Month: September 2014
SAHAM-SAHAM BUSANG
Saya membaca buku ini dalam semalam. Segera setelah mendapatkannya usai pelatihan yang melelahkan sore itu, saya mulai maraton melalap kata. Terus berlanjut dalam perjalanan ke bandara, menunggu masuk pesawat, 2 jam lebih kurang penerbangan ke Balikpapan, membacanya di bawah lampu merkuri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan dari bandara, dan kemudian hingga pukul dua dinihari di rumah.
Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi judul buku itu. Beberapa tahun belakangan ini, penulisnya kembali terkenal karena gemar mengatakan ‘mak nyuss’ usai mencicipi hidangan apa saja: Bondan Winarno.
Saya bertemu Pak Bondan, seingat saya, dalam 3-4 kali kesempatan berbeda di kota-kota berbeda. Dari itu, hanya 2 kali sempat ngobrol. Sekali sebagai jurnalis-nara sumber, dan satu kali lagi sebagai fans-idola.
Bondan pernah ke Balikpapan untuk menjadi juri lomba masakan dalam sebuah pameran di Lapangan Merdeka (bukan lomba masak, tapi lomba masakan—karena sudah disajikan dan kita tidak melihat bagaimana makanan itu dimasak). Pak Bondan bersama seorang ahli kuliner terkenal, dan seorang koki hebat di hotel terkenal di Balikpapan, berkeliling ke stand-stand peserta, mencicipi, memberi conteng di kertas yang mereka bawa, dan kemudian memberi keterangan pers.
Pada kesempatan lain, ketemu dan bicara-bicara singkat di bandara dalam perjalanan ke anjungan tempat menunggu pesawat, saya bilang kepadanya saya belum ketemu buku yang ditulisnya tahun 1997 itu. Saya juga bilang saya penggemar kolomnya di majalah Tempo sebelum majalah itu dibunuh pemerintah tahun 1994.
Bondan dalam perjalanan ke suatu kota untuk acara kuliner sebuah stasiun televisi. Seperti umumnya fans, saya sudah merasa tersanjung ia mau bersalaman, mendengarkan sebentar, memberi tanda tangan, dan mengucapkan harapan semoga kita semua sukses.
“Mungkin buku itu mas bisa dapatkan di perpustakaan, atau di beberapa LSM,” kata Bondan.
Setelah mendapatkan bukunya di acara pelatihan itu, saya baru tahu bahwa sesungguhnya buku itu tidak pernah mencapai pasar untuk dijual bebas. Bondan bercerita dalam lembar terpisah, bahwa seorang pejabat membeli ke-5.000 eksemplar cetakan pertama dan mengganti ongkos cetaknya plus biaya yang dikeluarkan Bondan untuk mengumpulkan fakta dan menuliskannya.
Buku yang ada pada saya, mungkin Bondan tak akan suka mendengarnya, saya dapat dengan menggandakan buku yang saya pinjam dari seorang teman.
***
Karena apa yang ditulisnya sebagai kolumnis di Tempo, saya kira dulu Bondan Winarno jurnalis untuk liputan ekonomi. Saya agak bingung sejenak ketika di pelatihan kami ia disebut sebagai jurnalis penyelidik paling handal yang pernah dimiliki Indonesia. Ternyata ia memang begitu, jurnalis yang biasa menyelidiki kasus-kasus ekonomi.
Pelatihan yang saya ikuti dulu itu memang pelatihan jurnalis investigasi. Yang mengadakan kawan-kawan di Transparency Internasional (TI). Oleh satu mentor kami di acara itu, Metta Dharmasaputra, saat itu masih bekerja untuk Koran Tempo, buku Bondan dijadikan karya klasik contoh bagaimana sebuah penyelidikan dilakukan, dan kemudian dituliskan.
“Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” adalah buku yang ditulisnya setelah menyelidiki, melakukan investigasi secara mendalam fraud, penipuan besar-besaran secara terancang dan sistematis dengan latar utama tambang emas Busang, jauh di pedalaman Kalimantan.
