Wilee and Me

Posted on

Untuk Lukas Adi Prasetya, Greg Le Mond, dan Queen, tentu saja: “Bicycle Race”, please.

(Oh, tulisan sesuka hati ini panjangnya 3.032 kata. Jadi, seperti balapan sepeda Tour de France, akan menguras stamina—juga waktu. Juga ada sejumlah adegan dewasa. Kebijakan pemirsa diperlukan, hehehe. Be wise with that).

Nonton film Premium Rush? Ini film keluaran Agustus 2012, jadi belum terlalu lama lah. Pertama nonton saya bagai terpaku di tempat duduk. Film itu, hehehe, saya banget. Kemana-mana ngebut pakai sepeda. Yah, setidaknya, saya yang dulu, 30-20 tahun yang lalu, hehehe.

Premium Rush adalah film tentang para pengantar pesan dan barang dengan bersepeda di Manhattan, New York. Mereka mengantar surat, paket kecil, dengan janji sampai dalam hitungan jam. Makanya disebut ‘premium rush’. Itu juga jadi nama biro antaran tempat kerja Wilee (bacanya wayli, [wa;y;li].

Memang beda dengan tukang pos dulu yang juga khas dengan sepeda dan bel-nya yang kring-kring. Wilee (Joseph Gordon-Levitt) dan teman-temannya adalah alternatif. Mereka bukan menggunakan sepeda ontel dengan tas paket dan surat di bagasi dan berseragam, lalu mengayuh tenang menyusuri jalan sambil mengenakan topi dan tersenyum.

Mereka mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ride like a hell, kata posternya. Kata narrator (suara pencerita yang Anda dengar di dalam film) Wilee bahkan tidak memasang rem di sepedanya.

Dalam belantara kota yang jalan-jalannya penuh mobil dan kemacetan, bersepeda ternyata lebih cepat. Selain kecepatan sepeda bisa cukup tinggi bila ditunggang orang yang terlatih, bersepeda bisa menjadi lebih cepat karena ia tetap bisa jalan dengan menyelipkan diri diantara antrean mobil di tengah kemacetan, bisa melawan arah di jalah satu arah, bisa tetap ngebut di trotoar atau di taman (ini melanggar hukum-karena itu Wilee dikejar-kejar polisi yang juga bersepeda).

Maka meski bayarannya ‘hanya’ 70 dolar sehari (lebih kurang Rp700 ribu, boi—mau juga sayah, hahaha) Wilee mengayuh sepedanya dengan kenekatan melebihi orang gila mabuk.

Menurut Wilee sambil memeluk Vanessa, pacarnya yang berwarna cokelat dengan pipi payudara yang ranum—memang bukan semata karena bayaran ia bersepeda seperti itu. Ia menikmati hidupnya di atas sadel dan mengayuh sepedanya. Meski ia kuliah di Sekolah Hukum, daripada jadi pengacara yang kelimis dan wangi, katanya, ia lebih suka menantang maut begitu.

Barangkali seperti pembalap MotoGP Valentino Rossi saat masa jayanya—dan sampai hari ini juga—walau kini ia sudah agak jarang naik podium di MotoGP.

Itu pilihan saja. Para pengacara tak perlu tersinggung apalagi menuntut seperti Prabowo-Hatta, hehehe. Apalagi para pengacara, hakim, jaksa, polisi sudah punya banyak film yang bagus-bagus. Saya baru kali itu lagi nonton film tentang pengantar pesan. Selainnya ada The Postman, film Kevin Costner tahun 90-an. The Book of Eli-nya Denzel Washington barangkali juga bisa dimasukkan. Mungkin masih ada film-film lain, tapi tak banyak.

Jadi, sesuai namanya, dari awal sampai akhir film Premium Rush penuh adegan ngebut dengan sepeda. Lengkap juga dengan kejar-kejaran, kecelakaan, dan akrobat. Karena itu juga Wilee dan kawan-kawannya berpenampilan dan berkostum bak atlet: tegap dengan badan berisi, celana ketat, mengenakan helm, dan selalu berkeringat. Mereka juga gigih dan pantang menyerah.

