Month: Februari 2015
Rinjani untuk Rianne

Pukul 3 pagi, Sabtu 8 November, Arif dan Ridho berpamitan untuk summit attack. Inilah bagian keempat.
Kami bersalaman, Boleh jadi akan lama sekali kita baru ketemu kembali. Saya menambah bekal air mereka. Semoga tidak dianggap memberatkan.
Saya masih sempat tertidur lagi sebelum benar-benar bangun pukul lima pagi. Saya menyiapkan sarapan besar untuk perjalanan turun ke Segara Anak.
Mulai pukul delapan, saat saya packing, para pendaki yang turun ke Sembalun satu per satu melewati saya. Dimulai dari rombongan porter, lalu guide, dan bule-bule itu. Ada Pim dan Rianne juga. Mereka mampir sebentar. Keduanya memeluk saya.
“I know you can make it,” kata Pim.
“Yeah, I did it,” kata saya seraya tersenyum lebar.
Beberapa lama sebelum ini, Pim van Goerp bertualang di Himalaya. Ia keluyuran ke desa-desa di ketinggian 4.000 meter hanya ditemani seorang pemandu. Karena itu rupanya Pim tahu benar rasanya jalan sendiri seperti yang saya lakukan, seperti yang dia juga lakukan.
“Kalau Rinjani, ini untuk merayakan kelulusan Rianne,” katanya. Rianne van Eldik baru saja jadi sarjana ilmu komunikasi dari jurusan Commucatie en Informatiewetenschappen di Universiteit Utrecht. Rianne memilih Rinjani antara lain karena pelafalannya mirip dengan namanya.
Saya jadi ingat, saya merayakan kelulusan saya dari Jurusan Bahasa dan Seni dulu dengan bertualang di Sungai Amandit, menunggang arus di atas lanting hingga terpontang-panting karena memang bukan keahliannya, tapi hati senang dalam jiwa yang bebas merdeka. Sungai Amandit juga yang mewisuda saya dalam buih gelombang naungan pohon-pohon, seperti Lambung Mangkurat, mangkubumi Negara Dipa yang bertapa di pertemuan dua anak sungai dan akhirnya mendapatkan Putri Junjung Buih.
Bukankah legenda itu berkata Lambung Mangkurat bertapa di Sungai Amandit? Lalu kampus yang berdiri tahun 1958 itu pun diberi nama Universitas Lambung Mangkurat?
Begitulah rupanya. Saya sekali lagi melihat, diantara orang-orang yang cepat akrab, meski tak pernah bertemu sebelumnya, selalu ada kesamaan dan garis merah yang mirip. Diantara kesamaan-kesamaan itulah takdir jalin menjalin dan membuat hidup bergerak.
***
Begitu mencapai puncak Rinjani hari Jumat itu, saya kira saya sudah sampai pada klimaks petualangan ini. Ternyata sama sekali belum, sobat. Menjejakkan kaki ke puncak hanyalah separo dari kisah. Petualangan sesungguhnya baru dimulai segera sesudah ini.
Saya menyadarinya ketika berada di ujung jalan datar, lebih kurang seratus meter setelah tenda-tenda berakhir. Jalan berbelok tajam ke kanan, lalu ujung berikutnya berbalik lagi ke kiri. Jalan setapak kecil cukup satu orang ini berzig-zag di atas batu-batu lereng hingga terus ke separuh jarak ke lembah curam itu.
Ini jalan turun ke Segara Anak dari Plawangan Sembalun. Ada pagar dari sebatang besi sebesar lengan berwarna hijau untuk berpegangan di bagian yang dianggap rawan. Banyak lagi bagian yang tak ada pagar pegangannya justru di ada tempat yang lebih berbahaya. Melewatinya, tak boleh lengah sedetik pun bila tak ingin jatuh ke lembah dalam nun jauh di bawah sana.
Medan di kemiringan antara 60-70 derajat itu menuntut semuanya dari saya. Perhatian penuh, kekuatan, kesabaran, dan ketahanan. Baru di sini terasa berjalan dengan 22 kg beban di punggung dan satu ransel di depan itu sungguh menyiksa. Ditambah berat badan sendiri, seluruh bobot berkumpul di ujung jempol dan lutut. Jempol nyeri dan lutut menjerit. Ibu jari itu terhantam tutupan ujung sepatu dan lutut menopang seluruh tarikan gaya gravitasi. Jalan itu memberi tanda mata bagi saya. Sampai hari ini masih ada bercak darah di bawah kuku jempol kaki kiri dan di bawah telunjuk kaki kanan. Luka dalam yang belum lagi sembuh.

Pantas para porter senang bersandal jepit saja, dan beban dibawa dengan dua keranjang yang dihubungkan dengan pikulan bambu. Begitu ternyata lebih praktis. Mereka seperti berlari melewati jalan setapak yang curam itu.
Bagi saya para porter Rinjani menunjukkan seni berjalan dan membawa beban yang hanya bisa ditandingi para shaolin. Bahkan para sherpa di Himalaya pun tidak. Keseimbangan adalah kuncinya. Keseimbangan datang dari irama berjalan yang teratur, yang bisa disetel sesuai tingkat kesulitan tempat kaki ditapakkan. Irama berjalan terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun, atau warisan pengetahuan rekaman bagaimana alam Rinjani.
Saya mencoba mengikuti contoh para porter dengan dasar-dasar yang diberikan oleh Merpati Putih, perguruan yang rendah hati dan sederhana itu. Merpati Putih mengajarkan keseimbangan dan efisiensi gerak dalam napas serta keheningan dengan satu titik sedikit di bawah pusar adalah pusatnya.
Setelah tiga hari menggendong carrier, saya juga mencoba menganggapnya bukan beban lagi, tapi bagian dari diri. Saya belanjar memanfaatkan beratnya untuk mempercepat gerak dan menjadi pelindung badan. Begitu juga dengan daypack, ransel yang saya bawa di depan. Ternyata saya bisa menggunakannya sebagai anker tempat berpegangan dengan melepasnya di turunan tertentu, berbalik badan, dan turun dengan menghadap tebing jalan, lalu berputar lagi sambil menarik ransel itu turun. Pelajaran dasar dari mendiang Bambang Eddy, pemanjat tebing kami di Kompas Borneo Unlam.
***
Pengalaman baru itu mengalihkan saya dari rasa sakit. Saya pun jadi bisa menikmati pemandangan lagi. Lereng ini juga usai terbakar, hingga ke lembah di bawah sana. Perdu dan pohon menghitam dengan latar awan-awan yang putin melayang-layang. Kadang-kadang awan menghampiri saya di lereng seperti menyapa, lalu menjauh lagi dibawa angin.
Saya kembali bersemangat dan meluangkan waktu untuk membuat foto dengan Zenfone 6. Kepraktisannya memudahkan. Saya tinggal merogoh kantong kiri celana kargo ini untuk mengambilnya untuk memotret jalan yang menggetarkan itu, memotret awan-awan, memotret pohon-pohon yang hangus, memotret puncak di gunung seberang sana, memotret danau yang kehijauan, memotret lembah yang curam, memotret porter-porter yang lewat, dan selalu lupa memotret diri sendiri.

Akhirnya bagian terberat terlewati, yang ditandai sebuah jembatan berlantai semen atas sungai yang sedang kering. Menyenangkan berjalan di atas permukaan yang datar setelah disiksa turunan curam yang menuntut seluruh tenaga dan perhatian.
Setelah itu, jalan berpindah mengikuti ‘tubuh bendungan’ Danau Segara Anak. Jalan inilah yang kelihatan jelas dari Plawangan Sembalun melipir di selatan lereng, lalu memotong ke utara di bagian yang terendah dan tak terlihat lagi dari atas. Tak terlihat sebab jalan itu menurun menuju Segara.
Api tak sampai ke sini, menampilkan pemandangan seperti kebun yang subur. Hamparan alam di sini segar dan hijau. Saya sampai mengira ada orang yang bercocok tanam dan berharap bertemu pondok petani seperti di Pangalengan atau di Lembang di Jawa Barat. Tapi adanya ya pondok pendaki, shelter di tepi danau itu, yang sudah dikuasai pertapa dari Senaru, dua pendaki dari Inggris dan Thailand, porter, dan pemandu mereka.
Pukul 12.30, pemandu itu, Metarum namanya, menawari saya kopi. Aih, Tuhan memberkati para pembuat kopi di seluruh dunia dan memasukkan mereka yang meminumnya ke dalam surga.
***
Tom dan Piaw tidak minum kopi. Mereka juga tidak makan tomat dan ketimun. Dari makan siangnya itu, hanya ayam goreng dan sedikit nasi yang disantap. Sayur capcai yang dibuat Metarum hanya disentuh sedikit. Pertama datang, saya melihat Tom dan Piaw duduk berdampingan dan berbicara dengan suara rendah, nyaris berbisik, seperti sepasang kekasih. Mereka makan dengan menghadap danau. Tom Bloomfield berasal dari London, berperawakan kurus, tampan, dan gemulai dengan kulit putih yang mulai kecoklatan dibakar matahari tropis. Piaw mengenakan topi seperti para musisi hip hop, bercambang tipis, dijumpai Tom di Bangkok. Piaw yang berwarna cokelat tua khas Asia Tenggara tampak berisi dan tegap, gagah dengan dada yang bidang, dan Tuhan memberi Piaw suara yang lembuutttt sekali.

