A Daddy,  Brother, Lover, Little Boy

Posted on Updated on

Saat Piala Dunia di Perancis tahun 1998 dan saya mendapatkan pekerjaan profesional yang pertama, Neng lulus UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya melihat nomor ujian dan namanya tertera di koran khusus yang diterbitkan panitia untuk pengumuman hasil ujian itu.

Hanya mereka yang lulus yang dicantumkan nomor ujiannya, berikut nama, dan kode jurusan yang menerimanya. Neng akan menjadi mahasiswa Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, tentu saja Angkatan 1998.

Menyenangkan, bukan. Seperti menunggu buah yang diperam lama, dan sebentar lagi masak.

Dengan dia menjadi mahasiswa, setidaknya ‘memperpendek jarak’ antara kami. Kalau sebelumnya antara mahasiswa dan siswa, kini hanya antara mahasiswa.  Jarak usia 6 tahun pada tingkatan pendidikan yang berbeda tentu sesuatu banget. Tapi jarak yang sama pada level pendidikan yang sama bisa tidak terlihat terlalu mencolok.

***

Saya ingat suatu hari di bulan Januari ia bertanya kepada saya, mana yang baik baginya, apakah kuliah di Unlam saja, atau meneruskan pendidikan khusus yang sudah dijalaninya selama ini.

Di SMKN 4, Neng adalah siswa jurusan Pariwisata. Keahliannya adalah Housekeeping.

Bila Anda memasuki kamar hotel, terutama kamar hotel berbintang, saat pertama kali tiba Anda akan melihat bagaimana bantal ditumpuk di ujung tempat tidur, selimut dihamparkan, meja diletakkan, atau handuk-handuk dilipat dan ditata di rak besi di kamar mandi, sampai seperti apa ujung tisu gulung dilipat, itulah pekerjaan orang Housekeeping.

“Kok bingung?” tanya saya.

“Gak bingung. Cuma mama mau begini, sementara ulun sendiri belum yakin mau apa,” katanya.

Mama mau begini itu, cerita Neng, adalah ia ke Bandung, kuliah di sekolah tinggi pariwisata di Bandung, dan seterusnya. Bandung sendiri adalah tanah air yang lain bagi Neng. Ini tempat asal ibunya dan keluarga mereka punya rumah di Cimahi.

Cimahi itu kota satelit Bandung di utaranya. Bisa naik angkot lewat Geger Kalong di Jalan Setiabudhi. Rumah itu ada di sebuah komplek yang sedikit naik ke perbukitan. Di Bandung dan Cimahi dia punya beberapa acil, ada om, sepupu dan ponakan, …

Pilihannya sendiri ia belum tau. Itulah yang ditanyakannya kepada saya.

Well…coba apa saranmu sobat?

***

Hari itu, di beranda Perpustakaan Daerah, saya menjadi seorang kakak dan ayah sekaligus.  I can be your daddy, your brother… [1]

Saya bilang, menurut pada orangtua dan mewujudkan harapan mereka itu pahalanya luar biasa, hidup berkah, dan seterusnya. Apalagi yang mereka inginkan baik-baik belaka. Mumpung orangtua lagi mampu nyekolahin tinggi kemana saja, itu kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali. Lagi pula ia tak asing Bandung. Bandung juga gak jauh-jauh amat dari Banjarmasin.

“Kan Neng masih bisa sering pulang. Mungkin aku juga bisa jalan ke sana sekali-sekali…”

Dan 4 tahun saja kan.

(Fakta: Bandung-Banjarmasin lebih kurang 1.500 km, 1.200-an diantaranya di atas Laut Jawa. Fakta lagi: betapa sibuknya mahasiswa, dan betapa banyaknya yang bisa terjadi dalam 4 tahun)

Walaupun saya juga menambahkan bahwa tidak ada salahnya juga kuliah di Banjarmasin-di Unlam, pilih jurusan yang dia juga suka, gabung ke KBU, dan seterusnya.

“And we can stick together,” kata saya. Saya juga seorang pacar. I am also your lover…[2]

“Yup,” angguknya dengan senyum ditahan.

“Bang Nov mau es krim?”