Penulis skenario dan sutradara David Koepp membuat dan memberi makna setiap adegan dalam latar kehidupan manusia sehari-hari. Ada persaingan antarlelaki, antarrekan kerja, pertengkaran kekasih, dedikasi semangat kerja militan, mahasiswa pemalas, persaudaraan—baik antarsesama pengantar bersepeda maupun sesama manusia.

Tentu ada juga tokoh jahatnya, yaitu seorang polisi yang kecanduan judi dan sedang berutang banyak. Paket kecil tanda terima uang yang jadi antaran Wilee jadi incaran polisi ini—dengan alasan cara pengiriman uang seperti itu ilegal.

Di situlah kejar-kejarannya. Di situ juga balapannya. Setelah dihajar rekan-rekan Wilee para pengantar bersepeda, polisi ini akhirnya tewas ditembak oleh seseorang yang tak disangka-sangka.

Cara bercerita Koep juga asik. Tidak lurus linear awal sampai akhir. Tapi bolak balik. Ada jam digital yang berdetik sebagai penanda waktu. Barulah seperti kisah Kho Ping Hoo, semua cerita berkumpul di klimaks di bagian akhir. Dan sekali lagi kebaikan menang atas kejahatan.

***

Levitt pasti harus berlatih keras untuk bisa menunggang sepeda Wilee. Sepeda Wilee adalah sepeda fixie, sepeda balap rangka baja yang ‘berat’ untuk ukuran sepeda balap. Sepeda fixie menjadi khas karena ‘fix’ alias tanpa persnelling dan ‘tanpa’ rem. Pemakainya harus mengayuh terus menerus karena selama sepeda jalan gir akan terus berputar. Demikian pula sebaliknya.

Alternatif dari sepeda fixie dengan gir yang terkunci itu adalah freewheel, atau gir bebas. Anda bisa berhenti mengayuh sementara sepeda tetap jalan.

Untuk sepeda fixie-nya ini, Wilee memasang gir 54 pada pedal dan roda gigi 12 mata sehingga kayuhan awal pasti berat. Sebab itu Wilee bila tidak terlebih dahulu mendorong sepedanya, memulai dengan berdiri di atas pedal.

Keuntungan kombinasi ini adalah setelah sepeda meluncur di jalanan, terutama di jalanan mulus datar seperti di New York. Sedikit kayuhan saja, kecepatan sudah didapat. Nyaris tidak ada tenaga terbuang. Sepeda fixie juga bisa dipakai buat atraksi karena bisa jalan mundur. Adegan Wilee kabur pertama kali dari halaman kampus Nima menggunakan teknik ini.

Tapi ya itu, memulainya berat. Di Balikpapan, kombinasi ini hanya cocok dipakai di jalan sepanjang pantai, dari Kampung Baru Ujung hingga Teritip. Penggemar sepeda fixie di Balikpapan, anak-anak muda itu, suka mengecat sepeda mereka warna-warni. Tapi tak pernah saya melihat mereka balapan dengan sepeda itu.

Untuk menambah aerodinamis, Wilee menggunakan setang tanduk, setang sepeda balap modern sekarang yang membuat pemakainya menunduk mengurangi hambatan angin.

Walaupun oleh narrator disebutkan sepeda Wilee tidak memakai rem, sesungguhnya tetap ada sistem pengereman di sepeda itu. Seperti sepeda roda satu untuk akrobat, sepeda fixie menggunakan sistem doltrap. Cara mengeremnya, cukup tahan pedal, maka roda belakang akan berhenti berputar. Kalau jalan sepeda pelan tentu tak masalah. Kalau lagi ngebut, diperlukan tenaga otot yang besar untuk menghentikan sepeda doltrap yang melaju seperti itu.

Maka setelah sepedanya melaju kencang, cara Wilee bersepeda mirip orang mau bunuh diri.

Rem doltrap sering dikira rem tromol. Teknologi keduanya memang seumur, yaitu sudah ada sejak awal sepeda diciptakan. Di Indonesia rem tromol terkenal dengan merek Tornado—sehingga kemudian disebut rem tornado. Kakek-nenek Anda pasti tahu.

Sama seperti rem doltrap, memakai rem tromol perlu keahlian tersendiri. Bedanya, bila doltrap membuat Anda terus menerus mengayuh tanpa henti, tromol masih mengizinkan Anda ‘coasting’ mengistirahatkan kaki di atas pedal sementara roda belakang tetap berputar. Pengereman baru terjadi bila Anda mengayuh ke belakang.

