SAHAM-SAHAM BUSANG
Saya membaca buku ini dalam semalam. Segera setelah mendapatkannya usai pelatihan yang melelahkan sore itu, saya mulai maraton melalap kata. Terus berlanjut dalam perjalanan ke bandara, menunggu masuk pesawat, 2 jam lebih kurang penerbangan ke Balikpapan, membacanya di bawah lampu merkuri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan dari bandara, dan kemudian hingga pukul dua dinihari di rumah.
Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi judul buku itu. Beberapa tahun belakangan ini, penulisnya kembali terkenal karena gemar mengatakan ‘mak nyuss’ usai mencicipi hidangan apa saja: Bondan Winarno.
Saya bertemu Pak Bondan, seingat saya, dalam 3-4 kali kesempatan berbeda di kota-kota berbeda. Dari itu, hanya 2 kali sempat ngobrol. Sekali sebagai jurnalis-nara sumber, dan satu kali lagi sebagai fans-idola.
Bondan pernah ke Balikpapan untuk menjadi juri lomba masakan dalam sebuah pameran di Lapangan Merdeka (bukan lomba masak, tapi lomba masakan—karena sudah disajikan dan kita tidak melihat bagaimana makanan itu dimasak). Pak Bondan bersama seorang ahli kuliner terkenal, dan seorang koki hebat di hotel terkenal di Balikpapan, berkeliling ke stand-stand peserta, mencicipi, memberi conteng di kertas yang mereka bawa, dan kemudian memberi keterangan pers.
Pada kesempatan lain, ketemu dan bicara-bicara singkat di bandara dalam perjalanan ke anjungan tempat menunggu pesawat, saya bilang kepadanya saya belum ketemu buku yang ditulisnya tahun 1997 itu. Saya juga bilang saya penggemar kolomnya di majalah Tempo sebelum majalah itu dibunuh pemerintah tahun 1994.
Bondan dalam perjalanan ke suatu kota untuk acara kuliner sebuah stasiun televisi. Seperti umumnya fans, saya sudah merasa tersanjung ia mau bersalaman, mendengarkan sebentar, memberi tanda tangan, dan mengucapkan harapan semoga kita semua sukses.
“Mungkin buku itu mas bisa dapatkan di perpustakaan, atau di beberapa LSM,” kata Bondan.
Setelah mendapatkan bukunya di acara pelatihan itu, saya baru tahu bahwa sesungguhnya buku itu tidak pernah mencapai pasar untuk dijual bebas. Bondan bercerita dalam lembar terpisah, bahwa seorang pejabat membeli ke-5.000 eksemplar cetakan pertama dan mengganti ongkos cetaknya plus biaya yang dikeluarkan Bondan untuk mengumpulkan fakta dan menuliskannya.
Buku yang ada pada saya, mungkin Bondan tak akan suka mendengarnya, saya dapat dengan menggandakan buku yang saya pinjam dari seorang teman.
***
Karena apa yang ditulisnya sebagai kolumnis di Tempo, saya kira dulu Bondan Winarno jurnalis untuk liputan ekonomi. Saya agak bingung sejenak ketika di pelatihan kami ia disebut sebagai jurnalis penyelidik paling handal yang pernah dimiliki Indonesia. Ternyata ia memang begitu, jurnalis yang biasa menyelidiki kasus-kasus ekonomi.
Pelatihan yang saya ikuti dulu itu memang pelatihan jurnalis investigasi. Yang mengadakan kawan-kawan di Transparency Internasional (TI). Oleh satu mentor kami di acara itu, Metta Dharmasaputra, saat itu masih bekerja untuk Koran Tempo, buku Bondan dijadikan karya klasik contoh bagaimana sebuah penyelidikan dilakukan, dan kemudian dituliskan.
“Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” adalah buku yang ditulisnya setelah menyelidiki, melakukan investigasi secara mendalam fraud, penipuan besar-besaran secara terancang dan sistematis dengan latar utama tambang emas Busang, jauh di pedalaman Kalimantan.