Saya juga bisa jadi anak kecil. And I am definetely your little boy.[3]

Kami berdua suka Conello, es krim keluaran Walls yang gampang didapat di mana saja di warung atau toko yang cukup besar. Meski begitu, karena uang saku pelajar dan mahasiswa yang terbatas, Conello adalah kemewahan kecil yang tak selalu bisa kami beli. Neng kadang menyisihkan uang bensinnya—ia diizinkan naik motor ke sekolah. Saya menyimpan sebagian pendapatan saya dari menerjemahkan berbagai teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Kami juga masih membicarakan hal mau kemana setelah lulus itu beberapa kali. Saya bilang saya mendukung apa pun keputusannya.

***

Jadi saya sudah tahu seandainya ia memilih tidak kuliah di Banjarmasin. Setidaknya ia tidak akan menghilang begitu saja seperti Day. Setidaknya hari itu komunikasinya lebih mudah.

Dan pagi itu, nama dan nomor ujiannya tertulis di situ. Saya menelepon untuk mengucapkan selamat, namun Neng sedang keluar.

“Ke rumah sepupunya di Gang 7,” kata mamanya, perempuan yang selalu ramah itu.  “Ada pesan, nak?”

Saya hanya bilang akan menelepon kembali. Saya tahu nomor telepon rumah sepupunya itu, dan juga biasa menelepon ke situ.  

***

Pekerjaan profesional pertama saya di ruang redaksi adalah penerjemah berita-berita Piala Dunia Perancis 1998 tersebut. Saya bekerja dengan para legenda jurnalis Kalimantan Selatan. Ada mendiang Om Pay yang kumisnya sangar itu, ada Bang Budi yang kumisnya juga sangar dan setahu saya sekarang di Metro TV, ada Bang Atoey yang berewokan dan sekarang Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, ada Bang Rachman Agus yang kelimis, ada Bang Nafarin Fauzi yang gondrong ikal, juga dengan kumis sehingga mirip kiper Kolombia di Piala Dunia 1990 Rene Higuita, hehehe, ada ka Lili yang ketika itu wartawan perempuan paling cantik yang saya kenal, ada acting editor in chief Pak Misri Syarkawi, desainer halaman Umang Thaka,

Selama Piala Dunia, sekitar dua hari sebelum pembukaan hingga dua hari juga setelah selesai, saya menjadi bagian dari redaksi Kalimantan Post. Jam kerja saya lebih kurang mirip redaktur, antara pukul empat sore hingga pukul satu dinihari. Atasan langsung saya adalah Bang Nafarin Fauzi itu, redaktur olahraga.Dia yang membaca hasil kerja saya, mengkritik, dan memberi arahan bagaimana berita olahraga ala Kalimantan Post—koran yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Media Grup milik Surya Paloh dengan nama Dinamika Berita.

Bang Parin, demikian panggilannya, mengajari dengan cara gampang: meniru. Di memberi beberapa contoh untuk dicontek. Seperti pelajaran lama di mata kuliah Writing: Imitative Writing, atau pelajaran Bahasa Indonesia di masa kelas 3 SD dengan mengisi rumpang.  Kau boleh meniru tulisan yang sudah jadi, yang sudah bagus, masukkan data yang kau miliki, begitu. Tapi kau tak boleh jadi peniru buta, meniru hanya untuk memudahkan mengawali. Setelah sepuluh tulisan meniru, kau sudah harus bisa membuat satu yang asli dari otak dan tanganmu sendiri.

Hari ketiga saya bekerja, atau sehari setelah pembukaan tanggal 10 Juni, Bang Parin sudah tak berkerut lagi keningnya membaca terjemahan saya. Berita pertandingan Grup B antara Kamerun vs Swiss yang berkesudahan imbang 1-1   lolos dalam waktu 90 detik.Gol Kamerun dibuat oleh bek Pierre Njanka di menit ke-78. Swiss yang tak mau kalah mencetak gol di menit ke-90 oleh Tony Polster.

