Month: Maret 2015
Reuni Kopi

Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung.
Suara tawa itu berasal dari kelompok yang duduk di depan tenda-tenda tersebut. Percakapan dalam Bahasa Inggris bercampur Melayu, dengan Bahasa Inggris juga berlogat Melayu.
Haikal, Fidzi, Conrad, dan satu yang saya lupa namanya, anak-anak muda di pertengahan 20-an yang dalam liburan singkat 5 hari dari negara kota Singapura.
“You have dinner already?” tanya Fidzi dalam Singlish, Singaporean English. Fidzi yang gempal, yang bercambang, dan mengingatkan saya pada Piaw di Segara Anak.
Ini mungkin basa-basi Singapura, karena mereka semua sudah makan, dan tentu tidak bisa begitu saja meminta para porter itu menyediakan makan untuk seorang tamu yang tidak diduga. Saya bilang saya belum makan malam tapi tak usahlah khawatir, I have my own meal for dinner, saya punya bekal sendiri.
Setelah berbicang ramai, dimana saya bercerita tentang serunya perjalanan melintasi dinding Gunung itu sendirian dan menjadi pelari lintas alam di Balikpapan Hash House Harriers (juga biasa lari sendirian walaupun maksudnya berlari bersama klub itu supaya ramai berbarengan), saya pamit undur diri untuk menegakkan tenda, makan malam, dan istirahat.
“You need help Novi?” tanya Fidzi lagi.
“Oh, thank you very much, Fidzi. I will call if I need to,” senyum saya.
Tenda saya di ujung tenda-tenda mereka, bersandar di sedikit dinding tanah untuk sekadar mengurangi terpaan angin. Saya berganti pakaian, memasak makan malam, dan segera berusaha memejamkan mata. Agak susah sebab sisa-sisa adrenalin masih melimpah di dalam darah, yang membuat mata saya nyalang dan otak memutar kenangan-kenangan sepanjang jalan itu.
***
Para pemuda Singapura itu hanya mendaki sampai rim Senaru ini. Hari ini Minggu pagi, dan besok Senin pagi mereka sudah harus kembali ke negaranya. Sama saja dengan saya sebenarnya. Saya ditunggu penerbangan pukul 10.00 hari Senin ke Surabaya dan lanjutannya ke Balikpapan.
Tapi sebelum waktu itu tiba, masih ada satu hari penuh untuk menikmat perjalanan dan alam, dan membuat banyak pertemanan.
Pagi itu, Fidzi membagi kopi dan burger sarapannya dengan saya. Setelahnya saya masih menambah lagi dengan kopi buatan sendiri.
Langit cerah berwarna biru terang, dan matahari mulai bersinar tajam. Seperti semua orang setelah tujuan tercapai, saya agak mengendur. Saya memberi hadiah bagi diri sendiri sedikit waktu untuk bersantai. Saya menonton saja para porter yang disewa Haikal dan rekan-rekannya membereskan camping ground mereka.
Sebelum lupa, saya minta air dari persediaan mereka yang banyak. Saya diberi sebotol besar yang belum dibuka segelnya. Saat mencapai rim ini tadi malam, saya ingat, air saya tinggal setengah botol plastik itu.
“So when are you going down?” tanya Haikal.
“At 9 o clock,” jawab saya. Pemuda ini keturunan Pakistan atau India. Lulusan Universitas Nasional Singapura.

Para porter memberitahu bahwa perlu 4-5 jam jalan kaki dari rim hingga gerbang pendakian di Senaru. Itu artinya bila saya harus mencapai Mataram saat malam, saya harus sampai di Senaru selambatnya pukul 2 siang bila ingin mengejar angkutan umum.
Mulai jalan pukul sembilan pagi tampaknya memang pas—walaupun saya tetap menyiapkan rencana cadangan.