Usai makan, menunggu porter membereskan barang untuk melanjutkan perjalanan ke rim Sembalun, keduanya turun ke dekat danau dan bermain-main dengan tongkat berjalan yang dibuatkan Metarum untuk mereka. Seperti dua ksatria dari abad pertengahan, Tom dan Piaw bermain pedang-pedangan dengan tongkat-tongkat itu.
“Makan yang banyak,” kata Metarum kepada saya yang makan sambil memperhatikan mereka. Menu makan siang saya benar-benar pantas untuk badan yang lelah: banyak buah dan sayur, nasi putih panas, capcay yang pedasss, tahu dan tempe yang besar-besar, air putih yang banyak, dan ditutup dengan kopi hangat ala bangsawan Inggris. Melihat saya suka makan tomat, Metarum memberikan semua persediaan tomat yang dibawanya untuk Tom dan Piaw. Satu plastik penuh tomat seukuran onde-onde, merah merona mengundang selera. Empat pertapa yang mencari kesembuhan juga ikut makan dari masakan Metarum. Kami semua bantu menghabiskan dan meringankan bebannya, hehehe.
Pukul satu lewat, Tom dan Piaw melanjutkan jalan ke Sembalun. Untuk makan siang yang luar biasa itu, saya menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada keduanya dan terimakasih spesial untuk Metarum, pemandu dari Senaru yang berperawakan kecil tapi lincah itu. Saya masih istirahat dulu sebentar, memotret dan menikmati pemandangan Segara Anak.
Kabut datang dan pergi di antara pohon-pohon cemara. Di sekitar shelter itu, sampah berserakan dan bertumpuk-tumpuk. Toilet tampaknya sudah lama rusak, dan di tepi danau di air yang dangkal, terendam celana dalam, handuk, bahkan ada kepala ayam.

Beberapa orang memancing di batu yang menjorok ke danau. Para pendaki perempuan asal Taiwan yang menyalip saya di lereng ‘bendungan’ Segara Anak membuat camp persis di tepi danau dekas batas air. Mereka mungkin menjauhi sampah yang menumpuk di dekat shelter.
“Kami mau ke mata air panas, berendam,” kata Anna Fong. Dekat situ ada mata air panas Aiq Kalaq, Coba saya punya waktu. Para pendaki lokal seperti para pertapa itu juga berendam di Aiq Kalaq untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai macam penyakit.
Saya mencuci muka, tangan, telinga, kaki, dan menggabung salat zuhur dan ashar. Kesegaran dan kekuatan baru mengalir. Pukul dua tepat, setelah pamit kepada para pertapa yang antara lain minta obat sakit kepala saya, perjalanan menuju Plawangan Senaru nun di atas sana pun dilanjutkan.
***
Ecstasy of Tears

