Ecstasy of Tears

Posted on Updated on

13hetfield
James Hetfield, rock itu, akhirnya, sederhana, bahkan, juga bisa jenaka.

Setelah satu tahun lebih berlalu, kisah ini akhirnya matang di benak saya. Untuk para penggemar dan sahabat di mana saja berada.

Tepuk tangan, suitan, dan teriakan berhenti sejenak. Desiran keyboard dan cello yang sayu dan kelam menyergap 60.000 pasang telinga di Gelora Bung Karno mulai pukul sembilan malam itu. Dentuman senar tertinggi bas gitar dan pukulan rapat rendah pada snare yang diikuti desisan simbal, lalu crescendo, perlahan makin lama makin nyaring ditambah alunan biola dan deram tambur …

Adegan nisan-nisan di lereng bukit saat Tuco berlari tak tentu arah mencari emas senilai 200 ribu dolar AS yang terkubur di dalam cerita film The Good, The Bad, and The Ugly turut ditampilkan di dua layar lebar di kanan kiri panggung.

Seperti apakah perasaan Ennio Morricone ketika menuliskan lagu ini? Apakah yang bergaung di kepalanya saat menerjemahkan suara-suara itu ke atas partitur?

Hanya Morricone dan Tuhan yang tahu. Dan kami malam itu, bersama puluhan ribu kawan di stadion termegah di Indonesia, laksana shaf yang rapat, bahu bertemu bahu, sisi tapak kaki dengan sisi tapak kaki dalam salat subuh yang syahdu di masjid kampus saya dulu, berdengung dan bergemuruh bersama di dalam The Ecstasy of Gold.

Saya tidak menyangka menonton konser musik thrash yang gahar bisa dimulai dengan linangan airmata. Saya juga melihat saya tak sendirian terguguk dalam keharuan.

Ya seperti ratusan ribu, mungkin jutaan muslim, menangis di depan Kabah karena kebahagiaan akhirnya melihat dan bertemu, atau kesedihan sebab akan berpisah, demikian pula kiranya kami para metalhead malam itu.

Dua puluh tahun kami menunggu Metallica, dan akhirnya …untuk 5 menit pertama, hanya airmata. Hanya airmata.

***

James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Jason Newsted (juga Clifford Lee Burton dan David Mustaine) memasuki hidup saya dari sebuah kaset berwarna hitam legam bertuliskan Polygram. Benda itu saya dapat sebagai pinjaman dari Budi Surya, seorang sahabat baik, kawan dalam pasangan bangku-meja selama 3 tahun terakhir di SDN Pemurus Dalam 3, sekutu bila berkelahi melawan Harya Maulvi, kawan kami yang jago karate, kawan belajar merokok (tanpa bermaksud iklan, Budi memilih rokok yang sama dengan namanya, hehehe), juga sesama penggemar Kho Ping Ho dan komik-komik Indonesia (yang ditularkan oleh kakaknya, Fahmi, pegawai BNI 46), sesama pengantar koran,  bersama mengasuh keponakannya, dan guru gitar yang mengenalkan praktik dagang secara langsung dari warung kakaknya yang lain yang kami tunggui bersama.

Tahun 1988, album …and Justice for All untuk keluaran Indonesia dijual dengan kaset dalam kotak plastik seperti video beta—satu variasi dari cara menjual rekaman di Indonesia. Sampul album itu dihiasi gambar-gambar ekspresif. Mulai dari cover utama dengan lukisan patung Dewi Keadilan yang timbangannya berantakan sementara badannya terikat tali-tali kepentingan, lukisan potret sangar dan geram keempat personel Metallica, dan gambar tangan pemegang palu keputusan yang memukul rakyat kecil lemah.

“Hukum hanya berlaku bagi yang lemah. Orang kaya (raya) bisa menyuap dan menyulap pengadilan. Halls of justice painted green money talking…” geram James Hetfield dalam lagu …and Justice for All, lagu kedua setelah Blackened, lagu tentang kelakuan manusia yang merusak dan mencemari alam sehingga Bumi menderita.