Awalnya sederhana. Seseorang mengaku menemukan cadangan emas terbesar di dunia di Busang, di hulu Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Oleh John B Felderhof, geologis Bre-X, pada September 1993, disebutkan ia telah menemukan cadangan emas Busang dengan potensi hingga 2 juta ons emas.
Disitulah drama dimulai. Pengumuman itu membuat harga saham Bre-X melesat. Awalnya di Alberta Stock Exchange, Calgary, Canada yang saat mulai dicatatkan, sahamnya tak lebih dari 27 sen dolar Canada, bahkan pernah jatuh sampai hanya 2 sen.
Pengumuman potensi cebakan emas Busang membuat Bre-X bak gadis cantik seksi sekaligus mulai belajar jual mahal. Ajakan kerjasama oleh Barrick Gold Corporation dibuat tarik ulur sedemikian rupa sehingga membuat harga saham menjadi gurih.
Oktober 1995 Bre-X mengumumkan perhitungan potensi baru emas Busang, yaitu mencapai 30 juta ons emas.
April 1996, harga saham Bre-X yang suda dipindahkan ke Toronto Stock Exchange dari C$187,50 naik hingga C$192,50. Setelah harga saham naik sampai C$201,75, Bre-X memecah sahamnya. Satu saham lama menjadi 10 saham baru dengan harga juga menjadi sepersepuluhnya.
Harga saham 20,1 dolar Canada bertahan atau turun naik di sekitar angka itu terjadi sampai Februari 1997. Sampai sejumlah drama lagi terjadi. Pada 18 Maret 1997, geologis senior Bre-X berkebangsaan Filipina, Michael de Guzman, meloncat dari helikopter yang menerbangkannya dari Samarinda ke Busang. Mayatnya ditemukan 4 hari kemudian.
Sebelumnya sejumlah pihak yang ingin ikut bergabung atau diajak bergabung mengelola Busang, salah satunya adalah Freeport McMoran, ingin menguji sendiri kandungan emas Busang. Tentu ini prosedur standar, due diligence sebutannya.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Freeport menyebutkan kandungan emas Busang tidak ekonomis ditambang secara besar-besaran. Bre-X yang ingin ‘cuci tangan’ lalu menyewa Strathcona, surveyor independen berkredibilitas tinggi, untuk melakukan penelitian ulang. Penunjukan Strathcona sempat menahan penurunan harga saham. Namun, hasil dari Strathcona sama dengan laporan Freeport.
Saham Bre-X langsung melorot ke level C$16,25 per lembar. Freeport masih melanjutkan laporannya dan mengatakan selama ini Bre-X melebih-lebihkan (overstated) angka mengenai jumlah kandungan emas Busang.
Saham Bre-X terjun bebas hingga C$2,50. Bre-X kehilangan harga pasar hingga C$3 juta dalam 30 menit transaksi.
Drama belum berakhir. Tanggal 4 Mei 1997, Strathcona menyurati Bre-X, mengatakan bahwa sebenarnya di Busang tidak ada emas yang dijanjikan. Emas yang ada di inti bor yang selama ini dibawa ke laboratorium untuk diteliti, ternyata sengaja dibubuhkan belakangan. Inti bor itu dicemari (salted). Harga saham langsung terbanting hingga tinggal 8 sen dolar Canada. Seperti pukulan terakhir yang mematikan, karena tak ada lagi yang percaya, Toronto Stock Exchange melakukan delisting atas saham Bre-X atau mengeluarkannya dari daftar saham yang diperjualbelikan.
***
Saya kembali mengingat Bre-X dan sahamnya karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumpulkan kami sejumlah jurnalis di Balikpapan sekitar 3 pekan lalu. Dalam acara kumpul-kumpul itu, Arif Budiman, seorang Kepala Bagian di Direktorat Pengawasan Lembaga Efek menjelaskan apa dan bagaimana Pasar Modal atau Bursa Efek, satu hal yang menjadi obyek pengawasan OJK.