Para rombongan mulai turun pada pukul 8 pagi. Saat saya menyeruput kopi dari gelas yang kedua, lewatlah Manggila, Sam, dan Chloe. Reuni kecil ini dirayakan dengan lebih layak (walau bagi sebagian orang mungkin tidak). Kami minum kopi dari gelas saya, dan makan biskuit bayi, biskuit andalan saya sejak Indonesian 4X4 Expedition ke perbatasan utara Kalimantan tahun lalu.
“Find me in London, and I promise you we will have coffee in the most cozy place ever,” kata Sam. Sure I will, someday. Sam hanya menjanjikan tempat tampaknya, sebab soal kopinya sendiri, ohh, Nusantara ini tak ada bandingnya. Siapa tahu malah kopi bawaan saya dari Toraja, atau Aceh, atau kopi jagung Martapura itu yang akan kami nikmati di London.
Kalian tahu bukan, Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, juga The Lost Symbol, secara khusus menuliskan kebiasaan ngopi tokohnya Robert Langdon setiap pagi setelah berenang 50 putaran di usia 45 tahun. Kopinya itu, tulis Daily Mail mengutip narasi di Angel and Demon, is a coffee made from hand-ground Sumatran beans. Pada kesempatan lain di The Lost Symbol, diceritakan Langdon menggiling sendiri bubuk kopinya, juga dari biji kopi Sumatera. Jadi, hmm, saya yakinlah, itu pasti kopi Atjheh.
Kemudian Haikal dan kawan-kawannya yang pamit. Dari anak-anak muda Singapura itu, Fidzi yang banyak bicara dan Haikal yang menjadi teman baik. Kata Haikal, ia ingin berkunjung ke Balikpapan untuk berlari bersama Balikpapan Hash House Harriers, terutama pada saat ulang tahun ke-40 BH3 nanti 14 Juli 2015.
“I will run with Singapore Hash first,” janjinya.
Saya pun merencanakan untuk datang ke Singapura pada 6-16 Juni atau sebulan sebelumnya. Pada tanggal itu, Singapura menjadi tuan rumah SEA Games dan saya akan mencari kesempatan sedemikian rupa agar bisa meliput event itu. Yang jelas, kita janjian ngopi di Starbuck di Orchard Road di antara tanggal-tanggal itu. Haikal akan membuat kapan tepatnya sesegara saya mendapat kepastian tugas liputan tersebut.
Well, saya sudah membuat janji minum kopi di dua tempat berbeda sepanjang pagi yang cerah penuh rahmat itu.
***
Sebelum turun saya sempatkan untuk sekali lagi melihat ke selatan, ke arah danau dan puncak Rinjani. Saya membuat foto lagi di bawah langit yang biru cerah dan matahari yang mulai terik. Pagi itu, pada pukul sembilan, tinggal sebuah tenda orange di Plawangan Senaru. Dari pintunya yang terbuka, seorang lelaki bule tidur-tiduran. Orang itu dari negeri yang jarang melihat matahari mungkin.

Pukul sembilan lewat 10 menit, perjalanan turun yang riang dimulai. Saya masih mengikuti jalan setapak dengan sampah di jalan yang tidak terlalu jelas di lereng yang berbatu. Ada semacam lapangan luas dan landai dengan vegetasi rumput kekuningan. Mungkin di sini orang terserah saja mau ambil jalur yang mana, asal menuju ke shelter di bawah itu yang terlihat jelas dari sini. Di akhir lapangan, jalan menurun terjal lebih kurang 10 meter, lalu agak landai lagi sampai 250 meter berikutnya, turunan terjal lagi hingga sampai deretan pohon pinus yang rindang yang menaungi shelter tersebut.
Pukul 10 tepat saya tiba di shelter Plawangan Senaru di ketinggian 2.643 meter dari permukaan laut. Rupanya ini shelter resminya. Yang di atas sana, yang di gigir kawah disebut pos ekstra. Dari pos ini, terulur jalan turun yang sangat jelas, berwarna cokelat kemerahan. Jalannya mulus. Kalau mau, bisa berlari.
