. Berpayung. Sepanjang  jalan ia tersenyum. Saya seperti hamburger,  dengan ransel kecil dibungkus cover bag berwarna orange di depan dan carrier juga dibungkus cover bag orange di belakang.  Hujan itu sungguh menyegarkan. Hujan juga menciptakan aliran kecil dan lubuk di sepanjang jalan. Rasa capek saya hilang berganti semangat. Rasa segar menjalar di kaki dan penglihatan.

Tepat 45 menit di jalan yang sudah seperti sungai, kami mencapai Pos I di ketinggian 645 meter dari permukaan laut .  Shelter yang besar dan tinggi dan tampak terawat. Air tidak  menggenang  dan aliran air masuk selokan di depan shelter. Shelter ini bersih. Mungkin air sudah mengangkut semua sampah yang ada. Kami istirahat lagi untuk 5 menit. Saya makan pisang dan minum softdrink lagi. Kali ini Papa cukup merokok saja.

Sekarang kami benar-benar ngebut. Papa tetap di depan dengan payung dan tongkat, saya beberapa meter di belakangnya. Jalan setapak kini melebar sampai satu meter lebih dan terasa semakin datar.

Pukul empat lewat hujan berhenti, dan tak lama sebelum pukul empat tiga puluh menit kami melewati lengkungan gerbang Plawangan Senaru.

Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi
Di Gerbang Senaru. Basahhhh, tapi segarrrr dan bahagiaaaaa. ASUS ZENFONE 6/gianfranco petrozzi

Saya dan Papa tertawa lagi walau tak bicara apa-apa. Kami berpelukan. Berfoto-foto sebentar dengan Asus Zenfone 6 dengan latar belakang  gerbang Plawangan Senaru itu.  Aduh, senangnya…

“Grazie, Novi, grazie,” kata Papa Franco. “Terimakasih banyak.”

“Oui, Papa.” Hahaha. A little bit French lah.

***

Segalanya kemudian berlangsung cepat. Setelah berjalan lagi beberapa lama, kami dijemput ojek suruhan Mr Len dan dibawa ke tempat ia dan mobilnya parkir menunggu. Kami mengantar Papa ke hotel dimana saya menumpang mandi dan berganti pakaian. Papa memberi saya cendera mata, baju hangat dari wol yang tadi dipakainya. Saya mengembalikan tongkat yang pun tadi dipakainya. Tongkat itu ada pada saya sebab saat dijemput ojek yang cuma satu—yang memaksa kami harus bergiliran, Papa memberikan tongkat itu untuk saya.

Dia tertawa. “Keep your bastone, Papa.” Selepas Pos 4, Papa mengajari saya kata itu, bastone, artinya tongkat.

Pukul 7 malam saya pamit Papa Franco. Bersalaman lagi. Berpelukan lagi. Begitu sering dua hal ini saya lakukan sepanjang jalan dan enam hari perjalanan ini, berbarengan dengan mencatat email, no telepon, akun facebook. 

Sepanjang  jalan menuju Mataram saya lihat  bekas-bekas hujan dan sedikit banjir. Kami mampir ATM sebentar dan saya lunasi ongkos travel itu. Pukul sembilan lewat, kami sampai di hotel di mana saya menitipkan laptop dan beberapa perlengkapan yang saya tak perlu di Gunung  tapi penting buat bekerja.

Saya lapar dan masih merasa perjalanan ini belum berakhir. Post trip syndrome. Saya mampir warung STMJ di dekat hotel. Makan roti dan telur puyuh 3 biji plus semangkuk besar STMJ. Masih lapar, geser ke warung mi ayam di sebelahnya. Dan masih lapar juga…yang membuat saya menyeberang ke warung sari laut di depan hotel.

Pukul  sebelas malam saya membongkar ransel, paking ulang dan membuang sampah-sampah. Saya tersenyum, sebagian bekal yang kini sudah jadi sampah itu enam hari yang lalu saya beli di Alfamart tak jauh dari hotel ini. Bisa membuang lagi sampah bungkusnya di dekat tempat belinya itu sesuatu banget.

Sisa bekal seperti dua bungkus Indomie Soto Banjar Limau Kuit (ini saya bawa dari Balikpapan), kecap, sambal, pisang, selai kacang, … saya tinggal di meja. Tapi tak sampai selesai paking ulang itu, saya kecapekan dan tidur hingga pukul empat pagi Senin 10 November.

Saya  meninggalkan hotel pukul tujuh lebih 15 menit. Tidak sarapan apa pun kecuali air putih. Sopir taksi itu bercerita tentang masjid-masjid di Lombok  dan Islam Wetu Telu sampai  kita tiba di bandara pukul 8 lewat.