Sedemikian rupa Arif Budiman berusaha menyederhanakan soalan. Saya ingat kata-kata Einstein, orang pintar dan bijaksana membuat persoalan rumit menjadi mudah dicerna. Arif pun memulai dari yang paling sederhana, saham.
Saham adalah tanda keikutsertaan menanam modal pada sebuah usaha. Pada perusahaan atau perseroan tertutup, saham dibagi diantara sesama yang bersepakat untuk membuka usaha itu. Orang yang datang belakangan dan ingin turut menanam modal di usaha itu harus mendapat kesepakatan para pendiri.
Perusahaan terbuka membolehkan orang lain yang awalnya tidak terlibat untuk turut menanam modal seketika. Caranya, orang lain itu boleh membeli saham perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan yang bersangkutan, berarti turut memiliki perusahaan. Karena turut memiliki, bila perusahaan untung, berhak atas pembagian keuntungan. Begitu pula bila rugi, ikut pula menanggung rugi.
Selanjutnya tempat orang menjual saham, juga membeli saham, disebut pasar modal. Persis seperti pasar biasa. Uang yang didapat dari saham yang laku terjual, menjadi tambahan modal dari usaha. Karena itu pasar saham disebut juga pasar modal, dan memang salah satu tempat perusahaan mencari tambahan modal.
“Sampai sini ada pertanyaan?” tanya Arif pagi itu. Para jurnalis, dari berbagai media, berbagai usia, berbeda rentang pengalaman, laki-laki dan perempuan, tampak manggut-manggut. Sebagian yang duduk tepat di bawah semburan angin penyejuk udara, bersedekap melipat tangan di depan dada, kedinginan.
“Siapa yang menentukan harga saham?” seseorang bertanya.
Untuk penawaran perdana, artinya pertama kali dijual kepada publik, harga ditentukan terutama oleh kinerja dan aset perusahaan. Saya jadi ingat Bre-X saat pertama kali hadir di bursa saham Alberta Stock Exchange di Calgary, harga sahamnya hanya 27 sen dolar Canada.
“Lalu, mengapa harga itu turun naik, dan kelihatannya seru sehingga jadi pemberitaan, atau sebaliknya, pemberitaan menjadikannya seru,” seseorang melanjutkan bertanya.
Inilah rupanya yang menjadikan Pasar Modal khas. Karena nilai saham antara lain bergantung kepada kinerja dan aset perusahaan maka harganya bisa naik turun berdasarkan itu. Makin bagus kinerja perusahaan, artinya makin untung, makin mahal harga sahamnya. Makin mahal karena pasti makin banyak yang ingin punya saham itu karena ingin ikut kebagian untung.
Jadi hukum ekonomi biasa tentang supply and demand. Permintaan banyak, tapi pasokan tetap, maka tentu saja harga jadi naik.
Hal seperti itu tentu menarik media untuk dikabarkan. New York Times menulis tentang saham Bre-X dalam judul ‘Bre-X Has A Cinderella Story to Tell’.
Lalu ada faktor lain lagi. Karena tidak setiap pemilik saham bisa mengurusi sendiri sahamnya, maka pengurusannya diserahkan kepada orang lain. Mereka disebut pialang. Pialang inilah yang menjadi aktor utama di pasar modal. Ibarat pertandingan sepakbola, merekalah yang memainkan bola, yang membawanya menyerang dan mencetak gol, dan mungkin bertahan mati-matian juga.
Di Bre-X yang memainkan itu adalah CEO-nya, David Walsh, yang memang piawai soal goreng-menggoreng saham.
Lalu contoh permainan pialang diberikan Arif. Misalnya ada saham seharga Rp100. Setelah beberapa saat, seorang pialangnya, setelah analisis kinerja perusahaan, melihat laporan keuangan, juga melihat banyak faktor lain, termasuk jumlah permintaan akan saham itu, mau menjual sahamnya seharga Rp120.