Nah, bila ngebut terutama, setiap kali mengerem, baik dengan doltrap ataupun tromol, kita akan mendapati roda belakang yang terkunci—namun sepeda tetap meluncur sebab gaya lebam dorongan. Kalau tak biasa, Anda akan terjungkal. Kalau sudah ahli, Anda bisa membuat para cewek menjerit kagum.

Ada juga Manny—teman dan saingan Wilee—yang berotot dan serba kebalikan dari Wilee dalam hal sepeda—sepedanya sepeda balap rangka komposit yang ringan dengan persnelling 5 tingkat. Atau pacar Wilee, Vanessa yang menggunakan ATB (all terrain bike, sepeda segala medan dengan ban telapak lebar).

Sepedanya Pak Polisi yang gigih itu juga ATB. Ia tangguh, tapi kurang latihan—dan seperti biasa, terhambat aturan-aturan. Oh, ini polisi yang lain, bukan yang jahat tadi.

***

Tiga empat tahun terakhir ini, sejumlah kawan, baik yang dari Total Indonesie, Chevron Indonesia Company, Pertamina, dan beberapa yang lain gemar bike to work—bersepeda ke kantor.

Berbeda dari Wilee yang bersepeda betul-betul untuk mencari nafkah, mereka tampaknya digerakkan oleh kesadaran bahwa bersepeda itu menyehatkan badan dan bisa menghemat banyak isi dompet atau rekening di bank.

Bagi mereka ini juga bagian dari kampanye hemat energi. Tentu bagus buat contoh sebab merekalah yang mengeluarkan minyak dan gas itu dari perut bumi.

Selain bike to work, warga Kota Minyak bersepeda setiap ada waktu dan kesempatan dan kemana saja mereka mau. Di perumahan yang luas seperti Balikpapan Baru, warga bersepeda untuk pergi ke toko swalayan.
Ada yang sekedar memutari Lapangan Merdeka setiap hari Minggu atau keliling komplek sesempatnya. Ada yang senang bersepeda di jalan raya jarak jauh hingga Km 50 Jalan Soekarno-Hatta atau menyusuri jalan datar hingga Lamaru. Banyak pula yang ekstrem dengan sepeda lintas alam, mengikuti trek gunung hutan pantai yang memang terhampar melimpah di Balikpapan.

Ada yang bersepeda bersama keluarga, teman dekat, teman tidak dekat, kawan kantor seperti tadi, atau kawan kenal di acara sepedaan itu juga.

Ada yang kemudian membuat klub sepeda. Biasanya berdasar gaya dan kebiasaan naik sepeda.

Karena Orang Kaltim cukup banyak yang kaya raya dan suka bergaya, ada yang sepedaan ke Singapura. Saya tidak tahu untuk apa—mungkin ya untuk bergaya saja, yaitu mau menunjukkan saja bahwa di Balikpapan masih banyak orang yang bisa naik sepeda dan sanggup beli sepeda, hehehe—sebab mereka ada yang pakai sepeda seharga Rp40-50-60 juta—yang rangkanya dari bahan komposit seperti punya Manny sehingga sebab ringannya bisa diangkat dengan satu jari.

Atau kepingin merasakan jalan mulus datar yang memang tidak banyak di Kota Minyak. Atau dihargai karena mematuhi peraturan, …—ini mungkin orang Samarinda yang turut program wisata sepedaan itu dari Balikpapan.

Atau ingin merasakan sensasi disemprit polisi atau ditilang atau didenda karena buang sampah sembarangan.

Ada juga yang ke Gunung Bromo. Beramai-ramai dalam rombongan satu pesawat. Sepedanya menyewa di Malang. Ceritanya menyenangkan, tentang melihat pemandangan matahari terbit, tentang dingin, tanjakan, hingga medan yang terlalu berat bagi orangtua dan seharusnya panitia menyediakan beberapa trek berdasar tingkat kesulitan untuk pilihan.

