Lereng Hitam Gunung Biru

Posted on Updated on

Jpeg
Desa Sembalun di lembah di antara lipatan gunung, dari ketinggian di Pusuk. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi

 Ini cerita saya keluyuran ke Rinjani sendirian. Dengan ‘sendirian’, Rinjani yang sudah ramai oleh turis ternyata memberi petualangan yang cukup mengesankan. Ini bagian pertama.

Sabana Sembalun terbakar hebat beberapa hari sebelum saya melintasinya di awal November 2014. Padang yang luas itu menyisakan pemandangan hitam di lereng-lereng dan asap tipis yang naik perlahan di mana-mana.  Satu dua pohon dan sepetak rumput yang selamat biasanya ada di ceruk atau lembah sempit di mana angin berhenti dan api kehabisan tenaga.

“Rinjani kehilangan keindahannya hingga 70 persen,” kata Andi, pendaki asal Jerman. Meski begitu, terlihat tidak ada yang begitu peduli. Keindahan alam, dalam pendakian gunung, memang sering bukan tujuan utama perjalanan. Pemandangan bagus adalah bonus—meski pada Rinjani adalah salah satu komoditas utama.

Jpeg
Rinjani, the blue mountain dengan latar depan lerengnya yang terbakar sebab kemarau panjang 2014. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Sebab itu pula Andi dan teman-temannya, Andreas, Peter, dan Chris tidak kecewa sedikitpun. Termasuk saat melihat sampah yang berserakan di setiap pos atau bertebaran sepanjang jalan. Begitu pula orang-orang tua Polandia yang saya temui di Pos 1. Mereka tetap berfoto dengan latar lereng yang hitam.

“Yang penting itu kita sudah di sini, sobat,” kata Peter. Latar belakang lereng yang hitam dengan warna biru gunung di kejauhan juga bisa indah ternyata. Saya lihat di foto yang saya buat kemudian, masih ada nuansa hijau sedikit di sana-sini. Hijau muda cerah itu berasal dari tunas-tunas rumput yang menyembul di balik gerumbul sisa rumput terbakar.

***

Saya tiba di padang ini malam hari setelah memulai perjalanan dari kantor Taman Nasional Rinjani di Sembalun. Di kantor itu saya masih terkejut setelah beberapa kali terkejut karena mendapati hal-hal berbeda dari informasi yang saya dapat di internet dengan kenyataan di lapangan.

Pertama, entah saya yang salah mengerti, entah memang saat itu saya tidak mendapatkan informasi yang benar, saya tidak tahu. Kalian yang sudah pernah ke Rinjani boleh tertawa. Dari beberapa cerita laporan perjalanan, saya mengira bahhwa Aikmel itu nama pasar di Mataram yang di depannya ada banyak engkel ngetem menunggu penumpang.

Maka itu, saya kira, rutenya adalah dari Mataram kota, ke Aikmel (terminal) untuk lanjut ke (desa) Sembalun di kaki Rinjani. Di Aikmel (pasar) juga kita bisa belanja kebutuhan di gunung.

Karena itu juga saya bingung ketika disebut Terminal Mandalika di Mataram–walaupun kemudian, kata saya dalam hati, kan biasa sebuah kota punya lebih dari satu terminal.

Aikmel (ternyata) adalah nama kecamatan yang jauhnya sudah 40 km lebih kurang dari Mataram. Makan waktu 1 jam lebih kurang, dan makan ongkos Rp50.000 bila menumpang travel atau  hanya Rp20.000 bila naik engkel yang jumlahnya sedikit itu.

Engkel ini sebutan untuk moda transportasi antarkota dalam provinsi di NTB. Yang digunakan minibus seperti Elf. Lupa saya tanya kenapa namanya ‘engkel’. Barangkali karena sedikit itu, menunggunya bisa lama, dan itu bisa bikin jengkel, hahaha.

Kedua, walaupun sudah tidak terlalu terkejut, saya tetap geleng kepala sambil mengutuki diri sendiri. Travel  (artinya mobil Kijang Innova berpelat hitam yang berlaku seperti taksi berpelat kuning) yang saya tumpangi  mau mengantar saya ke Sembalun dengan biaya Rp250.000 dari Aikmel. Itu tidak termasuk ongkos rute Mataram-Aikmel yang sudah saya jalani.  Jadi seluruhnya saya membayar Rp300 ribu.

“Daripada masnya menunggu lama di Aikmel,” kata Faisal, pengemudi travel itu.

Saat lewat Aikmel untuk mengantar penumpang yang ingin menyeberang ke tambang batu hijau PT Newmont Nusa Tenggara, pada pukul 3 sore, memang terlihat tak ada lagi pick up sayur yang bisa ditumpangi ke Sembalun. Weh.