Setelah satu tahun lebih berlalu, kisah ini akhirnya matang di benak saya. Untuk para penggemar dan sahabat di mana saja berada.
Tepuk tangan, suitan, dan teriakan berhenti sejenak. Desiran keyboard dan cello yang sayu dan kelam menyergap 60.000 pasang telinga di Gelora Bung Karno mulai pukul sembilan malam itu. Dentuman senar tertinggi bas gitar dan pukulan rapat rendah pada snare yang diikuti desisan simbal, lalu crescendo, perlahan makin lama makin nyaring ditambah alunan biola dan deram tambur …
Adegan nisan-nisan di lereng bukit saat Tuco berlari tak tentu arah mencari emas senilai 200 ribu dolar AS yang terkubur di dalam cerita film The Good, The Bad, and The Ugly turut ditampilkan di dua layar lebar di kanan kiri panggung.
Seperti apakah perasaan Ennio Morricone ketika menuliskan lagu ini? Apakah yang bergaung di kepalanya saat menerjemahkan suara-suara itu ke atas partitur?
Hanya Morricone dan Tuhan yang tahu. Dan kami malam itu, bersama puluhan ribu kawan di stadion termegah di Indonesia, laksana shaf yang rapat, bahu bertemu bahu, sisi tapak kaki dengan sisi tapak kaki dalam salat subuh yang syahdu di masjid kampus saya dulu, berdengung dan bergemuruh bersama di dalam The Ecstasy of Gold.
Saya tidak menyangka menonton konser musik thrash yang gahar bisa dimulai dengan linangan airmata. Saya juga melihat saya tak sendirian terguguk dalam keharuan.
Ya seperti ratusan ribu, mungkin jutaan muslim, menangis di depan Kabah karena kebahagiaan akhirnya melihat dan bertemu, atau kesedihan sebab akan berpisah, demikian pula kiranya kami para metalhead malam itu.
Dua puluh tahun kami menunggu Metallica, dan akhirnya …untuk 5 menit pertama, hanya airmata. Hanya airmata.
***
James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Jason Newsted (juga Clifford Lee Burton dan David Mustaine) memasuki hidup saya dari sebuah kaset berwarna hitam legam bertuliskan Polygram. Benda itu saya dapat sebagai pinjaman dari Budi Surya, seorang sahabat baik, kawan dalam pasangan bangku-meja selama 3 tahun terakhir di SDN Pemurus Dalam 3, sekutu bila berkelahi melawan Harya Maulvi, kawan kami yang jago karate, kawan belajar merokok (tanpa bermaksud iklan, Budi memilih rokok yang sama dengan namanya, hehehe), juga sesama penggemar Kho Ping Ho dan komik-komik Indonesia (yang ditularkan oleh kakaknya, Fahmi, pegawai BNI 46), sesama pengantar koran, bersama mengasuh keponakannya, dan guru gitar yang mengenalkan praktik dagang secara langsung dari warung kakaknya yang lain yang kami tunggui bersama.
Tahun 1988, album …and Justice for All untuk keluaran Indonesia dijual dengan kaset dalam kotak plastik seperti video beta—satu variasi dari cara menjual rekaman di Indonesia. Sampul album itu dihiasi gambar-gambar ekspresif. Mulai dari cover utama dengan lukisan patung Dewi Keadilan yang timbangannya berantakan sementara badannya terikat tali-tali kepentingan, lukisan potret sangar dan geram keempat personel Metallica, dan gambar tangan pemegang palu keputusan yang memukul rakyat kecil lemah.
“Hukum hanya berlaku bagi yang lemah. Orang kaya (raya) bisa menyuap dan menyulap pengadilan. Halls of justice painted green money talking…” geram James Hetfield dalam lagu …and Justice for All, lagu kedua setelah Blackened, lagu tentang kelakuan manusia yang merusak dan mencemari alam sehingga Bumi menderita.
Karena itulah, saya kira, Jokowi dan saya menjadi penggemar Metallica, sobat. Metallica mewakili kami untuk marah-marah pada sistem sambil berjanji dalam hati untuk suatu saat kelak mengubahnya sendiri menjadi lebih adil dan lebih baik.
Jokowi jadi presiden, saya jadi jurnalis. Pada tahun yang sama, Iwan Fals, idola kami yang lain, sedang menjadi romantis dengan “Kemesraan”. Lagu itu barangkali satu-satunya lagu Iwan yang digemari para pejabat kita.
***
Namun demikian, saat itu, saya masih kesulitan menikmati musik Metallica. Cara bernyanyi Hetfield yang menggeram, musik yang temponya berubah-ubah, masih susah saya cerna pada usia 13 tahun ketika itu.
Musik rock saya di masa remaja awal itu adalah Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Van Halen, Whitesnake, dan Scorpion. Saya mendengar Queen agak terlambat.
Mereka ini pengusung hardrock dan Zeppelin juga kental dengan blues—dan agaknya cocok dengan telinga melayu saya. Ada melodi yang sendu di Soldier of Fortune, atau mistisnya Stairway to Heaven oleh Jimmy Page dan Catch the Rainbow petikan Ritchie Blackmore. Atau pula melodi manis When It’s Love dari Eddie Van Halen, baik dengan gitar maupun keyboard, yang mengiringi juga surat-surat saya kepada Day.
Sebab itu, meski lagu yang panjang-panjang sudah biasa saya dengarkan dari Deep Purple, juga gitaran kasar Blackmore di album Deep Purple In Rock, dan komposisi-komposisi klasik Bach, Beethoven, sampai Joseph Haydn, Metallica dan musiknya benar-benar sesuatu yang baru bagi saya.
Oh iya, Ritchie Blackmore juga bisa main gitar grunge ala Kurt Cobain sobat. Dengarlah itu Hard Lovin’ Man dan Blood Sucker dalam album Deep Purple In Rock itu.
Dari kampung saya sendiri ada Big Boys, yang vokalisnya si Arul Efansyah, ternyata murid ibu saya di sebuah sekolah dasar di Pasar Lama di Banjarmasin, juga para rocker Jawa Timur seperti AKA, Elpamas, Power Metal, SAS-nya Arthur Kaunang.
Mereka ini yang kami tonton dengan penuh semangat di Sasana Bina Krida Budaya yang sempit, atau Stadion Lambung Mangkurat yang lapang dalam konser bertiket mulai dari Rp7.500 hingga Rp20.000.
Perlu diketahui juga kawan, dari akhir tahun 80-an sampai pertengahan 90-an, Banjarmasin adalah satu barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru mabrur ke-rocker-annya bila sudah pernah manggung di Banjarmasin.
Di kota di mana setiap 100 meter ada musala dan masjid itu, sejak pertengahan 80-an hingga 90-an, hampir setiap bulan ada konser rock. Bahkan, di acara 17 Agustusan di tingkat RT pun, para pemuda memainkan Black Dog-nya Led Zeppelin atau Highway Star-Deep Purple dengan beringas.
Setelah pindah ke Balikpapan, saya kehilangan suasana rock city yang akrab bersemangat itu. Apalagi kantor tempat saya bekerja ketika itu dingin dan kaku, yang hanya cair dan hangat sejenak ketika ada penganan martabak dan kue terang bulan.
Wal hasil, saya hanya nonton dua kali musisi dan band kelas stadion yang manggung di sini. Satunya Slank, satunya lagi Bang Iwan. Selain itu, di pertengahan pertama dekade 2000, selera musik saya tidak cocok dengan kebanyakan warga Kota Minyak.
Tapi menjadi jurnalis memberi pengalaman lain. Saya beberapa kali bertemu Om Arthur Kaunang, bassis-nya SAS itu. Sekali minum-minum di Color Beat-nya Blue Sky dan kita ngobrol ngalor ngidul tentang musik rock dan bisnis pertunjukan. Arthur antara lain memproduseri Endi Xirang, penyanyi rock perempuan—yang akhirnya harus kalah dengan industri yang sedang menyukai boyband dan lagu-lagu tidak jelas.
Pernah ketemu God Bless di Bandara Sepinggan. Om Iyek yang kribo itu pulang dari Kukar Rock Festival yang mementaskan Helloween dan God Bless jadi pembuka. Keterlaluan juga, God Bless jadi pembuka Helloween. Saat Kai Hansen baru belajar gitar, Ian Antono sudah mengharubiru publik metal dunia di Indonesia ini.
Sungguh iri saya pada bang Arief Er Rachman dan kawan-kawan di Tribun Kaltim yang pernah menjamu God Bless di kantornya. Mereka sempat juga nyanyi bersama. Ian Antono memetik gitar di kesempatan yang langka itu.
Ketemu Eet Sjachranie, gitaris Edane di Gelora Bung Karno itu, sama-sama mengantre mau masuk stadion buat nonton Metallica. Dikasih tanda tangan eksklusif di album Dekade-nya Bang Fariz RM. Juga ngobrol hangat dengan Cokelat. Bisa bicara serius dengan Glen Fredly—yang rock banget dalam sikap—dan tiga cowok Michael Learns To Rock yang sepetinya terkagum-kagum dengan rambut dreadlock saya.
“Is it original? ” tanya Jascha Richter, si pemain keyboard dan pentolan MLTR, di dalam lift dari lantai dasar ke lobby Hotel Jatra.
Well, siapa tahu, bicara-bicara akrab serius santai dengan Metallica entah dimana nanti.
Saya dan kawan-kawan di SMAN 7 Banjarmasin juga setiap tahun membuat pertunjukkan musik dan seni lainnya. Namanya keren, Pergelaran Musik Remaja atau PMR. Kami undang sekolah-sekolah lain untuk tampil dan dinilai buat juara.
Tuan rumah juga tampil meski tak dinilai. Tahun 1991, band sekolah kami membawakan Enter Sandman. Saya yang jadi penata set panggung dan seluruh area pertunjukan, menikmatinya sambil geleng-geleng tak percaya.
***
Metallica baru merasuk ke hati dan pikiran saya 3 tahun setelah “…and Justice” dirilis. Apalagi kalau bukan dari Black Album, album kelima yang selftitled, yang judulnya cukup Metallica.
Album yang rendah hati. Pada sampul album tidak banyak lagi ornamen di dalamnya seperti pada album sebelumnya. Sebagai musisi dan manusia, Hetfield, Ulrich, Hammet, dan Newsted memasuki fase baru. Mereka menjadi orang dewasa yang lebih kalem, lebih bijak, dan lebih dalam, sementara di bawah arahan produser Bob Rock musiknya melebar, membawa thrash ke dalam definisi yang lebih luas.
Seperti Nana, gadis mungil bermata cemerlang, siswa kelas 1E yang, aktivis PMR (kalau ini Palang Merah Remaja, sobat), yang jalan bareng saya saat itu, lagu-lagu Metallica menjadi sederhana. Enter Sandman, atau The Unforgiven adalah simpel dan mudah sehingga orang yang baru belajar gitar seperti saya pun bisa memainkannya.
Untuk tur album inilah Metallica datang ke Indonesia pertama kali, 1993. Meski musiknya sudah lebih kalem daripada sebelumnya, tapi penonton yang tak bisa masuk tempat pertunjukan di Stadion Lebak Bulus bikin rusuh di luar. Saya membaca laporan konsernya di majalah Hai. Ira, sahabat pena saya di Jakarta, bercerita singkat dalam surat yang agak panjang. Saat itu agak jamak konser musik ricuh. Jangankan rock-metal, acara dangdutan saja orang bunuh-bunuhan.
Metallica agak menurun tensinya, sebaliknya telinga saya sebagai remaja akhir terus mencari musik yang selaras dengan emosi dan alam pikiran yang memendam kemarahan itu. Kami bertemu dan melebur dalam Wherever I May Roam, gitaran saya sudah agak lumayan sehingga Nothing Else Matter sudah bisa didengarkan tanpa dahi berkerut walau gitarnya tetap gitar pinjaman, dan saya pun sudah punya suara yang cukup berat untuk bisa menggeram seperti Hetfield di Don’t Thread On Me.
Dari Black Album, barulah saya dan Feb, saudara, rekan sekamar, seide sepemikiran walau jarang bicara, berburu album-album Metallica. Dengan urutan terbalik muncul di rak kaset kami …and Justice, lalu Master of Puppets (1986), Ride the Lighting (1984), dan Kill Em All (1983).
Seperti penggemar lainnya, kami menghapal lagu-lagu, mendengarkan dengan seksama hingga not dan bunyi terakhir, membaca bagaimana proses kreatif penciptaan lagu, segala latar kebiasaan personel, dan sure, memasang poster mereka di dinding kamar.
Di saat krisis ekonomi menimpa Indonesia 1998, Metallica merilis album konser S&M dan berkolaborasi bersama San Francisco Philharmonic Orchestra. Harga kaset sudah Rp20.000 dari semula hanya Rp12.000 (saat kami beli Kill Em All harga baru Rp7.000—dan beberapa tahun sebelumnya, kaset Deep Purple saya Rp4.500). Saya dan Feb menahan diri untuk tidak membeli rekaman musisi mana pun. Kami sedang fokus di ujung masa kuliah strata satu dan kalau ada uang itu buat fotokopi, atau beli kertas buram dan houtvrij schrijfpapier, atau beli buku.
Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu di Sekretariat KBU yang lagu kebangsaannya adalah lagu-lagu Iwan Fals dan sekali-sekali Bob Marley (yang juga membawa pengarus besar pada saya kemudian).
Baru setelah saya mulai bekerja, entah sebagai jurnalis, entah penerjemah, entah guru honorer, koleksi rekaman bertambah. Album Load and Reload segera masuk. Juga dobel album Garage Inc. Saya yang juga terus keranjingan main drum dan setiap hari berlatih dengan kardus-kardus yang disusun dan simbal khayalan, segera memasukkan Fuel dan Whiskey in the Jar dalam daftar lagu latihan.
Album St Anger dan Death Magnetic saya dapatkan dengan cara yang romantis: hadiah ulang tahun dari isteri tersayang. Lengkap dengan pizza beetato pepperoni, coke, pelukan anak-anak, dan ciuman ibu mereka.
Saya juga mengumpulkan beberapa rekaman yang memainkan lagu-lagu Metallica, seperti Apocalyptica, empat musisi asal Finlandia yang tak kalah gahar dengan Hetfield cs—yanng memainkan lagu-lagu Metallica hanya dengan cello.
***
Bila saya mulai menikmati konser dengan menangis terharu—sebab antara lain kami harus menunggu 20 tahun untuk konser itu—Hetfield sendiri menanggapinya dengan jenaka.
“Why it takes so long?” katanya. “No money?” Lalu tawanya yang khas itu keluar. Saya turut tertawa. Kami semua tertawa. Senang bisa menertawakan diri sendiri.
Pada saya barangkali iya. Tiket nonton mereka hari itu Rp750.000 untuk kelas festival. Itu cukup buat sekali belanja bulanan satu keluarga dengan 3 anak yang masih SD. Cukup buat beli 20 kg beras, minyak goreng, … pokoknya kulkas penuh.
Bagi kita yang berada di pulau yang berbeda, berarti ditambah tiket pesawat pergi pulang, tambah biaya menginap, biaya transportasi, biaya konsumsi, …
“Ya kalau kamu mau pergi besok lalu siap-siapnya baru hari ini, kalau kamu tidak kaya, ya tidak bisa,” kata Martin Smith, seorang kawan penjelajah Himalaya.
Sungguh, dari Martin dan banyak kawan bule dan Tionghoa, baik kaya maupun tidak kaya, di Balikpapan atau di mana saja, saya belajar arti persiapan dan menabung. Saya baru sadar semasa kecil ibu saya sebenarnya sudah mengajarkan juga kepada kami.
Maka saya membuat persiapan untuk banyak hal: untuk liburan, untuk listrik padam, untuk air macet, untuk pendidikan anak-anak, untuk suatu saat rumah kami harus direnovasi, bila hujan di jalan, untuk saat tengah malam kehabisan pulsa internet sementara berita harus dikirim segera, untuk sakit, untuk keinginan-keinginan, dan seterusnya.
Saya merasa beruntung ketika Metallica akhirnya benar-benar datang lagi di Indonesia, saya sudah punya semua yang dibutuhkan. Saya sudah beli tiket secara online pada hari kedua penjualan, 60 hari sebelum hari konsernya.
Bahkan sebenarnya saya sudah berusaha beli sejak hari pertama, tapi karena padatnya situs blackboxtix.com, situs resmi promotor BlackBox yang mendatangkan Hetfield cs, baru pada hari kedua terverifikasi. Para pembeli lewat cara online kemudian dikirimi kode booking. Kode booking itu yang disebutkan, atau bila diprint, ada barcode yang di-scan, untuk mendapatkan tiket asli di arena konser nanti.
***
Dan itulah Metallica, dan disinilah saya bersama 60 ribu penggemar mereka dari berbagai tempat di Nusantara (termasuk Nusantara itu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Australia).
Hetfield, Hammet, Trujilo berkeliaran di panggung. Ulrich menggebrak set drumnya dengan sepenuh tenaga. Nomor-nomor keras langsung dimainkan berderetan: Hit the Lights, Master of Puppets, Fuel, Ride the Lighting, …
Ulrich tarik napas sejenak di lagu Fade to Black buat kembali masuk jalur cepat di separuh akhir. Dobel bass drum Tama yang jadi andalannya kembali berkejaran.
Metallica terus ngebut. The Four Horsemen, Cyanide (lagu favorit saya yang baru saja jadi favorit) digeber seperti Valentino Rossi membawa motornya di tikungan-tikungan panjang Donington Park.
Tak berkurang pula tenaganya ketika Welcome Home (Sanitarium), Sad But True, hingga dengungan bas Trujilo menghadirkan Orion. Melodi Hammet mengantarkan kami ke galaksi yang jauh di atas Langit Utara dalam tarian bintang dan laser warna-warni.
Saya memandang sekeliling. Di kiri saya ada Arrie, teman baru yang mulai berkenalan dari counter pengambilan tiket kemarin, di depan, di belakang, di kanan dan kiri, semua berkaos hitam dengan gambar-gambar Metallica dan grup-grup rock lainnya. Semua dengan gambar-gambar sangar atau surealis yang dilambangkan dengan tengkorak, monster, atau motif tribal.
Saya juga, tentu saja, dengan kaos hitam bergambar tengkorak menyala, seram dalam lidah api seperti di film Ghost Rider. Tapi ini bukan kaos grup metal, sobat. Ini kaos dari Balikpapan Hash House Harriers, klub lari lintas alam ekstrem, kaos yang dibagi saat lari malam-malam sebelum berkumpul lagi untuk pesta Halloween Night.
Lalu terdengar bunyi tembakan dan deru helikopter mendekat, dan suara sersan yang mengomando anak-anak buahnya, lalu suara heli itu menjauh, … dentingan gitar Hetfield mengisi keheningan yang tercipta sejenak. Segera tepuk tangan dan suitan berbalasan. Inilah One, lagu pertama yang saya sukai dari album … and Justice.
Kami semua bernyanyi bersama Hetfield. Lirik demi lirik disatukan dalam koor yang berat dan geram.
“I can’t remember anything, can’t tell if this is true or dream, deep down inside I feel the scream, this terrible silence stops me…”
Di sepertiga akhir lagu tentang serdadu malang di Perang Vietnam itu, di bagian yang tak ada lagi lirik yang harus dinyanyikan, kita semua (setidaknya semua yang di sekitar saya) headbang, mengangguk-angguk cepat mengkuti rithym drum Ulrich dan gitar Hetfield, dan dibakar melodi tajam Kirk Hammet.
“You are just amazing,” kata Hetfield, begitu One berlalu, sambil menyeka keringat di dahinya.
Walau begitu Metallica tetap kencang. Gebukan drum intro For Whom The Bell Tolls dihadirkan Ulrich bersama bunyi lonceng yang membahana. Spontan tangan-tangan terkepal ke udara. Riff drum dan simbal bersahutan dengan ritme gitar Hetfield dan sayatan Hammet yang bersandar pada dentam bas Trujilo.
Headbang terus berlanjut sampai Blackened usai ditampilkan.
Lalu panggung gelap beberapa saat.
Denting gitar yang jernih mengalun diiring rendah suara bas. Lampu sorot menyala dan menerangi Hetfield yang memetik gitar akustik dan bernyanyi dengan berbisik. Saudara-saudara, … “Nothing Else Matter”.
Semua bernyanyi bersama Hetfield. Korek api kayu, korek gas, lilin yang menyala, diangkat ke udara. Badan yang rapat bahu dengan bahu bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti birama lagu.
Saya melihat beberapa orang menyeka mata. Terharu lagi agaknya. Sungguh spesial memang momen ini.
Intro bass Enter Sandman berkumandang. Trujilo menyeringai. Bagaimana kita lupa lagu yang membingkai masa remaja ini? Yang menandai kamilah generasi metal yang penuh semangat dan siap menantang dunia.
“…exit light, enter night
take my hand, up to never never land…”
Koor yang penuh semangat. Kaos saya basah oleh keringat yang membanjir sebab headbang dan melonjak-lonjak.
Tiga lagu encore, seluruhnya nomor full speed. Creeping Death, Fight Fire With Fire, dan Seek and Destroy membahana. Balon-balon hitam besar berlogo Metallica yang memenuhi kiri dan kanan panggung ditendangi Hetfield, Hammet, dan Trujilo ke penonton. Simbol tiga jari metal, simbol akronim ILU (I Love You), diangkat tinggi.
Ketika musik berakhir, ucapan terimakasih dan pujian kepada kami penonton disampaikan para personel Metallica. Hammet, Hetfield, Trujilo membagi-bagikan pick gitar, Ulrich melemparkan beberapa stik drum-nya ke penonton.
“You are Metallica family,” kata Hetfield sungguh-sungguh. Kini usianya sudah 50 tahun, tapi tenaganya tak berkurang. Vokal dan gitarnya tetap sangar. Kata-kata kasar yang jadi penghias pengantarnya setiap kali manggung dan bicara, sudah lama ditinggal sepertinya.
Musik rock memang bukan soal kata-kata kasar. Bukan rambut panjang, bahkan bukan melulu gahar dan sangar. Hetfield melucu, menyapa, memberi salam dan hormat. Metallica, jelas sudah menemukan hakikat metal. Barangkali sebab itu Trujilo memberikan bas gitar yang ditandatanganinya untuk Jokowi (walau disalahartikan oleh KPK)—sebab pria kurus yang akhirnya jadi presiden itu jelas rocker sejati dalam perbuatan dan kepemimpinannya.
Seperti kebetulan, kemudian ada yang memberikan bendera merah putih yang bertuliskan Metallica-Solo-Indonesia. Hahaha, kawan jauh dari Solo, rupanya. Juga tempat asal Jokowi-yang hari itu masih Gubernur DKI Jakarta—yang menonton di kelas festival sama seperti saya, dan hanya ditemani dua ajudannya. Yang ketika dia datang kita mengelu-elukannya sama seperti Metallica.
Lalu James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Robert Trujilo membungkuk memberi hormat kepada kami penonton, yang kami sambut dengan tepuk tangan panjang.
Saya masih tak percaya saya mengalaminya. Dua setengah jam yang luar biasa dalam catatan hidup saya. Kesusahan tidak sempat makan siang (karena salah masuk warung nasi campur—di Jakarta hati-hati dengan warung nasi campur), menunggu sejak pukul 15.00 (konser dimulai pukul 20.00), antrean panjang, berdebat untuk tetap bisa membawa botol mahal dari ace hardware dan air isinya yang menurut aturan panitia tidak boleh dibawa ke arena konser…
Semua tuntas dan puas.
Di notes saya sempat juga mencatat penampilan Raisa yang memimpin kita semua menyanyikan Indonesia Raya. Ada pembukaan 5 lagu oleh Seringai. Jeda satu jam yang kita tidak tahu untuk apa. Mungkin setting sound lagi.
Semua terbayar lunas oleh penampilan Metallica—dan segera saya berharap bisa nonton dan ketemu mereka lagi, anywhere, anytime in this world.
Sampai jumpa lagi. See you!
***
Apel, Pisang, dan Kelapa