Saya cobalah berlari. Gembira dalam kebebasan dan kesehatan. Saya melayang turun di tikungan, meloncat-loncat di undakan, dan terbang lagi di jalan yang lapang. Novi, free, and happy. Saya sih inginnya no-fee, tapi tak bisa bro, hehehe. Segala sesuatu ada harganya.
***
Catatan setahun kemudian:
Seseorang menyarankan kisah ini diikutkan lomba. Satu syarat lomba itu, saya harus menampilkan tulisan berikut ini, hehehe: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Demikian. Saya belum berhasil bertemu Haikal dan Sam lagi. Kesibukan alasannya. Apalagi setelah Haikal bekerja untuk Disney yang membuatnya kerap pergi pulang ke Amerika. Tapi kami masih sering kontak, terutama lewat facebook.
Sampah Mengalir Sampai Jauh

Di rimba Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah. Bagian kelima, bro.
Setelah menyisir danau selama 45 menit. Jalan setapak di sisi danau ini menuju ke bukit yang ditumbuhi alang-alang berwarna kuning di sana. Dari sini terlihat jalan itu naik mendaki. Bukit itu sendiri seperti tanjung besar yang menjorok ke tengah danau. Tiga pemancing yang melewati saya tadi kini berhenti di dekat kaki bukit itu, dan mulai kembali memancing.
Saya melompati batu-batu besar di tepi danau dan mulai mendekati mereka.
“Itu ya, jalan ke Senaru?” saya bertanya kepada yang terdekat.
“Oh, … masnya mau ke Senaru. Bukan mas. Itu cuma ke atas bukit itu aja. Tidak ada jalan lagi. Masnya kelewatan…” katanya.
“Kelewatan? Di mana?”
“Itu mas, dekat dua orang yang mancing di sana,” tunjuknya.
Dua orang yang ditunjuk itu saya lewati kira-kira 5 menit sebelumnya. Wah.
“Oke, terimakasih yaaa…”
Di belakang 2 pemancing yang tinggal di tenda biru berdiri hutan yang terbakar. Pohon-pohon bergaris tengah seukuran galon air dan paha orang dewasa tampak sengsara dengan cabang-cabang yang hitam dan daun-daun kering meranggas. Saya tidak melihat ada jalan setapak.
“Kalau dari sini sedikit ke atas mas, jalannya. Nanti ketemu,” kata salah satu dari mereka. Keduanya mendaki Rinjani dan sampai di Segara Anak bukan lewat Sembalun maupun Senaru, melainkan dari Torean.
Baiklah. Setelah 5 menit berikutnya berjalan di atas abu dan arang, saya bertemu jalan itu. Melintang dari barat ke timur, dan di arah ketinggian, berbelok ke kanan.

Awal jalan itu di tepi danau ternyata saya lihat dengan jelas sebelumnya. Saya bahkan memotretnya. Sebelum ketemu dua pemancing dari Torean ada tumpukan batu di tepi danau. Saya memotret tumpukan batu tersebut tanpa tahu kenapa. Saya lihat di foto, dari tempat saya berdiri memotret, terlihat jelas muara jalan itu, kemudian jalannya sendiri, berupa garis memanjang putih di antara abu dan batang-batang pohon yang kehitaman.
Tapi saya malah kelewatan.
Begitulah gunung kadang-kadang, Saudara. Atau begitulah kadang-kadang kita di gunung, brader.
***
Dari Segara Anak, jalan ke gigir atau rim Rinjani di sisi Senaru berada dalam naungan pohon-pohon. Jalannya menanjak perlahan di awal di bawah hutan konifer di dekat danau, dan semakin tinggi semakin curam. Setelah melewati bagian yang terbakar di dekat danau, terlihat rumput-rumput juga tumbuh subur di tanah dan di sela batuan. Semakin tinggi juga pohon-pohon semakin jarang.
