Rinjani untuk Rianne

Posted on Updated on

Jalan Setapak menuju Segara Anak di lereng Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl di  Gunung Rinjani.
Jalan Setapak menuju Segara Anak di lereng Plawangan Sembalun, di ketinggian 2600 mdpl di Gunung Rinjani. Jauh di kiri adalah dasar lembah. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

 Pukul 3 pagi, Sabtu 8 November, Arif dan Ridho berpamitan untuk summit attack. Inilah bagian keempat. 

Kami bersalaman, Boleh jadi akan lama sekali kita baru ketemu kembali. Saya menambah bekal air mereka. Semoga tidak dianggap memberatkan.

Saya masih sempat tertidur lagi sebelum benar-benar bangun pukul lima pagi. Saya menyiapkan sarapan besar untuk perjalanan turun ke Segara Anak.

Mulai pukul delapan, saat saya packing, para pendaki yang turun ke Sembalun satu per satu melewati saya. Dimulai dari rombongan porter, lalu guide, dan bule-bule itu. Ada Pim dan Rianne juga. Mereka mampir sebentar. Keduanya memeluk saya.

“I know you can make it,” kata Pim.

“Yeah, I did it,” kata saya seraya tersenyum lebar.

Beberapa lama sebelum ini, Pim van Goerp bertualang di Himalaya. Ia keluyuran ke desa-desa di ketinggian 4.000 meter hanya ditemani seorang pemandu. Karena itu rupanya Pim tahu benar rasanya jalan sendiri seperti yang saya lakukan, seperti yang dia juga lakukan.

“Kalau Rinjani, ini untuk merayakan kelulusan Rianne,” katanya. Rianne van Eldik baru saja jadi sarjana ilmu komunikasi dari  jurusan Commucatie en Informatiewetenschappen di Universiteit Utrecht. Rianne memilih Rinjani antara lain karena pelafalannya mirip dengan namanya.

Saya jadi ingat, saya merayakan kelulusan saya dari Jurusan Bahasa dan Seni dulu dengan bertualang di Sungai Amandit, menunggang arus di atas lanting hingga terpontang-panting karena memang bukan keahliannya, tapi hati senang dalam jiwa yang bebas merdeka. Sungai Amandit juga yang mewisuda saya dalam buih gelombang naungan pohon-pohon, seperti Lambung Mangkurat, mangkubumi Negara Dipa yang bertapa di pertemuan dua anak sungai dan akhirnya mendapatkan Putri Junjung Buih.

Bukankah legenda itu berkata Lambung Mangkurat bertapa di Sungai Amandit? Lalu kampus yang berdiri tahun 1958 itu pun diberi nama Universitas Lambung Mangkurat?

Begitulah rupanya. Saya sekali lagi melihat, diantara orang-orang yang cepat akrab, meski tak pernah bertemu sebelumnya, selalu ada kesamaan dan garis merah yang mirip. Diantara kesamaan-kesamaan itulah takdir jalin menjalin dan membuat hidup bergerak.

***

Begitu mencapai puncak Rinjani hari Jumat itu, saya kira saya sudah sampai pada klimaks petualangan ini. Ternyata sama sekali belum, sobat. Menjejakkan kaki ke puncak hanyalah separo dari kisah. Petualangan sesungguhnya baru dimulai segera sesudah ini.

Saya menyadarinya ketika berada di ujung jalan datar, lebih kurang seratus meter setelah tenda-tenda berakhir.  Jalan berbelok tajam ke kanan, lalu ujung berikutnya berbalik lagi ke kiri. Jalan setapak kecil cukup satu orang ini berzig-zag di atas batu-batu lereng  hingga terus ke separuh jarak ke lembah curam itu.

Ini jalan turun ke Segara Anak dari Plawangan Sembalun. Ada pagar dari sebatang besi sebesar lengan berwarna hijau untuk berpegangan di bagian yang dianggap rawan. Banyak lagi bagian yang tak ada pagar pegangannya justru di ada tempat  yang lebih berbahaya. Melewatinya, tak boleh lengah sedetik pun bila tak ingin jatuh ke lembah dalam nun jauh di bawah sana.