Ke Rinjani orang juga beritual. Mereka meletakkan sesajen di puncak gunung itu. Oh ini bagian ketiga, Saudara.
Ketika akhirnya terbangun, arloji saya menunjukkan pukul 04.30 dinihari. Saya sudah terlambat untuk menikmati panorama matahari terbit dari puncak Rinjani. Tapi, sungguh, tak ada penyesalan apa pun. Saya kecapekan, dan tidak ada yang menyalahkan orang yang kelelahan.
Meski begitu, saya tidak punya waktu lain selain hari ini untuk menyelesaikan target perjalanan ini. Maka saya bergegas berpakaian, salat subuh, dan sarapan. Makan pagi sebelum berangkat itu adalah hampir setengah kaleng kornet 200 gram, vitamin, dan air putih. Saya memasukkan ke dalam ransel persediaan air, roti tawar, cokelat, selai, kamera, madu, dan gulungan tisu. Ringan sekali bila dibandingkan carrier dan seluruh isinya.
Ketika keluar tenda, angin dingin langsung menyambar. Langit di kiri saya merah jingga dengan latar depan siluet lereng Rinjani. Sampai 20 menit pertama saya tak pergi kemana pun selain memotret pagi dari Plawangan Sembalun itu. Mulai dengan DSLR, lalu lebih banyak lagi dengan Zenfone 6.
Saat hari terang tanah pukul setengah enam lewat, barulah saya memulai langkah ke puncak. Saya masih sempat menambah bekal air dari botol air porter yang tersedia di depan tendanya.
Tanpa beban, langkah saya ringan dan cepat. Bertegur sapa pagi dengan dua perempuan bule di dekat pohon tumbang, juga dua pendaki kulit hitam di dekat mata air. Saya juga meluangkan waktu untuk memotret apa saja yang menarik hati dan mata.