Saya jalan santai dan menikmati semuanya. Termasuk beban di pundak yang total beratnya 30 kg. Target saya adalah sampai ke rim, itu saja. Mau sampai jam berapa, saya serahkan pada kaki ini.
Ketika baru melewati tanjakan dan sampai di jalan datar lagi, sepasang pendaki Inggris dan pemandunya melewati saya. Mereka menyapa sekilas dan terus bergegas. Saya memotret mereka ketika baru akan memulai tanjakan itu.
“Sebentar hujan mas,” kata Julian ‘James’ Manggila, si pemandu. Saya melihat ke langit yang terlindung pepohonan. Bukankah sejak dari Segara tadi cuaca memang mendung?
Sudah lama saya tidak lagi mengkhawatirkan cuaca. Mau hujan, hujanlah. Mau panas, panaslah. Mau malam, silakan malam. Saya bahkan punya rencana cadangan agak gila, seandainya karena kelelahan, atau hujan terlalu lebat, malam terlalu gelap, dan saya harus menginap di jalan di lereng itu, ya menginaplah di situ. Tinggal cari tempat yang agak lapang untuk merebahkan badan dan terlindung dari angin dan hujan. Tidak pernah ada yang bermalam di lereng Senaru setahu saya.
Saya membuat rencana cadangan itu dengan hitungan kasar kecepatan jalan saya, kesulitan medan, dan jarak yang ada. Saya hampir yakin saya akan kemalaman di jalan.
Satu alasan mengapa beban saya begitu berat (bahkan oleh para porter carrier dan ransel saya disebut berat) adalah perlengkapan yang saya bawa. Ada jaket hujan, ada payung, ada pakaian ekstra.
Ya payung, sobat. Payung kecil berwarna merah yang sangat bermanfaat melindungi diri dari hujan dan panas.
Sebagai imbalan dari beban itu adalah saya bebas dari tekanan jadwal. Ingat ketika saya baru berangkat summit attack menjelang pukul enam pagi dan baru tiba kembali di Plawangan Sembalun pukul setengah lima sore. Perjalanan yang tidak lazim karena orang ingin melihat matahari terbit di Puncak Rinjani sementara saya hanya ingin ke Puncak Rinjani.
Di sisi lain, seorang yang sendirian memang tak punya banyak pilihan.
***
Ketika saya bertemu mereka lagi, Sam Smith dan Chloe dan James sang pemandu tengah istirahat. Merek duduk-duduk di batu besar di tempat yang agak datar dan minum.

Sam bekerja untuk industri film. Chloe desainer. Bertiga kami difoto oleh James si pemandu dengan Zenfone 6. Mereka lanjut jalan, saya gantian istirahat sejenak. Mungkin ada 10 menit. Saya makan satu tomat dari Metarum dan seruas cokelat.
Tempat istirahat kami itu rupanya tempat datar yang nyaman terakhir Jdari arah Segara Anak. Setelah itu, jalan berlaku seperti tangga. Bila di peta topografi, garis konturnya yang menandakan perubahan ketinggian setiap 20 meter itu akan rapat sekali.
Hujan yang dikatakan Manggila pun datang. Langsung lebat sehingga saya hanya sempat menarik payung dari kantong di sisi daypack. Saya meniti tangga batu-batu sambil memperhatikan jalan. Air yang mengalir membawa turun sampah-sampah kecil seperti bekas bungkus permen dan cokelat. Saya jadi menyadari sesuatu lagi, jalan yang benar itu adalah jalan yang ada sampah di jalurnya. You can follow the trash.
Sungguh ironi bukan. Dulu, di rimba di sisi timur Pegunungan Meratus, jalan untuk kembali ke peradaban manusia adalah mengikuti jalan logging atau jalan para penebang kayu dan pemburu. Setelah 3 hari (dari 5 hari perjalanan) menjelajah hutan tanpa jalan setapak di bawah hujan yang konsisten, saya terharu ketika menemukan jalan HPH. Saya dan Opik tiba di ujungnya, dimana pohon-pohon menghilang selebar 6 meter dan langit terbuka.