“Dia tawarkan pagi pada sesi pembukaan pasar pertama, lalu mungkin ada yang tertarik, dibeli Rp120 untuk sekian lembar saham. Ternyata masih banyak yang ingin dan belum kebagian. Lalu pialang penjual pertama melihat, wah, mungkin kalau dijual Rp130 mungkin masih laku. Bisa juga yang beli dari pialang pertama tertarik untuk juga untuk menjual kembali saham yang baru dibelinya. Inilah yang disebut aksi ambil untung atau profit taking…”
Saya bisa membayangkan keriuhan pasar itu dari cara Arif menjelaskan, lengkap dengan wajah-wajah tegang yang menatap monitor besar di dinding, lalu sorak kemenangan seperti saat sebuah gol tercipta, kemudian senyum puas dan sukses.
Dengan cara itulah Bre-X mendapat untung ribuan dan jutaan dolar. Aksi goreng saham ditunjang laporan akan kinerja perusahaan, dalam hal ini potensi emas yang terkandung di dalam tanah Busang.
Keadan itu berlangsung selama 3 tahun. Saat harga saham di puncaknya, bos Bre-X, David Walsh, menjual sebagian kepemilikan sahamnya. Walsh yang menghabiskan modal terakhirnya sebesar C$10.000 untuk meninjau properti Busang pertama kali di tahun 1993, pun menjadi orang kaya raya. Demikian juga dengan Felderhof. Begitu pula dengan Michael de Guzman, geologis yang ‘bunuh diri’, yang punya empat istri dan rumah di mana-mana.
***
Begitulah kemungkinan yang bisa diberikan Pasar Modal. Nasib orang bisa mujur dan sial dalam jarak yang tidak lama. Bisa miskin dan kaya dalam sekejap mata.
Pada sisi lain, dalam kasus Bre-X itu, bursa saham di Alberta, dan kemudian otoritas Canada, dikecam karena begitu mudah memberi kesempatan sebuah perusahaan masuk pasar modal.
“Melihat kasus itu seperti itu, jadi gampang memahami keberadaan OJK,” kata Amir Syarifuddin, jurnalis Koran Kaltim yang rajin bertanya dalam kesempatan tersebut.
OJK, berkoordinasi dengan semua entitas pasar modal, Bursa Efek Indonesia selaku penyelenggara infrastruktur, dikawal lagi oleh KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) menguji semua hal tentang perusahaan yang ingin masuk bursa saham dan mengumpulkan dana masyarakat melalui penjualan sahamnya.
“Bahkan jangankan perusahaan yang mau listing, investor yang mau menanamkan uangnya saja di bursa kami minta menjelaskan dari mana asal uang yang digunakannya untuk berinvestasi. Kami tidak ingin jadi sarana pencucian uang,” tegas Andre PJ Toelle, Kepala Proyek Manajemen Divisi Teknologi Informasi Bursa Efek Indonesia.
Seperti Bondan bercerita detil, hingga bagaimana Bre-X mendapatkan Busang, dan catatan gigi dari de Guzman yang diyakinkan seperti mati bunuh diri dengan cara yang luar biasa dramatis: melompat dari helikopter yang terbang di ketinggian 850 meter dari permukaan tanah.
***
Pukul dua lewat beberapa menit saya selesai membaca buku itu. Saya merasa kenyang walaupun perut kosong. Bondan menjelaskan dan menceritakan lika-liku Bre-X, Busang, emas, keuntungan, dan nasib semua tokoh yang terlibat. Tak tersisa pertanyaan satu pun di benak saya.
Saya juga ingat, di akhir acara kumpul-kumpul dengan orang-orang OJK pun saya merasa kenyang. Arif Budiman, juga Nelson Siahaan, Imam Gozali, Boedi Armanto, dan yang lain-lain, termasuk Agus Sugiarto (Direktur Literasi dan Edukasi OJK, yang membuka dan menutup acara, dan menjuluki saya sebagai salah satu pemeran dalam serial televisi Mahabaratha), membanjiri kami dengan informasi.