Medan pertama menuju puncak adalah saluran pasir yang gembur. Tapi karena melewatinya saat hari sudah terang, saya jadi punya banyak pilihan. Saya naik ke bagian sisi setiap saluran pasir itu, dan bisa menambah ketinggian dengan cepat tanpa harus merosot setiap kali melangkah.
Pukul setengah delapan saya melewati pohon tumbang yang melintang di jalan. Pohon itu menjadi semacam gerbang dan penanda berakhirnya medan pasir gembur dan tanjakan terjal. Saya tiba di ujung gigir Rinjani.
Pemandangan Segara Anak yang hijau dengan vulkan Barujari membentang di bawah sana. Semua orang yang turun menyempatkan diri berhenti di situ, mengambil foto, bertegur sapa. Saya bertemu lagi dengan para pemuda Jerman.
“Setimpal dengan capeknya,” kata Peter yang paling jangkung diantara semua yang jangkung itu.
Ada pasangan Kanada yang sedang berbahagia, Emerson dan pacarnya. Ada Romain, pemuda Prancis yang sendirian seperti saya.

Selain Kenshin, pemandu dari Senaru, saya tak bertemu seorang pun pendaki Indonesia. Sebagian besar yang turun, semua bule, dan sudah bertemu saya di saluran pasir. Para pendaki Jerman berkata bahwa di belakang mereka ada satu rombongan lagi. Cara Chris bercerita seolah-olah puncak itu dekat sekali—yang membuat saya bersemangat. Fakta Chris membagi separo air yang dibawanya untuk saya dan berkata, “You will need that,” tak terlalu saya perhatikan.

Menjelang pukul delapan pagi, saya melanjutkan perjalanan naik. Di kiri adalah lereng yang mulus sehingga batu bisa menggelundung hingga ke dasar, di kanan, kawah dan Segara Anak, dimana batu bukan menggelundung bila jatuh, tapi langsung nyemplung dan lenyap di dasar danau. Edelweiss dan cemara tumbuh bergerumbul hingga ketinggian 2.900, lalu menyebar satu-satu sampai 3.500 m.
Romain adalah orang terakhir bertemu saya sampai 3 jam berikutnya. Semakin tinggi, jalan semakin gembur, dan semakin berat langkah. Ketinggian dan udara tipis membuat pendaki ngos-ngosan.
Saya menyebutnya pola 1-1. Sekali tarik napas, sekali buang. Napas yang ditarik bukan napas panjang, tapi pendek dan cepat. Oksigen harus diambil secepatnya dan karbon dioksida harus dibuang secepatnya. Pada saya di ketinggian itu, napas pendek namun cepat lebih diterima tubuh ketimbang satu napas panjang
Walau demikian, saya menikmati perjalanan ke puncak ini. Bila merasa harus berhenti, saya berhenti, mengambil dan mengatur napas. Sambil demikian, saya melihat pemandangan. Matahari terik, tapi tak terasa. Saya tetap mengenakan jaket dan sarung tangan. Sementara awan hanya menaungi puncak Rinjani.
Bahkan, menjelang pukul 11 itu, saya sakit perut. Tidak ada tempat sembunyi yang nyaman untuk buang hajat, tapi ini ketinggian 3.400 meter dan saya sudah tak bertemu orang lain sejak berjam-jam yang lalu.
Repot juga, mulai dari melepas sepatu, baru tiga lapis celana, dan nongkrong di tepi jalan. Untung saya selalu bawa segulung tisu. Saya harap serumpun edelweiss dekat situ menerima anugerah pupuk alami itu dengan bahagia.
Setelahnya saya merasa badan menjadi ringan dan plong. Ditambah energi seruas cokelat dan beberapa teguk air saya maju lebih cepat. Saya segera tiba di batas pasir-kerikil bertemu dengan kerakal, batu-batu sebesar kepalan tangan yang terhampar memenuhi jalan. Tanjakan makin terjal. Dari sini, terlihat seolah ada dua puncak di atas sana.
Pukul setengah dua belas, saya bertemu Pim dan Rianne di tengah medan kerakal. Pasangan Belanda ini ditemani pemandunya, yang mengenakan penutup muka dan kacamata, dan tak berbicara.

“Where is your team?” tanya Rianne menatap saya.
“He is all the team,” Pim menjawabkan untuk saya..
“Where is your walking stick,” tanya Rianne lagi. Dengan tongkat, berjalan di gunung memang akan lebih mudah. Saya selalu meniatkan diri untuk beli tongkat khusus itu, tapi belum pernah mewujudkannya.
“I have these two arms and legs. If I have to crawl, I will,” saya menjawab sendiri seraya tersenyum lebar.
Menurut Pim, ada satu rombongan di belakang mereka, dan saya bilang tak ada seorang pun di belakang saya.
“Good luck Novi,” kata Pim bersungguh-sungguh. Orang yang sendirian hanya punya dirinya sendiri untuk menyemangati diri. Karena itu mereka tak boleh berputus asa dan kehilangan harapan. Pim menambah persediaan bahan bakar semangat saya.
“Terimakasih, bro,” kata saya. Kami berpelukan dalam persaudaraan gunung dan alam. Itu hanya perkenalan lima menit, tapi saya merasa mendapat perhatian dari seorang sahabat seumur hidup.
***
Saya bertemu rombongan terakhir itu di ketinggian 3.500. Empat pemuda Indonesia yang bertegur sapa seperlunya. Mungkin karena lelah, mungkin juga sibuk mengatur napas. Saya tak melihat apakah mereka membalas senyum saya atau tidak karena semua mengenakan masker penutup mulut.