Awalnya sederhana. Seseorang mengaku menemukan cadangan emas terbesar di dunia di Busang, di hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Oleh John B Felderhof, geologis Bre-X, pada September 1993, disebutkan ia telah menemukan cadangan emas Busang dengan potensi hingga 2 juta ons emas.
Disitulah drama dimulai. Pengumuman itu membuat harga saham Bre-X melesat. Awalnya di Alberta Stock Exchange, Calgary, Canada yang saat mulai dicatatkan, sahamnya tak lebih dari 27 sen dolar Canada, bahkan pernah jatuh sampai hanya 2 sen.
Pengumuman potensi cebakan emas Busang membuat Bre-X bak gadis cantik seksi sekaligus mulai belajar jual mahal. Ajakan kerjasama oleh Barrick Gold Corporation dibuat tarik ulur sedemikian rupa sehingga membuat harga saham menjadi gurih.
Oktober 1995 Bre-X mengumumkan perhitungan potensi baru emas Busang, yaitu mencapai 30 juta ons emas.
April 1996, harga saham Bre-X yang suda dipindahkan ke Toronto Stock Exchange dari C$187,50 naik hingga C$192,50. Setelah harga saham naik sampai C$201,75, Bre-X memecah sahamnya. Satu saham lama menjadi 10 saham baru dengan harga juga menjadi sepersepuluhnya.
Harga saham 20,1 dolar Canada bertahan atau turun naik di sekitar angka itu terjadi sampai Februari 1997. Sampai sejumlah drama lagi terjadi. Pada 18 Maret 1997, geologis senior Bre-X berkebangsaan Filipina, Michael de Guzman, meloncat dari helikopter yang menerbangkannya dari Samarinda ke Busang. Mayatnya ditemukan 4 hari kemudian.
Sebelumnya sejumlah pihak yang ingin ikut bergabung atau diajak bergabung mengelola Busang, salah satunya adalah Freeport McMoran, ingin menguji sendiri kandungan emas Busang. Tentu ini prosedur standar, due diligence sebutannya.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Freeport menyebutkan kandungan emas Busang tidak ekonomis ditambang secara besar-besaran. Bre-X yang ingin ‘cuci tangan’ lalu menyewa Strathcona, surveyor independen berkredibilitas tinggi, untuk melakukan penelitian ulang. Penunjukan Strathcona sempat menahan penurunan harga saham. Namun, hasil dari Strathcona sama dengan laporan Freeport.
Saham Bre-X langsung melorot ke level C$16,25 per lembar. Freeport masih melanjutkan laporannya dan mengatakan selama ini Bre-X melebih-lebihkan (overstated) angka mengenai jumlah kandungan emas Busang.
Saham Bre-X terjun bebas hingga C$2,50. Bre-X kehilangan harga pasar hingga C$3 juta dalam 30 menit transaksi.
Drama belum berakhir. Tanggal 4 Mei 1997, Strathcona menyurati Bre-X, mengatakan bahwa sebenarnya di Busang tidak ada emas yang dijanjikan. Emas yang ada di inti bor yang selama ini dibawa ke laboratorium untuk diteliti, ternyata sengaja dibubuhkan belakangan. Inti bor itu dicemari (salted). Harga saham langsung terbanting hingga tinggal 8 sen dolar Canada. Seperti pukulan terakhir yang mematikan, karena tak ada lagi yang percaya, Toronto Stock Exchange melakukan delisting atas saham Bre-X atau mengeluarkannya dari daftar saham yang diperjualbelikan.
***
Saya kembali mengingat Bre-X dan sahamnya karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumpulkan kami sejumlah jurnalis di Balikpapan sekitar 3 pekan lalu. Dalam acara kumpul-kumpul itu, Arif Budiman, seorang Kepala Bagian di Direktorat Pengawasan Lembaga Efek menjelaskan apa dan bagaimana Pasar Modal atau Bursa Efek, satu hal yang menjadi obyek pengawasan OJK.