Soal harga sepeda, jangan kaget. Perusahaan otomotif terkenal Ferrari dan Mercedes Benz juga bikin sepeda yang harganya lebih kurang 16.000 dolar lebih, alias Rp150 jutaan. Di Indonesia, kata dealer Mercy di Jakarta, laku 4 unit sebulan.

Tapi tenang aja, semahal apa pun sepeda itu, ia tetap baru jalan kalau pedalnya dikayuh.

***

Apa pun tipe dan gaya bersepedanya, sudah saya lalui semua. Mulai karena gaya dan gengsi seperti yang sepedaan ke Singapura itu hingga sepedaan ekstrem lintas alam.

Termasuk juga seperti Wilee dan Pak Pos, bersepeda untuk cari duit.

Saya juga hampir jadi atlet balap sepeda dan sudah terdaftar di ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Banjarmasin karena juara di satu lomba balap sepeda lintas alam.

Sepedaan karena gengsi? Ya, pertengahan dekade 80-an adalah masa keemasan BMX, bycycle motocross. Ini sepeda asal Amerika. Ibarat motocross tapi tanpa mesin. Anak-anak muda Paman Sam tengah suka berpacu di lintasan tanah, naik turun table top, superbowl, papan loncat, dan banyak atraksi. Karena itu juga wajib pake helm dan pelindung badan. Di Banjarmasin demamnya sampai hanya kepada kepemilikan sepedanya, sedikit atraksinya, tanpa helm dan pelindung badan.

Mama membelikan saya salah satu sepeda BMX merk terbaik, Olympic. Warnanya hitam, las rangkanya rapi, harganya Rp70 ribu. Gengsi saya dimata anak-anak lain pun naik 300 persen. Hanya beberapa yang memakai sepeda sekualitas itu. Sebab saat itu banyak BMX yang KW2 yang harganya hanya Rp40-50 ribu dengan las rangka yang kasar dan aksesoris yang juga kasar.

Mama saya, yang sederhana, walau mungkin juga terselip bangganya ketika itu, tentu membelikannya bukan karena gengsi. Tapi karena hemat.

“Apiki ya,” pesannya. Sepeda itu kendaraan saya pergi pulang sekolah yang jauhnya 5 km dari rumah.

Gengsi saya naik, betapa tidak, sebelum pakai BMX Olympic ini, saya memakai sepeda ontel, sepeda unisex Phoenix tua, sepeda milik Abah yang berat dan sudah ketinggalan zaman di mata anak-anak seumuran saya saat itu.

Sepeda Phoenix itu menjadi alat transportasi keluarga bahkan sebelum saya lahir. Sebab beratnya dan ukurannya yang jauh lebih besar dari tubuh saya yang masih anak-anak, saya perlu sebulan belajar untuk bisa mengemudi dan menjalankan sepedanya. Ada sejumlah bekas luka sebagai kenang-kenangan dan cerita nyemplung ke rawa-rawa.

Sepeda BMX itu masih ada di loteng rumah Abah di Banjarmasin. Sepeda Phoenix sudah dihibahkan kepada seseorang ketika Abah berdinas di Pelaihari, 70 km tenggara Banjarmasin.

Saya bike to work everywhere. Dengan sepeda BMX Olympic itu, saya menjadi ‘newspapers boy’, loper koran selama 4 tahun di masa SMP dan awal SMA. Saya bertugas mengantar surat-surat kabar, juga tabloid, majalah terbitan Jakarta ke rumah-rumah langganan dalam rentang 15 km setiap hari.

Inilah persamaan saya yang paling dekat dengan rutinitas Wilee.