Medan di kemiringan antara 60-70 derajat itu menuntut semuanya dari saya. Perhatian penuh, kekuatan, kesabaran, dan ketahanan. Baru di sini terasa berjalan dengan 22 kg beban di punggung dan satu ransel di depan itu sungguh menyiksa. Ditambah berat badan sendiri, seluruh bobot  berkumpul di ujung jempol dan lutut. Jempol nyeri dan lutut menjerit. Ibu jari itu terhantam tutupan ujung sepatu dan lutut menopang seluruh tarikan gaya gravitasi. Jalan itu memberi tanda mata bagi saya. Sampai hari ini masih ada bercak darah di bawah kuku jempol kaki kiri dan di bawah telunjuk kaki kanan. Luka dalam yang belum lagi sembuh.

Jpeg
Rei, porter dari Desa Sembalun di lereng menuju Segara Anak. Sebagai porter penghasilannya Rp150.000 per hari dengan beban maksimal 25 kg sekali jalan. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Pantas para porter senang bersandal jepit saja, dan beban dibawa dengan dua keranjang yang dihubungkan dengan pikulan bambu. Begitu ternyata lebih praktis. Mereka seperti berlari melewati jalan setapak yang curam itu.

Bagi saya para porter Rinjani menunjukkan seni berjalan dan membawa beban yang hanya bisa ditandingi para shaolin. Bahkan para sherpa di Himalaya pun tidak. Keseimbangan adalah kuncinya. Keseimbangan datang dari irama berjalan yang teratur, yang bisa disetel sesuai tingkat kesulitan tempat kaki ditapakkan. Irama berjalan terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun, atau warisan pengetahuan rekaman bagaimana alam Rinjani.

Saya mencoba mengikuti contoh para porter dengan dasar-dasar yang diberikan oleh Merpati Putih, perguruan yang rendah hati dan sederhana itu. Merpati Putih mengajarkan keseimbangan dan efisiensi gerak dalam napas serta keheningan dengan satu titik sedikit di bawah pusar adalah pusatnya.

Setelah tiga hari menggendong carrier, saya juga mencoba menganggapnya bukan beban lagi, tapi bagian dari diri. Saya belanjar memanfaatkan beratnya untuk mempercepat gerak dan menjadi pelindung badan. Begitu juga dengan daypack, ransel yang saya bawa di depan. Ternyata saya bisa menggunakannya sebagai anker tempat berpegangan dengan melepasnya di turunan tertentu, berbalik badan, dan turun dengan menghadap tebing jalan, lalu berputar lagi sambil menarik ransel itu turun. Pelajaran dasar dari mendiang Bambang Eddy, pemanjat tebing kami di Kompas Borneo Unlam.

***

Pengalaman baru itu mengalihkan saya dari rasa sakit. Saya pun jadi bisa menikmati pemandangan lagi. Lereng ini juga usai terbakar, hingga ke lembah di bawah sana. Perdu dan pohon menghitam dengan latar awan-awan yang putin melayang-layang. Kadang-kadang awan menghampiri saya di lereng seperti menyapa, lalu menjauh lagi dibawa angin.

Saya kembali bersemangat dan meluangkan waktu untuk membuat foto dengan Zenfone 6. Kepraktisannya memudahkan. Saya tinggal merogoh kantong kiri celana kargo ini untuk mengambilnya untuk memotret jalan yang menggetarkan itu, memotret awan-awan, memotret pohon-pohon yang hangus, memotret puncak di gunung seberang sana, memotret danau yang kehijauan, memotret lembah yang curam, memotret porter-porter yang lewat, dan selalu lupa memotret diri sendiri.

Jpeg
Rumpun perdu edelweiss yang bertahan dari amukan api di lereng barat Plawangan Sembalun. Di latar belakang Segara Anak dan rim crater Rinjani. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Akhirnya bagian terberat terlewati, yang ditandai  sebuah jembatan berlantai semen atas sungai yang sedang kering. Menyenangkan berjalan di atas permukaan yang datar setelah disiksa turunan curam yang menuntut seluruh tenaga dan perhatian.

Setelah itu, jalan berpindah mengikuti ‘tubuh bendungan’ Danau Segara Anak. Jalan inilah yang  kelihatan jelas dari Plawangan Sembalun melipir di selatan lereng, lalu memotong ke utara di bagian yang terendah dan tak terlihat lagi dari atas. Tak terlihat sebab jalan itu menurun menuju Segara.

