Seperti Matahari Tak Pernah Tenggelam
Akhirnya hujan berhenti menjelang pukul sepuluh pagi. Langit putih menyilaukan sementara tanah licin dengan pohon dan semak yang basah. Opik menutup pintu pondok dan kami menyandang ransel lagi.
Perlahan kebun-kebun berada di belakang kami, berganti padang alang-alang. Jalan setapak ini menjauhi tengah padang yang terang. Jalan itu menyisir sungai dan berada di bawah bayangan pohon-pohon.
Itulah asiknya desa dan alam bebas. Di kota, jalan yang ditanami pohonan di kiri kanannya atau di kiri saja, atau di kanan saja, atau di tengahnya saja. Di Paau, atau di hutan mana saja, jalan mengikuti alur tumbuh pepohonan.
Pohon-pohon tumbuh makin rapat dan sungai makin sempit. Pada pertigaan di dalam hutan kami belok ke kiri ke arah timur laut. Satu jam dari situ, kami bertemu lagi dengan Sungai Tuyup yang tinggal 3 meter lebarnya dan makin curam tepi-tepinya. Pukul setengah satu siang.
Kami beristirahat di tempat yang disebut Opik ‘pelawangan’. Itu memang istilah kami sendiri karena orang kampung tidak pernah bicara tentang tempat itu walau mereka biasa juga melaluinya. Di sini, jalan datar berakhir dan mulai menanjak setelah dua batu besar laksana gerbang. Pohon-pohon juga semakin besar dengan daun-daun yang menghalangi sinar matahari sampai ke tanah.
Beberapa waktu sebelum perjalanan ini, kami harus tersesat hingga dua hari sebelum mencapai pelawangan. Menurut peta tua peninggalan Belanda, bahwa di Paau-lah jarak paling pendek untuk mencapai Kintap di sisi timur Pegunungan Meratus. Lalu karena salah identifikasi bukit dan gunung sebelum masuk hutan sebelum pertigaan tadi, kami justru mengambil jalan ke kanan yang membawa kami ke kaki Gunung Kahung.
“Buhan kam mustinya belok kiri di situ,” kata Amir, pemburu yang bertemu kami dalam perjalanan turun.
Walau begitu, kami masih penasaran dengan peta. Begitu sampai kembali ke batas hutan saya memperhatikan kontur di peta dan menbandingkannya dengan bentang alam. Tahulah saya sebabnya. Bukit besar di depan saya, yang dijadikan patokan untuk menentukan posisi, bukanlah titik yang jadi awal menarik garis di peta.
Kesalahan kecil yang fatal. Opik bergurau,” Kapan-kapan kita pakai GPS saja, Gunakan Penduduk Sekitar.” GPS yang global positioning system yang asli yang menggunakan satelit, masa itu, masih cukup mahal harganya.
Tapi dari identifikasi penasaran tadi, saya jadi tahu arah pastinya. Begitu kami mencapai puncak nanti, dimana semua jalan berada di punggungan bukit dengan arah utara-selatan saja, arah selanjutnya adalah 130 derajat. Artinya kami harus membuat rute sendiri lebih kurang ke tenggara.
Memang bukan untuk mencapai puncak, tapi hanya untuk menyeberang ke sebelah dan mencapai jalan raya besar di selatan.
Kami berbagi sebatang besar cokelat, lalu masing-masing setangkup roti tawar yang diberi margarin dan taburan gula pasir yang saya siapkan pagi tadi, serta air minum dari sungai yang jernih. Cukup mengenyangkan. Saya mengisi ulang botol air. Dari sungai ini sampai ke dekat puncak nanti tak ada lagi air yang bisa diambil begitu saja.
Perjalanan naik dimulai.
***
Pegunungan Meratus membagi Kalimantan Selatan menjadi barat dan timur. Kami di Kompas Borneo Unlam (KBU) membaginya lagi menjadi Meratus Hulu dan Meratus Hilir. Bagian Hulu adalah mulai dari Hulu Sungai Selatan, dimana puncak-puncak utamanya di Hulu Sungai Tengah, dan terus hingga ke hutan-hutan di perbatasan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur dimana ada Hutan Lindung Gunung Lumut dan Orang Miau, saudara-saudara Orang Bukit di Selatan.
Meratus Hilir sejak dahulu dieksploitasi. Belanda menemukan batubara di Pengaron, emas ada di hulu-hulu sungai Riam Kanan hingga ke Bukit-Bukit Pelaihari. Perkebunan besar dibuat di Danau Salak, juga di Tanah Laut. Kemudian dengan dibangunnya bendungan Riam Kanan untuk pembangkit listrik, kawasan Gunung Aurbunak (1.092) di timurnya menjadi kawasan lindung.
Meski tingginya hanya seribu meter lebih sedikit, mendaki Aurbunak adalah ujian ketabahan tersendiri. Hutan lebat dengan semua makhluk dan satwa di dalamnya, cuaca yang basah dan hujan terus menerus, serta kontur yang curam, adalah menu di gunung itu. Berbeda pula dari di Hulu dimana ada kampung dan ladang di pegunungan, di Hilir hanya hutan dan hutan dan hujan. Kami bertemu Amir si pemburu pun lebih karena keberuntungan semata.
***
Gerimis turun begitu kami mulai perjalanan naik. Kami berhenti lagi untuk mengenakan jas hujan. Sekarang mendaki jadi seperti sauna. Kacamata saya berembun karena hembusan napas.