Sampai awal tahun 90-an, surat kabar dari Jakarta tiba pukul 13.30 setiap hari di Bundaran Hasanuddin HM, pusat perdagangan koran dan majalah Banjarmasin. Saya mengambil jatah koran untuk langganan sepulang sekolah pukul setengah dua siang dan mulai bekerja mulai pukul 14.00. Langganan saya yang pertama adalah Toko Emas Lamongan di Jalan Sudimampir yang berlangganan harian Merdeka, … lalu menyusuri Jalan Ahmad Yani—ada langganan di Jalan Kuripan, lalu Kebun Bunga, sebelumnya Ratu Zaleha—agak kacau ketika saya juga punya langganan Jawa Pos di Pekauman yang membuat saya memutar jauh sehingga akhirnya terpaksa langganan ini saya jual hak kepemilikannya kepada loper yang tugasnya di sekitar situ.
Dari Kebun Bunga menyusuri komplek itu masuk Gatot Subroto, asrama polisi Bina Bharata, menyeberang ke komplek di depannya, seorang langganan yang saya tak pernah liat tampangnya yang berlangganan The Jakarta Post.
Lalu menyebelah ke Sasana Santi, menyeberang ke Dharma Praja, menyeberang lagi ke ibu-ibu yang suka baca tabloid acara televisi Monitor di asrama tentara Lambung Mangkurat, mbak-mbak yang baca Nova di Banjar Indah Permai—hingga sekitar pukul 5 sore tiba di dua langganan terakhir di Beruntung Jaya, Pak Abdul Kadir Munsyi yang anak gadisnya cantik-cantik, dan Ahmad Farid yang tinggal berdua saja dengan istrinya.
Pak Farid yang berlangganan Kompas, adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unlam. Istrinya membaca majalah Kartini.

Walau tidak sedramatis kisah Wilee, banyak suka dukanya loper koran, hahaha. Ada kecelakaan, ada akrobat, ada percintaan juga (with a girl name Sofi, and I think also Hayati, hehehe). Mungkin saya cerita lain kali. Yang pasti dalam hal sepedaan, saya jadi hapal jalan-jalan Banjarmasin sampai ke yang terkecil. Lalu seperti anak-anak tahun 80-an lainnya, kita semua jadi sehat dan kuat karena banyak berkeringat sebab beraktivitas di luar ruangan.

***

Saya masih naik sepeda untuk berbagai pekerjaan lain, walaupun sekedar sebagai ke kantor—seperti kawan-kawan saya di Total atau Chevron atau di Pemasaran Pertamina sekarang.

Oh, di Kilang Unit Pengolahan Pertamina sepeda justru kendaraan wajib karena tidak boleh ada mesin dengan busi di lingkungan yang penuh uap bahan bakar—juga no hp apalagi pemantik api.

Saya naik sepeda ke kantor Kalimantan Post untuk jadi penerjemah Piala Dunia 1998. Saya masih bersepeda dalam setengah tahun pertama karir saya sebagai jurnalis, yang resmi dimulai di Barito Post—koran militan yang pada awalnya sangat disegani di Banjarmasin maupun Palangkaraya.

Tentu saja, saya terus bersepeda untuk SMA, dan kemudian kuliah.

Ketika SMA saya sempat memakai sepeda balap jalan raya. Dengan sepeda itu saya pernah melesat hingga 80 km per jam saat turunan Jembatan Sudimampir. Sering membuat balapan tidak resmi baik dengan sesama pengendara sepeda maupun dengan motor, atau mobil. Bagaimana awal balapannya biasanya hanya karena tak terima disalip saja. Yang disalip lalu balas menyalip dengan provokatif, dan jadilah balapan.

Kadang-kadang balapannya ala time trial pursuit di velodrome. Dengan lawan itu, yang bisa siapa saja di jalan, kami bisa saling mengintai sambil berusaha dengan cerdik menghalangi jalan lawannya.

Dari kecepatan sepeda, jenis sepeda, gaya bersepeda, kita bisa tahu apakah kita bisa memenangkan balapan itu atau tidak. Kalau tahu saya lebih baik dari lawan saya, sering saya sengaja menahan diri. Saya menahan laju sepeda sedikit di belakangnya, atau menyamainya, tapi tidak menyalipnya.
Seperti Marquez yang menahan diri tidak menyalip Rossi yang memimpin hingga tinggal 9 lap sebelum finish di GP Catalunya.

Balapan seperti itu bisa pula jadi pembangkit emosi. Saya pernah menutup jalan seseorang, menahannya terus dengan berada satu roda di depannya, dan baru membuka jalan setelah di depannya ada gerobak tukang sampah dan saya menyingkir ke kanan.

Ada bunyi gedubrak yang keras, tapi sungguh saya tidak berhenti untuk melihat apa yang terjadi.

Ketika mulai kuliah di awal 90-an, mulai menjadi tren sepeda gunung jenis ATB. Semua orang membeli sepeda merek Federal. Tapi saya tak pernah kehilangan kepercayaan kepada Olympic.