Sekarang saya benar-benar sendirian. Medan kerakal itu seakan tak habis-habis. Sekali lagi saya menjalankan taktik ini, membuat target-target pendek, dan mencegah diri sering-sering melihat puncak harapan itu.
Target pendek itu adalah jarak yang saya targetkan harus dicapai dalam beberapa tarikan napas dan perhentian. Target itu bisa batu unik 10 meter di depan, rumpun edelweiss 15 meter berikutnya, hingga batu besar di atas sana, 100 meter dari tempat saya berdiri membuat target-target itu.
Saya mengulang proses itu. Menarik napas pendek dan cepat, lalu berjalan 7-10 langkah, berhenti lebih kurang 30 detik untuk mengatur napas lagi.
Pukul 12.15, saya sampai di dinding batu yang seakan menutup jalan. Warnanya kuning dengan merah tua di bagian bawah. Di ujung awal dinding, jalan berbelok ke kanan. Tanjakan habis. Seratus meter terakhir yang mudah itu saya tempuh dalam 5 menit. Lalu di bagian ketika tak ada lagi arah selain turun, saya berdiri dalam keheningan di atas hamparan batu-batu yang juga berwarna kuning dan merah, dalam selimut awan putih, di ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut.
***

Saya mengucapkan selamat kepada diri sendiri. Ini tepat waktu salat Jumat. Saya duduk dan istirahat di ujung lahan kecil berbatu seluas setengah lapangan bulutangkis itu, dimana ada sebuah plakat dari alumunium bertuliskan puncak dan ketinggian Rinjani. Tampaknya ada klub sepeda dari Bandung yang menyumbangkan plakat itu.
“Hebat juga, sepedaan sampai sini,” kata saya dalam hati, sambil mengunyah apel malang yang berwarna hijau.
Dari mana saya dapat apel, padahal tak membawa buah itu dari bawah, adalah atas kemurahan Tuhan dan ummatnya. Sehari sebelum ini, saya yakin begitu, seseorang yang saleh, juga kuat dan punya tekat luar biasa, dan punya kelebihan harta, mengantar sebuah apel, beberapa pisang, sebutir telur, dan sebutir kelapa bulat yang masih dalam tempurung utuh. Orang itu juga memasang dupa, yang membuat lingkungan setengah lapangan bulutangkis itu berbau wangi.
Saya makan sesajen itu dengan bismillah. Dimulai dari apel, lalu pisang, dan terakhir kelapa. Apel yang hijau sebesar bola tenis itu terasa kesat di lidah, tapi menenangkan perut. Pisangnya manis karena matang sempurna. Saya harus berjuang sedikit dengan kelapa. Tempurung saya lubangi dengan pisau lipat. Dari lubang itu, saya bisa minum air kelapa yang menyegarkan, manis asam elektrolit murni sebanyak seperempat liter. Setelah itu, saya memecahkan tempurung dan mendapatkan daging kelapa yang putih dan tebal—namun sungguh diperlukan tenaga rupanya untuk menyantapnya.
Saya cukupkan kelapa itu setelah menghabiskan sepertiganya. Saya tinggalkan telur untuk seseorang yang boleh jadi juga lapar yang akan mencapai puncak ini besok dinihari.
Saya menggabungkan salat dan menjadikan plakat alumunium itu sebagai tempat sujud. Angin lalu menguak awan sedikit, memberi pemandangan di sisi timur Rinjani, lereng cokelat muda yang terjal dan lapangan pasir tanpa vegetasi.
Pukul setengah dua, air minum saya tersisa kurang dari seperempat botol. Ditambah madu dan perut kenyang, itu bekal saya kembali ke ketinggian 2.700 meter.
***
Awan-awan menemani saya turun. Sesekali mereka begitu tebalnya sehingga saya hanya bisa melihat jalan satu dua meter ke depan.
Awan-awan juga membawa hujan. Saya menadahkan mulut dan mencecap air langsung dari langit. Tenggorokan yang serak karena debu dan lekat oleh madu mendapatkan obatnya.
Perjalanan turun, seperti selalu saya alami, berlangsung cepat. Saya melewati batu-batu besar yang digrafiti, jalan setapak kerakal, kerikil dan pasir, dan akhirnya pasir hitam dan abu-abu yang gembur. Ada perasaan tidak percaya bahwa beberapa jam sebelumnya saya melewati jalan yang sama.
Pukul empat sore, saya bertemu lagi dengan pohon tumbang gerbang lereng itu. Pohon dan daun-daun, juga edelweiss di sekitarnya terlihat basah dan segar. Debu diikat air dan saya meluncur turun dengan hanya meninggalkan jejak di pasir. Segera pula saya tiba di lorong sempit dan curam tempat awal dan akhir jalan pasir, jembatan beton di atas jurang lahar, dan hupp, ujung perkampungan tenda-tenda. Baru saya tahu lokasi mata air itu. Turun sedikit ke lembah di bawah itu dari pertigaan ini rupanya.
Ujung tanjakan ini sungguh ramai oleh para pendaki yang baru datang. Ini kampung internasional. Saya mendengar dialek Inggris-British, suara cempreng seseorang dalam Bahasa Mandarin, logat Sasak yang lucu, mungkin Prancis, dan Belanda-Jerman juga.
Meski berhenti untuk melepas sepatu dan membuang pasir dari dalamnya, saya sudah lelah untuk bersosialisasi. Hanya senyum saja dan sedikit bangga, I was there, you know, on top of Rinjani, all alone.
Seorang porter membawa banyak botol berisi air minum dalam keranjang. Ia baru kembali dari mata air. Saya berbicara padanya, dan Anto setuju menjual 5 botol untuk saya.
Saya tiba di tenda saya lagi tepat pukul setengah lima dan disambut hujan lebat. Ridho dan Arif memasak makan malam dan mereka mengundang saya makan di tenda hijau mereka. Indomie Soto Banjar Limau Kuit saya agak kebanyakan air, tapi tak apa. Ini makanan hangat dan nyaman di perut.

Kami masih sempat menyaksikan senja merah setelah hujan berhenti. Saya segera kembali ke tenda saya sendiri dan berganti pakaian. Masih punya tenaga untuk merapikan tenda, merebus air, dan membuat kopi.
Sudah lama kopi tidak memiliki hubungan lagi dengan kapan saya mau tidur. Jadi, begitu segelas Nescafe itu habis, saya merebahkan diri dan segera terlelap.
***
Pendaki Juru Kunci

Di Pos 2, kami bertemu para pendaki dari Hongkong yang cantik-cantik. Hehehe, ini bagian kedua, saudara.
Pagi-pagi, Arif sudah bangun untuk melihat jalan. Ia beriringan dengan burung-burung yang ramai berkicau di dahan-dahan di atas tenda kami. Arif pergi menyeberang sungai ke bagian yang sudah saya lewati sebelumnya.
Tepat seperti dugaan saya, Arif kembali dengan kabar bahwa sesungguhnya kami berada di jalur yang benar. Hanya karena kelelahan saja kami menjadi tidak percaya diri.
“Di ujung turunan ada belokan ke kiri, jalan turun ke jembatan. Di jembatan itu ada papan penunjuk arah yang menyebutkan Pos 1,” tutur Arif.
Saat kami sarapan, tiga penggembala sapi dari Sembalun lewat. Mereka bertanya mengapa kami menginap di tempat yang tidak biasa orang menginap itu. Kepada mereka, kami juga bertanya arah dan jalan.
“Pos 1 lebih kurang satu jam dari sini,” kata yang paling belakang, yang mengenakan headset untuk handphone di telinganya dengan selempang sarung dan sepatu boot plastik.
Satu jam? Kami tertawa. Jadi, seandainya saya terus jalan tadi malam, maka betul, lebih kurang pukul 10.00 malam itu saya akan tiba di Pos 1. Tapi, kami memang tak tahu. Tak seorang pun dari kami pernah melewati jalan ini sebelumnya. Kami tak bersama pemandu, dan tidak minta tolong porter. Saya tak terpikir untuk menelpon petugas di kantor Taman Nasional untuk sekedar bertanya meyakinkan diri. Sinyal Telkomsel masih jelas sampai Pos 1.
Ternyata tanpa pemandu dan porter, khusus bagi yang baru pertama kali ke Rinjani, rute sederhana pun jadi petualangan yang bisa jadi bahan cerita.
Perjalanan dimulai kembali beberapa saat sebelum pukul 10.00 pagi. Kami mulai dengan doa dan langkah kanan dan hati riang.
Dari jembatan beton yang diceritakan Arif, kami melihat porter-porter yang bergegas. Lalu serombongan panjang pendaki bule di belakang mereka. Menurut Ridho, rombongan yang kami lihat memulai perjalanan dari Bawahenau, bukan dari Sembalun Lawang seperti yang kami lakukan.