Karena itulah, saya kira,  Jokowi dan saya menjadi penggemar Metallica, sobat. Metallica mewakili kami untuk marah-marah pada sistem sambil berjanji dalam hati untuk suatu saat kelak mengubahnya sendiri menjadi lebih adil dan lebih baik.

Jokowi jadi presiden, saya jadi jurnalis.  Pada tahun yang sama, Iwan Fals, idola kami yang lain, sedang menjadi romantis dengan “Kemesraan”. Lagu itu barangkali satu-satunya lagu Iwan yang digemari para pejabat kita.

***

Namun demikian, saat itu, saya masih kesulitan menikmati musik Metallica. Cara bernyanyi Hetfield yang menggeram, musik yang temponya berubah-ubah, masih susah saya cerna pada usia 13 tahun ketika itu.

Musik rock saya di masa remaja awal itu adalah Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Van Halen, Whitesnake, dan Scorpion. Saya mendengar Queen agak terlambat.

Mereka ini pengusung hardrock dan Zeppelin juga kental dengan blues—dan agaknya cocok dengan telinga melayu saya. Ada melodi yang sendu di Soldier of Fortune, atau mistisnya Stairway to Heaven oleh Jimmy Page dan Catch the Rainbow petikan Ritchie Blackmore. Atau pula melodi manis When It’s Love dari Eddie Van Halen, baik dengan gitar maupun keyboard, yang mengiringi juga surat-surat saya kepada Day.

Sebab itu, meski lagu yang panjang-panjang sudah biasa saya dengarkan dari Deep Purple, juga gitaran kasar Blackmore di album Deep Purple In Rock, dan komposisi-komposisi klasik Bach, Beethoven, sampai Joseph Haydn, Metallica dan musiknya benar-benar sesuatu yang baru bagi saya.

Oh iya, Ritchie Blackmore juga bisa main gitar grunge ala Kurt Cobain sobat. Dengarlah itu Hard Lovin’ Man dan Blood Sucker dalam album Deep Purple In Rock itu.

Dari kampung saya sendiri ada Big Boys, yang vokalisnya si Arul Efansyah, ternyata murid ibu saya di sebuah sekolah dasar di Pasar Lama di Banjarmasin, juga para rocker Jawa Timur seperti AKA, Elpamas, Power Metal, SAS-nya Arthur Kaunang.

Mereka ini yang kami tonton dengan penuh semangat di Sasana Bina Krida Budaya yang sempit, atau Stadion Lambung Mangkurat yang lapang dalam konser bertiket mulai dari Rp7.500 hingga Rp20.000.

Perlu diketahui juga kawan, dari akhir tahun 80-an sampai pertengahan 90-an, Banjarmasin adalah satu barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru mabrur ke-rocker-annya bila sudah pernah manggung di Banjarmasin.

Di kota di mana setiap 100 meter ada musala dan masjid itu, sejak pertengahan 80-an hingga 90-an, hampir setiap bulan ada konser rock. Bahkan, di acara 17 Agustusan di tingkat RT pun, para pemuda memainkan Black Dog-nya Led Zeppelin atau Highway Star-Deep Purple dengan beringas.

Setelah pindah ke Balikpapan, saya kehilangan suasana rock city yang akrab bersemangat itu. Apalagi kantor tempat saya bekerja ketika itu dingin dan kaku, yang hanya cair dan hangat sejenak ketika ada penganan martabak dan kue terang bulan.

Wal hasil, saya hanya nonton dua kali musisi dan band kelas stadion yang manggung di sini. Satunya Slank, satunya lagi Bang Iwan. Selain itu, di pertengahan pertama dekade 2000, selera musik saya tidak cocok dengan kebanyakan warga Kota Minyak.

Tapi menjadi jurnalis memberi pengalaman lain. Saya beberapa kali bertemu Om Arthur Kaunang, bassis-nya SAS itu. Sekali minum-minum di Color Beat-nya Blue Sky dan kita ngobrol ngalor ngidul tentang musik rock dan bisnis pertunjukan. Arthur antara lain memproduseri Endi Xirang, penyanyi rock perempuan—yang akhirnya harus kalah dengan industri yang sedang menyukai boyband dan lagu-lagu tidak jelas.