Saya merasa seperti botol yang dituangi air seember. Penuh berlimpasan. ***
Laskar Pelangi di Batas Negeri

Ini reblog dari kisah Cerita Sungai, Merah Putih, Rumput Hijau, dan Langit Biru yang panjangnya bikis stress itu, hehehe. Saya tampilkan lagi dengan tambahan banyak foto dan cerita panjangnya dibagi dalam empat tampilan. Ini yang pertama.
Dengan suara yang ramai dan melengking nyaring, lagu Indonesia Raya dinyanyikan para murid yang mungil, berseragam putih merah, dan berbaris berjajar di depan kelasnya di Kamis pagi di akhir Oktober. Suara mereka tak kompak, tapi lantang dan penuh semangat.
Rombongan Indonesia 4X4 Expedition to Border yang baru tiba sesaat sebelumnya pun berdiri tegak di samping mobil masing-masing. Sedemikian rupa mobil disusun hingga berderet rapi di halaman sekolah yang luas, halaman yang bertanah merah dan berpasir putih.
Mat Ali Chandra dari Kalimantan Barat yang mengemudi Suzuki Vitara berkode Expedition to Border (EB) 10, tak terasa menggerakkan bibir dan ikut bernyanyi. Suara berat Bang Ali menjadi latar dari nyaring suara 60-an murid-murid sekolahan di Kecamatan Simenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tersebut.
Reza Kamal, dokter kandungan yang menjulang setinggi hampir 190 cm dari Jawa Barat di mobil Toyota Land Cruiser HJ 60 yang kalau bercanda gak ketulungan pun bisa serius. Reza berdiri tegak di samping mobilnya dan ikut menyanyi.
Setelah Indonesia Raya, dinyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku, lagu penuh semangat ciptaan Ibu Sud.
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa
Tak gentar hatiku melawan rintangan, tak goyah jiwaku berkorban, …
Inilah SD Filial 01 Tabur Lestari. Hanya ada 4 kelas di sini, kelas satu sampai kelas empat. Setiap kelas punya murid 12-15 orang. Setiap dua atau tiga orang, mereka berbagi satu meja dan satu bangku panjang.

“Sementara gedungnya ya begini, semoga gedung yang sedang dibangun di sebelah cepat selesai,” kata Bu Rahmi, guru kelas satu (yang juga guru kelas dua, kelas tiga, dan kelas empat sekaligus).
“Yah sedikit lebih baik daripada SD Muhammadiyah di film Laskar Pelangi,” tambah Rahmi seraya tersenyum. Bu Rahmi bersama anak-anak sudah menonton film yang menggelorakan semangat itu lewat dvd.
Seperti Pak Guru Basri yang mengundurkan diri dan setengah kabur dari SD Muhammadiyah di film itu, di Tabur Lestari, masalahnya bukan gedung sekolah atau siswa yang tak sekolah, tapi guru yang tidak betah.
“Setidak-tidaknya, sekolah ini tidak dijadikan kandang kambing,” komentar Bekti Sugiri, driver EB 11 dari Kalimantan Barat yang memang bermulut cabai. Di cerita dan film Laskar Pelangi, sekolah Ikal dan Lintang memang jadi kandang kambing, terutama bila hari hujan.
Gedung yang ditempat sekarang dibangun dari papan-papan kayu dengan atap seng. Lantainya dari semen yang dicor. Kelas-kelas dibuat dengan membuat dinding penyekat ruangan dari kayu yang kasar tak diserut. Keributan dari kelas satu bisa terdengar hingga ke kelas empat.
Gedung baru yang di sebelah dibuat dari batu dan semen. Tiang-tiang kolom untuk memasukkan semen berdiri tegak dengan hiasan besi-besi beton.

Tim menurunkan muatan truk yang sedari tadi sudah menunggu dibongkar. Ada buku-buku tulis, pensil dan bolpoin, dan kotak pensil warna-warni bergambar si burung pemarah, serta berlusin-lusin bendera merah putih. Kotak-kotak berisi obat-obatan sudah terlebih dahulu dipisahkan dan diturunkan.
