Reuni Kopi

Posted on Updated on

Danau kawah Segara Anak dilihat dari Rim Senaru di ketinggian  2.600 m dari permukaan laut.  ASUS ZENFONE 6/novi abdi
Danau kawah Segara Anak dilihat dari Rim Senaru di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung. 

Suara tawa itu berasal dari kelompok yang duduk di depan tenda-tenda tersebut. Percakapan dalam Bahasa Inggris bercampur Melayu, dengan Bahasa Inggris juga berlogat Melayu.

Haikal, Fidzi, Conrad, dan satu yang saya lupa namanya, anak-anak muda di pertengahan 20-an yang dalam liburan singkat 5 hari dari negara kota Singapura.

“You have dinner  already?” tanya Fidzi dalam Singlish, Singaporean English. Fidzi yang gempal, yang bercambang, dan mengingatkan saya pada Piaw di Segara Anak.

Ini mungkin basa-basi Singapura, karena mereka semua sudah makan, dan tentu tidak bisa begitu saja meminta para porter itu menyediakan makan untuk seorang tamu yang tidak diduga. Saya bilang saya belum makan malam tapi tak usahlah khawatir, I have my own meal for dinner, saya punya bekal sendiri.

Setelah berbicang ramai, dimana saya bercerita tentang serunya perjalanan melintasi dinding Gunung itu sendirian dan  menjadi pelari lintas alam di Balikpapan Hash House Harriers (juga biasa lari sendirian walaupun maksudnya berlari bersama klub itu supaya ramai berbarengan), saya pamit undur diri untuk menegakkan tenda, makan malam, dan istirahat.

“You need help Novi?” tanya Fidzi lagi.

“Oh, thank you very much, Fidzi. I will call if I need to,” senyum saya.

Tenda saya di ujung tenda-tenda mereka, bersandar di sedikit dinding tanah untuk sekadar mengurangi terpaan angin. Saya berganti pakaian, memasak makan malam, dan segera berusaha memejamkan mata. Agak susah sebab sisa-sisa adrenalin masih melimpah di dalam darah, yang membuat mata saya nyalang  dan otak memutar kenangan-kenangan sepanjang jalan itu.

***

Para pemuda Singapura itu hanya mendaki sampai rim Senaru ini. Hari ini Minggu pagi, dan besok Senin  pagi mereka sudah harus kembali ke negaranya. Sama saja dengan saya sebenarnya. Saya ditunggu penerbangan pukul 10.00 hari Senin ke Surabaya dan lanjutannya ke Balikpapan.

Tapi sebelum waktu itu tiba, masih ada satu hari penuh untuk menikmat perjalanan dan alam, dan membuat banyak pertemanan.

Pagi itu, Fidzi membagi kopi dan burger sarapannya dengan saya. Setelahnya saya masih menambah lagi dengan kopi buatan sendiri.

Langit cerah berwarna biru terang, dan matahari mulai bersinar tajam. Seperti semua orang setelah tujuan tercapai, saya agak mengendur. Saya memberi hadiah bagi diri sendiri sedikit waktu untuk bersantai.  Saya menonton saja para porter yang disewa Haikal dan rekan-rekannya membereskan camping ground mereka.

Sebelum lupa, saya minta air dari persediaan mereka yang banyak. Saya diberi sebotol besar yang belum dibuka segelnya. Saat mencapai rim ini tadi malam, saya ingat, air saya tinggal setengah botol plastik itu.

“So when are you going down?” tanya Haikal.

“At 9 o clock,” jawab saya. Pemuda ini keturunan Pakistan atau India.  Lulusan Universitas Nasional Singapura.

Jpeg
Para Singapura, tau bukan, yang mana yang Fidzi, Conrad, Haikal, dan yang saya lupa namanya. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Para porter memberitahu bahwa perlu 4-5 jam jalan kaki dari rim hingga gerbang pendakian di Senaru. Itu artinya bila saya harus mencapai Mataram saat malam, saya harus sampai di Senaru selambatnya pukul 2 siang bila ingin mengejar angkutan umum.

Mulai jalan pukul sembilan pagi tampaknya memang pas—walaupun saya tetap menyiapkan rencana cadangan.

Para rombongan mulai turun pada pukul 8 pagi.  Saat saya menyeruput kopi dari gelas yang kedua, lewatlah  Manggila, Sam, dan Chloe. Reuni kecil ini dirayakan dengan lebih layak (walau bagi sebagian orang mungkin tidak). Kami minum kopi dari gelas saya, dan makan biskuit bayi, biskuit andalan saya sejak Indonesian 4X4 Expedition ke perbatasan utara Kalimantan tahun lalu.

“Find me in London, and I promise you we will have coffee in the most cozy place ever,” kata Sam. Sure I will, someday. Sam hanya menjanjikan tempat tampaknya, sebab soal kopinya sendiri, ohh, Nusantara ini tak ada bandingnya. Siapa tahu malah kopi bawaan saya dari Toraja, atau Aceh, atau kopi jagung Martapura itu yang akan kami nikmati di London.