Karena pakaian basah, bagasi saya kelebihan hingga 5 kg. Karena sesuatu dan lain hal, penerbangan saya yang pukul 09.30 ternyata dimajukan pukul 08.15 dan sudah boarding saat saya baru tiba tadi.

“Jangan khawatir, mas kami ikutkan penerbangan berikutnya ya,” kata gadis di counter check in. Begitulah Lion, sering sesukanya. Tapi tak masalah. Saya jadi ada waktu untuk sarapan, lalu membeli majalah di Periplus, dan duduk membaca. Ternyata kita di-delay hingga pukul 11.00. Mantaappp…

Bandara Selaparang di bagian keberangkatan ini berbeda jauh dari bagian kedatangannya. Di bagian keberangkatan ini terasa lebih luas dan lebih luks. Bagian kedatangan masih seadanya mungkin karena sedang direnovasi.

Lalu di kursi di depan saya ada sekeluarga turis (bapak, ibu, anak) yang penuh tato, yang badannya jadi cokelat karena berjemur. Mereka juga  mondar-mandir di terminal keberangkatan itu.  Si bapak itu botak, pendek, gemuk, dan memakai anting-anting yang dijejal ke lubang telinga. Istri dan anaknya bercelana pendek dari celana panjang jeans yang dipotong pendek hingga pangkal paha, berkaus tanpa lengan model singlet yang menutup tanktop hitam. Ada bonus belahan dada dan puser. Saya melepas kacamata dan mengelap lensanya. Memandang gunung itu harus dengan takzim, bro.

Lelaki sangar selalu punya anak gadis cantik. Betul begitu ya?

National Geographic memuat artikel utama tentang bencana  di Gunung Everest dan belasan porter Sherpa yang tewas tertimbun salju. Saya turut bersedih. Nanti saya ceritakan kapan-kapan.

Halaman yang menampilkan para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. nationalgeographic.com
Halaman majalah National Geographic yang menampilkan foto para sherpa yang tewas diterjang dan tertimbun longsoran salju pada 18 April 2014. Sherpa adalah para porter, pembawa barang, juga pemandu, dan teman dalam pendakian di Himalaya. nationalgeographic.com

Kami tiba di Bandara Djuanda lewat sedikit tengah hari, dan sekali lagi penerbangan saya ke Balikpapan ditunda.  Sekali lagi juga tak apa. Saya lanjut membaca, makan roti, dan minum air putih.

Kemudian, di pesawat, saya bersisian duduk dengan seorang wanita muda Tionghoa yang saya duga baru lewat pertengahan 30-an dan belum menikah. Kami tidak bertegur sapa, hanya bertukar senyum dan saya membantu sebentar mengambilkan ujung sabuk pengamannya yang terselip ke bawah kursi. Wanita cantik ini juga suka membaca—dan seperti saya, asyik dengan bacaannya  selama pesawat mengudara. Ia membaca novel dan inflight magazine Lion yang tersedia di kantong kursi, saya meneruskan membaca National Geographic dan Time, dan menulis catatan harian di meja lipat itu. 

Saya pertimbangkan untuk menyapanya lain kali di kesempatan yang berbeda, bila ketemu lagi, tentu saja.

Balikpapan cerah dengan langit malam yang terang. Saya sampai di Warung Jamu Marem di Km 5,5 Soekarno-Hatta selepas magrib, mengambil motor dan menitipkan ransel. Saya kembali ke Jalan Sjarifuddin Joes ke arah bandara.

Saya baru merasakan perjalanan ini benar-benar berakhir di circle Balikpapan Hash House Harriers di halaman Bizpark II, tak jauh dari rumah jabatan Wali Kota Balikpapan, lebih kurang 1 km dari airport dimana saya mendarat 90 menit sebelumnya.  Bulan masih bersinar terang.

Logo Balikpapan Hash House Harriers--dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Logo Balikpapan Hash House Harriers–dan di bawahnya syal Barito Putera. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Bersama kawan-kawan hasher ini adalah kebahagian saya yang lain. Baiklah, sekali lagi angkat gelasmu kawan, …here’s to us, here’s true blue, he’s bastard through and through, he’s bastard through they say, he tries to go to heaven but get the wrong way,…drink it down down down…

Segar dan dingin.

Saya menyanyi pelan mengikuti Joan Baez, “Swing low, sweet chariot, … coming for to carry me home. Swing low, sweet chariot. Coming for to carry me home …

 ***