Bakti sosial pengobatan dimulai pukul 10.00 tepat. Dokter kami, dokter spesialis jalan-jalan dari mobil EB 01, dr Silverius Purba mulai memeriksa para pasiennya setelah mengatur siapa yang membantu di meja penerima pasien di depan, siapa yang menjaga giliran diperiksa, dan yang paling penting, siapa yang mengurus apotek dadakan yang keren itu.
Pasien terakhir dari kalangan siswa, sebelum dokter melayani masyarakat umum adalah gadis cilik berusia 10 tahun. Dari dokter Reza yang turut membantu dokter Silver ia disuruh minta obat pinter matematika di apotek.

“Dok, obat apa itu?” teriak Ronal dari EB 13 di apotek di kelas satu kepada dokter Reza di ruang periksa di kelas dua. Pertanyaan yang disambut tawa ngakak dari sebelah dan tatapan bingung si kecil cantik Nur yang baru saja menyerahkan resep kepada Ronal.
***
Perlu waktu lima hari bagi Tim Indonesia 4X4 Expedition to Border North-East Borneo 2013 untuk mencapai Tabur Lestari, tempat bakti sosial pengobatan dan pembagian peralatan sekolah serta bendera merah putih itu.

“Jalannya nyaris membosankan seandainya tak ada pemandangan hutan yang terlihat masih lestari atau kebun-kebun sawit yang rapi,” komentar Hendrik Somantri, mekanik dari Subang yang jadi bagian EB 07.
Dari Balikpapan di selatan hari Sabtu (26/10) hingga Kamis (31/10) pagi di Pos Gabungan Indonesia-Malaysia (Gabma), tim melewati jalan aspal dalam berbagai kondisi. Mulus sampai Samarinda, mulus banget tapi bopeng-bopeng hingga Bontang dan Sangatta, jalan tambang dan kebun sawit sampai Rantau Pulung, jalan tanah, jalan beton, jalan aspal mulus sampai Muara Wahau, hal yang sama sampai Tanjung Redeb-Berau, dan berulang lagi antara Tanjung Selor-Bulungan, dan Malinau.
Setelah Sangatta di Kutai Timur, jalan mulus hanya menjelang ibukota kabupaten, dan hilang lagi setelah melewatinya. Mendekati perbatasan Indonesia-Malaysia, jalan-jalan tanah dengan perkerasan laterit mendominasi, dan sedikit aspal di depan helipad Pos Gabma.
“Nanti habis pengobatan ini, mungkin kita baru ada offroad sedikit,” kata Insuhendang, surveyor tim. Jalan ke Pos Siluman adalah jalan bekas perusahaan penebangan kayu dengan kontur naik turun. Seperti biasa, jalan seperti itu juga rawan longsor dan penuh tanah liat yang licin bila hujan.
Tim yang bosan pun mulai bersemangat kembali.
“Kalau hujan bisa lebih seru tuh,” celutuk seseorang.
Pukul 13.00, pengobatan selesai, dan setelah makan siang dan berkemas, pukul 14.00 perjalanan mengantar logistik (beras dan lauk pauk) untuk para prajurit ke tempat bakti sosial berikutnya, yaitu Pos Siluman TNI dimulai. Sampai satu jam berikutnya, apa yang disampaikan Insu belum tampak.
Baru sekitar pukul 16.00 tim menemui rintangan pertamanya. Bukan lumpur lengket dan jalan jelek. Bukan pula tanjakan terjal licin. Jalan laterit mulus lurus, tapi melintang di tengahnya sebatang raksasa yang tumbang.
Winch pun mulai dimainkan. Pohon itu ditarik ke belakang untuk memberi ruang dan sedikit jalan. 15 menit beres.

Tapi sesudah ini, apa yang dikatakan Insu mulai menjadi kenyataan. Tanjakan dan turunan terjal bermunculan. Pukul 17.00, tanjakan terjal yang dibelah alur air tersaji di depan mata. Tidak ada pohon besar di kiri dan kanan di hutan yang sudah habis ditebang ini.