Api tak sampai ke sini, menampilkan pemandangan seperti kebun yang subur. Hamparan alam di sini segar dan hijau. Saya sampai mengira ada orang yang bercocok tanam dan berharap bertemu pondok petani seperti di Pangalengan atau di Lembang di Jawa Barat. Tapi adanya ya pondok pendaki, shelter di tepi danau itu, yang sudah dikuasai pertapa dari Senaru, dua pendaki dari Inggris dan Thailand, porter, dan pemandu mereka.

Pukul 12.30,  pemandu itu, Metarum namanya, menawari saya kopi. Aih, Tuhan memberkati para pembuat kopi di seluruh dunia dan memasukkan mereka yang meminumnya ke dalam surga.

***

Tom dan Piaw tidak minum kopi. Mereka juga tidak makan tomat dan ketimun. Dari makan siangnya itu, hanya ayam goreng dan sedikit nasi yang disantap. Sayur capcai yang dibuat Metarum hanya disentuh sedikit. Pertama datang, saya melihat Tom dan Piaw duduk berdampingan dan berbicara dengan suara rendah, nyaris berbisik, seperti sepasang kekasih. Mereka makan dengan menghadap danau. Tom Bloomfield  berasal dari London, berperawakan kurus, tampan, dan gemulai dengan kulit putih yang mulai kecoklatan dibakar matahari tropis. Piaw mengenakan topi seperti para musisi hip hop, bercambang tipis, dijumpai Tom di Bangkok. Piaw yang berwarna cokelat tua khas Asia Tenggara tampak berisi dan tegap, gagah dengan dada yang bidang, dan Tuhan memberi Piaw suara yang lembuutttt sekali.

Jpeg
Piaw dan Tom, tidak minum kopi. lembut tapi penuh semangat. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Usai makan, menunggu porter membereskan barang untuk melanjutkan perjalanan ke rim Sembalun, keduanya turun ke dekat danau dan bermain-main dengan tongkat berjalan yang dibuatkan Metarum untuk mereka. Seperti dua ksatria dari abad pertengahan, Tom dan Piaw bermain pedang-pedangan dengan tongkat-tongkat itu.

“Makan yang banyak,” kata Metarum kepada saya yang makan sambil memperhatikan mereka. Menu makan siang saya benar-benar pantas untuk badan yang lelah: banyak buah dan sayur, nasi putih panas, capcay yang pedasss, tahu dan tempe yang besar-besar,  air putih yang banyak, dan ditutup dengan kopi hangat ala bangsawan Inggris. Melihat saya suka makan tomat, Metarum memberikan semua persediaan tomat yang dibawanya untuk Tom dan Piaw. Satu plastik penuh tomat seukuran onde-onde, merah merona mengundang selera. Empat  pertapa yang mencari kesembuhan juga ikut makan dari masakan Metarum. Kami semua  bantu menghabiskan dan meringankan bebannya, hehehe.

Pukul satu lewat, Tom dan Piaw melanjutkan jalan ke Sembalun.  Untuk makan siang yang luar biasa itu, saya menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada keduanya dan terimakasih spesial untuk Metarum, pemandu dari Senaru yang berperawakan kecil tapi lincah itu. Saya masih istirahat dulu sebentar, memotret dan menikmati pemandangan Segara Anak.

Kabut datang dan pergi di antara pohon-pohon cemara. Di sekitar shelter itu, sampah berserakan dan bertumpuk-tumpuk. Toilet tampaknya sudah lama rusak, dan di tepi danau di air yang dangkal, terendam celana dalam, handuk, bahkan ada kepala ayam.

Jpeg
Tanjung kecil di depan shelter, jadi tempat favorit untuk memancing. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Beberapa orang memancing di batu yang menjorok ke danau. Para pendaki perempuan asal Taiwan yang menyalip saya di lereng ‘bendungan’ Segara Anak membuat camp persis di tepi danau dekas batas air. Mereka mungkin menjauhi sampah yang menumpuk di dekat shelter.

“Kami mau ke mata air panas, berendam,” kata Anna Fong. Dekat situ ada mata air panas Aiq Kalaq, Coba saya punya waktu. Para pendaki lokal seperti para pertapa itu juga berendam di Aiq Kalaq untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai macam penyakit.

Saya mencuci muka, tangan, telinga, kaki, dan menggabung salat zuhur dan ashar. Kesegaran dan kekuatan baru mengalir.  Pukul dua tepat, setelah pamit kepada para pertapa yang antara lain minta obat sakit kepala saya, perjalanan menuju Plawangan Senaru nun di atas sana pun dilanjutkan.

 ***

Tinggalkan komentar