Pernah ketemu God Bless di Bandara Sepinggan. Om Iyek yang kribo itu pulang dari Kukar Rock Festival yang mementaskan Helloween dan God Bless jadi pembuka. Keterlaluan juga, God Bless jadi pembuka Helloween. Saat Kai Hansen  baru belajar gitar, Ian Antono sudah mengharubiru publik metal dunia di Indonesia ini.

Sungguh iri saya pada bang Arief  Er Rachman dan kawan-kawan di Tribun Kaltim yang pernah menjamu God Bless di kantornya. Mereka sempat juga nyanyi bersama. Ian Antono memetik gitar di kesempatan yang langka itu.

Ketemu Eet Sjachranie, gitaris Edane di Gelora Bung Karno itu, sama-sama mengantre mau masuk stadion buat nonton Metallica. Dikasih tanda tangan eksklusif di album Dekade-nya Bang Fariz RM. Juga ngobrol hangat dengan Cokelat. Bisa bicara serius dengan Glen Fredly—yang rock banget dalam sikap—dan tiga cowok Michael Learns To Rock yang sepetinya terkagum-kagum dengan rambut dreadlock saya.

“Is it original? ” tanya Jascha Richter, si pemain keyboard dan pentolan MLTR, di dalam lift dari lantai dasar ke lobby Hotel Jatra.

Well, siapa tahu, bicara-bicara akrab serius santai dengan Metallica entah dimana nanti.

Saya dan kawan-kawan di SMAN 7 Banjarmasin juga setiap tahun membuat pertunjukkan musik dan seni lainnya. Namanya keren, Pergelaran Musik Remaja atau PMR. Kami undang sekolah-sekolah lain untuk tampil dan dinilai buat juara.

Tuan rumah juga tampil meski tak dinilai. Tahun 1991, band sekolah kami membawakan Enter Sandman. Saya yang jadi penata set panggung dan seluruh area pertunjukan, menikmatinya sambil geleng-geleng tak percaya.

***

Metallica baru merasuk ke hati dan pikiran saya 3 tahun setelah “…and Justice” dirilis. Apalagi kalau bukan dari Black Album, album kelima yang selftitled, yang judulnya cukup Metallica.

Album yang rendah hati. Pada sampul album tidak banyak lagi ornamen di dalamnya seperti pada album sebelumnya. Sebagai musisi dan manusia, Hetfield, Ulrich, Hammet, dan Newsted memasuki fase baru. Mereka menjadi orang dewasa yang lebih kalem, lebih bijak, dan lebih dalam, sementara di bawah arahan produser Bob Rock musiknya melebar, membawa thrash ke dalam definisi yang lebih luas.

Seperti Nana, gadis mungil bermata cemerlang, siswa kelas 1E yang, aktivis PMR (kalau ini Palang Merah Remaja, sobat), yang jalan bareng saya saat itu, lagu-lagu Metallica menjadi sederhana. Enter Sandman, atau The Unforgiven adalah simpel dan mudah sehingga orang yang baru belajar gitar seperti saya pun bisa memainkannya.

Untuk tur album inilah Metallica datang ke Indonesia pertama kali, 1993. Meski musiknya sudah lebih kalem daripada sebelumnya, tapi penonton yang tak bisa masuk tempat pertunjukan di Stadion Lebak Bulus bikin rusuh di luar. Saya membaca laporan konsernya di majalah Hai. Ira, sahabat pena saya di Jakarta, bercerita singkat dalam surat yang agak panjang. Saat itu agak jamak konser musik ricuh. Jangankan rock-metal, acara dangdutan saja orang bunuh-bunuhan.

Metallica agak menurun tensinya, sebaliknya telinga saya sebagai remaja akhir terus mencari musik yang selaras dengan emosi dan alam pikiran yang memendam kemarahan itu. Kami bertemu dan melebur dalam Wherever I May Roam, gitaran saya sudah agak lumayan sehingga Nothing Else Matter sudah bisa didengarkan tanpa dahi berkerut walau gitarnya tetap gitar pinjaman, dan saya pun sudah punya suara yang cukup berat untuk bisa menggeram seperti Hetfield di Don’t Thread On Me.