“Itu satu hari terbaik saya sebagai pemain,” kenang Njanka dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Saya mewawancarainya setelah 14 tahun pertandingan itu berlalu. Njanka sudah berkostum Putra Samarinda.  Ia sudah bermain di Indonesia sejak 2008 mulai dari Persija, juara Liga Indonesia bersama Arema, tenggelam bersama Atjeh United, muncul lagi bersama Mitra Kukar di Tenggarong, dan bergeser lagi 40 km ke Samarinda untuk gabung Persisam.   

***

Pekerjaan ini datang kepada saya mungkin bukan kebetulan. Bukan kebetulan lagi Rachman Agus, Atoey, Om Pay adalah senior kami semua di Kompas Borneo Unlam.

“Adakah yang bisa menerjemahkan,” kata Rachman Agus, sepekan sebelum kick off juara bertahan Brazil versus Skotlandia di Stade de France, St Dennis.

Untuk menyampaikan pertanyaan itu, Rachman Agus, redaktur pelaksana Kalimantan Post mampir khusus ke Sekretariat KBU di Unlam. Mungkin pertanyaan itu disampaikan kepada Guru Anang, mungkin juga kepada yang lain. Yang sampai kepada saya bukan pertanyaan, tapi semacam berita panggilan.

“Nov, kam dicari Rachman Agus…”

***

Di Kalimantan Post, seperti para pemain di Liga Inggris, saya dibayar per pekan. Masa itu, Rp250.000 cukup lumayan. Makan nasi pecel di Warung Rahmi di Jalan Cendana di Kayutangi itu hanya Rp1.200 seporsi (sekarang di Balikpapan bisa sampai Rp18.000 lebih). Ongkos naik angkot jauh dekat Rp… aduh berapa ya, mungkin sudah Rp400 (sebelumnya Rp75, lalu Rp100, lalu Rp150, lalu Rp200, lalu Rp250, lalu Rp300…). Bensin Rp600 per liter.  Biaya parkir, Rp50 (saya parkirnya sepeda—karena kemana-mana pake sepeda).

Honor terjemahan itu bahkan nyaris tak tersentuh. Ada kopi, teh,  dan penganan gratis di kantor. Setiap malam, ada saja yang nraktir makan malam. Sebagian besar karena menang taruhan bola.

Lalu seseorang menyadari bahwa saya punya akses kepada berita-berita pra pertandingan, preview. Berita preview itu berisi misalnya strategi apa yang akan digunakan pelatih, siapa yang akan diturunkan, siapa yang terkena akumulasi kartu kuning. Berita semacam itu bagus bagi yang ingin bertaruh. Tiba-tiba pula saya jadi punya semacam penghasilan tambahan tidak resmi. Tidak diminta, tapi datang begitu saja.

Saya bisa beli kopi dan mi instan agak banyak buat para penghuni Sekretariat. Saya bisa ngajak Neng nonton, dan banyak makan es krim.

***

Jar[4] mama pian[5] nelpon…”

“Yup, selamat yaaa.”

“Hehehe, makasih. Conello dong.”

“Beresss. Kan sore ke perpustakaan …”

Percayalah sobat, Perpustakaan adalah tempat paling romantis di dunia. ***    

 

 

1, 2, [3]Tentu saja bukan karena ini William “Billy” Sheehan dan Pat Torpey menuliskan liriknya, menjadikannya lagu untuk dinyanyikan Eric Martin dan gitar oleh Paul Gilbert, yang mereka kemas dalam album Lean Into It untuk Mr Big di tahun 1991. Kata Pat Torpey yang drummer itu, lelaki haruslah bisa menjadi ayah, kakak, kekasih, dan anak kecil sekaligus. Oleh Sheehan, lagu itu diberi judul Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy.

 [4] ‘Jar’ (bahasa Banjar) = ‘bilang’, ‘kata’, said (Inggris), ‘jare’ (Jawa)

[5] ‘pian’ (bahasa Banjar) = sapaan untuk yang lebih tua, bentuk pendek dari ‘sampiyan’. Bahasa Banjar memang mendapat banyak pengaruh Bahasa Jawa—mengingat, konon,  sejarah para bangsawan dan pedagang pertama Banjar berasal dari Keling, Kediri.

Tinggalkan komentar