Maka, di awal perjalanan ini, jadilah saya turis yang berlagak terburu-buru dan menganggap uang bukan masalah. Saya menjadi bukan-backpacker-yang-mencari-serba-murah bahkan kalau-bisa-gratis. Apa boleh buat, saya adalah korban kesalahan perencanaan yang saya buat sendiri yang diawali dengan kesalahan memahami informasi.  Saya yang mengerjakan, saya yang merasakan.

Tetapi, saya juga mensyukurinya. Kalau tak demikian, saya tidak bisa berhenti sesuka hati, seperti menikmati sedikit pemandangan indah di Pusuk itu.

Jpeg
Faisal, sopir Innova yang mengantar saya ke Sembalun. Sesampai di Aikmel dari Mataram, Faisal minja izin mengajak anak-istrinya sekalian ikut ke Sembalun untuk berwisata. “Anak-anak suka buah berry,” katanya. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Mantap. Seperti kesimpulan Brian Thacker, tukang keluyuran  dari Australia yang  saya kenal kemudian, perjalanan itu sendiri sering memberi petualangan lebih seru ketimbang tempat yang dituju—yang salah satunya ditentukan dengan moda transportasi apa kita menuju.

Well, macam tu lah.

Nah, saya masih kaget setelah melapor di pos di Sembalun. Kali ini karena izin dan retribusi. Untuk 4 hari pendakian, ternyata cukup Rp20.000, alias Rp5.000 per hari. Informasi yang saya dapat, Balai Taman Nasional sudah menaikkan tarif menjadi Rp20.000 per hari untuk pendaki warga Indonesia dan Rp100.000 hari untuk warga asing.

“Sudah dikembalikan ke tarif awal,” kata seorang petugas. Menurut petugas itu, yang keberatan atas kenaikan itu terutama para pelaku wisata di Lombok sendiri. Di Rinjani ada porter, ada guide, dan ada pemilik atau operator biro perjalanan.  Harga izin yang mahal menyurutkan orang datang dan mendaki Rinjani. Bila begitu, penurunan pendapatan buat semua.

Administrasi pendakian juga menjadi longgar sekali. Saya mencatatkan nama dan alamat di buku tamu sambil mendengarkan penjelasan petugas. “Saya sarankan untuk istirahat saja dulu malam ini, baru mulai perjalanan besok,” kata Yudi, petugas itu. “Apalagi banyak jalan sapi yang bisa menyesatkan,” tambahnya.

Orang Sembalun menggembalakan sapi-sapi mereka hingga ke dekat Plawangan Sembalun di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. “Apakah saya wajib melapor lagi saat turun di Senaru nanti?” tanya saya. Yudi bilang boleh saja kalau mau melapor di Pos Senaru, yang ada di mulut gerbang pendakian dari Senaru. Boleh saja itu artinya tidak pun tak apa-apa.

Jadi, saya putuskan beristirahat dulu sebentar. Di seberang jalan depan balai-balai pendaki di halaman kantor Balai Taman Nasional itu ada warung kopi dan pisang goreng. Saya kembali ke balai-balai itu dengan segelas kopi hitam dan lima pisang goreng. Sekarang ada kawan baru, Ridho dan Arif dari Yogyakarta, dan si Mbah dari Malang. Si Mbah ini teman lama sewaktu mendaki Semeru—suatu kebetulan yang tak disangka-sangka.

“Selama masih ada gunung, dan selama masih naik gunung, insya Allah kita akan selalu ketemu,” tawa si Mbah. Masih sama seperti di Semeru, ia juga menjadi pemandu para pendaki dari Jakarta. Si Mbah tiba lebih dahulu dan sedang menunggu kawan-kawannya itu.

rodney1wind his hair
Pheninj Othate, atau Win in His Hair, prajurit Indian Sioux yang menjadi sahabat Letnan John Dunbar di film Dances With Wolves (Costner: 1990)

“Dan kamu selalu sendirian ya,” tawa si Mbah terus mengembang.  Penampilannya tak berubah, tetap dengan rambut lurus panjang ala Wind in His Hair (Angin di Rambutnya, Phehinj Othate,  tokoh Indian Sioux-Lakota dalam film Dances With Wolves), celana panjang kargo lusuh, kemeja flannel, serta kaus. Di pojok itu carrier ukuran sedang si Mbah.

Ridho dan Arif mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Ridho punya kemiripan 10 persen dengan Ridho Rhoma, anaknya Raden Haji Oma Irama itu. Ada pipi tembem, ada cambang, tapi tak pernah saya dengar selama perjalanan itu kemudian Ridho menyanyi. Bahkan bersiul pun tidak.