Dari Black Album, barulah saya dan Feb, saudara, rekan sekamar, seide sepemikiran walau jarang bicara, berburu album-album Metallica. Dengan urutan terbalik muncul di rak kaset kami …and Justice, lalu Master of Puppets (1986), Ride the Lighting (1984), dan Kill Em All (1983).

Seperti penggemar lainnya, kami menghapal lagu-lagu, mendengarkan dengan seksama hingga not dan bunyi terakhir, membaca bagaimana proses kreatif penciptaan lagu, segala latar kebiasaan personel, dan sure, memasang poster mereka di dinding kamar.

Di saat krisis ekonomi menimpa Indonesia 1998, Metallica merilis album konser S&M dan berkolaborasi bersama San Francisco Philharmonic Orchestra. Harga kaset sudah Rp20.000 dari semula hanya Rp12.000 (saat kami beli Kill Em All harga baru Rp7.000—dan beberapa tahun sebelumnya, kaset Deep Purple saya Rp4.500). Saya dan Feb menahan diri untuk tidak membeli rekaman musisi mana pun. Kami sedang fokus di ujung masa kuliah strata satu dan kalau ada uang itu buat fotokopi, atau beli kertas buram dan houtvrij schrijfpapier, atau beli buku.

Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu di Sekretariat KBU yang lagu kebangsaannya adalah lagu-lagu Iwan Fals dan sekali-sekali Bob Marley (yang juga membawa pengarus besar pada saya kemudian).

Baru setelah saya mulai bekerja, entah sebagai jurnalis, entah penerjemah, entah guru honorer, koleksi rekaman bertambah. Album Load and Reload segera masuk. Juga dobel album Garage Inc. Saya yang juga terus keranjingan main drum dan setiap hari berlatih dengan kardus-kardus yang disusun dan simbal khayalan, segera memasukkan Fuel dan Whiskey in the Jar dalam daftar lagu latihan.

Album St Anger dan Death Magnetic saya dapatkan dengan cara yang romantis: hadiah ulang tahun dari isteri tersayang. Lengkap dengan pizza beetato pepperoni, coke, pelukan anak-anak, dan ciuman ibu mereka.

Saya juga mengumpulkan beberapa rekaman yang memainkan lagu-lagu Metallica, seperti Apocalyptica, empat musisi asal Finlandia yang tak kalah gahar dengan Hetfield cs—yanng memainkan lagu-lagu Metallica hanya dengan cello.

***

Bila saya mulai menikmati konser dengan menangis terharu—sebab antara lain kami harus menunggu 20 tahun untuk konser itu—Hetfield sendiri menanggapinya dengan jenaka.

“Why it takes so long?” katanya. “No money?” Lalu tawanya yang khas itu keluar. Saya turut tertawa. Kami semua tertawa. Senang bisa menertawakan diri sendiri.

Pada saya barangkali iya. Tiket nonton mereka hari itu Rp750.000 untuk kelas festival. Itu cukup buat sekali belanja bulanan satu keluarga dengan 3 anak yang masih SD. Cukup buat beli 20 kg beras, minyak goreng, … pokoknya kulkas penuh.

Bagi kita yang berada di pulau yang berbeda, berarti ditambah tiket pesawat pergi pulang, tambah biaya menginap, biaya transportasi, biaya konsumsi, …

“Ya kalau kamu mau pergi besok lalu siap-siapnya baru hari ini, kalau kamu tidak kaya, ya tidak bisa,” kata Martin Smith, seorang kawan penjelajah Himalaya.

Sungguh, dari Martin dan banyak kawan bule dan Tionghoa, baik kaya maupun tidak kaya, di Balikpapan atau di mana saja, saya belajar arti persiapan dan menabung. Saya baru sadar semasa kecil ibu saya sebenarnya sudah mengajarkan juga kepada kami.

Maka saya membuat persiapan untuk banyak hal: untuk liburan, untuk listrik padam, untuk air macet, untuk pendidikan anak-anak, untuk suatu saat rumah kami harus direnovasi, bila hujan di jalan, untuk saat tengah malam kehabisan pulsa internet sementara berita harus dikirim segera, untuk sakit, untuk keinginan-keinginan, dan seterusnya.