Jalan setapak terus menanjak dengan pagar pohon-pohon besar yang tinggi lurus. Beberapa pohon itu tumbang menghalang jalan. Kami melihat para pemburu membuat jalan melingkar pohon tumbang itu. Ada pula yang merintis memotong di atasnya.
Kami istirahat beberapa kali. Saya minum, Opik merokok. Kami juga bertukar beban. Tak ada yang dibicarakan di jalan, tak ada juga yang mengganggu benak selain melihat jalan dan hutan. Bagian hutan ini tidak memiliki keindahan yang khusus. Kami juga sudah lama tidak khawatir tentang cuaca. Gunung ya begitu.
Pukul empat sore kami sampai di punggung gunung. Masih berhutan lebat, dan masih ada sungai. Ini anugerah hutan-hutan tropis Kalimantan. Juga ada bekas bivak pemburu. Kami mendirikan tenda di atas lantai kayu bulat bekas bivak itu. Biar sedikit lebih empuk, sebelumnya saya menyusun daun-daun di atas kayu-kayu bulat itu. Daun itu juga menambah hangat.
Tepat ketika kami akan memasak, hujan turun dengan lebatnya. Maka Opik menjadi koki di mulut tenda dengan payung jadi tambahan teras. Kami tidak punya kompor gas, tapi kompor parafin milik tentara sama efektifnya.
Hujan turun sepanjang malam. Makan malam hari ini tidak seindah makan malam hari sebelumnya, tapi setidaknya kami masih bisa makan malam. Makanan hangat yang menenangkan untuk badan yang lelah seharian berjalan.
“Jadi awalnya cuma menelepon?” tanya Opik. Kami berbaring sebagai dua sahabat di dalam tenda di tengah hutan di bawah hujan.
“Bukan cuma, Pik. Bukan cuma.”
***
Apa yang menggerakkan saya akhirnya menelpon Neng sore itu, seperti juga saat saya harus mengingat ikut cara ibunya memanggilnya dengan sebutan ‘Neng’, saya tak paham. Yang jelas, selama tiga minggu setelah prusiking itu saya menanggung penderitaan yang saya juga tidak mengerti karena apa: makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan menulis banyak.
Percakapan kami yang singkat di dinding panjat itu terngiang-ngiang di telinga saya seperti rekaman yang diputar ulang terus menerus. Percakapan singkat yang sungguh biasa walaupun dilakukan di tempat yang tidak biasa.
Apakah karena teori gelombang dan aura itu?
Konon, setiap manusia memancarkan gelombangnya sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki frekuensi masing-masing. Ketika frekuensi yang sama bertemu, itu menghidupkan sesuatu di benak dan otak. Aura menjadi bertambah terang dan frekuensinya bertambah kuat.
Itulah kenapa kita bisa merasa cocok dengan satu teman dan menjadi sahabat karib, atau menjadi teman sekedarnya saja bagi yang lain.
Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang ditentukan, dibuat, ditiadakan, dikeraskan, oleh lingkungan dan pendidikannya. Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang juga ditentukan orang lain yang kerap menghabiskan waktu bersamanya di sekitarnya.
“Itu pelajaran di FKIP?” tanya Opik, tergelak. Tentu saja bukan. Itu pelajaran dari Fakultas Kehidupan.
Darimana saya dapat nomor telepon Neng, itu sama sekali bukan masalah sobat. Anak-anak itu semua, sebagai peserta pelatihan kepencintaalaman, sudah mengisi formulir dan bio data dan menyerahkan pas foto.
Semuanya diarsipkan rapi oleh Adi, Kepala Biro Kesekretariatan kami di KBU. Isian formulir itu bahkan sangat rinci seperti meminta tinggi dan berat badan, golongan darah, alamat rumah, dan nomor telepon, sampai kode pos.
Bahkan juga ada pelepasan hak untuk menuntut seandainya terjadi apa pun dalam kegiatan ini yang menyebabkan meninggal dunia, cacat tetap maupun tidak. Formulir ini ditandatangani di atas meterai untuk memberinya kekuatan hukum.
Meski sebenarnya ini bukan arsip rahasia, tapi karena situasinya, Adi menyimpan berkas formulir itu di dalam file khusus yang disamarkan. Sampai beberapa lama, hanya ia dan saya yang tahu dimana arsip itu ada diantara semua file di lemari.
Oh, yang dimaksud telepon di sini adalah telepon fixed line, atau lebih tepatnya nomor telepon rumah. Layanan seluler sudah ada namun masih mahal dan handphone belum sampai ke orang kebanyakan. Ini masa booming bisnis wartel.
***
“Lalu bagaimana telepon yang pertama itu?” tanya Opik sambil bangkit. Ia duduk di depan pintu tenda, membukanya sedikit, dan merokok.
Apa yang saya ingat dari telepon pertama itu sungguh sebuah telepon biasa di sore cerah yang juga biasa. Di boks Nomor 4 di Wartel Kopma, tetangga sekretariat kami di Unlam di Banjarmasin.
Mungkin saya agak gugup pada mulanya. Mamanya yang mengangkat, beliau tidak bertanya apa-apa selain meminta saya menunggu sebentar dan memanggil anak gadisnya.
“Neng, telepon…”
…
***
Sisa hari setelah saya menelepon itu berlangsung seperti matahari tak pernah tenggelam, atau tenggelamlah dengan warna merah yang elegan. ***