EB 09, sebuah Land Rover Defender yang dikemudikan Aditya Karma, kehilangan momentum dan kepentok di awal tanjakan. Mesin menggeram dan roda berputar, tapi mobil tak bergerak karena ban kehilangan daya cengkeram di tanah yang licin.
Perjalanan masih jauh, mobil tak boleh dipaksa. Saatnya winch diulur kembali.
Hingga menjelang magrib, tersisa EB 05, Range Rover yang dikemudikan Krishna Anggakusumah, Kalimantan Selatan, yang masih di awal tanjakan. EB 05 yang dikira baik-baik saja, ternyata perlu pertolongan dari 3 mobil di atasnya, EB 07, EB 14 Toyota Land Cruiser FJ 45 (Tablo dan Wito dari Surabaya, Jatim) dan EB 12 Chevrolet Trooper (Firman dan Dhimas, Jawa Timur).
“Kita rangkai saja dengan strap dan maju bersama,” kata Reza Kamal, yang paling senior dari semua yang ada di tim paling belakang.

Strategi itu berhasil, menjelang waktu salat Isya, sebelas mobil berkumpul di satu titik diantara jalan masuk dan Pos Sinyal-Pos Siluman. Camp pun didirikan untuk menikmati malam kedua di bawah langit dan bintang-bintang.
“Pak Rahadian, Pak Roesman, dan Pak Syamsu sedikit lebih jauh di depan kita,” kata Greeffion Kamil, satu dari pemimpin kolektif Indonesia 4X4 Expedition.
Rahadian Mahendra mengemudikan EB 02 Land Rover hybrid berbasis Series, Jenderal Purn Roesmanhadi dengan EB 03 Land Rover Defender short, dan Syamsu Setiabudhi, dengan EB 01 Land Rover Defender yang sudah dibuat pendek.
Lepas tengah malam Jumat (1/11) hujan lebat mendera camp dan jalan. Apa yang diharapkan celutukan pun jadi kenyataan.
***

Pagi pukul 08.00, saat jalan masih lunak, perjalanan mengantar logistik dimulai kembali. EB 06, sebuah Toyota Hilux, double cabin keluaran terbaru berpelat BL 8000 gress dari Aceh yang ditumpangi Greeffion Kamil, Insuhendang, Vendry Kamil, dengan driver Sapto Wibowo alias Bowo membuka trek di tanjakan licin.
Dengan merentang winch segera menyusul EB 05, EB 10 dan EB 11 para Vitara dari Pontianak, Kalimantan Barat, lalu EB 09 Jeep Cherokee Adi Santosa-Ika Kartika-Eko, dan Defender 08. Di jalan yang sudah kering, melenggang santai tanpa winch EB 15 Taft Rugger yang dikemudikan el commandante ‘Alex’ Musni Hafas dan co driver Anwar Noeh. Mengikuti di belakangnya tiga sekawan tak terpisahkan, EB 07, EB 14, dan EB 12—juga mulus tanpa harus mengulur winch.
Matahari mulai tinggi dan jalan mulai bersahabat. Tanjakan-tanjakan tinggi pun bisa dinikmati. Mobil-mobil disusun untuk konvoi, lampu-lampu depan dinyalakan. Ketika tim terhenti lagi menjelang makan siang oleh satu tanjakan terjal, kerjasama yang mulai padu membuat halangan itu cepat dilewati.
Pos Sinyal, sebuah pos bayangan 45 menit sebelum Pos Siluman pun dicapai setelah waktu salat Jumat. Tim istirahat makan siang dan muatan logistik untuk Pos diturunkan.
“Dari sini, kita bisa lanjut sedikit ke depan, setelah itu tak bisa lagi lewat karena jembatan rusak. Perjalanan mengantar logistik ini harus dilanjutkan dengan jalan kaki,” kata Fion, panggilan akrab Greeffion Kamil.