Saya merasa beruntung ketika Metallica akhirnya benar-benar datang lagi di Indonesia, saya sudah punya semua yang dibutuhkan. Saya sudah beli tiket secara online pada hari kedua penjualan, 60 hari sebelum hari konsernya.

Bahkan sebenarnya saya sudah berusaha beli sejak hari pertama, tapi karena padatnya situs blackboxtix.com, situs resmi promotor BlackBox yang mendatangkan Hetfield cs, baru pada hari kedua terverifikasi. Para pembeli lewat cara online kemudian dikirimi kode booking. Kode booking itu yang disebutkan, atau bila diprint, ada barcode yang di-scan, untuk mendapatkan tiket asli di arena konser nanti.

***

Dan itulah Metallica, dan disinilah saya bersama 60 ribu penggemar mereka dari berbagai tempat di Nusantara (termasuk Nusantara itu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Australia).

Hetfield, Hammet, Trujilo berkeliaran di panggung. Ulrich menggebrak set drumnya dengan sepenuh tenaga. Nomor-nomor keras langsung dimainkan berderetan: Hit the Lights, Master of Puppets, Fuel, Ride the Lighting, …

Ulrich tarik napas sejenak di lagu Fade to Black buat kembali masuk jalur cepat di separuh akhir. Dobel bass drum Tama yang jadi andalannya kembali berkejaran.

Metallica terus ngebut. The Four Horsemen, Cyanide (lagu favorit saya yang baru saja jadi favorit) digeber seperti Valentino Rossi membawa motornya di tikungan-tikungan panjang Donington Park.

Tak berkurang pula tenaganya ketika Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, hingga dengungan bas Trujilo menghadirkan Orion. Melodi Hammet mengantarkan kami ke galaksi yang jauh di atas Langit Utara dalam tarian bintang dan laser warna-warni.

Saya memandang sekeliling. Di kiri saya ada Arrie, teman baru yang mulai berkenalan dari counter pengambilan tiket kemarin, di depan, di belakang, di kanan dan kiri, semua berkaos hitam dengan gambar-gambar Metallica dan grup-grup rock lainnya. Semua dengan gambar-gambar sangar atau surealis yang dilambangkan dengan tengkorak, monster, atau motif tribal.

Saya juga, tentu saja, dengan kaos hitam bergambar tengkorak menyala, seram dalam lidah api seperti di film Ghost Rider. Tapi ini bukan kaos grup metal, sobat. Ini kaos dari Balikpapan Hash House Harriers, klub lari lintas alam ekstrem, kaos yang dibagi saat lari malam-malam sebelum berkumpul lagi untuk pesta Halloween Night.

Lalu terdengar bunyi tembakan dan deru helikopter mendekat, dan suara sersan yang mengomando anak-anak buahnya, lalu suara heli itu menjauh, … dentingan gitar Hetfield mengisi keheningan yang tercipta sejenak. Segera tepuk tangan dan suitan berbalasan. Inilah One, lagu pertama yang saya sukai dari album … and Justice.

Kami semua bernyanyi bersama Hetfield. Lirik demi lirik disatukan dalam koor yang berat dan geram.

“I can’t remember anything, can’t tell if this is true or dream, deep down inside I feel the scream, this terrible silence stops me…”

Di sepertiga akhir lagu tentang serdadu malang di Perang Vietnam itu, di bagian yang tak ada lagi lirik yang harus dinyanyikan, kita semua (setidaknya semua yang di sekitar saya)  headbang, mengangguk-angguk cepat mengkuti rithym drum Ulrich dan gitar Hetfield, dan dibakar melodi tajam Kirk Hammet.

“You are just amazing,” kata Hetfield, begitu One berlalu, sambil menyeka keringat di dahinya.

Walau begitu Metallica tetap kencang. Gebukan drum intro For Whom The Bell Tolls dihadirkan Ulrich bersama bunyi lonceng yang membahana. Spontan tangan-tangan terkepal ke udara. Riff drum dan simbal bersahutan dengan ritme gitar Hetfield dan sayatan Hammet yang bersandar pada dentam bas Trujilo.

Headbang terus berlanjut sampai Blackened usai ditampilkan.