Sedemikian rupa Arif Budiman berusaha menyederhanakan soalan. Saya ingat kata-kata Einstein, orang pintar dan bijaksana membuat persoalan rumit menjadi mudah dicerna. Arif pun memulai dari yang paling sederhana, saham.
Saham adalah tanda keikutsertaan menanam modal pada sebuah usaha. Pada perusahaan atau perseroan tertutup, saham dibagi diantara sesama yang bersepakat untuk membuka usaha itu. Orang yang datang belakangan dan ingin turut menanam modal di usaha itu harus mendapat kesepakatan para pendiri.
Perusahaan terbuka membolehkan orang lain yang awalnya tidak terlibat untuk turut menanam modal seketika. Caranya, orang lain itu boleh membeli saham perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan yang bersangkutan, berarti turut memiliki perusahaan. Karena turut memiliki, bila perusahaan untung, berhak atas pembagian keuntungan. Begitu pula bila rugi, ikut pula menanggung rugi.
Selanjutnya tempat orang menjual saham, juga membeli saham, disebut pasar modal. Persis seperti pasar biasa. Uang yang didapat dari saham yang laku terjual, menjadi tambahan modal dari usaha. Karena itu pasar saham disebut juga pasar modal, dan memang salah satu tempat perusahaan mencari tambahan modal.
“Sampai sini ada pertanyaan?” tanya Arif pagi itu. Para jurnalis, dari berbagai media, berbagai usia, berbeda rentang pengalaman, laki-laki dan perempuan, tampak manggut-manggut. Sebagian yang duduk tepat di bawah semburan angin penyejuk udara, bersedekap melipat tangan di depan dada, kedinginan.
“Siapa yang menentukan harga saham?” seseorang bertanya.
Untuk penawaran perdana, artinya pertama kali dijual kepada publik, harga ditentukan terutama oleh kinerja dan aset perusahaan. Saya jadi ingat Bre-X saat pertama kali hadir di bursa saham Alberta Stock Exchange di Calgary, harga sahamnya hanya 27 sen dolar Canada.
“Lalu, mengapa harga itu turun naik, dan kelihatannya seru sehingga jadi pemberitaan, atau sebaliknya, pemberitaan menjadikannya seru,” seseorang melanjutkan bertanya.
Inilah rupanya yang menjadikan Pasar Modal khas. Karena nilai saham antara lain bergantung kepada kinerja dan aset perusahaan maka harganya bisa naik turun berdasarkan itu. Makin bagus kinerja perusahaan, artinya makin untung, makin mahal harga sahamnya. Makin mahal karena pasti makin banyak yang ingin punya saham itu karena ingin ikut kebagian untung.
Jadi hukum ekonomi biasa tentang supply and demand. Permintaan banyak, tapi pasokan tetap, maka tentu saja harga jadi naik.
Hal seperti itu tentu menarik media untuk dikabarkan. New York Times menulis tentang saham Bre-X dalam judul ‘Bre-X Has A Cinderella Story to Tell’.
Lalu ada faktor lain lagi. Karena tidak setiap pemilik saham bisa mengurusi sendiri sahamnya, maka pengurusannya diserahkan kepada orang lain. Mereka disebut pialang. Pialang inilah yang menjadi aktor utama di pasar modal. Ibarat pertandingan sepakbola, merekalah yang memainkan bola, yang membawanya menyerang dan mencetak gol, dan mungkin bertahan mati-matian juga.
Di Bre-X yang memainkan itu adalah CEO-nya, David Walsh, yang memang piawai soal goreng-menggoreng saham.
Lalu contoh permainan pialang diberikan Arif. Misalnya ada saham seharga Rp100. Setelah beberapa saat, seorang pialangnya, setelah analisis kinerja perusahaan, melihat laporan keuangan, juga melihat banyak faktor lain, termasuk jumlah permintaan akan saham itu, mau menjual sahamnya seharga Rp120.