Di sini, di Rinjani, kita berjalan mengikuti ceceran sampah.
***
Hujan sudah berhenti ketika saya sampai di puncak bukit yang ditutupi oleh rumput-rumput kuning, sedikit pohon, dan batu-batu besar. Di punggung bukit yang datar dan meluas itu, jalan setapak seolah menghilang setelah keluar dari celah pepohonan di lereng curam.
Di muara jalan turun itu, saya melepaskan ransel dan segera mengenakan jaket hujan. Ini untuk jaga-jaga seandainya hujan turun lagi nanti. Setelahnya baru istirahat sejenak, minum, makan tomat dan cokelat.
Pukul empat lima puluh menit, saya melipat payung dan mulai berjalan lagi. Di jalan setapak yang menghilang itu, ceceran sampah sekali lagi menjadi petunjuk kemana harus melangkah. Pertama sampah-sampah itu berceceran ke kiri. Setelah seratus meter di antara batu-batu besar yang digrafiti, sampah ditemukan mulai menanjak lagi di kanan.
Bukit datar tadi mulai saya tinggalkan di bawah. Kemiringan lereng ini mencapai 60-70 derajat. Jalan setapak selebar setengah meter zig zag di jalan tanah dan batu-batu sambil melipir ke kiri mengikuti lingkaran danau dan dinding tebing kawah.
Untuk menuju Rim Senaru, di kanan jalan setapak ada dinding tebing, di kiri jurang yang makin curam.
Pada satu titik di lereng yang masih berumput dan berpohon-pohon, jalan di tebing habis. Sambungannya ada satu meter di atas kepala, sementara tidak terlihat ada tapak tangga. Yang ada hanya pegangan dari besi sekaligus penutup jalan yang habis.
Tanpa beban sungguh tidak sulit mengangkat badan menuju sambungan jalan itu. Apalagi bila berkawan. Saya yang sendirian dengan beban ini tertegun, bagaimana caranya?
Ransel dilempar ke atas? Terlalu berat, bisa jatuh dan tak bisa diambil lagi di jurang sana. Saya lepas, lalu naik sendiri tanpa beban, baru kemudian ransel digeret naik dengan webbing yang saya punya…rasanya juga terlalu berat. Baik bobotnya, ukurannya, …
Saya meneliti lagi dinding tanah dengan pegangan besi itu. Ternyat ada sedikit lubang dan tonjolan batu yang bisa dimanfaatkan untuk pijakan.
Baiklah. Saya menarik napas mengumpulkan seluruh kekuatan. Dengan dua tangan saya berpegang pada besi pagar itu, lalu menarik badan sekuat tenaga ke atas. Pada langkah kedua, kaki kanan bertumpu di tonjolan batu. Saya berpegangan dengan tangan kiri besi, dan tangan kanan melepas ransel di depan yang menghalangi pandangan. Ransel itu saya tolak ke depan, membawa seluruh beratnya dan berat saya ke dinding tanah miring itu.
Saya kini dalam posisi merangkak di awal jalan setapak naik. Satu sentakan dari tumpuan kaki kanan melemparkan badan saya ke bagian yang aman dari jalan, di mana saya menjatuhkan diri dengan punggung terlebih dahulu.
Ransel-ransel yang jadi pemberat saya itu juga jadi penyelamat saya. Karena beratnya mereka, kami jadi tak bergerak begitu mencapai tanah. Saya berpegangan lagi pada besi untuk membantu badan berdiri.
Dari situ, pemandangannya ternyata indah sekali. Langit sore baru selesai hujan. Air danau di bawah sana berwarna hijau, dan di bagian yang sempit di kanan Gunung Barujari berwarna kuning. Gunungnya sendiri berwarna kecokelatan dengan langit putih tipis. Ganjaran untuk usaha yang setimpal.