Jalan menanjak perlahan di punggung-punggung bukit. Ada variasi turunan dan tikungan, dan jalan terus menuju ke barat.
Itulah Pos 1 Pemantauan, berupa dua bangunan seperti pos keamanan lingkungan atau gardu jaga di komplek perumahan. Pos ini dibuat permanen, dan satu lagi disusun dari pipa dan pelat besi. Bisa dibayangkan dinginnya pos dari besi itu bila malam tiba.
Saya beristirahat di pos logam itu. Lalu datang rombongan orang-orang tua bule mengisi pos beton di seberang. Sepuluh menit berselang, rombongan si Mbah.
“Hehehe, ketemu lagi,” katanya riang. Saya juga tertawa. Wah, si Mbah tidak bilang bahwa rombongannya ini terdiri dari 4 perempuan cantik-cantik. Ada Mika, ada si reporter Metro TV itu yang saya lupa namanya, lalu si April, dan seorang yang atletis, berkerudung, namun selalu ada di belakang. Selain si Mbah, ada dua lelaki, Kendi suami April, dan seorang lagi yang saya tak ingat.
“Sendirian, mas?” tanya Mika.
“Oh, tidak lagi. Sekarang kan ada kalian,” seloroh saya. Pertanyaan Mika adalah pertanyaan standar kepada saya dan ditanyakan orang dari ujung timur hingga barat Indonesia oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai macam bahasa.

Anyway, dalam perjalanan kali ini, Asus Zenfone 6 menjadi modal saya bertegur sapa, selain senyum tentu saja. “Saya punya beberapa foto kalian, bila ada email atau facebook saya bisa share…” demikian kalimat ajaibnya. Sungguh seribu teman masih kurang (ada facebook yang menghitung jumlah teman kita) dan satu musuh sungguh terlalu banyak (ada buku harian yang menghitungnya)
Si Metro TV berbagi Pocari Sweat yang manis asam menyegarkan. Dia ternyata staf Najwa Shihab untuk acara Mata Najwa. Saya hampir tak pernah menonton acara itu. Sudah lama saya tidak lagi menonton televisi.
Pukul setengah dua belas, Ridho dan Arif serta saya mulai berjalan lagi. Tanjakan mulai semakin panjang walaupun belum ada yang ekstrem. Tepat seperti disampaikan seorang pemandu, lebih kurang satu jam dari Pos 1 Pemantauan itu, kami tiba di Pos 2 Tengengean. Dari ketinggian 1.300 m dpl ke 1.600 mdpl.
Di Pos 2 ada air, ada sungai kering, dan ada jembatan di atasnya. Air berasal dari sumber mata air kecil, dimana air merembes keluar dari pasir, dan seseorang menyaringnya dengan menggunakan 2 buah botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Air yang keluar dari ujung botol satunya mirip pancuran kecil dari air keran yang dibuka seperempatnya. Satu botol besar 1.500 ml penuh dalam 4 menit.
Di Pos 2 yang ramai pada jam makan siang itu, saya lihat, tak ada yang menggunakan air dari mata air itu untuk minum. Para porter membuka air persediaan mereka, berupa air dalam kemasan satu setengah liter itu. Saya yang sudah menghabiskan separo persediaan air, tidak punya pilihan lain selain menggunakan air saringan itu. Warnanya cukup memenuhi syarat mata saya, dan nanti bila sudah direbus, sudah lulus syarat mulut dan perut.
Semua yang kami temui di Pos 1, masih bertemu lagi di Pos 2, ditambah mereka yang sudah istirahat terlebih dahulu di situ. Sebelum membuka bekal sendiri, saya mendapat kehormatan makan siang dengan para orangtua dari Polandia—hanya karena seorang dari mereka pernah ke Balikpapan untuk berburu batubara. Lalu berkenalan dengan para pemuda dari Jerman itu, yang jangkung-jangkung dan berjalan penuh percaya diri.
Setelah mengambil persediaan air tambahan, kami naik ke shelter yang dibangun permanen di bagian atas. Shelter yang di bawah yang berwarna hijau, ditinggalkan porter dengan sampah berserakan.
Kami menggabungkan salat zuhur dan asar sekaligus. Saya membongkar ransel dan memasak makan siang. Ridho dan Arif rupanya memutuskan berbeda, tapi mereka tak keberatan menunggu dan makan camilan. Apalagi di Pos 2 di bagian atas itu ada sejumlah pria dan wanita-wanita cantik yang buka praktik massage.
“Saya kira dari Taiwan, atau Hongkong,” kata Arif. Sungguh, ia tidak bermaksud bergurau.

Ternyata rombongan itu berasal dari Medan. Kawan-kawan itu orang-orang etnis Hakka, Warga Negara Indonesia, dan gemar berbicara bahasa ibunya—seperti Orang Jawa berbahasa Jawa, orang Sunda berbahasa Sunda, dan lain-lain. Para lelaki Cina Medan itu berpenampilan ala serdadu yang dikirim ke Perang Teluk dengan baju dan kamuflase warna gurun dan rambut crewcut. Para perempuannya, yang tadi saling memijat dengan balsam Counterpain, cantik-cantik belaka seperti para pemain sinetron Korea.
Saya yang sibuk memasak mi, telur, dan korned tak sempat banyak bertegur sapa dengan para perempuan, tapi ngobrol sedikit dengan para lelaki, yang kebetulan dekat dengan kompor saya. Seperti kebanyakan pendaki, semua bangga sudah mencapai puncak dan dengan perjalanan ini. “Tanah Air kita indah sekali,” kata A Long.
Dari Pos 2 itu, kami resmi menjadi tim juru kunci. Rombongan Polandia sudah lama pergi, disusul para pemuda Jerman. Rombongan si Mbah sudah permisi lanjut ketika saya makan siang. Terakhir para kawan dari Medan pamit turun ke Sembalun. Pemandangan savana yang kering dan terbakar membentang di seluruh arah mata memandang.
Saya kembali mantap menyandang ransel punggung seberat 24 kg ini. Saya tahu itu karena memang menimbangnya. Di Balikpapan, sesaat sebelum dimasukkan bagasi pesawat, carrier itu berbobot 18 kg. Lalu di Mataram, di timbangan di depan resepsionis, setelah diisi bekal dan beberapa perlengkapan tambahan, 25 kg. Beratnya pasti berkurang sedikit karena sebagian makanan sudah kita habiskan sejak tadi malam.
Saya masih punya tambahan satu ransel lagi di depan, yang isinya kamera, jaket hujan, sedikit makanan, dan air minum.
Perut kenyang itu sesuatu banget dalam olahraga mendaki gunung ini fren. Kalau lapar, selain tidak kuat angkat-angkat, jalan juga bisa tersandung-sandung dan pikiran kemana-mana. Tidak fokus. Kalau tidak fokus, jalan setapak ke kiri, kita malah ke kanan. Akhirnya orang ini bisa hilang di gunung dalam cuaca yang cerah.
***

Jalan makin menanjak dan kini berada di punggung-punggung bukit. Ada seruas panjang jalan yang penuh batu-batu dan kiri kanannya seolah sungai kering. Mungkin tempat aliran lahar bila Rinjani meletus, atau memang jalan air bila hujan lebat turun. Di situ ada sebatang pohon yang tampak merana, menghitam karena terbakar bersama rumput-rumput di bawahnya.
Di ujung atas tanjakan, jalan berbelok ke kanan, mendatar, dan menurun setelah seratus meter. Saya mendapati seseorang tengah duduk istirahat di bibir tebing.
“Masnya mau muncak kan. Hati-hati dengan barang yang ditinggal di Plawangan Sembalun,” kata Dimas, pendaki dari Surabaya itu. Oh, kenapa gerangan?