“Dia tawarkan pagi pada sesi pembukaan pasar pertama, lalu mungkin ada yang tertarik, dibeli Rp120 untuk sekian lembar saham. Ternyata masih banyak yang ingin dan belum kebagian. Lalu pialang penjual pertama melihat, wah, mungkin kalau dijual Rp130 mungkin masih laku. Bisa juga yang beli dari pialang pertama tertarik untuk juga untuk menjual kembali saham yang baru dibelinya. Inilah yang disebut aksi ambil untung atau profit taking…”
Saya bisa membayangkan keriuhan pasar itu dari cara Arif menjelaskan, lengkap dengan wajah-wajah tegang yang menatap monitor besar di dinding, lalu sorak kemenangan seperti saat sebuah gol tercipta, kemudian senyum puas dan sukses.
Dengan cara itulah Bre-X mendapat untung ribuan dan jutaan dolar. Aksi goreng saham ditunjang laporan akan kinerja perusahaan, dalam hal ini potensi emas yang terkandung di dalam tanah Busang.
Keadan itu berlangsung selama 3 tahun. Saat harga saham di puncaknya, bos Bre-X, David Walsh, menjual sebagian kepemilikan sahamnya. Walsh yang menghabiskan modal terakhirnya sebesar C$10.000 untuk meninjau properti Busang pertama kali di tahun 1993, pun menjadi orang kaya raya. Demikian juga dengan Felderhof. Begitu pula dengan Michael de Guzman, geologis yang ‘bunuh diri’, yang punya empat istri dan rumah di mana-mana.
***
Begitulah kemungkinan yang bisa diberikan Pasar Modal. Nasib orang bisa mujur dan sial dalam jarak yang tidak lama. Bisa miskin dan kaya dalam sekejap mata.
Pada sisi lain, dalam kasus Bre-X itu, bursa saham di Alberta, dan kemudian otoritas Canada, dikecam karena begitu mudah memberi kesempatan sebuah perusahaan masuk pasar modal.
“Melihat kasus itu seperti itu, jadi gampang memahami keberadaan OJK,” kata Amir Syarifuddin, jurnalis Koran Kaltim yang rajin bertanya dalam kesempatan tersebut.
OJK, berkoordinasi dengan semua entitas pasar modal, Bursa Efek Indonesia selaku penyelenggara infrastruktur, dikawal lagi oleh KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) menguji semua hal tentang perusahaan yang ingin masuk bursa saham dan mengumpulkan dana masyarakat melalui penjualan sahamnya.
“Bahkan jangankan perusahaan yang mau listing, investor yang mau menanamkan uangnya saja di bursa kami minta menjelaskan dari mana asal uang yang digunakannya untuk berinvestasi. Kami tidak ingin jadi sarana pencucian uang,” tegas Andre PJ Toelle, Kepala Proyek Manajemen Divisi Teknologi Informasi Bursa Efek Indonesia.
Seperti Bondan bercerita detil, hingga bagaimana Bre-X mendapatkan Busang, dan catatan gigi dari de Guzman yang diyakinkan seperti mati bunuh diri dengan cara yang luar biasa dramatis: melompat dari helikopter yang terbang di ketinggian 850 meter dari permukaan tanah.
***
Pukul dua lewat beberapa menit saya selesai membaca buku itu. Saya merasa kenyang walaupun perut kosong. Bondan menjelaskan dan menceritakan lika-liku Bre-X, Busang, emas, keuntungan, dan nasib semua tokoh yang terlibat. Tak tersisa pertanyaan satu pun di benak saya.
Saya juga ingat, di akhir acara kumpul-kumpul dengan orang-orang OJK pun saya merasa kenyang. Arif Budiman, juga Nelson Siahaan, Imam Gozali, Boedi Armanto, dan yang lain-lain, termasuk Agus Sugiarto (Direktur Literasi dan Edukasi OJK, yang membuka dan menutup acara, dan menjuluki saya sebagai salah satu pemeran dalam serial televisi Mahabaratha), membanjiri kami dengan informasi.
Saya merasa seperti botol yang dituangi air seember. Penuh berlimpasan. ***