Setelah rintangan ini, jalan setapak menanjak hingga ia berbelok ke kiri, tetap mengikuti tebing kawah. Lalu ada jalan datar yang panjang dan menanjak lagi di batu-batu. Sekali lagi saya merasa menjadi anggota rombongan dwarf, para kurcaci yang ingin merebut kembali kerajaannya di Gunung Sunyi yang dikuasai Naga.
Selain sampah dan pagar besi hijau itu, grafiti juga jadi petunjuk bahwa kita berada di trek yang benar. Saya bertanya-tanya, siapa yang masih punya waktu dan energi untuk mencoretkan namanya, nama pacarnya, nama semua orang di grup perjalanannya, nama sekolahnya, nama kampusnya, nama kotanya, nama geng-nya, tanggal-tanggal, semboyan … di batu-batu dan dinding tebing.
Setelah tanjakan terjal, ada tangga dari besi. Melihat tangga itu, saya kira saya sudah sampai di gigir gunung. Hati pun gembira. Setelah sampai dan dilewati, ternyata, … masih ada lagi tanjakan berikutnya.
Begitu terus beberapa kali. Jalan di Gunung di sisi Senaru ini benar-benar penuh pemberi harapan palsu. Demikian, saya berusaha untuk tidak kecewa. Kecewa itu makan energi dan menghabiskan semangat dan mengecilkan hati. Jadi, setiap berlalu satu puncak tanjakan yang dikira sampai gigir Gunung, dan ternyata masih ada terusannya, saya tertawa. Saya juga memuji diri sendiri, “ayo boi, semangat dan kuat…”
Setidaknya satu tanjakan sudah berlalu dan saya makin dekat dengan tujuan.
Hari mulai gelap. Ketika alarm waktu magrib waktu Indonesia Tengah di Samsung B2710 saya berbunyi, saya pas tiba di satu tanah datar setelah tanjakan batu. Istirahat lagi sejenak. Tomat lagi, cokelat lagi, minum seteguk dua air lagi. Saya duduk sambil menyetel headlamp, lampu senter yang ditaruh di jidat.
Ketika saya mulai jalan kembali , ada hiburan kecil: jalannya turun. Tapi, setelah 2 menit, saya jadi waspada. Kok turun? Dan mana sampahnya?
Saya berhenti sejenak, melihat sekeliling, orientasi . Kiri jurang, kanan tebing, … lalu kilatan di tanah, pantulan cahaya senter saya pada plastik keperakan bekas bungkus permen…
Itulah patokannya bila ke arah Senaru: rapat ke tebing dan jalan menanjak. Kalau turun dan menjauhi tebing, itu jalan sesat.
Pukul tujuh malam, sambil berjalan dalam kelam, saya melihat sinar lampu di ketinggian di kejauhan di sisi kiri, di seberang jurang. Titik cahaya itu bergerak, lalu berdiam lama. Saya berhenti lagi dan melihat ke titik cahaya itu. Saya merasa kami saling bertatapan.
Saya mengedip-ngedipkan senter. Dia yang di seberang sana membalas. Ha ha ha, saya tersenyum. Itu komunikasi pertama dengan orang lain sejak terakhir bertemu Sam, Chloe, dan Julian ‘James’ Manggila.

Dengan hati senang, langkah terasa ringan kembali. Lampu senter saya menyoroti dinding tebing yang dicoreti banyak grafiti. Jalan menikung ke kiri, disambung tanjakan yang terjal ke kanan dengan pegangan besi pagar yang dingin.
Lalu terdengar suara tawa yang riuh.
Beberapa saat sebelum azan Isya di Balikpapan, saya mencapai rim Rinjani di sisi Senaru. Saya terduduk kelelahan di belakang 3 buah tenda berwarna oranye yang didirikan berbanjar mengikuti panjang gigir gunung. Bahagia rasanya ketika ada tanah datar lebih dari setengah meter lebarnya, dan tidak ada dinding tebing dan jurang yang siap menelan kelengahan kita.
***