Tenda Dimas rupanya disatroni maling saat ditinggal summit attack. Dua handphone, uang Rp400.000 hilang. Duh, siapa yang tega berbuat itu di gunung?
Demikian, Dimas masih bermurah hati membagi air yang dimilikinya. Ia memberi saya saya sebotol dari dua botol besar yang dibawanya.
Saya berterimakasih atas air dan peringatan itu. Sekali lagi, siapa yang tega mencuri barang-barang pendaki di gunung? Sesama pendaki hampir mustahil. Apalagi mayoritas pendaki Rinjani yang saya temui ketika itu adalah pendaki asing—yang asumsinya lebih kaya dan ‘tidak bergaul’ dengan pendaki lokal. Guide, pasti tidak karena mereka selalu bersama kliennya, para pendaki, setiap waktu. Porter? Wallahualam.
Saya tak sempat lagi memikirkan itu. Tanjakan-tanjakan terjal mulai menghadang di depan kami. Pos ekstra muncul sebagai sedikit hiburan. Saya terus ngebut sampai ke Pos 3 Pada Balong di ketinggian 1.800 meter. Bukankah seharusnya pada jadwal yang saya buat, sore ini semestinya saya sudah ada di Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter di atas sana?
“Setelah Pos 3, lalu Pos 4, sampai Plawangan Sembalun, itu jalurnya asik,” tutur Ferry ‘Pepeng’ Ferdiansyah, seorang sahabat dari Bandung dan koki lapangan handal yang berkunjung ke Rinjani dua tahun sebelum ini.
Seasyik apa, Peng, tanya saya. Dia hanya tertawa. “Pokoknya mas Novi nikmati sendiri dah,” katanya.

Saya melihat jalur itu di bukit di seberang Pos ekstra, zigzag di punggung bukit, rapat tapi tidak terlalu menanjak—cuma pasti jauh karena zigzag itu. Tapi itu jelas bukan jalur yang kami ambil sekarang.
Pukul setengah lima, saya mulai langkah kanan dari Pos 3 sementara Ridho dan Arif baru tiba di Pos itu. Tanjakan 70 derajat sudah menghadang. Seperti mesin mobil yang menggeram dengan persnelling rendah, saya menurunkan kecepatan berjalan dan mengatur napas. Satu tarikan napas, satu hembusan, dan 5-6 langkah naik. Sepasang kaki saya kini menanggung beban lebih kurang 50 kg, di medan yang melawan gravitasi, dan udara yang kerapatannya lebih renggang.
Satu jam mendaki, saya tiba di tanah yang agak lapang. Rumput-rumput kuning di situ rebah, tanda banyak diduduki dijadikan tempat istirahat. Saya minum, makan seruas cokelat, dan menyiapkan senter. Jalan kini ada di punggung gunung yang sempit dengan vegetasi yang bekas dilahap api. Tidak terdengar dan terlihat tanda-tanda Ridho dan Arif.
Saya naik dan mengikuti jalan itu sambil memandang alam. Api benar-benar merajalela. Di jalur ini, semua terbakar dan disisakan sebagai arang. Seluruh lereng dan punggungan di kiri dan kanan, bahkan hingga tinggi jauh di sana.
Menjelang magrib, Pos 4 tampak di depan. Tiba-tiba sudah ada Arif di belakang saya, lebih kurang 150 meter di sana. Lebih jauh lagi terlihat Ridho yang berwarna merah berjalan pelan.
Matahari sudah hilang, meninggalkan jejak senja lembayung yang tipis. Pos 4, seperti semua pos shelter dari sisi Sembalun, juga dibuat dari pelat besi, atau alumunium, dan tiang-tiang logam. Tanpa panas sinar matahari, logam itu mulai mengumpulkan dingin dari temperatur yang mulai turun dan kesiur angin. Pos ini sudah kehilangan atapnya. Mungkin karena diangkat badai beberapa lama sebelumnya.

Saya dan Arif salat magrib dan salat isya di Pos itu. Lalu makan malam dengan roti, cokelat, keju kraft, dan air putih yang dingin. Agak susah menelannya, tapi tetap harus makan. Ridho sampai dan melakukan urutan yang sama seperti saya dan Arif lakukan.
Beberapa titik api terlihat di lembah curam di kiri dan kanan kami. Titik-titik hotspot itu seakan muncul begitu saja setelah hari gelap.
“Seperti ada orang di sana yang menyalakan api,” kata Ridho. Tentu saja, kami yakin, tak ada seorang pun di tempat api itu menyala. Ini di ketinggian 2.200 meter, tanpa air, tanpa pelindung, tak aka nada seorang pun yang mau bertahan di sini.
Jalan setapak sekarang ada di lereng dengan kemiringan yang makin curam. Saya merasa kami berjalan makin pelan. Ketika kami memasuki hutan yang utuh dan tak terjangkau api, saya merasa menjadi bagian dari rombongan Thorin Oakenshield, para kurcaci yang pergi ke Gunung untuk mengambil kembali harta dan tanah air mereka.
Punggungan gunung menyempit dan melebar. Bila menyempit, jalan menjadi jelas dan dalam. Bila punggungan itu melebar, laksana jalan bebas hambatan, ia membagi diri menjadi beberapa jalur. Saya sempat bingung sejenak, namun segera menyadari kenapa.

Di tanjakan, kita biasa memudahkan sedikit jalur naik itu dengan melipir, terutama bila ada cukup ruang untuk itu. Dengan begitu, beban bagi paha dan lutut sedikit bisa dikurangi. Melipir itu sedikit hiburan dan variasi.
Di rute antara Pos 4 dan Plawangan Sembalun, setelah ketinggian 2.400 meter dan kita tak terasa meninggalkan hutan di belakang, jalan setapak itu berseliweran sesukanya. Selama itu menuju ke atas, Anda tidak perlu khawatir.
Arif menjadi leader sejak kami melewati gigir sempit dan jalan berpindah punggung bukit. Kami sempat istirahat agak lama, mungkin 15 menit, pada pukul sembilan sambil berlindung di balik pohon-pohon dari terpaan angin kencang.
Tiba-tiba saja saya melihat ujung tanah di atas sana. Ada langit dan bintang-bintang saat sedikit mendongak. Semangat dari badan yang lelah ini kembali berkobar. Di bawah sinar bulan, saya melihat sosok Arif menghilang di ketinggian. Lalu rombongan ini datang dan melewati saya begitu saja.
Pukul 11 malam, saya tiba di gigir kawah Gunung Rinjani. Inilah Plawangan Sembalun, 2.700 meter dari permukaan laut. Saya lihat Arif duduk kelelahan, juga rombongan yang menyalip kami tadi.
“Kami dari kampung bakda asar tadi,” kata seseorang yang dekat saya, yang membagi airnya kepada pendaki yang ngos-ngosan ini. Cukup 5 jam bagi mereka rupanya mengebut dari Sembalun hingga gigir kawah, luar biasa. Bakda asar itu, kami baru sampai di Pos ekstra sebelum Pos 3. Betapa lambatnya kami.
“Tentu saja, mereka tidak membawa beban seberat kita. Mereka hapal jalannya, dan mereka tidak berfoto-foto,” kata Arif.
Rombongan itu menyebutkan mereka akan turun ke lembah untuk ritual salat Jumat di Gunung Barujari. Itu gunung berapi yang umurnya seumur republik ini, nun di tengah danau sana. Saya tercengang, tapi tak sanggup lagi bertanya. Biasanya, orang turun gunung untuk salat Jumat. Para peladang yang saya kenal di tepi Danau Riam Kanan di Kalimantan Selatan, misalnya, pulang ke kampung pada Kamis sore setelah lima hari di ladangnya yang jauh di gunung.

Tapi Pepeng benar, jalurnya asyik, menyiksa dan menghibur pada saat yang sama, lalu memberi hadiah yang tak terlupakan selamanya. Di depan kami di bawah sana, menghampar keperakan di bawah sinar lembut rembulan, Segara Anak.
Sambil menunggu Ridho, kami mendirikan tenda di balik bukit, di balik pohon-pohon dan tenda-tenda milik para operator trekking yang seragam. Kami minta air dari para porter yang meninggalkan berbotol-botol air bersih di luar tendanya. Pada pukul 12.00 malam, memintanya adalah ‘pakai saja dulu’ baru ‘bilangnya’ besok.
“Memang sengaja ditaruh di luas mas, untuk tamu kami biasanya. Tapi siapa saja yang perlu ya silakan,” kata Anto, porter dari Sembalun yang bertemu saya keesokan harinya.
Seperti malam pertama kami di balik bukit berhutan di atas sungai jauh sebelum Pos 1, saya menyajikan milo hangat manis. Roti tawar terasa nikmat dan lebih mudah melewati tenggorokan. Ridho akhirnya sampai, dan saya pamit tidur duluan. Bila mengikuti jadwal, saya harus bangun pukul 2 nanti untuk memulai summit attack ke puncak Rinjani.
***