Lalu panggung gelap beberapa saat.

Denting gitar yang jernih mengalun diiring rendah suara bas. Lampu sorot menyala dan menerangi Hetfield yang memetik gitar akustik dan bernyanyi dengan berbisik. Saudara-saudara, … “Nothing Else Matter”.

Semua bernyanyi bersama Hetfield. Korek api kayu, korek gas, lilin yang menyala, diangkat ke udara. Badan yang rapat bahu dengan bahu bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti birama lagu.

Saya melihat beberapa orang menyeka mata. Terharu lagi agaknya. Sungguh spesial memang momen ini.

Intro bass Enter Sandman berkumandang. Trujilo menyeringai. Bagaimana kita lupa lagu yang membingkai masa remaja ini? Yang menandai kamilah generasi metal yang penuh semangat dan siap menantang dunia.

“…exit light, enter night

take my hand, up to never never land…”

Koor yang penuh semangat. Kaos saya basah oleh keringat yang membanjir sebab headbang dan melonjak-lonjak.

Tiga lagu encore, seluruhnya nomor full speed. Creeping Death, Fight Fire With Fire, dan Seek and Destroy membahana. Balon-balon hitam besar berlogo Metallica yang memenuhi kiri dan kanan panggung ditendangi Hetfield, Hammet, dan Trujilo ke penonton. Simbol tiga jari metal, simbol akronim ILU (I Love You), diangkat tinggi.

Ketika musik berakhir, ucapan terimakasih dan pujian kepada kami  penonton  disampaikan para personel Metallica. Hammet, Hetfield, Trujilo membagi-bagikan pick gitar, Ulrich melemparkan beberapa stik drum-nya ke penonton.

“You are Metallica family,” kata Hetfield sungguh-sungguh. Kini usianya sudah 50 tahun, tapi tenaganya tak berkurang. Vokal dan gitarnya tetap sangar. Kata-kata kasar yang jadi penghias pengantarnya setiap kali manggung dan bicara, sudah lama ditinggal sepertinya.

Musik rock memang bukan soal kata-kata kasar. Bukan rambut panjang, bahkan bukan melulu gahar dan sangar. Hetfield melucu, menyapa, memberi salam dan hormat. Metallica, jelas sudah menemukan hakikat metal. Barangkali sebab itu Trujilo memberikan bas gitar yang ditandatanganinya untuk Jokowi (walau disalahartikan oleh KPK)—sebab pria kurus yang akhirnya jadi presiden itu jelas rocker sejati dalam perbuatan dan kepemimpinannya.

Seperti kebetulan, kemudian ada yang memberikan bendera merah putih yang bertuliskan Metallica-Solo-Indonesia. Hahaha, kawan jauh dari Solo, rupanya. Juga tempat asal Jokowi-yang hari itu masih Gubernur DKI Jakarta—yang menonton di kelas festival sama seperti saya, dan hanya ditemani dua ajudannya. Yang ketika dia datang kita mengelu-elukannya sama seperti Metallica.

Lalu James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Robert Trujilo membungkuk memberi hormat kepada kami penonton, yang kami sambut dengan tepuk tangan panjang.

Saya masih tak percaya saya mengalaminya. Dua setengah jam yang luar biasa dalam catatan hidup saya. Kesusahan tidak sempat makan siang (karena salah masuk warung nasi campur—di Jakarta hati-hati dengan warung nasi campur), menunggu sejak pukul 15.00 (konser dimulai pukul 20.00), antrean panjang, berdebat untuk tetap bisa membawa botol mahal dari ace hardware dan air isinya yang menurut aturan panitia tidak boleh dibawa ke arena konser…

Semua tuntas dan puas.

Di notes saya sempat juga mencatat penampilan Raisa yang memimpin kita semua menyanyikan Indonesia Raya. Ada pembukaan 5 lagu oleh Seringai. Jeda satu jam yang kita tidak tahu untuk apa. Mungkin setting sound lagi.

Semua terbayar lunas oleh penampilan Metallica—dan segera saya berharap bisa nonton dan ketemu mereka lagi, anywhere, anytime in this world.

Sampai jumpa lagi. See you!

***

Tinggalkan komentar