Kalian tahu bukan, Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, juga The Lost Symbol, secara khusus menuliskan kebiasaan ngopi tokohnya Robert Langdon setiap pagi setelah berenang 50 putaran di usia 45 tahun. Kopinya itu, tulis Daily Mail mengutip narasi di Angel and Demon, is a coffee made from hand-ground Sumatran beans. Pada kesempatan lain di The Lost Symbol, diceritakan Langdon menggiling sendiri bubuk kopinya, juga dari biji kopi Sumatera. Jadi, hmm, saya yakinlah, itu pasti kopi Atjheh.
Kemudian Haikal dan kawan-kawannya yang pamit. Dari anak-anak muda Singapura itu, Fidzi yang banyak bicara dan Haikal yang menjadi teman baik.  Kata Haikal, ia ingin berkunjung ke Balikpapan untuk berlari bersama Balikpapan Hash House Harriers, terutama pada saat ulang tahun ke-40 BH3 nanti 14 Juli 2015.

“I will run with  Singapore Hash first,” janjinya.

Saya  pun merencanakan untuk datang ke Singapura pada 6-16 Juni atau sebulan sebelumnya. Pada tanggal itu, Singapura menjadi tuan rumah SEA Games dan saya akan mencari kesempatan sedemikian rupa agar bisa meliput event itu. Yang jelas, kita janjian ngopi di Starbuck di Orchard Road di antara tanggal-tanggal itu. Haikal akan membuat kapan tepatnya sesegara saya mendapat kepastian tugas liputan tersebut.

Well, saya sudah membuat  janji minum kopi di dua tempat berbeda sepanjang pagi yang cerah penuh rahmat itu.

***

Sebelum turun saya sempatkan untuk sekali lagi melihat ke selatan,  ke arah danau dan puncak Rinjani.  Saya membuat foto lagi di bawah langit yang biru cerah dan matahari yang mulai terik. Pagi itu, pada pukul sembilan, tinggal sebuah tenda orange di Plawangan Senaru. Dari pintunya yang terbuka, seorang lelaki bule tidur-tiduran. Orang itu dari negeri yang jarang melihat matahari mungkin.

PAR-RIM SENARU CAMP
Tenda-tenda di Camp Senaru. Nikmati matahari Indonesia. ASUS ZENFONE 6/novi abdi

Pukul  sembilan lewat 10 menit, perjalanan turun yang riang dimulai. Saya masih mengikuti jalan setapak dengan sampah di jalan yang tidak terlalu jelas di lereng yang berbatu. Ada semacam lapangan luas dan landai dengan vegetasi rumput kekuningan. Mungkin di sini orang terserah saja mau ambil jalur yang mana, asal menuju ke shelter di bawah itu yang terlihat jelas dari sini. Di akhir lapangan, jalan menurun terjal lebih kurang 10 meter, lalu agak landai lagi sampai 250 meter berikutnya,  turunan terjal lagi hingga sampai deretan pohon pinus  yang rindang yang menaungi shelter tersebut.

Pukul 10 tepat saya tiba di shelter Plawangan Senaru di ketinggian 2.643 meter dari permukaan laut. Rupanya ini shelter resminya. Yang di atas sana, yang di gigir kawah disebut pos ekstra. Dari pos ini, terulur  jalan turun yang  sangat jelas, berwarna cokelat kemerahan.  Jalannya mulus. Kalau mau, bisa berlari.

Saya cobalah berlari. Gembira dalam kebebasan dan kesehatan. Saya melayang turun di tikungan, meloncat-loncat di undakan, dan terbang lagi di jalan yang lapang. Novi, free, and happy.  Saya sih inginnya  no-fee, tapi tak bisa bro, hehehe. Segala sesuatu ada harganya.

 ***

Catatan setahun kemudian:

Seseorang  menyarankan kisah ini diikutkan lomba. Satu syarat lomba itu, saya harus menampilkan tulisan berikut ini, hehehe:  Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Demikian. Saya belum berhasil bertemu Haikal dan Sam lagi. Kesibukan alasannya. Apalagi setelah Haikal bekerja untuk Disney yang membuatnya kerap pergi pulang ke Amerika. Tapi kami masih sering kontak, terutama lewat facebook. 

5 respons untuk ‘Reuni Kopi

    Reuni Kopi « noviabdi25 said:
    Agustus 21, 2016 pukul 4:59 pm

    […] Sumber: Reuni Kopi […]

    tamanbermaindropdeadfred said:
    Agustus 31, 2016 pukul 3:43 am

    Menarik sekali perjalanannya, Mbak 😀

      noviabdi25 responded:
      September 1, 2016 pukul 3:05 pm

      aha, terimakasih sudah mampir—ya mbak, tanah air kita indah sekali, dan persahabatan juga persaudaraan ada sepanjang jalan

    Listy said:
    Mei 9, 2020 pukul 7:17 am

    Bahasa mu indah sekali bang.. saya berfikir apa bukunya sudah terbit? 😊😊 2020 ditunggu tulisan terbarunya.. menarik sekali ulasan tentang gunung dan keindahannya..

      Novi Abdi responded:
      Mei 11, 2020 pukul 11:10 am

      halo listy, terimakasih sudah meluangkan waktu melihat keindahan alam negeri kita dari jendela blog ini—saya belum menseriusi niat mengumpulkan tulisan ini jadi buku, entah nanti—tenang aja, hehehe, ada banyak kisah pendakian yang belum saya tulis—tapi di sini, kalau masih mau ikut naik gunung, ada kisah saya mendaki kerinci di jambi, di mulai dari sini https://noviabdi25.wordpress.com/2017/10/16/ikan-rahasia-kecerdasan-urang-minang/

      mampir yaaa

Tinggalkan komentar