Arif dan Ridho tidak diburu waktu, tapi sepakat dengan saya untuk memulai perjalanan segera setelah mengaso sebentar ini.

“Mungkin kita bisa jalan sampai pukul 10 malam, mungkin sampai Pos 2,” kata Ridho. Setidaknya jalan di malam hari tak dihajar panas terik sabana.

Setelah berdoa sebentar, kami mulai jalan. Benar belaka kata petugas Taman Nasional itu, jalan bisa membingungkan bagi yang baru pertama kali lewat. Banyak percabangan, dan nyaris tidak ada petunjuk apa pun sepanjang jalan. Kami lalu bertemu seorang bapak yang memberi pesan sangat berguna, “jangan ambil jalan yang ke kiri.”

Meski begitu setiap kali kami bertemu persimpangan, terutama yang agak besar, tetap saja kami harus berhenti sebentar.  Akhirnya, setelah beberapa lama, saya meyakinkan diri bahwa jalan ini jalan yang benar, asal tidak ekstrem ke kiri.

Pukul delapan malam, setelah tikungan besar ke kiri, ya setelah tikungan besar ke kiri, saudara,  berdiri kaku gerbang Sembalun Lawang dari Taman Nasional Gunung Rinjani. Kami sudah berada di ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut. Mulai dari titik ini, saya perlahan meninggalkan Ridho dan Arif.

Jpeg
Bulan purnama di atas trek Sembalun. (ASUS ZENFONE 6/novi abdi)

Jalan pembuka menurun tajam, baru menanjak sedikit sampai ke ujung tikungan dan menanjak lagi di lereng bukit. Lalu padang terbuka luas di bawah bintang.

Bulan purnama ada di belakang saya, lampu-lampu Sembalun di sebelah kanan, dan itu dia, Rinjani di sebelah kiri dalam bayangan kelam yang lembut. Saya melihat lampu-lampu yang mendekat. Enam anak muda yang kurus rupanya dalam perjalanan turun. Saya merasa beruntung karena saat itu di depan saya begitu banyak percabangan jalan. Asal lampu anak-anak muda itu menjadi petunjuk bagi saya mana jalan yang benar di padang yang menyesatkan ini.

Bulan makin tinggi dan alam temaram. Saya terus melangkah, pelan, tapi pasti. Jalan menurun dan menikung lalu sampai di sungai yang kering, dan menanjak lagi setelah menyeberanginya. Saya melihat arloji, pukul setengah sepuluh malam. Saya dan dua kawan di belakang berarti sudah berjalan 4 jam, dan belum sampai juga di Pos 1.

Di peta panorama dari kantor Taman Nasional itu, juga dari cerita-cerita di blog, mereka hanya berjalan 2 jam dari tepi jalan aspal untuk sampai Pos 1. Saya yakin, itu pasti menurut langkah porter yang paling kuat dan paling cepat. Saya jadi meragukan diri sendiri. Betulkah kami menyusuri jalan yang benar? Apalagi jalan ini menurun, makin mendekat ke arah lampu-lampu Sembalun di bawah sana dan meninggalkan Rinjani di belakang? Apakah saya mengambil jalan yang salah dari beberapa pilihan persimpangan yang dilewati tadi?

Saya mendekati bibir jurang di kiri saya. Tak ada apa pun yang terlihat di bawah situ meski cahaya bulan bersinar terang. Saya merasa salah jalan. Ya Tuhan, ini belum lagi Pos 1, dan ini gunung yang dikunjungi turis setiap waktu, dan saya merasa tersesat, hanya karena sapi turut berkeliaran di gunung ini.

Saya kembali ke ujung tanjakan sekeluar sungai. Duduk di tepi jalan, minum, dan makan cokelat. Saya lepas carrier dan berjalan naik ke bukit. Sama sekali tak meyakinkan. Hanya jalan di bawah itulah satu-satunya jalan. Tapi kok menuju ke perkampungan?

Pukul 10 malam saya putuskan untuk istirahat dan bermalam. Saya kembali ke sungai kering dan ingat di atasnya ada rimbunan pohon yang tampak nyaman. Makan malam, tidur, istirahat, dan kita lihat besok di mana kita berada. Selesai menegakkan tenda, saya melihat dua lampu beriringan. Ridho dan Arif, dan rupanya mereka pun sama bingungnya dengan saya. Sebab itu, ajakan untuk istirahat dan bermalam di tikungan jalan itu tak ditolak. Apalagi setelah saya menyajikan biskuit dan milo hangat.

 ***

Tinggalkan komentar