ATB, all terrain bike memang cocok dipakai di Banjarmasin. Jalan tidak mulus banyak, dan karena sesungguhnya tidak ada gunung di Banjarmasin. Titik tertinggi di jalan raya mungkin Jembatan 9 November itu, jembatan yang menghubungkan Kelurahan Seberang Masjid dengan Pasar Lama.

Masa kuliah ini balapan saya lebih banyak melawan diri sendiri. Pada kondisi terbaik, saya menciptakan rekor pribadi, menempuh jarak antara Beruntung Jaya di selatan ke Kayu Tangi di utara, lebih kurang 15 km, dalam 20 menit. Yup, memang tidak melulu fisik, tapi sedikit dipadu dengan hasil pengamatan dan ditambah keberuntungan. Pada titik tertentu, ada banyak lampu lalu lintas yang membuat orang harus berhenti. Tapi lampu lalu lintas memakai pola tertentu, terutama yang berada pada persimpangan yang berdekatan—sehingga bila hitungannya tepat, Anda bisa mengakalinya.
Seperti semua arah ke utara di beberapa persimpangan berdekatan pasti akan dibuat hijau (jalan) bersamaan—pasti juga merah (berhenti) bersamaan. Kalau tidak, kendaraan akan menumpuk dan macetlah yang terjadi.

Ilmu itu pastinya ada di matakuliah rekayasa lalu lintas di Fakultas Teknik. Tapi karena saya bukan mahasiswa teknik, saya belajar langsung di jalanan.

Begitu pula cara polisi mengatur lalu lintas pada persimpangan yang berdekatan. Mereka berkomunikasi dengan radio untuk membuka dan menutup arus pada waktu yang tepat. Jadi bisa dibayangkan bukan, betapa kesalnya mereka bila ada yang menyelonong tak patuh aturan. Itu bisa menyebabkan kecelakaan, baik si penyelonong sendiri, maupun orang lain.

Hehehe, seperti Wilee, diantara yang suka menyelonong itu adalah saya—pake sepeda, tentu. Sersan Dua Joko Slamet pernah melayangkan tempelengnya pada saya di pertigaan Terminal Km 6. Meleset karena saya berkelit dan saya berlalu seperti Greg Le Mond untuk finish juara Tour de France.

Pada kesempatan lain, bersama rekannya Sersan Dua Agus Jatmiko, Sersan Dua Joko Slamet menang. Kawan saya yang naik motor, yang baik hati membonceng saya, dihentikan di lampu merah di persimpangan Jalan Achmad Yani dan Jalan Pangeran Antasari. Kesalahan: tidak pakai helm. Yang tidak pakai helm: saya. Jangan tanya lagi soal SIM dan STNK.

Tawar menawar denda damai dipaskan Rp25.000. Dibayar lunas menjelang magrib oleh ibu-teman-yang motornya kami pinjam itu. Ya, itu motor pinjaman, sobat. Hehehe.

***

“Halo cewek!”
“Eh, Bang Nov, …”
“Ayo naik.”

Maka Neng pun duduk di palang tengah sepeda ATB saya. Setangnya yang rendah, yang memaksa pengendara membungkuk, membuat saya seperti memeluk gadis yang baru pulang sekolah itu. Hidung dan mulut saya di telinga kanannya. Masih ada sisa wangi di rambutnya yang kecokelatan setelah hari sekolah yang sibuk.

Kadang dalam perjalanan singkat dari depan komplek itu kita bercerita sekilas hal-hal yang mengesankan yang terjadi hari itu—sebagai preview telepon kemudian atau janji temu di perpustakaan sorenya.

Sering pula kami hanya diam hingga depan rumah dekat persimpangan dan tikungan itu.

“Have a nice day, dear,” saya cium telinga dan ubun-ubunnya. “Love you.”
“Hati-hati Bang,” bibir dan ujung hidungnya menempel sedetik di pipi kiri saya. “Love you too.”

Saya memutar balik sepeda dan melanjutkan perjalanan pulang, Rumah saya masih 5 km dari rumah Neng.

Ini tidak setiap hari terjadi kawan, tapi cukup membuat cuaca hati cerah berhari-hari. ***

Tinggalkan komentar